Disiplin Dalam Latihan Membawa Calvin Ke PON Cabang Olahraga Sepatu Roda

Calvin yang berhasil mengukir preastasi hingga ke PON melalui sepatu roda

Olahraga sepatu roda yang satu ini sempat terkenal pada saat era 90 an, olahraga ini sempat di angkat menjadi film layar lebar dalam film Olga, karya Hilman Hariwijaya Berbeda dengan Calvin Leonardo, yang lahir di Jakarta 13 februari 1998, mulai ikut sepatu roda sejak tahun 2011 dan tergabung dalam club JRF (Jakarta Roller Flash). “Saya memang hobby dalam berolahraga, awalnya karena adik saya tergabung dalam club sepatu roda, saya coba ikutan dan akhirnya menjadi hobby sampai sekarang.” ungkap Calvin. Prestasi Calvin pertama kali yaitu dalam lomba marathon 42 KM kejuaraan V3 open 2013 yang diadakan di Jakarta dan mendapatkan medali perak. Tidak sampai di situ, setelah itu Calvin kembali mendapat 2 medali perak dan 1 medali perunggu dalam Malaysia Roller Games, 1 medali perak dalam Kejurnas Piala Ibu Negara di Malang tahun 2015, serta mendapat 1 medali perunggu di lomba 42 KM marathon pada PON XIX Jabar. Calvin sempat mengakui, jika sudah sekitar satu bulan menjelang kejuaraan, jadwal latihan akan ditingkatkan sampai bisa setiap hari. Dalam seminggu, Calvin melakukan latihan berat selama 5 hari dan latihan ringan selama 2 hari. “Kalau latihan dalam jangka panjang latihan hanya 4 kali dalam seminggu. Pemanasannya antara lain pelemasan otot, jogging dan melakukan sedikit gerakan dalam sepatu roda agar saat bermain badan kita tidak kaku.” jelas Calvin. Calvin juga menuturkan kepada NYSN, bahwa orang pertama yang paling berperan dalam perjuangannya meraih prestasi selama ini adalah ibundanya, dan juga pelatihnya terdahulu Shinta Septriana yang tidak kenal lelah untuk melatih dan mendukungnya. “Saat proses menuju PON jabar kemarin sampai saat kejuaraannya, disana saya banyak belajar berbagai macam hal, contohnya saya sekarang bisa lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung sama orang tua lagi, pokoknya saya bisa jadi pribadi yang lebih dewasa berkat PON Jabar kemarin.” ujar Calvin. Calvin juga merupakan orang yang sangat disiplin dalam masalah waktu. Ia kurang suka jika ada yang tidak bisa disiplin waktu. Karena menurut Calvin, disiplin waktu adalah hal yang sangat penting untuk siapapun, dan berhubungan dengan komitmen seseorang. “Saya selalu bercita-cita ingin menjadi orang yang sukses. Disamping itu saya juga berimpian untuk menjadi orang Indonesia yang bisa mengikuti dan memenangkan kejuaraan sepatu roda tingkat dunia. Saya akan terus giat berlatih untuk mengikuti PON XX di Papua tahun 2020 nanti, setelah lulus kuliah saya juga akan tetap fokus berlatih sepatu roda.” tutup Calvin.(crs/adt)

Berhasil Rebut 25 Medali, Ali Lupa Seragam Bertanding

ali juara wushu

Sosok humoris yang di sajikan kali ini adalah Mahasiswa ITI Serpong yang bernama Ali Sadik Andriani, sudah meraih sekitar 25 medali dalam bidang olahraga wushu. Mahasiswa yang mengikuti wushu sejak kelas 5 SD, awalnya didaftarkan oleh bapaknya mengikuti wushu agar mempunyai jenis olahraga yang ditekuni. Setelah 6 bulan berlatih, pelatih Ali melihat bahwa Ali mempunyai potensi dalam olahraga tersebut. Akhirnya, Ali mulai di ikut sertakan dalam berbagai kejuaraan. Kejuaraan pertama yang diikuti oleh Ali adalah Kejurda di Bandung dan meraih juara 3, setelah itu Ali lanjut ikut Kejurnas di Yogyakarta dan mendapatkan juara 2. Tahun-tahun berikutnya Ali semakin banyak mencetak prestasi, diantaranya juara 1 Porprov Lebak, juara 2 Porprov Serang serta juara 1 dan mendapatkan 3 medali emas dalam Kejurnas di Jakarta. Pada masa SMA, Ali sempat berhenti berlatih Wushu karena merasa bosan, tetapi karena kerinduannya terhadap olahraga tersebut, lalu Ali terus melanjutkan latihannya. Peran ayah dan juga pelatihnya sangat penting bagi Ali, karena selalu memberikannya semangat untuk terus berjuang dan selalu membantunya dalam berlatih. Ali juga mengatakan kepada NYSN dirinya pernah mempunyai pengalaman lucu ketika mengikuti kejuaraan di Yogyakarta. “Pengalaman yang tidak bisa saya lupakan itu adalah kejadian lucu ketika bertanding di Yogyakarta. Baju pertandingan saya ternyata atasan dan bawahannya berbeda, bukan pasangannya karena lupa tidak terbawa. Sedangkan waktu itu peraturannya baju dan celana harus pasangannya, akhirnya pas pertandingan saya merasa beda sendiri dengan peserta yang lainnya karena baju dan celana yang berbeda itu.” cerita Ali sambil tertawa. Ali berpesan untuk para calon atlet muda wushu yang sedang berjuang bahwa mereka harus tetap semangat latihan, supaya berprestasi dan tentunya membanggakan orang tua, sekolah, dan sasana.(crs/adt)

Menguasai Ilmu Beladiri Judo, Allyana Tak Khawatir Jika Berada Di Luar Rumah

Allyana, Siswi yang berprestasi dalam cabang olahraga Judo

Pada umumnya Olahraga bertujuan untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani, meningkatkan daya tahan tubuh, upaya pengobatan dari suatu penyakit, juga sebagai profesi untuk menghasilkan uang (olahraga professional). Atlet beladiri judo muda perempuan yang bernama Luthfy Allyana Damayanti Saqha, siswi SMA Yadika 6 mengikuti judo sejak ekskul di kelas 2 SMP. “Karena judo masuk kategori beladiri yang beda dari yang lain anti mainstream gitu. Aku penasaran jadi aku ikut eskulnya semenjak sekolah SMP.” cerita Allyana. Remaja kelahiran Jakarta, 18 Maret 2001 ini telah mencetak berbagai prestasi lewat judo, diantaranya lain: 1. juara 3 Sirkuit Judo Pelajar 2012 2. juara 1 SEJABODETABEK + 2015 3. juara 3 JCUP Malaysia 2015 4. juara 2 Beregu Putri Piala Gubenur 2015 5. juara 3 Kejuaraan Daerah 2015 6. juara 3 POPDA Banten 2016 7. juara 1 Kejuaraan Newaza 2016 8. juara 3 Walikota Cup 2016 9. juara 2 Walikota Cup 2017 Allyana juga berprestasi dalam olahraga lain yang masih sejenis dengan judo, yaitu: 1. juara 2 Kerjurnas Jujitsu 2016 2. juara 3 Sambo Championship 2016 3. juara 2 Kerjurnas Jujitsu Arena Cup 2017 Perjuangan Allyana menjadi atlet berprestasi bukanlah dijalankan dengan mudah. Dirinya sempat mendapatkan penolakan dari orang tuanya. “Orangtua saya tidak setuju kalau anak perempuannya ikut bela diri karena mereka khawatir nantinya bisa patah tulang, sakit dan sebagainya. Tapi aku terus berlatih dan menunjukkan judo itu tidak berbahaya buat perempuan.” terangnya. Lebih lanjut Siswi yang juga mempunyai hobby berenang tersebut mengatakan bahwa dengan berlatih judo, membuatnya tenang jika berada di luar rumah. “kita jadi mempunyai ilmu beladiri yang dapat melindungi diri kita sendiri dari orang jahat jika sedang keluar dari rumah sendiri.”ungkap Allyana Fokus berlatih judo juga tidak membuat nilai-nilai Allyana di sekolah menjadi menurun. Allyana tetap rajin meminjam catatan temannya agar dapat mempelajari pelajaran-pelajarannya yang tertinggal. Dan Ia juga selalu berusaha menyeimbangkan waktu sekolah dan latihannya agar tidak terganggu atau bentrok antara keduanya. Allyana juga mengatakan kepada NYSN bahwa dirinya pernah mengalami cidera yang sampai sekarang masih sering terasa. “Pas latihan sempat pundak aku keseleo dan sampai sekarang kadang-kadang kambuh, dan pas tanding suka ngerasain pundak kanan aku seperti geser gitu tapi aku abaikan aja lama-lama engga kerasa lagi.” tutur Allyana. Cidera tidak akan membuat Allyana kapok untuk terus berjuang menjadi atlet judo profesional. Menurutnya, selama tubuhnya masih sehat dan kuat serta tidak mengganggu kuliahnya di masa mendatang, Allyana akan terus menjadi atlet judo. “Pesan aku buat siswa siswi, kalian bisa berprestasi sesuai bidang kalian masing masing. Bisa di bidang akademik maupun di non akademik. Ayo, sebagai penerus bangsa Indonesia jadilah pemuda pemudi yang berguna untuk bangsa ini.” pesan Allyana.(crs/adt)

Sikut Kanan Cidera Bukan Halangan Untuk Berprestasi di Judo Bagi Pemuda Ini

Pajar, pemuda yang berhasil berprestasi melalui Judo

Olahraga yang satu ini lebih di kenal dengan pola kegiatan olahraga yang sangat menguras tenaga dan juga tehnik yang sangat unik. Pemain yang berhasil memegang dan melempar lawannya dengan teknik yang bagus akan keluar sebagai pemenang. Pajar Maulana, siswa SMK Yadika 5, Tangerang Selatan mengikuti judo sejak duduk di kelas 7 karena ajakan temannya. Lalu lama kelamaan, Pajar semakin menguasai bidang olahraga tersebut dan menuai banyak prestasi. Prestasi yang telah diraih Pajar diantaranya adalah Juara 1 dalam kejuaraan yang diadakan di Singapura dan Malaysia serta dan juara 3 dalam Kejurnas Kurash. Pajar mengatakan kepada NYSN meskipun telah mahir dalam bidang olahraga judo, dirinya tetap pernah mengalami cidera. “Pernah geser di sikut kanan, tapi cuma istirahat seminggu. Soalnya saya bosan di rumah setelah pulang sekolah.” kata Pajar. Remaja yang bercita-cita menjadi tentara ini menjelaskan pandangannya terhadap judo di Indonesia merupakan olahraga yang mengasyikan dan cukup diperhatikan dan prestasinya di hargai. Pajar juga mengatakan bahwa ia ingin berlatih lebih keras agar bisa mengharukan nama bangsa Indonesia lewat judo. “Saya ingin latihan lebih keras agar saya bisa mengharumkan nama Indonesia lewat olahraga judo dan cita-cita saya juga dapat tercapai.” tutup Pajar.

Majukan Olahraga Wushu, Alfian Bertekad Meraih Kemenangan Dari Negara Pencetusnya

Masih seputar anak muda berbakat yang menyalurkan bakatnya untuk seluruh penghobby olahraga wushu, Alfian Prayoga Bustomi (20), mantan atlet sekaligus pelatih wushu di komunitas Glora Wushu Indonesia. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang ini menyampaikan pandangannya tentang olahraga wushu di Indonesia. “Kebetulan saya sangat menyukai olahraga dan tidak hanya wushu saja. Bicara soal cita-cita mungkin akan sedikit keluar jalur. Buat saya wushu itu adalah olahraga untuk berprestasi karna disana mengajarkan berbagai macam pelajaran yang positif serta meningkatkan kecerdasan individunya.” ujar Alfian. Alfian juga menambahkan bahwa Wushu juga mengajarkan banyak hal dalam produktifitas, membuat sehat dan membuka peluang untuk berprestasi bagi yang mengikutinya. Remaja yang juga mempunyai hobby fotografi dan bermusik ini mengatakan bahwa atlet wushu di Indonesia seharusnya sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Bahkan menurut Alfian, atlet wushu Indonesia tidak kalah dengan atlet wushu dari Cina, Negara tempat wushu pertama kali dilahirkan. Menurutnya, berkarya menularkan ilmu pada regenerasi merupakan pengabdian tanpa batas. “Harus tetap maju karna berkarya itu tidak ada batas ukurnya. Lakukan yang terbaik untuk Negara dan bangsa Indonesia. Majukan lagi perkembangan wushu di Indonesia bahkan dunia.”tegas Alfian Lebih lanjut Alfian mengatakan bahwa dari pengamatannya perkembangan olahraga wushu masih belum bisa di terima dengan menyeluruh, padahal sudah banyak atlet wushu tanah air yang berhasil menang di kancah internasional. “Semoga kedepannya indonesia makin meningkat prestasinya dalam olahraga wushu dan tidak luput pemerintah pun harus ikut membantu berperan karna kita lihat bahwa wushu sepertinya masih asing di Indonesia, padahal banyak atlet wushu indonesia yang meraih juara di ajang kompetisi dunia.” tutup Alfian.(crs/adt)

Tekun Dalam Berlatih, Ahmad Berhasil Menguasai Kejuaraan Wushu Tingkat Daerah

Menguasai satu jurus lebih baik dari pada mengerti semua jurus, mungkin demikian ungkapan yang di sampaikan oleh NYSN, konsistensi dan focus tahapan akan membuahkan hasil lebih maksimal dari pada memaksakan hal lain yang di mengerti tapi tidak di lakukan. Remaja yang mempunyai prestasi kali ini bernama Ahmad Rabawi (21), pencinta olahraga wushu yang telah mencetak berbagai prestasi di bidang olahraga tersebut. Ahmad sudah berlatih wushu sejak kelas 1 SMP. Berawal dari niat hanya untuk menjalankan kewajiban mengikuti ekskul sekolah, akhirnya menjadi hobby tetapnya setelah satu tahun menekuni olahraga tersebut. Ahmad juga telah meraih banyak medali dalam kejuaraan wushu, antara lain medali perunggu pada Kejuaraan Daerah 2013, Medali emas, perak dan perunggu pada Kejuaraan Porprov banten 2014, 1 medali emas dan 2 medali perak pada Kejuaraan Daerah. Untuk memberikan yang terbaik dalam setiap kejuaraan yang diikutinya, Ahmad selalu melakukan persiapan yang sangat matang agar tidak mengecewakan pada saat tampil. “Kalau menjelang kejuaraan pasti selalu ada persiapan, enam bulan menjelang kejuaraan hingga tiga bulan menjelang kejuaraan pasti waktu latihan ditambah, dan dua bulan menjelang kejuaraan latihan pemantapan jurus dan fisik sampai dua hari menjelang kejuaraan harus istirahat latihan dan sudah siap mengikuti kejuaraan.” ujar Ahmad. Rasa jenuh tentu pernah dirasakannya, ketika dirinya kelas 2 SMK, Ahmad sempat merasakan hal tersebut. Tapi perasaan itu bisa disingkirkan oleh Ahmad ketika melihat semangat junior-juniornya yang selalu tersenyum saat latihan. “Rasa bosan itu hilang dan diganti dengan rasa bahagia bisa berlatih bersama, dan bisa saling berbagi ilmu dalam berlatih wushu.” kata remaja yang memang bercita-cita menjadi atlet wushu profesional. Selanjutnya Ahmad juga mengatakan bahwa focus dalam latihan yang di rencanakan secara matang akan menuai hasil yang maksimal ketimbang mencoba cara baru dengan spontan dalam bertanding. “Pesan saya tetap semangat berjuang, jangan kalah dengan rasa lelah dan capek dalam berlatih. Dan jangan bosan untuk mengulang latihan, kita bisa karena biasa. Barang siapa yang mau terus berjuang, niscaya dia akan bisa meraihnya.” tutup Ahmad.(crs/adt)

Rasya Menyabet Medali Emas Berkat Dukungan Penuh Sang Ayah

Perlu di ketahui oleh pembaca NYSN, Sebelum penemuan senjata, Wushu merupakan alat utama pertempuran dan pertahanan diri di Cina. Olahraga yang berasal dari negeri tirai bambu ini sangat memberikan pengaruh kepada hampir seluruh ilmu bela diri, konon mempelajari Wushu merupakan ‘kebiasaan suci’ demi memperkuat disiplin dan keberanian untuk memperjuangkan sekaligus bertahan di tanah mereka M. Rasya Isnan Ahsan, siswa yang baru saja naik kelas 5 di SD Al Fityan School Tangerang merupakan salah satu atlet binaan KONI Tangsel yang berada di cabang olahraga (CABOR) wushu, Rasya telah berlatih wushu sejak kelas 1 SD. Berawal dari melihat kakaknya yang sudah lebih dulu berlatih wushu, dan akhirnya menjadikan olahraga tersebut sebagai salah satu hobbynya. Soni Rusmayudhi, yang tak lain adalah ayah Rasya mengatakan kepada NYSN bahwa awal mula berlatih wushu Rasya belum terlalu serius dan masih sering bolos latihan. Lalu diberitakan oleh coach/sifu wushu yang mengajar Rasya bahwa akan ada kejuaraan. “Mulanya Rasya berlatih belum terlalu serius dan masih sering bolos latihan, sejak ada informasi itu akhirnya Rasya mengikuti latihan yang sangat intensif, tidak kenal capek. Bisa latihan empat kali seminggu kalau sudah dekat kejuaraan.”ungkap Soni. Karena ingin memberikan yang terbaik dalam kejuaraan, tidak jarang pula Rasya meminta izin kepada pihak sekolah untuk mengikuti latihan wushu. Terbukti usaha Rasya tidak sia-sia, Rasya mendapatkan Medali emas Jurus tangan kosong junior D dan Medali perunggu Jurus senjata panjang dalam Kejurnas. Soni menambahkan bahwa Rasya juga memiliki beberapa persiapan khusus menjelang kejuaraan. “Persiapan latihan intensif, pantangan makan dari sifunya ada beberapa, kalau bermain saya bebaskan.” ujar Soni. Soni sendiri mengakui kepada NYSN bahwa ia sering menjanjikan Rasya untuk mengajaknya jalan-jalan atau dibelikan mainan bila menjadi juara, sehingga Rasya dapat menjadi lebih semangat untuk berlatih. Rasya juga merupakan anak yang cerdas dalam pelajaran sekolahnya. Nilai rata-rata pelajarannya mencapai 90. Soni juga mengatakan bahwa Rasya tidak mengikuti bimbel karena menurut Soni, dirinya masih bisa menangani untuk mengajari Rasya dalam hal pelajaran sekolahnya. Lebih lanjut Soni juga mengatakan kepada NYSN bahwa Rasya merupakan anak yang bersemangat dalam berjuang. “Dia typical anak yang energic, kalah tidak masalah, malah lebih semangat buat perbaikan.”tambah Soni. Walaupun Rasya selalu mengatakan bahwa ia bercita-cita menjadi pengusaha sukses, namun bagi Soni, jika Rasya nantinya berubah pikiran dan ingin menjadi atlet wushu, menurutnya itu juga merupakan hal yang baik. Soni selalu membebaskan Rasya untuk memilih selama itu adalah hal yang positif. “Jangan memaksakan kehendak kita ingin anak kita menjadi apa. Pandai melihat bakat dan minat anak. Dukung dan support dengan sepenuh hati materi mental dan semangat.”tutup Soni (crs/adt)

Alfian Pelatih Wushu Muda ini, Menelurkan Banyak Bibit Berpresatsi

Alfian Prayoga Bustomi yang tak lain merupakan mantan atlet wushu yang sudah menuai banyak prestasi dan akhirnya, memutuskan pilihan untuk menjadi pelatih wushu Coach/Sifu Wushu. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi ini sudah berlatih wushu sejak kelas 3 SD. “Saya tertarik dengan wushu itu sejak duduk di bangku sekolah kelas 3 sekolah dasar, alasannya adalah karena Wushu itu bela diri yang menyehatkan dan paling lengkap menurut saya bahkan indah.” ujar Alfian. Alfian telah mengikuti berbagai kejuaraan, antara lain Kejurnas di Jogja pada tahun 2013 dan Kejuaraan di Pertamina pada tahun 2010 dan mendapatkan peringkat 4. Alfian juga masuk ke dalam peringkat 5 besar di Taulu Chanquan dalam kategori junior C dan mendapatkan 2 medali dalam Kejurda. Hampir 10 tahun berlatih wushu, menjadikan Alfian mempunyai bekal yang cukup untuk menjadi pelatih wushu. Sekarang, Alfian melatih wushu dalam komunitas Glora Wushu. Hal tersebut dimulainya semenjak duduk di bangku SMK kelas 11. “Sekarang saya kuliah dan bekerja jadi photographer serta admin media sosial di salah satu perusahaan di Tangerang, Jadi kalau weekend saya mengajar murid-murid saya di Curug Tangerang.” ujar Alfian. Murid-murid wushu yang dilatih oleh Alfian sudah mengikuti banyak kejuaraan. Yang paling berkesan bagi Alfian adalah pada saat Kejurda di Banten, muridnya membawa pulang 14 medali dari beberapa kategori wushu yang dilombakan. Ada pula anak perempuan yang juga merupakan salah satu murid Alfian mendapatkan juara harapan 1 dalam Kejurnas di Jakarta. Salah satu murid yang prestasinya paling menonjol menurut Alfian adalah Fatih, yang sudah meraih juara di kejuaran daerah dan antar club wushu serta di kejurnas jakarta. Diusianya yang masih terbilang muda, Alfian sudah melahirkan siswa siswi berprestasi dalam bidang olahraga wushu lewat didikannya. Remaja yang menyukai berbagai jenis olahraga ini mengatakan kepada NYSN bahwa wushu adalah olahraga yang sangat berprestasi karena mengajarkan berbagai macam pelajaran yang positif serta meningkatkan kecerdasan individunya. “Tetaplah berolahraga, karena itu sangat penting untuk kesehatan kita. Jadi apapun olahraganya, apapun beladirinya jangan pernah merasa bosan karena itu semua bisa membuat kita lebih sehat.” pesan Alfian.(crs/adt)

Tarung Derajat Jatim Optimis Akan Menyabet Gelar Juara Umum Popnas 2017

Foto: tarungderajatjatim

Surabaya – Pengprov Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jatim belakangan ini sedang mempersiapkan atlet-atlet terbaik untuk bertanding di Pekan Pelajar Olahraga Nasional (Popnas) yang akan di selenggarakan di Semarang-Jateng Bulan September yang akan datang. Ketua Harian Pengprov Kodrat Jatim Erwin H Poedjono mengatakan dari 36 atlet yang terpilih seleksi akan kembali dibagi menjadi dua, yaitu tim inti dan tim pelapis, “Tim inti ada 19 atlet, tetap akan kita berlakukan sistem promosi degradasi hinggi jelang Popnas nanti. Meski sudah lolos tapi kalau tidak latihan pasti posisi bisa digantikan atlet lain, ” ujarnya yang dilansir dari tribunnews “Para atlet Popnas itu nantinya akan berlatih dengan atlet yang dipersiapkan di Pomnas (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional),” kata Bambang Haryo yang juga merupakan anggota DPR RI itu. Sementara, Bambang Haryo, Ketua Umum Kodrat Jatim saat di wawancarai senin (12/6) mengatakan “Saya sudah melihat proses seleksi di GOR Sidoarjo Bulan Maret lalu, dari 86 peserta terjaring 36 atlet,”. Bambang Haryo sangat optimistis dengan para atlet yang terpilih nantinya bisa meraih juara umum Popnas dengan merebut minimal empat emas. Lainnya ia menjelaskan, dari 36 atlet nantinya akan disaring kembali menjadi 19 petarung saja. Nantinya mereka yang terpilih akan di karantina dan menjalani proses latihan terpadu yang digelar di Surabaya. Bidang Pengembangan Prestasi Dispora Jatim Dudi Harijanto menuturkan, saat mengawasi langsung jalannya  seleksi tim Popnas Tarung Derajat Jatim kemarin mengatakan “Cabor tarung derajat ini baru pertama dipertandingkan resmi di Popnas, setelah ini kita baru akan bicara target”. Ia menyebut hasil dari seleksi ini akan dijadikan salah satu tolak ukur dalam menentukan target medali yang akan di raih.

PABBSI Kaltim Sampai Saat Ini Belum Siapkan Lifter Untuk Mengikuti Popnas

Ilustrasi : Lifter Angkat Berat. Foto : tribunnews

Samarinda – Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 2017 diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah. Namun, menurut Sugeng Mochdar, sekretaris Pengprov Persatuan Angkat Besi, Binaraga, dan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) Kalimantan Timur mengaku belum pasti apakah cabang angkat besi akan turut serta dalam POPNAS 2017. Sugeng pun akan menemui Dispora Kaltim untuk mengonfirmasi kepastian disertakannya cabang angkat besi sebagai bagian kontingen Kaltim. “Informasinya angkat besi rencananya tidak diikutsertakan, sehingga kami perlu mendapatkan penjelasan dari Dispora Kaltim, kenapa cabang angkat besi ini tidak diikutsertakan ke POPNAS,” ungkap Sugeng yang dilansir dari antara PABBSI Kaltim sebenarnya sudah siap menurunkan 10 atlet yang siap untuk POPNAS. Rata-rata mereka adalah atlet junior yang berasal dari SKOI Kaltim. Tetapi karena kondisi defisit anggaran keuangan Dispora Kaltim, membuat Tim angkat besi berencana mencoret keikutsertaannya. Kondisi tersebut membuat pihak pengurus dan atlet kecewa lantaran angkat besi termasuk andalan yang mengharumkan nama Indonesia di olimpiade. Sesuai lansiran kaltim.com, pihak pengurus mengatakan “Kami pengurus dan atlet sangat kecewa apalagi kalau hal ini terbukti angkat besi tidak diikutsertakan.” Jelasnya.

Hebat, Junaedi Akan Dinobatkan Sebagai Pelatih Ice Skating Terbaik se Asia

Coach Jun, pelatih Ice Skating yang akan dinobatkan sebagai pelatih terbaik se Asia

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku Sebagai prasasti terima kasihku, mungkin demikian sepenggal liric lagu karangan Sartono ini, begitu penting peran guru di balik kesuksesan anak didiknya. Pelatih (coach) olahraga ice skating di Mall Bintaro Xchange, Junaedi telah melahirkan pelajar-pelajar yang berprestasi dalam bidang olahraga tersebut. Pria yang sehari-hari dipanggil Jun ini sudah menggeluti dunia olahraga ice skating sejak tahun 1996, dan tentunya membuat dirinya sangat berpengalaman dalam dunia olahraga tersebut. Sangat banyak kompetisi yang sudah diikuti oleh Jun. Namun yang paling berkesan baginya adalah ketika ia mewakili Indonesia di kompetisi Korea Dream Program. “Mewakili Indonesia dalam kompetisi Korea Dream Program, bisa dibilang itu adalah puncak karir saya.” ujar Jun. Pada dasarnya, Jun yang memang sangat menyukai anak-anak, maka dari itu, tidak sulit baginya membangun komunikasi antara dirinya dengan murid-murid ice skatingnya. Jun menjadi pelatih ice skating pertama kalinya di Mall Taman Anggrek dan berjalan selama 16 tahun, lalu ia pindah menjadi pelatih di Mall Bintaro Xchange sudah 2 tahun belakangan ini, karena melihat tempat ice skating yang baru beberapa tahun dibangun ini membutuhkan banyak perkembangan dalam latihan ice skatingnya. Saking mencintai ice skating dan menikmati menjadi pelatih, Jun sempat di drop out dari tempat kuliahnya. Sampai akhirnya, Jun juga pernah berada di titik jenuhnya pada tahun 2005. Ia takut salah memilih jalan hidupnya menjadi pelatih. Bermodalkan tekad dan keberanian, Jun tetap melangkah dan ternyata Jun mempunyai karir yang cemerlang di bidang ice skating. Perlu di ketahui dalam waktu dekat ini Jun akan dinobatkan menjadi pelatih terbaik se Asia pada bulan Agustus tahun ini. Menurut Jun, olahraga ice skating sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintah, tetapi belum resmi dijadikan olahraga dalam program pemerintah. “Kategori yang diadakan pemerintah berbeda dengan kategori yang kita ikuti. Dalam kompetisi ice skating, ada beberapa jenis kategori atau event, cukup banyak namun yang diadakan oleh pemerintah hanya satu sampai dua event. Padahal, jika melihat tujuan dari ice skating ini, bukan hanya kompetisi dan juara, tetapi juga rekreasi dan refreshing.” jelas Jun. Jun mengatakan sudah pernah sounding kepada kementerian pemuda dan olahraga, bahwa impiannya adalah di Indonesia ini ada lapangan ice skating khusus untuk para atlet, bukan hanya di Mall. “kami sudah sounding ke Menpora, namun sampai saat ini belum mendapatkan kepastian. impiannya adalah di Indonesia ini ada lapangan ice skating khusus untuk para atlet, bukan hanya di Mall.”tutup Jun.(crs/adt)

Ingin Seperti Yuna Kim, Tiada Hari Libur Bagi Naura Untuk Bermain Ice Skating

Naura (Kiri) bersama temannya Kinan (Kanan) saat mengikuti acara Indonesia Ice Skating Open (IISO) 2017.

Berseluncur di atas permukaan es dengan menggunakan sepatu runcing berbahan baja berhasil menarik hati para penggemarnya. Bintaro X change yang menyajikan wahana hobby bercampur olahraga ini berhasil memanjakan pengunjungnya lewat ruangan elegan beralaskan bongkahan es yang tertata apik. Salah satunya adalah siswi SD IT Aulia, gadis belia yang bernama Naura Jannati Ahmad, telah mahir bermain ice skating sejak duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar. Berawal dari sedang jalan-jalan ke Mall, Naura tertarik melihat latihan ice skating di Mall tersebut. Ia langsung meminta orang tuanya mendaftarkan dirinya untuk bergabung, dan hingga saat ini bakat pelajar berusia 8 tahun ini sudah tidak diragukan lagi dalam bidang olahraga tersebut. Beberapa bulan setelah berlatih, Naura akhirnya mulai mengikuti berbagai kompetisi. Diantaranya Kejurnas, Skate Bangkok, Skate Bandung, dan kompetisi di Abu Dhabi merupakan beberapa kompetisi yang pernah diikuti Naura. “Aku suka banget ice skating. Kalo disuruh berhenti aku bisa sedih.” terang siswi yang meraih juara 1 kategori solo spotlight dalam kompetisi Skate Bandung. Naura juga mengatakan kepada NYSN bahwa ia pernah mengalami cidera bocor di bagian kepala karena terjatuh saat latihan. Tapi, karena sangat mencintai ice skating, hanya selang waktu beberapa hari saja Naura sudah mulai kembali berlatih. Diakuinya ia tidak bisa berlama lama libur latihan. Hal senada juga di katakan oleh Junaedi, pelatih Naura, Naura adalah anak yang pendiam. “Awalnya Naura tidak ada bakat apapun, tapi karena dia sangat rajin latihannya, Naura menunjukan perkembangan pesat.” kata Junaedi. Dengan nada lugu gadis belia ini juga berpesan kepada khalayak banyak bahwa rajin merupakan modal utama. “Harus rajin, tidak boleh malas, nanti pasti jadi pintar mainnya.” tutup siswi yang mengagumi ice skater Yuna Kim.(crs/adt)

Layaknya Putri Salju, Kinan Mengadu Bakat Ice Skatingnya Hingga ke Abu Dhabi

Kinan Saat Berlaga di Lapangan Ice Skating

Kemampuan berseluncur di atas es merupakan keterampilan dasar untuk mengikuti olahraga hoki, seluncur cepat, seluncur indah, dan dansa es. Cut Kinanti Putri Safhira (7), merupakan atlet muda di bidang olahraga ice skating yang telah mengikuti berbagai kompetisi di bidang olahraga tersebut. Siswi SD Islam Al-Azhar 17 Bintaro ini mulai berlatih ice skating sejak usia 6 tahun dan sekarang sudah berada di level freestyle 4. “Dulu aku didaftarin mama, terus setelah ikut latihan beberapa kali akhirnya aku suka deh.” terang Kinan. “Ice skating itu seru, soalnya ada level-levelnya.” lanjut Kinan, yang mengaku bahwa level dalam ice skating membuat dirinya merasa lebih tertantang. Sekitar 12 kompetisi ice skating telah Kinan ikuti. Dan prestasi yang telah diraihnya antara lain, dalam kompetisi Skate jakarta tahun 2016, Kinan menyabet juara 1 dalam Kategori Solo Com, dan juara 2 dalam Kategori Artistic, Technical dan Footwork. Tak tanggung-tanggung, Kinan juga pernah mengikuti kompetisi di Abu Dhabi dan meraih juara 1 dalam kategori Solo Spotlight dan Footwork, serta juara 2 dalam kategori Artistic, dan juara 3 dalam kategori Technical. Menurut Desi yang tak lain adalah Ibunda Kinan, awal mula Kinan terjun dalam olehraga ice skating disaat sedang mencoba-coba bermain ice skating dan belum mahir berjalan di atas es. Ketika itu, Junaedi, sang pelatih ice skating di Mall Bintaro Xchange yang sekarang menjadi pelatih Kinan, melihat bahwa Kinan mempunyai potensi di bidang olahraga tersebut. Setelah diusulkan, Desi akhirnya mendaftarkan Kinan untuk bergabung dalam jadwal latihan ice skating di Mall Bintaro Xchange. Dan seiring berjalannya waktu, Kinan menjadi sangat menyukai ice skating. Desi mengatakan kepada NYSN bahwa Kinan mempunyai semangat yang luar biasa dalam berlatih. “Walaupun menjelang ujian sekolah, Kinan tidak mau mengurangi jadwal latihan ice skatingnya. Dia selalu membawa buku pelajaran ke tempat latihan agar tetap bisa belajar pelajaran sekolah sambil berlatih ice skating. Semangatnya luar biasa dalam menekuni olahraga seluncur yang satu ini.” ujar Desi. Perjuangan Kinan yang selalu menyeimbangkan antara hobby dan kewajibannya sebagai pelajar ini terbukti dengan prestasinya yang luar biasa dalam olahraga ice skating maupun di sekolah. Meskipun sering tidak bisa masuk sekolah karena kompetisi, Kinan tetap masuk dalam peringkat 10 besar di kelasnya. Dalam waktu dekat ini Kinan sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Skate Asia pada bulan Agustus mendatang. Menjelang kompetisi lebih lanjut Desi mengakui kepada NYSN bahwa Kinan lebih banyak berlatih dari jadwal biasanya. “Kinan berlatih setiap hari selama 1 jam. Bahkan jika ada waktu luang, Kinan selalu gunakan untuk berlatih ice skating.” kata Desi, yang selalu setia mendampingi anaknya di setiap kegiatan. Sebagai penambah semangat untuk menjadi juara dalam kompetisi, Kinan selalu minta orang tuanya membelikan mainan kesukaannya ketika ia mendapatkan juara. “Kinan gemar bermain squishy. Dia minta 2 buah squishy kalau bisa juara 1, dan 1 buah squishy kalau mendapatkan juara 2.” ujar Desi. Walaupun sangat tertarik untuk menjadi pelatih ice skating ketika dewasa nanti, Kinan mengatakan kepada Desi bahwa ia tetap bercita-cita menjadi Dokter. “Walau dua hal tersebut terlihat tidak berhubungan, namun Kinan yakin bahwa dirinya bisa membagi waktu untuk menjadi Dokter sekaligus pelatih.” tutup Desi. (crs/adt)

Dijanjikan Boleh Makan Mie Instan, Nadia Berjuang Untuk Jadi Juara Catur

Siswi kelas 5 SD Islam Sinar Cendekia Jombang, Tangsel yang bernama Aulia Nadia Azzahra sangat berprestasi dalam bidang olahraga catur. Ketika tinggal di Kalimantan, Nadia mengikuti jejak kakaknya yang juga seorang atlet catur, Aisha Nadine Sharikha yang sudah lebih dulu tergabung dalam Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) Kalimantan. Nadia mengatakan bahwa ibunya sudah sering menawarkan untuk bergabung dalam latihan catur seperti kakaknya, namun dirinya masih ragu sampai pada akhirnya tertarik karena melihat kakaknya mengikuti kejuaraan. Nadia mulai mengikuti latihan catur sejak masih di bangku Taman kanak-kanak, dan lebih mendalaminya lagi ketika duduk di kelas 3 SD sekaligus mulai mengikuti berbagai kejuaraan. Prestasi Nadia antara lain Juara 1 O2SN se kabupaten Kutai Timur 2016, juara 3 catur cepat O2SN SD se provinsi Kaltim 2016, Juara 3 Kejuaraan Daerah Kaltim Junior Putri F 2014, dan Juara 2 O2SN SD se Tangsel 2017. Setelah naik kelas 5 SD, Nadia dan keluarga pindah ke Jakarta. Mulai dari situlah Nadia lebih sering mengikuti berbagai kejuaraan. “Mama melarang makan mie kalau menjelang kejuaraan. Tapi kalau akhirnya jadi juara, hadiahnya boleh makan mie. Aku bahagia banget kalau dapet hadiah itu.” Kata Nadia dengan nada polos sambil tersenyum. Nadia juga pernah merasa capek dan hampir menyerah untuk mengikuti lomba, tapi ibunya teris mensupport dan selalu memberi semangat sehingga Nadia bisa bangkit kembali. Perasaan menyesal juga pernah menghampiri Nadia ketika ia mengikuti Japfa Chess Festival. Nadia terlalu menganggap sepele lawan mainnya dan terlalu percaya diri, sehingga pada akhirnya ia kalah dalam pertandingan. Tapi ayah dan ibu selalu mendampingi Nadia. Mereka selalu mengajari Nadia untuk lebih merendahkan diri dan tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Nadia juga selalu diingatkan untuk rajin berdoa dan belajar mengaji, walaupun sibuk mengikuti kejuaraan. “Disiplin, pantang menyerah, rajin berdoa dan mengaji, nanti kalau sudah jadi juara kan kita juga yang senang.” ujar Nadia seraya memberikan saran untuk teman-temannya yang sedang berjuang. Rahmawati, Ibunda Nadia mengatakan, awalnya Nadia dan kakaknya hanya iseng-iseng mengikuti latihan catur untuk mengasah otak, tetapi karena Rahmawati melihat anak-anaknya berpotensi pada bidang olahraga tersebut, akhirnya Rahmawati menuntun anak-anaknya untuk fokus pada catur. “Bagi saya, menjadi atlet itu akan membentuk karakter dan fisik anak-anak dan saya rasa saya sudah menemukan jalan untuk anak-anak saya kedepannya.” ujar Rahmawati, yang juga mengatakan bahwa sekolah Nadia dan Nadine di Sinar Cendekia sangat mendukung kegiatan positif para muridnya. Rahmawati bersyukur karena sekolah dapat bekerja sama dalam mendukung anak-anaknya, bahkan pihak sekolah tidak pernah lupa untuk memberikan info-info tugas sekolah untuk Nadia dan Nadine agar tidak tertinggal pelajaran. Rahmawati juga tidak pernah memaksakan anak-anaknya dalam menjalani sesuatu. Diakuinya, dia tidak masalah jika anaknya tidak mau menjadi atlet. Tapi ia bersyukur karena anak-anaknya mengerti bahwa perjuangan mereka dari merintis itu tidak mudah, sehingga mereka tetap mempertahankan apa yang sudah dicapai. “Jalan yang berliku-liku itu memang tidak sedikit orang yang ingin menyerah karena tidak sanggup melewati proses, tapi tidak ada perjuangan yang sia-sia, maka dari itu jangan putus asa.” pesan Rahmawati.(crs/adt)

Kelas 2 Sekolah Dasar, Zachry Sudah Menguasai Tehnik Motor Trail

Sejiwa dengan saudaranya siswa SDN 03 Pd. Ranji, tangsel bernama M. Zachry Akbar (9) sangat menyukai balap motor trail. Ia tergabung dalam komunitas PPC Pondok Cabe di kelas 65 cc. Ibunda Zachry memaparkan kepada NYSN bahwa menyukai olahraga tersebut ketika mendatangi sirkuit balap motor trail dan langsung berminat untuk bergabung. Prestasi Zachry dalam berbagai kejuaraan balap motor trail juga sudah tidak diragukan lagi. Ia tercatat menjadi juara beberapa kali, diantaranya juara I kejurda Banten, juara I kejurda Jabar, dan juara 5 dalam kejurnas dan masih banyak lagi. “Sejak kelas 2 SD, Zachry sudah mengikuti latihan balap motor trail.” ungkap Andi Tenri Seno, Ibunda Zachry. Ajaibnya dikatakan Andi, Zachry berlatih menggunakan motor kopling 65cc sedangkan untuk anak seusianya biasa menggunakan motir matic 50cc sebagai langkah awal. Namun hal tersebut malah membuat Zachry jadi lebih cepat menguasai motor matic karena motor kopling lebih susah proses latihannya.”papar Andi. Sibuk mengikuti kejuaraan dimana-mana tidak membuat pelajar yang mengikuti jejak kakaknya menjadi pembalap motor trail ini meninggalkan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Siswa yang menyukai pelajaran matematika ini selalu masuk 10 besar di kelasnya. Walaupun masih kelas 3 SD, Zachry merupakan anak yang mempunyai semangat tinggi. Sampai suatu ketika, Zachry mengalami demam tinggi di hari akan diadakannya perlombaan. Andi sempat ragu bahwa Zachry tetap bisa menghadiri acara tersebut. Namun, Zachry mengatakan bahwa ia mampu melakukannya, dan ternyata ia dapat menyelesaikan perlombaan dengan baik di sela-sela kondisinya yang kurang sehat. Pertama kali mengikuti kejurnas, Zachry merasa kecewa karena motornya bermasalah ketika sedang ikut kejuaraan. Menurutnya, seharusnya ia berpeluang untuk menjadi juara I, tetapi karena di tengah pertandingan motornya mengalami kendala, Zachry akhirnya berhasil menyelesaikan balapan dengan menduduki peringkat kedua. Dan hal itu membuat Zachry belajar untuk lebih baik lagi. Zachry juga pernah mengalami cidera di perut ketika sedang mengikuti salah satu kejuaraan. Namun bagi Andi, hal tersebut sudah biasa untuk anak-anak yang menggeluti motor trail, yang penting tetap memakai atribut keamanan agar dapat meminimalisir cidera yang serius saat terjatuh.(crs/adt)

Hebat, Anak Kelas 4 SD Ini Menduduki Peringkat 5 Besar Dalam Kejurnas Balap Motor Trail

Azura saat berlaga diatas motorcross

Sekali nyoba pasti langsung ketagihan sampai-sampai jatuh kadang tak terasa karena saat olahraga motocross mulai mengadiksi. Menunggangi motor di jalan tanah lalu melompat-lompat memang mengasyikkan dan mampu memacu adrenalin. Seperti yang di lakukan oleh M. Azura Zakaria (11), siswa kelas 6 SDN 03 Pondok Ranji, Tangsel. Yang sehari-hari biasa dipanggil Azura. Pelajar yang mempunyai banyak prestasi di bidang motor trail ini awalnya hanya melihat-lihat saja sampai akhirnya saat kelas 4 SD, ia memutuskan untuk bergabung dalam komunitas PPC Pondok Cabe. Berbekal latihan seminggu 4 kali pada hari kamis-minggu, Azura cepat menguasai olahraga ekstrim tersebut. Ia juga pernah menduduki peringkat ke-5 dalam kejurnas balap motor trail. Andi Tenri Seno, Ibunda Azura mengatakan bahwa dukungan dari keluarga dan terutama suaminya sangat diberikan terhadap keinginan anaknya. “Azura sangat mahir dalam jumping, sedangkan adiknya lebih mahir motor kopling.” jelas Andi, yang mempunyai dua orang anak lelaki dan keduanya berprestasi dalam dunia motor trail. Andi menambahkan bahwa Azura sendiri memang mengakui bahwa ia mempunyai cita-cita menjadi pembalap. Karena itulah ia sangat senang dapat tergabung dalam salah satu komunitas balap. Namun terkadang karena jadwal kejuaraan yang selalu diadakan pada hari sabtu, Azura sesekali harus izin tidak masuk sekolah pada hari tersebut jika ia harus mengikuti kejuaraan. Tapi hal itu bukanlah sebuah masalah bagi Azura. Karena kecerdasannya, Azura tetap dapat mengikuti pelajaran sekolah dengan baik dan tidak menunjukkan kemunduran pada nilai-nilai pelajarannya. “Peserta balap motor trail seusia Azura biasanya sudah lebih ekstrim dan lebih jago bermainnya. Terkadang saya suka takut kalau melihat mereka balapan, takut cidera berat.” ungkap Andi, yang juga mengatakan kepada NYSN bahwa Azura pernah mengalami patah jari ketika mengikuti kejuaraan. Namun, Azura tidak kapok karena kejadian itu. Semakin lama Azura menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. “Awal ikut kejuaraan, Azura hanya mendapat peringkat kedua belas, tapi lama kelamaan bisa naik sampai sepuluh besar. Karena biasanya, peringkat satu sampai sepuluhlah yang banyak dicari oleh para sponsor.” tutur Andi. Andi juga menambahkan, ia tidak lupa menanamkan ajaran-ajaran agama kepada anak-anaknya. Azura dan adiknya mengikuti les mengaji setiap hari Senin-Rabu. Andi berpesan untuk para orang tua yang anak-anaknya ingin bergabung dalam komunitas motor trail. “Jangan dilarang, didukung aja dan jangan khawatir.” tutup Andi mengakhiri perbincangan.(crs/adt)

Pernah Kecewa, Pecatur Muda Ini Targetkan Juara Porprov

Nadine saat mengikuti JAPFA Chess Festival 2017

Catur yang umumnya sangat identik dengan para orang yang sudah berumur dengan menggunakan strategi pertarungan dalam bentuk miniatur mulai banyak di minati oleh remaja, kali ini catur berhasil memikat Aisha Nadine Sharikha, yang lahir di Sangatta, 9 juli 2004 tertarik dengan catur. Nadine, siswi kelas 7 SMP Sinar Cendekia Jombang, Rawalele, Tangsel merupakan siswi yang berprestasi di bidang olahraga catur. Remaja penggemar pempek ini memaparkan kepada NYSN mulai berlatih catur sejak kelas 2 SD, sekitar umur 7 tahun. Tetapi sempat berhenti satu tahun yang lalu dan kembali memulai di bangku kelas 4 SD sekaligus awal dirinya mengikuti berbagai kejuaraan catur. “Waktu saya kelas 2 SD, saya mengikuti les piano. Terus di depan tempat les saya ada tempat les catur. Kalau saya belum dijemput, biasanya saya sering menunggu di tempat ekskul catur dan melihat orang-orang yang sedang berlatih catur sekaligus mempelajarinya. Lama kelamaan saya tertarik main catur, dan akhirnya ikut ekskul catur di sekolah untuk mengembangkan diri saya agar bisa bermain catur lebih baik lagi. Saya tertarik main catur krn seru aja lihatnya. sekitar 5 bulan, saya mencoba fokus belajar catur, lalu saya mengikuti kejuaraan untuk menambah pengalaman.”cerita Nadine Nadine juga telah mengumpulkan cukup banyak prestasi luar biasa dalam berbagai kejuaraan catur, diantaranya : Juara 1 O2SN SD se kabupaten Kutai Timur 2015 juara 2 catur cepat O2SN SD se provinsi Kaltim 2015 juara 1 O2SN SMP se-Tangsel 2017 Juara 1 Kejuaraan Daerah Kaltim Junior Putri E 2014 Juara 3 Kejuaraan Daerah Kaltim Junior Putri E 2015 Juara 2 Kejuaraan Daerah Kaltim Junior Putri D 2016. Ternyata, walau sudah banyak mencetak prestasi, Nadine mengakui terkadang masih ada saat dimana ia merasa capek dan malas berlatih. “Belum lagi berlatih memory, saya dan adik juga atlet memory Indonesia. Cuma ya kalau mau ikut kejuaraan, harus tetap giat berlatih.” jelas Nadine yang juga mempunyai adik yang berprestasi di bidang olahraga yang sama. Nadine juga mengatakan kepada NYSN, jika kejuaraan memakan waktu sampai berhari-hari, ia sering kali tertinggal pelajaran, jadi ia harus rajin mengejar ketinggalan, salah satunya dengan mengikuti pelajaran tambahan dan aktif di sekolah. Kejurnas dan Porprov juga diakui Nadine merupakan tantangan terberat dan tersulit karena mayoritas pesertanya sudah sangat berpengalaman, bahkan ada yang sudah mempunyai gelar. Siswi yang juga hobby membaca novel ini juga pernah merasakan pengalaman pahit saat mengikuti kejurnas. “Saya sempat kalah melawan tim lain, karena kecurangan di tim lain yang sudah kerja sama antara pelatih dan pemain. Disitu saya sangat kecewa sekali, dan saya nangis ke ibu saya karena kalah.” ungkap nadine. Akan tetapi, Nadine bukan merupakan anak yang pantang menyerah. Jika gagal terus untuk mencobanya lagi. “Jangan pantang menyerah, intinya latihan dan berdoa, semuanya pasti akan ada hasilnya cepat atau lambat. Kalo gagal coba lagi, belajar dari kegagalan itu, dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yg sama. Semangat terapkan sikap disiplin jg, manfaatkan waktu dengan baik. Orang sukses itu orang yg pandai memanfaatkan waktu, dan belajar setiap kesalahannya.” pesan Nadine (crs/adt)

Wow, Pelatih Anggar Ini Mencetak Ratusan Medali Untuk Muridnya Yang Berprestasi

FX Widi Dwi Anggono, mengenakan atribut khas Anggar. NYSN Media (06/07/17)

Pria kelahiran 23 Januari 1983 ini mulai berlatih anggar sejak tahun 2002, dan pernah mengikuti pra PON & PON di Palembang, Kalimantan, Riau, dan Bandung. Widi juga pernah menjadi juara 3 tingkat nasional individu dan regu, dan pernah ikut bertanding ke Eropa, Madrid, Israel, serta mengikuti latihan bersama di Jerman dan Ukraina. Pria yang bernama lengkap FX Widi Dwi Anggono, pelatih anggar di sekolah St. john’s BSD, tangsel yang mempunyai segudang prestasi di bidang yang di gelutinya. Diantaranya berhasil mencetak bibit Ekskul anggar di St. John’s pernah menjadi juara II Nasional pelajar pada tahun 2012 di Kalimantan, dan juga menjadi juara II Nasional di Kejurnas Anggar Jakarta, lalu ada 1 siswa yang ikut di kejuaraan Asia yang diadakan di Thailand. Disamping menjadi pelatih anggar dan wakil kepala sekolah bagian Olahraga di St. John’s, Widi juga menjabat sebagai Ketua Harian di IKASI Tangsel. Widi mulai mengajar di sekolah St. John’s sejak tahun 2007 dan pada tahun 2009, Widi membuka ekskul anggar di sekolah tersebut. Selama menjadi pelatih di St. John’s, Widi telah menyumbangkan sekitar 143 medali anggar untuk sekolah tersebut sejak tahun 2009-2017. “Olahraga anggar lebih ke pembentukan karakter dan fisik siswa, karena dapat mengembangkan sifat disiplin, kerja keras, teamwork, dan leadership di dalam diri para siswa dan siswi lewat latihan anggar. Biasanya untuk pemanasan full olah tubuh bisa memakan waktu sekitar satu jam.” ujar Widi. Widi juga mengatakan bahwa walaupun masih level pelajar, prestasi St. John’s dalam bidang anggar bisa bersaing dengan PPLP sekolah Atlet, dan mempunyai program yang cukup jelas dalam bidang olahraga tersebut. “Olahraga anggar juga dapat menjadi bekal yang cukup bagi para siswa yang berprestasi di bidang tersebut untuk mendapatkan beasiswa, bahkan sampai ke luar negeri.”tambahnya Mayoritas siswa yang ikut ekskul anggar adalah para siswa yang mempunyai IQ cukup tinggi, yaitu di atas 40. Bahkan ada salah satu siswa yang disebut Widi sebagai siswa superior karena hanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk dilatih dan ikut dalam kejuaraan. “Namun, belum banyak sekolah yang mau memasukkan olahraga anggar dalam ekskulnya. Biasanya karena faktor alat-alat yang harganya cukup mahal.” jelas Widi kepada NYSN.(crs/adt)