Skuat Timnas U-16 Bubar, Striker Ini Berpeluang Gabung Akademi di Belgia

Striker Timnas U-16, Sutan Zico, dikabarkan mendapat tawaran menggiurkan dari manajemen JSSL Chelsea FC. Zico santer dikabarkan akan menempuh pendidikan sepakbola di Belgia. (AFC.com)

Jakarta- Para pemain Timnas U-16 makin mengkilap sejak menjuarai Piala AFF U-16 2018, Agustus lalu. Bahkan meski gagal merebut gelar Piala AFC U-16 2018 di Malaysia dan gagal lolos ke Piala Dunia U-17 2019, tim asuhan Fakhri Husaini itu tetap mendapat apresiasi yang luar biasa. Timnas U-16 memang telah dibubarkan. Namun, tak berarti mereka berhenti berkiprah di dunia sepak bola. Winger lincah asal Surabaya, Jawa Timur, M. Supriadi, rencananya pekan depan terbang ke Liverpool, Inggris, untuk menuntut ilmu sepakbola. Sedangkan empat pemain skuad asuhan Fakhri lainnya, tengah diproyeksikan bergabung dengan akademi di Eropa. Empat pemain itu adalah Sutan Zico, Brylian Aldama, Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa. Zico menjadi salah satu bomber andalan Timnas U-16 pada Piala Asia U-16 2018. Total pemuda bernama lengkap Sutan Diego Armando Ondriano Zico ini mencetak dua gol dari empat gol yang dicetak Timnas U-16 di Piala Asia U-16. Selain Zico, keempat pemain itu, berada dalam naungan agensi yang berasal dari Singapura. Zico santer dikabarkan akan menempuh pendidikan sepakbola di Belgia. Pemain kelahiran Jakarta, 7 April 2002, memang mendapat tawaran dari manajer JSSL Chelsea FC. Hanya, Zico belum mengiyakan tawaran itu. Kabar itu dibenarkan oleh ayah Zico, Oriyanto Jhosan. Menurut Oriyanto, Zico belum sembuh total dari cedera pangkal pahanya. ”Ada tawaran ke Belgia atau Australia. Tapi Zico memilih untuk memulihkan cedera pahanya terlebih dahulu. Mungkin nanti bulan November atau Desember, dia bisa menerima tawaran itu,” tutur pria yang juga eks pemain Semen Padang itu. Itu juga yang menjadi alasan Zico jarang di turunkan di ajang Piala AFF U-16 2018. Bahkan di Piala AFC U-16 September lalu, Sutan Zico hanya sekali turun full time. Itu saat Garuda Asia ditahan Imbang 0-0 oleh India (27/9). ”Ada ototnya yang sobek dan tak bisa dioperasi, harus istirahat. Itu berpengaruh di pergerakan dia (Zico, Red) saat di lapangan,” ucap Oriyanto. Selain itu, ada beberapa tim Liga 1 yang melakukan pendekatan ke Sutan Zico. Salah satunya Persija Jakarta. Namun, lagi-lagi tawaran itu masih belum diiyakan oleh Zico. (art)

Atlet Berjilbab 21 Tahun Tak Menyesal Gagal di Asian Para Games 2018, Menpora: Judo Harus Cari Terobosan

Jakarta- Miftahul Jannah, atlet blind judo Indonesia, mengaku tak menyesal harus gagal bertanding pada babak 16 besar, di kelas 52 kg putri kategori low vision Asian Para Games 2018. di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Senin (8/10). Miftah, sapaanya, didiskualifikasi jelang tampil lantaran ia menolak membuka hijab saat bersiap menghadapi Oyun Gantulga, asal Mongolia. Sesuai regulasi Federasi Judo Internasional (JJF), memang terdapat aturan yang tidak memperbolehkan atlet judo mengenakan penampahan busana atau atribut di kepala saat tampil, termasuk jilbab. Hal itu dinilai bisa membahayakan atlet judo, akibat leher tercekik atau cedera lainnya, di bagian kepala. “Rasa menyesal tidak ada, itu sudah jadi pendirian Miftah. Pelatih tidak memberitahu ke Miftah kalau ada aturan membuka jilbab sebelum pertandingan dimulai,” ujar Miftah, di GBK Arena Senayan, Jakarta, Selasa (9/10). “Tapi, ketika mendengar di technical meeting, ada aturan yang melarang pemakaian jilbab, ya sudah Miftah memegang prinsip tak ikut bertanding jika harus buka jilbab,” lanjutnya. Atlet disabilitas kelahiran Aceh Besar, 4 Mei 1997 itu, menegaskan regulasi harus ditegakkan, namun ia menilai prinsip keyakinannya juga harus dihormati.nij “Miftah ingin mempertahankan prinsip. Ini tidak hanya untuk Miftah sendiri, tapi untuk atlet-atlet muslimah lainnya, agar mereka bisa terus mempertahankan jilbabnya,” tambah peraih medali emas Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2016, Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu. Sementara itu, Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), berharap federasi judo internasional mencari terobosan agar membuat hijab yang bisa dimodifikasi, sehingga bisa dipakai oleh para pejudo wanita, tanpa melepas indentitasnya sebagai muslimah. “Harapanya adalah kedepan Federasi Judo Internasional bisa membuat regulasi yang lentur. Penggunaan jilbab bagi atlet muslimah harusnya ada dengan desain yang tidak membahayakan, seperti pada cabang olahraga lainnya,” cetus menteri yang hobi bermain bulutangkis itu. Menteri asal Bangkalan Madura, Jawa Timur itu, menegaskan pemerintah dan semua pihak harus menghormati keputusan dara yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar Inggris-Amerika-Indonesia pada 2015, untuk tidak bertanding karena memegang teguh prinsip. “Pemerintah dan kita semua harus menghormati Miftah yang memegang teguh prinsip. Ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua. Dan, regulasi yang ada harus membuat rasa aman dan nyaman bagi para atlet,” tukas suami dari Shobibah Rohmah itu. (Adt)

Tampil Perdana di Youth Olympic Games 2018, Duet Voli Pantai Putra Indonesia Sikat Tim AS

Tim Voli Pantai Putra Indonesia di Youth Olympic Games 2018, yang diwakili Danang Herlambang (kiri) dan Akbar Bintang, sukses menekuk duet Amerika Serikat, Timothy Brewster dan John Schwengel, dengan skor tipis 23-21 dan 21-18. (Kemlu RI)

Buenos Aires- Wakil Indonesia di cabor Bulutangkis Tunggal putra dan Voli Pantai Putra, maju ke babak berikutnya, pada laga hari pertama Youth Olympic Games 2018, yang di gelar pada Minggu (7/1​​0). Ikhsan Rumbay Leonardo Imanuel, mengalahkan tunggal putra Vietnam, Nguyen Hai Dang, dua set langsung dengan skor 21-7 dan 21-19. Ikhsan selanjutnya menghadapi wakil Chile, Medel Alonso, pada Senin (8/10), di lapangan Tecnopark. Sementara itu, tim Voli Pantai Putra, yang diwakili Akbar Bintang dan Danang Herlambang, berhasil mengandaskan duet Amerika Serikat, Timothy Brewster dan John Schwengel, dengan skor tipis 23-21 dan 21-18. Cabang olah raga lain yang diikuti atlit muda Indonesia pada hari pertama adalah menembak (Muhammad Naufal Mahardika), renang 200 m putri-medley (Azzhara Permatasari), dan badminton putri (Maharani Sekar Batari). Naufal yg baru berusia 17 tahun menduduki ranking 14 dunia, sedangkan Maharani sudah harus menyerah dari Goh Jin Wei, dari Malaysia. Youth Olympic Games 2018 digelar dibeberapa stadion dan taman-taman kota, mempertandingkan 32 cabang olah raga, dan diikuti oleh atlet muda dari 224 tim. Tim Merah Putih membawa 18 atlet (10 putri dan delapan putra) dan tampil di delapan cabang olahraga, pada Olimpiade Remaja Musim Panas 2018. Kedelapan cabang olahraga itu ialah angkat berat, renang, atletik, basket 3 on 3, badminton, golf, menembak dan voli pantai. (Adt)

Pernah Aktif di Bowling dan Bulutangkis, Mella Windasari Raih Emas di Lawn Bowls

Mella Windasari menambah perbendaharaan medali emas Asian Para Games 2018 dari cabang olahraga Lawn Bowls, pada Senin (8/10). Atlet berusia 34 tahun itu, meraih emas di nomor tunggal putri di kelas B6. (INAPGOC)

Jakarta- Indonesia kembali menambah perbendaharaan medali emas Asian Para Games 2018 melalui Mella Windasari dari cabang olahraga Lawn Bowls, pada Senin (8/10). Atlet berusia 34 tahun itu, meraih medali emas di nomor tunggal putri di kelas B6, setelah mencetak poin sempurna sebanyak tiga kali. Tampil di Stadion Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Mella, sapaanya, sukses menyingkirkan atlet Indonesia, yakni Retnowati Yugia Sibarani dengan skor 21-4. Lalu, ia mengandaskan Faridah Binti Saleh asal Singapura dengan skor 21-2, dan wakil Hongkong, Tsz Wong Sum dengan skor 21-6. Sementara itu, di laga penentuan, Mella menekuk Rattna’Aizah Mohd Idris dari Malaysia, dengan skor 15-8. Berkat empat kemenangan telak itu, membuat total raihan angka Mella tak saingi oleh para lawannya. Padahal, Mella masih menyisakan satu pertandingan tersisa, melawan Jang Sun-Bun asal Korea Selatan (Korsel). Namun, laga itu tak memiliki pengaruh apapun bagi Mella untuk mengamankan medali emas. Kiprah Mella di lwan bowls belum terlalu lama. Terhitung setahun terakhir ini ia serius menekuni olahraga bowling lapangan itu. Sebelumnya, Mella aktif di cabang bowling dan bulutangkis. Ia bahkan tak menyangka, dirinya bisa mengukir prestasi menawan di Asian Para Games 2018 ini. “Saya kan masih baru, sedangkan yang lain sudah 10-15 tahun. Kalau target pribadi nggak ada, cuma kalau untmuk setiap pertandingan saya selalu ingin menang,” tukas Mella. (Adt)

Anak Penjual Tempe Raih Emas Asian Para Games 2018, Suparniyati: Ini Hasil Buruk

Suparniyati, atlet tolak peluru putri kategori F20 (keterbatasan kecerdasan/IQ), sukses menggenggam medali emas Asian Para Games 2018. Namun, wanita kelahiran Riau, 18 Agustus 1993 itu gagal memecahkan rekor. (Kemenpora)

Jakarta- Suparniyati, atlet tolak peluru putri kategori F20 (keterbatasan kecerdasan/IQ), sukses menggenggam medali emas Asian Para Games 2018. Namun, ia menyebut ini adalah hasil buruk. Mengapa? Meski sukses di pesta multi sport terbesar bagi para penyandang disabilitas se-Asia itu, Suparniyati mengaku prestasinya belum maksimal. Melakoni pertandingan di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada Senin (8/10), wanita kelahiran Riau, 18 Agustus 1993 itu, naik podium utama usai mengunci tolakan sejauh 10,75 meter. Berkaca pada ASEAN Para Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia, ia mampu memecahkan rekor Asia sejauh 11,03 meter. Torehan gemilang di Negeri Jiran itu menggeser rekor sebelumnya milik Nursuhana binti Ramlan (Malaysia) sejauh 10,71 meter yang diciptakan pada 2012. Saat latihan, ia mengaku pernah melempar sampai jarak 11 meter. “Ini buruk karena tak memecahkan rekor saya sendiri, yakni 11,03 meter di ASEAN Para Games 2017,” ujarnya, Senin (8/10). “Ini Asian Para Games pertama saya.Saya sangat bahagia meski tak sesuai keinginan melewati rekor di Malaysia,” lanjutnya. Sementara itu, atlet Indonesia Tiwa harus puas merebut medali perunggu setelah hanya mampu membuat tolakan sejauh 6,44 meter. Dan, Hiromi Nakada membawa pulang medali perak dengan tolakan sejauh 10,29 meter. Sejatinya Suparniyati adalah seorang anak penjual tempe. Hal itu terungkap dari salah satu akun Facebook Dit.PPKLK, “Suparniyati, anak dari seorang penjual tempe asal Riau ini merupakan salah satu atlet tolak peluru asal Indonesia”. “Hebatnya, segala keterbatasan yang dimilikinya tidak membuat Suparni berkecil hati,” tulisnya. Prestasi yang ditorehkan bukanlah produk instan. Ia sudah berlatih keras sejak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Seiring waktu, kemampuannya terasah. Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XIV, Riau 2012, menjadi pengalaman Suparniyati dalam mengasah kemampuan di level nasional. Kemudian berlanjut di ajang yang sama pada 2016 di Jawa Barat (Jabar). Pada Peparnas edisi kesepuluh itu, ia meraih dua medali emas dan satu perak. Sedang sang pelatih Purwoko, menegaskan bila anak didiknya tersebut memang ditargetkan membawa pulang medali. Dan, Suparniyati sukses menjawab tantangan itu. Ia berharap medali emas yang didapat di cabang atletik menjadi virus positif bagi atlet di cabang olahraga lainnya. “Untuk emas pertama hari ini cukup membanggakan,” cetusnya. “Mudah-mudahan bisa menambah motivasi bagi atlet atlet yang bertanding hari ini,” tukas Purwoko. (Adt)

Timnas Balap Sepeda Bawa Enam Emas Di Thailand, Dara 20 Tahun Asal Lumajang Sumbang Dua

Pebalap tim sprint putri Indonesia, Crismonita Dwi Putri dan Elga Kharisma Novanda (merah/tengah), berpose usai menerima medali emas pada kejuaraan "ACC Track Asia Cup 2018" di Suphan Buri, Thailand, pada Minggu (7/10). Total Timnas Indonesia membawa pulang enam medali emas dan dua perak. (Antara/PB ISSI)

Jakarta- Timnas balap sepeda Indonesia tampil gemilang pada kejuaraan “ACC Track Asia Cup 2018” di Suphan Buri, Thailand yang berakhir, Minggu (7/10), usai membawa pulang enam medali emas dan dua perak. “Hasil ini membuat kami semakin optimistis, untuk menghadapi Asian Championship Track di Jakarta, Januari pada 2019,” kata manajer timnas balap sepeda Indonesia, Budi Saputra saat dikonfirmasi dari Jakarta, Minggu (7/10). Emas timnas Indonesia dari Velodrome Suphan Buri Thailand ini, dipersembahkan pebalap track terbaik saat ini yakni Puguh Admadi, Terry Kusuma dan I Gusti Bagus Saputra, yang turun pada nomor tim sprint. Di final, trio Indonesia ini mengalahkan tuan rumah Thailand dengan waktu 59.49 detik. Keperkasaan Puguh Admadi tak berhenti sampai di sini. Pebalap yang sempat menekuni BMX ini juga mampu mempersembahkan emas, dari nomor 200 meter sprint yang difinal mengalahkan pebalap andalan Thailand, Jai Angsuthasawit. “Jai adalah peraih medali emas nomor keirin pada Asian Games 2018 lalu,” ucap Budi menegaskan. Satu lagi pebalap putra Indonesia yang menorehkan medali emas yaitu Terry Yuda. Pebalap asal Jawa Tengah ini meraih hasil terbaik pada nomor 1.000 meter dengan catatan waktu satu menit 33,882 detik. Untuk perak direbut pebalap Hongkong, Tsz Chun Law dan perunggu untuk pebalap Singapura, Mohammad El Yas. Di sektor putri, pebalap andalan Indonesia juga tampil gemilang. Pasangan Elga Kharisma Novanda dan Crismonita Dwi Putri, sukses jadi yang terbaik pada nomor tim sprint putri dengan catatan waktu 47,477 detik. Perak untuk tim Hongkong dan perunggu untuk Thailand. Crismonita Dwi Putri juga gemilang pada nomor 500 meter time trial. Dara kelahiran Lumajang Jawa Timur 23 April 1998 ini, meraih emas, paska membukukan waktu tercepat yaitu 36,477 detik. Untuk perak direbut pebalap Hongkong, Hoi Yan Jessica Lee dan perunggu untuk pebalap Malaysia, Aris Amira Rosidi. “Crismonita juga meraih emas dari nomor keirin. Jadi, total ada enam emas yang dibawa pulang,” kata pria asal Purwokerto Jawa Tengah itu. Tak hanya emas, pebalap Indonesia juga membawa dua medali perak atas nama Bernard Benyamin van Aert, dari nomor scratch, dan satu perak lagi dipersembahkan oleh Puguh Admadi, dari nomor keirin. Budi menjelaskan dengan hasil ini pihaknya tak hanya optimistis skuatnya akan tampil bagus di Asian Championship Track 2019, namun juga menjadi modal menghadapi road to Olympic 2020, karena poin pada kejuaraan tersebut terutama untuk tim sprint putri, sudah masuk hitungan. (art)

Gagal di Indonesia Masters, Alfian/Gischa Sabet Gelar di Chinese Taipei Open 2018

Duet ganda campuran Pelatnas PBSI Cipayung, Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami, sukses merengkuh gelar di Chinese Taipei Open 2018 BWF World Tour Super 300, dan mendapat hadiah 39.500 dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 590 juta. (yosstory.com)

Jakarta- Usai gagal di kejuaraan bulutangkis Indonesia Masters 2018, di Kepulauan Bangka Belitung, September lalu, duet Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami sukses merengkuh gelar di ajang Chinese Taipei Open 2018 BWF World Tour Super 300. Di Taipei Arena, pada laga pamungkas, Minggu (7/10), Alfian/Gischa sukses meredam wakil tuan rumah, Yang Po Hsuan/Wu Ti Jung, paska melewati pertarungan berdurasi 30 menit, straight game, 21-15, 21-11. Di awal gim pertama, pasangan berperingkat 87 dunia itu harus tertinggal di jeda interval gim dengan skor 8-11. Selepas itu, Alfian/Gischa seolah mendapatkan semangat untuk bangkit. Kejar mengejar poin tak terelakan bagi kedua pasangan. Namun, ganda penghuni Pelatnas PBSI Cipayung mampu mengunci gim ini dengan skor 21-15. Memainkan gim kedua, Alfian/Gischa mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu. Begitu juga dengan kepiawaian Alfian/Gischa dalam memainkan bola yang tak mampu dibendung lawan. Perlahan dan pasti, poin demi poin yang diraih wakil Merah Putih itu tak mampu dikejar Yang/Wu. Akhirnya, mereka mengamankan gim ini dengan skor 21-11, sekaligus memastikan merengkuh gelar kedua sepanjang 2018. Selain menyelamatkan muka Indonesia, karena menjadi satu-satunya wakil di laga final, mereka berhak membawa pulang hadiah uang sebesar 39.500 dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 590 juta, sementara Wang/Yu, yang menjadi runner-up mendapatkan hadiah sebesar 19.000 dollar AS atau berkisar Rp 285 juta. (Adt)

Kondisi Bahu Kurang Fit, Ni Nengah Widiasih Harus Puas Raih Perak Powerlifting Asian Para Games 2018

Ni Nengah Widiasih (merah/kiri), atlet powerlifting putri Indonesia, harus puas meraih medali perak pada Asian Para Games 2018. Kondisi bahu kirinya yang bermasalah, memaksa atlet asal KArangasem, Bali ini gagal pada laga final kelas 41 kg putri, di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (7/10). (Pras/NYSN)

Jakarta- Ni Nengah Widiasih, atlet powerlifting andalan Indonesia, harus puas meraih medali perak pada ajang Asian Para Games 2018. Atlet asal Bali itu tidak tampil dalam performa terbaiknya pada laga final kelas 41 kg putri, di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (7/10). Sebab, kondisi bahu kirinya bermasalah. Kendati demikian, wanita kelahiran Karangasem, Bali, 12 Desember 1989 ini, mengaku telah melakukan yang terbaik bagi kontingen Indonesia. Nengah, sapaanya, menyebut bila dirinya telah melakukan persiapan, selama kurang lebih tiga minggu sebelum gelaran Asian Para Games 2018. “Kondisi bahu saya kurang fit usai bertanding di Kejuaraan Asia-Oceania Championship 2018 (Jepang), tapi hari ini saya melakukan yang terbaik,” ujar Ni Nengah lirih usai laga. Pemegang medali ASEAN Para Games 2013 dan 2015 itu sukses melakukan satu angkatan, yaitu 97 kg, dari tiga kali percobaan yang diberikan. Sebab, pada angkatan kedua dan ketiga, Nengah gagal mengangkat 100 kg. “Angkatan terbaik saya 97 kg, karena angkatan kedua dan ketiga di diskualifikasi. Tidak tahu kenapa. Karena saya merasa diangkatan ketiga sudah bagus banget. Bahkan sempat percaya diri, dan saya bakalan bisa lebih dari ini,” lanjutnya. Meski kecewa dengan hasil yang diraih, ia tak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat Indonesia yang sangat luar biasa terhadap dirinya. Ia juga memohon maaf karena belum berhasil memberikan medali emas bagi Merah Putih. “Tapi percayalah, saya sudah berjuang semaksimal mungkin, namun Tuhan mengizinkan saya meraih perak. Jujur saja, kalau ditanya perasaan saya, saya sedih sekali. Tapi balik lagi, memang Tuhan memberikan yang terbaik untuk saya hanya medali perak,” tambah pemegang medali emas Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2016 itu. Di hajatan besar olahraga bagi penyandang disabilitas terbesar negara-negara se-Asia itu, banyak pelajaran berharga yang didapat Ni Nengah. Ia berjanji bakal latihan lebih keras lagi serta meningkatkan kemampuan fisik. “Rasa kecewa hari ini, akan saya jadikan motivasi untuk latihan lebih keras lagi. Pastinya lebih disiplin lagi, dan lebih meningkatkan kekuatan fisik dan mental. Dan, tidak boleh mudah menyerah,” tukas peraih perunggu ParaGames ASEAN 2008, di Nakhon Ratchasima, Thailand itu. (Adt)

Dheva Anrimusthi Pahlawan Kemenangan Indonesia, Para Bulutangkis Beregu Putra Sumbang Emas Pertama

Tim Para Bulutangkis Beregu Indonesia memberi hormat kepada Sang Merah Putih, saat upacara penghormatan pemenang nomor beregu putra. Indonesia berhasil mengalahkan tim Malaysia dengan skor 2-1 pada babak final beregu putra bulutangkis Asian Para Games 2018, di Istora Senayan Jakarta, Minggu (7/10). (Inapgoc)

Jakarta- Tim Para Bulutangkis Beregu Putra Indonesia sukses meraih medali emas pertama di ajang Asian Para Games 2018, usai di partai final menang tipis atas Malaysia 2-1, di Istora, Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada Minggu (7/10). Dheva Anrimusthi, yang turun di partai penentu, sukses menjadi pahlawan bagi kubu Merah Putih, pada cabang para bulutangkis beregu Putra. Ia membungkam perlawanan tunggal asal Negeri Jiran, Mohammad Faris Ahmad Azri, straight game, dengan skor 21-6, 21-12. Kemenangan yang diraih Dheva mengantarkan Indonesia memimpin 2-1, sekaligus memastikan Indonesia meraih emas pertama di Asian Para Games 2018. “Sempat grogi, beban berat sebagai penentu, namun saya fokus kembali untuk meraih poin demi poin, ini pembelajaran sekaligus kebanggaan,” ujar Deva. Di laga sebelumnya, Indonesia yang menurunkan tunggal pertama Freddy Setiawan mampu menuntaskan tanggungjawabnya usai menekuk Muhammad Norhilmie Zainudin, straight game, dengan skor 21-6, 21-12. Indonesia memimoin atas Malaysia 1-0. Namun, kemenangan Indonesia untuk bisa cepat meraih medali emas tertunda. Sebab, di partai kedua, duet Hafish Briliantsyah Prawiranegara/ Harry Sutanto harus menelan pil pahit setelah dikandaskan Cheach Like Hou/ Hairul Fozi Saab, straight game, dengan skor 10-21, 17-21. Akibatnya, skor menjadi imbang 1-1. Sementara itu, medali perunggu masing-masing menjadi milik Thailand dan India. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengapresiasi keberhasilan Fredy dan kawan-kawan atas torehan prestasi gemilang di pesta multi event terbesar empat tahunan edisi ketiga itu. “Salam hormat saya untuk kalian para Pahlawan Olahraga. Terima kasih atas perjuangannya untuk tim bulutangkis putra. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk medali-medali selanjutnya. Indonesia Juara,” ucap menteri berusia 45 tahun, kelahiran Madura, Jawa Timur. Sedangkan Fredy mengaku jika dirinya sejak awal optimistis Indonesia bisa meraih medali emas. Ia berharap emas yang diraih bersama rekan-rekannya itu bisa menular pada nomor lain dan cabang olahraga lainnya. “Saya sejak awal optimis Indonesia bisa meraih emas. Semoga emas pertama ini, akan menular ke nomor lain dan cabang olahraga lain. Terima kasih atas dukungan semuanya, terima kasih Presiden Jokowi (Joko Widodo), Menteri Imam Nahrawi, Ketua INAPGOC (Raja Sapta Oktohari), dan seluruh masyarakat Indonesia,” tukas Fredy. (Adt)

Tumbang Dari Tim Elite Dunia, Pelatih Basket Kursi Roda Indonesia Bangga Dengan Perjuangan Donald Cs

Timnas basket kursi roda Indonesia (merah) harus mengakui ketangguhan Iran, dengan skor 17-117, pada laga perdana Asian Para Games 2018. Tampil di Hall Basket Senayan, Jakarta, pada Minggu (7/10), tim merah puith memang kalah kelas dengan tim yang kini menghuni peringkt empat dunia itu. (Riz/NYSN)

Jakarta- Kemeriahan Asian Para Games 2018 sangat terasa di Hall Basket Senayan, Jakarta, pada Minggu (7/10). Kendati belum memasuki final, namun cabang olahraga basket menarik begitu banyak penonton di hari pertama pertandingan. Antusiasme ditunjukan dengan terus memberikan semangat pada Timnas basket kursi roda Indonesia, yang dimotori Donald Pura Santoso. Sadar beda kelas, anak didik Fajar Brillianto itu tetap tampil fight sejak awal hingga akhir laga. Donald dan kolega berupaya keras mengimbangi perlawanan Iran. Di kuarter pertama, tim peringkat empat dunia. langsung menggebrak dengan memundi poin lebih dahulu. Tak tinggal diam, kubu Merah Putih mencoba memaksimalkan kemampuan Donald, namun usaha itu masih belum banyak membuahkan hasil. Indonesia dipaksa menyerah dengan skor 4-38. Memasuki kuarter kedua, situasi masih belum berubah. Donald yang mampu menyumbang lima poin, dan Danu Kuawantoro dengan empat poin, tetap sulit membendung laju poin Iran. Kuarter ini berakhir dengan skor 11-56 untuk keunggulan lawan. Di kuarter selanjutnya, punggawa Merah Putih benar-benar dipaksa jatuh-bangun untuk bisa memundi poin. Sebaliknya, Iran dengan materi pemain berpengalaman serta unggul dalam menjangkau bola sangat mudah menambah pundi-pundi poin mereka. Alhasil, Iran mengunci kuarter ini dengan skor 85-13. Mengusai laga sejak awal, Iran semakin percaya diri di akhir kuarter. Tembakan dua poin dari para pemain negara Timur Tengah itu sukses bersarang di jaring Indonesia. Daryoko Cs akhirnya harus mengakui ketangguhan lawan yang menutup kuarter ini dengan skor mencolok 17-117. Meski menelan kekalahan dari Iran, namun Fajar mengaku bangga dengan performa anak asuhnya itu. “Kami bertemu dengan tim berperingkat empat dunia. Kapan lagi kami bisa bertanding dengan tim elite dunia disini. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi para pemain Indonesia,” ujar juru racik tim Indonesia itu usai laga. “Bagi kami ini sesuatu yang sangat spesial. Meski kalah tapi mereka mampu tampil dengan semangat juang tinggi. Evaluasinya, bagaimana ketika mendapatkan pressure, tapi komunikasi harus tetap berjalan. Tapi, di pertandingan tadi beberapa salah passing karena memang komunikasi yang kurang baik,” ungkapnya. Diakui Fajar, pihaknya sama sekali tak kecewa dengan hasil ini, serta berusaha realisitis. “Dari awal kami sudah memetakan siapa yang menjadi lawan-lawan yang nanti dihadapi. Dari Kemenpora dan NPC (National Paralympic Committee) kami tidak dibebankan target, tapi kami berusaha tampil sebaik-baiknya,” terang Fajar. Sementara itu, di kubu Iran, Mohsen Tolouei Tamardash tampil perkasa dengan mencetak 24 poin, diikuti Morteza Abedi dan Vahid Saadatpoormoghadam yang masing-masing menyumbang 16 poin. “Tim kami bermain dengan baik di pertandingan ini. Namun untuk bisa meraih medali masih cukup jauh. Sebab, harus melewati beberapa pertandingan lagi. Target kami memang bisa ke final. Kami akan terus berusaha,” jelas Mohammad Reza Dastyar, arsitek tim Iran. Ia juga mengomentari penampilan Timnas Indonesia. Menurutnya, jika Donald Cs bisa menjadi tim yang baik kedepannya. “Mereka harus banyak berlatih secara intensif, dan rutin mengikuti kompetisi-kompetisi, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, perlu memperbaiki komunikasi dalam tim,” tukasnya. (Adt)

Asian Para Games 2018 Bukan Sekadar Rivalitas, Perayaan Persaudaraan dan Kemanusiaan

Hajatan Asian Para Games 2018, resmi dibuka Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, pada Sabtu (6/10). Kompetisi terbesar bagi para penyandang disabilitas akan berlangsung sepekan kedepan. (Pras/NYSN)

Jakarta- Hajatan Asian Para Games 2018, resmi dibuka Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada Sabtu (6/10). Aura rivalitas bakal mewarnai kompetisi terbesar bagi para penyandang disabilitas selama satu pekan kedepan. Rivalitas adalah tentang harga diri, tak sekadar menang dan kalah. Namun, ada lambang di dada yang harus dijaga dengan penghormatan yang tinggi, yakni kemanusiaan. Dan, Asian Para Games 2018, bukan sekadar ajang rivalitas, jauh dari itu adalah perayaan persaudaraan dan kemanusiaan. Hal itulah yang menjadi harapan Presiden Jokowi pada acara pembukaan. “Ajang ini untuk mempererat persaudaraan antara warga Asia, khususnya bagi mereka penyandang disabilitas,” ujar suami dari Iriana Joko Widodo itu. Dihadapan Majid Rashed (Presiden Asian Paralympic Committee/APC), Raja Sapta Oktohari (Ketua Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games/INAPGOC), dan ribuan atlet dari 43 negara peserta Asian Para Games edisi ketiga, mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah itu ingin semua yang terlibat dalam event ini, tak hanya merayakan persaudaraan. “Kita tunjukan kegigihan dan prestasi. Kita ingin menjunjung kemanusiaan,” cetus Presiden RI ketujuh itu. Sementara itu, Okto, sapaan Ketua INAPGOC, menyebut semua yang hadir dalam perayaan pembukaan Asian Para Games 2018, akan menjadi saksi sejarah baru. “Karena untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah dari Asian Para Games. Inilah kegiatan olahraga disabilitas yang paling bergengsi di Asia. Ia menambahkan event empat tahunan para multi sport itu bukan hanya tentang menang dan kalah. “Melalui Asian Para Games 2018. Kita tinggikan nilai-nilai sportifitas, solidaritas, kemanusiaan, dan hubungan yang harmonis antar bangsa-bangsa Asia,” urai putra dari Oesman Sapta Odang itu. Sedangkan, Rashed menyebut 3.000 atlet dari 43 negara akan memperebutkan lebih dari 500 medali yang diperebutkan dalam 18 cabang olahraga. “Ini adalah jumlah atlet terbesar yang mengikuti Asian Para Games, dan jumlah negara terbanyak. Media yang meliput ajang ini juga menjadi yang terbesar. Saya bangga dengan hal ini,” tukas pria kelahiran Manama, Bahrain, 49 tahun silam itu. (Adt)

Melesat ke Partai Puncak Chinese Taipei, Dobel Alfian/Gischa Pilih Tetap Jaga Fokus

Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami tetap menjaga fokus, jelang laga fnal ganda campuran kejuaraan bulutangkis Chinese Taipei Open 2018 BWF World Tour Super 300, pada Minggu (7/10). (Humas PBSI)

Jakarta- Tetap menjaga fokus kini menjadi prioritas dobel Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami saat melakoni laga puncak kejuaraan bulutangkis Chinese Taipei Open 2018 BWF World Tour Super 300, pada Minggu (7/10). Di final turnamen berhadiah total 500 ribu dollar Amerika Serikat (AS) itu, duet Merah Putih yang menempati unggulan delapan itu bersaing menjadi kampiun dengan wakil tuan rumah, Yang Po-Hsuan/Wu Ti Jung. Berdasarkan statistik, kedua pasangan belum pernah saling berhadapan. Namun, ganda campuran ranking 87 dunia itu, memiliki peluang besar menaklukkan Yang/Wu. Terkait persiapan di laga final, diakui Gischa, dirinya dan kolega belum pernah menjajal kemampuan lawan. “Kami belum pernah bertemu. Tapi, harus jaga fokusnya dulu,” ujar Gischa, dikutip situs resmi PBSI, Sabtu (6/10). Di semifinal, pada Sabtu (6/10), Alfian/Gischa sukses meredam kompatriotnya Ronald Alexander/Annisa Saufika, straight game, dengan skor 21-16, 21-16. Berjumpa dengan rekan satu Pelatnas PBSI Cipayung Jakarta, pemegang gelar juara Finnish Open 2018 itu menilai mereka mampu menerapkan pola permainan yang akurat. Terlebih, kedua pasangan ini kerap berlatih bersama. “Melihat kondisi lapangan, kami berusaha terus menyerang sejak awal,” ungkap Gischa. “Soalnya ada pengaruh dari angin juga. Jadi, jangan sampai kami diserang duluan,” tambah pemain putri kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Maret 1997 itu. Di pertandingan yang berlangsung selama 32 menit itu, menurut Gischa, mereka tampil percaya diri. Selain itu, mereka juga menjaga fokus, sehingga berhasil memanen poin demi poin. “Apalagi kalau ketemu teman sendiri, jadi bisa cepat menyesuaikan permainan. Sudah tahu juga kelemahan mereka,” tukas peraih juara Malaysia International 2017 bersama Yantoni Edy Saputra. (Adt)

Menang di Laga Perdana Asian Para Games 2018, 3 Atlet Para Tenis Meja Indonesia Ditantang Pemain Dunia

Atlet tenis meja Indonesia, Yayang Gunaya (oranye), mengalahkan wakil Jepang, Hiroki Sakazaki 3-0 (11-8, 12-10, 11-7), pada laga hari pertama Asian Para Games 2018 di Ecovention Ancol, Jakarta, Sabtu (6/10). (INAPGOC)

Jakarta- Tim para tenis meja Indonesia mengawali Asian Para Games 2018 dengan gemilang. Tiga atlet Adyos Astan, Yayang Gunaya and Ana Widyasari mencatat kemenangan di fase kualifikasi. Adoys mengalahkan atlet Filipina, Smith Billy 3-0 (11-3, 11-4, 11-4) di kelas TT4 (kursi roda). Yayang yang juga tampil di kelas TT4 Asian Para Games 2018 mengalahkan wakil Jepang, Hiroki Sakazaki 3-0 (11-8, 12-10, 11-7). Sementara Ana, mencetak kemenangan atas atlet Hong Kong, Li Hiu Tung. Ana yang tampil di kelas T11 (intellectual disability) menang 3-2 (12-10, 9-11, 11-6, 11-13 and 11-5). Menurut pemuda kelahiran Garut 1 Mei 1996 ini, beberapa pemain dari negara lain patut diwaspadai. Yayang yang merupakan atlet tenis meja putra Indonesia kelas TT4 (kursi roda), meyakini lawan tersulit berasal dari Korea Selatan. “Rata-rata, atlet yang main di Asian Para Games 2018 punya peringkat dunia. Namun, saya mewaspadai atlet Korea Selatan,” ujarnya. “Pemain Korea itu bagus. Peringkat pertama dunia untuk kategori wheelchair TT4 ditempati pemain Korea,” tukasnya. Pemain Korea yang dimaksud Yayang adalah Kim Young-gun. Berdasarkan situs ITTF Para Table Tennis Ranking Lists, Kim Young-gun menempati peringkat pertama dengan rating 1451. Tak hanya Korea. Atlet tenis meja Thailand dari kelas TT9 (standing), Rungroj Thainiyom, juga patut diperhitungkan. Thainiyom adalah peraih medali emas pada Paralimpiade London 2012. Sayangnya, dua atlet Indonesia lainnya, Audy Ngangi (TT2, tunggal putra) dan Lola Amalia (TT tunggal putri), harus menderita kekalahan di hari pertama Asian Para Games 2018. Sementara itu, laga Ana kontra Liu, berjalan menarik. Selain tampil apik, kedua pemain kerap melakukan reli panjang. Seusai pertandingan, Ana mengakui sempat kesulitan meladeni permainan impresif lawan. “Lawannya bagus. Dia memiliki backhand dan forehand yang bagus,” ucap Ana singkat kepada para awak media. “Saya banyak latihan saja,” ucap Ana menambahkan. Pelatih Ana, Galih Mowo Perbowo, menyebut bahwa sengitnya pertandingan membuat Ana sempat merasa tegang. Hal itu dinilai Galih membuat Ana sulit mengeluarkan performa terbaiknya. Saat bertanding, Galih berkali-kali melontarkan kalimat ojo kesusu (jangan terburu-buru). “Mainnya harus rileks, supaya pernapasan pun juga enak. Kalau tegang, pukulan Ana menjadi tidak bagus. Salah sedikit, dia bakal gagal fokus,” ujar Galih. Ana merupakan salah satu atlet tenis meja disabilitas andalan Indonesia. Dia pernah mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ajang ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur. Saat ini, Ana menempati peringkat ke-4 dunia untuk kelas T 11. Pada fase grup Asian Para Games 2018, Ana tergabung di Grup A bersama Hiu Tang Li, Yang Hee-seo (Korea Selatan), dan Harumi Kimura (Jepang). (art) Hasil Pertandingan Para Tenis Meja Indonesia Adyos Astan vs Smith Billy Cartera (Philippine) 3-0 (11-3, 11-4, 11-4) Yayang Gunaya vs Hiroki Sakazaki (Japan) 3-0 (11-8, 12-10, 11-7) Ana Widyasari vs Li Hiu Tung (Hong Kong) 3-2 (12-10, 9-11, 11-6, 11-13, and 11-5) Audy Ngangi vs Hassan Janfeshan (Iran) 0-3 (4-11, 4-11, 4-11) Lola Amalia vs Wong Ka Man (Hong Kong) 1-3 (1-11, 7-11, 11-8)

Takluk Dari Korea, Pengalaman dan Jam Terbang Jadi Pekerjaan Rumah Supriadi/Sri Maryati

Duet Supriadi/Sri Maryati takluk dari wakil Korea Selatan, Lee Dong Seop/Lee Sun Ae, pada laga bulutangkis kursi roda (wheelchair) nomor perorangan Asian Para Games III/2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu (6/10). (Pras/NYSN)

Jakarta- Duet Supriadi/Sri Maryati akhirnya harus menerima kekalahan dari wakil Korea Selatan, Lee Dong Seop/Lee Sun Ae, pada laga bulutangkis kursi roda (wheelchair) nomor perorangan Asian Para Games III/2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu (6/10). Sejak awal laga, wakil Merah Putih selalu kesulitan memundi angka dari pasangan Negeri Ginseng itu. Saat jeda interval gim pertama, Supriadi/Maryati tertinggal jauh 2-11. Kesalahan demi kesalahan yang dilakukan Maryati membuat poin yang diraih Lee/Lee makin menjauh. Supriadi/Maryati bahkan hanya mampu menambah enam poin, dan dipaksa melepas gim pertama dengan skor terpaut jauh 8-21. Memainkan gim kedua, situasi tak berubah. Dobel Korea tak memberikan kesempatan tuan rumah berkembang. Meski didukung penuh suporter yang hadir, namun itu belum cukup membangkitkan semangat Supriadi/Maryati. Jeda interval kedua harus berakhir dengan kedudukan 11-1 untuk Lee/Lee. Sadar tertinggal perolehan poinnya, Supriadi/Maryati berusaha tampil fight. Tapi usaha mereka harus terhenti, karena Lee/Lee mengunci gim kedua ini dengan kemenangan 21-8. Sejatinya ini bukanlah pertemuan pertama bagi kedua pasangan. Sebab, di Thailand Open 2018, beberapa waktu lalu, mereka pernah bentrok. “Sebelumnya penah ketemu di Thailand Open, kami juga kalah. Saya rasa faktornya pengalaman. Berdasarkan evaluasi dari pertemuan seblumnya, dari kami masih banyak yang harus diperbaiki, terutama teknik,” ujar Sri usai laga. “Mereka lebih matang secara terknik, dan pergerakan kursi roda. Belasan tahun mereka bergelut di bulutangkis wheelchair. Pastinya, pengalaman tanding dan jam terbang mereka jauh di atas kami. Itu salah satu pekerjaan rumah yang harus dicarikan solusi untuk bersaing dengan negara-negara seperti Korea,” urai Supriadi. Bagi Supriadi dan kolega, faktor non teknis tak menjadi persoalan serius. “Kalau angin di dalam lapangan, saya rasa tak berpengaruh. Kami sama-sama merasakan angin dan berpindah lapangan. Jadi tidak bermasalah,” jelas pria 32 tahun kelahiran Pati, Jawa Tengah itu. Kendati takluk di nomor ganda campuran, namun Supriadi masih berpeluang di nomor tunggal. “Potensi saya di nomor tunggal. Saingan terberat Korea dan Hongkong. Tapi, wakil dari China dan Malaysia juga tidak bisa dianggap remeh,” tegas atlet yang mengalami kecelakaan sepeda motor usai pulang kerja menuju kediamannya pada 2005.join Supriadi dan Maryati memang tidak dibebankan target di nomor ganda campuran, terlebih mereka merupakan pasangan yang baru diduetkan menjelang hajatan Asian Para Games III/2018 ini. “Supriadi dan Maryati baru kami pasangkan di event ini. Sebelumnya, prestasi mereka di tingkat nasional ya lumayan bagus, sehingga mereka berdua bisa masuk Pelatnas Asian Para Games 2018. Tapi, untuk event ini mereka baru dipasangkan,” cetus Jarot Hernowo, Pelatih Bulutangkis Kursi Roda. Jarot mengungkapkan ia memberikan motivasi kepada anak didiknya pada kali ini. “Saat skor awal, mereka ketinggalan jauh. Saya hanya beri motivasi, dan kepercayaan diri mereka supaya bangkit. Jangan kasih angka mudah ke lawan. Dan, kalau bisa kasih perlawanan ke lawan, maka peluang untuk meraih poin,” tambahnya. Ia menilai pertandingan tersebut setidaknya memberikan sebuah pencerahan bagi Supriadi dan Maryati. Sebab, lawan yang dihadapi bukanlah sembarangan dari sisi prestasi maupun peringkat. “Ini penting untuk menambah pengalaman mereka. Kami punya proyeksi kedepan, yakni ASEAN Para Games 2019, di Filipina. Dan, mungkin saja duet ini bisa berubah, tapi juga bisa kami pertahankan, jika memang mereka punya potensi,” tukas Jarot. (Adt)

Satria Muda Pertahankan Dior Lowhorn dan Jamarr Andre Johson, Rookie IBL 2018-2019 Gunakan Pemain LIMA

Indonesia Basketball League (IBL) menggelar draft pemain asing dan rookie musim depan dari ajang LIMA, yang akan meramaikan persaingan kompetisi basket di Tanah Air untuk musim 2018-2019. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia Basketball League (IBL) menggelar draft pemain asing yang akan meramaikan persaingan kompetisi basket tertinggi di Tanah Air itu untuk musim 2018-2019, di Hotel Premiere Slipi, Jakarta, pada Jumat (5/10). Klub peserta memutuskan pilihan mereka untuk pemain asing dan rookie musim depan. Terdapat 186 pemain asing, serta 26 pemain debutan atau rookie, yang dipilih klub profesional itu. Untuk draft pemain rookie lokal, para pemain disaring melalui ajang Liga Mahasiswa (LIMA). Satria Muda Pertamina Jakarta, kampiun IBL Pertalite 2017-2018, mempertahankan Dior Lowhorn dan Jamar Andre Johnson dalam draft 2018. Sedangkan Wayne Bradford tetap menghuni skuat Pelita Jaya Jakarta, dan Satya Wacana Salatiga masih memakai jasa Maddarious Gibbs. “Pilihan pemain asing memberikan dampak signifikan pada penampilan klub-klub saat kompetisi IBL Pertalite 2018-2019. Dan, dengan pelatihan dan pembinaan yang baik, maka para rookie pun bisa berkembang dengan baik,” ujar Hasan Gozali, Direktur IBL, Jumat (5/10). Menurutnya, setiap klub mendapatkan jatah dua pemain asing, termasuk pemain naturalisasi, dengan gaji yang telah ditetapkan, sesuai mekanisme. “Gaji total dua pemain asing setiap klub, tidak boleh lebih dari 4 ribu dollar AS (Amerika Serikat),” terangnya. Dalam kesempatan itu, Gatot S. Dewa Broto, Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), berharap aura Asian Games 2018, khususnya di cabang oalahraga (cabor) basket dapat terbawa, pada saat kick-of f IBL musim 2018-2019. “Ini momentum yang bagus. Karena pada saat Asian Games 2018 lalu, kalau melihat auranya, gaduhnya, serta kehebohannya di basket, sangat luar biasa. Kita semua melihat para rising star dari China hadir, juga dari beberapa negara pesertalainnya. Semoga aura itu ada saat IBL kick-off pada 30 November bergulir,” terang Gatot. Sementara itu, Hasan juga menyebut jika kompetisi pra-musim Liga Bola Basket Indonesia (IBL), direncanakan akan berputar 9-14 Oktober 2018. “Jadwal itu setelah draft pemain lokal debutan. Saat ini semuanya sedang dipersiapkan,” ujar Hasan. Dia melanjutkan, seluruh laga di turnamen yang menjadi ajang pemanasan tim-tim peserta IBL menyongsong musim baru 2018-2019 itu, kemungkinan besar digelar di Sritex Arena, Solo, Jawa Tengah. Menurut Hasan, pemilihan Solo menjadi tempat tunggal penyelenggaraan adalah atas permintaan sponsor kompetisi pra-musim yakni perusahaan aplikasi transportasi Go-Jek. “Pihak sponsor memilih Solo dari beberapa kota yang kami usulkan. Arena di Solo juga tersedia untuk kegiatan di rentang waktu yang dijadwalkan,” tutur dia. Kompetisi pra-musim IBL ini akan diikuti 10 kontestan IBL 2017-2018 yakni Satria Muda Pertamina, Garuda Bandung, BSB Hangtuah, Bank BPD DIY Bima Perkasa Jogja, NSH, Pelita Jaya Basketball, Stapac Jakarta, Pacific Caesar Surabaya, Satya Wacana Salatiga dan Siliwangi Bandung. Nantinya di turnamen tersebut, semua tim peserta hanya diperkenankan menggunakan jasa para pemain Indonesia. “Kami berharap event pra-musim ini dimanfaatkan sebagai ajang uji coba kemampuan para pemain ‘rookie’ (debutan). Namun, keputusan terkait itu kami kembalikan ke masing-masing klub,” pungkasnya. (Adt) Hasil IBL Draft 2018 Pemain Asing Siliwangi Bandung: 1. Martaviuos Tarell Irving 2. Michael Vigilance Jr NSH: 1. Anthony Simpson 2. Dashaun Najee Wiggins Bima Perkasa Jogja: 1.Zachary David Allmon 2. Leshaun Murphy Satya Wacana Salatiga: 1. Madarious Gibbs 2. Ronald Whitaker BSB Hangtuah: 1. Jarad Lee Scott 2. Gary Jacobs Jr Pacific Caesar: 1. Anthony Dennel January 2. Matthew Douglas Van Pelt Garuda Bandung: 1. Jamal Ray 2. Dallarian Williams Stapac Jakarta: 1. Keenan Allah Peterson 2. Jordin Mayes Satria Muda: 1. Dior Lowhorn 2. Jamarr Andre Johnson Pelita Jaya: 1. Wayne Bradford 2. Kore Ricardo White Hasil IBL Draft 2018 Pemain Rookie Siliwangi Bandung: 1. Sabdayagra Ahessa (University of Notre Dame/22 Tahun) 2. Gustav Leopold (SMA PSKD 1/29 Tahun) NSH: 1. Rizky Agung Pranata (STIE Bhakti Pembangunan/20 Tahun) 2. Dio Freedo Putra P (Universitas Ma Chung/20 Tahun) Bima Perkasa Jogja: 1.Tidak memilih 2.Faried Andy Brata (Universitas Negeri Malang/22 Tahun) Satya Wacana Salatiga: 1. Daniel Anggoro (Institut Teknologi Harapan Bandung/23 Tahun) 2. Tidak memilih BSB Hangtuah: 1. Tidak memilih 2. Syechfi Nuzula Ramadhani (Institut Teknologi Harapan Bandung/23 Tahun) Pacific Caesar: 1. Ananda Syahputra Caesar (Universitas Widyatama/22 Tahun) 2. Tidak memilih Garuda Bandung: 1. Irwanto (Universitas Muhammadiyah Malang/21 Tahun) 2. Tidak memilih Stapac Jakarta: 1. Tidak memilih 2. Bilal Al Nauval (Universitas Pendidikan Indonesia/19 Tahun) Satria Muda: 1. Tidak memilih 2. Kelvin Tirta Sanjaya (Universitas Heritage/21 Tahun) Pelita Jaya: 1. Muhammad Basith Ravi (ABFI Institute Perbanas/21 Tahun) 2. Tidak memilih

Resmi Diperkenalkan INAPGOC, Ada ‘Bunyi’ Dalam Medali Asian Para Games 2018

Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC) resmi memperkenalkan medali unik yag bisa mengeluarkan suara gemerincing jika digoyang-goyangkan, dalam ajang multievent penyandang disabilitas se-Asia itu. (Pras/NYSN)

Jakarta- Asian Para Games III/2018, siap dihelat pada 6-13 Oktober. Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC) resmi memperkenalkan medali bagi pesta multievent terbesar penyandang disabilitas se-Asia itu, di GBK Arena Senayan, Jakarta, pada Jumat (5/10). Medali Asian Para Games yang diperkenalkan INAPGOC memiliki keunikan, karena medali mengeluarkan suara gemerincing jika digoyang-goyangkan. Suara itu berasal dari bola-bola kecil yang terdapat di dalam kepingan medali. “Medali emas berisikan 26 bola-bola kecil, sedangkan perak 20. Dan perunggu ada 16 bolanya,” ujar Fanny Irawan, Direktur Sport INAPGOC, di GBK Arena Senayan, Jakarta, Jumat (5/10). Menurutnya, medali sengaja diciptakan seperti itu untuk memudahkan atlet tuna netra dalam mengenali medali yang diraihnya. Medali yang dibuat di Guangzhou, China, ini bisa mengeluarkan suara. Hal itu diakibatkan adanya bola-bola kecil yang dimasukkan di dalam tubuh medali. Bila medali itu digerakan, maka bunyi akan keluar dari medali tersebut. Rinciannya, 26 bola terdapat di dalam medali emas, 20 bola di medali perak, dan 16 bola di medali perunggu. Medali bersuara ini terinspirasi dari Paralimpiade Rio de Janeiro 2016 lalu. “Ide awal medali bunyi ini dari Tarek Souei (CEO APC). Dan, atlet powerlifting Indonesia, Ni Nengah Widiasih, pernah meraih perunggu yang berbunyi di Paralimpiade Rio Janeiro, Brazil 2016,” tuturnya. “Kami mengambil contoh dari medali milik Widi (sapaannya). Bahkan, kami harus ke Bali (asal Nengah) mengambil medali itu,” tambahnya. Medali yang terbuat dari besi solid dan dilapisi emas ini, dibuat dengan teknik semprot. Fanny menyebut Ferry Kono (Wakil Sekretaris Jenderal INAPGOC) adalah orang yang merancang desain medali tersebut. Keunikan lain dari medali ini, yaitu pada bagian depan terdapat logo Asian Para Games 2018, dan slogan ‘The Inspiring Spirit and Energi of Asia’. Sedangkan di bagian belakang medali, tertera logo Asian Paralympic Committee (APC). Lalu, terdapat kode yang menggunakan huruf brille (huruf khusus bagi penyandang tuna netra). Fanny menjelaskan bila pembuatan medali membutuhkan waktu 4 bulan. “Medali ini kami buat di Guangzhou (Cina),” tukas Fanny. Opening ceremony Asian Para Games III/2018 akan berlangsung pada Sabtu (6/10), terdapat 18 cabang olahraga yang dipertandingkan dengan nomor pertandingan mencapai 337, dan memperebutkan 568 medali. (Adt)

Jelang Uji Coba Internasional, Skuat Final Timnas U-19 Diumumkan Hari Senin

Witan Sulaeman (10), Saddil Ramdani (11), dan M. Rafli Mursalim (13), bakal mendapat kepastian tampil membela Timnas U-19 di ajang Piala Asia U-19, pada Senin (8/10), sebelum melewati dua laga uji coba. (Pras/NYSN)

Jakarta- Pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri menyebut, Senin (8/10), menjadi momen pengumuman skuat final untuk tampil di Piala Asia U-19. Pengumuman itu dilakukan dua hari, sebelum pertandingan uji coba melawan Arab Saudi, pada Rabu (10/10), di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang. Skuat Timnas U-19 berkekuatan 29 pemain, termasuk Egy Maulana Vikri, yang masih bermain di klub Polandia, Lechia Gdansk. “Kami lakukan evaluasi dari latihan, dan laga termasuk uji coba. Tim sudah ingin ditentukan 29 pemain, termasuk Egy, yang akan diciutkan tanggal 8,” ujar Indra di Lapangan A, Senayan, Jakarta, Jumat (5/10). “Hari per hari, akan kami lihat terus siapa pemain yang akan didaftarkan. Karena, nanti tidak bisa diubah lagi, setelah resmi didaftarkan,” tandasnya. Selain beruji coba dengan Arab Saudi, Skuat Garuda Nusantara beruji tanding kontra Yordania, pada Sabtu (13/10). Uji coba melawan Yordania, menjadi yang terakhir sebelum turun di ajang Piala Asia U-19, 18 Oktober-4 November. Nurhidayat Haji Haris dan kawan-kawan akan memulai petualangan melawan Taiwan pada Kamis (18/10), di Jakarta. Meski gagal pada babak kualifikasi, Timnas U-19 tetap bisa tampil di putaran final. Jatah wild card diberikan karena Indonesia sebagai tuan rumah. Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah dilakukan AFC pada 25 Juli 2017 lalu. Putaran final Piala Asia U-19 2018 diikuti oleh 16 tim yang dibagi ke dalam 4 grup. Indonesia berada di Grup A bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Taiwan. Sejak pertama kali digelar 1959 lalu, Indonesia sudah tiga kali melaju ke final. Pada Piala Asia U-19 yang berlangsung di Thailand 1961 lalu, Indonesia bahkan keluar sebagai juara bersama Myanmar, usai kedua tim bermain imbang tanpa gol di babak final. Indonesia kembali melaju ke final pada 1967. Namun, Timnas U-19 gagal mengangkat trofi, setelah di babak final, kalah 0-3 dari Israel. Sementara pada Piala Asia U-19 yang berlangsung di Filipina 1970 lalu, Indonesia juga sampai di babak puncak, tapi takluk 0-3 dari Myanmar. Tahun ini, Tim Merah Putih Remaja mendapat target dari PSSI untuk lolos hingga babak semifinal. Empat semifinalis Piala Asia U-19 pada edisi 2018, akan mewakili Asia di Piala Dunia U-20 di Polandia, pada 2019. (art) Fase Grup Piala Asia U-19 2018 Grup A 18 Oktober 2018 Indonesia vs Taiwan 18 Oktober 2018 Uni Emirat Arab Vs Qatar 21 Oktober 2018 Taiwan vs Uni Emirat Arab 21 Oktober 2018 Qatar vs Indonesia 24 Oktober 2018 Indonesia vs Uni Emirat Arab 24 Oktober 2018 Qatar vs Taiwan Fase Gugur Perempat Final 28 Oktober 2018 Pemenang Grup A vs Runner-up Grup B (perempat final 1) 28 Oktober 2018 Pemenang Grup B vs Runner-up Grup A (perempat final 2) 29 Oktober 2018 Pemenang Grup C vs Runner-up Grup D (perempat final 3) 29 Oktober 2018 Pemenang Grup D vs Runner-up Grup C (perempat final 4) Semifinal 1 November 2018 Pemenang Perempat Final 1 vs Pemenang Perempat Final 3 (semifinal 1) 1 November 2018 Pemenang Perempat Final 2 vs Pemenang Perempat Final 4 (semifinal 2) Final 4 November 2018 Pemenang Semifinal 1 vs Pemenang Semifinal 2

Pelatnas Wajib Manfaatkan Sport Science, Menpora: Atlet Indonesia Berprestasi di Olimpiade

Imam Nahrawi (Menpora) saat membuka acara bertajuk ‘2nd annual meeting Indonesia Society of Exercise and Sports Science’, di Auditorium Soerjo Rumah Sakit (RS) Metropolitan Medical Centre (MMC), Jakarta, Kamis (4/10). (Adt/NYSN)

Jakarta- Teknologi atau sport science sudah selayaknya diterapkan dalam penanganan olahraga di Tanah Air. Tujuannya, apalagi kalau bukan meraih prestasi tinggi di masa depan. Pasca Asian Games XVIII/2018, narasi tentang kebangkitan olahraga Indonesia sontak berhamburan. Skuat Merah Putih berhasil menempati peringkat empat dalam daftar perolehan medali negara-negara peserta, dengan 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Torehan itu nyaris dua kali lipat dari jumlah yang ditargetkan pemerintah, yakni 16 medali emas. Prestasi yang diraih pahlawan-pahlawan olahraga Idonesia bukan sesuatu yang mudah dicapai. Namun, menjadi penting, langkah apa yang harus dilakukan pasca Asian Games 2018. Dan, bagaimana cara menjaga euforia serta melanjutkan tren prestasi gemilang itu? “Tidak ada cita-cita atlet yang ingin juara dua ataupun tiga. Pasti mereka ingin yang nomor satu. Atlet ingin juara satu dan tentu ingin memberikan yang terbaik,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), di Jakarta, Kamis (4/10). Membuka acara bertajuk ‘2nd annual meeting Indonesia Society of Exercise and Sports Science’, di Auditorium Soerjo Rumah Sakit (RS) Metropolitan Medical Centre (MMC), Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, mengatakan dalam penanganan atlet semua pihak harus meninggalkan pola lama. “Tinggalkan kebiasaan atlet ini titipan si A atau si B, dan faktor kedekatan. Indonesia punya orang hebat, sperti profesor, dokter, psikolog. Mereka yang menilai atlet ini layak dan pantas mewakili jutaan masyarakat Indonesia di pentas olahraga nasional dan internasional. Pendekatannya harus sport science,” lajutnya. “Untuk kedepanya perkembangan atlet harus dikawal dokter medis, tim psikologi, serta ahli yang mengerti struktur otot dan tulang. Bagaimana juga menyangkut recovery, dan tim masseur. Tapi, yang paling penting adalah menjaga semangat dan motivasi atlet,” tambah menteri berusia 45 tahun itu. Pemanfaatan sport science sangat luas dengan melibatkan lintas profesi, sehingga tak hanya sebatas pelatih. Karena terdapat dokter olahraga, pelatih fisik, ahli gizi, biomekanik, fisioterapi, marketing sports, arsitek perencanaan venue olahraga dan arsitek urban development, masseur, insurance. Sebab, salah satu basis penerapan sports science adalah mencatat dan mengumpulkan data, serta membandingkan data dengan nilai tertentu. Lebih utama, yakni bagaimana mengkoordinasikan data yang dimiliki, secara lintas profesi bukan hanya dimiliki satu kelompok tertentu. “Kalau semua itu terlibat, maka dipastikan olahraga Indonesia menjadi pilar yang sangat kuat bagi persatuan nasional,” urai suami Shobibah Rohmah itu. Menurut Imam, keberhasilan Indonesia di ajang Asian Games XVIII/2018, tak lepas dari usaha penerapan sport science. Pemerintah, jelas ayah 7 anak itu, akan melanjutkan penggunaan teknologi di dunia olahraga, sehingga nantinya para atlet tak hanya berprestasi di level Asian Tenggara (SEA Games), dan Asia (Asian Games), melainkan dunia, yaitu Olimpiade. “Pemerintah siap melanjutkan penerapan teknologi ini, sehingga atlet Indonesia berprestasi di level Olimpiade,” cetusnya. “Harapan kami semua Pelatnas harus ada tim lintas profesi demi kemajuan olahraga Indonesia,” tukas peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur itu. (Adt)

Tunggal Putri Asal PB Exist Jaya Jakarta Menang Mudah, Tiga Wakil Dobel Campuran Tembus Perempat Final

Pebulutangkis PB Exist Jaya Jakarta, Fitriani (19 th), lolos babak perempat final Kejuaraan Bulutangkis Chinese Taipei Open 2018 BWF World Tour Super 500, usai menang mudah atas wakil Amerika Serikat (AS), Crystal Pan. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia mengirim satu wakilnya ke babak perempat final Kejuaraan Bulutangkis Chinese Taipei Open 2018 BWF World Tour Super 500, melalui Fitriani, di sektor tunggal putri. Pemain asal PB Exist Jaya Jakarta itu menang mudah atas wakil Amerika Serikat (AS), Crystal Pan, di Taipei Arena. Di babak 16 besar, Fitri unggul straight game, 21-8, 21-16, dalam tempo 29 menit, pada Kamis (4/10). Torehan remaja putri kelahiran Garut, Jawa Barat (Jabar), 19 tahun silam itu, memperlebar statistik pertemuannya dengan pebulutangkis Negara Paman Sam itu menjadi 3-0. Kemenangan Fitriani diraih di ajang BWF World Junior Championships 2014 (21-12, 21-18), dan terakhir di New Zealand Open 2018 (21-12, 21-2). Selanjutnya, Fitriani akan menantang Line Hojmark Kjaersfeldt (Denmark) sekaligus unggulan tiga. Line menembus perempat final usai menekuk wakil tuan rumah Lin Ying Chun, straight game, 21-10, 21-6. Sementara itu, tiga dobel campuran Merah Putih memastikan langkah di perempat final. Duet Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari (6) lebih dulu lolos. Dalam tempo 26 menit, mereka memaksa wakil tuan rumah Tseng Min Hao/Hsieh Pei Shan menelan pil pahit usai menang straight game, 21-14, 21-18. Pitha mengatakan, kunci kemenangan pertandingan ini akibat dirinya dan kolega sejak awal berusaha terus untuk memberikan tekanan pada lawan. “Kami berusaha untuk tak bermain lob. Jaga fokus juga faktor paling penting,” terang Pitha, usai laga seperti dikutip situs resmi PBSI, Kamis (4/10). Kendati memiliki target pada turnamen ini, namun diakuinya, ia akan fokus melakoni setiap laga yang dimainkan. “Kami sudah beradaptasi main di turnamen level senior dan seharusnya kami sudah siap di level ini,” lanjutnya. “Tapi banyak yang harus kami tingkatkan lagi, terutama dari segi teknik maupun non-teknik,” tambah pebulutangkis putri kelahiran 1 Juli 1999 itu. Di perempat final, Rinov/Pitha menantang unggulan tiga, Chen Tang Jie/Peck Yen Wei, yang menang atas wakil Hongkong Chung Yonny/Wu Yi Ting, straight game, 22-20, 21-17. Ditegaskan Pitha, lawan memiliki serangan yang sangat berbahaya, terutama Chen. Tren positif juga menghinggapi duet Ronald Alexander/Annisa Saufika. Ganda Indonesia itu menuntaskan perlawanan tuan rumah, Chang Ko-Chi/Cheng Chi Ya, dengan skor 21-14, 21-19, pada duel berdurasi 34 menit. Ronald/Annisa akan beradu kekuatan dengan unggulan delapan, Kohei Gondo/Ayane Kurihara (Jepang). Berdasarkan statistik, ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua pasangan. Di partai lain, Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami (8) juga memastikan tiket ke perempat final. Mereka berhasil menyingkirkan Lin Yong Sheng/Li Zi Qing (Taiwan), straight game, 21-18, 21-15. Di babak berikutnya, Alfian/Marsheilla, kembali ditantang wakil tuan rumah, Po Li Wei/Chang Ching Hui, yang berhasil menghadirkan kejutan, usai memenangi perang saudara atas unggulan dua, Lee Yang/Hsu Ya Ching, rubber game, 14-21, 21-17, 25-23. (Adt)

Miliki SDM Handal, Dunia Pendidikan Berperan Penting Tingkatan Prestasi Olahraga Indonesia

Prof. Dr. Ahmad Sofyan Hanif, M.Pd, Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Univeritas Negeri Jakarta (kiri), menyebut dunia pendidikan memiliki peranan penting dalam peningkatan prestasi olahraga Indonesia. (Adt/NYSN)

Jakarta- Ahmad Sofyan Hanif, Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Univeritas Negeri Jakarta (UNJ), mengatakan jika dunia pendidikan memiliki peranan sentral dan penting dalam meningkatkan prestasi olahraga Indonesia. “Dunia pendidikan memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang handal, serta kualifikasi SDM yang baik. SDM itu untuk menyiapkan pelatih, para ahli, event organizer, serta manajemen. Dan, itu sangat memungkinkan,” ujar Hanif, di Auditorium Soerjo Rumah Sakit (RS) Metropolitan Medical Centre (MMC), Jakarta, Kamis (4/10). “Kami juga menyiapkan atlet untuk berkompetisi, baik di level nasional maupun internasional. Tentu atlet tersebut harus memiliki modal kemampuan yang baik,” lanjutnya. Para atlet yang berlaga di ajang Asian Games XVIII/2018, menurut Hanif, rata-rata masih bersatus mahasiswa Perguruan Tinggi. “Sebab, atlet yang ada di Perguruan Tinggi, berada pada usia emas. Abdul Malik (pencak silat) kuliah di Unima (Univeritas Negeri Manado), Aries Susanti Rahayu (panjat tebing) adalah mahasiswi Universitas Muhammadiyah Semarang. Begitu juga dengan atlet lainnya,” tambahnya. “Jika di prosentasekan, maka 50 hingga 60 persen atlet itu, dominan berstatus mahasiswa di Perguruan Tinggi,” cetus Hanif. Ia menyebut pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga prestasi para atlet dapat terus terjaga. “Di Perguruan Tinggi ada PPLM (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Mahasiswa), sedangkan inputnya itu PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar), dan PPOP (Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar),” cetusnya. Ia menyatakan, andai PPLM tidak ada di Perguruan Tinggi, maka pembinaan atlet akan berhenti. “Nantinya, atlet terbaik yang berasal dari PPLM, ada yang memperkuat Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah), dan ada pula yang dipersiapkan ke event internasional, bahkan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni Olimpiade, tentunya setelah terjaring masuk Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional),” ungkapnya. Terkait penerapan sport science, Hanif mempersilahkan masing-masing pengurus besar cabang olahraga untuk melakukan hal itu dengan kontrol dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). (Adt)