Demi Hasil Maksimal PON XX 2020 Papua, 729 Atlet DKI Ikuti Tes Performa POB

Sebanyak 729 atlet dari 34 cabang olahraga, yang tergabung dalam Program Pembinaan Olahraga Berkelanjutan (POB) DKI Jakarta, telah menjalani test performa sejak 16 hingga 22 Oktober 2018 di Rawamangun, Jakarta Timur. (indopos.co.id)

Jakarta- Sebanyak 729 atlet dari 34 cabang olahraga, yang tergabung dalam Program Pembinaan Olahraga Berkelanjutan (POB) DKI Jakarta, telah menjalani test performa sejak 16 hingga 22 Oktober 2018, di Rawamangun, Jakarta Timur. Masih 10 cabang olahraga lagi yang belum melakukan tes perfoma. “Atlet yang belum mengikuti tes performa, akan dipanggil untuk segera mengikuti tes tersebut. Dengan harapan, agar kondisi fisiknya cepat terpantau dari jauh hari,” jelas koordinator technical sport POB, Del Asri, Senin (22/10) di Jakarta. Menurutnya, atlet yang belum mengikuti tes sebagian besar datang dari cabang olahraga beregu, seperti sepakbola dan futsal. Dia berharap, atlet dari cabang yang belum mengikuti tes dalam bulan ini (Oktober) sudah harus ikut tes, agar tetap masuk dalam daftar POB. Sementara itu, salah satu anggota Technical supports POB, Hermanto menegaskan, test yang dilakukan ini hasilnya masih akan dikumpulkan dan didata, oleh tim pengolah data. “Test performa bagi atlet yang tergabung dalam POB ini amat penting artinya demi mengetahui kondisi fisik yang dimiliki. Dan, atlet terus terpompa semangatnya, menyiapkan diri menuju PON XX Papua 2020,” ujar Hermanto. Ia menegaskan, pelaksanaan PON XX Papua 2020, waktunya memang cukup panjang, namun persiapan atlet harus jauh hari. Sebab, setiap atlet yang ditempa di bawah naungan PON harus selalu siap tampil di berbagai event. Begitu juga dengan fisik, teknik, dan psikologi, selalu siap tampil dalam berbagai event. Menurutnya, untuk tes performa dibagi tiga disiplin yakni kesehatan, psikologi dan fisik. Segi fisik test performanya cabang yang satu dan lainnya tidak sama. Seperti halnya catur dan bridge tidak bisa disamakan dengan cabang atletik yang harus memiliki fisik cukup handal. Nantinya, test performa yang dilakukan akan berbeda, antara yang satu atlet dengan lainnnya. Semua tes harus pun disesuaikan dengan cabang yang bersangkutan. Dengan harapan, fisik atlet tetap terjaga saat tampil dalam pertandingan. Saat ini, menurut Hermanto, atlet yang masuk dalam daftar POB berjumlah 1.100 orang. Sementara yang sudah mengikuti Test Performa mencapai 729 atlet. Untuk atlet yang belum mengikuti test, diharapkan segera menyusul dalam waktu dekat ini. Pembinaan Sport Science melalui program POB ini, menerapkan sistem Promosi Degradasi (Promdeg). Dengan waktu yang telah ditentukan, bila atlet yang tergabung dalam POB ternyata gagal menunjukkan peningkatan prestasi, maka ia dapat didegradasi dan digantikan atlet lain. Program Promdeg itu berjalan hingga pembentukan kontingen tim inti, menuju PON XX  Papua 2020. Targetnya adalah kontingen DKI Jakarta meraih juara umum alias menduduki peringkat satu dalam klasemen PON XX nantinya. (art)

Pelatnas Wajib Manfaatkan Sport Science, Menpora: Atlet Indonesia Berprestasi di Olimpiade

Imam Nahrawi (Menpora) saat membuka acara bertajuk ‘2nd annual meeting Indonesia Society of Exercise and Sports Science’, di Auditorium Soerjo Rumah Sakit (RS) Metropolitan Medical Centre (MMC), Jakarta, Kamis (4/10). (Adt/NYSN)

Jakarta- Teknologi atau sport science sudah selayaknya diterapkan dalam penanganan olahraga di Tanah Air. Tujuannya, apalagi kalau bukan meraih prestasi tinggi di masa depan. Pasca Asian Games XVIII/2018, narasi tentang kebangkitan olahraga Indonesia sontak berhamburan. Skuat Merah Putih berhasil menempati peringkat empat dalam daftar perolehan medali negara-negara peserta, dengan 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Torehan itu nyaris dua kali lipat dari jumlah yang ditargetkan pemerintah, yakni 16 medali emas. Prestasi yang diraih pahlawan-pahlawan olahraga Idonesia bukan sesuatu yang mudah dicapai. Namun, menjadi penting, langkah apa yang harus dilakukan pasca Asian Games 2018. Dan, bagaimana cara menjaga euforia serta melanjutkan tren prestasi gemilang itu? “Tidak ada cita-cita atlet yang ingin juara dua ataupun tiga. Pasti mereka ingin yang nomor satu. Atlet ingin juara satu dan tentu ingin memberikan yang terbaik,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), di Jakarta, Kamis (4/10). Membuka acara bertajuk ‘2nd annual meeting Indonesia Society of Exercise and Sports Science’, di Auditorium Soerjo Rumah Sakit (RS) Metropolitan Medical Centre (MMC), Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, mengatakan dalam penanganan atlet semua pihak harus meninggalkan pola lama. “Tinggalkan kebiasaan atlet ini titipan si A atau si B, dan faktor kedekatan. Indonesia punya orang hebat, sperti profesor, dokter, psikolog. Mereka yang menilai atlet ini layak dan pantas mewakili jutaan masyarakat Indonesia di pentas olahraga nasional dan internasional. Pendekatannya harus sport science,” lajutnya. “Untuk kedepanya perkembangan atlet harus dikawal dokter medis, tim psikologi, serta ahli yang mengerti struktur otot dan tulang. Bagaimana juga menyangkut recovery, dan tim masseur. Tapi, yang paling penting adalah menjaga semangat dan motivasi atlet,” tambah menteri berusia 45 tahun itu. Pemanfaatan sport science sangat luas dengan melibatkan lintas profesi, sehingga tak hanya sebatas pelatih. Karena terdapat dokter olahraga, pelatih fisik, ahli gizi, biomekanik, fisioterapi, marketing sports, arsitek perencanaan venue olahraga dan arsitek urban development, masseur, insurance. Sebab, salah satu basis penerapan sports science adalah mencatat dan mengumpulkan data, serta membandingkan data dengan nilai tertentu. Lebih utama, yakni bagaimana mengkoordinasikan data yang dimiliki, secara lintas profesi bukan hanya dimiliki satu kelompok tertentu. “Kalau semua itu terlibat, maka dipastikan olahraga Indonesia menjadi pilar yang sangat kuat bagi persatuan nasional,” urai suami Shobibah Rohmah itu. Menurut Imam, keberhasilan Indonesia di ajang Asian Games XVIII/2018, tak lepas dari usaha penerapan sport science. Pemerintah, jelas ayah 7 anak itu, akan melanjutkan penggunaan teknologi di dunia olahraga, sehingga nantinya para atlet tak hanya berprestasi di level Asian Tenggara (SEA Games), dan Asia (Asian Games), melainkan dunia, yaitu Olimpiade. “Pemerintah siap melanjutkan penerapan teknologi ini, sehingga atlet Indonesia berprestasi di level Olimpiade,” cetusnya. “Harapan kami semua Pelatnas harus ada tim lintas profesi demi kemajuan olahraga Indonesia,” tukas peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur itu. (Adt)

KONI Tangsel Manfaatkan Pembinaan Teknologi Sport Science

Ketua-Umum-KONI-Tangsel-terpilih

Ketua Umum KONI Tangsel terpilih, Rita Juwita sudah menyusun pembinaan atlet-atlet yang ada di Tangsel selama empat tahun kedepan. Rita ingin, memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang di zaman sekarang untuk membina para atlet agar bisa menyeluruh. Ini sangat penting, dimasukan sebagai bahan acuan dalam misi yang akan diemban tahun-tahun mendatang agar garis komando dan garis kerja dapat sejalan dengan apa yang akan dicapai. “Optimalisasi alokasi sport science and technology di semua cabang olahraga dalam rangka memperoleh kesamaan dalam pola pembinaan dan peningkatan prestasi,” tukasnya. Tak kalah pentingnya, Rita ingin membangun karakter para atlet termasuk para pelatih agar memiliki rasa juang tinggi dalam mencapai prestasi. Rasa solidaritasnya wajib dibangun dengan tujuan rasa membangun, untuk menuju prestasi yang dilalui dengan kerjasama, bukan “one man show” atau kerja masing-masing. “Membangun karakter olahragawan yang baik bagi atlet, pelatih dan manajer guna memperbesar semangat juang, rasa nasionalisme dan militansi dalam setiap usaha meraih prestasi terbaik,” harap Rita.(pah/adt)