Kampiun All England 2019, Hendra/Ahsan Diguyur Bonus dari PB Djarum dan Jaya Raya Rp 450 Juta

Juara All England 2019 Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mendapatkan bonus total Rp 450 juta dari masing-masing klubnya yakni PB Djarum Kudus dan PB Jaya Raya. (Adt/NYSN)

Jakarta- Sukses menjadi kampiun All England 2019, ganda senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan kembali diguyur bonus. Kali ini, bonus diberikan klub mereka masing-masing, yakni PB Djarum Kudus dan Jaya Raya. Duet berjuluk ‘The Daddies’ itu merajai turnamen tertua sekaligus bergengsi setelah menaklukan pasangan muda Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, rubber game, 11-21, 21-14, 21-12, di Birmingham Arena, Inggris, Minggu (10/3). Berkat prestasi membanggakan tersebut, Djarum Foundation bersama Yayasan Pembangunan Jaya Raya memberikan apresiasi kepada Hendra/Ahsan berupa bonus senilai total Rp 450 juta yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, pada Rabu (20/3). Ahsan yang merupakan atlet binaan PB Djarum Kudus dan Hendra asal PB Jaya Raya, masing-masing mendapatkan uang tunai Rp 200 juta ditambah voucher dari Tiket.com senilai Rp 25 juta. Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, mengatakan pemberian bonus merupakan komitmen dari Djarum Foundation yang selalu mendukung atlet-atlet PB Djarum untuk meraih prestasi tingkat dunia. “Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Mohammad Ahsan atas pencapaiannya di All England 2019. Ahsan adalah sosok yang punya semangat pantang menyerah dan mentalitas juara dunia. Semoga bonus ini bisa menambah motivasi Ahsan dan menjadi inspirasi para atlet yang lebih muda,” ujar Yoppy. Senada, Imelda Wigoena, Ketua Harian PB Jaya Raya, menegaskan pemberian bonus kepada Hendra adalah bentuk perhatian dan kepedulian Yayasan Pembangunan Jaya Raya terhadap para atletnya. “Bagi Jaya Raya, Hendra merupakan panutan dan pribadi yang istimewa, baik di lapangan maupun di kehidupan sehari-hari. Penghargaan ini merupakan bentuk motivasi kepada Hendra dan juga atlet-atlet lainnya, agar terus berusaha selagi mampu. Kami akan terus mendukung,” terang Imelda. Gelar juara yang diraih Hendra/Ahsan di ajang All England 2019 melanjutkan tradisi Indonesia dalam menjuarai turnamen bulutangkis BWF World Tour Super 1000 tersebut. Sebelumnya, dua tahun berturut-turut titel juara All England diraih kompatriot mereka, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Pengalaman, kematangan, dan semangat pantang menyerah membuat Hendra/Ahsan berhasil menundukkan lawannya. Kemenangan ini juga terasa sangat manis karena Hendra/Ahsan berhasil mengulang kesuksesan mereka lima tahun yang lalu sebagai juara All England 2014. Ahsan dan Hendra menyambut baik apresiasi yang diberikan klub terhadap mereka, dan menilai apresiasi dari klub menjadi dorongan yang kuat untuk tetap berkiprah dan terus meraih prestasi yang lebih baik. “Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan latihan dari klub yang begitu besar. Ini menjadi motivasi yang sangat kuat untuk kami. Semoga kedepan kami masih bisa terus meraih prestasi,” cetus Ahsan. Sedangkan Hendra menyebut apresiasi ini menjadi penyemangat dirinya bersama Ahsan agar bisa terus berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. “Terima kasih atas perhatian dari klub, semoga penghargaan ini juga menjadi motivasi atlet-atlet lainnya yang lebih muda, supaya berusaha lebih keras lagi untuk menjadi juara,” timpal Hendra. Sementara itu, Rudi Hartono, Ketua Umum PB Jaya Raya, menyebut Hendra/Ahsan sebagai contoh sekaligus panutan bagi para pemain muda. “Mereka bisa menjadi contoh dan panutan bagi para pemain muda untuk terus berjuang. Di All England menjadi juara di atas usia 30 tidak mudah. Jadi harus berjuang, terus berlatih dan jangan patah semangat, dan harus menjadi motivasi,” cetus Rudi. “Semoga melalui penghargaan ini makin banyak pemain Indonesia yang bisa berprestasi di tingkat dunia,” tambah juara All England selama 8 kali pada era 1960-an dan 1970-an itu. Dalam kesempatan itu, Djarum Foundation juga menggelar seremoni pemberian bonus kepada Tim Beregu Putra PB Djarum yang berhasil meraih titel juara di ajang Djarum Superliga Badminton 2019. Bonus senilai Rp 300 juta diberikan Djarum Foundation kepada Tim Putra PB Djarum yang terdiri dari Ihsan Maulana Mustofa, Mohammad Ahsan/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Shesar Hiren Rhustavito, Akbar Bintang Cahyono/Berry Angriawan, dan Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay, Alberto Alvin, Bagas Maulana, dan Praveen Jordan. Bonus ini semakin menambah pundi-pundi para atlet putra PB Djarum, di samping hadiah utama dari Djarum Superliga Badminton sebesar 80 ribu dollar Amerika Serikat (AS). Diketahui Tim Putra PB Djarum mencapai podium tertinggi berkat kemenangan 3-1 atas tim juara bertahan Superliga dalam empat edisi terakhir, Musica Trinity, dalam laga final di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/2). “Bonus untuk tim putra yang menjuarai Djarum Superliga Badminton 2019 merupakan bagian dari skema Djarum Foundation dalam mengapresiasi dan memotivasi para atlet-atlet PB Djarum. Kami berharap para atlet ini, terutama atlet-atlet muda akan semakin terpacu semangatnya meraih prestasi yang lebih tinggi,” ungkap Yoppy. Meski telah melahirkan pebulutangkis papan atas seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, dan Tantowi Ahmad, namun baru pada tahun ini PB Djarum berhasil menjadi kampiun Djarum Superliga Badminton. Gelar juara terasa makin spesial mengingat klub yang bermarkas di Kudus, Jawa Tengah itu, sama sekali tidak menurunkan pemain asing di nomor beregu putra. “Tahun ini kami hanya mengandalkan pemain sendiri. Kami memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk tampil. Bagi kami menang atau kalah itu belakangan, yang penting main. Ternyata permainan mereka semakin hari semakin bagus. Kami jadi semakin percaya diri mengandalkan pemain sendiri,” tukas Yoppy. (Adt)

Kampiun Swiss Open 2019, Fajar/Rian Makin Percaya Diri

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menjadi juara Swiss Open 2019 usai menumbangkan wakil Taiwan Lee Yang/Wang Chi-Lin, 21-19, 21-16. (Dok. Humas PBSI)

Basel- Indonesia membawa pulang satu gelar dari ajang Swiss Open 2019 melalui duet Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang merupakan unggulan empat turnamen. Fajar/Rian sukses meraih gelar juara usai menumbangkan wakil Taiwan Lee Yang/Wang Chi-Lin (8), straight game, dengan skor 21-19, 21-16. Pertandingan kedua pasangan yang berlangsung di ST. Jakobshalle Basel, Swiss, pada Minggu (17/3) itu memakan waktu 40 menit. Keberhasilan ini sekaligus menjadi gelar pertama bagi Fajar/Rian pada 2019. Rian mengatakan dirinya dan kolega tampil dengan baik. “Kami banyak adu drive. Kami unggul di permainan depan dan lawan banyak mengangkat bola, kami lebih sabar,” ujar Rian mengomentari hasil positif yang diraih pada pertandingan itu. Rian menambahkan gelar yang diraih bersama Fajar makin menambah kepercayaan diri, dan berharap performa mereka makin baik. “Gelar ini pasti menambah percaya diri kami, setelah kalah di semifinal All England minggu lalu dan kalahnya mepet. Mudah-mudahan kedepannya kami bisa lebih baik lagi,” tutur pebulutangkis kelahiran Bantul, Yogyakarta, 13 Februari 1996 itu. Disisi lain, Fajar menyebut bila sejak awal main mereka yakin dengan kemampuan yang ada, terlebih dengan tipe permainan lawan. “Pasangan Taiwan ini bagus, pukulannya kencang. Dari awal masuk lapangan sudah timbul keyakinan. Tapi kami masih banyak melakukan kesalahan, kami sudah benar mainnya, tapi saat lagi ramai, kami mati sendiri,” ungkap Fajar. Di partai pamungkas, Indonesia sebenarnya menempatkan dua wakil. Namun, dobel campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari harus puas menjadi runner-up. Rinov/Pitha yang diplot sebagai unggulan delapan itu kandas ditangan wakil Denmark Mathias Bay Smidt/Rikke Sony, rubber game, dengan skor 18-21, 21-12, 16-21, dalam tempo 56 menit. “Kami bermain tidak seperti kemarin-kemarin, kelihatan sekali tidak lepas dan tertekan,” cetus Rinov. Lebih lanjut, ia menjelaskan kekalahan yang dialaminya bersama kolega lebih banyak terjadi karena faktor non teknis. “Bukan tegang karena ini final, kami antiklimaks mainnya,” tukas Rinov. (Adt)

Juara All England 2019 Hendra/Ahsan Diganjar Bonus Rp 240 Juta, Picu Motivasi Atlet Junior Berjuang Lebih Keras

Ganda senior Hendra/Ahsan mendapatkan bonus Rp 240 juta perorang dari Kemenpora usai meraih gelar juara All England 2019. (Adt/NYSN)

Jakarta- Ganda putra senior Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan tiba di Tanah Air pada Minggu (17/3) malam usai menjadi kampiun di ajang kejuaraan tertua sekaligus paling bergengsi di dunia, All England 2019. Kedatangan Hendra/Ahsan di Terminal 3 Bandara International Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, disambut Raden Isnanta (Deputi Pembudayaan Olahraga), mewakili Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), bersama Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatusn Bulutangkis Seluruh Indonesia). Hendra/Ahsan sukses menjadi juara All England 2019 usai menaklukan ganda muda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik, di partai final, Minggu (10/3), rubber game, dengan skor 11-21, 21-14, 21-12. Usai menjadi juara di Negeri Ratu Elizabeth, Hendra/Ahsan langsung mengikuti kejuaraan Swiss Open 2019. Namun, langkah mereka terhenti di perempat final usai takluk dari wakil Taiwan Lee Yang/Wang Chi-Lin (8), rubber game, 26-24, 7-21, 12-21. Dan, sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan keras The Daddies dalam meraih juara All England 2019, pemerintah melalui Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) memberikan bonus sebesar Rp 240 juta perorang. “Bonus Rp 240 juta diterima masing-masing Hendra dan Ahsan ini sudah bersih tidak ada potongan pajaknya dan untuk pelatihnya juga ada sedang kami siapkan,” ujar Isnanta. Dalam kesempatan itu, Isnanta mengatakan pemerintah sangat mengapresiasi dan bangga bahwa bulutangkis bisa menghadirkan sebuah kebanggaan untuk masyarakat Indonesia. Terlebih, lanjut Isnanta, mereka menjadi juara di ajang kejuaraan tertua dan paling bergengsi, selain kejuaraan dunia dan Olimpiade. “Mereka telah membuktikan bahwa umur bukan patokan untuk menjadi juara. Terbukti mereka masih mampu menjaga performanya. Ini akan menginspirasi atlet junior akibat kematangan dan konsistensi mereka dalam menjaga mental, strategi dan teknik yang baik, sehingga akan lahir juara-juara lain,” tambah Isnanta. “Terima kasih untuk peran besar PBSI di bawah kepemimpinan Wiranto karena bisa membimbing juara dalam mengharumkan nama Indonesia,” tutur Isnanta. Sedangkan Ahsan mengaku bersyukur atas pencapaian prestasi ini karena kedepan masih banyak target pertandingan yang harus diraih. “Pasti senang dan bersyukur karena setelah lima tahun bisa juara All England lagi. Saya berharap bisa berprestasi terus untuk bangsa dan prestasi ini bisa memotivasi atlet junior agar lebih keras lagi berjuang,” cetus Ahsan. “Terima kasih kepada Kemenpora atas pemberian bonus. Kami senang dan bukan masalah nilainya, tapi perhatian pemerintah kepada kami sebagai atlet,” sambung pebulutangkis kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 9 Juli, 31 tahun silam itu. Senada, Hendra mengapresiasi penghargaan yang diberikan Kemenpora. “Terima kasih banyak kepada Kemenpora dan Pak Wiranto dan juga untuk keluarga kami yang telah memberikan dukungan,” terang Hendra. Hendra mengungkapkan meski mengalami cedera, namun dirinya tak lagi memikirkan kondisi yang dialaminya ketika berlaga di partai final All England 2019. “Kami tidak mikir pressure, cedera dan lainnya. Kami hanya fokus ke perolehan poin demi poin. Kedepan kami berdua berharap bisa lolos Olimpiade,” terang pria Kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, 34 tahun silam itu. Sementara itu, Wiranto mengaku bangga atas prestasi Hendra/Ahsan karena berhasil mengembalikan supremasi bulutangkis dunia ke Indonesia. “Perjuangan tidak mudah karena sengitnya persaingan bulutangkis dunia. Kita bersyukur Hendra/Ahsan memberikan pengabdian terbaik meskipun kita lihat perjuangan mereka luar biasa. Dimana saat semifinal, Hendra terpaksa dibalut kakinya akibat cedera dan menghadapi final yang sangat berat. Rasanya tidak mungkin bisa juara, tapi ternyata bisa unggul karena semangat yang tidak kenal menyerah dari Hendra/Ahsan,” tukas Wiranto. “Semoga ini menjadi pemicu bagi para pemain muda. Usia dan kondisi bisa dipicu dengan semangat pantang menyerah,” tutupnya. (Adt)

Pantang Menyerah, Hendra/Ahsan Kampiun All England 2019

Sumber Foto Ist Hendra/Ahsan Juara All England 2019.

Birmingham- Semangat pantang menyerah diperlihatkan duet Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pada kejuaraan bulutangkis paling bergengsi sekaligus tertua di dunia, All England. Pasangan senior ini mampu menepis keraguan publik terkait performa mereka setelah Hendra dibekap cedera pada betis kanan saat berlaga di semifinal melawan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (3), pada Sabtu (9/3). Namun, dalam kondisi yang belum pulih seratus persen, Hendra menunjukan diri sebagai petarung sejati bersama Ahsan dalam laga final, pada Minggu (10/3), dan memastikan menjadi kampiun di Negeri Ratu Elizabeth. The Daddies, julukan keduanya, membawa pulang gelar All England 2019 usai membungkam ganda muda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik, dalam drama pertarungan tiga gim, dengan skor 11-21, 21-14, 21-12. Di gim pertama, Hendra/Ahsan tampil kurang meyakinkan. Kesalahan demi kesalahan dilakukan ganda non pelatnas PBSI Cipayung itu. Alhasil, Aaron/Soh mampu merebut gim pertama dengan mudah. Namun, bermodal ketenangan dan pengalaman, Hendra/Ahsan akhirnya mampu menghentikan perlawanan pasangan Negeri Jiran itu di gim kedua. Usai kebangkitan di gim kedua, Hendra/Ahsan makin tak terbendung. Sebaliknya Aaron/Soh tak mampu mengembangkan permainan dengan terus mendapat tekanan hingga akhir laga. Setelah bertarung selama 48 menit, Hendra/Ahsan akhirnya sukses menuntaskan laga di gim ketiga dengan kemenangan meyakinkan. Hasil positif ini mengulang prestasi mereka di ajang yang sama pada 2014. “Saya fokus ke pertandingan hari ini, sebisa mungkin nggak mikirin kaki saya. Sakitnya masih terasa, tapi lebih baik dari kemarin. Motivasinya harus tinggi, ini partai final dan di All England, kami nggak mau kalah begitu saja,” ujar Hendra usai laga. Sementara itu, Ahsan mengatakan kunci kemenangannya bersama Hendra karena tampil fight, dengan semangat juang tinggi serta menjalankan strategi dengan pengalaman yang mereka miliki. “Dalam keadaan tertekan, kami tetap tenang. Kalaupun kalah kami harus beri perlawanan, harus bisa semaksimal mungkin, dan alhamudlilah kami bisa melalui itu,” timpal Ahsan. Ahsan mengungkapkan kemenangan yang diraih pada tahun ini berbeda dengan pencapaian yang didapat lima tahun lalu. “Bedanya gelar 2014 dengan yang sekarang adalah di umur. Sekarang pemain muda banyak yang kuat-kuat. Kami hanya bisa fokus, bisa gunakan pengalaman, itu berguna,” cetus Ahsan. Hal senada dikatakan Hendra. “Sama dengan Ahsan, yang 2014 dan ini bedanya di umur. Pasti ada rasa spesial, ini turnamen paling tua, bergengsi, senang bisa juara di sini lagi,” tukas pemain kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, 25 Agustus, 34 tahun silam itu. Sedangkan Herry Iman Pierngadi, Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI, yang mendampingi Hendra/Ahsan selama bertanding, menegaskan Hendra/Ahsan punya mental juara. “Mereka punya mental juara. Meski kondisinya nggak prima dan ketinggalan di gim pertama, memang mental juaranya kelihatan. Pemain Malaysia ‘goyang’ banget, terutama di gim ketiga,” terangnya. “Di gim kedua, lawan masih memberi perlawanan. Lalu saat mau tersusul, Hendra/Ahsan sempat ‘goyang’, saya bilang, terus dulu, masih bisa. Saat Hendra/Ahsan terus unggul, lawannya ‘goyang’,” tambah Herry. Kesuksesan Hendra/Ahsan membuat Indonesia berhasil menyambung tradisi gelar All England yang tak pernah putus sejak 2016. Pada 2016, ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto berhasil menjadi juara, dilanjutkan dengan ganda putra Kevin/Marcus pada 2017 dan 2018. Sedangkan pada 2012, 2013 dan 2014, ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengukir sejarah dengan mencetak gelar hat-trick. (Adt)

Apresiasi Timnas Pertahankan Tiket Group I Piala Fed, PP Pelti : Modal Positif ke SEA Games 2019

Tim nasional (Timnas) Piala Fed Indonesia sukses mempertahankan tiket di group I Asia Oceania. Torehan itu didapat setelah Aldila Sutjiadi Cs menaklukan Tim Thailand dengan skor 2-1, di Astana, Kazakhstan, pekan lalu. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim nasional (Timnas) Piala Fed Indonesia sukses mempertahankan tiket di group I Asia Oceania. Torehan itu didapat setelah Aldila Sutjiadi Cs menaklukan Tim Thailand dengan skor 2-1, di Astana, Kazakhstan, pekan lalu. Rildo Ananda Anwar, Ketua Umum PP (Pengurus Pusat) Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti), mengapresiasi hasil positif ini. “Kami sangat mengapresiasi keberhasilan yang sudah ditorehkan para atlet kami di Asia Oceania,” ujar Anwar, di Sekretariat Pelti Senayan, Jakarta, Senin (11/2). Dijelaskannya, torehan positif ini akan menjadi modal berharga menghadapi pesta multievent terbesar di Asia Tenggara, pada akhir tahun nanti. “Ini tentu akan menjadi modal kami untuk menuju ajang SEA Games 2019 yang akan digelar di Filipina nanti,” lanjutnya. Lebih lanjut, Anwar menerangkan hasil yang diraih Tim Piala Fed Indonesia kali ini dapat dikatakan mengalami kemajuan. Sebab, ungkapnya, pada tahun sebelumnya skuat Indonesia meraih hasil yang kurang konsisten. “Selama ini posisi Tim Fed Cup selalu pasang-surut. Tapi, kali ini mereka stabil di Grup 1,” cetus Anwar. Ia menegaskan Tim Piala Fed Indonesia yang terdiri dari Beatrix Gumulya, Aldila Sutjiadi, Jessy Rompies, dan Deria Nur Halizq, didampingi Dedy Tedjamukti (Pelatih) itu akan dipertahankan dalam ajang SEA Games 2019 Filipina. “Tim ini akan dipertahankan, selama seleksi junior belum masuk ke level mereka. Tapi, untuk SEA Games 2019, kami akan akomodir 60 persen junior dan 40 senior,” tutur Anwar. Sementara itu, Aldila mengatakan, hasil positif mempertahankan posisi untuk tetap berada di Group I tidaklah mudah. Apalagi, lawan yang dihadapi memiliki peringkat di atas para pemain Indonesia. “Di Piala Fed ini, semua lawan kami, seperti Korea, Cina dan Thailand memiliki ranking di atas kami. Bahkan, di Group I itu, kami adalah underdog,” tukas peraih medali emas tenis ganda campuran Asian Games 2018 bersama Christopher Rungkat. Menurut Aldila, selama ini performa dirinya dan kolega kerap naik turun, sehingga untuk tetap berada di Group I sangat sulit. “Akhirnya kami bisa tetap bertahan dan tahun depan masih berada di Group I,” pungkas dara kelahiran Jakarta, 2 Mei 1995. (Adiantoro)

Jadi Tunggal Tersisa Indonesia, Jonatan Christie Masuk Semifinal Indonesia Masters 2019

Tunggal putra Indonsia, Jonatan Christie sukses melaju ke babak semifinal (4 besar) Daihatsu Indonesia Masters 2019, paska menyudahi unggulan ke-8 asal India, Kidambi Srikanth, pada babak perempat final di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (25/1). (Humas PBSI)

Jakarta- Jonatan Christie mampu mempertahankan performa menawan para wakil tuan rumah di court-1 Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/1). Butuh waktu 48 menit bagi tunggal putra peringkat 12 dunia itu menekuk unggulan ke-8 asal India, Kidambi Srikanth, demi tiket ke babak semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019. Awal gim pertama, pertarungan berlangsung ketat. Namun jelang interval Jojo, sapaannya mampu mendulang beberapa poin beruntun, hingga membuatnya sedikit menjauh dari kejaran poin Kidambi. Masa interval, jagoan tuan rumah unggul 11-7. Selepas jeda, Kidambi yang kini bercokol di peringkat 8 dunia itu mulai bangkit. Sedikit demi sedikit, pemain 25 tahun ini mulai mengejar perolehan poin Jojo. Poin berimbang di angka 15-15, bahkan tunggal India mampu balik memimpin 15-18. Namun, atlet PB Tangkas yang didukung penuh suporter tuan rumah sebagaimana saat ia meraih medali emas Asian Games 2018, tak lantas tinggal diam. Lewat sebuah momentum yang tepat, pemain kelahiran Jakarta 15 September 1997 itu mampu mendulang lima poin berturut-turut mengakhiri gim pertama dengan kemenangan 21-18. Gim kedua dibuka dengan mulus oleh Jonatan. Ia meraup enam poin beruntun untuk leading 6-0. Jeda interval pun dikuasai Jojo, lewat keunggulan 11-4. Sebenarnya Jonatan memimpin perolehan angka. Namun saat memasuki periode poin kritis, Kidambi menipiskan ketertinggalannya menjadi 17-15. Pemain India ini bahkan mampu menyamakan kedudukan di angka 19-19. Performa Jojo yang mulai kedodoran saat masuk periode krusial, ternyata gagal dimanfaatkan dengan baik oleh wakil India. Ia pun sukses menutup set kedua lewat kemenangan tipis 21-19. Jojo pun sukses menyusul dua wakil tuan rumah lainnya yang telah memastikan diri masuk ke babak 4 besar. Masing-masing dari sektor ganda putri lewat aksi Greysia/Apriyani, dan ganda campuran dar pasangan Tontowi/Liliyana. Sementara Juara bertahan tahun lalu, Anthopny Sinisuka Ginting harus mengubur impiannya ke semifinal lantaran kalah dari tunggal asal Jepang, Kento Momota. Anthony takluk dari unggulan pertama turnamen ini dengan straigt game, 9-21, 10-21, di Istora Senayan, Jumat (25/1). Di babak semifinal yang bakal digelar pada Sabtu (26/1), Jojo ditunggu ranking 20 dunia asal Denmark, Anders Antonsen. Dalam laga di court-3 itu, Antonsen tak diduga menundukkan wakil Malaysia, Lee Zii Jia, dua set langsung, dengan skor identik 21-13, 21-13. “Antonsen mungkin menebak permainan saya, begitu juga saya, akan melihat video pertandingan masing-masing. Saya unggul di supporter, lawan-lawan saya terlihat sedikit nervous dengan riuhnya Istora, ini salah satu modal buat saya,” terang Jojo. “Antonsen pemain bagus, masih muda. Tipikal mainnya seperti pemain Eropa yang cepat, angkat bola dan smash. Mirip dengan (Viktor) Axelsen, tapi Antonsen lebih cepat karena dia lebih muda,” pungkasnya. (Adt)

Jonatan Christie Singkirkan Unggulan Kedua Asal China, Anthony Ginting Susul ke Perempat Final

Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, secara mengejutkan melaju ke babak perempatfinal Daihatus Indonesia Masters 2019. Dia menang mudah atas wakil China, Shi Yuqi, lewat pertandiangan dua gim 22-20 dan 21-6, lewat drama pertarungan selama 39 menit. (tribunnews.com)

Jakarta- Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, secara mengejutkan melaju ke babak perempatfinal Daihatus Indonesia Masters 2019. Dia lolos usai menang mudah atas wakil China, Shi Yuqi, lewat dua gim. Dalam laga yang berlangsung di Istora Senayan, pada Kamis (24/1), Jojo, sapaannya, mengawali gim pertama dengan baik. Dia bisa mengimbangi perlawanan dari Shi Yuqi. Sempat tertinggal 17-20, Jojo akhirnya berhasil menutup gim pertama dengan keunggulan 22-20. Mendapat dukungan hebat dari publik Istora, Jojo bermain dengan impresif di gim kedua. Bahkan Shi Yuqi dibuat tak berdaya di awal set kedua tersebut, Jojo mampu cetak empat poin. Setiap pergerakan unggulan kedua itu mampu dibaca dengan baik oleh Jojo. Atlet kelahiran Jakarta 15 September 1997, akhirnya menutup dengan kemenangan 21-6. Tercatat ia hanya butuh 39 menit melewati laga ini. Di perempatfinal nanti, pebulutangkis berusia 22 tahun akan melawan Srikanth Kidambi (India). Sementara itu, perjalanan Anthony Sinisuka Ginting mempertahankan gelar juara di Indonesia Masters masih mulus. Ranking 7 dunia itu memastikan 1 tiket perempatfinal usai menang mudah atas tunggal putra China, Zhao Junpeng, di laga 16 besar. Duel itu berlangsung sengit. Apalagi, di gim pertama, Zhao beberapa kali memimpin perolehan poin. Namun, usai jeda turun minum, Anthony tampil makin membaik dan merebut kemenangan 21-15. Di gim kedua, ia tampil ganas sejak awal. Memimpin raihan angka hingga menutup pertandingan di menit ke 40, Anhtony menyudahi laga dengan poin akhir 21-12. Dengan hasil ini, pada babak perempatfinal, pemuda kelahiran Cimahi 20 Oktober 1996 ini, akan menantang Juara Dunia 2018 asal Jepang, Kento Momota. Berdasarkan rekor pertemuan, Anthony tertinggal 3-5 dari tunggal andalan Negeri Sakura itu. Terakhir, kedua pemain bertemu di ajang Denmark Open, pada Oktober 2018. “Saya harus siap capek, siap susah, makin kesini lawannya makin susah, harus benar-benar siap, dengan sistem reli poin, kalau buat salah, langsung kehilangan poin,” tambah jebolan MILO School Competition itu. Sejatinya, walau bercokol di ranking 45 dunia, Zhao bukan lawan yang mudah. Atlet kidal ini punya penempatan bola yang tak terduga. Buktinya di babak 32 besar Indonesia Masters 2019, ia menaklukan juara dunia 4 kali, Lin Dan. Bahkan, Zhao pernah mengalahkan Anthony di Indonesia Masters 2016. Tapi, yang terbaru, atlet klub PB SGS PLN ini, sukses menumbangkan Zhao, di Thailand Masters 2017. (Adt)

Tekuk Unggulan Keenam, Priska Jumpa Seeded Kesembilan Australia Open Junior 2019

Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil andalan Merah Putih itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea, dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. (topskor.co.id)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil Merah Putih di turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea. Priska unggul dalam laga rubber set dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. Sebelumnya, di laga pembuka Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1), Priska menyudahi petenis Korea Selatan, Yoen Woo Ku, juga dengan tiga set 6-3, 6-7, 6-4. “Saya sempat kehilangan konsentrasi ketika unggul 3-1 di set awal. Kejadian serupa nyaris terulang pada set kedua. Tapi saya bisa kembali mengontrol permainan dan menyelesaikan set kedua dan percaya diri menyelesaikan set berikutnya,” ucap Priska usai laga. Partai seru berdurasi satu jam 18 menit itu, berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park ini. “Serve pertama menjadi kunci kemenangan ini,” imbuh dara manis berkawat gigi yang lahir 29 Mei 2003 ini. Merujuk statistik pertandingan, Priska sanggup melesakkan tujuh kali aces alias serve yang tak tertepis lawan. Padahal, rata-rata kecepatan servisnya hanya 144 km/jam, yang sejatinya lebih pelan dari Ma Lea, yang mencatat rerata ace 147 km/jam. Pada babak ketiga, Rabu (23/1), Priska bakal kembali menghadapi lawan yang tak kalah berbobot, yakni Kamilla Bartone. Petenis Latvia peringkat 21 dunia itu menempati posisi unggulan kesembilan turnamen. Di babak 32 besar, remaja semampai kelahiran Riga, Latvia, 7 Juni 2002 itu, menang atas andalan Australia, Olivia Gadecki 7-6(4) 4-6 6-3. Sepekan silam, saat tampil di babak kedua turnamen pemanasan di Traralgon, Priska unggul straight set atas Gadecki 6-4 6-2. “Kalau Priska mampu mempertahankan level permainan seperti babak kedua, saya yakin peluangnya cukup besar melewati babak 16 Besar,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska selama di Negeri Kanguru. (Adt) Hasil Selasa (22/1)Babak Kedua (32 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) 5-7 6-3 6-0 Jadwal Rabu (23/1)Babak Ketiga (16 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 9-Kamilla Bartone (Latvia)

Tampil di Istora Senayan, Runner-up World Junior Championship 2018 Merinding

Duet Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti lolos ke babak utama turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2019. Runner-up World Junior Championship 2018 itu, sukses menyudahi wakil Rusia, Rodion Alimov/Alina Davletova, dalam duel tiga gim, 19-21, 21-17, 21-16, pada Selasa (22/1). (Pras/NYSN)

Jakarta- Duet Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti lolos ke babak utama kejuaraan bulutangkis Daihatsu Indonesia Masters 2019. Runner-up World Junior Championship 2018 itu, menyingkirkan wakil Rusia, Rodion Alimov/Alina Davletova, dalam duel tiga gim, dengan skor 19-21, 21-17, 21-16, pada Selasa (22/1). Berbeda dengan Fadia, yang sudah beberapa kali berlaga di Istora Senayan, ketika tampil bersama Agatha Imanuela, rekan duetnya di ganda putri, namun lain halnya dengan Rehan. Baginya, ini adalah pengalaman pertama merasakan atmosfer Istora Senayan, yang selalu gegap gempita kehadiran suporter setiap kali wakil Merah Putih bertanding. “Saya merinding. Baru pertama tanding di sini (Istora). Saya pernah main di WJC (World Junior Championships), di Yogyakarta, tapi tidak ‘segila’ di sini,” ujar pemain kelahiran Bekasi, Jawa Barat, 28 Februari 2000 itu. Padahal, menurut Rehan, laga yang dilakoni baru babak kualifikasi, namun penonton sudah ramai memenuhi Istora. “Saya pikir, pendukung kami banyak, jadi ngapain takut menghadapi lawan,” lanjut pebulutangkis PB Djarum Kudus itu. Terlebih, sebut Rehan, di akhir permainan terdengar teriakan ‘habisin’, hal itu yang kadang membuat dirinya tak sabar menyelesaikan laga. “Kadang ini bikin nafsu ingin menyerang dan mematikan lawan,” tambahnya. Pada laga ini, Rehan/Fadia harus merelakan gim pertama dicuri dobel Rusia penghuni ranking 40 itu. Merubah pola permainan dari menyerang ke bertahan justru memberikan dampak negatif bagi Rehan/Fadia. “Di gim pertama mainnya sudah enak, tapi kami jadi main bertahan. Padahal lawan juga banyak melakukan kesalahan sendiri,” ungkapnya. “Dan di gim kedua dan ketiga itu, bagaimana caranya kami harus banyak menurunkan bola,” tegas Rehan. Di babak utama, penghuni Pelatnas PBSI itu akan beradu kekuatan dengan wakil Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai. Ganda Indonesia peraih perak Malaysia Junior International Challenge 2018 itu patut waspada. Penampilan wakil Negeri Gajah Putih itu tengah naik daun. Fadia mengaku bila lawan yang dihadapi sangat kuat. “Lawan kami memang kuat, mereka lebih unggul dari segi pengalaman. Pokoknya kami mau fight dulu,” tukas remaja putri kelahiran Bogor, Jawa Barat, 16 November 2000 itu. (Adt)

Tantang Unggulan Keenam Asal New York di Australia Open Junior, Priska : Siap Siapapun Lawannya

Petenis Indonesia peringkat 44 dunia, Priska Madelyn Nugroho (15 th) akan menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat berperingkat 19 dunia, Ma Lea (17 th), pada babak kedua Australia Terbuka Junior, pada Selasa (22/1). (picssr.com)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat, Ma Lea, pada babak kedua Australia Open Junior 2019, pada Selasa (22/1). Pertemuan antara peringkat ke-44 dan 19 dunia itu dijadwalkan berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park. Lawan Prsika terhitung cukup matang dari sisi usia. Lea adalah petenis berdarah Tionghoa berasal dari Dix Hills, New York. Dara kelahiran 1 Februari 2001 ini merupakan atlet timnas USA, yang tampil dalam ajang Olimpiade Remaja (Youth Olympic) pada Oktober 2018 lalu, di Buenos Aires, Argentina. “Pokoknya saya siap saja melawan siapapun karena memang tak ada lawan yang mudah di ajang level grand slam seperti ini,” ucap Priska, tak gentar ketika dihubungi pada Senin (21/1), yang tampil di arena pertandingan turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu. “Berusaha main terbaik dan semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada,” lanjut dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 ini. Kiprah Priska, satu-satunya wakil Merah Putih di arena grand slam ini hanya tersisa di nomor tunggal, menyusul kekalahannya pada babak pertama ganda, Senin (21/1). Duet Priska/Wei Sijia kandas di tangan unggulan kedua asal Thailand, Thasaporn Naklo/Mananchaya Sawangkaew 0-6 2-6 hanya dalam tempo 46 menit. “Lawan sangat dominan dari awal pertandingan. Priska dan partnernya kesulitan dan tak mampu keluar dari tekanan,” ulas pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska. Menurut Ryan, faktor jam terbang juga sangat berpengaruh dalam pertarungan di level grand slam. “Pasangan Thailand itu sangat kompak dan lebih berpengalaman tampil di grand slam seperti Australia Terbuka ini. Sementara Priska dan Wei memang baru melakukan debut di ajang seperti ini,” paparnya. Priska dan Wei Sijia merupakan petenis termuda yang masuk sebagai direct acceptance babak utama Australia Terbuka Junior 2019. “Semoga Priska dapat segera melupakan kekalahan di nomor ganda dan bisa mengambil banyak pelajaran dari pertandingan itu agar lebih siap menjalani partai babak 32 besar tunggal,” tandasnya. (Adt) Jadwal Selasa (22/1)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) Hasil Senin (21/1)Priska Madelyn Nugroho / Wei Sijia (China) v 2-Thasaporn Naklo / Mananchaya Sawangkaew (Thailand) 0-6 2-6

Ratusan Atlet Perebutkan Hadiah Rp 4,9 Miliar, Indonesia Bidik Satu Gelar Indonesia Masters 2019

Daihatsu Indonesia Masters 2019 BWF World Tour Super 500 siap dihelat di Istora Senayan, Jakarta, pada 22-27 Januari. 267 pebulutangkis elite dunia dari 20 negara bakal bersaing memperebutkan total hadiah total hadiah 350 ribu dollar Amerika Serikat (AS), atau sekitar Rp 4,9 Miliar. (Pras/NYSN)

Jakarta- Kejuaraan bulutangkis bertajuk ‘Daihatsu Indonesia Masters 2019 BWF World Tour Super 500’, siap dihelat di Istora Senayan, Jakarta, pada 22-27 Januari. 267 pebulutangkis elite dunia dari 20 negara bakal bersaing memperebutkan total hadiah 350 ribu dollar Amerika Serikat (AS), atau sekitar Rp 4,9 Miliar. Indonesia selaku tuan rumah akan mengandalkan Anthony Sinisuka Ginting, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, dan duet senior Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Deretan pebulutangkis top dunia pun turut meramaikan, yakni Kento Momota (Jepang), Chen Long (China), Viktor Axelsen (Denmark), Nozomi Okuhara (Jepang), serta Li Junhui/Liu Yuchen (China). Achmad Budiharto, Ketua Panitia Pelaksana turnamen, mengatakan Indonesia siap untuk menyambut para pebulutangkis dunia di Istora Senayan. Ia menjelaskan seluruh panitia pelaksana tengah bekerja secara maksimal agar dapat berjalan dengan sukses. “Daihatsu lndonesia Masters 2019 diikuti para pebulutangkis elit dari 20 negara. Secara keseluruhan Istora Senayan sudah siap untuk pertandingan,” ujar Budiharto, di Hotel Sultan Senayan, Jakarta, pada Senin (21/1). Ia memastikan pertarungan menuju gelar juara di turnamen ini akan sengit dan menarik. “Pasti para pemain memiliki motivasi kuat untuk meraih titel di awal tahun ini. Kami berharap Daihatsu lndonesia Masters 2019 bermanfaat dalam mendukung Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan tiap kejuaraan bulutangkis dunia,” tambahnya. Disisi lain, kendati menjadi tuan rumah, Indonesia diperkirakan tak akan mudah meraih gelar. Salah satu tantangan terbesar datang dari Negeri Tirai Bambu. Terlebih, prestasi negara itu tengah berkilau, karena baru saja menyabet tiga gelar juara di ajang BWF World Tour Finals, Desember lalu. Di Daihatsu Indonesia Masters 2019, hasrat China menyapu bersih gelar juara terlihat sebagai negara yang menerjunkan jumlah peserta terbanyak. “China mengirimkan 37 pemainnya, dari semula 44 pemain yang akan berlaga di turnamen ini,” terang Budiharto. Sedangkan Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), menyebut atlet harus berupaya keras untuk meraih minimal satu gelar, yakni dari nomor ganda putra. “Target minimal ganda putra Indonesia bisa kembali menghasilkan gelar juara. Tapi kami juga harapkan muncul kejutan dari sektor-sektor lainnya. Dan, saya tidak bisa sebutkan dari sektor mana,” tegas Susi. Dijelaskannya, prestasi di ajang ini diharapkan bisa menambah motivasi bagi para atlet Indonesia dalam menghadapi rangkaian turnamen sepanjang tahun ini, salah satunya yaitu lndonesia Open yang akan digelar pada Juli mendatang. Di ajang yang sama tahun lalu, Indonesia sukses meraih dua gelar juara dari sektor tunggal putra, melalui Anthony Ginting yang menyingkirkan Kazumasa Sakai (Jepang), dan ganda putra yakni Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi yang menang atas Li Junhui/Liu Yuchen. Sementara itu, Anthony Ginting bertekad mengulang prestasi pada tahun lalu. “Kalau target, saya ingin mengulang kesuksesan tahun lalu. Tapi, saya mau fokus satu demi satu dulu di pertandingan,” tutur Anthony. Di babak pertama Daihatsu Indonesia Masters 2019, Anthony akan berjumpa dengan rekan senegaranya, Tommy Sugiarto. Terakhir, mereka bertemu di ajang All England, Maret 2018. Ketika itu, Anthony takluk dua gim langsung (14-21, 19-21). “Untuk rekor pertemuan, Tommy masih lebih unggul dari saya. Pasti saya akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa meraih kemenangan,” tukas penghuni ranking 7 dunia itu. (Adt)

Ganda Putra Selalu Milik Indonesia, Kevin/Marcus Kampiun Malaysia Masters 2019

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengawali 2019 dengan apik. The Minions menyabet gelar juara pertama mereka di tahun ini, usai menjuarai Malaysia Masters 2019, pada Minggu (20/1). (antaranews.com)

Kuala Lumpur- Indonesia merebut satu gelar juara di Malaysia Masters 2019 setelah Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon menaklukkan pasangan tuan rumah, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, Minggu (20/1). Kevin/Marcus menang dua set langsung, 21-15 dan 21-16 dalam waktu 36 menit. Turnamen resmi dengan total hadiah 350 ribu dolar Amerika Serikat ini, diikuti hampir seluruh pebulutangkis top dunia. Terutama mereka yang bergelar pemegang ranking 1 dunia, di lima kategori yang dipertandingkan. Sejatinya, Malaysia Masters bukan turnamen yang angker bagi pemain Indonesia, terbukti sejak turnamen ini digelar pada 2009, Indonesia berhasil meraih 10 dari 50 gelar juara. Jumlah ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua papan klasemen negara peraih gelar juara Malaysia Masters. Anehnya, sebagai tuan rumah Malaysia cuma memiliki rekor 2 gelar lebih banyak dari Indonesia. Negeri Jiran mendapatkan 12 gelar saja. Gelar juara terbanyak didapatkan Indonesia dari kategori ganda putra, yaitu sebanyak 4 gelar juara. Uniknya, empat gelar juara itu tak pernah diraih oleh pasangan yang sama. Empat gelar masing-masing disumbangkan Markis Kido/Hendra Setiawan pada 2010, Kevin/Marcus pada 2016, Berry Angriawan/Hardianto pada 2017, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianta pada 2018. Sebelumnya pada nomor ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu gagal menyabet gelar juara. Mereka ditumbangkan unggulan satu, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang), dengan skor 21-18, 16-21 dan 16-21. Rekor pertemuan kini mencatat Greysia/Apriyani tertinggal 5-2 dari Fukushima/Hirota. Mereka kalah lima kali secara berurutan. Di semifinal kemarin, Greysia/Apriyani juga berhadapan dengan wakil Jepang, yakni Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, 20-22, 21-13 dan 21-19. Kemenangan ini menjadi hal penting bagi Greysia/Apriyani, setelah selalu kalah di tiga duel terakhir dari Matsutomo/Takahashi. Atas raihannya di Malaysia, Greysia/Apriyani mengevaluasi penampilan mereka. “Melawan pemain Jepang selalu ketat, kami memang harus benar-benar dalam kondisi terbaik. Dengan lawan kemarin (Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi) kurang lebih sama. Mereka kuat, susah untuk dilawan,” kata Greysia mengenai lawannya itu. Faktor konsistensi tenaga menjadi perhatian mereka kali ini. “Yang harus ditingkatkan adalah tenaga kami. Jadi seumpama kami rubber, tenaga kami bisa konsisten. Bukan hanya pikiran aja yang konsisten. Lawan makin lama main bukan makin menurun, tapi makin kuat untuk naikin bola lagi, kasih lob lagi,” pungkas Apriyani. (Adt)

Loloskan Duo Ganda ke Final, Indonesia Lebih Baik Dari Tuan Rumah di Malaysia Masters 2019

Rangkaian semifinal Malaysia Masters 2019 telah tuntas digelar di Axiata Arena, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (19/1). Dari 10 laga yang dimainkan, skuat bulu tangkis Indonesia berhasil memenangi dua laga, salah satunya dari duet Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. (suara.com)

Kuala Lumpur- Rangkaian semifinal turnamen Malaysia Masters 2019 telah tuntas digelar di Axiata Arena, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (19/1). Dari 10 pertandingan yang dimainkan, skuat bulu tangkis Indonesia berhasil memenangi dua laga. Yakni melalui pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (ganda putra) dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu (ganda putri). Artinya, Indonesia memiliki dua wakil, pada laga final Malaysia Masters 2019, yang berlangsung pada Minggu (20/1). Greysia/Apriyani maju paska menekuk pasangan Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi di babak semifinal. Mereka menang 20-22, 21-13, 21-19, setelah berjuang selama 79 menit. Bagi pasangan putri terbaik merah putih, hasil ini jadi kemenangan kedua mereka atas unggulan kedua tersebut dari 10 kali pertemuan. Sedangkan, Kevin/Marcus menang atas ganda Malaysia, Goh V Shem dan Tan Wee Kiong, dengan skor akhir 21-18, 24-22. Kemenangan “the minions” makin mentasbihkan dominasi mereka atas ganda 13 dunia itu. Ini kemenangan ke empat mereka, dari lima pertemuan. Hasil ini lebih baik, ketimbang yang diraih tim tuan rumah. Dari enam wakil pada babak semifinal, cuma satu yang berhasil lolos ke final. Itupun terjadi pasangan ganda putra, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi yang menjalani perang saudara, dengan Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Mencapai podium tertinggi di turnamen pertama mereka di tahun ini, Kevin dan Marcus amat berharap bisa mengawali catatan apik mereka di turnamen ini, dan memetik gelar juara. “Tentu, kami senang lolos ke final. Tapi ini belum selesai, masih ada satu pertandingan lagi buat besok (final). Kami berharap bisa menjadi juara di sini. Yang pasti, kami harus bermain lebih baik lagi di final dan lebih fokus lagi,” ucap Kevin. Selain Indonesia, negara-negara lain yang mampu menempatkan dua wakil pada final Malaysia Masters 2019 ialah Jepang dan Thailand. Jepang berpeluang meraih gelar juara melalui Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (ganda putri), dan Yuta Watanabe/Arisa Higashino (ganda campuran). Sementara, Thailand bisa membawa pulang titel kampiun, dari juara bertahan tunggal putri, Ratchanok Intanon, dan duet ganda campuran, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai. (Adt)

Hadapi Wakil Korsel di Babak Pertama Australia Open Junior 2019, Priska : Dia Kawan Berlatih

Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (15 tahun), akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1). Peringkat ke-45 junior dunia itu, bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku. (tribunnews.com)

Jakarta- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, Minggu (20/1). Dari hasil undian babak utama yang dilakukan Jumat (18/1), peringkat ke-45 junior dunia itu bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku, pada laga perdana. Yeon yang saat ini berada di urutan ke-127 junior dunia, masuk babak utama menggunakan fasilitas wild card, setelah memenangi Australia Open Asia Pacific Play Off di Zhuhai (Tiongkok), awal Desember 2018. “Meskipun belum pernah bertemu di lapangan, dia bukanlah lawan yang asing karena beberapa kali berlatih bersama,” tutur Priska, pada keterangannya Jumat (18/1) seusai melakoni latihan di Albert Reserve Park, Melbourne. “Saya optimistis bisa melaju ke babak kedua,” ucap Priska. Akhir tahun lalu dalam persiapan menuju Australia Terbuka ini, bersama Yeon, dara kelahiran Jakarta 29 Mei 2003 bahkan turut mengikuti pemusatan latihan bersama dengan mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabilles di Bangkok, Thailand. “Semua lawan di level Grand Slam tidak ada yang mudah. Kami semua berusaha untuk bermain semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada. Mohon doa dan dukungan dari seluruh pencinta tenis indonesia,” ucap pelatih Ryan Tanujoyo bersama Elbert Sie, yang mendampingi kiprah Priska, selama di Australia. Bila mampu menepiskan perlawanan Yeon, Priska bakal terlibat bentrok dengan pemenang laga antara unggulan keenam dari Amerika Serikat, Lea Ma dan wakil Rusia, Elina Avanesyan. Priska juga akan tampil di nomor ganda berpasangan dengan petenis asal Tiongkok, Wei Sijia. Keduanya adalah petenis termuda yang lolos sebagai Dirrect Acceptance Babak Utama Australia Terbuka Junior 2019. Undian partai ganda, berlangsung pada Sabtu (19/1). Hadirnya Priska, menandai kehadiran kembali wakil Merah Putih di ajang Grand Slam setelah cukup lama petenis Indonesia absen dari turnamen tenis kelas wahid dunia. (Adt)

Anthony Ginting Tembus 8 Besar Malaysia Masters 2019, Fitriani Akhirnya Kandas

Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, berhasil melaju ke perempat final Malaysia Masters 2019, berkat kemenangan atas Kashyap Parupalli (India), dalam waktu 53 menit, dengan skor 21-17 dan 25-23, di Stadium Axiata, Kuala Lumpur Sport City, Malaysia, pada Kamis (17/1). (tribunnews.com)

Kuala Lumpur- Beda hasil diperoleh dua wakil tunggal putra Pelatnas PBSI, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie di babak kedua turnamen bulu tangkis Malaysia Masters 2019. Anthony sukses mengalahkan lawannya, Kashyap Parupalli (India), sedangkan Jonatan dihentikan Chen Long (Cina). Anthony mengalahkan Parupalli, dalam 53 menit dengan skor 21-17 dan 25-23, di Stadium Axiata, Kuala Lumpur Sport City, Malaysia. Hasil ini memantapkan posisi pemuda kelahiran Cimahi 20 Oktober 1996, atas Parupalli pada catatan pertemuannya dengan 3-0. Ia pun menilai pertandingan pada Kamis (17/1), cukup ketat. “Di game pertama, saya bisa menahan poin untuk terjaga jaraknya. Game kedua sampai interval, saya sudah enak mainnya. Tapi, habis interval, dia sempat merubah pola. Jadi, permainan saya sempat terpengaruh, nggak sesuai ekspektasi saya,” ujarnya, dikutip laman resmi PBSI. Pada laga lain, Chen Long rupanya masih terlalu tangguh untuk dihadapi oleh Jonatan. Dari lima kali duel sebelumnya, Jonatan belum pernah meraih kemenangan sekalipun. Kali ini Jonatan kalah 15-21 dan 18-21 dalam waktu 45 menit. “Sebenarnya kami sama-sama menunggu kesalahan masing-masing. Tapi, saya banyak mati sendiri. Di game pertama saat posisi kalah angin, saya seharusnya memanfaatkan untuk menguras tenaganya, tapi saya nggak melakukannya dengan baik. Saya juga terlalu hati-hati, dan permainan terbaca oleh dia,” kata Jonatan. Di babak perempat final, Anthony akan menghadapi Chen Long. Anthony sejatinya berada di peringkat yang lebih rendah, dari Chen Long. Namun, ia memiliki rekor pertemuan yang baik atas pebulu tangkis China itu. Kedua pebulu tangkis sudah tujuh kali bertemu, dengan rekor kemenangan, dikuasai Anthony sebanyak lima kali. Sedangkan Chen Long, baru berhasil mencuri dua kemenangan. Dalam dua pertemuan teranyar keduanya, pemain PB SGS PLN Bandung ini, selalu menang. Rekor yang membuat Anthony cukup diandalkan, untuk menuntaskan dendam Jonatan. Sementara itu, hasil negatif lainnya juga diderita Fitriani, yang pekan lalu, menjuarai Thailand Masters 2019. Satu-satunya wakil tunggal putri Indonesia ini, akhirnya terhenti di babak kedua. Ia tak berhasil mengatasi lawannya, yang merupakan unggulan dua, He Bingjiao (Cina). Ia kalah dua game langsung, dengan 14-21 dan 11-21. Artinya, Fitriani akhirnya harus menelan kekalahan untuk yang ketiga kalinya dari He. “Di game pertama saya menang angin, baru dorong sedikit sudah out. Saya banyak ragu-ragu dan mati sendiri. Terus, pergerakan kaki juga saya rasa kurang cepat kali ini. Lawannya memang bagus. Fokus saya juga berkurang, kaya nge-blank,” jelas Fitriani seusai bertanding. Futriani melanjutkan, “Fokus saya tak sebaik saat di Thailand kemarin. Setelah ini, saya turun di Indonesia Masters, saya harus lebih menjaga stamina, jaga fokus dan jaga pikirannya. Lebih diperbaiki lagi,” pungkas dara kelahiran Garut 27 Desember 1998 ini. Dengan kekalahan Fitriani, maka wakil tunggal putri Indonesia habis di babak dua Malaysia Masters 2019. Sebelumnya, Gregoria Mariska Tunjung, Lyanny Alessandra Mainaky dan Ruselli Hartawan, sudah rontok di babak pertama. (Adt)

Lanjutkan Tren Positif, Fitriani Melaju ke Babak Kedua Malaysia Masters 2019

Usai juara di Thailand Masters pekan lalu, Fitriani (20 th), memenangi duel sesama tunggal putri Indonesia, babak pertama Malaysia Masters 2019, melawan Yulia Yosephin Susanto, pada Rabu (16/1). Ani, sapaannya, lolos ke 16 besar dan akan bertemu unggulan kelima, He Bingjiao. (detik.com)

Kuala Lumpur- Fitriani memenangi duel sesama tunggal putri Indonesia, di babak pertama Malaysia Masters 2019, melawan Yulia Yosephin Susanto, pada hari ini, Rabu (16/1). Dengan demikian, Ani, sapaannya, lolos ke 16 besar dan akan bertemu unggulan kelima, He Bingjiao. Berlaga di court-3, Axiata Arena, Kuala Lumpur Sport City, pemain yang pekan lalu merengkuh gelar di Thailand itu, sukses menyudahi perlawanan Yulia, dengan straight game 21-16, 21-18, dalam tempo 39 menit. Ani adalah satu-satunya tunggal putri yang lolos ke babak kedua, pada laga hari ini. Di babak 16 besar yang akan digelar besok, Kamis (17/1), ia telah ditunggu unggulan ke-5 asal Cina, He Bingjiao. Sebagai catatan, dari dua kali pertemuan kontra pebulu tangkis putri asal Negeri Tirai Bambu tersebut, dara kelahiran 27 Desember 1998 ini, sama sekali belum pernah sanggup meraih kemenangan. Mereka pertama kali dipertemukan saat Kejuaraan Dunia Junior 2014, kala itu Ani menyerah rubber game 12-21, 21-19, 14-21. Sedangkan tahun lalu mereka kembali bertemu di ajang French Open 2018. Kali ini atlet asal Garut itu, menyerah dua set langsung, 17-21, 19-21, atas pemain berperingkat 7 dunia tersebut. Sebelumnya, dua tunggal Indonesia lainnya, Lyanny Alessandra Mainaky dan Gregoria ‘Jorji’ Mariska Tunjung harus angkat koper lebih cepat. Lyanny kalah dua gim langsung dari pemain Denmark, Line Hojmark Kjaersfeldt 21-9, 21-15. Dan, Jorji takluk dari unggulan keenam asal Thailand, Ratchanok Intanon, juga dua gim langsung 21-15, 21-16. (Adt)

Meski Kalah Angin, Ruselli Hartawan Tembus Babak Utama Malaysia Masters 2019

Tunggal putri Indonesia, Ruselli Hartawan, menembus babak utama kejuaraan bulutangkis Malaysia Masters 2019. Tiket babak utama didapat pebulutangkis kelahiran Jakarta, 27 Desember, 21 tahun silam itu, usai menaklukan Rituparna Das asal India, dua gim langsung, dengan skor 21-13, 26-24, dalam tempo 29 menit. (Humas PBSI)

Kuala Lumpur- Tunggal putri Indonesia, Ruselli Hartawan, menembus babak utama kejuaraan bulutangkis Malaysia Masters 2019. Tiket babak utama didapat pebulutangkis kelahiran Jakarta, 27 Desember, 21 tahun silam itu, usai menaklukan Rituparna Das asal India, dua gim langsung, dengan skor 21-13, 26-24, dalam tempo 29 menit. Melakoni laga di Axiata Arena, Kuala Lumpur Sport City, Bukit Jalil, Malaysia, pada Selasa (15/1), Ruselli mengaku di gim pertama dia kurang nyaman berada di lapangan. Kendati diungkapkannya, pada gim kedua seharusnya bermain lebih enak, karena kalah angin. “Tapi pukulan saya banyak yang nggak pas. Lawannya lumayan bagus, ada ngatur bolanya. Tapi karena saya sudah menonton video dia, jadi sudah tahu,” ujar pemain besutan PB Jaya Raya itu, usai laga, pada Selasa (15/1). Ini kemenangan pertama bagi Ruselli atas Rituparna, karena mereka belum pernah bertemu di berbagai turnamen resmi. Di babak pertama atau 32 besar, Ruselli akan menantang wakil Hong Kong Yip Pu Yin. Meski baru pertama kali berhadapan dengan pemain ranking 34 dunia itu, namun Ruselli menegaskan siap tampil all out di lapangan. “Buat besok (Rabu, 16/1) ngasih yang terbaik aja. Sama lihat video pertandingan lawan,” tukas ranking 48 dunia itu. Selain Ruselli, Yulia Yosephine Susanto berhasil melangkah ke babak utama. Yulia menang dua gim langsung atas Disha Gupta, asal Amerika Serikat. Kedua tunggal putri Merah Putih itu akan berlaga di babak pertama, mendampingi wakil Indonesia lainnnya, yakni Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani, dan Lyanny Alessandra Mainaky. (Adt)