Usai Raih Emas Asian Games 2018, Jonatan Christie Langsung Telan Pil Pahit di Jepang Open

Jonatan Christie harus menelan pil pahit di kejuaraan Jepang Open 2018 BWF World Tour Super 750. Peraih medali emas Asian Games2018 dipaksa menyerah oleh Prannoy H.S, straight game, 18-21, 17-21, dalam tempo 45 menit. (Humas PBSI)

Jakarta- Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting berhasil melenggang ke babak kedua (16 besar) kejuaraan bulutangkis Jepang Open 2018 BWF World Tour Super 750. Bertanding di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, pada Selasa (11/9), pemain asal PB SGS PLN Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu menyingkirkan atlet Hongkong sekaligus unggulan delapan, Ng Ka Long Angus, dalam duel berdurasi 43 menit, dengan skor 21-14, 21-15. Sebelumnya, dari enam kali bentrok dengan Ng, Ginting, sapaan akrabnya, hanya mengoleksi dua kali kemenangan, masing-masing di Badminton Asia Team Championship 2016 (25-23, 21-14), dan Korea Open 2017 (21-18, 21-18). Di babak 16 besar, peraih gelar Indonesia Masters 2018 itu menantang wakil India Prannoy H.S. Terakhir, mereka melakoni duel di ajang Indonesia Open 2017. Ketika itu, penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu tumbang, straight game, 13-21, 18-21. Sementara itu, Jonatan Christie harus menelan pil pahit. Peraih medali emas Asian Games XVIII/2018 dipaksa menyerah oleh Prannoy H.S, straight game, 18-21, 17-21, dalam tempo 45 menit. Ini menjadi kekalahan beruntun bagi pebulutangkis kelahiran Jakarta, 15 September 1997 atas tunggal India, yang menempati ranking 13 dunia itu. Sebelumnya, mereka bertemu di nomor beregu cabang bulutangkis Asian Games XVIII/2018. Jojo, sapaan akrabnya, takluk dalam pertarungan rubber game, dengan skor 15-21, 21-19, 19-21, di babak perempat final. (Adt) Hasil Jepang Open 2018, Selasa (11/9): Tunggal Putra Anthony Sinisuka Ginting vs Ng Ka Long Angus (Hongkong/8) Skor : 21-14, 21-15 Tommy Sugiarto vs Chen Long (China/6) Skor : 21-12, 17-21, 14-21 Jonatan Christie vs Prannoy H.S (India) Skor : 18-21, 17-21 Tunggal Putri Gregoria Mariska Tunjung vs Evgeniya Kosetskaya (Rusia) Skor : 21-18, 21-17 Lyanny Alessandra Mainaky vs Ksenia Polikarpova (Israel) Skor : 21-10, 21-8 Ganda Campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti vs Robin Tabeling/Cheryl Seinen (Belanda) Skor : 21-15, 22-20 Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja (8) vs Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich (Jerman) Skor : 21-13, 21-17 Ricky Karandasuwardi/Debby Susanto vs Zheng Siwei/Huang Yaqiong (China/1) Skor : 14-21, 12-21

Sempat Tertinggal, UII Atasi Perlawanan Ketat UIN Malang di Laga Perdana LIMA Football 2018

Kapten tim Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Reza Pratama (5), mencetka gol balasan, saat menundukkan tim Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, di Stadion Gelora Brantas, Batu, Malang, pada Minggu (9/9). (LIMA)

Malang- LIMA Football resmi bergulir di regional Jawa Timur. Stadion Gelora Brantas, Batu, Malang, Jawa Timur, menjadi rumah event laga perdana LIMA Football: McDonald’s East Java Conference (EJC) 2018 ini. Di laga perdana, pada Minggu (9/9), Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dengan apik membuka kompetisi ini dengan kemenangan 2-1 atas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, di Stadion Gelora Brantas, Batu, Malang. Babak pertama belum menunjukkan hasil bagus untuk kedua tim. Baik UII maupun UIN Malang tampak masih membaca permainan di laga perdana mereka. Hingga akhir babak ini, kedua tim belum bisa keluar dari kekosongan gol. Skor 0-0 bertahan hingga turun minum. Memasuki babak kedua, UIN Malang berhasil memecah kebuntuan. Tembakan sang kapten, Arman Safril Adam (4), pada menit ke-55 membuat UIN Malang unggul lebih dahulu dengan skor 1-0. Butuh waktu lama untuk UII, tim yang sebelumnya telah memiliki pengalaman bermain di LIMA Football regional Jakarta Raya, menyusul keunggulan lawannya. Tim asal Yogyakarta itu baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-78 lewat Reza Pratama (5), sang kapten. Satu gol kembali disarangkan UII pada menit ke-88, melalui sepakan Muhammad Fikri M. Basri (9). UIN Malang belum bisa menambah gol di sisa waktu pertandingan. UII akhirnya memenangi laga perdananya dengan skor 2-1. “Di babak pertama saya intsruksikan pemain untuk menguasai laga. Di babak kedua, kami sempat tertinggal, tapi kami bisa membalikkan kedudukan lewat rotasi pemain yang efektif. Saya melihat perkembangan pemain lebih pesat, dibanding musim pertama kami di LIMA Football,” kata Radian Zakir, pelatih kepala UII. Sementara itu, saat UII harus bersusah payah meraih tiga poin pertamanya, Universitas Brawijaya (UB) justru dengan mudah mendapat kemenangan atas 3-0 atas Universitas Darussalam (Unida) Gontor. UB menraih poin penuh pertamanya karena menang walk over (WO) atas Unida. Keputusan Unida untuk WO terkait kesalahan teknis yang dibuat tim asal Gontor itu. Alhasil, kedua tim tak sempat merasakan duel di hari pertama ini. (Adt)

Jadi Host Fase Nasional, Enam Tim Ikuti LIMA Football Region Jawa Timur di Malang

LIMA Football: McDonald’s East Java Conference (EJC) 2018 akan meramaikan Stadion Gelora Brantas, Kota Batu, Jawa Timur, pada 9-15 September 2018. Enam Universitas turut meramaikan kompetisi sepak bola tahunan antarmahasiswa ini. (LIMA)

Malang- Sukses menggelar LIMA Football: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference (GJC) 2018 pada 23-30 Agustus lalu, pada musim keenam ini, LIMA menunjuk Malang Raya sebagai lokasi kedua penyelenggara LIMA Football, selain di Jakarta. Event yang bertajuk LIMA Football: McDonald’s East Java Conference (EJC) 2018 itu akan meramaikan Stadion Gelora Brantas, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, pada 9-15 September 2018. Enam tim turut meramaikan kompetisi sepak bola tahunan antarmahasiswa ini. Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, yang pada musim lalu bergabung di Greater Jakarta Conference, kini masuk ke dalam peta persaingan regional Jawa Timur. Tak hanya UII, Universitas Darussalam (Unida) Gontor, juga menjadi peserta dari luar kota pergelaran. Empat tim lainnya yakni Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, dan Universitas Negeri Malang (UM). Prosesi upacara pembukaan LIMA Football: McDonald’s EJC 2018 menandakan dimulainya ajang ini. Rida Achmad, selaku General Manager LIMA, menegaskan bahwa LIMA tak hanya datang untuk menggelar kompetisi, tapi juga menjadi agen perkembangan manusia. “Ini kali pertama kami menggelar LIMA Football di Malang. Sebagai human development agents, kami tak hanya mencari prestasi, tapi juga mengajarkan pada mahasiswa soal pentingnya memiliki hard skill dan soft skill,” kata Rida pada sambutannya dalam upacara pembukaan yang digelar di Stadion Gelora Brantas, Batu, Minggu (9/9). Tak hanya dihadiri seluruh peserta dan perangkat pertandingan, perwakilan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur, Rita Triana, juga turut memberi kata sambutan dalam prosesi ini. “Kami berterima kasih kepada LIMA karena memberikan kontribusi perkembangan sepak bola, khususnya di tingkat mahasiswa di Jawa Timur. Kami berharap bisa melakukannya secara optimal dengan bersinergi antara perangkat pertandingan dan juga para peserta di sini. Kalian adalah tiket kemajuan Indonesia,” kata Rita. LIMA Football: McDonald’s EJC 2018 telah resmi bergulir. Nantinya, empat dari enam tim terbaik dari fase conference ini, akan kembali membuktikan kemampuannya di LIMA Football Nationals, yang masih akan berlangsung di tempat yang sama, pada 18-25 September 2018. (Adt)

Liga 1 ELite U-16 Bergulir 15 September, PSSI Sebar Bibit Profesional Untuk Timnas

Persija Jakarta U-16 tergabung di Grup B, pada kompetisi Liga 1 Elite Pro Academy U-16 20188. Kompetisi tersebut mulai bergulir pada Sabtu (15/9), di beberapa kota di Indonesia. (media persija jakarta)

Jakarta– Terobosan baru digulirkan PSSI dengan melangsungkan Turnamen Liga 1 Elite Pro Academy U-16 2018, mulai 15 September hingga 16 Desember. Sebanyak 18 tim dibawah usia 16 tahun (U-16) dari klub peserta Liga 1 2018, akan mengikuti kompetisi remaja, yang dibagi dalam tiga grup ini. Managers meeting telah diselenggarakan di Sawangan, Depok, dan dihadiri perwakilan 18 klub yang akan bertanding. Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono, Direktur Teknik Danurwindo, dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ratu Tisha Destria ikut hadir. “PSSI bangga dapat menyelenggarakan kompetisi U-16, yang mulai berlangsung di bulan September ini. Ini menjadi sejarah, yang untuk pertama kalinya mengadakan kompetisi di level usia tersebut,” kata Joko Driyono. Kompetisi ini adalah lanjutan dari festival Liga 1 Elite Pro Academy U-16 2018, yang telah diselenggarakan pada Juli lalu. Saat itu, 15 tim junior Liga 1 2018, ikut dalam festival yang diadakan di Sawangan, Depok. “Dari kompetisi ini, kami juga melakukan kerja sama dan koordinasi dengan Kemendikbud. PSSI berharap dengan adanya event ini, bisa membantu Tim Nasional atau klub-klub profesional, mencari pemain,” ungkap mantan Sekjen PSSI asal Ngawi itu. Pada turnamen yang juga disebut Liga 1 Elite U-16 2018 ini, tiap tim di grup A dan B bakal menjalani dua kali laga kandang dan tandang, dengan lawan yang sama di babak penyisihan grup. Pertandingan akan dilaksanakan tiap akhir pekan. Ini dilakukan, agar tiap tim memperoleh laga sebanyak 20 pertandingan. Khusus grup C, digelar dengan format home tournament, yang dilaksanakan dalam empat seri, dan sebanyak lima pertandingan tiap serinya. Namun, saat ini, belum ditentukan siapa yang akan menjadi tuan rumah grup C. Liga 1 Elite U-16 akan berdurasi 2×30 menit, dengan waktu turun minum selama 10 menit. Juara, runner-up, dan dua peringkat ketiga terbaik, akan melaju ke babak 8 besar. Pada fase ini, delapan tim akan masuk ke dalam dua grup, dengan sistem satu seri home tournament. Dua tim dari setiap grup, melaju ke babak semifinal, dan pemenang pada babak itu, akan melaju ke pertandingan final. Sementara itu, Persija Jakarta U-16 tergabung di Grup B dan akan bersaing dengan Bali United, Arema FC, Persela Lamongan, Barito Putera dan Madura United. Sedangkan 12 klub lainnya tergabung di Gru B dan Grup C yang juga diisi enam klub. Pelatih Persija U-16, Blitz Tarigan menyebut lolos ke 8 besar bukan tugas mudah. Meski Persija tak segrup dengan Persib Bandung, yang merupakan rival bebuyutan, namun aroma persaingan tetap hangat. Tim Macan Muda terbentuk sejak Juli lalu. Fajar Firdaus dan kawan-kawan bahkan sudah melakoni beberapa uji coba dengan klub junior Liga 1. “Siapa pun lawannya, kami pasti berusaha keras, untuk lolos ke babak 8 besar. Memang bukan tugas mudah, tapi saya memiliki keyakinan dengan usaha keras anak-anak, kami akan meraih hal itu,” ujar Blitz. (art) Grup Liga 1 Elite U-16 2018 GRUP A Bhayangkara FC PSIS Semarang PS Tira Persib Bandung Sriwijaya FC PSMS Medan GRUP B Bali United Arema FC Persija Jakarta Persela Lamongan Barito Putera Madura United GRUP C Borneo FC Perseru Serui Persipura Jayapura PSM Makassar Mitra Kukar Persebaya Surabaya

Para Atletik Cabang Unggulan Indonesia di Asian Para Games 2018, Percaya Diri Bidik Tiga Medali Emas

Abdul Halim Dalimunthe (kiri), atlet para atletik optimistis meraih medali emas di nomor 100 dan 200 meter putra T11, di Asian Para Games 2018, pada 6-13 Oktober mendatang. (Adt/NYSN)

Solo- Para Atletik menjadi cabang olahraga unggulan Indonesia di ajang Asian Para Games III/2018. Mereka percaya diri membidik tiga medali emas di pesta multievent olahraga terbesar se-Asia, bagi kaum disabilitas, yang dihelat pada 6-13 Oktober mendatang. Selamet Widodo, Pengurus Atletik National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, mengungkapkan salah satu peluang Merah Putih dalam meraih medali emas, salah satunya berasal dari nomor 100 meter putra T11, atas nama Abdul Halim Dalimunthe. Sebab, jelasnya, pada Asian Para Games empat tahun lalu, di Incheon, Korea Selatan (Korsel), Halim (sapaan akrabnya) berhasil mendulang medali perak. Pria kelahiran Bandung 1984 ini, mengukir catatan waktu 11,9 detik. “Dan peraih emas adalah atlet asal China dengan catatan waktu 11,8 detik. Kami yakin di Asian Para Games 2018, Halim bisa dapat medali emas,” ujar Selamet, di Pelatnas Para Atletik, di Stadion Sriwedari, Kota Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (6/9). Terlebih, terang Selamet, selama menjalani Pelatnas, catatan waktu Halim membaik, hingga mencetak 11,5 detik. “Dan atlet Cina catatan waktunya 11,6 detik. Jadi masih ada peluang di nomor ini,” urainya. Halim berhasil meraih medali emas pada ASEAN Para Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Dan meraih medali perunggu di Asian Para Games 2018, Incheon, Korea Selatan (Korsel). Sementara itu, Halim juga akan turun di nomor 200 meter putra. Atlet asal Jawa Barat (Jabar) itu meyakini bila dirinya bisa bersaing, serta mengalahkan pesaingnya di Asian Para Games 2018. “Sudah beberapa kali ketemu dengan lawan yang dari Cina, dan posisi dua terus. Insya Allah bisa mengalahkan, apalagi selisih waktunya hanya 0,1 detik. Doakan saja bisa mendapatkan medali emas,” cetus Halim. Menderita ablasio retina sejak usia 15 tahun, tak membuat Halim merasa minder. Meski memiliki kekurangan, ia tetap berprestasi tinggi di dalam maupun luar negeri. Halim adalah salah satu atlet andalan Indonesia di cabang atletik, yang tampil di Paralimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Ia pun tampil di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XV di Jawa Barat. (Adt)

Tambah Pengalaman dan Teknik Tanding di Korsel, Delapan Atlet Boccia Indonesia Siap Tampil di Asian Para Games 2018

Kontingen Timnas Boccia Indonesia tengah berlatih di Pelatnas Boccia, di Kampus Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), Solo, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (6/9), siap menghadapi persaingan di ajang Asian Para Games 2018 untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. (Adt/NYSN)

Solo- Usai menjalani Training Center (TC) di Korea Selatan (Korsel), tim nasional (Timnas) Boccia Indonesia, siap menghadapi persaingan di ajang Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober mendatang. Andrian Margatha Kasi, Pelatih Boccia Indonesia, mengatakan selama menjalani TC di Negeri Ginseng, anak didiknya mendapatkan banyak pengalaman, terutama teknik-teknik bermain Boccia. “Kami baru saja kembali awal pekan ini dari Korea usai TC. Kami dapat banyak ilmu dan pengalaman berharga, terutama teknik bermain Boccia. Sebab, atlet Korea sudah puluhan tahun bergelut di cabor ini,” ujar Andrian, di Pelatnas Boccia, di Kampus Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), Solo, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (6/9). Ia menjelaskan pelaksanaan Asian Para Games 2018 yang waktunya kurang dari satu bulan, Pelatnas Boccia sudah masuk pada tahap pra-kompetisi. “Kami sudah fokus pada suasana pertandingan. Intinya kami sudah siap 90 persen untuk berlaga di Asian Para Games 2018,” lanjutnya. Dikatakan Andrian, masyarakat Indonesia masih kurang familiar dengan olahraga Boccia. Namun, ia optimis atlet-atlet yang ada di Pelatnas bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Merah Putih. Diketahui, Boccia adalah cabang olahraga (cabor) untuk atlet disabilitas gerak. Sejumlah atlet Celebral Palsy berupa adu lempar bola ke arah bola poin. Kemenangan ditentukan pada bola yang dilempar dan jatuh paling dekat dengan bola poin. Cabor Boccia menggunakan lapangan seluas 6 x 12,5 meter atau hampir sama dengan luas lapangan badminton. Adapun bola yang digunakan dalam cabang olahraga ini sebanyak 9 buah dengan bobot 263 – 276 gram. Sembilan bola tadi terdiri dari tiga warna, yakni putih sebagai bola poin, dan masing-masing empat bola berwarna biru dan merah. Di Asian Para Games 2018, cabor Boccia mempertandingkan 7 nomor. Yakni individu BC 1, individu BC2, individu BC3, individu BC4, Tim BC1 dan BC2, pasangan BC1 dan BC2, serta pasangan untuk BC4. “Tapi Indonesia tidak ikut untuk nomor BC3, karena atletnya tidak ada. Dan untuk Asian Para Games 2018, kami mengirimkan delapan atlet,” ungkap Andrian. Terkait lawan terberat di cabor Boccia, Andrian menyebut negara Thailand, Korea, Cina, dan Hongkong. “Mereka lebih dahulu menekuni Boccia, dan pemainnya punya ranking dunia yang tercatatat di Federasi Internasional Boccia. Tapi, kami harus optimis memberikan yang terbaik, saat laga di Asian Para Games 2018,” tukas Andrian. (Adt)

Raih Emas di Usia 20 Tahun, Empat Atlet Ini Turut Ukir Sejarah Indonesia Dalam Asian Games 2018

Sebagai pebulutangkis nomor 15 dunia, Jonatan Christie tak diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan, hingga akhirnya ia meraih emas nomor tunggal putra. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia mengukir prestasi dalam ajang multievent Asian Games 2018. Kontingen Tanah Air melampaui target yang ditetapkan pemerintah karena mendulang total 31 medali emas hingga Sabtu (1/9) atau H-1 penutupan. Pencak silat menjadi pendulang emas terbanyak bagi Indonesia. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, 14 di antaranya dijuarai para atlet Tanah Air. Torehan 31 emas ini, menempatkan Indoensia di peringkat keempat klasemen akhir. Kontingen Tanah Air mengungguli Uzbekistan, yang duduk diposisi kelima dengan selisih 10 emas. Prestasi ini jauh lebih baik, dibandingkan saat Indonesia menjadi host Asian Games 1962. Kala itu, Indonesia hanya 11 kali menjadi juara. Kesuksesan Indonesia tentunya tidak lepas dari peran para atlet-atlet muda. Usia belia bukan menjadi halangan bagi mereka untuk mengukir prestasi. Setidaknya, ada empat atlet muda Indonesia yang usianya belum genap 21 tahun, namun sudah mencuri perhatian karena berprestasi di Asian Games 2018. Siapa sajakah mereka? Berikut ini adalah ulasannya. Rio Rizki Darmawan Jumat (24/8), venue dayung Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, kembali riuh. Anak-anak asuh pelatih Boudewijn van Opstal dan Muhammad Hadris, berhasil meraih medali emas pada laga final nomor dayung kelas ringan delapan putra di ajang Asian Games 2018. Kontingen Merah Putih yang beranggotakan Tanzil Hadid, Muhad Yakin, Jefri Ardianto, Ali Buton, Ferdiansyah, Ihram, Ardi Isadi, Ujang Hasbulah, dan Rio Rizki Darmawan, mengalahkan Uzbekistan dan Hong Kong dengan catatan waktu 6 menit dan 08,88 detik. Pundi-pundi emas kembali disumbangkan untuk Indonesia. Di antara ingar-bingar di Jakabaring, di antara riuh-rendah sorakan penonton, nama Rio menjadi sorotan. Putra kebanggaan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi yang termuda di antara teman-temannya. Semula memang tak terpikir di benak Rio, untuk mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga dayung. Andai ia menolak ajakan Jufri, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR) Tadulako Palu, mungkin teriakan ‘Rio’ ‘Rio’ ‘Rio’ dari penonton di venue tak akan muncul. Postur tubuhnya yang besar dan berprestasi selama di SMANOR, membuat Jufri yakin, bila pemuda asal Desa Tompi Bugis, Sigi, 27 November 1998 itu, bisa menjadi atlet dayung. Jonatan Christie Sebagai pebulutangkis tunggal putra nomor ke-15 dunia, Jonatan Christie memang kurang diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan. Dia mengalahkan Shi Yuqi (peringkat kedua dunia asal China) di babak kedua, dan Khosit Phetpradab (runner-up SEA Games 2017) di babak ketiga. Di fase perempat final, giliran Wong Wing Ki Vincent (Hong Kong), yang dilewati Jojo, sapaannya. Lanjut ke semifinal, ia melumat peringkat ke-10 dunia asal Jepang, Kenta Nishimoto. Jojo, lalu menyudahi perlawanan sengit Chou Tienchen (Taiwan), di babak final, di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Selasa (28/8). Tunggal nomor enam dunia itu menyerah dari Jojo, usai melewati drama pertarungan ketat tiga gim, dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Dari lompatan Asian Games ini, pemuda kelahiran Jakarta 15 September 1997, boleh optimistis menatap target selanjutnya, yakni turnamen BWF World Tour Super Series. Di Indonesia Open 2018 Juli lalu, ia langsung gugur di babak pertama oleh Viktor Axelsen (Denmark). Raihan tertinggi Jojo adalah final New Zealand Open 2018 pada Mei, meski kandas dari Lin Dan (China). Rifki Ardiansyah Arrosyiid Rifki Ardiansyah Arrosyiid mengharumkan nama Indonesia pada Asian Games 2018. Peraih emas cabang olahraga Karate nomor kumite 60kg itu turut membanggakan kesatuannya sebagai anggota di korps Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Rifki yang saat ini berpangkat sersan dua (serda) akan naik pangkat menjadi sertu pada 1 Oktober nanti, usai mendapat penghargaan percepatan kenaikan pangkat, merupakan prajurit TNI peraih emas di Asian Games 2018. Rifki menetap di Surabaya, dan sehari-harinya bertugas sebagai Babanmin 2 Pokbanmin Jasdam Kodam V/Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Putra dari pasangan Surya dan Dwi ini menempuh pendidikan Bintara pada 2016 lalu. Ajang Asian Games 2018 bukan hanya menjadi pembuktian bagi para atlet dari kalangan sipil. Sejumlah atlet berlatar belakang militer pun berjuang dalam ‘pertempuran’ di arena olahraga demi mengangkat prestasi Merah Putih. Rifki adalah salah satu prajurit yang juga bersaing dengan para atlet luar negeri di ajang olahraga multicabang se-Asia tersebut. Arek Suroboyo kelahiran 24 Desember 1997 ini, mampu meraih emas bagi Indonesia usai mengalahkan karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh, di fase final dengan skor 9-7. Sebelumnya, Rifki pernah meraih medali perunggu di SEA Games 2017, dan medali Emas dari kelas Kumite 55 Kg, dalam Kejurnas Karate Piala Panglima TNI tahun 2017 lalu. Hanifan Yudani Kusumah Pencak Silat menambah lagi pundi-pundi medali Indonesia di Asian Games 2018. Kali ini atas nama Hanifan Yudani Kusumah. Dalam laga perebutan medali emas nomor Tarung Putra Kelas C (55-60Kg) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta, Rabu (29/8), Hanifan menang 3-2, atas pesilat Vietnam, Thai Linh. Dalam pertarungan tiga ronde itu, Hanifan sempat mendapat kartu merah, karena dinilai menyerang wajah lawannya. Hanifan adalah pesilat berusia 20 tahun, namun sudah berhasil mengharumkan nama Indonesia. Remaja yang tumbuh di Bandung ini lahir pada 25 Oktober 1997. Sebelum tampil di Jakarta, Hanifan tercatat sebagai pesilat yang meraih medali emas pada Silat World Championships 2016 di Denpasar, Bali. Pada 2017, ia menyabet perunggu di Asian Championships yang digelar di Korea. Hanifan juga membawa perunggu pada Sea Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Atlet asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dikenal usai selebrasinya yang membuat calon presiden Prabowo Subianto, dan Presiden Indonesia Joko Widodo, saling berpelukan dan berselimutkan bendera Merah-Putih, ternyata merupakan seorang jockey balap motor handal, saat masih duduk di SMA. (Adt)

Kirab Obor Asian Para Games 2018 Dimulai, Solo Gelorakan Semangat Peduli Disabilitas

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharni, menerima api abadi dari Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jateng, untuk dinyalakan di lentera, dan segera diarak dalam acara kirab obor Asian Para Games 2018, yang dimulai di kota Solo, Jawa Tengah. (Adt/NYSN)

Solo- Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng), memulai rangkaian pelaksanaan Asian Para Games III/2018, pada Rabu (5/9). Dipilihnya Solo sebagai kota pertama kirab obor Asian Para Games III/2018, bukan tanpa alasan. Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), mengatakan jika kota Solo merupakan kota tempat lahirnya prestasi olahraga Indonesia. Selain itu, kota ini menjadi yang pertama ramah terhadap kaum disabilitas. “Kota Solo, merupakan ‘pabriknya’ prestasi olahraga Indonesia, dan ramah bagi disabilitas. Bahkan, klub bolanya berdiri sebelum adanya PSSI. Dan, yang tak kalah penting untuk diketahui YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) berdiri pertama kali di Solo,” ujar Okto, sapaan akrabnya, di Balai Kota Surakarta, Jateng, Rabu (5/9). Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) itu melanjutkan, kota Solo tak hanya melakukan rangkaian pertama pelaksanaan pesta olahraga terbesar empat tahunan bagi kaum disabilitas di kawasan Asia itu. Namun, ungkapnya, Solo juga menjadi saksi sejarah bahwa kota ini penanda awal digelarnya Asian Para Games III/2018. “Setelah ini, lentera ini akan kami bawa dan nyalakan torch, di Ternate (Maluku Utara) yang bertepatan dengan Haornas (Hari Olahraga Nasional),” tambah Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) periode 2011-2014 itu. Usai pengambilan api abadi dari Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jateng, kemudian api Asian Para Games III/2018, yang diletakan di lentera itu dibawa ke Jalanutami, markas NPC (National Paralympic Comittee) Indonesia. Api lalu diserahkan kepada Senny Marbun (Ketua Umum NPC Indonesia), sebelum diarak keliling kota. Api lalu dibawa oleh atlet Para Atletik, Nanda Mei Solikhah, Brigjend Pol Ahmad Lutfi (Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jateng), Brigjend TNI Bakti Agus Fadjari (Kepala Staf Daerah Militer IV Diponegoro), Zaenal Arifin (Atlet Para Atletik), dan Bertrand Antholin (Duta obor). Lalu ada Amandra Syah Arwan (Wakil Ketua Kejaksaan Tinggi Jateng), dan Rizal Bagus (Atlet para atletik) ke Kantor Wali Kota Surakarta di Jalan Selamet Riadi. Obor itu selanjutnya diserahkan kepada Puan Maharani (Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), dan diterima oleh FX. Hadi Rudyatmo (Wali Kota Surakarta). Setelah itu, api abadi akan melintasi berbagai kota di Indonesia seperti Ternate, Makassar (Sulawesi Selatan), Denpasar (Bali), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatera Utara), Pangkal Pinang (Kepulauan Bangka Belitung), dan Jakarta. Sementara itu, Puan menjelaskan Asian Para Games 2018 sebagai rangkaian dari Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, sebagai tuan rumah Indonesia sukses penyelenggaraan, prestasi, dan pembukaan serta penutupan. “Usai Asian Games 2018, untuk pelaksanaan Asian Para Games 2018 waktunya sangat pendek, kurang lebih 30 hari lagi. Dan sukses Asian Games 2018, Insya Allah akan disertai dengan sukses Asian Para Games 2018,” jelasnya. “Kalau Asian Games 2018 yang hadir bisa mencapai 17 ribu orang, Insya Allah di Asian Para Games 2018 bisa 5 ribu orang. Jumlahnya memang sepertiga, tapi semoga tidak mengurangi semangat kita semua untuk mensukseskan Asian Para Games 2018,” tambahnya. Puan menyebut, api obor Asian Para Games 2018 ini sejatinya melambangkan sebuah kekuatan dalam keberagaman semangat inspirasi energi Asia. “Maskotnya Momo (Burung Elang Bondol/Bald Eagle). Momo singkatan dari mobility dan movement yakni mobilitas dan gerakan. Pesan saya mari sama-sama mensukseskan Asian Para Games 2018,” tukas Puan. (Adt)

Berlaga di Asian Para Games 2018, Sebanyak 1.100 Atlet Wajib Diklasifikasi

dr. Christofer Muliadi Siagian (Direktur Klasifikasi INAPGOC/kiri) menyebut sebanyak 1.100 atlet yang akan bertanding di Asian Para Games 2018 wajib melewati proses klasifikasi guna menentukan cabor kelas mana mereka bertanding. (Adt/NYSN)

Solo- Sebanyak 1.100 atlet dari 41 negara bakal menjalani proses klasifikasi sebagai persyaratan wajib, mengikuti Asian Para Games III/2018 , yang dihelat pada 6-13 Oktober mendatang. Nantinya, terdapat 84 klasifikator yang telah bersertifikasi serta berpengalaman, di bidangnya masing-masing. Para Klarifikator ini akan menentukan pada kelas apa, atlet itu bertanding. Pada Asian Para Games III/2018, terdapat 18 cabang olahraga yang dipertandingkan dengan nomor pertandingan mencapai 337, serta memperebutkan 568 medali. “Klasifikasi ini meliputi visual impaired, wheelchair, amputees, cerebral palsy, dan intellectual disable. Dan, proses klasifikasi untuk atlet yang kecacatannya tetap, membutuhkan waktu empat hari,” ujar dr. Christofer Muliadi Siagian, Direktur Klasifikasi Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), Rabu (5/9). “Para klasifikator ini akan mulai bertugas pada 2 Oktober nanti. Mereka kelak yang menentukan, atlet itu akan bertanding diklasifikasi yang mana,” lanjutnya, di acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jawa Tengah (Jateng). Ia menambahkan meski sang atlet sudah melewati proses klasifikasi, namun tak tertutup kemungkinan pada saat pertandingan, ada pihak yang mengajukan keberatan atas klasifikasi itu. “Bisa saja melakukan keberatan atas klasifikasi yang ditetapkan, tapi tak sembarangan orang bisa mengajukan keberatan itu. Yang boleh itu, hanya CdM (Chief de Mission/Ketua Kontingen), dan harus membayar 200 dollar AS (Amerika Serikat),” tegasnya. “Dan tak semua atlet menjalani proses klasifikasi, salah satunya adalah cabor wheelchair tennis (tenis kursi roda). Karena cabang ini memakai sistem seeded atau peringkat, karena kejuaraannya juga rutin digelar, serta sesuai aturan yang berlaku,” tambah pria berkaca mata itu. Terkait hal itu, Waluyo, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, menyebut atlet Indonesia pernah merasakan gagal lolos klasifikasi, saat pelaksanaan Asian Para Games 2014, di Incheon, Korea Selatan (Korsel). Akibatnya, ungkap Waluyo, mereka tak bisa turun bertanding membela kontingen Indonesia. “Sistem klasifikasi pada saat itu, mengizinkan atlet masuk dulu (terdaftar), lantas dokumen pelengkap menyusul. Tapi, kalau di Asian Para Games kali ini, semua administrasi para atlet, sudah harus lengkap sejak awal,” terangnya. Lanjutnya, di Asian Para Games kali ini, Waluyo optimistis tak ada kendala yang dihadapi anak didiknya terkait proses klasifikasi. “Kami percaya diri dengan atlet yang ada karena sudah sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan,” imbuhnya. Sebagai tuan rumah, ia menegaskan Indonesia akan turun disemua cabang pertandingan, kecuali bola basket kursi roda putri. “Jujur, kami belum punya atletnya. Dan, kalau dipaksakan malah hasilnya tidak maksimal. Apalagi lawannya China, wah bisa sangat mencolok sekali nanti skornya,” pungkas Waluyo. (Adt)

Api Abadi Diambil Dari Mrapen, Kota Solo Awali Rangkaian Pawai Obor Asian Para Games 2018

Presiden Indonesia Asian Para Games 2018 Organizing Committee (INAPGOC) Raja Sapta Oktohari berpose dengan api abadi Asian Para Games III/2018, yang diambil dari kawasan Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), pada Rabu (5/9). Dan, Solo, Jateng, mennjadi kota pertama dari delapan kota, pawai obor Asian Para Games III/2018. (poskotanews.com)

Solo- Api abadi Asian Para Games III/2018 akan diambil dari kawasan Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), pada Rabu (5/9), dengan diiringi upacara serta prosesi doa bersama serta kesenian tari dan budaya ciri khas Jateng. Kegiatan itu sekaligus menjadi penanda awal, rangkaian pesta multievent olahraga terbesar bagi para penyandang disabilitas di kawasan Asia. Dan, Solo, Jateng, akan menjadi kota pertama dari delapan kota yang akan disinggahi pawai obor Asian Para Games III/2018. Api abadi itu nantinya diletakkan di lentera ddan ibawa ke Solo, dengan kendaraan, lalu singgah di Kantor Pusat Nasional Paralympic Committee (NPC), di Jalan Ir Sutami, Solo, sekitar pukul 12.00 WIB. “Sebelum kirab dimulai, Presiden Indonesia Asian Para Games 2018 Organizing Committee (INAPGOC) Raja Sapta Oktohari akan menyerahkan lentera kepada Ketua NPC, Senny Marbun dan dilanjutkan ke perwakilan atlet, Rizal Bagus,” ujar Ageng Nugroho, Divisi Ceremonies Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), pada Selasa (4/9). Lalu, lentera itu dibawa dengan naik kereta kencana. Dari sepuluh titik poin menuju Balaikota Solo, lentera juga akan dibawa lari secara estafet. “Nanti ada sejumlah tokoh yang akan membawa api abadi itu,” lanjutnya di acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jateng, Setelah di Solo, lentera selanjutnya dibawa menuju Ternate (Maluku Utara), dan dikirab bertepatan dengan pelaksanaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September 2018. Usai dipindah ke tourch, berikutnya api obor melintasi beberapa daerah dan berakhir di DKI Jakarta pada 30 September 2018. Sedangkan, Asian Para Games III/2018, dihelat pada 6-13 Oktober, dan tercatat 41 negara Asia sudah memastikan ikut ambil bagian. Sementara itu, Raja Sapta Oktohari, Ketua INAPGOC, berharap dukungan semua pihak, terutama media untuk melaksanakan tanggung jawab bangsa dalam menggelar Asian Para Games edisi ketiga ini. “Kami berharap dukungan dari semua stakeholder, terutama rekan-rekan media. Karena dalam perjalanan menyiapkan Asian Para Games 2018 banyak tantangan yang dihadapi, baik itu pada saat main event, maupun pascaevent,” tegas Okto, sapaan akrabnya. (Adt) Jadwal Tourch Relay Asian Para Games III/2018: 1. Solo, Jawa Tengah, 5 September 2018 2. Ternate, Maluku Utara, 9 September 2018 3. Makassar, Sulawesi Selatan, 12 September 2018 4. Denpasar, Bali, 16 September 2018 5. Pontianak, Kalimantan Barat, 19 September 2018 6. Medan, Sumatera Utara, 23 September 2018 7. Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 26 September 2018 8. DKI Jakarta, 30 September 2018

Targetkan 17 Medali Emas, Ini Cabang Olahraga Unggulan Indonesia di Asian Para Games 2018

Indonesia membidik posisi enam besar dengan target 17 medali emas, dalam Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober. Cabang olahraga seperti tenis meja, atletik, catur, bulutangkis, renang, menjadi unggulan untuk mendulang medali emas. (Pras/NYSN)

Solo- Indonesia membidik posisi enam besar dengan target 17 medali emas dalam Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober. Hal itu ditegaskan Senny Marbun, Presiden National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, pada Selasa (4/9). “Target kontingen Indonesia bisa berada diposisi 6 besar dengan jumlah 17 medali emas. Mudah-mudahan targetnya bisa melesat ke atas,” ujar Senny, dalam acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jawa Tengah (Jateng). Ia menjelaskan Indonesia memiliki cabang olahraga ungggulan yang diharapkan mampu mendulang medali emas pada ajang pesta multievent empat tahunan bagi para penyandang disabikitas itu. “Cabang olahraga yang menjadi unggulan seperti atletik, catur, bulutangkis, renang, tenis meja, powerlifting, dan sepeda,” lanjutnya. Senny optimistis, anak didiknya mampu berbicara banyak di Asian Para Games edisi ketiga ini. “Kami susah menggelar training center sekitar 8 bulan, sejak Januari tahun ini. Hasil limit juga sangat menggembirakan, karena sesuai dengan limit yang diharapkan,” ungkap Senny. Sementara itu, Setyo Budi Hartanto, atlet disabilitas lompat jauh dan lompat tinggi, berharap mencetak prestasi tinggi di Asian Para Games kali ini. “Asian Para Games 2014, Incheon, Korea Selatan, saya dapat perunggu di nomor lompat jauh. Semoga prestasi di Asian Para Games ini lebih baik dan dapat medali emas,” tegas Setyo. (Adt)

Diikuti 39 Negara Dengan 714 Atlet, Cabor Para Atletik Asian Para Games 2018 Jadi yang Terbanyak

Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC) berpose dalam acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (4/9). (Adt/NYSN)

Solo- Sebanyak 714 atlet dari 39 negara akan bersaing menjadi yang terbaik di cabang olahraga (Cabor) Para Atletik Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober. Jumlah ini menjadi yang terbanyak, dibandingkan 17 cabor lainnya, di ajang pesta multievent, bagi para penyandang disabilitas terbesar di Asia. “Para Atletik ini menarik, karena pesertanya paling banyak, hampir 714 orang dari 39 negara peserta. Dan, atlet Indonesia, Setiyo Budi Hartanto, jadi salah satu atlet unggulan yang akan ikut bertanding di cabang ini,” terang Fanny Irawan, Direktur Sport Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), Selasa (4/9). Selain Para Atletik, ungkap Fanny, cabor yang menyumbang atlet terbanyak yakni Para Swimming. “Para Swimming itu atletnya 275 orang dan diikuti oleh 26 negara. Jumlah ini yang terbanyak setelah Para Atletik,” lanjutnya dalam acara Media Gathering Indonesia 2018 Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier, Solo, Jawa Tengah. Ia menambahkan pada penyelenggaraan Asian Para Games kali ini terdapat cabang olahraga yang sangat menarik untuk disaksikan, salah satunya ialah Boccia. “Bahkan kami sampai melakukan studi banding untuk mempelajari Boccia. Nantinya cabang ini akan diikuti 14 negara dengan 83 atlet,” ungkapnya. Fanny juga menjelaskan untuk venue pertandingan, pihaknya memastikan sudah siap. “Untuk status venue, 90 persen siap. Tapi, ada beberapa yang dipercepat renovasinya seperti arena untuk cabang menembak (shooting) yang ada di kawasan Senayan. Dan, Minggu depan sudah mulai dikerjakan,” imbuhnya. “Untuk venue eks Asian Games, sudah tak ada masalah, mungkin beberapa venue yang masih kurang akan disiasati,” ucapnya. Mantan Deputi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI ini berharap, Pelatnas Asian Para Games III/2018 yang saat ini dilakukan di Solo, Jateng, bisa segera bergeser ke Jakarta. “Kami inginnya, para atlet Indonesia di Asian Games III/2018, bisa segera berlatih di Jakarta, agar mereka bisa beradaptasi dengan venue yang ada di Jakarta,” tukas Fanny. Asian Para Games 2018 ini akan diselenggarakan di 11 venue terpisah. Meski begitu, hampir semua venue berlokasi di Jakarta. Komplek Gelora Bung Karno masih menjadi arena utama untuk sebagian besar cabang. Lokasi terjauh ada di Sirkuit Sentul yang akan mempertandingkan cabang Balap Sepeda Road Race. (Adt) Cabang Olahraga Asian Para Games III/2018: 1. Archery (21 negara, 128 atlet) 2. Atletik (39 negara, 714 atlet) 3. Badminton (18 negara, 156 atlet) 4. Boccia (14 negara, 83 atlet) 5. Chess (10 negara, 90 atlet) 6. Cycling (11 negara, 60 atlet) 7. Goalball (10 negara, 89 atlet/tim) 8. Judo (16 negara, 113 atlet) 9. Lawnball (6 negara, 54 atlet) 10. Powerlifting (27 negara, 166 atlet) 11. Shooting (19 negara, 109 atlet) 12. Swimming (26 negara, 275 atlet) 13. Tenpinbowling (11 negara, 134 atlet) 14. Tenis Meja (25 negara, 253 atlet) 15. Sittting Volleyball (10 negara, 145 atlet) 16. Wheelchair Basketball (12 negara, 190 atlet) 17. Wheelchair Fencing (10 negara, 77 atlet) 18. Wheelchair Tennis (9 negara, 52 atlet)

Bonus Asian Games 2018 Rp 210 Miliar Cair, Atlet Dijamin Jadi PNS Tanpa Tes

Pemberian bonus bagi atlet dan pelatih yang berperstasi di Asian Games 2018 yang langsung diberikan Presiden Joko Widodo, sebelum upacara penutupan, menjadi yang tercepat sepanjang sejarah pemberian penghargaan bagi pahlawan olahraga Indonesia. (ivoox.co.id)

Jakarta- Pemerintah telah mencairkan bonus bagi atlet dan pelatih yang mengikuti Asian Games 2018 dengan total Rp 210 miliar. Pencairan bonus ini menjadi yang tercepat sepanjang pemberian penghargaan bagi pahlawan olahraga Indonesia. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengatakan, ajang multievent seperti SEA Games misalnya, bonus dicairkan setelah seluruh rangkaian pertandingan berakhir. “Jadi kira-kira butuh waktu dua bulan. Khusus, bonus Asian Games 2018 diberikan sebelum penutupan Asian Games 2018. Ini pemberian bonus kepada atlet yang tercepat. Dan besaran bonus kali ini naik dari sebelumnya,” ujar Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, di Istana Negara, Minggu (2/9). Menurutnya, anggaran bonus bagi atlet dan pelatih yang terlibat di pesta multievent olahraga empat tahunan itu berasal dari anggaran Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) ditambah dari Belanja Anggaran Umum Negara (BUN). “Termasuk di dalamnya bonus bagi atlet non medali yang besarannya Rp 20 juta,” lanjutnya. Bonus bagi peraih medali emas sebesar Rp 1,5 miliar secara penuh tanpa dipotong pajak. Untuk pasangan atau ganda memperoleh Rp 1 miliar perorang, dan beregu Rp 750 juta perorang. Sementara itu, peraih medali perak tunggal mendapatkan Rp 500 juta, ganda Rp 400 juta, serta beregu Rp 300 juta perorang. Peraih perunggu diberikan Rp 250 juta, ganda Rp 200 juta, dan beregu Rp 150 juta perorang. Lal, untuk pelatih yang atletnya meraih emas mendapatkan Rp 450 juta, perak Rp 150, dan perunggu Rp 75 juta. Dan, asisten pelatih perorangan atau ganda mendapatkan Rp 300 juta untuk emas, Rp 100 juta untuk perak, dan Rp 50 juta untuk perunggu. “Pelatih dan asisten pelatih dapat, mestinya cair hari ini, semua penerima per hari ini bisa melihat angkanya di buku tabungan,” tegas Imam. “Kalau untuk bonus rumah, kami masih bicarakan lagi dengan Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), tapi yang jelas secepatnya akan direalisasikan,” tambahnya. Selain itu, ia menambahkan semua peraih medali, akan di angkat menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Dan, proses pengangkatan PNS tanpa perlu mengikuti tes, melainkan lewat formasi khusus PNS. Namun, pria kelahiran 8 Juli 1973 itu, awal pengangkatan atlet tersebut harus berdinas di Kemenpora. Dan usai setahun bertugas di Kemenpora, bila mereka ingin pindah ke kementerian lain atau daerah asalnya, hal itu bisa dilakukan. Selain itu, meski berstatus PNS serta kerjanya bukan di ruangan, tapi mereka bisa tetap berlatih atau bekerja di Pelatnas (pemusatan latihan nasional). (Adt) Rincian Bonus Asian Games XVIII/2018: 1. Atlet Perorangan: – Emas Rp 1,5 miliar – Perak Rp 500 juta – Perunggu Rp 250 juta 2. Atlet Beregu: – Emas Rp 750 juta perorang – Perak Rp 300 juta perorang – Perunggu Rp 150 juta perorang 3. Pelatih Perorangan atau Ganda: – Emas Rp 450 juta – Perak Rp 150 juta – Perunggu Rp 75 juta 4. Pelatih Beregu: – Emas Rp 600 juta – Perak Rp 200 juta – Perunggu Rp 100 juta 5. Pelatih untuk Medali Kedua dan Seterusnya: – Emas Rp 225 juta – Perak Rp 75 juta – Perunggu Rp 37,5 juta 6. Asisten Pelatih Perorangan atau Ganda: – Emas Rp 300 juta – Perak Rp 100 juta – Perunggu Rp 50 juta 7. Asisten Pelatih Beregu: – Emas Rp 375 juta – Perak Rp 125 juta – Perunggu Rp 62,5 juta 8. Asisten Pelatih untuk Medali Kedua dan Seterusnya: – Emas Rp150 juta – Perak Rp 50 juta – Perunggu Rp 25 juta

Hobi Remaja 19 Tahun ini Mampu Menyumbangkan Medali Emas Bagi Olahraga Pencak Silat di Ajang Asian Games 2018

Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini merupakan salah satu atlet pencak silat yang akan berlaga di Asian Games 2018 mendatang.

Jakarta- Olahraga pencak silat tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, siapa sangka olahraga yang satu ini turut menghasilkan prestasi-prestasi yang mengagumkan bagi Indonesia, Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini berhasil menyumbangkan medali emas pada cabang olahraga Pencak Silat Tarung Putra Kelas 85-90 Kg di ajang Asian Games 2018 lalu. Pertama kali mengikuti latihan silat saat dirinya memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), hobinya menurun dari sang ayah kepada anak-anaknya termasuk Bangkit. Kakak nomor dua dan tiga pun ikut menekuni olahraga silat. “Saya kan anak terakhir, nomor 4. Kakak yg kedua dan ketiga itu juga nurun dari ayah, suka main silat juga. Kadang lihat mereka latihan seru, jadi saya mulai tertarik sejak itu” jelas Bangkit. Alasan dirinya memilih olahraga silat ada beberapa faktor, pertama karena memang dari keluarga yang sebagian besar menekuni olahraha serupa. Kemudian faktor kedua karena dukungan dari lingkungan seperti keluarga, kawan, kerabat dan rekan latihan. Mengawali karirnya di Perguruan Silat Setia Hati Teratai (PSHT) sejak SMP kelas 1 hingga kelas 3, namun saat itu hanya mengikuti latihan dan belum diikutsertakan di kejuaraan. Faktor berat badan yang membuatnya belum bisa kontribusi, usia masih remaja namun berat badan sudah masuk di kategori dewasa. Membuatnya baru diterjunkan turnamen ketika memasuki SMA kelas 1. “Masuk SMA baru sama ikut kejuaraan di Kabupaten, antar perguruan, ke daerah-daerah. Baru pas kelas 2 saya ditunjuk untuk mewakili Jawa Timur di Kejurnas Padepokan” ujar remaja kelahiran ‘Bumi Reog’ tersebut. Pasca mengikuti kejurnas Bangkit ditawarkan untuk bermain di kelas bebas untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan dunia pada pertengahan tahun 2016. Semenjak itu dirinya bergabung dengan pelatnas hingga saat ini. Untuk membagi waktu antara sekolah dengan latihan dirinya mengungkapkan tidak terlalu masalah karena dari pihak keluarga dan sekolah turut mendukung. “Waktu saya naik kelas 2 SMA harusnya sudah tidak boleh sekolah lagi karena harus gabung pelatnas, tapi saya ngomong ke bagian kemahasiswaan ada suratnya dari pelatnas jadinya saya sekolah jarak jauh” kata remaja kelahiran 20 Mei 1999 itu. Termasuk tugas sekolah, ujian sekolah, semuanya dilakukan dari jarak jauh. Pihak sekolah mengirimkan ke lokasi pelatnas dan dikerjakan, setelahnya dikirim kembali ke sekolah asal. Kendala yang dialami seperti kurang waktu untuk belajar karena lelah usai latihan, waktu belajar digunakan untuk istrahat. Sejauh menjalani rutinitas latihan, Bangkit mengakui belum pernah mengalami cidera berat yang mengharuskan vakum sementara waktu. Hanya cidera ringan yang dialami sewaktu usai latihan. “Kadang kan kalau latihan suka kelepasan, nendang terlalu kenceng jadi kaku sama bahu suka sakit. Tapi biasanya gak lama, paling dua sampai tiga hari udah pulih lagi” ujarnya. Suka duka yang dialami pun beragam, bertemu karakter lawan yang bermacam-macam, pertama kali ikut kejuaraan dunia membela Tanah Air namun belum berhasil menyumbangkan medali. Pada ajang Sea Games Malaysia 2017 pun dirinya belum berhasil menyumbangkan medali. Bangkit mengakatan bahwa dirinya sangat bangga dan tidak menyangka bisa bergabung di pelatnas pencak silat bersama kawan-kawan dari kota lain. Pasalnya, sejak awal dirinya tidak menargetkan untuk bisa bergabung di pelatnas. Namun atas usaha latihannya selama ini dirinya berhasil membawa pulang medali emas di ajang Asian Games 2018 hal ini sangat membanggakan bagi keluarga, kerabat dan kawan-kawannya. Profil Singkat Nama : Aji Bangkit Pamungkas Tempat/Tgl Lahir : Ponorogo, 20 Mei 1999 Alamat Rumah : Jl. Rumpuk Rt 02 Rw 04 Kertosari Babadan, Ponorogo Orang Tua : Agus Widodo (ayah) Anis Nurul Laili (ibu) Pendidikan SD Ma’arif Ponorogo SMPN 2 Ponorogo SMKN 1 Jenangan Ponorogo Prestasi Medali Emas Kejurnas Remaja dan Dewasa 2016, Jakarta, Indonesia Partisipan Kejuaraan Dunia 2016, Denpasar Bali, Indonesia Medali Perungu Pra Sea Games 2017, Komplek Lincah Mahaguru Omardin (K.L.M.O), Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2017, Schoten, Belgia Partisipan Sea Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Emas 3rd Pencak Silat Championship 2017, Chungju City, South Korea (medali emas) Paetisipan Penang Open 2017, Penang Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2018, Schoten, Belgia

Pecah Rekor Tinju Putri, Anggota KOWAD 20 Tahun Asal Lombok Raih Perunggu Asian Games

Kalah dari atlet Thailand, Sudaporn Seesondee (merah), petinju putri kelahiran Lombok, 27 Januari 1998, Uswatun Hasanah (biru), meraih medali perunggu Asian Games 2018 kelas 60 kg putri, pada Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. (liputan6.com)

Jakarta- Petinju Putri Indonesia, Uswatun Hasanah, sukses menyumbangkan medali perunggu Asian Games 2018 dari kelas 60 kg putri, Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena untuk kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. Tinju putri kali pertama digelar pada Asian Games 2010. Selama ini, belum pernah ada petinju Indonesia yang meraih medali. Setelah delapan tahun, penantian Indonesia akhirnya terbayar. Atlet 20 tahun yang kerap disapa Atun ini, mengamankan medali perunggu paska gagal melenggang ke babak final. Di partai semifinal tinju putri kelas ringan 60 Kilogram Putri Hall C, JIExpo, Anggota Kowad TNI AD berpangkat Serda yang berdinas di Dirpalad Jatinegara Jakarta Timur ini, terpaksa mengakui keunggulan atlet asal Thailand, Sudaporn Seesondee. Pertandingan tiga babak tersebut, Atun terus menerus tertekan sejak awal ronde. Pukulan bertubi-tubi petinju Thailand, tak mampu dihadang olehnya. Sebaliknya, pukulan gadis kelahiran Lombok, 27 Januari 1998 ini, tak bertenaga dan mudah dipentahkan lawan. Sudaporn makin mendominasi laga di ronde kedua dan ketiga, hingga Atun terlihat selalu terpojok dan gagal keluar dari tekanan. Bahkan, saking terpojoknya, Atun kerap berbalik badan hingga mendapat peringatan dari wasit di ronde ketiga. Usai laga, pelatih kepala Adi Suandana menyebut anak asuhnya gagal maksimal dipertandingan tersebut. Apa yang ditampilkan Atun saat mengalahkan wakil India, Pavitra di perempat final, tak terlihat. “Penampilan Uswatun hari ini, jika dibandingkan dengan sebelumnya, memang menurun,” kata Adi, usai laga, di JIExpo Kemayoran Hall C, Jakarta, Jum’at (31/8). “Karena olahraga tinju itu sudah biasa ya, yang terpukul pasti poinnya turun, dan yang banyak memukul pasti dapat poin,” imbuhnya. Adi menjelaskan, waktu persiapan yang kurang, ditambah minimnya uji coba ke luar negeri, menyebabkan mental Atun dan para petinju penghuni pelatnas lainnya tak terasah dengan baik. Akibatnya, kata Adi, saat di bawah tekanan, mereka tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dan gagal menjalankan instruksi pelatih. “Masih banyak kelemahan. Lawan jadi punya keberanian menyerang terus. Kalau Atun keberaniannya sepeti pertandingan sebelumnya, lawan tak bakal tampil seperti itu,” ujar Adi. Meski gagal ke babak final, medali perunggu Atun sukses menghantarkannya mencetak sejarah. Sepanjang sejarah Asian Games, tinju Indonesia mengoleksi tiga emas, delapan perak, dan 13 perunggu. Namun, semua medali datang dari tinju putra. Ini merupakan medali pertama yang diraih kontingen Indonesia di Asian Games 2018 sepanjang Jumat (31/8). Indonesia total telah mengoleksi 30 emas, 23 perak, dan 39 perunggu. (Ham)

Antiklimaks Takluk Dari Vietnam 1-3, Voli Putri Indonesia Gagal Kunci Posisi Enam Besar

Aprilia Santini Manganang (9) dkk gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas voli putri Indonesia dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. (Riz/NYSN)

Jakarta- Aprilia Santini Manganang dan kolega gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas bola voli putri Indonesia itu dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Di pertandingan ini, kedua tim tampil percaya diri serta mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di set pertama, Vietnam yang dimotori Dinh Thi Tra Giang mampu menyudahi perlawanan ketat tuan rumah dengan skor 29-27. Memainkan set kedua, Amalia Fajrina Nabila dan kawan-kawan berusaha bangkit. Bahkan kerap unggul dalam perolehan poin dengan lawan, serta berhasil mencuri kemenangan dengan skor jauh 25-18. Namun, anak asuh Mohamad Ansori tak mampu menjaga performa. Vietnam yang sempat tertekan di set kedua, justru balik menebar ancaman ke kubu Merah Putih diset ketiga. Berada di atas angin, Vietnam makin ‘gila’ dengan melancarkan smash keras menghujam yang tak mampu dibendung srikandi Merah Putih. Akhirnya, Vietnam merebut set ini dengan skor 25-22. “Set kedua kami bisa menang karena servis dan nyerang terus. Tapi, di set ketiga lawan mulai berani servis, sedangkan kami tidak siap dan kewalahan sendiri. Apalagi pertahanan kami terdapat banyak celah serta kurang cepat bisa baca lawan,” ujar Amalia, Kapten Timnas Bola Voli Putri Indonesia usai laga. “Jadi harusnya yang jadi patokan diam di situ, ini justru memposisikan dirinya belum jelas. Ini yang membuat Vietnam tahu kelemahan kami, begitu juga dengan blok-blok dari kami yang tidak sempurna,” tambahnya. Di set keempat, Manganang Cs sempat membentang asa. Meski perolehan poin sempat tertinggal dari Vietnam sejak awal laga, namun mereka berusaha mengejar poin hingga kedudukan 17-`18 dan 19-20. Akibat kurang tenang dalam menerima serta mengeksekusi bola, membuat timnas bola voli putri Indonesia harus mengakui ketangguhan Vietnam yang mengunci set ini dengan skor 22-25. Hasil tersebut membuat mereka gagal mengulang sukses di ajang SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika itu, timnas bola voli putri berhasil menaklukkan Vietnam, di semifinal, dengan skor 3-2. “Sebenarnya ini sesuai target delapan besar. Tapi, karena ketemu Vietnam, inginnya teman-teman menang, karena di SEA Games kemarin kami menang lawan mereka, apalagi masih sesama negara Asia Tenggara,” ungkap Amalia. “Ya, pinginnya bisa peringkat 5-6, tapi enggak bisa dan harus turun lagi. Ini kan kayak musuh bubuyutan. Dan, sekarang jadi 7-8 peringkatnya,” lanjutnya. Sementara itu, Manganang mengaku penampilannya di pertandingan kali ini berada di bawah performa terbaiknya. “Memang saya tampil tadi tidak maksimal. Mungkin ada faktor kelelahan juga karena jadwal pertandingannya kan sangat mepet waktunya. Soal stamina juga bisa jadi catatan tersendiri untuk kedepannya perlu diperhatikan,” tegasnya. Manganang Cs masih melakoni satu laga lagi menghadapi Kazakhstan untuk posisi 7 dan 8 pada Sabtu (1/9). Mohammad Ansori, Arsitek Tim, berharap timnya bermain bagus kontra Kazakhstan. “Soal peluangnya belum tahu, dilihat besok saja. Mudah-mudahan lebih bagus dari hari ini,” ucap Ansori. (Adt)

Tundukkan Universitas Muhammadiyah 2-0, Gelar LIMA Football GJC Disegel UNJ Berturut-turut

Tundukkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dengan skor 2-0, tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memastikan diri tampil sebagai tim terkuat, di region Jakarta Raya, babak final LIMA Football: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference (GJC) 2018, di Stadion Sepak Bola Universitas Indonesia, Depok, pada Kamis (30/8). (LIMA)

Jakarta- Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memastikan diri tampil sebagai tim terkuat di region Jakarta Raya, dalam perhelatan LIMA Football: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference (GJC) 2018. UNJ menyegel status ini, usai taklukkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dalam laga final, yang digelar di Stadion Sepak Bola Universitas Indonesia, Depok, pada Kamis (30/8). Menang dengan skor 2-0, membawa UNJ keluar sebagai juara bertahan dalam dua musim berturut-turut. UMJ menampilkan permainan yang meyakinkan di menit-menit awal. Penguasaan bola dominan dikuasai tim berkostum merah itu, hingga pertengahan babak pertama. UMJ sempat melakukan tiga kali percobaan tembakan, namun tak berbuah satu gol pun. Perlahan, UNJ langsung mengambil alih laga. Dengan cepat, anak asuh pelatih Raka Wipentra itu mulai menekan pertahanan UMJ. Akhirnya, satu gol berhasil dilesakkan pemain UNJ bernomor punggung 10,  Gillang Harjian, pada menit ke-22. Hingga 45 pertama berakhir, UMJ tak mampu menyamakan kedudukan. Skor 1-0 bertahan hingga jeda turun minum. Memasuki babak kedua, UNJ menunjukkan dominasinya. Juara bertahan itu menambah koleksi golnya lewat tendangan Eka Khairul Insan (8) pada menit ke-79. Meski kedua tim melakukan jual beli serangan, namun gol Eka menjadi penutup laga final yang digelar di Stadion Universitas Indonesia (UI), Depok, dan skor 2-0 tak berubah hingga laga usai. “Syukur Alhamdulillah, kami bisa mempertahankan gelar. Persaingan tahun ini cukup sulit, banyak kejutan dari tim-tim baru dan kekuatannya cukup merata,” ujar Raka, pelatih UNJ. Ini menjadi musim pertama LIMA Football menggelar fase nasional. Kedua finalis akan melanjutkan perjuangannya di LIMA Football Nationals 2018 yang akan digelar 18-25 September, di Malang, Jawa Timurm bersama dua tim lainnya, Universitas Pelita Harapan Banten dan Universitas Padjadjaran Bandung. “Persiapan untuk ke nasional kurang lebih dua pekan. Kami akan persiapkan diri dengan terus berlatih. Fokus kami latihan penyelesaian akhir. Target di nasional nanti tetap ingin menjadi juara,” lanjut Raka. (Dre) Rekapitulasi LIMA Football: Air Mineral Prim-A GJC 2018 Juara Universitas Negeri Jakarta Peringkat 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta Peringkat 3 Univeristas Pelita Harapan Lolos ke fase nasional : Universitas Negeri Jakarta Universitas Muhammadiyah Jakarta Universitas Pelita Harapan Universitas Padjadjaran Bandung