Tinggalkan Televisi, Nonton Piala Dunia Makin Seru Lewat Streaming Klix TV

(Ki-ka) David Khim (CEO FMA), Ros Haniza (CEO KLIX TV), Yazrie Shukri (Founder KLIX Media), Nadhif Kasyvilla (Founder Visinesia), dan M. Arif Junaedi (Country Head KLIX TV, Indonesia). (art-NYSN)

Jakarta- Sebagai salah satu negara yang pertumbuhan pengguna internetnya tertinggi di dunia, Indonesia menjadi pasar yang sangat seksi bagi pelaku bisnis penyedia jasa internet (internet service provider). Data e-Marketer menyebutkan, pada 2016 pengguna internet di Tanah Air mencapai 102,8 juta jiwa. Atau, hampir separuh jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini masih akan mengalami peningkatan pada 2018, yakni diprediksi menjadi 123 juta. Kenaikan pengguna internet di Indonesia sejalan dengan pertumbuhan layanan Over-The Top (OTT), yakni layanan dengan konten berupa data, informasi, atau multimedia, yang memanfaatkan jaringan internet. Sepekan kedepan, Pesta sepakbola Piala Dunia 2018 Rusia, segera bergulir. Piala Dunia selalu menyuguhkan beberapa fakta menarik di setiap eventnya. Pada Piala Dunia 2014, tercatat 3,2 miliar penduduk dunia menonton seluruh pertandingan. Jumlah tersebut naik hampir 16.000 kali, dibanding penyelenggaraan Piala Dunia 1950. Hal ini terjadi karena perubahan perilaku pelanggan dalam menonton siaran televisi melalui internet, yang naik cukup signifikan. Berdasarkan survei Nielsen pada 2017, akses konten video melalui platform digital cukup tinggi. Bahkan pengguna situs streaming, seperti Youtube, Vimeo, dan lain-lain mencapai 51 persen, portal TV online (44 persen), TV internet berlangganan, seperti Netflix, Iflix, Hooq, dan lain-lain (28 persen). Jelang Piala Dunia 2018, Klix byVisinesia selaku pemegang lisensi ekslusif internet broadcaster Piala Dunia 2018, pada Kamis (7/6) meluncurkan web www.klixtv.com dan aplikasi mobile Klix TV, untuk menonton pertandingan Piala Dunia 2018 di Rusia. Klix TV mendapat status lisensi esklusif internet broadcaster dari pemegang hak lisensi media Piala Dunia 2018 di Indonesia, yakni PT Futbal Momentum Asia (FMA). FMA mendapat hak ekslusif seperti hak transmisi dan/atau penyiaran di Indonesia dan kepulauannya. Transmisi itu mencakupi spektrum yang lengkap dari platform media dan penyiaran, termasuk tidak terbatas pada Free-To-Air TV, Pay-To-View, Satellite & TV cable, Radio, Ponsel, Broadband, dan IPTV untuk semua pertandingan Piala Dunia Rusia, Piala Dunia Wanita U-17, dan Piala Dunia U-20 Wanita yang seluruhnya digelar pada 2018. Melalui live streaming Klix TV, semua laga di Rusia itu, dapat ditonton secara langsung, kapan saja, di mana saja, dan dapat diakses dari semua operator telekomunikasi seluler dan dari semua jaringan wifi hotspot. Klix TV adalah cara terbaru, yang asyik, modern, dan trendi untuk menikmati layanan video berkualitas tinggi dengan cepat, mudah dan terjangkau, serta memiliki tingkat kepuasan tinggi dan nyaris tanpa buffering. Memakai teknologi kompresi video yang dimiliki, Klix TV memungkinkan untuk melakukan proses streaming video dengan kualitas high definition (HD) hanya dengan kecepatan 500 Kbps, suatu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Selain menyiarkan siaran langsung pertandingan Piala Dunia, Klix TV menayangkan siaran ulang laga pilihan yang sudah berjalan, termasuk highlights, komentar, berita seputar Piala Dunia, games harian, serta gosip secara nonstop 24 jam. Sebagai bonus, pihaknya juga akan menyiarkan pertandingan persahabatan antara Spanyol dan Tunisia pada 10 Juni 2018. Klix byVisinesia merupakan kolaborasi antara PT Visinesia Digital Indonesia, dengan Klix Media Sdn Bhd. Nadhif Kasyvilla selaku founder dari Visinesia mengatakan kolaborasi ini adalah bentuk nyata komitmen Visinesia, memberikan tontonan yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Layanan ini sangat ramah dengan kondisi smartphone pengguna. “Jika status layanan jaringan 4G tak ada di daerah tertentu, masyarakat tetap bisa menikmati Piala Dunia. Sebab, tiap pertandingan hanya memakan kuota 250-350 MB,” tegas Nadhif. Untuk dapat menikmati siaran Piala Dunia dengan berbagai kelebihan itu, pelanggan harus melakukan registrasi dengan biaya Rp 88.000 (termasuk PPn) untuk keseluruhan 64 pertandingan Piala Dunia yang akan dimulai 14 Juni hingga partai final 15 Juli 2018. Pelanggan yang melakukan registrasi setelah 12 Juni, akan dikenai biaya Rp 99.000. Pembayaran bisa dilakukan melalui transfer, kartu kredit, internet banking, dan potong pulsa khusus pelanggan Telkomsel dan XL, serta menyusul kemudian untuk Indosat, Smartfren & Three. Pelanggan juga bisa melakukan pembayaran di jaringan retail Alfa Mart & Indomart. (art)

Kemenpora Gelar Bimtek Dan Siap Kirim Ke Luar Negeri, Demi Ciptakan Pelatih dan Wasit Berkualitas

Mulyana (Deputi Peningkatan Prestasi Kemenpora) memberikan pemaparan Bimtek Kemenpora, di NAM Center Hotel, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (6/6). (Adt/NYSN)

Jakarta- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk ‘Peningkatan Kapasitas Pelatih dan Wasit Tingkat Provinsi’, di NAM Center Hotel, di Kawasan Kemayoran, Jakarta, Rabu (6/6). Kegiatan yang dilaksanakan oleh Asisten Deputi (Asdep) Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Kemenpora itu diikuti 52 wasit wushu dan 60 pelatih sepak takraw se-Jakarta. Mulyana, Deputi Peningkatan Prestasi Kemenpora, mengatakan pihaknya menggiatkan program peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga keolahragaan dan salah satu yang paling utama perannya adalah pelatih dan wasit. “Sebab mereka memiliki kontribusi untuk atlet yang berprestasi. Jadi tentunya dengan program ini kami berharap kedepan seluruh wilayah di Indonesia memiliki pelatih dan wasit berkualitas,” ujar Mulyana. Pria yang pernah menjabat Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) itu, berharap dimasa akan datang pelatih dan wasit yang saat ini diberikan pemahaman tentang kapasitas pelatih dan wasit bisa berkesempatan untuk mendapatkan lisensi internasional. “Harapannya menjadi duta bangsa untuk mewakili satu cabang olahraga seperti di olympic games, single event maupun Asian Games,” tutur Dosen Ilmu Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu. Senada dengan Mulyana, Herman Chaniago (Asisten Deputi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Kemenpora), menyebut kegiatan ini jadi bentuk komitmen Kemenpora yakni pengembangan SDM, dimana pihaknya diserahkan amanah untuk peningkatan kualitas pelatih dan wasit. Kedepan, menurutnya, makin banyak baik secara kuantitas maupun kuantitas pelatih dan wasit yang ada di Tanah air, selain juga tata kelola organisasi yang lebih baik. “Sehingga nantinya kita memiliki manajemen organisasi yang lebih modern,” tukasnya. Herman menambahkan Kemenpora tak hanya memberikan bimbingan teknik kepada pelatih, wasit dan juri di Tanah Air. Namun, bila ada kesempatan mereka bisa dikirim ke luar negeri guna memperdalam ilmu yang dimilikinya. “Misalnya untuk latihan fisik, Kemenpora akan kirim mereka ke Spanyol. Untuk memperdalam karate akan dikirim ke Prancis. Untuk judo ke Jepang, kalau golf ke Skotlandia dan lain sebagainya,” urainya. “Dalam waktu dekat, kami akan mengirim Wushu ke Penang dan Brasil. Prinsipnya kami ingin mereka berkualiatas,” pungkas Herman. (Adt)

Usai Digunduli Thailand, Timnas Wanita Bidik Uji Coba Kontra Hongkong Dan Filipina Paska Lebaran

Paska menghadapi Thailand, rencananya Timnas Wanita Indonesia (merah) akan kembali melakoni uji coba Internasionan melawan Hongkong dan Filipina. (topskor.id)

Jakarta- Timnas Wanita Indonesia menunjukkan progres permainan positif meski takluk dari Timnas Wanita Thailand. Tugiyati dan kawan-kawan harus kalah dengan skor 0-3 pada uji coba internasional kedua tim, di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Rabu (30/5) malam. Hasil ini dinilai jauh lebih baik karena pada laga yang pertama pada Minggu (27/5) harus mengakui keunggulan Thailand dengan skor 0-13. Pelatih Timnas Satia Bagja Ijatna usai laga mengaku pada pertandingan ini timnya tampil lebih baik karena tampil tenang dan percaya diri. Timnas Wanita Indonesia kelasnya berada jauh di bawah Thailand. Thailand pernah menjuarai Piala Asia Wanita pada 1983. Tim Gajah Putih juga tiga kali menjuarai Piala AFF wanita, dan lima kali menjuarai SEA Games. PSSI merespons kekalahan memalukan Timnas sebagai sebuah pelajaran berharga. Menurut Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, sebelum uji coba dengan Thailand, pihaknya sudah tahu jika Timnas Wanita Indonesia kalah kelas. Selain itu, jika melihat level, Timnas Wanita Indonesia baru akan bisa sejajar dengan kualitas Thailand saat ini, pada 2023. “Sebelum uji coba dengan Thailand, kami sudah tahu kalau kalah kelas jauh. Tapi tidak apa-apa. Kalah kelas bukan berarti tidak memberikan yang terbaik,” jelas Tisha, akhir Mei lalu. “Kalau bicara level, Timnas Wanita kita baru bisa sejajar dengan Thailand itu pada 2023. Jadi, kita coba semampu kita. Proses ini kan tidak bisa instan, tidak bisa langsung bagus di Asian Games (2018),” tambahnya. Tisha juga mengungkap target Timnas Wanita Indonesia di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Sadar dengan kekuatan yang ada saat ini, tak ada target khusus. Tisha hanya mengatakan target Timnas Wanita Indonesia bermain bagus dari laga ke laga. “Targetnya ya nggak ada yang khusus sih, cuma improving (perbaikian) dari pertandingan ke pertandingan. Tapi seperti yang saya katakan tadi. Kalah kelas bukan berarti tidak memberikan yang terbaik,” ucap Tisha. Paska menghadapi Thailand, rencananya Timnas Wanita akan kembali melakoni uji coba Internasional. Rangkaian uji coba Internasional ini agenda yang dicanangkan PSSI dan ASBWI guna mematangkan persiapan jelang event AFF Women’s Championship 2018 bulan Juli dan Asian Games 2018, dan Indonesia didaulat menjadi tuan rumah. Pilihan lawan yang akan dihadapi masih berada di lingkup Asia, yakni Hongkong (Asia Timur) atau Filipina (Asia Tenggara). Namun, detail laga dua negara tersebut belum bisa dipastikan. Manajer Timnas, Papat Yunisal, menyatakan terus berkoordinasi terkait rencana uji coba ini. “Setelah Thailand, ada agenda melawan Hongkong atau Filipina. Kami masih terus matangkan rencana ini dengan mereka. Dan sampai saat ini, masih belum pasti waktu tandingnya,” ujar wanita asal Subang, Jawa Barat ini kepada nysnmedia.com pada Rabu (6/7) siang. “Kemungkinan besar terealisir usai Ramadhan, sebab TC Timnas Wanita juga libur selama dua pekan untuk jeda lebaran,” ungkap Papat. Sebagai penutup program latihan di bulan Ramadhan, tim yang dijuluki Garuda Pertiwi akan rehat pemusatan latihan pada 13-18 Juni 2018. (Dre)

Usai Borong Enam Emas Di Jerman, Pelatnas Soft Tenis Asian Games Ke Thailand Asah Taktik Permainan

Timnas Pelatnas soft tenis Indonesia meraih enam medali emas di turnamen 'The 11th Soft Tennis German Open 2018', sekaligus event ujicoba Asian Games 2018. (net)

Jakarta- Tim pemusatan latihan (Pelatnas) soft tenis Asian Games 2018 berhasil meraih enam medali emas, lima perak, dan empat perunggu di lapangan tanah liat Kronberg Tennis Erwin Obenhochstandt, di Frankfurt, Jerman, 1-3 Juni. Usai memborong medali emas di turnamen bertajuk ‘The 11th Soft Tennis German Open 2018’, Prima Simpatiaji dan kawan-kawan lalu bertolak ke Thailand pada Rabu (6/6), mengikuti Pattaya Open sekaligus mengasah taktik permainan agar lebih bervariasi. Mereka berada di Negeri Gajah Putih itu hingga Senin (11/6). Di Asian Games 2018, Pengurus Pusat (PP) Persatuan Soft Tennis Indonesia (Pesti), mencanangkan target satu emas, satu perak, dan dua perunggu. Pada Asian Games 2014, Incheon, Korea Selatan, tim soft tenis mengantongi satu perak dari Edi Kusdaryanto di nomor tunggal putra. Dan, satu perunggu lewat Prima Simpatiaji/Maya Rosa di nomor ganda campuran. Hendri Susilo Pramono, Manager Soft Tenis Indonesia, mengaku puas dengan anak didiknya di Jerman Open, akhir pekan lalu. “Hasil ini memuaskan, karena kami berhasil menyapu seluruh gelar juara dari enam nomor yang dilombakan,” ujar Hendri, Rabu (6/6). Di nomor tunggal putra, Prima Simpatiaji berhasil meraih medali emas usai mengalahkan rekan satu Pelatnas yang merupakan juniornya, Irtandi Hendrawan di partai pamungkas. Sedangkan di partai puncak tunggal putri, Dede Tari Kusrini menyisihkan kompatriotnya, Dwi Rahayu Pitri. Sementara, di final ganda putra, duet Hemat Bakti Anugrah/Gusti Jayakusuma menumbangkan pasangan senior Elbert Sie/Hendri Susilo Pramono. Dan, di ganda putri, dobel Dede Tari Kusrini/Anadeleyda Kawengian merebut emas usai menyudahi perlawanan Dwi Rahayu Pitri/Voni Darlina. “Terpenting adalah kami mampu menjaga mental bertanding pemain selama menjalani program uji coba hingga siap berlaga saat Asian Games 2018 nanti,” lanjutnya. Turnamen ‘The 11th Software Tennis German Open 2018’, diikuti empat negara, yakni tuan rumah Jerman, Polandia, India dan Indonesia. “Meski hanya empat negara, namun tuan rumah Jerman dan Polandia adalah kekuatan utama soft tenis di benua Eropa, sementara India adalah kuda hitam dari kawasan Asia,” tambah Hendri. Selanjutnya, 10 atlet Pelatnas soft tenis kembali mengikuti ujicoba di Thailand pada ajang Pattaya Open. Tim berangkat pada Rabu (6/6), dan berada di Thailand hingga Senin (11/6). “Tak ada masalah teknik dan fisik bagi pemain meski jadwal uji coba tergolong padat. Fokus utama selama di Thailand mengasah taktik permainan agar lebih bervariasi,” tukas Hendri. (Adt)

Pebasket Darryl Sebastian Wakili Indonesia di BWB Camp Asia 2018, Gading Muda : Terus Belajar dan Rendah Hati

Pebasket remaja asal Klub Basket Gading Muda, Darryl Sebastian Winata (merah), Wakili Indonesia di BWB Camp Asia 2018, di New Delhi, India. (istimewa)

Jakarta- Ajang Basketball Without Borders (BWB) Asia Camp kembali hadir pada 2018. BWB adalah program basketball development and community outreach garapan FIBA dan NBA. Tujuannya, mengumpulkan talenta basket muda yang ada di berbagai negara untuk berlatih serta meningkatkan kemampuan mereka di bawah arahan pelatih dan pemain kelas internasional. Dan, satu-satunya perwakilan asal Indonesia yang termasuk dalam program BWB Asia Camp 2018 adalah Darryl Sebastian Winata. Pebasket muda berbakat ini merupakan atlet pelajar dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Bukit Sion, Jakarta Barat, dan bernaung di bawah Klub Basket Gading Muda. Pada edisi ke-10 ini, BWB Asia Camp digelar di New Delhi, Greater Noida, India, 30 Mei – 2 Juni 2018. Darryl bergabung dengan 65 pelajar SMA dari 16 negara di Asia-Pasifik, dan mendapatkan penanganan istimewa dari sejumlah bintang NBA. Diantaranya, asisten pelatih NBA Bret Brielmaier (Nets), Darvin Ham (Atlanta Hawks), Ryan Saunders (Minnesota Timberwolves), dan Mike Wells (Utah Jazz) yang berperan sebagai pelatih BWB Asia 2018. Kemudian Patrick Hunt (President of the World Association of Basketball Coach, Australia) sebagai direktur camp. Sedangkan pelatih atletik di camp dipercayakan pada Casey Smith (Dallas Mavericks). Terpilih dan mewakili Indonesia, Darryl mengaku bangga. Ia juga merasa tertantang untuk mendapatkan predikat BWB All-Star. “Sebuah kehormatan terpilih mewakili Indonesia. Saya akan berikan yang terbaik. Saya akan bawa kabar baik ketika kembali ke Tanah Air nanti,” ujar pemain yang terpilih masuk skuad DBL All-Star tahun lalu, dikutip DBL Indonesia, Selasa (5/6). Di akhir program BWB Asia Camp akan dipilih pemain terbaik guna berlaga di pertandingan pamungkas yakni BWB All-Star game. Dan, gelar MPV bakal disematkan usai pertandingan itu. Sementara, Jap Ricky Lesmana, Pemilik Klub Basket Gading Muda, menyebut anak didiknya Darryl merupakan salah satu pemain muda berbakat. Ia menambahkan persaingan sangat berat untuk bisa lolos di ajang BWB Asia Camp itu. “Yang pasti tetap terus belajar. Karena pendidikan sangat penting, dan tetap rendah hati,” tuturnya. “Apalagi bukan dipilih oleh Perbasi (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia), tapi ini dipilih langsung oleh Junior NBA. Jadi utusan NBA yang turun langsung untuk memantau dan memilih pemain muda berbakat,” tutup Ricky. (Adt)

Bawa Nama Indonesia, Tim Garuda Baseball Softball Club (GBSC) U-10 Raih Runner Up Kejuaraan Asia Pacific 2018 di Filipina

Tim Bisbol Indonesia U-10 yang diwakili tim Garuda Baseball Softball Club (GBSC), meraih poisisi runner up di PONY Baseball and Softball Asia Pasific di Filipina. (istimewa)

Tanauan City- Menjelang penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang pada bulan Agustus, olahraga Indonesia mendapatkan kabar gembira. Tim Bisbol Indonesia usia 10 tahun kebawah (U-10) berhasil meraih juara kedua, pada turnamen bisbol Protect Our Nation Youth (PONY) Baseball and Softball Asia Pasific, di Tanauan City, Filipina, pada 31 Mei-2 Juni 2018. Meski lolos ke final, namun Tim Indonesia yang terdiri dari 14 atlet cilik tersebut gagal membendung serangan dari Filipina. Tim tuan rumah akhirnya keluar sebagai juara pertama dan mendapat satu tiket ke kejuaraan dunia bisbol usia 10 tahun, di Amerika Serikat, pada Agustus mendatang. Irsyad Prawiradilaga, pelatih kepala Tim Bisbol Indonesia U-10 mengatakan jika dirinya sangat bangga terhadap para prestasi atlet cilik Indonesia atas raihan yang dicapainya pada kejuaraan kali ini. “Perjuangan yang ditunjukan oleh atlet Indonesia sangat luar biasa, terutama pada pertandingan final. Mereka bermain dengan semangat juang yang tinggi meskipun lawannya adalah tim yang kuat,” tambah Irsyad. Tim Indonesia U-10 kali ini diwakili oleh Garuda Baseball Softball Club (GBSC), yang sukses jadi kampiun pada kejuaraan PONY wilayah Indonesia U-10 February lalu, dan mewakili Indonesia pada kejuaraan Asia Pasifik. Febry Darmansyah, Ketua Umum GBSC menjelaskan tim GBSC yang bertanding di Filipina merupakan tim masa depan Indonesia. “Semoga dengan prestasi menjadi juara kedua ini, dapat memacu mereka untuk lebih giat berlatih dan meraih hasil maksimal di kemudian hari,” tutur Febry. Pada akhir Juni nanti, tim Indonesia U-12, U-13 dan U-16 akan berlaga di Kejuaraan Asia Pacific, di Korea Selatan dan Filipina. Ketiga tim yang mewakili Indonesia juga berasal dari Garuda Baseball Softball Club (GSBC). (art)

Latihan Bersama Timnas Basket Putri Asian Games 2018, Klub Gading Muda Diakui Bina Pemain Muda Berbakat

Timnas putri Asian Games 2018 melakukan laga uji coba melawan Tim basket Putra Gading Muda usia 17 tahun (U-17) pekan lalu di Cirebon. (srikandicup.com)

Jakarta- Tim basket Putra usia 17 tahun (U-17) klub Gading Muda diundang melakoni latihan persahabatan, dengan Timnas basket putri pemusatan latihan (Pelatnas) Asian Games 2018, pada 1-3 Juni lalu, di GMC (Generasi Muda Cirebon) Arena, Cirebon, Jawa Barat. Pelatnas Timnas putri Asian Games 2018 telah dimulai sejak 23 April lalu. Mereka melakukan Pelatnas selama 47 hari secara intensif dan dipantau dan diseleksi secara ketat oleh tim kepelatihan. Pekan lalu, Timnas Putri melakukan turnamen segi empat melawan Tim Putra kelompok umur 17-18 tahun. Pesertanya adalah Indonesia Thunder Bandung, GMC Cirebon dan Klub Gading Muda. Jap Ricky Lesmana, pemilik Klub Gading Muda, mengaku senang anak didiknya bisa melakoni latihan persahabatan, dengan timnas basket putri yang diproyeksikan untuk ajang pesta olahraga terbesar di Asia, pada 18 Agustus – 2 September 2018. “Bagi kami, ajang ini sangat bagus. Kami memang sering diundang untuk melakukan ujicoba dengan Timnas Basket. Ini artinya, Gading Muda jadi salah satu klub yang diakui membina pemain muda berbakat,” ujar Ricky, Selasa (5/6). Gading Muda, klub basket yang berdiri sejak 2005 itu, konsisten mencetak bibit basket unggul yang memiliki karakter kuat. “Meski kami kalah dengan skor 79-67, tapi kami berikan yang terbaik. Dan timnas putri sangat bagus, karena mereka pemain pilihan. Semoga mereka memberikan yang terbaik di Asian Games,” tambah Ricky. (Adt)

Sinergi Candra Wijaya Dan Daihatsu Bangun CWIBC, Menpora : Indonesia Tak Kekurangan Bibit Atlet Unggul

Menpora Imam Nahrawi turut mengapresiasi partisipasi swasta dalam mendukung olahraga nasional. (Adt/NYSN)

Jakarta- Legenda bulutangkis Indonesia, Candra Wijaya melakukan sinergi dengan salah satu perusahaan otomotif terbesar di Tanah Air, Daihatsu. Ia membangun Gelanggang Olahraga (GOR) Candra Wijaya International Badminton Center (CWIBC), di Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Menpora Imam Nahrawi, turut memberikan apresiasi atas partisipasi swasta dalam mendukung olahraga nasional, terlebih melahirkan prestasi yang mampu mengharumkan nama bangsa dan negara. “Tak ada prestasi tanpa partisipasi. Sedangkan prestasi bisa dilalui dengan pendidikan dan dorongan orang tua. Apalagi ada fasilitas yang bagus, sehingga Indonesia tak kekurangan bibit atlet unggul,” ujar Menteri asal Madura, ini saat menghadiri Launching Daihatsu Candra Wijaya International Badminton Center (CWIBC), pada Senin (4/6). Selain Imam, tampak hadir Bambang Brodjonegoro (Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), dan Candra Wijaya (Pemilik CWIBC), serta Prijono Sugiarto (Presiden Direktur PT Astra Internasional TBK),. Imam melanjutkan proses yang dilalui dalam mencetak bibit-bibit unggul tak hanya 5 tahun, namun hingga 10 tahun yang akan datang. “Sehingga pada 2030, diharapkan lahir atlet-atlet yang memiliki prestasi dunia, atau Candra Wijaya baru, yang bisa mengharumkan nama Indonesia,” tambah ayah 7 anak itu. “Kehadiran CWIBC ini juga sebagai bentuk pemasalan di bulutangkis, agar bulutangkis tak dianggap sebagai olahraga mahal,” tutur Imam. Sementara, Candra mengungkapkan pihaknya menekankan pada pendidikan intelektual pada semua bibit-bibit muda binaannya. “Kami tekankan masalah mental juara dan karakter ke junior-junior, untuk pembinaan,” cetus peraih medali emas Olimpiade 2000, Sydney, Australia saat berpasangan dengan Tony Gunawan itu. Pria kelahiran Cirebon, 42 tahun silam itu menegaskan pemain muda harus memiliki antusias yang tinggi mengalahkan atlet senior. “Contohnya di Piala Thomas 2018, saat ganda muda China bisa bermain ‘gila’ untuk mengalahkan ganda senior Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan. Tak hanya di ganda, tapi di tunggal baik putra maupun putri, bila pemain muda Indonesia bisa seperti itu rasanya akan hebat,” imbuhnya. “Mudah-mudahan itu akan melahirkan bibit muda dengan prestasi gemilang. Inilah tugas utama kami menciptakan pemain yang militan. Bagaimana mereka memiliki mental juara dengan kerja keras dan mental yang kuat,” pungkas suami dari Caroline Indriani itu. (Adt)

Hasil Di Piala Dunia Turki Buruk, Pelatih : Puncak Performa Panahan Di Asian Games 2018

Kepala Pelatih Pelatnas Panahan, Denny Trisjanto berharap performa top atlet panahan pada Asian Games 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Hasil ujicoba tim nasional (Timnas) panahan di Turki pada ajang bertajuk ‘Hyundai Archery World Cup, di Antalya, pada 20-26 Mei 2018, kurang memuaskan. Sebab, kontingen Merah Putih tak berhasil meraih satupun medali. Berbeda saat ujicoba di Piala Dunia seri Shanghai, akhir April lalu. Skuat Garuda berhasil meraih medali perunggu melalui Riau Ega Agatha dan Diananda Choirunisa, Nomor Recurce Ganda Campuran. Diharapkan puncak performa Timnas panahan terjadi pada Asian Games 2018, pada 18 Agustus – 2 September mendatang. Hal itu dikatakan Denny Trisjanto, Kepala Pelatih Pelatnas Panahan, disela kunjungan Menpora Imam Nahrawi, di Lapangan Panahan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Senin (4/6). “Hasil ujicoba di Turki tak memuaskan, karena mereka tak dapat medali. Tapi tak masalah, karena mereka menunjukkan progres secara makro sesuai tahapan program latihan. Dan memang puncak penampilan mereka ya saat Asian Games,” ujar Denny. Menurutnya, Riau Ega Agatha dkk saat di Turki bertemu dengan negara-negara kuat di cabang panahan. Sehingga, sebut Denny, menjadi kesempatan bagi anak didiknya untuk mengintip kekuatan lawan di pesta olahraga terbesar se-Asia nanti di Jakarta-Palembang. “Melihat hasil di Turki, dari empat finalis, ada tiga dari Asia, yang terkuat yakni Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Negara-negara itu pesaing yang harus diwaspadai. Selain itu, ada juga tim India,” ungkapnya. Denny menyebut akhir Juni ini, Pelatnas panahan akan bergeser ke Surabaya, Jawa Timur. Alasannya, fasilitas disana lebih lengkap. “Disana ada lab dan toko peralatan. Berlatih di Surabaya akan dimulai pada 1 hingga 20 Juli, setelah itu berlatih di Mekarsari (Depok), sampai nanti dikumpulkan di wisma atlet,” tutup Denny. (Adt)

Timnas U-23 Tampil Sarat Taktik, Thailand U-23 Paksa Hasil Imbang Tanpa Gol

Winger Persija Jakarta, Riko Simanjuntak (20), diturunkan Timnas U-23 sebagai starter, dalam laga kontra Thailand U-23, pada Minggu (3/6) malam. (Pras/NYSN)

Bogor- Timnas U-23 terpaksa mendulang hasil imbang 0-0 saat menghadapi Thailand U-23 di partai uji coba kedua. Pertandingan itu merupakan rematch setelah Indonesia dikalahkan Thailand di Stadion PTIK, tiga hari lalu Bertanding di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (3/6) malam, Timnas U-23 memasang striker Lerby Eliandry sejak awal laga. Pelatih Luis Milla Aspas pun menurunkan winger Persija Jakarta, Riko Simanjuntak, sebagai starter. Alih-alih menyerang, Timnas U-23 justru dipaksa meladeni permainan cepat Thailand. Beberapa kali gawang Muhammad Ridho terancam oleh aksi Phitiwat Sookjitthammakul. Hingga babak pertama berakhir, kedua tim tak kunjung mencetak gol. Di babak kedua, Milla memasukkan Alberto Goncalves, dengan harapan mampu memecah kebuntuan Merah Putih. Permainan Hansamu Yama dkk sayangnya justru tak berkembang di babak kedua. Menjelang laga berakhir, Goncalves mendapat peluang di depan gawang Thailand. Sayang, pemain itu berlama-lama dengan bola hingga serangan bisa diredam barisan bertahan Thailand. Skor imbang 0-0 bertahan hingga laga berakhir. Meski gagal revans atas Thailand, namun performa tim merah putih mengalami perubahan yang begitu signifikan di pertandingan malam ini. Hal ini diungkapkan Milla, jika anak asuhnya bermain sarat taktik, semenjak evaluasi dari hasil uji coba pertama Kamis (31/5) lalu. “Saya sangat senang hari ini. Pertandingan hari ini sarat taktik. Perjuangan anak-anak sudah bagus, karena menjalankan evaluasi di hari pertama,” jelasnya. Ajang uji coba ini merupakan salah satu rangkaian Timnas U-23 yang akan mengikuti ajang multi event terbesar di benua Asia, Asian Games 2018, Agustus mendatang. Meski event itu kurang dari tiga bulan, Milla berkeyakinan membongkar pasang kerangka pemain sampai batas yang ditentukan untuk mengirim skuat yang akan bertarung di agenda empat tahunan itu. “Masih ada beberapa waktu, kami terus pantau para pemain sampai batas yang ditentukan. Khususnya untuk kuota pemain senior”, tambahnya. Sementara, asisten pelatih Thailand U-23, Naruephon Kaenson, menilai Indonesia bermain agresif dan daya juang yang tinggi. “Tak mudah melawan Indonesia hari ini, karena Indonesia punya gairah yang begitu tinggi dibandingkan laga pertama,” kata Kaenson, saat jumpa pers paska laga. Nama Goncalves, juga menjadi sorotan timnya. Pemain naturalisasi bernomor punggung 9 asal Brasil ini, dianggap punya kemampuan diatas rata-rata. “Nomor punggung sembilan cukup berbahaya, karena dia pandai keep bola dan bermain individu. Itu yang berbahaya bagi pertahanan kami,” pungkas pria asal  Negri Gajah Putih itu. (Ham/Dre) Susunan Pemain Timnas U-23 Pelatih : Luis Milla Aspas Muhammad Ridho; Rezaldi Hehanusa, Ricky Fajrin, Gavin Kwan Adsit, Hansamu Yama Pranata; Muhammad Hargianto, Febri Haryadi, Hanif Sjahbandi, Riko Simanjuntak, Septian David Maulana; Lerby Eliandry Thailand U-23 Pelatih : Naruephon Kaenson Nont Muangngam; Suriya Singmui, Shinnaphat Leeaoh, Chaiyawat Buran, Saringkan Promsupa; Sansern Limwatthana, Tanasith Siripala, Montree Promsawat, Jakkit Wachipirom, Phitiwat Sookjitthammakul, Poramet Arjvilai

Jakarta International Tennis Academy Bangun Karakter Petenis Muda Berprestasi Internasional

Jakarta International Tennis Academy (JITA) konsisten membangun karakter bibit-bibit petenis muda berbakat dengan prestasi internasional. (Pras/NYSN)

Jakarta- Berawal dari mimpi seorang bernama Goenawan Tedjo, Jakarta International Tennis Academy (JITA) konsisten membangun karakter bibit-bibit petenis muda berbakat dengan prestasi internasional. Bergabung dengan JITA, artinya setiap anak ditempa dengan berbagai metode pelatihan untuk membentuk kemampuan fisik, teknik, karakter, serta membangun mental juara. “Visi dan misinya adalah ingin membentuk pemain dengan prestasi internasional. Tetapi, dasarnya adalah membangun karakter melalui tenis. Sehingga tidak hanya mencetak juara. Namun yang ditekankan adalah juara dengan karakter baik,” ujar Goenawan, Founder JITA, di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu. Karakter pertama yang harus dimiliki yakni sportif, sopan, dan memiliki respect terhadap lawan, wasit, pebimbing, pelatih, dan terpenting orang tua. Sebab saat mereka jadi pemain top, maka akan menjadi idola generasi muda. Dan, idola itu harus memiliki karakter yang bagus. Sebab akan menjadi panutan “Kadang-kadang, ada anak yang tidak mau ditonton sama orang tuanya. Itu tidak boleh terjadi disini. Mereka harus punya respect pada orang tua. Sebab, orang tua yang membiayai mereka untuk bergabung disini,” lanjut pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 4 Agustus 1961 itu. Kini, JITA telah memiliki banyak petenis binaan. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai lebih dari ratusan petenis. Awalnya, akademi ini bernama Goenawan Fans Tennis Club, hingga berganti nama menjadi JITA pada 2005. Perubahan nama itu bukan tanpa alasan. Selain warga negara Indonesia (WNI), petenis binaan JITA sekitar 35 persennya adalah berkebangsaan asing. Bahkan, sebagai dari mereka sudah mulai berlaga di berbagai turnamen tenis internasional. “Di level junior nasional, petenis binaan JITA banyak berprestasi dan mengisi slot rangking 1 hingga 10. Mereka bermain hingga SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), lalu melanjutkan ke Universitas. Ketika mereka kuliah mendapatkan sponsor atau scholarship. Disini itu cukup banyak,” tambah pria penyuka kuliner Indonesia itu. Disisi lain, minat generasi muda terhadap tenis, diakui pria yang juga memiliki hobi bermain golf itu, sat ini agak menurun. Namun, itu jadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara jasa seperti JITA. “Bagaimana caranya membuat suasana pelatihan menjadi menarik. Dengan begitu mereka tetap memprioritaskan tenis dibandingkan dengan pilihan yang lain. Karena saat ini kami berkompetisi dengan gadget. Ini menjadi tantangan untuk mereka bisa tertarik datang ke outdoor untuk bermain tenis,” tuturnya. “Terkadang orang mengajar saja, namun suasananya membosankan. Sehingga minat dan ketertarikan mereka terhadap tenis makin turun. Itu yang kami terapkan di JITA, maka jumlah petenis binaan disini tetap stabil,” urai pria yang mulai mengajar tenis sejak 1981 itu. Sementara, demi menghasilkan petenis berkualitas, Goenawan mengkritisi dukungan pemerintah. Ia berharap minat pemerintah dalam mendukung olahraga di Tanah Air terus meningkat. “Sejauh ini pemerintah telah memberikan dukungan bukan hanya tenis. Tapi, dukungan itu belum cukup. Kalau mau berprestasi sampai level Asia saja itu masih kurang, apalagi dunia. Bukan pemerintah tidak membantu, memang masih sangat kurang,” tukasnya. “Contoh Singapura. Meski negara kecil, namun pemerintahnya mengalokasikan dana untuk olahraga sangat besar. Hasilnya, mereka membangun fasilitas dan sarana olahraga yang bagus. Boleh dibilang mewah dan lengkap. Dengan begitu maka orang-orang akan lebih senang berolahraga,” ungkapnya. Selain itu, menurutnya, iklim ber kompetisi yang rutin, menjadi sarat mutlak bagi seorang petenis, agar mampu dan bisa bersaing di level permainan yang lebih tinggi. “Mereka harus travelling ikut pertandingan ke luar negeri. Tapi untuk apa? Tentu semua perlu biaya. Terkadang ada atlet yang menang di PON (Pekan Olahraga Nasional) dapat bonus uang. Dan, jangan hanya disimpan, tapi itulah yang dipakai untuk membiayai dirinya mengikuti pertandingan ke luar negeri,” jelasnya. Dengan rutin bertanding di luar negeri, peringkatnya naik dan permainannya makin bagus. Maka profit akan mengikuti. Bagi Goenawan, mengandalkan pemerintah dan ponsor sangat sulit. Dikatakannya, pengalaman dan jam terbang sangat utama. Bila dahulu banyak bermunculan klub-klub tenis besar, namun saat ini kondisinya sudah berbeda. “Harapannya muncul kembali liga antar klub. Ini bisa menggairahkan minat dari para petinggi perusahaan untuk mendirikan klub serta membina para pemainnya. Kalau saat ini belum ada, maka tiap individu-individu itu harus pintar mengelola keuangannya,” tutup ayah empat anak itu. (Adt)

Hajar Thailand 3-1, Timnas Voli Putra Indonesia Juara Turnamen Voli Di Vietnam

Aji Maulana dkk diminta tetap menjaga kekompakan hingga ke Asian Games 2018 usai juara di turnamen bola voli internasional Lienvietpostbank di Vietnam, Kamis (31/5) malam. (Adt/NYSN)

Ha Nam- Timnas Bola Voli putra Indonesia juarai Turnamen Bola Voli Internasional Piala Lienvietpostbank. Pada laga final di Ha Nam Sports Gymnasium, Vietnam, Kamis (31/5) malam, Tim Merah Putih mengalahkan musuh bebuyutan, Thailand dengan skor 3-1 (31-33, 25-18, 25-22, 25-23). Timnas Thailand sempat mengungguli Rendy Tamamilang dan kawan-kawan pada set pertama. Padahal tim besutan Samsul Jais itu sempat unggul dengan selisih empat angka atas Kitsada dan kawan-kawan. Gara-gara permainan mengendur, skor menjadi sama 20-20. Timnas Indonesia akhirnya kalah dengan skor 31-33. Beruntung, pada tiga set berikutnya Timnas selalu menang. Kemenangan ini merupakan yang kedua dibukukan Indonesia atas Thailand. Kedua tim juga bertemu pada babak penyisihan, 27 Mei 2018. Saat itu, Indonesia menundukkan Thailand 3-0 (25-23, 25-22, 25-22). “Hasil ini merupakan momentum penting untuk memberikan motivasi dan inspirasi baru bagi cabang olahraga lain. Tentunya, keberhasilan ini akan kami siapkan apresiasi,” ujar Imam Nahrawi saat menyambut kedatangan Timnas Bola Voli Putra Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (1/6). Sementara, Aji Maulana, Kapten Timnas Bola Voli Indonesia, menegaskan kemenangan ini sangat penting dan menjadi modal berharga untuk persiapan ke Asian Games 2018, pada Agustus-September nanti. “Di ajang Asian Games ini persaingan sangat ketat. Sebab ada Jepang, Korea dan China. Sedangkan di turnamen kemarin cuma ada Kazakhstan, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Dan, kami masih butuh kompetisi internasional lain untuk nambah pengalaman tanding serta jam terbang, ” cetus Aji. Pada turnamen internasional yang diikuti enam negara tersebut, timnas hanya sekali kalah, saat melawan Kazakhstan pada awal turnamen dengan skor 2-3. Namun, kekalahan itu mampu dibalas di semifinal, dengan skor telak 3-0. Empat negara lainnya, Myanmar, China Junior, Thailand, dan tuan rumah Vietnam juga berhasil dikalahkan Indonesia. Pada babak penyisihan, Thailand dilibas dengan skor 3-0. Myanmar dan Vietnam juga dikalahkan dengan tiga set tanpa balas. Sedangkan China yang datang dengan tim junior, dikandaskan dengan skor tipis 3-2. Samsul menyebut kemenangan atas Thailand ini sejatinya merupakan penantian yang cukup lama. “Terakhir Indonesia mengalahkan Thailand pada 2009. Di turnamen ini dua kali ketemu Thailand. Pertama menang 3-0, dan di final menang 3-1. Jadi menambah kepercayaan diri. Kalau dahulu ada trauma kalau ketemu Thailand,” jelasnya. “Dengan hasil yang kami capai mudah-mudahan bisa mewujudkan target cabang bola voli yang harus berada diperingkat tiga. Ini jadi motivasi semua pemain bisa menghasilkan yang terbaik,” tukas Samsul. (Adt)

Kelar Idul Fitri, Latihan 13 Cabang Asian Games Geser ke Palembang

Venue cabor menembak, di kawasan Jakabaring Sport City Complex, Palembang, Sumatera Selatan. (kompas.com)

Palembang- Pemusatan latihan atlet dari 13 cabang olahraga untuk Asian Games 2018, bakal dipindahkan ke Jakabaring Sport City, Palembang, mulai tiga hari setelah libur idul Fitri nanti. Selama ini latihan berlangsung secara terpisah, seperti di DKI Jakarta maupun di luar negeri. Muddai Madang, ketua panitia Asian Games 2018 daerah, menjelaskan saat ini pihaknya dan panitia pusat sedang menyiapkan segala keperluan para atlet dan ofisial. “Nantinya, para venue manajer juga harus ada di sini,” kata Muddai, Kamis (31/5). Sumatera Selatan didaulat untuk menyelenggarakan 13 cabang olahraga (cabor), baik klasifikasi Olimpiade, maupun non-Olimpiade. Cabang olahraga tersebut meliputi bola voli pantai, menembak, kano/kayak, sepak bola perempuan, tenis, skateboard, sepatu roda, rowing, panjat tebing, sepak takraw, softtenis, boling, dan triatlon. Seluruh atlet akan menggunakan arena yang telah berdiri di Jakabaring Sport City. Mereka juga akan menginap di wisma atlet yang berada tak jauh dari gelanggang. “Juga akan berlangsung uji coba disini,” ujar Muddai. Sedangkan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, menerangkan pemindahan latihan ke Jakabaring Sport City, sejatinya guna memaksimalkan persiapan atlet menjelang pembukaan Asian Games nanti. Ia meyakini latihan di Palembang juga untuk menyatukan dan mendekatkan atlet dengan arena serta peralatan pertandingan. Dengan cara itu, dia meyakini target tembus 10 besar dapat terwujud. “Kita geser ke sini (Palembang), mulai H+3 lebaran,” ungkapnya. Secara terpisah, Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengaku, koordinasi antara panitia penyelenggara daerah dan pusat masih minim. Padahal, dirinya sudah meminta agar adanya perwakilan Inasgoc pusat, manajer kompetisi, serta perwakilan dari 13 panitia cabang olahraga dan setiap divisi yang berada di Palembang. Ia pun mendesak agar koordinasi lintas divisi dan cabang olahraga, segera ditingkatkan. “Perwakilan dari 13 panitia cabor dan setiap divisi, sebaiknya berada (stay) di Palembang,” katanya. (art)

Kualitas Tim Mendadak Turun, Timnas U-23 Makin Sulit Menang

Statistik Pertandingan Timnas U-23 vs Thailand U-23 pada Kamis (31/5) di Stadion PTIK, menurut data dari labbola. (labbola.com)

Jakarta- Timnas U-23 memetik hasil minor menghadapi laga ujicoba menghadapi Thailand U-23, di Stadion PTIK, Jakarta, Kamis (31/5) malam. Muhammad Hargianto dkk dipaksa takluk 1-2 atas skuat Gajah Perang. Turun dengan komposisi berbeda saat Anniversary Cup 2018 lalu, Garuda Muda mengandalkan penyerang naturalisasiasal Brasil, Beto Goncalves, yang disokong trio Osvaldo Haay, Septian David Maulana dan Febri Hariyadi. Di babak pertama, skuat asuhan Luis Milla Aspas, ini tampil cukup meyakinkan terbukti sebanyak 12 peluang berhasil tercipta, dengan rincian dua peluang emas yang dihasilkan lewat Febri Hariyadi. Sayang, barisan penyerang yang tampil kurang tenang. Meski sempat berulang kali barisan belakang Thailand dibuat repot, mereka sesekali berani melakukan perlawanan lewat skenario serangan balik. Namun, dari sebanyak tujuh peluang yang dihasilkan, hanya satu yang on target. Usai jeda turun minum, tim merah putih tak mengendurkan serangan. Usaha tersebut akhirnya berbuah hasil. tiga menit babak kedua baru berjalan Septian David Maulana berhasil membawa keunggulan untuk skuat Garuda. Berawal dari assist yang diberikan Beto Goncalves, penyerang Mitra Kukar itu dengan cepat menceploskan bola ke gawang Thailand. Tertinggal 0-1, Thailand perlahan mulai bangkit. Lima kali pergantian pemain yang dilakukan sebelum kick off babak kedua membuat pola permainan Thailand lebih berwarna. Di menit 53, Thailand berhasil membalas sekaligus menyamakan kedudukan lewat aksi Samsern Limmwatthana, memanfaatkan kemelut di depan gawang Awan Setho. Saat waktu memasuki paruh akhir babak kedua, Milla menarik keluar sebagian pemain intinya Beto dan Septian, yang diganti Lerby dan Saddil Ramdani. Sementara Osvaldo diganti Riko SImanjuntak. Namun sepertinya pergantian tersebut urung membawa perubahan. Timnas justru kembali kebobolan di menit 89 melalui Tanasith Siripala, lewat serangan balik cepat yang mematikan. Hingga laga usai, skor 2-1 untuk Thailand tetap bertahan. Hasil ini tentu bukanlah sesuatu yang bisa dimaklumi, apalagi jika dilihat kualitas permainan Timnas jauh menurun dibanding saat mengikuti turnamen Anniversary Cup beberapa waktu lalu. Di ajang Anniversary Cup lalu, timnas boleh jadi tak mampu memenangi satu laga pun. Tetapi melihat lawannya, skuat Garuda justru sanggup mengimbangi permainan tim sekaliber Bahrain dan Korea Utara. Merujuk pada data Labbola, timnas bahkan menyandang sebagai tim dengan pertahanan terbaik, dengan hanya kebobolan satu gol saat melawan Bahrain. Jika dihitung sejak keikutsertaan di Anniversary Cup 2018, Timnas U-23 kini telah menjalani lima kali ujicoba. Dari jumlah tersebut, timnas menelan dua kali kekalahan dan tiga sisanya berakhir imbang. (Dre/Ham)

Sulit Hapus Tren Negatif Kalah Lawan Thailand, Luis Milla : Timnas U-23 Butuh Dikoreksi

Kapten Timnas U-23, Hargianto (8), gagal melakukan serangan usai ditempel ketat pemain bertahan Thailand U-23, pada Kamis (31/5) di Stadion PTIK. (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas U-23 kembali puasa kemenangan paska dipaksa takluk 1-2 melawan Thailand, pada laga uji coba. Sempat memimpin, Indonesia kebobolan dua gol setelah Thailand bermain agresif. Tampil di Stadion PTIK, Jakarta, Kamis (31/5) malam, Timnas U-23 memainkan Alberto Goncalves sejak awal laga. Dia dimainkan bersama Osvaldo Haay. Di pertandingan tersebut, Indonesia lebih dulu mengancam. Pada menit ke-7, Febri Haryadi melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti. Namun bola melenceng dari gawang Thailand. Dua menit berselang, Septian David Maulana giliran mengancam gawang tim tamu. Menerima umpan dari Febri, Septian melepaskan tendangan dari jarak dekat, namun bisa diantisipasi Worawut Namvech. Indonesia kembali mendapat peluang emas di menit ke-17, melalui Osvaldo. Usaha striker itu masih bisa diblok kiper Kwanchai Suklom. Hingga babak pertama berakhir, kedua tim masih bermain imbang 0-0. Di babak kedua, Indonesia menunjukan permainan agresif. Di menit ke-48, Septian sukses memecah kebuntuan dari umpan Beto. Sayang kedudukan tersebut tidak bertahan lama. Hanya lima menit setelah gol tersebut, Thailand menyamakan skor melalui tendangan keras Samsern Limmwatthana. Menjelang pertandingan berakhir, Thailand sukses membalik keadaan. Tim tamu kembali mencetak gol lewat Tanasith Siripala. Skor 1-2 bertahan hingga akhir laga, menandai keunggulan Thailand. Meskipun kalah, Pelatih Timnas U-23, Luis Milla Aspas menyebut para pemainnya sebenarnya mendapatkan banyak peluang mencetak gol. Namun, pelatih asal Spanyol itu mengatakan timnya harus mengakui permainan lawan yang lebih baik. “Saya bisa simpulkan ada hal-hal yang baik sepanjang pertandingan. Saya bisa sebutkan, kami mampu menciptakan peluang. Adapun lainnya lagi masih ada hal yang harus dikoreksi,” kata Milla, dalam jumpa pers seusai pertandingan. Milla mengaku gembira dengan kemampuan anak asuhnya menciptakan beberapa peluang, yang seharusnya bisa berujung gol. “Kami mencetak gol, tetapi lawan sangat baik dan kuat. Kami banyak mencetak peluang. Namun, lawan bermain sangat baik,” ucap Luis Milla. Berbeda dengan pelatih Thailand, Worrawoot Srimaka, justru menunggu laga kedua di Stadion Pakansari, Bogor. “Kami sangat menantikan laga kedua untuk pertandingan di Bogor, dan memberikan strategi dan taktik yang lebih baik lagi dari hari ini,” jelasnya. Kekalahan ini membuat Garuda Muda belum pernah menang dalam empat laga terakhir. Garuda Muda berpeluang menyudahi tren negatif mereka ketika berjumpa Thailand U-23 di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (3/6). (Dre/Ham) Susunan Pemain Timnas U-23 Pelatih: Luis Milla Aspas Awan Setho; I Putu Gede Juniantara, Victor Igbonefo, Bagas Adi Nugroho, Ricky Fajrin, Muhammad Hargianto, Zulfiandi, Osvaldo Haay, Septian David Maulana, Febri Hariyadi, Alberto Goncalves Cadangan: Teja Paku Alam, Muhammad Ridho, Andy Setyo, Lerby Eliandry, Saddil Ramdani, Gavin Kwan, Hanif Sjahbandi, Riko Simanjuntak, Hansamu Yama, Rezaldi Hehanusa Thailand U-23 Pelatih: Worrawoot Srimaka Kwanchai Suklom, Apisit Sorada, Shinnaphat Leeaoh, Chaiyawat Buran, Saringkan Promsupa, Ekanit Panya, Worawut Namvech, Sansern Limwatthana, Picha Au-Tra, Phittiwat Sookitthammakul, Poramet Arjvilai Cadangan: Anusit Termme, Nont Muangnam, Suriya Singmui, Peerawat Akkratum, Sorawit Panthong, Ratchanat Arunyapairot, Tanasith Siripala, Chatchai Saengdao, Montree Promsawat, Jakkit Wachipirom, Settawut Songsai, Reungyos Janchaichit

Tim Panahan Makin PD Ke Asian Games 2018, Diananda Choirunisa Benahi Mental Tanding

Atlet panahan Diananda Choirunisa bersiap menatap ajang Asian Games 2018 usai tampil di kejuaraan Piala Dunia di Antalya Turki. (bolapsort.com)

Jakarta- Tim nasional (Timnas) panahan Indonesia makin percaya diri usai tampil di Piala Dunia bertajuk ‘Hyunday Archery World Cup’, di Antalya, Turki, 20-26 Mei 2018. Event itu bagian dari ujicoba Timnas panahan jelang pesta multievent negara se-Asia pada 18 Agustus-2 September. Salah satu atlet panahan yang diandalkan Merah Putih untuk meraih medali Asian Games 2018, Diananda Choirunisa, mengatakan paska mengikuti try out (ujicoba) di Turki, dirinya bersama atlet lainnya makin percaya diri. “Karena di Turki itu juara-juara dunianya ikut, seperti Korea, Jepang, dan China. Di Piala Dunia, kami tahu kekuatan yang akan menjadi lawan di Asian Games nanti,” ujar atlet yang akrab disapa Nisa itu di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (30/5). “Di Turki itu, mungkin jadi ujicoba terakhir buat tim panahan, karena setelah itu tidak ada ujicoba lagi, dan persiapannya langsung ke Asian Games,” lanjutnya. Soal kendala, diungkapkan pepanah yang tahun ini bakal genap berusia 21 tahun itu, sejauh ini dapat teratasi. Namun, ia menegaskan sisa waktu yang kurang dari dua bulan pelaksanaan Asian Games 2018, dirinya fokus membenahi mental bertanding. “Fokus ke mental bertanding. Karena lawan yang dihadapi juara dunia,” tutur lajang yang menekuni olahraga panahan sejak kelas 2 Sekolah Dasar (SD) itu. “Peluang untuk mendapatkan medali bisa, dan tergantung pada kepercayaan diri masing-masing atlet saja. Kalau dari tim panahan targetnya emas,” cetus putri dari Ratih Widyanti, mantan atlet panahan asal Jawa Timur itu. Nisa menyebut Pelatnas panahan akan pindah ke daerah, sebab sebulan jelang Asian Games 2018, venue pertandingan harus steril. “Training centernya pindah ke Surabaya,” tukasnya. Disisi lain, Pelatnas yang dijalani selama Ramadhan, menurut perempuan yang sempat menekuni cabor silat itu, tak menggangu selama masa persiapan jelang pesta olahraga terbesar di Asia itu. “Selama puasa latihan tidak terganggu. Salah satunya tidak makan gorengan setelah buka puasa. Terus banyakin minum air putih sama minum vitamin saja,” papar mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur itu. (Adt)

Jalan Akses Venue Asian Games 2018 Sempit, Pemkab Tangerang Lebarkan Hingga 11 Meter

Proyek pelebaran di Jalan Tapos-Sodong, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, untuk akses menuju Venue Asian Games 2018 di SMA Adria Pratama Mulya. (tribunnews.com)

Tangerang- Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang akan melakukan pelebaran pada jalur menuju lokasi pertandingan yang terpilih sebagai penyelenggaraan Asian Games 2018 yakni, Sekolah Menengah Atas (SMA) Adria Pratama Mulya, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Pelebaran jalur akan dilakukan sepanjang satu kilometer, sedangkan pelebaran jalan menjadi 11 meter pada sebelumnya hanya selebar 3,7 meter. Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupatet Tangerang, Slamet Budhi, mengatakan kondisi jalan sekarang tak memungkinkan dilewati kendaraan peserta Asian Games 2018. “Kita sudah lihat lokasi dan melakukan rapat koordinasi dengan panitia pusat, serta dari panpel Asian Games. Kita lebarkan jalur, karena jalur saat ini sempit, tidak bisa dilewati oleh kendaraan para peserta nanti,” kata Slamet, di Kabupaten Tangerang, pekan lalu, dilansir tribunnews.com. Ia menjelaskan, nantinya pelebaran akan dilakukan dengan rincian kurang lebih 3,5 meter ke kanan dan kekiri. Untuk sistem pelebaran yang digunakan nantinya, tidaklah menggunakan beton hanya dilakukan pengerasan karena keterbatasan dana dan mepetnya waktu pelaksanaan. “Keterbatasan anggaran dan waktu akhirnya, kita lakukan perbaikan dengan model pengerasan, bukan betonisasi. Kalau betonisasi ini anggaran Rp 7,2 miliar, tapi kalau pengerasan hanya sedikit anggaran, tidak sampai segitu,” jelas Slamet. Pengerjaan jalur ini, ujar Slamet, akan dilakukan pada bulan Mei dan sehabis lebaran “Kita akan memulai pada bulan Mei, dan sehabis lebaran. Sehingga, Agustus nanti sudah bisa digunakan jalurnya untuk kedatangan atlet,” lanjutnya. Perbaikan yang dilakukan pada Jalan Tapos-Sodong, Tangerang, sepanjang satu kilometer tersebut dengan pengerasan diyakini dapat bertahan dalam jangka waktu lama, dan dapat menahan beban kendaraan yang melalui jalur tersebut. “Perbaikan ini memakan waktu satu bulan saja, untuk bertahannya bisa dalam jangka waktu yang lama, sesuai beban kendaraan yang lalui jalan itu,” terang Slamet. Lokasi jalan pun memang nampak rusak dan sempit. Namun, beberapa perbaikan mulai dilakukan. Perbaikan untuk penambahan penerangan umum mulai dilakukan kurang lebih sepanjang 200 meter dari titik tertentu, hingga pintu masuk lokasi pertandingan Asian Games 2018. Sebelumnya, Sekolah Menengah Atas (SMA) Adria Pratama Mulya, Tigaraksa terpilih sebagai venue cabang olahraga (cabor) modern pentathlon, yang terdiri dari lima nomor yakni, laser and run, renang, berkuda dan anggar. (art)

Hasil Dua Kali Ujicoba Buruk, Timnas Basket 3X3 Bidik Tembus Final Di Mongolia

Christie Apriani Rumambi dkk dibebankan target masuk final turnamen FIBA 3X3 Usia 23 Nations League 2018, di Mongolia. (mainbasket.com)

Jakarta- Dua ujicoba telah dijalani tim nasional (Timnas) 3X3 yang diproyeksikan ke ajang Asian Games 2018 yakni di FIBA 3X3 Asia Cup 2018, Shenzhen, Cina, 27 April hingga 1 Mei. Terkini, Timnas 3X3 putri Indonesia berlaga di International Women International Pro Tournament Chengdu Challanger 2018, pada 26-27 Mei. Hasil dari dua kejuaraan itu, performa pasukan Garuda masih kurang memuaskan. Fareza Tamrella, Manajer Timnas 3X3 Indonesia, mengatakan perkembangan yang didapat dari ujicoba terakhir adalah fisik dan fundamental sudah membaik bila dibandingkan saat tampil di Shenzhen, beberapa waktu lalu. “Pekerjaan rumahnya soal komunikasi tim dan mental bertanding yang lebih ditingkatkan lagi,” ujar Fareza, Kamis (31/5). Kini, skuat Merah Putih yang dihuni 8 pemain (4 putra dan 4 putri) yakni Tri Saputra, Erick Gozal, Reza Fahdani Guntara, dan Kevin Moses Poetiray dibagian putra. Dan, Christie Apriani Rumambi, Regita Pramesti, Dewa Ayu Made Sriartha Kusuma Dewi serta Jovita Elizabeth, dibagian putri. Anak asuh Wahyu Widayat Jati akan kembali mengikuti kejuaraan FIBA 3X3 Usia-23 (U-23) Nations League 2018 di Mongolia, pada 1-3 Juni. Di Mongolia, mereka dibebani target tinggi tembus ke partai final. Target itu beralasan, sebab mereka bakal bertem lawan yang setingkat. “Untuk turnamen FIBA 3X3 U-23 Nations League ini, kami ingin tampil babak final. Karena mereka akan bertanding dengan lawan-lawan yang sepadan,” cetus Fareza. (Adt)

Punya Venue Boling Terbaik Di Dunia, Jadi Motivasi Atlet Penuhi Target Dua Emas Asian Games 2018

Menpora Imam Nahrawi meresmikan Jakabaring Boling Center di Jakabaring Sport City, yang menjadi venue boling termegah dan terbaik di dunia. (Kemenpora)

Palembang- Venue Jakabaring Boling Center di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), merupakan salah satu yang termegah dan terbaik di dunia. Keberadaan venue ini diharapkan menjadi motivasi para atlet boling Indonesia untuk memenuhi target dua medali emas Asian Games 2018. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi mengatakan fasilitas itu akan menjadi daya dorong mencetak prestasi terbaik. “Saya konsen tembus 10 besar atau 16 medali emas. Dua di antaranya dari boling,” ujar Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (30/5). Arena boling ini merupakan hibah dari Asia Pulpen & Paper (APP) Sinar Mas. Dengan memiliki arena terbaik di dunia, Imam menegaskan para atlet juga harus menciptakan prestasi maksimal. Selain itu, ia meminta masyarakat khususnya di Sumsel untuk mendoakan para atlet yang berlaga di pesta olahraga terbesar negara-negara se-Asia pada Agustus-September mendatang. “Sumsel adalah provinsi yang menjadi salah satu tuan rumah Asian Games. Saya harap seluruh masyarakat Sumsel juga ikut mendoakan Asian Games agar berjalan sukses,” tutur menteri berusia 44 tahun itu. Sementara, Saleh Husin, Manajer Direktur Sinar Mas, mengungkapkan pihaknya sebagai mitra official Asian Games 2018 akan memberikan kontribusi terbaik melalui berbagai bentuk dukungan dan salah satunya pembangunan Jakabaring Boling Center. Jakabaring Boling Center memiliki luas bangunan sekitar 4.200 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 2,8 hektar. Arena ini memiliki 40 line, dan menjadi jumlah terbanyak dari rata-rata boling center lainnya yang hanya memiliki 20-30 line. Sedangkan total anggaran yang dialokasikan APP Sinar Mas dalam membangun Jakabaring Boling Center senilai Rp 27 miliar. “Kami bangga karena bisa ikut mensukseskan Asian Games. Ini adalah bagian komitmen kami untuk ikut memajukan olahraga di Indonesia,” tukas Saleh. (Adt)

Defia Rosmaniar Raih Emas Di Kejuaraan Asia, PBTI : Event Ini Barometer Peserta Asian Games

Atlet taekwondo Defia Rosmaniar (kedua dari kiri) meraih medali emas di Kejuaraan Asia Taekwondo 2018, di Ho Chi Minh, Vietnam, 24-28 Mei. (kompas.id)

Jakarta- Defia Rosmaniar, atlet kelahiran Bogor, Jawa Barat, 23 tahun silam, sukses meraih medali emas di Kejuaraan Asia Taekwondo 2018, di Ho Chi Minh, Vietnam, 24-28 Mei. Ia meraih emas di nomor individual poomsae putri dengan memeragakan pyongwon dan bigak dengan power dan jurus nyaris sempurna. Tak hanya emas, berpasangan dengan Muhammad Abdurahmman Wahyu, atlet yang meraih dua emas pada Test Event Asian Games (Invitation Tournamen) itu juga mengantongi perunggu di kategori pair poomsae. Zulkifli Tanjung, Ketua Harian Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), mengatakan keberhasilan tim nasional (timnas) taekwondo Indonesia di ajang Asian Taekwondo Championships 2018 akan membangkitkan moral, motivasi, serta kepercayaan diri bagi para atlet. “Semua peta kekuatan atlet yang akan bertanding di Asian Games, terukur disini. Semua negara peserta di kejuaran Asia ini, menjadikan ajang ini sebagai barometer kesiapannya,” ujar Zulkifli, akhir pekan lalu. Ia menilai pencapaian atlet pada Kejuaraan Asia sangat positif serta memberikan momentum strategis bagi atlet dan pelatih guna mengoptimalisasi penampilan. “Prestasi Defia dan atlet lainnya juga sangat berpengaruh bagi mentalitas dan kepercayaan diri mereka,” cetusnya. “Intinya, hasil terbaik yang di capai Defia dan atlet lainnya di kejuaraan Asia ini akan menambah optimisme kita untuk bisa memberikan yang terbaik di Asian Games, Agustus nanti,” tukasnya. Selain itu, Merah putih juga mengoleksi satu perunggu melalui Dhean di kategori Kyorugi kelas -49 kg putri. Sementara, Rahmi Kurnia, Manajer Tim Taekwondo Indonesia, menyatakan keberhasilan Defia meraih emas di kejuaraan tingkat Asia menjadi sejarah tersendiri bagi Merah Putih. “Ini salah satu tolok ukur taekwondo Indonesia untuk yakin dan optimistis merebut medali di ajang Asian Games 2018,” imbuh Rahmi. Terlebih, menurutnya, inilah pertama kali timnas taekwondo Indonesia merebut dominasi atlet kelas dunia seperti Korea Selatan, Iran, dan Thailand. “Pencapaian dalam bentuk konsistensi performa Defia perlu terus dipertahankan hingga saatnya nanti dirinya bertarung di ajang Asian Games,” tukas Rahmi. (Adt)