Langkah Unggulan Satu Rehan/Fadia Belum Terbendung, Kontra China Dibabak 16 Besar

Duet campuran unggulan petama sekaligus juara bertahan, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti, belumt terbendung usai kandaskan wakil Jepang, Yuta Takei/Rumi Yoshida, dua gim langsung, dalam tempo 20 menit, 21-16 dan 21-13. (Pras/NYSN)

Jakarta- Langkah unggulan satu sekaligus juara bertahan Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti, masih belum terbendung di ajang perseorangan Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018, di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Tangerang Selatan, Banten, pada Rabu (18/7). Di babak 32 besar, ganda campuran ini sukses menyingkirkan wakil Jepang, Yuta Takei/Rumi Yoshida, dua gim langsung, dalam tempo 20 menit, 21-16 dan 21-13, setelah di babak pertama (64 besar) mendapat bye. Fadia mengatakan bila bersama rekan duetnya bermain nyaman di gim pertama, bahkan sudah mengetahui araih angin. Namun, ia terkadang kerap ‘mati angin’ sendiri. “Tadi masih bisa kami atasi. Untuk lawan hari ini serangannya lumayan bagus. Poin-poin awal sempat belum ngerti juga mainnya,” ujar Fadia usai laga. Hal senada dikatakan Rehan. Ia menyebut pada pertandingan ini beberapa kali servis-nya masih kurang enak. “Mudah-mudahan besok bisa lebih baik lagi. Lebih tenang dan nggak terburu-buru,” tambah Rehan. Di babak ketiga (16 besar), Rehan/Fadia ditantang wakil China Ruohan Guo/Lin Fangling, yang menang atas dobel Srilanka Tharindu Nethmina Ambegoda/Anurangi Masakorala, straight game, 21-11 dan 21-11, dalam waktu 17 menit. Melawan wakil Negeri Tirai Bambu, Rehan menegaskan tetap fokus dan enggan menganggap remeh lawan serta tak ingin terbebani dengan status juara bertahan. “Intinya jangan menganggap remeh lawan. Tetap fokus dan jangan terbebani hanya karena tahun lalu kami juara. Kata pelatih haris main lepas saja,” tambah Rehan. Menemani Rehan/Fadia, duet Pramudya Kusumawardana Riyanto/Ribka Sugiarto juga lolos ke babak tiga. Mereka bakal berhadapan dengan Lui Chun Wai/Yeung Pui Lam, Hong Kong. “Besok, kami harus main lebih lepas lagi, dan nggak usah mikirin menang kalah. Yang peting kasih yang terbaik aja,” ujar Ribka. (Adt)

Duet Kembar 17 Tahun, Tampil Sensasional di Dua Nomor Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018

Petenis kembar DKI Jakarta berusia 17 tahun, Fitriani Sabatini (kiri) dan Fitriana Sabrina, saat tampil dalam Turnamen Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018. (gosumut.com)

Jakarta- Petenis andalan Indonesia, Aldila Sutjiadi (23 th) optimistis mampu melewati babak kedua turnamen berlabel Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018 di lapangan tenis The Sultan Hotel Jakarta, Kamis (19/7). Unggulan keenam itu bakal menghadapi wakil Kazakhstan, Zhibek Kulambayeva. Anggota skuad Merah Putih yang akan berlaga di ajang Asian Games 2018 itu merasa yakin bisa lolos ke babak perempat final karena pernah mengatasi Zhibek, dalam turnamen di Hua Hin, Thailand, awal 2018 ini. “Setidaknya saya memiliki gambaran tentang permainannya dan bagaimana cara untuk menghentikannya. Saya yakin bisa kembali menang atasnya,” tutur juara tunggal seri pertama di Solo, yang ketika itu unggul straight set dengan skor 6-1 6-2. Di nomor ganda, Aldila yang berduet dengan wakil Belanda, Arianne Hartono, bakal menantang pasangan gado-gado yang menempati unggulan ketiga, pada kejuaraan berhadiah total 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta, Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang). Sementara itu, petenis kembar 17 tahun asal DKI Jakarta, Fitriana ‘Ana’ Sabrina dan Fitriani ‘Ani’ Sabatini, bakal melakoni jalan terjal di turnamen ITF Women’s Circuit seri kedua di Tanah Air ini. Di nomor tunggal, Ana menantang unggulan kedelapan dari India, Mahak Jain, dan Ani musti berjibaku kontra seeded kedua asal Jepang, Michika Ozeki. Dobel Ana dan Ani di nomor ganda, bakal terlibat bentrok dengan unggulan teratas, Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India). “Meski tampil di dua momor, kami coba segala daya upaya memenangi pertandingan babak kedua itu,” tekad Ana dan Ani hampir berbarengan, pada Rabu (18/7). Kubu tuan rumah gagal menambah wakil di babak kedua turnamen sebagai ajang uji coba petenis putri Indonesia, jelang Asian Games 2018. Rabu (18/7), Rifanty Kahfiani kandas di tangan seeded keempat, Kanika Vaidya (India) 0-6 6-4 3-6, sedangkan Deria Nur Haliza takluk dari Sai Samhitha Chamarthi (India) 0-6 1-6. Turnamen Pelti – Widya Chandra Women’s Circuit International Tennis 2018 di Jakarta, merupakan seri kedua ITF Pro Circuit dan turnamen khusus putri di Tanah Air, setelah sebelumnya bergulir di Solo, pekan lalu. Petenis dari 11 negara ikut menyemarakkan kejuaraan yang akan berlangsung hingga Minggu (23/7). (Adt) Hasil Rabu (18/7) Babak Pertama Tunggal Mana Ayukawa (Jepang) v Jiakang Li (China) 6-4 6-2 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) v Rishika Sunkara (India) 6-1 6-3 Suzuho Oshino (Jepang) v Chihiro Takayama (Jepang) 6-7(5) 6-3 6-2 5-Ayako Okuno (Jepang) v Ani Vangelova (Bulgaria) 6-1 6-1 Sai Samhitha Chamarthi (India) v Deria Nur Haliza 6-0 6-1 4-Kanika Vaidya (India) v Rifanty Kahfiani 6-0 4-6 6-3 Ganda 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (China) v Suzuho Oshino (Jepang)/Yuqi Sheng (China) 3-6 6-3 [14-12] 2-Rio Kitagawa (Jepang)/Ani Vangelova (Bulgaria) v Qianxin Kong (China)/Ho Ching Wu (Hong Kong) 6-4 6-3 Jadwal Kamis (19/7) Babak Kedua Tunggal 1-YeXin Ma (China) v Arianne Hartono (Belanda) Mana Ayukawa (Jepang) v 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) 3-Zeel Desai (India) v Zhuoma Ni Ma (China) Suzuho Oshino (Jepang) v 5-Ayako Okuno (Jepang) 8-Mahak Jain (India) v Fitriana Sabrina Sai Samhitha Chamarthi (India) v 4-Kanika Vaidya (India) 6-Aldila Sutjiadi v Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) Fitriani Sabatini v 2-Michika Ozeki (Jepang) Perempat Final Ganda 1-Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India) v Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (Tiongkok) v Sai Samhitha Chamarthi/Rishika Sunkara (India) Arianne Hartono (Belanda)/Aldila Sutjiadi v 3-Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang) Zhuoma Ni Ma/Mi Zhuoma You (China) v 2- Rio Kitagawa (Jepang)/Ani Vangelova (Bulgaria)

Tetesan Air Mata Lalu Muhammad Zohri, Apresiasi dan Beban Berat Di Pundaknya

Sprinter muda Lalu Muhammad Zohri siap berlaga di Asian Games 2018 usai menjadi juara dunia di Tampere, Finlandia. (Kemenpora)

Jakarta- Kedatangan Lalu Muhammad Zohri ke Tanah Air disambut meriah. Kalungan bunga dan uang pembinaan dari pemerintah sebesar Rp 250 juta serta tabungan emas 1 kg dari salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) didapat. Belum lagi beberapa sponsor yang lainnya. Bahkan, orang nomor satu di negeri ini, Presiden Joko Widodo, memerintahkan Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) untuk membangun rumah sprinter muda itu di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Itu semua ‘buah’ keberhasilannya sebagai juara dunia nomor 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20, di Tampere, Finlandia, pekan lalu. Dari catatan resmi Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAAF), dalam 32 tahun penyelenggaraan, prestasi terbaik Indonesia hanya mampu menembus peringkat 8 babak penyisihan, pada 1986. “Saya tak menyangka mendapat sambutan seperti ini. USoal pembangunan rumah, saya banyak kenangan dengan rumah itu, terutama ingat ibu dan bapak saya. Terima kasih kepada semuanya yang menyambut saya,” ujar Zohri lirih seraya meneteskan air mata, di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (17/7) malam. “Saya tidak pernah menyangka (juara). Namun saya percaya diri dan yakin pertolongan Tuhan. Saya bersyukur kepada Allah bisa menjadi juara,” tuturnya. Lahir di Lombok, NTB, 1 Juli 2000, remaja yang akrab disapa Badok ini, merupakan anak ketiga dari Lalu Muhammad (ayah) dan Saeriah (ibu). Pria berpostur tegap itu ditinggal ibundanya sejak bangku SD (sekolah dasar). Dan, setahun yang lalu, ayahnya meninggal dunia. Ia kini tinggal bersama saudaranya yakni Baiq Fazilah, Lalu Ma’arif, dan Baiq Fujianti, di rumah sangat sederhana, di Karang Pangsor. Zohri bergabung di pelatnas atletik pada 2017. Adalah Mohammad Hasan, atau akrab disapa Bob Hasan, orang yang berjasa besar atas prestasi fenomenal Zohri. Ia merupakan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI). Bob Hasan telah membina atletik selama empat dasawarsa. Bekerja denga hati. Menteri Perindustian dan Perdagangan era Presiden Soeharto itu melakuan pencarian talenta muda berbakat ke pelosok, serta pusat pendidikan latihan dan pelajar (PPLP), dan menggelar kejuaraan nasional (Kejurnas). Seluruh biaya dikeluarkan melalui kantong pribadi pria kelahiran 1931 ini. Soal prestasi Zohri, pria asal Semarang, Jawa Tengah itu mewanti-wanti, agar Zohri diberikan dukungan bukan pujian berlebihan. “Jangan dipuji-puji. Nanti kepalanya besar. Jadi tegang, malah kalah,” cetusnya, beberapa waktu lalu. Kini, Zohri menanggung beban berat dipundaknya. Kurang dari satu bulan, ia akan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018. Di pesta multievent empat tahunan itu punya tantangan besar. Sebab, berhadapan dengan pelari-pelari senior sekaligus para pesaingnya. Catatan waktu Zohri yakni 10,18 detik saat di Finlandia, masih kalah jauh dibandingkan Femi Ogunade. Sprinter asal Qatar ini adalah kampiun Asian Games 2014 pada nomor yang sama. Ogunade meraih emas dengan catatan waktu 9,93 detik. Tak hanya emas, tapi ia mencatatkan namanya dalam rekor pelari 100 meter tercepat di Asia. Di peringkat kedua, ada sprinter asal China, Su Bingtian. Rekor Su Bingtian adalah 10,10 detik. Diikuti Kei Takase dari Jepang, yang mendapat medali perunggu dengan waktu 10,15 detik. Dari statistik ini, Zohri belum memiliki catatan waktu yang lebih cepat, dari tiga besar juara nomor 100 meter Asian Games 2014 itu. (Adt) Catatan Prestasi Zohri: 1. Juara 1 Kejuaraan Nasional PPLP (Pusan Pendidikan dan Latihan Pelajar) nomor 100 meter (10,25 detik) 2. Emas Kejuaraan Atletik Asia Junior nomor 100 meter (10,27 detik) di Gifu, Jepang 3. Emas Westwood Rafer Johnson & Jackie Joyner-Kersee Invitational nomor 100 meter (10,36 detik) di Amerika Serikat 4. Perak Test Event Asian Games 2018 nomor 100 meter (10,32 detik) 5. Emas Kejuaraan Dunia Atletik U-20 nomor 100 meter (10,18 detik) di Tempere, Finlandia

Sandang Juara Dunia, Percasi Siap Kirim Pecatur 10 Tahun Samantha Edithso ke Turnamen Internasional

Samantha Editsho, pecatur cilik asal Bandung, Jawa Barat, merupakan atlet catur nomor satu di dunia, untuk kelompok umur U-10, berdasarkan Elo Rating.(pepnews.com)

Jakarta- Usianya baru 10 tahun, namun prestasinya sudah gemilang. Bukan lagi di tingkat nasional, tapi level dunia. Ia adalah Samantha Edithso. Pecatur belia asal Bandung, Jawa Barat (Jabar), yang menyandang gelar juara dunia FIDE World Rapid Cadet Championship 2018, kategori usia (U) 10 tahun, di Minsk, Belarusia. Saat berlaga di Negara Eropa Timur itu, Samantha tak terkalahkan oleh lawan-lawannya, pada kejuaraan yang berlangsung 9 babak Sistem Swiss itu. Dalam sembilan partai yang ia mainkan ia sukses mengumpulkan 8,5 poin. Satu-satunya hasil remis atau imbang, didapatnya saat mengalahkan Afruza Khamdamova, dari Uzbekistan di babak ketiga. Padahal, prestasi Afruza tak bisa dianggap remeh, karena bergelar WCM, yang juga merupakan FIDE World School Chess Championship 2017. Tapi, ini bukanlah satu-satunya prestasi yang diukir Samantha. Sebelumnya, ia meraih medali emas catur kilat, di ajang Asian School Championship G-17 Blitz 2017, di Panjin, Provinsi Liaoning, China. Hebatnya, di ajang yang diikuti 400 pecatur dari 23 negara itu, gadis cilik berparas menggemaskan ini mengalahkan pesaing beratnya, yakni pecatur asal Filipina, WFM Doroy Allaney Jia. Samantha juga merupakan atlet catur nomor satu di dunia, untuk kelompok umur U-10, berdasarkan Elo Rating. Awalnya, Samantha ditemukan oleh Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) saat mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur pada 2016. Samantha yang kala itu masih berumur 8 tahun, mulai terlihat bakatnya karena saat mengikuti Kejurnas tersebut, dan turun di kategori kelompok umur 12 tahun. Menanggapi hal ini, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Besar (PB) Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), Kristianus Liem berpendapat Samantha memang memiliki bakat yang mampu bersaing dengan atlet-atlet dengan kelompok usia lebih tua darinya. Usianya yang masih muda bukan menjadi penghambat untuk bermain bagus. “Mainnya bagus. Untuk level usia 17 tahun Indonesia saja, dia mainnya bersaing dan menjadi runner up,” ucap Kristianus. Prestasi sensasional Samantha menjadi sebuah kebanggaan bagi Indonesia. Prestasi Samantha seolah melanjutkan estafet para seniornya sejak Utut Adianto, Susanto Megaranto, hingga Irene Kharisma Sukandar. “Indonesia kembali punya juara dunia sejak 1989 atas nama Irwin Irnandi (juara dunia catur kelas junior di aguadilla, Puerto rico). Itukan putra. Tapi, kini kami punya yang putri,” ujar Kristianus, Selasa (17/7). Diakuinya, pihaknya melakukan pembinaan pada Samantha sejak 2016. Bahkan, menghadirkan pelatih kelas dunia untuk anak didiknya itu. “Kami akan terus kirim Samantha bertanding di berbagai turnamen di Asia dan dunia. Pada 1-9 Agustus, ia ikut Asian Youth Chess Championship. Dan kami naikan kategorinya yakni U-12 tahun,” lanjutnya. “Pada November nanti, ia kami kirim mengikuti nomor catur klasik di Spanyol. Saat di Belarusia itu, Samantha turun di nomor catur cepat. Harapannya, skill yang dimiliki Samantha tetap terjaga, dan terus meningkat,” pungkas Kristianus. (Adt)

Beri Peluang Jadi Pebasket Profesional, IBL dan Liga Mahasiswa Sinergi Jaring Rookie 2018-2019

Ryan Gozali, CEO Liga Mahasiswa (kiri) dan Hasan Gozali, Direktur IBL, kini bersinergi menjaring mahasiswa atlet berprestasi guna berkarir menjadi pebasket profesional mulai musim 2018/2019. (Pras/NYSN)

Jakarta- Demi menyemarakkan kompetisi bola basket tertinggi di Tanah Air, Indonesia Basketball League (IBL) terus mencari dan membentuk bintang-bintang baru. Salah satunya dengan menjaring para talenta muda dengan kemampuan mumpuni, untuk bergabung dengan IBL. Hasan Gozali, Direktur IBL, mengatakan pihaknya menjalin sinergi dengan Liga Mahasiswa (LIMA) menyeleksi para mahasiswa yang berlaga di kompetisi LIMA untuk dijaring masuk dalam draft rookie IBL. “Kami akan menjaring pemain yang kemudian akan disaring hingga 40 pemain untuk di draft,” ujar Hasan, di Kawasan Slipi, Jakarta, Selasa (17/7). Nantinya, sebut Hasan, calon pemain harus bersedia mengikuti combine yang akan diadakan di Jakarta pada 2-9 September 2018. “Mereka akan mendapatkan pelatihan dari instruktur FIBA serta beberapa pelatih lokal,” tambahnya. Namun, untuk lolos draft rookie IBL, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi para pemain yang berasal dari LIMA. Diantaranya berusia minimal 19 tahun dan telah mengikuti kompetisi LIMA minimal dua musim. Selain itu, draft rookie membuka peluang bagi pemain di luar LIMA dengan syarat minimal berusia 21 tahun, serta minimal pernah ikut kompetisi yang diselenggarakan oleh Perbasi (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia). Sementara, bagi peserta yang berasal dari LIMA dapat mendaftar melalui LIMA. Dan, dari luar jalur LIMA, para peserta bisa mendaftar melalui Pengurus Provinsi (Pengprov) Perbasi, di daerah masing-masing. Untuk pendaftaran draft rookie dimulai selama satu bulan sejak 17 Juli, dan terakhir pada 17 Agustus 2018. Ryan Gozali, CEO Liga Mahasiswa, mengungkapkan pihaknya menyambut baik kerjasama dengan IBL. Menurutnya, kerjasama ini memberi kondisi ideal sebagai wadah pembinaan mahasiswa atlet. “Draft akan memberikan kesempatan yang baik kepada para mahasiswa atlet bola basket yang tampil cemerlang dalam kompetisi LIMA guna melanjutkan karier di dunia olahraga profesional,” tukas Ryan. George Fernando Dendeng, Perwakilan PB Perbasi, menegaskan banyak potensi yang dimiliki dari kompetisi LIMA, yang secara rutin bergulir. “Ini kesempatan besar bagi mereka untuk bisa masuk ke IBL. Kelak tak ada lagi kekurangan pemain yang berkualitas dan nantinya mereka memilih jalur profesional,” pungkas George. (Adt)

Bermain Taktis, Siswi SMAN 10 Tangsel Bawa Tim Beregu Indonesia Lolos Semifinal Kejuaraan Asia Junior 2018

Tunggal putri tim beregu Indonesia, Putri Kusuma Wardani, bermain apik saat menyudahi perlawanan single Thailand, Phittayaporn Chaiwan, dalam tempo 43 menit, dengan skor 21-16 dan 21-17. (Humas PBSI)

Tangerang Selatan- Tim junior bulutangkis Indonesia memastikan tiket semifinal usai menekuk Thailand 3-1 pada nomor beregu Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulutangkis Junior Asia 2018, di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Tangerang Selatan, Banten, Senin (16/7) pagi. Skuat Garuda muda meraih angka pertama dari Putri Kusuma Wardani. Siswi kelas 11 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 10 Tangerang Selatan (Tangsel) ini menang dua gim langsung atas wakil Negeri Gajah Putih, Phittayaporn Chaiwan, dalam tempo 43 menit, dengan skor 21-16 dan 21-17. “Saya main sabar aja di lapangan. Soalnya dia mainnya safe. Saya harus bisa lebih sabar meladeni dia, sampai dia nggak tahan sendiri. Saya sebelumnya sudah tanya-tanya juga dengan teman yang pernah lawan dia. Pukulannya arahnya suka nggak kelihatan,” ungkap Putri dalam laman PBSI. Putri berhasil membawa keunggulan buat Indonesia, 1-0. Ia menyumbangkan poin bagi timnya untuk memperebutkan posisi ke semifinal. “Tadi saya tampil percaya diri aja. Pengen mengalahkan lawan,” sambung atlet kelahiran 2002 tersebut. Namun, Indonesia gagal mencuri angka di partai kedua. Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay harus takluk dari tunggal Thailand, Kunlavut Vitidsarn. Penghuni Pelatnas PBSI Cipayung Jakarta itu kalah lewat pertarungan berdurasi 42 menit, 15-21 dan 15-21. Akibatnya, skor imbang 1-1. Ricky Soebagja, wakil manajer tim Indonesia, menyebut sesuai analisa pelatih, status tunggal putra dan putri Thailand lebih unggul. Sehingga, dikatakan Ricky, kekuatan Indonesia terletak di sektor ganda. “Kekuatan kami ada di ganda, jadi kalau bisa, kami curi satu poin dari tunggal. Penampilan dari tunggal putri tadi luar biasa, kami sangat mengapresiasi. Kuncinya tadi di ganda, dan itu tidak boleh meleset,” ujar pria berusia 47 tahun itu, Senin (16/7). Diungkapkannya, secara keseluruhan penampilan tunggal putra di luar harapan. Terlebih, kerap melakukan kesalahan dan banyak mati sendiri. “Pemain Thailand sepertinya tak memiliki kesulitan berarti menghadapi Indonesia,” cetus mantan rekan duet Rexy itu. Memainkan laga ketiga, duet Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti berhasil mengantongi kemenangan usai melumpuhkan Benyapa Aimsaard/Chasinee Korepap, dalam waktu 34 menit, dengan skor 21-17 dan 21-17. Begitu juga dengan dobel Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana Riyanto. Mereka mengandaskan duo Thanawin Madee/Wachirawit Sothon, rubber game, selama 54 menit, dengan skor 21-14, 21-23, dan 21-15. Raihan dua kemenangan di ganda putra dan putri, Indonesia memastikan lolos ke semifinal setelah menang 3-1 atas Thailand. Akibatnya, partai kelima yang sedianya mempertemukan pasangan Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti dengan Phittayaporn Chaiwan/Kunlavut Vitidsarn tak dimainkan karena sudah tak berpengaruh. (Adt) Hasil Pertandingan Indonesia vs Thailand : Tunggal Putri Putri Kusuma Wardani Vs Phittayaporn Chaiwan (21-16, 21-17) Tunggal Putra Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay Vs Kunlavut Vitidsarn (15-21, 15-21) Ganda Putri Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti Vs Benyapa Aimsaard/Chasinee Korepap (21-17, 21-17) Ganda Putra Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana Vs Thanawin Madee/Wachirawit Sothon (21-14, 21-23, 21-15) Ganda Campuran Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti Vs Phittayaporn Chaiwan/Kunlavut Vitidsarn (tidak dimainkan)

Lumat Unggulan Satu Asal Denmark, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja Rengkuh Gelar Thailand Open 2018

Ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja sukses menjuarai Thailand Terbuka 2018 usai menekuk unggulan satu asal Denmark, Chris Adcock/Gabrielle Adcock, dua game langsung, 21-12 dan 21-12. (Pras/NYSN)

Bangkok- Jepang berjaya pada ajang Thailand Terbuka 2018. Pada laga final, Minggu (15/7), wakil Tim Matahari Terbit membawa pulang tiga gelar. Total, hanya dua negara yang mampu meraih titel pada turnamen ini. Dua gelar lainnya diraih tim Indonesia, melalui nomor ganda campuran dan ganda putri. Duet Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja merengkuh gelar Thailand Open 2018, pada Minggu (15/7). Di partai pamungkas, duet Merah Putih yang berada di ranking 11 dunia versi BWF itu melumat unggulan satu asal Denmark, Chris Adcock/Gabrielle Adcock, straight game, 21-12 dan 21-12, dalam tempo 28 menit. Kemenangan ini sekaligus membuat Hafiz/Gloria memimpin rekor pertemuan dengan dobel Denmark penghuni ranking 6 dunia versi BWF itu menjadi 1-0, sekaligus menjadi gelar pertama sejak mereka diduetkan. Prestsi Hafiz/Gloria tengah menunjukan grafik peningkatan. Pekan lalu, di turnamen Indonesia Open 2018, Hafiz/Gloria menembus semifinal sebelum ditaklukan seniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kebahagiaan juga dirasakan Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Menempati unggulan 4 turnamen, Greysia/Apriyani mematahkan perlawanan wakil Jepang sekaligus unggulan 3 turnamen, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, straight game, 21-13 dan 21-10, dalam waktu 53 menit. Sebelumnya, kedua pasangan ini pernah berjumpa sebanyak 5 kali. Dan, tak sekalipun duet Pelatnas PBSI Cipayung itu meraih kemenangan atas Misaki/Ayaka. Sementara itu, tunggal putra Tommy Sugiarto harus menelan pil pahit. Putra dari juara dunia Icuk Sugiarto itu kandas di tangan wakil Jepang Kanta Tsuneyama, lewat rubber game berdurasi 58 menit, dengan skor 16-21, 21-13, dan 9-21. Berdasarkan catatan, ini merupakan pertemuan pertama bagi kedua pemain. Dengan demikian, Kanta memimpin rekor pertemuan 1-0 atas pebulutangkis Indonesia yang kini bertengger di ranking 15 dunia versi BWF itu. Sementara itu, gelar tunggal putri menjadi milik wakil Jepang Nozomi Okuhara, yang tampil mengejutkan mengalahkan unggulan 2 turnamen asal India, Pusarla V. Sindhu, 21-15 dan 21-18, dalam waktu 50 menit. Sedangkan gelar ganda putra diraih dobel Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, unggulan satu turnamen yang menyingkirkan kompatriotnya, Hiroyuki Edo/Yuta Watabe, 21-17 dan 21-19, dalam waktu 44 menit. (Adt) Hasil lengkap final Thailand Terbuka 2018 Ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja Vs Chris Adcock/Gabrielle Adcock (Inggris) 21-12, 21-12 Ganda Putra Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang) Vs Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe 21-17, 21-19 Ganda Putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu Vs Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi 21-13, 21-10 Tunggal Putra Kanta Tsuneyama (Jepang) Vs Tommy Sugiarto 21-16, 13-21, 21-9 Tunggal Putri Nozomi Okuhara (Jepang) Vs Pusarla V. Sindhu (India) 21-15, 21-18

Kampiun Kejuaraan Dunia Basket Antar SMA, Tim Basket Sekolah Kharisma Bangsa Dapat Pelajaran Penting Dari Perancis

Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa (putih) sukses jadi kampiun usai menaklukan Paris University Club, 48-35, di laga final Kejuaraan Basket antar SMA, di Paris, Perancis, 6-13 Juli 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa jadi kampiun Kejuaraan Dunia Basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA) Divisi 2, di Paris, Perancis, usai menaklukan tim tuan rumah Paris University Club, pada Kamis (12/7). Di partai puncak, Mohammed Aofar Hedyan dan kolega tampil superior, dan menang dengan skor 48-35. Ari Adiska, Juru Racik Tim, mengatakan pada laga final kontra Paris University Club anak didiknya mampu menerapkan kerja sama tim dengan baik. Selain itu, menurutnya, semua pemain cadangan sangat siap dan bisa saling melengkapi. “Team work berjalan baik. Terjalin saling pengertian diantara sesama pemain. Begitu juga dengan pemain bench (cadangan). Mereka sangat siap serta saling melengkapi. Tidak banyak berbuat kesalahan,” ujar Ari, Minggu (15/7). Pelatih berpostur tinggi tegap itu, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pemain. Ia menyebut beberapa pemain di skuatnya mampu tampil gemilang sejak awal laga hingga ke partai puncak dan meraih juara. “Bila diawal pertandingan stamina jadi bahan evaluasi tim, namun, di final kemarin hal itu bisa kami atasi dengan cara merotasi pemain, meskipun mereka hanya bermain tiga menit, tapi efektif,” ungkapnya. Ia menilai ada beberapa pemain yang penampilannya menonjol seperti Aofar, yang sejak awal bermain sangat bagus. Kemudian Syekhan Manzis Effendy, di awal pertandingan tampil kurang baik, tapi di pertandingan kedua dan terakhir bermain sangat rapi. Lalu, Muhammad Saddam Pandu Sutreisno. Meski posturnya lebih kecil dari teman-temanya, tapi dia banyak melakukan rebound. Tapi, Ari menilai secara keseluruhan semua pemain berjuang, kerja keras, dan bisa mengeluarkam kemampuan yang dimilikinya secara maksimal. Baginya berlaga di Kejuaraan Dunia Basket antar SMA di Paris, Perancis, banyak mendapatkan pelajaran penting bagi dirinya maupun anak didiknya. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu hingga timnya berlaga Kejuaraan Dunia Basket antar SMA, di Paris, Perancis, selama satu pekan. “Kami banyak pelajaran penting selama di Paris. Salah satunya simple basket. Mereka tidak banyak melakukan drible, tidak gaya-gayaan dalam bermain, dan banyak shooting,” tukasnya. “Meski juara Divisi 2, tapi bagi kami ini sebuah kebanggaan yang sangat besar. Banyak ilmu yang bisa didapat. Apalagi, Indonesia berada diperingkat 113, sedangkan Perancis berada di urutan 2 dunia, di bawah Amerika Serikat. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu sehingga kami bisa berlaga di Kejuaraan Dunia Basket antar SMA, di Paris, Perancis, tahun ini,” pungkasnya. (Adt)

Laga Perdana Mulus, Tim Beregu Junior Indonesia Cukur Singapura 5-0

Tunggal junior Indonesia, Putri Kusuma Wardani (kiri), memastikan kemenangan Indonesia 3-0 atas Singapura, usai menaklukan Insyirah Khan, 21-14 dan 21-16, pada Minggu (15/7). (Adt/NYSN)

Jakarta- Indonesia berhasil menang telak 5-0 atas Singapura pada laga perdana nomor beregu Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018, di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Minggu (15/7) pagi. Angka pertama Merah Putih disumbang duet campuran Ghifari Anandaffa Prihardika/Lisa Ayu Kusumawati. Mereka menang dua gim langsung, 21-18 dan 21-12 atas wakil Singapura, Han Zhuo Toh/Zhi Rui Bernice Lim, dalam pertarungan berdurasi 27 menit. Indonesia memimpin 1-0. Di pertandingan kedua, tunggal putra Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay menambah angka bagi Indonesia menjadi 2-0. Ia menang straight game dari Jia Wei Joel Koh, 21-13 dan 21-15, dalam waktu 41 menit. Dipertandingan ketiga, Putri Kusuma Wardani memastikan skor 3-0 atas Singapura. Tunggal junior itu berhasil memenangi duel selama 40 menit dengan Insyirah Khan, dua gim langsung, 21-14 dan 21-16. “Gim pertama masih enak mainnya. Tapi, di gim kedua bermain sedikit tegang. Dan, pelatih nyuruh saya tingkatkan lagi dan kasih tekanan ke lawan. Kebetulan lawan juga tak memiliki daya tahan yang bagus. Sehingga saya bisa unggul dan menang di pertandingan tadi,” ujar dara kelahiran Tangerang, Banteng, 20 Juli 2002 itu. Siswi kelas 11 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 10 Tangerang Selatan (Tangsel) itu, berjanji akan terus memberikan penampilan terbaik pada setiap laga yang dilakoninya. “Di pertandingan selanjutnya, saya akan terus berusaha untuk tampil lebih baik lagi. Masih ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki. Mudah-mudahan bisa terus meraih kemenangan pada setiap laga,” cetus Putri. Dobel Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana Riyanto, yang turun dipertandingan keempat, menyusul rekan-rekannya dalam meraih kemenangan. Rehan/Pramudya berhasil melumpuhkan perlawanan Wen Xing Abel Tan/Han Zhuo Toh, lewat pertarungan dua gim, 21-19 dan 21-14, dalam laga sepanjang 28 menit. Begitu juga dengan ganda putri, Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Mereka menang mudah atas Insyirah Khan/Zhi Rui Bernice Lim, dalam tempo 23 menit, dengan skor 21-4 dan 21-11. Ricky Soebagja, wakil manajer tim Indonesia, mengungkapkan timnya telah berhitung peluang saat berjumpa Singapura. Dan, hasilnya, sebut Ricky, kemampuan Indonesia masih berada di atas Singapura. “Di atas kertas Indonesia masih di atas. Perkiraan kami Indonesia memang bisa merebut kemenangan 5-0,” tukas Ricky. (Adt)

Huni Grup D Bersama Jepang dan Singapura, Beregu Indonesia Bidik Tiket Final Asia Junior Championship 2018

Tim junior bulutangkis Indonesia ada di Grup D bersama Jepang dan Singapura pada nomor beregu Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018. (twitter)

Jakarta- Tim junior bulutangkis Indonesia ada di Grup D bersama Jepang dan Singapura pada nomor beregu Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018. Turnamen yang dihelat di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Banten, 14-17 Juli 2018, skuat Merah Putih membidik tiket final. Susy Susanti, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sekaligus Manajer Tim Indonesia, mengatakan bila lawan terutama Jepang memiliki kekuatan yang sangat baik. “Jadi kami tetap waspada dan konsentrasi satu-satu. Kalau target kami mudah-mudahan bisa minimal seperti tahun lalu, ke final. Tapi, kami tetap berusaha meningkatkan. Apalagi sebagai tuan rumah, ini mungkin terakhir, karena berikutnya sudah bukan di Indonesia lagi,” ujar Susy, dikutip situs resmi PBSI, Jumat (13/7). Atlet dari 18 negara dipastikan terlibat pada event ini. Berdasarkan data yang dihimpun media dari PB Jaya Raya di Jakarta, Sabtu, total atlet yang berpartisipasi pada kejuaraan yang diselenggarakan di oleh PB Jaya Raya ini 244 atlet yang berusia dibawah 19 tahun. Ketua Harian PB Jaya Raya, Imelda Wiguna dalam keterangan resminya mengatakan, ini merupakan ajang yang bagus untuk para pebulu tangkis muda untuk mengasah kemamouan sekaligus menjadi ajang pembelajaran untuk bekal masa depan mereka. “Ajang ini merupakan kesempatan emas bagi atlet muda Indonesia untuk menunjukkan kemampuan sekaligus meraih prestasi. Tak hanya itu mereka juga belajar dari turnamen ini untuk bekal masa depan mereka di kejuaraan yang lebih besar dan bergengsi,” ujar Imelda. Event ini mempertandingkan nomor beregu dan perseorangan, sehingga membuat even ini harus terselenggara dalam waktu yang cukup panjang. Di laga perdana, pasukan Garuda akan menghadapi Singapura, Minggu (15/7) pada pukul 09.00 WIB. Dan, menghadapi Jepang di hari yang sama pada pukul 16.00 WIB. Susy, mengungkapkan tim junior yang diturunkan pada ajang ini dalam kondisi baik. Meski demikian, istri dari legenda bulutangkis Alan Budikusuma itu, pihaknya akan tetap berusaha meningkatkan kemampuan. Apalagi sebagai tuan rumah dan tahun ini kemungkinan adalah yang terakhir sebelum pindah ke negara lain. Bahkan, tambah Susy, berbagai persiapan telah dilakukan sejak beberapa bulan yang lalu. “Persiapan cukup baik. Dari tahun lalu kami persiapkan dari awal tahun paling tak enam bulan. Mereka latihan intensif, lebih terfokus dan sparing dengan senior juga. Tahun lalu hasilnya cukup baik,” pungkasnya. Turnamen Badminton Asia Junior Championship 2018 merupakan gelaran kedua di PB Jaya Raya. Pada edisi sebelumnya, Indonesia sukses mengunci satu emas lewat pasangan ganda campuran junior Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Ramadhanti di kategori perorangan. (Adt) Pembagian Grup Beregu Asia Junior Championships 2018 : Grup A : Tiongkok, Malaysia, Myanmar Grup B : Thailand, Taiwan, Hong Kong, Macau Grup C : Korea, India, Kazakhstan, Sri Lanka Grup D : Indonesia, Jepang, Singapura

Menang Telak Dari Cakra Sakti, Defense Jadi Catatan Gading Muda U-16

Tim basket putra Gading Muda (putih), menang telak atas Cakra Sakti, 127-18, di GOR Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (12/7). (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim basket putra Gading Muda Kelompok Umur (KU) 16 tahun berhasil meraih kemenangan dari Cakra Sakti (B), pada Kompetisi Bola Basket Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jakarta Barat, Kamis (12/7). Melakoni laga di Gelanggang Olahraga (GOR) Kebun Jeruk, Jakarta Barat, anak asuh Jap Ricky Lesmana itu menang telak dengan skor, 127-18. Sejak awal, skuat Gading Muda memperlihatkan efektivitas dan agresivitas melalui pemainnya. Terlihat jelas hasrat mereka untuk bisa memenangi pertandingan kali ini kontra Cakra Sakti (B). “Kami menang jauh karena lawannya kurang siap. Tapi, tim kami defense masih lemah. Karena tadi beberapa kali ‘kecolongan’ dari tim lawan,” ujar Ricky, pemilik Gading Muda, usai laga. Meski sukses meraih kemenangan, namun Ricky mengungkapkan masih banyak pembenahan yang harus dilakukan. “Ini bukan soal menang dengan skor jauh, tapi ini cara bermain mereka. Defense kami masih jelek, dan harus diperbaiki. Kebetulan lawan tampil kurang baik. laga selanjutnya defense harus diperkuat,” tukas Ricky. (Adt)

Mainkan Laga Final Kontra Paris University Club, Tim Basket Sekolah Kharisma Bangsa Waspadai Center Lawan

Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa (hitam) akhirnya meraih kemenangan atas tim Isso India 2, dengan skor 75-70. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa melaju ke final Play Off B Divisi 2 Kejuaraan Dunia Basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA), di Paris, Perancis. Syekhan Manzis Effendy dan kawan-kawan bakal meladeni perlawanan Paris University Club, Kamis (12/7). Keberhasilan tim basket yang bermarkas di Kawasan Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan itu, bermain di laga pamungkas setelah meraih 3 kemenangan melawan tim dari India, serta menderita kekalahan dari tim tuan rumah di babak penyisihan. “Meski masuk final di Play Off B Divisi 2, kami tetap memberikan apresiasi pada seluruh pemain. Jadi di penyisihan grup, peringkat 1 dan 2 berhak tampil di Play Off A, sedangkan peringkat 3 dan 4 lolos ke Play Off B Divisi 2, masing-masing diambil 6 tim,” ujar Ari Adiska, juru ramu tim. Laga final Play Off B berlangsung pada Kamis (12/7) pukul 21.00 waktu Paris, atau pukul 03.00 WIB. Ari mengungkapkan pihaknya punya gambaran kekuatan lawan. “Lawan memiliki 2 pemain center yang perlu diwaspadai, sebab memiliki postur besar. Jadi pemain harus bisa menutup jalur passing ke pemain center mereka,” lanjutnya. Pada laga itu, Ari menekankan ke anak didiknya untuk bermain lebih sabar, dan berani untuk mengeksekusi bola. “Kami optimis apalagi pemain sudah bisa bermain seperti di Indonesia. Mungkin kekurangan kami adalah soal stamina dan postur tubuh,” cetusnya. Sebelumnya, skuat basket Sekolah Kharisma Bangsa berhasil mengalahkan tim Isso India 2, dengan skor 75-70. “Sangat menegangkan bertemu wakil India. Karena dia akhir kuarter skornya beda tipis. Saat skor kami menang jauh malah terlalu santai. Mikirnya aman dengan skor seperti itu,” terang Syekhan. Sementara itu, Mohammed Aofar Hedyan, Point Guard, menjelaskan dirinya memiliki tanggung jawab besar mengatur tempo permainan. “Untuk game ketiga kemarin saat lawan India, kami semua bermain bagus. Tapi, kami sedikit lengah untuk defence, dan game ketiga ini bisa menjadi pelajaran bagi tim untuk lebih fokus,” tukas Aofar. (Adt)

Jaga Konsistensi Prestasi, Pemerintah Bakal Kawal Lalu Muhammad Zohri Hingga Level Senior

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan mengawal prestasi Lalu Muhammad Zohri hingga ke level senior. (Adt/NYSN)

Jakarta- Muda dan berprestasi. Itulah sosok Lalu Muhammad Zohri. Berangkat ke Tampere, Finlandia, mengikuti Kejuaraan Dunia Atletik Under (U) 20 Tahun, tanpa ekspektasi. Memegang prinsip, berpartisipasi dahulu. Menang kalah soal nanti. Terlebih, ia memulai laga dari lintasan 8. Maklum, bukan favorit juara. Berbeda dengan pesaingnya duo Amerika Serikat (AS), Anthony Schwartz dan Eric Harrison. Mereka berada di lintasan tengah karena memang difavoritkan menjadi kampiun di ajang ini. Usai pistol start diletuskan, semua berjalan biasa, para sprinter tampak bersaing ketat. Namun, di detik-detik akhir, remaja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 1 Juli 2000 itu mampu melesat. Mengukir catatan waktu 10,18 detik, ia finish terdepan. Remaja yang sehari-hari disapa Badok itu sukses menenggelamkan pamor sprinter unggulan Negara Paman Sam itu yang mencetak waktu 10,22 detik. “Tidak hanya disini (Kejuaraan Dunia Atletik U-20 Tahun). Saya ingin terus berprestasi. Alhamdulillah, banyak yang mengapresiasi prestasi saya. Semoga tidak ada yang berubah dengan saya. Saya tetap Zohri yang Insya Allah, tidak sombong. Saya akan terus berlatih meraih prestasi lebih tinggi lagi,” ujar sprinter yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, NTB, lewat sambungan telepon dengan Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Jumat (13/7). Dan, demi menjaga konsistensi prestasi sensasional sprinter berusia 18 tahun itu, pemerintah berjanji mengawal Zohri hingga ke level senior. Zohri juga diharapkan memiliki motivasi tinggi untuk menjadi pelari tercepat di dunia. “Menjaga prestasi hingga seperti ini, Zohri harus dilatih dengan pelatih yang tepat serta program latihan yang baik serta berkesinambungan. Sehingga prestasinya bisa terjaga hingga ke level senior. Pemerintah akan terus mengawal Zohri,” terang Imam. “Harapannya masyarakat terus memberikan dukungan untuk Zohri yang saat ini berada di PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) menjalani Pelatnas (pemusatan latihan nasional) jangka panjang. Selain itu, pelatihan yang dijalani harus menerapkan sport science secara tepat. Sehingga makin termotivasi menjadi pelari tercepat di dunia,” tambah menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu. (Adt)

Tak Mampu Beli Sepatu, Juara Dunia U-20 Asal Kampung Pemenang Ini Kerap Berlatih Di Tepi Pantai

Lalu Mohammad Zohri (tengah) diapit dua pelari asal Amerika Serikat, Eric Harrison dan Anthony Schwartz, usai merebut medali emas nomor lari 100 meter pada Kejuaraan Atletik Junior Dunia 2018 (Twitter IAAF)

Jakarta- Sprinter muda asal Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, mengukir prestasi mengesankan pada IAAF World U20 Championships di Tampere, Finlandia, 10-15 Juli 2018. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini merebut emas pada nomor bergengsi lari 100 meter putra. Di babak final, Zohri finish pertama dengan catatan waktu 10,18 detik. Dia mengalahkan dua pelari asal Amerika Serikat, Anthony Schwartz (10,22) and Eric Harrison (10,22). Sementara urutan ketiga ditempati oleh pelari Afirka Selatan, Thembo Monareng dengan 10,23 detik. Zohri sebenarnya bukan atlet yang diunggulkan pada nomor bergengsi tersebut. Dia tampil mewakili Asia setelah menang pada Kejuaraan Asia U-20 yang berlangsung Juni lalu. Saat itu, ia hanya mampu mencatat waktu terbaik, 10,27 detik. Pemuda yang sehari-hari disapa Badok ini, mulai diperhitungkan, saat di babak semifinal berhasil menempati urutan kedua, di belakang atlet AS, Anthony Schwartz, dengan catatan waktu 10.24, atau 0.05 lebih lambat. Di babak final, Badok menempati lintasan nomor 8. Saat pistol start diletuskan, pemuda asal Lombok Utara ini segera melesat dan bersaing ketat dengan Monareng serta Schwartz. Ia akhirnya berhasil finis pertama mengungguli kedua pelari asal Negeri Paman Sam tersebut. Badok lahir 1 Juli 2000 di  Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Masa kecilnya dihabiskan di Lombok Utara. Dia mengenyam pendidikan di SD Negeri 2 Pemenang Barat, lalu melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Pemenang. Saat SMP, bakat lari Badok sudah mulai menonjol. Kemudian diajak untuk mengikuti beberapa kejuaraan dan berhasil merebut prestasi membanggakan. Badok juga sosok pria mandiri. Dia sudah ditinggal orang tuanya saat masih belia. Ibunya meninggal saat dirinya masih duduk di bangku SD, dan ayahnya menyusul setahun kemudian. Kakak kandung Badok, Baiq Fazilah (29) mengaku langsung menangis dan sujud syukur, begitu mengetahui sang adik menjadi juara dunia setelah tercepat nomor lari 100 meter pada ajang Kejuaraan Dunia Atletik U-20 ini. “Setelah melihat videonya yang dikirim Badok melalui WhatsApp, saya langsung menangis dan sujud syukur kepada Allah,” ujar Baiq, di rumahnya di Karang Pansor Desa Pemenang Barat Kecamatan Pemenang Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (12/7). Baiq mengaku bangga prestasi yang diraih adiknya. Apalagi bila mengingat perjuangan keras adiknya yang berlatih di tengah keterbatasan. Karena untuk berlatih saja, Badok kerap tak menggunakan alas kaki, karena tidak memiliki sepatu. “Badok (Zohri) anaknya pendiam dan tidak pernah menuntut ini, itu. Bahkan, kalau berlatih lari tidak pernah pakai alas kaki (sepatu), karena tidak punya,” ujarnya. “Untuk berlatih sendiri, adik saya suka latihan lari di Pantai Pelabuhan Bangsal, Pemenang,” ucapnya. Badok merupakan anak ke empat dari empat bersaudara Baiq Fazilah (29), Lalu Ma’rib (28), Baiq Fujianti (Almh) dan Lalu Muhamad Zohri. Di pentas nasional, namanya mulai dikenal saat mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) U-18 dan U-20 di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta, April 2017. Dia kemudian dipilih oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) memperkuat timnas di Kejuaraan Dunia Remaja di Kenya, Juli lalu. Tampil di nomor 200 meter, Badok merebut emas dengan catatan waktu 21.96 detik. Dia sempat ikut berlomba di Singapura. Namun batal turun karena mengalami cedera. Kini ia merupakan bagian dari timnas atletik Indonesia yang akan bertanding di Asian Games 2018 nanti. Meskipun catatan waktunya masih kalah dari sejumlah sprinter top Asia saat ini, namun dia bisa menjadi harapan kejayaan Indonesia di masa mendatang. (Adt)

Remaja 18 Tahun Asal Lombok Utara, Jadi Kampiun 100 Meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20

Singkirkan Sprinter Amerika Serikat, Lalu Muhammad Zohri (tengah) yang baru berusia 18 tahun asal Lombok, Raih Emas Kejuaraan Dunia Atletik Junior. (bbc.com)

Jakarta- Prestasi sensasional ditorehkan sprinter Lalu Muhammad Zohri pada Kejuaraan Dunia Atletik Under (U) 20 tahun, di Stadion Ratina, Tampere, Finlandia, Rabu (11/7). Turun di nomor lari bergengsi 100 meter, remaja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 18 tahun silam ini sukses masuk finish pertama dengan membukukan catatan waktu 10.18 detik. Torehan ini sekaligus memecahkan rekor nasional (rekornas) atas namanya yakni 10.25 detik. Bahkan, Lalu yag berlari di lintasan 8 itu, menciptakan catatan waktu yang mendekati rekornas yang masih menjadi milik Suryo Agung Wibowo yakni 10.17 detik. Ia pun menumbangkan sprinter terbaik Amerika Serikat (AS) sekaligus favorit juara, yakni Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang mencetak waktu 10.22 detik. “Saya sangat gembira dengan catatan waktu terbaik saya dan rekor junior nasional. Sekarang, saya akan mempersiapkan diri untuk Asian Games bulan depan. Ini adalah sebuah pengalaman luar biasa dan ini sangat bagus untuk karier saya,” ujar Lalu usai lomba. Penampilan gemilang Lalu sudah terlihat sejak babak kualifikasi di hari pertama. Lalu turun di heat pertama bersama wakil Jepang Daisuke Miyamoto berhasil lolos ke semifinal dengan catatan waktu 10.30 detik. Di babak semifinal, atlet berjuluk ‘bocah ajaib dari Lombok’ itu turun di heat 1 dari 3 heat lolos bersama Schwartz dengan torehan 10.24 detik. Selanjutnya, Lalu, Anthony, dan Daisuke berhasil melenggang ke babak final. Sementara itu, Tigor M. Tanjung, Sekertaris Umum (Sekum) Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), mengatakan keberhasilan Lalu mencetak prestasi terbaik di ajang Kejuaraan Dunia Atletik Junior di Finlandia merupakan hasil dari ketekunannya berlatih dan berjalan dengan baik. (Adt)

Dari Kaki Gunung Ciremai, CAC Kuningan Sanggup Konsisten Cetak Atlet Atletik Nasional Berprestasi

Menpora Imam Nahrawi bangga CAC di kabupaten Kuningan, Jawa Barat, fokus melakukan pembinaan cabang atletik guna melahirkan atlet nasional. (Kemenpora)

Kuningan- Cilimus Atletik Club (CAC) merupakan salah satu klub olahraga yang konsisten mencetak atlet atletik nasional untuk Indonesia. CAC terletak di Desa Kaliaren, Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bahkan, desa ini berada tak jauh dari kawasan kaki Gunung Ciremai. Diantaranya, atlet tolak peluru Eki Febri Ekawati. Ia peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012, Riau. Juga, medali emas Singapore’s AUG 2014, serta medali emas SEA Games 2017, Malaysia. Lalu, atlet Tresna Puspita. Ia pernah tampil di Kejuaraan Dunia Atletik Remaja 2013, dan pemegang rekor nasional (Rekornas) lempar cakram pada 2015 (44,50 meter), serta pemegang Rekornas lontar martil pada 2013 (51,20 meter). Sekedar catatan, ada 14 Atlet Atletik asal Kabupaten Kuningan, turut memperkuat Kontingen Atletik Jawa Barat, pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik 2018, yang berlangsung pada Mei lalu, di Jakarta. “Ini luar biasa. Di sebuah desa di Kabupaten Kuningan, ada klub yang mengembangkan olahraga atletik. Kebanyakan di daerah adalah klub sepak bola, tapi ini ada klub atetik yang bisa melahirkan atlet-atlet nasional,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Rabu (11/7). Ia meminta atlet yang bernaung di CAC untuk terus semangat berlatih agar bisa menjadi atlet nasional yang bisa mengharumkan nama bangsa. “Jangan pernah letih. Terus terapkan apa yang diajarkan pelatih dengan baik. Saya juga ingin kepada adik-adik untuk menyebarkan CAC ini melalui media sosial,” cetusnya. Sementara itu, Asep Ismanto, Ketua CAC Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mengaku bangga mendapat dukungan langsung dari Menpora. “Kami di sini terus mencoba melakukan pembinaan kepada atlet-atlet muda di Kabupaten Kuningan agar bisa berprestasi dan memberikan kontribusi untuk olahraga Indonesia,” tukas Asep. (Adt)

Gagas Turnamen Sepakbola Perdamaian, Uni Papua-Kemenkopolhukam Sinergi Jalankan Misi Pembinaan Usia Dini

Uni Papua Football menggagas turnamen sepak bola perdamaian, bersama Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) pada 22 Sepetember- awal Desember 2018. (NYSN)

Jakarta- Uni Papua bersama Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) menggagas turnamen sepak bola perdamaian, pada 22 September hingga awal Desember 2018, di empat kota yakni Jakarta, Aceh, Bali, dan Manokwari. Event ini sejalan dengan agenda prioritas pembangunan sepak bola nasional, yakni aktif melakukan pembinaan sepak bola usia dini, pembenahan sistem dan tata kelola sepak bola, pembenahan manajemen klub, serta penyediaan infrastruktur olahraga. “Uni Papua Football Community (UP FC) adalah satu-satunya komunitas sepak bola sosial di Indonesia, yang fokus pada pembentukan karakter anak-anak atau generasi muda Indonesia, melalui kegiatan sepakbola,” ungkap Uni Papua dalam rilisnya, pada Rabu (11/7). UPFC selalu menanamkan nilai-nilai perdamaian, kemanusiaan, toleransi serta cinta tanah air kepada anggotanya. Selain itu, UPFC yang eksis sejak 2011 di Tanah Papua dan menyebar hingga ke berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua. “UPFC mempunyai 35 komunitas yang tersebar di Aceh, Jakarta, Bandung, Semarang, Salatiga, Probolinggo, Denpasar, Puncak Jaya, Manokwari, Sorong, dan Halmahera, serta 4 komunitas di luar negeri diantaranya di Helsinki, Los Angeles, Osaka dan 1 perwakilan di London (Inggris). Jumlah anak binaan UPFC kurang lebih 2.500 anak,” Sedangkan Kemenkopolhukam mempunyai peran dalam event ini sebagai fungsi pembinaan masyarakat. Berdasarkan penelitian CSIS (Centre for Strategic and International Studies), sepak bola menjadi media dimana generasi milenial lebih tertarik dengan aktifitas olahraga. “Sepakbola adalah media pendekatan yang efektif untuk pembinaan masyarakat terutama generasi muda Indonesia. Hal ini juga sebagai langkah preventif mencegah gerakan-gerakan radikalisasi dan intoleransi yang belakangan banyak menyasar anakanak dan remaja,” Penelitian lain dari Nielsen Sport bahwa masyarakat Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia yang senang dengan aktifitas persepak bolaan. Event ini akan diawali dengan Training of Trainers (ToT) atau coaching calon pelatih yang akan dimulai awal Agustus nanti di setiap kota tuan rumah. “ToT dikhususkan bagi mereka yang berusia diatas 21 tahun laki maupun perempuan, senang dengan sepak bola, tertarik dengan isu-isu olahraga, perdamaian, pengembangan generasi muda, isu sosial dan kemanusiaan, menjunjung tinggi sportifitas dan pastinya 100 persen cinta NKRI,” sebut Uni Papua. ToT ini dibuka untuk masyarakat umum dan seluruh elemen, dari unsur TNI atau Polri, guru olahraga dan umum, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, unsur universitas, dan komunitas-komunitas sosial lainnya. “Setelah ToT, para trainer atau pelatih diwajibkan untuk membentuk tim sepak bola yang berasal dari komunitasnya ataupun lingkungan masyarakat tempat dimana mereka tinggal atau lingkungan lain yang beranggotakan minimal 11 orang anak berusia di bawah 16 tahun,” Tim ini akan diikutkan dalam festival sepak bola untuk perdamaian yang akan digelar pada September hingga Desember 2018, di masing-masing kota. “Pemenang dari festival di masing-masing kota akan diberangkatkan ke Jakarta dan mengikuti festival nasional pada awal Desember nanti,” Materi-materi ToT harus diimplementasikan kepada tim sepak bola masing-masing. “Selain materi teknik sepak bola, Uni Papua dan Kementerian atau Lembaga atau Dinas terkait akan memberikan materi workshop narkoba, antiradikalisme, hoax, SARA, perdamaian, ujaran kebencian serta wawasan kebangsaan lainnya,” tutup Uni Papua. (Adt)

Cetak Gelar Juara Di Indonesia Open 2018, Tiga Atlet Binaan PB Djarum Kehujanan Bonus

Sukses berkontribusi saat ajang Indonesia Open 2018, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia sukses meraih dua gelar di ajang Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000. lewat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kevin/Marcus menjadi kampiun usai menaklukan pasangan asal Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko (21-13 dan 21-16). Sedangkan pasangan senior Tontowi/Liliyana menang setelah menghempaskan dobel asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (21-17 dan 21-8). Tiga atlet yakni Tontowi, Liliyana, dan Kevin, merupakan pemain binaan PB Djarum Kudus. Torehan prestasi ini terasa istimewa sebab satu dekade lamanya Merah Putih tidak mengantongi dua gelar juara sekaligus di Indonesia Open. Terakhir, Indonesia meraih dua gelar pada 2008 melalui sektor tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro dan ganda putri yakni Vita Marissa yang saat itu berduet dengan Liliyana Natsir. Bahkan, Indonesia puasa gelar di salah satu ajang turnamen terbaik di dunia itu pada 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016. Berkat prestasi yang membanggakan serta mengharumkan nama Indonesia, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. “Apresiasi ini komitmen kami terhadap kemajuan bulutangkis di Indonesia, sehingga bisa melecut pemain bulutangkis PB Djarum yang lainnya untuk bisa berprestasi di kancah bulutangkis dunia seperti Kevin, Tontowi, dan Liliyana,” ujar Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, pada Rabu (11/7). “Mudah-mudahan tahun depan, Indonesia bisa juara lagi. Karena Kevin/Marcus belum pernah juara. Ini pertama kali untuk mereka. Dan, kami akan terus memberikan apresiasi ini sebagai wujud komitmen kami untuk negeri ini,” lanjutnya. Masing-masing pemain mendapatkan Rp 200 juta. Selain itu, ketiganya juga mendapatkan voucher dari Blibli.com senilai Rp 50 juta. Sementara, para pelatih yakni Herry Irman Pierngadi dan Aryono Miranat (pelatih ganda putra), serta Richard Mainaky dan Vita Marissa (pelatih ganda campuran) mendapatkan lemari es Polytron dua pintu dan voucher senilai Rp 5 juta dari tiket.com. Bagi Kevin, kemenangan di Indonesia Open 2018 menegaskan supremasinya di persaingan papan atas bulutangkis dunia. Sebelumnya, bersama Marcus menjadi kampiun turnamen tertua di dunia yakni All England 2018. Duet ini tengah membidik China Open 2018, yang dihelat September guna merangkai hattrick di kasta HSBC World Tour Super 1000. “Rangkaian kemenangan ini menjadi pendorong agar saya makin berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa melalui bulutangkis. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan pelatih dan PB Djarum yang telah mengasah saya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik saat bertanding, dan meraih hasil maksimal,” tutur Kevin. Liliyana menambahkan dirinya mengaku lega bisa memberikan hasil terbaik dihadapan publik tuan rumah. Apalagi, sebut Butet, sapaan akrabnya, berhasil menghapus catatan tak pernah menang di Istora Senayan. “Berarti sudah lunas. Ini kemenangan yang sangat istimewa bagi kami,” tukas Butet. (Adt)

SMABA Gagal Curi Kemenangan Di Pertandingan Kedua, Pelatih : Kami Kehabisan Tenaga di Kuarter 3 dan 4

Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa (hitam) kembali menelan kekalahan di pertandingan kedua, melawan AAS Fresnes, dengan skor 46-61. (SMABA)

Jakarta- Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa gagal mencuri kemenangan di pertandingan kedua kejuaraan dunia basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA), di Paris, Perancis. Melakoni laga dengan tim AAS Fresnes, Selasa (10/7), Syekhan Manzis dan kawan-kawan kalah dengan skor 46-61. Ari Adiska, Pelatih Tim, mengatakan di laga kedua semua pemain sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Namun, diakuinya lawan memiliki keunggulan terutama dari segi postur tubuh. “Kalau dibilang puas ya belum puas dengan penampilan tim. Tapi, di pertandingan kedua ini para pemain sudah berani improve. Mungkin belajar dari pertandingan pertama. Sehingga bisa memperbaiki kesalahan,” ujar Ari. Ia menyebut kemampuan anak asuhnya sangat merata dan rapi dibanding dengan partai perdana saat berjumpa tim Paris Bballwithus, pada Senin (9/7). Bahkan, pada kuarter pertama dan kedua, tim smaba masih mampu mengimbangi permainan AAS Fresnes. “Tapi, di kuarter ketiga dan keempat kami sudah kehabisan tenaga. Sehingga lawan bisa memenangkan pertandingan,” tambahnya. Berikutnya, Muhammad Aofar dan kawan-kawan akan melakoni laga ketiga melawan tim Isso India 2, pada Rabu (11/7). Senada dikatakan Abdurrasjid Juzar, punggawa tim. Menurutnya, di game kedua bersama rekan-rekannya sudah mengeluarkan kemampuan semaksimal mungkin. “Kuarter pertama dan kedua, kami masih mengimbangi skor. Perbedaannya hanya 5 point. Namun di kuarter ketiga dan keempat, kami sudah tidak bisa mengimbangi karena masih kalah soal stamina dan fisik,” terang Juzar. Sedangkan Fajar Satria, Kapten Tim, menyatakan melawan tim AAS Fresnes banyak perkembangan dibandingkan game sebelumnya melawan tim Paris Bballwithus. “Kami mulai bisa beradaptasi disini. Kami sanggup mengimbangi hingga pertengahan kuarter 3, namun di kuarter terakhir kami mulai ketinggalan dengan lawan,” urainya. “Tapi, ketinggalan itu tak seburuk seperti game pertama. Kami sudah lumayan mendapatkan ritme seperti di Indonesia, dan kami harap untuk ke game selanjutnya kami dapat bisa memberi lebih dari game sebelumnya,” tukas Satria. (Adt)

Meski Takluk 42-90 Dari Tim Paris Bballwithus, Tim Basket Putra Sekolah Kharisma Bangsa Tampil Fight

Tim basket putra sekolah Kharisma Bangsa (putih), menelan kekalahan dari tim basket Paris Bballwithus 42-90, pada Senin (9/7). (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim basket putra sekolah Kharisma Bangsa menelan kekalahan dari tim Paris Bballwithus dengan skor 42-90, pada kejuaraan dunia basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA), di Gymnase Federation, Paris, Perancis, Senin (9/7). Meski mengawali dengan hasil negatif, namun anak didik Ari Adiska itu tetap tampil fight. “Kami belum bisa mengeluarkan kemampuan terbaik, karena proses aklimatisasi cuaca, sebab udaranya disini sangat dingin. Tapi, ada beberapa pemain yang memang siap dan tampil baik di pertandingan pertama ini seperti Saddam Asyurna, Muhammad Saddam Pandu Sutrisno, dan Muhammad Aofar,” ujar Ari, Arsitek Tim. Diakuinya, beberapa pemain baru di skuatnya masih ‘demam panggung. “Mereka masih nervous, mungkin baru pertama kali mereka tampil di level internasional. Apalagi lawan bermain sangat rapih. Postur tubuh pemain lawan juga bagus. Namun, kami tetap bisa tampil fight menghadapi lawan,” lanjutnya. Ari mengaku timnya mendapatkan pelajaran berharga pada laga perdana. Ia menambahkan bakal melakukan evaluasi guna menghadapi laga selanjutnya. “Beikutnya kami harus berani. Kami terlalu banyak turn over. Harus lebih cepat bagi pemain untuk membuka celah. Harus lebih percaya diri lagi,” cetusnya. Pertandingan berikutnya yang dijalani SMABA yakni melawan AAS Fresnes, pada Selasa (10/7). Sementara, Pandu mengungkapkan sebelum melakoni laga awal ia bersama rekan-rekannya telah melakukan persiapan secara matang, diantaranya dengan melakukan conditioning di pagi hari, dan bertanding pada sore hari. “Kami bertanding melawan tim dari Perancis dengan postur tinggi besar. Tapi, kami tak pernah takut dan selalu siap menghadapi siapapun lawan. Dari kekalahan 42-90 di pertandingan kemarin, kami mulai belajar sehingga bisa lebih baik lagi di pertandingan hari ini,” terang Pandu. Senada diungkapkan Mikail Jaydra Muhammad Darmawan. Menurutnya, sebagai rookie di tim basket putra sekolah Kharisma Bangsa, dirinya akan berusaha semaksimal mungkin serta mengeluarkan kemampuan terbaiknya setiap kali tampil. “World games ini adalah tournament international pertama saya. Dan, saya merasa sangat senang karena sudah merasakan pengalaman ini, meskipun kemarin kami kalah. Tapi, itu akan kami jadikan motivasi serta pelajaran untuk game berikutnya,” tukas Jaydra. (Adt)