Rider 15 Tahun Asal Lumajang, Ikut Undangan Latihan Bersama Valentino Rossi

Yamaha Indonesia mengutus Muhammad Faerozi Toreqottullah, pembalap 15 tahun asal Lumajang, Jawa Timur, mengikuti pelatihan balap dari Yamaha Motor Co. Ltd di markas Valentino Rossi, melalui program Yamaha VR46 Master Camp. (aripitstop.com)

Jakarta- Untuk kali keenam akademi Valentino Rossi, VR46 Academy menggelar Master Camp. Kali ini, Master Camp VR46 2018 bergulir pada 12-16 September di MotoRanch, Tavullia, Italia. Pembalap asal Indonesia, Muhammad Faerozi Toreqottullah (15) dipastikan ikut meramaikan. Akademi Valentino Rossi memang rutin menggelar Master Camp, untuk mengasah bakat-bakat pembalap muda. Pada edisi 2018, ada empat pembalap muda dari Asia, yang akan ikut terlibat, salah satunya adalah Faerozi. Tiga pembalap lain yang bakal latihan bersama Rossi adalah Muhammad Aiman Bin Tahiruddin (16), Nazirul Izzat Bin Muhammad Bahauddin (18) asal Malaysia, dan Shota Yokoyama (16) asal Jepang. Keempatnya aktif sebagai pembalap di Asia Road Racing Championship. Seperti edisi sebelumnya, tujuan Master Camp dibuat adalah untuk menemukan dan mengembangkan bakat pembalap muda. Para peserta yang terpilih akan menjalani pelatihan selama satu pekan di Italia, di bawah bimbingan staf serta pembalap VR46 Riders Academy. Keterampilan mereka akan diuji langsung di tempat latihan Valentino Rossi, yakni Motor Ranch. Mereka akan diminta mengendarai Yamaha YZ250Fs di lintasan datar dan di lintasan motorcross dengan Yamaha YZ125s. Nantinya, mereka juga berkesempatan mengendarai Yamaha YZF-R3, di Sirkuit Marco Simoncelli. Serta menjajal Yamaha YZ85s di lintasan go-kart Misanino KCE. Selain latihan balapan, mereka juga diajarkan soal bagaimana menjaga fisik, dalam kondisi prima dengan sesi latihan di Fisio Gym. “Pekan depan kami memulai edisi keenam proyek Yamaha Master Camp VR46 yang merupakan pekan penuh aksi. Kami mengucapkan terima kasih kepada Valentino, VR46 Riders Academy, dan semua sponsor yang berkontribusi dalam program pelatihan,” kata Lin Jarvis, Managing Director Yamaha Motor Racing, dilansir Yamaha MotoGP. Bagi Faerozi, menjadi peserta Master Camp VR46 tentu pengalaman yang berharga. Pemuda kelahiran Lumajang, Jawa Timur, pada 15 Desember 2002, itu bisa meningkatkan pengalamannya di lintasan. Sebelumnya, Faerozi sempat mengarungi petualangan di AARC AP250 2018 dan Indospeed Race Series Sport 250cc. (Adt)

Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Basket Pelajar Asia, Indonesia Siapkan Dua Tim Hanya Sepekan

Kemenpora melepas keberangkatan tim pelajar Indonesia yang akan tampil dalam ajang 8th Asian School Basketball Championship, Kamis (6/9). Bertempat di GOR Among Rogo, Yogyakarta, event ini akan dihelat dari 7 hingga 15 September 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Indonesia mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah kejuaraan basket pelajar Asia. Bertempat di Yogyakarta, 8th Asian Schools Basket Ball Championship 2018, akan dihelat dari 7 hingga 15 September 2018. Tim basket pelajar Indonesia dipimpin oleh Surono, yang merupakan Kepala Bidang Pembinaan PPLP. Dan didampingi oleh pelatih putra, Rifki Antolion dan Cecep Firmansyah, mantan pelatih nasional dan klub Aspac Jakarta, yang akan menangani tim putri. Namun, sebagai tuan rumah, Indonesia tidak dibebani target. Asisten Deputi Bidang Pembibitan dan Iptek Olahraga Kemenpora, Washinton Galingging, mengatakan tim ini berlatih untuk berkompetisi, bukan untuk menang. Perlu dicatat, Indonesia membawa pulang medali perunggu, pada 7th Asian School Basketball Championship, di Thailand “Sebagai pelajar, tim ini memang tidak dibebankan target juara, sesuai dengan kategori usia mereka. Itu karena mereka berlatih untuk berkompetisi, bukan berlatih untuk menang,” ujar Washinton, saat melepas keberangkatan kontingen, di Jakarta, Kamis (6/9). Berbicara peluang juara di kejuaraan pelajar ini, Cecep yang menangani tim putri, mengatakan dirinya sulit memprediksi kekuatan lawan, karena belum pernah berhadapan sebelumnya. “Kejuaraan pelajar memang beda, dibandingkan dengan kejuaraan senior, karena kekuatan mereka sulit dipantau,” tutur Cecep. Hal senada juga disampaikan Rifki Antolion. Ia mengaku faktor kesulitan yang dihadapi adalah sulitnya memantau kondisi kekuatan lawan. Apalagi Kejuaraan pelajar punya batasan usia 18 tahun, sehingga komposisi pemain, pasti berubah dibandingkan kejuaraan sebelumnya. “Kami tidak tahu kekuatan lawan, karena mereka bukanlah tim nasional di negara masing-masing. Persiapan kami juga cepat, sejak 29 Agustus, hanya 8-9 hari persiapan, putra dan putri. Tapi kami geber sehari dua kali latihan, dengan andalan dua pemain yang berlaga di ASEAN School Games 2018 Juni lalu,” kata Rifki. Ini kali kedelapan kejuaraan basket pelajar Asia digelar. Sebelumnya, 10 negara sudah mendaftar berlaga di GOR Among Rogo, Yogyakarta. Namun, 6 negara mengundurkan diri, dan hanya menyisakan Cina, Hongkong, Thailand dan Indonesia. Ajang ini menggunakan sistem round robin, yang mengharuskan setiap tim saling bertemu. (Adt)

Para Atletik Cabang Unggulan Indonesia di Asian Para Games 2018, Percaya Diri Bidik Tiga Medali Emas

Abdul Halim Dalimunthe (kiri), atlet para atletik optimistis meraih medali emas di nomor 100 dan 200 meter putra T11, di Asian Para Games 2018, pada 6-13 Oktober mendatang. (Adt/NYSN)

Solo- Para Atletik menjadi cabang olahraga unggulan Indonesia di ajang Asian Para Games III/2018. Mereka percaya diri membidik tiga medali emas di pesta multievent olahraga terbesar se-Asia, bagi kaum disabilitas, yang dihelat pada 6-13 Oktober mendatang. Selamet Widodo, Pengurus Atletik National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, mengungkapkan salah satu peluang Merah Putih dalam meraih medali emas, salah satunya berasal dari nomor 100 meter putra T11, atas nama Abdul Halim Dalimunthe. Sebab, jelasnya, pada Asian Para Games empat tahun lalu, di Incheon, Korea Selatan (Korsel), Halim (sapaan akrabnya) berhasil mendulang medali perak. Pria kelahiran Bandung 1984 ini, mengukir catatan waktu 11,9 detik. “Dan peraih emas adalah atlet asal China dengan catatan waktu 11,8 detik. Kami yakin di Asian Para Games 2018, Halim bisa dapat medali emas,” ujar Selamet, di Pelatnas Para Atletik, di Stadion Sriwedari, Kota Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (6/9). Terlebih, terang Selamet, selama menjalani Pelatnas, catatan waktu Halim membaik, hingga mencetak 11,5 detik. “Dan atlet Cina catatan waktunya 11,6 detik. Jadi masih ada peluang di nomor ini,” urainya. Halim berhasil meraih medali emas pada ASEAN Para Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Dan meraih medali perunggu di Asian Para Games 2018, Incheon, Korea Selatan (Korsel). Sementara itu, Halim juga akan turun di nomor 200 meter putra. Atlet asal Jawa Barat (Jabar) itu meyakini bila dirinya bisa bersaing, serta mengalahkan pesaingnya di Asian Para Games 2018. “Sudah beberapa kali ketemu dengan lawan yang dari Cina, dan posisi dua terus. Insya Allah bisa mengalahkan, apalagi selisih waktunya hanya 0,1 detik. Doakan saja bisa mendapatkan medali emas,” cetus Halim. Menderita ablasio retina sejak usia 15 tahun, tak membuat Halim merasa minder. Meski memiliki kekurangan, ia tetap berprestasi tinggi di dalam maupun luar negeri. Halim adalah salah satu atlet andalan Indonesia di cabang atletik, yang tampil di Paralimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Ia pun tampil di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XV di Jawa Barat. (Adt)

Tambah Pengalaman dan Teknik Tanding di Korsel, Delapan Atlet Boccia Indonesia Siap Tampil di Asian Para Games 2018

Kontingen Timnas Boccia Indonesia tengah berlatih di Pelatnas Boccia, di Kampus Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), Solo, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (6/9), siap menghadapi persaingan di ajang Asian Para Games 2018 untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. (Adt/NYSN)

Solo- Usai menjalani Training Center (TC) di Korea Selatan (Korsel), tim nasional (Timnas) Boccia Indonesia, siap menghadapi persaingan di ajang Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober mendatang. Andrian Margatha Kasi, Pelatih Boccia Indonesia, mengatakan selama menjalani TC di Negeri Ginseng, anak didiknya mendapatkan banyak pengalaman, terutama teknik-teknik bermain Boccia. “Kami baru saja kembali awal pekan ini dari Korea usai TC. Kami dapat banyak ilmu dan pengalaman berharga, terutama teknik bermain Boccia. Sebab, atlet Korea sudah puluhan tahun bergelut di cabor ini,” ujar Andrian, di Pelatnas Boccia, di Kampus Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), Solo, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (6/9). Ia menjelaskan pelaksanaan Asian Para Games 2018 yang waktunya kurang dari satu bulan, Pelatnas Boccia sudah masuk pada tahap pra-kompetisi. “Kami sudah fokus pada suasana pertandingan. Intinya kami sudah siap 90 persen untuk berlaga di Asian Para Games 2018,” lanjutnya. Dikatakan Andrian, masyarakat Indonesia masih kurang familiar dengan olahraga Boccia. Namun, ia optimis atlet-atlet yang ada di Pelatnas bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Merah Putih. Diketahui, Boccia adalah cabang olahraga (cabor) untuk atlet disabilitas gerak. Sejumlah atlet Celebral Palsy berupa adu lempar bola ke arah bola poin. Kemenangan ditentukan pada bola yang dilempar dan jatuh paling dekat dengan bola poin. Cabor Boccia menggunakan lapangan seluas 6 x 12,5 meter atau hampir sama dengan luas lapangan badminton. Adapun bola yang digunakan dalam cabang olahraga ini sebanyak 9 buah dengan bobot 263 – 276 gram. Sembilan bola tadi terdiri dari tiga warna, yakni putih sebagai bola poin, dan masing-masing empat bola berwarna biru dan merah. Di Asian Para Games 2018, cabor Boccia mempertandingkan 7 nomor. Yakni individu BC 1, individu BC2, individu BC3, individu BC4, Tim BC1 dan BC2, pasangan BC1 dan BC2, serta pasangan untuk BC4. “Tapi Indonesia tidak ikut untuk nomor BC3, karena atletnya tidak ada. Dan untuk Asian Para Games 2018, kami mengirimkan delapan atlet,” ungkap Andrian. Terkait lawan terberat di cabor Boccia, Andrian menyebut negara Thailand, Korea, Cina, dan Hongkong. “Mereka lebih dahulu menekuni Boccia, dan pemainnya punya ranking dunia yang tercatatat di Federasi Internasional Boccia. Tapi, kami harus optimis memberikan yang terbaik, saat laga di Asian Para Games 2018,” tukas Andrian. (Adt)

Raih Emas di Usia 20 Tahun, Empat Atlet Ini Turut Ukir Sejarah Indonesia Dalam Asian Games 2018

Sebagai pebulutangkis nomor 15 dunia, Jonatan Christie tak diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan, hingga akhirnya ia meraih emas nomor tunggal putra. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia mengukir prestasi dalam ajang multievent Asian Games 2018. Kontingen Tanah Air melampaui target yang ditetapkan pemerintah karena mendulang total 31 medali emas hingga Sabtu (1/9) atau H-1 penutupan. Pencak silat menjadi pendulang emas terbanyak bagi Indonesia. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, 14 di antaranya dijuarai para atlet Tanah Air. Torehan 31 emas ini, menempatkan Indoensia di peringkat keempat klasemen akhir. Kontingen Tanah Air mengungguli Uzbekistan, yang duduk diposisi kelima dengan selisih 10 emas. Prestasi ini jauh lebih baik, dibandingkan saat Indonesia menjadi host Asian Games 1962. Kala itu, Indonesia hanya 11 kali menjadi juara. Kesuksesan Indonesia tentunya tidak lepas dari peran para atlet-atlet muda. Usia belia bukan menjadi halangan bagi mereka untuk mengukir prestasi. Setidaknya, ada empat atlet muda Indonesia yang usianya belum genap 21 tahun, namun sudah mencuri perhatian karena berprestasi di Asian Games 2018. Siapa sajakah mereka? Berikut ini adalah ulasannya. Rio Rizki Darmawan Jumat (24/8), venue dayung Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, kembali riuh. Anak-anak asuh pelatih Boudewijn van Opstal dan Muhammad Hadris, berhasil meraih medali emas pada laga final nomor dayung kelas ringan delapan putra di ajang Asian Games 2018. Kontingen Merah Putih yang beranggotakan Tanzil Hadid, Muhad Yakin, Jefri Ardianto, Ali Buton, Ferdiansyah, Ihram, Ardi Isadi, Ujang Hasbulah, dan Rio Rizki Darmawan, mengalahkan Uzbekistan dan Hong Kong dengan catatan waktu 6 menit dan 08,88 detik. Pundi-pundi emas kembali disumbangkan untuk Indonesia. Di antara ingar-bingar di Jakabaring, di antara riuh-rendah sorakan penonton, nama Rio menjadi sorotan. Putra kebanggaan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi yang termuda di antara teman-temannya. Semula memang tak terpikir di benak Rio, untuk mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga dayung. Andai ia menolak ajakan Jufri, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR) Tadulako Palu, mungkin teriakan ‘Rio’ ‘Rio’ ‘Rio’ dari penonton di venue tak akan muncul. Postur tubuhnya yang besar dan berprestasi selama di SMANOR, membuat Jufri yakin, bila pemuda asal Desa Tompi Bugis, Sigi, 27 November 1998 itu, bisa menjadi atlet dayung. Jonatan Christie Sebagai pebulutangkis tunggal putra nomor ke-15 dunia, Jonatan Christie memang kurang diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan. Dia mengalahkan Shi Yuqi (peringkat kedua dunia asal China) di babak kedua, dan Khosit Phetpradab (runner-up SEA Games 2017) di babak ketiga. Di fase perempat final, giliran Wong Wing Ki Vincent (Hong Kong), yang dilewati Jojo, sapaannya. Lanjut ke semifinal, ia melumat peringkat ke-10 dunia asal Jepang, Kenta Nishimoto. Jojo, lalu menyudahi perlawanan sengit Chou Tienchen (Taiwan), di babak final, di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Selasa (28/8). Tunggal nomor enam dunia itu menyerah dari Jojo, usai melewati drama pertarungan ketat tiga gim, dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Dari lompatan Asian Games ini, pemuda kelahiran Jakarta 15 September 1997, boleh optimistis menatap target selanjutnya, yakni turnamen BWF World Tour Super Series. Di Indonesia Open 2018 Juli lalu, ia langsung gugur di babak pertama oleh Viktor Axelsen (Denmark). Raihan tertinggi Jojo adalah final New Zealand Open 2018 pada Mei, meski kandas dari Lin Dan (China). Rifki Ardiansyah Arrosyiid Rifki Ardiansyah Arrosyiid mengharumkan nama Indonesia pada Asian Games 2018. Peraih emas cabang olahraga Karate nomor kumite 60kg itu turut membanggakan kesatuannya sebagai anggota di korps Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Rifki yang saat ini berpangkat sersan dua (serda) akan naik pangkat menjadi sertu pada 1 Oktober nanti, usai mendapat penghargaan percepatan kenaikan pangkat, merupakan prajurit TNI peraih emas di Asian Games 2018. Rifki menetap di Surabaya, dan sehari-harinya bertugas sebagai Babanmin 2 Pokbanmin Jasdam Kodam V/Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Putra dari pasangan Surya dan Dwi ini menempuh pendidikan Bintara pada 2016 lalu. Ajang Asian Games 2018 bukan hanya menjadi pembuktian bagi para atlet dari kalangan sipil. Sejumlah atlet berlatar belakang militer pun berjuang dalam ‘pertempuran’ di arena olahraga demi mengangkat prestasi Merah Putih. Rifki adalah salah satu prajurit yang juga bersaing dengan para atlet luar negeri di ajang olahraga multicabang se-Asia tersebut. Arek Suroboyo kelahiran 24 Desember 1997 ini, mampu meraih emas bagi Indonesia usai mengalahkan karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh, di fase final dengan skor 9-7. Sebelumnya, Rifki pernah meraih medali perunggu di SEA Games 2017, dan medali Emas dari kelas Kumite 55 Kg, dalam Kejurnas Karate Piala Panglima TNI tahun 2017 lalu. Hanifan Yudani Kusumah Pencak Silat menambah lagi pundi-pundi medali Indonesia di Asian Games 2018. Kali ini atas nama Hanifan Yudani Kusumah. Dalam laga perebutan medali emas nomor Tarung Putra Kelas C (55-60Kg) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta, Rabu (29/8), Hanifan menang 3-2, atas pesilat Vietnam, Thai Linh. Dalam pertarungan tiga ronde itu, Hanifan sempat mendapat kartu merah, karena dinilai menyerang wajah lawannya. Hanifan adalah pesilat berusia 20 tahun, namun sudah berhasil mengharumkan nama Indonesia. Remaja yang tumbuh di Bandung ini lahir pada 25 Oktober 1997. Sebelum tampil di Jakarta, Hanifan tercatat sebagai pesilat yang meraih medali emas pada Silat World Championships 2016 di Denpasar, Bali. Pada 2017, ia menyabet perunggu di Asian Championships yang digelar di Korea. Hanifan juga membawa perunggu pada Sea Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Atlet asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dikenal usai selebrasinya yang membuat calon presiden Prabowo Subianto, dan Presiden Indonesia Joko Widodo, saling berpelukan dan berselimutkan bendera Merah-Putih, ternyata merupakan seorang jockey balap motor handal, saat masih duduk di SMA. (Adt)

Kirab Obor Asian Para Games 2018 Dimulai, Solo Gelorakan Semangat Peduli Disabilitas

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharni, menerima api abadi dari Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jateng, untuk dinyalakan di lentera, dan segera diarak dalam acara kirab obor Asian Para Games 2018, yang dimulai di kota Solo, Jawa Tengah. (Adt/NYSN)

Solo- Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng), memulai rangkaian pelaksanaan Asian Para Games III/2018, pada Rabu (5/9). Dipilihnya Solo sebagai kota pertama kirab obor Asian Para Games III/2018, bukan tanpa alasan. Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), mengatakan jika kota Solo merupakan kota tempat lahirnya prestasi olahraga Indonesia. Selain itu, kota ini menjadi yang pertama ramah terhadap kaum disabilitas. “Kota Solo, merupakan ‘pabriknya’ prestasi olahraga Indonesia, dan ramah bagi disabilitas. Bahkan, klub bolanya berdiri sebelum adanya PSSI. Dan, yang tak kalah penting untuk diketahui YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) berdiri pertama kali di Solo,” ujar Okto, sapaan akrabnya, di Balai Kota Surakarta, Jateng, Rabu (5/9). Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) itu melanjutkan, kota Solo tak hanya melakukan rangkaian pertama pelaksanaan pesta olahraga terbesar empat tahunan bagi kaum disabilitas di kawasan Asia itu. Namun, ungkapnya, Solo juga menjadi saksi sejarah bahwa kota ini penanda awal digelarnya Asian Para Games III/2018. “Setelah ini, lentera ini akan kami bawa dan nyalakan torch, di Ternate (Maluku Utara) yang bertepatan dengan Haornas (Hari Olahraga Nasional),” tambah Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) periode 2011-2014 itu. Usai pengambilan api abadi dari Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jateng, kemudian api Asian Para Games III/2018, yang diletakan di lentera itu dibawa ke Jalanutami, markas NPC (National Paralympic Comittee) Indonesia. Api lalu diserahkan kepada Senny Marbun (Ketua Umum NPC Indonesia), sebelum diarak keliling kota. Api lalu dibawa oleh atlet Para Atletik, Nanda Mei Solikhah, Brigjend Pol Ahmad Lutfi (Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jateng), Brigjend TNI Bakti Agus Fadjari (Kepala Staf Daerah Militer IV Diponegoro), Zaenal Arifin (Atlet Para Atletik), dan Bertrand Antholin (Duta obor). Lalu ada Amandra Syah Arwan (Wakil Ketua Kejaksaan Tinggi Jateng), dan Rizal Bagus (Atlet para atletik) ke Kantor Wali Kota Surakarta di Jalan Selamet Riadi. Obor itu selanjutnya diserahkan kepada Puan Maharani (Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), dan diterima oleh FX. Hadi Rudyatmo (Wali Kota Surakarta). Setelah itu, api abadi akan melintasi berbagai kota di Indonesia seperti Ternate, Makassar (Sulawesi Selatan), Denpasar (Bali), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatera Utara), Pangkal Pinang (Kepulauan Bangka Belitung), dan Jakarta. Sementara itu, Puan menjelaskan Asian Para Games 2018 sebagai rangkaian dari Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, sebagai tuan rumah Indonesia sukses penyelenggaraan, prestasi, dan pembukaan serta penutupan. “Usai Asian Games 2018, untuk pelaksanaan Asian Para Games 2018 waktunya sangat pendek, kurang lebih 30 hari lagi. Dan sukses Asian Games 2018, Insya Allah akan disertai dengan sukses Asian Para Games 2018,” jelasnya. “Kalau Asian Games 2018 yang hadir bisa mencapai 17 ribu orang, Insya Allah di Asian Para Games 2018 bisa 5 ribu orang. Jumlahnya memang sepertiga, tapi semoga tidak mengurangi semangat kita semua untuk mensukseskan Asian Para Games 2018,” tambahnya. Puan menyebut, api obor Asian Para Games 2018 ini sejatinya melambangkan sebuah kekuatan dalam keberagaman semangat inspirasi energi Asia. “Maskotnya Momo (Burung Elang Bondol/Bald Eagle). Momo singkatan dari mobility dan movement yakni mobilitas dan gerakan. Pesan saya mari sama-sama mensukseskan Asian Para Games 2018,” tukas Puan. (Adt)

Berlaga di Asian Para Games 2018, Sebanyak 1.100 Atlet Wajib Diklasifikasi

dr. Christofer Muliadi Siagian (Direktur Klasifikasi INAPGOC/kiri) menyebut sebanyak 1.100 atlet yang akan bertanding di Asian Para Games 2018 wajib melewati proses klasifikasi guna menentukan cabor kelas mana mereka bertanding. (Adt/NYSN)

Solo- Sebanyak 1.100 atlet dari 41 negara bakal menjalani proses klasifikasi sebagai persyaratan wajib, mengikuti Asian Para Games III/2018 , yang dihelat pada 6-13 Oktober mendatang. Nantinya, terdapat 84 klasifikator yang telah bersertifikasi serta berpengalaman, di bidangnya masing-masing. Para Klarifikator ini akan menentukan pada kelas apa, atlet itu bertanding. Pada Asian Para Games III/2018, terdapat 18 cabang olahraga yang dipertandingkan dengan nomor pertandingan mencapai 337, serta memperebutkan 568 medali. “Klasifikasi ini meliputi visual impaired, wheelchair, amputees, cerebral palsy, dan intellectual disable. Dan, proses klasifikasi untuk atlet yang kecacatannya tetap, membutuhkan waktu empat hari,” ujar dr. Christofer Muliadi Siagian, Direktur Klasifikasi Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), Rabu (5/9). “Para klasifikator ini akan mulai bertugas pada 2 Oktober nanti. Mereka kelak yang menentukan, atlet itu akan bertanding diklasifikasi yang mana,” lanjutnya, di acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jawa Tengah (Jateng). Ia menambahkan meski sang atlet sudah melewati proses klasifikasi, namun tak tertutup kemungkinan pada saat pertandingan, ada pihak yang mengajukan keberatan atas klasifikasi itu. “Bisa saja melakukan keberatan atas klasifikasi yang ditetapkan, tapi tak sembarangan orang bisa mengajukan keberatan itu. Yang boleh itu, hanya CdM (Chief de Mission/Ketua Kontingen), dan harus membayar 200 dollar AS (Amerika Serikat),” tegasnya. “Dan tak semua atlet menjalani proses klasifikasi, salah satunya adalah cabor wheelchair tennis (tenis kursi roda). Karena cabang ini memakai sistem seeded atau peringkat, karena kejuaraannya juga rutin digelar, serta sesuai aturan yang berlaku,” tambah pria berkaca mata itu. Terkait hal itu, Waluyo, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, menyebut atlet Indonesia pernah merasakan gagal lolos klasifikasi, saat pelaksanaan Asian Para Games 2014, di Incheon, Korea Selatan (Korsel). Akibatnya, ungkap Waluyo, mereka tak bisa turun bertanding membela kontingen Indonesia. “Sistem klasifikasi pada saat itu, mengizinkan atlet masuk dulu (terdaftar), lantas dokumen pelengkap menyusul. Tapi, kalau di Asian Para Games kali ini, semua administrasi para atlet, sudah harus lengkap sejak awal,” terangnya. Lanjutnya, di Asian Para Games kali ini, Waluyo optimistis tak ada kendala yang dihadapi anak didiknya terkait proses klasifikasi. “Kami percaya diri dengan atlet yang ada karena sudah sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan,” imbuhnya. Sebagai tuan rumah, ia menegaskan Indonesia akan turun disemua cabang pertandingan, kecuali bola basket kursi roda putri. “Jujur, kami belum punya atletnya. Dan, kalau dipaksakan malah hasilnya tidak maksimal. Apalagi lawannya China, wah bisa sangat mencolok sekali nanti skornya,” pungkas Waluyo. (Adt)

Api Abadi Diambil Dari Mrapen, Kota Solo Awali Rangkaian Pawai Obor Asian Para Games 2018

Presiden Indonesia Asian Para Games 2018 Organizing Committee (INAPGOC) Raja Sapta Oktohari berpose dengan api abadi Asian Para Games III/2018, yang diambil dari kawasan Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), pada Rabu (5/9). Dan, Solo, Jateng, mennjadi kota pertama dari delapan kota, pawai obor Asian Para Games III/2018. (poskotanews.com)

Solo- Api abadi Asian Para Games III/2018 akan diambil dari kawasan Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), pada Rabu (5/9), dengan diiringi upacara serta prosesi doa bersama serta kesenian tari dan budaya ciri khas Jateng. Kegiatan itu sekaligus menjadi penanda awal, rangkaian pesta multievent olahraga terbesar bagi para penyandang disabilitas di kawasan Asia. Dan, Solo, Jateng, akan menjadi kota pertama dari delapan kota yang akan disinggahi pawai obor Asian Para Games III/2018. Api abadi itu nantinya diletakkan di lentera ddan ibawa ke Solo, dengan kendaraan, lalu singgah di Kantor Pusat Nasional Paralympic Committee (NPC), di Jalan Ir Sutami, Solo, sekitar pukul 12.00 WIB. “Sebelum kirab dimulai, Presiden Indonesia Asian Para Games 2018 Organizing Committee (INAPGOC) Raja Sapta Oktohari akan menyerahkan lentera kepada Ketua NPC, Senny Marbun dan dilanjutkan ke perwakilan atlet, Rizal Bagus,” ujar Ageng Nugroho, Divisi Ceremonies Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), pada Selasa (4/9). Lalu, lentera itu dibawa dengan naik kereta kencana. Dari sepuluh titik poin menuju Balaikota Solo, lentera juga akan dibawa lari secara estafet. “Nanti ada sejumlah tokoh yang akan membawa api abadi itu,” lanjutnya di acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jateng, Setelah di Solo, lentera selanjutnya dibawa menuju Ternate (Maluku Utara), dan dikirab bertepatan dengan pelaksanaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September 2018. Usai dipindah ke tourch, berikutnya api obor melintasi beberapa daerah dan berakhir di DKI Jakarta pada 30 September 2018. Sedangkan, Asian Para Games III/2018, dihelat pada 6-13 Oktober, dan tercatat 41 negara Asia sudah memastikan ikut ambil bagian. Sementara itu, Raja Sapta Oktohari, Ketua INAPGOC, berharap dukungan semua pihak, terutama media untuk melaksanakan tanggung jawab bangsa dalam menggelar Asian Para Games edisi ketiga ini. “Kami berharap dukungan dari semua stakeholder, terutama rekan-rekan media. Karena dalam perjalanan menyiapkan Asian Para Games 2018 banyak tantangan yang dihadapi, baik itu pada saat main event, maupun pascaevent,” tegas Okto, sapaan akrabnya. (Adt) Jadwal Tourch Relay Asian Para Games III/2018: 1. Solo, Jawa Tengah, 5 September 2018 2. Ternate, Maluku Utara, 9 September 2018 3. Makassar, Sulawesi Selatan, 12 September 2018 4. Denpasar, Bali, 16 September 2018 5. Pontianak, Kalimantan Barat, 19 September 2018 6. Medan, Sumatera Utara, 23 September 2018 7. Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 26 September 2018 8. DKI Jakarta, 30 September 2018

Targetkan 17 Medali Emas, Ini Cabang Olahraga Unggulan Indonesia di Asian Para Games 2018

Indonesia membidik posisi enam besar dengan target 17 medali emas, dalam Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober. Cabang olahraga seperti tenis meja, atletik, catur, bulutangkis, renang, menjadi unggulan untuk mendulang medali emas. (Pras/NYSN)

Solo- Indonesia membidik posisi enam besar dengan target 17 medali emas dalam Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober. Hal itu ditegaskan Senny Marbun, Presiden National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, pada Selasa (4/9). “Target kontingen Indonesia bisa berada diposisi 6 besar dengan jumlah 17 medali emas. Mudah-mudahan targetnya bisa melesat ke atas,” ujar Senny, dalam acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jawa Tengah (Jateng). Ia menjelaskan Indonesia memiliki cabang olahraga ungggulan yang diharapkan mampu mendulang medali emas pada ajang pesta multievent empat tahunan bagi para penyandang disabikitas itu. “Cabang olahraga yang menjadi unggulan seperti atletik, catur, bulutangkis, renang, tenis meja, powerlifting, dan sepeda,” lanjutnya. Senny optimistis, anak didiknya mampu berbicara banyak di Asian Para Games edisi ketiga ini. “Kami susah menggelar training center sekitar 8 bulan, sejak Januari tahun ini. Hasil limit juga sangat menggembirakan, karena sesuai dengan limit yang diharapkan,” ungkap Senny. Sementara itu, Setyo Budi Hartanto, atlet disabilitas lompat jauh dan lompat tinggi, berharap mencetak prestasi tinggi di Asian Para Games kali ini. “Asian Para Games 2014, Incheon, Korea Selatan, saya dapat perunggu di nomor lompat jauh. Semoga prestasi di Asian Para Games ini lebih baik dan dapat medali emas,” tegas Setyo. (Adt)

Diikuti 39 Negara Dengan 714 Atlet, Cabor Para Atletik Asian Para Games 2018 Jadi yang Terbanyak

Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC) berpose dalam acara Media Gathering Indonesia 2018 3rd Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier Solo, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (4/9). (Adt/NYSN)

Solo- Sebanyak 714 atlet dari 39 negara akan bersaing menjadi yang terbaik di cabang olahraga (Cabor) Para Atletik Asian Para Games III/2018, pada 6-13 Oktober. Jumlah ini menjadi yang terbanyak, dibandingkan 17 cabor lainnya, di ajang pesta multievent, bagi para penyandang disabilitas terbesar di Asia. “Para Atletik ini menarik, karena pesertanya paling banyak, hampir 714 orang dari 39 negara peserta. Dan, atlet Indonesia, Setiyo Budi Hartanto, jadi salah satu atlet unggulan yang akan ikut bertanding di cabang ini,” terang Fanny Irawan, Direktur Sport Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC), Selasa (4/9). Selain Para Atletik, ungkap Fanny, cabor yang menyumbang atlet terbanyak yakni Para Swimming. “Para Swimming itu atletnya 275 orang dan diikuti oleh 26 negara. Jumlah ini yang terbanyak setelah Para Atletik,” lanjutnya dalam acara Media Gathering Indonesia 2018 Asian Para Games, di Hotel Best Western Premier, Solo, Jawa Tengah. Ia menambahkan pada penyelenggaraan Asian Para Games kali ini terdapat cabang olahraga yang sangat menarik untuk disaksikan, salah satunya ialah Boccia. “Bahkan kami sampai melakukan studi banding untuk mempelajari Boccia. Nantinya cabang ini akan diikuti 14 negara dengan 83 atlet,” ungkapnya. Fanny juga menjelaskan untuk venue pertandingan, pihaknya memastikan sudah siap. “Untuk status venue, 90 persen siap. Tapi, ada beberapa yang dipercepat renovasinya seperti arena untuk cabang menembak (shooting) yang ada di kawasan Senayan. Dan, Minggu depan sudah mulai dikerjakan,” imbuhnya. “Untuk venue eks Asian Games, sudah tak ada masalah, mungkin beberapa venue yang masih kurang akan disiasati,” ucapnya. Mantan Deputi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI ini berharap, Pelatnas Asian Para Games III/2018 yang saat ini dilakukan di Solo, Jateng, bisa segera bergeser ke Jakarta. “Kami inginnya, para atlet Indonesia di Asian Games III/2018, bisa segera berlatih di Jakarta, agar mereka bisa beradaptasi dengan venue yang ada di Jakarta,” tukas Fanny. Asian Para Games 2018 ini akan diselenggarakan di 11 venue terpisah. Meski begitu, hampir semua venue berlokasi di Jakarta. Komplek Gelora Bung Karno masih menjadi arena utama untuk sebagian besar cabang. Lokasi terjauh ada di Sirkuit Sentul yang akan mempertandingkan cabang Balap Sepeda Road Race. (Adt) Cabang Olahraga Asian Para Games III/2018: 1. Archery (21 negara, 128 atlet) 2. Atletik (39 negara, 714 atlet) 3. Badminton (18 negara, 156 atlet) 4. Boccia (14 negara, 83 atlet) 5. Chess (10 negara, 90 atlet) 6. Cycling (11 negara, 60 atlet) 7. Goalball (10 negara, 89 atlet/tim) 8. Judo (16 negara, 113 atlet) 9. Lawnball (6 negara, 54 atlet) 10. Powerlifting (27 negara, 166 atlet) 11. Shooting (19 negara, 109 atlet) 12. Swimming (26 negara, 275 atlet) 13. Tenpinbowling (11 negara, 134 atlet) 14. Tenis Meja (25 negara, 253 atlet) 15. Sittting Volleyball (10 negara, 145 atlet) 16. Wheelchair Basketball (12 negara, 190 atlet) 17. Wheelchair Fencing (10 negara, 77 atlet) 18. Wheelchair Tennis (9 negara, 52 atlet)

Bonus Asian Games 2018 Rp 210 Miliar Cair, Atlet Dijamin Jadi PNS Tanpa Tes

Pemberian bonus bagi atlet dan pelatih yang berperstasi di Asian Games 2018 yang langsung diberikan Presiden Joko Widodo, sebelum upacara penutupan, menjadi yang tercepat sepanjang sejarah pemberian penghargaan bagi pahlawan olahraga Indonesia. (ivoox.co.id)

Jakarta- Pemerintah telah mencairkan bonus bagi atlet dan pelatih yang mengikuti Asian Games 2018 dengan total Rp 210 miliar. Pencairan bonus ini menjadi yang tercepat sepanjang pemberian penghargaan bagi pahlawan olahraga Indonesia. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengatakan, ajang multievent seperti SEA Games misalnya, bonus dicairkan setelah seluruh rangkaian pertandingan berakhir. “Jadi kira-kira butuh waktu dua bulan. Khusus, bonus Asian Games 2018 diberikan sebelum penutupan Asian Games 2018. Ini pemberian bonus kepada atlet yang tercepat. Dan besaran bonus kali ini naik dari sebelumnya,” ujar Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, di Istana Negara, Minggu (2/9). Menurutnya, anggaran bonus bagi atlet dan pelatih yang terlibat di pesta multievent olahraga empat tahunan itu berasal dari anggaran Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) ditambah dari Belanja Anggaran Umum Negara (BUN). “Termasuk di dalamnya bonus bagi atlet non medali yang besarannya Rp 20 juta,” lanjutnya. Bonus bagi peraih medali emas sebesar Rp 1,5 miliar secara penuh tanpa dipotong pajak. Untuk pasangan atau ganda memperoleh Rp 1 miliar perorang, dan beregu Rp 750 juta perorang. Sementara itu, peraih medali perak tunggal mendapatkan Rp 500 juta, ganda Rp 400 juta, serta beregu Rp 300 juta perorang. Peraih perunggu diberikan Rp 250 juta, ganda Rp 200 juta, dan beregu Rp 150 juta perorang. Lal, untuk pelatih yang atletnya meraih emas mendapatkan Rp 450 juta, perak Rp 150, dan perunggu Rp 75 juta. Dan, asisten pelatih perorangan atau ganda mendapatkan Rp 300 juta untuk emas, Rp 100 juta untuk perak, dan Rp 50 juta untuk perunggu. “Pelatih dan asisten pelatih dapat, mestinya cair hari ini, semua penerima per hari ini bisa melihat angkanya di buku tabungan,” tegas Imam. “Kalau untuk bonus rumah, kami masih bicarakan lagi dengan Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), tapi yang jelas secepatnya akan direalisasikan,” tambahnya. Selain itu, ia menambahkan semua peraih medali, akan di angkat menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Dan, proses pengangkatan PNS tanpa perlu mengikuti tes, melainkan lewat formasi khusus PNS. Namun, pria kelahiran 8 Juli 1973 itu, awal pengangkatan atlet tersebut harus berdinas di Kemenpora. Dan usai setahun bertugas di Kemenpora, bila mereka ingin pindah ke kementerian lain atau daerah asalnya, hal itu bisa dilakukan. Selain itu, meski berstatus PNS serta kerjanya bukan di ruangan, tapi mereka bisa tetap berlatih atau bekerja di Pelatnas (pemusatan latihan nasional). (Adt) Rincian Bonus Asian Games XVIII/2018: 1. Atlet Perorangan: – Emas Rp 1,5 miliar – Perak Rp 500 juta – Perunggu Rp 250 juta 2. Atlet Beregu: – Emas Rp 750 juta perorang – Perak Rp 300 juta perorang – Perunggu Rp 150 juta perorang 3. Pelatih Perorangan atau Ganda: – Emas Rp 450 juta – Perak Rp 150 juta – Perunggu Rp 75 juta 4. Pelatih Beregu: – Emas Rp 600 juta – Perak Rp 200 juta – Perunggu Rp 100 juta 5. Pelatih untuk Medali Kedua dan Seterusnya: – Emas Rp 225 juta – Perak Rp 75 juta – Perunggu Rp 37,5 juta 6. Asisten Pelatih Perorangan atau Ganda: – Emas Rp 300 juta – Perak Rp 100 juta – Perunggu Rp 50 juta 7. Asisten Pelatih Beregu: – Emas Rp 375 juta – Perak Rp 125 juta – Perunggu Rp 62,5 juta 8. Asisten Pelatih untuk Medali Kedua dan Seterusnya: – Emas Rp150 juta – Perak Rp 50 juta – Perunggu Rp 25 juta

Kandaskan SMK PGRI 1 Cibinong Di Laga Pembuka, Tim Basket Putra Kharisma Bangsa Unggul Pengalaman

Tim putra SMA Kharisma Bangsa (putih) mengalahkan SMK PGRI 1, Cibinong, dengan skor 91-22, dalam laga pembuka turnamen bola basket ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, di lapangan Basket SMAN 13, Depok, pada Sabtu (1/9). (Adt/NYSN)

Depok- Tim putra SMA Kharisma Bangsa mengawali laga pembuka kompetisi bola basket bertajuk ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, pada Sabtu (1/9), dengan hasil positif. Bermain di Lapangan Basket SMAN 13 Depok, Jawa Barat, Fajar Satria dan kolega menang telak 91-22 atas SMK PGRI 1, Cibinong, Jawa Barat. Satria, Kapten Tim, mengatakan performa timnya pada pertandingan itu dalam kondisi baik. “Di kuarter pertama kami masih butuh adaptasi dengan lapangan. Tapi, selebihnya kami bermain sangat baik,” ujar Satria. Menurutnya, lawan merupakan tim yang cukup bagus. “Mungkin mereka kurang pengalaman, sehingga kami bisa manfaatkan kondisi itu meraih kemenangan,” lanjutnya. Senada, Abdurrasjid Juzar mengungkapkan, pada pertandingan perdana ia dan kolega masih diberi kemudahan dalam memenangkan laga. “Jam terbang dan pengalaman kami mungkin lebih banyak dibanding lawan,” terangnya. “Apalagi sebagian pemain kami juga berhasil dalam mengeksekusi lemparan tiga angka ke jaring lawan,” tukas Abdurrasjid. (Adt)

Satelite Cup 2018 Resmi Digelar, Ajang Pebasket Pelajar di Depok Tambah Pengalaman Tanding

Pemain tim basket putra tuan rumah SMAN 13 Depok, Bagas Nugroho (99) tengah melakukan tembakan ke arah jaring SMAN 26. Tim tuan rumah akhirnya unggul denga skor yang cukup jauh 61-31, pada laga perdana Satelite Cup 2018 Volume 2, pada Sabtu (1/9). (doc. SMAN 13)

Depok- Turnamen basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Jabodetabek bertajuk ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, yang diselenggarakan SMAN 13 Depok, Jawa Barat (Jabar), resmi digelar pada 1-23 September. Ajang ini menjadi kesempatan terutama kalangan pelajar yang memiliki bakat bermain basket untuk menambah pengalaman bertanding. “Event ini kedua kalinya diselenggarakan di sekolah kami. Pada Satelite Cup sebelumnya, berlangsung lancar dan bisa dijadikan sebagai upaya untuk menambah pengalaman bertanding, terutama bagi pelajar yang memang memiliki passion di basket, di Kota Depok,” ujar Bagus Kumala Aji, Humas ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, Rabu (5/9). Ia melanjutkan bahwa ajang ini sebagai upaya agar Pemerintah Kota Depok memberikan perhatian pada olahraga basket, mengingat banyak potensi pebasket di Kota peyangga Jakarta itu. “Sayangnya belum mempunyai wadah yang bagus untuk para pecinta basket ini. Kami berpikir untuk menggelar event ini secara berkala,” tambahnya. Terdapat 22 tim putra dan putri dari SMA se-Jabodetabek yang bersaing untuk menjadi yang terbaik. Bagus berharap event ini dapat berlangsung sukses. “Kompetisi ini digelar pada Sabtu dan Minggu, di Jalan P nomor 72, Kalimulya, Depok,” terang Bagus. “Untuk pertandingan pekan pertama, yakni pada 1 dan 2 September terlaksana dengan sukses. Dan laga berjalan sengit. Semua pemain menujukkan skill yang mereka miliki,” terangnya. “Semoga menjadi tolak ukur sekolah lain juga untuk membantu memberikan wadah bagi para pecinta basket, untuk berkembang lebih jauh lagi,” tegasnya. Sementara itu, pada laga perdana, tim basket putra tuan rumah SMAN 13 Depok meraih kemenangan usai menaklukkan SMAN 26 Jakarta, dengan skor 61-31. Duel kedua tim di pertandingan itu berjalan seru. Meski saling kejar mengejar angka, namun SMAN 13 Depok mampu menutup paruh kuarter dengan keunggulan 27-17. Tak tinggal diam, skuat SMAN 26 Jakarta berusaha menebar ancaman pada tim tuan rumah. Namun, Farid dan kolega masih terlalu tangguh bagi lawan. Mereka akhinrya mampu menutup dua kuarter sisa dengan skor akhir 61-31. Farid , Kapten Tim SMAN 13 Depok , mengatakan timnya bermain dengan kepercayaan diri penuh, terlebih mereka tuan rumah. “Kami juga lebih banyak memiliki pemain-pemain yang mau berkerja sama sebagai team bukan sebagai individu,” tukas Farid. (Adt)

Antiklimaks Takluk Dari Vietnam 1-3, Voli Putri Indonesia Gagal Kunci Posisi Enam Besar

Aprilia Santini Manganang (9) dkk gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas voli putri Indonesia dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. (Riz/NYSN)

Jakarta- Aprilia Santini Manganang dan kolega gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas bola voli putri Indonesia itu dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Di pertandingan ini, kedua tim tampil percaya diri serta mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di set pertama, Vietnam yang dimotori Dinh Thi Tra Giang mampu menyudahi perlawanan ketat tuan rumah dengan skor 29-27. Memainkan set kedua, Amalia Fajrina Nabila dan kawan-kawan berusaha bangkit. Bahkan kerap unggul dalam perolehan poin dengan lawan, serta berhasil mencuri kemenangan dengan skor jauh 25-18. Namun, anak asuh Mohamad Ansori tak mampu menjaga performa. Vietnam yang sempat tertekan di set kedua, justru balik menebar ancaman ke kubu Merah Putih diset ketiga. Berada di atas angin, Vietnam makin ‘gila’ dengan melancarkan smash keras menghujam yang tak mampu dibendung srikandi Merah Putih. Akhirnya, Vietnam merebut set ini dengan skor 25-22. “Set kedua kami bisa menang karena servis dan nyerang terus. Tapi, di set ketiga lawan mulai berani servis, sedangkan kami tidak siap dan kewalahan sendiri. Apalagi pertahanan kami terdapat banyak celah serta kurang cepat bisa baca lawan,” ujar Amalia, Kapten Timnas Bola Voli Putri Indonesia usai laga. “Jadi harusnya yang jadi patokan diam di situ, ini justru memposisikan dirinya belum jelas. Ini yang membuat Vietnam tahu kelemahan kami, begitu juga dengan blok-blok dari kami yang tidak sempurna,” tambahnya. Di set keempat, Manganang Cs sempat membentang asa. Meski perolehan poin sempat tertinggal dari Vietnam sejak awal laga, namun mereka berusaha mengejar poin hingga kedudukan 17-`18 dan 19-20. Akibat kurang tenang dalam menerima serta mengeksekusi bola, membuat timnas bola voli putri Indonesia harus mengakui ketangguhan Vietnam yang mengunci set ini dengan skor 22-25. Hasil tersebut membuat mereka gagal mengulang sukses di ajang SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika itu, timnas bola voli putri berhasil menaklukkan Vietnam, di semifinal, dengan skor 3-2. “Sebenarnya ini sesuai target delapan besar. Tapi, karena ketemu Vietnam, inginnya teman-teman menang, karena di SEA Games kemarin kami menang lawan mereka, apalagi masih sesama negara Asia Tenggara,” ungkap Amalia. “Ya, pinginnya bisa peringkat 5-6, tapi enggak bisa dan harus turun lagi. Ini kan kayak musuh bubuyutan. Dan, sekarang jadi 7-8 peringkatnya,” lanjutnya. Sementara itu, Manganang mengaku penampilannya di pertandingan kali ini berada di bawah performa terbaiknya. “Memang saya tampil tadi tidak maksimal. Mungkin ada faktor kelelahan juga karena jadwal pertandingannya kan sangat mepet waktunya. Soal stamina juga bisa jadi catatan tersendiri untuk kedepannya perlu diperhatikan,” tegasnya. Manganang Cs masih melakoni satu laga lagi menghadapi Kazakhstan untuk posisi 7 dan 8 pada Sabtu (1/9). Mohammad Ansori, Arsitek Tim, berharap timnya bermain bagus kontra Kazakhstan. “Soal peluangnya belum tahu, dilihat besok saja. Mudah-mudahan lebih bagus dari hari ini,” ucap Ansori. (Adt)

Selisih 61 Detik Dari Jepang, Lalu Muhammad Zohri Cs Raih Perak Asian Games 2018

Lalu Muhammad Zohri bersama Tim Lari Estafet 4x100 Meter putra Indonesia, yang beranggotakan Fadlin Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara, meraih medali perak dalam cabor atletik, usai mengukir catatan waktu 38,77 detik, atau lebih lambat 61 detik dari Tim Putra Jepang. (solopos.com)

Jakarta- Lalu Muhammad Zohri dan kolega harus puas dengan torehan medali perak Asian Games 2018, pada nomor Lari Estafet 4×100 Meter, di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Kamis (30/8). Ukiran waktu yang dibukukan kuartet Merah Putih itu terpaut 61 detik dari wakil Jepang, yang dihuni atletnya yakni Ryota Yamagata, Shuhei Tada, Yoshihide Kiryu, Aska Antonio Cambridge. Negeri Sakura itu mengamankan medali emas dengan membukukan waktu 38,16 detik. Sedangkan Zohri Cs mencetak waktu 38,77 detik. Catatan itu memecahkan rekor nasional yang mereka torehkan dalam babak kualifikasi pada Rabu (29/8), yakni 39,03 detik. Selain itu, medali perak 4×100 meter putra kali ini juga menjadi sebuah penantian panjang. Indonesia kali terakhir meraih medali perak Asian Games nomor 4×100 meter putra pada 1966 di Bangkok, Thailand. Pada Asian Games 1966, tim estafet 4×100 meter putra bermaterikan Supardi, Wahjudi, Sugiri, dan Jootje Oroh. Penampilan anak asuh Mohammad Hasan, atau yang akrab disapa Bob Hasan itu, menyakinkan sejak awal pertandingan. Menurunkan Fadlin sebagai pelari pertama, Indonesia mampu membuntuti wakil Jepang. Dan Zohri yang diplot sebagai pelari kedua, juga mampu menjaga konsistensi. Dilanjutkan Eko Rimbawan sebagai pelari ketiga. Akhirnya, pelari Bayu Kertanegara sebagai pelari terakhir berhasil menjejak finish diurutan kedua. Sementara itu, China yang bermaterikan Haiyang Xu, Hong Mi, Bingtian Su, dan Zhouzheng Xu, akhirnya berhak atas medali perunggu setelah hanya mampu menorehkan waktu 38,89 detik. “Kami semua sangat bersyukur kepada Tuhan, hari ini kami diberikan kesempatan untuk melihat lagi berkah-Nya. Akhirnya, tim relay 4×100 meter meraih medali perak,” ujar Tigor M Tanjung, selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) saat konferensi pers. “Sejak beberapa waktu lalu, nomor ini memang kami targetkan untuk meraih medali. Apa yang kami idamkan akhirnya tercapai. Semua berkat kerja keras keempat atlet kita ini,” tutur Tigor. Tim estafet 4×100 meter putra Indonesia berada di bawah asuhan pelatih Eni Sumartoyo Martodihardjo. Eni menyatakan catatan Zohri dkk sudah memenuhi ekspektasinya. Ia merasa sangat bahagia dengan kerja keras yang ditunjukkan anak-anak asuhnya. “Saya tak pernah memprediksikan mereka dapat medali emas, karena ini merupakan olahraga terukur, dan kami tahu bagaimana perkembangan negara lain,” ucap Eni. “Saya hanya mengharapkan mereka bisa berlari dengan catatan waktu di bawah 39 detik dan mendapatkan salah satu medali. Sekarang, dengan raihan perak, saya sudah sangat senang,” tutur dia. Pada Asian Games 2018, cabang olahraga atletik telah menyumbangkan 3 medali untuk Indonesia, yakni dengan rincian 2 perak dan 1 perunggu. Medali perak sebelumnya dipersembahkan Emilia Nova dari nomor 100 meter lari gawang putri. Adapun perunggu diraih Sapwaturrahman dari nomor lompat jauh putra. Total, hingga Kamis (30/8) pukul 19.30 WIB, Indonesia telah mengoleksi 30 emas, 23 perak dan 37 perunggu. (Adt)

Incar Prestasi Olimpiade 2020 Tokyo, Pelatih: Pelatnas Panjat Tebing Jangan Berhenti

Trio tim speed relay Indonesia, Rindi Sufriyanto (kiri), Abu Dzar Yulianto (kanan), dan M. Hinaya, sukses meraih medali emas cabang panjat tebing Asian Games 2018, di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). (FPTI)

Jakarta- Cabang olahraga Panjat Tebing sukses meraih tiga emas, dua perak, dan satu perunggu di ajang Asian Games XVIII/2018. Prestasi yang diukir Aries Susanti Rahayu (speed putri) dan kolega menjadi batu loncatan menuju event olahraga terbesar di dunia, Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Tantangan pertama adalah bagaimana kami bisa lolos di kualifikasi Olimpiade pada tahun depan,” ujar Hendra Basir, Pelatih Speed World Record Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Kamis (30/8). Sementara itu, menjadi juara umum cabang panjat tebing pada pesta multi-cabang empat tahunan se-Asia itu, menurut Caly Setiawan, Pelatih Kepala Timnas Panjat Tebing Indonesia, mengindikasikan prestasi anak didiknya itu makin dekat ke Olimpiade. Namun, untuk bisa mengejar prestasi di Olimpiade, ungkap Caly, persiapan menjadi penting dan tidak bisa ditunda. “Dua tahun bukan waktu yang lama untuk menyiapkan ke Olimpiade,” cetusnya. Terlebih, pihaknya, tambahnya, harus menyiapkan nomor-nomor lain. “Kita sudah ready (siap) di nomor speed, tapi kami harus menyiapkan boulder dan lead. Dan itu tidak bisa dalam waktu dekat,” jelasnya. “Kalau Timnas Indonesia mau jadi ‘monster’ lagi, Pelatnas (pemusatan latihan nasional) tidak boleh berhenti dan harus terus dijalankan, dan juga tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” terangnya. “Caranya, buka jalan baru dan alternatif. Manfaatkan sponsorship agar pelatnas atau pembinaan itu jalan. Modelnya anak asuh atau bapak asuh. Banyak modelnya,” tukas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) itu. (Adt)

Manganang Cs Takluk 0-3 Dari Korea, Kalah Pengalaman dan Jam Terbang

Aprilia Santini Manganang (9) dan kawan-kawan, takluk 3-0 dari Timnas putri Korea Selatan, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas putri Indonesia harus takluk dari Korea Selatan (Korsel) dengan skor 0-3, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). Aprilia Santini Manganang Cs dipaksa menyerah dalam pertarungan tiga set, 22-25, 13-25, dan 18-25 atas Negeri Ginseng, dalam waktu 76 menit. Amalia Fajrina Nabila, Kapten Tim, mengaku banyak pelajaran yang didapat dirinya dan kolega pada laga ini. Terlebih, menurut pemain bernomor punggung 7 itu, pertandingan kali ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua tim setelah beberapa tahun Indonesia absen di kejuaraan Asia. “Ini baru pertama kali lagi kami bertemu dengan mereka setelah beberapa tahun Indonesia tidak pernah ikut kejuaraan Asia. Tapi, secara keseluruhan kami sangat puas untuk pertandingan hari ini,” ujar pemain berusia 24 tahun itu usai laga. Diakuinya, level Indonesia dengan Korsel berbeda. “Di pertandingan tadi kami sudah berusaha maksimal. Di Asian Games sebelumnya mereka itu juara dengan mengalahkan Jepang. Ya, bisa dlihat perjuangan kami serta salut juga buat teman-teman yang lain,” tambahnya. “Kami tidak pernah ikut kejuaraan. Dan sekalinya ikut di Asian Games, apalagi ketemunya Korsel. Mereka tim yang konsisten ikut Grand Prix bahkan Olimpiade. Yang pasti banyak pelajaran yang didapat terutama teknik dan mental,” ungkap Amalia. Sementara itu, kendati takluk dari Korsel, namun Aprilia Manganang mengaku puas dengan dengan pertandingan yang dilakoninya bersama tim. “Sangat puas pertandingan hari ini. Apalagi tadi poinnya juga rapat terus. Kami banyak mengambil pelajaran dari mereka. Yang pasti pengalaman mereka dengan materi pemain yang bagus-bagus,” jelasnya. “Tadi juga bisa dilihat mereka mainnya tenang karena mungkin dari pengalaman dan juga jam terbang. Jadi Indonesia harus banyak bertanding di luar untuk mengimbangi permainan seperti tim Korsel,” ungkapnya. Diketahui, Indonesia melaju ke perempatfinal setelah berhasil bertahan di posisi empat besar Grup A. Srikandi Merah Putih menduduki posisi ketiga di klasemen akhir Grup A dengan poin 6, hasil dari 2 kali menang dan 2 kali kalah. Pada pertandingan terakhir di babak penyisihan Grup A, Timnas Indonesia harus menyerah saat melawan Thailand dengan skor 1-3, pada Senin (27/8). Di pertandingan ini, Timnas Indonesia hanya bisa mencuri keunggulan di set kedua dengan skor 25-20. Pada tiga set lain, Thailand menang dengan skor 19-25, 13-25 dan 13-25. Hasil ini membuat Thailand mengoleksi 12 poin dari 4 laga sekaligus merebut puncak klasemen akhir Grup A. Sedangkan Mohammad Ansor, juru racik tim, menargetkan anak didiknya bisa finish diposisi 5 besar. “Kami yakin anak-anak bisa ambil posisi 5 atau 6. Itu memang target yang ingin dicapai,” tukas Ansori. (Adt)

Hasilkan Emas Ke-24 Kontingen Asian Games Indonesia, Dobel Kevin/Marcus Bidik Prestasi di Olimpiade Tokyo

Tundukkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, dalam final ganda putra Asian Games 2018, di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). (Riz/NYSN)

Awas Jakarta- Menyudahi laga ketat dari rekan senegara, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, di partai final yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). Kemenangan itu pun mengantarkan Kevin/Marcus meraih medali emas pertamanya di ajang Asian Games. Hebatnya, ini penampilan perdana mereka di Asian Games. Tentu hasil ini juga menjadi pembuktian bagi keduanya, hingga level Asian Games, mereka berhasil bebas dari kutukan Lee Chong Wei. Chong Wei merupakan pemain Malaysia yang amat mendominasi nomor tunggal putra beberapa tahun terakhir. Bahkan berbagai gelar Superseries yang didapat Chong Wei bisa dibilang tak terhitung. Namun, pada ajang bergengsi untuk negaranya, Chong Wei selalu mengalami kegagalan. Prestasi terbaik Lee Chong Wei hanyalah meraih medali perak seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan paling tinggi Olimpiade. Pada tiga edisi terakhir Asian Games pun Chong Wei pencapaian optimal pebulu tangkis 35 tahun itu, hanyalah meraih perak pada 2010. Hal serupa sempat menghantui Kevin/Marcus. Dominasi dobel peringkat satu dunia itu terlihat pada kejuaraan Superseries sejak 2017 hingga kini. Namun, di berbagai event penting, Kevin/Marcus nihil gelar, dengan yang paling mencolok di Kejuaraan Dunia. Tampil dalam dua edisi, duet ini belum bisa berbicara banyak dan bahkan belum pernah meraih medali. Kini di Asian Games 2018, Kevin/Marcus yang melakoni debutnya mampu memecahkan kebuntuan tersebut. Raihan emas di pesta olahraga terbesar se-Asia itu, memastikan mereka tak senasib dengan Chong Wei. Guna mematahkan kutuhkan Chong Wei, adalah menjadi kampiun Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Pada Olimpiade, Kevin/Marcus belum pernah tampil. Olimpiade Tokyo 2020, bisa menjadi jalan baginya untuk membuktikan diri jadi yang terbaik setelah emas Asian Games 2018. Medali emas Kevin/Marcus ini menjadi emas kedua dari cabor bulutangkis atau yang ke-24 untuk kontingen Indonesia. Sebelumnya, medali emas disumbangkan Jonatan Christie dari nomor tunggal putra usai mengalahkan pebulutangkis Taiwan, Chou Tienchen, 21-18, 20-22, dan 21-15. Prestasi tertinggi Fajar/Rian adalah medali emas SEA Games 2017 di nomor beregu putra. Sementara Kevin/Marcus merupakan juara dunia 2018 dan juga ganda putra peringkat satu dunia. Kevin memuji penampilan Fajar/Rian yang bermain dalam performa terbaik. “Puji Tuhan atas pertandingan hari ini. Padahal, skornya tadi sempat jauh, tapi bisa menang. Mereka bermain sangat baik dan diluar ekspektasi kami,” terang Kevin. Ditambahkan Marcus, pada pertandingan tadi keberuntungan menjadi faktor mereka meraih kemenangan. “Apalagi di gim ketiga mereka unggul, tapi di poin-poin akhir, kami lebih beruntung dari mereka,” timpalnya. Sementara Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), mengaku jika semula mentargetkan bulutangkis bakal meraih emas, dari ganda campuran dan ganda putra. “Pencapaian di Asian Games 2018 disemua sektor cukup baik. Di beregu putri dan tunggal putri prestasinya sudah lumayan, meski tak mendapatkan medali. Tapi Gregoria (Mariska Tunjung) mampu mengibangi lawan pemain unggulan. Dan memang kami tidak targetkan, justru ganda campuran yang target emas, malah dapetnya perunggu,” jelas Susy. “Emas tak terduga juga dapat dari tunggal putra. Dan ganda putra diluar ekspekstasi, karena setelah 44 tahun yakni Asian Games 1974, akhirnya kembali all indonesian final,” tukas istri dari legenda bulutangkis, Alan Budikusuma itu. Saat Asian Games 1974, di Teheran, Iran, partai final cabang bulutangkis mempertemukan sesama pemain Indonesia, yakni ganda Tjun Tjun/Johan Wahjudi meraih emas setelah menagalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra. Tambahan emas dari ganda putra itu membuat total koleksi medali kontingen Indonesia di Asian Games 2018 menjadi 24 emas, 19 perak, dan 29 perunggu. Sampai berita ini dibuat, untuk sementara posisi Indonesia mantap di peringkat keempat unggul enam medali emas atas Iran. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

All Indonesian Final Nomor Speed Relay Panjat Dinding, Indonesia Kawinkan Medali Emas dan Kokoh di Peringkat Empat Besar

Tim Speed Relay Putra Indonesia 2, yang diwakili oleh Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1, di Jakabaring Sports City, Palembang, Senin (27/8). (INASGOC)

Palembang- Indonesia menambah pundi-pundi emasnya. Kali ini emas didapat dari cabang olahraga (cabor) panjat tebing, nomor speed relay putra, lewat Tim Indonesia 2, dan nomor speed relay putri lewat Tim Indonesia 1. Prestasi ini melampaui target Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) yang dibebankan dua medali emas. Pada laga yang berlangsung di Jakabaring Sports City (JSC), Palembang, Senin (27/8) malam WIB, partai final menyajikan duel antara sesama Indonesia, yakni Indonesia 1 vs Indonesia 2. Dalam all Indonesian Final ini, Indonesia 2 yang diwakili Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1 yang diwakili oleh Aspar, Sabri, Muhammad Fajri Alfian, dan Septo Wibowo yang melakukan false start. Tambahan medali ini pun membuat Indonesia mengoleksi 22 emas, setelah sebelumnya nomor relay putri juga menghadirkan emas untuk Indonesia. Di partai final Tim Putri Indonesia 1, mampu tampil sebagai pemenang, usai China 1 melakukan false start. Sebelum naik podium, Tim Putri Indonesia 1 yang dihuni Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, dan Fitiyani, berhasil jadi yang tecepat dengan catatan waktu 25.01 detik, pada babak kualifikasi. Mereka mengandaskan dua tim China sekaligus, yang menempati peringkat kedua dan ketiga dengan catatan waktu 26.32 detik dan 28.00 detik. Atas raihan tersebut Indonesia semakin kokoh di posisi empat klasemen, perolehan medali Asian Games 2018. Di panjat dinding, Indonesia total sudah meraih tiga emas. Khusus untuk Aries , ini adalah emas kedua yang diraihnya. Sebelumnya, dia meraih emas pada nomor individu kecepatan putri. Sementara itu, bagi Puji Lestari, medali emas ini melengkapi medali perak yang juga diraih pada nomor individu kecepatan putri. (Adt)