Beregu Indonesia Hadapi Lawan Berat, PBSI Minta Kerja Keras Sejak Awal

Anthony Sinisuka Ginting, salah satu andalan skuat tim bulutangkis beregu putra Indonesia Asian Games XVIII/2018 harus berjuang keras sejak awal. Sebab, mereka dihadapkan tantangan berat. (Pras/NYSN)

Jakarta- Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) meminta tim beregu putra dan putri Asian Games XVIII/2018 harus berjuang keras sejak awal. Sebab, mereka dihadapkan tantangan berat. Hal itu dikatakan Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBSI menanggapi hasil undian beregu cabang bulutangkis, di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (16/8) malam. “Kita tidak bisa mengeluhkan hasil drawing. Itu adalah fakta yang harus dipersiapkan. Yang penting tim berjuang keras sejak awal,” ujar Budiharto. Tim putra Indonesia berada di pool bawah bersama tim India, Maladewa, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan (Korsel). Indonesia yang menempati unggulan dua mendapat jatah bye di laga perdana. “Hasil tim putra, ini perjuangan berat untuk semuanya. Karena tim-tim bagus terkumpul di pool bawah. Untuk babak pertama kalau digambarkan, Jepang bertemu Malaysia, Korsel berhadapan dengan Thailand. Empat tim tersebut terkumpul dan hanya satu yang ke semifinal,” lanjutnya. Jika di babak kedua berhasil melewati hadangan pemenang antara India dan Maladewa, Indonesia bakal menghadapi lawan berat di semifinal. “Kami menunggu pemenang antara Maladewa dan India. Memang perjuangan berat nantinya di semifinal. Siapa pun yang melewati India. Tim yang dihadapi relatif kuat,” tambahnya. Sementara, tim putri Indonesia menempati pool atas bersama Hongkong, Korsel, India, dan Jepang. Srikandi Merah Putih memulai laga pembuka menantang Hongkong. Jika berhasil melewati Hongkong, Fitriani dan kolega di perempat final bakal berjumpa dengan Korsel yang mendapatkan bye di babak pertama. Dan jika langkah mereka terus berlanjut, maka mereka akan bertarung dengan pemenang antara Jepan dan India. Baik Jepang maupun India, turut mendapatkan bye di babak pertama. “Kalau tim putri, kami tahu karena tidak seeded. Hasil undian itu realitas yang harus dihadapi. Kami berada di pool atas. Pertama, kami sudah harus berjuang menghadapi Hongkong. Jika lolos bertemu Korsel. Jadi ini yang harus dihadapi,” tukas Budiharto. (Adt) Skuat Beregu Bulutangkis Indonesia Asian Games 2018 : Putra : 1. Jonatan Christie 2. Anthony Sinisuka Ginting 3. Ihsan Maulana Mustofa 4. Kevin Sanjaya Sukamuljo 5. Marcus Fernaldi Gideon 6. Fajar Alfian 7. Muhammad Rian Ardianto 8. Mohammad Ahsan 9. Tontowi Ahmad 10. Ricky Karanda Suwardi Putri : 1. Fitriani 2. Gregoria Mariska Tunjung 3. Ruselli Hartawan 4. Greysia Polii 5. Apriyani Rahayu 6. Della Destiara Haris 7. Rizki Amelia Pradipta 8. Ni Ketut Mahadewi Istarani 9. Liliyana Natsir 10. Debby Susanto

Alvin, Pemuda 18 Tahun ini Optimis Dapat Menjadi Juara Dunia Bulutangkis All England

Alberto Alvin Yulianto. ikut mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan Badminton Asia Junior Championship 2018.

Jakarta- Indonesia memiliki banyak potensi atlet-atlet usia muda dari masing-masing cabang olahraga, baik dari laki-laki maupun perempuan. Salah satunya adalah Alberto Alvin Yulianto atau “Alvin” sapaan akrabnya. Tergabung di Pelatnas Cipayung sejak tahun 2017 lalu, Ia turut serta dalam mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan Badminton Asia Junior Championship 2018. Memulai karirnya di olahraga bulutangkis sejak usianya 7 tahun, ketika itu dirinya diajak oleh sang ayah dan ibu ke lapangan untuk bermain bulutangkis hingga akhirnya menyukai olahraga tersebut. “Udah merasa nyaman ya di bulutangkis, dulu kan suka dapet bonus kalo juara jadi makin semangat latihannya” kata Alvin. Berkat kemampuannya dalam bermain bulutangkis yang kian terasah Alvin akhirnya terrgabung dalam PB Kartika di Purwokerto, disini Ia mengikuti kejuaraan pertamanya saat masih berusia 10 tahun pada tingkat Propinsi Jawa Tengah, kemudian pada tahun 2011 Alvin bergabung dengan PB Djarum yang berlokasi di ‘Kota Kretek’ Kudus. “Saya 6 tahun di PB Djarum dari tahun 2011, saat itu ada pemanggilan untuk gabung ke pelatnas ditahun 2017 saya mulai gabung.” ujar remaja berusia 18 tahun itu. Bermain di area tunggal putra menjadi pilihannya sejak kecil, merasa nyaman dan sudah mendapatkan alur yang tepat menjadi alasannya untuk berjuang seorang diri di lapangan. Saat ini dirinya sudah lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan akan segera menentukan jalannya untuk lebih terjun ke dunia pendidikan atau fokus untuk menjadi atlet. “Kalau sekarang fokusnya masih badminton sih, kalau kuliahnya masih belom terlalu dipikirin. Kalau harus milih sekolah dan badminton, saya pilih badminton” ungkap remaja kelahiran Purwokerto tersebut. Alasan lebih memilih menjadi atlet karena sudah menjadi rutinitas sejak kecil dan sudah memfokuskan diri untuk terus berlatih, membuat dirinya optimis menjadi seorang atlet. Selama menjadi atlet ada banyak cobaan  yang dilalui, bahkan Alvin pun sempat mengalami cidera di bagian pinggang yang cukup parah pada tahun 2015. Cidera ini mengakibatkan dirinya harus beristirahat penuh selama kurang lebih satu bulan. “Suka duka jadi pemain sih, dari sukanya banyak yang dukung kayak penonton, orang tua, keluarga, dapet bonus kalau juara. Kalau duka sih waktu habis untuk latihan ya, orang-orang pada liburan bareng keluarga kita harus latihan” pungkas remaja yang mengidolakan Lee Chong Wei dan Anthony Ginting itu. Dalam waktu dekat Alvin menargetkan dirinya untuk lolos bahkan menjadi juara di event Asia Junior dan juga event World Junior, bahkan untuk jangka panjang Alvin optimis bisa meraih medali emas di kompetisi internasional seperti All England.(Ham) Profil Singkat Nama : Alberto Alvin Yulianto Tempat/Tgl Lahir : Purwokerto, 7 Januari 2000 Alamat Tinggal : Pelatnas Cipayung jl Damai Raya Jakarta Timur Alamat Rumah : Perum. Puri Hijau P16 no. 17 Purwokerto Selatan Orang Tua : Lilik (ayah) Sucien (ibu) Nomor Ponsel : 087888703977 Media Sosial : Ig @albertoalvinyulianto Pendidikan SD Santo Yoseph purwokerto SMP Taman Dewasa Kudus SMA Keluarga Kudus Prestasi Juara 1 Sirkuit Nasional Semarang Tahun 2016 Juara 1 Sirkuit Nasional Medan Tahun 2016 Runner Up Sirkuit Nasional Makassar Tahun 2016 Semi Final Sirkuit Nasional Cirebon Tahun 2016 Semi Final Victor Exist Junior Tahun 2016 Juara 1 Junior Master Cup Tahun 2016 Juara 3 International Junior Championship Tahun 2017 Juara 3 International Series Peru Tahun 2017 Juara 1 Pembangunan Jaya Raya Cup Tahun 2017 Juara 1 Super Liga Junior Tahun 2017 Kuarter Final Grand Prix Dutch Belanda 2018 Kuarter Final Grand Prix Jerman Junior 2018 Kuarter Final Grand Prix Thailand Junior 2018

Lakoni Duel Rubber Game, Duet Tuan Rumah Gabriel/Galuh Mulus Ke Partai Puncak U-17

Ganda putra Gabriel Christopher Wintan Wijaya/Galuh Dwi Putra (Daihatsu Candra Wijaya) harus melewati laga rubber game kontra Crisandy Santosa/Enzo Ramadhan Satriyadi, 15-21, 21-19, dan 21-17, dalam tempo 46 menit. (Pras/NYSN)

Serpong- Langkah ganda putra Gabriel Christopher Wintan Wijaya/Galuh Dwi Putra (Daihatsu Candra Wijaya) belum terbendung pada kejuaraan bertajuk ‘9th Yonex-Sunrise Double Special Championship 2018’, Kategori Usia (U) 17 Tahun. Melakoni laga semifinal, di Hall Candra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC), pada Jumat (3/8), duet tuan rumah sekaligus unggulan satu itu dipaksa melakoni pertarungan melelahkan rubber game kontra Crisandy Santosa/Enzo Ramadhan Satriyadi, 15-21, 21-19, dan 21-17, dalam tempo 46 menit. Galuh mengatakan kekalahan yang diderita pada gim pertama akibat ia bersama Gabriel masih mencari celah kelemahan lawan. “Di gim kedua kami main lebih cepat dan nggak banyak angkat bola. Lebih diturunin lagi bolanya. Karena sebelumnya juga sudah pernah ketemu sama mereka,” ujar remaja kelahiran 31 Mei 2003 itu usai laga. Sementara itu, Gabriel mengaku di awal laga dirinya bersama pasangan kurang tenang sehingga lawan meraih kemenangan di gim pertama. “Di gim kedua mainnya mulai enjoy, dan lebih tenang. Pelatih juga kasih instruksi kalau kami harus bermain lebih safe,” terang siswa SMAN 10 Kota Tangerang Selatan itu. Dan di partai pamungkas, Sabtu (3/8), Gabriel/Galuh akan ditantang ganda asal PB Exist Jakarta Muhammad Hasnan Alimni/Yoel Alexander yang menyingkirkan Muhammad Haikal Zaki/Muhammad Satria (PB Jaya Raya Jakarta Pusat),17-21, 21-13, dan 21-19. “Lawan mungkin tipenya sama seperti di semifinal ini karena mereka juga dari PB Exist Jakarta. Jadi makin termotivasi menghadapi laga final,” tutur Galuh. “Untuk lawan juga baru pertama kali ketemu. Tidakingin banyak komentar dulu soal lawan, lihat saja besok di lapangan seperti apa mainnya,” timpal Gabriel. Di nomor lain, menyandang status non unggulan Rahmat Hidayat/Gity Gabriel Rambing (PB Djarum Kudus) justru membuat kejutan pada Kategori ganda campuran Usia (U) 19 Tahun. Di semifinal, Rahmat/Gity menumbangkan unggulan satu Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso (PB Exist Jakarta), rubber game, 12-21, 21-16, dan 21-19. “Awalnya tegang, karena lawan kemampuannya lebih baik. Jadi kami berusaha bermain nothing to lose saja. Kuncinya percaya diri,” ujar Rahmat usai laga. Alumni SMP Islamic Village Tangerang itu menambahkan kekalahan di gim pertama membuat ia dan kolega berusaha bangkit untuk bisa meraih kemenangan di dua gim sisa pertandingan. “Kalau saya mungkin lebih banyak memberikan tekanan ke Tsavanne. Bisa dibilang porsinya hampir 80 persen, dibandingkan dengan memberikan bola ke Dejan. Apalagi dari segi postur dan tenaga lawan lebih unggul, jadi lebih banyak nurunin bola juga tadi,” lanjut remaja kelahiran Tangerang, Banten, 17 Juni 2003 itu. Senada dikatakan Gity. Menurut siswi SMAN 1 Kotamobagu, Sulawesi Utara (Sulut) itu, bila kemampuan lawan berada jauh di atas. Namun, ungkapnya, bermain tanpa beban membuat penampilannya bisa lebih lepas. “Kemampuan kami dengan lawan nggak beda jauh. Mereka unggul di postur sama speed. Pelatih juga bilang harus yakin bisa menang. Tadi Dejan mainnya juga sedikit emosional sehingga hilang fokus,” cetus dara kelahiran Kotamobagu, 20 Desember 2002 itu. Di partai pamungkas, Sabtu (4/8), Rahmat/Gity berjumpa akan berhadapan dengan Muhammad Yahdil Ansar/Frida Ayu Wulandari (PB Jaya Raya Jakarta Pusat/PB Banda Baru Batam) yang menang atas Asyhari Anhar/Windi Siti Mulyani (PB Victory Bogor Jakarta Timur), rubber game, 15-21, 21-18, dan 21-15. (Adt)

Tundukkan Duet Jaya Raya, Unggulan Satu Dejan/Tsavanne Bethalia Mulus Ke Perempat Final

Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso (PB Exist Jakarta) maju ke perempat final usai kandaskan wakil PB Jaya Raya Jakarta Pusat (Jakpus) Panjer Aji Siloka Dadiara/Shella Maharani Putri, 21-11 dan 21-12, Rabu (1/8). (Adt/NYSN).

Serpong Utara- Pasangan ganda klub PB Exist Jakarta sekaligus unggulan satu Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso, berhasil melangkah ke perempat final kejuaraan bertajuk ‘9th Yonex Sunrise Double Special Championship 2018’, kategori usia (U) 19 tahun, pada Rabu (1/8). Di babak kedua (16 besar), Dejan/Tsavanne menyingkirkan duet PB Jaya Raya Jakarta Pusat (Jakpus) Panjer Aji Siloka Dadiara/Shella Maharani Putri, dua gim langsung, dengan skor 21-11 dan 21-12, dalam tempo 25 menit, di di Candra Wijaya International Badminton Centre, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten. Baik Dejan/Tsavanne maupun Panjer/Shella sama-sama mendapatkan bye di babak pertama (32 besar). Dan, dibabak perempat final, Dejan/Tsavanne akan ditantang dobel asal PB Victory Bogor, Jakarta Timur (Jaktim) Muhammad Juan Elgiffani/Inas Hasnaya. Juan/Inas melangkah ke perempat final usai mengalahkan kompatriotnya Alvin Rizky Wiratama/Muzammil Elya Tantri, rubber game, 15-21, 21-10, dan 21-18. Aji, sapaan akrab pemain ganda PB Jaya Raya Jakpus itu, mengaku bila lawan bermain lebih rapih dan mampu mengatur serangan dengan baik. “Mereka bisa nutup ruang pertahanan yang kosong. Dan, kami juga tidak terbebani dengan status lawan yang merupakan unggulan. Memang dari awal kami bermain nothing to lose saja,” ujar Aji mengomentari kekalahannya atas Dejan/Tsavanne. Diakuinya, dirinya bersama kolega masih butuh adaptasi. Terlebih, mereka belum lama diduetkan. “Untuk Shella masih kategori pemula akhir untuk nantinya menuju taruna. Ini juga bagus untuk dia menambah pengalaman,” cetus Aji. (Adt)

Kejuaraan ‘9th Yonex Sunrise Double Special Championship 2018′, Komitmen Candra Wijaya Lahirkan Bibit Ganda Potensial

Candra Wijaya memberikan penghargaan kepada Verawaty Fajrin (hijab) dan Imelda Wiguna, disela-sela kejuaraan, di kawasan Serpong Utara, Tangsel, Banten, Rabu (1/8). (Adt/NYSN).

Serpong Utara- Kejuaraan bertajuk ‘9th Yonex Sunrise Double Special Championship 2018’, mulai dihelat di Candra Wijaya International Badminton Centre, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 1-4 Agustus 2018. Sebanyak 442 peserta dari 23 klub bulutangkis di Tanah Air ditambah peserta dari Srilanka dan Norwegia turut meramaikan persaingan event tahunan itu. Dalam kesempatan itu, Candra Wijaya memberikan penghargaan kepada dua legenda bukutangkis Indonesia yakni Verawaty Fajrin dan Imelda Wiguna. Verawaty, kelahiran Jakarta, 1 Oktober, 60 tahun silam itu merupakan pemain bulu tangkis Indonesia era 1980-an. Ia meraih banyak gelar juara di nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Sedangkan Imelda Wiguna Kurniawan kelahiran Slawi, Tegal, Jawa Tengah, 66 tahun silam itu merupakan pemain bulu tangkis Indonesia di era 1970-an hingga 1980-an. Ia banyak meraih gelar juara dalam berbagai kejuaraan internasional, baik dalam dalam nomor ganda putri maupun ganda campuran. Saat masih menjadi pemain, kedua pemain yang memang spesialis ganda, pernah berpasangan dan meraih titel bergengsi, diantaranya medali emas Asian Games 1978, dan juara All England 1979. “Kami bersyukur bisa menggelar kejuaraan khusus ganda. Kejuaraan ini bisa menjadi sumbangsih bagi dunia bulutangkis nasional. Tujuannya adalah mencetak bibit pemain dimasa yang akan datang,” ujar Candara Wijaya saat pembukaan kejuaraan, di Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (1/8). Lebih lanjut, sosok yang pernah meraih penghargaan pemain terbaik dunia ‘Eddy Choong Player of The Year Award 2000’ itu menyebut sebagai mantan pemain pihaknya tidak akan tinggal diam dalam melahirkan pemain-pemain potensial khususnya di sektor ganda. “Kami akan usahakan kejuaraan ini terus berlangsung. Apalagi hadiah yang kami berikan cukup besar di level nasional. Semoga kejuaraan ini memberi kejayaan bagi dunia bulutangkis Indonesia,” lanjut pemain yang pernah meraih medali emas Olimpiade 2000, Sydney, Australia, bersama Tony Gunawan itu. Sementara itu, Benyamin Davnie, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, mengatakan event ini merupakan kontribusi positif bagi perkembangan dunia olahraga bulutangkis baik skala nasional maupun internasional. “Kejuaraan ini harus rutin digelar untuk menambah motivasi pemain-pemain muda. Dimana nantinya akan lahir pemain-pemain dengan talenta yang hebat yang bisa mewakili Indonesia di pentas internasional,” tukas Benjamin. (Adt)

Dari Merauke, Yusran Bertekad Keras Gabung Pelatnas Bulutangkis

Jakarta- Indonesia bagian timur umumnya selalu menghasilkan bibit-bibit atlet berprestasi di bidang olahraga, namun didominasi cabang olahraga yang sangat populer. Sangat jarang atlet cabor bulutangkis berasal dari Indonesia Timur. Yusran Arfan adalah salah satunya. Remaja berdarah Makassar yang menetap Merauke, menjadi peserta klub blutangkis Perkumpulan Bulutangkis (PB) Racket , yang berlokasi di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, dari luar pulau Jawa. Sekedar catatan, kabupaten Merauke adalah kabupaten terluas di provinsi Papua, dan Indonesia, sekaligus daerah ujung paling timur di Indonesia. Yusran menyukai olahraga bulutangkis sejak usia 5 tahun, karena sering diajak oleh Arfan, ayahnya yang gemar bermain bulutangkis bersama kawan-kawannya. Yusran tertarik untuk terjun lebih serius untuk bercita-cita menjadi seorang atlet. “Proses gabung ke PB Racket awalnya diajak oleh teman ayah saya. Dia menawari saya ikut latihan di jakarta, asalkan serius berlatih. Akhirnya berangkat kesini sama bapak dan temennya bapak, diongkosin juga” jelas Yusran. Sejatinya, orangutua Yusran berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Karena pekerajan, keluarga Yusran hijrah ke Merauke, Papua. Yusran pertama kali bermain bulutangkis langsung bergabung dengan PB Perkasa Merauke, sejak kelas 1 Sekolah Dasar. Lalu pindah ke PB Mandiri Merauke saat SMP, sebelum akhirnya memutuskan menuju Ibukota dan bergabung di PB Racket Jakarta. “Saya pindah ke PB Racket, sudah sekitar dua tahun lalu dari lulus SMP, sekarang udah kelas 2 SMA,” tambah remaja murah senyum ini. Ketika masih tinggal di Papua, Yusran berpartisipasi di beberapa kejuaraan bulutangkis usia dini hingga pemula. Seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Bupati Merauke Cup, dan Sirkuit Nasional (Sirnas) Yogyakarta. Remaja yang mengidolakan Lee Chong Wei dan Anthony Ginting ini bermain di posisi tunggal putra dan ganda, namun Yusran mengakui lebih tertarik bermain di posisi tunggal. “Main tunggal saya bisa main lebih leluasa. Kalau ganda, bermainnya mengharapkan keputusan dari teman juga, kalau tunggal bisa berjuang sendirian,” uajr Yusran, saat ditemui awal Juli lalu. Menjaga kondisi tubuh agar tetap prima menjadi fokus remaja 16 tahun ini. Dalam waktu dekat, Yusran akan melakoni Kejurkot PBSI Jakarta Barat, pada 8-12 Agustus, di GOR Kembangan, Jakarta Barat. Pendidikan pun tak luput dari perhatiannya. Format sekolah Homeschooling menjadi pilihan karena waktu belajar yang fleksibel sehingga bisa menyesuaikan dengan jadwal latihan. “Saya pribadi lebih suka latihan dibanding bersekolah yang padat dengan materi pelajaran. Tapi, saya harus sekolah, agar pendidikan tidak terlantar. Tetapi, target utama saya ingin segera bergabung di pelatnas bulutangkis,” kata kelahiran 16 Juli 2002 itu. Porsi latihan yang berbeda antara PB Jakarta dan Papua membuatnya harus berlatih lebih ekstra mengingat cita-cita dan targetnya bergabung bersama Timnas Indonesia masih butuh waktu dan perjuangan yang panjang. (Ham) Profil singkat Nama : Yusran Arfan Tempat/Tgl Lahir : Makassar, 16 Juli 2002 Alamat Rumah : Jl. Raya Mendala Bampel Merauke, Papua Orang Tua : Arfan (ayah) Rostini (ibu) Nomor Ponsel : 081398096728 Media Sosial : Ig @ysrnarfn161 Pendidikan SDN 1 Merauke SMP Muhammadiyah Merauke SMA Home Schooling Prestasi Juara 2 O2SN tingkat pemula di Papua tahun 2015 Mengikuti Bupati Cup di Merauke tahun 2011/2012 Mengikuti kejurnas Sirkuit Nasional Daihatsu Astec di Bali Mengikuti kejurnas Sirkuit Nasional Daihatsu Astec di Yogyakarta

Cabor Bulutangkis Kawinkan Gelar Nomor Tunggal, Atlet 15 Tahun Asal Banyumas Raih Dua Emas

Aisha Galuh Maheswari meraih dua emas di cabor bulutangkis pada nomor perseorangan tunggal putri dan beregu putri, dalam ajang ASEAN School Games (ASG) 2018 di Juara Stadium, Kuala Lumpur, Malaysia. (pbdjarum.org)

Kuala Lumpur- Tim bulutangkis Indonesia sukses mengawinkan emas nomor tunggal perseorangan pada ASEAN School Games (ASG) 2018 di Juara Stadium, Bukit Kiara, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (25/7), setelah di partai puncak mampu meraih hasil terbaik. Kemenangan yang berbuah emas kejuaraan khusus untuk pelajar di Asia Tenggara itu terlebih dahulu diraih oleh tunggal putra Nur Yahya Adi Felani yang sukses mengalahkan andalan tuan rumah Malaysia, Jacky Kok Jing Hong dengan skor 21-12, 20-22, 21-19. Meski akhirnya mampu meraih emas, Nur Yahya harus memperolehnya dengan perjuangan karena lawan terus memberikan perlawan. Seharusnya juara bertahan itu bisa mengakhiri pertandingan pada gim kedua setelah memimpin 19-15. Namun pemain binaan klub Pratama Surabaya ini harus menyerah 20-22. Sebaliknya pada gim ketiga, Yahya sempat tertinggal namun mampu menggebrak pada akhir pertandingan. “Sempat terlalu percaya diri. Tapi saya langsung berusaha tenang dan mempelajari cara bermain lawan. Saya langsung habis-habisan. Ternyata bisa,” kata pemuda kelahiran Sukoharjo, 3 Juli 2000. Menurut dia, lawannya merupakan pemain yang ulet dan tahan banting. Itu dibuktikan dengan terus bertahan meski dalam kondisi kaki cedera. Dukungan dari suporter tuan rumah untuk lawah juga membuat Yahya, sapaannya, sedikit goyah. Namun semuanya mampu diatasi. “Ini adalah ASG terakhir saya. Setelah ini saya akan turun di kejurnas karena jika juara bisa masuk ke pelatnas,” kata atlet asal Sukoharjo, Jawa Tengah itu. Apresiasi tinggi juga pantas disematkan pada peraih emas tunggal putri, Aisha Galuh Maheswari. Meski sempat jatuh bangun, atlet putri asal Banyumas, Jawa Tengah itu, sukses menumbangkan andalan tuan rumah yang dikenal ulet yaitu Letshanaa A/P Karuphatevan dengan skor 13-21, 21-12, 23-21. “Tadi memang menguras tenaga. Sejak awal kami duel main relay-relay panjang. Setelah ada kesempatan baru mengeluarkan andalan. Lawan juga melakukan hal yang sama,” kata pemain binaan PB Djarum Kudus kelahiran Banyumas, 19 Oktober 2002. Menurut dia, emas memang sudah ditargetkan sejak awal oleh tim. Pebulutangkis dari PB Djarum ini, mengakui pada final memang cukup berat. Namun upaya yang dilakukan Aisha sukses meraih emas untuk kontingen Indonesia, di dua nomor, yakni beregu putri dan perorangan. Sementara itu manajer tim bulu tangkis Indonesia, Luluk Hadiyanto mengaku target medali yang ditetapkan yaitu dua emas mampu terpenuhi. Bahkan lebih karena mampu meraih empat emas yaitu beregu putri, tunggal putra-putri dan ganda putri. (Ham)

Kunci Tiket Perempat Final Singapore Open 2018, Ihsan Maulana Main Lebih Rileks

Ihsan Maulana Mustofa menjadi pemain Indonesia ke tujuh yang lolos ke babak perempat final kejuaraan Singapore Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 500. (Humas PBSI)

Jakarta- Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa, maju ke babak perempat final turnamen Singapore Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 500, yang berlangsung di Singapore Indoor Stadium, 17-22 Juli. Tiket putaran delapan besar berhasil digenggam Ihsan usai mengandaskan perlawanan sengit dari wakil Malaysia, Daren Liew, pada pertandingan babak kedua, Kamis (19/7). Laga yang digelar di lapangan 4 Singapore Indoor Stadium tersebut, Ihsan menang dengan skor 23-21, 21-16. Ihsan menjadi pemain ketujuh dari skuat Indonesia, yang lolos ke perempat final. Sebelumnya, satu pemain tunggal putri, dua pasangan ganda putra, dan tiga pasangan ganda campuran, sudah lebih dulu melangkah ke babak delapan besar. Daren Liew berhasil meraih poin pertama pada gim kesatu, tetapi poin ini langsung disamakan oleh Ihsan. Setelah itu, Ihsan pun mampu berbalik unggul dengan skor 5-3. Liew kembali menyamakan kedudukan menjadi 5-5 sebelum akhirnya berbalik unggul dengan skor 10-7. Saling mengejar skor tak sampai di situ saja karena Ihsan yang belum menyerah mampu menyamakan kedudukan lagi menjadi 10-10. Akan tetapi, satu poin yang diraih Liew berikutnya memastikan dia menutup paruh awal gim kesatu dalam keadaan unggul 11-10. Selepas jeda, keunggulan Liew melebar hingga 18-14. Meski demikian, Ihsan tak lantas angkat tangan. Sebaliknya, dia justru meningkatkan tempo permainannya. Alhasil, Ihsan mampu memaksakan terjadinya adu setting sebelum akhirnya berhasil memenangi gim kesatu. Gim kedua berjalan tak kalah seru dengan gim kesatu, lantaran kedua pemain masih mengusung permainan menyerang dengan tempo tinggi. Ihsan yang sempat tertinggal 0-3 mampu menyamakan kedudukan menjadi 4-4. Saling mengejar skor kembali terjadi dan pertandingan menjadi semakin menegangkan. Setidaknya ada delapan kali aksi saling kejar poinm pada gim kedua. Namun, Ihsan mampu unggul kembali dengan skor 15-14. Liew masih bisa menambah dua poin lagi, tetapi laju Ihsan sudah tidak bisa dibendung. Dia pun memenangkan pertandingan dengan selisih lima poin, atas wakil Malaysia itu. “Alhamdulilah, bisa menang lagi. Kalau ditanya permainan tadi, di babak pertama kemarin lebih menegangkan karena lawan rekan sendiri. Tapi hari ini, saya mainnya lebih santai aja. Meski di game pertama sempat tertinggal terus. Justru saya lebih bisa dan tenang, malah mikir ke strategi aja sih,” terangnya. “Kalau di tanya seberapa pentingnya masuk bisa ke perempat final, ya pasti sangat penting sih. Karena di sini, saya ingin mencari poin sebanyak-banyaknya agar bisa mendongkrak kembali rangking saya,” ujar pemuda kelahiran Tasikmalaya 18 November 1995. Di babak permpat final yang akan berlangsung, Jumat (20/7), peringkat 52 ranking BWF ini menunggu pemenang wakil Vietnam Tien Minh Nguyen, melawan Parupalli Kashshyap (India). “Besok lebih tahan aja dan main bagus aja sih,” tutupnya. (Adt) Hasil 16 besar Singapura Open pada Kamis (19/7) Tunggal Putra Ihsan Maulana Mustofa vs Daren Liew (Malaysia) 23-21 dan 21-16 Tunggal Putri Yulia Yosephin Susanto vs Rituparna Das (India) 15-21, 21-13, dan 21-16 Ganda Putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (unggulan kelima) vs Peter Briggs/Tom Wolfenden (Inggris) 21-8 dan 21-9 Angga Pratama/Rian Agung Saputro vs Aaron Chia/ Wooi Yik Soh (Malaysia) 21-19, 18-21, dan 22-20 Ganda Campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (unggulan pertama) vs Danny Bawa Chrisnanta/Wong 21-9 dan 21-13 Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari vs Mark Lamfuss/Isabel Herttrich 13-21, 21-14, dan 21-15 Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandow vs Marvin Emil Seidel/Linda Efler 17-21, 21-17, dan 24-22

Lumat Unggulan Satu Asal Denmark, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja Rengkuh Gelar Thailand Open 2018

Ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja sukses menjuarai Thailand Terbuka 2018 usai menekuk unggulan satu asal Denmark, Chris Adcock/Gabrielle Adcock, dua game langsung, 21-12 dan 21-12. (Pras/NYSN)

Bangkok- Jepang berjaya pada ajang Thailand Terbuka 2018. Pada laga final, Minggu (15/7), wakil Tim Matahari Terbit membawa pulang tiga gelar. Total, hanya dua negara yang mampu meraih titel pada turnamen ini. Dua gelar lainnya diraih tim Indonesia, melalui nomor ganda campuran dan ganda putri. Duet Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja merengkuh gelar Thailand Open 2018, pada Minggu (15/7). Di partai pamungkas, duet Merah Putih yang berada di ranking 11 dunia versi BWF itu melumat unggulan satu asal Denmark, Chris Adcock/Gabrielle Adcock, straight game, 21-12 dan 21-12, dalam tempo 28 menit. Kemenangan ini sekaligus membuat Hafiz/Gloria memimpin rekor pertemuan dengan dobel Denmark penghuni ranking 6 dunia versi BWF itu menjadi 1-0, sekaligus menjadi gelar pertama sejak mereka diduetkan. Prestsi Hafiz/Gloria tengah menunjukan grafik peningkatan. Pekan lalu, di turnamen Indonesia Open 2018, Hafiz/Gloria menembus semifinal sebelum ditaklukan seniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kebahagiaan juga dirasakan Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Menempati unggulan 4 turnamen, Greysia/Apriyani mematahkan perlawanan wakil Jepang sekaligus unggulan 3 turnamen, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, straight game, 21-13 dan 21-10, dalam waktu 53 menit. Sebelumnya, kedua pasangan ini pernah berjumpa sebanyak 5 kali. Dan, tak sekalipun duet Pelatnas PBSI Cipayung itu meraih kemenangan atas Misaki/Ayaka. Sementara itu, tunggal putra Tommy Sugiarto harus menelan pil pahit. Putra dari juara dunia Icuk Sugiarto itu kandas di tangan wakil Jepang Kanta Tsuneyama, lewat rubber game berdurasi 58 menit, dengan skor 16-21, 21-13, dan 9-21. Berdasarkan catatan, ini merupakan pertemuan pertama bagi kedua pemain. Dengan demikian, Kanta memimpin rekor pertemuan 1-0 atas pebulutangkis Indonesia yang kini bertengger di ranking 15 dunia versi BWF itu. Sementara itu, gelar tunggal putri menjadi milik wakil Jepang Nozomi Okuhara, yang tampil mengejutkan mengalahkan unggulan 2 turnamen asal India, Pusarla V. Sindhu, 21-15 dan 21-18, dalam waktu 50 menit. Sedangkan gelar ganda putra diraih dobel Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, unggulan satu turnamen yang menyingkirkan kompatriotnya, Hiroyuki Edo/Yuta Watabe, 21-17 dan 21-19, dalam waktu 44 menit. (Adt) Hasil lengkap final Thailand Terbuka 2018 Ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja Vs Chris Adcock/Gabrielle Adcock (Inggris) 21-12, 21-12 Ganda Putra Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang) Vs Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe 21-17, 21-19 Ganda Putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu Vs Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi 21-13, 21-10 Tunggal Putra Kanta Tsuneyama (Jepang) Vs Tommy Sugiarto 21-16, 13-21, 21-9 Tunggal Putri Nozomi Okuhara (Jepang) Vs Pusarla V. Sindhu (India) 21-15, 21-18

Selain Fokus Pelaksanaan, Demi Asian Para Games 2018 INAPGOC Beri Kursi Pijat Bagi Wartawan

Tes Event Asian Para Games 2018 menjadi bahan evaluasi yang sangat krusial bagi INAPGOC, jelang penyelenggaraan Asian Para Games 2018. (Ham/NYSN)

Jakarta- Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018 cabang olahraga (cabor) Bulutangkis usai dilaksanakan, sejak Rabu hingga Kamis (27-28/6), yang digelar di Istora Senayan, Jakarta. Ditengah berlangsungnya event, dilaksanakan pula pertemuan di Conference Room, Main Press Centre, Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada Kamis (28/6). Pertemuan ini dihadiri Taufik Yudi Mulyanto selaku Deputi I INAPGOC, juga Direktur Sport INAPGOC yakni Fanny Riawan, dan Tina Talisa dari Divisi Media dan PR. Beberapa hal diantaranya dibahas terkait pelaksanaan test event cabor bulutangkis yang telah berlangsung, hingga evaluasi sarana dan prasarana untuk atlet, pengunjung maupun media. Taufik Yudi mengawali diskusi dan membahas perihal teknis pelaksanaan event cabor bulutangkis, yang digelar di Istora Senayan. “Sejak hari pertama, banyak yang didapat, diantaranya yakni teknis di lapangan,  aturan dan regulasi, jadwal pertandingan, tata cara pelaksanaan, hingga proses manajer meeting” ungkap Taufik. Dari sisi venue, ia meyakinkan jika pihaknya berusaha seoptimal mungkin, guna mempermudah akses para atlet VIP, dan penonton yang membutuhkan penanganan khusus. “Bulutangkis bisa dijadikan pelajaran untuk tes event cabor renang, atletik, dan whellchair basket. Bertepatan dengan akan berlangsungnya Truamen Bulutangkis Indonesia Open, INAPGOC juga akan mempelajari pelaksaan teknis dari event itu,” tambah pria pemilik gelar Magister Ilmu Pendidikan ini. Hal lain yang menjadi tantangan paling mendesak untuk diperhatikan yakni persiapan wasit berlisensi, venue lapangan, dan koordinasi lintas divisi terkait. Direktur Sport INAPGOC, Fanny Riawan memaparkan penjelasannya. Menurutnya, klasifikasi wasit perlu dilakukan, guna menyeleksi wasit yang potensial. “Ya termasuk klasifikasi atlet, sebelum mereka bermain. Contohnya adalah klasifikasi jenis kecacatan si atlet. Tidak mungkin yang cacat bagian tangan, akan ditandingkan dengan yang cacat bagian kaki,” jelas Fanny. Selain itu, persiapan venue tak hanya untuk event pertandingan saja. Ia mengatakan mobilisasi penonton perlu diperhatikan. Sebab momen ini menjadi faktor kesadaran, agar masyarakat paham ada atlet yang kondisinya tak sempurna secara fisik. Sedangkan Tina Talisa selaku Divisi Media & PR, turut memaparkan jumlah jurnalis yang mendaftar, dan evaluasi sarana penunjangnya. “Ekspetasi kami ada 200 jurnalis, namun yang mendaftar ternyata mencapai 279 orang, padahal pelaksanaan registrasi kurang dari 10 hari. Penyediaan layanan di Media Press Centre dan venue, betul-betul kami perhatikan. Fasilitas penunjang, suasana kerja yang baik, makanan, bahkan kursi pijat, kami sediakan. Harapan kami, ini bisa menambah semangat bagi kinerja teman-teman wartawan,” tutup Tina. (Ham)

Pebulutangkis Disabilitas 20 Tahun Asal Jabar, Juarai Tes Event Indonesia Para Games 2018

Atlet Disabilitas Bulutangkis asal Jawa Barat, Dheva Anrimusthi (biru), menjuarai Test Event Asian Para Games 2018 cabang Bulutangkis. (Pras/NYSN)

Jakarta- Final cabang olahraga (cabor) bulutangkis kategori SU 5, dalam lanjutan Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (28/6), mempertemukan atlet asal Jawa Barat, Dheva Anrimusthi, melawan Suryo Nugroho dari Jawa Tengah. Pada babak pertama, Dheva langsung menggebrak dari awal pertandingan. Atlit Jabar ini mampu membungkam andalan Jateng 5-0. Namun, Suryo merangkak naik memperkecil ketertinggalan menjadi selisih satu angka pada skor 7-6. Namun, hingga jeda set pertama, Suryo tak mampu melampaui angka Dheva. Skor jeda set pertama yakni 11-9. Selepas itu, Dheva semakin percaya diri dan menjauh hingga selisih empat angka 14-10. Upaya demi upaya memangkas ketertinggalan oleh Suryo terjadi di angka 15-15. Hingga pada akhirnya Suryo unggul 15-16. Persaingan makin ketat lantaran set pertama harus ditentuka deuce point. Dan ketangguhan Dheva di set pertama membuatnya menang dengan skor 24-22. Memasuki babak kedua begitu berbeda dengan babak pertama saat Dehva unggul cepat diawal permainan. Di babak kedua, poin demi poin tak lebih berselisih satu angka dan bertahan hingga jeda set babak kedua dengan skor 11-10. Beberapa menit setelah jeda set kedua, Suryo tancap gas mengambil serangan cepat dengan mengubah skor 14-12. Dheva tak tinggal diam, ia memutarbalikkan keadaan menjadi 18-15. Tetapi, permainan belum berakhir. Set kedua kembali ditentukan lewat drama deuce point. Dheva yang lebih konsentrasi, akhirnya sukses menutup set kedua ini dengan skor kemenangan 23-21. Sebelum melangkah ke final, Dheva menyingkirkan wakil asal Jawa Timur, Oddie W, lewat pertarungan dua set langsung. Sedangkan sang lawan, Suryo, juga unggul dua set langsung atas wakil asal Jawa Barat, Hafiz Briliansyah, dengan skor 21-17 dan 21-16. Usai laga final, Dheva buka suara mengenai hasil pertandingannya. “Alhamdulillah bisa menang. Tapi ya intinya Tes Event ini merupakan ajang uji lapangan buat kami, sebelum tampil di turnamen sesungguhnya nanti”, ujar pemuda kelahiran 5 Desember 1998 ini, Kamis (28/6). Ia mengaku jika pertemuan dengan Suryo ini tak berbeda seperti ajang latihan. Mereka sudah sering melakukannya, di momen latihan maupun turnamen. “Saya sering bertemu dengan Suryo, karena kita juga kan latihan dan main bareng,” pungkas atlit disabilitas binaan Klub bulu tangkis Sangkuriang Graha Sarana (SGS), Bandung, Jawa Barat. (Dre)

Hadapi Asian Para Games 2018, Pebulutangkis Difabel M. Subhan Asal Banten Fokus Genjot Fisik

Atlet difabel cabor bulutangkis asal provinsi Banten, Muhammad Subhan, tampil di Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018, pada Rabu (27/6). (Ham/NYSN)

Jakarta- Sejumlah atlet difabel Indonesia terus mematangkan persiapan jelang Asian Para Games, pada 6-13 Oktober 2018. Salah satunya, atlet bulutangkis asal provinsi Banten, Muhammad Subhan. Ia fokus pada pembenahan fisik, mengingat lawan yang akan dihadapi dipastikan memiliki fisik yang prima. “Dibanding negara-negara lain, untuk persiapan di Asian Para Games nanti, kami yang masih kurang adalah soal fisik. Makannya, saat ini yang digenjot itu masalah fisik,” ujar Subhan, usai melakoni laga menghadapi wakil DKI Jakarta, Chandra Yuda. Ia menang dua gim langsung, 21-15, dan 21-15, pada tes event bertajuk ‘Indonesia Para Games Invitational Tournament’ cabang Para Bulutangkis, di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (27/6). Pria kelahiran Bangka Belitung, 10 Desember 1986 itu, mengungkapkan para atlet difabel hingga kini masih menjalani pemusatan latihan nasional (Pelatnas), di Solo, Jawa Tengah, yang dimulai sejak awal tahun ini. “Kami latihan setiap hari dari Senin sampai Sabtu. Seminggu itu cuma dua kali ke lapangan. Sisanya lebih banyak penguatan fisik,” lanjutnya. Di Asian Para Games 2018, Subhan mentargetkan bisa meraih peringkat 4. Bukan tanpa alasan, menurutnya, negara seperti Korea, China, dan Jepang masih menjadi yang terkuat di kawasan Asia. “Untuk peringkat 1 dan 2 masih dipegang Korea. Kalau peringkat 3-4 itu China dan Jepang. Selama di Pelatnas harus ada peningkatan. Insya Allah bisa kasih yang terbaik dan mencapai target di Asian Para Games 2018, apalagi Indonesia tuan rumah,” tukas Subhan. (Adt)

Tampil di Turnamen Malaysia Open 2018, Pebulutangkis 18 Tahun Asal Wonogiri Bakal Lalui Jalan Terjal

Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, langsung menghadapi pemain unggulan di Turnamen Malaysia Open 2018. (liputan6.com)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, akan berlaga di turnamen Malaysia Open 2018, pada 26 Juni – 1 Juli mendatang. Dara kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 18 tahun silam itu bakal melalui jalan terjal di Negeri Jiran itu. Sebab, Gregoria harus berhadapan dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil, Carolina Marin, di babak pertama. Berdasarkan catatan, kedua tunggal putri ini belum pernah bertemu di berbagai ajang kejuaraan bulutangkis. Pebulutangkis asal Spanyol itu memiliki peluang lebih besar untuk memenangi laga atas Gregoria. Selain pernah menjadi kampiun Kejuaraan BWF World Championship 2015, di Jakarta, rangking Marin juga jauh berada di atas wakil Indonesia itu. Marin kini bercokol di rangking 6 dunia versi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF), sekaligus menempati unggulan 6 turnamen, sementara Gregoria menempati rangking 37 dunia dan bersatus non unggulan. Namun, bukan suatu hal yang mustahil bila Gregoria bisa memberikan kejutan. Penampilan pemain penghuni pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Cipayung, Jakarta itu menunjukkan grafik yang meningkat. Ini dibuktikan saat membela skuat Garuda di putaran final Piala Uber 2018, di Bangkok, Thailand, beberapa bulan lalu. Peraih medali perunggu SEA Games 2017, di Kuala Lumpur, Malaysia itu tampil nyaris sempurna. Bahkan, wakil Thailand Nitchaon Jindapol (rangking 11) serta Gao Fangjie (rangking 21) asal Tiongkok, ditaklukan hanya dalam dua gim langsung. Mencetak sejarah juara tunggal putri Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017, di Yogyakarta, bisa menjadi bekal untuk menambah kepercayaan diri pebulutangkis asal klub Mutiara Cardinal, Bandung, Jawa Barat itu guna memenangi laga di Malaysia nanti. Senasib Gregoria, tunggal putri Indonesia lainnya, Fitriani, juga akan menghadapi pemain unggulan di babak pertama. Pebukutangkis kelahiran Garut, Jawa Barat, 19 tahun silam itu sudah harus bertemu dengan wakil Korea Selatan, Sung Ji Hyun. Bagi pemain klub Exist Jaya Jakarta itu, menghadapi lawan rangking 9 dunia versi BWF, sekaligus unggulan 7 turnamen itu, ternyata masih jadi tembok penghalang terbesar bagi dirinya, untuk bisa melaju ke babak berikutnya. Fitriani yang kini bercokol diperingkat 42 dunia pernah bertemu dengan pemain Negeri Gingseng itu tiga kali. Dan tak satupun kemenangan diraih Fitriani, yakni di All England 2017 (21-18, dan 21-12), Indonesia Open 2017 (21-10, dan 21-10), serta terakhir di German Open 2018 (21-12, dan 21-16). Mampukah kedua wakil tunggal putri Indonesia ini menghadirkan kejutan di turnamen berhadiah total 700.000 dolar Amerika Serikat (AS) itu? Patut ditunggu aksi mereka pada pekan depan. (Adt)

Usai Libur Lebaran, Atlet Bulu Tangkis Ganda Putra Indonesia Latihan Lagi Mulai Besok Senin

Pebulutangkis ganda putra andalan Indonesia Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya mulai berlatih pada Senin (18/6) jelang persiapan Asian Games 2018. (tempo)

Jakarta- Kepala pelatih ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi mengatakan, skuad ganda putra Indonesia Asian Games 2018 akan kembali dari libur lebaran Idul Fitri pada Senin (18/6). Padatnya agenda turnamen yang akan diikuti, menjadi alasan terbatasnya libur yang didapat para pemain. “Senin (18 Juni) kami sudah latihan lagi. Karena minggu depannya berangkat ke Malaysia. Mereka berangkat 24 Juni untuk ikut Malaysia Open,” kata Herry. Ia mengatakan libur selama lima hari ini sebenarnya cukup riskan di tengah padatnya agenda turnamen. Kekahwatrian muncul jika para pemain tak fit pasca libur lebaran. Namun karena libur hari raya adalah hak setiap pemain, keputusan libur pun tetap dijalankan. “Memang sulit untuk nggak libur. Itu (libur) hak mereka juga. Hari Raya itu kan setahun sekali, dan acara mau ketemu keluarga. Saya sudah pikirkan itu. Resikonya kita tanggung, ya nggak masalah,” kata pelatih berusia 53 tahun itu. Libur ini telah disepakati diberikan kepada seluruh pemain ganda putra Indonesia, termasuk pasangan nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamulyo. Herry pun telah meminta para pemain untuk tetap menjaga kondisi tubuhnya selama libur lima hari. “Selama 5 hari itu biasanya program masing-masing individual di rumah. Misalkan tak ada lapangan, tapi yang penting jaga fisiknya. Mungkin bisa lari, treadmill, atau bersepeda,” kata Herry. Pelatnas bulu tangkis ganda putra utama Indonesia akan menghadapi serangkaian turnamen dalam beberapa waktu ke depan. Turnamen terdekat yang akan diikuti adalah Malaysia Open 2018 pada 26 Juni hingga 1 Juli. Dan dilanjutkan Indonesia Open 2018 pada 3-8 Juli yang Indonesia menjadi tuan rumahnya. Pada 30 Juli hingga 5 Agustus para pemain akan ikut dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2018 di Nanjing, Cina. Rangkaian turnamen besar itu sekaligus persiapan Asian Games 2018 yang digelar di Istora Senayan, pada pertengahan bulan Agustus. Cabang bulu tangkis menjadi salah satu kekuatan dan harapan besar Indonesia untuk meraih medali emas. (Adt)

Raih Podium di USM Indonesia International Series, Atlet Putri 18 Tahun Ini Makin Percaya Diri

Pebulutangkis Aurum Oktavia Winata makin percaya diri usai menjuarai USM Indonesia International Series (UIIS) 2018, di Semarang, Jawa Tengah, kemarin. (PBSI)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal putri masa depan Indonesia, Aurum Oktavia Winata, sabet titel juara di turnamen USM Indonesia International Series (UIIS) 2018, di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/4). Di partai pamungkas, pebulutangkis Pelatnas PBSI itu menekuk wakil Thailand, Supanida Katethong, dua gim langsung, 21-19 dan 21-16, dalam waktu 32 menit. Berlabel unggulan lima sebenarnya membuat kans pebulutangkis Negeri Gajah Putih itu untuk memenangi laga sangat besar. Namun, Aurum membuktikan dirinya mulai diperhitungkan dan membuat kejutan di turnamen berhadiah 10.000 Dolar Amerika Serikat (AS) itu. “Alhamdulillah, campur aduk rasanya. Soalnya kan emang dia jauh lebih di unggulin dan pengalamannya dia lebih banyak,” ujar Arum, dikutip situs resmi PBSI, Senin (16/4). “Kemenangan saya tadi karena merubah mindset sama yakin sama diri sendiri,” lanjut pebulutangkis asal Sarwendah Badminton Club itu. Dara kelahiran 4 Oktober 1999 itu, kesuksesannya naik podium di UIIS 2018 tak lepas dari peran sang pelatih yang menginstruksikan dirinya untuk tak memberi kesempatan lawan menyerang. “Saya dikasih tahu oleh pelatih untuk mengantisipasi kebiasaan lawan. Strateginya, bagaimana caranya supaya dia tak mendapatkan posisi untuk menyerang,” papar Aurum. Selain Aurum, empat wakil Merah Putih lainnya juga sukses mengantongi gelar. Di tunggal putra, Shesar Hiren Rhustavito menumbangkan seniornya, Sony Dwi Kuncoro, 21-12, 22-20 (44 menit). Di ganda putra, duet Rian Swastedian/Amri Syahnawi berhasil meredam perlawanan unggulan lima Irfan Fadhilah/Markis Kido, 21-19, 21-18 (26 menit). Lalu, di ganda putri, Shela Devi Aulia/Pia Zebadiah Bernadet yang sukses memaksa wakil Malaysia Chiew Sien Lim/Sueh Jeou Tan pulang tanpa gelar usai kalah 21-17, 21-12 (33 menit). Langkah manis juga diukir duet Amri Syahnawi/Shela Devi Aulia. Pasangan unggulan lima itu menaklukkan kompatriotnya, Irfan Fadhilah/Pia Zebadiah Bernadet, 21-17, 21-16 (35 menit). (Adt)

Duet Dadakan Anjani/Zahwa Bikin Kejutan, Singkirkan Unggulan Empat Asal Taiwan

Duet ganda putri Pinicha Anjani/Vici Husnia Zahwa (biru) membuat kejutan mengalahkan duet unggulan empat asal Taiwan Lai Chung Huei/Lai Tzu Yu, 21-19, 21-18. (Adt/NYSN)

Jakarta- Duet putri Pinicha Anjani/Vici Husnia Zahwa membuat kejutan di Turnamen Bulutangkis Kategori Usia (U)-17 Tahun ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex-Sunrise Junior Grand Prix Gold 2018’, pada Rabu (4/4). Pasangan asal klub Pusdiklat Telkom Bandung itu menyingirkan pasangan unggulan empat asal Taiwan, Lai Ching Huei/Lai Tzu Yu, dua gim langsung, dengan skor 21-19 dan 21-18. Memainkan laga di Gelanggang Olahraga (GOR) PB Jaya Raya, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, pada gim pertama, Anjani/Zahwa yang tidak diunggulkan mampu mengimbangi perlawanan Huei/Yu. Bahkan, laga kedua pasangan ini berlangsung ketat. Kesalahan sendiri yang dibuat lawan membuat pasangan Indonesia itu berhasil mengoleksi angka demi angka, hingga akhirnya berhasil menutup gim pertama dengan skor 21-19. Berlanjut di gim kedua, pasangan Taiwan sempat memimpin 2-0. Namun, Anjani/Zahwa mampu mengejar ketertigalan hingga berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Setelah itu, pasangan Indonesia ini terus mendulang angka hingga kedudukan 8-5. Memasuki kedudukan 11-10 untuk keunggulan pasangan Merah Putih, terjadi rely panjang. Namun, bola pengembalian yang keluar dari Huei memperlebar jarak angka menjadi 12-10. Dan, setelah memainkan pertandingan selama 34, akhirnya Anjani/Zahwa sukses membungkus gim kedua dengan skor 21-18. “Senang bisa mengalahkan pasangan unggulan empat asal Taiwan. Karena kami bukan unggulan, jadi bermainnya lepas, nothing to lose saja. Pelatih cuma bilang kami harus main bagus saja, soal hasilnya menang atau kalah tidak masalah,” ujar Anjani usai pertandingan. “Saya sebenarnya pemain tunggal, dan baru saja dipasangkan dengan Anjani. Jadi main juga tanpa beban. Menang syukur, kalah juga nggak apa-apa. Kami ingin juara, meski kami juga tidak ditargetkan menjadi juara sama pelatih dan klub di turnamen ini,” tukas Zahwa. (Adt)

Pebulutangkis Junior Dari 19 Negara, Buru Poin BWF di ‘Pembangunan Jaya Raya Junior Grand Prix Gold 2018’

Ribuan pebulutangkis junior ramaikan persaingan di Pembangunan Jaya Raya Junior Grand Prix Gold 2018. (vavel.com)

Jakarta- Sebanyak 1.054 atlet dari 19 negara memastikan tampil pada turnamen bulutangkis bertajuk ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex-Sunrise Junior Grand Prix Gold 2018’. Event ini berlangsung di Gelanggang Olahraga (GOR) PB Jaya Raya, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, 3-8 April 2018. Imelda Wiguna, Pengurus Harian PB Jaya Raya, mengatakan turnamen ini merupakan kesempatan besar bagi pemain-pemain, khususnya PB Jaya Raya untuk menguji kemampuan mereka. “PB Jaya Raya realistis dalam memasang target, yakni satu gelar di sektor Ganda Putra Kategori U-19, melalui pasangan Ferdian Mahardika Ranialdy/Giffari Anandaffa Prihardika,” ujar Imelda, Senin (2/4). Ia berharap anak didiknya seperti Stephanie Widjaja di sektor Tunggal Putri pada Kategori U-17 dan Tasya Farahnailah di Tunggal Putri untuk Kategori U-15, dapat membuat kejutan pada turnamen ini. Turnamen internasional ‘Pembangunan Jaya Raya Junior Grand Prix Gold 2018’ bakal mempertandingkan tiga kategori, yakni U-15, U-17 dan U-19. Event ini sangat bergengsi, karena untuk Kategori U-19, poinnya langsung diperhitungkan dalam peringkat BWF (Federasi Bulutangkis Dunia). Dan untuk Kategori U-17 dan U-15, diperhitungkan dalam peringkat BAC (Konfederasi Bulutangkis Asia). Pada kalender BWF 2018, untuk di Asia event Junior Grand Prix Gold, hanya digelar di Indonesia, 2-8 April 2018, serta di India, 7-12 Agustus 2018. Tony Soehartono, Ketua Panitia Turnamen, menjelaskan status turnamen dengan level tertinggi untuk junior, maka pemain-pemain junior terbaik dari beberapa negara akan hadir pada turnamen ini. “Mereka mengincar poin untuk peringkat BWF. Turnamen ini menjadi persaingan sengit para pemain junior,” cetusnya. Di turnamen ini, para pebulutangkis junior Indonesia menjadi kontingen terbanyak yakni 751 pemain yang berasal dari Pelatnas dan klub. Mereka akan bersaing dengan peserta dari negara lain, seperti Tiongkok dan Korea Selatan yang mengirimkan 20 pemain. Sementara, India sebanyak 57 pemain, kemudian Jepang dengan 9 pemain. Selanjutnya, Thailand menerjunkan 47 pemain, Malaysia mengutus 25 pemain, serta Singapura berkekuatan 14 pemain. (Adt)

Sambangi Malang, LIMA Badminton EJC 2018 Tampilkan Tim Dari Aceh Dan Bali

UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menjadi salah satu host subconference dari East Java Conference (EJC) dalam perhelatan LIMA Badminton 2018. (LIMA)

Malang- Usai di Surabaya, kali ini, kota sejuk Malang, menjadi destinasi pergelaran LIMA Badminton. Malang menjadi salah satu subconference dari East Java Conference (EJC) dalam perhelatan LIMA Badminton: McDonald’s EJC Malang Subconference 2018. LIMA Badminton EJC Malang ini akan digelar di Sports Center UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, 1-6 April 2018. Tiga tim putra, empat tim putri, dan 16 tunggal putra serta 16 pasang ganda campuran dalam kategori perseorangan mengikuti ajang kompetisi badminton antarmahasiswa ini. Seperti di conference sebelumnya, LIMA Badminton EJC Malang ini menyajikan kategori beregu putra, beregu putri dan juga kategori perseorangan. Kategori perseorangan akan diisi dengan nomor tunggal putra, dan ganda campuran. Selain diikuti oleh perguruan tinggi asal Kota Apel, Malang, LIMA Badminton: McDonald’s EJC Malang Subcoference 2018 juga diramaikan dengan kedatangan tim asal Aceh dan Bali. Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh menjadi lawan baru bagi peserta lain di Malang, sementara itu, STMIK STIKOM Bali, kembali beraksi paska vakum dua tahun di ajang badminton antarmahasiswa ini. Tiga perguruan tinggi yang mendaftarkan untuk kategori beregu putra yakni Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. Sementara itu, di kategori beregu putri diisi oleh UB, UIN Maliki, Universitas Negeri Malang (UM), dan Unitri. Kategori perseorangan tunggal putra diisi oleh tiga wakil UB, dua wakil UM, empat wakil UIN Maliki, tiga wakil STMIK STIKOM Bali, satu wakil Unsyiah, dan satu wakil Universitas Kanjuruhan Malang. Di nomor ganda campuran, satu pasangan dari STIE Yadika Bangil, lima pasangan dari UM, lima pasangan dari UB, dua pasangan dari UIN Maliki, satu pasangan dari Unsyiah, dan satu pasangan dari Universitas Kanjuruhan akan saling merebut gelar. “LIMA Badminton Malang Subconference kali ini tak berbeda dengan musim kelima. Di musim ini, untuk perseorangan tunggal putri, tak ditampilkan karena sama seperti musim lalu, kuota tak terpenuhi. Namun, kuota untuk tunggal putra dan ganda campuran mencapai batas maksimal,” kata Azwar Muhlis, Manajer Kompetisi dan Pertandingan LIMA. (Adt)

Dari Pelataran Rumah, Marcella Mantap di Bulutangkis Wakili DKI ke Tingkat Nasional

Pebulutangkis tunggal putri Marcella Malinda mewakili DKI ke Tingkat Nasional di Yogyakarta, September 2018. (instagram)

Jakarta- Perawakannya mungil. Tapi soal kemampuan bermain tepok bulu angsa tak perlu diragukan. Lincah dan gesit di lapangan itulah sosok atlet muda bernama lengkap Marcella Malinda. Ia penyandang gelar pertama cabang olahraga bulutangkis di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) SMK Provinsi DKI Jakarta. Prestasi yang ciamik, membawa siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Strada 1 Jakarta Pusat itu mewakili kontingen Ibukota berlaga di O2SN Tingkat Nasional di Kota Yogyakarta, September 2018. Sekalipun senang membawa nama DKI Jakarta ke pentas nasional, namun Marcella tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. “Nervous, nanti disana (Yogyakarta) bagaimana? Belum tahu juga lawan-lawannya. Pasti bagus semua karena sudah terpilih mewakili daerah masing-masing,” terang anak pertama dari dua bersaudara. Baginya, ini adalah pengalaman pertama yang harus dipersiapkan dengan maksimal. Berlatih dan terus mengasah kemampuan jadi santapan wajib bagi juara dua Pekan Olahraga Pelajar Beregu Putri 2016 itu. “Ini pertama kali mewakili DKI ke tingkat nasioal. Terakhir cuma tingkat Provinsi. Harus lebih giat lagi latihan dan fokus untuk hasil yang diinginkan,” sambung anak pasangan Suhariyanto (ayah) dan Meliana (ibu). Ketertarikan Marcella dengan bulutangkis bermula dari keisenganya bermain dipelataran rumah bersama sepupunya, Clara Putri. Akibat keseringan mencoba, ia jatuh cinta pada olahraga bulutangkis. “Main bulutangkis itu mulai kelas 7. Tadinya coba-coba sama Cici (kakak sepupu). Terus dicoba main ke tempat latihan. Lama-lama suka main bulutangkis,” beber juara satu Sanyo Cup Beregu Putri 2014. Keinginan Marcella menekuni bulutangkis sempat tak mendapat restu dari kedua orang tuanya. Namun, keseriusan dan tekad remaja putri berusia 16 tahun itu, membuat hati kedua orang tuanya luluh. Kini, pemilik tinggi 160 centimeter itu makin mantap meniti karier di bidang olahraga yang sangat populer di masyarakat Indonesia. “Main bulutangkis itu keinginan saya sendiri. Dan, diawal-awal sempat nggak didukung sama orang tua. Padahal, Papa pemain bulutangkis, juga dengan Kakek,” tukas kakak dari Natashia Malinda. Soal idola, ia mengagumi pebulutangkis tunggal putri asal China Taipeh, Tai Tzu Ying dan Ratchanok Intanon (Thailand). Menurutnya, kedua pemain ini punya pukulan bola yang bagus dan semangat tinggi. “Yang pasti kedua pemain ini memiliki mental juara. Itu yang sangat penting bagi seorang pemain,” tegas juara satu O2SN Tunggal Putri Tingkat Kota Administrasi Jakarta Utara 2016. Di Tanah Air, Marcella menyukai peraih medali emas Barcelona 1992, Susi Susanti. Bermain ulet, langkahnya yang cepat jadi alasan ingin mengikuti jejak legenda asal Kota Tasikmalaya, Jawa Barat itu. “Ingin banget bisa nurunin cara mainnya Susi Susanti. Dia itu kuat main rally. Nah, saya terkadang tak sabaran, kalau ada kesempatan saya pasti main serang,” urai remaja berkulit kuning langsat. Jalan yang ditempuh memang masih panjang. Ia membentang asa kelak membawa nama Indonesia ke tingkat ASEAN. “Saat ini latihan dan usaha yang giat serta doa. Tiap kesuksesan seseorang selalu ada doa yang menyertainya. Selanjutnya, biar Tuhan yang mengatur,” tutur Marcella. (Adt) Biodata Nama: Marcella Malinda Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 7 Juni 2002 Sekolah : SMK Strada 1, Jakarta Pusat Kelas : 10 Hoby : Badminton Nama Ayah : Suhariyanto Nama Ibu : Meliana Saudara Kandung : Natashia Malinda Instagram : @marcella_malinda Tinggi : 160 Cm Prestasi : 1. Juara 2 POR CC 25 Beregu Putri (2014) 2. Juara 1 Sanyo Cup Beregu Putri (2014) 3. Juara 1 O2SN Tunggal Putri Tingkat Kota Administrasi Jakarta Utara (2015) 4. Juara 1 POR CC 26 Beregu Putri (2015) 5. Juara 1 O2SN Tunggal Putri Tingkat Kota Administrasi Jakarta Utara (2016) 6. Juara 2 Pekan Olahraga Pelajar Beregu Putri (2016) 7. Juara 1 ASTEC Mix Double (2016) 8. Juara 1 Methodist Ganda Putri (2016) 9. Juara 1 SMAK 6(Rapshody) Tunggal Putri (2017) 10. Juara 1 O2SN Tingkat Provinsi DKI Jakarta (2018)

Buat Lawan Kamu Terkecoh Dengan Teknik Drop shot Ini

Dropshot terkesan sama dengan teknik smash. Letak perbedaannya hanya pada saat kamu melakukan pukulan, shuttlecock dipukul dengan dorongan yang halus (sedikit pelan). Tujuannya agar kok kamu jatuh tepat di lapangan lawan yang berada dekat net. Biasanya kamu menggunakan teknik ini untuk mengecoh lawan yang posisinya berada di belakang. Tahukah kamu teknik dropshot memiliki karakter yang unik, karena bisa mengecoh lawan kamu alias dapat menghasilkan gerakan tipu daya. Posisi tubuh, gerak kaki serta perpindahan badan yang harmornis menjadi penentu dari keberhasilan jatuhnya shuttlecock di net daerah lawan. Selain itu, diperlukan juga pengamatan yang tepat dimana posisi lawan, agar hasil dropshot kamu semakin hebat. Berikut beberapa kiat tahap-tahap untuk kamu agar pukulan dropshot makin hebat: 1. Perhatikan pegangan raket kamu dengan posisi tangan menggunakan pegangan forehand. cara memegang raket yang benar, yaitu pegang raket dengan rileks, dan posisi raket berada di samping bahu kemudian untuk posisi tubuh kamu harus menyamping dari arah net. 2. Perhatikan juga posisi kaki kanan dan kiri. Untuk kaki kanan berada di belakang sedangkan kiri berada di depan. 3. Saat melakukan dropshot, pukulan menggunakan posisi tangan yang lurus, kemudian dorong atau sentuh shuttlecock dengan halus. Pokoknya shuttlecock melengkung ke sebelah kanan jika  dropshot forehand dan  melengkung ke kiri jika backhand. Ingat, tumpuan tubuh pada kaki juga berubah. Yang berada di kaki kanan pindah ke kaki kiri. Jadi, upayakan untuk gerak cepat agar badan kamu berada di belakang shuttlecock’nya ya. 4. Posisi akhir dari raket mengikuti arah bola, posisi gerak langkah setelah memukul pun harus diperhatikan, karena teknik ini mengandung aspek gerak tipu yang membuat lawan terkecoh. Biasanya keberhasilan dalam mengecoh lawan dengan teknik dropshot ini, ditentukan karena pergerakan yang cepat dan harmonis. Jika lawan terkecoh, ia akan terpaksa menjatuhkan diri agar bisa menjangkau bola kok hasil dropshot-an kamu. Semoga berhasil.