Apresiasi Timnas Pertahankan Tiket Group I Piala Fed, PP Pelti : Modal Positif ke SEA Games 2019

Tim nasional (Timnas) Piala Fed Indonesia sukses mempertahankan tiket di group I Asia Oceania. Torehan itu didapat setelah Aldila Sutjiadi Cs menaklukan Tim Thailand dengan skor 2-1, di Astana, Kazakhstan, pekan lalu. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim nasional (Timnas) Piala Fed Indonesia sukses mempertahankan tiket di group I Asia Oceania. Torehan itu didapat setelah Aldila Sutjiadi Cs menaklukan Tim Thailand dengan skor 2-1, di Astana, Kazakhstan, pekan lalu. Rildo Ananda Anwar, Ketua Umum PP (Pengurus Pusat) Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti), mengapresiasi hasil positif ini. “Kami sangat mengapresiasi keberhasilan yang sudah ditorehkan para atlet kami di Asia Oceania,” ujar Anwar, di Sekretariat Pelti Senayan, Jakarta, Senin (11/2). Dijelaskannya, torehan positif ini akan menjadi modal berharga menghadapi pesta multievent terbesar di Asia Tenggara, pada akhir tahun nanti. “Ini tentu akan menjadi modal kami untuk menuju ajang SEA Games 2019 yang akan digelar di Filipina nanti,” lanjutnya. Lebih lanjut, Anwar menerangkan hasil yang diraih Tim Piala Fed Indonesia kali ini dapat dikatakan mengalami kemajuan. Sebab, ungkapnya, pada tahun sebelumnya skuat Indonesia meraih hasil yang kurang konsisten. “Selama ini posisi Tim Fed Cup selalu pasang-surut. Tapi, kali ini mereka stabil di Grup 1,” cetus Anwar. Ia menegaskan Tim Piala Fed Indonesia yang terdiri dari Beatrix Gumulya, Aldila Sutjiadi, Jessy Rompies, dan Deria Nur Halizq, didampingi Dedy Tedjamukti (Pelatih) itu akan dipertahankan dalam ajang SEA Games 2019 Filipina. “Tim ini akan dipertahankan, selama seleksi junior belum masuk ke level mereka. Tapi, untuk SEA Games 2019, kami akan akomodir 60 persen junior dan 40 senior,” tutur Anwar. Sementara itu, Aldila mengatakan, hasil positif mempertahankan posisi untuk tetap berada di Group I tidaklah mudah. Apalagi, lawan yang dihadapi memiliki peringkat di atas para pemain Indonesia. “Di Piala Fed ini, semua lawan kami, seperti Korea, Cina dan Thailand memiliki ranking di atas kami. Bahkan, di Group I itu, kami adalah underdog,” tukas peraih medali emas tenis ganda campuran Asian Games 2018 bersama Christopher Rungkat. Menurut Aldila, selama ini performa dirinya dan kolega kerap naik turun, sehingga untuk tetap berada di Group I sangat sulit. “Akhirnya kami bisa tetap bertahan dan tahun depan masih berada di Group I,” pungkas dara kelahiran Jakarta, 2 Mei 1995. (Adiantoro)

Tekuk Unggulan Keenam, Priska Jumpa Seeded Kesembilan Australia Open Junior 2019

Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil andalan Merah Putih itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea, dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. (topskor.co.id)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil Merah Putih di turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea. Priska unggul dalam laga rubber set dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. Sebelumnya, di laga pembuka Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1), Priska menyudahi petenis Korea Selatan, Yoen Woo Ku, juga dengan tiga set 6-3, 6-7, 6-4. “Saya sempat kehilangan konsentrasi ketika unggul 3-1 di set awal. Kejadian serupa nyaris terulang pada set kedua. Tapi saya bisa kembali mengontrol permainan dan menyelesaikan set kedua dan percaya diri menyelesaikan set berikutnya,” ucap Priska usai laga. Partai seru berdurasi satu jam 18 menit itu, berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park ini. “Serve pertama menjadi kunci kemenangan ini,” imbuh dara manis berkawat gigi yang lahir 29 Mei 2003 ini. Merujuk statistik pertandingan, Priska sanggup melesakkan tujuh kali aces alias serve yang tak tertepis lawan. Padahal, rata-rata kecepatan servisnya hanya 144 km/jam, yang sejatinya lebih pelan dari Ma Lea, yang mencatat rerata ace 147 km/jam. Pada babak ketiga, Rabu (23/1), Priska bakal kembali menghadapi lawan yang tak kalah berbobot, yakni Kamilla Bartone. Petenis Latvia peringkat 21 dunia itu menempati posisi unggulan kesembilan turnamen. Di babak 32 besar, remaja semampai kelahiran Riga, Latvia, 7 Juni 2002 itu, menang atas andalan Australia, Olivia Gadecki 7-6(4) 4-6 6-3. Sepekan silam, saat tampil di babak kedua turnamen pemanasan di Traralgon, Priska unggul straight set atas Gadecki 6-4 6-2. “Kalau Priska mampu mempertahankan level permainan seperti babak kedua, saya yakin peluangnya cukup besar melewati babak 16 Besar,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska selama di Negeri Kanguru. (Adt) Hasil Selasa (22/1)Babak Kedua (32 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) 5-7 6-3 6-0 Jadwal Rabu (23/1)Babak Ketiga (16 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 9-Kamilla Bartone (Latvia)

Tantang Unggulan Keenam Asal New York di Australia Open Junior, Priska : Siap Siapapun Lawannya

Petenis Indonesia peringkat 44 dunia, Priska Madelyn Nugroho (15 th) akan menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat berperingkat 19 dunia, Ma Lea (17 th), pada babak kedua Australia Terbuka Junior, pada Selasa (22/1). (picssr.com)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat, Ma Lea, pada babak kedua Australia Open Junior 2019, pada Selasa (22/1). Pertemuan antara peringkat ke-44 dan 19 dunia itu dijadwalkan berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park. Lawan Prsika terhitung cukup matang dari sisi usia. Lea adalah petenis berdarah Tionghoa berasal dari Dix Hills, New York. Dara kelahiran 1 Februari 2001 ini merupakan atlet timnas USA, yang tampil dalam ajang Olimpiade Remaja (Youth Olympic) pada Oktober 2018 lalu, di Buenos Aires, Argentina. “Pokoknya saya siap saja melawan siapapun karena memang tak ada lawan yang mudah di ajang level grand slam seperti ini,” ucap Priska, tak gentar ketika dihubungi pada Senin (21/1), yang tampil di arena pertandingan turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu. “Berusaha main terbaik dan semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada,” lanjut dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 ini. Kiprah Priska, satu-satunya wakil Merah Putih di arena grand slam ini hanya tersisa di nomor tunggal, menyusul kekalahannya pada babak pertama ganda, Senin (21/1). Duet Priska/Wei Sijia kandas di tangan unggulan kedua asal Thailand, Thasaporn Naklo/Mananchaya Sawangkaew 0-6 2-6 hanya dalam tempo 46 menit. “Lawan sangat dominan dari awal pertandingan. Priska dan partnernya kesulitan dan tak mampu keluar dari tekanan,” ulas pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska. Menurut Ryan, faktor jam terbang juga sangat berpengaruh dalam pertarungan di level grand slam. “Pasangan Thailand itu sangat kompak dan lebih berpengalaman tampil di grand slam seperti Australia Terbuka ini. Sementara Priska dan Wei memang baru melakukan debut di ajang seperti ini,” paparnya. Priska dan Wei Sijia merupakan petenis termuda yang masuk sebagai direct acceptance babak utama Australia Terbuka Junior 2019. “Semoga Priska dapat segera melupakan kekalahan di nomor ganda dan bisa mengambil banyak pelajaran dari pertandingan itu agar lebih siap menjalani partai babak 32 besar tunggal,” tandasnya. (Adt) Jadwal Selasa (22/1)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) Hasil Senin (21/1)Priska Madelyn Nugroho / Wei Sijia (China) v 2-Thasaporn Naklo / Mananchaya Sawangkaew (Thailand) 0-6 2-6

Hadapi Wakil Korsel di Babak Pertama Australia Open Junior 2019, Priska : Dia Kawan Berlatih

Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (15 tahun), akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1). Peringkat ke-45 junior dunia itu, bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku. (tribunnews.com)

Jakarta- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, Minggu (20/1). Dari hasil undian babak utama yang dilakukan Jumat (18/1), peringkat ke-45 junior dunia itu bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku, pada laga perdana. Yeon yang saat ini berada di urutan ke-127 junior dunia, masuk babak utama menggunakan fasilitas wild card, setelah memenangi Australia Open Asia Pacific Play Off di Zhuhai (Tiongkok), awal Desember 2018. “Meskipun belum pernah bertemu di lapangan, dia bukanlah lawan yang asing karena beberapa kali berlatih bersama,” tutur Priska, pada keterangannya Jumat (18/1) seusai melakoni latihan di Albert Reserve Park, Melbourne. “Saya optimistis bisa melaju ke babak kedua,” ucap Priska. Akhir tahun lalu dalam persiapan menuju Australia Terbuka ini, bersama Yeon, dara kelahiran Jakarta 29 Mei 2003 bahkan turut mengikuti pemusatan latihan bersama dengan mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabilles di Bangkok, Thailand. “Semua lawan di level Grand Slam tidak ada yang mudah. Kami semua berusaha untuk bermain semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada. Mohon doa dan dukungan dari seluruh pencinta tenis indonesia,” ucap pelatih Ryan Tanujoyo bersama Elbert Sie, yang mendampingi kiprah Priska, selama di Australia. Bila mampu menepiskan perlawanan Yeon, Priska bakal terlibat bentrok dengan pemenang laga antara unggulan keenam dari Amerika Serikat, Lea Ma dan wakil Rusia, Elina Avanesyan. Priska juga akan tampil di nomor ganda berpasangan dengan petenis asal Tiongkok, Wei Sijia. Keduanya adalah petenis termuda yang lolos sebagai Dirrect Acceptance Babak Utama Australia Terbuka Junior 2019. Undian partai ganda, berlangsung pada Sabtu (19/1). Hadirnya Priska, menandai kehadiran kembali wakil Merah Putih di ajang Grand Slam setelah cukup lama petenis Indonesia absen dari turnamen tenis kelas wahid dunia. (Adt)

Takluk dari Nomor Empat Dunia, Petenis 15 Tahun Asal Jakarta Kalah Speed Dan Power

Langkah petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (kiri) harus terhenti di babak 16 besar turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Minggu (13/1). Priska tumbang straight set dengan skor 1-6 2-6, dari seeded teratas asal Denmark, Clara Tauson (kanan). (Tribunnews.com)

Victoria- Langkah petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (15 th) akhirnya terhenti di babak 16 besar turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Minggu (13/1). Peringkat ke-45 junior dunia itu harus mengakui keunggulan seeded teratas asal Denmark, Clara Tauson (16). Priska kalah dari petenis nomor empat dunia itu straight set dengan skor 1-6 2-6. “Awalnya sebenarnya Priska dapat mengimbangi irama permainan lawan, tetapi memang lawan bermain sangat baik dan sangat konsisten,” ungkap sang pelatih, Ryan Tanujoyo, seusai laga. “Faktor kekalahan hari ini ada di speed dan power. Namun, Priska mendapatkan banyak pengalaman berharga dari pertandingan hari ini,” jelas Ryan, dalam pesan singkatnya kepada sejumlah jurnalis di Jakarta. Ryan berharap, seusai terhenti di turnamen AGL Loy Yang, Priska mendapatkan banyak pengalaman berharga dan dapat memberikan hasil yang lebik baik di Australian Open Junior pekan depan. Meski telah terhenti, Priska beserta duet pelatih Ryan dan Elbert Sie memutuskan tetap berada di Traralgon, hingga Rabu (16/1). “Saat ini, justru lebih mudah mendapatkan lapangan latihan di Traralgon, karena kami baru bisa menggunakan fasilitas latihan Australia Open Junior 2019, di Melbourne, mulai Kamis (17/1),” tutur Ryan. Priska dijadwalkan bakal tampil di babak utama turnamen grand slam Australia Terbuka Junior yang bergulir mulai 19 Januari. Selain di nomor tunggal, dara kelahiran Jakarta 23 Mei 2003 ini, akan turun di sektor ganda, putri berpasangan dengan petenis asal Tiongkok, Wei Sijia. (Adt)

Libas Petenis Tuan Rumah, Priska Besok Tantang Unggulan Teratas

Tampil di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) berhasil menyisihkan perlawanan andalan tuan rumah, Olivia Gadecki melalui laga straight set 6-4 6-2. (sportschannelindonesia.co.id)

Victoria- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) tampil apik di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia. Bermain pada partai pembuka di lapangan utama Traralgon Tennis Club, Sabtu (12/1), Priska menekuk andalan tuan rumah, Olivia Gadecki, lewat laga straight set 6-4 6-2. “Rasanya lega, akhirnya bisa revans atas Olivia,” ucap Priska yang kini bercokol di peringkat ke-45 dunia junior. Walau menempati posisi ke-144 dunia, Olivia menjadi momok bagi Priska, sepanjang musim kompetisi tahun lalu. Dalam tiga kali pertemuan, tak sekalipun Priska mampu memetik kemenangan. “Laga ini sebenarnya bukan laga yang mudah bagi Priska untuk menemukan irama permainan. Apalagi kondisi lapangan yang tak cukup membantu karena sangat berangin,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang mendampingi anak didiknya bersama Elbert Sie selama di Australia. “Awalnya sempat tertinggal 1-3, namun Priska konsisten menjalankan strategi yang telah kami rancang yakni memberi pressure ke arah badan lawan. Hal itu sangat efektif mematikan lawan dan menghasilkan angka kemenangan,” imbuhnya. Namun, Priska enggan jemawa lantaran sadar tantangan yang menghadangnya makin berat dalam ajang pemanasan grand slam Australia Terbuka ini. Pada babak 16 besar, Minggu (13/1) dia harus terlibat bentrok dengan unggulan teratas, Clara Tauson. Wakil Denmark itu bertengger di urutan keempat dalam daftar peringkat junior dunia. “Sejauh ini, Clara lawan berperingkat tertinggi yang pernah saya hadapi. Namun tak ada alasan untuk takut. Saya siap menghadapi siapapun,” tegasnya. “Mudah-mudahan Priska tampil percaya diri di babak berikutnya dan bermain all out,” harap Ryan. Gadis kelahiran Jakarta 2 Mei 2003 itu sebelumnya, pada babak pertama melangkah mulus, usai menang mudah atas petenis kualifikasi asal Italia, Lisa Pigato, Jumat (11/1). Priska menang straight set 6-0 6-1. Sayangnya langkah Priska di nomor ganda, sudah harus terhenti di laga perdana. Duetnya bersama wakil China, Wei Sijia kandas di tangan seeded ketiga, Natsumi Kawaguchi (Jepang) dan Andrinn Nagy (Hungaria) 4-6 1-6. (Adt)

Debut Perdana di Grand Slam Australia 2019, Petenis 15 Tahun Asal Jakarta Bidik Delapan Besar

Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (tengah), akan segera memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 tampil di turnamen junior berlevel grand slam, di Stadion Melbourne Park, Melbourne, pada 19 Januari. (istimewa)

Jakarta- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, tak sabar memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 itu berharap penampilannya di turnamen berlevel grand slam di Melbourne Park itu, mampu memberi kebanggaan bagi Merah Putih. Ia membidik target minimal menjejak perempat final tunggal putri kategori yunior. “Australia Open adalah grand slam pertama saya menekuni tenis. Tentu saya sangat bersemangat bertanding di ajang tersebut,” ujar Priska di Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, sesaat sebelum bertolak menuju Australia, pada Senin (7/1). “Target ingin masuk perempat final Australia Open, namun saya berusaha semaksimal mungkin mendapat hasil yang lebih bagus,” lanjut petenis di posisi ke-45 yunior putri dunia itu. Tak sekedar sesumbar, namun optimisme yang membuncah dalam diri Priska itu muncul, lantaran dia telah cukup mengenal kekuatan calon-calon lawannya. “Kalau petenis Eropa dan Amerika Serikat sudah cukup tahu ketika bertanding di babak final Fed Cup Junior di Hungaria, tahun lalu,” tuturnya. “Lawan dari Asia dan Australia, tak hanya kenal permainan, sebab sering berlatih bersama seperti di Bangkok, akhir tahun lalu bersama petenis Thailand, Korea dan Jepang,” jelasnya. Selain tampil di babak utama tunggal putri yunior, Priska juga berlaga di nomor ganda berpasangan dengan petenis peringkat ke-88 asal Tiongkok, Wei Sijia. Menghadapi laga debutnya di Australia Open 2019, Priska telah melakoni sejumlah persiapan matang. Selain menjalani latihan rutin bersama Elbert Sie dan Ryan Tanujoyo di Bandung, dia juga mengikuti training camp bersama mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabiles di DNA Tennis Bangkok, yang dikelola mantan petenis top Thailand, Danai Udomchoke, akhir tahun lalu. “Kami persiapkan matang semua faktor yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan Priska di Australia Open, terutama fisik dan mental,” cetusnya. Semoga mendapat hasil yang maksimal, setidaknya masuk delapan besar,” ucap Ryan yang bersama Elbert, bakal mendapingi anak didiknya itu menjalani debutnya di Australia Open. “Mohon doanya agar keberuntungan juga memayungi langkah Priska karena semua juga tergantung hasil undian. Semoga Priska bisa berada pada top berformance selama di Autralia,” imbuhnya. Australia Open kategori yunior, akan berlangsung pada pekan kedua turnamen grand slam pembuka, yakni 19 hingga 26 Januari 2019. Namun, sebelumnya Priska akan turun di turnamen pemanasan yakni ITF Junior Grade 1, berlabel AGL Loy Yang Junior Internasional di Traralgon, Victoria, Austrlia, pada 11-16 Januari. Penampilan Priska di Australia Open 2019 memberi angin segar bagi Indonesia, sebab cukup lama wakil Merah Putih tak unjuk gigi di turnamen internasional bergengsi. (Adt)

Jelang Tampil di Bangkok, Atlet Tenis PPLPD Muba Rebut Juara 1 dan 2 Junior Master U-16

Atlet tenis binaan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Jones Pratama (kiri), Merliana Mona Rizki (tengah), dan Indah Septiani, meraih prestasi tingkat nasional, pada ajang Junior Master Nasional U-16, di Lapangan Tenis Hotel Sultan, Jakarta, pada Minggu (9/12). (halosumsel.com)

Jakarta- Atlet tenis binaan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, merebut juara tingkat nasional pada ajang Junior Master Nasional U-16. Jones Pratama, yang berasal dari PPLPD Muba, sukses menekuk atlet asal Jawa Tengah, Reza Pahlevi, di partai final. Tampil di Lapangan Tenis Hotel Sultan, Jakarta, pada Minggu (9/12), Jones unggul dari Reza dengan skor 7-6, 6-3. Sementara atlet PPLPD putri, Indah Septiani Putri, meraih gelar runner up, usai di laga puncak harus mengakui Nadya Dhaneswara, asal Jawa Tengah, dua set langsung 2-6, 3-6. Sedangkan Merliana Mona Rizki, yang juga mewakili Muba, ada di peringkat IV, kalah dari petenis putri asal Tegal, Jawa Tengah, Yunizar Lusida Putri. “Alhamdulillah, dua atlet binaan PPLPD Muba cabor tenis di tingkat nasional, mendapatkan juara 1 dan 2,” ujar Suwandi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkab Muba. “Ini bukti, proses pembinaan dan fasilitas penunjang olahraga di Muba, serta komitmen pak Bupati, mampu mencetak atlet-atlet berkualitas,” ujar Suwandi. Usai tampil di Jakarta, mereka akan melanjutkan ke Seri Bandung. Pada awal 2019, Jones, Mona dan Indah, akan mewakili Indonesia dalam turnamen Master U15, di Bangkok, Thailand. Sementara itu, Bupati Muba, Dodi Reza Alex Noerdin mengapresiasi prestasi atlet tenis asal Muba. “Jangan cepat puas, kejar terus prestasi dengan sportif,” tambahnya. Penggerak dan Pembina Olahraga Terbaik se-Indonesia ini bertekad terus mencetak atlet berprestasi, di tingkat nasional maupun internasional. “Terus pacu prestasi dan kembangkan potensi diri serta selalu membanggakan daerah Muba tercinta,” tukasnya. turnamen Tenis Fix Open di Bandung pada 16-22 Desember nanti. Usai pertandingan, Jones dan Indah mengaku sangat senang dengan peraihan yang diperoleh di ajang junior ini. Mereka mengucapkan terima kasih kepada support yang selalu diberikan Dodi sebagai Bupati Muba. “Kami ucapkan terima kasih dengan pak Bupati, yang selalu memberikan support, dan juga menyediakan sarana prasarana lengkap serta berstandar internasional sehingga memudahkan untuk berlatih,” pungkas mereka. Sebelumnya, petenis cilik putra asal Muba, Jackquilyn Zavio Audrey Yoza, terpilih mengikuti TC Pelatnas Indonesiaku untuk usia 12, di Magelang, Jawa Tengah, pada 1-6 Desember lalu. Boca kelahiran 21 Januari 2008 ini, akan mewakili Indonesia, dalam Turnamen Junior Tenis U12, di Bangkok, Thailand, pada awal 2019. (Adt)

Tembus Dominasi Korsel, Angelica Irena Terhenti di Final Ajang Soft Tennis Championships 2018

Angelica Irena Lontoh (21 th), satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke babak akhir The 4th Indonesia Soft Tennis Championships 2018, harus mengakui keunggulan atlet Korea Selatan, Jin Sua. Irena, sapaannya, takluk di nomor final tunggal putri dengan skor 2-4. (tribunnews.com)

Denpasar- Kubu tuan rumah terpaksa harus gigit jari dalam ajang The 4th Indonesia Soft Tennis Championships 2018, di Lapangan Tenis KONI Bali Denpasar, Minggu (2/12). Angelica Irena Lontoh, satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke babak akhir, harus mengakui keunggulan atlet Korea Selatan, Jin Sua. Irena, sapaannya, akhirnya takluk di nomor final tunggal putri 2-4. Usai dikalahkan, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Jakarta ini mengakui, dirinya memang kalah teknik dan strategi. “Kami akui, bila teknik Jin Sua lebih matang,” ujarnya. Pemain kelahiran Manado, 17 Oktober 1997 ini, menerankan, dirinya berawal dari tenis lapangan, namun sejak 2014 beralih ke soft tennis. “Saya masuk cadangan skuad timnas Asian Games 2018 lalu,” ucapnya. Timnas soft tennis Indonesia akhirnya merebut satu medali perak dan perunggu pada Asian Games. Dengan hasil itu, memastikan tim Korea Selatan menyapu bersih semua gelar dari enam nomor pertandingan di ajang ini. Sehari sebelumnya, putra putri asal Negeri Ginseng telah berada di podium tertinggi nomor beregu, ganda putra dan putri. Indonesia hanya kebagian tiga perak dari tunggal putri (Angelica) serta beregu putra putri, lima perunggu dari tunggal putra (Risky Saputra), beregu putra dan putri, serta ganda putri (Angelica/Sharon Watupongoh), dan ganda putra (Hemat Bhakti Anugrah/Fernando Daniel Sanger). “Kami tak terkejut dengan hasil ini. Usai Asian Games 2018, Pelatnas Soft Tenis juga berakhir. Semua Atlet dipulangkan dan mereka hanya berlatih sekedarnya di daerah masing-masing.” tutur Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Seluruh Indonesia (PP Pesti), Ferly Montolalu. “Namun kami juga bersyukur dengan hasil yang didapatkan oleh Angelica di turnamen ini. Dia memang bersiap lebih baik karena mengikuti serangkaian kegiatan, mulai dari Kejurnas di Manado, awal November hingga Kejuaraan Dunia Yunior di Korsel, pekan silam,” paparnya. Setelah turnamen internasional di Denpasar, Bali, PP Pesti memiliki agenda untuk melakukan seleksi pembentukan Timnas Merah Putih yang akan berlaga di ajang multi event SEA Games 2019 di Manila, Filipina. “PP Pesti mengundang 20 pemain, putra maupun putri untuk melakukan pemusatan latihan bersama, sebelum diseleksi sebagai kerangka tim Indonesia SEA Games 2019,” tutur Ketua Panitia Pelaksana The 4th Indonesia Soft Tennis Championships, Agus Rosadi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PP Pesti. (Adt) Hasil Final Minggu (2/12) Tunggal Putra Park Jae Kyu (Korsel) v Kim Sun Min (Korsel) 4-1 Tunggal Putri Jin Sua (Korsel) v Angelica Irena Lontoh 4-2 Ganda Putra Park Sang Min / Yoon Hyoung Wook (Korsel) v Park Kyu Cheol /Seo Kyo Weon (Korsel) 5-1 Ganda Putri Ko Eun Gi / Yun So Ra (Korsel) v Cho Hye Jin / Jin Su A (Korsel) 5-0

Gagal di Ganda Campuran, Atlet 21 Tahun Incar Juara di Turnamen Internasional Soft Tenis di Bali

Atlet Indonesia, Angelica Irena Lontoh (21 tahun) lolos ke babak final nomor tunggal putri, turnamen Tennis Championships 2018 The 4 th Indonesia Soft, di Lapangan Tenis KONI Bali, Jalan Angsoka, Denpasar, Bali. Irena akan menghadapi wakil Korea Selatan, Jin Sua, pada Minggu (2/12). (suaramerdeka.com)

Denpasar- Atlet soft tenis Indonesia, Angelica Irena Lontoh (21 tahun) sukses melangkah ke babak puncak nomor tunggal putri, turnamen Tennis Championships 2018 The 4 th Indonesia Soft, yang berlangsung di Lapangan Tenis KONI Bali, Jalan Angsoka, Denpasar, Bali. Pada babak perempat final, Jumat (30/11), Irena sukses menepiskan perlawanan kompatriotnya, Runi Utama, dengan skor 4-1. Dan di semi final, pemain kelahiran Manado, 17 Oktober 1997 ini, kembali mengalahkan rekan senegara, Sharon Cornelia Watupongoh, 4-2. “Tentu senang bisa masuk final. Selangkah lagi bisa mewujudkan target meraih juara di turnamen ini,” tutur Irena, sapaannya, usai laga semi final, pada Jumat (30/11). Di final, Irena menantang Jin Sua, yang memenangi babak empat besar atas sesama wakil Korea Selatan, Ju Seul Gi 1 retired. “Pemain Korsel memang sulit dikalahkan, namun saya optimistis mampu mengatasinya,” tutur mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Jakarta ini. “Bola itu bundar, segala kemungkinan bisa terjadi di atas lapangan. Saat kita serahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, yang pun mustahil akan menjadi mungkin,” imbuhnya. Tak hanya nomor tunggal, Irena sejatinya juga melangkah mulus ke semifinal di nomor ganda putri. Berpasangan dengan Sharon Cornelia Watupongoh, akhirnya pasangan ini disingkirkan oleh duet Ko Eun Ji/Yun So Ra (Korsel) dengan skor 4-2, pada laga yang terjadi di Sabtu (1/12). Sayangnya, langkah gemilang Irena gagal diikuti atlet tuan rumah di nomor tunggal putra. Lima wakil Merah Putih yang lolos perempat final tak kuasa menahan sepak terjang tiga atlet Korea Selatan. Irfandi Hendrawan kandas di tangan Park Jae Kyu 0-4, sedangkan Hemat Bakti Anugerah kalah dari Kim Sun Min 2-4. Kendati sempat memberikan perlawanan sengit, Fernando Daniel Sanger harus mengakui keunggulan Yoon Hyoung Wook 3-4. Sementara itu, Risky Saputra yang memenangi perang saudara atas Ragil Wahyudiono 4-2, juga tak mampu mengadang langkah Kim Sun Min di babak empat besar. Risky yang meraih emas tunggal putra Kejurnas Soft Tenis di Manado awal bulan ini, harus menelan pil pahit paska dilumat dengan skor 0-4 oleh Kim. All Korean Final pun tak terelakkan bakal mewarnai partai puncak nomor tunggal putra, mempertemukan dua wakil Korea Selatan, Park Jae Kyu dan Kim Sun Min. Partai final tunggal putra dan putri dijadwalkan berlangsung Minggu (2/12). Indonesia menurunkan skuat Asian Games 2018, di antaranya peraih perak Alexander Elbert Sie yang akan berduet dengan Irfandi Hendrawan, Prima Simpatiaji berduet dengan Sunu Wahyu Trijati, serta pada ganda putri, Dwi Rahayu Pitri dan Voni Darlina. (Adt)

60 Atlet Bertanding, 4 Negara Ikut The 4th Indonesian Soft Tennis Championship di Bali

Petenis Indonesia Alexander Elbert Sie, mencoba mengembalikan bola, pada pertandingan final Soft Tenis pada Asian Games 2018, di Jakabaring Sports City. Elbert kembali turun dalam The 4th Indonesian Soft Tennis Championships di Denpasar, Bali, mulai 27 November hingga 2 Desember 2018. (Harnas.co)

Denpasar- Turnamen internasional bertajuk The 4th Indonesian Soft Tennis Championships, bakal berlangsung di Lapangan Tenis KONI Bali Denpasar, 27 November hingga 2 Desember 2018. Sekitar 60 atlet dari empat negara yakni Kanada, India dan Korea Selatan serta Indonesia turut meramaikan kejuaraan ini. “Sampai batas akhir pendaftaran, Sabtu (24/11), selain tuan rumah, baru tiga tim manca negara yaitu Kanada, India dan Korea Selatan yang mengkonfirmasi partisipasinya dalam turnamen ini,” ucap Ketua Panitia Penyelenggara (Panpel) The 4th Indonesian Soft Tennis Championships, Agus Rosadi di Jakarta, Minggu (25/11). “Sebenarnya ada beberapa negara lain yang menyatakan berminat mengikuti turnamen ini karena berlangsung di Pulau Dewata, yang sarat dengan pesona wisata, namun belum memberi informasi jadwal kedatangan. Panpel pun siap bila mereka akhirnya datang juga di Bali,” imbuhnya. Ajang The 4th Indonesia Soft Tennis Championship ini menggelar enam nomor yakni tunggal, ganda dan beregu, di sektor putra maupun putri. Para penyumbang medali bagi kontingen Merah Putih di Asian Games 2018 seperti Elbert Sie, Prima Simpatiaji dan Dwi Rahayu Pitri akan menjadi andalan Indonesia di event ini. “Namun persaingan akan sangat ketat terutama dengan kehadiran wakil Korea Selatan yang tidak saja merupakan kekuatan utama soft tenis Asia, namun juga dunia. Sementara pemain dari India dan Kanada bisa menjadi kuda hitam event ini,” tutur Agus. Bagi atlet tuan rumah, ajang ini menjadi salah satu kesempatan agar terpilih dalam skuat Timnas soft tenis yang mewakili Indonesia, di kancah internasional, terutama pada pesta olahraga antar bangsa Asia Tenggara, SEA Games 2019 di Filipina, akhir tahun depan. “Turnamen ini salah satu tahapan seleksi atlet pembentukan Timnas soft tenis Merah Putih menuju SEA Games 2019. Sebelumnya kami telah memantau penampilan mereka ketika mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Manado, awal bulan ini,” tandas pria yang menjabat venue manager soft tenis Asian Games 2018 di Palembang itu. (Adt)

Buru Poin PON 2020 Papua, 88 Petenis Muda Panaskan Persaingan Kejurnas Junior Pelti Riau Open 2018

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior Pelti Riau Open 2018, mulai dihelat pada pada Jumat (9/11) - Minggu (11/11) di Pekanbaru. Event ini mempertandingkan lima kelompok umur (KU), yakni 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun, dan 18 tahun. (gonews.com)

Pekanbaru- Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior Pelti Riau Open 2018, mulai dihelat pada pada Jumat (9/11) hingga Minggu (11/11) di lapangan Pelti dan lapangan indoor di komplek DPRD Riau, Pekanbaru. Event ini mempertandingkan lima kelompok umur (KU). Yakni usia 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun, dan 18 tahun. Dan, setiap kategori mempertandingkan dua nomor, yaitu single putra-putri, serta ganda putra-putri. Tercatat, sebanyak 88 peserta, terdiri dari 62 putra dan 62 putri turut memanaskan persaingan. “Para peserta yang ikut Kejurnas Junior Pelti Riau Open 2018 ini, berasal dari Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat, dan beberapa peserta dari DKI Jakarta,” ujar Herman, Ketua Panitia Kejurnas Junior Pelti Riau Open 2018. Sedangkan untuk Riau, Herman, menyebut hanya dua Kabupaten/Kota yang tak ikut mengirim atlet tenisnya. “Kabupaten Inhu (Indragiri Hulu), dan Kabupaten Inhil (Indragiri Hilir) tak mengirimkan atletnya. Hmpir separuh peserta Kejurnas ini berasal dari Riau,” lanjutnya. Sementara itu, sesuai aturan Pengurus Besar (PB) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti), para atlet muda yang menjadi juara pada Kejurnas ini tidak diberi hadiah uang tunai, melainkan akan mendapatkan poin yang berpengaruh pada ranking. “Kejurnas ini digelar untuk mengumpulkan poin atlet yang akan mengikuti PON (Pekan Olahraga Nasional) XX di Papua 2020 mendatang,” ujar M. Taufiq OH, Plt Ketua Pelti Riau. Ia menambhkan, event ini sekaligus ajang untuk menggaungkan tenis lapangan di Riau, yang saat ini masih belum cukup dikenal. “Ini juga sebagai evaluasi pembinaan prestasi atlet tenis Riau, saat mereka nantinya diseleksi mengikuti Porwil (Pekan Olahraga Wilayah) di Bengkulu 2019, dan pastinya PON 2020,” jelasnya. Taufiq mengungkapkan pada PON XVIII (Riau), cabang tenis menyumbangkan satu medali emas, dan satu medali perunggu. Ia berharap pada PON 2020 Papua, Riau melalui cabang olahraga tenis bisa berprestasi lebih baik lagi. “Tentu dengan memberikan hasil yang membanggakan,” tukas Taufiq. (Adt)

Sepekan Bertanding, Petenis Nasional Dominan di Kejurnas Tenis Junior Pelti Pati Open 2018

Para petenis yunior andalan tuan rumah, mendominasi daftar juara di beberapa kelompok umur (KU), pada kejuaraan nasional (kejurnas) bertajuk Junior Pelti Pati Open 2018, pada 3–9 September, di Lapangan Tenis Bakorwil I Pati, Jawa Tengah. (ISKnews.com)

Pati– Kejuaraan nasional (Kejurnas) Tenis Junior Pelti Pati Open 2018 benar-benar menjadi ajang kebolehan para petenis di Indonesia, khususnya Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dari kejuaraan tersebut, pengurus Pelti Pati mengaku bangga, karena banyak bibit petenis dari Pati, untuk level KU-10 dan KU 12. Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Pelti Pati, Joni Kurnianto di sela penyerahan hadiah juara tunggal putra mengatakan, banyak atlit tenis dari Pati yang naik mengikuti level di atasnya. Ia mencontohkan petenis berbakat tuan rumah, Diah Ayu Novita Yosri Saputri, yang seharusnya masuk KU-14, namun juga turun dinomor KU-16. “Ini berarti mereka ingin menguji kemampuan dengan para pemain level di atasnya. Mereka ini ingin mendapat tantangan yang lebih,” ujar Joni, pada Sabtu (8/9). Ia menambahkan, capaian ini merupakan hal yang positif, mengingat pembinaan yang sudah dilakukan Pelti Pati selama ini. All Pati Final terjadi di nomor tunggal putra KU 12, yang mempertemukan Andika Rizky Putra melawan Michael Ihsan Wicaksana. Duel sekota itu akhirnya dimenangkan Andika Rizky Putra dengan skor 8-1, di Lapangan Tenis Bakorwil I Pati, Jawa Tengah. Andika, siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Pati, melenggang ke babak puncak setelah juga memenangi pertarungan menghadapi rekannya dari Pati, Natanael Santoso, 8-4. Sedangkan Michael Ihsan Wicaksana melaju ke final setelah mencatatkan kemenangan atas Ahmad Bey Nurmultazam. Petenis yunior Pati juga berhasil menjadi yang terbaik di nomor tunggal putra KU 10 tahun, yaitu Christian Dwi Widianto. Petenis yang saat ini bertengger di peringkat 9 nasional itu, menjadi juara setelah membukukan kemenangan atas Wicaksono Wahyu Trijati. Sementara itu, petenis asal Sukoharjo, Lucky Candra mengaku, jika kejurnas kali ini diikuti lebih sedikit pesera dari tahun sebelumnya. Namun, kualitas petenis jauh lebih baik. “Lebih sedikit dari tahun lalu, tapi kualitas pesertanya terbaik di Indonesia,” ungkap pemuda, yang menyabet juara dua ganda putra KU-18 ini. Selain itu, kejurnas yang diselenggarakan 3–9 September, ini dinilai para Pembina dan orang tua atlit sebagai kejuaraan dengan hadiah yang besar, dibanding kejuaraan serupa di daerah lain. Dalam kejuaraan tersebut, tak sedikit petenis nasional yang ikut ambil bagian, salah satunya Diah. Diah adalah petenis masa depan asli Pati, yang pernah mewakili Indonesia di ITF World Junior Tennis Competition, ITF Asia 14, dan Under Development Championship 2018. Remaja bertubuh kecil yang seharusnya turun pada KU-14, pada kejurnas kali ini memilih bertanding dinomor tunggal putrid KU-16. Meski ‘naik kelas’ di level usia bertanding, Diah sanggup mengunci partai final, meski akhirnya meraih juara kedua. Sementara dinomor ganda KU-16, petenis kelahiran Pati 9 November 2004, juga sukses membuat prestasi dan menyabet juara satu. (Adt)

Lampaui Target, Tenis Ganda Campuran Genapkan Emas Kontingen Indonesia Menjadi 10

Ekspresi petenis ganda campuran Indonesia Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi, usai menekuk pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum pada laga final tenis ganda campuran Asian Games 2018 di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (25/8). (INASGOC)

Jakarta- Ganda campuran Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi mengakhiri puasa medali emas cabor tenis, di Asian Games yang kali terakhir diraih 16 tahun silam. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, hadir menyaksikan pertandingan kali ini. Bahkan, kursi penonton pun nyaris penuh. Melawan pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum, di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sabtu (25/8/), partai ini memang diprediksi panas. Beberapa nomor seperti ganda putri dan tunggal putri, Indonesia sudah gagal meraih emas. Ganda campuran menjadi harapan terakhir Indonesia. Dobel Indonesia menang dengan skor 2-1. Sempat unggul di set pertama 6-4, kalah di set kedua 7-5, akhirnya Christopher/Aldila menyudahi set ketiga, dengan hasil akhir 7-10. Kerja keras keduanya ini, selain mendapat medali emas, juga bakal dipromosikan menjadi pegawai negeri sipil, dan akan diganjar hadiah uang Rp 1,5 miliar dari Menpora. Usai laga, Aldila mengaku, jika prestasi Asian Games 2018 ini jadi gelar pertama, sekaligus keikutsertaan pertamanya, di pesta multievent terbesar kedua, setelah Olimpiade. “Saya persembahkan gelar ini untuk orang tua saya, yang banyak berkorban untuk saya sejak kecil, serta memberikan dukungan atas pilihan saya berkarir di tenis. Mungkin tanpa mereka, karir saya di tenis tidak berlanjut,” ujar Aldila terharu. Kendati keduanya dijagokan sejak awal meraih medali, namun peluang merebut emas dinilai sangat berat. Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) justru menargetkan Christopher/Aldila memberi satu perunggu setelah mereka menembus semifinal. Nyatanya, dobel Merah Putih ini melenggang ke final, usai menaklukkan wakil Jepang Erina Hayashi/Kaito Uesugi 7-6(3), 6-4, di babak empat besar, dan memastikan meraih medali emas Asian Games 2018. Dari statistik, Christopher/Aldila total membuat kesalahan sendiri 26 kali, sedangkan Luksika/Sonchat hingga 33 kali. Kali terakhir tenis berhasil menyumbangkan untuk Indonesia, di Asian Games pada edisi 2002, saat digelar Busan, Korea Selatan. Pada Asian Games ke-14 itu, tenis meraih emas dari nomor beregu putri. Ketika itu, tim beregu putri menang 2-1 atas Jepang. Skuat Indonesia saat itu, dihuni Liza Andriyani, Wynne Prakusya, Wukirasih Sawondari, dan Angelique Widjaja. Sementara ganda campuran, Indonesia kali terakhir berhasil meraih emas, pada edisi Asian Games 1990, melalui pasangan Yayuk Basuki dan Hary Suharyadi. Keduanya menumbangkan ganda campuran Korea Selatan, Yoo Jin-sun/Kim Il-soon. Sukses Christopher/Aldila berhasil menjadi penghapus dahaga medali emas bagi tenis Indonesia, di ajang multievent empat tahunan di Asia tersebut. Busan 2002 menjadi Asian Games terakhir tenis Indonesia, bisa menyumbangkan medali emas. Di Doha 2006, Guangzhou 2010, dan Incheon 2014, tim merah putih gagal merebut satu medali dari tenis. Hasil positif ini diharapkan menjadi pemicu prestasi cabor tenis yang kali terakhir meraih emas pada 16 tahun silam. Kemenangan ini turut mengobati kegagalan Christopher/Aldila di nomor lain. Bersama Justin Barki, Christopher langsung kalah di babak dua ganda putra. Untuk Aldila melangkah hingga perempat final tunggal putri Asian Games 2018. Hasil emas ini melebihi target pemerintah melalui Kemenpora kepada PP PELTI. Sebab, Kemenpora tak meminta medali emas dari cabor tenis di Asian Games 2018. Atas pencapaian ini, Indonesia mengumpulkan total 38 medali, yakni 10 emas, 12 perak dan 16 perunggu, dan sementara ini berada di peringkat kelima Asian Games 2018. Di atas terdapat China (1), Jepang (2), Korea Selatan (3) dan Iran (4). (Ham) Laga Christopher/Aldila Meraih Medali Emas Asian Games 2018 Babak 32 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Sarah Mahboob Khan/Muzammil Murtaza (Pakistan) : 6-3, 62 Babak 16 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Nicha Lertpitaksinchai/Sanchai Ratiwatana (Thailand) : 7-5, 61 Perempat Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Rohan Bopanna/Ankita Raina (India) : 4-6, 6-3, (10-8) Semifinal Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Uesugi Kaito/Hayashi Erina (Jepang) : 7-6 (3), 6-4 Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Luksika Kumkhum/Sonchat Ratiwatana (Thailand) : 6-4, 5-7, (10-7)

Tito, Remaja 14 Tahun Asal Blora yang Sudah Mengantongi Segudang Prestasi di Olahraga Tenis

M. Tito Zuhda Irhami saat di JITA ketika sedang latihan

Indonesia tak akan kehabisan potensi atlet dari berbagai kota di Indonesia untuk masing-masing cabang olahraga, salah satunya olahraga tenis, ada banyak calon atlet tenis yang memiliki segudang potensi dan prestasi. Salah satunya adalah M. Tito Zuhda Irhami, remaja asal Blora, Jawa Tengah ini rela merantau ke Ibukota demi menekuni olahraga tenis. Berawal dari sang ayah yang juga memiliki hobi serupa, Tito pun mulai menjajal raket tenis di usia 5 tahun. Saat itu Tito masih menggeluti dua cabang olahraga, yakni tenis dan bulutangkis. “Dulu sebelum fokus di tenis saya main badminton juga, tapi karena papah merasa kasihan aku latihan dua kali tenis dan badminton, jadi disuruh pilih salah satu” jelas Tito. Usai memutuskan olahraga tenis sebagai hobinya, remaja berusia 14 tahun tersebut mulai fokus berlatih ketika usianya memasuki 6 hingga 7 tahun. Kejuaraan tingkat nasional yang dijalaninya pertama kali yaitu ketika berada di kota Madiun, meski hanya lolos satu pertandingan saja dan babak berikutnya harus pulang lebih cepat. Namun hal tersebut rupanya tak menyurutkan semangatnya untuk berlatih lebih giat lagi. Saat ini Tito masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sebentar lagi akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Meski masih berstatus siswa, dirinya tetap rutin menjalani latihan. “Kebetulan sekolah saya juga mendukung untuk berlatih tenis, kadang-kadang capek dan lelah juga sih. Kalau ketinggalan pelajaran biasanya nanya ke temen, tugasnya apa aja, kemarin materinya apa. Ya pinter-pinter kita cari teman lah pokoknya” ujar remaja kelahiran 8 Mei 2004 tersebut. Selama bermain di berbagai kejuaraan, Tito sempat mengalami cidera yang cukup parah, karena salah tumpuan pijakan ketika melakukan pertandingan sehingga memaksa dia untuk beristirahat sekitar 2 sampai 3 minggu. Tito mengungkapkan beberapa hal yang membuatnya nyaman dalam menekuni olahraga tenis, seperti teman-teman yang menyenangkan, dukungan dari pelatih dan juga keluarga. Keluarga dan orang tua menjadi alasan kuat bagi dirinya untuk masih bertahan dan menekuni olahraga tenis sampai saat ini, dukungan dan semangat yang terus mengalir menjadi motivasi bagi dirinya. “Target saya di tenis, semoga saya bisa lebih baik dari saat ini, dan juga bisa jadi pemain tenis nomor 1 se-Indonesia” tutupnya kepada NYSN Media. (Ham) Profil Singkat Nama : M. Tito Zuhda Irhami Tempat/Tgl Lahir : Blora, 8 Mei 2004 Nomor Ponsel : 081326915636 Media Sosial : Ig @titozuhda Alamat tinggal : Sekolah duta 5 (mess JITA) Orang Tua : Suharyanto (ayah) Nunuk Sutristianti (ibu) Anak ke 3 dari 3 saudara Pendidikan SD Tempelan Blora SMPN 1 Blora Prestasi 2018 Finalis Tunggal Putra KU 14 New Armada Cup XXII (Magelang, 8-13 Januari) Juara 3 Tunggal Putra KU 16 Totalindo Purwokerto Yunior (Purwokerto, 2-8 April) Juara 3 Ganda Putra KU 16 Totalindo Purwokerto Yunior (Purwokerto, 2-8 April) Peserta Seleknas KU 14 (Yogyakarta, 24-27 Januari) Juara 3 Tunggal Putra KU 16 Sportama Super Series (Banjarnegara, 8-12 Mei) Juara 3 Ganda Putra KU 16 Sportama Super Series (Banjarnegara, 8-12 Mei)

Si Kecil Cabe Rawit, Julukan Untuk Falen Atlet Tenis Berusia 8 Tahun

Falen, murid didik dari Jakarta International Tennis Academy.

Jakarta- Olahraga Tenis mungkin belum sepopuler olahraga lain seperti sepak bola, futsal, basket maupun badminton, meski demikan ada beberapa kalangan yang cukup menyukai cabang olahraga ini. Jakarta International Tennis Academy (JITA) adalah salah satu dari sekian banyak sekolah tenis di Jakarta yang sukses mengantarkan anak didiknya untuk bertanding di ranah nasional maupun internasional. Falen salah satunya, anak berusia 8 tahun tersebut meski terbilang usianya masih amat muda namun kemampuannya dalam memukul bola tenis di lapangan tak perlu diragukan lagi. Menurun dari hobi sang ayah yang juga menjabat sebagai pelatih tenis di JITA, sang anak justru memiliki ketertarikan dengan olahraga tenis saat usianya masih berusia 2 tahun. “Saat itu masih 2 tahun mulai penasaran dia sama raketnya, saya coba lemparkan ke anak bolanya malah dipukul. Akhirnya ketika umur 3,5 tahun baru saya kenalkan pelan-pelan, karena 2 tahun masih terlalu kecil ya” ungkap Sebastian, ayah dari Falen. Sebelum bergabung dengan JITA, Falen mulai berlatih dengan sang ayah dan kakak karena kebetulan sang kakak memiliki hobi yang sama. Mulai bergabung dengan JITA saat umurnya 3 tahun, Falen masih mengikuti latihan sesuai usia dan kemampuannya. Ketika berusia 5 tahun barulah terjun mengikuti turnamen perdananya namun sayang hanya sampai posisi Runner Up saja. “Sekitar umur 4-5 tahun mulai main di turnamen internal kita dulu, anaknya makin senang. Setelah dirasa cukup mumpuni baru terjun kejuaraan” tambah sang ayah. Saat ini anak kelahiran 1 Maret 2010 tersebut masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, namun dalam usia semuda itu Falen ternyata memiliki jadwal yang sangat padat untuk belajar di sekolah sekaligus berlatih Tenis. Selain itu oleh pihak sekolah Falen juga  mengikuti ekstrakulikuler Baske dan Renang “Bisa dibilang sangat sedikit waktu istirahatnya, tapi anaknya senang. Saya suruh istrahat malah marah-marah anaknya” tambah Sebastian. Namun yang dikhawatirkan ketika Falen akan merasa jenuh dengan segudang aktivitasnya, bahkan ketika akhir pekan Falen menghabiskan waktu 6 jam di JITA untuk berlatih, tak ayal lagi bahwa peran orang tua sangat diperlukan dalem menjaga keseimbangan aktivitas dan kesehatannya. Kerap kali sang anak diberikan multivitamin dan makanan yang bergizi agar kondisinya tetap terjaga, dengan waktu latihan dan jadwal aktivitas yang tergolong padat, agar berhasil membuahkan segudang prestasi yang dibawanya pulang. “Sejauh ini masih bisa dikondisikan, aktivitasnya saya atur agar tetap fit. Latihan pun ringan saja paling joging, skiping aja saya suruh 500 dia bisa sampai 3000 kali” ujar pelatih sekaligus ayah Falen seraya bergurau. Harapan yang disampaikan sang ayah adalah semoga Falen bisa menjaga konsistensinya hingga usia 12 tahun, agar Ia bisa bisa menjadi atlet top nasional bahkan internasional. (Ham) Profil Singkat Nama : Rafalentino Ali Da Costa Tempat/Tgl Lahir : Tangerang Selatan, 1 Maret 2010 Orang Tua : Sebastian Ali Da Costa (ayah) Dwi Komala Sri (ibu) Nomor Ponsel : 087771556829 (ibu) Anak kedua, kakak Justmin Ali Da Costa Pendidikan SD Al-Fath BSD, Tangerang Prestasi KU 8: Sportama Orange 2015 – RUNNER Up KU 10: AFR 2017 – SEMIFINAL KU 10: CBR 2017 – SEMIFINAL KU 10: Sportama 2017 – Semifinal KU 10: Thamrin Cup 2018 – SEMIFINAL KU 10:BNI 2017 – RUNNER Up KU 10:AFR 2017- RUNNER Up KU 10:AFR 2017- WINNER KU 10:CBR 2017- WINNER

Rachel, Gadis Blasteran Negri Kincir Angin Ingin Harumkan Nama Indonesia

Jakarta- Menjadi seorang atlet olahraga adalah mimpi bagi sebagian anak di Indonesia. Selain tampil di ajang event nasional, juga bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Rachel Meghan Peters, jadi salah satunya. Gadis berdarah Belanda ini menekuni olahraga Tenis sejak usia 6 tahun. Berawal dari sang ayah yang juga hobi bermain tenis, menurun kepada Rachel, sapaannya. “Hoby main tenis dari ayah, yang sering berlatih di Jakarta International Tennis Academy (JITA). Dan di JITA juga saya bertemu teman-teman baru, meski latihannya cukup berat  ,” ungkap Rachel. Dirinya rutin mengikuti latihan setiap Jumat sore usai jam sekolah, meski waktu sekolah yang cukup padat namun tak meghalangi semangatnya untuk terus berlatih. Rachel yang masih duduk di kelas 3 SMP sekolah internasional ACG School Jakarta, di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sudah memiliki segudang prestasi di level junior, seperti turnamen August Ferry Raturandang (AFR) Remaja, Sportama, hingga Mayapada. “Setelah pulang sekolah aku langsung ke tempat latihan, nanti selesai latihan, baru pulang ke rumah. Kadang capek juga sih” ujar remaja berusia 14 tahun tersebut. Namun Rachel tetap disiplin belajar dan sejenak absen mengikuti latihan, saat musim jian sekaolah tiba. Bahkan, momen akhir pekan digunakannya untuk fokus belajar di rumah. Rachel Pertama kali mengikuti turnamen saat usianya 9 tahun. Tampil di Sportama Tennis Institute Junior 2013, ia sukses menjadi juara level The Future Stars (0-10 tahun). Sejak event ini, Rachel rutin tampil di beberapa turnamen Junior kelas nasional. Target yang ingin dicapainya pun tak main-main ingin menjadi petenis nasional dan kelak tampil di ajang profesional. Rachel kini sudah tampil di turnamen Internasional ITF Junior, mengharuskan Rachel harus rutin sebanyak 2x dalam sesi kualifikasi dan Main Draw. “Kalau menang nanti mendapat poin untuk bermain di ITF Junior series, tapi kemarin aku kalah di Main Draw, dar pemain nasional Indonesia, jadi harus kembali mulai lagi,” jelas Rachel kepada NYSN Media pada Jumat (13/7) sore. Target jangka panjang yang ingin dara yang tinggal di kawasan Kemang, Jakarta Selatan ini, menjadi atlet profesional dan mengharumkan nama Indonesia di event Internasional dari cabang tenis. (Ham) Profil singkat Nama : Rachel Meghan Peters Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 6 Juli 2004 Alamat : Kemang Terusan, Jakarta Selatan Orang Tua : David Pieters (ayah) Andromeda (ibu) Anak ketiga dari tiga saudara Pendidikan Sekolah Dasar Belanda NIS SMP Academic College Grup (ACG) Prestasi KU 10: SPORTAMA 2013 – WINNER KU 10: MAYAPADA 2014 – WINNER KU 10: MAYAPADA 2014 – WINNER KU 12: AFR 2015 – RUNNER UP KU 14: AFR 2016 – WINNER KU 14: AFR 2016 – WINNER KU 12: SPORTAMA 2016 – WINNER KU 14: CBR 2017 – WINNER

Remaja Jakarta 17 Tahun Spesialis Dobel, Rontokan Petenis Unggulan Asal Jepang di Nomor Tunggal

Fitriani Sabatini yang disapa Ani (17 tahun) mengalahkan unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki, yang berperingkat tunggal ke-593 dunia dengan skor akhir 6-2 6-1. (tribunnews.com)

Jakarta- Kejutan besar kembali warnai babak kedua Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018, di lapangan tenis The Sultan Hotel Jakarta, Kamis (19/7). Dua unggulan teratas sektor tunggal, tersingkir dari persaingan gelar juara turnamen khusus putri di event berhadiah total 15.000 dollar AS atau Rp 210 juta ini. Wakil tuan rumah, Fitriani Sabatini yang disapa Ani (17 tahun) menjadi salah satu pembuat kejutan. Petenis spesialis dobel yang masuk babak utama menggunakan fasilitas wild card itu, mengalahkan unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki. “Saya banyak melakukan pukulan spin untuk melayani pukulan flat keras yang dilakukan oleh lawan. Dia kehilangan konsistensi dan membuat kesalahan sendiri,” ujar Ani usai laga berdurasi satu jam 20 menit. Ani, menang straight set atas lawan berperingkat tunggal ke-593 dunia itu dengan skor akhir 6-2 6-1. Kemenangan Ani memastikan tuan rumah memiliki satu wakil pada babak empat besar turnamen seri kedua ITF Women’s Circuit di Indonesia ini. Pada fase semi final, Jumat (20/7), Ani terlibat perang saudara dengan seniornya, Aldila Sutjiadi (23), yang sukses membungkam wakil Kazakhstan, Zhibek Kulambayeva 6-2 6-4. Sayang, keberhasilan Ani gagal diikuti oleh saudara kembarnya, Fitriana ‘Ana’ Sabrina. Ana harus mengakui ketangguhan unggulan kedelapan asal India, Mahak Jain dalam pertarungan rubber set dengan kedudukan akhir 3-6 6-3 3-6. Sementara di nomor ganda, Ana dan Ani kandas di tangan seeded teratas, Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India). Pasangan Ana/Ani harus kalah 3-6 1-6. Pembuat kejutan lain di nomor tunggal ini adalah Arianne Hartono, wakil Belanda berdarah Indonesia. Petenis kelahiran Amsterdam 21 April 1996, yang lolos babak utama dari kualifikasi itu berhasil menumbangkan seeded teratas asal China, Yexin Ma. Lulusan suma cum laude jurusan Psikologi dari Universitas Mississippi ini, menang 7-6(6) 6-3. Di nomor ganda, berpasangan dengan Aldila Sutjiadi, Arianne yang merupakan keponakan petenis era 90’an Deddy Tedjamukti ini, lolos ke babak empat besar. Di perempat final, mereka menekuk unggulan ketiga, Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang) 6-1 6-0. (Ham) Hasil Kamis (19/7) Babak Kedua Tunggal Arianne Hartono (Belanda) v 1-YeXin Ma (China) 7-6(6) 6-3 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) v Mana Ayukawa (Jepang) 2-6 6-3 6-4 3-Zeel Desai (India) v Zhuoma Ni Ma (Tiongkok) 6-2 6-0 5-Ayako Okuno (Jepang) v Suzuho Oshino (Jepang) 6-3 6-4 8-Mahak Jain (India) v Fitriana Sabrina 6-3 3-6 6-3 4-Kanika Vaidya (India) v Sai Samhitha Chamarthi (India) 7-5 6-2 6-Aldila Sutjiadi v Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) 6-2 6-4 Fitriani Sabatini v 2-Michika Ozeki (Jepang) 6-2 6-1 Perempat Final Ganda 1-Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India) v Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina 6-3 6-1 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (Tiongkok) v Sai Samhitha Chamarthi/Rishika Sunkara (India) 6-2 6-2 Arianne Hartono (Belanda)/Aldila Sutjiadi v 3-Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang) 6-1 6-0 Zhuoma Ni Ma/Mi Zhuoma You (China) v 2- Rio Kitagawa (Jepang)/Ani Vangelova (Bulgaria) 6-4 6-3 Jadwal Jumat (20/7) Semi Final Tunggal Arianne Hartono (Belanda) v 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) 3-Zeel Desai (India) v 5-Ayako Okuno (Jepang) 8-Mahak Jain (India) v 4-Kanika Vaidya (India) 6-Aldila Sutjiadi v Fitriani Sabatini Semi Final Ganda 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (China) Arianne Hartono (Belanda)/Aldila Sutjiadi v Zhuoma Ni Ma/Mi Zhuoma You (China)

Masuki Tahun Ketiga, Combiphar Tennis Open 2018 Dihelat Tingkatkan Prestasi Petenis Indonesia

Pada 2018, Combiphar konsisten menggelar Combiphar Tennis Open yang ketiga kalinya, yang selalu diikuti para atlet tak hanya tingkat nasional, juga internasional. (Pras/NYSN)

Jakarta– Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan menggelar turnamen tenis bertaraf internasional bertajuk ‘Combiphar Tennis Open 2018′, di Lapangan Tenis Hotel Sultan, Jakarta, pada 23 Juli – 12 Agustus 2018. Michael Wanandi, Presiden Direktur Combhipar, mengatakan turnamen internasional ini menjadi momentum mendukung para atlet Indonesia yang akan berlaga di ajang Asian Games 2018. “Tahun ini merupakan tahun ketiga, kami bekerjasama dengan Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP PELTI) menggelar event ini,” ujar Michael, di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (19/7). Turnamen ini akan diikuti petenis putra berusia 16-30 tahun yang berasal lebih dari 23 negara, di Asia Tenggara maupun Eropa. Negara Asia Tenggara lain yang akan berpartisipasi adalah Singapura dan Thailand. Adapun perwakilan dari Eropa, yakni Britania Raya, Slovenia, Swiss, Cyprus, Polandia, dan Perancis. Selain itu, Michael menjelaskan pihaknya menyiapkan total hadiah sebesar 55.000 dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 790 juta. “Hadiah tersebut kami siapkan selain untuk mengundang partisipasi para atlet, dan bentuk apresiasi kami bagi atlet yang berkompetisi maksimal dan sportif,” tambahnya. Ini merupakan kali ketiga Combiphar bekerjasama dengan PP PELTI, menyelenggarakan turnamen bertaraf internasional. Combiphar Tennis Open pertama kali digelar pada 2016 silam. Yang membuat turnamen Combiphar Tennis Open 2018 ini menarik adalah, ajang ini masuk ke dalam kalender resmi International Tennis Federation (ITF). Tujuan Combiphar menggelar turnamen tenis ini adalah untuk membantu atlet muda tenis Indonesia kembali berprestasi di level dunia. Sebelumnya, nama Indonesia sempat melambung tinggi di dunia tenis, berkat petenis-petenis berbakat pada masanya. Salah satu contoh adalah Yayuk Basuki, yang sempat menembus rangking top 20 WTA. Sementara itu, Rildo Ananda Anwar, Ketua Umum PP PELTI, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan turnamen ‘Combiphar Tennis Open 2018’ itu. Ia menyebut bahwa ini akan menjadi momen berharga bagi para petenis nasional. “Turnamen ini sangat dibutuhkan bagi petenis Indonesia untuk mengembangkan kemampuan mereka sehingga siap bertanding di level internasional,” imbuhnya. Tim pelatnas Indonesia juga akan menurunkan kekuatan di ajang ini. Selain Cristoper Rungkat, beberapa pemain muda tampil, seperti Justin Burki, Altaf Daifullah, Anthony Susanto dan Rifky Fitriani. “Kami tidak menargetkan khusus buat pemain timnas, tapi kami berharap ajang ini dapat mengukur kemampuan mereke sebelum tampil di Asian Games,” kata Rildo. Sedangkan Susan Soebakti, Direktur Turnamen sekaligus Wakil Sekertaris Jenderal (Wasekjen) PP PELTI, mengungkapkan event ini diikuti petenis yang masuk dalam skuat Tim Davis Indonesia, sehingga meningkatkan pamor turnamen ini. “Kami berharap mereka dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya di turnamen ini,” tukas Susan. (Dre)

Duet Kembar 17 Tahun, Tampil Sensasional di Dua Nomor Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018

Petenis kembar DKI Jakarta berusia 17 tahun, Fitriani Sabatini (kiri) dan Fitriana Sabrina, saat tampil dalam Turnamen Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018. (gosumut.com)

Jakarta- Petenis andalan Indonesia, Aldila Sutjiadi (23 th) optimistis mampu melewati babak kedua turnamen berlabel Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018 di lapangan tenis The Sultan Hotel Jakarta, Kamis (19/7). Unggulan keenam itu bakal menghadapi wakil Kazakhstan, Zhibek Kulambayeva. Anggota skuad Merah Putih yang akan berlaga di ajang Asian Games 2018 itu merasa yakin bisa lolos ke babak perempat final karena pernah mengatasi Zhibek, dalam turnamen di Hua Hin, Thailand, awal 2018 ini. “Setidaknya saya memiliki gambaran tentang permainannya dan bagaimana cara untuk menghentikannya. Saya yakin bisa kembali menang atasnya,” tutur juara tunggal seri pertama di Solo, yang ketika itu unggul straight set dengan skor 6-1 6-2. Di nomor ganda, Aldila yang berduet dengan wakil Belanda, Arianne Hartono, bakal menantang pasangan gado-gado yang menempati unggulan ketiga, pada kejuaraan berhadiah total 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta, Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang). Sementara itu, petenis kembar 17 tahun asal DKI Jakarta, Fitriana ‘Ana’ Sabrina dan Fitriani ‘Ani’ Sabatini, bakal melakoni jalan terjal di turnamen ITF Women’s Circuit seri kedua di Tanah Air ini. Di nomor tunggal, Ana menantang unggulan kedelapan dari India, Mahak Jain, dan Ani musti berjibaku kontra seeded kedua asal Jepang, Michika Ozeki. Dobel Ana dan Ani di nomor ganda, bakal terlibat bentrok dengan unggulan teratas, Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India). “Meski tampil di dua momor, kami coba segala daya upaya memenangi pertandingan babak kedua itu,” tekad Ana dan Ani hampir berbarengan, pada Rabu (18/7). Kubu tuan rumah gagal menambah wakil di babak kedua turnamen sebagai ajang uji coba petenis putri Indonesia, jelang Asian Games 2018. Rabu (18/7), Rifanty Kahfiani kandas di tangan seeded keempat, Kanika Vaidya (India) 0-6 6-4 3-6, sedangkan Deria Nur Haliza takluk dari Sai Samhitha Chamarthi (India) 0-6 1-6. Turnamen Pelti – Widya Chandra Women’s Circuit International Tennis 2018 di Jakarta, merupakan seri kedua ITF Pro Circuit dan turnamen khusus putri di Tanah Air, setelah sebelumnya bergulir di Solo, pekan lalu. Petenis dari 11 negara ikut menyemarakkan kejuaraan yang akan berlangsung hingga Minggu (23/7). (Adt) Hasil Rabu (18/7) Babak Pertama Tunggal Mana Ayukawa (Jepang) v Jiakang Li (China) 6-4 6-2 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) v Rishika Sunkara (India) 6-1 6-3 Suzuho Oshino (Jepang) v Chihiro Takayama (Jepang) 6-7(5) 6-3 6-2 5-Ayako Okuno (Jepang) v Ani Vangelova (Bulgaria) 6-1 6-1 Sai Samhitha Chamarthi (India) v Deria Nur Haliza 6-0 6-1 4-Kanika Vaidya (India) v Rifanty Kahfiani 6-0 4-6 6-3 Ganda 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (China) v Suzuho Oshino (Jepang)/Yuqi Sheng (China) 3-6 6-3 [14-12] 2-Rio Kitagawa (Jepang)/Ani Vangelova (Bulgaria) v Qianxin Kong (China)/Ho Ching Wu (Hong Kong) 6-4 6-3 Jadwal Kamis (19/7) Babak Kedua Tunggal 1-YeXin Ma (China) v Arianne Hartono (Belanda) Mana Ayukawa (Jepang) v 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) 3-Zeel Desai (India) v Zhuoma Ni Ma (China) Suzuho Oshino (Jepang) v 5-Ayako Okuno (Jepang) 8-Mahak Jain (India) v Fitriana Sabrina Sai Samhitha Chamarthi (India) v 4-Kanika Vaidya (India) 6-Aldila Sutjiadi v Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) Fitriani Sabatini v 2-Michika Ozeki (Jepang) Perempat Final Ganda 1-Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India) v Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (Tiongkok) v Sai Samhitha Chamarthi/Rishika Sunkara (India) Arianne Hartono (Belanda)/Aldila Sutjiadi v 3-Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang) Zhuoma Ni Ma/Mi Zhuoma You (China) v 2- Rio Kitagawa (Jepang)/Ani Vangelova (Bulgaria)