Ulangi Kejutan, Ganda Kembar 17 Tahun Asal DKI Jakarta Lolos Final Women’s Circuit 2018

Duet kembar Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina melaju ke final turnamen Women’s Circuit 2018, usai menekuk ganda China, Zhima Du/Shou Na Mu, lewat partai tiga set 3-6, 6-2, (10-5). (antaranews.com)

Jakarta- Ganda putri Indonesia yang juga saudara kembar, Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina, lolos ke final turnamen tenis internasional bertajuk PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018. Dalam laga semifinal di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Jawa Tengah, Kamis, keduanya mengalahkan duet China, Zhima Du/Shou Na Mu. Ganda remaja 17 tahun asal DKI Jakarta itu unggul lewat partai tiga set, melalui super tie break 3-6, 6-2, (10-5). Keduanya bakal melawan gado-gado Indonesia/Jepang, Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno, yang akan digelar di Lapangan Gelora Manahan Solo, Jumat (13/7), pukul 14.00 WIB. Ana/Ani sempat kalah pada set pertama. Ganda Indonesia ini sering mengalami kesalahan sendiri dengan bola keluar, sehingga mengakui keunggulan lawan dengan skor 3-6. Keduanya bermain lebih sabar di set kedua sehingga mampu menang 6-2. Pada pertandingan set ketiga dilakukan super tie break dan akhirnya dimenangi Ana/Ani dengan 10-5. “Saya harus bermain sabar melawan pasangan Tiongkok itu. Setiap bola dari lawan berusaha dikembalikan dan lawan akhirnya mati sendiri,” kata Ani, usai pertandingan. Sejatinya, pasangan remaja ini meladeni pemenang laga unggulan utama, Aldila Sutjiadi (Indonesia) dan Mana Ayukawa (Jepang), kontra duet Indonesia Jepang lainnya, Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno. Sayangnya, partner Aldila, yakni Ayukawa, mengalami cedera pergelangan tangan kanan paska menjalani laga semi final tunggal. Unggulan pertama ganda itu pun memberikan kemenangan tanpa tanding bagi pasangan Rifanty/Okuno. Namun, masuk final di nomor ganda ini menjadi berkah bagi kedua petenis ini, karena mereka kandas di perempat final nomor tunggal. Rifanty harus menyerah dari petenis Zhima Du (Tiongkok) dengan straigt set 4-6 4-6, sedangkan Okuno yang merupakan unggulan ketiga, tersingkir dari tangan senegaranya, Ayukawa, 0-6 6-4 3-6. (Ham)

Tampil Dari Jalur Kualifikasi, Petenis 20 Tahun Asal Bandung Sukses Tumbangkan Unggulan Dua

Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 di Solo, Rifanty Kahfiani (20 tahun), sukses menggusur petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, dua set langsung 6-2 dan 6-4. (bolasport.com)

Solo– Petenis muda Indonesia non unggulan, Rifanty Kahfiani (20 tahun), membuat kejutan usai menekuk petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, di PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Jawa Tengah, Rabu (11/7). Rifa, sapaannya, yang pada kejuaraan ini tak diunggulkan, justru unggul dua set langsung 6-2 dan 6-4. Pada set pertama, Rifa terus menekan Ozeki, yang mmiliki pukulan komplit baik forehand dan backhand cukup keras itu, sehigga lawan kerap melakukan kesalahan sendiri. Rifa menyudahi set pertama 6-2. Di set kedua, mojang kelahiran Bandung, 19 Februari 1998, kembali mendapat perlawanan ketat dari Ozeki. Dengan strategi penempatan bola sulit, ia sukses menyelesaikan set kedua dengan skor 6-4. Menurut Rifa, unggulan asal Jepang itu lincah dan ulet, tetapi dirinya bermain variasi, sehingga arah bola sulit diprediksi lawan. “Awalnya kesulitan dengan pukulan keras lawan, tetapi saya rubah strategi dengan bermain variasi, dan akhirnya bisa dikalahkan,” ujar Mahasiswa Oregon AS ini usai pertandingan. Pada perempat final, Kamis (12/7), Rifa terlibat bentrok dengan wakil Tiongkok, Zhima Du, yang menyingkirkan unggulan ketujuh, Sai Samhitha Chamarthi (India) 6-2 6-4. “Ini saatnya revans, karena saya belum pernah menang lawan dia sebelumnya,” lanjut petenis yang lolos babak utama lewat kualifikasi ini. Merujuk rekor head to head pada laman ITF, Rifa kalah dari petenis Tiongkok kelahiran 12 September 1999 itu dalam dua pertemuan, yakni kualifikasi turnamen Wimbledon Yunior dan Serawak Chief Minister Cup 2016. Sementara itu andalan Merah Putih lainnya, Aldila Sutjiadi turut melaju ke perempat final turnamen berhadiah total 15.000 dolar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Unggulan keempat berperingkat tunggal ke-751 dunia itu mengalahkan petenis kualifikasi asal India, Bhuvana Kalva 6-4 6-2. Petenis yang bakal tampil di ajang Asian Games 2018 itu meladeni unggulan keenam dari Tiongkok, Zhuoma Ni Ma untuk membidik satu slot di babak semi final. “Di babak delapan besar, saya harus memperbaiki percentage service pertama saya agar lebih percaya diri bermain,” tutur Aldila. Pada nomor ganda, turnamen yang disponsori PT PP (Persero) Tbk, BUMN bidang konstruksi ini, memasuki babak delapan besar. Duet kembar Fitriana ‘Ana’ Sabrina dan Fitriani ‘Ani’ Sabatini (17 tahun) melangkah ke semi final setelah memenangi laga atas duet India, Bhuvana Kalva/Sri Vaishnavi Peddi Reddy (India) 6-1 6-2. Ana dan Ani akan menantang ganda Tiongkok, Zhima Du/Shou Na Mu. Sementara partai semi final lainnya mempertemukan dua pasangan gado-gado Indonesia/Jepang, yakni unggulan utama Mana Ayukawa/Aldila Sutjiadi melawan Ayaka Okuno/Rifanty Kahfiani. (Ham)

Bikin Kejutan, Duet Kembar 17 Tahun Sukses Jungkalkan Unggulan Tiga Women’s Circuit 2018

Duet petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) tumbangkan unggulan ketiga Women’s Circuit 2018, Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok), dengan skor akhir 6-3 6-3. (remaja-tenis.com)

Jakarta- Indonesia membuka babak utama turnamen tenis internasonal bertajuk PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 dengan gemilang. Di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Senin (9/7), wakil Merah Putih berhasil memenangi laga pembuka nomor ganda. Duet kembar petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) menekuk unggulan ketiga turnamen kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF) ini. Ana dan Ani menang straight set atas Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok). Ana-Ani unggul dengan skor akhir 6-3 6-3. Hasil positif juga ditorehkan dua petenis tuan rumah yang berpasangan dengan peserta manca negara. Unggulan teratas Aldila Sutjiadi/Mana Ayukawa (Jepang) mengalahkan Anastasia Shaulskaya (Rusia)/Rishika Sunkara (India) 7-5 6-1, di ajang yang menyediakan total hadiah 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Sedangkan Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno (Jepang) menyisihkan Yu Ting Hsieh (Taiwan)/Saumya Vig (India) 6-2 6-3. “Semoga awal yang indah bagi petenis tuan rumah ini terus berlanjut hingga babak akhir,” ucap Wakil Sekretaris Jendral PP Pelti, Susan Soebakti selaku Direktur Turnamen. Kejuaraan khusus bagi petenis wanita yang disponsori oleh PT PP (Persero) Tbk ini akan menggelar babak utama nomor tunggal mulai Selasa (10/7). Kecuali Aldila Sutjiadi yang akan terlibat duel senegara dengan Priska Madelyn Nugroho, enam wakil tuan rumah bakal meladeni petenis luar negeri. Petenis yang lolos dari babak kualifikasi, Suryaningsih akan menantang unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki . Sedangkan penerima wildcard, Joleta Budiman menghadapi unggulan kedelapan, Zhibek Kulambayeva dari Kazakhstan. Rifanty Kahfiani melawan Yuka Hosoki (Jepang), Arrum Damarsari bentrok dengan Shou Na Mu (Tiongkok) dan Fitriana Sabrina dengan Mana Ayukawa (Jepang) serta Deria Nur Haliza meladeni petenis India yang lolos dari kualifikasi, Bhuvana Kalva. Selain itu di sektor ganda, duet Deria/Joleta yang diproyeksikan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018 akan bertanding melawan pasangan India, Sai Samhitha Chamarthi/Mahak Jain. “Ini penampilan pertama kami sebagai pasangan dalam turnamen resmi internasional. Kami akan berusaha bermain sebaik mungkin, semoga hasilnya juga bagus,” tutur Deria, petenis kelahiran 8 Juni 1997 ini. (Ham)

Mulai Bergulir Di Solo, Remaja 15 Tahun Turut Bersaing Di Women’s Circuit International Tennis 2018

Priska Madelyn Nugroho (15 tahun) menjadi salah satu petenis termuda Indonesia, yang turun dalam turnamen Women's Circuit International Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. (twitter.com)

Jakarta- Turnamen tenis PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit International Tennis 2018, mulai bergulir akhir pekan ini, hingga 14 Juli, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Petenis tuan rumah bersaing dengan petenis lain dari sembilan negara yakni Singapura, Australia, Jepang, China, Taiwan, Kazakhstan, India, Bulgaria, dan Rusia. Susan Soebakti, Direktur Turnamen, mengatakan minat petenis asing sangat tinggi untuk mengikuti turnamen ini. Kejuaraan ini masuk dalam kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF). “Peserta tak hanya dari kawasan Asia. Mereka juga datang dari benua Eropa,” ujar Susan, di Solo, Jawa Tengah, akhir pekan ini. Babak kualifikasi turnamen khusus putri berhadiah total 15 ribu dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 215 juta itu, mulai bergulir pada Sabtu (7/7). Indonesia menurunkan para petenis terbaik yakni Rifanty Dwi Kahfiani, Bilqis Maqbulatullah, Arrum Damarsari, Suryaningsih, Septiana Nur Zahiroh, dan Ni Luh Sintha Eka Putri. Mereka membidik delapan slot babak utama. Sedangkan petenis utama Merah Putih yang tergabung di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Asian Games 2018, berhak berlaga di babak utama mulai Selasa (10/7). Aldila Sutjiadi yang berperingkat tunggal ke-751 dunia jadi unggulan keempat. Dan, Deria Nur Haliza serta Joleta Budiman, memanfaatkan fasilitas wild card bersama Fitriana Sabrina dan Priska Madelyn Nugroho. “Peluang sangat terbuka bagi tuan rumah Indonesia untuk menambah wakil di babak utama,” tukas Susan. Khusus untuk Priska, menjadi catatan tersendiri. Remaja kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003, ini menjadi salah satu petenis termuda skuat garuda pertiwi paling berbakat, yang ikut berpartisipasi. (Adt)

Sabar Ladeni Lawan, Sultan Kafi Delon Kampiun KU 14 Tahun Kejurnas Tenis Junior Detec Open 2018

Petenis KU 14 Tahun Sultan Kafi Delon sukses menjadi juara tunggal putra Kejurnas Tenis Junior Detec Open 2018, di Solo, Jawa Tengah, 25-30 Juni. (net)

Solo- Petenis asal Jember (Jawa Timur), Sultan Kafi Delon sukses menjadi kampiun tunggal putra Kelompok Umur (KU) 14 Tahun Kejurnas Tenis Junior ‘Detec Open 2018’. Unggulan kedua itu berhasil menghempaskan perlawanan seeded teratas, Faza Syah Rizal asal Surabaya (Jawa Timur). Sultan unggul dalam pertarungan straight set berdurasi dua jam lima menit dengan skor akhir, 7-6(6), dan 6-2, di laga final di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (30/6). “Di final, kuncinya sabar melayani permainan lawan. Saya senang bisa menang dan juara Detec Open 2018,” ujar remaja kelahiran 4 Juli 2004 itu. “Ini adalah pertemuan keenam di antara kami berdua. Dengan kemenangan ini, skor head to head kami jadi imbang 3-3,” lanjut pelajar kelas IX SMP Negeri 3 Jember itu. Di laga lain, petenis-petenis asal Jawa Tengah mendominasi turnamen yang masuk kalender kompetisi resmi Pengurus Pusat (PP) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti/TDP) dengan menyabet lima gelar juara tunggal. Putra-putri Jawa Tengah memborong gelar lewat Rasya Qaisyar (Temanggung) dan Adyba Ardelia (Blora) di KU 10 tahun. Lalu, Ravel Indro (Pemalang) di KU 12 tahun, dan Diah Ayu Novita (Pati) di KU 14 tahun, serta Nadya Dhaneswara (Kudus) di KU 18 tahun. Deddy Prasetyo, Founder Detec sekaligus Penyelenggara Turnamen, mengatakan itu hal yang biasa. Sebab, lanjutnya, Jawa Tengah rajin menggelar workshop bagi pelatih yang menangani petenis junior. “Secara umum, kami puas dengan pelaksanaan Kejurnas Tenis Junior. Detec Open di Solo tahun ini. Bahkan, Yonex sebagai sponsor utama kegiatan ini, telah meminta kami untuk menambah satu event lagi di luar Pulau Jawa,” tukas Deddy. (Adt) Hasil Final, Sabtu (30/6) : 1. Tunggal Putra KU 10 Rasya Qaisyar (Temanggung) vs Rasyel Trianda (DIY), 8-1. KU 12 Ravel Indro (Pemalang) v Pijar Prawira (Gunung Kidul), 8-3 KU 14 Sultan Kafi Delon (Jember) vs Faza Syah Rizal (Surabaya), 7-6(6), dan 6-2 KU 16 Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) vs Rizki Pangestu (Blitar), 6-4, dan 7-5 KU 18 M. Rayhan Hanafi (DIY) vs M. Reza Falevi (Kudus), 4-6, 6-3, dan 6-4 2.Tunggal Putri KU 10 Adyba Ardelia (Blora) vs Sabrina Adia Putri (Bandung), 8-2 KU 12 Joanne Lynn (Bandung) vs Lailatul Fajria (Banjarmasin), 8-0 KU 14 Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) vs Sekar Vinda (Cilacap), 6-3, dan 6-3 KU 16 Diah Ayu Novita (Pati) vs Hasna Raisaneva (Bandung), 6-1, dan 6-1 KU 18 Nadya Dhaneswara (Kudus) vs Zoelfanny Wahyuningrum (Bogor), 6-3, dan 6-2

Hadiah Terindah Ulang Tahun, Petenis KU 14 Tahun Sekar Vinda Khairunnisa Bidik Gelar Juara Detec Open 2018

Petenis KU 14 Sekar Vinda Khairunnisa bidik gelar juara Kejurnas Tenis Junior Detec Open 2018 sebagai hadiah ulang tahun diusianya yang ke-13 tahun. (net)

Solo- Sekar Vinda Khairunnisa, petenis tunggal putri Kelompok Umur (KU) 14 tahun asal Cilacap, Jawa Tengah, mengincar gelar juara pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis Junior Detec Open 2018, di Stadion Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Gelar itu nantinya dipersembahkan untuk dirinya sebagai hadiah ulang tahun yang segera menginjak 13 tahun pada 28 Juni 2018. Dan tinggal selangkah lagi, pelajar kelas VIII SMP Al Azhar 15 Cilacap, Jawa Tengah itu, bisa mewujudkan impiannya tersebut. Di babak semi final, Jumat (29/6), seeded ketiga berperingkat nasional (PNP) keenam itu, berhasil menyisihkan unggulan kedua, Keila Mangesti Path (Manado). Sekar menang straight set dengan skor akhir 6-4 dan 6-1. Pada Sabtu (30/6), fans berat petenis Swiss Roger Federer itu ditantang petenis asal Tangerang Selatan (Tangsel) Putu Kevalaih,d yang membuat kejutan besar, di babak fase semifinal saat menyingkirkan unggulan teratas, Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo), dengan straight set, 6-4 dan 6-2. Di partai final lainnya, akan menjadi perang petenis antar kota antar provinsi. Wakil Jawa Tengah akan meladeni andalan Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni di sektor putra KU 10 antara Rasya Qaisyar (Temanggung) melawan Rasyel Trianda (DIY). Lalu, KU 12 Ravel Indro (Pemalang) berjumpa Pijar Prawira (Gunung Kidul), serta KU 18 antara Reza Falevi (Kudus) kontra Rayhan Hanafi (DIY). Sedangkan duel antar wakil Jawa Timur terjadi pada KU 14 dan 16 tahun putra. Faza Syah Rizal (Surabaya) menghadapi Sultan Kafi Delon (Jember), dan Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) meladeni Rizki Pangestu (Blitar). Sementara, satu gelar juara telah dikantongi Jawa Tengah melalui Nadya Dhaneswara (Kudus) yang mengalahkan Zoelfanny Wahyuningrum (Bogor), dengan skor 6-3 dan 6-2 pada final tunggal putri KU 18 tahun. Menurut Sekar, Keva (sapaan akrab Putu Kevalaih) bukan lawan yang asing karena pernah dua kali bertemu dengan dirinya. Meski kerap kalah, namun diakuinya, kali ini ia memiliki motivasi tinggi untuk bisa meraih kemenangan. “Memang saya selalu kalah termasuk pada pertemuan terakhir saat Seleksi Nasional di Magelang (Jawa Tengah) awal tahun ini. Saya punya motivasi tinggi untuk membalas kekalahan itu,” ujar petenis berhijab itu, Jumat (29/6). “Saya ingin meraih gelar juara Detec Open 2018 sebagai hadiah terindah ulang tahun,” tukas Sekar. (Adt) Hasil Babak Semifinal Detec Open 2018, Jumat (29/6) : 1. Tunggal Putra KU 10 Rasya Qaisyar (Temanggung) vs Christian Dwi W (Pati), 8-3 Rasyel Trianda (DIY) vs Fabian Wibowo (Tulungagung), 9-8(2) KU 12 Ravel Indro (Pemalang) vs M. Aji Faizul (Tulungagung), 8-0 Pijar Prawira (Gunung Kidul) vs Diego Armando (Pati), 8-6 KU 14 Faza Syah Rizal (Surabaya) vs M. Akbar Aidil Fitri (Kudus), 6-4, 0-6, dan 6-3 Sultan Kafi Delon (Jember) vs Putu Ariel Wahyu (Bali), 6-2, dan 7-5 KU 16 Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) vs Komang Akda Wijaya (Buleleng), 6-2, dan 6-2 Rizki Pangestu (Blitar) vs Kadek Dewa (Bali), 6-0, 5-7, dan 6-2 KU 18 M. Reza Falevi (Kudus) vs Iqbal Azegaf (Purwodadi), 6-3, 3-6, dan 6-0 M. Rayhan Hanafi (DIY) vs Doni Catur (Kebumen), 6-3, dan 6-3 2. Tunggal Putri KU 14 Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) vs Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo), 6-4, dan 6-2 Sekar Vinda (Cilacap) vs Keila Mangesti Path (Manado), 6-4, dan 6-1 KU 16 Diah Ayu Novita (Pati) vs Laili Rahmawati Ulfa (Sukoharjo), 2-6, 7-6(7), dan 6-1 Hasna Raisaneva (Bandung) vs Safa Dheani (Kudus), 6-1, dan 7-5 Jadwal Final Detec Open, Sabtu (30/6) : 1. Tunggal Putra KU 10 Rasya Qaisyar (Temanggung) vs Rasyel Trianda (DIY) KU 12 Ravel Indro (Pemalang) vs Pijar Prawira (Gunung Kidul) KU 14 Faza Syah Rizal (Surabaya) vs Sultan Kafi Delon (Jember) KU 16 Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) vs Rizki Pangestu (Blitar) KU 18 M. Reza Falevi (Kudus) vs M. Rayhan Hanafi (DIY) 2. Tunggal Putri KU 10 Adyba Ardelia (Blora) vs Sabrina Adia Putri (Bandung) KU 12 Joanne Lynn (Bandung) vs Lailatul Fajria (Banjarmasin) KU 14 Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) vs Sekar Vinda (Cilacap) KU 16 Diah Ayu Novita (Pati) vs Hasna Raisaneva (Bandung)

Detec Open Junior 2018, Mulai Terjadi Bentrok Antar Unggulan di Delapan Besar

Faried Widya asal DKI Jakarta mulai menemui lawan-lawan sengit di ronde delapan besar tunggal putra KU-14, Kejurnas Tenis Yunior Detec Open 2018. (net)

Solo- Kejurnas Tenis Yunior Detec Open 2018 yang berlangsung di lapangan tenis Gelora Manahan, Solo memasuki babak ketiga, Rabu (17/6). Sejumlah petenis unggulan teratas belum tertahankan di ajang yang masuk kalender kompetisi resmi PP Pelti (TDP) ini. Dua seeded teratas tunggal putri Kelompok Umur (KU) 14 tahun, Aurelya Chamsiayu asal Sukoharjo dan Keila Mangesti Path dari Manado berhasil melaju ke babak perempat final. Demikian pula di bagian putra. Dua petenis Jawa Timur, Faza Syah Rizal (Surabaya) dan Sultan Kafi Delon (Jember) melangkah ke babak delapan besar. “Namun, petenis unggulan harus mulai waspada. Mereka akan terlibat bentrok sesama unggulan di perempat final. Bila terlena bisa terjungkal dan gagal masuk semi final,” tutur Direktur Turnamen Detec Open 2017, Anshari Nursida, Kamis (28/6). Unggulan kedua tunggal putra KU-14, Sultan Kafi Delon di fase ini. Ia akan meladeni tantangan Faried Widya dari DKI Jakarta, yang tahun lalu jadi kampiun KU-12. Kendati hanya berada posisi seeded ke-11, petenis asal Yogya yang kini berlatih bersama Deddy Prasetyo Tennis Club (Detec) Jakarta ini berjanji memberi perlawanan sengit terhadap lawan yang menempati peringkat nasional ke delapan itu. “Faried belum punya target maksimal, namun minimal dia harus sampai perempat final, agar rasio menang kalahnya setidaknya dua banding satu,” tutur founder Detec, Deddy Prasetyo. (art) Hasil Rabu (27/6) Babak Ketiga Tunggal Putra KU-10 Rasya Qaisyar (Temanggung) v Adiyatma Rizal (Tulungagung) 8-1 Witjaksono Wahyu (Serang) v Rafel Jose (Semarang) 8-3 Muhammad Alfaradu (Kalsel) v M. Mouressi Urwan (Banten) 8-6 Christian Dwi W (Pati) v Rafaalentino (Banten) 8-4 Fabian Wibowo (Tulungagung) v Arjuna Wijaya (Kediri) 8-4 M. Misbah Abdullah (Madiun) v Theo Putra (Bali) 8-1 Rasyel Trianda (DIY) v M. Isha Auzai (Semarang) 8-3 Arya Dika (Denpasar) v Hanief Arazi (Sleman) 8-2 KU-12 Ravel Indro (Pemalang) v Natanael Santoso (Pati) 8-3 Rafael Dandi (Semarang) v Tyaga Hijrah (Surabaya) 8-5 M. Aji Faizul (Tulungagung) v M. Gilang Fedora (Blitar) 8-3 Michal Ihsan (Pati) v M. Rifdan (Malang) 8-5 Valentino Bagas (Tangerang Selatan) v Dzakiyy Atila (Karanganyar) 8-6 Pijar Prawira (Gunung Kidul) v Firdaus Hidayat (Pati) 8-1 Diego Armando (Pati) v Razan Dhawy (DKI) 8-2 Leandra Maheswara (Solo) v Reno Sultan (Malang) 8-1 KU-14 Faza Syah Rizal (Surabaya) v Widarta Nur (Kediri) 6-1 6-4 Leonard Sungkono (Purworejo) v M. Nur Alfachri (Cianjur) 6-2 7-5 M. Akbar Aidil Fitri (Kudus) v Kevin Putra (Pati) 6-1 6-1 Kevin Candra (Buleleng) v Audric Madyapanna (Bekasi) 7-5 6-2 M. Abid Athallah (Semarang) v Tahajud Kanjeng (Karanganyar) 4-6 6-3 [11-9] Putu Ariel Wahyu (Bali) v Rexy Ibrahimovic (Banyumas) 6-3 6-3 Faried Widya (DKI) v Muh. Sulthan Sadiq (Bogor) 6-3 6-4 Sultan Kafi Delon (Jember) v M. Hildan Alfiano (Blitar) 6-2 6-4 Tunggal Putri KU-10 Aisha Ramadhani (Gunung Kidul) v Stefi Intenialova (Banyumas) 8-4 Adyba Ardelia (Blora) v Faiza Quenna (Bogor) 8-4 Raissa Aurelya (Blitar) v Syafira Dhini (Sukoharjo) 8-1 Sabrina Adia Putri (Bandung) v Khansa Aqilah (Cilacap) 8-0 KU-12 Joanne Lynn (Bandung) v Chantika Rizqi (Gresik) 8-4 Cylova Yuleyka (Banten) v Talitha Ayudya (Bantul) 8-3 Lailatul Fajria (Banjarmasin) v Aileen Aurellia (Malang) 8-2 KU-14 Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo) v Cindy Rahma (Banjarnegara) 6-2 6-2 Grifith Rose June (Klaten) v Justmin Da Costa (Banten) 0-6 7-6(1) [10-3] Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) v Meydiana (Malang) 6-3 6-1 Rifda Hanifah (Jember) v Amara Dinda Nayla (Gunung Kidul) 7-5 6-2 Latifasih Maharani (Bantul) v Nasywa Syamsabila (Ciamis) 7-6(1) 6-1 Sekar Vinda (Cilacap) v Naila Jihan (Jember) 6-4 6-1 Dinda Nurmayanda (Banjarnegara) v Diandra Kirana (Blora) 6-0 6-0 Keila Mangesti Path (Manado) v Aluna Sagyta (Surabaya) 6-0 6-3

Kota Solo Siap Gelar Kejurnas Tenis Junior ‘Detec Open 2018’, Panitia Bidik 400 Peserta

Panitia pelaksana Kejurnas Tenis Junior 'Detec Open 2018' menargetkan jumlah peserta sebanyak 400 petenis di beberapa kategori kelompok umur. (net)

Jakarta- Kota Solo, Jawa Tengah, siap menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis Junior bertajuk ‘Detec Open 2018’, di Kompleks Stadion Tenis Gelora Manahan, pada 25-30 Juni nanti. Turnamen yang masuk dalam kalender pertandingan resmi Pengurus Pusat (PP) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) itu menjadi ajang persaingan petenis Kelompok Umur (KU) 8, 10, 12, 14, 16, dan 18 tahun. Anshari Nursida, Direktur Turnamen sekaligus pengelola Deddy Tennis Club (Detec), mengatakan semua kategori menggelar nomor tunggal dan ganda. Khusus untuk KU 8 dan 10 tahun, hanya ada pertandingan tunggal,” ujar Anshari, Sabtu (23/6). Tahun lalu, sekitar 380 petenis dari berbagai kota di Tanah Air meramaikan persaingan untuk jadi kampiun pada turnamen yang untuk pertama kalinya digelar. Sementara, tahun ini, panitia pelaksana menargetkan sebanyak 400 peserta akan bersaingan menjadi yang terbaik di masing-masing kategori. Sedangkan tiap peserta dibatasi hanya dapat bertanding pada dua nomor, yakni tunggal dan ganda pada KU yang sama. Anshari mengaku optimis dapat memenuhi target soal jumlah peserta sebanyak 400 petenis.”Hingga saat ini sudah lebih dari 200 peserta terdaftar. Biasanya banyak yang ramai-ramai daftar, pada saat akhir,” cetusnya. Lebih lanjut, pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 21 April 1991 itu, menjelaskan bahwa pendaftaran masih dibuka, hingga sign in pada Minggu (24/6), mulai pukul 12.00 WIB hingga 17.00 WIB. “Biaya pendaftaran masih sama dengan tahun lalu, Rp 300.000,- untuk bermain tunggal dan ganda,” tukas Anshari. (Adt)

Jadi Duta WTA Future Stars, Yayuk Basuki Kenalkan Tenis Pada Anak-anak Bali

Legenda tenis Indonesia, Yayuk Basuki (biru) yang menjadi Duta WTA Finals, memperkenalkan tenis kepada 50 anak berusia 10-12 tahun, dari Yayasan Sosial Tat Twam Asi, Denpasar. (menaranews.com)

Denpasar- WTA Future Stars memperluas jangkauannya di Indonesia. Mereka menggandeng Yayuk Basuki, Legenda tenis Indonesia. Yayuk sebagai Duta WTA Finals di Singapura, Oktober ini, memperkenalkan tenis kepada 50 anak berusia 10-12 tahun, dari Yayasan Sosial Tat Twam Asi, Denpasar. Ini kali pertama dalam serangkaian kegiatan dan latihan dasar yang menyenangkan di lapangan tenis KONI Bali, Denpasar, Kamis (21/6). Dengan enam gelar single WTA dan sembilan gelar ganda, Yayuk Basuki berbagi pengalamannya dengan generasi. “Saya telah bekerja dengan inisiatif WTA Future Stars selama beberapa tahun. Saya senang dapat memperluas jangkauan kami di Indonesia. Ini adalah WTA pertama kami di Bali dan sangat menyenangkan bisa memperkenalkan tenis kepada anak-anak,” kata Yayuk yang pernah menempati peringkat 19 WTA. Yayasan Sosial Tat Twam Asi didirikan pada 1987 mengakomodasi anak-anak usia sekolah, terutama anak-anak perempuan dari keluarga miskin atau yatim piatu, dan memberi mereka kesempatan untuk menerima pendidikan formal (SD hingga SMA). “WTA sangat bangga dengan pekerjaan yang telah kami lakukan di Asia-Pasifik selama empat tahun terakhir, sejak event WTA Finals telah diselenggarakan di Singapura,” kata Melissa Pine, Wakil Presiden WTA Asia-Pasifik dan Direktur Turnamen Final WTA. Yayasan ini memiliki panti asuhan di Bali yang telah menampung lebih dari 900 orang dan telah berhasil menyalurkan anak asuh untuk mencari pekerjaan. Lebih lanjut dia mengatakan WTA Future Stars diluncurkan ketika acara permata mahkota pindah ke Asia-Pasifik untuk pertama kalinya pada tahun 2014. WTA telah menyelenggarakan klinik dan kelas master di Cina, India, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Tujuannya adalah mendorong generasi berikutnya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik melalui olahraga. Bersama dengan legenda WTA kami seperti Yayuk Basuki, WTA Future Stars bertujuan menginspirasi lebih banyak anak-anak untuk mengambil raket dan mengenali bagaimana olahraga adalah alat yang kuat untuk mengembangkan keterampilan hidup yang akan bermanfaat bagi mereka di masa depan. “Saya yakin hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi anak-anak, untuk dapat mempelajari dasar-dasar tenis dari yang terbaik dari negara kami. Pengalaman mereka hari ini dengan Yayuk Basuki dan WTA akan tak terlupakan,” ujar Ketut Dwi Angraeni, seorang manajer dari Tat Twam Asi Social Foundation. WTA Future Stars Clinic adalah bagian dari platform regional untuk mempromosikan tenis bagi anak-anak di seluruh Asia-Pasifik, dan termasuk WTA Future Stars Tournament yang masing-masing negara mengirimkan dua perwakilan untuk berkompetisi dalam kategori U-14 dan U-16. PP Pelti (Persatuan Tenis Seluruh Indonesia) juga melakukan uji coba memilih wakil mereka untuk turnamen WTA Future Stars yang akan diadakan di Singapura, bersamaan dengan edisi kelima dan terakhir dari BNP Paribas WTA Finals Singapore, yang disajikan oleh SC Global. (Dre)

WTA Future Stars Dihelat Di Bali, Ajang Petenis Putri Indonesia KU 14 dan 16 Tahun Tambah Jam Tanding

Petenis Indonesia Priska Madelyn Nugroho, pernah menjadi juara KU 14 di ajang WTA Future Stars, di Singapura. (twitter)

Jakarta- Women Tennis Association (WTA) Future Stars bakal dihelat di Lapangan Tenis KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), Denpasar, Bali, 19-23 Juni 2018. Event ini merupakan kualifikasi petenis putri Kelompok Umur (KU) 14 dan 16 tahun, untuk menjadi wakil Indonesia. Satu petenis terbaik pada masing-masing kategori akan terpilih mewakili Merah Putih bersaing di partai pamungkas di Singapura, pada Oktober 2018. Tahun lalu, Indonesia sukses meraih gelar juara KU-14, melalui Priska Madelyn Nugroho. Pada laga final di National Indoor Stadium Singapore, Priska menaklukkan wakil Thailand, Jattavapornvanit, 6-3 dan 6-3. WTA Future Stars adalah platform keterlibatan yang mendorong baik pemuda maupun pemudi di seluruh Asia-Pasifik, untuk menjalani kehidupan yang lebih baik melalui kegiatan olahraga, khususnya tenis. Tujuannya, menanamkan pada generasi berikutnya pentingnya melakoni gaya hidup sehat, kerjasama tim, disiplin dan fokus, yang akan membangun kekuatan dalam karakter yang akan menguntungkan mereka, baik di lapangan tenis maupun dalam kehidupan. Susan Soebakti, Direktur Turnamen WTA Future Stars Indonesia, menyebut turnamen kualifikasi WTA Future Stars ini jadi ajang menambah jam bertanding petenis Indonesia KU-14 dan KU-16 tahun, agar mampu bersaing dengan petenis terbaik dari 21 negara kawasan Asia-Pasifik, pada laga final di Singapura. “Tapi, juara dari event ini tidak langsung menjadi wakil Indonesia, pada ajang yang digelar mengawali laga delapan petenis putri terbaik dunia, dalam BNP Paribas WTA Finals Singapore, yang digelar oleh SC Global, di Singapore Indoor Stadium,” ujar Susan, pada Selasa (19/6). Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) itu, menambahkan Indonesia akan mengirimkan satu petenis terbaik KU 14 dan 16 tahun berdasarkan peringkat nasional Pelti per 4 September 2018. “Namun, peserta turnamen kualifikasi ini jadi perioritas, bila memiliki poin PNP yang sama,” lanjutnya. Sementara, I Ketut Rochineng, Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Pelti Bali, mengatakan sebuah kehormatan bagi Bali, terpilih menjadi tuan rumah turnamen WTA Future Stars. “Kami berharap petenis tuan rumah, Komang Gina Kusuma Dewi yang pernah membela tim Indonesia di ajang World Junior Tennis Championships, mampu meraih prestasi pada turnamen WTA Future Stars. Ini jadi kesempatan bagi petenis Bali berprestasi dihadapan publik sendiri,” tukas penjabat Bupati Gianyar, Bali itu. (Adt)

Geber TC Asian Games 2018, Timnas Soft Tenis Jalani Pemusatan Latihan di Korea Selatan

Tim Pelatnas Soft Tenis Indonesia Asian Games 2018, segera menjalani Training Camp selama dua pekan di Incheon, Korea Selatan. (tribunnews.com)

Jakarta- Tak berlama-lama menikmati libur lebaran, Timnas Soft Tenis Indonesia kembali menjalani pemusatan latihan (training camp/TC) di Kota Incheon, Korea Selatan. Tim nasional Soft Tenis Indonesia telah menjejakkan kaki di Incheon, Korea Selatan, Senin (18/6). “Mereka telah menyelesaikan tahap uji coba dalam rangka persiapan Asian Games 2018. Saat ini, mereka menjalani training camp selama dua pekan di Incheon,” ucap Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Seluruh Indonesia (PP Pesti) Martuama Saragi, dalam siaran pers, Senin (18/6). 10 pemain yang diproyeksikan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018 tersebut, akan berada di Incheon hingga awal bulan depan. Sebelum berangkat ke Incheon, skuat Merah Putih telah sukses melewati sejumlah uji coba pada beberapa turnamen internasional di Nakhon Ratchasima (Thailand) dan Hiroshima (Jepang). Selain itu juga di Frankfurt (Jerman) dan Pattaya (Thailand,) serta tes even di Palembang. Prima Simpatiaji dan Elbert Sie bergantian mendulang emas nomor tunggal putra. Sementara Irfandi Hendrawan konsisten di posisi kedua. Sedangkan di sektor putri, Dede Tari Kusrini dan Voni Darlina acapkali berdiri di podium juara. “Prima dan kawan-kawan akan berlatih bersama tim nasional Korea Selatan dengan dua tujuan, yakni untuk memperdalam teknik permainan sekaligus menjadi kesempatan untuk mengukur kekuatan lawan,” ujar pria yang juga Wakil Presiden Federasi Soft Tenis Asia (ASTF) ini. Pada Asian Games 2018, Korea Selatan adalah raja soft tenis. Negeri Ginseng itu mendulang 23 medali emas dari cabang yang mulai dipertandingkan secara resmi sejak Asian Games 1994. Unggul jauh atas Jepang, negeri asal olahraga ini, yang baru mengais lima emas. PP Pesti menargetkan satu medali emas, satu perak dan dua perunggu Asian Games 2018. Pada pesta olahraga antarnegara di kawasan Asia empat tahun silam di Incheon, Korea Selatan, cabang olahraga soft tenis berhasil menyumbang dua medali. Dua medali itu terdiri dari satu medali perak dari nomor tunggal putra atas nama Edi Kusdaryanto serta satu perunggu dari ganda campuran, pasangan Prima Simpatiaji dan Maya Rosa bagi kontingen Indonesia. Sepulang dari Incheon, PP Pesti akan menjamu Timnas Korea Selatan dan Jepang yang akan menjalani latihan di Indonesia. Setelah itu, tim Pelatnas Soft Tenis Indonesia bakal memasuki tahap akhir persiapan menuju Asian Games 2018, yakni penyesuaian lapangan pertandingan di Palembang, awal Agustus mendatang. “Semoga pengorbanan para pemain demi kejayaan Merah Putih, termasuk hanya sekejap menikmati suasana Lebaran di Tanah Air karena harus berlatih di Korea, akan berbuah manis saat penyelenggaraan Asian Games 2018,” pungkasnya. (Adt)

Jakarta International Tennis Academy Bangun Karakter Petenis Muda Berprestasi Internasional

Jakarta International Tennis Academy (JITA) konsisten membangun karakter bibit-bibit petenis muda berbakat dengan prestasi internasional. (Pras/NYSN)

Jakarta- Berawal dari mimpi seorang bernama Goenawan Tedjo, Jakarta International Tennis Academy (JITA) konsisten membangun karakter bibit-bibit petenis muda berbakat dengan prestasi internasional. Bergabung dengan JITA, artinya setiap anak ditempa dengan berbagai metode pelatihan untuk membentuk kemampuan fisik, teknik, karakter, serta membangun mental juara. “Visi dan misinya adalah ingin membentuk pemain dengan prestasi internasional. Tetapi, dasarnya adalah membangun karakter melalui tenis. Sehingga tidak hanya mencetak juara. Namun yang ditekankan adalah juara dengan karakter baik,” ujar Goenawan, Founder JITA, di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu. Karakter pertama yang harus dimiliki yakni sportif, sopan, dan memiliki respect terhadap lawan, wasit, pebimbing, pelatih, dan terpenting orang tua. Sebab saat mereka jadi pemain top, maka akan menjadi idola generasi muda. Dan, idola itu harus memiliki karakter yang bagus. Sebab akan menjadi panutan “Kadang-kadang, ada anak yang tidak mau ditonton sama orang tuanya. Itu tidak boleh terjadi disini. Mereka harus punya respect pada orang tua. Sebab, orang tua yang membiayai mereka untuk bergabung disini,” lanjut pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 4 Agustus 1961 itu. Kini, JITA telah memiliki banyak petenis binaan. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai lebih dari ratusan petenis. Awalnya, akademi ini bernama Goenawan Fans Tennis Club, hingga berganti nama menjadi JITA pada 2005. Perubahan nama itu bukan tanpa alasan. Selain warga negara Indonesia (WNI), petenis binaan JITA sekitar 35 persennya adalah berkebangsaan asing. Bahkan, sebagai dari mereka sudah mulai berlaga di berbagai turnamen tenis internasional. “Di level junior nasional, petenis binaan JITA banyak berprestasi dan mengisi slot rangking 1 hingga 10. Mereka bermain hingga SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), lalu melanjutkan ke Universitas. Ketika mereka kuliah mendapatkan sponsor atau scholarship. Disini itu cukup banyak,” tambah pria penyuka kuliner Indonesia itu. Disisi lain, minat generasi muda terhadap tenis, diakui pria yang juga memiliki hobi bermain golf itu, sat ini agak menurun. Namun, itu jadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara jasa seperti JITA. “Bagaimana caranya membuat suasana pelatihan menjadi menarik. Dengan begitu mereka tetap memprioritaskan tenis dibandingkan dengan pilihan yang lain. Karena saat ini kami berkompetisi dengan gadget. Ini menjadi tantangan untuk mereka bisa tertarik datang ke outdoor untuk bermain tenis,” tuturnya. “Terkadang orang mengajar saja, namun suasananya membosankan. Sehingga minat dan ketertarikan mereka terhadap tenis makin turun. Itu yang kami terapkan di JITA, maka jumlah petenis binaan disini tetap stabil,” urai pria yang mulai mengajar tenis sejak 1981 itu. Sementara, demi menghasilkan petenis berkualitas, Goenawan mengkritisi dukungan pemerintah. Ia berharap minat pemerintah dalam mendukung olahraga di Tanah Air terus meningkat. “Sejauh ini pemerintah telah memberikan dukungan bukan hanya tenis. Tapi, dukungan itu belum cukup. Kalau mau berprestasi sampai level Asia saja itu masih kurang, apalagi dunia. Bukan pemerintah tidak membantu, memang masih sangat kurang,” tukasnya. “Contoh Singapura. Meski negara kecil, namun pemerintahnya mengalokasikan dana untuk olahraga sangat besar. Hasilnya, mereka membangun fasilitas dan sarana olahraga yang bagus. Boleh dibilang mewah dan lengkap. Dengan begitu maka orang-orang akan lebih senang berolahraga,” ungkapnya. Selain itu, menurutnya, iklim ber kompetisi yang rutin, menjadi sarat mutlak bagi seorang petenis, agar mampu dan bisa bersaing di level permainan yang lebih tinggi. “Mereka harus travelling ikut pertandingan ke luar negeri. Tapi untuk apa? Tentu semua perlu biaya. Terkadang ada atlet yang menang di PON (Pekan Olahraga Nasional) dapat bonus uang. Dan, jangan hanya disimpan, tapi itulah yang dipakai untuk membiayai dirinya mengikuti pertandingan ke luar negeri,” jelasnya. Dengan rutin bertanding di luar negeri, peringkatnya naik dan permainannya makin bagus. Maka profit akan mengikuti. Bagi Goenawan, mengandalkan pemerintah dan ponsor sangat sulit. Dikatakannya, pengalaman dan jam terbang sangat utama. Bila dahulu banyak bermunculan klub-klub tenis besar, namun saat ini kondisinya sudah berbeda. “Harapannya muncul kembali liga antar klub. Ini bisa menggairahkan minat dari para petinggi perusahaan untuk mendirikan klub serta membina para pemainnya. Kalau saat ini belum ada, maka tiap individu-individu itu harus pintar mengelola keuangannya,” tutup ayah empat anak itu. (Adt)

Skuad Fed Junior Indonesia Incar Rangking 100 Dunia, PP Pelti : Pengganti Yayuk Basuki !

Tim Piala Fed Junior 2018 yang terdiri dari (ki-ka) Priska Madelyn Nugroho , Janice Tjen dan Nadya Dhaneswara serta Ryan Tanujoyo, lolos ke putaran final di Hungaria. (vavel.com)

Jakarta– Petenis junior Indonesia, Priska Madelyn, menargetkan bisa menembus peringkat 100 besar dunia junior pada akhir 2018. “Saya saat ini di posisi 164. Pada akhir 2018, targetnya naik ke peringkat 100 besar dunia,” kata Priska, saat penyambutan tim Piala Fed Junior, di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Minggu (22/4). Untuk mencapai posisi tersebut, Priska menargetkan rutin mendulang poin dari turnamen yang akan dia ikuti sampai akhir tahun, yakni satu hingga dua turnamen setiap bulan. Dalam waktu dekat, Priska akan berlaga di turnamen level Grade 4, Malacca Internasional Junior Championship, pada 8-13 Mei 2018, di Malaysia. “Tapi di Malaysia ini saya tidak mau menganggap remeh dan tetap mewaspadai lawan-lawan yang akan dihadapi karena kualitasnya tidak sembarangan. tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin,” ujar Priska. Turnamen yang akan diikuti Priska ini diketahui usai dara yang akan berusia 15 tahun itu, selesai membela Indonesia dalam babak kualifikasi Piala Fed Junior 2018 zona Asia/Oseania. Selain Prsika, tim Indonesia terdiri dari Janice Tjen dan Nadya Dhaneswara Di kualifikasi Piala Fed Junior zona Asia/Oseania, Indonesia harus puas hanya menjadi runner-up paska dua kali kalah dari Jepang saat bertemu di fase grup dengan kedudukan 0-2, dan yang kedua saat partai final oleh Australia. Meski menjadi runner-up, Indonesia berhak berlaga dalam grup dunia Piala Fed Junior yang berlangsung di Budapest, Hungaria, September 2018, bersama dengan Australia, Jepang, dan Hong Kong. Negara-negara tersebut menjadi empat terbaik di kawasan Asia/Oseania. Terakhir kali, Indonesia mencicipi babak dunia, yakni pada sembilan tahun lalu (2009). Saat itu, Indonesia mewakili zona Asia/Oseania bersama Australia, Jepang, serta China untuk berlaga di Luis St Potosi, Meksiko, dan finis di posisi ke-9. Pengurus Pusat (PP) Persatuan Lawn Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) menilai capaian lolos ke babak dunia ini sinyal kebangkitan tenis Indonesia. “Dari tim Fed junior, semoga muncul pengganti Yayuk Basuki dan pemain senior lainnya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PP Pelti Susan Soebakti, saat penyambutan tim Fed Junior. Ke depannya, Pelti menyatakan akan mempersiapkan tim untuk berlaga di babak dunia Fed Junior pada September mendatang. “Mereka tetap ikut pertandingan dalam persiapan menuju Hungaria. Termasuk pengiriman tur ke luar negeri akan direalisasikan seperti instruksi Ketua Umum,” kata Susan. Selain berbagai persiapan mandiri para atlet dan oleh federasi, jelang tampil di babak dunia Fed Junior, Ketua Umum PP PELTI, Rildo Ananda Anwar berencana memberikan fasilitas wild card pada tim Fed Junior di event Indonesia Women’s Circuit berhadiah total 15 ribu dolar AS, di Solo, Jawa Tengah, pada bulan Juli. (art) Tim Piala Fed Junior Indonesia 2018 1. Priska Madelyn Nugroho 29 Mei 2003 ITF-165 2. Janice Tjen 6 Mei 2002 ITF-213 3. Nadya Dhaneswara 5 Januari 2002 Kapten: Ryan Tanujoyo 7 mei 1982

Unggul Rangking Tak Jaminan, Putri Indonesia Runner-up Kualifikasi Fed Junior 2018

Tim Putri Piala Fed Junior Indonesia (merah), berfoto dengan tim Fed Junior Australia, usai kalah 0-2 di partai final Kualifikasi. (net)

Jakarta- Tim putri Indonesia harus puas menjadi runner-up kualifikasi Piala Fed Junior zona Asia/Oseania 2018 usai langkah gemilangnya terhenti di partai puncak. Pada Sabtu (21/4), tim putri Indonesia menyerah kepada Australia 0-2 dalam final di lapangan tenis Serawak Lawn Tennis Association, Kuching, Malaysia. Meski di atas kertas Indonesia punya komposisi pemain yang lebih baik, hal ini tak menjamin tim Merah Putih melenggang di zona Asia/Oseania. Di partai pembuka, tunggal kedua Indonesia, Janice Tjen, takluk dari Anastasia Berezov dalam pertarungan dua set berdurasi 55 menit yang berkesudahan 2-6, 0-6. Peringkat junior ke-213 dunia ini kalah straight set, dari lawan yang bertengger di posisi ke-417 itu dengan skor akhir 2-6 dan 0-6. “Saya agak capek hari ini, kaki terasa berat melangkah sepanjang pertandingan final tadi,” tutur Janice usai laga. Pada partai berikutnya, tunggal utama Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, juga tidak mampu mencetak angka penyeimbang usai kalah dari ujung tombak Australia, Olivia Maria Gadecki, dalam pertarungan dua set satu jam 10 menit yang berkesudahan 4-6, 3-6. Meskipun menjadi runner-up, Indonesia berhak berlaga dalam grup dunia Piala Fed Junior yang berlangsung di Budapest, Hungaria, September 2018 mendatang bersama dengan Australia, Jepang dan Hong Kong, yang menjadi empat terbaik di kawasan Asia/Oseania. Terakhir kali Indonesia mencicipi babak dunia, Pada sembilan tahun lalu, 2009. Saat itu, Indonesia mewakili zona Asia/Oseania bersama Australia, Jepang serta China untuk berlaga di Luis St Potosi, Meksiko, dan finis di posisi ke-9. “Selamat pada tim atas raihan ini, saya bangga atas mereka karena capaian ini lebih baik dari 2009 lalu, saat itu di playoff kita hanya semifinal, sedangkan saat ini kita bisa sampai final,” kata Ketua Umum Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PP Pelti) Rildo Ananda Anwar, dilansir Antara. Meskipun menjadi runner-up, Rildo menilai permainan tim Indonesia sangat baik dan hanya kalah jam terbang dari tim Australia dan Jepang yang dihadapi Indonesia di fase grup. “Dari yang saya ikuti, dua kekalahan kita di kualifikasi Piala Fed Junior 2018, karena kalah jam terbang dari Australia dan Jepang. Karenanya setelah mereka pulang kami akan susun program untuk pemain bertanding di berbagai turnamen luar negeri dan dalam negeri,” ucap Rildo berharap. Setelah kualifikasi Piala Fed Junior zona Asia/Oseania ini, Rildo menyebutkan pihaknya akan memberi fasilitas “wild card” pada tim Indonesia yang terdiri dari Janice Tjen, Priska Madelyn dan Nadya Dhaneswara, dalam kejuaraan Indonesia Women`s Future berhadiah total 15 ribu dolar AS dalam waktu dekat. (Art)

Putri Indonesia Ladeni Australia di Final Piala Fed Junior, Siapkan Kado Spesial Hari Kartini

Tim putri Indonesia bakal meladeni Australia di Final Piala Fed Junior 2018., pada Sabtu (21-4), di Khucing, Malaysia. (net)

Jakarta- Tim putri Indonesia berhasil menjejak babak akhir Piala Fed Junior Kualifikasi Asia Oseania 2018, di Kuching, Malaysia. Pada semi final, Jumat (20/4), regu yang menempati posisi unggulan kelima itu menumbangkan seeded kedua, Hong Kong, dengan skor 2-0. Petenis tunggal kedua Indonesia yang tampil partai pembuka, Janice Tjen menang atas Sheena Jade Masuda Karrasch. Peringkat junior ke-213 dunia itu unggul straight set, 6-4 6-3 dalam waktu satu jam lima menit. Dan, Priska Madelyn Nugroho memastikan kemenangan atas Hong Kong setelah mengalahkan Hoi Ki Jenny Wong 6-3 6-3. “Lawan Hong Kong terasa mudah karena mereka tampil tanpa petenis nomor satunya, yang cedera setelah laga alot di perempat final. Jadi, saya lawan pemain kedua dan Janice ketemu urutan ketiga,” ujar Priska usai laga. Sama halnya dengan Indonesia, Hong Kong juga harus melakoni pertarungan sengit di babak delapan besar untuk menentukan pemilik empat tiket sebagai wakil zona Asia Oseania, ke putaran final dunia di Hungaria, September 2018. Lolosnya Indonesia, Thailand dan Hong Kong, bukan tanpa ujian. Mereka harus melalui partai ketiga yakni ganda, yang harus digelar pada Jumat (20/4), lantaran tertunda sehari akibat hujan mengguyur lapangan, sejak Kamis (19/4) siang. Duet Janice dan Priska menyudahi perlawanan pasangan Thailand, Supapitch Kuearum/Mai Napatt Nirundorn, dengan skor 7-5 6-0. Sementara ganda Hong Kong, Ho Iki Jenny Wong/Hong Yi Cody Wong harus mengalami super tie break untuk mengandaskan wakil Korea Selatan, Bo Young Jeong/Yeonwoo Ku, dengan skor 2-6 7-6(5) [10-5]. Pada final, Sabtu (21/4), Indonesia akan meladeni unggulan keenam, Australia yang secara mengejutkan menyingkirkan Jepang di semifinal. “Peluang sih fifty-fifty,” tutur Janice dan Priska, kompak. Di atas kertas, srikandi Indonesia punya materi lebih baik dibanding tim Negeri Kanguru. Tunggal utama Merah Putih, Priska Madelyn Nugroho berperingkat ke-165 dunia, jauh di atas ujung tombak Australia, Olivia Maria Gadecki yang ada di posisi ke-219 dunia. Sedangkan Janice Tjen (ITF-213), jauh di atas Annerly Poulos (401). “Pokoknya kami akan coba semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada,” cetus keduanya. Namun, apapun hasil final nanti, keberhasilan trio Priska, Janice dan Nadya Dhaneswara serta kepten Ryan Tanujoyo melaju ke putaran dunia pada ajang petenis kelompok umur 16 tahun itu adalah prestasi langka bagi tenis Indonesia. Terakhir kali, Indonesia mencicipi pentas dilevel dunia Piala Fed Junior pada 2009. Menempati posisi keempat babak penyisihan zona Asia Oseania yang berlangsung di, Australia, trio Grace Sari Ysadora, Cynthia Melita dan Rekyan Woro serta kapten Deddy Tedjamukti finis di posisi kesembilan babak final dunia di Mexico. (Adt)

Christopher Rungkat Jadi Kunci Bungkam Srilanka 3-1, ‘PR’ Pengurus Pelti Siapkan Petenis Muda

Christopher Rungkat masih menjadi andalan Indonesia mengalahkan Srilanka 3-1 pada Play-off Grup II Zona Asia-Oceania. Minggu (8/4). (net)

Jakarta- Tim Piala Davis Indonesia sukses membungkam Srilanka dengan skor 3-1 di Play-off Grup II Zona Asia-Oceania, di Lapangan Tanah Liat Asosiasi Tenis Srilanka, Kolombo, Minggu (8/4). Hasil itu memastikan Indonesia tetap bertahan di Grup II Zona Asia-Oceania sekaligus lepas dari ancaman degradasi. Pada hari pertama, Sabtu (7/4), tim Merah Putih bermain imbang 1-1 setelah petenis utama Indonesia Christopher Rungkat menumbangkan Sharmal Dissanayake dengan skor 6-4, 4-6, 3-0 (retired). Namun, David Agung Susanto tumbang di tangan Harshana Godamanna dengan skor 3-1, 1-6. Hari kedua, duet Christopher Rungkat/Justin Barki berhasil mengalahkan Sharmal Dissanayake/Harshana Godamanna dengan skor 6-4, 6-3. Kemenangan itu membuat Indonesia unggul 2-1 atas Srilanka. Dan, Christo menjadi pahlawan kemenangan usai menekuk petenis andalan Srilanka Harshana Godamanna pada partai keempat melalui laga rubber set, dengan skor 6-4, 4-6, 7-6(7), dalam waktu dua jam lima menit. Febi Widhiyanto, Non-Playing Captain Indonesia, mengatakan hasil tersebut sesuai dengan skenario tim. Dan, Christo selalu menjadi faktor penentu kemenangan. Hal ini merupakan formula klasik, guna bertahan di Grup II Zona Asia-Oceania seperti yang telah dilakukan dalam empat laga dibabak serupa, dalam lima tahun terakhir. “Kami bersyukur hasil ini sesuai skenario. Ganda Christo dan Justin mampu mengambil angka kemenangan dari partai ketiga. Tak ada pilihan yang lebih baik, selain memasang kembali Christo untuk memastikan kemenangan,” tutur Febi. Meski strategi untuk memainkan petenis utama Indonesia berperingkat 824 dunia itu berhasil, namun Febi, menegaskan tugas PP Pelti (Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia) dalam menyiapkan petenis muda sebagai pelapis senior. “Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kepengurusan PP Pelti periode ini. Mereka harus terus menyiapkan petenis muda sebagai pelapis guna menggantikan Christo dimasa depan,” tukasnya. (Adt)

Totalindo Purwokerto Open 2018 Jadi Ajang Hitung Peringkat Petenis Junior Indonesia

Petenis junior Nasional bersaing di turnamen tenis 'Totalindo Purwokerto Open 2018'. (net)

Jakarta- Petenis junior papan atas nasional turut meramaikan persaingan di turnamen tenis bertajuk ‘Totalindo Purwokerto Open 2018’, di Lapangan Tenis Gelanggang Olahraga Satria Purwokerto, Jawa Tengah, 2-8 April. Para petenis ini diantaranya penghuni peringkat nasional Pengurus Pusat (PP) Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti), yang merupakan peringkat atas putra dan putri Kelompok Umur (KU)-16 tahun, yakni Lucky Chandra Kurniawan (Sukoharjo) dan Niken Ferlyana (Blora). Dan, KU-14 yaitu Adinda Satria Gamal (Kediri), dan Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo). Sedangkan M. Aji Faizal Nizam (Tulungagung) dan Joanne Lynn (Bandung/6) pada KU-12. Selain petenis junior unggulan, juga diramaikan kehadiran 100 petenis junior yang datang dari berbagai penjuru nusantara. Johannes Susanto, Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti 2017-2022, mengatakan pihaknya tengah membenahi pembagian jenis kategori turnamen junior dan sistem pemeringkatan petenis. Agar, terangnya, akan mampu meningkatkan kualitas pembinaan usia muda. “Mulai tahun ini, poin peringkat hanya dihitung dari enam hasil terbaik masing-masing petenis. Dan kategori kejuaraannya, harus berlangsung seminggu penuh, seperti Totalindo Purwokerto Open ini, bukan dari turnamen dua atau tiga harian,” ujar Johannes, Senin (3/4). Sementara, Budhi Setiawan, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Banyumas, mengapresiasi gelaran turnamen tenis junior berlevel nasional itu dimana daerahnya dipilih menjadi tuan rumah. “Semoga event ini menjadi titik awal bagi kemajuan olahraga tenis di Banyumas,” cetusnya. “Kami cukup bangga memiliki sarana lapangan tenis yang memenuhi standar penyelenggaraan turnamen nasional dulu. Tentu, kami ingin ada petenis Banyumas yang mampu bersaing di ajang seperti ini,” tambah Budhi. Sedangkan, Dudi Rochjat, Direktur Turnamen Totalindo Purwokerto Open 2018, mengungkapkan andai waktunya tak mepet dengan pelaksanaan ujian akhir sekolah, kemungkinan peserta pada turnamen ini akan lebih banyak. “Tapi, persaingan menuju tangga juara ajang ini tetap akan sengit,” tukas Dudi. (Adt)

Bidik 1 Emas Asian Games 2018, Soft Tenis Waspadai Korea, Jepang dan Taiwan

Cabang olahraga Soft Tenis menargetkan satu medali emas Asian Games 2018. (net)

Jakarta- Jelang Asian Games 2018, Jakarta-Palembang, pada Agustus-September mendatang, sejumlah cabang olahraga (cabor) terus mempersiapkan diri dengan baik. Salah satunya cabor soft tenis. Ferly Montolalu, Pelatih Soft Tenis Indonesia, mengatakan pesaing terberat di ajang pesta olahraga terbesar empat tahunan itu adalah Korea, Jepang, dan Taiwan. Ia menyebut cabor soft tenis saat ini dikuasai negara di kawasan Asia. “Tiga negara itu yang menjadi pesaing Indonesia di Asian Games 2018,” ujar Ferly saat ditemui di Kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (20/3). Ferly menambahkan pada Asian Games di Incheon, Korea Selatan (Korsel), empat tahun lalu, cabor soft tenis hanya mampu meraih satu medali perak dan satu perunggu. “Medali perak diraih Edy Kusdaryanto,” ungkapnya. Di Asian Games 2018, Jakarta-Palembang, Ferly menegaskan pihaknya menargetkan soft tenis meraih satu medali emas, satu perak dan satu perunggu. “Prima (Simpatiaji) dan Elbert (Sie) masih jadi tumpuan kami meraih medali emas. Saat ini, kami juga telah membentuk tim inti Asian Games 2018. Dari hasil seleksi 160 petenis dari seluruh Indonesia, kami telah memilih 10 atlet. Terdiri dari lima atlet putra dan lima atlet putri,” tukas Ferly. Ferly juga berbicara soal masalah anggaran timnas soft tenis jelang Asian Games 2018. Ia memastikan saat ini tidak ada masalah terkait anggaran maupun akomodasi. “Untuk masalah anggaran kita tidak ada masalah. Akomodasi juga tidak ada masalah,” tutur Ferly.  Sebelumnya timnas soft tenis Indonesia mengajukan anggaran sebesar 16 miliar rupiah. Tapi pemerintah hanya memberikan 7,7 miliar rupiah dari bujet. “Saat ini anggaran masuk adalah 7,7 miliar rupiah untuk Asian Games 2018,” ungkapnya. “Kekurangan dari anggaran tersebut kami dapatkan dari sponsor,” lanjut Ferly. (Adt)

Kabupaten Sidoarjo Optimis Raih Medali di Kejurnas Tenis

Kabupaten-Sidoarjo-Optimis-Raih-Medali-di-Kejurnas-Tenis

Kali ini, Kabupaten Sidoardjo akan menurunkan empat atletnya dalam keikut sertaanya dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis di Blitar, pada 30 November hingga 4 Desember 2017 mendatang. Ke empat atlet tenis yang akan bersaing di Kejurnas merupakan binaan dari Pesatuan Lawan Tenis Indonesia (Pelti). Pelatih Khosim mengatakan, faktor kesiapan dan cuaca menjadi kendala dalam persiapan Kejurnas. Meski, ke empat atletnya memiliki potensi namun, apabila persiapan kurang tepat akan menjadi kendala yang berarti. “Terkendala hujan yang setiap hari mengguyur,” ujarnya seperti dikutip Jawa Pos. Alasannya menghentikan, karena ingin menjaga kondisi agar tidak menurunkan fisik atlet. Walaupaun terganggu, Khosim berharap atletnya dapat bersaing dalam perebutan medali. “Mudah-mudahan bisa meraih emas, usaha para atlet harus maksimal,” pungkasnya.(pah/adt)

Sering Keseleo Dalam Latihan Olahraga Tenis, Gadis Ini Menganggapnya Sudah Biasa

Balya-Tenis

Jika kita berbicara olahraga tenis lapangan, Indonesia tentu tidak ketinggalan dalam mengambil peran dalam kejuaraan turnamen dunia, namun jika nama Wimbledon yang di bahas, ini merupakan turnamen tenis paling tua dan paling bergengsi di dunia. Tidak mengherankan bila disebut sebagai salah satu dari empat turnamen paling bergengsi di dunia. Bahkan di antara beberapa pemain tenis dunia, mengatakan ini adalah turnamen yang paling diidamkan untuk menang. Kembali ke tanah air, gadis belia ini bernama Balya Mikaela Rahmah, yang tak lain merupakan siswi kelas X di SMA Negeri 3 Tangerang Selatan. Balya juga mencintai olahraga tenis lapangan putri, dan layak menjadi atlet, karena ia telah menuai banyak prestasi dalam berbagai kejuaraan tenis lapangan. Balya mengatakan kepada NYSN bahwa dirinya sudah menggeluti tenis semenjak duduk di bangku sekolah dasar. “Saya mulai ikut latihan tenis sekitar kelas 2 SD dan saat itu saya tergabung dalam club YBTA, Yayuk Basuki Tenis Academy.” kata Balya. Ia juga melanjutkan, bahwa ia mengikuti jejak sang kakak, Haekal Ramadhan yang sudah lebih dahulu menjadi atlet tenis dan juga sudah mempunyai banyak prestasi dalam bidang olahraga tersebut. “Awalnya cuma ikut kakak saya latihan, akhirnya penasaran dan setelah itu coba-coba, eh jadi berlanjut.” lanjutnya. Sudah banyak prestasi dalam olahraga tenis lapangan yang berhasil di koleksi Balya, beberapa diantaranya adalah: 1. Juara 1 dalam POPDA Pandeglang tahun 2016 2. Juara 1 dalam PORKOT Tangsel tahun 2016 3. Juara 3 dalam CBR Tenis Circuit tahun 2017 Balya mengakui, ia tidak pernah mengalami cidera serius selama menggeluti olahraga tenis, hanya sering keseleo yang menurutnya masih tergolong ringan. Di masa mendatang, Balya menuturkan bahwa ia ingin terus menjadi atlet tenis yang berprestasi, apalagi ditambah dengan pelatih serta keluarganya yang selalu mendukung dirinya untuk berjuang menjadi atlet tenis profesional. “Bosan berlatih tenis pernah beberapa kali saya rasakan, tetapi itu hal yang wajar. Cita-cita saya kedepan, saya ingin terus berlatih dan bisa berprestasi dalam bidang olahraga tenis lapangan.” tuturnya. Balya menutup percakapannya dengan NYSN seraya memberikan pesan untuk para siswa dan siswi yang sedang berjuang meraih prestasi dalam olahraga. “Untuk teman-teman yang sedang berjuang, terus berusaha, jangan pernah takut dan jangan pernah menyerah. Tetap semangat!” pesan remaja 15 tahun ini dengan semangat.(crs/adt)