WTA Future Stars Indonesia 2019, Bentrok Dua Unggulan Teratas

Pada babak empat besar, Kholisa menyingkirkan wakil Gresik, Hasna Raissaneva melalui pertarungan straight set 7-5 6-2.

Final ideal tercipta pada nomor tunggal 14 tahun turnamen kualifikasi Indonesia WTA Future Stars 2019. Dua unggulan teratas bakal terlibat bentrok pada partai puncak, yakni Kholisa Siti Maisaroh Maisaroh asal Kudus (Jawa Tengah) dengan Tiara Naura Nur Azizah dari Pelalawan (Riau) di lapangan tenis The Hilton Hotel & Residence Jakarta, Sabtu (31/8). “Saya optimistis bisa menang di final dan merebut tiket menuju final WTA Future Stars di China, Oktober nanti,” ujar Kholisa yang menempati unggulan pertama usai laga semi final, Jumat (30/8). “Sudah sering bertemu Tiara, hasilnya kalah menang. Namun terakhir menang pada turnamen di Jember (Jawa Timur),” imbuhnya. Pada babak empat besar, Kholisa menyingkirkan wakil Gresik, Hasna Raissaneva melalui pertarungan straight set 7-5 6-2. Sedangkan Tiara yang menempati posisi seeded kedua melaju ke laga final setelah mendepak unggulan keempat, Joanne Lynn Hartono (Bandung) 6-2 6-2. Sementara itu di kelompok 16 tahun, Jessica Christa Wirahadipoernomo harus berjuang susah payah melakoni partai semi final. Seeded ketiga itu harus kerja keras untuk menepiskan perlawanan petenis ibu kota, Felicia Halim. Jessica unggul rubber set 3-6 6-4 6-2. Pada laga final, Jessica akan menantang petenis asal Bali, Anggi Dwi Hidayati yang berhasil mendepat Aurellia Azzahra Putri (DKI) 6-2 6-1. WTA Future Stars Indonesia ini merupakan turnamen kualifikasi untuk memeilih wakil tim Merah Putih yang akan berlaga di final ajang serupa yang berlangsung di Shenzhen, China, Oktober 2019. Lebih dari 20 negara dari kawasan Asia Pasifik mengikuti perhelatan yang mengiringi panggung akhir musim bagi delapan petenis putri terbaik dunia, WTA Finals. “Setiap negara akan diwakili seorang petenis di tiap kelompok umur, baik 14 maupun 16 tahun,” tutur Direktur Turnamen, Susan Soebakti yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen PP Pelti ini. Hasil Jumat (30/8) Semi Final U-14 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v Hasna Raissaneva (Gresik) 7-5 6-2 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) v  4-Joanne Lynn Hartono 6-2 6-2 Semi Final U-16 Anggi Dwi Hidayati (Bali) v Aurellia Azzahra Putri (DKI) 6-2 6-1 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang) v Felicia Halim (DKI) 3-6 6-4 6-2 Jadwal Final, Sabtu (31/8) U-14  : 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) U-16 : Anggi Dwi Hidayati (Bali) v 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang)

WTA Future Stars Indonesia 2019, Joanne Hanya Ingin Terbaik

Petenis asal Bandung, Joanne Lynn Hartono berhasil melangkah ke semi final KU-14 tahun turnamen kualifikasi WTA Future Stars Indonesia 2019.

Petenis asal Bandung, Joanne Lynn Hartono berhasil melangkah ke semi final KU-14 tahun turnamen kualifikasi WTA Future Stars Indonesia 2019. Di perempat final, Kamis (29/8), unggulan keempat itu sukses memenangi duel Jawa Barat untuk menyisihkan Nazwa Syamsabila (Ciamis). Joanne yang bercokol di peringkat nasional (PNP) keempat itu unggul dalam laga rubber set, 4-6 7-5 6-4. Pada babak empat besar perhelatan yang digelar untuk memilih wakil tim Merah Putih pada ajang puncak WTA Future Stars di Shenzhen, China ini, siswi kelas VII SMP Tri Mulia Bandung itu bakal menantang seeded kedua, Tiara Naura Nur Azizah dari Pelalawan (Riau). “Rekor pertemuan dengan Naura, saya masih tertinggal 1-2. Namun pada pertemuan terakhir di Bantul, tahun lalu, saya berhasil mengalahkan Tiara. Tentu saja, saya ingin mengubahnya jadi sama kuat 2-2 dengan memenangi pertandingan semi final di ajang ini,” ucap Joanne di arena kejuaraan, lapangan tenis The Sultan Hotel & Residence Jakarta. Namun belia kelahiran 17 April 2007 ini mengaku tak mematok target apapun di ajang bergengsi ini. “Saat ini saya hanya ingin menampilkan permainan terbaik saja di ajang ini. Perjalanan masih panjang, saya masih bisa bermain di kelompok umur ini hingga dua tahun ke depan,” tuturnnya. Partai empat besar KU-14 lainnya, Jumat (30/8) akan mempertemukan unggulan teratas, Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) dengan kuda hitam asal Gresik, Hasna Raissaneva. Kholisa yang berperingkat nasional pertama itu melaju ke semi final setelah menang atas Bunga Nuraini (Surabaya) 6-3 6-2. Sedangkan Hasna unggul atas Fransisca Heidi Tan (Purworejo) 6-0 6-2. Pada KU-16, Jessica Christa Wirahadipoernomo menjadi satu-satunya petenis unggulan yang masih bertahan hingga semi final WTA Future Stars Indonesia setelah membekap Justmin Da Costa 6-1 6-0. Pada babak empat besar, Jessica akan meladeni tantangan non-unggulan asal DKI Jakarta, Felicia Halim yang menyingkirkan seeded kedua, Niken Ferlyana (Pati) 6-4 7-5. Wakil ibukota, Aurellia Azzahra Putri membuat kejutan menyingkirkan unggulan teratas, Rara Sima Kusuma Wardani asal Semarang. Aurel menang rubber set 2-6 6-1 7-5 untuk menghadapi wakil Bali, Anggi Hidayati di semi final. Anggi juga membuat kejutan dengan menepiskan perlawanan seeded keempat Keila Mangesti Paath (Depok) 6-0 7-5. Hasil Kamis (29/8) Perempat Final U-14 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v Bunga Nuraini (Surabaya) 6-3 6-2 Hasna Raissaneva (Gresik) v Fransisca Heidi Tan (Purworejo) 6-0 6-2 4-Joanne Lynn Hartono v Nazwa Syamsabila (Ciamis) 4-6 7-5 6-4 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) v Cylova Zuleyka Hukmasabiya (Banten) 6-2 6-3 Perempat Final U-16 Aurellia Azzahra Putri (DKI) v 1-Rara Sima Kusuma Wardani (Semarang) 2-6 6-1 7-5 Anggi Dwi Hidayati (Bali) v 4-Keila Mangesti Paath (Depok) 6-0 7-5 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang) v Justmin Da Costa (Tangerang Selatan) 6-1 6-0 Felicia Halim (DKI) v 2-Niken Ferlyana (Pati) 6-4 7-5 Jadwal Jumat (30/8) Semi Final U-14 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v Hasna Raissaneva (Gresik) 4-Joanne Lynn Hartono v 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) Semi Final U-16 Aurellia Azzahra Putri (DKI) v Anggi Dwi Hidayati (Bali) 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang) v Felicia Halim (DKI)

WTA Future Stars 2019, Sengit Sejak Awal

Unggulan teratas tunggal KU-14, Kholisa Siti Maisaroh masih melangkah mulus ke babak kedua. Petenis peringkat pertama nasional asal Kudus (Jawa Tengah)

Aroma persaingan sengit sudah menguar sejak hari pertama kualifikasi Indonesia WTA Future Stars 2019 yang berlangsung di lapangan tenis The Sultan Hotel & Residence Jakarta, Selasa (27/8). Turnamen itu bergulir untuk memilih petenis putri Kelompok Umur (KU) 14 dan 16 tahun sebagai wakil tim Merah Putih pada gelaran final ajang tersebut di Shenzhen, China Oktober nanti. “Hanya juara pertama tunggal, baik KU 14 maupun 16 tahun yang akan berangkat ke WTA Future Stars Final di Shenzhen, China,” tutur Susan Soebakti selaku Direktur Turnamen WTA Future Stars Indonesia 2019. “Sangat menarik, terutama di KU-14 karena semua petenis berperingkat PNP 1 hingga 10 tampil di ajang ini. Selain itu yang memanaskan suasana laga adalah hadirnya petenis-petenis yang telah bermain di KU-16 turun kelas di KU-14 karena usianya masih memenuhi syarat,” lanjutnya. Korban pun sudah bergelimpangan di arena pertandingan termasuk unggulan ketiga, Freya Athallah Zayyan. Petenis asal Banjarnegara berperingkat ketiga nasional (PNP-3) itu harus mengakui keunggulan sesama wakil Jawa Tengah, Fransisca Heidi Tan asal Purworejo dalam laga straight set 4-7 5-7. Sementara Hasna Raissaneva (Gresik) berhasil memenangi pertandingan antar petenis Jawa Timur, unggul atas Zoelfanka Saputra (Malang) 6-3 6-3. Unggulan teratas tunggal KU-14, Kholisa Siti Maisaroh masih melangkah mulus ke babak kedua. Petenis peringkat pertama nasional asal Kudus (Jawa Tengah) itu masih terlalu tangguh bagi mojang Bandung, Anjali Kirana Juniarto. Kholisa menang straight set 6-0 6-1. “Pada KU-14, Indonesia juga punya kenangan manis di ajang ini dengan kesuksesan Priska Madelyn Nugroho keluar sebagai pemenang WTA Future Stars Final 2017,” lanjutnya. Pada hari kedua, Rabu (28/8), turnamen khusus putri ini akan menggelar nomor tunggal KU-16 dan ganda KU-14. Selain itu Direktur Teknik PP Pelti asal Belanda, Frank van Fraaiyenhoven tampil memimpin Motivation Class untuk peserta, pelatih dan orang tua petenis yang hadir di event ini. Hasil Selasa (27/8) Babak Pertama Tunggal U-14 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v Anjali Kirana Juniarto (Bandung) 6-0 6-1 Bunga Nuraini (Surabaya) v Daniella Clara Suryapranata (DKI) 6-0 6-3 Fransisca Heidi Tan (Purworejo) v Freya Athallah Zayyan (Banjarnegara) 6-4 7-5 Hasna Raissaneva (Gresik) v Zoelfanka Saputra (Malang) 6-3 6-3 Nazwa Syamsabila (Ciamis) v Putu Kevalaih Kirana (DKI) 1-6 7-6(1) 7-6(4) 4-Joanne Lynn Hartono (Bandung) v Zelda Gracia Muttaqin (Depok) 6-3 6-2 Cylova Zuleyka Hukmasabiyya (Banten) v Meydiana Laviola (Malang) 6-2 6-4 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) v Aprilia Ayu Kusumaningtyas (Semarang) 7-6(1) 6-1 Jadwal Rabu (28/8) Babak Pertama Tunggal KU-14 Anggi Dwi Hidayati (Bali) v Ghean Desya Zahrani (Jambi) Nicole Isman (DKI) v Justmin Da Costa (Tangerang Selatan) Sasha Zalianty Putri (Makassar) v Felicia Halim (DKI)

Medco International Junior Championships 2019, Kejutan Lucky Candra Kurniawan

Lucky Candra Kurniawan (15 tahun) membuat kejutan dengan berhasil melangkah ke babak final tunggal putra Medco International Junior Championships 2019.

Petenis Indonesia, Lucky Candra Kurniawan (15 tahun) membuat kejutan dengan berhasil melangkah ke babak final tunggal putra Medco International Junior Championships 2019. Pada laga semi final yang berlangsung di Stadion Tenis Bukit Asam Jakabaring Sport City Palembang, Sabtu (24/8), petenis itu sukses mendepak seeded teratas asal Malaysia, Jian Keong Takeshi Koey. Kendati hanya menempati posisi unggulan ke-15, Lucky menang atas Koey yang bercokol di peringkat ke-615 yunior dunia melalui laga straight set 6-4 6-4. “Tidak ada kunci khusus hari ini, sejak awal ikut turnamen ini saya tidak ditargetkan apapun oleh pelatih.Cuma harus terus bermain baik di setiap pertandingan,” ungkap petenis kelahiran Sragen 20 Desember 2003 ini seusai laga. “Saya cuma terus mengejar bola dan sebisa mungkin tidak membuat kesalahan sendiri. Saya bersyukur sekali bisa lolos ke partai final,” imbuhnya. Pada babak puncak turnamen ITF Junior Grade 5 ini, Minggu (25/8), Lucky akan berjibaku menghadapi petenis Malaysia, Mitsuki Wei Kang Leong. Meskipun bukan unggulan, wakil negeri jiran itu dalam perjalanan menuju final menumbangkan seeded kedua di babak awal. Di empat besar, Leong mengandaskan andalan tuan rumah lainnya, Gunawan Trismuwantara 6-2 7-6(4). Di kelompok putri, kubu Merah Putih juga berhasil meloloskan seorang wakil di babak pamungkas tunggal putri. Jessica Christa Wirahadipoernomo yang menempati posisi unggulan kedua melangkah ke final setelah menang atas Lin Xin Tan (Malaysia) 6-4 7-6(5). Di final yang berlangsung Minggu (25/8), petenis asal Semarang itu bakal terlibat bentrok dengan non-unggulan asal Korea Selatan, Ji Woo Choi yang unggul atas Chen Chen Liao (Taiwan) 7-6(6) 7-6(3). Sama-sama tergusur di semi final nomor tunggal, Jian Keong Takeshi Koey yang berpasangan dengan Gunawan Trismuwantara sedikit terhibur lantaran sukses mengangkat trophy juara ganda. Duet gado-gado Malaysia dan Indonesia itu membekap andalan tuan rumah di final ganda putra, Ari Fahresi dan Muhammad Ali Akbar Ramadhani 2-6 7-6(2) [10-8]. Sementara gelar juara ganda putri diboyong oleh duet asal Taiwan, Ya Chi Hsu/Chen Chen Liao yang menepiskan perlawanan ganda China dan Korea Selatan, Ji Woo Choi/Xintong Zhou 2-6 6-2 [11-9].

Combiphar Tennis Open 2019, Jepang Kuasai Jakarta

Petenis Jepang, Jumpei Yamazaki (22)

Petenis Jepang, Jumpei Yamazaki (22) berhasil memboyong gelar juara tunggal pekan ketiga Combiphar Tennis Open 2019. Pada laga final turnamen berlabel ITF World Tennis Tour ini, Minggu (25/8), unggulan ketiga berperingkat ke-517 dunia itu mengalahkan wakil Amerika Serikat, Dusty H Boyer. Jumpei unggul straight set, 6-3 6-1. “Saya senang sekali. Ini gelar juara tunggal ITF pertama kali di luar Jepang. Sebelum ini saya telah mengoleksi gelar juara tunggal turnamen serupa ini di Kofu dan Kashiwa,” tuturnya usai laga puncak di lapangan tenis The Sultan Hotel & Residence Jakarta. Sebagai juara tunggal turnamen yang menyediakan total hadiah 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta per pekan ini, Jumpei berhak menerima 2.160 dollar AS atau sekitar Rp 30 juta dan tambahan 10 poin peringkat internasional. Kemenangan petenis yang bergegas mengikuti turnamen level Challenger di China itu mengokohkan dominasi wakil Negeri Samurai pada pekan ketiga Combiphar Open 2019. Sebelumnya, duet Jepang yaitu Hiroyasu Ehara/Sho Shimabukuro telah menyabet gelar juara ganda, Sabtu (24/8). Dalam tiga pekan turnamen bertajuk Combiphar Tennis Open 2019 ini, tuan rumah hanya mampu menyabet satu gelar juara ganda melalui pasangan gado-gado Indonesia dan Afrika Selatan, Justin Barki dan Ruan Roelofse di pekan kedua. Bahkan di nomor tunggal hasil terbaik hanyalah lolos babak kedua pekan ketiga oleh David Agung Susanto. “Persaingan tenis internasional di kelompok putra memang semakin sengit. Petenis Indonesia membutuhkan lebih banyak turnamen seperti Combiphar Tennis Open ini agar bisa bersaing dengan petenis mancanegara,” tutur Direktur Turnamen, Susan Soebakti yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen PP Pelti ini. Hasil Minggu (25/8) Final Tunggal 3-Jumpei Yamazaki (Jepang) v Dusty H. Boyer (AS) 6-3 6-1

Combiphar Tennis Open 2019, Gelar Juara Istimewa Justin Barki

Gelar Juara Istimewa Justin Barki

Pasangan gado-gado Indonesia dan Afrika Selatan, Justin Barki (19) dan Ruan Roelofse berhasil meraih gelar juara ganda pekan kedua Combiphar Tennis Open 2019, Sabtu (17/8). Di final turnamen internasional berlabel ITF World Tennis Tour itu, duet unggulan ketiga ini mengalahkan ganda asal Jepang, Hiroyasu Ehara/Sho Shimabukuro. Justin/Ruan membekap seeded keempat itu melalui pertarungan straight set dengan skor akhir 7-6 (3) 6-4. “Bersyukur akhirnya bisa juara sesuai target meskipun permainan kami kurang stabil, naik turun di final tadi,” tutur Justin usai laga final berdurasi satu jam 17 menit di lapangan tenis The Sultan Hotel & Residence Jakarta. “Gelar juara ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Meski kecil dan tak berarti, tapi inilah kado persembahan dari lapangan tenis,” tutur Justin yang telah mengoleksi tujuh gelar juara ganda turnamen ITF. Sementara itu, Ruan Roelofse berpeluang mengawinkan gelar ganda dan tunggal sekaligus. Petenis asal Afrika Selatan itu sukses melangkah ke babak pamungkas nomor tunggal kejuaraan berhadiah total 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta per pekan ini setelah mendepak Aryan Goveas (India) di semi final. Ruan menang 6-7(3) 6-4 6-3. “Saya sangat letih melakoni laga semi final tunggal dan final ganda hari ini. Namun saya sangat siap untuk menjalani partai final tunggal. Akan sangat indah bila bisa membawa pulang dua gelar sekaligus,” ucap Ruan. Di final tunggal, Ruan akan kembali berhadapan dengan petenis Jepang yang dikalahkannya di laga puncak sektor ganda, Sho Shimabukuro, Minggu (18/8). Hasil Sabtu (17/8) Final Ganda 3-Justin Barki/Ruan Roelofse (Afrika Selatan) v 4-Hiroyasu Ehara/Sho Shimabukuro (Jepang) 7-6(3) 6-4 Jadwal Minggu (18/8) Final Tunggal Sho Shimabukuro (Jepang) v Ruan Roelofse (Afrika Selatan)  

MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2, Menjaga Martabat Sumatera Selatan

Petenis Musi Banyuasin (Sumatera Selatan), Sherena Valencia memborong gelar juara tunggal dan ganda putri KU-10.

Petenis asal Musi Banyuasin, Sherena Valencia berhasil memborong gelar juara tunggal dan ganda Kelompok Umur (KU) 10 tahun Kejurnas seri kedua MedcoEnergi Junior Tennis Championships. Pada laga final yang berlangsung di Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Sport City Palembang, Sabtu (27/7), Sherena sukses menepiskan perlawanan wakil Banten, Maula Sa’ya 8-5. “Senang sekali bisa menjadi juara di Palembang,” ujar belia kelahiran Sekayu , 8 Desember 2010 ini. Sherena juga sukses meraih gelar juara ganda turnamen diakui PP Pelti (TDP) kategori J5 ini, berpasangan dengan Syakirah Aqillah Putri. Duet Muba ini unggul atas pasangan Raden Ayu Deva Kusumaningrum (Bengkulu)/Dinara Syafina (Jambi) 8-1. Wakil Sumatera Selatan masih berpeluang mengoleksi tambahan gelar di turnamen yang mendapat dukungan dana dari PT Medco Energi Tbk ini. Bahkan petenis putri tuan rumah berhasil menguasai KU-14 dengan menciptakan laga All Palembang Final antara Tiara Regita melawan Dwi Rahmasari dan All Musi Banyuasin Final melalui pertemuan Indah Septi Putri dengan Meliana Mona Rizki di partai puncak KU-18, Minggu (28/7). Suguhan pertandingan puncak antar wakil tuan rumah pun tersaji pada final tunggal putra KU-14 antara Rafael Ramadhan (Lubuk Linggau) dan M. Aji Fauzal Nizam (Muba). Sedangkan trio Muba, Jackquillyn Savio A Yoza (KU-12) dan Jones Pratama (KU-18) putra serta Finasti Kusuma Dewi (KU-16 putri) bakal mengusung martabat Sumsel dari gempuran petenis luar daerah di partai pamungkas. Hanya di laga akhir KU-16 putra, wakil Sumatera Selatan gagal lolos hingga ke fase akhir. Petenis peringkat teratas nasional, Rafli Zulkarnain dari Sidoarjo (Jawa Timur) akan meladeni Faried Widya Rohmadiansyah (DKI). “Saya sudah cukup sering bertemu Faried dan selalu menang. Tahun ini sudah dua kali bertemu di Ambarawa dan Yogya, bulan lalu,” ujar Rafli. Final Tunggal Hasil Sabtu (27/7) KU-10 Putra Giftbrain Rizqzain Fadhrezy (Bangka Belitung) v Reifan Mu’izzataya Martadiredja (Banten) 8-1 KU-10 Putri Sherena Valencia (Musi Banyuasin) v Maula Sa’ya (Banten) 8-5 Jadwal Minggu (28/7) Putra KU-12 Jackquilynn Zavio A Yoza (Musi Banyuasin) v Rasyel Trianda (DIY) KU-14 M. Aji Faizal Nizam (Musi Banyuasin) v Rafael Ramadhan (Lubuk Linggau) KU-16 Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) v Faried Widya Rohmadiansyah (DKI) KU-18 Owissa Makuta Annas (Bangka Belitung) v Jones Pratama (Musi Banyuasin) Putri KU-14 Tiara Regita (Palembang) v Dwi Rahmasari (Palembang) KU-16 Finasti Kusuma Dewi (Musi Banyuasin) v Ghean Desya Zahrani (Jambi) KU-18 Indah Septia Putri (Musi Banyuasin) v Merliana Mona Rizki (Musi Banyuasin)

MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2, Kejutan Luar dan Dalam Lapangan

Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Sport City Palembang, menghadirkan kejutan di dalam dan luar lapangan.

Kejutan mulai mewarnai Kejurnas Tenis Yunior bertajuk MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2 di Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Sport City, Palembang, Kamis (25/7). Petenis non-seeded asal Lampung, Andhixa Izzadin Brillian berhasil menyingkirkan unggulan teratas Kelompok Umur (KU) 14 putra, Achmad Zidan (Palembang). Peringkat nasional (PNP) ke-142 itu memenangi babak perempat final melalui laga straight set atas andalan tuan rumah, 7-5 6-2. “Inilah menariknya sebuah kejuaraan tenis, dimana perhitungan di atas kertas bisa berbeda dengan hasil di lapangan. Petenis dengan peringkat lebih rendah mampu mengalahkan peringkat yang lebih tinggi,” komentar Direktur Turnamen, August Ferry Raturandang di arena pertandingan. Namun di KU lainnya, hampir semua petenis yang menempati posisi unggulan teratas sukses bertahan di turnamen seri kedua MedcoEnergi Junior Tennis Champs yang masuk dalam kalender kompetisi resmi PP Pelti (TDP) berkategori J5 ini. Diantaranya adalah Owissa Makuta Annas dari Bangka Belitung (KU-18), Rafli Zulkarnain asal Sidoarjo (KU-16) dan wakil Musi Banyuasin, Jackquilynn Zavio A Yoza (KU-12) serta Reifan Mu’izzataya Martadiredja dari Banten (KU-10). Sementara itu muncul pula kejutan di luar lapangan yakni tidak tersedianya aliran listrik untuk menyalakan lampu penerangan di stadion tenis yang menjadi arena Asian Games 2018 itu. Sepuluh partai ganda yang telah dijadwalkan berlangsung sore hari pun terpaksa harus tertunda karena gelap mulai menyelimuti kawasan Jakabaring. “Sungguh sayang bila arena tenis yang menjadi kebanggaan Indonesia ini tidak dirawat dengan baik. Kami terpaksa menggunakan genset sebagai sumber listrik selama turnamen,” tutur pria yang akrab disapa AFR ini.

MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2, Sinergi Petenis dan Pelatih di Palembang

Pelatihan Pelatih Tenis Play & Stay mengiringi berlangsungnya turnamen MedcoEnergi Junior Tennis Championships di Palembang.

Seiring berlangsungnya MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2, PP Pelti menggelar pelatihan pelatih tenis bertajuk Play & Stay di Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Palembang. “Ini sebenarnya model sinergi yang ideal, dimana penyelenggaraan turnamen bersamaan waktunya dengan pelatihan pelatih. Jadi, petenis bisa mengasah kemampuan berkompetisi sedangkan pelatihnya bisa menambah ilmu,” tutur Sekretaris Jenderal PP Pelti, Lani Sardadi di arena pertandingan, Jumat (26/7). “Namun tidak semua tempat bisa melaksanakan model acara seperti ini karena membutuhkan lebih banyak lapangan. Makanya kami wanti-wanti agar Palembang bisa terus merawat fasilitas yang menjadi arena tenis Asian Games 2018 ini,” lanjutnya. Direktur Teknik PP Pelti, Frank van Fraaiyenhoven dari Belanda bersama dua asisten, Peter Susanto dan Martin Setiawan membimbing 19 pelatih asal Sumatera Selatan yang menjadi peserta kepelatihan selama empat hari. Sementara itu, Sabtu (27/7), seri kedua turnamen berlabel MedcoEnergi Junior Tennis Championships telah memasuki babak final untuk nomor tunggal KU 10 Putra dan Putri serta ganda putra KU 10, 12, 14 dan ganda putri KU 14. Petenis andalan tuan rumah, Sherena Valencia (Musi Banyuasin) akan berebut posisi terhormat dengan wakil Banten, Maula Sa’ya di laga akhir tunggal putri KU-10. Di semi final, Sherena yang menjadi unggulan kedua menang atas Sheika Adelyna Soares (Palembang) 8-2 sedangkan Maula membuat kejutan dengan menyingkirkan seeded teratas, Raden Ayu Deva Kusumaningrum dari Bengkulu, 8-4. Jadwal Sabtu (27/7) Final Tunggal KU-10 Putra Reifan Mu’izzataya Martadiredja (Banten) v Gibrain Rizqzain Fadhrezy (Bangka Belitung) KU-10 Putri Maula Sa’ya (Banten) v Sherena Valencia (Musi Banyuasin)

MedcoEnergi Panaskan Palembang

MedcoEnergi Junior Tennis Championships kini bergulir di Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Sport City, Sumatera Selatan.

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis Yunior berlabel MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2 bakal memanaskan agenda olahraga di Palembang (Sumatera Selatan), 24-28 Juli 2019. Stadion Tenis Bukit Asam di Jakabaring Sport City bakal menjadi arena kejuaaraan yang masuk dalam kalender kompetisi resmi Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) ini. Perhelatan ini menggelar pertandingan tunggal dan ganda, baik putra maupun putri untuk Kelompok Umur (KU) 10, 12, 14 dan 16 serta 18 tahun. Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, merupakan tuan rumah pertama di luar Pulau Jawa setelah seri pembuka turnamen ini berlangsung di Bandung, Maret 2019. “Dengan dukungan sponsor dari MedcoEnergi ini, PP Pelti mengupayakan adanya persebaran turnamen tenis yunior mampu menjangkau hingga ke seluruh wilayah Tanah Air,” tutur Sekretaris Jenderal PP Pelti, Lani Sardadi, Rabu (24/7). “Hal ini penting sebagai sarana pembinaan dan ajang pencarian bibit baru yang berbakat serta berpotensi sebagai petenis Indonesia pada masa yang akan datang,” imbuhnya. Lebih lanjut, Sekjen induk organisasi tenis nasional ini menyatakan bahwa terpilihnya Palembang sebagai kota penyelenggara MedcoEnergi Junior Tennis Championships ini adalah karena memiliki fasilitas lapangan tenis yang sangat layak, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. “Terlebih lagi, Provinsi Sumatera Selatan ini merupakan salah satu pusat kegiatan perusahaan yang menjadi sponsor event ini, yakni PT Medco Energi Internasional Tbk. Hal ini juga untuk mengakomodir petenis yunior di wilayah Sumatera agar dapat mencicipi turnamen level nasional,” pungkasnya.

Kembar Ana dan Ani, Petenis Muda Andalan Merah Putih di ASEAN Schools Games 2019

Si kembar Ana dan Ani menjadi andalan Indonesia di ASG 2019, di Semarang, Jawa Tengah. (Kemenpora)

Nama lengkapnya Fitriana dan Fitriani, dua perempuan kembar yang biasa disapa Ana dan Ani ini menjadi salah satu atlet muda yang menjadi andalan Indonesia di cabang olahraga tenis. Salah satu ajang internasional yang akan dihadapi petenis remaja kelahiran Tangerang, Banten, 13 Februari 2001 itu, dalam waktu dekat yakni ASEAN Schools Games (ASG) 2019, di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), pada 17-29 Juli. Berawal dari melihat sang kakak si Ani bermain tenis, Ana pun mulai tertarik dan mengikuti jejak sang kakak pada usia 8 tahun. Di situlah si kembar ini mulai dilatih oleh sang ayah, Nursalim yang juga pelatih untuk mulai menggeluti dunia tenis tersebut. “Motivasi awal terjun ke dunia olahraga tenis ini karena awalnya aku memang suka tenis, terus dilatih oleh ayah. Kemudian melihat aku mainnya bagus, banyak dikenal orang, Ana jadi ikutan main. Dari awal memang kami dilatih oleh Ayah. Ayah itu sabar banget, ngerti kalau kita lagi capek, lagi kurang bagus mood-nya. Nggak pernah dipaksa, cuma disemangatin terus,” ujar Ani dikutip dari situs resmi Kemenpora, Selasa (18/6/2018). Semenjak itu, di bawah bimbingan sang Ayah mulai mengikuti sejumlah kejuaraan tenis pada nomor ganda putri. Pada usia 15 tahun, Ana dan Ani berkesempatan mendalami karir sebagai atlet junior profesional di bawah binaan PPLP (Pusat Pembinaan dan Pelatihan Pelajar) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Saat ini, si kembar Ana dan Ani sudah tercatat sebagai atlet junior lapis satu. Bakat yang dibina dan terus diasah sejak kecil akhirnya mulai menampakkan hasil yang gemilang. Pada usia 17 tahun Ana dan Ani menyumbangkan medali emas bagi Indonesia pada ajang multievent atlet pelajar ASG 2018, di Malaysia, pada nomor ganda putri. Sebelumnya, remaja kembar ini juga tercatat sebagai Finalist Double Women Circuit 15. Sampai sekarang remaja kembar tersebut mengaku masih dilatih dan terus dibimbing oleh Nursalim. Karena bagi Ana dan Ani apa yang mereka raih hari ini barulah awal dari sebuah perjuangan yang sebenarnya. Perjuangan yang lebih berat dan lebih panjang, sebab mereka memiliki cita-cita yang tinggi untuk mengharumkan nama Indonesia, khususnya melalui olahraga tenis lapangan. Sebagai salah satu langkah mewujudkan cita-cita tersebut, tahun ini Ana dan Ani dikabarkan akan kembali bertanding pada ajang ASG 2019 yang akan digelar pada Juli nanti di Semarang, Indonesia. “Kalau ASEAN School Games (ASG) mungkin persiapannya udah 90 persen ya, kebetulan 2 bulan besok (Juni sama Juli) kita juga ada tanding. Mungkin ASG itu penutupan,” tutur Ana. Hingga saat ini, keduanya konsisten untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. Ana dan Ani optimis dapat kembali menyumbangkan medali emas bagi Indonesia. Mereka mengaku bahwa sejauh ini persiapannya sudah matang, kendala-kendala selama latihan juga dapat teratasi dengan baik. Ana dan Ani menyatakan sudah siap diminta turun pada ASG 2019. Ke depannya, petenis kembar ini bercita-cita terus bermain bersama hingga go internasional. Keduanya juga berharap dapat bermain di salah satu kompetisi WTA (Women’s Tennis Association) serta menyumbangkan sebanyak mungkin medali emas untuk Indonesia.

Siapkan 16 Atlet Pelatnas, PP Pelti Bidik Dua Emas di SEA Games 2019

PP Pelti optmis Aldila Sutjiadi Cs bisa meraih dua medali emas di SEA Games 2019, Filipina, November mendatang. (Adt/NYSN)

Jakarta- Menghadapi SEA Games 2019, Filipina, November mendatang, Pengurus Pusat (PP) Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti) sangat optimis. Induk organisasi olahraga di bawah pimpinan Rildo Ananda Anwar itu yakin Aldila Sutjiadi dan kawan-kawan mampu membawa pulang medali emas di ajang multievent olahraga dua tahunan tersebut. “Kami menargetkan bisa meraih dua medali emas di SEA Games mendatang. Dua emas itu diharapkan berasal dari pasangan ganda campuran (Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi) dan ganda putri (Beatrice Gumulya/Jessy Rompies),” ujar Rildo, di Stadion Tenis Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Rabu (15/5). Target dua emas yang dibebankan kepada skuat tenis Indonesia itu, bukan tanpa alasan. Di ajang Asian Games 2018, duet Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi sukses mempersembahkan medali bagi kontingen Merah Putih. Lebih lanjut, Rildo menjelaskan saat ini pihaknya sudah memanggil 16 atlet untuk melakukan Pelatnas (pemusatan latihan nasional), dimana salah satunya adalah petenis junior Priska Madelyn Nugroho. “Kami sudah memanggil 16 atlet yang terdiri dari 8 putra dan 8 putri. Pada 20 Mei nanti, mereka sudah mulai berlatih di Wisma Sanitia Pejompongan, Jakarta,” tambah Rildo. Terkait pemilihan lokasi Pelatnas di luar kawasan GBK, Rildo menyebut bila hal tersebut dilakukan karena dinilai lebih efisien. “Di Pejompongan itu ada dua lapangan tenis baru yang bisa digunakan. Tidak hanya itu saja, disana juga sudah tersedia tempat penginapan untuk para atlet, jadi lebih mudah, efektif, efisien,” ungkap Rildo. Saat ini, sebagian pemain Indonesia masih menjalani serangkaian turnamen di luar negeri. Christopher Rungkat mengikuti Busan Open, Jessy Rompies dan Aldila menjalani turnamen Singapore W25, dan Priska Madelyn berlaga di sebuah turnamen di Italia. Dan, ke 16 atlet yang dipanggil mengikuti Pelatnas merupakan perpaduan antara pemain senior dan junior. Untuk pemain putra yakni Christopher Benjamin Rungkat, David Agung Susanto, Ignatius Anthony Susanto, M Rifqi Fitriadi, Odeda M Arazza, Ari Fahresi, M Ali Akbar, dan Nauvaldo Jati Agatra. Sedangkan di kategori putri yaitu Beatrice Gumulya, Aldila Sutjiadi, Jessy Priskila Rompies, Deria Nurhaliza, Priska Madelyn Nugroho, Janice Tjen, Fitriana Sabrina, dan Fitriani Sabatini. Sementara agenda training center (TC) untuk try-in dan try-out yang akan diikuti, di antaranya ITF Wolrd Tennis Tour Men Hongkong 25K (3-16 Juni), ITF Junior J5 Nonthaburi di Thailand (10-22 Juni), ITF Wolrd Tennis Tour Women 25K di Jepang (19-25 Agustus). Lalu, ITF Junior J5 di Thailand (12-17 Agustus), ITF Junior J4 di Jepang (28 Agustus – 1 September), ITF World Tennis Tour Women Japan 25K (2-8 September), Davis Cup Indonesia vs Selandia Baru di Palembang (14-15 September), ITF Junior J4 di Thailand (21-26 Oktober), dan terakhir TC di Thailand selama sebulan, sebelum akhirnya terjun di SEA Games Filipina pada November mendatang. (Adt)

Kurmin Halim Minta KONI dan Menpora Tak Akui Hasil Munaslub PB PTMSI

14 Pengprov PTMSI yang tidak sepakat hasil Munaslub melakukan aksi walk out. (Adt/NYSN)

Jakarta- Calon Ketua Umum PB (Pengurus Besar) PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia), Kurmin Halim meminta KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat dan Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) tidak mengakui hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PB PTMSI yang digelar di Hotel Twin Plaza, Jakarta, Sabtu (11/5) malam. Sebab, Munaslub yang salah satu agenda memilih Ketua Umum PB PTMSI periode 2019-2023 tidak memenuhi kourum akibat 14 Pengprov (Pengurus Provinsi) PTMSI melakukan aksi walk out. “Pieter Layardi sebagai kandidat telah merekayasa Munaslub PB PTMSI dengan mengarahkan peserta untuk kepentingannya. Makanya, 14 Pengprov PTMSI yang tidak sepakat melakukan aksi walk out. Jadi, saya minta KONI Pusat dan Kemenpora bertindak fair dengan tidak mensahkan hasil Munaslub,” ujar Kurmin. Sejak awal, Kurmin yang juga Ketua Pengprov PTMSI Sumatera Selatan (Sumsel) sudah melihat adanya ketidakberesan dalam pelaksanaan Munaslub. Yakni, pimpinan sidang Kol Sus (Purn) Irfan tidak membuka secara transparan tentang keabsahan peserta yang hadir. “Pimpinan sidang hanya menyebutkan Munaslub dihadiri 30 Pengprov PTMSI, tetapi menolak saat diminta menyebutkan secara rinci. Ini jelas merusak citra dunia olahraga Indonesia yang menjunjung tinggi sportifitas,” lanjutnya. Menurut Kurmin, dirinya bersedia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PB PTMSI atas permintaan Pengprov dan keinginan untuk menyatukan dualisme organasi tenis meja Indonesia. “Saya itu maju mencalonkan sebagai Ketua Umum PB PTMSI karena diminta dan berkeinginan memperbaiki tenis meja Indonesia. Perlu diketahui bahwa target saya setelah terpilih adalah mempersatukan dualisme organisasi tenis meja Indonesia. Dualisme inilah yang harus diselesaikan sehingga kita bisa bersama-sama membangun prestasi olahraga tenis meka ke depan,” tambah Kurmin. Sementara itu, Azrad, Ketua Pengprov PTMSI Sulawesi Barat (Sulbar), mengakui memang ada rekayasa yang dilakukan dalam Munaslub. Sebagai bukti, ia menyebut, AD/ART tentang tata tertib Munaslub yang belum pernah diplenokan. “Saya itu termasuk dalam Tim Tujuh yang menyusun AD/ART tentang tata tertib Munaslub. Tetapi AD/ART itu tidak pernah dibahas dalam rapat pleno,” cetusnya. “Yang lebih parah lagi, tata tertib Munaslub itu kan harus dibacakan dan dikoreksi seluruh peserta. Tapi, semua ini tidak diindahkan malah yang melakukan instruksi disuruh keluar,” ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa Munaslub PB PTMSI jelas tidak sah. “Munaslub PB PTMSI itu tidak memenuhi kourum. Dengan walk outnya 14 Pengprov PTMSI sudah jelas syarat Munaslub yang harus dihadiri 2/3 anggota tidak memenuhi kourum. Ini cacat hukum,” tukasnya. Ke-14 Pengprov PTMSI yang melakukan aksi walk out yakni Jambi, Sumsel, Aceh, Sumatera Barat, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sulbar, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Papua Barat, Maluku, dan Sulawesi Utara. (Adt)

Apresiasi Timnas Pertahankan Tiket Group I Piala Fed, PP Pelti : Modal Positif ke SEA Games 2019

Tim nasional (Timnas) Piala Fed Indonesia sukses mempertahankan tiket di group I Asia Oceania. Torehan itu didapat setelah Aldila Sutjiadi Cs menaklukan Tim Thailand dengan skor 2-1, di Astana, Kazakhstan, pekan lalu. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim nasional (Timnas) Piala Fed Indonesia sukses mempertahankan tiket di group I Asia Oceania. Torehan itu didapat setelah Aldila Sutjiadi Cs menaklukan Tim Thailand dengan skor 2-1, di Astana, Kazakhstan, pekan lalu. Rildo Ananda Anwar, Ketua Umum PP (Pengurus Pusat) Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti), mengapresiasi hasil positif ini. “Kami sangat mengapresiasi keberhasilan yang sudah ditorehkan para atlet kami di Asia Oceania,” ujar Anwar, di Sekretariat Pelti Senayan, Jakarta, Senin (11/2). Dijelaskannya, torehan positif ini akan menjadi modal berharga menghadapi pesta multievent terbesar di Asia Tenggara, pada akhir tahun nanti. “Ini tentu akan menjadi modal kami untuk menuju ajang SEA Games 2019 yang akan digelar di Filipina nanti,” lanjutnya. Lebih lanjut, Anwar menerangkan hasil yang diraih Tim Piala Fed Indonesia kali ini dapat dikatakan mengalami kemajuan. Sebab, ungkapnya, pada tahun sebelumnya skuat Indonesia meraih hasil yang kurang konsisten. “Selama ini posisi Tim Fed Cup selalu pasang-surut. Tapi, kali ini mereka stabil di Grup 1,” cetus Anwar. Ia menegaskan Tim Piala Fed Indonesia yang terdiri dari Beatrix Gumulya, Aldila Sutjiadi, Jessy Rompies, dan Deria Nur Halizq, didampingi Dedy Tedjamukti (Pelatih) itu akan dipertahankan dalam ajang SEA Games 2019 Filipina. “Tim ini akan dipertahankan, selama seleksi junior belum masuk ke level mereka. Tapi, untuk SEA Games 2019, kami akan akomodir 60 persen junior dan 40 senior,” tutur Anwar. Sementara itu, Aldila mengatakan, hasil positif mempertahankan posisi untuk tetap berada di Group I tidaklah mudah. Apalagi, lawan yang dihadapi memiliki peringkat di atas para pemain Indonesia. “Di Piala Fed ini, semua lawan kami, seperti Korea, Cina dan Thailand memiliki ranking di atas kami. Bahkan, di Group I itu, kami adalah underdog,” tukas peraih medali emas tenis ganda campuran Asian Games 2018 bersama Christopher Rungkat. Menurut Aldila, selama ini performa dirinya dan kolega kerap naik turun, sehingga untuk tetap berada di Group I sangat sulit. “Akhirnya kami bisa tetap bertahan dan tahun depan masih berada di Group I,” pungkas dara kelahiran Jakarta, 2 Mei 1995. (Adiantoro)

Tekuk Unggulan Keenam, Priska Jumpa Seeded Kesembilan Australia Open Junior 2019

Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil andalan Merah Putih itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea, dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. (topskor.co.id)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil Merah Putih di turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea. Priska unggul dalam laga rubber set dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. Sebelumnya, di laga pembuka Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1), Priska menyudahi petenis Korea Selatan, Yoen Woo Ku, juga dengan tiga set 6-3, 6-7, 6-4. “Saya sempat kehilangan konsentrasi ketika unggul 3-1 di set awal. Kejadian serupa nyaris terulang pada set kedua. Tapi saya bisa kembali mengontrol permainan dan menyelesaikan set kedua dan percaya diri menyelesaikan set berikutnya,” ucap Priska usai laga. Partai seru berdurasi satu jam 18 menit itu, berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park ini. “Serve pertama menjadi kunci kemenangan ini,” imbuh dara manis berkawat gigi yang lahir 29 Mei 2003 ini. Merujuk statistik pertandingan, Priska sanggup melesakkan tujuh kali aces alias serve yang tak tertepis lawan. Padahal, rata-rata kecepatan servisnya hanya 144 km/jam, yang sejatinya lebih pelan dari Ma Lea, yang mencatat rerata ace 147 km/jam. Pada babak ketiga, Rabu (23/1), Priska bakal kembali menghadapi lawan yang tak kalah berbobot, yakni Kamilla Bartone. Petenis Latvia peringkat 21 dunia itu menempati posisi unggulan kesembilan turnamen. Di babak 32 besar, remaja semampai kelahiran Riga, Latvia, 7 Juni 2002 itu, menang atas andalan Australia, Olivia Gadecki 7-6(4) 4-6 6-3. Sepekan silam, saat tampil di babak kedua turnamen pemanasan di Traralgon, Priska unggul straight set atas Gadecki 6-4 6-2. “Kalau Priska mampu mempertahankan level permainan seperti babak kedua, saya yakin peluangnya cukup besar melewati babak 16 Besar,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska selama di Negeri Kanguru. (Adt) Hasil Selasa (22/1)Babak Kedua (32 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) 5-7 6-3 6-0 Jadwal Rabu (23/1)Babak Ketiga (16 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 9-Kamilla Bartone (Latvia)

Tantang Unggulan Keenam Asal New York di Australia Open Junior, Priska : Siap Siapapun Lawannya

Petenis Indonesia peringkat 44 dunia, Priska Madelyn Nugroho (15 th) akan menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat berperingkat 19 dunia, Ma Lea (17 th), pada babak kedua Australia Terbuka Junior, pada Selasa (22/1). (picssr.com)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat, Ma Lea, pada babak kedua Australia Open Junior 2019, pada Selasa (22/1). Pertemuan antara peringkat ke-44 dan 19 dunia itu dijadwalkan berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park. Lawan Prsika terhitung cukup matang dari sisi usia. Lea adalah petenis berdarah Tionghoa berasal dari Dix Hills, New York. Dara kelahiran 1 Februari 2001 ini merupakan atlet timnas USA, yang tampil dalam ajang Olimpiade Remaja (Youth Olympic) pada Oktober 2018 lalu, di Buenos Aires, Argentina. “Pokoknya saya siap saja melawan siapapun karena memang tak ada lawan yang mudah di ajang level grand slam seperti ini,” ucap Priska, tak gentar ketika dihubungi pada Senin (21/1), yang tampil di arena pertandingan turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu. “Berusaha main terbaik dan semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada,” lanjut dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 ini. Kiprah Priska, satu-satunya wakil Merah Putih di arena grand slam ini hanya tersisa di nomor tunggal, menyusul kekalahannya pada babak pertama ganda, Senin (21/1). Duet Priska/Wei Sijia kandas di tangan unggulan kedua asal Thailand, Thasaporn Naklo/Mananchaya Sawangkaew 0-6 2-6 hanya dalam tempo 46 menit. “Lawan sangat dominan dari awal pertandingan. Priska dan partnernya kesulitan dan tak mampu keluar dari tekanan,” ulas pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska. Menurut Ryan, faktor jam terbang juga sangat berpengaruh dalam pertarungan di level grand slam. “Pasangan Thailand itu sangat kompak dan lebih berpengalaman tampil di grand slam seperti Australia Terbuka ini. Sementara Priska dan Wei memang baru melakukan debut di ajang seperti ini,” paparnya. Priska dan Wei Sijia merupakan petenis termuda yang masuk sebagai direct acceptance babak utama Australia Terbuka Junior 2019. “Semoga Priska dapat segera melupakan kekalahan di nomor ganda dan bisa mengambil banyak pelajaran dari pertandingan itu agar lebih siap menjalani partai babak 32 besar tunggal,” tandasnya. (Adt) Jadwal Selasa (22/1)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) Hasil Senin (21/1)Priska Madelyn Nugroho / Wei Sijia (China) v 2-Thasaporn Naklo / Mananchaya Sawangkaew (Thailand) 0-6 2-6

Hadapi Wakil Korsel di Babak Pertama Australia Open Junior 2019, Priska : Dia Kawan Berlatih

Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (15 tahun), akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1). Peringkat ke-45 junior dunia itu, bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku. (tribunnews.com)

Jakarta- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, Minggu (20/1). Dari hasil undian babak utama yang dilakukan Jumat (18/1), peringkat ke-45 junior dunia itu bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku, pada laga perdana. Yeon yang saat ini berada di urutan ke-127 junior dunia, masuk babak utama menggunakan fasilitas wild card, setelah memenangi Australia Open Asia Pacific Play Off di Zhuhai (Tiongkok), awal Desember 2018. “Meskipun belum pernah bertemu di lapangan, dia bukanlah lawan yang asing karena beberapa kali berlatih bersama,” tutur Priska, pada keterangannya Jumat (18/1) seusai melakoni latihan di Albert Reserve Park, Melbourne. “Saya optimistis bisa melaju ke babak kedua,” ucap Priska. Akhir tahun lalu dalam persiapan menuju Australia Terbuka ini, bersama Yeon, dara kelahiran Jakarta 29 Mei 2003 bahkan turut mengikuti pemusatan latihan bersama dengan mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabilles di Bangkok, Thailand. “Semua lawan di level Grand Slam tidak ada yang mudah. Kami semua berusaha untuk bermain semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada. Mohon doa dan dukungan dari seluruh pencinta tenis indonesia,” ucap pelatih Ryan Tanujoyo bersama Elbert Sie, yang mendampingi kiprah Priska, selama di Australia. Bila mampu menepiskan perlawanan Yeon, Priska bakal terlibat bentrok dengan pemenang laga antara unggulan keenam dari Amerika Serikat, Lea Ma dan wakil Rusia, Elina Avanesyan. Priska juga akan tampil di nomor ganda berpasangan dengan petenis asal Tiongkok, Wei Sijia. Keduanya adalah petenis termuda yang lolos sebagai Dirrect Acceptance Babak Utama Australia Terbuka Junior 2019. Undian partai ganda, berlangsung pada Sabtu (19/1). Hadirnya Priska, menandai kehadiran kembali wakil Merah Putih di ajang Grand Slam setelah cukup lama petenis Indonesia absen dari turnamen tenis kelas wahid dunia. (Adt)

Takluk dari Nomor Empat Dunia, Petenis 15 Tahun Asal Jakarta Kalah Speed Dan Power

Langkah petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (kiri) harus terhenti di babak 16 besar turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Minggu (13/1). Priska tumbang straight set dengan skor 1-6 2-6, dari seeded teratas asal Denmark, Clara Tauson (kanan). (Tribunnews.com)

Victoria- Langkah petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (15 th) akhirnya terhenti di babak 16 besar turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Minggu (13/1). Peringkat ke-45 junior dunia itu harus mengakui keunggulan seeded teratas asal Denmark, Clara Tauson (16). Priska kalah dari petenis nomor empat dunia itu straight set dengan skor 1-6 2-6. “Awalnya sebenarnya Priska dapat mengimbangi irama permainan lawan, tetapi memang lawan bermain sangat baik dan sangat konsisten,” ungkap sang pelatih, Ryan Tanujoyo, seusai laga. “Faktor kekalahan hari ini ada di speed dan power. Namun, Priska mendapatkan banyak pengalaman berharga dari pertandingan hari ini,” jelas Ryan, dalam pesan singkatnya kepada sejumlah jurnalis di Jakarta. Ryan berharap, seusai terhenti di turnamen AGL Loy Yang, Priska mendapatkan banyak pengalaman berharga dan dapat memberikan hasil yang lebik baik di Australian Open Junior pekan depan. Meski telah terhenti, Priska beserta duet pelatih Ryan dan Elbert Sie memutuskan tetap berada di Traralgon, hingga Rabu (16/1). “Saat ini, justru lebih mudah mendapatkan lapangan latihan di Traralgon, karena kami baru bisa menggunakan fasilitas latihan Australia Open Junior 2019, di Melbourne, mulai Kamis (17/1),” tutur Ryan. Priska dijadwalkan bakal tampil di babak utama turnamen grand slam Australia Terbuka Junior yang bergulir mulai 19 Januari. Selain di nomor tunggal, dara kelahiran Jakarta 23 Mei 2003 ini, akan turun di sektor ganda, putri berpasangan dengan petenis asal Tiongkok, Wei Sijia. (Adt)

Libas Petenis Tuan Rumah, Priska Besok Tantang Unggulan Teratas

Tampil di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) berhasil menyisihkan perlawanan andalan tuan rumah, Olivia Gadecki melalui laga straight set 6-4 6-2. (sportschannelindonesia.co.id)

Victoria- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) tampil apik di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia. Bermain pada partai pembuka di lapangan utama Traralgon Tennis Club, Sabtu (12/1), Priska menekuk andalan tuan rumah, Olivia Gadecki, lewat laga straight set 6-4 6-2. “Rasanya lega, akhirnya bisa revans atas Olivia,” ucap Priska yang kini bercokol di peringkat ke-45 dunia junior. Walau menempati posisi ke-144 dunia, Olivia menjadi momok bagi Priska, sepanjang musim kompetisi tahun lalu. Dalam tiga kali pertemuan, tak sekalipun Priska mampu memetik kemenangan. “Laga ini sebenarnya bukan laga yang mudah bagi Priska untuk menemukan irama permainan. Apalagi kondisi lapangan yang tak cukup membantu karena sangat berangin,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang mendampingi anak didiknya bersama Elbert Sie selama di Australia. “Awalnya sempat tertinggal 1-3, namun Priska konsisten menjalankan strategi yang telah kami rancang yakni memberi pressure ke arah badan lawan. Hal itu sangat efektif mematikan lawan dan menghasilkan angka kemenangan,” imbuhnya. Namun, Priska enggan jemawa lantaran sadar tantangan yang menghadangnya makin berat dalam ajang pemanasan grand slam Australia Terbuka ini. Pada babak 16 besar, Minggu (13/1) dia harus terlibat bentrok dengan unggulan teratas, Clara Tauson. Wakil Denmark itu bertengger di urutan keempat dalam daftar peringkat junior dunia. “Sejauh ini, Clara lawan berperingkat tertinggi yang pernah saya hadapi. Namun tak ada alasan untuk takut. Saya siap menghadapi siapapun,” tegasnya. “Mudah-mudahan Priska tampil percaya diri di babak berikutnya dan bermain all out,” harap Ryan. Gadis kelahiran Jakarta 2 Mei 2003 itu sebelumnya, pada babak pertama melangkah mulus, usai menang mudah atas petenis kualifikasi asal Italia, Lisa Pigato, Jumat (11/1). Priska menang straight set 6-0 6-1. Sayangnya langkah Priska di nomor ganda, sudah harus terhenti di laga perdana. Duetnya bersama wakil China, Wei Sijia kandas di tangan seeded ketiga, Natsumi Kawaguchi (Jepang) dan Andrinn Nagy (Hungaria) 4-6 1-6. (Adt)

Debut Perdana di Grand Slam Australia 2019, Petenis 15 Tahun Asal Jakarta Bidik Delapan Besar

Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (tengah), akan segera memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 tampil di turnamen junior berlevel grand slam, di Stadion Melbourne Park, Melbourne, pada 19 Januari. (istimewa)

Jakarta- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, tak sabar memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 itu berharap penampilannya di turnamen berlevel grand slam di Melbourne Park itu, mampu memberi kebanggaan bagi Merah Putih. Ia membidik target minimal menjejak perempat final tunggal putri kategori yunior. “Australia Open adalah grand slam pertama saya menekuni tenis. Tentu saya sangat bersemangat bertanding di ajang tersebut,” ujar Priska di Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, sesaat sebelum bertolak menuju Australia, pada Senin (7/1). “Target ingin masuk perempat final Australia Open, namun saya berusaha semaksimal mungkin mendapat hasil yang lebih bagus,” lanjut petenis di posisi ke-45 yunior putri dunia itu. Tak sekedar sesumbar, namun optimisme yang membuncah dalam diri Priska itu muncul, lantaran dia telah cukup mengenal kekuatan calon-calon lawannya. “Kalau petenis Eropa dan Amerika Serikat sudah cukup tahu ketika bertanding di babak final Fed Cup Junior di Hungaria, tahun lalu,” tuturnya. “Lawan dari Asia dan Australia, tak hanya kenal permainan, sebab sering berlatih bersama seperti di Bangkok, akhir tahun lalu bersama petenis Thailand, Korea dan Jepang,” jelasnya. Selain tampil di babak utama tunggal putri yunior, Priska juga berlaga di nomor ganda berpasangan dengan petenis peringkat ke-88 asal Tiongkok, Wei Sijia. Menghadapi laga debutnya di Australia Open 2019, Priska telah melakoni sejumlah persiapan matang. Selain menjalani latihan rutin bersama Elbert Sie dan Ryan Tanujoyo di Bandung, dia juga mengikuti training camp bersama mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabiles di DNA Tennis Bangkok, yang dikelola mantan petenis top Thailand, Danai Udomchoke, akhir tahun lalu. “Kami persiapkan matang semua faktor yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan Priska di Australia Open, terutama fisik dan mental,” cetusnya. Semoga mendapat hasil yang maksimal, setidaknya masuk delapan besar,” ucap Ryan yang bersama Elbert, bakal mendapingi anak didiknya itu menjalani debutnya di Australia Open. “Mohon doanya agar keberuntungan juga memayungi langkah Priska karena semua juga tergantung hasil undian. Semoga Priska bisa berada pada top berformance selama di Autralia,” imbuhnya. Australia Open kategori yunior, akan berlangsung pada pekan kedua turnamen grand slam pembuka, yakni 19 hingga 26 Januari 2019. Namun, sebelumnya Priska akan turun di turnamen pemanasan yakni ITF Junior Grade 1, berlabel AGL Loy Yang Junior Internasional di Traralgon, Victoria, Austrlia, pada 11-16 Januari. Penampilan Priska di Australia Open 2019 memberi angin segar bagi Indonesia, sebab cukup lama wakil Merah Putih tak unjuk gigi di turnamen internasional bergengsi. (Adt)