Menangi Laga Ketat Lawan Wakil Korea, Liliyana Natsir : Mereka Bukan Pasangan yang Junior Banget

Ganda Campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (merah) melangkah ke babak perempat final, cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Jumat (24/8), usai menekuk perlawanan ketat, wakil Korea Selatan, Seo Seung Jae/Chae Yujung. (Riz/NYSN)

Jakarta- Ganda Campuran utama Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mendapatkan perlawanan ketat dari wakil Korea Selatan, Seo Seung Jae/Chae Yujung, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Jumat (24/8), setelah di babak 32 besar mendapatkan bye. Tampil di Istora Senayan, Jakarta, Owi/Butet, sapaan akrabnya, sempat memimpin di interval gim pertama 11-8. Namun Seo/Chae mengimbangi perlawanan tuan rumah. Kerja keras dobel Korea ranking 82 dunia tak sia-sia. Mereka mampu mengimbangi hingga kedudukan 19-19. Namun, peraih gelar All England tiga kali berturut-turut (2012, 2013, 2014) membuktikan kelasnya sebagai dobel dunia dengan tampil tenang di poin kritis, dan menutup gim pertama dengan skor 22-20. Pasangan Pelatnas PBSI Cipayung itu makin percaya diri di gim kedua. Kembali memimpin di interval gim kedua 11-7, performa Owi/Butet makin impresif. Mereka tak memberikan kesempatan pada lawan untuk memundi angka secara mudah. Setelah memainkan laga selama 45 menit, akhirnya peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil itu mengunci kemenangan dengan skor 21-17. Usai laga, Butet mengatakan dirinya bersama Owi tidak kaget bakal mendapatkan perlawanan ketat. “Mereka bukan pasangan yang junior banget, dan sering ikut pertandingan level tinggi. Apalagi mereka pemain kidal, karena kami biasa ketemu pemain bertangan kanan,” ujar pemain kelahiran Manado, Sulawesi Utara (Sulut), 32 tahun silam itu. Senada, Owi mengungkapkan Seo/Chae merupakan pemain bagus, terlebih mereka pasangan muda dan mainnya sangat cepat. “Kalau kami lengah bisa berbahaya,” jelas pria Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), 18 Juli 1987 itu. Di babak perempat final, unggulan tiga ini akan meladeni perlawanan pemain non unggulan asal Hongkong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah yang menang atas Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia), rubber game, 21-17, 19-21, dan 28-26. Sementara itu, tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting butuh waktu 27 menit untuk lolos ke babak 16 besar. Ia memulangkan wakil Iran Mehran Shahbazi yang berperingkat 403 dunia, di babak 32 besar, dalam pertarungan dua game langsung, 21-9 dan 21-8. Terkait kondisi kram paha kiri yang dialami pebulutangkis berusia 21 tahun, kelahiran Cimahi, Jawa Barat (Jabar) itupun, diakuinya sudah membaik. “Puji Tuhan sudah membaik dibandingkan dengan kemarin. Selama pemulihan, saya mendapatakan perhatian lebih dari tim fisioteraphy,” ujar Anthony usai laga. Ia mengalami kram paha kiri saat melakoni laga dramatis di partai final nomor beregu kontra China, pada Rabu (22/8). Anak pasangan Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu) itu harus mundur di gim ketiga ketika berjumpa dengan tungal utama Negeri Tirai Bambu, Shi Yuqi. Indonesia akhirnya kalah 1-3 dari China. Di babak 16 besar, pemenang kompetisi MILO School Competition kategori tunggal putra SD pada 2008 itu kembali menjajal kekuatan wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota. Pertemuan mereka merupakan laga ulangan semifinal beregu putra. Pemain asal klub SGS PLN Bandung itu, kalah rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21. (Adt)

Dua Bulan Jelang Perhelatan Asian Para Games 2018, Sekitar 3.038 Atlet Disabilitas Sudah Terdaftar

Raja Sapta Oktohari (Ketua INASGOC), Tarek Souei (CEO of APC), Adiati Noerdin (3rd Vice Chairman of INAPGOC) saat memberikan Press Conference The 6th Coordination Commission Meeting, di Hotel Grand Melia, Jakarta, Sabtu (4/8). (Adt/NYSN)

Jakarta- Dua bulan jelang pesta olahraga atlet-atlet penyandang disabilitas di negara Asia (Asian Para Games 2018), sekitar 3.038 atlet sudah resmi mendaftarkan diri. Hal itu dikatakan Raja Sapta Oktohari, Ketua Panitia Pelaksanan Asian Para Games (INAPGOC) 2018. Ia menyampaikan dalam event Press Conference 6th Coordination Commission Meeting, di Jakarta, Sabtu (4/8). Dalam kesempatan itu, juga hadir Tarek Souei (CEO of Asian Paralympic Committee/APC), dan Adiati Noerdin (3rd Vice Chairman of INAPGOC). “Registrasi saat ini sudah terdaftar 3.038 atlet, dan 1.847 official serta 433 media asing. Selain itu, untuk kedatangan para atlet akan menggunakan terminal 2 dan 3 Bandara Soekarno-Hatta dengan dukungan jalur khusus dan ambulift untuk memperlancar proses akreditasi dan pemindahan atlet disabilitas,” ujar Okto, sapaan akrabnya. Pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1975 itu menyebut akan terdapat sekitar 1.400 atlet yang menggunakan kursi roda (wheelchair), dan mereka nantinya akan langsung dijemput setibanya dari pesawat. “Para atlet dan official juga sudah mulai melakukan pengurusan visa di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di negara masing-masing,” lanjutnya. Okto menambahkan terkait publikasi media marketing akan ada strategi publikasi dan media sosial yang lebih masif dan interaktif pada September mendatang. “Ini sesuai arahan pemerintah agar kami gencarkan pada saat Asian Games 2018 selesai. Begitu juga dengan publikasi profile para atlet disabilitas untuk meningkatkan pengetahuan publik tentang Asian Para Games 2018,” terang putra dari Oesman Sapta Odang itu. “Kami siap melakukan eksposure besar-besar tak hanya soal Asian Para Games, tapi juga kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah dan ramah terhadap penyandang disabilitas,” tegas Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2011-2014 itu. Sementara itu, Adiati menjelaskan Asian Para Games 2018 memberikan inspirasi terutama bagi para disabilits jika mereka mempunyai kesempatan yang sama dengan atlet lainnya. “Ini sangat menginspirasi bagi orang-orang yang berkebutuhan khusus dan mereka memiliki kesempatan yang sama seperti yang lainya,” tukas Adiati. (Adt)

Selain Fokus Pelaksanaan, Demi Asian Para Games 2018 INAPGOC Beri Kursi Pijat Bagi Wartawan

Tes Event Asian Para Games 2018 menjadi bahan evaluasi yang sangat krusial bagi INAPGOC, jelang penyelenggaraan Asian Para Games 2018. (Ham/NYSN)

Jakarta- Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018 cabang olahraga (cabor) Bulutangkis usai dilaksanakan, sejak Rabu hingga Kamis (27-28/6), yang digelar di Istora Senayan, Jakarta. Ditengah berlangsungnya event, dilaksanakan pula pertemuan di Conference Room, Main Press Centre, Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada Kamis (28/6). Pertemuan ini dihadiri Taufik Yudi Mulyanto selaku Deputi I INAPGOC, juga Direktur Sport INAPGOC yakni Fanny Riawan, dan Tina Talisa dari Divisi Media dan PR. Beberapa hal diantaranya dibahas terkait pelaksanaan test event cabor bulutangkis yang telah berlangsung, hingga evaluasi sarana dan prasarana untuk atlet, pengunjung maupun media. Taufik Yudi mengawali diskusi dan membahas perihal teknis pelaksanaan event cabor bulutangkis, yang digelar di Istora Senayan. “Sejak hari pertama, banyak yang didapat, diantaranya yakni teknis di lapangan,  aturan dan regulasi, jadwal pertandingan, tata cara pelaksanaan, hingga proses manajer meeting” ungkap Taufik. Dari sisi venue, ia meyakinkan jika pihaknya berusaha seoptimal mungkin, guna mempermudah akses para atlet VIP, dan penonton yang membutuhkan penanganan khusus. “Bulutangkis bisa dijadikan pelajaran untuk tes event cabor renang, atletik, dan whellchair basket. Bertepatan dengan akan berlangsungnya Truamen Bulutangkis Indonesia Open, INAPGOC juga akan mempelajari pelaksaan teknis dari event itu,” tambah pria pemilik gelar Magister Ilmu Pendidikan ini. Hal lain yang menjadi tantangan paling mendesak untuk diperhatikan yakni persiapan wasit berlisensi, venue lapangan, dan koordinasi lintas divisi terkait. Direktur Sport INAPGOC, Fanny Riawan memaparkan penjelasannya. Menurutnya, klasifikasi wasit perlu dilakukan, guna menyeleksi wasit yang potensial. “Ya termasuk klasifikasi atlet, sebelum mereka bermain. Contohnya adalah klasifikasi jenis kecacatan si atlet. Tidak mungkin yang cacat bagian tangan, akan ditandingkan dengan yang cacat bagian kaki,” jelas Fanny. Selain itu, persiapan venue tak hanya untuk event pertandingan saja. Ia mengatakan mobilisasi penonton perlu diperhatikan. Sebab momen ini menjadi faktor kesadaran, agar masyarakat paham ada atlet yang kondisinya tak sempurna secara fisik. Sedangkan Tina Talisa selaku Divisi Media & PR, turut memaparkan jumlah jurnalis yang mendaftar, dan evaluasi sarana penunjangnya. “Ekspetasi kami ada 200 jurnalis, namun yang mendaftar ternyata mencapai 279 orang, padahal pelaksanaan registrasi kurang dari 10 hari. Penyediaan layanan di Media Press Centre dan venue, betul-betul kami perhatikan. Fasilitas penunjang, suasana kerja yang baik, makanan, bahkan kursi pijat, kami sediakan. Harapan kami, ini bisa menambah semangat bagi kinerja teman-teman wartawan,” tutup Tina. (Ham)

Pebulutangkis Disabilitas 20 Tahun Asal Jabar, Juarai Tes Event Indonesia Para Games 2018

Atlet Disabilitas Bulutangkis asal Jawa Barat, Dheva Anrimusthi (biru), menjuarai Test Event Asian Para Games 2018 cabang Bulutangkis. (Pras/NYSN)

Jakarta- Final cabang olahraga (cabor) bulutangkis kategori SU 5, dalam lanjutan Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (28/6), mempertemukan atlet asal Jawa Barat, Dheva Anrimusthi, melawan Suryo Nugroho dari Jawa Tengah. Pada babak pertama, Dheva langsung menggebrak dari awal pertandingan. Atlit Jabar ini mampu membungkam andalan Jateng 5-0. Namun, Suryo merangkak naik memperkecil ketertinggalan menjadi selisih satu angka pada skor 7-6. Namun, hingga jeda set pertama, Suryo tak mampu melampaui angka Dheva. Skor jeda set pertama yakni 11-9. Selepas itu, Dheva semakin percaya diri dan menjauh hingga selisih empat angka 14-10. Upaya demi upaya memangkas ketertinggalan oleh Suryo terjadi di angka 15-15. Hingga pada akhirnya Suryo unggul 15-16. Persaingan makin ketat lantaran set pertama harus ditentuka deuce point. Dan ketangguhan Dheva di set pertama membuatnya menang dengan skor 24-22. Memasuki babak kedua begitu berbeda dengan babak pertama saat Dehva unggul cepat diawal permainan. Di babak kedua, poin demi poin tak lebih berselisih satu angka dan bertahan hingga jeda set babak kedua dengan skor 11-10. Beberapa menit setelah jeda set kedua, Suryo tancap gas mengambil serangan cepat dengan mengubah skor 14-12. Dheva tak tinggal diam, ia memutarbalikkan keadaan menjadi 18-15. Tetapi, permainan belum berakhir. Set kedua kembali ditentukan lewat drama deuce point. Dheva yang lebih konsentrasi, akhirnya sukses menutup set kedua ini dengan skor kemenangan 23-21. Sebelum melangkah ke final, Dheva menyingkirkan wakil asal Jawa Timur, Oddie W, lewat pertarungan dua set langsung. Sedangkan sang lawan, Suryo, juga unggul dua set langsung atas wakil asal Jawa Barat, Hafiz Briliansyah, dengan skor 21-17 dan 21-16. Usai laga final, Dheva buka suara mengenai hasil pertandingannya. “Alhamdulillah bisa menang. Tapi ya intinya Tes Event ini merupakan ajang uji lapangan buat kami, sebelum tampil di turnamen sesungguhnya nanti”, ujar pemuda kelahiran 5 Desember 1998 ini, Kamis (28/6). Ia mengaku jika pertemuan dengan Suryo ini tak berbeda seperti ajang latihan. Mereka sudah sering melakukannya, di momen latihan maupun turnamen. “Saya sering bertemu dengan Suryo, karena kita juga kan latihan dan main bareng,” pungkas atlit disabilitas binaan Klub bulu tangkis Sangkuriang Graha Sarana (SGS), Bandung, Jawa Barat. (Dre)

Hadapi Asian Para Games 2018, Pebulutangkis Difabel M. Subhan Asal Banten Fokus Genjot Fisik

Atlet difabel cabor bulutangkis asal provinsi Banten, Muhammad Subhan, tampil di Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018, pada Rabu (27/6). (Ham/NYSN)

Jakarta- Sejumlah atlet difabel Indonesia terus mematangkan persiapan jelang Asian Para Games, pada 6-13 Oktober 2018. Salah satunya, atlet bulutangkis asal provinsi Banten, Muhammad Subhan. Ia fokus pada pembenahan fisik, mengingat lawan yang akan dihadapi dipastikan memiliki fisik yang prima. “Dibanding negara-negara lain, untuk persiapan di Asian Para Games nanti, kami yang masih kurang adalah soal fisik. Makannya, saat ini yang digenjot itu masalah fisik,” ujar Subhan, usai melakoni laga menghadapi wakil DKI Jakarta, Chandra Yuda. Ia menang dua gim langsung, 21-15, dan 21-15, pada tes event bertajuk ‘Indonesia Para Games Invitational Tournament’ cabang Para Bulutangkis, di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (27/6). Pria kelahiran Bangka Belitung, 10 Desember 1986 itu, mengungkapkan para atlet difabel hingga kini masih menjalani pemusatan latihan nasional (Pelatnas), di Solo, Jawa Tengah, yang dimulai sejak awal tahun ini. “Kami latihan setiap hari dari Senin sampai Sabtu. Seminggu itu cuma dua kali ke lapangan. Sisanya lebih banyak penguatan fisik,” lanjutnya. Di Asian Para Games 2018, Subhan mentargetkan bisa meraih peringkat 4. Bukan tanpa alasan, menurutnya, negara seperti Korea, China, dan Jepang masih menjadi yang terkuat di kawasan Asia. “Untuk peringkat 1 dan 2 masih dipegang Korea. Kalau peringkat 3-4 itu China dan Jepang. Selama di Pelatnas harus ada peningkatan. Insya Allah bisa kasih yang terbaik dan mencapai target di Asian Para Games 2018, apalagi Indonesia tuan rumah,” tukas Subhan. (Adt)

Indonesia Para Games Invitational Tournament Dibuka, INAPGOG Uji Kesiapan Sistem dan SDM Hadapi Asian Para Games 2018

Ketua Umum INAPGOC, Raja Sapta Oktohari, jadi inspektur upacara saat seremonial pengibaran bendera 13 negara peserta 'Indonesia Para Games Invitational Tournament', di pelataran wisma atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/6). (Adt/NYSN)

Jakarta- Acara seremonial pengibaran 13 bendera negara peserta di pelataran wisma atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/6) sore, menjadi penanda dibukanya gelaran test event bertajuk ‘Indonesia Para Games Invitational Tournament’, pada 27 Juni – 3 Juli 2018. Event yang digelar di Komplek Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta itu akan mempertandingkan lima cabang olahraga yakni atletik, bulutangkis, renang, tenis meja, dan bola basket kursi roda. Dari lima cabang tersebut, atletik, bulutangkis, renang, dan basket kursi roda masuk dalam kategori invitasi. Sedangkan tenis meja masuk dalam kategori sanction, yakni event tersebut diakui oleh Federasi International sebagai babak kualifikasi untuk Paralympics. Raja Sapta Oktohari, Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Asian Para Games (INAPGOC) 2018, menyebut gelaran ‘Indonesia Para Games Invitational Tournament’ akan menjadi sarana menguji sistem dan sumber daya manusia (SDM) INAPGOC sebagai bekal menghadapi Asian Para Games 2018, Oktober mendatang. “Di test event ini, kami ingin mendapatkan feedback sebagai bahan rujukan untuk pelaksanaan Asian Para Games 2018, pada Oktober nanti. Dan, hari ini di Wisma Atlet kami mengibarkan 13 bendera negara peserta ‘Indonesia Para Games Invitational Tournament’,” ujar pria yang akrab disapa Okto itu. Pria berusia 42 tahun itu menjelaskan pihaknya fokus pada tiga parameter, yakni sport, wisma atlet, dan transportasi. Sebab, lanjutnya, ketiga hal itu menjadi fokus evaluasi setiap melaksanakan pertemuan dengan Asian Paralympic Committee (APC). “Seperti transportasi, kami akan menguji sistem dari kedatangan, setelah itu diantar ke wisma atlet, lalu diantar ke tempat mereka latihan dan bertanding, dan akhirnya diantar kembali ke tempat dimana nantinya mereka akan kembali ke negara masing-masing,” tutur putra dari Oesman Sapta Odang itu. Tak hanya itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan stakeholder, utamanya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) guna meyakinkan bahwa Indonesia harus siap menjadi negara yang ramah bagi penyandang disabilitas. “Untuk itu kami menjalin komunikasi yang sangat intens dengan Pemprov (Pemerintah Provinsi) DKI Jakarta, begitu juga dengan stakeholder lainnya guna memastikan bahwa Indonesia bisa jadi tuan rumah yang baik,” tutup Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2011-2014 itu. (Adt)

Pengamanan Test Event Asian Para Games 2018, Panitia Libatkan 2500 Personil Keamanan

INAPGOC menggelar rapat tekhnis pengamanan test even Asian Paragames 2018, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta pada Kamis (7/6). (Adt/NYSN)

Jakarta- Panitia Pelaksana Indonesia 2018 Asian Para Games (INAPGOC) bersiap menggelar test event atau ujicoba bertajuk ‘Indonesia Para Games Invitational Tournament’, 25 Juni – 3 Juli 2018, di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Tujuannya, untuk menguji kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Para Games (APG) 2018, dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, dan elemen pendukung lainnya. Test event itu akan mempertandingkan lima cabang olahraga yakni atletik, bulutangkis, renang, tenis meja, dan bola basket kursi roda. Guna mengamankan gelaran test event itu, Deputi IV Keamanan INAPGOC akan melibatkan 2500 personil. “Kami menggelar rapat koordinasi tekhnis pengamanan test event dengan Deputi IV yang bertanggung jawab soal keamanan dan pelaksanaan Asian Para Games 2018,” ujar Raja Oktosaptahari, Ketua Umum INAPGOC, di Jakarta, Kamis (7/6). Dalam rakor tekhnis pengamanan, dikatakan Okto, Deputi IV memberikan gambaran tentang persiapan terkait pengamanan Asian Para Games 2018. “Mudah-mudahan ini menjadi gambaran kesiapan panitia Asian Para Games 2018,” ujar anak dari Oesman Sapta Odang itu. Sementara, Asisten Operasi (Asops) Kapolri Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Deden Juhara, Deputi IV Keamanan INAPGOC, mengatakan jika pihaknya telah memetakan terkait pengamanan test event Asian Para Games 2018. “Deputi IV nanti akan bekerjasama dengan Deputi lainnnya, sehingga kegiatan test event nanti akan kami amankan, mulai dari kedatangan atlet di Bandara, kemudian wisma atlet, sampai dengan saat pertandingan, termasuk jalur lalu lintas,” tutur Deden. Ia menyebut pihaknya mengerahkan 2500 personil keamanan jajaran kepolisian dan TNI. “Jumlah itu tidak harga mati, tergantung ada masukan terkait ancaman keamanan yang meningkat akan kami libatkan yang lain. Untuk itu kami siap, untuk Asian Para Games 2018 melibatkan jajaran kepolisian dan TNI,” ungkapnya. “Kami akan maksimalkan dan harus aman. Karena ini adalah pesta olahraga menyangkut kredibilitas negara, sehingga dipastikan haruslah aman, sebab akan dipantau dunia,” tegas Deden. (Adt)

Apresiasi Kinerja INAPGOC, Menpora : Tak Hanya Peringkat, Ini Soal Kemanusiaan dan Menghargai Perbedaan

Menpora Imam Nahrawi menghadiri Rapat Pleno Panitia Nasional Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC) 2018, di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (19/5). (Adt/NYSN)

Jakarta- Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengapresiasi kinerja Panitia Pelaksana Indonesia Asian Para Games 2018 (INAPGOC) dalam mempersiapkan pesta multievent olahraga untuk para atlet penyandang disabilitas. “Asian Para Games juga harus sukses. Sukses sebagai penyelenggara, sukses prestasi, sukses ekonomi, dan sukses administrasi. Namun, yang harus ada pada Asian Para Games yaitu sukses legacy,” ujar Imam saat menghadiri Rapat Pleno INAPGOC 2018, di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (19/5). Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan agar seluruh panitia INAPGOC bisa bekerja lahir batin. Karena, sebut Imam, menjadi panitia penyelenggara Asian Para Games itu butuh penanganan, kekuatan, dan kesabaran lebih. “Asian Para Games bukan semata-mata perbaikan peringkat atau prestasi, tapi ini soal kemanusiaan dan soal menghargai perbedaan serta adanya pengakuan bahwa Indonesia adalah negara yang ramah disabilitas. Termasuk di dalamnya persamaan bonus seperti halnya atlet Asian Games,” tegas Imam. Sementara, Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum INAPGOC, menyebut Asian Para Games edisi ketiga ini bakal diikuti 43 negara, dengan 3.200 atlet, dan 1.500 official, dan terdapat 1.300 atlet yang menggunakan kursi roda. Selain itu, tambah pria yang akrab disapa Okto, Asian Para Games mempertandingkan 18 cabang olahraga, serta ada cabang olahraga baru yang dipertandingkan pada gelaran kali ini yakni catur. “Dalam perhitungan kalender panitia mempersiapkan Indonesia Para Games Invitational Tournament 27 Juni- 3 Juli, yang mempertandingkan 5 cabang olahraga yakni Para Atletik, Para Badminton, Para Swimming, Para Table Tenis, serta Wheelchair Basketball,” terang Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) itu. “Memang waktunya sangat singkat, tapi kami sudah siap. Sedangkan untuk athlete village sudah dibuka pada H+3 lebaran. Intinya kami persiapkan semuanya sesuai dengan jadwal,” tukas Okto. (Adt)

Pembinaan Atlet Paralympian Di Daerah Minim, Pelatih : Kami Harus Mulai Dari Nol

Trio pelatih tim voli putri paralympic Indonesia yakni Achmad Suparto, Deddy Whinata, dan Matsuri akan diuji pada Asian Para Games 2018, Oktober. (Kemenpora)

Jakarta- Tiga pria asal Sumenep, Madura, Jawa Timur, yakni Achmad Suparto, Deddy Whinata dan Matsuri, dipercaya menjadi pelatih tim voli Paralympic Indonesia. Bagi trio Madura ini tak mudah menjadi pelatih atlet disabilitas. Kesulitan terbesar yang mereka hadapi adalah saat memompa mental dan percaya diri atlet yang sebagian besar memiliki keterbatasan fisik. Deddy mengatakan melatih atlet voli paralympian sangat berbeda dengan dengan atlet voli biasa. Terutama, dalam pergerakan tubuh. Sementara, menurutnya, pergerakan dan teknik dasar dalam permainan voli duduk, sangat berbeda dengan voli biasa. “Kami melatih mereka dari dasar, karena teknik pergerakan tubuh, sangat penting dalam pertandingan. Sementara pembinaan atlet paralympian di daerah sangat minim. Jadi kami harus memulainya dari nol,” ujar Dedy usai laga kontra Kazakhstan, Rabu (9/5), dalam Kejuaraan Dunia ParaVolley Wanita 2018 di Chengdu, China, 7-12 Mei. Deddy menyebut ketika di lapangan, peran pelatih sangat penting untuk menentukan hasil pertandingan. Untuk itu, Deddy bersama pelatih lainnya, selain meracik strategi untuk meraih kemenangan, juga kerap mengontrol kondisi mental pemain. Sebab, masalah mental, ungkap Deddy, merupakan pondasi utama bagi pemain menghasilkan pertandingan yang baik. “Kalau semangat mereka sangat antusias dalam melaksanakan program latihan yang sudah diterapkan pelatih. Hanya saat bertanding, kami seringkali membangun mental mereka dengan semangat bertanding,” cetusnya. “Kadang mereka dilihat orang jadi kecil hati dan berpengaruh terhadap mental mereka di lapangan. Jadi mengontrol mental mereka, saya akui menjadi masalah utama yang harus diperhatikan dengan baik,” urai Deddy. Tampil di event internasional ini dikatakan Deddy sangat penting membangun mental pemain. Ia melanjutkan tiga pertandingan pertama sangat terlihat mental anak asuhnya turun ketika menghadapi tim-tim besar seperti China, Ukraina dan Jepang. “Kami tak mematok target pada kejuaraan ini. Kami ingin menguji mental para pemain menghadapi tim kuat seperti China atau Rusia. Hasilnya jadi bekal kami di Asian Para Games 2018,” timpal Achmad. Sedangkan kiprah trio pelatih tim voli putri Paralympic Indonesia ini diuji pada Asian Para Games pada Oktober mendatang. Dedy dan Achmad yang sudah memiliki lisensi pelatih ParaVolley level I Internasional ini, diharapkan bisa memberikan kontribusi besar untuk tim Indonesia. “Kami bertiga yakin bisa memberikan yang terbaik untuk tim voli putri paralympic Indonesia di Asian Para Games nanti. Apalagi kami nanti menyandang predikat sebagai tuan rumah,” tutup Dedy. (Adt)

Status Venue Beberapa Cabor Tak Jelas, INAPGOC Tunggu Jawaban Pemerintah

Raja Sapta Oktohari (Ketua Umum INAPGOC 2018) akan membawa kendala soal kesiapan venue Asian Para Games 2018 ke otoritas yang lebih tinggi. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tersisa 175 hari persiapan, Panitia Pelaksana Asian Para Games 2018 (INAPGOC) dihadapkan kendala soal kesiapan venue beberapa cabang olahraga penyandang disabilitas seperti menembak, atletik, dan balap sepeda. Masalah venue ini memang menjadi salah satu catatan pada Seminar Chef de Mission (CdM), sebelum berlangsungnya 5th Coordination Commission Meeting (Corcom), di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, pekan ini. Untuk venue menembak, INAPGOC mengaku berkomunikasi dengan pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). Sebelumnya, Kemenpupera menyarankan untuk menggunakan venue menembak di Kawasan Jakabaring Sport Center, Palembang, Sumatera Selatan. Namun, INAPGOC beralasan dengan memindahkan venue membuat biaya yang dikeluarkan akan membengkak. Selain itu, terbentur Intruksi Presiden (Inpres) yang menyatakan penyelenggaraan Asian Para Games (APG) 2018 tidak ada yang digelar di luar Jakarta. Bahkan, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemeko PMK) yang seharusnya memastikan teknis koordinasi antar kelembagaan tetap mengatakan jika hasil Rapat Koordinator tingkat Menteri pada 6 April 2018, memutuskan venue menembak yang akan digunakan dalam APG 2018 bukan di Senayan. Melainkan menggunakan fasilitas menembak milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kemenpupera mengaku tidak bisa merenovasi Lapangan Tembak Senayan, dengan alasan mepetnya waktu renovasi. “Soal pengambilan keputusan, akan kembali pada pemegang keputusan tertinggi. Jadi pada saat rapat koordinasi (Rakor) level Menteri berikutnya, semua hal seperti soal venue, dan lain-lain sudah diselesaikan,” ujar Nyoman Shuida, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan PMK disela-sela Corcom. Soal venue atletik, INAPGOC masih belum menentukan lokasi pertandingan karena terkendala oleh pemilihan beberapa arena pertandingan, meski telah berkoordinasi dengan para Ketua Kontingen (Chef de Mission/CdM) masing-masing negara peserta. “Untuk venue atletik, kami sebenarnya menyediakan dua venue. Bisa di main stadium (Stadion Utama) Gelora Bung Karno (GBK) atau di Stadion Madya. Namun, hasil seminar CdM, mereka meminta tidak ada pemisahan perlombaan, sehingga seluruh pertandingan digelar di main stadium GBK,” terang Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum INAPGOC. Sementara, untuk venue balap sepeda khususnya nomor balapan jalan raya, INAPGOC melirik Sirkuit Sentul di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun, lagi-lagi terbentur Inpres. Jika gagal digelar di Sirkuit Sentul, maka opsi yang dipilih adalah meniadakan nomor balapan itu. Sebab, tidak ada venue lain yang lebih representatif. “Andai sulit mencari venuenya, nomor road race sepertinya akan didrop (dihilangkan), karena tak ada tempatnya. Nanti, balap sepeda mungkin hanya akan tanding nomor trek, di velodrome,” jelas pria yang akrab disapa Okto itu. Terkait kendala yang dihadapi, serta waktu yang semakin dekat pada pelaksanaan APG 2018, Okto mengatakan akan membawa persoalan ini ke otoritas yang lebih tinggi. “Kami menyampaikan wacana ini saat Corcom untuk meminta pendapat perwakilan Dewan Paralimpik Asia (APC) dan juga menyampaikannya pada Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla, agar keputusannya bisa lebih intensif. Karena waktunya sudah sangat mepet,” tegas putra dari Oesman Sapta Odang itu. (Adt)

Pembuktian Jakarta Ramah Bagi Penyandang Disabilitas, Test Event APG 2018 Digelar Juni

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan panpel APG 2018 (INAPGOC), siap gelar Test Even pada Juni, usai event Coordination Commision Meeting ke-5. (Pras/NYSN)

Jakarta- Enam bulang jelang pelaksanaan Asian Para Games (APG) 2018, semua pihak terus bersinergi guna mensukseskan gelaran event olahraga terbesar di Asia bagi para penyandang disabilitas. Sandiaga Salahuddin Uno, Wakil Gubernur DKI Jakarta, mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah siap menyambut gelaran APG 2018. Ia berjanji pihaknya akan membantu semaksimal mungkin serta memenuhi segala kebutuhan yang diminta panitia penyelenggara APG 2018 (INAPGOC). “Jakarta sudah siap menyambut pelaksanaan APG 2018. Kami akan memenuhi semua kebutuhan terkait suksesnya event besar bagi penyandang disabilitas. Termasuk kebutuhan venue yang segera selesai semua,” ujar Sandiaga di acara Coordination Commision Meeting ke-5, di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Jumat (13/4). Ditegaskan pria berusia 48 tahun itu, pelaksanaan APG 2018 bukan hanya tanggung jawab pemerintah melainkan semua pihak. Untuk itu, lanjut Sandiago, event ini sekaligus membuktikan bila Jakarta sangat ramah bagi para penyandang disabilitas. “Fokus kami adalah bagaimana Jakarta ramah terhadap teman-teman penyandang disabilitas, sekaligus membentuk awareness yang tinggi. Sehingga mereka mendapat tempat yang baik,” tambah ayah tiga anak itu. Tak hanya Asian Games 2018, Agustus-September mendatang, ia menjamin gelaran APG 2018 akan tetap meriah dengan kehadiran penonton. “Kalau sudah ada alokasi tiket, nanti kami tugaskan Dinas Pendidikan maupun unit lain untuk membantu mengerahkan suporter. Dijamin tidak akan kosong penonton,” jelasnya. Namun, pada APG 2018, Sandiaga menyatakan pihaknya tak akan meliburkan anak sekolah. Hal itu, terang suami dari Nur Asia, karena jumlah atlet serta pertandingan lebih sedikit. “Kami putuskan dari Coordination Commission Meeting ini rekomendasinya tidak libur (sekolah). Mungkin hanya alokasi tiket di sekitar venue untuk menurunkan kepadatan,” cetus anak pasangan Razif Halik Uno dan Mien Rachman Uno itu. Senada, Raja Sapta Oktohari, Ketua Panitia Pelaksana APG 2018 (INAPGOC), menyebut pihaknya membutuhkan banyak dukungan guna mensukseskan penyelenggaraan APG 2018. “Kami sadar tak mudah untuk menggelar ajang yang melibatkan 43 negara,” tutur Okto. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sepeda Sport Indonesia (PB ISSI) itu, berharap Pemprov DKI Jakarta memberikan dukungan maksimal agar pihaknya mendapatkan hasil memuaskan. “Kami minta dukungan penuh Pemprov. Kami masih punya tiga tugas utama yakni finalisasi dari sport, atlet village dan transportasi. Segera kami simulasikan hal tersebut. Semoga, kami siap menggelar test event pada 27 Juni hingga 3 Juli 2018,” tukas putra dari Oesman Sapta Odang itu. (Adt)

Tunjuk Wakil Jaksa Agung Jadi CdM APG 2018, Sesmenpora : Punya Kompetisi Soal Anggaran

INAPGOC gelar Chefs de Mission Seminar Asian Para Games 2018, di Kawasan Senayan, Jakarta, selama dua hari. (Adt/NYSN)

Jakarta- Pemerintah melalui Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), Gatot S. Dewa Broto, mengumumkan Chefs de Mission (CdM) Kontingen Indonesia di Asian Para Games (APG) 2018 adalah Wakil Jaksa Agung RI, Arminsyah. “Saya kemarin siang ditugaskan Menpora (Imam Nahrawi), menemui Wakil Jaksa Agung, dan mengantarkan surat permohonan kepada Jaksa Agung untuk mengizinkan Wakil Jaksa Agung sebagai CdM Asian Para Games 2018,” ujar Gatot didampingi Raja Sapta Oktohari (Chairman INAPGOC). Selain Okto, Gatot juga didampingi Majid Rashed (Presiden Paralympic Committee) saat acara Chefs de Mission Seminar Asian Para Games, di Kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (11/4). “Beliau memiliki leadership, kompetensi dalam hal penggunaan anggaran, dan sudah tidak asing di dunia olahraga,” lanjutnya. Ia menyebut gelaran APG 2018 merupakan pekerjaan besar, antara pemerintah pusat, INAPGOC, pemerintah DKI Jakarta, serta berbagai pihak saling bahu membahu guna mensukseskan salah satu event bersejarah di Tanah Air itu. “Okto tidak sendiri. Pemerintah pusat, pemerintah DKI dan berbagai pihak akan bahu membahu demi suksesnya Asian Para Games yang akan menjadi sejarah besar bangsa Indonesia,” tambahnya. Sementara, Okto, mengatakan pihaknya berkomitmen menjadi tuan rumah yang baik bagi seluruh atlet yang bertanding pada Asian Para Games 2018, sekaligus penyelenggara yang sukses dari semua aspek. “Misi yang kita emban sebagai tuan rumah adalah menjadikan Indonesia secara umum atau Jakarta secara khusus, menjadi negara atau kota yang ramah difabel, serta memberikan legacy yang baik terutama kepada atlet ataupun komunitas difabel,” tutur Okto. Acara yang digelar selama dua hari itu dihadiri Chefs de Mission dari 29 negara yang akan berpartisipasi pada Asian Para Games 2018, dari 43 negara yang akan berpartisipasi di ajang multi-event bagi atlet difabel. (Adt)

Asian Para Games 2018 Siapkan 300 Atlet, Menpora : Anggaran Pelatnas Cair Hari Jumat

Imam Nahrawi mengelar rapat dengan Presiden National Paralympic Committee (NPC) Indonesia Senny Marbun, dan 16 pelatih cabor Asian Para Games 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengaku optimis Indonesia bisa meraih prestasi terbaik di ajang Asian Para Games 2018. Atlet Para Games, menurutnya, telah membuktikan prestasinya saat event ASEAN Para Games 2017, di Malaysia, yang sukses melampaui target. “Sebagai tuan rumah, tentu ini modal yang sangat penting bagi Indonesia, mengantisipasi kekuatan negara lain di Asian Para Games 2018, yang diikuti 43 negara,” ujar Imam, didampingi Mulyana (Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga). Hal ini diungkapkan Menpora saat mengelar rapat bersama Senny Marbun (Presiden National Paralympic Committee/NPC) Indonesia, dan 16 pelatih cabang olahraga (Cabor) Asian Para Games 2018, di Kantor NPC Indonesia, di Solo, Jawa Tengah, Senin (2/4). Pria asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, menyebut untuk Asian Para Games Indonesia harus mempersiapkan 300 atlet. Ia juga meminta kepada INAPGOC untuk membantu, sehingga dari sisi penyelenggaraan dan prestasi bisa berjalan dengan baik. “Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para pelatih yang dengan sabar membimbing dan mengawal para atlet. Tentu ini merupakan perjuangan buat kita semua untuk nama baik Indonesia,” sambung ayah 7 anak itu. Terkait anggaran, suami dari Shobibah Rohmah itu, menyebut anggaran telah diberikan kepada NPC, dan prosesnya tinggal menunggu petunjuk teknis (Juknis), yang terkait dengan pengadaan barang. “Semoga pada Jumat (6/4), Juknis ini selesai. Itu artinya, baik soal akomodasi sampai alat-alat sudah terpenuhi semuanya. Kami juga siapkan bonus, yang setara dengan perjuangan mereka,” tambah Imam. Sementara, Senny Marbun, menjelaskan terdapat 18 cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan pada Asian Para Games 2018. “Dari jumlah cabor itu, lima di antaranya merupakan cabor baru, yakni cabor Boccia, Paracycling, Basket Kursi Roda, Judo Tunanetra, dan Lawn Ball. Selain itu, ada Atletik, Renang, Tenis Meja, Panahan, Angkat Berat, Bulutangkis, dan cabor lainnya,” urainya. (Adt)

Pantau TC Asian Paragames 2018 di Solo, Menpora: Jangan Ditutupi Kalau Ada Kekurangan !

Imam Nahrawi, Menpora, mengunjungi Pelatnas atlet Paragames 2018 di Solo, Jawa Tengah. (kemenpora)

Jakarta- Sebagai bagian dari persiapan gelaran Asian Paragames di Jakarta, Oktober 2018, ratusan atlet National Paralympic Committee (NPC) kini menjalani Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Kota Solo, Jawa Tengah. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), bersama Mulyana (Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora), Bayu Rahadian (Asisten Deputi Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Khusus Olahraga), Raja Sapta Oktohari (Ketua Panitia Asian Para Games/INAPGOC), dan Senny Marbun (Ketua NPC Indonesia), menyambangi para atlet Paralimpian guna memberikan suntikan semangat dan motivasi. “Kedatangan saya guna memberi semangat kepada mereka. Saya tekankantak perlu ada yang ditutup-tutupi. Kalau ada kekurangan sampaikan. Saya terima, supaya lebih mantap mengantar atlet,” cetus peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur, Selasa (13/3). Ia mengungkapkan pihaknya memahami kesulitan NPC dalam mempersiapkan segala perencanaan baik alat maupun hal lain. Sebab, lanjutnya, model keuangan pemerintah sudah dirubah. Bila dahulu dikelola oleh Kementerian, maka pada penganggaran tahun 2018 ini dilimpahkan ke cabang olahraga dan NPC. “Dari rekening pemerintah sebesar Rp 130 miliar langsung dikirim ke rekening NPC. Tentu sebelum dikirim harus ada perencanaan yang baik. Kebutuhan anggaran seperti pembelian peralatan harus dirinci sedetail mungkin. Dari situ baru kita melakukan MoU,” tegas Imam. Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu meminta agar masalah-masalah tersebut jangan dijadikan sebagai hambatan. “Itulah fakta hal seperti itu harus dipenuhi. Tapi hal itu sudah terlewati. Tinggal waktu yang tersisa ini untuk dilakukan percepatan untuk pembelian alat,” tutup pria berusia 44 tahun. (Adt)