Cidera Saat Bermain Voli Tidak Menghalangi Tekad Angga Untuk Meneruskan Jejak Sang Ayah

Angga-Pratitis-Setyasa-Voli

Perjalanan mengejar cita-cita menjadi seorang atlet memang butuh perjuangan. Seperti cerita dari Angga Pratitis Setyasa yang merupakan salah satu atlet cabang olahraga voli di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017. Cowok yang akrab disapa Angga ini merupakan wakil dari wilayah Jawa Tengah yang membawa pulang medali perak. Berawal dari cerita sang ayah yang merupakan pemain voli didaerah asalnya, Angga mulai tertarik untuk mengikuti jejak sang ayah. Saat naik ke kelas 3 Sekolah Menengah Pertama, Angga bertekad untuk mendaftar masuk klub voli, Bina Taruna. Dengan kondisi hujan dan hari sudah mulai malam, Angga bersama ayahnya tetap berangkat untuk mendaftar klub yang berada tidak jauh dari kediamannya tersebut. “Saya suka bermain voli karena dengar cerita Bapak yang dulu pemain voli di kampung. Saat naik kelas 3 SMP, saya diantar bapak daftar di klub yang ada di Semarang, Bina Taruna. Saya ingat pada waktu itu daftarnya malam-malam, dengan kondisi hujan pula,”tuturnya Pintu untuk mengikuti berbagai kompetisi voli mulai terbuka, setelah Angga mendaftar di klub Bina Taruna. Saat kelas 1 SMA, ia terpilih dalam seleksi Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) di Jawa Tengah dan menang juara 1 dalam kompetisi Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas). Tak hanya itu, setelah lulus SMA prestasi Angga semakin gemilang. “Setelah lulus SMA, saya diambil klub senior Semarang Bank Jawa Tengah dan alhamdulilah masih disana sampai sekarang. Selama kuliah juga saya pernah menang juara 1 Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) se-Jawa Tengah, juara 2 POMNas 2017 dan kemarin baru saja saya mengikuti Pra Pekan Olahraga Provinsi (PorProv) alhamdulilah juga juara 2,” ucapnya kepada nysnmedia.com View this post on Instagram A post shared by Angga Setyasa (@anggasetyasa1) Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 jurusan Administrasi Bisnis ini pernah mengalami cedera dibagian engkel kaki, dan ia membutuhkan pemulihan selama 2 bulan. Ia juga sempat berbagi cerita saat ia bertanding di Cilacap. “Saya pernah main di Cilacap jadi saya ngeblock pakai kepala saya tapi di spike sama lawan. Kepala saya langsung pusing, tapi permainan tetap berlanjut.”tutupnya(put/adt)

Ulan, Atlet Taekwondo Junior Yang Berhasil Meraih Medali Emas

Wulan-Kusuma-Wardani

Menjaga berat badan sangatlah penting termasuk untuk para atlet. Seperti yang dilakukan atlet cantik asal Bandung, Jawa Barat, bernama lengkap Wulan Kusuma Wardani, gadis yang akrab disapa Ulan ini merupakan atlet medali emas pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas) 2017 untuk cabang olahraga Taekwondo. Baginya, menjaga berat badan sangat penting karena ketika ingin ikut turnamen para peserta akan ditimbang untuk tetap masuk dalam kategori yang akan dipertandingkan. “Setiap H-1 sebelum tanding selalu nimbang berat badan, kalau beratnya sudah tidak masuk kategori bisa-bisa di diskualifikasi. Alhamdulilah saya gak pernah tapi jadinya saya lebih jaga makan, gak boleh makan junk food dan lebih banyak latihan,”ujarnya Cewek yang hobinya travelling ini memang sudah banyak mengikuti berbagai turnamen seperti Kejuaraan Nasional Junior beregu dan individu, Pra Pekan Olahraga Nasional 2016 dan masih banyak lagi. Berawal dari mengikuti sang kakak latihan taekwondo, Ulan ikut mengisi waktu luangnya dengan taekwondo dan membawanya menjadi atlet nasional. “Saya masuk taekwondo awal mulanya hanya ikut kakak saya yang memang ikut taekwondo. Selain itu juga saya ingin cari teman baru dan sekadar ingin mengisi waktu luang. Bahkan ga kepikiran menjadi atlet dan memang baru beberapa kali latihan saya disuruh mencoba mengikuti kejuaraan se-kota Bandung. Alhamdulilah saya dapat medali emas, padahal saat itu lawan-lawan saya sabuknya lebih tinggi dan saya juga baru pemula,”tuturnya Siswa kelas 3 SMA di SMAN 14 Bandung ini memang sudah mengikuti taekwondo sejak 5 tahun lalu. Bagi Ulan, taekwondo merupakan beladiri modern dan lebih mengajarkan untuk peduli satu sama lain. “Saya lihat dan membandingkan taekwondo dengan bela diri lain ya memang taekwondo lebih keren dan seninya sangat professional dan lebih modern. Orang-orangnya juga diajarkan untuk peduli satu sama lain dengan cara menghadapi musuh,”tutupnya(put/adt)

Satu Pemain Rugby Banten Masuk Seleksi Timnas

Christoper-Aditya-Hardwika-Rugby

Olahraga Rugby merupakan permainan yang lebih mengutamakan kekuatan otot, dan sangat riskan untuk terjadinya cedera. Permainan keras menggunakan bola yang berbentuk lonjong. Aturannya pun jelas, pemain ataupun lawan harus berlari membawa bola untuk melewati garis lawan. Tak hanya itu, untuk mencetak poin pun bisa dengan cara menendang bolanya agar melewati garis lawan. Dan, pastinya poin yang didulang pun akan berbeda jika bola yang masuk dari hasil tendangan atau dibawa oleh pemain. Jika merebut bola dari lawan, pemain juga harus sama-sama jatuh. Meski olahraga ini terkenal keras, para pemain tak diperkenankan untuk membanting. Sepatunya pun, hampir mirip dengan sepatu pemain sepakbola. Nah, di Indonesia olahraga keras ini mulai berkembang. Baru-baru ini ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Rugby 2017 diselenggarakan yang bertemakan Road to Asean Games 2018. Diikuti oleh 11 Provinsi, ajang ini juga di peruntukan untuk mencari pemain-pemain yang bisa membela Timnas Rugby Indonesia di ajang Asean Games 2018, dimana Indonesia menjadi tuan rumah. Rugby Banten yang sedang berkembang, sudah seharusnya didukung oleh pemerintah demi kemajuan olahraga rugby. Pada ajang kejurnas pun, tim Banten sempat kesulitan mencari pemain, beruntung Banten berhasil meraih peringkat tiga. Tak hanya itu, rugby Banten patut berbangga, karena salah satu pemainnya terpilih untuk masuk dalam seleksi timnas rugby Indonesia. Pemain itu bernama Christoper Aditya Hardwika. Yang tak lain adalah sang kapten rugby Banten. Christoper pun, merasa bersukur dan merasa senang bisa dipanggil oleh timnas rugby untuk mengikuti seleksi. “Saya bersyukur bisa masuk masuk untuk seleksi timnas rugby untuk ajang Asean Games,” ucap Christoper. Christoper juga menyayangkan hanya satu pemain Banten yang dipanggil untuk seleksi timnas rugby, sebenarnya Banten memiliki banyak pemain bagus. Namun, hanya satu yang dipanggil untuk seleksi timnas. “Karena Kejurnas kemarin kan judulnya Road to Asean Games jadi sekalian mencari pemain. Tapi, sayangnya cuman ada 1 yang lolos dari Banten, padahal kita peringkat tiga,” pukasnya. (pah/adt)

Batal Bertanding Ke Myanmar, Bilal Terancam Keluar Dari Pelatnas

Bilal-atletik

Pengalaman cedera memang bisa menghalangi atlet untuk bertanding. Bilal Bilano, atlet atletik yang pernah mengalami kejadian cedera yang membuat ia tidak bisa ikut kompetisi di Myanmar. Bahkan Ia terancam tidak bisa menjadi atlet lagi dan akan dikeluarkan dari Pemusatan Latihan Nasional (PELATNAS). “Saya pernah cedera di bagian bokong selama 2 bulan. Saat itu, saya lagi mau ada kejuraan di Myanmar. Tetapi gara-gara cedera saya, akhirnya gak berangkat ke sana. Di situ saya hampir putus asa dan gak mau lanjutin lagi untuk jadi atlet, Karna pelatih saya bilang kalo saya gak bisa sembuh maka saya akan di pulangkan atau di keluarin dari pelatnas.” Ujarnya Kejadian yang terjadi pada 2014 lalu memang membekas bagi Bilal. Namun, meski sempat putus asa, Bilal diberikan motivasi dari keluarga. “Karena kejadian itu, saya hampir sangat putus asa. Yang bisa memotivasi saya hanya satu, yaitu keluarga. Hanya keluarga yang bisa buat saya balik untuk semangat lagi.”tuturnya Mahasiswa Administrasi Negara Universitas Moestopo Jakarta ini memang sudah mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional seperti ajang POMNas 2017, PON Jawa Barat 2016, Vietnam Open 2013, Thailand Qualification Olympic Youth 2014 dan Polandia Junior Champhionships 2016. Selain bangga mewakili Indonesia diajang internasional, Bilal juga mengalami kejadian yang menarik ketika melawan atlet-atlet dunia ajang Polandia Junior Champhionships 2016 lalu. “Waktu bertanding di Polandia, ya kita kan orang Asia bertemu kaya orang-orang yang dari Amerika dan Afrika. Mereka kan langkahnya panjang banget, dan untuk ngelangkah kebelakangnya itu dia bisa setinggi muka saya, bahkan hampir mengenai muka saya, ya itu sih yang membuat saya gak pernah lupa di pertandingan itu.”tutupnya (put/adt)

Berkat Figur Ayah, Katon Melesat Ke Turnamen Bola Basket Internasional

Katon Adjie Baskoro

Nasihat dari orang tua kepada anak memang sangat berarti, terutama untuk bekal masa depan sang anak. Dan perlu di catat, bahwa tidak ada seorangpun orang tua yang ingin mencelakai anaknya sendiri. Atlet basket asal Jawa Timur, Katon Adjie Baskoro atau yang akrab disapa Katon, dirinya sangat bersyukur menuruti nasihat sang ayah ketika ia sedang bingung memilih cabang olahraga yang akan ia tekuni. Ia sempat terjebak antara dua pilihan cabang olahraga kesukaannya, yaitu futsal dan basket. “Waktu saya SMA kelas 1, saya sempat cuti dari basket karena ingin menjalani futsal saja. Tetapi di kelas 2 dan 3 SMA, saya balik lagi ke basket hingga sekarang. Saya selalu ingat kata-kata papa saya “Mulai sekarang kayanya kamu harus pilih antara basket dan futsal karena sudah semakin dewasa” gitu kata papa saya. Saya jadi bingung. Terus papa juga beropini begini “basket merupakan olahraga yang lebih keren dibanding futsal. Karena semua orang Indonesia kayanya bisa main futsal tapi gak semua bisa main basket.” Yaudah akhirnya saya pilih basket deh.” Ujarnya Saran dari ayahnya tersebut membawa Katon memenangkan berbagai kompetisi nasional bahkan turnamen internasional seperti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017, Juara 1 Kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) 2014-2017. 3 on 3 di Shanghai China dan Juara 2 Southeast Asia Basketball Association (SEABA) di Singapura. Bagi Katon menjadi seorang atlet adalah hal yang menyenangkan bahkan berkat basket, ia berteman dengan atlet-atlet dari berbagai negara. “Pengalaman seru menjadi atlet basket menurut saya, jadi punya banyak teman dari setiap negara. Bisa jalan-jalan keluar negeri, bisa tahu budaya-budaya dinegeri orang lain dan bisa tukar pikiran mengenai basket di negara masing-masing,” tutur mahasiswa Manajemen Layanan Pariwisata Universitas Surabaya ini. Saat ini, Katon bergabung selama 3 tahun dalam klub basket nasional, CLS KNIGHT. Ia juga menuturkan bahwa setiap pertandingan, setiap lawan yang akan dihadapi memang susah. Namun dapat dihadapi dengan persiapan yang baik. “Menurut saya semua lawan itu susah. Tapi memang tergantung mental dan persiapan saya dan tim.” Tutupnya (put/adt)

Mimpi Dika Untuk Bertanding Dengan Sang Idola Terwujud Saat POMNas 2017

Safriliandika Ulul Umami di ajang POMNas 2017

Bertanding dengan atlet yang dikagumi memang menjadi tantangan tersendiri, seperti yang di alami oleh Safriliandika Ulul Umami atau Dika. Ia merupakan salah satu atlet cabang olahraga Kempo di ajang POMNas 2017. Dika menuturkan kepada nysnmedia.com bahwa ia semakin termotivasi lagi untuk latihan lebih baik setelah melawan sang atlet idola di semi final. “Saya pernah bertanding dengan atlet yang saya idolakan yaitu atlet asal Nusa Tenggara Timur. Saya suka karena dia main dengan bagus dan memang sering menang juga. Dari situ saya ingin bertanding dan melawannya. Kebetulan saat POMNas kemarin, saya bertemu di semi final. Tapi saya kalah, dan dari situ saya ingin terus berlatih biar lebih bagus lagi.” Ujarnya Gadis asal Jawa Tengah yang sudah mengukir prestasi sejak duduk dibangku SMA, semua bermula hanya sekadar ikut ekstrakulikuler Kempo di sekolah, dari saat itu Dika mulai serius latihan olahraga bela diri ini. Ia menceritakan bahwa Kempo tidak hanya belajar untuk bela diri tetapi juga untuk pengembangan diri pribadi. “Menurut saya, dengan bela diri Kempo tidak hanya bikin kita bisa bela diri. Tetapi kita juga bisa menambah teman karena pada dasarnya Kempo seperti sebuah persaudaraan. Selain itu kita bisa mengembangkan diri,” ucapnya. Mahasiswi Administrasi Negara Universitas Jendral Soedirman ini memang sudah mengikuti beberapa kejuaraan antar pelajar dan mahasiswa se-kabupaten Banyumas, Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kejuaraan Nasional Kota Surabaya dan POMNas 2017. Mengikuti kejuaraan POMNas 2017 memang momen pertama kali bagi Dika karena bertanding diluar pulau Jawa. Namun, ia sempat mengalami kendala ketika mengikuti ajang yang diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan tersebut. “Saat POMNas kemarin itu, nomor peserta yang ikut itu banyak. Jadi kadang jadwal yang dipertandingkan sering mundur. Kita harus mempersiapkan diri biar selalu siap karena kalau sewaktu-waktu dipanggil kita sudah langsung siap” tutupnya. (put/adt)

Tiga Film Inspiratif Yang Mengangkat Kisah Perjuangan Para Atlet Nasional

Perjuangan para atlet nasional memang perlu diabadikan terutama untuk menginspirasi anak-anak muda di Indonesia. Film merupakan salah satu wadah dimana cerita para atlet dapat didokumentasikan. Perlu kamu ketahui, beberapa film di Indonesia sudah mengangkat perjuangan dari para atlet nasional yang sudah berperan dalam mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Berikut 3 film yang inspiratif dari para atlet Indonesia tersebut. King Film King merupakan film yang terinspirasi dari atlet bulutangkis legendaris Liem Swie King. Film yang disutradarai oleh Ari Sihasale ini dirilis pada tahun 2009 lalu. Film ini menceritakan bagaimana perjuangan anak bernama Guntur untuk mengukir prestasi di cabang olahraga bulutangkis. Liem Swie King menjadi inspirasi Guntur dan juga idola dari sang ayah. Sang ayah yang juga seorang komentator bulutangkis memang sangat mencintai cabang olahraga ini meski bukan seorang atlet. Kecintaannya kepada bulutangkis ditularkan kepada Guntur hingga Guntur ingin menjadi juara dunia seperti Liem Swie King. Dengan semangat yang tinggi dan pengorbanan berat yang harus dilakukan, Guntur tak berhenti untuk berjuang mendapatkan beasiswa bulu tangkis dan meraih cita-citanya menjadi juara dunia bulu tangkis kebanggaan Indonesia. Meski ini bukan film biografi dari Liem Swie King, tetapi film ini sangat mengugah semangat anak muda yang menonton untuk selalu bersemangat dalam mengejar cita-cita. Liem Swie King yang lahir pada 28 Februari 1956 memang pernah menjadi perhatian publik sejak menang dari Rudy Hartono di final All England tahun 1976. Saat menjadi pemain bulutangkis nasional, Liem terkenal dengan smash andalannya, berupa jumping smash. Sejak saat itu ia dijuluki sebagai “King Smash”. Ditahun 1988, Liem mengundurkan diri sebagai atlet setelah 15 tahun telah mengukir prestasi di dunia bulutangkis.

Bagi Ajeng, Ucapan Sang Ibu Menjadi Obat Penenang Saat Bertanding Voli

Egidia-ajeng-rista-Voli

Menjadi seorang atlet memang perlu kekuatan fisik maupun batin. Tidak jarang para atlet sering mendapatkan ucapan yang tidak enak dari lawan dan saingan sesama atlet. Seperti yang sempat dialami oleh Ajeng, yang merupakan atlet voli asal Pontianak. Sering mendapatkan ucapan yang tidak enak dari lawan memang menjadi suatu tantangan tersendiri bagi gadis yang memiliki nama lengkap Egidia Ajeng Resta. “Omongan dari orang yang gak suka sama kita tuh jadi tantangan, yang bagiku merupakan tantangan paling berat. Ajeng selalu curhat sehabis pulang latihan sama Ibu terus Ibu bilang “mbak, kalau mau sukses kamu harus ngadepin hal seperti ini. Ini masih langkah awal, nanti semakin tinggi dan semakin hebat, kamu akan lebih banyak lagi omongan yang lebih dari ini. Orang hanya iri dan gak mau kamu sukses.” Jadi kalau sekarang masih ada yang begitu, Ajeng selalu ingat perkataan Ibu.” Ujar Ajeng Gadis yang sekarang duduk dibangku kelas 2 SMAN 7 Pontianak ini mengikuti 2 cabang olahraga, yaitu voli umum dan voli pantai. Pada awalnya, ia hanya mengikuti cabang olahraga voli, namun ketika ia diminta oleh sekolah untuk ikut cabang olahraga voli pantai dan ternyata ia berhasil menyabet juara 1 di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) dan Kejuaraan Daerah di Sintang. Bahkan ia menganggap bahwa saat bertanding voli pantai lebih sulit dibandingkan voli biasa. “Sebenarnya bertanding voli pantai lebih susah karena perlu kekompakan dan kerja sama yang maksimal. Misalnya skor kita baru 10 pasti udah capek banget soalnya memang fisik kita harus lebih kuat.” ucapnya Ajeng juga menambahkan bahwa ia merasa berkesan ketika kumpul dengan timnya baik saat menang maupun kalah. “Buat Ajeng yang berkesan selama main voli ya kalau kita menang selalu langsung kumpul dan makan bareng. Tapi kalau kita kalah juga harus kumpul dan ngomongin kesalahan saat pertandingan.”tutupnya (put/adt)

Meski Kurang Persiapan, Ahmad Zulfikar Mampu Meraih Medali Emas POMNas 2017

Ahmad-Zulfikar-(Kiri)-bersama-dengan-kembarannya-Ali-Fikri-(kanan)-saat-di-ajang-POMNas-2017-lalu

Persiapan adalah modal dasar dalam melakukan semua hal, karena sebuah kegagalan sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Berbeda dengan sosok pemuda ramah yang bernama lengkap Ahmad Zulfikar, atau yang sering disapa Fikar. Fikar merupakan atlet cabang olahraga Kempo, perwakilan dari Jawa Barat di ajang POMNas 2017. Fikar mengikuti cabang olahraga Kempo dari kategori pasangan, bersama kembarannya Ali Fikri. Fikar mengakui bahwa saat mengikuti ajang POMNas 2017 lalu, ia dan kembarannya memiliki persiapan yang kurang matang, dan tidak pernah menyangka akan mendapatkan gelar juara 1. “Persiapan POMNas kemarin cuma 3 minggu, dan tekniknya masih banyak yang harus diganti. Awalnya juga pesimis, karena persiapan yang kurang matang dan melihat lawan yang kemarin adalah juara 1 di PON. Tapi alhamdulillah semua karena ijin Allah saya menang.” Ujar Fikar Bertanding dari kategori berpasangan bukanlah hal yang mudah, karena harus memiliki persamaan agar kompak saat bertanding. Dan bagi Fikar, bermain bersama kembaran sudah tercipta secara alami untuk kompak. “Karena saya kembar jadi sudah sehati dan secara alami aja gitu kompak. Soalnya juga, kalau mau bertanding pasti selalu terus berdua,” ucap mahasiswa Universitas Ibd Khaldun Bogor (UIKA). Tak hanya itu, atlet yang sudah mengikuti kempo sejak tahun 2010 ini juga menceritakan asal muasal bagaimana ia bisa tertarik dengan Kempo. “Saat saya kelas 3 SMP ada Kempo masuk dalam kelas olahraga saya. Awalnya sih saya gak tertarik. Lalu sang pelatih Kempo melihat, saya dan kembaran memiliki bakat, ia juga bilang kalau kita bagus kalau main dikategori berpasangan. Semenjak itu jadi tertarik untuk ikut latihan Kempo,”ucapnya Fikar yang sudah mengikuti beberapa kali kejuaraan, dan selalu mendapatkan juara dalam berbagai turnamen, menjelaskan prestasinya. Seperti juara 1 pada Kejuaraan Nasional Pelajar tahun 2012 dan 2013, lalu juara 1 Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Jawa Barat 2014 dan juara 2 Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Mahasiswa yang masih tingkat semester 5 jurusan Manajemen ini juga berbagi cerita, tentang suka duka saat sudah bergabung dalam cabang olahraga Kempo. “Kalau sukanya sih kita bisa berprestasi, bisa membuat bangga orang tua, banyak teman dan nambah pengalaman. Mungkin kalau dukanya waktu bersama dengan orang tua, dan teman pasti berkurang. Dan yang paling sering itu kangen sama orang tua, kalau udah di mess. Apalagi disaat ada teknik baru, sedangkan kita belum bisa, malah jadi kepikiran terus, alias terbayang bayang terus,”tutupnya. (put/adt)

Mentari, Atlet Cantik Pembawa Medali Emas Pada Ajang BWF World Junior Championships 2017

Mentari-Atlet-Cantik-Pembawa-Medali-Emas-Pada-Ajang-BWF-World-Junior-Championships-2017

Ajang Blibli.com BWF World Junior Championships 2017 telah usai. Indonesia membawa pulang 5 medali. Salah satu yg membawa medali emas adalah Pitha Haningtyas Mentari yang dipasangkan dengan Rinov Rivaldy. Pitha Haningtyas Mentari merupakan atlet muda badminton asal Jakarta yang berusia 18 tahun. Gadis cantik dengan nama panggilan Mentari ini menuturkan rasa senangnya ketika membawa emas untuk Indonesia. “Bersyukur dan seneng banget pastinya bisa dapet medali emas di World Junior Championships (WJC) pertama dan terakhir dalam tahun ini” tuturnya Tak hanya dengan Rinov, Mentari juga dipasangkan dengan Serena Kani dalam kategori ganda putri. Tak mudah harus disandingkan dengan 2 pasangan sekaligus dalam satu ajang. Namun, Mentari tidak butuh latihan khusus untuk menyatukan kesamaan dengan pasangannya. “Latihan khusus sih gak ada, cuma kan memang untuk ganda campuran saya dengan partner hanya punya waktu 2 minggu untuk latihan. Kalau ganda putri memang sudah partneran dari Asian Junior Championships dan memang sudah sering latihan. Kuncinya komunikasi, saling support, tenang, sabar, yakin dengan partner, percaya sama kemampuan yg kita punya dan yang pasti harus fokus” ujarnya Atlet yang sudah bermain badminton sejak usia 7 tahun ini menceritakan pengalaman berkesan ketika mengikuti World Junior Championships di Yogyakarta lalu. Tak hanya itu, ia juga menuturkan perasaannya ketika bertemu wakil Indonesia juga saat babak final. “Yang berkesan saat lawan Lee Yu Rim / Kim Won Ho asal Korea. Kim Won Ho pemain yang bagus dan tahun ini dia sudah juara Grand Prix. Lee Yu Rim pun bukan pemain yg biasa biasa saja, mereka seeded 1 kemarin dan kami bisa menang 2 set langsung. Kalau yang final, ya diluar kita memang teman tapi di dalam lapangan kan kita musuh, jadi ya gak ada yg mau kalah dan juara ini pun untuk Indonesia” ucapnya Mentari juga memberikan pesan bagi para anak-anak yang memiliki cita-cita sebagai atlet terutama cabang olahraga badminton. “Semangat terus, jangan pernah nyerah, kejar terus cita cita nya” tutupnya

Gadis Cantik Ini Telah Buktikan, Olahraga Futsal Bukan Hanya Untuk Laki-Laki

Siti-latifah-futsal

Olahraga futsal memang identik dengan olahraga yang biasa dimainkan oleh laki-laki. Namun, hal tersebut sudah dipatahkan oleh Siti Latipah Nurul Inayah atau yang akrab disapa Uyung. Uyung merasa tertantang untuk bermain olahraga futsal yang dianggap sebagai olahraga untuk laki-laki. Bahkan ia mampu buktikan dirinya menjadi pemain terbaik futsal putri pada ajang Liga Mahasiswa (LIMA) lalu. “Alhamdulilah tentunya saya sangat senang menjadi yang terbaik menurut peniliaian orang lain. Hal tersebut membuat saya lebih semangat lagi dalam bermain futsal. Saya gak nyangka karena menurut saya masih banyak pemain yang memiliki kemampuan diatas saya. Futsal itu juga olahraga untuk laki-laki, maka dari itu saya merasa tertantang jika saya sampai bisa bermain futsal.” Ujarnya kepada nysnmedia.com. View this post on Instagram A post shared by Siti Latipah Nurul Inayah (@_uyung) Mahasiswi Universitas Pendidikan Bandung ini menceritakan awal mula bisa terjun ke olahraga futsal. “Awalnya waktu SMP saya ikut ekskul basket tetapi diminta oleh guru olahraga saya untuk tanding futsal di turnamen pertama saya. Saya mendapat penghargaan pemain terbaik juga. Jadi saya melanjutkan futsal dan meninggalkan basket.” Ucap mahasiswi tingkat akhir jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi ini. Uyung juga pernah mengikuti beberapa turnamen seperti Liga Futsal Professional 2016 dan 2017, diantaranya Brawijaya National Futsal Champhionship dan Asean Football Federation (AFF) Club Championships 2015. Tak hanya itu, ia juga menceritakan bagaimana cara menyeimbangkan kuliah yang harus ia selesaikan dengan futsal. “Dulu kuliah saya agak terbengkalai tapi alhamdulilah saya bisa mengatasinya jadi gak ada masalah lagi soal kuliah dan futsal yang sekarang seimbang dan aman. Futsal juga membuat saya banyak cuti, otomatis saya meninggalkan kuliah. Tapi jika mampu jalin komunikasi baik dengan dosen, sangat bisa diatasi. Misalnya ganti kehadiran dengan tugas atau dengan sistem perkuliahan online. Namun saya juga mengerjakan tugas disela waktu istirahat.” tutupnya. (put/adt)

Share Your Story: Kisah Semangat Dari Panji, Anak Hiperaktif Yang Berhasil Mengukir Prestasi Dari Sepakbola

tim-sepak-bola

Ini adalah cerita kiriman Andhika Panji Hardian pada rubrik Share Your Story. Seiring waktu yang berjalan kedepan, tepat pada 17 tahun yang lalu, aku dilahirkan dengan nama lengkap Andhika Panji Hardian. Waktu aku belum sekolah,  aku tergolong sebagai anak yang hiperaktif dan pintar, bahkan saat itu aku sering mengerjakan PR kumon kakakku. Sewaktu aku berusia genap 4 tahun dan sudah sekolah di taman kanak-kanak, mama sempat kerepotan mendididik aku, karena aku sering menjahili orang-orang yang ada di lingkungan sekolah dan sekitar rumah aku. Selain itu, aku juga suka menulis dan mencorat-coret apa saja, dan aku juga suka bermain bola, walaupun tidak ada bola di rumah tetapi aku tetap akan menendang apa saja yang bisa aku raih. Singkat cerita akhirnya oleh mama aku diikut sertakan dalam program psikotest yang ada disekolahku. Dan hasilnya adalah aku tergolong sebagai anak yang memang hiperaktif dan mama harus memfasilitasi aku dengan kegiatan apa saja untuk menyalurkan sifat aku agar aku tidak terus-terusan menjahili orang, selain itu yang lebih penting adalah bahwa mama harus selalu menyiapkan bola dirumah, bola yang aku maksud adalah bola apa saja, selama bisa digunakan oleh aku untuk ditendang. Berawal dari kegemaran aku bermain bola, akhirnya aku tergabung dalam tim futsal saat aku di Taman Kanak-kanak, saat itu aku ditunjuk menjadi Kaptennya dan dipercayakan untuk menjadi kapten terlama di sekolahku Al Azhar Pamulang, mulai dari TK sampai aku SD selama 8 tahun, Aku sangat bersyukur bahwa mama sangat mensupport kegiatan aku, sehingga aku menjadi berprestasi dan juara dalam olahraga bola, mulai saat aku TK sampai saat ini di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mulai dari tingkat Kota, Provinsi, bahkan sampai tingkat Nasional. Selain aktif di sepakbola sekolahku aku juga tergabung dalam club futsal dan club sepak bola. Dan hasilnya pun, sangat lumayan, minimal aku bisa membeli sepatu bolaku sendiri,  dan juga mendapat beasiswa untuk pendidikanku di SMP dan SMA. Saat ini aku mengajak teman-teman semua untuk menekuni bakat atau hobby yang kamu suka dan capailah prestasimu, Ayo teman-teman, tetap semangat dan jangan menyerah karena pasti bisa membawa kesuksesan untuk kamu dimasa yang akan datang. Jangan lupa doakan aku ya, kemarin aku menang juara 1 liga santri se-Provinsi Banten, dan nanti di bulan Oktober 2017 aku ke Bandung untuk bertanding di tingkat Nasional. Sukses ya teman-teman pembaca nysnmedia.com. Dan semoga media nysnmedia.com menjadi medianya para juara. Salam..Panji.. Amiin.(red)

Sempat Cuti Main Bola Voli Selama Dua Tahun, Mela Kejar Prestasi Yang Sempat Lepas.

Mela-atlet-Voli

Pada umumnya manfaat olahraga termasuk main bola voli tidak hanya bertujuan memperoleh jasmani yang sehat, tetapi juga memiliki jiwa dan kepribadian yang baik dan sesuai norma dalam kehidupan. Perlu kita contoh semangat dari gadis cantik bernama lengkap Mela Ropikawati atau Mela. Mela yang ternyata sempat cuti atau absen selama 2 tahun bermain voli karena faktor ekonomi, dan Ia terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya saat merantau di Jogja,  namun hal itu tidak membuatnya patah semangat untuk melanjutkan prestasinya dengan bermain voli. Pada bulan agustus lalu, barangkali menjadi saat terindah baginya, karena ia berhasil kembali untuk bermain voli bahkan langsung mengikuti turnamen Kejuaraan Daerah Senior Antar Club di Yogyakarta. “Mulai Agustus kemarin saya keluar dari pekerjaan saya karena gak tahan pengen main voli. Saya lihat teman-teman udah pada sukses di voli. Dapat panggilan main sana sini. Kan enak tuh hobi yang di bayar,”ujar Mela Mahasiswi Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta ini juga menceritakan bagaimana perjuangannya yang harus cuti voli ketika pindah ke Yogyakarta dari Ciamis. https://www.instagram.com/p/BZT5t94BwaO/?taken-by=melarpw “Saya orang Ciamis dan orang tua di Ciamis. Saya pindah ke Jogja untuk kuliah. Saya masuk kuliah karena keinginan sendiri, daftar awalnya saja saya nyari duit sendiri dari hasil bermain voli. Di Jogja dapat teman main bola voli dan di ajak masuk club. Setelah jalan 2 bulan, saya berhenti karena sulit mengatur waktu. Saya kuliah sambil kerja untuk biaya hidup di Jogja. Orang tua saya cuma sanggup membiayai kuliah saya. Tapi alhamdulillah akhirnya dapat dukungan. Bapak saya juga dulunya pemain voli meskipun cuma sampai tingkat daerah,” katanya Ia juga menambahkan perasaannya ketika harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak bisa melanjutkan lagi bermain bola voli. “Cuma bisa iri saja. Lihat teman-teman di Instagram dan denger cerita mereka yang udah sukses. Lama-lama malah termotivasi pengen aktif lagi,” ucapnya Tak hanya itu, dara cantik ini juga menjelaskan kepada nysnmedia.com, tentang bagaimana ia bisa mengikuti voli. “Dari kecil suka voli, cuma karena tinggal di kampung, jadi gak ada yang latih . Ekskul di sekolah juga cuma gitu aja. Sebenarnya saya mulai tau voli saat masuk SMK itu terus ikut seleksi. Dan saat SMK saya pindah ke kota, ngekost sendiri dan pengen serius di voli. Saya dapat beasiswa sekolah 3 tahun gratis. Sering mewakili ajang turnamen antar sekolah juga dan saya dapat beberapa sertifikat juga.”tutupnya (put/adt)

Walau Sering Duduk Di Bangku Cadangan, Tidak Menggoyahkan Semangat Anak Ini Hingga Dinobatkan Sebagai Kiper Terbaik

Cesar, Kiper STIE BP yang berhasil mendapatkan predikat kiper terbaik pada ajang LIMA Futsal Nationals 2017

Menjadi pemain cadangan bukanlah hal yang dapat menurunkan semangat dalam bermain futsal, duduk di bangku cadangan dapat di sebut juga dengan memainkan strategy membaca stamina lawan, ataupun persiapan kekuatan untuk menyerang lawan. Meski tidak sering diturunkan ke lapangan, pemuda yang memiliki nama Cesar tidak patah arang bahkan ternyata ia berhasil dinobatkan sebagai kiper terbaik pada turnamen Liga Mahasiswa. “Saya sempat menjadi cadangan saat bermain di regional Jakarta, bahkan saya jarang di mainkan. Lalu saya mendapatkan motivasi-motivasi dari teman-teman saya. Saya juga berfikir, gak mungkin kaya gini aja, dan hidup tuh harus berkembang. Akhirnya, saya selalu latihan tambahan seperti di rumah joging pagi, skiping dan yang paling penting berdoa.” ujarnya kepada nysnmedia.com. Tak hanya menjadi kiper terbaik, Cesar dan timnya dari STIE Bhakti Pembangunan juga mendapatkan juara 1 pada Liga Mahasiswa (LIMA). “Sangat senang sekali rasanya dan akhirnya kampus saya bisa mencetak sejarah dengan menjuarai LIMA Futsal nasionals 2017. Sebelumnya belum pernah menang dan selalu gagal di semifinal jadi tidak lolos ke nasional.” ucapnya Cesar juga menuturkan pengalamannya ketika sempat tertinggal jauh saat melawan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Pertandingan yang paling seru tuh pada saat lawan UNY. Kami sempet tertinggal 4-1 dan alhamdulilah di kasih motivasi, jadi anak-anak bisa kembali semangat. Akhirnya score berubah menjadi 6-5 untuk kampus saya.”lanjutnya Cesar juga menceritakan tentang perasaannya disaat harus membangkitkan semangat untuk mengejar skor yang tertinggal. “Saya berfikir udah jauh-jauh ke sini masa sih mau sia-sia, dan kesempatan itu engga akan datang 2 kali. Terus anak-anak juga termotivasi oleh kapten saya. Alhamdulilah skor bisa berubah. Saat itu saya bermain sambil meneteskan air mata, karena saya bermain dengan setulus hati. Di futsal, score berapa aja bisa berubah asalkan kita yakin, semangat dan percaya diri.” tutup Cesar (put/adt)

Pencak Silat: Sempat Kelelahan Melawan Kontingen Jawa Tengah, Teriakan Sang Pelatih Timbulkan Semangat Baru

Ausri-Bayusro-saat-memenangkan-medali-emas-di-POMNas-2017

Olahraga bela diri seperti pencak silat merupakan olahraga yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain menjaga tubuh agar tetap sehat, pencak silat juga berguna untuk bela diri dan menolong sesama. Seperti yang sedang di tekuni oleh Ausri Bayusro atau Abay, yang menuturkan bahwa olahraga pencak silat dapat menjaga keluarganya dari bahaya. “Pencak silat itu ilmu beladiri. Niat awalnya agar punya ilmu bela diri untuk menjaga keluarga dan saudara dari bahaya,” tuturnya. Meski pada awalnya Abay hanya mencoba ikut dengan temannya untuk latihan pencak silat, namun pemuda yang mempunyai tekad kuat ini telah mengumpulkan berbagai medali dari beberapa turnamen yang ia jalani di ajang Jakarta Open 2014, Disorda 2016 (Dinas Olahraga dan Pemuda) dan (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional POMNas2017). Pada saat menyabet medali emas pada ajang POMNas 2017 lalu di Makassar, Sulawesi Selatan, Abay berbagi cerita tentang perasaannya ketika menang. “Ya setiap orang pasti ada perasaan ragu untuk memenangi suatu kejuaraan. Tapi karena banyaknya motivasi dan dukungan serta doa, rasa ragu itu hilang dan menjadi sumber kekuatan,” ucapnya kepada nysnmedia.com. Tak hanya itu, mahasiswa STKIP Kusuma Negara ini juga menambahkan ceritanya di saat ia sempat kelelahan ketika pertandingan pencak silat melawan perwakilan Jawa Tengah di POMNas 2017 lalu. “Kemarin saat aku lawan perwakilan Jawa Tengah, aku sudah lelah banget dan susah untuk nendang, tapi di sisi luar coach aku teriak “ayo bay jangan mau nyerah”, Seketika aku langsung bangkit dan semangat lagi untuk bertanding. Itu kejadian pas semi final bertemu Jawa Tengah. Buat aku pribadi, itu lawan terberat,” tutupnya. (put/adt)

Bola Basket: Mendengarkan Lagu, Adalah Cara Ottu Menghilangkan Rasa Grogi Sebelum Bertanding

Rodmundus-Ottu-Ray-saat-berlaga-di-IBL-Seri-Surabaya-tahun-2016

Bernama panjang Rodmundus Ottu Ray atau Ottu, merupakan atlet basket asal Surabaya yang mengikuti ajang POMNas 2017 lalu. Di tahun 2016 lalu, Ottu sempat mendapatkan pengalaman berharga menjadi pemain Rookie untuk pertama kalinya. Ia pun harus mengatasi rasa kikuk, atau menghilangkan rasa grogi sebelum bertanding dengan para pemain-pemain kawakan yang lebih berpengalaman. “Tahun 2016 merupakan tahun pertama bagi saya sebagai Rookie di tim CLS Knights Surabaya, yang bermain dalam liga professional. Bangga sih bisa main di kasta tertinggi basket Indonesia, dan sempat grogi berdampingan sama pemain-pemain yang jago dan berpengalaman. Bagi saya, cara mengatasi groginya ya tetap fokus saja sih gak usah banyak mikir macem-macem, pokoknya bermain maksimal. Lakukan apa yang sudah di rencanakan, dan selalu ingat intruksi dari pelatih. Saya juga terus berdoa, dan untuk menjaga ketenangan dengan mendengarkan lagu untuk menghilangkan rasa grogi sebelum bertanding,” ucapnya Cukup panjang perjuangannya mengenal olahraga bola basket, Ottu tertarik dengan basket sejak kelas 5 SD, dan ternyata, mahasiswa Ekonomi Universitas Surabaya ini jatuh hati pada bola basket, karena pengaruh dari sang kakak. Selain liga POMNas, Ottu juga mengikuti berbagai kejuaraan seperti Kejuaraan nasional u-16 dan u-18, PORPROV, PON, juara di IBL 2016 bersama tim CLS Knight. Sudah 11 tahun, Ottu menekuni bola basket yang ia awali dengan masuk club basket Casper di Jakarta. “Awal basket itu karena pengaruh kakak saya sih, dulu saya hanya ikut-ikutan nonton basket kakak saya kalau pas tanding, lalu saya tertarik dengan basket, dan akhirnya di masukin club pas kelas 5 SD. Nama club nya Casper Jakarta. Sekolah saya dulu ga ada ekskul basket, jadi saya fokus di club,” tutup Ottu kepada nysnmedia.com (put/adt)

Walaupun Cedera, Gadis Ini Tetap Gigih Bertanding Bola Basket Dan Membawa Pulang Medali Sea Games 2017

Agustin-Gradita-saat-berlaga-di-Surabaya

Membawa pulang medali emas, merupakan sebuah kebanggaan bagi setiap manusia, khususnya para atlet. Hal itu pernah dirasakan oleh dara cantik asal Jakarta saat bertanding bola basket, gadis ini bernama lengkap Agustin Gradita atau yang biasa disapa Dita. Dita dan tim basketnya telah berhasil menyabet medali emas pada ajang POMNas 2017 lalu di Makassar, Sulawesi Selatan. Dita berbagi cerita kepada nysnmedia.com, bahwa awal mula mengikuti basket pernah ragu, pasalnya meski dahulu ia menekuni taekwondo, kini dirinya telah membuktikan prestasi pada cabang olahraga basket. “Awalnya, saya disuruh orang tua saya untuk ikut basket. Padahal awalnya saya ikut taekwondo tapi karena ada satu pertandingan dimana temen saya ada yang nendang musuh sampai berdarah dan pada saat itu juga, saya di suruh berenti, lalu ikut basket. Yaudah saya ikut aja karena papa saya selalu serius untuk olahraga,” tuturnya Selain POMNas 2017, Dita juga memenangkan 2 medali perak Asean School Games, 1 medali perak Asean University Games dan Sea Games mendapatkan medali perak dan medali perunggu. Saat ajang Sea Games, Dita juga menuturkan perasaan bangga ketika membawa nama Indonesia masuk ke peringkat ketiga setelah lebih dari 20 tahun tidak menang dalam cabang olahraga basket. “Ya yang paling berkesan sih saat bisa dapat medali perak Sea Games 2015 karena Indonesia baru itu mendapat medali di Sea Games setelah 20 tahunan gitu jadi berkesan banget dan bersyukur” ucap mahasiswi Universitas Bakrie Jakarta ini. Prestasinya bukan tanpa perjuangan dan hambatan, Dita juga pernah mengalami cedera dibagian sikunya ketika ingin berangkat Sea Games 2017 lalu di Malaysia. Namun karena keterbatasan waktu, Dita berangkat dan tetap bertanding bola basket dalam kondisi cedera. “Iya jadi saat mau sea games 2017 kemarin di Malaysia, saya cedera 3 hari sebelum berangkat. Lalu saya periksa ke dokter, tapi pas saya mau minta cek MRI, dokternya bilang gak usah, nanti malah saya gak berangkat. Jadi pas tanding saya nahan sakit, tapi tangan saya di balut pakai deker dan tapping gitu. Pas main masih bisa di tahan lah sakitnya. Kan ada adrenaline juga di dalam diri saya, dan sakitnya jadi gak kerasa. Namun setelah main baru terasa,” tutupnya. (put/adt)

Pernah Pecahkan Rekor Lari Gawang, Kini Ayu Targetkan Pecah Rekor Baru

lari-gawang-ayu

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik Remaja dan Junior, yang di selenggarakan beberapa waktu lalu di Stadion Rawamangun berhasil mencetak beberapa rekor Nasional, termasuk lari gawang. Salah satu rekor yang berhasil di pecahkan yakni, di nomor lari gawang 100m remaja putri atas nama Safrina Ayu Melina yang membela Jawa Timur dengan waktu 14.34 detik. Ayu berhasil memecahkan rekor yang sudah lama di pegang Ken Ayu Thaha dari DKI Jakarta dengan waktu 14.45 pada tahun 2013. Ayu, mengatakan kepada nysnmedia.com, bahwa dirinya tidak pernah menyangka bisa memecahkan rekor nasional yang sudah lama di pegang milik atlet DKI Jakarta. “Iya, Alhamdulillah awalnya gak percaya sih, mikirnya ah gak mungkinlah aku bisa mecahin rekor sekenceng itu, dan lumayan lama, semenjak 2013 rekor itu bertahan. Tapi, kehendak tuhanlah yang memberikan dan akhirnya aku bisa,” terang Ayu yang bercita-cita sebagai Kowad (Komando Wanita Angkatan Darat). Rencananya untuk tahun depan, Ayu sudah naik kelas ke nomor junior. Ayu pun, sudah menargetkan prestasi dan sudah berlatih keras untuk terus meraih prestasi yang lebih baik lagi. Setiap hari pun, Ayu terus berlatih keras bersama dengan sang pelatih, Rusli. “Buat tahun depan ini aku udah naik ke junior, jadi ada rekor beda lagi karena gawangnya tingginya juga beda. Untuk pecahkan rekor di junior, berat banget tapi gak ada yang gak mungkin selama kita berusaha dan terus berlatih,” ungkap mahasiswi semester 1 jurusan Olahraga di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berikut prestasi yang pernah di raih Ayu dalam lari gawang, di antaranya: 1. Juara 2 Kejurda Antar Klub Jatim Open 2014 di nomor 400m Gawang 2. Juara 3 Kejurnas Atletik Junior dan Remaja 2014 di Jakarta 3. Partisipan Asean School Games, Filipina di nomor 100m 4. PON Remaja Jatim – 100m Juara 2 – 400m Juara 3 – 4×100 Juara 1 5. Juara 1 Kejurnas Atletik Remaja (pah/adt)

Berkat Prestasinya di Voli Pantai Mia Bisa Berkeliling Nusantara

Mia-Widiayati-Voli-Pantai

Mia Widiayati atau yang sering sapa Mia merupakan salah satu atlet cabang olahraga voli pembawa nama Jawa Tengah pada kompetisi POMNas 2017 lalu. Mia dan tim volinya mendapatkan medali perunggu setelah mengalahkan Sumatera Selatan. Tak hanya voli, Mia juga mengikuti berbagai kompetisi untuk cabang olahraga voli pantai. Gadis berusia 21 tahun ini menuturkan kelebihan menjadi atlet voli, terutama voli pantai alasannya adalah, bisa mengunjungi berbagai destinasi wisata di Indonesia terutama pantai. “Yang paling seru kalo lagi event tanding voli pantai. Gak hanya bisa main voli di pantainya aja tapi juga bisa piknik. Aku pernah ke Padang, Bengkulu dan yang paling berkesan itu ke pulau Bokori di Sulawesi Tenggara. Sekarang itu sudah jadi destinasi wisata” tuturnya Menurut Mia, voli merupakan olahraga yang unik, tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam bermain voli, tetapi lebih karena faktor kerja sama antar anggota tim. “Voli itu unik, karena voli merupakan olahraga beregu dimana kita tidak hanya mengasah skill kita tapi juga belajar untuk bekerja sama, kompak, dan gotong royong dalam tim” ucapnya Kecintaannya terhadap voli sudah tumbuh sejak kelas 5 SD. Berbagai kompetisi dalam cabang olahraga voli pantai sudah ia jalani dengan membawa pulang berbagai medali seperti POPNas, PON Jabar dan POMNas. Mahasiswi Ikip Veteran Semarang ini juga menceritakan bagaimana awal ketika masuk ke club voli Ananta yang turut membesarkan namanya. “Awalnya ikut ekskul di SD. Kebetulan guru olahraga nya pelatih club Ananta namanya Bapak Sutrisno. Nah lama kelamaan tertarik gabung di club. Untuk sekarang ini kebetulan di ikip veteran ada UKM voli nya, gabung disana deh selama ada event mahasiswa.” tutupnya (put/adt)

Mengikuti Jejak Sang Ibu, Pemuda Ini Berhasil Mengalahkan Pemain Catur Nomor 1 Di Indonesia

Azarya-Jodi-Setyaki-catur

Azarya Jodi Setyaki yang akrab dipanggil Jodi itu merupakan salah satu pemain catur yang berlaga pada POMNas 2017 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia juga berhasil menyabet juara 1, sebagai perwakilan dari DKI Jakarta ini mengaku mengikuti jejak sang Ibu yang dulu pernah menjadi atlet catur. “Kebetulan mama pemain catur dan atlet juga. Lumayan sering ikut kompetisi. Aku jadi tertarik main catur dan beberapa kali main hasilnya lumayan jadi ditekuni”, tutur mahasiswa Universitas Atma Jaya ini kepada nysnmedia.com Selain itu, ia juga menuturkan kebahagiaannya saat pernah mengalahkan pemain Grand Master nomor 1 di Indonesia, Susanto Megaranto pada ajang PON 2016 di Jawa Barat. “Waktu itu aku nggak diunggulin jadi berkesan banget bisa mengalahkan pemain catur nomor 1 Indonesia dan sebenarnya aku gak ada trik khusus. Kebetulan aja dia pemain nomor 1 di Indonesia”, tambah Jodi. Kecintaannya pada catur sejak kelas 6 SD, telah membawanya ke berbagai kejuaraan baik tingkat nasional maupun tingkat internasional seperti PON dan Open Chess Championships. Baginya, catur merupakan olahraga yang menggunakan taktik dan melatih kesabaran serta ketekunan pemain sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Catur itu melatih kita untuk sabar dan tekun. Jadi bisa dipake sehari-hari” tutupnya. (put/adt).