Meski Kurang Persiapan, Ahmad Zulfikar Mampu Meraih Medali Emas POMNas 2017

Ahmad-Zulfikar-(Kiri)-bersama-dengan-kembarannya-Ali-Fikri-(kanan)-saat-di-ajang-POMNas-2017-lalu

Persiapan adalah modal dasar dalam melakukan semua hal, karena sebuah kegagalan sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Berbeda dengan sosok pemuda ramah yang bernama lengkap Ahmad Zulfikar, atau yang sering disapa Fikar. Fikar merupakan atlet cabang olahraga Kempo, perwakilan dari Jawa Barat di ajang POMNas 2017. Fikar mengikuti cabang olahraga Kempo dari kategori pasangan, bersama kembarannya Ali Fikri. Fikar mengakui bahwa saat mengikuti ajang POMNas 2017 lalu, ia dan kembarannya memiliki persiapan yang kurang matang, dan tidak pernah menyangka akan mendapatkan gelar juara 1. “Persiapan POMNas kemarin cuma 3 minggu, dan tekniknya masih banyak yang harus diganti. Awalnya juga pesimis, karena persiapan yang kurang matang dan melihat lawan yang kemarin adalah juara 1 di PON. Tapi alhamdulillah semua karena ijin Allah saya menang.” Ujar Fikar Bertanding dari kategori berpasangan bukanlah hal yang mudah, karena harus memiliki persamaan agar kompak saat bertanding. Dan bagi Fikar, bermain bersama kembaran sudah tercipta secara alami untuk kompak. “Karena saya kembar jadi sudah sehati dan secara alami aja gitu kompak. Soalnya juga, kalau mau bertanding pasti selalu terus berdua,” ucap mahasiswa Universitas Ibd Khaldun Bogor (UIKA). Tak hanya itu, atlet yang sudah mengikuti kempo sejak tahun 2010 ini juga menceritakan asal muasal bagaimana ia bisa tertarik dengan Kempo. “Saat saya kelas 3 SMP ada Kempo masuk dalam kelas olahraga saya. Awalnya sih saya gak tertarik. Lalu sang pelatih Kempo melihat, saya dan kembaran memiliki bakat, ia juga bilang kalau kita bagus kalau main dikategori berpasangan. Semenjak itu jadi tertarik untuk ikut latihan Kempo,”ucapnya Fikar yang sudah mengikuti beberapa kali kejuaraan, dan selalu mendapatkan juara dalam berbagai turnamen, menjelaskan prestasinya. Seperti juara 1 pada Kejuaraan Nasional Pelajar tahun 2012 dan 2013, lalu juara 1 Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Jawa Barat 2014 dan juara 2 Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Mahasiswa yang masih tingkat semester 5 jurusan Manajemen ini juga berbagi cerita, tentang suka duka saat sudah bergabung dalam cabang olahraga Kempo. “Kalau sukanya sih kita bisa berprestasi, bisa membuat bangga orang tua, banyak teman dan nambah pengalaman. Mungkin kalau dukanya waktu bersama dengan orang tua, dan teman pasti berkurang. Dan yang paling sering itu kangen sama orang tua, kalau udah di mess. Apalagi disaat ada teknik baru, sedangkan kita belum bisa, malah jadi kepikiran terus, alias terbayang bayang terus,”tutupnya. (put/adt)

Pencak Silat: Sempat Kelelahan Melawan Kontingen Jawa Tengah, Teriakan Sang Pelatih Timbulkan Semangat Baru

Ausri-Bayusro-saat-memenangkan-medali-emas-di-POMNas-2017

Olahraga bela diri seperti pencak silat merupakan olahraga yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain menjaga tubuh agar tetap sehat, pencak silat juga berguna untuk bela diri dan menolong sesama. Seperti yang sedang di tekuni oleh Ausri Bayusro atau Abay, yang menuturkan bahwa olahraga pencak silat dapat menjaga keluarganya dari bahaya. “Pencak silat itu ilmu beladiri. Niat awalnya agar punya ilmu bela diri untuk menjaga keluarga dan saudara dari bahaya,” tuturnya. Meski pada awalnya Abay hanya mencoba ikut dengan temannya untuk latihan pencak silat, namun pemuda yang mempunyai tekad kuat ini telah mengumpulkan berbagai medali dari beberapa turnamen yang ia jalani di ajang Jakarta Open 2014, Disorda 2016 (Dinas Olahraga dan Pemuda) dan (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional POMNas2017). Pada saat menyabet medali emas pada ajang POMNas 2017 lalu di Makassar, Sulawesi Selatan, Abay berbagi cerita tentang perasaannya ketika menang. “Ya setiap orang pasti ada perasaan ragu untuk memenangi suatu kejuaraan. Tapi karena banyaknya motivasi dan dukungan serta doa, rasa ragu itu hilang dan menjadi sumber kekuatan,” ucapnya kepada nysnmedia.com. Tak hanya itu, mahasiswa STKIP Kusuma Negara ini juga menambahkan ceritanya di saat ia sempat kelelahan ketika pertandingan pencak silat melawan perwakilan Jawa Tengah di POMNas 2017 lalu. “Kemarin saat aku lawan perwakilan Jawa Tengah, aku sudah lelah banget dan susah untuk nendang, tapi di sisi luar coach aku teriak “ayo bay jangan mau nyerah”, Seketika aku langsung bangkit dan semangat lagi untuk bertanding. Itu kejadian pas semi final bertemu Jawa Tengah. Buat aku pribadi, itu lawan terberat,” tutupnya. (put/adt)

Mengikuti Jejak Sang Ibu, Pemuda Ini Berhasil Mengalahkan Pemain Catur Nomor 1 Di Indonesia

Azarya-Jodi-Setyaki-catur

Azarya Jodi Setyaki yang akrab dipanggil Jodi itu merupakan salah satu pemain catur yang berlaga pada POMNas 2017 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia juga berhasil menyabet juara 1, sebagai perwakilan dari DKI Jakarta ini mengaku mengikuti jejak sang Ibu yang dulu pernah menjadi atlet catur. “Kebetulan mama pemain catur dan atlet juga. Lumayan sering ikut kompetisi. Aku jadi tertarik main catur dan beberapa kali main hasilnya lumayan jadi ditekuni”, tutur mahasiswa Universitas Atma Jaya ini kepada nysnmedia.com Selain itu, ia juga menuturkan kebahagiaannya saat pernah mengalahkan pemain Grand Master nomor 1 di Indonesia, Susanto Megaranto pada ajang PON 2016 di Jawa Barat. “Waktu itu aku nggak diunggulin jadi berkesan banget bisa mengalahkan pemain catur nomor 1 Indonesia dan sebenarnya aku gak ada trik khusus. Kebetulan aja dia pemain nomor 1 di Indonesia”, tambah Jodi. Kecintaannya pada catur sejak kelas 6 SD, telah membawanya ke berbagai kejuaraan baik tingkat nasional maupun tingkat internasional seperti PON dan Open Chess Championships. Baginya, catur merupakan olahraga yang menggunakan taktik dan melatih kesabaran serta ketekunan pemain sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Catur itu melatih kita untuk sabar dan tekun. Jadi bisa dipake sehari-hari” tutupnya. (put/adt).