Raih Emas di Usia 20 Tahun, Empat Atlet Ini Turut Ukir Sejarah Indonesia Dalam Asian Games 2018

Sebagai pebulutangkis nomor 15 dunia, Jonatan Christie tak diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan, hingga akhirnya ia meraih emas nomor tunggal putra. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia mengukir prestasi dalam ajang multievent Asian Games 2018. Kontingen Tanah Air melampaui target yang ditetapkan pemerintah karena mendulang total 31 medali emas hingga Sabtu (1/9) atau H-1 penutupan. Pencak silat menjadi pendulang emas terbanyak bagi Indonesia. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, 14 di antaranya dijuarai para atlet Tanah Air. Torehan 31 emas ini, menempatkan Indoensia di peringkat keempat klasemen akhir. Kontingen Tanah Air mengungguli Uzbekistan, yang duduk diposisi kelima dengan selisih 10 emas. Prestasi ini jauh lebih baik, dibandingkan saat Indonesia menjadi host Asian Games 1962. Kala itu, Indonesia hanya 11 kali menjadi juara. Kesuksesan Indonesia tentunya tidak lepas dari peran para atlet-atlet muda. Usia belia bukan menjadi halangan bagi mereka untuk mengukir prestasi. Setidaknya, ada empat atlet muda Indonesia yang usianya belum genap 21 tahun, namun sudah mencuri perhatian karena berprestasi di Asian Games 2018. Siapa sajakah mereka? Berikut ini adalah ulasannya. Rio Rizki Darmawan Jumat (24/8), venue dayung Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, kembali riuh. Anak-anak asuh pelatih Boudewijn van Opstal dan Muhammad Hadris, berhasil meraih medali emas pada laga final nomor dayung kelas ringan delapan putra di ajang Asian Games 2018. Kontingen Merah Putih yang beranggotakan Tanzil Hadid, Muhad Yakin, Jefri Ardianto, Ali Buton, Ferdiansyah, Ihram, Ardi Isadi, Ujang Hasbulah, dan Rio Rizki Darmawan, mengalahkan Uzbekistan dan Hong Kong dengan catatan waktu 6 menit dan 08,88 detik. Pundi-pundi emas kembali disumbangkan untuk Indonesia. Di antara ingar-bingar di Jakabaring, di antara riuh-rendah sorakan penonton, nama Rio menjadi sorotan. Putra kebanggaan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi yang termuda di antara teman-temannya. Semula memang tak terpikir di benak Rio, untuk mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga dayung. Andai ia menolak ajakan Jufri, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR) Tadulako Palu, mungkin teriakan ‘Rio’ ‘Rio’ ‘Rio’ dari penonton di venue tak akan muncul. Postur tubuhnya yang besar dan berprestasi selama di SMANOR, membuat Jufri yakin, bila pemuda asal Desa Tompi Bugis, Sigi, 27 November 1998 itu, bisa menjadi atlet dayung. Jonatan Christie Sebagai pebulutangkis tunggal putra nomor ke-15 dunia, Jonatan Christie memang kurang diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan. Dia mengalahkan Shi Yuqi (peringkat kedua dunia asal China) di babak kedua, dan Khosit Phetpradab (runner-up SEA Games 2017) di babak ketiga. Di fase perempat final, giliran Wong Wing Ki Vincent (Hong Kong), yang dilewati Jojo, sapaannya. Lanjut ke semifinal, ia melumat peringkat ke-10 dunia asal Jepang, Kenta Nishimoto. Jojo, lalu menyudahi perlawanan sengit Chou Tienchen (Taiwan), di babak final, di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Selasa (28/8). Tunggal nomor enam dunia itu menyerah dari Jojo, usai melewati drama pertarungan ketat tiga gim, dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Dari lompatan Asian Games ini, pemuda kelahiran Jakarta 15 September 1997, boleh optimistis menatap target selanjutnya, yakni turnamen BWF World Tour Super Series. Di Indonesia Open 2018 Juli lalu, ia langsung gugur di babak pertama oleh Viktor Axelsen (Denmark). Raihan tertinggi Jojo adalah final New Zealand Open 2018 pada Mei, meski kandas dari Lin Dan (China). Rifki Ardiansyah Arrosyiid Rifki Ardiansyah Arrosyiid mengharumkan nama Indonesia pada Asian Games 2018. Peraih emas cabang olahraga Karate nomor kumite 60kg itu turut membanggakan kesatuannya sebagai anggota di korps Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Rifki yang saat ini berpangkat sersan dua (serda) akan naik pangkat menjadi sertu pada 1 Oktober nanti, usai mendapat penghargaan percepatan kenaikan pangkat, merupakan prajurit TNI peraih emas di Asian Games 2018. Rifki menetap di Surabaya, dan sehari-harinya bertugas sebagai Babanmin 2 Pokbanmin Jasdam Kodam V/Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Putra dari pasangan Surya dan Dwi ini menempuh pendidikan Bintara pada 2016 lalu. Ajang Asian Games 2018 bukan hanya menjadi pembuktian bagi para atlet dari kalangan sipil. Sejumlah atlet berlatar belakang militer pun berjuang dalam ‘pertempuran’ di arena olahraga demi mengangkat prestasi Merah Putih. Rifki adalah salah satu prajurit yang juga bersaing dengan para atlet luar negeri di ajang olahraga multicabang se-Asia tersebut. Arek Suroboyo kelahiran 24 Desember 1997 ini, mampu meraih emas bagi Indonesia usai mengalahkan karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh, di fase final dengan skor 9-7. Sebelumnya, Rifki pernah meraih medali perunggu di SEA Games 2017, dan medali Emas dari kelas Kumite 55 Kg, dalam Kejurnas Karate Piala Panglima TNI tahun 2017 lalu. Hanifan Yudani Kusumah Pencak Silat menambah lagi pundi-pundi medali Indonesia di Asian Games 2018. Kali ini atas nama Hanifan Yudani Kusumah. Dalam laga perebutan medali emas nomor Tarung Putra Kelas C (55-60Kg) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta, Rabu (29/8), Hanifan menang 3-2, atas pesilat Vietnam, Thai Linh. Dalam pertarungan tiga ronde itu, Hanifan sempat mendapat kartu merah, karena dinilai menyerang wajah lawannya. Hanifan adalah pesilat berusia 20 tahun, namun sudah berhasil mengharumkan nama Indonesia. Remaja yang tumbuh di Bandung ini lahir pada 25 Oktober 1997. Sebelum tampil di Jakarta, Hanifan tercatat sebagai pesilat yang meraih medali emas pada Silat World Championships 2016 di Denpasar, Bali. Pada 2017, ia menyabet perunggu di Asian Championships yang digelar di Korea. Hanifan juga membawa perunggu pada Sea Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Atlet asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dikenal usai selebrasinya yang membuat calon presiden Prabowo Subianto, dan Presiden Indonesia Joko Widodo, saling berpelukan dan berselimutkan bendera Merah-Putih, ternyata merupakan seorang jockey balap motor handal, saat masih duduk di SMA. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

Borong Enam title di Super Series 2017, Kevin/Marcus di Puji Susy Susanti

Susy Susanti selaku Kabid Binpres PBSI, memberikan pujian kepada semua atlet Indonesis yang berlaga di Super Series 2017. Terutama kepada pasangan Ganda Putra Indonesia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon yang pada Minggu, (26/11) kemarin memecah rekor, dengan berhasil menyabet enam titel super series/premier musim ini. Dari lima nomor yang dipertandingkan di super series tahun ini, tak ada pebulutangkis yang mampu meraih enam gelar juara pada musim ini selain Kevin/Marcus. Gelar Kevin/Marcus didapat dari All England, India Super Series, Malaysia Super Series, Jepang Super Series, China Super Series Premier, dan Hong Kong Super Series. Dilansir dari cnnindonesia.com, Susy Susanti yang merupkan atlet legendaris bulutangkis indonesia memberi ucapan selamat Atas gelar yang diraih Kevin/Marcus, “Salut untuk mereka karena di tahun 2017 mereka bisa meraih enam titel super series,” ucap Susy dalam rilis resmi. Kevin/Marcus tampil sempurna di dua pekan terakhir dalam rangkaian turnamen China Super Series Premier dan Hong Kong Super Series. Dua gelar yang didapat Kevin/Marcus membuat tim bulutangkis Indonesia berhasil memenuhi target yang dibebankan oleh PBSI. “Target kami di China dan Hong Kong terpenuhi, karena Kevin/Marcus yang secara konsisten bisa menjuarai dua turnamen tersebut.” Selain memuji Kevin/Marcus, Susy juga memberikan apresiasi pada Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang dapat menembus babak final Hong Kong Super Series. “Permainan ganda putri (Greysia/Apriyani) cukup baik meski harus mengakui keunggulan Chen Qingchen/Jia Yifan di babak final.” ujarnya. Sedangkan untuk nomor tunggal putra, Susy mengakui hasil yang diraih oleh Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting kurang memuaskan. “Para pemain tunggal putra harus lebih yakin dengan pola dan strategi permainan. Tentu juga mereka harus lebih mematangkan teknik dan fisik agar meraih hasil lebih baik di pertandingan berikutnya,” kata Susy.

Indonesia Berhasil sabet Dua Mendali Emas pada Korea Open Super Series 2017

Babak Final Kejuaraan Korea Open Super Series 2017 yang berlangsung  di SK Handball Stadium, Seoul, Minggu (17/09) menjadi ladang keberuntungan bagi Indonesia, pasalanya Indonesia bermain apik dan mendominasi Perolehan mendali. Berkat kerja keras, Indonesia berhasil meraih Dua mendali Emas yang di sumbangkan dari pasangan ganda campuran, Praveen Jordan/Debby Susanto dan tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting yang mengalahkan rekannya sendiri, Jonatan Christie. Di kutip dari badmintonindonesia.org, Kemenangan pasangan ganda campuran, Praveen Jordan/Debby Susanto mengalahkan pasangan Tiongkok, Wang Yilyu/Huang Dongping dalam dua game langsung dengan total skor 21-17 dan 21-18. ini sekaligus membalas pertemuan pertama mereka yang terjadi di Badminton Asia Championships 2017. Saat itu Jordan/Debby kalah 22-24 dan 19-21 dari Wang/Huang. Tak hanya itu, hasil dari  “perang saudara” yang terjadi di sektor tunggal putra, antara Jonatan Christie yang berhadapan dengan Anthony Sinisuka Ginting. pertandingan ini di menangkan oleh Anthony yang berhasil menyabet mendali Emas melalui pertarungan tiga babak dengan hasil skor akhir 21-13, 19-21 dan 22-20. Atas kemenangan Anthony dengan begitu Jonatan Christie menjadi Runner Up pada pertandingan ini. ia menuturkan kepada badmintonindonesia.org, Korean Open Super Series mungkin belum rejekinya, namun ia bersyukur dapat melaju jauh hingga ke Final. Pertandingan Akhir yang mendebarkan dan menjadi penentu satu perolehan mendali Emas melalui sektor Ganda Putra antara Indonesia vs Denmark. pada pertandingan Ini, Kevin Sanjaya Sukamujo/Marcus Fernaldi Gideon di buat kualahan menghadapi pasangan unggulan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen. setelah melalui pertandingan panjang tiga babak, Kevin/Marcus kalah dengan prolehan skor 19-21, 21-19 dan 15-21 dalam 68 menit. walaupun tak berhasil menyabet gelar Juara, Kevin/Marcus menjadi Runner Up atas Pertandingan ini. Dengan begitu Indonesia pada ajang Korean Open Super Series berhasil membawa dua gelar Juara dengan perolehan dua mendali Emas dan dua gelar Runner Up dengan Perolehan dua mendali Perak.  

Final Yang Ditunggu-tunggu, Duel Jonatan Christie vs Anthony Ginting di Korea Open Super Series

Duel antara Jonatan Christie dengan Anthony Ginting di final Korea Open Super Series 2017 akhirnya bisa meningkatkan optimisme Indonesia. Negara ini kembali punya masa depan cerah di nomor tunggal putra. Harapan Indonesia untuk punya tunggal putra papan atas setelah Taufik Hidayat pensiun, akhirnya dilimpahkan ke nama-nama seperti Jonatan, Anthony, dan Ihsan Maulana Mustofa. Itu semua berkat performa apik mereka di Piala Thomas 2016. Namun usai Piala Thomas tersebut, performa mereka dalam tunggal putra muda Indonesia sempat menurun. Hingga akhirnya Jonatan dan Anthony yang mampu menciptakan All Indonesian Final di Korea Super Series. Jonatan lawan Anthony ini membuat Indonesia kembali memiliki juara super series untuk pertama kalinya setelah  April 2016 lalu, Sony Dwi Kuncoro memenangi Singapura Super Series. Anthony sendiri dalam menuju babak final di Korea Open Super Series telah menaklukkan sejumlah pemain unggulan seperti Ng Ka Long Angus dan pebulutangkis nomor satu dunia, Son Wan Ho. Sedangkan langkah Jonatan terbilang bagus juga dalam menuju babak final. Dia sukses menyingkirkan Lee Hyun Il dan Wang Tzu Wei. Pelatih tunggal putra Indonesia, Hendri Saputra gembira. Dia mengaku ini merupakan hasil latihan selama ini. “Puji Tuhan karena awalnya target mereka adalah babak semifinal namun melihat drawing yang ada, saya juga punya keyakinan mereka bisa melaju lebih dari itu dengan catatan bisa bermain bagus,” kata Hendri yang dilansir dari CNNIndonesia.com. Hendri menambahkan juga bahwa Jonatan dan Anthony terkadang masih menunjukkan tidak konsisten dalam bertanding. Namun, secara umum sudah ada peningkatan kualitas dalam permainan. Hal itu terlihat dari segi teknik dan strategi mereka. Final super series ini merupakan pertandingan pertama bagi Anthony dan Jonathan. Maka dari itu, duel ini juga akan berakhir pada titel super series perdana bagi salah satu dari mereka.

Jonatan Christie Berhasil Melaju ke Semifinal Setelah Kalahkan Jepang di Korea Open Super Series 2017

Jonatan Christie (badmntonindonesia)

Satu lagi wakil Indonesia yang berhasil menuai kesuksesan dengan lolos ke semifinal Korea Open Super Series 2017. Jonatan Christie terus melaju setelah menumbangkan Kazumasa Sakai asal Jepang, lewat tiga babak pertandingan dengan skor 21-13, 16-21 dan 21-19. “Puji Tuhan setinggi-tingginya, dengan bantuan-Nya saya bisa menang kali ini. Saya akui permainan saya tadi belum matang. Dengan kondisi permainan saya yang tadi, saya seperti tidak bisa mengontrol harus menggunakan stroke seperti apa. Di situ saya sebenarnya paham harus main seperti apa, tapi yang keluar tidak sejalan dengan pukulan saya,” kata Jonatan tentang penampilannya kepada badmintonindonesia.org Kemenangannya di perempat final ini rupanya memiliki arti tersendiri buat Jonatan. Sebab pada hari yang sama, Jonatan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 20 tahun. “Bersyukur banget ini jadi kado yang indah buat saya. Kemarin malam saya sempat tegang, sedih sama happy, nggak tahu kenapa. Senang karena di delapan besar bisa ketemu Sakai, jadi ada peluang buat lolos. Karena sebelum-sebelumnya saya pasti dapat lawan berat di babak-babak awal,” ungkap atlet kelahiran Jakarta tersebut saat ditemui di SK Handball Stadium, Seoul usai laganya, Jumat (15/9). Berikutnya pada pertandingan semifinal Korea Open Super Series, Jonatan akan berhadapan dengan Wang Tzu Wei, Taiwan. Sebelumnya, tiga kali berhadapan Jonatan belum pernah memperoleh kemenangan satu kali pun. Untuk itu, ia berharap laganya besok bisa membalas tiga kekalahan tersebut. “Pastinya saya akan berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan bisa membalas kekalahan sebelumnya, amin,” pungkas Jonatan.

Bulutangkis Tunggal Putra, Jonatan Christie Berhasil Raih Emas

Jonatan Christie berhasil meraih medali emas bulutangkis dengan 21-19, 21-10. Tim tunggal putra SEA Games 2017 telah mengalahkan pemain Thailand Khosit Phetpradab di Axiata Hall, Kuala Lumpur, Selasa (29/8/2017). Menurut lansiran dari detikSport (29/08/2017), Jonatan sempat dapat perlawanan dari lawannya di gim pertama. Tapi setelah berimbang dalam kedudukan 9 sama, Jonatan mampu terus melampaui perolehan angka yang di dapat Khosit. Kemenangan Jonatan akhirnya dipastikan saat pengembalian dari Khosit dan shuttlecock hanya menghantam net. Jonatan pun menang dua gim langsung dalam durasi 37 menit. Hasil tersebut akhirnya membuat Jonatan mempersembahkan satu-satunya medali emas nomor perorangan cabang bulutangkis di SEA Games kali ini. Tentu, hal ini berarti ia menjadi wakil tunggal Indonesia di final.