Kemenpora Berikan Penghargaan Kepada Legenda Bulutangkis Versi CWIBC

Imam-Nahrawi-berpasangan-dengan-Kevin-Sanjaya-melawan-Chandra-Wijaya-dan-Ricky-Soebagdja

Bulutangkis Indonesia sangatlah ditakuti oleh Negara-negara dunia. Sebut saja nama Eng Hian, Chandra Wijaya, Ricky Soebagja, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat, Hendrawan, Susi Susanti dan masih banyak lagi atlet legenda bulutangkis Indonesia yang disegani oleh lawannya. Di acara pembukaan Yonex Sunrise Doubles Special Championship 2017 dan peresmian venue Chandra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC), Kemenpora memberikan penghargaan kepada legenda bulutangkis Indonesia yang sudah memberikan prestasi dan membawa nama harum Indonesia. Penghargaan tersebut, diberikan kepada Ketua Umum PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) periode 2008-2012, Djoko Santoso. Penghargaan juga diberikan kepada Ricky Soebagdja serta Rexy Mainaky sebagai pasangan terbaik dan peraih Olimpiade Atlanta 1996. Terakhir, penghargaan diberikan kepada pelatih yang membawa pasangan ganda putra Kevin dan Marcus juara dunia yakni Herry Iman Pierngadi. Kemenpora Imam Nahrawi menjelaskan, luar biasa sesama legenda memberikan penghargaan. Terlebih, pemerintah akan terus mendukung pelaku sejarah sesuai dengan intruksi Presiden, Joko Widodo. “Ini adalah apresiasi yang luar biasa sesama legenda memberi penghargaan. Dalam hal ini, pemerintah terus mensupport dan akan melanjutkan tradisi kemarin, kepada para legenda olahraga di tanah air yang merupakan instruksi langsung dari bapak presiden,” ungkap Imam. Sedangkan, mantan juara dunia bulu tangkis, Chandra Wijaya menuturkan, pihaknya sangat gembira dengan kondisi saat ini artinya pemerintah terus mengapresiasi para legenda bahkan hingga memberikan bonus kepada para atlet. “Kita sebagai mantan atlet gembira sekali namun, jangan sampai sistem yang sudah baik berhenti di tengah jalan tetapi harus terus konsisten karena mencetak para juara tidak bisa instan dan perlu pengorbanan, dedikasi, kerja keras dari atlet itu sendiri,’’ tuturnya. Pada kesempatan itu, sempat pula dilakukan pertandingan eksebisi antara Menpora Imam Nahrawi yang berpasangan dengan Kevin Sanjaya melawan pasangan Chandra Wijaya-Ricky Soebagdja. (pah/adt)

Kevin/Marcus Sabet Gelar Juara BWF Super Series 2017

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil tampil gemilang dan dapat menjuarai turnamen BWF Super Series Finals 2017. Pasangan ganda putra nomor satu dunia ini mampu mengalahkan pasangan China, Zhang Nan/Liu Cheng dalam dua gim 21-16, 21-15, dalam final yang berlangsung di Hamdan Sports Complex, Dubai, Uni Emirat Arab. Dalam gim pertama poin hingga 16-15, sebelum akhirnya tim Kevin/Marcus melejit ke 21-16. Sedangkan, gim kedua Marcus/Kevin unggul di angka 11 hingga jadi 17-13. Poin tertambah lewat pukulan silang Kevin. Pertandingan final yang berlangsung begitu ketat, tidak menjadi halangan bagi tim Indonesia untuk unggul atas ganda China. Menurut lansiran dari bolaSport.com (18/12/2017), Asisten Pelatih Ganda Putra PBSI, Aryono Miranat, diakuinya yakin dengan kemenangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo di BWF Superseries Finals 2017. Dikatakan Aryono, mereka punya mental yang sangat bagus, di lapangan selalu fight, percaya diri. Kevin/Marcus dikatakan sebagai pasangan pebulutangkis yang saling melengkapi. Saat Kevin tak bisa mengeluarkan permainan, Marcus mengambil alih dan memberi semangat, begitu sebaliknya. “ Tahun depan harus jaga konsistensi, percaya diri boleh, tetapi tetap rendah hati,” tutup Aryono dalam lansiran dari bolaSport.com

Adanya Fasilitas Baru Lapangan Voli Pasir, Diharapkan Mampu Meningkatkan Prestasi Atlet

voli-pasir

Atlet voli di Tangsel rasanya sangat sumringah, pasalnya dengan adanya fasilitas lapangan voli pasir baru yang dimiliki oleh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Tangsel dapat meningkatkan kualitas atlet. Sarana tersebut terletak di kelurahan Lengkong Gudang, Serpong, Tangsel, lapangan voli pasir ini akan menjadi tempat latihan para atlet voli pasir. Ketua Umum I PBVSI Tangsel, AKP Lalu Hedwin H.SH.SIK mengatakan, prestasi atlet voli di Tangsel sangat bagus dan selalu menjadi juara umum dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda). “Saya melihat prestasi Tangsel ini sangat bagus, selama saya di PBVSI dua kali di Popda selalu juara umum, dan untuk voli pasir selalu juara,” ujar AKP Lalu. Namun, pada saat itu belum mempunyai fasilitas lapangan voli pasir. Melihat begitu bagus prestasi atlet voli pasir, PBVSI Tangsel kini mempunyai fasilitas lapangan voli pasir berkat dukungan dari berbagai pihak. “Jika prestasi bagus, tetapi tidak diimbangi dengan tempat latihan ya percuma. Dan, Alhamdulillah sekarang sarana untuk latihan bagi atlet voli pasir sudah ada berkat dukungan dari berbagai pihak,” tuturnya. AKP Lalu pun, berharap dengan adanya fasilitas lapangan voli ini diharapkan dapat menambah semangat atlet dalam berlatih dan dapat meningkatkan prestasi atlet voli Tangsel. “Saya berharap bisa meningkatkan prestasi atlet voli di Tangsel,” jelas Kasat Lantas Polres Tangsel ini. (pah/adt)

Bulutangkis: Meski Sempat Mengalami Demam, Vindra Tetap Bertahan Hingga Semi Final

Moch.-Revindra-Raynaldi-Bulutangkis

Menjaga kondisi kesehatan tubuh memang sangat diperlukan bagi seorang atlet. Termasuk kondisi fisik yang baik dibutuhkan jika ingin bertanding. Pria yang memiliki nama panjang Moch. Revindra Raynaldi atau Vindra, ia merupakan atlet badminton yang pernah mengalami sakit demam disaat ia bertanding. Namun, hal tersebut tidak menghalangi dirinya untuk melanjutkan pertandingan hingga membawanya ke babak semi final. “Saat berada di even Australia International Series 2015, saya sakit demam. Tapi bisa masuk semi final. Itu pengalaman berharga buat saya untuk bagaimana bisa menyelesaikan masalah saat turnamen,”ujarnya Vindra yang juga merupakan anak dari salah satu pelatih Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum, memang sudah tekun mengikuti badminton sejak usia 5 tahun. Ia sudah menjadi atlet badminton yang bisa di bilang professional sejak usia 13 tahun hingga sekarang. Saat ini, Vindra sedang menekuni kuliah di Universitas Negeri Semarang jurusan Kepelatihan Olahraga. Vindra sudah mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan internasional. “Kalau turnamen nasional, dari kalender Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sudah sangat sering ikut jika tidak cedera. Kalau internasional saya pernah berpartisipasi di Asean School 2008, German Junior 2014, International Singapore Series dan masih banyak lagi,” tuturnya Tak jarang,Vindra juga mengalami duka dan kendala sejak menjadi seorang atlet. “Buat saya kendalanya itu konsistensi dari satu pertandingan ke pertandingan selanjutnya dan mempertahankan semangat dan tujuan sejak latihan. Belom lagi kena omelan pelatih saat mainnya jelek, disiplin dalam segala hal dan masih banyak lagi,”tutupnya(put/adt)

Bulutangkis: Sosok Ibunda Menambah Semangat Rezha Meraih Prestasi

Rezha-Arzhan-Hidayat-Saat-Bertanding-Di-Liga-Mahasiswa

Kerja keras seorang ibu memang tidak bisa terbayarkan oleh apapun yang ada di dunia ini. Kasih sayang dan ketulusan menjadi dasar bahwa cinta yang di miliki seorang ibu, niscaya sebuah cahaya dalam kegelapan yang dapat menuntun menuju arah kesuksesan. Rezha, cowok dengan nama lengkap Rezha Arzhan Hidayat ini merupakan salah satu atlet bulutangkis Indonesia yang pernah mengikuti berbagai kejuaraan seperi Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas), Brawijaya Malang Open, Liga Mahasiswa Nasional dan masih banyak lagi. Rezha yang juga adalah salah satu mahasiswa berprestasi di Universitas Negeri Yogyakarta, baginya perjuangan sang ibunda yang mengantarkan ia dari Yogyakarta ke Gunung Kidul merupakan pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. “Dulu saya pernah diantar mama naik motor dari Jogja ke Gunung Kidul. Saya menginap disana tapi mama langsung pulang, karena masih ada kerjaan. Terus mama nyusul lagi, dan ikut menginap dengan teman-teman satu tim saya. Saya gak nyangka saat itu saya mendapatkan juara pertama ditingkat provinsi. Sosok mama memberikan kesan semangat, yang mengantar dan menjaga saya untuk terus fokus dipertandingan,”ujarnya Ibunda Rezha selalu hadir disetiap pertandingan Rezha, baik yang diselenggarakan di dalam ataupun luar kota. Namun, saat bertanding di Semarang adalah pertandingan terakhir yang ibunda Rezha hadiri dan ikut menginap. Sehabis pulang dari Semarang, ibunda Rezha di vonis mengalami gagal ginjal. “Semenjak mama sakit, mama hanya hadir berikan support, tapi ketika saya masuk babak semi final atau final. Saya sangat semangat, dulu sebenarnya sebelum mama sakit agak gak seneng, karena pasti bikin saya gak tenang. Namun semenjak mama sakit, saya pengennya ditonton mama, karena mama juga senang nonton saya dan bisa jadi hiburan untuk mama.”tutur cowok yang berusia 22 tahun ini Rezha yang saat ini menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Olahraga, sudah menggeluti bulutangkis sejak 13 tahun lalu. Meski pernah mengalami cedera, Rezha mampu bangkit jika menginggat bahwa cedera atau kalah merupakan rezeki dari Tuhan. “Saya ingat kalau rezeki sudah Allah atur. Ingat saya juga banyak dikasih rezeki dan bisa diluar dugaan saya.”tutupnya(put/adt)

Kabupaten Sidoarjo Optimis Raih Medali di Kejurnas Tenis

Kabupaten-Sidoarjo-Optimis-Raih-Medali-di-Kejurnas-Tenis

Kali ini, Kabupaten Sidoardjo akan menurunkan empat atletnya dalam keikut sertaanya dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis di Blitar, pada 30 November hingga 4 Desember 2017 mendatang. Ke empat atlet tenis yang akan bersaing di Kejurnas merupakan binaan dari Pesatuan Lawan Tenis Indonesia (Pelti). Pelatih Khosim mengatakan, faktor kesiapan dan cuaca menjadi kendala dalam persiapan Kejurnas. Meski, ke empat atletnya memiliki potensi namun, apabila persiapan kurang tepat akan menjadi kendala yang berarti. “Terkendala hujan yang setiap hari mengguyur,” ujarnya seperti dikutip Jawa Pos. Alasannya menghentikan, karena ingin menjaga kondisi agar tidak menurunkan fisik atlet. Walaupaun terganggu, Khosim berharap atletnya dapat bersaing dalam perebutan medali. “Mudah-mudahan bisa meraih emas, usaha para atlet harus maksimal,” pungkasnya.(pah/adt)

Dilema Olahraga Voli Yang Sering Di Alami Tacik

Eki-Ramdany-Fauzi-voli

Salah satu atlet voli Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017, Eki Ramdany Fauzi atau yang akrab disapa Tacik berbagi cerita bagaimana ia melihat olahraga di Indonesia terutama olahraga voli. Ada beberapa atlet yang sengaja ditaruh di suatu tim berdasarkan kenalan dari pelatih. Ia berpendapat bahwa banyak atlet yang dipilih tidak berdasarkan kualitas namun berdasarkan kedekatan pelatih dengan atlet. “Jadi orang yang mempunyai kualitas bagus tidak bisa ikut di event-event yang bagus, cuma kalah sama orang-orang yang punya channel. Biasanya itu anak-anak titipan dari pelatih yang bisa ikut padahal kualitasnya biasa saja.”tuturnya Cowok yang berusia 19 tahun ini merasa bahwa kualitas atlet Indonesia tidak bisa maju jika hal ini terus terjadi. “Ya kapan bisa majunya kalau seperti itu. Kualitas pemain yang lebih penting daripada channel atau anak-anak titipan.”ujar Tacik Pada awalnya, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Semarang ini bermain voli sejak duduk dibangku sekolah dasar. Ia juga baru mengetahui bahwa sang ayah juga mantan pemain voli. Sebagai seorang atlet, Tacik pun tidak jauh dari cedera yang pernah alami dibagian kaki. “Waktu itu pas main pertandingan di Maluku, aku ngeblock tapi gak tau ke injek atau nekuk, engkel aku bengkak dan gak bisa lanjut main lagi. Ya agak sedikit kecewa dan langsung kalah tim aku saat aku udah dibawa keluar lapangan.”tutupnya(put/adt)

Badminton: Di Pasangkan Oleh Orang Yang Belum Di Kenal, Beno Tetap Mampu Raih Medali Emas

Beno-Drajat-Badminton

Prestasi cemerlang berhasil diukir Beno pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017. Pasalnya ia meraih 1 medali emas, 1 medali perak dan 1 medali perunggu. Beno yang pada saat itu mewakili wilayah Jawa Barat dalam cabang olahraga badminton. Cowok dengan nama lengkap Beno Drajat ini sudah menekuni badminton sejak duduk dibangku sekolah dasar. Dalam ajang POMNas di kategori ganda putra, Beno dipasangkan bersama partner yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Meski begitu, ia tetap mampu membawa pulang medali emas. “Di ganda putra saya bersama teman sekampus saya dan saya sebelumnya belum pernah main. Tapi alhamdulilahnya kita dapat medali emas. Emang sebelumnya kita bisa rame main lawan tuan rumah, tapi waktu itu emang harus adaptasi lagi sama partner. Sesudah itu kita bisa main enak sampai ke final,”ujarnya Meski sempat berhenti bermain badminton karena latihan fisik yang cukup keras, Beno pun kembali bangkit berkat dukungan keluarga dan teman-teman dekat. Beno yang kini telah meninggalkan club badmintonnya telah berfokus untuk mewakili kampus yang memberikannya beasiswa, Universitas Komputer Indonesia (Unikom) di Bandung. “Setelah saya keluar dari club dan memulai kuliah karena prestasi saya waktu itu lagi turun, saya harus banting setir. Tapi di kuliah masih badminton jadi ya sekarang kalo pertandingan bawa nama kampus. Apalagi saya dapat beasiswa juga, jadi saya harus banyak ngasih yang terbaik untuk Unikom,”ucap cowok yang berusia 20 tahun ini Beno yang saat ini mengambil jurusan Manajemen pun memiliki pandangan tentang bagaimana badminton di Indonesia. Menurutnya, olahraga badminton dalam sektor tunggal putri di Indonesia masih belum menonjol. “Pastinya badminton lebih bagus ya apalagi sebelumnya di ganda putri lagi turun dan sekarang sudah mulai naik lagi. Cuma tinggal di tunggal putri saja kayaknya masih belum terlalu menonjol gitu. Tapi kalau lebih giat dan berusaha yang maksimal pasti lebih bagus lagi dari sebelumnya,”tutupnya(put/adt)

Borong Enam title di Super Series 2017, Kevin/Marcus di Puji Susy Susanti

Susy Susanti selaku Kabid Binpres PBSI, memberikan pujian kepada semua atlet Indonesis yang berlaga di Super Series 2017. Terutama kepada pasangan Ganda Putra Indonesia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon yang pada Minggu, (26/11) kemarin memecah rekor, dengan berhasil menyabet enam titel super series/premier musim ini. Dari lima nomor yang dipertandingkan di super series tahun ini, tak ada pebulutangkis yang mampu meraih enam gelar juara pada musim ini selain Kevin/Marcus. Gelar Kevin/Marcus didapat dari All England, India Super Series, Malaysia Super Series, Jepang Super Series, China Super Series Premier, dan Hong Kong Super Series. Dilansir dari cnnindonesia.com, Susy Susanti yang merupkan atlet legendaris bulutangkis indonesia memberi ucapan selamat Atas gelar yang diraih Kevin/Marcus, “Salut untuk mereka karena di tahun 2017 mereka bisa meraih enam titel super series,” ucap Susy dalam rilis resmi. Kevin/Marcus tampil sempurna di dua pekan terakhir dalam rangkaian turnamen China Super Series Premier dan Hong Kong Super Series. Dua gelar yang didapat Kevin/Marcus membuat tim bulutangkis Indonesia berhasil memenuhi target yang dibebankan oleh PBSI. “Target kami di China dan Hong Kong terpenuhi, karena Kevin/Marcus yang secara konsisten bisa menjuarai dua turnamen tersebut.” Selain memuji Kevin/Marcus, Susy juga memberikan apresiasi pada Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang dapat menembus babak final Hong Kong Super Series. “Permainan ganda putri (Greysia/Apriyani) cukup baik meski harus mengakui keunggulan Chen Qingchen/Jia Yifan di babak final.” ujarnya. Sedangkan untuk nomor tunggal putra, Susy mengakui hasil yang diraih oleh Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting kurang memuaskan. “Para pemain tunggal putra harus lebih yakin dengan pola dan strategi permainan. Tentu juga mereka harus lebih mematangkan teknik dan fisik agar meraih hasil lebih baik di pertandingan berikutnya,” kata Susy.

Perjuangan Nandita Hingga Berhasil Mendapatkan Gelar Miss Volleyball Dalam Turnamen Bola Voli Internasional

Nandita-ayu-salsabila-atlet-voli

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, memang demikian pepatah yang cocok untuk Nandita. Atlet cantik yang menggeluti voli ini bernama panjang Nandita Ayu Salsabila, dirinya mengaku mengikuti jejak orang tua yang dulu merupakan mantan atlet tim nasional Indonesia. Saat itu, Nandita pun sangat termotivasi ingin mengukir prestasi seperti orang tuanya. “Mama dan papa saya adalah atlet, papa atlet sepakbola, dan mama atlet voli. Dari dulu sering diajak mama untuk lihat mama latihan. Disitu, mama yang sangat berperan ngelatih saya, dari mulai teknik dasar voli hingga tehnik lainnya. Kebetulan mama papa juga eks tim nasional juga kan jadi termotivasi.”ujarnya Tanpa ada paksaan, Nandita pun terus mengejar prestasi hingga menjadi Miss Volleyball 2016 dalam ajang turnamen Bola Voli Internasional di Vietnam. Ia tidak menyangka bisa menyabet gelar tersebut, dan mengalahkan kandidat dari negara-negara lain. “Saya mendapat penghargaan yaitu penobatan saya menjadi Miss Voli, itu gak nyangka sama sekali. Karena itu kan 1 peserta mewakili 1 negara. Nah kebetulan saya yang dipilih mewakili Indonesia. Saingannya juga dari Korea, Jepang, Vietnam, Thailand, China dan Hongkong. Ya tiba-tiba nama saya disebut menjadi Miss Volleyball 2016. Kaget aja kaya gak yakin saya bisa kepilih gitu.”tutur mahasiswi Manajemen Universitas Trisakti ini. Saat ini Nandita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Livoli dan Pro Liga. Sebelumnya, Nandita telah membawa pulang berbagai medali dalam beberapa turnamen nasional maupun internasional, seperti Sea Games tahun 2013, 2015 dan 2017 dan turnamen Asean School. https://www.instagram.com/p/BbTMzv0HYsX/?taken-by=nanditaayu17 Sebagai seorang atlet, Nandita pun merasa bangga bisa membawa nama Indonesia keberbagai negara dunia dan bertemu dengan teman sesama atlet. Namun, Nandita pun merasa bahwa menjadi atlet memang butuh kerja keras agar dapat membanggakan orang-orang. “Jadi atlet itu harus ngerasain yang namanya kerja keras, latihan pagi sore bahkan sampai nangis. Jadi atlet memang terpuruk kalau lagi cedera dan ya kalau menang dipuji, tapi kalau kalah di caci maki.”tutupnya (put/adt)

Cidera Saat Bermain Voli Tidak Menghalangi Tekad Angga Untuk Meneruskan Jejak Sang Ayah

Angga-Pratitis-Setyasa-Voli

Perjalanan mengejar cita-cita menjadi seorang atlet memang butuh perjuangan. Seperti cerita dari Angga Pratitis Setyasa yang merupakan salah satu atlet cabang olahraga voli di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017. Cowok yang akrab disapa Angga ini merupakan wakil dari wilayah Jawa Tengah yang membawa pulang medali perak. Berawal dari cerita sang ayah yang merupakan pemain voli didaerah asalnya, Angga mulai tertarik untuk mengikuti jejak sang ayah. Saat naik ke kelas 3 Sekolah Menengah Pertama, Angga bertekad untuk mendaftar masuk klub voli, Bina Taruna. Dengan kondisi hujan dan hari sudah mulai malam, Angga bersama ayahnya tetap berangkat untuk mendaftar klub yang berada tidak jauh dari kediamannya tersebut. “Saya suka bermain voli karena dengar cerita Bapak yang dulu pemain voli di kampung. Saat naik kelas 3 SMP, saya diantar bapak daftar di klub yang ada di Semarang, Bina Taruna. Saya ingat pada waktu itu daftarnya malam-malam, dengan kondisi hujan pula,”tuturnya Pintu untuk mengikuti berbagai kompetisi voli mulai terbuka, setelah Angga mendaftar di klub Bina Taruna. Saat kelas 1 SMA, ia terpilih dalam seleksi Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) di Jawa Tengah dan menang juara 1 dalam kompetisi Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas). Tak hanya itu, setelah lulus SMA prestasi Angga semakin gemilang. “Setelah lulus SMA, saya diambil klub senior Semarang Bank Jawa Tengah dan alhamdulilah masih disana sampai sekarang. Selama kuliah juga saya pernah menang juara 1 Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) se-Jawa Tengah, juara 2 POMNas 2017 dan kemarin baru saja saya mengikuti Pra Pekan Olahraga Provinsi (PorProv) alhamdulilah juga juara 2,” ucapnya kepada nysnmedia.com View this post on Instagram A post shared by Angga Setyasa (@anggasetyasa1) Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 jurusan Administrasi Bisnis ini pernah mengalami cedera dibagian engkel kaki, dan ia membutuhkan pemulihan selama 2 bulan. Ia juga sempat berbagi cerita saat ia bertanding di Cilacap. “Saya pernah main di Cilacap jadi saya ngeblock pakai kepala saya tapi di spike sama lawan. Kepala saya langsung pusing, tapi permainan tetap berlanjut.”tutupnya(put/adt)

Bagi Ajeng, Ucapan Sang Ibu Menjadi Obat Penenang Saat Bertanding Voli

Egidia-ajeng-rista-Voli

Menjadi seorang atlet memang perlu kekuatan fisik maupun batin. Tidak jarang para atlet sering mendapatkan ucapan yang tidak enak dari lawan dan saingan sesama atlet. Seperti yang sempat dialami oleh Ajeng, yang merupakan atlet voli asal Pontianak. Sering mendapatkan ucapan yang tidak enak dari lawan memang menjadi suatu tantangan tersendiri bagi gadis yang memiliki nama lengkap Egidia Ajeng Resta. “Omongan dari orang yang gak suka sama kita tuh jadi tantangan, yang bagiku merupakan tantangan paling berat. Ajeng selalu curhat sehabis pulang latihan sama Ibu terus Ibu bilang “mbak, kalau mau sukses kamu harus ngadepin hal seperti ini. Ini masih langkah awal, nanti semakin tinggi dan semakin hebat, kamu akan lebih banyak lagi omongan yang lebih dari ini. Orang hanya iri dan gak mau kamu sukses.” Jadi kalau sekarang masih ada yang begitu, Ajeng selalu ingat perkataan Ibu.” Ujar Ajeng Gadis yang sekarang duduk dibangku kelas 2 SMAN 7 Pontianak ini mengikuti 2 cabang olahraga, yaitu voli umum dan voli pantai. Pada awalnya, ia hanya mengikuti cabang olahraga voli, namun ketika ia diminta oleh sekolah untuk ikut cabang olahraga voli pantai dan ternyata ia berhasil menyabet juara 1 di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) dan Kejuaraan Daerah di Sintang. Bahkan ia menganggap bahwa saat bertanding voli pantai lebih sulit dibandingkan voli biasa. “Sebenarnya bertanding voli pantai lebih susah karena perlu kekompakan dan kerja sama yang maksimal. Misalnya skor kita baru 10 pasti udah capek banget soalnya memang fisik kita harus lebih kuat.” ucapnya Ajeng juga menambahkan bahwa ia merasa berkesan ketika kumpul dengan timnya baik saat menang maupun kalah. “Buat Ajeng yang berkesan selama main voli ya kalau kita menang selalu langsung kumpul dan makan bareng. Tapi kalau kita kalah juga harus kumpul dan ngomongin kesalahan saat pertandingan.”tutupnya (put/adt)

Mentari, Atlet Cantik Pembawa Medali Emas Pada Ajang BWF World Junior Championships 2017

Mentari-Atlet-Cantik-Pembawa-Medali-Emas-Pada-Ajang-BWF-World-Junior-Championships-2017

Ajang Blibli.com BWF World Junior Championships 2017 telah usai. Indonesia membawa pulang 5 medali. Salah satu yg membawa medali emas adalah Pitha Haningtyas Mentari yang dipasangkan dengan Rinov Rivaldy. Pitha Haningtyas Mentari merupakan atlet muda badminton asal Jakarta yang berusia 18 tahun. Gadis cantik dengan nama panggilan Mentari ini menuturkan rasa senangnya ketika membawa emas untuk Indonesia. “Bersyukur dan seneng banget pastinya bisa dapet medali emas di World Junior Championships (WJC) pertama dan terakhir dalam tahun ini” tuturnya Tak hanya dengan Rinov, Mentari juga dipasangkan dengan Serena Kani dalam kategori ganda putri. Tak mudah harus disandingkan dengan 2 pasangan sekaligus dalam satu ajang. Namun, Mentari tidak butuh latihan khusus untuk menyatukan kesamaan dengan pasangannya. “Latihan khusus sih gak ada, cuma kan memang untuk ganda campuran saya dengan partner hanya punya waktu 2 minggu untuk latihan. Kalau ganda putri memang sudah partneran dari Asian Junior Championships dan memang sudah sering latihan. Kuncinya komunikasi, saling support, tenang, sabar, yakin dengan partner, percaya sama kemampuan yg kita punya dan yang pasti harus fokus” ujarnya Atlet yang sudah bermain badminton sejak usia 7 tahun ini menceritakan pengalaman berkesan ketika mengikuti World Junior Championships di Yogyakarta lalu. Tak hanya itu, ia juga menuturkan perasaannya ketika bertemu wakil Indonesia juga saat babak final. “Yang berkesan saat lawan Lee Yu Rim / Kim Won Ho asal Korea. Kim Won Ho pemain yang bagus dan tahun ini dia sudah juara Grand Prix. Lee Yu Rim pun bukan pemain yg biasa biasa saja, mereka seeded 1 kemarin dan kami bisa menang 2 set langsung. Kalau yang final, ya diluar kita memang teman tapi di dalam lapangan kan kita musuh, jadi ya gak ada yg mau kalah dan juara ini pun untuk Indonesia” ucapnya Mentari juga memberikan pesan bagi para anak-anak yang memiliki cita-cita sebagai atlet terutama cabang olahraga badminton. “Semangat terus, jangan pernah nyerah, kejar terus cita cita nya” tutupnya

Sempat Cuti Main Bola Voli Selama Dua Tahun, Mela Kejar Prestasi Yang Sempat Lepas.

Mela-atlet-Voli

Pada umumnya manfaat olahraga termasuk main bola voli tidak hanya bertujuan memperoleh jasmani yang sehat, tetapi juga memiliki jiwa dan kepribadian yang baik dan sesuai norma dalam kehidupan. Perlu kita contoh semangat dari gadis cantik bernama lengkap Mela Ropikawati atau Mela. Mela yang ternyata sempat cuti atau absen selama 2 tahun bermain voli karena faktor ekonomi, dan Ia terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya saat merantau di Jogja,  namun hal itu tidak membuatnya patah semangat untuk melanjutkan prestasinya dengan bermain voli. Pada bulan agustus lalu, barangkali menjadi saat terindah baginya, karena ia berhasil kembali untuk bermain voli bahkan langsung mengikuti turnamen Kejuaraan Daerah Senior Antar Club di Yogyakarta. “Mulai Agustus kemarin saya keluar dari pekerjaan saya karena gak tahan pengen main voli. Saya lihat teman-teman udah pada sukses di voli. Dapat panggilan main sana sini. Kan enak tuh hobi yang di bayar,”ujar Mela Mahasiswi Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta ini juga menceritakan bagaimana perjuangannya yang harus cuti voli ketika pindah ke Yogyakarta dari Ciamis. https://www.instagram.com/p/BZT5t94BwaO/?taken-by=melarpw “Saya orang Ciamis dan orang tua di Ciamis. Saya pindah ke Jogja untuk kuliah. Saya masuk kuliah karena keinginan sendiri, daftar awalnya saja saya nyari duit sendiri dari hasil bermain voli. Di Jogja dapat teman main bola voli dan di ajak masuk club. Setelah jalan 2 bulan, saya berhenti karena sulit mengatur waktu. Saya kuliah sambil kerja untuk biaya hidup di Jogja. Orang tua saya cuma sanggup membiayai kuliah saya. Tapi alhamdulillah akhirnya dapat dukungan. Bapak saya juga dulunya pemain voli meskipun cuma sampai tingkat daerah,” katanya Ia juga menambahkan perasaannya ketika harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak bisa melanjutkan lagi bermain bola voli. “Cuma bisa iri saja. Lihat teman-teman di Instagram dan denger cerita mereka yang udah sukses. Lama-lama malah termotivasi pengen aktif lagi,” ucapnya Tak hanya itu, dara cantik ini juga menjelaskan kepada nysnmedia.com, tentang bagaimana ia bisa mengikuti voli. “Dari kecil suka voli, cuma karena tinggal di kampung, jadi gak ada yang latih . Ekskul di sekolah juga cuma gitu aja. Sebenarnya saya mulai tau voli saat masuk SMK itu terus ikut seleksi. Dan saat SMK saya pindah ke kota, ngekost sendiri dan pengen serius di voli. Saya dapat beasiswa sekolah 3 tahun gratis. Sering mewakili ajang turnamen antar sekolah juga dan saya dapat beberapa sertifikat juga.”tutupnya (put/adt)

Berkat Prestasinya di Voli Pantai Mia Bisa Berkeliling Nusantara

Mia-Widiayati-Voli-Pantai

Mia Widiayati atau yang sering sapa Mia merupakan salah satu atlet cabang olahraga voli pembawa nama Jawa Tengah pada kompetisi POMNas 2017 lalu. Mia dan tim volinya mendapatkan medali perunggu setelah mengalahkan Sumatera Selatan. Tak hanya voli, Mia juga mengikuti berbagai kompetisi untuk cabang olahraga voli pantai. Gadis berusia 21 tahun ini menuturkan kelebihan menjadi atlet voli, terutama voli pantai alasannya adalah, bisa mengunjungi berbagai destinasi wisata di Indonesia terutama pantai. “Yang paling seru kalo lagi event tanding voli pantai. Gak hanya bisa main voli di pantainya aja tapi juga bisa piknik. Aku pernah ke Padang, Bengkulu dan yang paling berkesan itu ke pulau Bokori di Sulawesi Tenggara. Sekarang itu sudah jadi destinasi wisata” tuturnya Menurut Mia, voli merupakan olahraga yang unik, tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam bermain voli, tetapi lebih karena faktor kerja sama antar anggota tim. “Voli itu unik, karena voli merupakan olahraga beregu dimana kita tidak hanya mengasah skill kita tapi juga belajar untuk bekerja sama, kompak, dan gotong royong dalam tim” ucapnya Kecintaannya terhadap voli sudah tumbuh sejak kelas 5 SD. Berbagai kompetisi dalam cabang olahraga voli pantai sudah ia jalani dengan membawa pulang berbagai medali seperti POPNas, PON Jabar dan POMNas. Mahasiswi Ikip Veteran Semarang ini juga menceritakan bagaimana awal ketika masuk ke club voli Ananta yang turut membesarkan namanya. “Awalnya ikut ekskul di SD. Kebetulan guru olahraga nya pelatih club Ananta namanya Bapak Sutrisno. Nah lama kelamaan tertarik gabung di club. Untuk sekarang ini kebetulan di ikip veteran ada UKM voli nya, gabung disana deh selama ada event mahasiswa.” tutupnya (put/adt)

Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017, Rinov Dan Erich Menjadi Satu-Satunya Harapan Indonesia

ldy-Yeremia Erich Yoche Yacob_wjc2017_perorangan_19-10_2

Setelah pasangan Muhammad Shohibul Fikri/Adnan Maulana harus mengakui kekalahan oleh Korea dengan skor 9-21 dan 18-21, kini Rinov Rivaldy/Yeremia Erich Yoche Yacob menjadi satu-satunya harapan pada kategori ganda putra untuk maju ke babak perempat final, pada ajang Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017. Kemenangan Rinov/Yeremia berhasil diraih setelah menaklukkan pemain andalan asal India, Krishna Prasad Garaga/Dhruv Kapila dengan skor 21-17 dan 21-17. Meskipun sebenarnya mereka lebih difokuskan untuk ganda campuran, tetapi Rinov/Yeremia mengaku siap untuk menjadi harapan Indonesia dan keduanya akan berjuang dengan maksimal. “Meskipun latihan ganda putra tidak terlalu maksimal, tetapi kami ingin berusaha menampilkan permainan terbaik saja di babak berikutnya. Yang pasti kami akan tetap fokus di dua nomor tesebut, apalagi menjadi ganda putra satu-satunya yang tersisa, kami semakin termotivasi”, tutur Yeremia yang dilansir pada djarumbadminton.com. Yeremia juga menambahkan, bahwa permasalahan fisik yang terkuras harus memiliki persiapan untuk hari-hari berikutnya dan kelelahan bukanlah alasan. “Kalau masalah fisik pastinya semakin hari semakin terkuras, tapi kami sudah mempersiapkan kemungkinan seperti ini sejak jauh-jauh hari, jadi tidak akan ada alasan kelelahan atau sebagainya, pokoknya main semaksimal mungkin,” ucap Yeremia. Pada babak perempat final nanti Rinov/Yeremia akan berlaga melawan ganda putra asal Taipei Chuang Pu Sheng/Lin Yu Chieh, yang sebelumnya telah menaklukkan dengan 3 game pasangan Christopher/Matthew Grimley asal Skotlandia dengan skor 20-22, 21-17, dan 21-16. (put/adt)

Wakil Indonesia Akan Bertemu Di Perempat Final Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017

Gregoria Mariska Tunjung_wjc2017_perorangan_19-10_1

Laga Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017 yang berlangsung hari ini di GOR Among Rogo, Yogyakarta sudah memasuki babak perempat final. Namun yang menarik dari tim Indonesia adalah dua wakil Indonesia pada kategori tunggal putri, yaitu Gregoria Mariska Tunjung dan Aurum Oktavia Winata yang akan bertemu dan memperebutkan posisi untuk semifinal. Seperti yang dilansir pada djarumbadminton.com kemarin, Gregoria akan siap menghadapi pertandingan hari ini walaupun ia sempat kurang fit. Ia juga tidak memiliki strategi khusus untuk melawan Aurum karena sudah mengetahui cara bermainnya. “Untuk pertandingan besok tentunya saya siap untuk menghadapinya. Habis ini saya akan istirahat, jaga makan, dan minum obat yang sudah dianjurkan. Untuk besok tidak ada strategi khusus lawan Aurum, soalnya kita sudah sama-sama tahu kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti saya akan berusaha semaksimal mungkin, karena Aurum pun pasti ingin menang di pertandingan besok” ungkap Gregoria. Pada pertandingan sebelumnya, Gregoria melewati 3 game melawan Wang Zhiyi asal Tiongkok dan berhasil menang dengan skor 21-18, 19-21 dan 21-12. Sedangkan Aurum berhasil menaklukkan pemain Vietnam, Thi Anh Thu Vu dengan skor 21-13 dan 21-9. Kini keduanya akan berlaga pada babak 8 besar Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017. (put/adt)

Tiga Pasangan Ganda Putra Indonesia Lolos Ke Babak Ketiga Yonex Sunrise BWF WJC 2017

hibul Fikri dan Adnan Maulana_wjc2017_perorangan_17-10_5

Tiga pasangan ganda putra Indonesia pada ajang Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017 yang sedang diadakan di Yogyakarta, berhasil masuk ke babak ketiga. Mereka adalah Muhammad Shohibul Fikri/Adnan Maulana, Ade Bagus Sapta Ramadhany/Ghifari Anandaffa Prihardika dan Rinov Rivaldy/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan. Seperti yang dilansir pada situs djarumbadminton.com, pasangan Adnan/Fikri lebih tenang dalam bermain dan mampu menguasai keadaan. “Hari ini mainnya sudah lebih rileks dan tidak tegang. Kami sudah mulai terbiasa dan tidak ada kendala berarti. Kami menjaga no lobnya aja karena mereka bagus di sana” ungkap Adnan. Mereka optimis akan lolos ke babak semifinal dan akan memberikan yang terbaik dalam babak ketiga. “Besok kasih yang terbaik saja. Main lebih safe karena tadi masih banyak mati sendiri. Target awal saat ini semifinal dulu, semoga nanti bisa juara” ucap Fikri. Dalam babak kedua, pasangan Adnan/Fikri mengalahkan pasangan dari Belgia dengan skor 21-15 dan 21-15 dan akan bertemu dengan Robert Cybulski/Tymoteusz Malik pasangan asal Polandia. Selain Adnan/Fikri, pasangan Rinov/Yeremia akan bertemu dengan Jepang setelah menaklukkan Chow Hin Long/Mak Pak Ngai asal Hongkong. Sedangkan pasangan Ade/Ghifari akan bertemu perwakilan dari China, Di Zijian/Wang Chang setelah mengalahkan Mathieu Morneau/Nicolas Nguyen pasangan ganda putra dari Kanada. Itu dia tiga pasangan ganda putra Indonesia yang lolos ke babak ketiga Yonex Sunrise BWF WJC 2017.(put/adt)

Tunggal Putri Indonesia Berhasil Kantongi Tiga Tiket Untuk 16 Besar

thumb-Aurum Oktavia Winata_wjc2017_perorangan_16-10_6

Menyusul keberhasilan dari pasangan ganda putra, 3 tunggal putri Indonesia lolos ke babak 16 besar dalam ajang Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017 yang kini berlangsung di GOR Among Rogo, Yogyakarta. Kemenangan diawali oleh Gregoria Mariska Tunjung yang menaklukkan Korea dengan skor 21-9 dan 21-5. Disusul oleh Aurum Oktavia Winata yang menang atas Malaysia dengan skor 21-12 dan 21-6. Di tutup dengan tunggal putri Indonesia yaitu Choirunnisa yang berhasil mengalahkan Park Ga Eun setelah melewati tiga games dengan skor 21-18, 20-22 dan 21-14. Kunci kemenangan Aurum pada game kali ini adalah bermain dengan tenang. Selain itu, ia juga menerapkan beberapa strategi yang ia susun bersama pelatih dengan melihat video pertandingan lawan yang akan ia hadapi. “Pertandingan hari ini hawanya lebih tenang. Mungkin karena kemarin-kemarin sudah main, jadinya lebih tenang. Lawan yang tadi sudah lihat di video, saya banyak jagain bola-bola depannya lawan. Di game kedua saya coba servis pendek, karena dia nggak enak nerimanya. Dia lebih nyaman menerima servis panjang,” ucap Aurum, seperti yang dilansir pada djarumbadminton.com Pada game bulutangkis selanjutnya, Aurum akan bertemu dengan tunggal putri asal Vietnam, yaitu Thi Anh Thu Vu. Ia mengaku bahwa Thi Anh Thu Vu bermain dengan bagus dan telah berhasil mengalahkan pemain tunggal putri lain. “Besok lawan Vietnam, dia mainnya lumayan bagus. Di Malaysia (International Junior Open 2017) kemarin dia mengalahkan teman saya (Eprilia Mega Ayu Swastika), tapi dia kalah sama Asty (Dwi Widyningrum). Saya ingin lebih menjaga feeling buat menurunkan bola, buat menyerang. Sama main fokus dan konsentrasi,” tuturnya.(put/adt)

Setelah 25 tahun, Indonesia Kembali Menjadi Tuan Rumah BWF World Junior Championships Yang Diikuti 65 Negara

Chairunnisa pemain tunggal putri Indonesia yang berlaga di ajang BWF World Junior Championships Foto: http://badmintonindonesia.org/

BWF World Junior Championships kembali diadakan di Indonesia. Perhelatan yang pernah diadakan pada tahun 1992 di Jakarta, kini memilih Yogyakarta sebagai tuan rumah, event bergengsi tersebut bertempat di GOR Among Rogo Yogyakarta yang digelar pada 9 Oktober sampai 22 Oktober 2017 mendatang. Dengan nama Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships, kompetisi bulutangkis level junior ini akan diikuti 65 negara dengan usia dibawah 19 tahun. Dalam rilis yang dimuat dalam situs Blibli.com, ketua panitia penyelenggara sekaligus Sekretaris Jendral PP PBSI Achmad Budiharto menuturkan harapannya kepada pemain Indonesia karena Indonesia menjadi tuan rumah sehingga akan menambah semangat, energi positif dan daya juang bagi para pemain muda. Dukungan dari masyarakat pun akan besar. Acara ini akan dibagi menjadi 2 pekan. Di pekan pertama diadakan kompetisi beregu campuran yang memperebutkan Piala Suhandinata dan dipekan kedua akan diadakan kompetisi perorangan (Eye Level Cup). Demi kelancaran acara ini, para panitia menggelar pelatihan secara khusus yaitu Training Camp 2017 Road to World Junior Championships yang dilakukan di GOR Bulutangkis Djarum–Magelang pada 23 September sampai 5 Oktober 2017 lalu. Christian Hadinata bersama sejumlah pelatih lainnya dari menjadi mentor untuk para pebulutangkis junior selama kegiatan Training Camp.(put/adt)