Bagi Remaja Yang Satu Ini, Berlatih Tinju Untuk Belajar Kemandirian Serta Berguna Untuk Menjaga Diri

Nadia bersama ayahnya yg selalu mendampingi dalam setiap pertandingan tinju

Seperti yang pernah di ulas oleh tim redaksi NYSN, bahwa tinju merupakan olahraga para ksatria dengan pola duel satu lawan satu. Bagi lelaki itu hal yang biasa, tapi kali ini tinju menarik minat kaum perempuan. Mari kita simak wawancara reporter NYSN Cristy Magdalena. Dia adalah Nadia Dwi Ningrum, siswi kelas X di SMA Waskito Tangsel adalah salah satu atlet tinju wanita yang tergabung dalam club Benteng Boxing Camp. Remaja putri yang akrab di sapa dengan panggilan Nadia ini mengatakan kepada NYSN bahwa dirinya terinspirasi oleh kakaknya yang telah berhasil merebut juara nasional. “Saya melihat sudah banyak wanita yang ikut olahraga tinju jadi saya tertantang untuk mengikuti olahraga tersebut. Saya juga terinspirasi dari kakak yang sudah lebih dulu menjadi juara nasional. Selain itu dari prestasi tinju tersebut saya bisa masuk SMA atau Universitas dengan mudah.” kata remaja yang biasa dipanggil Nadia ini. Walaupun baru sekitar 1 tahun berlatih tinju, prestasi Nadia sudah cukup banyak, dari beberapa diantaranya adalah: 1. Juara 3 Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) VII Tingkat Provinsi Banten 2. Juara 3 Kejuaraan Daerah Tinju Amatir 3. Juara 1 Pekan Olahraga Kota (PORKOT) 2016 Tangerang Selatan Remaja putri pemberani ini juga menambahkan bahwa ayah dan kakaknya mendukung penuh hobby yang di gelutinya hingga saat ini. “Ayah saya dan kakak saya menyetujui saya berlatih tinju, cuma mama saya awalnya melarang karena saya perempuan dan saya sudah sering babak belur setelah pulang tanding. Akhirnya saya meyakinkan mama saya agar tidak terlalu khawatir karena saya ikut olahraga ini untuk menjaga diri saya sendiri.” ujar Nadia. Nadia memaparkan kepada NYSN sampai sekarang ia masih ingat bagaimana perasaannya saat pertama kali menginjak ring tinju dan bertanding dengan ditonton oleh banyak orang.(5/7) “Pertama kalinya naik ke atas ring tinju dan saat pertama kalinya saya beratraksi diatas ring yang dilihat banyak orang, walaupun pada saat itu saya mendapatkan juara 3, tapi saya jadikan sebagai pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan dan sebagai acuan untuk saya berlatih dengan lebih giat dan rajin.” tuturnya. Nadia juga mengakui bahwa dirinya tidak suka jika kalah dalam pertandingan, jadi ia selalu berusaha menjadi yang terbaik dengan serius berlatih dan terus belajar. Dan uniknya menurut Nadia, olahraga tinju bisa untuk laki-laki maupun perempuan meskipun pola latihan dan fisiknya jelas berbeda. “tinju itu cocok untuk perempuan maupun laki-laki, memang keliatan banyak perbedaan antara perempuan dengan laki-laki. Misalnya dari segi fisik kita berbeda dengan laki-laki dan ketika latihan teknik-teknik kita sangat beda ketika latihan. Seperti contohnya dalam gerakan yang dilakukan terkadang kita akan merasa tidak sama dengan gerakan yang dilakukan dengan laki-laki.” jelas remaja kelahiran Tangerang, 23 januari 2002 ini. Nadia mengatakan bahwa tinju bukan olahraga sembarangan, dan ia bercita-cita menjadi Dokter dan pelatih tinju. Nadia juga akan meneruskan berlatih tinju sampai batas umur yang telah ditentukan sesuai dengan peraturan dalam tinju. “Tinju itu bukan olahraga sembarangan. Tinju juga mempunyai beberapa seni yang berbeda dengan olahraga lain. Walaupun olahraga ini agak berbahaya apalagi jika dilakukan oleh perempuan seperti saya, tapi lewat berlatih tinju kita bisa belajar untuk mandiri dan menjaga diri kita sendiri.” tutupnya.(crs/adt)

Pernah Mimisan Karena Tinju, Pemuda ini Tetap Ngotot Kejar Prestasi Demi Masuk Universitas Negeri

Pernah Mimisan Karena Tinju, Pemuda ini Tetap Ngotot Kejar Prestasi Demi Masuk Universitas Negeri

Layaknya petarung sejati dengan istilah man to man, merupakan kebanggaan tersendiri bagi kesatria olahraga tinju, berdiri di atas ring beralaskan matras, juga menggunakan sarung tangan tebal di percaya mampu melindungi tubuh dari pukulan yang berakibat fatal. Rheza Nugroho Widiyanto merupakan seorang atlet tinju muda yang bersinar di belantika sasana kejuaraan tinju, Rheza sudah mengantongi banyak medali berkat prestasinya dalam olahraga tinju. Pelajar yang baru saja naik ke kelas 12 di SMAN 7 Tangsel ini mengatakan kepada NYSN bahwa berlatih tinju karena ingin punya keahlian dan juga untuk beladiri. “Waktu itu sebelum saya masuk SMP saya ikut kelas olahraga. Kebetulan ada olahraga tinju dan kebetulan juga ada teman saya yang ikut. Saya juga ingin punya keahlian dan punya kemampuan beladiri.” ungkap Rheza. “Saya memilih tinju karena tinju itu seni beladiri yang agung. Bagaimana kita bisa memukul lawan tapi lawan tidak bisa memukul kita. Otot saja tidak cukup, tapi kepintaran yang menentukan kemenangan seorang petarung.” lanjut Rheza. Menekuni olahraga tinju sejak kelas 6 SD, dan hingga saat ini Reza telah mengumpulkan berbagai prestasi, diantaranya: 1. Medali perak Kejurda tingkat provinsi 2013 2. Medali emas Popda tingkat Provinsi 2014 3. Medali perunggu Kejurnas PPLP medan 2015 4. Medali perak Popda tingkat Provinsi 2016 5. Medali emas Porkot tingkat Kota 2016 6. Medali perak Kejurnas PPLP tingkat Nasional 2016 7. Medali perak Kejurnas umum se-Indonesia 2016 8. Medali perak Kejurda tingkat Provinsi 2017 9. Medali perunggu Kejurda tingkat Provinsi 2017 10. Medali emas Rookie Fight se-Indonesia 2017 Walaupun kadang jadwal pertandingan bersamaan dengan waktu belajar di sekolah, sehingga Rheza harus meminta izin kepada pihak sekolah untuk mengikuti pertandingan, tetapi bagi Rheza itu bukan masalah dan dirasa tidak mengganggu nilai-nilainya. Rheza menambahkan bahwa dirinya pernah cidera pada saat pertama kali ikut pertandingan. “Waktu pertama kali ikut pertandingan, hidung saya bocor, pecah dan mimisan. Kejadian itu menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan.” kata Rheza menceritakan pengalamannya. Remaja berusia 17 tahun tersebut juga mengatakan kepada NYSN bahwa terkadang ia kurang menyukai jika harus mengontrol berat badannya beberapa minggu sebelum menghadapi pertandingan.(5/7) “Hal yang kurang saya sukai itu biasanya sebelum pertandingan harus mulai mengontrol berat badan. Karena tinju itu olahraga yang menggunakan kategori sesuai berat badan kita dalam pertandingan, jadi setiap kita mau bertanding kita harus mempertahankan berat badan, tidak boleh overweight, karena jika sampai overweight kita harus menanggung resikonya misalnya tidak bisa ikut bertanding.” ujarnya Rheza juga mengatakan, selain harus menjaga berat badan agar tetap stabil, dirinya juga harus jaga pola makan serta latihan yang teratur. Biasanya, beberapa hari sebelum pertandingan, Rheza menghindari nasi dan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan. Menurut remaja yang bercita cita ingin menjadi seorang polisi atau tentara, berprestasi di bidang olahraga tinju bisa membantunya untuk masuk ke Universitas Negeri dengan menggunakan beberapa sertifikat kemenangan yang sudah dimilikinya. Rheza juga berencana akan menggunakannya ketika lulus dari SMA dan mendaftar ke Universitas yang diinginkannya melalui jalur prestasi. “Setelah lulus SMA nanti rencananya mau daftar di UNJ. Sebenarnya masih bingung jurusan apa, tapi kalaupun saya ambil bidang olahraga otomatis saya tetap akan di olahraga tinju. Nanti setelah selesai kuliah saya mau melanjutkan pendidikan wajib militer karena saya ingin menjadi polisi atau tentara.” jelas Rheza. “Jangan takut untuk ikut tinju, tinju itu olahraga seni bukan olahraga yang mematikan dan berbahaya. Semua orang bisa ikut tinju dari anak kecil sampai dewasa, pria maupun wanita semua bisa ikut tinju untuk melatih ketangkasan dan beladiri.” pesannya (crs/adt)

Upaya Orang Tua Dalam Mensupport Semua Kegiatan Baseballnya Berbuah Prestasi

Reagan saat mendapatkan medali emas dalam kejuaraan Mustang U-10 Asia Pacific Series

Memantau perkembangan anak kandung yang di sayangi merupakan tanggung jawab orang tua, dan begitupun sebaliknya, berprestasi untuk membanggakan kedua orang tua dan juga membahagiakannya merupakan keseharusan. Reagan Pangea Cherdasa, yang masih duduk di kelas 6 SD di Santa Laurensia, Alam Sutera, Kota Tangerang, sudah mengikuti baseball sejak usia 6 tahun. Jeres Rorym Cherdasa, yang tak lain adalah ayahanda Reagan mengatakan kepada NYSN bahwa ketika itu Reagan baru masuk SD dan sedang memilih ekskul yang hendak ia ikuti. Jeres sempat menawarkan untuk bergabung dalam ekskul baseball, lalu Reagan menyetujuinya.(4/7) Sejak saat itu, Reagan tergabung dalam tim baseball di sekolahnya bernama Lorenz. Latihan demi latihan Reagan jalani bersama anggota tim baseball lainnya, sampai akhirnya mereka dapat mengukir berbagai prestasi di tingkat nasional bahkan sudah sampai pada tingkat internasional. Beberapa prestasi yang telah diraih oleh Reagan dan timnya adalah: 1. Juara 1 PONY Mustang U-10 Asia-Pacific Series di Singapore 2017 2. Juara 2 IBA Nankyu Boys Tournament di Singapore 2015 3. Juara 1 PONY MUSTANG U-10 Indonesia Series 2017 4. Juara 2 KEJURNAS U-12 INDONESIA 2016 5. Juara 1 Jakarta Youth Baseball Association (JYBA) 2017 6. Juara 1 Indonesia Little League (ILL) 2016 Reagan juga beberapa kali mendapatkan penghargaan individu salah satunya adalah Best Pitcher For Accuracy Contest dalam turnamen PONY Mustang U-9 Asia-Pacific Series di Ho Chi Minh, Vietnam. Jeres mengatakan bahwa dirinya memberikan kebebasan untuk mengambil jurusan ekskul yang di sukai oleh Reagan. “Sebenarnya Reagan sangat berpotensi dalam baseball, tetapi semua itu kembali lagi ke Reagan. Saya sebagai orang tua selalu memberikan kebebasan kepada anak saya untuk memilih.” tutur Jeres. Jeres menambahkan bahwa Reagan di percaya menjadi kapten tim di tunjuk oleh coach (pelatih). “Reagan sebagai pemain Utility di dalam team nya dan dipercaya sebagai Kapten. Biasanya Reagan sebagai Lead-Off Batter atau Pemain Pembuka didalam Batting. Tetapi potensi atau bagaimana itu kembali lagi kepada coaches yang melatih dan menilainya, karena kalau pendapat saya sebagai orang tua nantinya akan menjadi subjective ya.” ujar Jeres, yang selalu mendukung dan mendampingi anaknya. Lebih lanjut Jeres mengatakan, walaupun dirinya memberikan kebebasan pada anaknya untuk memilih jalan hidupnya, peran orang tua tetaplah sangat penting. “Dalam memilih sesuatu untuk anak, contohnya olahraga, tetap orang tua mempunyai peran yang penting. Karena anak kita tidak bisa jalan sendiri dan orang tua juga harus mempunyai komitmen. Jika tidak mempunyai komitmen, tidak akan bisa membimbing anak.” kata Jeres. Menurut Jeres, Reagan selama ini tidak pernah dibujuk dengan hadiah agar bersemangat memenangkan pertandingan. Karena bagi Jeres, tidak ada orang yang suka kalah dalam suatu kompetisi, dan kemenangan yang didapatkan pasti akan membuatnya terus berjuang untuk menang lagi dan lagi. “Jika kita menyalurkan kegiatan dengan hal yang positif, insyaallah hasil kedepannya akan selalu positif. Kecewa karena kalah pasti ada, bahkan tidak hanya terjadi sekali, tapi saya selalu menanamkan jika kita gagal, bangkit lagi, latihan lagi. Hal itu juga akan berguna untuk kehidupannya di masa mendatang.” tutup Jeres mengakhiri perbincangan dengan NYSN.(crs/adt)

Remaja Ini Berhasil Membawa Piala Karate Dari Switzerland

Nandra (Kedua dari kiri) saat juara 1 di Basel Open Master di Swiss

Karate merupakan olahraga bela diri yang berasal dari Jepang. Olahraga tersebut sudah berkembang di era modern saat ini. Sudah banyak karateka-karateka bangsa Indonesia yang mengukir banyak prestasi dalam ajang kejuaraan. Salah satunya adalah Nandra Ahmad Saputra (16), siswa SMAN 1 Tangsel yang tergabung dalam club karate Gabdika Shitoryukai. Beberapa prestasi Nandra dalam karate yaitu: Juara 1 kata perorangan cadet putra dan juara 3 kumite -55 kg cadet putra di kejuaraan internasional Basel Open Master (BOM) di Basel Switzerland 2016 Juara 1 kata perorangan putra di O2SN nasional tingkat SMP 2016 Juara 1 kata beregu dan juara 1 kumite -50 kg cadet putra dikejurnas Gabdika shitoryukai di Batam Juara 1 kata dan juara 1 kumite -55 kg putra perorangan cadet putra di kejurnas gabdika di Jakarta. Sementara itu Nandra juga menambahkan kepada NYSN bahwa orang tuanya selalu mendukung kegiatannya.(4/7) “Orang tua saya selalu mendukung segala kegiatan saya asalkan tidak mengganggu kegiatan belajar, termasuk karate, mereka sangat mendukung.” ujar Nandra yang telah berlatih karate sejak kelas 3 SD. Nandra juga mengatakan kepada NYSN bahwa ia terus berjuang untuk meraih impian setinggi-tingginya dan selalu bersemangat dalam berlatih karate. “Saya selalu berusaha fokus dalam berlatih dan selalu mendengarkan masukan dari pelatih saya, Senpai R. Sukma Aji Abimanyu, SH. Pelatih pasti menggendong saya ketika saya menang dalam kejuaraan.” lanjutnya. Berbagai prestasi yang sudah diraih oleh Nandra bukan berarti dirinya tidak pernah mengalami halangan dalam menjalankannya. Nandra pernah mengalami cidera keseleo 5 hari sebelum mengikuti kejuaraan internasional di Swiss. Bahkan 2 hari menjelang kejuaraan tersebut Nandra sempat terkena penyakit campak. “Tapi saya tahu bahwa saya mempunyai tanggung jawab. Saya tetap mengikuti kejuaraan dan alhamdulillah mendapatkan Juara satu kata perorangan cadet putra dan juara tiga kumite -55 kg cadet putra.” tutur pelajar yang mempunyai cita-cita menjadi TNI ini. Nandra berpesan, bila ingin meraih prestasi kita harus mempunyai semangat yang tinggi untuk berlatih dan berjuang, jangan berhenti untuk berlatih setiap saat mau di mana pun kita berada, jangan lupa untuk selalu berdoa dan beribadah kepada yang di atas, dan jangan berhenti untuk bemimpi. Kondisi fisik bagi Nandra juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Fisik harus sehat agar bisa berlatih dengan giat serta menjalankan pola hidup sehat. “Oh iya, jangan lupakan pelatih kita yang sudah mendidik kita dari awal berlatih karate. Kita yang tadinya tidak bisa apa-apa dan sampai menjadi seseorang yang berprestasi. Terakhir, terima kasih banyak untik pelatih saya R. Sukma Aji Abimanyu, SH yang sudah membimbing saya sampai menjadi seperti sekarang ini.” tutup Nandra.(crs/adt)

Baseball: Terinspirasi Oleh Sang Kakak, Ray Berhasil Rebut The Best Pitcher Piala Gubernur Jawa Barat 2017

Ray, murid Sekolah Pelita Harapan yang berhasil merebut The Best Pitcher Piala Gubernur Jawa Barat 2017

Sejak tahun 2008, Ray sudah mengantarkan timnya ke berbagai prestasi baseball. Beberapa prestasi terbaru di tahun 2017 yang telah diraih oleh timnya diantaranya juara 1 Piala Gubernur Jawa Barat, juara 3 Kejurnas Jr U15 Banten, dan juara 2 ILL Senior U16

Rebut Juara 1 Karate, Mahasiswi UIN ini Layak Menyandang Gelar Jawara

Siti Nur Halimah, Mahasiswi yang sudah memenangkan banyak ajang perlombaan karate tingkat nasional

Mahasiswi yang sudah berada di sabuk hitam dalam karate ini mengatakan kepada NYSN bahwa ia bercita-cita menjadi Dosen, namun Siti tetap mengejar impiannya untuk menjadi atlet pelatnas

Begini Ucapan Terimakasih Sang Atlet Taekwondo Kepada Orang Yang Telah Berjasa Dalam Hidupnya

Novrika (tengah) saat meraih juara 1 di kejuaraan 5th Banten Open

Awalnya cuma diajak teman sekelas untuk ikutan ekskul di sekolah, tapi jadi keterusan dan jadi ikut latihan di clubnya.
Alhamdulillah aku sudah meraih empat medali emas, 1 medali perak dan 1 medali perunggu.” tutur Novrika yang juga menjadi Juara 1 dalam O2SN Taekwondo sekota Tangerang Selatan dan Juara 1 Banten open u-46.

Berkat Pesan Pelatihnya, Shinta Bisa Menemukan Bakatnya Yang Terpendam

Shinta (Berbaju Hijau) remaja putri yang jatuh cinta pada olahraga floorball

Olahraga Floorball yang belakangan ini ramai di perbincangkan sekilas lebih mirip hockey. Bola plastik ringan yang dilakukan di lapangan indoor lalu dimainkan dengan menggunakan tongkat komposit dengan ujung plastik yang melengkung, di mana tujuan permainan adalah untuk meletakkan ke dalam gawang lawan. Olahraga floorball ini juga mencuri perhatian Shintadewi Sondang, remaja putri ini lebih akrab dipanggil Shinta merupakan wanita kelahiran 15 Januari 1998. Ia mengungkapkan kepada NYSN tentang kesukaannya pada olahraga Floorball. “Awalnya aku cuma nyoba-nyoba aja. Ternyata banyak yang bilang kalau sebenernya aku punya bakat di olahraga ini. Tapi dengan cepatnya aku bisa jatuh cinta sama Floorball, yang bahkan aku nggak bisa gambarin, ada adrenalin yang begitu mendorongku setiap kali aku main Floorball. Seperti aku bisa menjadi diriku sendiri, aku merasa bebas. Dan menyenangkannya karena aku bisa melepas stress dan membakar kalori juga soalnya ukuran lapangannya super gede.” ungkapnya sambil tertawa. Mahasiswi universitas indonesia yang tinggal Pondok Jaya Bintaro Ini juga mengatakan mengawali kesukaannya pada Floorball sejak duduk di bangku SMA. Hingga kelas 11, Shinta dan timnya tidak pernah menang. Pada saat diadakannya Liga Penabur, Shinta dan kawan kawan harus menghadapi tim dari juniornya yang terbilang super hebat untuk bisa mewakili sekolahnya. Kala itu pertandingan yang berlangsung cukup sengit, namun juga ini adalah kesempatan terakhir bagi Shinta dan tim untuk mewakili sekolahnya, meski sempat tertinggal, Shinta mampu membantu timnya menyamakan kedudukan hingga terjadinya adu pinalti. Karena kegigihan yang dimiliki, mereka akhirnya berhasil unggul 1 poin dan mewakili sekolah dalam Liga Penabur. Tidak hanya itu, mereka pun akhirnya berhasil menang dan meraih Grand Champion Floorball Liga Penabur 2015. Gelar lain yang sempat diraih Shinta antara lain; Juara 1 Floorball Nasional UNJ 2013, Juara 2 Floorball Kalbis Institute Competition 2014 dan Juara 1 Floorball Mosaic 2015. Shinta mengakui bahwa ia dan tim bisa berhasil bukan hanya karena latihan rutin setiap seminggu sekali yang berupa teknik individu, teknik tim dan games. Namun ada satu pesan dari pelatihnya yang selalu ia ingat. “Coachku selalu bilang “lewati pertandingan demi pertandingan”, jadi kita nggak melulu memikirkan tentang final. Tapi kita jadi selalu berusaha melakukan yang terbaik, nggak peduli akan menang atau kalah. Dan itu juga yang menjadikan kita nggak ngeremehin lawan.” tutupnya.(sty/adt)

Nico : Bila Anda Melakukan Yang Terbaik, Anda Tidak Akan Pernah Merasa Kalah

Nicholas bersama Ibundanya

Pertama kali Nicolas mengenal olahraga Anggar adalah karena Pendeta dari Gereja orangtuanya merupakan seorang atlet Anggar yang pernah bermain di Sea Games.

Juara 2 Taekwondo Tingkat Nasional Ini, Bercita-cita Menjadi Detektif

Maryana Ratu Dewi, yang akrab di sapa Ratu, sedang menekuni Olahraga jenis taekwondo sejak usia 6 tahun, Ratu bersekolah di ANDERSON SCHOOL kelas 6 SD lahir di Tangerang 31 mei 2005, Putri dari Maryono dan Nuning “Sejak kecil Ratu memang ingin menjadi atlet Taekwondo, selain bisa menegakkan bentuk badan dan menjaga kesehatan, saya juga ingin dia bisa membela diri untuk berjaga jaga saat ada apa apa di kemudian hari.” Pungkas Nuning ibunda Ratu Bunda yang selalu support putrinya yang sampai saat ini tengah menekuni olah raga beladiri Taekwondo mempercayakan kepada Sabam Agus seminggu 2 kali untuk melatih putrinya. Sesekali gadis belia ini berbicara bahwa dirinya ingin menjadi Dokter hewan. “Aku mau jadi Dokter hewan, tapi aku juga bercita cita sebagai detektif.” Cetus Ratu yang baru berumur 12 tahun memaparkan cita citanya kepada NYSN. “Aku juga pernah juara 2 tingkat nasional saat masih berusia 10 tahun dan Jakarta Taekwondo Festival (JTF). Tambah Ratu. Sementara Itu Ibunda dari Ratu menambahkan bahwa dirinya selalu mensupport apapun kegiatan positif putrinya, karena menurutnya Taekwondo adalah olahraga yang sangat bagus untuk putrinya. “Sama sekali saya tidak pernah menyuruh putri saya untuk terjun di Taekwondo, tetapi bagi saya taekwondo adalah olahraga yang baik untuk anak saya, selama itu positif, saya tidak pernah membatasinya dalam berolahraga dan berekspresi, bahkan saya dan suami saya berusaha untuk memfasilitasi dengan mengundang guru taekwondo seminggu 2 kali ke rumah.” Tutup Nuning di kediamannya wilayah Bumi Serpong Damai.⁠⁠⁠⁠

Sering Diusir Oleh Pemancing Saat Berlatih Olahraga Dayung, Anak Ini Berhasil Menoreh Prestasi

Dimas (sebelah kanan) saat sedang berlatih

Memang agak lucu cerita Dimas, Siswa yang duduk di kelas XI di SMAN 2 Tangerang Selatan. Pasalnya tutur pria yang bernama lengkap Muhammad Dimas Antariksa Syadza. Dirinya sudah menggeluti olahraga dayung sejak duduk di bangku kelas 7. Remaja yang sehari-harinya dipanggil Dimas ini tergabung dalam club dayung PODSI Tangsel. Dimas mengatakan kepada NYSN, bahwa olahraga dayung belum terlalu banyak peminatnya, dan peluang untuk menjadi juara sangat terbuka lebar. “Karena dayung belum terlalu banyak peminatnya jadi gampang masuknya dan menjadi juara, sementara itu saya pun hobby bermain air.” ujar Dimas yang pernah berprestasi Juara 1 Porkot Tangsel dan juara 1 kategori perahu naga di Kejurda Serang. Dimas bercerita bahwa dirinya mulai mahir dalam berlatih dayung ketika masuk di tahun pertama. Orang tua Dimas juga mendukung penuh minat anak mereka dalam olahraga tersebut. Walaupun merasa bahagia karena sudah menuai berbagai prestasi, Dimas mengatakan bahwa ia pernah mempunyai pengalaman pahit saat berlatih nyebur ke danau . “Pengalaman jatuh di tengah danau saat berlatih dan nggak ada yang nyamperin buat nolongin. Akhirnya saya berusaha berenang sampai dermaga.”imbuhnya Tidak hanya itu, Dimas menambahkan bahwa ketika berlatih masih sering ditegur oleh warga yang sedang memancing di danau karena dianggap mengganggu. “Iya, saat saya sedang jadwal latihan, saya di anggap mengganggu orang yang sedang memancing. Karena kebetulan tempat saya latihat berada di tempat umum.”tambah Dimas Namun Dimas bukanlah anak yang mudah menyerah, Ia tetap berusaha menjadi yang terbaik dan berlatih dayung dengan semangat. Bahkan, Dimas tetap dapat menyeimbangkan antara waktu berlatihnya dengan kewajibannya sebagai pelajar, yaitu bersekolah. Dimas akan terus berjuang untuk meraih cita-citanya menjadi atlet profesional dan bisa terus menggeluti olahraga dayung. Dimas juga sempat berpesan kepada NYSN bahwa rajin berdoa dan sabar merupakan kunci kemenangan. “Kuncinya adalah rajin berdoa, sabar, tekun, rajin berlatih dan jangan mudah pesimis.” tutup Dimas.(crs/adt)