Singgah di Kota 1001 Goa, Sepeda Nusantara 2018 Pacu Semangat Atlet Muda Pacitan Lebih Berprestasi

Program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Sepeda Nusantara 2018, di bawah Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga), pada Minggu (28/10), singgah di Kota Pacitan, perbatasan Provinsi Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Tengah (Jateng). (Kemenpora)

Pacitan- Event Sepeda Nusantara 2018 yang menjadi salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), di bawah Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga), pada Minggu (28/10), singgah di Kota Pacitan, yang merupakan perbatasan Provinsi Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Tengah (Jateng). Event di daerah yang dikenal dengan sebutan Kota 1001 goa itu, dipusatkan di alun-alun Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dan diikuti ribuan masyarakat dari semua umur, sehingga tujuan dari digelarnya kegiatan tersebut yakni membudayakan masyarakat untuk berolahraga tercapai. Indartato, Bupati Pacitan, yang didampingi Sanusi, Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenpora, melepas rombongan besar Sepeda Nusantara di Alun-alun Pacitan, bergerak ke arah timur menyusuri jalan tengah kota dengan jarak tempuh 10 km. Sambutan masyarakat di sepanjang perjalanan sangat tinggi, dan pelaksanaannya bersamaan dengan hari libur. “Kami ucapkan terima kasih kepada pihak Kemenpora yang telah memberi Pacitan kesempatan untuk menggelar event Sepeda Nusantara 2018. Ini penghargaan bagi masyarakat Pacitan,” ujar Indarto saat pelepasan Sepeda Nusantara 2018. “Semoga kegiatan ini bisa lebih memacu semangat masyarakat Pacitanmembudayakan olahraga. Harapan kami kegiatan ini juga memacu semangat atlet muda lebih berprestasi,” lanjutnya. Sebagai kota pesisir yang dikenal dengan wisata alamnya yakni 1001 goa, kota ini juga banyak melahirkan atlet-atlet potensial. Beberapa atlet pebola voli nasional yang saat ini berkiprah di Livoli dan Proliga, datand dari kota ini. Sebut saja Veleg Dhany Ristan Krisnawan dan Novia Andriyanti. Bahkan keduanya masuk skuat Timnas Indonesia di Asian Games XVIII/2018. “Semoga ke depan banyak lagi atlet-atlet muda potensial dari Pacitan. Bibit-bibit sudah ada. Tinggal bagaimana mengasah dan dukungan, termasuk dari pemerintah pusat,” tambah Bupati asal Lorok itu. Sementara itu, Sanusi mengatakan rangkaian Sepeda Nusantara 2018 singgah di 70 Kabupaten/Kota di Indonesia. Puncak pelaksanaan program andalan Kemenpora ini akan digelar di Denpasar, Bali, pada bulan depan. “Sepeda Nusantara salah satu media untuk interaksi semua lapisan masyarakat di Indonesia dan bersinergi dengan baik. Apalagi, pelaksanaan di Pacitan cukup istimewa karena bersama dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda,” ucapnya. Selain itu, terang Sanusi, harapan yang sangat dinantikan adalah kegiatan ini mampu melahirkan banyak atlet-atlet potensial karena regenerasi harus berjalan. Bahkan, pihaknya menilai Pacitan merupakan salah satu wilayah, yang mempunyai banyak peluang untuk mengembangkan olahraga prestasi. (Adt)

Sepeda Nusantara 2018 Sambangi Bandung, Satukan Perbedaan Lewat Olahraga di Hari Sumpah Pemuda

Sepeda Nusantara 2018 menyambangi Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Minggu (28/10). Sekitar 2.500 warga antusias menyemarakkan program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), yang dipusatkan di Plaza Kota Bandung, Jabar. (Kemenpora)

Bandung- Sepeda Nusantara 2018 menyambangi Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Minggu (28/10). Sekitar 2.500 warga tampak antusias menyemarakkan program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), yang dipusatkan di halaman Plaza Kota Bandung, Jabar. Ribuan peserta menempuh jarak 10 km, dan start dimulai di Plaza Balai Kota Bandung, melalui rute Jalan Asia Afrika-Jalan BKR-Jalan Ramdhan-Jalan Otto Iskandardinata-Jalan Sunda-Jalan RE Marthadinata-Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Wastakuncana, dan kembali ke Plaza Balai Kota Bandung. Hadir sekaligus memeriahkan Sepeda Nusantara 2018, Popong Otje Djunjunan (Anggota Komisi X DPR RI), Oded Muhammad Danial (Wali Kota Bandung), Yana Mulyana (Wakil Wali Kota Bandung), Samsudin (Staf Ahli Kemenpora), dan pejabat di lingkungan Kota Bandung, serta komunitas Germas (Gerakan Masyarakat Sehat). Mengambil tema ‘Bangun Indonesia, Satukan Indonesia’, Sepeda Nusantara 2018 etape Kota Kembang itu betepatan dengan Hari Sumpah Pemuda (HSP). “Anda adalah apa yang Anda makan. Anda katakan dan dilakukan. Hidup kita akan sehat dengan olahraga. Salah satunya dengan bersepeda,” ujar Popong usai melepas pegowes Sepeda Nusantara 2018. Disisi lain, Popong mengapresiasi program Kemenpora lewat Sepeda Nusantara yang digelorakan di seluruh wilayah Indonesia. Ke depan, ia berharap program yang ditujukkan untuk menggelorakan dan membudayakan olahraga di masyarakat itu terus dilakukan. Senada, Oded mengatakan program Sepeda Nusantara sangat penting dalam konteks sosial. Selain bisa menyehatkan masyarakat, menurutnya, Sepeda Nusantara bisa mengikat tali silaturahmi demi persatuan dan kesatuan. Apalagi event ini bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. “Semoga Sepeda Nusantara jadi ajang mengikat tali silaturahmi. Kita akan menghadapi Pilpres (pemilihan presiden dan wakil presiden), dan Pileg (pemilihan legislatif), banyak isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) yang bisa memicu kerawanan sosial. Melalui olahraga bisa menyatukan perbedaan tersebut,” tegas Oded. Antusiasme warga Bandung mengikuti Sepeda Nusantara diapresiasi Samsudin. Dikatakannya, Bandung dikenal dengan warga yang sangat kreatif. Ternyata, terang Samsudin, kunci dari kreatifitas itu adalah rajin berolahraga. “Pesertanya banyak sekali. Orang sering olahraga tentu badannya sehat dan bugar. Kalau badan sehat, kreatifitas muncul. Inilah ciri orang Bandung, yang penuh inovasi dan kreatifitas,” terang Samsudin yang mewakili Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga). Ditambahkannya, program ini secara langsung menyentuh dan mengajak masyarakat berolahraga demi mencapai budaya hidup yang sehat. Sebagaimana tagline Kemenpora, yakni ‘Ayo Olahraga’. Samsudin berharap semangat berolahraga masyarakat di Kota Bandung ini makin bergairah dengan kehadiran program olahraga dari pusat ke daerah-daerah. “Ke depan bentuk kerjasama antara Pemkot (Pemerintah Kota) Bandung dan Kemenpora akan makin terjalin erat. Pada 2019, Sepeda Nusantara semoga tetap dilaksanakan di Kota Bandung,” tuturnya. Sebelumnya, para peserta Sepeda Nusantara 2018 ini diajak senam bersama ‘Ayo Olahraga’, dan dipertunjukkan olahraga tradisional asli Bandung. Setelah finish, ribuan peserta dihibur oleh artis-artis lokal Kota Bandung. Tak hanya itu, beragam hadiah doorprize di antaranya umrah, sepeda, mesin cuci, dan lain-lain, disediakan pihak penyelenggara sealigus menjadi daya tarik event ini. (Adt)

Proyeksi Event Internasional, Kemenpora Dorong Atlet Junior Isi Kuota 60 Persen Skuat Indonesia di SEA Games 2019

Dua pelari asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Zohri (belakang), dan Muhammad Fadlin, melakukan selebrasi, usai meraih medali perak di nomor lari estafet 4x100 meter, pada Asian Games 2018 lalu. Zohri yang masih berusia 17 tahun, menjadi atlet prioritas guna mengisi kuota 60 persen, skuat Indonesia di ajang SEA Games 2019 Filipina. (Riz/NYSN)

Jakarta- Kementerian Pemuda dan Olahraga akan mewajibkan komposisi atlet junior 60 persen dari total atlet yang diajukan pengurus cabang olahraga untuk mengikuti SEA Games 2019, di Filipina. “Kata kuncinya, prestasi itu bisa meningkat saat atlet sering bertanding dengan negara lain dengan puncak penampilan di kejuaraan multi-cabang olahraga, seperti SEA Games. Kami mendorong atlet junior, agar punya pengalaman dalam SEA Games,” kata Menpora Imam Nahrawi, usi Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Kamis (25/10).. Kemenpora kini menganggarkan pembinaan atlet jelang SEA Games 2019, ASEAN Para Games 2019, dan kualifikasi Olimpiade 2020 dalam bidang peningkatan prestasi olahraga terutama sebesar Rp500 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. “Hasil dalam SEA Games 2019 akan menjadi batu loncatan ke Olimpiade 2020 serta Asian Games 2022 di China,” kata Menpora. Menpora mengatakan Indonesia telah memiliki atlet-atlet yang masuk kualifikasi Olimpiade 2020, dan Paralimpiade 2020 yang juga memakai anggaran Rp500 miliar itu. “Bujet Rp500 miliar itu tidak semuanya untuk atlet yang mengikuti SEA Games 2019, melainkan juga bagi atlet yang mengikuti kualifikasi Olimpiade,” kata Menpora. Ia mengakui anggaran pemusatan latihan nasional pada 2019, lebih kecil dibanding anggaran pada 2018. “Pada 2018, anggaran sebesar Rp735 miliar, itu naik karena ada Asian Games. Anggaran menjadi tantangan bagi Kemenpora, untuk mencari terobosan lain. Dan ini waktu yang tepat untuk meyakinkan publik, agar terlibat dan bagaimana menyiasati pendapatan atau bantuan dari sponsor,” tegas pria asal Bangkalan, Madura ini. Anggaran pelatnas untuk 2019 turun dibandingkan tahun ini.Penurunan itu berimbas pada anggaran yang akan dikucurkan kepada federasi cabang olahraga, yang bertanggung jawab membina atlet. Pada 2019, Indonesia sudah ditunggu dua multievent besar, yakni SEA Games Filipina dan kualifikasi Olimpiade 2010 Tokyo, untuk sebagian cabang olahraga. Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana, berharap prestasi tak turun meskipun dana berkurang. Dia menekankan agar kualifikasi olimpiade dan persiapan SEA Games terpadu dan linier. “Latihannya ‘kan satu paket. Seperti atletik nomor lari 100 meter, ada Lalu Muhammad Zohri. Usianya masih 17 tahun dan dia ikut kualifikasi olimpiade, serta SEA Games juga. Tentu, selain untuk event SEA Games, ya juga lolos kualifikasi. Itu yang dimaksud keterpaduan linier,” jelasnya “Makanya, ada prioritas, khususnya untuk sport olympic. Tapi, itu pun bukan cabornya, melainkan number of eventnya, yang potensi medali yang dilihat. Itu yang akan prioritas untuk mendapatkan dana lebih,” dia menjelaskan. (Adt)

Syaratkan 70 Negara Jadi Anggota Federasi, Pemerintah Perjuangkan Pencak Silat ke Olimpiade

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terus berupaya memperjuangan cabang olahraga (cabor) pencak silat bisa dipertandingkan di pentas dunia, Olimpiade. (Kemenpora)

Den Haag- Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terus berupaya memperjuangan cabang olahraga (cabor) pencak silat agar dipertandingkan di pentas dunia, Olimpiade. Syarat untuk bisa dipertandingkan di pesta multievent negara-negara se-dunia itu, federasi olahraga pencak silat internasional minimal memiliki 70-75 negara anggota. Sebelumnya, pencak silat sukses dipertandingkan di Asian Games XVIII/2018, pada Agustus-September lalu. “Bagi saya pencak silat adalah warisan olahraga dan budaya Indonesia yang harus terus dikembangkan. Dan sebagai wakil pemerintah, saya terus mendorong pencak silat masuk olimpiade,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Den Haag, Belanda, pada Selasa (23/10). Dalam kesempatan itu, Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, didampingi YM. I Gusti Agung Wesaka Puja (Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda), dan Olivier Blancquaert (Ketua Pencak Silat Belanda). Melihat pesatnya perkembangan pencak silat, pemerintah Indonesia tak ingin kehilangan momentum mempromosikan olahraga pencak silat keseluruh dunia. Kini, federasi olahraga pencak silat internasional telah memiliki 49 negara anggota yang terdiri dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Di kawasan Asia terdapat 25 negara anggota, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Kamboja, Jepang, Korea, India, Laos, Myanmar, Pakistan, Filipina, Thailand, Vietnam, Kazakstan, Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgyztan, Yordania, Kuwait, Oman, Palestina, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sedangkan Afrika yakni Mesir, Maroko, Afrika Selatan, dan Suriname. Kemudian Kanada, Chili, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru (Oseania). Sementara negara Eropa, seperti Austria, Belgia, Bosnia, Denmark, Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Belanda, Norwegia, Portugal, Spanyol, Swiss, Turki, dan Inggris. Imam menyebut di pentas Asian Games 2018, pencak silat mendapat sambutan dan perhatian yang luar biasa dari negara-negara Asia. Sehingga, menurutnya, untuk bisa masuk Olimpiade, pemerintah tidak akan pernah berhenti untuk mendorong pencak silat ke pentas dunia. “Kemenpora bersama Kemenlu (Kementerian Luar Negeri) nanti akan terus bekerja bersama-sama untuk mengembangkan ke negara-negara lainnya, karena persyaratan untuk bisa dipertandingkan pada Olimpiade yakni minimal terdapat 70-75 negara anggota,” tukas Imam. (Adt)

Sepeda Nusantara 2018 Etape Manakarra, Cetak Generasi Emas Olahraga Mamuju

Sepeda Nusantara 2018 etape Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, yang dilepas Irwan Satya Pababari (Wakil Bupati Mamuju), diharapkan bisa mencetak generasi emas olahraga di Kota Mamuju. (istimewa)

Mamuju- Anjungan Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, dipenuhi ribuan orang. Mereka adalah peserta yang melakukan senam ria disela event Sepeda Nusantara 2018, pada Minggu (21/10). Sepeda Nusantara merupakan salah satu program andalan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), di bawah komando Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga). Memulai start di depan Monumen Gong Perdamaian, Kota Mamuju, ribuan peserta larut dalam kemeriahan Sepeda Nusantara 2018 etape Manakarra, yang dilepas Irwan Satya Putra Pababari (Wakil Bupati Mamuju), bersama Abdul Rafur (Asisten Deputi Organisasi Kepemudaan dan Pengawasan Kepramukaan Kemenpora), dengan menempuh jarak sepanjang 10 km melintasi Kota Mamuju. Dalam event itu, semua kalangan, baik anak-anak, remaja, hingga orang tua, memenuhi tiap sudut jalan di Kota yang menjadi jembatan ekonomi maupun budaya diantara Kota Palu (Sulawesi Tengah) dan Makassar (Sulawesi Selatan) itu. Seluruh peserta berbaur bersama dengan Wakil Bupati, dan perwakilan Kemenpora, serta Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), maupun pejabat Muspida Mamuju. Hingga garis finish, para peserta tetap semangat meski panas matahari menyengat. “Kami mengapresiasi kegiatan Sepeda Nusantara dari Kemenpora dengan program andalannya ‘Ayo Olahraga’. Melalui kegiatan ini, kita bisa bertemu, bersilaturahmi melalui olahraga sepeda,” ujar Irwan. “Sepeda Nusantara ini merupakan gerakan masyarakat untuk hidup sehat,” lanjutnya. Ia menyebut sekitar 1500 peserta yang mendaftar bukan hanya dari Mamuju, namun ada yang berasal dari luar daerah. Menurutnya, antusias peserta terjadi karena olahraga sepeda ini terbilang murah, dan hampir semua masyarakat Mamuju memiliki sepeda, terlebih masyarakat Mamuju juga gemar berolahraga. “Gabungan ini diharapkan akan membuat generasi Mamuju makin sehat dan menjelma menjadi generasi emas olahraga Mamuju. Untuk itulah, kami berharap kegiatan ini bisa berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Dukungan dari pemerintah pusat, khususnya Kemenpora tetap kami nantikan,” ungkapnya. Irwan menjelaskan Mamuju terus membenahi sarana dan prasarana olahraga yang ada. Dan, dengan adanya Sepeda Nusantara ini pembenahan itu bisa makin digalakkan. Apalagi, tambah Irwan, bila pemerintah pusat memberikan perhatian dan dukungan, sehingga ada pemerataan sarana olahraga di seluruh daerah. Sementara itu, Rafur mengatakan jika kegiatan bersepeda melalui Sepeda Nusantara ini merupakan kebiasaan yang baik di masyarakat. “Dulu ada slogan, Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyaakat, maka kini Kemenpora memantapkannya dengan tagline ‘Ayo Olahraga’. Masyarakat di seluruh Tanah Air perlu terus berolahraga untuk tetap sehat dan meningkatkan prestasi Indonesia di tingkat internasional,” ungkap Rafur. “Kita baru saja sukses penyelenggaraan dan prestasi di Asian Games XVIII dan Asian Para Games III. Bukan saja harus dipertahankan, namun perlu ditingkatkan. Mamuju diharapkan bisa melahirkan atlet dengan prestasi nasional dan internasional,” kata Abdul Rafur. Disisi lain, ia menyoroti bahwa dengan olahraga sepeda ini masyarakat bisa makin bergairah berolahraga dan beraktifitas. Rafur berharap suatu hari nanti ada Hari Wajib Sepeda di Mamuju. “Jadi melalui Sepeda Nusantara dengan tagline ‘Ayo Olahraga’ dari Kemenpora ini diharapkan masyarakat Mamuju makin semangat berolahraga,” tegas Rafur. (Adt)

Demi Melahirkan Bibit Atlet Nasional, Bontang Gelar Ajang Sepeda Nusantara dan Gala Desa

Lapangan Batalyon Rudal-002/Agni Bala Cakti (Yonarhanud Rudal-002), Artileri Pertahanan Udara, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), pada Minggu (21/10), dimeriahkan oleh kehadiran peserta Sepeda Nusantara 2018. (istimewa)

Bontang – Lapangan Batalyon Rudal-002/Agni Bala Cakti (Yonarhanud Rudal-002), Artileri Pertahanan Udara, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), pada Minggu (21/10), meriah oleh kehadiran pecinta sepeda untuk bersama-sama. Kehadiran mereka untuk menyemarakkan Sepeda Nusantara 2018 etape Bontang, Kaltim. Event itu sekaligus merayakan peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) Kota Bontang Ke-19, dan HUT Tentara Nasional Indonesia (TNI) Ke-73. Puluhan komunitas sepeda menempuh rute sejauh 25 kilometer di kota yang terkenal dengan semboyannya ‘Bessai Berinta’ atau Mendayung Bersama itu, untuk meramaikan salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah komando Imam Nahrawi (Menpora). “Kami berharap kegiatan bersepeda ini menjadi sebuah tradisi di berbagai daerah di Indonesia. Dengan bersepeda, tingkat kebugaran masyarakat Indonesia bisa meningkat di atas 30 persen,” ujar Teguh Raharjo, Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Olahraga Rekreasi Kemenpora, di Bontang, Minggu (21/10). Selain Sepeda Nusantara, kota yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Samarinda, Ibukota Kaltim itu, menurut Teguh, juga menyelenggarakan program Gala Desa. “Dua program itu akan semakin meningkatkan kebugaran masyarakat, selain juga menampilkan potensi bibit-bibit atlet nasional yang akan mewakili Indonesia dalam kejuaraan internasional,” lanjutnya. Teguh menambahkan program Sepeda Nusantara menjadi salah satu program unggulan Kemenpora sejak 2017, dan akan menjadi program berkelanjutan hingga 2019. “Program Sepeda Nusantara merupakan kelanjutkan program Gowes Pesona Nusantara yang telah mendapatkan persetujuan dari DPR RI sekaligus menjalankan amanat Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas),” tukas Teguh. (Adt)

Tim Ayu Pusaka Indonesia Raih ‘Best of The Best’ Jakarta Pencak Silat Championship (JKTC) 2018, Pembinaan Pencak Silat Usia Dini Tak Putus

Tim pencak silat Ayu Pusaka Indonesia sukses meraih gelar ‘Best of The Best’, di ajang Jakarta Pencak Silat Championship (JKTC) ke-10, di Gelanggang Olahraga (GOR) POPKI Cibubur, Jakarta Timur, pada 20-21 Oktober 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim pencak silat Ayu Pusaka Indonesia sukses meraih gelar ‘Best of The Best’, di ajang Jakarta Pencak Silat Championship (JKTC) ke-10, di Gelanggang Olahraga (GOR) POPKI Cibubur, Jakarta Timur, pada 20-21 Oktober 2018. Sedangkan Perguruan Silat Nasional Perisai Putih (PSN PP) Jakarta Timur menempati peringkat kedua, diikuti tim pencak silat Prisai Sakti Mataram, yang berada di posisi ketiga. Sebanyak 2.345 atlet ikut serta, dalam kejuaraan yang bergulir dua kali dalam setahun ini. JKTC yang dimulai sejak 2013, bertujuan untuk memasyarakatkan olahraga pencak silat. Mereka ingin olahraga yang tumbuh berkat budaya Indonesia ini terus menghasilkan bibit-bibit potensial. Sistem pertandingan pun berbeda dengan biasanya. Tiap kelas diatur dengan mengukur tinggi badan, usia, dan tingkat pendidikan, serta terdiri dua hingga empat peserta. Paiman, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Manajemen Industri Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), menilai event ini sangat luar biasa. Pihaknya tak menduga jumlah peserta mencapai 2.000 atlet muda. “Dampak Asian Games 2018, cabang pencak silat berhasil menjadi juara umum, membuat respon pesilat mengikuti event ini sangat tinggi. Usai Asian Games 2018, event ini harus terus diselenggarakan,” ujar Paiman disela pemberian trophy Jakarta Pencak Silat Championship (JKTC), di GOR POPKI Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (21/10). Ia menilai ajang ini memberikan banyak manfaat bagi para peserta, selain menambah pengalaman, juga dapat mengasah mental tanding, dan mereka yang ikut berkompetisi merupakan bibit muda potensial. Artinya, dengan jumlah peserta yang mencapai ribuan, maka Indonesia tak akan kekurangan bibit muda di cabang olahraga pencak silat “Kami harap para peserta bisa mengambil pelajaran, pengalaman, dan mengasah mental tanding dengan mengikuti berbagai event yang digelar, salah satunya Jakarta Pencak Silat Championship. Karena mereka adalah penerus atlet-atlet senior yang berada di Pelatnas,” tegas Paiman. Sementara itu, Iskandar, Ketua Pelaksana JKTC 2018, menyebut pihaknya mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah, melalui Asisten Deputi Industri dan Promosi Olahraga, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, serta dukungan dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara), sehingga event ini dapat berlangsung dengan semarak. “Alhamdulillah, event ini bisa terselenggara dengan baik. Animo peserta juga sangat tinggi, yang pada penyelenggaraan sebelumnya mencapai 1500, tapi saat ini peserta meningkat menjadi 2300 orang, ini memberikan dampak positif, baik dari segi kuantitas maupun kualitas,” terang Iskandar. Ia berharap event ini bisa dijadikan jenjang pesilat untuk bisa beprestasi di tingkat nasional dan internasional. “Jenjang prestasi bisa terukur mulai dari PON (Pekan Olahraga Nasional), SEA Games, Asian Games, dan kami juga berharap pencak silat bisa menjadi cabang eksibisi di Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang,” pungkasnya. (Adt)

Peraih Perunggu Asian Games 2018 Wiji Lestari Meriahkan Sepeda Nusantara Etape Blitar, Tingkatkan Kecintaan Olahraga Sepeda

Sepeda Nusantara 2018 di Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim), pada Minggu (21/10),sangat istimewa. Di tengah ribuan peserta terdapat atlet peraih medali perunggu nomor BMX Asian Games XVIII/2018, Wiji Lestari. (istimewa)

Blitar- Sepeda Nusantara 2018 di Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim), pada Minggu (21/10), terasa sangat istimewa. Sebab, di tengah ribuan peserta terdapat atlet peraih medali perunggu nomor BMX Asian Games XVIII/2018, Wiji Lestari. Dara berusia 18 tahun itu berbaur dengan masyarakat yang antusias berpartisipasi dalam event yang menjadi salah satu program unggulan Kemenpora di bawah kepemimpinan Imam Nahrawi (Menpora) itu, melalui gerakan ‘Ayo Olahraga’, bertajuk Bangun Indonesia itu. “Saya senang melihat antusias masyarakat Kabupaten Blitar menyambut dan mensukseskan acara ini. Sepeda Nusantara sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan kebugaran serta gaya hidup sehat,” ungkap Wiji, sapaannya. Wiji yang tercatat sebagai atlet andalan Indonesia yang telah mewakili Merah Putih di multievent olahraga tingkat internasional itu, turut melakukan senam bersama di depan halaman Kantor Bupati Blitar, sebelum start dimulai. Bahkan, sebelum para peserta mengayuh sepeda, Wiji sempat memamerkan kebolehannya menaklukkan tantangan dengan sepeda andalannya. Ia terbang di atas empat orang yang berbaring di lapangan, dan sukses menjawab tantangan tersebut. Atraksi itu spontan mendapatkan aplaus dari para peserta Sepeda Nusantara 2018. “Saya berharap dari kegiatan ini meningkatkan kecintaan terhadap olahraga bersepeda dan memunculkan atlet menjadi pendamping saya di ajang internasional,” tutur Wiji. Ia mendapatkan bonus dari Bupati Blitar selain bonus dari Pemerintah sebesar Rp 250 juta berkat medali perunggu yang diraihnya di ajang Asian Games XVIII/2018. Wiji menorehkan prestasi di nomor BMX, di Internasional Race, Pulomas, Jakarta, usai membukukan catatan waktu 40,788 detik. Medali emas direbut pebalap China, Zhang Yaru, usai mencetak waktu 39,843 detik. Diikuti pebalap Thailand, Kitwanitsathian Chuttikan yang meraih medali perak dengan catatan waktu 40,379 detik. Kembali, Waluyono, Ketua Bidang (Kabid) Olahraga Rekreasi Kemenpora, mengapresiasi antusias masyarakat Kota Blitar. Sebab, kurang lebih 8000-an masyarakat, mulai dari Bupati dan wakilnya, Kapolres, Dandim 0808 Blitar, dan anggota DPR, serta masyarakat memeriahkan program Kemenpora di bawah program Deputi Pembudayaan Olahraga itu. “Kami sangat apresiasi apa yang dilakukan masyarakat Kabupaten Blitar menyemarakkan Sepeda Nusantara. Mereka sangat antusias. Ini bagus karena artinya mereka sukseskan gerakan masyarakat sehat yang digulirkan Kemenpora. Apalagi, pedagang kaki lima juga banyak. Kegiatan ini juga sekaligus menggerakkan perekonomian rakyat,” ungkap Waluyono. Di Bumi Bung Karno itu, para peserta Sepeda Nusantara 2018 menaklukkan lintasan sepanjang 20 km dengan start di Kantor Bupati di Kanigoro, kemudian menuju Tumpang, Bendungan Wlingi Raya, Njegu, Sukorejo, Mbacem, Sukojayan, dan kembali ke Kanigoro. Dan, sekembalinya dari menggowes, para peserta disuguhkan sarapan nasi pecel khas Blitar. Tak sampai disitu, ada kejutan menanti peserta, yakni doorprize berupa enam ekor kambing, selain sepeda dan sepeda motor. “Biasanya doorprize sepeda motor, sepeda, dan peralatan elektronik. Kali ini kami hadirkan kambing, agar bisa dimanfaatkan oleh si penerima. Tentunya jika dipelihara bisa beranak pinak dan menambah ekonomi, tapi jika yang dapat komunitas mau dimasak untuk menambah kebersamaan juga bagus,” imbuh Rijanto, Bupati Blitar, Jatim. Rijanto merasa senang melihat masyarakatnya menyambut baik gelaran Sepeda Nusantara. Ia menilai kegiatan ini sangat bagus untuk menggerakkan semangat gotong royong masyarakat, selain juga mengajak hidup sehat. “Ini tahun kedua setelah tahun kemarin mencatatkan rekor sebagai pelaksana dengan peserta terbanyak dengan 15000 peserta. Kami harapkan Kemenpora mempercayai kami menggelar event ini setiap tahunnya,” tegasnya. Sementara itu, Anggia Esmarini, Staf Khusus Menpora Bidang Komunikasi dan Kemitraan, menyebut Blitar selalu istimewa pada pelaksanaan Sepeda Nusantara. Selain itu, ungkapnya, Blitar selalu total merespons program Pemerintah, dalam hal ini Kemenpora. Tahun lalu, Kabupaten ini mendapatkan penghargaan sebagai tempat penyelenggara dengan peserta terbanyak, yakni 15000 orang. “Kali ini tak sebanyak tahun lalu, tapi antusiasmenya luar biasa. Semua kalangan masyarakat ikut mensukseskan. Tak hanya sisi olahraga, tapi ada hadiah dan kebersamaan serta momentum sosialisi,” tuturnya. Sedangkan Titik Prasetyo, Anggota Komisi X DPR RI, mengaku takjub dengan antusiasme masyarakat dalam mensukseskan penyelenggaraan Sepeda Nusantara. Apalagi, tambah Titik, kegiatan bersepeda merupakan kegiatan murah dan menyehatkan. Ia juga merekomendasikan kegiatan ini dilakukan setiap tahun. “Sepeda Nusantara merupakan kegiatan sangat positif, apalagi animo masyarakat luar biasa. Mereka merindukan hal-hal sepeti ini. Ini olahraga murah, tapi melibatkan banyak orang, maka sebaiknya diadakan setiap tahun. Ini budaya bagus karena ikut menyehatkan banyak orang, dan dapat menghindarkan diri dari narkoba,” tegasnya. “Olahraga juga bisa menekan orang sakit dan menghemat biaya pengobatan,” tukas pria pemegang gelar juara dunia pada Kejuaraan Dunia Karate di Meksiko (1991), dan Tokyo (1993) itu. (Adt)

Bawa Pulang Medali Perunggu Dari Youth Olympic Games 2018, Menpora Bangga Dengan Perjuangan Atlet Muda Indonesia

Imam Nahrawi (Menpora), mengaku bangga dengan perjuangan atlet muda Indonesia di ajang Youth Olympic Games 2018, Buenos Aires, meskipun hanya mampu meraih medali perunggu melalui Nur Vinatasari dari cabang angkat besi. (Kemenpora)

Buenos Aires- Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), akhrinya menyaksikan langsung perjuangan atlet Indonesia di Youth Olympic Games 2018, Buenos Aires, Argentina, pada Kamis (18/10) waktu setempat. Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, memberikan apresiasi kepada Vinatasari Nur dan kawan-kawan, sekaligus bangga karena sudah berjuang maksimal untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah event internasional. Pada hajatan Youht Olympic Games 2018, skuat Merah Putih berhasil mendapatkan satu medali perunggu melalui cabang olahraga Angkat Besi atas nama Nur Vinatasari yang turun di kelas 53 kg. Lifter remaja kelahiran Pringsewu, Lampung, 5 Juli 2001 itu, membukukan total angkatan 162 kg, yakni 72 kg angkatan snatch, dan 90 kg untuk clean and jerk. Sementara itu, Sabina Baltag asal Rumania meraih medali emas usai mencatatkan total angkatan 177 kg (snatch 77 kg dan clean and jerk 100 kg). Dan, medali perak menjadi milik Junkar Acero asal Kolombia dengan total angkatan 176 kg (snatch 78 kg dan clean and jerk 98 kg). Imam mengatakan yang sudah dilakukan para atlet muda Indonesia di ajang ini sudah sangat luar biasa. “Terima kasih atas pengalaman yang berharga untuk para atlet-atlet muda kita. Olimpiade adalah level tertinggi dari pesta olahraga multievent. Tidak mudah untuk masuk ke dalam level ini,” ujar Menteri berusia 45 tahun itu. Suami dari Shobibah Rohma itu, berharap atlet muda yang turun di Youth Olympic Games 2018, Buenos Aires, Argentina, terus semangat berlatih, sebagai modal menghadapi event-event internasional lainya. “Kita tahu, Indonesia baru saja sukses secara prestasi di Asian Games dan Asian Para Games 2018. Hasil ini sudah menjadi modal besar bagi atlet muda Indonesia untuk menghadapi ajang yang lebih tinggi seperti Olimpiade. Terus semangat dan jangan mudah putus asa,” tegasnya. Sedangkan Dito Ario Tejo, Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia Youth Olympic Games (YOG) 2018, menyebut hasil di Youth Olympic Games 2018 ini menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi event-event berskala dunia. “Sangat bangga dan senang dengan prestasi yang diraih oleh para atlet. Mereka sudah berjuang dengan luar biasa,” tukas Dito. Olimpiade Remaja 2018 di Buenos Aires, Argentina, berlangsung pada 6-18 Oktober. Terdapat 32 cabang dengan 241 nomor yang dipertandingkan. Kontingen Indonesia mengirimkan 18 atlet untuk berpartisipasi pada 8 cabor. Yakni badminton (Maharani Sekar Batari dan Ikhsan Leonardo Immanuele Rumbai), atletik (Diva Renatta Jayadi dan Adi Ramli Sidiq), renang (Adinda Larasati Dewi Kirana, Farrel Armando Tangkas, Azzhara Permatahani, dan Azel Zelmi Arialingga). Kemudian, angkat besi (Nur Vinatasari), basket 3×3 (Ni Putu Eka Liana, Michelle Kurniawan, Hoo Valencia Angelique, dan Nathania Claresta Orville), menembak (Muhamad Naufal Mahardika), golf (Vania Ribka), dan voli pantai (Bintang Akbar dan Danang Herlambang). (Adt)

Ribuan Peserta Meriahkan Sepeda Nusantara 2018 Etape Palembang, Kuatkan Budaya Olahraga di Masyarakat

Sekitar 3000 peserta memeriahkan event Sepeda Nusantara 2018 etape Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu (20/10), yang menempuh jarak sepanjang 23 km, melintasi beberapa ikon kota seperti Monpera (Monumen Penderitaan Rakyat), Jembatan Ampera, dan Jakabaring Sport Center (JCS). (istimewa)

Palembang- Sukses menggelar hajatan Asian Games XVIII/2018, beberapa waktu lalu, Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menuai kesuksesan saat menggelar event nasional, yakni Sepeda Nusantara 2018, yang bertemakan ‘Bangun Indonesia’, pada Sabtu (20/10). Mengambil start dari pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), peserta yang berjumlah lebih dari 3000 orang itu sangat antusias mengayuh sepedanya sepanjang 23 Km melintasi beberapa ikon kota seperti Monpera (Monumen Penderitaan Rakyat), Jembatan Ampera, dan Jakabaring Sport Center (JCS). Fitriani Agustinda, Wakil Wali Kota Palembang, menyebut event salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah komando Imam Nahrawi, selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya di Kota Palembang. “Sudah saatnya kita terus kenalkan Kota Palembang, salah satunya melalui olahraga, setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini gelaran Sepeda Nusantara juga harus bisa sukseskan bersama-sama,” ujar Fitri, sapaannya, dalam sambutannya saat melepas ribuan pesepeda di Pelataran Benteng Kuto Besak Palembang, Palembang. Fitri berharap event-event besar olahraga bisa kembali hadir di Kota berjuluk ‘Pempek’ itu. “Dengan hadirnya event-event besar olahraga di Palembang, tentu saja akan meningkatkan pendapatan masyarakat Palembang,” lanjutnya. Sementara itu, Raden Isnanta, Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora yang turut hadir dalam event Sepeda Nusantara di Palembang, mengaku bangga terhadap masyarakat Palembang yang ingin membugarkan tubuhnya dengan berolahraga, terutama turut berpartisipasi dalam Sepeda Nusantara ini. Isnanta menambahkan program nasional Sepeda Nusantara ini sudah mendapatkan persetujuan dari Komisi X DPR RI, dimana program ini juga menjalankan amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1/2017 tentang gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). “Setelah Palembang jadi pembicaraan dunia khususnya Asia melalui ajang Asian Games, serta prestasi Indonesia di empat besar dalam pesta olahraga itu, kita harus sepakat membangun olahraga yang non prestasi dengan menguatkan budaya olahraga, agar masyarakat yang non atlet harus bergerak sesuai Inpres Nomor 1/2017,” tuturnya. “Bersepeda merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kebugaran, tidak menutup aktivitas olahraga lainnya, sekaligus mari kita mengajak saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas untuk terus berolahraga. Intinya olahraga untuk semua,” tegas Isnanta. Sedangkan Mustafa Kamal, Anggota Komisi X DPR RI, yang juga hadir dalam event ini, meneyebut dengan bersepeda menyongsong Palembang untuk masa yang akan datang menjadi negeri yang sehat, baik itu jiwa maupun raganya. “Bangun jiwanya, bangun raganya, seperti penggalan lirik lagu kebangsaan yang sering kita nyanyikan. Mudah-mudahan dengan Sepeda Nusantara ini kita menjadi generasi muda yang kokoh menyambut masa depan Indonesia,” ungkap Mustafa. Ini merupakan tahun kedua dari pelaksanaan event Sepeda Nusantara bersifat massal, dimana pada tahun pertama bernama Gowes Pesona Nusantara. Mustafa menegaskan jika titik pelaksanaan pada tahun depan harus diperbanyak. “Titik-titik pelaksanaan Sepeda Nusantara pada tahun depan harus di perbanyak, bukan hanya dipusat-pusat Ibukota Provinsi, tapi juga di Kabupaten Kota. Ini murah meriah, gegap gempita, kebersamaan masyarakat Indonesia, segar bugar, dan sehat. Jadi itulah Indonesia,” imbuhnya. “Ini momentum, karena Indonesia di Asian Games kemarin meraih prestasi cemerlang, sehingga gairah masyarakat untuk berolahraga jangan sampai terputus,” tukas Mustafa. (Adt)

Gelorakan Olahraga Lewat Gala Desa di Pringsewu, Kemenpora Semai Bibit Muda Berprestasi Tingkat Nasional dan Internasional

Raden Isnanta, Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora (kanan) dalam acara pembukaan Gala Desa Pringsewu. Event ini menjadi kali kedua, berlangsung di Kabupaten Pringsewu, Lampung, Jumat (19/10). (istimewa)

Pringsewu- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar Gala Desa edisi Pringsewu, di Lapangan Kuncup, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, pada Jumat (19/10). Event yang diikuti 9 Kecamatan di Kabupaten Pringsewu itu, sekaligus menjadi saksi kebulatan tekad dari aksi nyata untuk Indonesia melalui olahraga di negeri berjuluk ‘Jejama Secancanan’ atau ‘Bersama-sama bergandengan tangan’ itu. Ini merupakan kali kedua Kabupaten Pringsewu menggelar program andalan Kemenpora di bawah payung ‘Ayo Olahraga’ di bawah komando Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), melalui program Deputi Pembudayaan Olahraga dengan melombakan empat cabang olahraga (cabor), yakni atletik, bola voli, bulutangkis, dan sepakbola. Sujadi Sadad, Bupati Pringsewu, mengatakan pihaknya mengucap syukur lantaran Kabupaten Pringsewu kembali diberi kepercayaan untuk menggelar event yang dapat menambah kebugaran dan kesehatan masyarakat, serta nilai-nilai sportifitas. “Alhamdulillah ini kedua kalinya Kabupaten Pringsewu diberi kepercayaan menggelar event Gala Desa. Hormat kami dan rasa terimakasih masyarakat Pringsewu kepada Menpora Imam Nahrawi, begitu juga Presiden Joko Widodo, sehingga melalui olahraga menjadi pemersatu bagi Indonesia,” ujar Sujadi dalam sambutannya saat membuka Gala Desa. “Kami yakin, Gala Desa menjadi penyemangat masyarakat untuk berolahraga, sehingga bukan suatu hal mustahil slogan dari Desa untuk Dunia akan terwujud untuk masa yang akan datang. Semoga dari Kabupaten Pringsewu akan lahir bibit-bibit olahraga berprestasi di tingkat nasional hingga internasional,” tambahnya. Gala Desa edisi Pringsewu dilaksanakan selama 21 hari dengan peserta beberapa kategori seperti pelajar dan umum, mulai dari U-13 tahun, U-15 tahun, hingga U-18 tahun, dengan lokasi pertandingan tersebar di empat Kecamatan. Untuk cabor atletik dipusatkan di Bandungbaru, bola voli di Lapangan Pekon Pamenang, Kecamatan Pagelaran. Sedangakn bulutangkis di Pekon Sukoharjo 1, Kecamatan Sukoharjo, dan sepak bola di Lapangan Pekon Totokarto, Kecamatan Adiluih. Raden Isnanta, Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora, menyebut Kabupaten Pringsewu merupakan satu dari 136 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi se-Indonesia yang mendapat program Gala Desa dari Kemenpora. Dengan tujuan selain untuk menambah kebugaran dan kesehatan masyarakat, juga mencari bibit atlet dari masyarakat di pelosok desa. “Kami ucapkan terimakasih pada Pemkab Pringsewu beserta jajaran, dan stakeholder yang merespon positif program nasional Gala Desa ini,” tutur Isnanta. Daerah berjuluk ‘Jejama Secancanan’ ini memiliki perhatian besar kepada olahraga Indonesia, komitmen menggerakkan masyarakatnya terus berolahraga tinggi. Isnanta juga mengajak semua lapisan terus menguatkan olahraga, sehingga olahraga menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. “Jika bugar, rasanya gampang mencari bibit atlet yang unggul. Kalau angkat besi sudah banyak melahirkan bibit unggul level dunia, nanti lewat Gala Desa ini semoga ada putra daerah yang bermunculan untuk nantinya menjadi atlet-atlet yang dipersiapkan menuju pentas dunia,” harapnya. Lebih dari itu, ia juga meminta kepada panitia setempat untuk memantau para atlet yang tak hanya terdapat dalam Gala Desa, guna dikembangkan di diklat-diklat nasional seperti PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) atau SKO (Sekolah Khusus Olahraga) Ragunan. “Negara ini masih butuh kader atlet yang banyak, meskipun sudah mengalami peningkatan prestasi di ajang Asian Games maupun Asian Para Games 2018, tapi Indonesia masih butuh menuju ke Olimpiade, sehingga dibutuhkan bibit unggul yang lebih hebat lagi,” jelasnya. Selain itu pembukaan Gala Desa Pringsewu ini terasa sangat spesial. Hal ini disampaikan Samsir Kasyim, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Kadis Porapar) Pringsewu. Sebab, pengibaran bendera Gala Desa dilakukan atlet junior panjat tebing asal SMK KH. Ghalib Pringsewu, M. Hauzaan Rizqullah, yang memanjat tower climbing setinggi 18 meter sambil membawa dan mengibarkannya di atas tower. Selain itu, adapula penampilan marching band, senam bersama serta aksi tiga atlet binaraga Pringsewu. (Adt)

Siapkan SDM Berkualitas Jelang POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, Kemenpora Gelar Pelatihan Manajemen Multievent Olahraga

Kemenpora menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Keolahragaan dan Manajemen Penyelenggaraan Multievent Olahraga untuk POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, di Kota Jayapura, pada 16-18 Oktober 2018. (Kemenpora)

Jayapura- Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Keolahragaan dan Manajemen Penyelenggaraan Multievent Olahraga untuk ajang POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, di Kota Jayapura, pada 16-18 Oktober 2018. Akhyar Matra, Ketua Penyelenggara sekaligus mewakili Asisten Deputi (Asdep) Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, mengatakan tujuan kegiatan ini meningkatkan kemampuan manajemen organisasi dan manajemen penyelenggaraan multievent. Pelatihan ini mempunya target khususnya jelang persiapan penyelenggaraan diadakannya event POPNAS (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) 2019 dan ajang PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020, di Papua. “Kegiatan ini diikuti 200 orang peserta yang berasal dari organisasi keolahragaan di Papua, seperti KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), Pengprov Cabor (Pengurus Provinsi Cabang Olahraga), serta instansi terkait lainnya yang akan terlibat di POPNAS dan PON,” ujar Akhyar dalam sambutannya dihadapan ratusan peserta yang hadir. Sementara itu, Timotius Madoan, Ketua Bidang (Kabid) Pembudayaan Olahraga mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Papua, mengaku bersyukur dan Kemenpora memfasilitasi pelatihan ini. “Ini penting sebagai bekal kami sebagai tuan rumah POPNAS dan PON mendatang,” terang Timotius. (Adt)

Sempat Diguyur Hujan, Peserta Tetap Antusias Semarakan Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka di Kalimantan Utara

Pelepasan Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka oleh Sofian Raga (Wali Kota Tarakan), yang didamping Suryati (Kepala Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional/PP-PON), dan Suparlan (Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga/Kadispora Kota Tarakan), di Stadion Datu Adil, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, pada Minggu (14/10). (Adt/NYSN)

Tarakan- Kesemarakan event Sepeda Nusantara 2018 etape Bumi Paguntaka, Kalimantan Utara, pada Minggu (14/10), sangat terasa. Sebagai salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah payung ‘Ayo Olahraga’ itu, mendapatkan tempat istimewa di hati masyarakat Kota Tarakan. Hal itu dibuktikan dengan para peserta, baik masyarakat maupun komunitas sepeda seperti Widjaya Onthel Club Tarakan, yang tampak sangat antusias mengikuti event ini, meski hujan sempat mengguyur kota terkaya ke-17 di Indonesia itu sejak pagi hingga menjelang acara berlangsung. Menempuh jarak sekitar 10 km, para peserta mengawali start dari depan Stadion Datu Adil, selanjutnya melewati Islamic Center-Jalan Kusuma Bangsa-Jalan Yos Sudarso-Jalan Jenderal Sudirman-Taman Oval Ladang-Kantor Wali Kota Tarakan-Kodim 0907 Tarakan, dan finish di Stadion Datu Adil. Pelepasan Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka itu dilakukan langsung oleh Sofian Raga (Wali Kota Tarakan), didamping Suryati (Kepala Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional/PP-PON), dan Suparlan (Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga/Kadispora Kota Tarakan). Suryati mengatakan animo masyarakat di Kota Tarakan untuk mengikuti event Sepeda Nusantara 2018 ini sangat besar. Diharapkan, target dari Kemenpora, yakni menciptakan masyarakat yang sehat dan bugar bisa tercapai di Kota ini. “Saya lihat disini juga sudah banyak klub-klub maupun komunitas, khususnya sepeda. Saya kira tidak ada masalah. Meski tadi hujan, namun antusias peserta tetap tinggi. Event ini juga mendapatkan dukungan yang besar dari semua pihak di Kota Tarakan ini,” ujar Suryati, disela event Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka itu. “Dengan Sepeda Nusantara ini, kami berharap tercipta masyarakat bugar, sehat, dan juga efisien, karena dengan bersepeda tak perlu membeli bahan bakar. Dan hanya dengan menggerakan tubuh menjadikan kita energik, sehingga kita semua bisa beraktifitas, serta lebih produktif di dalam masyarakat,” lanjutnya. Ia menegaskan, meski tanpa kehadiran pemerintah pusat, seharusnya event sepeda ini harus terus digalakan. Bahkan, pihaknya berpesan kepada Wali Kota Tarakan supaya dibuatkan jalur khusus bagi pesepeda. “Pak Wali Kota menyampaikan di Kota Tarakan sudah ada jalur khusus bagi pesepeda, tetapi terhapus. Kami harap dengan adanya momen seperti ini, bisa dibuatkan jalur khusus sepeda. Sehingga masyarakat yang akan bersepeda lebih aman, tidak takut tersenggol oleh kendaraan lainnya,” imbuhnya. Sementara itu, Sofian mengapresiasi Kemenpora yang kembali mempercayakan Tarakan, sebagai Kota yang disinggahi Sepeda Nusantara 2018. “Atas nama pemerintah kota, dan masyarakat Kota Tarakan, kami sampaikan apresiasi kepada Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) yang terus mensupport event bersepeda di Kota Tarakan ini,” ucap Sofian. Ia menyebut sepeda merupakan salah satu olahraga favorit masyarakat Kota Tarakan, sehingga kehadiran Sepeda Nusantara 2018 ini sekaligus membangkitkan motivasi dan semangat kepada generasi muda untuk terus berolahraga. “Event ini dalam rangka menjaga stabilitas kesehatan masyarakat. Kami harap event ini jadi agenda rutin, dan kami akan menjadikan olahraga sepeda ini salah satu cabang favorit di Kota Tarakan. Jadi tidak hanya untuk perayaan ataupun peringatan hari tertentu dan libur nasional, namun setiap waktu event ini bisa kami gelar,” ungkapnya. Kedepan, jelas Sofian, pihaknya akan menggelar Jambore Bersepeda, dimana pesertanya tidak hanya masyarakat lokal, namun juga akan mengundang peserta dari luar negeri, terutama negara tetangga seperti Malaysia. Terkait jalur khusus sepeda di Kota Tarakan, Sofian menegaskan pihaknya telah merencanakan pengembangan infrastrutur jalan yang akan digunakan sebagai jalur kendaraan roda empat, maupun roda dua. “Seluruh jalan di kota ini sepanjang kurang lebih 150 km itu sebagian sudah dalam pengerasan. Termasuk jalur roda empat, dan roda dua. Dan juga sudah dipasang GSB (Garis Sepadan Bangunan) berupa patok-patok merah, agar bangunan tak boleh melampaui tanda itu. Sehingga, nantinya kami leluasa melakukan pelebaran jalan,” tuturnya. Sedangkan Suparlan menilai, event Sepeda Nusantara 2018 ini berlangsung lancar dan sukses sesuai dengan harapan semua pihak, serta mendapatkan sambutan yang sangat baik dari seluruh masyarakat Kota Tarakan. “Sebelumnya kami juga pernah menjadi tuan rumah Gowes Pesona Nusantara 2017, dan akhirnya kami bisa kembali menggelar event Sepeda Nusantara 2018, dan kegiatan ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari seluruh masyarakat di Kota Tarakan,” terang Suparlan. Selain bersepeda, pada event yang bertujuan mendorong minat masyarakat terhadap olahraga bersepeda guna meningkatkan kecintaan terhadap olahraga sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), khususnya di Kota Tarakan, para peserta setibanya di garis finish langsung diajak melakukan senam secara bersama-sama. Aktifiats bersama itu sebagai bentuk kebersamaan dalam menggairahkan semangat berolahraga di tengah-tengah masyarakat. Dan, tak lupa, peserta Sepeda Nusantara 2018 etape yang beruntung mendapatkan dooprize, berupa sepeda dan peralatan elektronik. (Adt)

Sepeda Nusantara 2018 Etape Tarakan Siap Dihelat, Ribuan Peserta Bakal Meriahkan Event Unggulan Kemenpora

Tim Jelajah Sepeda Nusantara 2018 yang diselenggarakan Kementerian Pemuda Olahraga (Kemenpora), saat tiba di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Jumat (20/7) lalu. Tim diterima Wakil Walikota Tarakan, Khaeruddin Arief Hidayat I. (tribunkaltim.co)

Tarakan- Sepeda Nusantara 2018 etape Tarakan, Kalimantan Utara, siap dihelat di Stadion Datu Adil, pada Minggu (14/10). Ribuan peserta bakal memeriahkan event yang menjadi salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) itu. Suparlan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tarakan, mengaku persiapan event Sepeda Nusantara 2018 etape Tarakan siap seratus persen. “Tempat acara, venue, personil yang terlibat, hingga peserta yang turut serta memeriahkan event ini,” ujar Suparlan, di Kantor Dispora Tarakan, Kalimantan Utara, Sabtu (13/10). Terkait jumlah peserta, Suparlan menyebut jumlah yang mencapai dua ribuan warga akan turut berpartisipasi pada event ini. “Kalau dilihat dari pendaftaran, masyarakat sangat antusias sekali. Kami perkirakan bisa mencapai dua ribuan orang, karena hampir semua masyarakat mengetahui event ini,” lanjutnya. “Jadi saya pikir animo masyarakat di Kota Tarakan sangat tinggi, terutama mereka yang memiliki sepeda untuk bisa terlibat secara aktif di event besar seperti ini,” tegasnya. Diakuinya, dari tahun ke tahun, penyelenggaraan Sepeda Nusantara semakin meningkat kualitasnya. “Dibanding Sepeda Nusantara 2017, saya meyakini bila event tahun ini antusiasme masyarakat lebih tinggi. Sudah jadi budaya orang Tarakan untuk bersepeda sebagai sebuah kebiasaan. Buktinya tiap ada event bersepeda di Tarakan, selalu mendapatkan support dari masyarakat, hingga pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat,” terangnya. Ditambahkan Suparlan, dengan adanya inisitif pemerintah pusat dalam hal ini Kemenpora akan memberi tambahan energi baru agar orang mencintai olahraga bersepeda. “Jadi suatu saat orang senang bersepeda dan menjadi bagian dari hidupnya. Sehingga membantu pemerintah dalam hal kepadatan lalu lintas, serta polusi udara,” imbuhnya. “Selain itu, bagi anak-anak muda sasarannya adalah prestasi, serta menjauhkan mereka dari hal negatif, seperti ancaman bahaya narkoba, kenakalan remaja, dan lainnya. Kedepan, kami akan terus memberikan support untuk event ini,” tukas Suparlan. (Adt)

Pelatnas Wajib Manfaatkan Sport Science, Menpora: Atlet Indonesia Berprestasi di Olimpiade

Imam Nahrawi (Menpora) saat membuka acara bertajuk ‘2nd annual meeting Indonesia Society of Exercise and Sports Science’, di Auditorium Soerjo Rumah Sakit (RS) Metropolitan Medical Centre (MMC), Jakarta, Kamis (4/10). (Adt/NYSN)

Jakarta- Teknologi atau sport science sudah selayaknya diterapkan dalam penanganan olahraga di Tanah Air. Tujuannya, apalagi kalau bukan meraih prestasi tinggi di masa depan. Pasca Asian Games XVIII/2018, narasi tentang kebangkitan olahraga Indonesia sontak berhamburan. Skuat Merah Putih berhasil menempati peringkat empat dalam daftar perolehan medali negara-negara peserta, dengan 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Torehan itu nyaris dua kali lipat dari jumlah yang ditargetkan pemerintah, yakni 16 medali emas. Prestasi yang diraih pahlawan-pahlawan olahraga Idonesia bukan sesuatu yang mudah dicapai. Namun, menjadi penting, langkah apa yang harus dilakukan pasca Asian Games 2018. Dan, bagaimana cara menjaga euforia serta melanjutkan tren prestasi gemilang itu? “Tidak ada cita-cita atlet yang ingin juara dua ataupun tiga. Pasti mereka ingin yang nomor satu. Atlet ingin juara satu dan tentu ingin memberikan yang terbaik,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), di Jakarta, Kamis (4/10). Membuka acara bertajuk ‘2nd annual meeting Indonesia Society of Exercise and Sports Science’, di Auditorium Soerjo Rumah Sakit (RS) Metropolitan Medical Centre (MMC), Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, mengatakan dalam penanganan atlet semua pihak harus meninggalkan pola lama. “Tinggalkan kebiasaan atlet ini titipan si A atau si B, dan faktor kedekatan. Indonesia punya orang hebat, sperti profesor, dokter, psikolog. Mereka yang menilai atlet ini layak dan pantas mewakili jutaan masyarakat Indonesia di pentas olahraga nasional dan internasional. Pendekatannya harus sport science,” lajutnya. “Untuk kedepanya perkembangan atlet harus dikawal dokter medis, tim psikologi, serta ahli yang mengerti struktur otot dan tulang. Bagaimana juga menyangkut recovery, dan tim masseur. Tapi, yang paling penting adalah menjaga semangat dan motivasi atlet,” tambah menteri berusia 45 tahun itu. Pemanfaatan sport science sangat luas dengan melibatkan lintas profesi, sehingga tak hanya sebatas pelatih. Karena terdapat dokter olahraga, pelatih fisik, ahli gizi, biomekanik, fisioterapi, marketing sports, arsitek perencanaan venue olahraga dan arsitek urban development, masseur, insurance. Sebab, salah satu basis penerapan sports science adalah mencatat dan mengumpulkan data, serta membandingkan data dengan nilai tertentu. Lebih utama, yakni bagaimana mengkoordinasikan data yang dimiliki, secara lintas profesi bukan hanya dimiliki satu kelompok tertentu. “Kalau semua itu terlibat, maka dipastikan olahraga Indonesia menjadi pilar yang sangat kuat bagi persatuan nasional,” urai suami Shobibah Rohmah itu. Menurut Imam, keberhasilan Indonesia di ajang Asian Games XVIII/2018, tak lepas dari usaha penerapan sport science. Pemerintah, jelas ayah 7 anak itu, akan melanjutkan penggunaan teknologi di dunia olahraga, sehingga nantinya para atlet tak hanya berprestasi di level Asian Tenggara (SEA Games), dan Asia (Asian Games), melainkan dunia, yaitu Olimpiade. “Pemerintah siap melanjutkan penerapan teknologi ini, sehingga atlet Indonesia berprestasi di level Olimpiade,” cetusnya. “Harapan kami semua Pelatnas harus ada tim lintas profesi demi kemajuan olahraga Indonesia,” tukas peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur itu. (Adt)

PPLM Kirim 11 Mahasiswa ke Kejuaraan Dunia Sepak Takraw, Kemenpora: Jadi Peluang Unjuk Prestasi

Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga, melepas kontingen sepak takraw ke kejuaraan dunia King's Cup, di Nakhon Ratchasima, Thailand, 23-30 September 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, melepas kontingen sepak takraw nasional untuk berlaga di Kejuaraan Dunia Sepak Takraw ke-33 King’s Cup, di Nakhon Ratchasima, Thailand, pada 23-30 September 2018. “Ini adalah peluang untuk menunjukkan prestasi di event bergengsi. Dan bermain di kasta pertama sepak takraw dengan performa terbaik. Pelatih silakan amati, ikuti rekam jejak para atlet secara total. Semoga menjadi pencatatan terbaik bagi tim pemandu bakat,” ujar Isnanta, di Gedung PPITKON, Senayan, Jakarta, Kamis (20/9). Menurutnya, sepak takraw bisa menjadi tontonan yang menarik dan berpeluang menjadi industri. Ia melanjutkan, nantinya atlet yang berstatus mahasiswa dan tak masuk Pelatnas, tetap diusahakan untuk diikutsertakan pada kejuaraan-kejuaraan sebagai program berjenjang. “Semua memiliki kesempatan bersama untuk berkembang. Selamat berlatih dan bertanding, jaga kekompakan,” tambah Isnanta. Sementara itu, Edi Suryanto, Kepala Bidang Pengelolaan PPLM, mengatakan tujuan para atlet mengikuti Kejuaraan Dunia Sepak Takraw di Thailand yakni untuk memberikan pengalaman bertanding di level internasional. Selain itu, lanjutnya, sebagai bahan evaluasi pelatihan atlet di Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM). Di kejuaraan yang sama pada 2017 lalu, Indonesia berhasil meraih 1 medali perak melalui nomor putra beregu, dan merebut 1 medali perunggu lewat nomor putri beregu. “Kontingen terdiri dari 11 atlet PPLM Nasional, 17 atlet hasil seleksi Kejurnas (Kejuaraan Nasional) Piala Menpora 2018, yakni 16 atlet putra dan 3 pelatih, serta 12 atlet putri dan 3 pelatih, 1 meassure, 1 pelatih fisik, 1 orang medis, dan 1 ofisial, sehingga totalnya sekitar 38 orang,” ungkap Edi. Pada 2018 ini, tim sepak takraw PPLM Indonesia akan mengikuti 5 nomor yang dipertandingkan, yaitu nomor tim even (pa-pi), nomor quadrant (pa-pi), nomor regu even (pa-pi), nomor double even (pa-pi) dan hoop putra. Sedangkan, Asnawi Abdulrahman, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI), menyebut kejuaraan King’s Cup Thailand 2018 dijadikan sebagai ajang seleksi bagi para atlet untuk masuk Pelatnas SEA Games 2019. Selain itu, tambahnya, akan dipersiapkan Pelatnas jangka panjang untuk Asian Games XIX/2022. “Terima kasih kepada Kemenpora karena memberangkatkan kontingen terbesar sepak takraw nasional ke kejuaraan dunia. Ini adalah sejarah dan pertama kali,” tegasnya. “Jaga semangat, kebersamaan, kekeluargaan, satu rasa, satu kata, satu tujuan meraih prestasi di King’s Cup 2018. Walaupun mendadak, tapi harus tetap optimis memberikan kejutan prestasi,” tukas Asnawi. (Adt)

PPLP dan SKO Ragunan Sumbang Ratusan Atlet ke Asian Games 2018, Kemenpora Fokus Perkuat Sport Center

Venue Lapangan Tenis di kawasan komplek Jakabaring Sport Center, Palembang, Sumatra Selatan, bisa segera mulai digunakan atlet binaan PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) dan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan. (akurat.co)

Jakarta- Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, mengatakan akan fokus memperkuat sport center. Fasilitas pertandingan yang digunakan saat Asian Games 2018, nantinya bisa digunakan atlet binaan PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) dan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan. “Kami ingin agar sport center diperkuat lagi. Dan fasilitas eks pertandingan Asian Games 2018 yang bagus-bagus, akan kami minta pada Pak Menteri (Imam Nahrawi/Menpora) agar aset itu bisa ditularkan kepada atlet-atlet di PPLP dan SKO,” ujar Isnanta, pada Senin (17/9). “Nanti usulan itu akan saya sampaikan ke Pak Menteri, dan saya pikir akan direspon secara positif. Karena para atlet binaan PPLP dan SKO ini memiliki fasilitas yang sangat terbatas,” tambahnya, disela-sela acara pemberian Piagam Penghargaan dan Bonus kepada Pelatih SKO Ragunan, Jakarta. Menurut Isnanta, venue yang ada di wilayah DKI Jakarta, khususnya dilingkup SKO Ragunan sudah mulai dibangun, meski belum seluruhnya. “Pembenahan SKO Ragunan dari sisi fisik sudah mulai dilakukan secara bertahap. Jadi tidak langsung semuanya dibenahi, karena nanti para atlet muda binaan ini tidak bisa latihan,” terangnya. Selain itu, menurut Isnanta, pihaknya akan memprioritaskan peningkatan mutu pelatih, layanan kompetisi, serta saranan dan prasarana. “Faktanya lulusan PPLP dan SKO yang berjumlah 160 atlet lebih menjadi peserta Asian Games 2018, dan hanya membina 20 cabang olahraga. Sedangkan Asian Games melombakan 42 cabang olahraga,” urainya. “Jadi, artinya kami belum membina semua cabang di Asian Games. Tapi, dengan sudah ada 160 lebih atlet eks maupun yang masih aktif di PPLP dan SKO ini adalah sumbangan yang tidak kecil,” terangnya. Kedepan, ugkap Isnanta, akan memperkuat kompetisi antar SKO, bukan hanya antar Kota di Asia Tenggara, melainkan tingkat negara. “Nantinya, kompetisi tak hanya berlangsung antara kota se-ASEAN. Tapi, antar SKO yang berada di Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura. Mereka berkumpul dan bertanding, antar sesama sekolah olahraga,” cetusnya. Dengan demikian, ini meningkatkan kematangan bertanding para atlet binaan. “Untuk mematangkan mental tanding, peningkatan skill, pengalaman, dan menimba ilmu dari lawan. Supaya mereka orientasinya go internasional. Kalau bicara go internasional, berarti orientasinya ya di Olimpiade,” terangnya. “Alhamdulillah beberapa atlet sudah lolos tampil di youth olympic. Seperti angkat besi, bulutangkis, dan voli pantai. Hampir semua yang lolos youth olimpic adalah binaan kami. Sehingga tidak hanya di youth olympic mendapatkan emas, tapi juga di olympic senior yang levelnya lebih tinggi lagi,” tukas Isnanta. (Adt)

Pelatih dan Asisten Pelatih SKO Ragunan Diganjar Bonus, Menpora: Wujud Penghormatan Pemerintah

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memberikan penghargaan dan bonus kepada pelatih dan asisten pelatih SKO Ragunan, Jakarta, pada Senin (17/9), yang berjasa mengantarkan para atlet berprestasi di Asian Games 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Pemerintah melalui Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), memberikan penghargaan dan bonus kepada pelatih dan asisten pelatih Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan. “Bonus Asian Games tidak hanya kami berikan kepada para peraih medali, para atlet yang belum meraih, tapi juga kepada orang-orang yang berjasa mengantarkan para atlet di Asian Games 2018,” ujar Imam di Aula SKO Ragunan, Jakarta, Senin (17/9). “Di Ragunan ini banyak atlet peraih medali emas dilatih oleh para pelatihnya disini. Dan pemberian penghargaan dan bonus ini sebagai wujud penghormatan dan penghargaan pemerintah,” lanjutnya. Menteri berusia 45 tahun itu mengungkapkan nama-nama besar seperti Yayuk Basuki (tenis), Icuk Sugiarto (bulutangkis), dan termasuk beberapa peraih medali emas merupakan jebolan SKO Ragunan. “Jadi semangat meraih medali ini yang harus dirawat dan dijaga, karena melalui olahraga membuat Indonesia sejajar dengan negara lain terlebih rakyatnya menjadi bersatu padu mengesampingkan perbedaan,” tegas suami dari Shobibah Rohmah itu. Kesempatan itu, menurut Imam, harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh generasi-generasi yang saat ini menimba ilmu di SKO Ragunan, dan pada saatnya nanti juga akan membela Indonesia di kancah internasional. “Ingat Indonesia sedang ikut bidding menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Bersiaplah, kalian yang nantinya akan mewakili Indonesia di Olimpiade 2032, jadi mulai saat ini manfaatkan kesempatan di SKO ini dengan baik,” jelasnya. Sementara itu, Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, mengatakan apresisiasi ini diberikan untuk memberikan informasi bahwa pembinaan olahraga itu ada tahanapan demi tahapan. “Jadi tidak hanya ujungnya yakni meraih prestasi saja. Tapi, ada sisi lainnya yang juga memiliki peran tak kalah penting. Seperti disampaikan Pak Menteri bahwa yang mengkader juga diberikan penghargaan supaya mereka giat mencetak kader-kader baru,” jelasnya. “Jangan sampai pelatih-pelatih yang mencetak atau merintis sebelumnya itu merasa tidak dihargai, sehingga nanti mereka tidak ada motivasi untuk mencetak generasi-generasi atlet yang baru,” cetusnya. Lanjutnya, agenda penghargaan ini bertepatan dengan Haornas (Hari Olahraga Nasional), dimana terdapat empat pelatih yang terpilih, Bambang Warsito (sepakbola), Sarmili (bola voli), Fadli Potu (Taekwondo) dan Budiarto (angkat besi). “Penghargaannya berupa piagam penghargaan dan uang Rp 30 juta, tapi ada satu yang diberikan berupa beasiswa S2 senilai Rp 25 juta (Budiarto), untuk pelatih dan asisten pelatih SKO Ragunan sebesar Rp 5 juta,” tukas Isnanta. (Adt) Daftar Penerimaan Penghargaan Pelatih dan Asisten Pelatih SKO Ragunan  Pelatih: 1. Wahid Wahyuni (senam) 2. Pearl Tendean (basket) 3. Anang (tenis meja) 4. Suharyadi (tenis lapangan) 5. Eko Setiawan (loncat indah) Asisten Pelatih: 1. Murdasi (senam) 2. Apriyanto (senam) 3. Eko Waluyo (bola voli) 4. Joni firdaus (angkat besi) 5. Dodi Regar (tenis meja) 6. Tri Prasetyo (panahan) 7. Sri Ratna Ernaningsih (pencak silat) 8. Ertina Noviandi (taekwondo) 9. Mardianto (renang) 10. Irfan Ardiansyah (sepakbola) 11. Dwi Hadi Purnama (sepakbola)

Lagi-lagi Tunduk Dari China, Timnas Pelajar Putra dan Putri Segel Status Juru Kunci Kejuaraan Pelajar Asia 2018

Walau tertinggal selisih satu angka pada detik terakhir, Timnas Basket Pelajar Putri Indonesia (merah) harus menyerah 60-65 kepada China, di perebutan posisi ketiga, kejuaraan basket pelajar Asia 2018, di Yogyakarta, Kamis (13/9). (topskor.id)

Yogyakarta- Meski memperkecil ketinggalan selisih satu angka pada detik terakhir, Timnas Basket Pelajar Putri Indonesia harus menyerah 60-65 kepada China, di perebutan posisi ketiga, kejuaraan basket pelajar Asia 2018, di Yogyakarta, Kamis (13/9). Tampil di GOR Among Rogo, anak asuh pelatih Tjetjep Firmansyah sebenarnya berpeluang memaksa tim tirai bambu duel di perpanjangan waktu (overtime), saat tertinggal 60-63, pada 16 detik terakhir. Namun, ketatnya pertahanan China yang unggul postur tubuh, membuat Adelaide Wongsohardjo dan kolega, tetap gagal menambah angka. Tim merah putih remaja justru makin tertinggal. Dengan kekalahan tersebut, tim putri Indonesia resmi berada di posisi juru kunci, dari empat negara peserta di ajang yang bertajuk 8th Asian Schools Basket Ball Championship 2018. Adelaide, anggota tim Asian Games 2018 yang akrab disapa Lady, kembali jadi motor serangan Indonesia dengan raihan 24 angka dan delapan rebound. Permainan Lady mampu diimbangi Faizzatus Shoimah, rekan sesama asal Malang, yang menyumbang 18 angka dan tujuh rebound. Usai pertandingan, baik Lady dan Faiz, panggilan Faizzatus, mengatakan meski kalah, permainan mereka sebenarnya jauh lebih baik dari sebelumnya. “Saya kira, permainan kami lebih baik dibanding pertandingan sebelumnya karena kami bermain lebih lepas,” kata Faiz, siswi SMA 8 Malang, yang dipercaya sebagai kapten. Pada pertandingan babak penyisihan grup menghadapi China sebelumnya, tim putri Indonesia takluk dengan selisih mencapai 12 angka, yaitu 50-62. Kehadiran Lady yang baru saja memperkuat tim Asian Games 2018 Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta, menurut Faiz ikut membantu mendorong motivasi pemain lain. “Ada Lady sangat membantu dan mendorong semangat juang teman-teman karena dalam tim kami ada pemain Asian Games,” kata Faiz. Ye Yao Zhang memimpin putri China mencetak angka tertinggi dan nyaris mencatat “double – double” , yaitu 18 angka dan sembilan rebound. Pertandingan sebenarnya berlangsung seimbang dan ketat pada babak pertama ketika terjadi saling kejar angka dan silih berganti pimpinan perolehan angka. Babak pertama ditutup dengan keunggulan tipis China 30 – 28 setelah Adelaide gagal melakukan dua kesempatan lemparan bebas. Sampai pertengahan babak kedua, Indonesia masih tetap bisa mengimbangi permainan China dengan selisih angka tipis. Saat pertandingan tersisa lima menit, China mencetak 11 angka secara beruntun dan memperbesar selisih keunggulan berkat beberapa lemparan tiga angka yang akurat. Adelaide yang sempat dirawat, usai terkena hantam dengkul lawan yang mengenai tulang rusuknya, sempat membuat daya serang tim melemah, tapi kembali bangkit memperkecil ketinggalan pada detik-detik terakhir. Kenyataan pahit berikutnya juga dialami Timnas basket pelajar putra Indonesia, menyusul nasib rekan putri, paska ditaklukkan Hong Kong 65-81 (32-40), pada perebutan peringkat ketiga di tempat yang sama. Dengan kekalahan di perebutan peringkat ketiga tersebut, tim putra yang dilatih Rifki Antolyon, juga harus menerima nasib menjadi tim paling buncit, karena gagal memenangi satu partai pun, dari empat pertandingan. Kejuaraan di pertandingan yang memakai sistem setengah kompetisi itu diikuti empat negara, yakni China, Hong Kong, Thailand dan tuan rumah Indonesia. Pada pertandingan sebelumnya, tim putri Indonesia akhirnya menyerah 60-65 kepada China di meski mampu memberikan perlawanan sampai detik – detik terakhir. Menghadapi China, tim merah putih hanya mampu mengimbangi permainan lawan pada sepuluh menit pertama saat skor 16-16. Pada kuarter berikutnya, China yang unggul postur tubuh, stamina maupun teknik, semakin menjauh dalam perolehan angka, terutama melalui lemparan tiga angka yang lebih akurat. Dari sepuluh pemain yang diturunkan, tak satu pun yang sanggup mencetak angka diatas sepuluh. Hanya sang kapten, Gregorius Lindu Aji, yang menyumbang sembilan angka, sebagai topskor Indonesia. Sementara skor tertinggi untuk China dicetak Chun Hung Lai dengan 17 angka, disusul Ko Han Chan dan Zhi Kang Liang, masing-masing 13 dan 11 angka. Usai pertandingan, Rifki memberikan catatan khusus buat tim pelajar Indonesia, terutama yang berkaitan dengan persiapan. “Untuk kejuaraan pelajar di masa mendatang, saya berharap agar waktu persiapan bisa lebih lama, dan tidak bisa hanya sembilan hari, karena pemain berasal dari daerah dan sekolah berbeda,” tukasnya. Rifki juga menyesalkan skenario jadwal yang dibuat panpel. Sebagai tuan rumah, Indonesia seolah tak punya andil dalam penjadwalan. Seharusnya, sebelum menentukan penjadwalan, proses itu dikoordinasikan dengan pelatih. “Ini bukan curang, tapi memberi pengertian pada pelatih, soal peta pertarungan di lapangan. Sebagai tuan rumah, seharusnya Indonesia bisa menyeknariokan jadwal yang ramah bagi perjuangan tuan rumah,” sergahnya. “Ini kan tidak, tau-tau bertemu tim kuat, lalu lawan kualitas di bawahnya. Terbalik. Habis duluan tenaga kalau begitu. Low to high, bukan high to low. Seharusnya yang sedang dulu kemudian naik melawan tim dengan level di atasnya. Tapi, ini bukan alasan. Saya minta maaf atas hasil ini, dan saya siap bertanggung jawab,” pungkas Rifki. (Adt)

Waktu Persiapan Terlalu Mepet, Pelatih Timnas Pelajar Putri Ungkap Alasan ‘Prestasi’ Juru Kunci

Timnas Basket Pelajar Putri Indonesia, gagal total meraih satu pun kemenangan di kejuaraan basket pelajar Asia 2018, di GOR Among Rogo, Yogyakarta. Menurut sang pelatih, Tjetjep Firmansyah, kendala terbesar adalah kurangnya durasi waktu persiapan. (sumeks.co.id)

Yogyakarta- Pelatih Timnas Basket Pelajar Putri Indonesia, Tjetjep Firmansyah, pada Rabu (12/9), menyatakan jika kegagalan anak asuhnya meraih satu pun kemenangan di kejuaraan basket pelajar Asia 2018, adalah kurangnya durasi waktu persiapan. Dilansir antaranews.com, demi menghadapi kejuaraan mendatang, ia berharap agar pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) jauh-jauh hari sudah mempersiapkan pemain sebelum bertanding di kejuaraan internasional demi persiapan yang lebih matang. “Kelemahan tim kami di kejuaraan basket pelajar Asia 2018, terkendala waktu persiapan yang singkat, sehingga sulit tampil maksimal,” kata Tjetjep yang memimpin tim putri di kejuaraan basket pelajar Asia 2018, di GOR Among Rogo, Yogyakarta. Menurut Tjetjep, mantan pelatih tim nasional dan klub Aspac Jakarta itu, timnya hanya punya waktu efektif sembilan hari mengumpulkan pemain yang berasal dari berbagai daerah sebelum berlaga di ajang yang bertajuk 8th Asian Schools Basket Ball Championship 2018. “Dengan waktu yang sangat singkat, tentu sulit untuk membentuk tim yang kompak dan solid,” kata Tjetjep dengan suara serak akibat banyak berteriak saat memberikan instruksi pada pertandingan sebelumnya. Kejuaraan pelajar merupakan program kompetisi yang berada di bawah naungan Kementrian Pemuda dan Olahraga, yaitu bagian pembibitan. Pihak Kemenpora, menurut Tjetjep, tentu mempunyai jadwal event yang sudah terprogram, seperti kejuaraan pelajar, baik event tunggal maupun multi cabang, yang berada di bawah Keasdepan Pembibitan. Guna menghadapi kejuaraan internasional di masa mendatang, pihak Kemenpora, menurut Tjetjep, sejatinya bisa lebih mengoptimalkan pemain yang berada di Sekolah Olahraga Ragunan atau PPLP, yang tersebar di beberapa daerah. “Kalau pemain dari sekolah sudah terbentuk, maka PB Perbasi sebagai induk olahraga basket, bisa membantu menfasilitasi kekurangan pemain,” katanya menambahkan. Tapi, jika pembentukan tim yang mendadak dan tidak disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, akan membuat tim pelatih kesulitan memilih pemain yang tepat. Selama berlangsungnya kejuaraan basket Asia yang diikuti empat negara itu, pria yang pernah mengantar tim putra Indonesia ke tangga juara Asia Tenggara di Surabaya pada 1996 itu, secara khusus menyampaikan apresiasi pada Adelaide Wongsohardjo, anggota tim Asian Games 2018, yang bersedia memperkuat tim pelajar Indonesia. Lady, panggilan Adelaide, hanya sempat istirahat selama dua hari, usai membela Timnas Putri Indonesia di Asian Games 2018. “Meski berstatus sebagai anggota tim senior di Asian Games, Lady tetap tampil “humble” dan tak memperlihatkan dominasinya. Ia bahkan menolak saat ditunjuk sebagai kapten,” kata Tjetjep Di kejuaraan basket pelajar Asia 2018 ini, tim putri Indonesia gagal meraih sekalipun kemenangan, dari tiga pertandingan babak penyisihan, sehingga harus puas di peringkat terakhir setelah Thailand, Hong Kong dan China. (Adt)