Kombinasi Pemain Senior dan Junior, Timnas Takraw Optimis Bisa Sumbangkan Medali

Kombinasi Pemain Senior dan Junior, Timnas Takraw Optimis Bisa Sumbangkan Medali

Kombinasi pemain senior dan junior menjadi strategi penting yang dipersiapkan Timnas Takraw Indonesia menghadapi SEA Games 2021 Vietnam nanti. Hal itu disampaikan Pelatih Tri Aji saat memimpin latihan anak asuhnya di Lapangan Sepak Takraw, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, Kamis (21/04) sore. Aji mengatakan ia memilih meramu tim dengan gabungan atlet senior dan junior karena pertimbangan target medali dan proyeksi regenerasi di takraw Indonesia. Tim takraw Indonesia sendiri ditargetkan bisa menyumbangkan medali emas. “Satu sisi kami butuh pemain-pemain yang matang, tetapi di sisi lain kami juga harus memikirkan regenerasi dengan memberikan pengalaman bagi atlet muda untuk ke depannya. Kami sangat sadar sepak takraw bukan cabor DBON, tapi kami tetap harus optimis dan semangat untuk menyesuaikan tuntutan medali dan juga kompetisi agar menambah jam terbang atlet-atlet kami,” ujar Aji. Tim Takraw Indonesia sendiri pada SEA Games 2021 Vietnam kali ini mengirimkan 6 atlet yang akan turun di tiga nomor yakni, double, quadrant, dan regu. Mereka adalah, Abdul Halim Radjiu, Andi Try Sandi Saputra, Muhammad Herdiansyah Muliang, Saiful Rijal (senior), Rusdi, dan Jelki Ladada (junior). Aji sendiri optimis anak asuhnya bakal bisa mempersembahkan medali di SEA Games 2021 Vietnam, kekuatan yang diandalkan yakni di nomor double. Tim sepak takraw Indonesia sendiri meraih 1 medali emas, 1 perak, 1 perunggu di SEA Games 2019 Manila, dan medali emas dipersembahkan dari nomor double. “Untuk nomor double kami yakin bisa mempertahankan gelar. Namun di nomor quadrant juga berpotensi karena lawan terberat yaitu Malaysia juga menurunkan kekuatan baru di SEA Games kali ini,” kata Aji. Aji menjelaskan anak asuhnya dalam kondisi bugar dan siap berlaga di multi event dua tahunan kawasan Asia Tenggara ini. “Latihan sentralisasi sebenarnya baru dilakukan awal April, tetapi kami pelatnas desentralisasi sejak Januari. Saya memberikan program kepada anak-anak dan dipantau khusus,” tambahnya Sementara pemain muda Rusdi merasa optimis bisa mempersembahkan medali di ajang SEA Games 2021 Vietnam nanti. Meski ini menjadi SEA Games pertamanya, dia merasa porsi latihan dan persiapan yang diberikan pelatih sudah baik. “Alhamdulilah persiapan latihan selama ini berjalan baik. Sebagai pemain muda dan baru turun di ajang SEA Games, saya justru merasa mendapat kepercayaan lebih. Sekarang tinggal fokus latihan sesuai intruksi dan strategi yang dijalankan oleh pelatih,” kata Rusdi. SEA Games ke-31 akan dilaksanakan pada 12-23 Mei. Kontingen Indonesia akan berpartisipasi di 31 dari 40 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sepak takraw dijadwalkan mulai bertanding pada 13-21 Mei. Daftar 6 Atlet Tim Sepak Takraw Indonesia: 1. Abdul Halim Radjiu 2. Andi Try Sandi Saputra 3. Muhammad Herdiansyah Muliang 4. Saiful Rijal 5. Rusdi 6. Jelki Ladada

SEA Games 2021. Tim Sepak Takraw Indonesia Optimis Emas

Dalam melakoni SEA Games 2021 Hanoi, tim sepak takraw Indonesia memiliki strategi sendiri. Kombinasi pemain senior dan junior menjadi strategi yang penting. Hal itu disampaikan Pelatih Tri Aji saat memimpin latihan anak asuhnya di Lapangan Sepak Takraw, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, Kamis (21/04) sore. Aji mengatakan ia memilih meramu tim dengan gabungan atlet senior dan junior karena pertimbangan target medali dan proyeksi regenerasi di takraw Indonesia. Tim takraw Indonesia sendiri ditargetkan bisa menyumbangkan medali emas. “Satu sisi kami butuh pemain-pemain yang matang, tetapi di sisi lain kami juga harus memikirkan regenerasi dengan memberikan pengalaman bagi atlet muda untuk ke depannya. Kami sangat sadar sepak takraw bukan cabor DBON, tapi kami tetap harus optimis dan semangat untuk menyesuaikan tuntutan medali dan juga kompetisi agar menambah jam terbang atlet-atlet kami,” ujar Aji. Tim Takraw Indonesia sendiri pada SEA Games 2021 Vietnam kali ini mengirimkan 6 atlet yang akan turun di tiga nomor yakni, double, quadrant, dan regu. Mereka adalah, Abdul Halim Radjiu, Andi Try Sandi Saputra, Muhammad Herdiansyah Muliang, Saiful Rijal (senior), Rusdi, dan Jelki Ladada (junior). Aji sendiri optimis anak asuhnya bakal bisa mempersembahkan medali di SEA Games 2021 Vietnam, kekuatan yang diandalkan yakni di nomor double. Tim sepak takraw Indonesia sendiri meraih 1 medali emas, 1 perak, 1 perunggu di SEA Games 2019 Manila, dan medali emas dipersembahkan dari nomor double. “Untuk nomor double kami yakin bisa mempertahankan gelar. Namun di nomor quadrant juga berpotensi karena lawan terberat yaitu Malaysia juga menurunkan kekuatan baru di SEA Games kali ini,” kata Aji. Aji menjelaskan anak asuhnya dalam kondisi bugar dan siap berlaga di multi event dua tahunan kawasan Asia Tenggara ini. “Latihan sentralisasi sebenarnya baru dilakukan awal April, tetapi kami pelatnas desentralisasi sejak Januari. Saya memberikan program kepada anak-anak dan dipantau khusus,” tambahnya Sementara pemain muda Rusdi merasa optimis bisa mempersembahkan medali di ajang SEA Games 2021 Vietnam nanti. Meski ini menjadi SEA Games pertamanya, dia merasa porsi latihan dan persiapan yang diberikan pelatih sudah baik. “Alhamdulilah persiapan latihan selama ini berjalan baik. Sebagai pemain muda dan baru turun di ajang SEA Games, saya justru merasa mendapat kepercayaan lebih. Sekarang tinggal fokus latihan sesuai intruksi dan strategi yang dijalankan oleh pelatih,” kata Rusdi. SEA Games ke-31 akan dilaksanakan pada 12-23 Mei. Kontingen Indonesia akan berpartisipasi di 31 dari 40 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sepak takraw dijadwalkan mulai bertanding pada 13-21 Mei. Berikut Daftar 6 Atlet Tim Sepak Takraw Indonesia: 1. Abdul Halim Radjiu 2. Andi Try Sandi Saputra 3. Muhammad Herdiansyah Muliang 4. Saiful Rijal 5. Rusdi 6. Jelki Ladada   Sumber: Kemenpora

Empat Atlet Pelajar Bengkalis Perkuat Tim Sepak Takraw PPLP Riau Ikuti Kejuaraan di Sulawesi Barat

Empat atlet pelajar Kabupaten Bengkalis memperkuat tim sepak takraw PPLP Riau mengikuti Kejurnas di Provinsi Sulbar, 7-13 April 2019. (rri.co.id)

Bengkalis- Terdapat empat atlet pelajar Kabupaten Bengkalis dipercaya memperkuat Tim PPLP (Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar) Provinsi Riau untuk mengikuti kejuaraan nasional (Kejurnas) di Sulawesi Barat (Sulbar). Kejurnas sepak takraw antar PPLP di Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, diikuti 13 Provinsi, diantaranya tuan rumah Sulbar, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Barat serta Riau, dan berlangsung pada 7-13 April 2019. “Alhamdulillah pada tahun ini atlet sepak takraw Kabupaten Bengkalis ikut dipanggil dan memperkuat tim sepak takraw PPLP Riau,” ujar Zulpan, Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI), dikutip dari RRI, Selasa (9/4). Zulpan menambahkan keempat atlet Bengkalis tersebut terdiri dari dua atlet putra yakni M. Fadilah dan Riski Saputra. Sedangkan dua atlet putri yaitu Ayu Syakira dan Tia Astuti. “Kami berterima kasih kepada Bupati Bengkalis Amril Mukminin yang memberikan perhatian lebih pada dunia olahraga khususnya sepak takraw,” lanjutnya. “Semoga mereka yang mengikuti Kejurnas ini bisa memberikan yang terbaik untuk sepak takraw Riau khususnya sepak takraw di Kabupaten Bengkalis,” tutup Zulpan. (Adt)

PPLM Kirim 11 Mahasiswa ke Kejuaraan Dunia Sepak Takraw, Kemenpora: Jadi Peluang Unjuk Prestasi

Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga, melepas kontingen sepak takraw ke kejuaraan dunia King's Cup, di Nakhon Ratchasima, Thailand, 23-30 September 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, melepas kontingen sepak takraw nasional untuk berlaga di Kejuaraan Dunia Sepak Takraw ke-33 King’s Cup, di Nakhon Ratchasima, Thailand, pada 23-30 September 2018. “Ini adalah peluang untuk menunjukkan prestasi di event bergengsi. Dan bermain di kasta pertama sepak takraw dengan performa terbaik. Pelatih silakan amati, ikuti rekam jejak para atlet secara total. Semoga menjadi pencatatan terbaik bagi tim pemandu bakat,” ujar Isnanta, di Gedung PPITKON, Senayan, Jakarta, Kamis (20/9). Menurutnya, sepak takraw bisa menjadi tontonan yang menarik dan berpeluang menjadi industri. Ia melanjutkan, nantinya atlet yang berstatus mahasiswa dan tak masuk Pelatnas, tetap diusahakan untuk diikutsertakan pada kejuaraan-kejuaraan sebagai program berjenjang. “Semua memiliki kesempatan bersama untuk berkembang. Selamat berlatih dan bertanding, jaga kekompakan,” tambah Isnanta. Sementara itu, Edi Suryanto, Kepala Bidang Pengelolaan PPLM, mengatakan tujuan para atlet mengikuti Kejuaraan Dunia Sepak Takraw di Thailand yakni untuk memberikan pengalaman bertanding di level internasional. Selain itu, lanjutnya, sebagai bahan evaluasi pelatihan atlet di Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM). Di kejuaraan yang sama pada 2017 lalu, Indonesia berhasil meraih 1 medali perak melalui nomor putra beregu, dan merebut 1 medali perunggu lewat nomor putri beregu. “Kontingen terdiri dari 11 atlet PPLM Nasional, 17 atlet hasil seleksi Kejurnas (Kejuaraan Nasional) Piala Menpora 2018, yakni 16 atlet putra dan 3 pelatih, serta 12 atlet putri dan 3 pelatih, 1 meassure, 1 pelatih fisik, 1 orang medis, dan 1 ofisial, sehingga totalnya sekitar 38 orang,” ungkap Edi. Pada 2018 ini, tim sepak takraw PPLM Indonesia akan mengikuti 5 nomor yang dipertandingkan, yaitu nomor tim even (pa-pi), nomor quadrant (pa-pi), nomor regu even (pa-pi), nomor double even (pa-pi) dan hoop putra. Sedangkan, Asnawi Abdulrahman, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI), menyebut kejuaraan King’s Cup Thailand 2018 dijadikan sebagai ajang seleksi bagi para atlet untuk masuk Pelatnas SEA Games 2019. Selain itu, tambahnya, akan dipersiapkan Pelatnas jangka panjang untuk Asian Games XIX/2022. “Terima kasih kepada Kemenpora karena memberangkatkan kontingen terbesar sepak takraw nasional ke kejuaraan dunia. Ini adalah sejarah dan pertama kali,” tegasnya. “Jaga semangat, kebersamaan, kekeluargaan, satu rasa, satu kata, satu tujuan meraih prestasi di King’s Cup 2018. Walaupun mendadak, tapi harus tetap optimis memberikan kejutan prestasi,” tukas Asnawi. (Adt)

Sosok Si Kembar Lena-Leni Andalan Cabor Sepak Takraw

Sudah tahukah kamu dengan dua perempuan kembar ini? Lena dan Leni digadang-gadang menjadi sosok unik dalam perwakilan kontingen Indonesia di ajang Asian Games 2018. Tak hanya unik karena kembar, tapi kemampuannya dalam cabang olahraga sepak takraw juga jadi andalan. Lansiran dari tempo.co (15/08/2018), sosok keduanya kemarin ikut latihan bersama pelatnas lain di  Stadion Ranau Jakabaring, Palembang, Selasa 14 Agustus 2018. Di stadion itu sendiri, terdapat 24 orang yang berlatih teknik sepak sila, cungkil dan sepak kuda. Lena dan Leni yang mengenakan bandana putih dikepalanya, makin membuat susah dibedakan saat dari dekat. Sepak cungkil yang dimiliki kedua perempuan ini sangat tajam. Mereka pernah mendapatkan dua perunggu pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Tak hanya itu, pada ajang PON 2016, dua anak kembar ini mendapatkan satu emas Ketika diajak bicara, mereka saling menimpali dan saling melengkapi jawaban. “Kami saudara kembar yang lahir di Indramayu, Jawa Barat, 7 Juni 1989,” ujar mereka saling menimpali, seusai latihan. Sepak cungkilan kedua pemain kembar ini tajam, bahkan kemampuan dua wanita berambut kriting itu pernah menyumbang dua perunggu bagi Indonesi pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, tiga emas PON 2016, satu emas king’s cup 2016 di Thailand, dan perak -pada ajang SEA Games 2017 di Malaysia. Diakui oleh Lena-Leni, prestasinya tersebut berawal dari keikutsertaan mereka di olahraga voli. Ketika sekolah dasar, Lena-Leni sama-sama rutin latihan bola voli. Saat SMP menjadi andalan di sekolahnya. Bahkan mereka sempat menjadi atlet voli dalam pertandingan setingkat provinsi Jawa Barat. Menurut dua sosok anak kembar ini, bermain voli, main bola kaki hingga bulu tangkis itu menyenangkan. Semua permainan bola tersebut, dikenalkan oleh sang ayah yang berprofesi sebagai petani dan juga pemain bola tingkat kabupaten sebagai kiper. Ayahnya mengenalkan Lena-Leni pada bola kaki, bulu tangkis, voli, hingga sepak takraw. Semua olahraga tersebut menurut dua anak kembar ini membuat bahagia, karena lari-lari dan loncat. Cabang olahraga sepak takraw baru ditekuni saat di sekolah menengah atas (SMA). Ada alasan dan cerita unik tersendiri nih kenapa Lena-leni menekuni sepak takraw di SMA. Jadi, Lena berkata sambil tertawa, “Kami fokus saja latihan takraw biar jadi atlet dan sekolah gratis,” Dahulu, kondisi ekonomi yang lemah membuat mereka saat masih SMP harus juga bekerja mencuci piring di kantin sekolah. Semua itu dilakukan untuk uang saku. Kini, dari hasil kerja keras dan segudang prestasi yang telah ditorehkan, dua kembar ini sudah bisa menaikkan haji kedua orangtuanya. Perjuangan Lena-Leni, sosok kembar ini belum usai, mereka berdua harus bekerja keras demi mengejar prestasi di Asian Games 2018. Pertandingan sepak takraw sendiri akan dimulai pada 19 Agustus. Semoga cabor sepak takraw bisa raih emas!     (tempo.co)

Pelatnas Asian Games Sepak Takraw Gelar Eksibisi, Mulyana : Atlet Harus Fokus Berlatih Ukir Prestasi

Mulyana (Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga) mewakili Menpora meninjau Eksibishi Tim Sepak Takraw Asian Games, di GOR Markas Korps (Mako) Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (26/4). (Kemenpora)

Jakarta- Sebagai pemanasan sekaligus pematangan latihan menuju Asian Games 2018, pada Agustus-September. Tim sepak takraw Asian Games melakukan eksibisi di Gelanggang Olahraga (GOR) Markas Korps (Mako) Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (26/4). Mereka akan melaksanakan Training Camp di Thailand, pada 29 April – 11 Mei 2018. “Asian Games 2018 adalah 56 tahun kesempatan yang muncul, setelah 1962. Ini momentum ukiran sejarah seluruh atlet termasuk sepak takraw. Berikan yang terbaik pada AG 2018 nanti demi Merah Putih,” ujar Mulyana, Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mewakili Imam Nahrawi (Menpora). Ia menambahkan pemerintah sangat konsen dan mendukung penuh apa yang diperlukan untuk mencapai prestasi terbaik, termasuk dalam memberikan dukungan Pelatnas TC ke luar negeri. “Manfaatkan dengan baik dukungan pemerintah dan berbagai pihak, termasuk training camp ke luar negeri. Jangan pernah takut kepada lawan. Lawan kita bukan Thailand, bukan Myanmar, akan tetapi lawan kita yang sesungguhnya adalah ketakutan itu sendiri. Darah kita merah pikiran kita putih, terus berlatih dan berprestasi,” cetusnya. Sementara, Brigjen Abdul Rakhman Baso, Wakil Komandan Korps (Wadankor) Brimob menyebut eksebisi di GOR Mako Brimob adalah sebagai wujud nyata dukungan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), terhadap suksesnya hajat besar bangsa Indonesia yakni Asian Games 2018. “Apa yang kami lakukan ini tak lain adalah wujud nyata semboyan TNI-Polri siap menyukseskan Asian Games 2018. Dan, pada sepak takraw juga ada atlet yang merupakan anggota Brimob. Para atlet adalah pahlawan bagi 250 juta penduduk Indonesia. Selamat berlatih, dan saatnya mempersembahkan prestasi terbaik,” tuturnya. Sedangkan Tri Gunawan Hadi, Manajer Pelatnas Sepak Takraw Indonesia, mengungkapkan sejak Januari lalu telah dilaksanakan Pelatnas di Sekolah Pelatihan Icuk Sugiarto (ISTC) Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat. “Dari 42 atlet berbagai daerah telah terseleksi 24 atlet dengan komposisi 12 atlet putra dan 12 atlet putri yang selanjutnya terus diasah kemampuannya dengan berbagai pertandingan dan training camp ke luar negeri,” terang Tri. (Adt)

Berkat Latihan Keras, Albi Berhasil Mengalahkan Tim Sepak Takraw Pelajar Tingkat Asean

Albi-Pratama-Sugiharto-sepak-takraw

Berhasil melawan tim kelas internasional merupakan suatu kebanggaan. Sempat dikalahkan tim sepak takraw Jawa Tengah di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas), Albi bersama tim sepak takraw Jakarta membalas di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas). Albi yang memiliki nama panjang Albi Pratama Sugiharto mengaku sangat berlatih keras sejak dikalahkan tim Jawa Tengah. Tim Jawa Tengah memang terdiri dari pemain-pemain Asean Pelajar. “Pertandingan pertama watu itu ketemu di kejuaraan Popnas. Mungkin Jawa Tengah di mayoritasin pemain asean, pelajar juga lebih percaya diri di banding saya dan tim saya. Akhirnya tim saya kalah. Pas kejuaraan Pomnas kemarin saya dan tim menang, karena buat saya perkembangan latihan kita di uji saat pertandingan dan lawan yang kemarin sempat mengalahkan kita,”tuturnya Albi yang sudah menjuarai beberapa turnamen seperti Juara 1 Kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi 2009 dan 2014, Juara 3 ASG (Asean Schools Games) 2012 dan masih banyak lagi. Mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Negeri Jakarta ini, sudah menekuni sepak takraw sejak 10 tahun lalu. Baginya, sepak takraw merupakan olahraga yang menantang. “Sepak takraw itu extreme buat saya karena salto-salto gitu, dan itu seru banget,”ujar cowok yang berusia 20 tahun ini Mengikuti jejak sang kakak untuk menekuni sepak takraw, Albi tidak jauh dari cedera. Ia pernah mengalami cedera dibagian engkel kaki yang masih ia rasakan hingga saat ini. “Kalau cedera saya seringnya engkel dikaki. Malah sampai sekarang masih kerasa. Yang sekarang ini cedera saat uji tanding di Thailand tahun 2016 lalu, saya salah gerakan dan jatuh,” tutupnya(put/adt)

Sepak Takraw: Latihan Keras Cici Hingga Larut Malam Akhirnya Membuahkan Hasil

cici-sepak-takraw2

Bermula dari keingintahuan tentang cabang olahraga yang ditekuni sang kakak, Cici Herfiyuli atau yang akrab disapa Cici, berhasil menjadi salah satu atlet sepak takraw perwakilan wilayah Riau pada berbagai turnamen nasional. Gadis yang berusia 20 tahun ini berbagi cerita kepada nysnmedia.com tentang awal mula ia menekuni cabang olahraga sepak takraw. “Dulu saya hanya berlatih di kampung, Taluk Kuantan, Riau. Disana ada penerimaan pembibitan sepak takraw cewek dan saya diajak abang kandung untuk bermain. Dulu untuk pengen jadi atlet sepak takraw gak ada sama sekali keinginan, cuma karena rasa penasaran akhirnya saya mencoba mendalami apa itu sepak takraw. Tanding demi tanding antar kabupaten, dan akhirnya saya terpilih masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Riau.”ujarnya Sebagai seorang gadis, Cici pun kerap dilarang orang tua untuk mengikuti sepak takraw terutama jika latihan hingga sore dan malam hari. “Pernah saya dan abang telat pulang latihan. Sampai rumah kena marah sama bapak. Dan saya pernah dilarang bermain sepak takraw sama orang tua. Kami kan latihan suka pulang lambat. Untuk seorang cewek apalagi di kampung gak boleh pulang lewat dari magrib. Sedangkan kami latihan mulai jam 4 sampai 6 sore.”tutur atlet yang membawa medali perunggu pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017 lalu. Cici yang saat ini berkuliah di Universitas Lancang Kuning, jurusan Administrasi Negara, memang sudah 7 tahun menekuni sepak takraw. Cici bersama tim riau pernah mengalami kejadian yang kurang enak saat mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu ketika melawan tim Jawa Barat. “Pas PON melawan Jawa Barat ada masalah dengan teman tim saya yang dibilang memakai kalung. Wasit menganggap itu kalung dari dukun atau semacamnya untuk pegangan tim kita. Padahal itu cuma kalung bola takraw dan Riau sudah memimpin jauh. Karena ada masalah itu jadi gak fokus dalam bermain. Akhirnya kami kalah dalam final lawan Jawa Barat.”tuturnya(put/adt)

Di Curangi Wasit Tim Takraw Putri Indonesia Walk out dari Lapangan Pertandingan

Tim Sepak Takraw Putri yang memilih walk out pada Sea Games 2017. Foto: Kemenpora

Insiden kecurangan wasit menimpa atlet Indonesia pada cabang sepak takraw beregu putri di SEA Games 2017 yang di lansir dari Liputan 6.com Minggu (20/8/2017). Tim yang juga diperkuat pasangan kembar, Lena dan Leni itu terpaksa melakukan walk out. Penyebanya adalah karena mereka merasa dirugikan dengan keputusan wasit yang memimpin laga kedua Indonesia pada cabang sepak takraw beregu putri SEA Games 2107 tersebut. Saat itu, Indonesia sedang unggul 16-10 pada game kedua setelah kalah 20-22 pada game pertama. Indonesia merasa dicurangi karena wasit kerap memberikan poin dengan dalih salah dalam melakukan servis. Pada akhirnya, pelatih Asry Syam meminta kepada para pemainnya untuk tak melanjutkan pertandingan. Wasit sempat berteriak beberapa kali memperingatkan agar para pemain Indonesia masuk ke lapangan dan melanjutkan permainan. Namun, permintaan wasit diabaikan Indonesia yang bergegas untuk mengangkat barang bawaannya. Meski sudah memutuskan untuk WO, pelatih Indonesia masih sempat menghampiri bangku tim Malaysia untuk menyalami mereka satu per satu. Kejadian itu sendiri disaksikan Menpora Imam Nahrawi yang datang langsung ke Titiwangsa Indoor Stadium. Keputusan itu akan menyulitkan langkah Indonesia untuk merebut emas cabang sepak takraw beregu putri SEA Games 2107. Di hari yang sama, mereka juga takluk 0-2 dari Thailand. Indonesia masih menyisakan satu laga melawan Filipina, pada Senin (21/8/2017) kemarin.