Jojo, Satu-satunya Pemain Tunggal Putra Yang Lolos Sebagai 16 besar di Ajang French Open 2018

Jonathan Christie saat bertanding di ajang Asian Games 2018, Agustus silam (Prass/NYSN)

Paris – Jonatan Christie, tunggal putra Pelatnas PBSI Cipayung, lolos ke babak kedua (16 besar) kejuaraan bulutangkis ‘French Open 2018 BWF World Tour Super 750’, di Stade Pierre de Coubertin, Paris, Perancis, pada Rabu (24/10). Jojo, sapaannya, setidaknya butuh waktu 61 menit untuk melewati rintangan pertama ketika berjumpa dengan pemain India Sameer Verma. Remaja kelahiran Jakarta, 15 September 1997 itu menang rubber game, dengan skor 16-21, 21-17, 21-15. Berdasarkan statistik pertemuan, laga di Paris, merupakan perjumpaan ketiga antara Jojo dan Verma. Keduanya bertemu pertama kali tiga tahun lalu, tepatnya di Vietnam Open 2015. Ketika itu, Jojo takluk rubber game, dengan skor 21-16, 19-21, 20-22. Dan, terakhir di ajang Denmark Open 2018, pekan lalu, Verma mempermalukan Jojo di babak kedua usai menang rubber game, 23-21, 6-21, 22-20. “Sebetulnya saya punya kans menang waktu di Denmark, tapi saya tidak bisa mengatasi di akhir gim ketiga. Saat itu saya juga merasa kurang beruntung. Saya banyak belajar dari kekalahan itu, salah satunya adalah tetap fokus, meski sedang memimpin jauh,” ujar Jojo usai laga dikutip situs resmi PBSI, pada Rabu (24/10). Keberhasilannya ini juga tak lepas dari hasil diskusi Jojo dengan koleganya, yakni Anthony Sinisuka Ginting, terkait kondisi lapangan dan shuttlecock yang cukup berat. “Saya banyak dapat masukan dari Anthony, katanya bolanya agak lambat, jadi jangan terlalu forsir menyerang. Dan ini benar terjadi pada saya di gim pertama, lawan memancing saya untuk terus menekan dan tenaga saya terkuras. Saya mengubah permainan di gim kedua dan ketiga,” tuturnya. Anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) itu, menjadi satu-satunya tunggal putra Indonesia yang lolos ke babak 16 besar French Open 2018. Sebab, dua wakil Indonesia lainnya, Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto harus angkat koper di babak pertama. (Adt)

Pakai Shuttlecock Synthetic, Choirunnisa Singkirkan Yuki Suzuki di Indonesia International Challenge 2018

Choirunnisa menyingkirkan wakil Jepang Yuki Suzuki, di Gelanggang Olahraga (GOR) Sudirman, Surabaya, Jawa Timur, pada babak pertama (32 besar) 'Paytren Berkat Abadi Indonesia International Challenge, dengan skor 21-12, 21-19. (PBSI)

Surabaya- Tunggal putri Indonesia Choirunnisa tanpa kesulitan melaju ke babak kedua (16 besar) kejuaraan bulutangkis ‘Paytren Berkat Abadi Indonesia International Challenge 2018’, pada Rabu (24/10). Remaja putri kelahiran 31 Agustus 1999 itu, butuh waktu 32 menit untuk menyingkirkan wakil Jepang Yuki Suzuki, di Gelanggang Olahraga (GOR) Sudirman, Surabaya, Jawa Timur, pada babak pertama (32 besar), dengan skor 21-12, 21-19. Usai laga, Choirunnisa mengaku tak menemukan kendala di pertandingannya kali ini. “Hanya saja tadi harus sedikit beradaptasi dengan shuttlecock, karena di sini memakai shuttlecock synthetic, sehingga butuh penyesuai dulu,” ujar pemain tunggal besutan PB Mutiara Cardinal Bandung, dikutip situs resmi PB Djarum, pada Rabu (24/10). Di laga selanjutnya, Kamis (25/10), Choirunnisa ditantang wakil Indonesia lainnya, yakni Made Dea Surya Saraswati yang menang atas Silvi Wulandari, rubber game, dengan skor 19-21, 21-19, 25-23. “Buat besok lebih siap lagi, lebih fokus, dan harus siap capek karena lawan tidak bisa dianggap remeh. Semoga saya bisa tampil maksimal disetiap laga, dan berharap bisa juara,” tukas pemegang gelar Singapore International Series 2018 itu. (Adt)

Kondisi Belum Fit, Pemain 17 Tahun Asal PB Djarum Kudus Lolos ke Babak 32 Besar International Challange

Syabda Perkasa Belawa berhasil menaklukan Dean Bencha Wijaya, 21-6, 21-12, pada babak 32 besar 'Paytren Berkat Abadi Indonesia International Challange 2018', di GOR Sudirman, Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa (23/10). (PB DJARUM)

Surabaya- Syabda Perkasa Belawa, tunggal putra PB Djarum Kudus, berhasil lolos ke babak kedua (32 besar) dalam event kejuaraan bulutangkis bertajuk ‘Paytren Berkat Abadi Indonesia International Challange 2018’, pada Selasa (23/10). Pemain kelahiran Jakarta, 25 Agustus 2001 itu, mampu menaklukan kompatriotnya Dean Bencha Wijaya, straight game, 21-6, 21-12, dalam tempo 21 menit, di babak pertama (64 besar), di Gelanggang Olahraga (GOR) Sudirman, Surabaya, Jawa Timur. Semifinalis Malaysia Junior International Challenge 2018 itu mengaku kondisinya belum fit usai membela tim putra U-19 pada Superliga Junior 2018, pekan lalu. “Kalau musuh tidak menyulitkan saya. Tapi, kondisi belum fit usai pertandingan Superliga kemarin,” ujar Syabda, usai laga dikutip situs resmi PB Djarum, Selasa (23/10). Namun, ia berharap maksimal pada turnamen berhadiah total 25.000 dollar Amerika Serikat (AS) itu. ”Ingin tampil maksimal, dan mengeluarkan kemampuan yang dimiliki,” lanjutnya. Di babak 32 besar, pada Rabu (24/10), pemain berpostur 1,63 meter itu akan berjumpa dengan Jia Wei Tan, asal Malaysia sekaligus unggulan 15. “Lawan memang diunggulkan dari saya. Tapi, dipertandingan besok, ya sebisa mungkin saya akan memberikan perlawanan. Semoga bisa meraih kemenangan,” tukas pemuda yang kini duduk di rangking 468 dunia versi WBF. (Adt)

Choirunnisa, Pebulutangkis 19 Tahun, Meraih Gelar Juara di Singapore International Series 2018

Choirunnisa berharap bisa tampil konsisten di level yang lebih tinggi usai meraih gelar juara Singapore International Series 2018, pada Minggu (21/10). (PBSI)

Jakarta – Choirunnisa, tunggal putri besutan PB Mutiara Cardinal Bandung, Jawa Barat itu, sukses meraih gelar juara di kejuaraan bulutangkis Singapore International Series 2018, pada Minggu (21/10). Remaja kelahiran 31 Agustus 1999 itu, berharap bisa tampil konsisten di level yang lebih tinggi. Melakoni laga puncak di Singapore Badminton Hall, Choirunnisa, yang menempati unggulan tujuh, berhasil mengalahkah rekan senegara Aurum Oktavia Winata, dalam tempo 28 menit, dengan skor 21-14, 21-15. Usai laga, penghuni ranking 99 dunia itu, Choirunnisa mengaku bersyukur dengan pencapaian gemilang yang diraihnya pada kejuaraan bulutangkis yang berhadiah total 10.000 dollar Amerika Serikat (AS) itu. “Alhamdulillah, lawan juga teman sendiri, mungkin Aurum sudah tahu permainan saya. Cuma mungkin dia kurang sabar saja, dan banyak melakukan kesalahan sendiri,” ujar Choirunnisa. “Semoga saya bisa terus konsisten di level yang lebih tinggi lagi,” lanjut pemain berusia 19 tahun itu. Selain Choirunnisa, Indonesia juga membawa pulang gelar tunggal putra melalui Krishna Adi Nogroho (4). Ia menghadirkan kejutan dengan menyingkirkan unggulan satu asal Hongkong Lee Cheuk Yiu, straight game, 21-12, 21-12, dalam tempo 30 menit. Sementara itu, tiga gelar lainnya, yakni di ganda putra dan putri, serta campuran berhasil dibawa pulang Hongkong. Ganda Chung Yonny/Tam Chun Hei (3) mengalahkan wakil tuan rumah Danny Bawa Chrisnanta (1), rubber game, dengan skor 13-21, 21-18, 21-19, dengan menghabiskan waktu 45 menit. Kemudian, duet Ng Tsz Yau/Yuen Sin Ying (2) berhasil menumbangkan rekan senegaranya Ng Wing Yung/Yeung Nga Ting (1), pada duel berdurasi 31 menit, straight game, dengan skor 21-17, 21-17. Sedangkan dobel campuran Yeung Ming Nok/Ng Tsz Yau mampu meredam perlawanan pasangan Indonesia Adnan Maulana/Masita Mahmudin, rubber game, dengan skor 19-21, 21-7, 21-18, yang memakan waktu 44 menit. (Adt)

Tuntaskan Laga Selama 162 Menit Dengan PB Exist Jakarta, PB Djarum Kudus Putra U-19 Rebut Juara Piala Liem Swie King Superliga Junior 2018

PB Djarum Kudus Putra U-19 merebut juara Piala Liem Swie King Superliga Junior 2018, usai mengalahkan PB Exist Jakarta, dengan skor 3-1. (PB Djarum)

Magelang – Tim putra U-19 PB Djarum Kudus memastikan merebut gelar juara Piala Liem Swie King pada kejuaraan bulutangkis Superliga Junior 2018, usai menuntaskan laga selama 162 menit dengan PB Exist Jakarta, dengan skor 3-1, di Gelanggang Olahraga (GOR) Bulutangkis Djarum, Magelang, Jawa Tengah, pada Minggu (21/10). Di laga puncak, tunggal pertama PB Djarum Kudus, Alberto Alfin Yulianto, gagal menyumbang poin bagi tim-nya. Ia takluk ditangan Yonathan Ramlie, dua gim langsung, pada pertarungan yang menghabiskan waktu selama 57 menit, dengan skor 14-21, 18-21. Akibatnya, PB Exist memimpin 1-0. Beruntung, di partai kedua, duet PB Djarum Kudus Daniel Marthin/Leo Rollycarnando berhasil membuat kedudukan imbang 1-1. Mereka sukses menghentikan perlawanan Caesar Bagus Sadewo/Dejan Ferdinansyah, straight game, dengan skor 21-19, 21-13, dalam tempo 32 menit. PB Djarum Kudus melalui tunggal kedua Syabda Perkasa Belawan, mampu membuat PB Exist cemas. Turun di partai ketiga, Syabda tak memberikan kesempatan pada Iqbal Aji Tri Pamungkas bisa bernafas lega dengan meraih kemenangan dua gim langsung, dengan skor 21-13, 21-11, pada duel berdurasi 43 menit. PB Djarum unggul 2-1. Dobel PB Djarum Kudus Pramudya Kusumawardana/Rehan Naufal Kusharjanto, akhirnya sukses mengunci kemenangan atas PB Exist Jakarta menjadi 3-1. Bertanding di partai keempat, mereka hanya butuh waktu 30 menit untuk membuat timnya bersorak bahagia usai memenangi duel atas Arya Adi Saputra/Muhammad Yusuf Maulana, straight game, dengan skor 21-9, 21-13. “Tentunya senang sekali bisa menjadi penentu kemenangan kali ini bagi PB Djarum. Ini merupakan yang kedua kalinya bagi saya, setelah tahun lalu juga membela PB Djarum hingga juara. Senang sekali pokoknya rasanya bisa mempertahankan gelar,” ujar Rehan dengan rona bahagia. “Arti kemenangan kali ini bagi saya sendiri sangat berharga. Karena ini terakhir kalinya bagi saya untuk membela PB Djarum di Superliga Junior. Semoga PB Djarum bisa terus Berjaya kedepannya di turnamen ini,” lanjut Rehan. Kemenangan itu membuat tim putra U-19 PB berhak membawa pulang gelar juara Piala Liem Swie King, sedangkan PB Exist harus puas menjadi runner-up. Sayang, tim putri U-19 PB Djarum Kudus yang memainkan laga lebih dahulu, harus menelan pil pahit. Akibatnya, mereka gagal membawa pulang Piala Susy Susanti, setelah di laga puncak melawan PB Exist Jakarta, tim yang bermarkas di Kota Kudus itu menyerah dengan kedudukan tipis 2-3. Kemenangan PB Djarum Kudus disumbang dari dua ganda utama, yakni Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto yang berhasil mengandaskan perlawanan Nita Violina Marwah/Putri Syaikah Ulima Hidayat, rubber game, dengan skor 14-21, 21-17, 21-18, dalam tempo 77 menit. Dan, pasangan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti yang menumbangkan Melani Mamahit/Nur Aisyah, straight game, dengan skor 21-17, 21-11, dengan waktu 43 menit. Sedangkan PB Exist Jakarta tampil perkasa melalui wakilnya di nomor tunggal. Pertama lewat Putri Kusuma Wardani yang mampu menyingkirkan Desima Aqmar Syarafina, straight game, dalam tempo 39 menit, dengan skor 21-8, 21-15. Hasil positif juga dicetak tunggal kedua Yasnita Enggira Setiawan. Ia menaklukan Savira Sandradewi, dua gim langsung, dengan skor 21-15, 21-17, yang memakan waktu 46 menit. Akhirnya, Hana Sri Najilah, yang menjadi tunggal ketiga menunaikan tugasnya dengan sempurna. Sebagai penentu, ia sukses melumat Virginia Sarce Runtukahu, pada duel ketat selama 45 menit, dengan skor 21-19, 21-19. Fadia mengaku sedih dengan kekalahan timnya di ajang Superliga Junior 2018 kontra PB Exist Jakarta. “Tentunya sedih karena belum berhasil juga juara. Ditambah lagi ini menjadi yang terakhir kalinya bagi saya bermain di Superliga Junior kali ini,” ujar Fadia yang tak mampu menutupi kesedihannya. “Karena tahun depan saya sudah naik ke level dewasa. Tapi, saya tetap bangga dengan hasil ini, karena bagaimana pun seluruh tim sudah berusaha menampilkan seluruh kemampuannya,” lanjutnya. “Semoga tahun depan meskipun saya sudah tidak main lagi, saya berharap junior-junior saya bisa merebut piala Susy Susanti,” tukas pemain kelahiran Bogor, Jawa Barat, 16 November 2000 itu. (Adt)

Tingkat Permainan Pebulutangkis Muda Asal Wonogiri ini Sukses Membuat Pemain China Takluk di Denmark

Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, menang atas pemain China, Chen Xiaoxin, pada babak pertama Denmark Terbuka 2018, di Odense (16/10/2018). (PBSI)

Jakarta – Tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung berhasil merobohkan wakil China Chen Xiaoxin, dua gim langsung, pada kejuaraan bulutangkis Denmark Open 2018 BWF World Tour Super 750, pada Selasa (16/10). Memainkan laga di babak pertama (32 besar), di Odense Sports Park, Odense, Denmark, Gregoria menang mudah di gim pertama, dengan skor 21-9. “Chen memang adaptasinya agak lambat di gim pertama, jadi saya lebih enak mengaturnya. Saya merasa lebih lepas untuk coba-coba pukulan. Chen di bawah tekanan, banyak melakukan kesalahan sendiri dan tidak percaya diri,” ujar remaja putri berpostur 1,64 meter usai laga. Berbeda dengan gim pertama, pebulutangkis kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999 itu, justru mendapatkan perlawanan ketat dari Chen, di gim kedua. Namun, setelah melalui laga sepanjang 37 menit, akhirnya penghuni Pelatnas PBSI Cipayung Jakarta sejak 2013 itu sukses mengemas kemenangan dengan skor 24-22. “Di gim kedua, dia lebih tahu main bagaimana. Tapi, saya masih bisa mengatasi. Saat unggul jauh dan terkejar, memang dia mengubah permainan. Waktu adu setting itu, sebetulnya kami sama-sama tahan saja, tidak ada yang mau langsung mematikan, tapi dia kurang sabar,” lanjut juara dunia junior 2017 itu. Ini adalah pertemuan kedua Gregoria dengan Chen. Terakhir, mereka saling adu kekuatan di turnamen China Open 2018, September lalu. Ketika itu, anak didik Minarti Timur ini menang rubber game, 12-21, 21-19, 23-21. “Bedanya dengan pertemuan pertama kami di China, sekarang saya lebih siap dan tidak mau lagi kalah start. Chen adalah pemain yang bisa mengatur irama permainan, bola-bola atasnya pun bagus dan mengagetkan,” imbuhnya. Di babak kedua (16 Besar), Gregoria bakal berjumpa dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil, Carolina Marin asal Spanyol, sekaligus unggulan lima. Berdasarkan statistik, Marin masih memimpin rekor pertemuannya dengan Gregoria. Kemenangan Juara Dunia 2018 itu diraih di turnamen Malaysia Open 2018, Juni lalu, rubber game, dengan skor 21-4, 18-21, 21-8. Berhadapan dengan Marin, ungkap Gregoria, dirinya perlu mewaspadai kecepatan lawan. “Bukan berarti saya harus main cepat juga, tapi bisa mengimbangi. Kalau pola main kan beda-beda,” cetusnya. “Pola main saya kan nggak yang langsung ‘sabet’, tapi ngatur dulu. Defense dan kakinya harus lebih cepat, jadi banyak yang harus disiapkan. Tahan di lapangan dan mentalnya jangan mau kalah duluan,” tukas pemegang medali perak Kejuaraan Asia Junior 2016, Bangkok, Thailand itu. (Adt)

Karena Alasan Pendidikan, Duet Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris Terpaksa Mundur Dari Denmark Open 2018

Dobel Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris mundur dari Denmark Open 2018 BWF World Tour Super 750, pada 16-21 Oktober.(PBSI)

Jakarta- Duet anyar Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris mundur dari kejuaraan bulutangkis Denmark Open 2018 BWF World Tour Super 750, yang dihelat di Odense, Denmark, pada 16-21 Oktober. Hal itu dikatakan Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Menurutnya, mundurnya Della dari Denmark Open 2018, karena yang bersangkutan harus menyelesaikan urusan pendidikannya. “Memang dibatalkan, karena Della ada pertimbangan tertentu dalam urusan pendidikannya,” ujar istri dari Alan Budikusuma itu, dikutip situs resmi PBSI, pada Minggu (14/10). “Nanti di turnamen Asia baru berangkat lagi,” lanjut Susy. Denmark Open 2018 sejatinya menjadi ajang pembuktian bagi Anggia/Della paska Eng Hian, Kepala Pelatih Ganda Putri Indonesia, melakukan rotasi terhadap anak didiknya tersebut. Sebelumnya, Anggia berpasangan dengan Ni Ketut Mahadewi Istarani, sedangkan Della bersama Rizki Amelia Pradipta. Dengan mundurnya Anggia/Della, praktis sektor ganda putri hanya menyisakan dua wakil, yakni Greysia Polii/Apriyani Rahayu, yang diplot sebagai unggulan tiga, dan Rizki/Ketut. Di babak pertama turnamen berhadiah total 775.000 dollar Amerika Serikat (AS) itu, Rizki/Ketut akan berduel dengan pasangan Malaysia Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean. Dan, Greysia/Apriyani akan meladeni perlawanan wakil Swedia Amanda Hogstrom/Clara Nistad. (Adt)

Gagal Raih Emas di Perorangan, Tidak Menghentikan Leani Untuk Meraih Medali Emas Bersama Khalimatus

Leani Ratri Oktila dan Khalimatus Sadiyah Sukohandoko, meraih medali emas pada sektor ganda putri Bulutagkis SL3-SU5. (Rizal/NYSN)

Jakarta- Leani Ratri Oktila, pebulutangkis tunggal putri Indonesia kategori SL4, gagal mengukir medali emas cabang para bulutangkis, di Istora, Kompleks Gelora Bung Karno(GBK) Senayan, Jakarta, pada Jumat (12/10). Pada partai utama yang dihelat pukul 14.00 WIB, ia takluk dari wakil China Hefang Cheng, lewat duel rubber game, dengan skor 21-19, 18-21, 13-21. Yunita Ambar Wulandari, Pelatih Tunggal Para Bulutangkis, mengatakan anak didiknya tersebut sudah berusaha tampil maksimal. Menurutnya, Leani memang tidak ditargetkan meraih medali emas di nomor perorangan. “Dia memang sudah maksimal dan memang sebelumnya nomor tunggal tidak ditargetkan emas,” ujar Ambar, di Istora Senayan, Jakarta. Gagal meraih emas di perorangan, tak mengundurkan semangat Leani untuk mencetak prestasi gemilang di sektor ganda SL3-SU5. Berduet dengan Khalimatus Sadiyah Sukohandoko berhasil membayar kekecewaannya. Di babak final, yang memainkan pertandingan pada pukul 17.30 WIB, Leani/Sadiyah sukses membungkam perlawanan wakil China Hefang Cheng/Huihui Ma, straight game, 21-15, 21-12. Usai pertandingan, Leani/Sadiyah mengungkapkan kegembiraannya karena mampu menumbangkan dobel China. “Sebelumnya saya minta maaf atas kegagalan saya di partai final tunggal. Saya gagal menang atas Cheng Hefang,” tutur Leani. Ditambahkan wanita kelahiran 6 Mei 1991 itu, dirinya bersama kolega tampil tanpa beban, dan bermain all out guna memenangkan pertandingan kali ini. Sementara itu, Sadiyah mengaku bersyukur bisa memenangi laga dari pasangan Negeri Tirai Bambu itu, dan sukses meraih medali emas di hajatan Asian Para Games 2018. Keberhasilan ini sekaligus membalas kekalahan Leani/Sadiyah dari Cheng/Huihui pada kejuaraan dunia, tahun lalu. “Syukur Alhamdulillah, bisa menang dari pasangan China, Cheng Hefang/Huihui Ma, sebab di pertemuan sebelumnya, di kejuaraan dunia tahun lalu, kami kalah,” tukas Sadiyah. (Adt)

Ditaklukan Wakil India, Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay Gagal ke Semifinal Youth Olympic Games 2018

Tunggal junior Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay gagal lolos ke semifinal ajang Youth Olympic Games 2018, di Buenos Aires, Argentina. (PBSI)

Buenos Aires – Tunggal putra junior Indonesia, Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay gagal lolos ke semifinal ajang Youth Olympic Games 2018, di Buenos Aires, Argentina, pada Rabu (10/10) waktu setempat atau Kamis (11/10) dinihari waktu Indonesia. Ikhsan yang diunggulkan di tempat keenam tak berdaya menghadapi Lakshya Sen (4) asal India, di perempat final. Pemain kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut), 15 Januari 2000 itu menyerah straight game dengan skor 17-21, 19-21. Ini merupakan kekalahan kedua Ikhsan dari Sen. Terakhir, keduanya bertemu di ajang Badminton Asia Junior Championship 2018 (individual event), Juli lalu. Ketika itu, pelajar Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta, takluk dua gim langsung, dengan skor 7-21, 14-21. Di perhelatan Youth Olympic Games 2018, cabang olahraga bulutangkis hanya memperebutkan tiga medali emas, yakni di nomor tunggal putra, putri, dan beregu campuran. Khusus beregu campuran, tim akan terdiri dari gabungan para pemain tunggal putra dan putri yang lolos ke Youth Olympic Games 2018. Artinya, setiap tim beregu campuran akan terdiri dari gabungan berbagai negara. (Adt)

Ribka, Gadis Muda Peraih Medali Emas Yang Sempat Bimbang Dalam Memilih Karir Sebagai Atlet Bulutangkis

Juara Bulutangkis nomor ganda putri Kejuaraan Asia Junior 2018, Ribka sugiarto, menargetkan ingin menjuarai World Junior Championship (WJC). (Ham/NYSN).

Jakarta – Bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga yang acap kali membuat nama Indonesia bergema di negara orang. Diantara para atlet bulutangkis kali ini kita akan membahas atlet berprestasi yang kerap menyumbangkan medali bagi Indonesia yang bersal dari Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Karanganyar. Ribka Sugiarto, menekuni hobi bulutangkis sejak usianya menginjak 8 tahun. Berawal ketika sang ayah rutin melakukan olahraga bulutangkis bersama warga sekitar, di GOR yang persis berada di sebelah rumah membuatnya tertarik bermain bulutangkis. Awalnya dari sang ibu sempat ragu untuk mengijinkan Ribka bermain bulutangkis secara intens karena gadis kelahiran Karanganyar tersebut cepat merasa bosan. “Dulu sampai nangis-nangis minta ke mama untuk les bulutangkis, kalo dari papa sih gapapa. Waktu masih ikut lomba mama masih ragu, tapi setelah aku gabung Popda baru mama percaya buat lepas aku” jelasnya. Bergabung di PB Tri Star di Karanganyar ketika dirinya masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD), walupun belum mengikuti turnamen resmi dan hanya perlombaan saja, namun ketika ada kompetisi usia dini Ribka mampu membuktikan usahanya dengan meraih medali emas. Ribka sempat vakum satu tahun guna fokus menjalani ujian sekolah, kemudian Ia mencoba bergabung ke PB Purnama di Solo namun sayang tak bertahan lama dan memutuskan untuk kembali ke PB Tri Star. “Waktu masih sekolah cara bagi waktunya ya biasanya aku pulang sekolah terus latihan, abis latihan belajar dirumah terus lanjut lagi ngaji” ungkap gadis berusia 18 tahun tersebut. Sebelumnya Ribka sempat ragu memilih olahraga bulutangkis ketika dirinya tengah duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP), tepatnya saat hendak bergabung ekstrakulikuler, Ribka mengaku ragu untuk melanjutkan bulutangkis atau tidak. Karena perasaan ragu tersebut Ia kemudian memilih ekskul Grup Band, tetapi saat akan tampil dihadapan bupati dirinya mengalami demam panggung hebat. Karena pengalaman yang tidak nyaman itu Akhirnya Ribka memutuskan untuk kembali ke olahraga badminton tanpa menjajal olahraga lain sebelumnya, dengan bekal dukungan dari orang tua dan teman-temannya, Ia yakin untuk tetap berlatih. “Dulu sempet milih pendidikan karena nilaiku di sekolah cukup bagus ya, pernah dapet rangking 2 juga. Tapi makin kesini aku kok pengen fokus bulutangkis juga, akhirnya aku lebih fokus ke bulutangkis” kata gadis kelahiran 22 Januari 2000 itu. Sejak bergabung PB Djarum tahun 2013, Ribka berfokus di partai ganda putri dan dipasangkan bersama Febriana Dwipuji Kusuma, terbukti beberapa kejuaraan dilakoni bahkan mampu menjuarai dan meraih medali. Misalnya di ajang Badminton Asia Junior Championship 2018 pada Juli lalu, Ribka dan Febri meraih juara pertama di partai ganda putri. Target yang ingin dicapai saat ini yakni ingin menjuarai World Junior Championship (WJC), juara dunia All England, bahkan target di tahun 2020 mampu berlaga di ajang Olympic. (Ham) Profil singkat Nama : Ribka Sugiarto Tempat/Tgl Lahir : Karanganyar, 22 Januari 2000 Alamat : Perum. Argokiloso Jenglong RT 08 RW 06 Ngijo, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah Orang Tua : Bambang Sugiarto (ayah) Suswiyati (ibu) Nomor Ponsel : 081770973181 & 087783924446 (wa) Surel : caemribka@yahoo.com Media Sosial : Instagram @ribkasugiarto Agama : Islam Anak pertama dr 2 saudara Pendidikan SDN 01 Karanganyar SMP 05 Karanganyar SMK Muhammadiyah Karanganyar Prestasi – Juara Asia Junior Championships 2018 (ganda putri) – Runner up World Junior Championship 2017 (ganda putri) – Juara Malaysia Junior International 2017 (ganda putri) – Semifinalis Malaysia Junior International 2017 (ganda campuran) – Semifinalis India Junior International Grand Prix 2017 (ganda campuran) – Runner up Asia Junior Championships 2017 (Beregu Campuran) – Semifinalis Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix 2017 (ganda campuran U19) – Semifinalis BTY Thailand Junior International Challenge 2017 (ganda campuran) – Runner Up Pembangunan Jaya Cup 2016 (Beregu Campuran) – Semifinalis Superliga Junior 2016 (Beregu Putri) – Juara Kejurnas Perorangan Taruna 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Indonesia International Challenge 2016 (Ganda Putri) – Runner up Djarum Sirkuit Nasional Li Ning Jawa Tengah Open 2016 (Ganda Campuran Taruna) – Juara Djarum Sirkuit Nasional Li Ning Jawa Tengah Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Juara Malaysia Junior International 2016 (Ganda Putri) – Runner up Djarum Sirnas Jawa Barat 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinal Jakarta Open Junior International Championships 2016 (Ganda Campuran U17) – Semifinal Jakarta Open Junior International Championships 2016 (Ganda Putri U17) – Juara Djarum Sirnas Lampung 2016 (Ganda Taruna Putri) – Runner up Djarum Sirnas Premier Jakarta Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Djarum Sirnas Sulawesi Selatan Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Juara Djarum Sirnas Kalimantan Selatan Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Thailand Junior International 2016 (Ganda Putri)

Yusuf, Bocah Asal Merauke Yang Bercita-Cita Menjadi Atlet Bulutangkis Papan Atas

Muhammad YMuhammad Yusuf Arfan saat ditemui di GOR Kembangan, Jakarta Barat.usuf Arfan senang bergelut di dunia olahraga bulutangkis sejak kelas 1 Sekolah Dasar

Indonesia memiliki segudang putra/putri yang berpotensi untuk bisa menjadi seorang atlet hebat, mulai dari usia dini hingga remaja, dari olahraga yang berbasis e-Sport maupun olahraga fisik. Seperti salah satu kakak-adik ini, Yusran dan Yusuf. Kalau kemarin sudah membahas perihal profil Yusran sang kakak, kali ini sobat muda Nysn akan kami ceritakan mengenai sang adik yaitu Yusuf. Mulai senang bergelut di dunia olahraga bulutangkis sejak kelas 1 Sekolah Dasar, bermula dari sang ayah dan kakak yang juga lebih dulu hobi bermain bulutangkis, membuat Yusuf tertarik untuk bergabung bersama. “Awalnya suka main karena lihat bapak main, kakak juga main jadinya makin tertarik. Klub pertama yang diikuti PB Mandiri” jelas Yusuf. Bermain sebagai tunggal putra menjadi pilihannya karena terinspirasi dari sang idola yakni Kento Momota dan Taufik Hidayat, namun tidak menutup kemungkinan bagi dirinya untuk juga bermain di posisi ganda juga. Meski tetap rutin melakukan latihan, pendidikan juga tak luput dari aktivitas hariannya. Berbekal dengan sekolah Homeschooling seperti sang kakak, Yusif menjalani aktivitas pendidikan formal yang berjarak tidak jauh dari asrama tempat tinggalnya. “Sekolah homeschooling juga seperti kakak, tapi lebih suka latihan karena mau kejar cita-cita menjadi atlet timnas” kata yusuf saat ditemui oleh NYSN Media pada Sabtu (7/7) di GOR Kembangan, Jakarta Barat. Selain itu Yusuf juga hobi bermain sepak bola, memang Indonesia Timur identik dengan pencetak atlet-atlet potensial di dunia olahraga, khususnya sepak bola. Namun dirinya lebih suka menekuni bulutangkis. Pasalnya, selain hobi yang turun menurun dari sang ayah, cita-cita yang didambakan sejak kecil yakni bisa bergabung di pelatnas untuk menjadi atlet timnas Indonesia. Selama bermain, sang kakak Yusran maupun Yusuf belum pernah menderita cidera yang terlalu signifikan. Hanya keseleo, tergelintir, dan yang paling sering terjadi cidera engkel. Beberapa prestasi yang berhasil diperoleh diantaranya Bupati Cup, Arafuru Cup dan Sirkuit Nasional “Bupati cup saya juara 2, itu dua tahun lalu sejak kelas 2 SD, sekarang saya sudah kelas 4. Kemudian pernah ikur Arafuru Cup, Internal Cup dan Sirnas” pungkas anak berusia 11 tahun tersebut. (Ham) Profil singkat Nama : Muhammad Yusuf Arfan Tempat/Tgl Lahir : Merauke, 26 Agustus 2007 Media Sosial : Ig @yusufarfan12 Agama ; Islam Pendidikan SDN 1 Merauke (kelas 1-3) Prestasi Juara 2 Bupati Cup di Merauke kategori usia dini pada tahun 2016 Mengikuti Arafuru cup pada tahun 2016 Mengikuti Internal cup pada tahun 2016 Juara 3 ganda putra sirkuit nasional tahun 2018