Tekuk Unggulan Keenam, Priska Jumpa Seeded Kesembilan Australia Open Junior 2019

Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil andalan Merah Putih itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea, dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. (topskor.co.id)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, melaju ke babak ketiga nomor tunggal Australia Terbuka Junior 2019. Pada babak kedua, Selasa (22/1), satu-satunya wakil Merah Putih di turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu, mendepak unggulan keenam dari Amerika Serikat, Ma Lea. Priska unggul dalam laga rubber set dengan skor akhir 5-7 6-3 6-0. Sebelumnya, di laga pembuka Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1), Priska menyudahi petenis Korea Selatan, Yoen Woo Ku, juga dengan tiga set 6-3, 6-7, 6-4. “Saya sempat kehilangan konsentrasi ketika unggul 3-1 di set awal. Kejadian serupa nyaris terulang pada set kedua. Tapi saya bisa kembali mengontrol permainan dan menyelesaikan set kedua dan percaya diri menyelesaikan set berikutnya,” ucap Priska usai laga. Partai seru berdurasi satu jam 18 menit itu, berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park ini. “Serve pertama menjadi kunci kemenangan ini,” imbuh dara manis berkawat gigi yang lahir 29 Mei 2003 ini. Merujuk statistik pertandingan, Priska sanggup melesakkan tujuh kali aces alias serve yang tak tertepis lawan. Padahal, rata-rata kecepatan servisnya hanya 144 km/jam, yang sejatinya lebih pelan dari Ma Lea, yang mencatat rerata ace 147 km/jam. Pada babak ketiga, Rabu (23/1), Priska bakal kembali menghadapi lawan yang tak kalah berbobot, yakni Kamilla Bartone. Petenis Latvia peringkat 21 dunia itu menempati posisi unggulan kesembilan turnamen. Di babak 32 besar, remaja semampai kelahiran Riga, Latvia, 7 Juni 2002 itu, menang atas andalan Australia, Olivia Gadecki 7-6(4) 4-6 6-3. Sepekan silam, saat tampil di babak kedua turnamen pemanasan di Traralgon, Priska unggul straight set atas Gadecki 6-4 6-2. “Kalau Priska mampu mempertahankan level permainan seperti babak kedua, saya yakin peluangnya cukup besar melewati babak 16 Besar,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska selama di Negeri Kanguru. (Adt) Hasil Selasa (22/1)Babak Kedua (32 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) 5-7 6-3 6-0 Jadwal Rabu (23/1)Babak Ketiga (16 Besar)Priska Madelyn Nugroho v 9-Kamilla Bartone (Latvia)

Tampil di Istora Senayan, Runner-up World Junior Championship 2018 Merinding

Duet Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti lolos ke babak utama turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2019. Runner-up World Junior Championship 2018 itu, sukses menyudahi wakil Rusia, Rodion Alimov/Alina Davletova, dalam duel tiga gim, 19-21, 21-17, 21-16, pada Selasa (22/1). (Pras/NYSN)

Jakarta- Duet Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti lolos ke babak utama kejuaraan bulutangkis Daihatsu Indonesia Masters 2019. Runner-up World Junior Championship 2018 itu, menyingkirkan wakil Rusia, Rodion Alimov/Alina Davletova, dalam duel tiga gim, dengan skor 19-21, 21-17, 21-16, pada Selasa (22/1). Berbeda dengan Fadia, yang sudah beberapa kali berlaga di Istora Senayan, ketika tampil bersama Agatha Imanuela, rekan duetnya di ganda putri, namun lain halnya dengan Rehan. Baginya, ini adalah pengalaman pertama merasakan atmosfer Istora Senayan, yang selalu gegap gempita kehadiran suporter setiap kali wakil Merah Putih bertanding. “Saya merinding. Baru pertama tanding di sini (Istora). Saya pernah main di WJC (World Junior Championships), di Yogyakarta, tapi tidak ‘segila’ di sini,” ujar pemain kelahiran Bekasi, Jawa Barat, 28 Februari 2000 itu. Padahal, menurut Rehan, laga yang dilakoni baru babak kualifikasi, namun penonton sudah ramai memenuhi Istora. “Saya pikir, pendukung kami banyak, jadi ngapain takut menghadapi lawan,” lanjut pebulutangkis PB Djarum Kudus itu. Terlebih, sebut Rehan, di akhir permainan terdengar teriakan ‘habisin’, hal itu yang kadang membuat dirinya tak sabar menyelesaikan laga. “Kadang ini bikin nafsu ingin menyerang dan mematikan lawan,” tambahnya. Pada laga ini, Rehan/Fadia harus merelakan gim pertama dicuri dobel Rusia penghuni ranking 40 itu. Merubah pola permainan dari menyerang ke bertahan justru memberikan dampak negatif bagi Rehan/Fadia. “Di gim pertama mainnya sudah enak, tapi kami jadi main bertahan. Padahal lawan juga banyak melakukan kesalahan sendiri,” ungkapnya. “Dan di gim kedua dan ketiga itu, bagaimana caranya kami harus banyak menurunkan bola,” tegas Rehan. Di babak utama, penghuni Pelatnas PBSI itu akan beradu kekuatan dengan wakil Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai. Ganda Indonesia peraih perak Malaysia Junior International Challenge 2018 itu patut waspada. Penampilan wakil Negeri Gajah Putih itu tengah naik daun. Fadia mengaku bila lawan yang dihadapi sangat kuat. “Lawan kami memang kuat, mereka lebih unggul dari segi pengalaman. Pokoknya kami mau fight dulu,” tukas remaja putri kelahiran Bogor, Jawa Barat, 16 November 2000 itu. (Adt)

Tantang Unggulan Keenam Asal New York di Australia Open Junior, Priska : Siap Siapapun Lawannya

Petenis Indonesia peringkat 44 dunia, Priska Madelyn Nugroho (15 th) akan menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat berperingkat 19 dunia, Ma Lea (17 th), pada babak kedua Australia Terbuka Junior, pada Selasa (22/1). (picssr.com)

Melbourne- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Amerika Serikat, Ma Lea, pada babak kedua Australia Open Junior 2019, pada Selasa (22/1). Pertemuan antara peringkat ke-44 dan 19 dunia itu dijadwalkan berlangsung di lapangan nomor delapan Melbourne Park. Lawan Prsika terhitung cukup matang dari sisi usia. Lea adalah petenis berdarah Tionghoa berasal dari Dix Hills, New York. Dara kelahiran 1 Februari 2001 ini merupakan atlet timnas USA, yang tampil dalam ajang Olimpiade Remaja (Youth Olympic) pada Oktober 2018 lalu, di Buenos Aires, Argentina. “Pokoknya saya siap saja melawan siapapun karena memang tak ada lawan yang mudah di ajang level grand slam seperti ini,” ucap Priska, tak gentar ketika dihubungi pada Senin (21/1), yang tampil di arena pertandingan turnamen tenis berjuluk Grand Slam of Asia Pacific itu. “Berusaha main terbaik dan semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada,” lanjut dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 ini. Kiprah Priska, satu-satunya wakil Merah Putih di arena grand slam ini hanya tersisa di nomor tunggal, menyusul kekalahannya pada babak pertama ganda, Senin (21/1). Duet Priska/Wei Sijia kandas di tangan unggulan kedua asal Thailand, Thasaporn Naklo/Mananchaya Sawangkaew 0-6 2-6 hanya dalam tempo 46 menit. “Lawan sangat dominan dari awal pertandingan. Priska dan partnernya kesulitan dan tak mampu keluar dari tekanan,” ulas pelatih Ryan Tanujoyo yang bersama Elbert Sie mendampingi Priska. Menurut Ryan, faktor jam terbang juga sangat berpengaruh dalam pertarungan di level grand slam. “Pasangan Thailand itu sangat kompak dan lebih berpengalaman tampil di grand slam seperti Australia Terbuka ini. Sementara Priska dan Wei memang baru melakukan debut di ajang seperti ini,” paparnya. Priska dan Wei Sijia merupakan petenis termuda yang masuk sebagai direct acceptance babak utama Australia Terbuka Junior 2019. “Semoga Priska dapat segera melupakan kekalahan di nomor ganda dan bisa mengambil banyak pelajaran dari pertandingan itu agar lebih siap menjalani partai babak 32 besar tunggal,” tandasnya. (Adt) Jadwal Selasa (22/1)Priska Madelyn Nugroho v 6-Ma Lea (AS) Hasil Senin (21/1)Priska Madelyn Nugroho / Wei Sijia (China) v 2-Thasaporn Naklo / Mananchaya Sawangkaew (Thailand) 0-6 2-6

Ratusan Atlet Perebutkan Hadiah Rp 4,9 Miliar, Indonesia Bidik Satu Gelar Indonesia Masters 2019

Daihatsu Indonesia Masters 2019 BWF World Tour Super 500 siap dihelat di Istora Senayan, Jakarta, pada 22-27 Januari. 267 pebulutangkis elite dunia dari 20 negara bakal bersaing memperebutkan total hadiah total hadiah 350 ribu dollar Amerika Serikat (AS), atau sekitar Rp 4,9 Miliar. (Pras/NYSN)

Jakarta- Kejuaraan bulutangkis bertajuk ‘Daihatsu Indonesia Masters 2019 BWF World Tour Super 500’, siap dihelat di Istora Senayan, Jakarta, pada 22-27 Januari. 267 pebulutangkis elite dunia dari 20 negara bakal bersaing memperebutkan total hadiah 350 ribu dollar Amerika Serikat (AS), atau sekitar Rp 4,9 Miliar. Indonesia selaku tuan rumah akan mengandalkan Anthony Sinisuka Ginting, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, dan duet senior Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Deretan pebulutangkis top dunia pun turut meramaikan, yakni Kento Momota (Jepang), Chen Long (China), Viktor Axelsen (Denmark), Nozomi Okuhara (Jepang), serta Li Junhui/Liu Yuchen (China). Achmad Budiharto, Ketua Panitia Pelaksana turnamen, mengatakan Indonesia siap untuk menyambut para pebulutangkis dunia di Istora Senayan. Ia menjelaskan seluruh panitia pelaksana tengah bekerja secara maksimal agar dapat berjalan dengan sukses. “Daihatsu lndonesia Masters 2019 diikuti para pebulutangkis elit dari 20 negara. Secara keseluruhan Istora Senayan sudah siap untuk pertandingan,” ujar Budiharto, di Hotel Sultan Senayan, Jakarta, pada Senin (21/1). Ia memastikan pertarungan menuju gelar juara di turnamen ini akan sengit dan menarik. “Pasti para pemain memiliki motivasi kuat untuk meraih titel di awal tahun ini. Kami berharap Daihatsu lndonesia Masters 2019 bermanfaat dalam mendukung Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan tiap kejuaraan bulutangkis dunia,” tambahnya. Disisi lain, kendati menjadi tuan rumah, Indonesia diperkirakan tak akan mudah meraih gelar. Salah satu tantangan terbesar datang dari Negeri Tirai Bambu. Terlebih, prestasi negara itu tengah berkilau, karena baru saja menyabet tiga gelar juara di ajang BWF World Tour Finals, Desember lalu. Di Daihatsu Indonesia Masters 2019, hasrat China menyapu bersih gelar juara terlihat sebagai negara yang menerjunkan jumlah peserta terbanyak. “China mengirimkan 37 pemainnya, dari semula 44 pemain yang akan berlaga di turnamen ini,” terang Budiharto. Sedangkan Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), menyebut atlet harus berupaya keras untuk meraih minimal satu gelar, yakni dari nomor ganda putra. “Target minimal ganda putra Indonesia bisa kembali menghasilkan gelar juara. Tapi kami juga harapkan muncul kejutan dari sektor-sektor lainnya. Dan, saya tidak bisa sebutkan dari sektor mana,” tegas Susi. Dijelaskannya, prestasi di ajang ini diharapkan bisa menambah motivasi bagi para atlet Indonesia dalam menghadapi rangkaian turnamen sepanjang tahun ini, salah satunya yaitu lndonesia Open yang akan digelar pada Juli mendatang. Di ajang yang sama tahun lalu, Indonesia sukses meraih dua gelar juara dari sektor tunggal putra, melalui Anthony Ginting yang menyingkirkan Kazumasa Sakai (Jepang), dan ganda putra yakni Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi yang menang atas Li Junhui/Liu Yuchen. Sementara itu, Anthony Ginting bertekad mengulang prestasi pada tahun lalu. “Kalau target, saya ingin mengulang kesuksesan tahun lalu. Tapi, saya mau fokus satu demi satu dulu di pertandingan,” tutur Anthony. Di babak pertama Daihatsu Indonesia Masters 2019, Anthony akan berjumpa dengan rekan senegaranya, Tommy Sugiarto. Terakhir, mereka bertemu di ajang All England, Maret 2018. Ketika itu, Anthony takluk dua gim langsung (14-21, 19-21). “Untuk rekor pertemuan, Tommy masih lebih unggul dari saya. Pasti saya akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa meraih kemenangan,” tukas penghuni ranking 7 dunia itu. (Adt)

Ganda Putra Selalu Milik Indonesia, Kevin/Marcus Kampiun Malaysia Masters 2019

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengawali 2019 dengan apik. The Minions menyabet gelar juara pertama mereka di tahun ini, usai menjuarai Malaysia Masters 2019, pada Minggu (20/1). (antaranews.com)

Kuala Lumpur- Indonesia merebut satu gelar juara di Malaysia Masters 2019 setelah Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon menaklukkan pasangan tuan rumah, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, Minggu (20/1). Kevin/Marcus menang dua set langsung, 21-15 dan 21-16 dalam waktu 36 menit. Turnamen resmi dengan total hadiah 350 ribu dolar Amerika Serikat ini, diikuti hampir seluruh pebulutangkis top dunia. Terutama mereka yang bergelar pemegang ranking 1 dunia, di lima kategori yang dipertandingkan. Sejatinya, Malaysia Masters bukan turnamen yang angker bagi pemain Indonesia, terbukti sejak turnamen ini digelar pada 2009, Indonesia berhasil meraih 10 dari 50 gelar juara. Jumlah ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua papan klasemen negara peraih gelar juara Malaysia Masters. Anehnya, sebagai tuan rumah Malaysia cuma memiliki rekor 2 gelar lebih banyak dari Indonesia. Negeri Jiran mendapatkan 12 gelar saja. Gelar juara terbanyak didapatkan Indonesia dari kategori ganda putra, yaitu sebanyak 4 gelar juara. Uniknya, empat gelar juara itu tak pernah diraih oleh pasangan yang sama. Empat gelar masing-masing disumbangkan Markis Kido/Hendra Setiawan pada 2010, Kevin/Marcus pada 2016, Berry Angriawan/Hardianto pada 2017, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianta pada 2018. Sebelumnya pada nomor ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu gagal menyabet gelar juara. Mereka ditumbangkan unggulan satu, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang), dengan skor 21-18, 16-21 dan 16-21. Rekor pertemuan kini mencatat Greysia/Apriyani tertinggal 5-2 dari Fukushima/Hirota. Mereka kalah lima kali secara berurutan. Di semifinal kemarin, Greysia/Apriyani juga berhadapan dengan wakil Jepang, yakni Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, 20-22, 21-13 dan 21-19. Kemenangan ini menjadi hal penting bagi Greysia/Apriyani, setelah selalu kalah di tiga duel terakhir dari Matsutomo/Takahashi. Atas raihannya di Malaysia, Greysia/Apriyani mengevaluasi penampilan mereka. “Melawan pemain Jepang selalu ketat, kami memang harus benar-benar dalam kondisi terbaik. Dengan lawan kemarin (Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi) kurang lebih sama. Mereka kuat, susah untuk dilawan,” kata Greysia mengenai lawannya itu. Faktor konsistensi tenaga menjadi perhatian mereka kali ini. “Yang harus ditingkatkan adalah tenaga kami. Jadi seumpama kami rubber, tenaga kami bisa konsisten. Bukan hanya pikiran aja yang konsisten. Lawan makin lama main bukan makin menurun, tapi makin kuat untuk naikin bola lagi, kasih lob lagi,” pungkas Apriyani. (Adt)

Loloskan Duo Ganda ke Final, Indonesia Lebih Baik Dari Tuan Rumah di Malaysia Masters 2019

Rangkaian semifinal Malaysia Masters 2019 telah tuntas digelar di Axiata Arena, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (19/1). Dari 10 laga yang dimainkan, skuat bulu tangkis Indonesia berhasil memenangi dua laga, salah satunya dari duet Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. (suara.com)

Kuala Lumpur- Rangkaian semifinal turnamen Malaysia Masters 2019 telah tuntas digelar di Axiata Arena, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (19/1). Dari 10 pertandingan yang dimainkan, skuat bulu tangkis Indonesia berhasil memenangi dua laga. Yakni melalui pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (ganda putra) dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu (ganda putri). Artinya, Indonesia memiliki dua wakil, pada laga final Malaysia Masters 2019, yang berlangsung pada Minggu (20/1). Greysia/Apriyani maju paska menekuk pasangan Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi di babak semifinal. Mereka menang 20-22, 21-13, 21-19, setelah berjuang selama 79 menit. Bagi pasangan putri terbaik merah putih, hasil ini jadi kemenangan kedua mereka atas unggulan kedua tersebut dari 10 kali pertemuan. Sedangkan, Kevin/Marcus menang atas ganda Malaysia, Goh V Shem dan Tan Wee Kiong, dengan skor akhir 21-18, 24-22. Kemenangan “the minions” makin mentasbihkan dominasi mereka atas ganda 13 dunia itu. Ini kemenangan ke empat mereka, dari lima pertemuan. Hasil ini lebih baik, ketimbang yang diraih tim tuan rumah. Dari enam wakil pada babak semifinal, cuma satu yang berhasil lolos ke final. Itupun terjadi pasangan ganda putra, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi yang menjalani perang saudara, dengan Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Mencapai podium tertinggi di turnamen pertama mereka di tahun ini, Kevin dan Marcus amat berharap bisa mengawali catatan apik mereka di turnamen ini, dan memetik gelar juara. “Tentu, kami senang lolos ke final. Tapi ini belum selesai, masih ada satu pertandingan lagi buat besok (final). Kami berharap bisa menjadi juara di sini. Yang pasti, kami harus bermain lebih baik lagi di final dan lebih fokus lagi,” ucap Kevin. Selain Indonesia, negara-negara lain yang mampu menempatkan dua wakil pada final Malaysia Masters 2019 ialah Jepang dan Thailand. Jepang berpeluang meraih gelar juara melalui Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (ganda putri), dan Yuta Watanabe/Arisa Higashino (ganda campuran). Sementara, Thailand bisa membawa pulang titel kampiun, dari juara bertahan tunggal putri, Ratchanok Intanon, dan duet ganda campuran, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai. (Adt)

Hadapi Wakil Korsel di Babak Pertama Australia Open Junior 2019, Priska : Dia Kawan Berlatih

Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (15 tahun), akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, pada Minggu (20/1). Peringkat ke-45 junior dunia itu, bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku. (tribunnews.com)

Jakarta- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho akan memulai debutnya di ajang Grand Slam, Australia Open Junior 2019, Minggu (20/1). Dari hasil undian babak utama yang dilakukan Jumat (18/1), peringkat ke-45 junior dunia itu bakal menghadapi wakil Korea Selatan (Korsel), Yeon Woo Ku, pada laga perdana. Yeon yang saat ini berada di urutan ke-127 junior dunia, masuk babak utama menggunakan fasilitas wild card, setelah memenangi Australia Open Asia Pacific Play Off di Zhuhai (Tiongkok), awal Desember 2018. “Meskipun belum pernah bertemu di lapangan, dia bukanlah lawan yang asing karena beberapa kali berlatih bersama,” tutur Priska, pada keterangannya Jumat (18/1) seusai melakoni latihan di Albert Reserve Park, Melbourne. “Saya optimistis bisa melaju ke babak kedua,” ucap Priska. Akhir tahun lalu dalam persiapan menuju Australia Terbuka ini, bersama Yeon, dara kelahiran Jakarta 29 Mei 2003 bahkan turut mengikuti pemusatan latihan bersama dengan mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabilles di Bangkok, Thailand. “Semua lawan di level Grand Slam tidak ada yang mudah. Kami semua berusaha untuk bermain semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada. Mohon doa dan dukungan dari seluruh pencinta tenis indonesia,” ucap pelatih Ryan Tanujoyo bersama Elbert Sie, yang mendampingi kiprah Priska, selama di Australia. Bila mampu menepiskan perlawanan Yeon, Priska bakal terlibat bentrok dengan pemenang laga antara unggulan keenam dari Amerika Serikat, Lea Ma dan wakil Rusia, Elina Avanesyan. Priska juga akan tampil di nomor ganda berpasangan dengan petenis asal Tiongkok, Wei Sijia. Keduanya adalah petenis termuda yang lolos sebagai Dirrect Acceptance Babak Utama Australia Terbuka Junior 2019. Undian partai ganda, berlangsung pada Sabtu (19/1). Hadirnya Priska, menandai kehadiran kembali wakil Merah Putih di ajang Grand Slam setelah cukup lama petenis Indonesia absen dari turnamen tenis kelas wahid dunia. (Adt)

Anthony Ginting Tembus 8 Besar Malaysia Masters 2019, Fitriani Akhirnya Kandas

Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, berhasil melaju ke perempat final Malaysia Masters 2019, berkat kemenangan atas Kashyap Parupalli (India), dalam waktu 53 menit, dengan skor 21-17 dan 25-23, di Stadium Axiata, Kuala Lumpur Sport City, Malaysia, pada Kamis (17/1). (tribunnews.com)

Kuala Lumpur- Beda hasil diperoleh dua wakil tunggal putra Pelatnas PBSI, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie di babak kedua turnamen bulu tangkis Malaysia Masters 2019. Anthony sukses mengalahkan lawannya, Kashyap Parupalli (India), sedangkan Jonatan dihentikan Chen Long (Cina). Anthony mengalahkan Parupalli, dalam 53 menit dengan skor 21-17 dan 25-23, di Stadium Axiata, Kuala Lumpur Sport City, Malaysia. Hasil ini memantapkan posisi pemuda kelahiran Cimahi 20 Oktober 1996, atas Parupalli pada catatan pertemuannya dengan 3-0. Ia pun menilai pertandingan pada Kamis (17/1), cukup ketat. “Di game pertama, saya bisa menahan poin untuk terjaga jaraknya. Game kedua sampai interval, saya sudah enak mainnya. Tapi, habis interval, dia sempat merubah pola. Jadi, permainan saya sempat terpengaruh, nggak sesuai ekspektasi saya,” ujarnya, dikutip laman resmi PBSI. Pada laga lain, Chen Long rupanya masih terlalu tangguh untuk dihadapi oleh Jonatan. Dari lima kali duel sebelumnya, Jonatan belum pernah meraih kemenangan sekalipun. Kali ini Jonatan kalah 15-21 dan 18-21 dalam waktu 45 menit. “Sebenarnya kami sama-sama menunggu kesalahan masing-masing. Tapi, saya banyak mati sendiri. Di game pertama saat posisi kalah angin, saya seharusnya memanfaatkan untuk menguras tenaganya, tapi saya nggak melakukannya dengan baik. Saya juga terlalu hati-hati, dan permainan terbaca oleh dia,” kata Jonatan. Di babak perempat final, Anthony akan menghadapi Chen Long. Anthony sejatinya berada di peringkat yang lebih rendah, dari Chen Long. Namun, ia memiliki rekor pertemuan yang baik atas pebulu tangkis China itu. Kedua pebulu tangkis sudah tujuh kali bertemu, dengan rekor kemenangan, dikuasai Anthony sebanyak lima kali. Sedangkan Chen Long, baru berhasil mencuri dua kemenangan. Dalam dua pertemuan teranyar keduanya, pemain PB SGS PLN Bandung ini, selalu menang. Rekor yang membuat Anthony cukup diandalkan, untuk menuntaskan dendam Jonatan. Sementara itu, hasil negatif lainnya juga diderita Fitriani, yang pekan lalu, menjuarai Thailand Masters 2019. Satu-satunya wakil tunggal putri Indonesia ini, akhirnya terhenti di babak kedua. Ia tak berhasil mengatasi lawannya, yang merupakan unggulan dua, He Bingjiao (Cina). Ia kalah dua game langsung, dengan 14-21 dan 11-21. Artinya, Fitriani akhirnya harus menelan kekalahan untuk yang ketiga kalinya dari He. “Di game pertama saya menang angin, baru dorong sedikit sudah out. Saya banyak ragu-ragu dan mati sendiri. Terus, pergerakan kaki juga saya rasa kurang cepat kali ini. Lawannya memang bagus. Fokus saya juga berkurang, kaya nge-blank,” jelas Fitriani seusai bertanding. Futriani melanjutkan, “Fokus saya tak sebaik saat di Thailand kemarin. Setelah ini, saya turun di Indonesia Masters, saya harus lebih menjaga stamina, jaga fokus dan jaga pikirannya. Lebih diperbaiki lagi,” pungkas dara kelahiran Garut 27 Desember 1998 ini. Dengan kekalahan Fitriani, maka wakil tunggal putri Indonesia habis di babak dua Malaysia Masters 2019. Sebelumnya, Gregoria Mariska Tunjung, Lyanny Alessandra Mainaky dan Ruselli Hartawan, sudah rontok di babak pertama. (Adt)

Lanjutkan Tren Positif, Fitriani Melaju ke Babak Kedua Malaysia Masters 2019

Usai juara di Thailand Masters pekan lalu, Fitriani (20 th), memenangi duel sesama tunggal putri Indonesia, babak pertama Malaysia Masters 2019, melawan Yulia Yosephin Susanto, pada Rabu (16/1). Ani, sapaannya, lolos ke 16 besar dan akan bertemu unggulan kelima, He Bingjiao. (detik.com)

Kuala Lumpur- Fitriani memenangi duel sesama tunggal putri Indonesia, di babak pertama Malaysia Masters 2019, melawan Yulia Yosephin Susanto, pada hari ini, Rabu (16/1). Dengan demikian, Ani, sapaannya, lolos ke 16 besar dan akan bertemu unggulan kelima, He Bingjiao. Berlaga di court-3, Axiata Arena, Kuala Lumpur Sport City, pemain yang pekan lalu merengkuh gelar di Thailand itu, sukses menyudahi perlawanan Yulia, dengan straight game 21-16, 21-18, dalam tempo 39 menit. Ani adalah satu-satunya tunggal putri yang lolos ke babak kedua, pada laga hari ini. Di babak 16 besar yang akan digelar besok, Kamis (17/1), ia telah ditunggu unggulan ke-5 asal Cina, He Bingjiao. Sebagai catatan, dari dua kali pertemuan kontra pebulu tangkis putri asal Negeri Tirai Bambu tersebut, dara kelahiran 27 Desember 1998 ini, sama sekali belum pernah sanggup meraih kemenangan. Mereka pertama kali dipertemukan saat Kejuaraan Dunia Junior 2014, kala itu Ani menyerah rubber game 12-21, 21-19, 14-21. Sedangkan tahun lalu mereka kembali bertemu di ajang French Open 2018. Kali ini atlet asal Garut itu, menyerah dua set langsung, 17-21, 19-21, atas pemain berperingkat 7 dunia tersebut. Sebelumnya, dua tunggal Indonesia lainnya, Lyanny Alessandra Mainaky dan Gregoria ‘Jorji’ Mariska Tunjung harus angkat koper lebih cepat. Lyanny kalah dua gim langsung dari pemain Denmark, Line Hojmark Kjaersfeldt 21-9, 21-15. Dan, Jorji takluk dari unggulan keenam asal Thailand, Ratchanok Intanon, juga dua gim langsung 21-15, 21-16. (Adt)

Meski Kalah Angin, Ruselli Hartawan Tembus Babak Utama Malaysia Masters 2019

Tunggal putri Indonesia, Ruselli Hartawan, menembus babak utama kejuaraan bulutangkis Malaysia Masters 2019. Tiket babak utama didapat pebulutangkis kelahiran Jakarta, 27 Desember, 21 tahun silam itu, usai menaklukan Rituparna Das asal India, dua gim langsung, dengan skor 21-13, 26-24, dalam tempo 29 menit. (Humas PBSI)

Kuala Lumpur- Tunggal putri Indonesia, Ruselli Hartawan, menembus babak utama kejuaraan bulutangkis Malaysia Masters 2019. Tiket babak utama didapat pebulutangkis kelahiran Jakarta, 27 Desember, 21 tahun silam itu, usai menaklukan Rituparna Das asal India, dua gim langsung, dengan skor 21-13, 26-24, dalam tempo 29 menit. Melakoni laga di Axiata Arena, Kuala Lumpur Sport City, Bukit Jalil, Malaysia, pada Selasa (15/1), Ruselli mengaku di gim pertama dia kurang nyaman berada di lapangan. Kendati diungkapkannya, pada gim kedua seharusnya bermain lebih enak, karena kalah angin. “Tapi pukulan saya banyak yang nggak pas. Lawannya lumayan bagus, ada ngatur bolanya. Tapi karena saya sudah menonton video dia, jadi sudah tahu,” ujar pemain besutan PB Jaya Raya itu, usai laga, pada Selasa (15/1). Ini kemenangan pertama bagi Ruselli atas Rituparna, karena mereka belum pernah bertemu di berbagai turnamen resmi. Di babak pertama atau 32 besar, Ruselli akan menantang wakil Hong Kong Yip Pu Yin. Meski baru pertama kali berhadapan dengan pemain ranking 34 dunia itu, namun Ruselli menegaskan siap tampil all out di lapangan. “Buat besok (Rabu, 16/1) ngasih yang terbaik aja. Sama lihat video pertandingan lawan,” tukas ranking 48 dunia itu. Selain Ruselli, Yulia Yosephine Susanto berhasil melangkah ke babak utama. Yulia menang dua gim langsung atas Disha Gupta, asal Amerika Serikat. Kedua tunggal putri Merah Putih itu akan berlaga di babak pertama, mendampingi wakil Indonesia lainnnya, yakni Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani, dan Lyanny Alessandra Mainaky. (Adt)

Takluk dari Nomor Empat Dunia, Petenis 15 Tahun Asal Jakarta Kalah Speed Dan Power

Langkah petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (kiri) harus terhenti di babak 16 besar turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Minggu (13/1). Priska tumbang straight set dengan skor 1-6 2-6, dari seeded teratas asal Denmark, Clara Tauson (kanan). (Tribunnews.com)

Victoria- Langkah petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (15 th) akhirnya terhenti di babak 16 besar turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Minggu (13/1). Peringkat ke-45 junior dunia itu harus mengakui keunggulan seeded teratas asal Denmark, Clara Tauson (16). Priska kalah dari petenis nomor empat dunia itu straight set dengan skor 1-6 2-6. “Awalnya sebenarnya Priska dapat mengimbangi irama permainan lawan, tetapi memang lawan bermain sangat baik dan sangat konsisten,” ungkap sang pelatih, Ryan Tanujoyo, seusai laga. “Faktor kekalahan hari ini ada di speed dan power. Namun, Priska mendapatkan banyak pengalaman berharga dari pertandingan hari ini,” jelas Ryan, dalam pesan singkatnya kepada sejumlah jurnalis di Jakarta. Ryan berharap, seusai terhenti di turnamen AGL Loy Yang, Priska mendapatkan banyak pengalaman berharga dan dapat memberikan hasil yang lebik baik di Australian Open Junior pekan depan. Meski telah terhenti, Priska beserta duet pelatih Ryan dan Elbert Sie memutuskan tetap berada di Traralgon, hingga Rabu (16/1). “Saat ini, justru lebih mudah mendapatkan lapangan latihan di Traralgon, karena kami baru bisa menggunakan fasilitas latihan Australia Open Junior 2019, di Melbourne, mulai Kamis (17/1),” tutur Ryan. Priska dijadwalkan bakal tampil di babak utama turnamen grand slam Australia Terbuka Junior yang bergulir mulai 19 Januari. Selain di nomor tunggal, dara kelahiran Jakarta 23 Mei 2003 ini, akan turun di sektor ganda, putri berpasangan dengan petenis asal Tiongkok, Wei Sijia. (Adt)

Juara Thailand Masters 2019, Fitriani Malah Banjir Rekor

Fitriani menjuarai ajang pembuka musim BWF World Tour, Thailand Masters 2019 (super 300). Ani, sapaannya, juga memecahkan rekor gelar juara tunggal putri non-Thailand, untuk turnamen berhadiah total 150 ribu dolar AS itu. (Humas PBSI)

Bangkok- Fitriani menjuarai ajang pembuka musim BWF World Tour, Thailand Masters 2019 (super 300). Pebulu tangkis kelahiran Garut 27 Desember 1998 itu mengukuhkan diri menjadi kampiun dalam laga final di Indoor Stadium Huamark, Bangkok, Minggu (13/1). Ia menang atas andalan tuan rumah, Busanan Ongbamrungphan. Fitriani menang straight game 21-12, 21-14, dalam laga berdurasi 42 menit (statistik BWF). Ini adalah gelar pertama Ani, sapaanya, sejak 2016, saat juara di Indonesia International (BWF International Challenge). Kiprah pemain yang kini berada di urutan ke-33 dunia, di Thailand Masters memang fantastis. Gelar ini merupakan gelar pertama dan satu-satunya bagi Indonesia, pada turnamen pembuka kalender BWF World Tour 2019. Ani juga mencatat rekor pribadi. Yakni Lolos ke semifinal pertama, di ajang sekelas BWF World Tour (dahulu BWF superseries+premier). Lalu final pertama, hingga ditutup dengan juara. Ia menjadi wakil Tanah Air pertama, yang sukses merebut gelar BWF World Tour di luar Indonesia, dalam enam tahun terakhir. Terakhir kali tunggal putri Indonesia berjaya di ajang BWF World Tour, didapat Lindaweni Fanetri. Kala itu, Lindaweni berhasil menjuarai Syed Modi International 2012. Ani pun memecahkan rekor gelar juara tunggal putri non-Thailand, untuk turnamen berhadiah total 150 ribu dolar AS itu. Pertandingan tunggal putri Thailand Masters yang digelar sejak 2016 itu selalu dimenangkan pemain-pemain tuan rumah, seperti Ratchanok Intanon, Busanan Ongbumrungphan, dan Nitchaon Jindapol. Sebagai perbandingan, tahun lalu Indonesia berhasil meloloskan tiga wakil di babak final, yakni tunggal putra, ganda putra, dan ganda putri. Meskipun akhirnya hanya sektor tunggal putra, yang diraih Tommy Sugiarto, berhasil pulang ke tanah air dengan membawa gelar juara. (Adt) Perjalanan Fitriani di Thailand Masters 2019 Babak pertama: vrekors Lee Ying Ying (Malaysia) 18-21, 21-9, 23-21 (54 menit) 16 Besar: vs Nitchaon Jindapol (Thailand) 21-10, 17-21, 21-16 (62 menit) Perempat final: vs Yoe Jia Min (Singapura) 14-21, 21-15, 21-18 (60 menit) Semifinal: vs Deng Joy Xuan (Hong Kong) 12-21, 21-19, 21-16 (55 menit) Final: vs Busanan Ongbamrungphan (Thailand) 21-12, 21-14 (42 menit)

Lolos Final Thailand Masters 2019, Fitriani Diambang Sejarah

Usai mengalahkan wakil Hong Kong, Deng Joy Xuan, dengan rubber game, 12-21, 21-19 dan 21-16, di Arena Huamark Indoor Stadium, Bangkok, pada Sabtu (12/1), atlet kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998, Fitriani, menembus babak final tunggal putri Thailand Masters 2019. (antarafoto.com)

Bangkok– Kiprah Fitriani sebagai wakil Indonesia satu-satunya yang tersisa di ajang Thailand Masters Super 300 masih belum terbendung. Tampil di babak semifinal, Sabtu (12/1), tunggal putri Pelatnas Cipayung ini mampu memastikan tempat di partai puncak. Arena Huamark Indoor Stadium, Bangkok, Fitriani yang ditantang wakil Hong Kong, Deng Joy Xuan, mampu meraih kemenangan rubber game, 12-21, 21-19 dan 21-16 dalam durasi laga 55 menit. Turun pada duel pembuka di lapangan 2, asal klub PB Exist Jakarta menghadirkan drama tersendiri demi menapaki jejak ke babak final. Tertinggal poin cukup jauh di game pertama, 12-21, Fitri berupaya keras membalas dendam kehilangan game pertama dengan bangkit di game berikutnya. Hal tersebut mampu terbukti, saat gadis 20 tahun itu dengan dramatis merebut game kedua melalui pertarungan ketat, 21-19. Aura kemenangan pun menyelimuti Fitriani, kala menuntaskan misinya di game penentuan saat menutup laga dengan kemenangan 21-16.Di babak final yang berlangsung besok, Minggu (13/1), Fitriani akan menghadapi pebulutangkis unggulan delapan asal Thailand, Busanan Ongbamrungphan. Busanan sukses mengalahkan komptriotnya unggulan enam, Pornpawee Chochuwong, 21-10 dan 21-4. Fitriani sebelumnya sudah tiga kali bertemu Busanan, dengan rekor kemenangan 2-1. Terakhir, Fitriani mengalahkan Busanan, pada babak 16 besar Korea Masters 2018, lewat laga tiga gim 21-18, 12-21, dan 21-11. Andai Fitri bisa menjadi juara, ia akan mencetak sejarah. Selain menyingkirkan unggulan pertama sekaligus sang juara bertahan andalan tuan rumah, Nitchaon Jindapol, gadis kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998 ini bakal menjadi pebulu tangkis non Thailand pertama, di sektor tunggal putri yang menjuarai Thailand Masters. Diadakan pertama kali pada 2016, gelar juara khusus sektor tunggal putri, selalu sukses dibawa pulang pebulu tangkis Thailand. Adapun para peraih gelar juara Thailand Masters sebelumnya adalah Ratchanok Intanon (2016), Busanan (2017), dan Jindapol (2018). Keberhasilannya mencapai ke final di Thailand Masters 2019 merupakan yang pertama bagi Fitriani, sejak terakhir diraih pada 2016 dalam sebuah turnamen internasional. Ia butuh waktu selama lebih dari 2 tahun untuk bisa tampil kembali ke laga final. Terakhir, Fitriani mencapai babak final dalam turnamen internasional adalah pada Indonesia Internasional Challenge, yang berlangsung pada 1-6 November 2016. Kala itu, ia melangkah ke laga final, usai menundukkan Dinar Dyah Ayustine di babak semifinal, dengan skor 21-13 dan 21-12. Di final, gadis pendiam ini tampil sebagai juara, setelah mengalahkan rekannya sesama Pelatnas, Hana Ramadhini, dengan skor 21-19 dan 21-18. Titel juara ini menjadi momen terakhir Fitriani memenangi laga internasional. Sebelum melepas dahaga di final, Fitriani juga memecahkan kebuntuan lainnya. Sukses menembus semifinal Thailand Masters 2019, merupakan semifinal pertama bagi Fitriani sejak terakhir meraihnya di Selandia Baru Open 2017. (Adt)

Libas Petenis Tuan Rumah, Priska Besok Tantang Unggulan Teratas

Tampil di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) berhasil menyisihkan perlawanan andalan tuan rumah, Olivia Gadecki melalui laga straight set 6-4 6-2. (sportschannelindonesia.co.id)

Victoria- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) tampil apik di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia. Bermain pada partai pembuka di lapangan utama Traralgon Tennis Club, Sabtu (12/1), Priska menekuk andalan tuan rumah, Olivia Gadecki, lewat laga straight set 6-4 6-2. “Rasanya lega, akhirnya bisa revans atas Olivia,” ucap Priska yang kini bercokol di peringkat ke-45 dunia junior. Walau menempati posisi ke-144 dunia, Olivia menjadi momok bagi Priska, sepanjang musim kompetisi tahun lalu. Dalam tiga kali pertemuan, tak sekalipun Priska mampu memetik kemenangan. “Laga ini sebenarnya bukan laga yang mudah bagi Priska untuk menemukan irama permainan. Apalagi kondisi lapangan yang tak cukup membantu karena sangat berangin,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang mendampingi anak didiknya bersama Elbert Sie selama di Australia. “Awalnya sempat tertinggal 1-3, namun Priska konsisten menjalankan strategi yang telah kami rancang yakni memberi pressure ke arah badan lawan. Hal itu sangat efektif mematikan lawan dan menghasilkan angka kemenangan,” imbuhnya. Namun, Priska enggan jemawa lantaran sadar tantangan yang menghadangnya makin berat dalam ajang pemanasan grand slam Australia Terbuka ini. Pada babak 16 besar, Minggu (13/1) dia harus terlibat bentrok dengan unggulan teratas, Clara Tauson. Wakil Denmark itu bertengger di urutan keempat dalam daftar peringkat junior dunia. “Sejauh ini, Clara lawan berperingkat tertinggi yang pernah saya hadapi. Namun tak ada alasan untuk takut. Saya siap menghadapi siapapun,” tegasnya. “Mudah-mudahan Priska tampil percaya diri di babak berikutnya dan bermain all out,” harap Ryan. Gadis kelahiran Jakarta 2 Mei 2003 itu sebelumnya, pada babak pertama melangkah mulus, usai menang mudah atas petenis kualifikasi asal Italia, Lisa Pigato, Jumat (11/1). Priska menang straight set 6-0 6-1. Sayangnya langkah Priska di nomor ganda, sudah harus terhenti di laga perdana. Duetnya bersama wakil China, Wei Sijia kandas di tangan seeded ketiga, Natsumi Kawaguchi (Jepang) dan Andrinn Nagy (Hungaria) 4-6 1-6. (Adt)

Lolos 8 Besar Thailand Masters 2019, Tunggal Putra Putri Indonesia Libas Wakil Tuan Rumah

Satu-satunya tunggal putra Indonesia yang tersisa di Thailand Masters 2019, Firman Abdul Kholik, melaju ke babak perempat final, usai menekuk andalan tuan rumah, Sitthikom Thammasin, straight game 21-16, 22-20, yang digelar Kamis (10/1) di court-1 Indoor Stadium Huamark, Bangkok. (Humas PBSI)

Bangkok- Satu-satunya tunggal putra Indonesia yang masih tersisa di ajang Thailand Masters 2019, Firman Abdul Kholik memastikan diri melaju ke babak perempat final. Firman menang atas wakil tuan rumah, Sitthikom Thammasin, di babak 16 besar yang digelar Kamis (10/1), di court-1 Indoor Stadium Huamark, Bangkok. Pebulu tangkis berusia 21 tahun itu mengawali laga set pertama dengan cukup baik. Ia memperlihatkan dominasi penuh atas Thammasin, hingga berhasil unggul 11-3 saat jeda interval. Selepas jeda, sebenarnya tunggal tuan rumah menipiskan ketertinggalan hingga berselisih satu poin saja di kedudukan 16-15. Namun, konsistensi pebulutangkis kidal saat memasuki poin kritis, akhirnya mampu mengunci set pertama dengan keunggulan 21-16. Set kedua berjalan lebih menarik. Terjadi saling susul menyusul angka yang sangat ketat, hingga masa interval atlet asal Banjar, Jawa Barat, tertinggal dengan skor 10-11. Setelah itu pemain yang berasal dari klub PB Mutiara Cardinal Bandung ini mulai sanggup mengambil kendali permainan, dan hampir selalu unggul atas lawannya dalam perolehan poin. Meski pemain Thailand sempat memaksa terjadi setting point, pada kedudukan 20-20, namun wakil Indonesia ini mampu menutup laga dengan skor 22-20. Partai ini pun berakhir dengan kemenangan bagi Imen, sapaanya, lewat kemenangan straight game 21-16, 22-20, dalam tempo 47 menit. Imen pun berhasil revans atas Thammasin, setelah kalah dari tiga pertemuan sebelumnya. Skor pertemuan menjadi 1-3 masih untuk keunggulan Thammasin. Di babak perempat final, satu-satunya harapan sektor tunggal putra Indonesia di turnamen berkategori World Tour Super 300 ini, masih menunggu calon lawan. Yakni antara unggulan ke-8 asal Cina, Lu Guangzu, atau pemain Jepang, Koki Watanabe. Saat Thailand Masters edisi tahun lalu, bungsu dari tiga bersaudara pasangan Suherman dan Siti Fauziah, yang lahir pada 11 agustus 1997 ini, hanya sanggup melangkah hingga babak 16 besar saja. Ia ditundukkan oleh wakil Malaysia, Leong Jun Hao, lewat laga dua set langsung. Sementara itu, torehan manis pun turut terjadi di nomor tunggal putri. Atlet 19 tahun Indonesia, Fitriani, memupus asa wakil tuan rumah, Nitchaon Jindapol mempertahankan gelar pada Thailand Masters 2019. Pada babak 16 besar ini, Fitriani menekuk wakil Thailand yang juga menjadi unggulan satu itu, dengan skor akhir 21-10, 17-21, 21-16. Laga sengit itu berkesudahan dalam waktu 62 menit. Hasil sukses ini membuat dara kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998, lolos ke babak delapan besar Thailand Masters 2019. Dari delapan daftar pemain unggulan di sektor tunggal putri, tak ada satu pun pemain Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar unggulan. Pada partai lain, ganda campuran, Alfian Eko Saputra/Marsheilla Gischa Islami juga meraih kemenangan. Mereka menumbangkan wakil Malaysia, Chen Tang Jie/Yen Wei Peck 23-21, 20-22, dan 21-12. Masih ada 10 wakil Indonesia lain yang akan berjuang di babak kedua Thailand Masters 2019 pada petang hingga malam hari nanti. (Adt)

Debut Perdana di Grand Slam Australia 2019, Petenis 15 Tahun Asal Jakarta Bidik Delapan Besar

Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (tengah), akan segera memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 tampil di turnamen junior berlevel grand slam, di Stadion Melbourne Park, Melbourne, pada 19 Januari. (istimewa)

Jakarta- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, tak sabar memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 itu berharap penampilannya di turnamen berlevel grand slam di Melbourne Park itu, mampu memberi kebanggaan bagi Merah Putih. Ia membidik target minimal menjejak perempat final tunggal putri kategori yunior. “Australia Open adalah grand slam pertama saya menekuni tenis. Tentu saya sangat bersemangat bertanding di ajang tersebut,” ujar Priska di Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, sesaat sebelum bertolak menuju Australia, pada Senin (7/1). “Target ingin masuk perempat final Australia Open, namun saya berusaha semaksimal mungkin mendapat hasil yang lebih bagus,” lanjut petenis di posisi ke-45 yunior putri dunia itu. Tak sekedar sesumbar, namun optimisme yang membuncah dalam diri Priska itu muncul, lantaran dia telah cukup mengenal kekuatan calon-calon lawannya. “Kalau petenis Eropa dan Amerika Serikat sudah cukup tahu ketika bertanding di babak final Fed Cup Junior di Hungaria, tahun lalu,” tuturnya. “Lawan dari Asia dan Australia, tak hanya kenal permainan, sebab sering berlatih bersama seperti di Bangkok, akhir tahun lalu bersama petenis Thailand, Korea dan Jepang,” jelasnya. Selain tampil di babak utama tunggal putri yunior, Priska juga berlaga di nomor ganda berpasangan dengan petenis peringkat ke-88 asal Tiongkok, Wei Sijia. Menghadapi laga debutnya di Australia Open 2019, Priska telah melakoni sejumlah persiapan matang. Selain menjalani latihan rutin bersama Elbert Sie dan Ryan Tanujoyo di Bandung, dia juga mengikuti training camp bersama mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabiles di DNA Tennis Bangkok, yang dikelola mantan petenis top Thailand, Danai Udomchoke, akhir tahun lalu. “Kami persiapkan matang semua faktor yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan Priska di Australia Open, terutama fisik dan mental,” cetusnya. Semoga mendapat hasil yang maksimal, setidaknya masuk delapan besar,” ucap Ryan yang bersama Elbert, bakal mendapingi anak didiknya itu menjalani debutnya di Australia Open. “Mohon doanya agar keberuntungan juga memayungi langkah Priska karena semua juga tergantung hasil undian. Semoga Priska bisa berada pada top berformance selama di Autralia,” imbuhnya. Australia Open kategori yunior, akan berlangsung pada pekan kedua turnamen grand slam pembuka, yakni 19 hingga 26 Januari 2019. Namun, sebelumnya Priska akan turun di turnamen pemanasan yakni ITF Junior Grade 1, berlabel AGL Loy Yang Junior Internasional di Traralgon, Victoria, Austrlia, pada 11-16 Januari. Penampilan Priska di Australia Open 2019 memberi angin segar bagi Indonesia, sebab cukup lama wakil Merah Putih tak unjuk gigi di turnamen internasional bergengsi. (Adt)

Pangkas 10 Persen Kuota Pelatnas, PP PBSI Panggil 98 Pebulu Tangkis Masuk Cipayung

Stephani Widjaya menjadi atlet termuda yang menembus skuat Pelatnas Tunggal Putri PP PBSI 2019. Atlet kelahiran Jakarta 19 Februari 2003, yang membela PB Jaya Raya Jakarta itu, kini berstatus anggota Pelatnas Pratama. (tempo.co)

Jakarta- Melalui Surat Keputusan nomor SKEP/001/0.3/I/2019, PP PBSI memanggil 98 pebulu tangkis masuk dalam pemusatan latihan nasional (Pelatnas) 2019 di Cipayung. Mereka yang mendapatkan kesempatan ini masuk pelatnas ini, adalah hasil pantauan serta penilaian tim Pembinaan dan Prestasi PP PBSI dalam setahun terakhir. Seperti diberitakan Badmintonindonesia, pada Jumat (4/1), seluruh pebulu tangkis akan langsung masuk pelatnas, mulai Senin (7/1). Pada 10 Desember 2018, seluruh pemain dipulangkan ke klub masing-masing. Namun ada beberapa pemain yang tak meninggalkan pelatnas masih mengikuti latihan. Mereka melakukan persiapan menuju turnamen Thailand Masters yang akan berlangsung di Bangkok pada awal Januari 2019. Sama seperti tahun sebelumnya, penghuni pelatnas tetap akan dibagi menjadi dua level, yaitu level utama dan pratama. Mulai 2019, PBSI menetapkan empat klasifikasi Surat Keputusan (SK) bagi tiap atlet. Terdiri dari SK Prioritas, SK Utama, SK Pratama dan SK Magang. Atlet dengan SK Prioritas adalah mereka yang diproyeksikan Olimpiade Tokyo 2020. Perbedaan mendasar dari keempat SK ini adalah jumlah turnamen yang diikuti para atletnya dalam setahun. Jika ingin menambah jumlah turnamen yang diikuti, pemain dapat berangkat menggunakan biaya sendiri. Selebihnya, soal fasilitas latihan, makan, asrama, semua ditanggung oleh PBSI. Jumlah 98 orang atlet ini mengalami penurunan sekitar 10 persen, dibanding skuat Pelatnas PBSI tahun lalu yang mencapai 105 atlet. Beberapa waktu sebelumnya, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti sempat mengisyaratkan akan memangkas kuota atlet Pelatnas PBSI sekitar 10 persen di tahun 2019. Dari deretan nama pemain, dalam daftar sudah tak ada lagi nama pasangan ganda putra, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Juara Dunia 2015 dan 2013 ini telah memutuskan untuk menjadi pemain profesional. Meski begitu keduanya tetap berlatih dengan pemain pelatnas dan akan menanggung biaya turnamen yang diikuti. Tidak ada pula nama pemain ganda putri Nitya Krishinda Maheswari. Namun, Nitya rencananya akan membantu tim kepelatihan di pelatnas. Sementara itu, dua pemain ganda campuran, Liliyana Natsir dan Debby Susanto yang memutuskan untuk gantung raket, kini menjadi penghuni pelatnas SK Utama hingga Januari 2019. “Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan nama-nama pemain, yang dipanggil kembali ke pelatnas. Diantaranya dilihat dari segi prestasi, potensi, usia dan target baik di jangka pendek maupun jangka panjang,” ujar Susy. “Untuk Nitya, melihat kondisi pasca cedera dan usianya, tak memungkinkan untuk bisa bersaing lagi. Tetapi rencananya akan diperbantukan di tim kepelatihan dan ini akan kami bicarakan lebih lanjut,” pungkas Juara Olimpiade 1992 ini. (Adt) Daftar Atlet Pelatnas PP PBSI 2019 Tunggal Putra Pelatnas Utama 1. Anthony Sinisuka Ginting (PB SGS PLN Bandung) – SK Prioritas 2. Jonatan Christie (PB Tangkas Intiland) – SK Prioritas 3. Ihsan Maulana Mustofa (PB Djarum) 4. Chico Aura Dwi Wardoyo (PB Exist) 5. Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (PB Djarum) 6. Shesar Hiren Rhustavito (PB Djarum) Magang 1. Firman Abdul Kholik (PB Mutiara Cardinal Bandung) Pelatnas Pratama 1. Syabda Perkasa Belawa (PB Djarum) 2. Yonathan Ramlie (PB Exist) 3. Christian Adinata (PB Tangkas Intiland) 4. Gatjra Piliang Fiqihilahi Cupu (PB Exist) 5. Karono (PB Jaya Raya) Magang 1. Alberto Alvin Yulianto (PB Djarum) 2. Bobby Setiabudi (PB Djarum) 3. Iqbal Aji Tri Pamungkas (PB Exist) Tunggal Putri Pelatnas Utama 1. Gregoria Mariska Tunjung (PB Mutiara Cardinal Bandung) – SK Prioritas 2. Fitriani (PB Exist) – SK Prioritas 3. Ruselli Hartawan (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 4. Aurum Oktavia Winata (PB Sarwendah) 5. Choirunnisa (PB Mutiara Cardinal Bandung) 6. Bening Sri Rahayu (PB Exist) Pelatnas Pratama 1. Putri Kusuma Wardani (PB Exist) 2. Stephani Widjaya (PB Jaya Raya) 3. Yasnita Enggira Setiawan (PB Exist) Magang 1. Alifia Intan Nurrokhim (PB Djarum) 2. Aisha Galuh Maheswari (PB Djarum) 3. Aisyah Sativa Fatetani (PB Djarum) Ganda Putra Pelatnas Utama 1. Kevin Sanjaya Sukamuljo (PB Djarum) – SK Prioritas 2. Marcus Fernaldi Gideon (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 3. Fajar Alfian (PB SGS PLN Bandung) – SK Prioritas 4. Muhammad Rian Ardianto (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 5. Hardianto (PB Mutiara Cardinal Bandung) 6. Berry Angriawan (PB Djarum) 7. Akbar Bintang Cahyono (PB Djarum) 8. Moh. Reza Pahlevi Isfahani (PB Jaya Raya) 9. Sabar Karyaman Gutama (PB Exist) 10.Frengky Wijaya Putra (PB Exist) 11.Ade Yusuf Santoso (PB Wima) Pelatnas Pratama 1. Bagas Maulana (PB Djarum) 2. Mohammad Shohibul Fikri (PB SGS PLN Bandung) 3. Daniel Marthin (PB Djarum) 4. Leo Rolly Carnando (PB Djarum) 5. Ghifari Anandaffa Prihardika (PB Jaya Raya) 6. Pramudya Kusumawardana Riyanto (PB Djarum) 7. Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan (PB Exist) Magang 1. Syahrizal Dafandi Arafixqli (PB Pratama) 2. Syahrozi Dafandi Arafixqli (PB Pratama) 3. Dwiki Rafian Restu (PB Djarum) 4. Bernardus Bagas Kusumawardhana (PB Djarum) Ganda Putri Pelatnas Utama 1. Greysia Polii (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 2. Apriyani Rahayu (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 3. Della Destiara Haris (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 4. Rizki Amelia Pradipta (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 5. Ni Ketut Mahadewi Istarani (PB Suryanaga) – SK Prioritas 6. Tania Oktaviani Kusumah (PB Djarum) 7. Yulfira Barkah (PB Mutiara Cardinal Bandung) 8. Jauza Fadhila Sugiarto (PB Jaya Raya) 9. Siti Fadia Silva Ramadhanti (PB Djarum) 10.Agatha Imanuela (PB Djarum) 11.Ribka Sugiarto (PB Djarum) 12.Febriana Dwipuji Kusuma (PB Djarum) 13.Virni Putri (PB Jaya Raya) 14.Vania Arianti Sukoco (PB Djarum) Pelatnas Pratama 1. Nita Violina Marwah (PB Exist) 2. Putri Syaikah Ulima Hidayat (PB Exist) 3. Indah Cahya Sari Jamil (PB Djarum) Magang 1. Melanni Mamahit (PB Exist) 2. Tryola Nadia (PB Jaya Raya) 3. Metya Inayah Cindiani (PB Djarum) 4. Amalia Cahaya Pratiwi (PB Mutiara Cardinal Bandung) 5. Rayhan Vania Salsabila (PB Mutiara Cardinal Bandung) 6. Febby Valencia Dwijayanti Gani (PB Djarum) Ganda Campuran Pelatnas Utama 1. Praveen Jordan (PB Djarum) – SK Prioritas 2. Melati Daeva Oktavianti (PB Djarum) – SK Prioritas 3. Hafiz Faizal (PB Jaya Raya) – SK Prioritas 4. Gloria Emanuelle Widjaja (PB Djarum) – SK Prioritas 5. Tontowi Ahmad (PB Djarum) 6. Liliyana Natsir (PB Djarum) 7. Debby Susanto (PB Djarum) 8. Winny Oktavina Kandow (PB Jaya Raya) 9. Ronald Alexander (PB Suryanaga) 10.Annisa Saufika (PB Djarum) 11.Alfian Eko Prasetya (PB Jaya Raya) 12.Marsheilla Gischa Islami (PB Djarum) 13.Rinov Rivaldy (PB Djarum) 14.Pitha Haningtyas Mentari (PB Jaya Raya) Pelatnas … Read more

Gregoria Minim Gelar Selama 2018, Pelatnas Cipayung Darurat Tunggal Putri

Tunggal putri Indonesia 19 tahun berperingkat 15 versi BWF, Gregoria Mariska Tunjung, ditargetkan PP PBSI tembus hingga peringkat 10 besar dunia dan meraih juara pada turnamen Super 1000 pada 2019. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tak bisa dipungkiri, prestasi tunggal putri bulu tangkis Indonesia sangat kurang menjanjikan sepanjang 2018. Gregoria Mariska Tunjung dkk tak mampu bersaing di turnamen BWF World Tour. Kondisi ini sebenarnya sudah berlangsung dalam satu dekade terakhir. Minimnya sumber daya pemain tunggal putri yang berkualitas membuat proses regenerasi terhambat. Belum lagi, saat bersaing di level internasional, mereka kerap tampil inferior. Sejauh ini, pelatnas PP PBSI, biasa disebut Pelatnas Cipayung, masih mengandalkan empat pebulu tangkis utama stok lama. Yakni Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia dengan peringkat BWF tertinggi, yakni Jorji (sapaan Gregoria), di posisi 15. Selain Jorji, Indonesia memiliki dua tunggal putri lain di deretan 50 besar BWF yakni Fitriani (peringkat ke-33) dan Dinar Dyah Ayustine (peringkat ke-49). Sementara itu, Ruselli Hartawan ada di posisi 51 besar. Empat srikandi ini tahun lalu menjadi kekuatan utama bagi tunggal putri Indonesia. “Saya berharap tim yang kemarin dipertahankan, tapi ya tergantung PBSI nanti,” ujar Minarti Timur, pelatih tunggal putri Indonesia. Selain itu, Minarti juga berharap adanya pemain junior yang bisa masuk di skuat utama, tahun ini. Menurutnya, ada beberapa pebulu tangkis yang memperlihatkan progres. Di sisi lain, ada juga yang masih mengalami kesulitan untuk tampil konsisten dari satu turnamen ke turnamen yang lain. Tahun lalu, Jorji hanya mampu meraup satu gelar dengan level International Challenge, yaitu: Finnish Open 2018 pada bulan April di Finalandia, usai mengalahkan Ruselli Hartawan. Sedangkan untuk kejuaraan berkategori BWF World Tour (Super 300, 500, 750, dan 1000), atlet berusia 19 tahun ini selalu pulang dengan tangan hampa. Minarti menekankan agar anak didiknya asal Wonogiri, Jawa Tengah, mampu meraih gelar pada tahun ini. “Kami menargetkan Jorji masuk peringkat 10 besar dunia dan juara pada turnamen yang diikuti, apakah tingkat Super 500, Super 300, bahkan kalau bisa pada turnamen Super 1000,” ujar Minarti, dikutip dari Antara. Pada bulan Januari, Jorji diagendakan untuk turun di dua turnamen BWF dengan kategori World Tour Super 500. Pertama, pebulutangkis putri yang baru saja mengantarkan klubnya Mutiara Cardinal meraih posisi runner-up di Kejurnas PBSI tersebut, akan turun di turnamen Malaysia Masters 2019, dari tanggal 15 sampai 20 Januari. Menyusul kejuaraan Indonesia Masters 2019 yang rencananya mulai digelar pada 22 sampai 27 Januari. Selanjutnya, kesempatan pertama diberikan kepada Fitri dan Ruselli di Thailand Masters. “Kalau Jorji belum tahan main tiga turnamen sekaligus, makanya dia dikasih Malaysia Masters dan Indonesia Masters,” terangnya. Informasi yang beredar, kepastian SK pelatnas 2019 terbaru bakal disampaikan pekan ini. Sementara itu, Susy Susanti Kabidbinpres PP PBSI masih berpedoman pada prestasi dan attitude para pebulu tangkis pelatnas dalam menentukan promosi dan degradasi. “Yang pasti kami ingin yang terbaik juga,” katanya. (Adt)

Kampiun Kejurnas PBSI 2018 Usai Hentikan Unggulan Satu, Pebulutangkis 17 Tahun Asal Wonogiri Siap Huni Pelatnas

Alifia Intan Nurrokhim (17 tahun), sukses menjadi kampiun Tiket.com Kejurnas PBSI 2018, usai menang dari unggulan satu, Desima Aqmar Syarafina (Jawa Tengah), 21-9, 21-14, di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu (22/12), dan Alifia siap menghuni Pelatnas PBSI. (PB Djarum)

Jakarta- Melakoni laga pamungkas di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu (22/12), tunggal taruna putri U-19, Alifia Intan Nurrokhim, tampil gemilang. Wakil Jawa Tengah itu, sukses menjadi kampiun kejuaraan bulutangkis Tiket.com Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PBSI 2018. Alifia menaklukan kompatriotnya sekaligus unggulan satu kejuaraan ini, Desima Aqmar Syarafina, straight game, dengan skor 21-9, 21-14, dalam waktu 33 menit. Usai laga, dara kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 18 Mei 2001 itu, mengaku puas dan tak menyangka atas pencapaian terbaik di turnamen penutup 2018 ini. “Nggak menyangka bisa meraih hasil di pertandingan ini. Desima mainnya bagus di kejuaraan ini. Karena sejak babak pertama hingga ke final, Desima selalu menang dua gim langsung, dan lawan yang dihadapinya juga sangat tangguh,” ujar Alifia. Terlebih, dia berhasil menghentikan perlawanan seniornya di klub PB Djarum Kudus itu. Padahal, diakui Alifia, performa Desima dalam kondisi cemerlang selama menapaki turnamen ini. “Sedangkan saya selalu menang rubber game. Bagi saya, kondisi seperti itu cukup melelahkan,” lanjutnya. Pemain berpostur 1,62 meter itu, mengaku dirinya mewaspadai permainan lawan yang memiliki kelebihan pada bola net yang bagus. “Desima lebih senior maka saya hanya modal yakin dan bermain lepas. Itu kunci kemenangan pertandingan hari ini,” tambah juara Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Kalimantan Timur (Kaltim) Open 2018 itu. Diungkapkan Alifia, banyak pemain senior yang lebih bagus dari dirinya, sedangkan ia mengikuti hanya tampil di dua turnamen. “Saya itu ikut turnamen hanya sedikit dan itupun hanya di kejuaraan Djarum Sirnas Balikpapan dan Kejurnas PBSI ini,” terang lulusan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2014 itu. Berkat hasil ini, Alifia berkesempatan menghuni Pelatnas PBSI Cipayung Jakarta. Ia siap berlatih di kawah candradimuka stlet bulutangkis elite Indonesia itu. “Pastinya harus ada yang perlu dibenahi dari permainan saya seperti harus lebih tahan dan lebih sabar di lapangan,” cetus juara Wali Kota Cirebon Open 2016 itu. (Adt) Hasil Pertandingan Final Taruna Divisi Satu Kejurnas PBSI 2018 Tunggal Putra Karono (DKI Jakarta/1) vs Iqbal Aji Tri Pamungkas (DKI Jakarta/2): 21-9, 16-21, 21-10 (64 menit) Tunggal Putri Alifia Intan Nurrokhim (Jawa Tengah) vs Desima Aqmar Syarafina (Jawa Tengah/1): 21-9, 21-14 (33 menit) Ganda Putra Syahrizal Dafandi Arafixqli/Syahrozi Dafandi Arafixqli (Jawa Timur/1) vs Bernadus Bagas Kusuma Wardana/Dwiki Rafian Restu (Jawa Tengah): 17-21, 22-20, 21-18 (60 menit) Ganda Putri Amalia Cahaya Pratiwi/Rayhan Vania Salsabila (Jawa Barat) vs Aldira Rizki Putri/Ayu Gary Luna Maharani (Jawa Tengah/2): 21-17, 21-10 (41 menit) Ganda Campuran Andre Timotius Tololiu/Dinda Dwi Cahyaning (DKI Jakarta/4) vs Alif Rafsyah Mauthuthihona/Rayhan Vania Salsabila (Jawa Barat/2): 21-18, 21-14 (36 menit)