Libas Djarum 3-1, Mutiara Cardinal Tantang PB Jaya Raya di Final Kejurnas PBSI 2018

Atlet PB Djarum, Ihsan Maulana Mustofa, menang pada partai ketiga, atas pemain Mutiara Cardinal Bandung, Panji Ahmad Maulana 21-17, 21-13, pada babak semifinal nomor beregu campuran dewasa Divisi I Kejurnas PBSI 2018, di Britama Arena Jakarta, Jumat (21/12). Sayang PB Djarum tersingkir, setelah kalah 1-3 dari tim Mutiara Cardinal. (PBSI)

Jakarta- Tim Bulu Tangkis Mutiara Cardinal Bandung menyingkirkan Tim PB Djarum pada laga semifinal beregu campuran dewasa Divisi I laga semifinal Kejuaraan Bulutangkis Tiket.com Kejurnas PBSI 2018, di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (21/12). Tim Mutiara Cardinal menang dengan skor 3-1 atas klub bulu tangkis asal Kudus itu. Di partai pertama, ganda putra Mutiara Cardinal, Hardianto/Reinard Dhanriano menang atas pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Berry Angriawan dalam dua gim 24-22, 25-23. Mutiara menambah keunggulan dari tunggal putri, Gregoria Mariska Tunjung yang menekik Dinar Dyah Ayustine, dalam tiga gim 21-16, 20-22, dan 21-12. PB Djarum meraih poin pertama mereka pada pertandingan tunggal putra, usai Ihsan Maulana Mustofa menaklukkan Panji Ahmad Maulana 21-17, 21-13. Dobel putri PB Djarum, Debby Susanto/Rosyita Eka Putri Sari yang sedianya memperpanjang nafas timnya hingga laga ganda campuran turun, harus takluk dari pasangan putri Mutiara Cardinal, Yulfira Barkah/Maretha Dea Giovani 21-15, 21-16. Dengan demikian, duel pasangan peraih medali emas Olimpiade Rio 2016, Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad yang sedianya menghadapi duet Ricky Karanda Suwardi/Bunga Fitriani Romadhini, ditiadakan karena tak berpengaruh. Usai laga, Manajer tim PB Djarum Kudus, Fung Permadi mengaku sudah menempatkan komposisi pemain terbaiknya. Fung mengatakan kekalahan Kevin/Berry di partai pertama memang merusak strategi tim. “Kami sendiri sudah menempatkan komposisi terbaik yang ada, tapi hasil yang tidak kami harapkan terjadi di partai pertama jadi mempengaruhi partai selanjutnya,” kata Fung. “Selamat juga ke PB Mutiara, mereka tampil luar biasa dan kuat di ganda. Yang membuat kami optimis adalah ganda putra, ada Kevin Sanjaya dan kami kecolongan di poin itu. Tapi, memang itu hasilnya. Kami harus terima dan evaluasi, apa perbaikannya,” imbuhnya. Kevin, menurut Fung, tampil kelelahan pada pertandingan beregu campuran dewasa Kejuaraan Nasional 2018, setelah mengikuti rangkaian turnamen internasional mewakili Indonesia. “Fokus dan konsentrasi kevin sudah lelah,” katanya. Debby dan Rosyita sendiri mengaku sejatinya termotivasi, bukan terbebani, dengan bermain di partai keempat sebagai laga penentuan adanya partai kelima atau tidak. Jika menyamakan kedudukan, mungkin saja nasib Djarum akan berbeda karena partai kelima sekaligus terakhir ada nama Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang didaftarkan. “Saya pribadi tak terbebani, malah termotivasi bagaimana caranya memperpanjang napas beregu, sehingga ganda campuran dimainkan,” kata Debby. “Saya terlalu terburu-buru, terlalu nafsu mematikan lawan, jadi shuttlecock tidak terkontrol baik. Dan ada juga pengaruh angin di lapangan,” timpal Rosyita. Pada partai puncak, Sabtu (22/12), Mutiara Cardinal sudah ditunggu PB Jaya Raya, yang menghentikan laju PB Exist Jakarta, dengan skor tipis 3-2. Satu langkah lagi, tim Jaya Raya akan meraih gelar juara kejurnas keenamnya. Dua tahun silam, PB Jaya Raya dikalahkan PB Djarum di final, dengan skor 3-0. (Adt)

Tak Hanya Kualifikasi Olimpiade 2020, PBSI Siapkan Atlet ke Kejuaraan Junior Asia dan Dunia Pada 2019

Susy Susanti, memaparkan enam fokus bidang pembinaan dan prestasi (Binpres) pada 2019, dalam event Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PP PBSI 2018, di El Royale Hotel, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 21-22 Desember 2018. (PBSI)

Jakarta- Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas), di El Royale Hotel, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 21-22 Desember 2018. Dalam Mukernas yang bertajuk ‘Menuju Puncak Prestasi Olimpiade Tokyo 2020, tak hanya memaparkan hasil program kerja tahun 2018, juga melakukan pembahasan program kerja PBSI tahun 2019. Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) PP PBSI yang dinahkodai Susy Susanti, menyebut proyeksi ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang, menjadi target utama, saat kualifikasi hajatan olahraga terbesar sejagat itu akan mulai berlangsung pada Mei 2019, dan berakhir pada April 2020. “Pertama yang menjadi fokus PBSI di tahun depan adalah mempersiapkan nama-nama atlet elit yang berpotensi dan berpeluang ke Olimpiade Tokyo 2020, masing-masing sektor menetapkan kuota nominasi,” ujar Susy memaparkan program kerja timnya pada 2019. Lalu fokus kedua timnya, yakni menargetkan mengirimkan dua wakil per sektor guna memperbesar peluang perolehan medali, khususnya medali emas. “Sedangkan yang juga menjadi fokus ketiga di tahun depan adalah rencana persiapan dan akomodasi pemain dan tim, selama di Tokyo jelang perhelatan olimpiade,” tambah juara dunia 1993 itu. Sementara itu, di level junior, Susy mengatakan PBSI mempersiapkan atlet yang akan berlaga di level Asia dan Dunia pada 2019, sebagai program keempat timnya. “PBSI mempersiapkan para atlet junior untuk ajang Asia Junior Championships 2019, dan World Junior Championships 2019,” tegasnya. Pada Kejuaraan Bulutangkis Asia Junior 2018, di Jaya Raya Sport Hall, Banten, pada Juli 2018, Indonesia mampu meraih satu gelar dari sektor ganda putri. Duet Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto menjadi kampiun usai mengandaskan perlawanan Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh asal Malaysia (21-12, 21-16). Pada Kejuaraan Bulutangkis Dunia Junior 2018, skuat Merah Putih pun hanya meraih satu gelar dari ganda campuran. Dobel Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil sukses menjadi juara usai mengalahkan rekan senegaranya Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti (21-15, 21-9), di Ontario, Kanada, pada awal Desember 2018. Sedangkan fokus kelima dan keenam, ungkap Susy, pihaknya menitikberatkan pada sub bidang sport science yang menjadi satu kesatuan dengan Binpres. “PBSI menargetkan peningkatan pengembangan program pendidikan kepelatihan daerah lewat jalur pendidikan di sekolah, pelatihan guru olahraga lewat program Shuttle Time,” tuturnya. “Selain itu, PBSI juga akan meningkatan dan pengembangan program sport science khususnya dalam hal performance analysis,” cetus perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 itu. Disisi lain, Alex Tirta, Ketua Harian PP PBSI, mengaku bangga dengan pencapaian prestasi tahun ini yang mengalami peningkatan. “Pada 2017, Indonesia meraih 38 gelar juara dan pada 2018 menjadi 56 gelar juara. Ini pencapaian yang luar biasa, kita harus berterima kasih kepada seluruh komponen yang terlibat mulai dari Pengkot, Pengkab, Pengprov, Pengurus Pusat, dan semua pihak,” terang Alex, dalam sambutannya mewakili Wiranto (Ketua Umum PP PBSI). (Adt)

Lakoni Semifinal Kejurnas PBSI 2018 Kontra PB Exist, Jaya Raya Janji Tampil All Out

Duet Greysia Polii/Apriyani Rahayu menyumbang kemenangan bagi timnya Jaya Raya Jakarta di laga penyisihan terakhir grup A. Greysia/Apriyani menang atas Maretha Dea Giovani/Yulfira Barkah, 21-16, 21-14. (PBSI)

Jakarta- Skuat Jaya Raya Jakarta berjanji tampil all out di laga semifinal kejuaraan bulutangkis Tiket.com Kejurnas PBSI 2018, di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (21/12). Klub yang bermarkas di Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan itu, berhasil menjadi juara grup A. Mereka menyelesaikan laga penyisihan terakhir dengan kemenangan atas PB Mutiara Cardinal Bandung dengan skor 4-1, pada Kamis (20/12). Ini menjadi kemenangan kedua Jaya Raya, yang sebelumnya juga sukses menuai hasil positif, ketika melawan PB Berkat Abadi. Jaya Raya menang dengan skor telak 5-0. Sedangkan, Mutiara Cardinal Bandung menjadi runner-up grup A. Klub asal Bandung itu sukses menaklukan Berkat Abadi dengan skor 5-0.Dan, Mutiara Cardinal Bandung akan berjumpa dengan PB Djarum Kudus yang berhasil menjadi juara grup B, di laga semifinal. “Hasil ini memang sesuai dengan harapan kami. Khusus nomor ganda putri, ganda putra dan ganda campuran, memang menjadi andalan tim kami di kejurnas kali ini,” ujar Lanny Tedjo, Pelatih Ganda Putri Tim Jaya Raya, usai anak didiknya mengunci titel juara grup A. “Besok (Jumat, 21/12) sudah semifinal, kami mau lebih all out dan lolos ke final dan juara,” tegas Lanny. Di semifinal, Jaya Raya akan bertemu dengan Exist Jakarta yang menjadi runner-up grup B. Di atas kertas, Jaya Raya yang merupakan tim unggulan satu beregu campuran itu berpeluang besar lolos ke partai puncak. Kendati tak diperkuat Marcus Fernaldi Gideon yang tengah cedera leher, namun Jaya Raya tetap optimis menatap laga semifinal. “Absennya Marcus tentu berpengaruh pada kekuatan tim, tapi kami berusaha untuk memaksimalkan materi pemain yang ada,” tutur Lanny. Di kejuaran penghujung 2018, Jaya Raya bertekad lolos ke final, dan merebut kemenangan atas Djarum Kudus, dengan catatan, kedua tim mampu menyingkirkan lawan mereka masing-masing di babak empat besar itu. Dua tahun silam, di event yang sama di Solo, Jawa Tengah, Jaya Raya mengubur impian menjadi kampiun usai takluk 3-0 dari Djarum. “Kami maunya membalas kekalahan atas PB Djarum, kami sudah lima kali juara, kalau bisa enam kali kenapa tidak? Para pemain harus percaya diri.Yang penting perjuangan dulu di lapangan,” tukas Lanny. (Adt) Hasil Pertandingan Jaya Raya Jakarta vs Mutiara Cardinal Bandung Tunggal Putra Krishna Adi Nugraha vs Firman Abdul Kholik: 14-21, 21-10, 21-16 Tunggal Putri Sri Fatmawati vs Gregoria Mariska Tunjung: 21-16, 15-21, 13-21 Ganda Putra Angga Pratama/Muhammad Rian Ardianto vs Hardianto/Ricky Karanda Suwardi: 21-17, 21-13 Ganda Putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu vs Maretha Dea Giovani/Yulfira Barkah: 21-16, 21-14 Ganda Campuran Alfian Eko Prasetya/Della Destiara Haris vs Reinard Dhanriano/Bunga Fitriani Romadhini: 21-18, 21-17

Masih Grogi Saat Tampil, Pebulutangkis Taruna Unggulan Satu Bidik Juara Kejurnas PBSI 2018

Pebulutangkis tunggal taruna asal DKI Jakarta Karono, lolos ke babak berikutnya dan membidik gelar juara, pada Tiket.com Kejurnas PBSI 2018 di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara, serta berharap masuk Pelatnas PBSI Cipayung. (PBSI)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal taruna, Karono, asal DKI Jakarta membidik gelar juara di Tiket.com Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PBSI 2018, di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara. Langkah pemain unggulan satu itu masih belum terbendung di babak kedua (16 besar), pada Rabu (19/12). Pemain kelahiran Sukoharjo, Solo, 28 Februari 2000 ini, sukses menaklukan Rezha Akbar Raja Husain YM, asal Jawa Tengah. Pemain PB Jaya Raya yang di babak pertama (32 besar) mendapatkan bye itu, menang straight game, dengan skor 21-19, 21-17. “Hari ini saya baru main, jadi masih penyesuaian diri di lapangan. Saya masih sering coba-coba bola, dan masih grogi mainnya,” ujar Karono usai laga. Skuat Indonesia di World Junior Championships 2018 itu menargetkan menjadi kampiun di turnamen penghujung tahun itu. Bahkan, Karono bertekad menjadi penghuni Pelatnas Cipayung. “Target pribadi saya juara, karena kejurnas ini adalah turnamen paling penting untuk saya, jadi fokus di turnamen ini,” lanjutnya. Di babak perempat final, Karono akan berhadapan dengan sesama pemain asal DKI Jakarta, Jim Jason Kiazen. “Juara Kejurnas dapat kesempatan untuk dipantau di Pelatnas, jadi saya berharap bisa juara, apalagi saya sudah masuk taruna akhir juga,” tambah Karono. Jim memastikan lajunya, usai menang atas wakil Jawa Barat Yudha Putra Pramudya, straight game, dengan skor 21-16, 21-11. (Adt)

Pebulutangkis Cantik 18 Tahun Asal DKI, Lolos ke Babak 2 Kejurnas PBSI 2018

Tunggal putri DKI Jakarta asal klub PB Exist Jakarta, Eprilia Mega Ayu Swastika, sukses mengatasi Kyla Legiana Agatha, asal Jawa Barat, straight game, 21-17 dan 21-8, dalam laga babak pertama nomor perorangan Taruna U-19 Kejurnas PBSI 2018, pada Selasa (18/12). (PBSI)

Jakarta- Perhelatan ajang Tiket.com Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PBSI 2018 resmi bergulir. Dengan dimulai menggelar laga babak pertama nomor perorangan Taruna U-19 pada Selasa (18/12). Tunggal putri DKI Jakarta, Eprilia Mega Ayu Swastika, memetik kemenangan saat menghadapi Kyla Legiana Agatha, asal Jawa Barat. Dalam laga yang berlangsung di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara, Eprilia menang dua game, 21-17 dan 21-8. “Game pertama saya masih penyesuaian lapangan. Anginnya cukup kencang. Saya juga baru pertama bertemu dengan lawan ini. Game kedua saya sudah tahu dan lebih enak mainnya,” ungkap Eprilia usai laga. Pada Kejurnas PBSI 2018 kali ini, pilar dari klub PB Exist Jakarta itu menargetkan pencapaian maksimal sebagai juara. Ini dilakukan, agar gadis yang memulai karir di klub Garuda Tangkas Indramayu ini, kembali masuk jajaran skuat Pelatnas PBSI Cipayung, seperti pada 2016 lalu. “Keinginannya pasti pengen maksimal, bisa juara dan masuk ke Pelatnas lagi. Cuma jangan dijadikan beban. Saya akan berusaha yang terbaik saja di lapangan,” lanjut dara kelahiran Indramayu, 4 Juli 2000. Selanjutnya di babak dua, peraih medali perunggu Asean Schools Games 2018 lalu, akan menantang wakil Jawa Tengah berlabel unggulan dua, Virginia Sarce Runtukahu. Ini akan menjadi pertemuan pertama mereka dan Eprilia mengaku sudah banyak mempelajari lawannya itu. “Kami memang belum pernah ketemu. Tapi saya sudah pernah lihat mainnya dia. Udah tahu. Videonya juga sudah saya tonton. Besok tinggal siap aja di lapangan,” ujar atlet cantik berpostur tinggi semampai tersebut. (Adt)

Kejurnas PBSI 2018 Ajang Evaluasi Pembinaan Atlet, Juaranya Berhak Magang di Pelatnas Selama Enam Bulan

Tiket.com Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PBSI 2018 menjadi ajang evaluasi pembinaan atlet, baik pusat dan daerah, sebab Kejuaraan ini merupakan level tertinggi, dan seluruh pemain terbaik yang berasal dari Indonesia, bakal bersaing di event tahunan ini. (Adt/NYSN)

Jakarta- Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menjadikan ajang Tiket.com Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PBSI 2018, sebagai ajang evaluasi bagi pembinaan atlet, baik di pusat maupun daerah. Hal itu dikatakan Alex Tirta, Ketua Harian PP PBSI, di Jakarta, pada Senin (17/12). Menurutnya, Kejurnas merupakan puncak kegiatan dengan level tertinggi dan seluruh pemain terbaik di Indonesia akan bertanding. “Pengprov (Pengurus Provinsi) juga harus bisa melaksanakan Kejurprov berbasis sistim informasi dalam rangka mempersiapkan atlet-atlet terbaiknya untuk bertanding di Kejurnas,” ujar Alex. Pria yang juga menjabat Ketua Pengprov PBSI DKI Jakarta itu, menyebut saatnya Pengprov memiliki program pembinaan berlandaskan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). “Supaya proses regenerasi bisa berjalan dengan efektif dan efisien,” lanjutnya Alex. Tiket.com Kejurnas PBSI 2018 bakal dihelat di Britama Arena, Mahaka Square Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk Divisi Satu. Sedangkan Divisi Dua, akan berlangsung di Gelanggang Olahraga (GOR) Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Kedua event mulai bertanding pada 18-22 Desember ini. Deretan pemain top Indonesia akan berlaga membela klub mereka masing-masing, di antaranya Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, dan Greysia Polii. Mereka akan bermain di sektor beregu campuran Divisi Satu. Untuk kelompok dewasa, Kejurnas secara bergantian setiap tahunnya mempertandingkan nomor perorangan dan beregu. Pada tahun genap, memainkan nomor beregu, sedangkan tahun ganjil mempertandingkan nomor perorangan. Sedangkan kelas Taruna U-19, setiap tahunnya akan melangsungkan nomor perorangan. Selain terbagi menjadi menjadi dua kelompok usia (KU), Kejurnas ini terdiri dua divisi, yakni Divisi Satu dan Divisi Dua. Tiga ketentuan peserta yang masuk ke Divisi Satu adalah klub bulutangkis yang memiliki kontribusi besar mengirim atletnya ke Pelatnas PBSI. Ketentuan lain, yakni atlet atau klub, yang sanggup memberi gelar juara satu dan dua, pada Kejurnas tahun sebelumnya. Dan syarat terakhir, atlet tunggal dan ganda yang berada di ranking 30 besar, dihitung dari satu bulan sebelum Kejurnas. Klub-klub bulu tangkis yang masuk Divisi Satu, adalah Jaya Raya Jakarta, Djarum Kudus, Mutiara Cardinal Bandung, SGS PLN Bandung, Exist Jakarta, Berkat Abadi Banjar Baru, dan PBAD Bandung. Sedangkan kategori perorangan taruna, atlet yang masuk Divisi I adalah atlet-atlet dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kemudian, pertandingan beregu campuran dewasa Divisi Dua, akan mempertandingkan sembilan klub bulu tangkis yaitu Banda Baru Batam, Menang Kalah Sehat Singaraja, Elang Yogyakarta, Tunas Jaya Kasturi Jambi, Kamajaya Merangin, Sentra Banjarmasin, Jaya Raya Satria Sleman, PBSI Pangkalpinang, dan Icli Gowata Sungguminasa. Juara kategori taruna dan Divisi Satu di ajang ini, berhak magang di Pelatnas Cipayung selama enam bulan. “Hanya juara yang boleh magang di Pelatnas PBSI. Sekaligus memantau bibit potensial dan menilai kelayakan kandidat untuk bergabung di Pelatnas,” terang Susy Susanti, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI. “Pasti ada proses dari pengumpulan poin dari hasil prestasi selama setahun, yang puncaknya adalah di Kejurnas ini. Juara kelompok Taruna Divisi Satu bisa dipastikan lolos ke Pelatnas dan dinilai lebih lanjut dari semua kriteria. Baik fisik, teknik, karakter, disiplin, maupun daya juang,” tambah istri Alan Budikusuma itu. Disisi lain, Ahmad Budiharto, Ketua Panitia Pelaksana Kejurnas PBSI 2018, berharap gelaran ini dapat berjalan lancar dan sukses. “Klub yang bertanding bisa bersaing untuk meraih gelar juara, dan pecinta bulutangkis bisa menyaksikan pertandingan kelas dunia di Kejurnas 2018 ini,” tukas Sekretaris Jenderal (Sekjen) PP PBSI itu. Sementara itu, untuk harga tiket pertandingan Kejurnas PBSI 2018 di Britama Arena pada 18-20 Desember adalah Rp 50 ribu. Sedangkan harga tiket pada 21-22 Desember sebesar Rp 75 ribu untuk kelas reguler dan Rp 150 ribu untuk kelas VIP. (Adt)

Jakarta Garuda, Klub ‘Milenial’ Bentukan PBVSI Diisi Pemain Usia Belasan Tahun

Tim Jakarta Garuda dibentuk oleh PP PBVSI untuk tampil bertanding di perhelatan Proliga 2019. Tim yang disesaki pemain berusia 16-20 tahun, disiapkan tampil di Asian Games 2022 di Hangzhou, Zhejiang, Tiongkok. (pbvsi.or.id)

Gresik- Dua klub baru di sektor putra menghiasi perhelatan Proliga 2019, Sidoarjo Aneka Gas dan Jakarta Garuda. Kedua tim sama-sama bermaterikan pemain muda. Aneka Gas adalah klub yang berafiliasi dengan Samator. Klub yang dibentuk menjelang Proliga 2019 itu, merupakan ‘saudara muda’ tim Surabaya Bhayangkara Samator. Pemain Aneka Gas juga berisikan pemain usia muda dan pelapis Samator. Sementara, Jakarta Garuda punya latar belakang yang berbeda. Meski disesaki pemain berusia 16-20 tahun, namun, Garuda dibentuk oleh PP PBVSI. Direktur Proliga, Hanny S. Surkatty, menuturkan klub itu didirikan untuk mencari bibit pemain muda. “Kami menyiapkan pemain masa depan, untuk menghuni timnas putra. Kami mencari dari berbagai daerah lewat Livoli, atau kejuaran junior antar-klub. Hampir semua pemainnya berusia belasan stahun,” kata Hanny yang juga menjabat Ketua V Bidang Kompetisi dan Pertandingan PP PBVSI itu, dikutip Bola.com, pada Sabtu (15/12). Para pemain Garuda diambil dari beberapa klub lokal di berbagai daerah. Mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta semuanya ada. Selain seleksi, sistem pemilihan pemain juga berdasarkan rekomendasi klub lokal. Mayoritas pemain Jakarta Garuda belum berpengalaman. Dari 14 pemain, hanya dua yang berusia di atas 20 tahun. Keduanya adalah kapten Mahendra Rikha Buana, setter asal PBV AU itu (31 tahun) dan pemain asing asal Malaysia, Sim Jian Qin (23 tahun). “Tujuan utama Jakarta Garuda adalah melakukan pembinaan pemain muda. Fenonema di klub Proliga itu menjadikan pemain muda sebagai cadangan. Tapi di sini, mereka jadi pemain utama,” imbuh Hanny. Disisi lain, Manajer tim Jakarta Garuda, Reginald Nelwan menargetkan, tim hasil bentukan selama dua bulan sejak Asian Games 2018 bisa menembus babak final four. Selama dua bulan itu, PBVSI melakukan penyaringan dan mengolah tim berisikan kumpulan pemain dari 8 klub berbeda. “Harapannya anak-anak muda ini bisa main lepas dan menimba pengalaman, karena di usia mereka ini, sangat sulit mendapatkan jam terbang di klub lamanya. Kami incarnya bisa masuk final four,” ujar pria yang disapa Regi ini. Sejauh ini, Garuda memang belum berbicara banyak di Proliga 2019. Mereka sudah dua kali bertanding, melawan finalis musim lalu, yaitu Surabaya Bhayangkara Samator dan Palembang Bank Sumsel Babel. Hasilnya Garuda selalu kalah. Meski kalah, klub arahan Eko Waluyo itu berusaha tampil maksimal dan sempat menyulitkan lawan. Saat menghadapi Bank Sumsel, mereka memaksa pertandingan dimainkan sampai lima set. Sayangnya, Garuda kalah 2-3 dari runner-up dua musim terakhir itu. Melawan Samator, Garuda sudah terlihat akan kalah, lantaran takluk pada dua set pertama. Namun, di set ketiga mereka berhasil bangkit dan unggul. Lagi-lagi, mereka menyerah 1-3 dari sang juara bertahan. Kendati demikian, Garuda menunjukkan permainan yang apik dan bisa memberikan kejutan di Proliga 2019. Regi pun optimis tim tersebut bisa melaju lebih jauh. “Kalau sudah begini, saya pikir kami bisa menarget final four pada musim ini. Saya pikir itu target yang realistis. Tapi, kalau untuk melaju ke final sepertinya sulit. Kami juga tahu diri,” ucap Regi, yang juga Wakil Ketua V Ketua V Bidang Kompetisi dan Pertandingan PP PBVSI itu. Rencananya, skuad Jakarta Garuda akan dipersiapkan untuk menyongsong ajang Asian Games 2022 di Hangzhou, Zhejiang, Tiongkok. “Dengan waktu empat tahun, mereka sudah cukup untuk matang untuk berlaga di Asian Games 2022,” terang Hanny. Lantas, apakah PP PBVSI juga punya rencana mendirikan klub putri juga? Hanny menyatakan pembentukan tim putri sudah masuk agenda. “Ada sedikit perbedaan antara pevoli putra dan putri. Kalau putra, stoknya banyak dan kami bisa mencari dengan mudah. Mulai dari tarkam sampai klub pembinaan pun ada,” ucap Hanny. “Lain halnya dengan pevoli putri. Stoknya sedikit dan tak banyak klub yang memilikinya. Makanya, kami harus bekerja ekstra dan lebih keras untuk mengumpulkan itu. Mudah-mudahan, tahun depan kami bisa membentuk klub putri itu,” pungkasnya. (Adt)

Indonesia dan Malaysia Bawa Pulang Dua Gelar, Leo/Indah Kampiun Bangladesh International Challenge 2018

Mimpi meraih gelar di kejuaraan bulutangkis Bangladesh International Challenge (BIC) tuntas diwujudkan duet campuran, Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil, usai menang straght game dari unggulan dua asal Malaysia, Hoo Pang Ron/Cheah Yee See, dengan skor 21-16, 21-15. (thejakartapost.com)

Dhaka- Mimpi meraih gelar di kejuaraan bulutangkis Bangladesh International Challenge (BIC) tuntas diwujudkan duet Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil. Berlaga di partai final ganda campuran, pada Sabtu (15/12), di Shaheed Tadjuddin Ahmed Indoor Stadium, Dhaka, Bangladesh. Tampil selama 38 menit, mereka sukses mengandaskan unggulan dua, Hoo Pang Ron/Cheah Yee See asal Malaysia. Atlet muda Merah Putih pemegang gelar juara dunia junior 2018, menang straght game dengan skor 21-16, 21-15. Penampilan Leo/Indah di turnamen berhadiah total 25 ribu dollar Amerika Serikat (AS) itu sangat gemilang. Sebelumnya, mereka menyudahi dua dobel unggulan, yakni Georges Julien Paul/Aurelie Marie Elisa Allet (2) asal Mauritius, di fase 16 besar (21-5, 21-7), dan wakil India unggulan satu, Venkat Gaurav Prasad/Juhi Dewangan (21-19, 21-13). Usai laga, Indah dan Leo mengaku senang dan tak menyangka membawa pulang gelar juara dari Bangladesh. “Jika masuk final, saya targetnya ingin juara. Alhamdulillah bisa mencapai target itu,” ujar Indah, dikutip situs resmi PB Djarum, pada Sabtu (15/12). Pebulutangkis 16 tahun itu, mengaku jika start yang bagus menjadi kunci kemenangan di final. Selain itu, lanjut Indah, dirinya dan Leo memiliki inisiatif untuk memegang poin lebih dahulu. “Mainnya harus nyerang, karena lawan juga bola serangannya bagus, jadi kami tak mau kalah,” jelasnya. Hasil positif ini jadi modal berharga bagi mereka guna menghadapi turnamen berikutnya. “Semoga bisa mempertahankan gelar di turnamen-turnamen berikutnya. Karena mempertahankan itu lebih sulit daripada meraih,” cetus Indah. Di sektor ganda putra, Indonesia juga sukses meraih gelar. Leo yang berpasangan dengan Daniel Marthin tampil perkasa di partai pamungkas, di venue yang sama, Dobel Merah Putih yang menempati ranking 241 itu, unggul straight game dari Supak Jomkoh/Wachirawit Sothon (Thailand), dengan skor 21-16, 21-11, dalam tempo 39 menit. Sayang, tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani (7) gagal mengikuti jejak rekannya di ajang ini. Pemain besutan PB Exist itu takluk di tangan wakil Vietnam Thuy Linh Nguyen, unggulan satu, dalam pertarungan dua gim langsung. Dara kelahiran Jakarta, 20 Juli 2002 itu, kalah dengan skor 18-21, 19-21, pada pertandingan yang memakan waktu selama 40 menit. Serupa dengan Indonesia, Negeri Jiran Malaysia juga berhasil membawa pulang dua gelar, masing-masing dari sektor tunggal putra dan ganda putri. Teck Zhi Seo, tunggal putra unggulan enam itu menghentikan wakil Vietnam, Cao Cuong Pham, unggulan satu, straight game, dengan skor 21-17, 21-17 (31 menit). Dan, ganda putri, Vivian Hoo/Yap Cheng Wen, unggulan satu, hanya butuh 30 menit melibas unggulan dua, Aparna Balan/Sruthi K.P asal India, straight game, dengan skor 21-14, 21-13. (Adt)

Taklukan Unggulan Satu, Juara Dunia Junior 2018 Leo/Indah Kunci Tiket Final Bangladesh International Challenge

Duet Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil, menghadirkan kejutan usai mengalahkan unggulan satu asal India, Venkat Gaurav Prasad/Juhi Dewangan, straight game, 21-19, 21-13, di semifinal Bangladesh International Challenge 2018, pada Jumat (14/12). (PB Djarum)

Dhaka- Duet Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil secara mengejutkan menaklukkan unggulan satu asal India, Venkat Gaurav Prasad/Juhi Dewangan, di babak semifinal kejuaraan bulutangkis level junior, Bangladesh International Challenge (BIC) 2018, pada Jumat (14/12). Melakoni laga di Shaheed Tadjuddin Ahmed Indoor Stadium, Dhaka, Bangladesh, peraih gelar juara dunia junior 2018 di Kanada itu, tanpa kesulitan menghentikan perlawanan Venkat/Juhi, dalam waktu 28 menit, straight game, dengan skor 21-19, 21-13. Indah mengungkapkan bila dirinya dan kolega menerapkan strategi yang berbeda dari pertandingan sebelumnya pada laga ini. “Mainnya harus sabar. Tadi lawannya berbeda dari lawan yang sebelumnya, polanya juga beda, jadi harus rubah mainnya tak seperti kemarin,” ujar Indah, usai laga dikutip situs resmi PB Djarum, pada Jumat (14/12). “Pokoknya tetap fokus jangan sampai lengah, pointnya dipegang terus jangan sampai ketinggalan,” tambah pemain kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 16 Maret, 16 tahun silam itu. Kendati telah mengunci tiket final, namun Indah mengakui bila dirinya dan Leo, masih belum puas dengan hasil positif yang diraihnya ini. Pemain besutan PB Djarum Kudus itu berharap bisa naik podium dan meraih gelar juara di turnamen berhadiah total 25 ribu dollar Amerika Serikat (AS) itu. “Belum puas, dan nggak boleh cepat puas, masih pingin juara,” cetusnya. Namun, untuk bisa mewujudkan mimpinya itu bukan perkara mudah bagi Leo/Indah. Sebab, mereka harus bisa menjegal dobel Malaysia Joo Pang Ron/Cheah Yee See, di partai pamungkas, pada Sabtu (15/12). “Lawan di final lumayan kuat. Saya sama Leo harus lebih siap dari mereka, soalnya belum pernah ketemu. Jadi, kami sama-sama tidak tahu mainnya gimana,” tukas Indah. Sementara di sektor ganda putra, Leo yang berpasangan dengan Daniel Marthin, kembali mengukir kejutan dan lolos ke final. Bersama Daniel, pemuda kelahiran Klaten, 29 Juli 2001 ini menekuk dobel gado-gado unggulan dua, Kona Tarun/Lim Khim Wah (India/Malaysia), dalam drama tiga gim, dengan skor 17-21, 21-14, 21-8, selama 64 menit. Di final, Leo/Marthin akan beradu taktik dan strategi di lapangan kontra wakil Thailand, Supak Jomkoh/Wachirawit Sothon. Hasil positif juga didapat dari sektor tunggal putri. Putri Kusuma Wardani, unggulan tujuh, berhasil menjejak ke partai puncak. Dara kelahiran Jakarta, 20 Juli 2002 ini, melibas kompatriotnya, Yasnita Enggira Setiawan, straight game, dengan skor 21-8, 21-19. Perang saudara itu menelan waktu 43 menit. Di final, pemain besutan PB Exist Jakarta itu, akan menantang Thuy Linh Nguyen, unggulan satu asal Vietnam. (Adt)

Jelang Tampil di Bangkok, Atlet Tenis PPLPD Muba Rebut Juara 1 dan 2 Junior Master U-16

Atlet tenis binaan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Jones Pratama (kiri), Merliana Mona Rizki (tengah), dan Indah Septiani, meraih prestasi tingkat nasional, pada ajang Junior Master Nasional U-16, di Lapangan Tenis Hotel Sultan, Jakarta, pada Minggu (9/12). (halosumsel.com)

Jakarta- Atlet tenis binaan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, merebut juara tingkat nasional pada ajang Junior Master Nasional U-16. Jones Pratama, yang berasal dari PPLPD Muba, sukses menekuk atlet asal Jawa Tengah, Reza Pahlevi, di partai final. Tampil di Lapangan Tenis Hotel Sultan, Jakarta, pada Minggu (9/12), Jones unggul dari Reza dengan skor 7-6, 6-3. Sementara atlet PPLPD putri, Indah Septiani Putri, meraih gelar runner up, usai di laga puncak harus mengakui Nadya Dhaneswara, asal Jawa Tengah, dua set langsung 2-6, 3-6. Sedangkan Merliana Mona Rizki, yang juga mewakili Muba, ada di peringkat IV, kalah dari petenis putri asal Tegal, Jawa Tengah, Yunizar Lusida Putri. “Alhamdulillah, dua atlet binaan PPLPD Muba cabor tenis di tingkat nasional, mendapatkan juara 1 dan 2,” ujar Suwandi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkab Muba. “Ini bukti, proses pembinaan dan fasilitas penunjang olahraga di Muba, serta komitmen pak Bupati, mampu mencetak atlet-atlet berkualitas,” ujar Suwandi. Usai tampil di Jakarta, mereka akan melanjutkan ke Seri Bandung. Pada awal 2019, Jones, Mona dan Indah, akan mewakili Indonesia dalam turnamen Master U15, di Bangkok, Thailand. Sementara itu, Bupati Muba, Dodi Reza Alex Noerdin mengapresiasi prestasi atlet tenis asal Muba. “Jangan cepat puas, kejar terus prestasi dengan sportif,” tambahnya. Penggerak dan Pembina Olahraga Terbaik se-Indonesia ini bertekad terus mencetak atlet berprestasi, di tingkat nasional maupun internasional. “Terus pacu prestasi dan kembangkan potensi diri serta selalu membanggakan daerah Muba tercinta,” tukasnya. turnamen Tenis Fix Open di Bandung pada 16-22 Desember nanti. Usai pertandingan, Jones dan Indah mengaku sangat senang dengan peraihan yang diperoleh di ajang junior ini. Mereka mengucapkan terima kasih kepada support yang selalu diberikan Dodi sebagai Bupati Muba. “Kami ucapkan terima kasih dengan pak Bupati, yang selalu memberikan support, dan juga menyediakan sarana prasarana lengkap serta berstandar internasional sehingga memudahkan untuk berlatih,” pungkas mereka. Sebelumnya, petenis cilik putra asal Muba, Jackquilyn Zavio Audrey Yoza, terpilih mengikuti TC Pelatnas Indonesiaku untuk usia 12, di Magelang, Jawa Tengah, pada 1-6 Desember lalu. Boca kelahiran 21 Januari 2008 ini, akan mewakili Indonesia, dalam Turnamen Junior Tenis U12, di Bangkok, Thailand, pada awal 2019. (Adt)

Pantau Pemain Berbakat di Astec Open Championship 2018, Susy Susanti : Ini Bibit Pelatnas !

Tunggal putri PB Exist Jakarta, Irgi Apprilia Hizkia Rifa Putri, menjuarai Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018, usai menekuk Gracia Ruth Tri Kusumastuti Sanyoto (Daihatsu Candra Wijaya), 21-10, 21-10. (topskor.co.id)

Jakarta- Kejuaraan Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018 memasuki fase puncak. Ajang ini berlangsung sejak 3 Desember, mencapai final pada Sabtu (8/12), di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. Kejuaraan ini menghasilkan pemain berbakat yang berpotensi disumbangkan ke pelatnas. Dalam gelaran tahun ini terlihat banyak pemain potensial. Salah satunya adalah Briliandri Christianto dari Exist Jakarta yang keluar sebagai tunggal putra kelompok taruna. Di final, Briliandri unggul dari Damas Mawardi Putra dari (Candra Wijaya Jayabaya). Skor pertandingan selesai dengan 19-21, 21-10, 21-6. “Saya ingin masuk pelatnas di Cipayung. Itu impian saya sejak kecil,” kata pemuda yang pada 2 Januari nanti genap berusia 17 tahun. Brili adalah kampiun Daihatsu Astec seri Bandung. Lalu ada Irgi Apprilia Hizkia Rifa Putri. Pemain jangkung kelahiran Jakarta 30 Maret 2003, yang membela PB Exist ini, tampil sebagai yang terbaik. Di final tunggal putri remaja putri, Irgi mengalahkan Gracia Ruth Tri Kusumastuti Sanyoto (Daihatsu Candra Wijaya), 21-10, 21-10. “Saya bercita-cita jadi juara dunia. Makanya saya ingin bisa masuk pelatnas,” tutur Irgi. Pada 2017 di event yang sama, Irgi juga menjadi kampiun di nomor ini. Kemudian ganda berbakat di kelompok taruna putra, Maulana Chrissandi/Viorel Joan Fernando menjadi juara. Wakil dari Jaya Raya ini, menghentikan Ali Akbar/Dimas Satria Aji (Daihatsu Candra Wijaya), 21-10, 21-17. Bakat menonjol pun diperlihatkan Hendry Leander, di tunggal anak-anak putra. Pemain binaan Djarum Kudus ini, di final mengalahkan rekan satu klub, yaitu M. Afiq Dzakwan, 18-21, 21-17, 21-12. Ketua panitia Susy Susanti mengatakan, kejuaraan yang didukung Daihatsu ini, diharapkan lahir bibit pemain potensial. Apalagi tahun ini kejuaraan ini digelar di 10 kota besar di Tanah Air. “Turnamen ini digunakan sebagai ajang pembinaan dan penyaringan atlet berbakat guna disumbangkan bagi timnas Indonesia. Semua kami lakukan untuk mengembalikan kejayaan prestasi bulutangkis Indonesia,” kata Susy yang juga Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI. Sementara Tetsuo Miura, President Director PT Astra Daihatsu Motor, mengatakan pihaknya sangat bangga turut terlibat dalam event pembinaan bulutangkis di Indonesia. Itu karena bulutangkis merupakan cabang berprestasi. “Kami berharap dari turnamen Daihatsu Astec Open ini, dapat menjaring dan memunculkan generasi baru atlet bulutangkis Indonesia yang nantinya dapat berkontribusi pada kejayaan bulutangkis nasional hingga ke kancah internasional,” kata Miura. Dan rencananya, turnamen ini mendapat perhatian PB PBSI dengan menaikkan level penyelenggaraannya. PBSI segera menaikkan level Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship menjadi Sirkuit Nasional B, di tingkat regional dan Swasta Nasional, di Jakarta. Kenaikan status turnamen yang merupakan kolaborasi Daihatsu dengan Alan & Susy Technology (ASTEC) menjadi Sirkuit Nasional (Sirnas) B ini, berarti makin membuka peluang bagi para pemain untuk mengikuti seleksi Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas). Event ini digelar secara serial di 10 kota besar di Indonesia yang berlangsung sejak Februari hingga Desember 2018. Penyisihan tingkat regional dilakukan di Bandung, Denpasar, Makassar, Yogyakarta, Pontianak, Batam, Padang, Banjarmasin, Manado dan berakhir di grand final di Jakarta pada 3-8 Desember. Grand final dihelat di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. Antusiasme atlet mengikuti turnamen ini sangat besar dengan membukukan jumlah peserta mencapai 7.050 pemain dari 10 kota penyelenggara. Tak hanya peserta lokal, turnamen ini juga diikuti pemain dari Malaysia, Jepang, Prancis dan Inggris. Turnamen yang memasuki edisi ketiga ini dibagi menjadi tujuh kategori berdasarkan umur dari U-11, U-13, U-15, U-17, dan U-19. Selain laga, di setiap penyelenggaraan di daerah dilakukan coaching clinic yang melibatkan Susy dan Alan Budikusuma, pasangan peraih emas Olimpiade Barcelona. (Adt)

Singkirkan Pembuat Kejutan, Gracia Ruth Kantongi Tiket Final Astec Open Championship 2018

Pebulutangkis tunggal remaja putri dari tim Daihatsu Candra Wijaya, Gracia Ruth Tri Kusumastuti Sanyoto (kaos biru) melaju ke final Astec Open Badminton Championship 2018. Ia menang atas Alivia Nadifah Salma (Mutiara Cardinal Bandung), rubber game, 21-14, 17-21, 22-20, di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (7/12). (Adt/NYSN)

Jakarta- Pertarungan ketat tersaji pada semifinal Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018, di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (7/12). Tunggal remaja putri asal Daihatsu Candra Wijaya, Gracia Ruth Tri Kusumastuti Sanyoto, sukses mengantongi tiket final. Gracia menyingkirkan wakil Mutiara Cardinal Bandung, Alivia Nadifah Salma, dalam drama pertarungan melelahkan tiga gim. Melakoni laga empat besar, Gracia sempat meraih kemenangan di gim pertama dengan skor 21-14. Namun, Gracia harus menyerah di gim kedua akibat kelelahan yang membuatnya kehilangan fokus dalam bermain. Alhasil, ia harus melepas gim ini dengan skor 17-21. “Di gim kedua, capek banget, jadi nggak fokus mainnya,” ujar Gracia usai laga. Di awal gim ketiga, Gracia justru seolah sulit berkembang. Akibatnya, Salma yang membuat kejuatan usai menyingkirkan dua pemain unggulan ini, dengan mudah memundi poin demi poin. Namun, seolah tak ingin membuang kesempatan, Gracia pun berusaha fight dan ngotot. Tertinggal 17-20 dari Salma, siswi SMAN 10 Tangerang Selatan ini perlahan mengejar defisit poin. Kesalahan demi kesalahan Salma, memberi keuntungan dara kelahiran Sidoarjo, 29 Desember 2002, hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Dan bola pengembalian Salma yang melebar ke sisi kiri garis pertahanan Gracia, memastikan anak didik Gesti Prayitno itu mengunci laga dengan skor 22-20, sekaligus mengantongi tiket final. “Di gim ketiga, main nahan dan safe. Mikirnya harus fokus sama pertandingan. Lawan juga kewalahan kalau bolanya di cepat,” tukas Gracia. Sementara itu, Gesti mengaku bila anak didiknya tersebut tampil di bawah performa, akibat kondisi fisiknya yang menurun. “Tadi mainnya tinggal mau nahan atau nggak saja. Pelan-pelan dan sabar bisa menambah poin. Apalagi lawan juga sering mati sendiri bolanya,” terang Gesti. “Di gim terakhir, saya bilang ke dia, ayo tahan, satu-satu dulu, karena posisinya sudah ketinggalan 17-20. Lawan juga nafsu mainnya, jadi sering melakukan kesalahan sendiri,” cetusnya. Menghadap laga final, Gesti berpesan agar anak didiknya itu bermain sebaik mungkin. “Recovery fisiknya juga harus cepat, dan main all out. Seharusnya dia bisa juara, karena lawannya pernah dikalahkan saat Superliga Junior 2018 lalu,” tegas Gesti. Di final, Sabtu (8/12), Gracia akan menantang pemain unggulan tiga, Irgi Apprilla Hizkia Rifa Putri, asal PB Exist Jakarta. Irgi menghentikan lajur rekan satu klubnya, Imtiyaz Yasmin (8), rubber game, dengan skor 23-25, 21-10, 21-10, selama 59 menit. “Karena pingin banget masuk final, yang penting main bagus. Untuk besok (Sabtu, 8/12), saya akan kurangi kesalahan sendiri dan harus lebih fokus lagi,” tegas Irgi. (Adt)

Dramatis, Tunggal Putri 19 Tahun Asal Solo Naik Ranking 14 Dunia Dan Kandidat BWF Player of The Year 2018

Tunggal putri masa depan Indonesia yang berusia 19 tahun, Gregoria Mariska Tunjung, mencetak sejarah. Jorji, sapaannya, baru saja naik ke ranking 14 dunia. Dan menjadi nominator BWF Player of The Year 2018, dalam kategori Eddy Choong Most Promising Player of the Year, atau pemain yang paling menjanjikan di masa depan. (Pras/NYSN)

Jakarta- Kabar gembira untuk pecinta badminton tanah air, tunggal putri masa depan Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, mencetak sejarah baru kariernya. Ia baru saja naik ke ranking 14 dunia. Jorji, sapaan Gregoria, naik 1 peringkat, dari sebelumnya bercokol di ranking 15 dunia. Hal itu didapat dari daftar ranking terbaru yang disiarkan Federasi Badminton Dunia atau BWF, pada Jumat (6/12). Lonjakan ranking dunia Jorji ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya kejadian dramatis, tumbangnya juara dunia junior 2015 dan 2016, Gao Fangjie, lantaran cedera parah di akhir musim turnamen 2018. Ranking pemain kelahiran Nanjing, China, 29 September 1998 ini merosot drastis, usai absen di sejumlah turnamen premium. Pekan lalu, dia masih memegang ranking 13 dunia, dengan poin 74.679. Namun, di pekan 49 ini, poinnya anjlok hingga menjadi 54.076. Ia harus rela posisinya direbut wakil Thailand, Nitchaon Jindapol. Sebelumnya, tunggal putri kelahiran Phuket, Thailand, 31 Maret 1997 ini, terus membayangi Gao di ranking 14 dunia. Selain kehilangan peringkat 13 dunia, Gao terlempar ke ranking 15. Karena itulah, secara otomatis peringkat Jorji terkerek ke ranking 14 dunia. Meski raihan poinnya masih bertahan di jumlah 51.440. Selain itu, bersama Apriyani Rahayu, Jorji masuk dalam nominasi BWF Player Of The Year 2018. Untuk diketahui, malam penganugerahan yang akan dihelat pada Senin (10/12) sebelum bergulirnya World Tour Finals 2018 terdiri dari enam kategori. Para pemenang nantinya ditentukan langsung oleh BWF Awards Commission. Khusus untuk Apri (sapaan Apriyani) dan Jorji, mereka masuk dalam kategori Eddy Choong Most Promising Player of the Year, atau pemain yang paling menjanjikan di masa depan karena grafik performa mereka yang baik di tahun ini. Bersama Greysia Polii, Apri sudah mengoleksi dua medali emas BWF World Tour 2018 di India Terbuka 2018 dan Thailand Terbuka 2018, medali perunggu Asian Games 2018, dan medali perunggu Kejuaraan Dunia 2018. Bagi Apri, ini merupakan tahun keduanya mendapat nominasi tersebut. “Tahun lalu saya belum bisa menang. Semoga tahun ini bisa menang. Perasaannya masuk nominasi tentu senang karena ada yang mengapresiasi saya, semoga menambah motivasi saya agar dapat prestasi lebih baik lagi,” kata Apri, Jumat (7/12). Sementara itu, walau tak meraih satu gelar pun di BWF World Tour 2018, Jorji layak masuk nominasi ini. Mengawali tahun seniornya, penampilan dara kelahiran Wonogori, Solo, 11 Agustus 1999 ini, terus berkembang. Ia sudah bertengger di rangking top 15 dunia, dan mulai membuat para pemain top dunia kesulitan. Selain Apri dan Jorji, wakil lain yang juga masuk nominasi sebagai pemain terbaik adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Anthony Sinisuka Ginting. The Minions masuk nominasi sebagai atlet putra terbaik, sementara Ginting masuk dalam daftar nama atlet paling berkembang di tahun ini. Nominasi juga diberikan kepada atlet para bulu tangkis, Leani Ratri Oktila, yang merupakan peraih medali emas Asian Para Games 2018 untuk kategori ganda putri SL3-SU5 dan ganda campuran SL3-SU5. (Adt) Daftar lengkap Nominasi BWF Player of The Year 2018 – Male Player of the Year : • Kento Momota (Men’s Singles, Japan) • Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuldo (Men’s Doubles, Indonesia) • Zheng Siwei (Mixed Doubles, China) – Female Player of the Year: • Tai Tzu Ying (Women’s Singles, Taipei) • Huang Yaqiong (Mixed Doubles, China) • Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Women’s Doubles, Japan) – Eddy Choong Most Promising Player of the Year : • Apriyani Rahayu (Women’s Doubles, Indonesia) • He Jiting (Men’s Doubles & Mixed Doubles, China) • Han Chengkai/Zhou Haodong (Men’s Doubles, China) • Gregoria Mariska Tunjung (Women’s Singles, Indonesia) • Goh Jin Wei (Women’s Singles, Malaysia) – Male Para-badminton Player of the Year : • Lucas Mazur (France) • Cheah Liek Hou (Malaysia) • Jack Shephard (England) – Female Para-badminton Player of the Year : • Sujirat Pookkham (Thailand) • Yuma Yamazaki (Japan) • Leani Ratri Oktila (Indonesia) – Most Improved Player of the Year : • Seo Seong Jae (Men’s Doubles & Mixed Doubles, Korea) • Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Women’s Doubles, Japan) • Satwiksairaj Rankireddy/Chiraj Shetty (Men’s Doubles, India) • He Jiting (Men’s Doubles & Mixed Doubles, China) • Anthony Sinisuka Ginting (Men’s Singles, Indonesia)

Tumbangkan Unggulan Dua Ellena Manaby, Langkah Alivia Mulus Ke Semifinal Astec Open Jakarta 2018

Tunggal remaja putri unggulan dua, Ellena Manaby Yullyana asal PB Djarum Kudus, harus takluk dari pemain non unggulan, Alivia Nadifah Salma (PB Mutiara Cardinal Bandung), dalam laga rubber game, 21-15, 16-21, 21-19, di perempat final Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018 Jakarta, pada Kamis (6/12), di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. (PB Djarum)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal remaja putri PB Djarum Kudus, Ellena Manaby Yullyana, harus mengubur impian naik podium pada kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018. Langkah Ellena, unggulan dua, terhenti di perempat final, pada Kamis (6/12), dalam pertarungan tiga gim, dengan skor 21-15, 16-21, 21-19, dalam tempo 25 menit, atas Alivia Nadifah Salma, pemain non unggulan asal PB Mutiara Cardinal Bandung, di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. “Saya ingin naik podium. Tapi memang target awal adalah perempat final,” ujar Ellena sebelum berjumpa dengan Salma, sapaan Alivia. Sayang langkah juara tunggal putri U-15 di Jaya Raya Indonesia Junior Grand Prix 2018 ini, akhirnya kandas. Pada ajang kelas pemula, Ellena ssebetulnya udah dua kali melangkah hingga masuk ke babak perempat final nomor remaja ini. Pertama saat di ajang Astec Open Batam, dan yang kedua di Astec Open Jakarta ini. Sementara itu, Salma mengatakan bila sejak awal dirinya menargetkan bisa lolos ke babak delapan besar. “Alhamdulillah bisa sampai disini. Ya, step by step dulu. Pasti makin percaya diri karena bisa mengalahkan unggulan. Mental harus lebih siap lagi di laga berikutnya,” ujarnya usai laga. Di semifinal, Jumat (7/12), Salma akan berjumpa dengan Gracia Ruth Kusumastuti Sanyoto, asal klub Daihatsu Candra Wijaya. Ruth sukses memenangi duel atas Dwi Maharani (Eng Hian Badminton Academy), rubber game, dengan skor 23-21, 17-21, 22-20, dalam pertandingan selama 65 menit. “Persiapan lebih maksimal lagi, dan harus optimis. Siapapun lawan harus dihadapi,” cetus remaja putri kelahiran Yogyakarta, 8 Februari 2003 itu. (Adt)

48 Tim Voli Remaja Jakarta Pusat Ramaikan Festival Olahraga Rakyat, Pantau Potensi Atlet Muda

Sebanyak 48 tim bola voli, bakal meramaikan persaingan untuk menjadi yang terbaik di ajang Festival Olahraga Rakyat Sepanjang Tahun (FORST) tingkat Kota Jakarta Pusat, pada 8-9 Desember 2018. (poskotanews.com)

Jakarta- Sebanyak 48 tim bola voli bakal meramaikan persaingan untuk menjadi yang terbaik di ajang Festival Olahraga Rakyat Sepanjang Tahun (FORST) tingkat Kota Jakarta Pusat, pada 8-9 Desember 2018. Nantinya, pada event itu akan mempertandingkan tiga kategori. Yakni, Kelompok Usia (KU) 7-13 tahun putra-putri, dan KU 14-16 tahun putra-putri, serta kategori KU 17-19 tahun. Tedi Cahyono, selaku Kepala Suku Dinas Pemuda dan Olahraga Jakarta Pusat, mengatakan untuk KU 7-13 tahun, akan mengambil tempat pelaksanaan di SMA PSKD 1 Jakarta. “Kalau KU 14-16 dan 17-19 putra-putri, pertandingan dilaksanakan di GOR Senen,” ujar Tedi, di Jakarta, pada Kamis (6/12). Lanjut Tedi, pelaksanaan Festival Olahraga Rakyat Sepanjang Tahun ini merupakan event positif, guna melihat potensi atlet muda. “Pembibitan atlet harus dilakukan sejak dini. Tentu saja sesuai tingkatan kelompok usia, dan berjenjang,” tambahnya. Para pemenang akan mendapatkan apresiasi berupa uang pembinaan. Juara pertama mendapat Rp 4 juta, sedangkan juara dua memperoleh Rp 3,5 juta, dan juara tiga menerima Rp 3 juta. “Nantinya yang menjadi juara, mereka berhak mewakili Jakarta Pusat, berlaga di tingkat Provinsi DKI Jakarta pada 18-20 Desember ini,” tukas Tedi. Event ini merupakan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang dilakukan dari tingkat RT hingga Provinsi. FORST terselenggara dengan adanya Instruksi Gubernur Provinsi DKI Jakarta nomor 18 tahun 2018. Dan ajang FORST hanya boleh diikuti warga usia sekolah yakni setingkat SD (7 – 12 tahun), setingkat SMP (13-15 tahun), setingkat SMA (16-18 tahun). “Festival diselenggarakan secara berjenjang, dari mulai RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya dan Provinsi,” ujar Kepala Suku Dinas Olahraga Jakarta Timur, Eduward Situmeang, beberapa waktu lalu. Menurut Eduward, cabang olahraga yang dilombakan adalah, futsal, tenis meja dan bola voli. Pelaksanaannya digelar bergantian per cabang olahraga. FORST yang diselenggarakanSuku Dinas Olahraga DKI Jakarta ini, dimulai dari cabang futsal, sejak bulan Januari sampai Maret. Selanjutnya, penyelenggaraan dua cabang lainnya, sampai akhir tahun ini. (Adt)

Kejutan, Pebulutangkis Remaja Alivia Nadifah Taklukan Unggulan di Astec Open Championship 2018

Alivia Nadifah Salma (Mutiara Cardinal Bandung/kanan), berhasil membuat kejutan, di babak 16 Besar kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018, pada Rabu (5/12). Ia mengalahkan unggulan tujuh, Siti Sarah Azzahra (PB Exist Jakarta), dalam laga rubber game, 21-19, 19-21, 21-18. (Adt/NYSN)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal remaja putri, Alivia Nadifah Salma, menghadirkan kejutan di babak ketiga (16 besar), kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018, pada Rabu (5/12). Wakil Mutiara Cardinal Bandung itu menekuk Siti Sarah Azzahra asal PB Exist Jakarta, dalam drama tiga gim, dengan skor 21-19, 19-21, 21-18, dan mengantarkannya maju ke babak perempat final. Usai laga, Salma sapaanya, mengaku puas bisa menundukkan Sarah, yang merupakan unggulan tujuh di turnamen ini. “Pasti senang bisa menang. Sudah sering ketemu dan kalah terus, kalau lawan Sarah. Terakhir, di Sirnas (Sirkuit Nasional) Tasikmalaya, saya kalah straight game,” ujar Salma di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (5/12). Dara kelahiran Yogyakarta 8 Februari 2003 itu, mengaku tak ada instruksi khusus dari pelatih, mengingat dirinya berstatus non unggulan. “Pelatih bilang saya harus main maksimal. Menurut saya kelemahan lawan itu di backhand sama kurang power. Jadinya, saya kasih bola belakang, dan turunin bola baliknya,” ungkapnya. Menghadapi laga berikutnya, menurut Salma, persiapan yang dilakukan lebih pada mental. “Fokus ke mental. Karenamengalahkan unggulan pasti kepercayaan diri meningkat. Target bisa sampai 8 besar. Tapi step by step dulu,” tuturnya. Senada diungkap Sandi Darma Kusuma, Pelatih dari Mutiara Cardinal Bandung. Ia hanya menekankan kepada anak didiknya itu untuk bermain maksimal. “Saya hanya tekankan, supaya dia main maksimal dan semangat. Jangan jadi beban melawan unggulan. Apalagi kalah terus bila bertemu Sarah, jadi mainnya nothing to lose. Mungkin itu yang membuat Salma menang kali ini,” terang Sandi. Sandi menambahkan bila fisik menjadi fokus utama Salma menghadapi laga selanjutnya. “Evaluasi dari pertandingan tadi lebih pada fisik. Kalau dilihat tadi bolanya ada yang pelan dan cepat, sehingga butuh kesiapan fisik saat bermain di lapangan,” cetusnya. “Kalau soal kepercayaan diri pasti meningkat, apalagi sudah mengalahkan pemain unggulan. Memang tidak ada target khusus di turnamen ini untuk Salma, yang penting step by step dulu,” pungkasnya. (Adt)

Bhayangkara Samator dan Popsivo PGN Polwan Siap Tarung, Ingin Kawinkan Gelar Proliga 2019

Irjen. Pol. Drs. Refdi Andri. M.Si, Kepala Korps Lalu Lintas Polri (keenam dari kiri), berharap tim Bhayangkara Samator dan Popsivo PGN Polwan, dapat mengawinkan gelar Proliga 2019. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim bola voli Bhayangkara Samator dan Popsivo PGN Polwan siap mengarungi Proliga 2019, mulai 7 Desember 2018 dan berakhir pada 24 Februari 2019, di Gelanggang Olahraga (GOR) Amongrogo, Yogyakarta. Kedua tim secara resmi diperkenalkan ke publik, di Auditorium NTMC Korlantas Polri, Jakarta, pada Rabu (5/12). Bhayangkara Samator tetap diarsiteki Ibarsjah Djanu Tjahjono, dengan kapten tim Rendy Febriant Tamamilang. Sedangkan Popsivo PGN Polwan, bakal dilatih Chamnan Dokmai asal Thailand, dan Amalia Fajrina Nabila sebagai kapten tim. Irjen. Pol. Drs. Refdi Andri, Kepala Korps Lalu Lintas Polri, mengaku optimis kedua tim meraih hasil terbaik. “Hadirnya Samator dan PGN mendukung tim sangat luar biasa. Bagaimana tim berlatih, dan pembina mempersiapkan tim dengan baik. Kami optimis meraih hasil terbaik di Proliga 2019,” ujar Refdi yang sekaligus pembina tim. Ia meyakini materi pemain yang terdapat di Bhayangkara Samator dan Popsivo PGN Polwan sangat mumpuni. “Di putra dihuni pemain yang membawa Surabaya Bhayangkara Samator juara tahun lalu. Sedangkan di bagian putri diisi pemain Asian Games 2018. Jadi targetnya juara satu. Kami yakin bisa mengawinkan gelar Proliga 2019,” tegas Refdi. Popsivo memiliki lima pemain timnas yang ikut membela Indonesia di Asian Games 2018. Mereka adalah Amalia Fajrina Nabila, Berllian Marseilla, Arsela Nuari Purnama, Wilda Siti Nurfadilah dan dan Aprilia Santini Manganang. Kekuatan Popsivo juga ditopang dengan tosser impor asal Thailand dan Turki, Pornpun Guedoarp dan Yeliz Basa. Formasi yang tak kalah garang juga dimiliki Samator. Mereka juga memiliki lima pemain timnas, yakni Mahfud Cahyadi, Syamsul Kohar, Rendy Tamamilang, Nizar Zulfikar dan Rivan Mulki. Spiker dari Brasil Yosvani Gonzales, yang bergabung di musim ini, dinilai mampu membawa Samator mempertahankan gelar. Sementara itu, Kombes. Pol. Nanang Mashudi, Manajer Tim Bhayangkara Samator, berharap timnya memecahkan sejarah. “Sebagai juara bertahan, kami ingin juara lagi. Itu yang akan kita pecahkan. Hingga kini belum ada di Proliga, juara bertahan menjadi juara lagi tahun berikutnya. Mitos ini akan kita pecahkan,” jelas Nanang. Sementara itu, Aprilia Manganang, menegaskan dirinya dan kolega siap berlaga di Proliga 2019. “Semua pemain tim ini sangat bagus. Apalagi sebagian dari mereka merupakan pemain nasional. Saya ingin beri yang terbaik untuk juara tahun ini. Tahun kemarin sudah hampir juara, tapi gagal karena saya cedera,” tukas Manganang. Sampai saat ini Samator masih menyandang status sebagai peraih gelar juara terbanyak di Proliga dengan torehan enam gelar. Masing-masing diapatkan pada edisi 2004, saat masih bernama Surabaya Flame. Berikutnya, pada edisi 2007, 2009, 2014, 2016, dan 2018. Dari torehan itu, Samator mendapat kutukan belum pernah sekalipun membukukan catatan juara secara beruntun. Setiap kali berhasil menjadi kampiun, mereka selalu gagal mempertahankannya pada musim berikutnya. “Kalau di Livoli, kami sudah sering juara beruntun, bahkan pernah hattrick. Seperti Livoli edisi 2017 dan 2018 yang bisa beruntun. Makanya, kami berharap hasil Proliga sama seperti Livoli. Kalau Proliga 2019 bisa juara, kami bisa membuat sejarah sendiri,” ujar sang pelatih, Ibarsyah. Pada Proliga 2019, terdapat enam tim putra dan lima tim putri yang akan meramaikan persaingan kompetisi kasta tertinggi bola voli Tanah Air itu. Tim putra yakni Bhayangkara Samator, Palembang Bank SumselBabel, Jakarta Pertamina Energi, Jakarta BNI 46, Jakarta Garuda, dan Sidoarjo Aneka Gas Industri. Sedangkan tim putri yaitu Popsivo PGN Polwan, Jakarta Pertamina Energi, Bandung Bank bjb Pakuan, Jakarta BNI 46, dan Jakarta Elektrik PLN. Proliga 2019 dimulai lebih cepat pada musim ini. Grand final Proliga 2019 berlangsung selama dua hari. Hal ini dilakukan demi mengantisipasi membludaknya jumlah penonton. Samator saat ini merupakan poros utama dalam kompetisi bola voli di Indonesia. Mereka baru saja mencatatkan hattrick dalam tiga turnamen, yaitu Livoli 2017, Proliga 2018, dan terakhir Livoli 2018. (Adt)

Lolos Babak 32 Besar, Pebulutangkis 18 Tahun Asal Bali Bidik Gelar Juara ASTEC Open Championship 2018

Pemain tunggal taruna putra, I Gede Pasek Ekayana (kanan), asal PB Exist Jakarta, membidik gelar juara Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018. Ia lolos ke babak 32 besar usai menundukkan Dimas Setiawan, straight game, 21-12, 21-9, pada Selasa (4/12) di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. (Adt/NYSN)

Jakarta- Laju pemain tunggal taruna putra, I Gede Pasek Ekayana, belum terbendung pada kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Championship 2018. Eka, sapaannya, sukses menjegal wakil PB Bintang Solibad Indonesia, Dimas Setiawan, dua gim langsung, dengan skor 21-12, 21-9, dalam tempo 33 menit. Pada hari kedua pelaksanaan turnamen di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa (4/12), pebulutangkis besutan PB Exist Jakarta itu akhirnya berhasil melaju ke babak kedua (32 besar). “Gim pertama feeling masih belum dapat. Di babak pertama saya dapat bye, jadi sekalian nyoba lapangan, dan bolanya juga tadi agak sedikit lambat. Gim kedua masih sama polanya. Tapi, beruntung banget karena lawan sering mati sendiri bolanya. Dari situ saya tekan terus dan cepatin bolanya,” ujar Eka usai laga. Remaja kelahiran Denpasar, Bali, 12 April 2000 itu, menegaskan bila perjuangan makin berat memasuki babak 8 besar. “Di babak awal mungkin lawan bisa diatasi. Tapi, tantangan terberat itu kalau sudah masuk babak delapan besar. Apalagi kekuatan lawan sangat merata, ini yang membuat persaingan juga semakin ketat,” ungkapnya. Eka berharap dirinya bisa membawa pulang gelar juara di ajang Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018. “Saya ditargetin lolos semifinal. Secara pribadi ingin meraih gelar juara disini. Ini kesempatan membuktikan pada klub, yang banyak membantu saya sehingga seperti ini,” tukas alumni SMA Tunas Daud Denpasar, Bali itu. Pemain yang menempati unggulan delapan di turnamen ini bakal menghadapi tantangan wakil Daihatsu Candra Wijaya, Dean Bencha Wijaya, yang menang atas Figo Ar-Rauf (PB Larisa Jakarta), rubber game, dengan skor 12-21, 21-15, 21-19, dalam waktu 55 menit. (Adt)

Tembus Dominasi Korsel, Angelica Irena Terhenti di Final Ajang Soft Tennis Championships 2018

Angelica Irena Lontoh (21 th), satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke babak akhir The 4th Indonesia Soft Tennis Championships 2018, harus mengakui keunggulan atlet Korea Selatan, Jin Sua. Irena, sapaannya, takluk di nomor final tunggal putri dengan skor 2-4. (tribunnews.com)

Denpasar- Kubu tuan rumah terpaksa harus gigit jari dalam ajang The 4th Indonesia Soft Tennis Championships 2018, di Lapangan Tenis KONI Bali Denpasar, Minggu (2/12). Angelica Irena Lontoh, satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke babak akhir, harus mengakui keunggulan atlet Korea Selatan, Jin Sua. Irena, sapaannya, akhirnya takluk di nomor final tunggal putri 2-4. Usai dikalahkan, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Jakarta ini mengakui, dirinya memang kalah teknik dan strategi. “Kami akui, bila teknik Jin Sua lebih matang,” ujarnya. Pemain kelahiran Manado, 17 Oktober 1997 ini, menerankan, dirinya berawal dari tenis lapangan, namun sejak 2014 beralih ke soft tennis. “Saya masuk cadangan skuad timnas Asian Games 2018 lalu,” ucapnya. Timnas soft tennis Indonesia akhirnya merebut satu medali perak dan perunggu pada Asian Games. Dengan hasil itu, memastikan tim Korea Selatan menyapu bersih semua gelar dari enam nomor pertandingan di ajang ini. Sehari sebelumnya, putra putri asal Negeri Ginseng telah berada di podium tertinggi nomor beregu, ganda putra dan putri. Indonesia hanya kebagian tiga perak dari tunggal putri (Angelica) serta beregu putra putri, lima perunggu dari tunggal putra (Risky Saputra), beregu putra dan putri, serta ganda putri (Angelica/Sharon Watupongoh), dan ganda putra (Hemat Bhakti Anugrah/Fernando Daniel Sanger). “Kami tak terkejut dengan hasil ini. Usai Asian Games 2018, Pelatnas Soft Tenis juga berakhir. Semua Atlet dipulangkan dan mereka hanya berlatih sekedarnya di daerah masing-masing.” tutur Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Seluruh Indonesia (PP Pesti), Ferly Montolalu. “Namun kami juga bersyukur dengan hasil yang didapatkan oleh Angelica di turnamen ini. Dia memang bersiap lebih baik karena mengikuti serangkaian kegiatan, mulai dari Kejurnas di Manado, awal November hingga Kejuaraan Dunia Yunior di Korsel, pekan silam,” paparnya. Setelah turnamen internasional di Denpasar, Bali, PP Pesti memiliki agenda untuk melakukan seleksi pembentukan Timnas Merah Putih yang akan berlaga di ajang multi event SEA Games 2019 di Manila, Filipina. “PP Pesti mengundang 20 pemain, putra maupun putri untuk melakukan pemusatan latihan bersama, sebelum diseleksi sebagai kerangka tim Indonesia SEA Games 2019,” tutur Ketua Panitia Pelaksana The 4th Indonesia Soft Tennis Championships, Agus Rosadi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PP Pesti. (Adt) Hasil Final Minggu (2/12) Tunggal Putra Park Jae Kyu (Korsel) v Kim Sun Min (Korsel) 4-1 Tunggal Putri Jin Sua (Korsel) v Angelica Irena Lontoh 4-2 Ganda Putra Park Sang Min / Yoon Hyoung Wook (Korsel) v Park Kyu Cheol /Seo Kyo Weon (Korsel) 5-1 Ganda Putri Ko Eun Gi / Yun So Ra (Korsel) v Cho Hye Jin / Jin Su A (Korsel) 5-0

Gagal di Ganda Campuran, Atlet 21 Tahun Incar Juara di Turnamen Internasional Soft Tenis di Bali

Atlet Indonesia, Angelica Irena Lontoh (21 tahun) lolos ke babak final nomor tunggal putri, turnamen Tennis Championships 2018 The 4 th Indonesia Soft, di Lapangan Tenis KONI Bali, Jalan Angsoka, Denpasar, Bali. Irena akan menghadapi wakil Korea Selatan, Jin Sua, pada Minggu (2/12). (suaramerdeka.com)

Denpasar- Atlet soft tenis Indonesia, Angelica Irena Lontoh (21 tahun) sukses melangkah ke babak puncak nomor tunggal putri, turnamen Tennis Championships 2018 The 4 th Indonesia Soft, yang berlangsung di Lapangan Tenis KONI Bali, Jalan Angsoka, Denpasar, Bali. Pada babak perempat final, Jumat (30/11), Irena sukses menepiskan perlawanan kompatriotnya, Runi Utama, dengan skor 4-1. Dan di semi final, pemain kelahiran Manado, 17 Oktober 1997 ini, kembali mengalahkan rekan senegara, Sharon Cornelia Watupongoh, 4-2. “Tentu senang bisa masuk final. Selangkah lagi bisa mewujudkan target meraih juara di turnamen ini,” tutur Irena, sapaannya, usai laga semi final, pada Jumat (30/11). Di final, Irena menantang Jin Sua, yang memenangi babak empat besar atas sesama wakil Korea Selatan, Ju Seul Gi 1 retired. “Pemain Korsel memang sulit dikalahkan, namun saya optimistis mampu mengatasinya,” tutur mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Jakarta ini. “Bola itu bundar, segala kemungkinan bisa terjadi di atas lapangan. Saat kita serahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, yang pun mustahil akan menjadi mungkin,” imbuhnya. Tak hanya nomor tunggal, Irena sejatinya juga melangkah mulus ke semifinal di nomor ganda putri. Berpasangan dengan Sharon Cornelia Watupongoh, akhirnya pasangan ini disingkirkan oleh duet Ko Eun Ji/Yun So Ra (Korsel) dengan skor 4-2, pada laga yang terjadi di Sabtu (1/12). Sayangnya, langkah gemilang Irena gagal diikuti atlet tuan rumah di nomor tunggal putra. Lima wakil Merah Putih yang lolos perempat final tak kuasa menahan sepak terjang tiga atlet Korea Selatan. Irfandi Hendrawan kandas di tangan Park Jae Kyu 0-4, sedangkan Hemat Bakti Anugerah kalah dari Kim Sun Min 2-4. Kendati sempat memberikan perlawanan sengit, Fernando Daniel Sanger harus mengakui keunggulan Yoon Hyoung Wook 3-4. Sementara itu, Risky Saputra yang memenangi perang saudara atas Ragil Wahyudiono 4-2, juga tak mampu mengadang langkah Kim Sun Min di babak empat besar. Risky yang meraih emas tunggal putra Kejurnas Soft Tenis di Manado awal bulan ini, harus menelan pil pahit paska dilumat dengan skor 0-4 oleh Kim. All Korean Final pun tak terelakkan bakal mewarnai partai puncak nomor tunggal putra, mempertemukan dua wakil Korea Selatan, Park Jae Kyu dan Kim Sun Min. Partai final tunggal putra dan putri dijadwalkan berlangsung Minggu (2/12). Indonesia menurunkan skuat Asian Games 2018, di antaranya peraih perak Alexander Elbert Sie yang akan berduet dengan Irfandi Hendrawan, Prima Simpatiaji berduet dengan Sunu Wahyu Trijati, serta pada ganda putri, Dwi Rahayu Pitri dan Voni Darlina. (Adt)