Alvin, Pemuda 18 Tahun ini Optimis Dapat Menjadi Juara Dunia Bulutangkis All England

Alberto Alvin Yulianto. ikut mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan Badminton Asia Junior Championship 2018.

Jakarta- Indonesia memiliki banyak potensi atlet-atlet usia muda dari masing-masing cabang olahraga, baik dari laki-laki maupun perempuan. Salah satunya adalah Alberto Alvin Yulianto atau “Alvin” sapaan akrabnya. Tergabung di Pelatnas Cipayung sejak tahun 2017 lalu, Ia turut serta dalam mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan Badminton Asia Junior Championship 2018. Memulai karirnya di olahraga bulutangkis sejak usianya 7 tahun, ketika itu dirinya diajak oleh sang ayah dan ibu ke lapangan untuk bermain bulutangkis hingga akhirnya menyukai olahraga tersebut. “Udah merasa nyaman ya di bulutangkis, dulu kan suka dapet bonus kalo juara jadi makin semangat latihannya” kata Alvin. Berkat kemampuannya dalam bermain bulutangkis yang kian terasah Alvin akhirnya terrgabung dalam PB Kartika di Purwokerto, disini Ia mengikuti kejuaraan pertamanya saat masih berusia 10 tahun pada tingkat Propinsi Jawa Tengah, kemudian pada tahun 2011 Alvin bergabung dengan PB Djarum yang berlokasi di ‘Kota Kretek’ Kudus. “Saya 6 tahun di PB Djarum dari tahun 2011, saat itu ada pemanggilan untuk gabung ke pelatnas ditahun 2017 saya mulai gabung.” ujar remaja berusia 18 tahun itu. Bermain di area tunggal putra menjadi pilihannya sejak kecil, merasa nyaman dan sudah mendapatkan alur yang tepat menjadi alasannya untuk berjuang seorang diri di lapangan. Saat ini dirinya sudah lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan akan segera menentukan jalannya untuk lebih terjun ke dunia pendidikan atau fokus untuk menjadi atlet. “Kalau sekarang fokusnya masih badminton sih, kalau kuliahnya masih belom terlalu dipikirin. Kalau harus milih sekolah dan badminton, saya pilih badminton” ungkap remaja kelahiran Purwokerto tersebut. Alasan lebih memilih menjadi atlet karena sudah menjadi rutinitas sejak kecil dan sudah memfokuskan diri untuk terus berlatih, membuat dirinya optimis menjadi seorang atlet. Selama menjadi atlet ada banyak cobaan  yang dilalui, bahkan Alvin pun sempat mengalami cidera di bagian pinggang yang cukup parah pada tahun 2015. Cidera ini mengakibatkan dirinya harus beristirahat penuh selama kurang lebih satu bulan. “Suka duka jadi pemain sih, dari sukanya banyak yang dukung kayak penonton, orang tua, keluarga, dapet bonus kalau juara. Kalau duka sih waktu habis untuk latihan ya, orang-orang pada liburan bareng keluarga kita harus latihan” pungkas remaja yang mengidolakan Lee Chong Wei dan Anthony Ginting itu. Dalam waktu dekat Alvin menargetkan dirinya untuk lolos bahkan menjadi juara di event Asia Junior dan juga event World Junior, bahkan untuk jangka panjang Alvin optimis bisa meraih medali emas di kompetisi internasional seperti All England.(Ham) Profil Singkat Nama : Alberto Alvin Yulianto Tempat/Tgl Lahir : Purwokerto, 7 Januari 2000 Alamat Tinggal : Pelatnas Cipayung jl Damai Raya Jakarta Timur Alamat Rumah : Perum. Puri Hijau P16 no. 17 Purwokerto Selatan Orang Tua : Lilik (ayah) Sucien (ibu) Nomor Ponsel : 087888703977 Media Sosial : Ig @albertoalvinyulianto Pendidikan SD Santo Yoseph purwokerto SMP Taman Dewasa Kudus SMA Keluarga Kudus Prestasi Juara 1 Sirkuit Nasional Semarang Tahun 2016 Juara 1 Sirkuit Nasional Medan Tahun 2016 Runner Up Sirkuit Nasional Makassar Tahun 2016 Semi Final Sirkuit Nasional Cirebon Tahun 2016 Semi Final Victor Exist Junior Tahun 2016 Juara 1 Junior Master Cup Tahun 2016 Juara 3 International Junior Championship Tahun 2017 Juara 3 International Series Peru Tahun 2017 Juara 1 Pembangunan Jaya Raya Cup Tahun 2017 Juara 1 Super Liga Junior Tahun 2017 Kuarter Final Grand Prix Dutch Belanda 2018 Kuarter Final Grand Prix Jerman Junior 2018 Kuarter Final Grand Prix Thailand Junior 2018

Si Kecil Cabe Rawit, Julukan Untuk Falen Atlet Tenis Berusia 8 Tahun

Falen, murid didik dari Jakarta International Tennis Academy.

Jakarta- Olahraga Tenis mungkin belum sepopuler olahraga lain seperti sepak bola, futsal, basket maupun badminton, meski demikan ada beberapa kalangan yang cukup menyukai cabang olahraga ini. Jakarta International Tennis Academy (JITA) adalah salah satu dari sekian banyak sekolah tenis di Jakarta yang sukses mengantarkan anak didiknya untuk bertanding di ranah nasional maupun internasional. Falen salah satunya, anak berusia 8 tahun tersebut meski terbilang usianya masih amat muda namun kemampuannya dalam memukul bola tenis di lapangan tak perlu diragukan lagi. Menurun dari hobi sang ayah yang juga menjabat sebagai pelatih tenis di JITA, sang anak justru memiliki ketertarikan dengan olahraga tenis saat usianya masih berusia 2 tahun. “Saat itu masih 2 tahun mulai penasaran dia sama raketnya, saya coba lemparkan ke anak bolanya malah dipukul. Akhirnya ketika umur 3,5 tahun baru saya kenalkan pelan-pelan, karena 2 tahun masih terlalu kecil ya” ungkap Sebastian, ayah dari Falen. Sebelum bergabung dengan JITA, Falen mulai berlatih dengan sang ayah dan kakak karena kebetulan sang kakak memiliki hobi yang sama. Mulai bergabung dengan JITA saat umurnya 3 tahun, Falen masih mengikuti latihan sesuai usia dan kemampuannya. Ketika berusia 5 tahun barulah terjun mengikuti turnamen perdananya namun sayang hanya sampai posisi Runner Up saja. “Sekitar umur 4-5 tahun mulai main di turnamen internal kita dulu, anaknya makin senang. Setelah dirasa cukup mumpuni baru terjun kejuaraan” tambah sang ayah. Saat ini anak kelahiran 1 Maret 2010 tersebut masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, namun dalam usia semuda itu Falen ternyata memiliki jadwal yang sangat padat untuk belajar di sekolah sekaligus berlatih Tenis. Selain itu oleh pihak sekolah Falen juga  mengikuti ekstrakulikuler Baske dan Renang “Bisa dibilang sangat sedikit waktu istirahatnya, tapi anaknya senang. Saya suruh istrahat malah marah-marah anaknya” tambah Sebastian. Namun yang dikhawatirkan ketika Falen akan merasa jenuh dengan segudang aktivitasnya, bahkan ketika akhir pekan Falen menghabiskan waktu 6 jam di JITA untuk berlatih, tak ayal lagi bahwa peran orang tua sangat diperlukan dalem menjaga keseimbangan aktivitas dan kesehatannya. Kerap kali sang anak diberikan multivitamin dan makanan yang bergizi agar kondisinya tetap terjaga, dengan waktu latihan dan jadwal aktivitas yang tergolong padat, agar berhasil membuahkan segudang prestasi yang dibawanya pulang. “Sejauh ini masih bisa dikondisikan, aktivitasnya saya atur agar tetap fit. Latihan pun ringan saja paling joging, skiping aja saya suruh 500 dia bisa sampai 3000 kali” ujar pelatih sekaligus ayah Falen seraya bergurau. Harapan yang disampaikan sang ayah adalah semoga Falen bisa menjaga konsistensinya hingga usia 12 tahun, agar Ia bisa bisa menjadi atlet top nasional bahkan internasional. (Ham) Profil Singkat Nama : Rafalentino Ali Da Costa Tempat/Tgl Lahir : Tangerang Selatan, 1 Maret 2010 Orang Tua : Sebastian Ali Da Costa (ayah) Dwi Komala Sri (ibu) Nomor Ponsel : 087771556829 (ibu) Anak kedua, kakak Justmin Ali Da Costa Pendidikan SD Al-Fath BSD, Tangerang Prestasi KU 8: Sportama Orange 2015 – RUNNER Up KU 10: AFR 2017 – SEMIFINAL KU 10: CBR 2017 – SEMIFINAL KU 10: Sportama 2017 – Semifinal KU 10: Thamrin Cup 2018 – SEMIFINAL KU 10:BNI 2017 – RUNNER Up KU 10:AFR 2017- RUNNER Up KU 10:AFR 2017- WINNER KU 10:CBR 2017- WINNER

Ada Anomali Mengejutkan Dari Hasil Kejuaraan Dunia dan Emas Bulutangkis Asian Games

Ganda Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo meski gagal membawa gelar juara pada kejuaraa dunia 2018 di China, diharapkan mampu meraih medali emas pada Asian Games 2018 di Indonesia. (djarumbadminton.com)

Jakarta– Kegagalan tim bulutangkis Indonesia pada Kejuaraan Dunia 2018 pekan lalu, mencuatkan sejumlah pertanyaan, apakah skuat Merah Putih sanggup merebut emas di ajang Asian Games 2018 ? Kini, justru fakta menarik mulai terungkap. Walau gagal merebut satu gelar pun di Kejuaraan Dunia, tapi nyatanya Indonesia justru berhasil merengkuh medali emas di ajang Asian Games, saat tahun yang bersamaan dengan digelarnya turnamen berlabel BWF World Championships itu. Fakta ini setidaknya tersaji pada 3 edisi Asian Games sebelumnya, yakni pada 2014, 2010 dan 2006 silam. Tercatat, pada 2014, 2010 dan 2006, Indonesia juga gagal merebut satu pun gelar di Kejuaraan Dunia Bulutangkis, namun berhasil merebut medali emas Asian Games di tahun yang sama. Pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, Indonesia sukses mengawinkan emas bulutangkis, di sektor ganda putra dan ganda putri. Dobel Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan duet Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, sama-sama mengukir medali emas, meski sebulan sebelumnya, gagal meraih gelar Kejuaraan Dunia 2014 di Copenhagen, Denmark. Hal serupa juga dialami pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan pada 2010, dan tunggal putra Taufik Hidayat, pada 2006. Kegagalan di Kejuaraan Dunia seolah menghadirkan motivasi berlipat di pentas pesta olahraga terbesar bangsa Asia itu. Sejak 2005, Kejuaraan Dunia Bulutangkis berganti format dengan digelar setiap tahun, kecuali pada tahun diberlangsungnya Olimpiade. Hal ini pula yang menjadikan penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Bulutangkis, selalu berlangsung dan tampil bersamaan waktunya, dengan tahun diselenggarakan ajang multi event Asian Games, sejak 2006 lalu. Ganda putra Indonesia yang juga unggulan pertama Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo rontok di perempatfinal. Jepang dan China akhirnya mengoleksi dua gelar juara, sedangkan satu titel diraih Spanyol, melalui Carolina Marin. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Susi Susanti mengatakan, hasil yang didapat di Kejuaraan Dunia tak mengubah target di Asian Games 2018. Indonesia menargetkan dua emas cabor bulutangkis, dari sektor ganda putra (Kevin/Marcus) dan campuran (Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir). “Tak ada perubahan target di Asian Games. Kami melihat peluang yang ada, dan selalu mengevaluasi perjalanan mereka dari Januari-Agustus ini,” kata Susi pada Senin (6/8). “Kami memang bukan membebani atlet, tapi ya ini situasinya realistis saja. Peluang ada di sektor ganda,” tambah Susi. Usai Kejuaraan Dunia di Nanjing, China, atlet Indonesia sudah ditunggu Asian Games 2018. Cabor bulutangkis dipertandingkan pada 19 Agustus. “Harus lebih siap lagi, karena kalau dibilang alarm, setiap pertadingan kalau kalah tentu ada alaramnya untuk mengingatkan. Tapi, bukan berarti habis,” pungkasnya. (Adt)

Soroti Peforma Sektor Tunggal, Candra Wijaya : Pelatih Harus Diberi Target, Atau Dipecat

Aksi Tunggal putra Jonatan Christie saat tampil di ajang Blibli Indonesia open 2018, dan takluk dari pebulutangkis nomor satu dunia asal Denmark, Viktor Axelsen, dalam pertandingan 2 game dengan skor 21-10 dan 21-19. (Pras/NYSN)

Serpong Utara- Prestasi tunggal putra dan putri masih jadi pekerjaan rumah serius Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Hasil Kejuaraan Dunia Bulutangkis (BWF World Championship 2018) jadi ukurannya. Dari lima wakil tunggal, tak ada satupun yang mampu menjejak ke partai final. Tiga wakil tunggal putra yakni Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, dan Tommy Sugiarto harus menelan pil pahit. Langkah mereka terhenti di babak kedua. Hasil serupa terjadi di tunggal putri. Dua wakil yaitu Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani dipaksa pulang setelah kalah pada laga babak kedua. Prestasi lebih baik dicapai sektor ganda, meski tak satupun wakil Indonesia di partai final kejuaraan dunia tahun ini. Duet Merah Putih Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (1) takluk di perempat final dari wakil Jepang Takeshi Komura/Keigo Sonoda (5). Setali tiga uang, dobel Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta (8) tak berdaya kontra wakil Negeri Sakura Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto. Begitu pula dengan pasangan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani (14). Mereka tumbang Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (2) asal Jepang. Hasil lebih baik ditorehkan Greysia Polii/ Apriyani Rahayu (5). Mereka berlaga di semifinal dan menerima kenyataan gagal lolos ke partai puncak setelah dijegal wakil Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara. Hal ini mendapat sorotan dari Candra Wijaya. Peraih medali emas Olimpiade 2000, Sidney, Australia, mengatakan khusus sektor tunggal seharusnya PBSI selaku induk organisasi bulutangkis memberikan target kepada pelatih, dengan konsekuensi khusus. “Pelatih harus bisa meraih beberapa gelar juara dalam rentang waktu tertentu yang ditargetkan oleh PBSI. Kalau target itu tak tercapai, maka pelatihnya harus diganti. Ini jadinya profesional,” ujar pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 16 September 1975 itu. Mantan pebulutangkis nasional yang mulai berlatih sejak usia 12 tahun di klub Rajawali Cirebon itu mencontohkan pada perebutan Piala Thomas dan Uber 2018, Mei lalu, saat Indonesia berjumpa China di semifinal, dan akhirnya takluk. Menurutnya, titik terlemah skuat Merah Putih di Piala Thomas ada di sektor tunggal putra. “Bukan mau sombong. Tapi yang memberi poin bagi Indonesia di nomor ganda, dan yang melepas itu tunggal putra,” ujar peraih gelar World Championship 1997 bersama Sigit Budiarto itu. “Saya tak bermaksud mau ikut campur soal prestasi di sektor tunggal. Ini saran dari mantan pemain,” lanjut suami dari Caroline Indriani itu. Apakah ketiadaan sosok pemain tunggal Indonesia yang bisa menjadi panutan bagi pemain muda dalam beberapa tahun belakangan berpengaruh? “Sedikit banyak berpengaruh. Setelah era-nya Taufik Hidayat tidak ada lagi pemain tunggal yang bagus,” ungkap juara All England 1999 bersama Tony Gunawan dan 2003 bersama Sigit Budiarto itu. “Mestinya Taufik Hidayat diberi kesempatan melatih di Pelatnas PBSI. Karena Taufik juga prestasinya selama menjadi pemain memang bagus,” tukasnya. Candra melanjutkan, begitu juga dengan pelatih-pelatih berkualitas di luar Pelatnas yang harus juga diberi kesempatan. (Adt)

Tambah Motivasi, Juara Asia Junior Championship 2018 Duet Febriana/Ribka Diganjar Bonus Rp 60 Juta

Djarum Foundation memberikan apresiasi berupa bonus Rp 60 juta kepada Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto setelah menjadi kampiun di Kejuaraan Asia Junior 2018. (PB Djarum)

Karanganyar- Meraih titel juara di Badminton Asia Junior Championship 2018 memberi berkah bagi duet Pelatnas Pratama asal PB Djarum Kudus Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto. Mereka diganjar bonus Rp 60 juta dari Djarum Foundation, di Gelanggang Olahraga (GOR) RM Said Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (4/8). Pada Juli lalu, Febriana/Ribka menjadi kampiun di ajang Badminton Asia Junior Championship 2018 usai di final menaklukan wakil Malaysia, Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh, straight game, 21-12 dan 21-16, di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, mengatakan pemberian bonus menjadi tambahan motivasi bagi Febriana/Ribka, sehingga mampu berprestasi di level yang lebih tinggi. “Ini bukan anak tangga terakhir yang harus mereka capai. Karena ada anak tangga berikutnya yang harus mereka hadapi. Yang terdekat adalah juara di Kejuaraan Dunia di Kanada,” ujar Yoppy dikutip situs resmi PB Djarum, Sabtu (4/8). Kejuaraan Dunia Junior akan dihelat di Markham Pan Am Venue, Kanada, November 2018. Bahkan, lanjut pria berkacamata itu, jika mereka mampu tampil maksimal di kejuaraan dunia itu masih ada kompetisi yang harus dilewati yang tak kalah penting. “Yaitu juara mulai dari level Challenge hingga Olimpiade,” lanjutnya. Yoppy menambahkan pemberian bonus ini sekaligus bentuk motivasi bagi peserta Audisi Umum yang dihelat di Karanganyar, Jateng. “Minimal mereka bisa makin giat berlatih, dan ingin mengikuti jejak seniornya. Tujuan lain adalah ingin menunjukkan jika kami sangat peduli dengan bulutangkis dan Indonesia,” tegas Yoppy. Sementara itu, Ribka mengaku senang dengan apresiasi ini. “Semoga di kejuaraan dunia junior kami bisa juara,” tutur Ribka. Senada dengan Ribka. Febriana membentang harapan pada kejuaraan dunia junior nanti. “Target kami semoga di kejuaraan dunia junior menjadi yang terbaik,” tukas Febriana. (Adt)

Lakoni Duel Rubber Game, Duet Tuan Rumah Gabriel/Galuh Mulus Ke Partai Puncak U-17

Ganda putra Gabriel Christopher Wintan Wijaya/Galuh Dwi Putra (Daihatsu Candra Wijaya) harus melewati laga rubber game kontra Crisandy Santosa/Enzo Ramadhan Satriyadi, 15-21, 21-19, dan 21-17, dalam tempo 46 menit. (Pras/NYSN)

Serpong- Langkah ganda putra Gabriel Christopher Wintan Wijaya/Galuh Dwi Putra (Daihatsu Candra Wijaya) belum terbendung pada kejuaraan bertajuk ‘9th Yonex-Sunrise Double Special Championship 2018’, Kategori Usia (U) 17 Tahun. Melakoni laga semifinal, di Hall Candra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC), pada Jumat (3/8), duet tuan rumah sekaligus unggulan satu itu dipaksa melakoni pertarungan melelahkan rubber game kontra Crisandy Santosa/Enzo Ramadhan Satriyadi, 15-21, 21-19, dan 21-17, dalam tempo 46 menit. Galuh mengatakan kekalahan yang diderita pada gim pertama akibat ia bersama Gabriel masih mencari celah kelemahan lawan. “Di gim kedua kami main lebih cepat dan nggak banyak angkat bola. Lebih diturunin lagi bolanya. Karena sebelumnya juga sudah pernah ketemu sama mereka,” ujar remaja kelahiran 31 Mei 2003 itu usai laga. Sementara itu, Gabriel mengaku di awal laga dirinya bersama pasangan kurang tenang sehingga lawan meraih kemenangan di gim pertama. “Di gim kedua mainnya mulai enjoy, dan lebih tenang. Pelatih juga kasih instruksi kalau kami harus bermain lebih safe,” terang siswa SMAN 10 Kota Tangerang Selatan itu. Dan di partai pamungkas, Sabtu (3/8), Gabriel/Galuh akan ditantang ganda asal PB Exist Jakarta Muhammad Hasnan Alimni/Yoel Alexander yang menyingkirkan Muhammad Haikal Zaki/Muhammad Satria (PB Jaya Raya Jakarta Pusat),17-21, 21-13, dan 21-19. “Lawan mungkin tipenya sama seperti di semifinal ini karena mereka juga dari PB Exist Jakarta. Jadi makin termotivasi menghadapi laga final,” tutur Galuh. “Untuk lawan juga baru pertama kali ketemu. Tidakingin banyak komentar dulu soal lawan, lihat saja besok di lapangan seperti apa mainnya,” timpal Gabriel. Di nomor lain, menyandang status non unggulan Rahmat Hidayat/Gity Gabriel Rambing (PB Djarum Kudus) justru membuat kejutan pada Kategori ganda campuran Usia (U) 19 Tahun. Di semifinal, Rahmat/Gity menumbangkan unggulan satu Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso (PB Exist Jakarta), rubber game, 12-21, 21-16, dan 21-19. “Awalnya tegang, karena lawan kemampuannya lebih baik. Jadi kami berusaha bermain nothing to lose saja. Kuncinya percaya diri,” ujar Rahmat usai laga. Alumni SMP Islamic Village Tangerang itu menambahkan kekalahan di gim pertama membuat ia dan kolega berusaha bangkit untuk bisa meraih kemenangan di dua gim sisa pertandingan. “Kalau saya mungkin lebih banyak memberikan tekanan ke Tsavanne. Bisa dibilang porsinya hampir 80 persen, dibandingkan dengan memberikan bola ke Dejan. Apalagi dari segi postur dan tenaga lawan lebih unggul, jadi lebih banyak nurunin bola juga tadi,” lanjut remaja kelahiran Tangerang, Banten, 17 Juni 2003 itu. Senada dikatakan Gity. Menurut siswi SMAN 1 Kotamobagu, Sulawesi Utara (Sulut) itu, bila kemampuan lawan berada jauh di atas. Namun, ungkapnya, bermain tanpa beban membuat penampilannya bisa lebih lepas. “Kemampuan kami dengan lawan nggak beda jauh. Mereka unggul di postur sama speed. Pelatih juga bilang harus yakin bisa menang. Tadi Dejan mainnya juga sedikit emosional sehingga hilang fokus,” cetus dara kelahiran Kotamobagu, 20 Desember 2002 itu. Di partai pamungkas, Sabtu (4/8), Rahmat/Gity berjumpa akan berhadapan dengan Muhammad Yahdil Ansar/Frida Ayu Wulandari (PB Jaya Raya Jakarta Pusat/PB Banda Baru Batam) yang menang atas Asyhari Anhar/Windi Siti Mulyani (PB Victory Bogor Jakarta Timur), rubber game, 15-21, 21-18, dan 21-15. (Adt)

Gagal ke Semifinal Kejuaraan Dunia, Kevin/Marcus Alihkan Fokus Ke Asian Games 2018

Ganda putra Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, sukses menekuk dobel nomor satu dunia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, dalam dua game dengan skor 19-21 dan 18-21. (tribunnews.com)

Jakarta– Pupus asa duet Merah Putih, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, untuk meraih gelar juara dunia 2018. Duo Minions harus mengubur impiannya tersebut usai tersingkir di babak perempat final Kejuaraan Dunia Bulutangkis (BWF World Championship 2018). Mereka takluk dari ganda putra Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, dalam dua game dengan skor 19-21 dan 18-21. Laga yang berlangsung Jumat (3/8) di Nanjing Olympic Sports Centre, China, pasangan nomor satu dunia ini tampil di bawah level permainan terbaiknya. Selain itu, juara All England 2017 & 2018 ini kerap melakukan kesalahan sendiri. Hasil ini serupa dengan raihan tahun lalu, yang juga terhenti di babak perempatfinal. “Lawan pertahannnya rapat, bolanya berat dan enggak gampang dismes, jadi lebih enak untuk lawan. Selain pertahanan yang bagus, Kamura/Sonoda serangannya juga bagus. Ketemu mereka memang selalu ramai. Semoga kami bisa meraih hasil yang lebih baik di Asian Games 2018,” ungkap Marcus usai laga dalam rilis resmi PBSI. Kevin/Marcus bakal menjadi salah satu andalan Indonesia dalam meraih medali emas pada Asian Games 2018, yang akan berlangsung pada 18 Agustus hingga 2 September. “Memang lawannya bagus, tak gampang dimatikan. Kami sudah tahu dari awal kalau lawan mereka pasti tidak akan gampang,” tambah Kevin. Kekalahan itu sekaligus membuat rekor head to head Kevin/Marcus dengan Kamura/Sonoda menjadi imbang 4-4. Indonesia juga tak memiliki wakil lagi di sektor ganda putra. Dengan hasil ini, Kevin/Marcus, yang mengoleksi sepuluh gelar juara super series itu, belum bisa meraih titel di turnamen mayor. (Adt)

Jadi Juara Junior Asia, Spesialis Ganda Ini Ternyata Jago Main Piano Dan Ingin Menjadi Guru

Juara Bulutangkis nomor ganda putri Kejuaraan Asia Junior 2018, Febriana Dwipuji Kusuma, yang bercita-cita mulia menjadi guru. (Ham/NYSN).

Jakarta- Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018 yang berlangsung 18-22 Juli 2018 telah berakhir. Tampil di hadapan pendukungnya sendiri, Indonesia mampu meraih satu emas dan tiga medali perunggu. Satu medali emas itu didapat dari sektor ganda putri, yakni duet Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto “Alhamdulillah, senang dan bersyukur. Tapi yang pasti nggak boleh cepat puas,” kata Febriana usai pertandingan. Bagi, Ana, sapaannya, gelar ini menjadi bekal positif jelang tampil Kejuaraan dunia World Junior Championship (WJC) 2018, di Ontario, Kanada, pada November nanti. Ana mengenal bulutangkis sejak usia 5 tahun, dari sang kakak, yang menekuni hobi serupa. Namun, bermain bulutangkis sejatinya bukan alasan penting bagi bungsu dari dua bersaudara ini. Justru faktor berat badan yang membawanya rutin, menjalani latihan tepok bulu ini. “Awal kenal bulutangkis itu, saya hanya ikut kakak latihan. Ya sekalian ngurusin badan niatnya. Dulu ‘kan waktu kecil saya gendut. Lama-lama seneng dan keterusan sampe sekarang,” tukas Ana sambil tersenyum. Dara kelahiran Jember 19 Februari 2001 ini bergabung dengan PB Smash Jember sejak Taman Kanak-Kanak (TK), hingga lulus SD. “Pada 2013, setelah lulus SD, saya pindah ke PB Djarum Jakarta, dan masuk nomor ganda putri. Saya ikut berbagai kejuaraan nasional dan internasional. Pada 2016, usai ikut kejurnas, Alhamdulillah, saya dipanggil masuk Pelatnas PBSI sampai sekarang,” beber Ana. Ana menjadi salah satu atlet termuda yang masuk pelatnas, lantaran baru menginjak 16 tahun saat terpanggil masuk Cipayung pada awal 2017. Selama di Pelatnas, spesialis ganda ini mengaku tak memiliki kendala berarti menjalani proses belajar. Bahkan, tugas sekolah rutin ia kerjakan dari jarak jauh. “Kalau ujian, saya pulang ke Jember, sebab ujiannya harus di sekolah, nggak bisa di Jakarta. Jadi pulang beberapa hari, terus balik lagi ke pelatnas,” terang dara yang mengidolakan seniornya Greysia Polii itu. Kelak jika lulus SMA nanti, ia tetap ingin melanjutkan kuliah, tanpa meninggalkan rutinitas latihannya sebagai atlet. Menjadi guru adalah cita-cita siswi Madrasah Aliyah Al-Badri, Jember ini, andai harus menyudahi karirnya sebagai pemain bulutangkis. Itu sebabnya Ana tetap akan melanjutkan studi pendidikannya hingga jenjang Universitas. Tak hanya tekun berlatih bulutangkis, remaja asal ‘Kota jenang dodol Suwar-Suwir’ itu ternyata mahir bermain piano, karena tertarik memainkan denting tuts piano klasik maupun elektrik, sambil bernyanyi. “Waktu kecil senang nyanyi dan main piano. Malah sampe pernah les piano. Tapi kok betah main bulutangkis gitu, ya udah akhirnya ditinggalin les pianonya. Tapi kadang dirumah masih main piano juga,” cetus remaja yang mengaku fans berat eks kiper Arema Indonesia, Kurnia Meiga Hermansyah. Tak hanya hoby bermain piano, saat bertemu NYSNMedia.com, Ana pun tengah berenang. Menurutnya, berenang cocok disandingkan dengan bulutangkis karena melatih ketahanan nafas sehingga stamina saat bertanding bulutangkis, menjadi lebih baik. Meski tak terlalu detail, ia nyaris menguasai semua gaya olahraga akuatik ini. “Nggak jago-jago amat, tapi hampir semua gaya berenang yang dilombakan, sudah saya lakukan. Tapi tujuannya melatih fisik dan stamina, modal bertanding bulutangkis,” jelas penggemar es kelapa jeruk dan blewah dingin ini. (Ham) Biodata Nama : Febriana Dwipuji Kusuma Tempat/Tgl Lahir : Jember (Jawa Timur), 19 Februari 2001 Orang Tua : Didik Tripuji Suharyadi (ayah) dan Ngatodah (ibu) Tinggi Badan : 163 cm Berat : 51 Kg Media Sosial : Instagram @febrianadk19 Status Saudara : Anak kedua dari dua saudara Agama : Islam Pendidikan SDN Jember Lor 1 SMP Negri Bintoro Jember MA Al-Badri Jember Prestasi – Juara Asia Junior Championships 2018 (ganda putri) – Semifinalis Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2017 (ganda dewasa putri) – Juara Indonesia International Challenge 2017 (ganda putri) – Runner Up Pembangunan Jaya Cup 2016 (Beregu Campuran) – Semifinalis Superliga Junior 2016 (Beregu Putri) – Juara Kejurnas Perorangan Taruna 2016 (Ganda Taruna Putra) – Semifinalis Indonesia International Challenge 2016 (Ganda Putri) – Juara Djarum Sirkuit Nasional Li Ning Jawa Tengah Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Juara Malaysia Junior International 2016 (Ganda Putri) – Semifinal Djarum Sirnas Jawa Barat 2016 (Ganda Campuran Remaja) – Runner up Djarum Sirnas Jawa Barat 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinal Jakarta Open Junior International Championships 2016 (Ganda Putri U17) – Juara Jakarta Open Junior International Championships 2016 (Ganda Campuran U17) – Juara Djarum Sirnas Lampung 2016 (Ganda Taruna Putri) – Runner up Djarum Sirnas Premier Jakarta Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Djarum Sirnas Sulawesi Selatan Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Juara Djarum Sirnas Kalimantan Selatan Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Thailand Junior International 2016 (Ganda Putri) – Juara Djarum Sirnas Jawa Timur 2015 (Ganda Remaja Putri) – Juara Yonex Sunrise Double Special by Candra Wijaya 2015 (Ganda Remaja Putri) – Runner up Djarum Sirnas Manado 2015 (Ganda Remaja Campuran) – Juara Djarum Sirnas Manado 2015 (Ganda Remaja Putri) – Runner up Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Bali 2014 (Ganda Remaja Putri) – Semifinalis Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Banten 2014 (Ganda Remaja Campuran) – Juara Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Banten 2014 (Ganda Remaja Putri) – Juara Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Palangkaraya 2014 (Ganda Pemula Putri) – Juara Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Jawa Tengah 2014 (Ganda Pemula Putri) – Semifinalis Astec Open 2014 (Ganda Remaja Campuran)

Indonesia Kirim Enam Wakil di Kejuaraan Dunia 2018, Duet Kevin/Marcus Nyaris Tersungkur

Dobel utama Indonesia sekaligus unggulan satu turnamen, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon memenangi duel sengit kontra ganda tuan rumah, Han Chengkai/Zhou Haodong (ranking 24), pada Rabu (1/8). (Humas PBSI)

Nanjing- Enam dari 11 wakil Indonesia melaju ke babak ketiga Kejuaraan Dunia Bulutangkis (BWF World Championship 2018), pada Rabu (1/8). Mereka terbagi di dua nomor yakni ganda putra dan ganda putri. Tiga dari empat wakil ganda putra lolos ke 16 besar. Alias hanya Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso yang gagal. Namun, kegagalan lolos mereka wajar. Sebab, Wahyu/Ade harus menghadapi sesama rekannya di pelatnas, Berry Angriawan/Hardianto. Sementara, tiga wakil ganda putri yang tanding hari ini lolos semua. Alhasil, hanya tunggal saja di putra maupun putri, yang langkahnya terhenti. “Hari ini kami merasa belum keluar semua permainannya. Bola-bola smash-nya masih belum enak,” Muhammad Rian Ardianto, usai menundukkan wakil Belanda, Jacco Arends/Ruben Jille. “Kami memanfaatkan pertandingan tadi untuk menyesuaikan diri dengan atmosfer di lapangan,” Fajar Alfian menambahkan. Ganda putra jadi andalan meraih gelar pada edisi ke-24 Kejuaraan Dunia ini. Apalagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengundurkan diri untuk fokus menghadapi Asian Games 2018. Tontowi/Liliyana merupakan juara bertahan ganda campuran. Sedangkan dobel utama Indonesia sekaligus unggulan satu turnamen, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon berhasil memenangi duel sengit kontra ganda tuan rumah Han Chengkai/Zhou Haodong (ranking 24), pada Rabu (1/8). Melakoni laga di babak kedua (32 besar), Kevin/Marcus menang setelah melalui drama pertarungan melelahkan tiga gim, dengan skor 18-21, 21-14, dan 21-18 atas Han/Zhou, dalam tempo 52 menit, di Nanjing Olympic Sports Centre, Nanjing, China. “Mereka mainnya nothing to lose banget. Jadi dapat speed-nya dan jarang membuat kesalahan sendiri,” ujar Marcus, dilansir situs resmi PBSI, Rabu (1/8). Berjumpa dengan Han/Zhou, Marcus menyebut lawan tidak mudah dimatikan dan fight-nya luar biasa. Sementara, Kevin mengaku dirinya bersama Marcus tak maksimal. Sebab, belum bisa mengeluarkan kemampuan seratus persen. “Di peartai berikutnya kami harus main lebih baik, karena hari ini sudah bertanding cukup sengit,” tambah Kevin. Meski terbebani dengan status sebagai duet unggulan satu serta menjadi andalan Merah Putih untuk membawa pulang gelar juara dunia, namun Marcus menegaskan tak ingin terlalu memikirkan hal itu. “Tekanan pasti ada. Namanya juga kejuaraan besar. Tapi, kami nggak mau memikirkan itu, jalani saja, nikmati permainan,” cetus Marcus. Di babak ketiga (16 besar), ganda Indonesia juara All England 2018 itu ditantang wakil Rusia dan unggulan 10 turnamen, Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (ranking 12) usai menyingkirkan wakil Vietnam Minh Bao/Bao Duc Duong (ranking 88), straight game, 21-13 dan 21-14. (Adt) Hasil Wakil Indonesia Tunggal Putra Kanta Tsuneyama (Jepang) Vs Anthony Sinisuka Ginting (#12) 21-17, 21-13 Hans-Kristian Solberg Vittinghus (Denmark) Vs Tommy Sugiarto (#15) 21-14, 21-15 Tunggal Putri Pusarla Venkata Sindhu (India #3) Vs Fitriani 21-14, 21-9 Chen Yufei (Cina #5) Vs Gregoria Mariska Tunjung 21-17, 22-20 Ganda Putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (#1) Vs Han Chengkai/Zhou Haodong (Cina) 18-21, 21-14, 21-18 Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (#9) Vs Jacco Arends/Ruben Jille (Belanda) 21-15, 21-11 Berry Angriawan/Hardianto (#15) Vs Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso 21-18, 21-18 Ganda Putri Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani (#14) Vs Chang Ching Hui/Yang Ching Tun (Taiwan) 21-14, 21-14 Greysia Polii/Apriyani Rahayu (#5) Vs Ng Wing Yung/Yuen Sin Ying 21-9, 21-10 Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta (#8) Vs Debora Jille/Imke Van Der Aar (Belanda) 21-8, 21-18

Tundukkan Duet Jaya Raya, Unggulan Satu Dejan/Tsavanne Bethalia Mulus Ke Perempat Final

Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso (PB Exist Jakarta) maju ke perempat final usai kandaskan wakil PB Jaya Raya Jakarta Pusat (Jakpus) Panjer Aji Siloka Dadiara/Shella Maharani Putri, 21-11 dan 21-12, Rabu (1/8). (Adt/NYSN).

Serpong Utara- Pasangan ganda klub PB Exist Jakarta sekaligus unggulan satu Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso, berhasil melangkah ke perempat final kejuaraan bertajuk ‘9th Yonex Sunrise Double Special Championship 2018’, kategori usia (U) 19 tahun, pada Rabu (1/8). Di babak kedua (16 besar), Dejan/Tsavanne menyingkirkan duet PB Jaya Raya Jakarta Pusat (Jakpus) Panjer Aji Siloka Dadiara/Shella Maharani Putri, dua gim langsung, dengan skor 21-11 dan 21-12, dalam tempo 25 menit, di di Candra Wijaya International Badminton Centre, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten. Baik Dejan/Tsavanne maupun Panjer/Shella sama-sama mendapatkan bye di babak pertama (32 besar). Dan, dibabak perempat final, Dejan/Tsavanne akan ditantang dobel asal PB Victory Bogor, Jakarta Timur (Jaktim) Muhammad Juan Elgiffani/Inas Hasnaya. Juan/Inas melangkah ke perempat final usai mengalahkan kompatriotnya Alvin Rizky Wiratama/Muzammil Elya Tantri, rubber game, 15-21, 21-10, dan 21-18. Aji, sapaan akrab pemain ganda PB Jaya Raya Jakpus itu, mengaku bila lawan bermain lebih rapih dan mampu mengatur serangan dengan baik. “Mereka bisa nutup ruang pertahanan yang kosong. Dan, kami juga tidak terbebani dengan status lawan yang merupakan unggulan. Memang dari awal kami bermain nothing to lose saja,” ujar Aji mengomentari kekalahannya atas Dejan/Tsavanne. Diakuinya, dirinya bersama kolega masih butuh adaptasi. Terlebih, mereka belum lama diduetkan. “Untuk Shella masih kategori pemula akhir untuk nantinya menuju taruna. Ini juga bagus untuk dia menambah pengalaman,” cetus Aji. (Adt)

Kejuaraan ‘9th Yonex Sunrise Double Special Championship 2018′, Komitmen Candra Wijaya Lahirkan Bibit Ganda Potensial

Candra Wijaya memberikan penghargaan kepada Verawaty Fajrin (hijab) dan Imelda Wiguna, disela-sela kejuaraan, di kawasan Serpong Utara, Tangsel, Banten, Rabu (1/8). (Adt/NYSN).

Serpong Utara- Kejuaraan bertajuk ‘9th Yonex Sunrise Double Special Championship 2018’, mulai dihelat di Candra Wijaya International Badminton Centre, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 1-4 Agustus 2018. Sebanyak 442 peserta dari 23 klub bulutangkis di Tanah Air ditambah peserta dari Srilanka dan Norwegia turut meramaikan persaingan event tahunan itu. Dalam kesempatan itu, Candra Wijaya memberikan penghargaan kepada dua legenda bukutangkis Indonesia yakni Verawaty Fajrin dan Imelda Wiguna. Verawaty, kelahiran Jakarta, 1 Oktober, 60 tahun silam itu merupakan pemain bulu tangkis Indonesia era 1980-an. Ia meraih banyak gelar juara di nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Sedangkan Imelda Wiguna Kurniawan kelahiran Slawi, Tegal, Jawa Tengah, 66 tahun silam itu merupakan pemain bulu tangkis Indonesia di era 1970-an hingga 1980-an. Ia banyak meraih gelar juara dalam berbagai kejuaraan internasional, baik dalam dalam nomor ganda putri maupun ganda campuran. Saat masih menjadi pemain, kedua pemain yang memang spesialis ganda, pernah berpasangan dan meraih titel bergengsi, diantaranya medali emas Asian Games 1978, dan juara All England 1979. “Kami bersyukur bisa menggelar kejuaraan khusus ganda. Kejuaraan ini bisa menjadi sumbangsih bagi dunia bulutangkis nasional. Tujuannya adalah mencetak bibit pemain dimasa yang akan datang,” ujar Candara Wijaya saat pembukaan kejuaraan, di Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (1/8). Lebih lanjut, sosok yang pernah meraih penghargaan pemain terbaik dunia ‘Eddy Choong Player of The Year Award 2000’ itu menyebut sebagai mantan pemain pihaknya tidak akan tinggal diam dalam melahirkan pemain-pemain potensial khususnya di sektor ganda. “Kami akan usahakan kejuaraan ini terus berlangsung. Apalagi hadiah yang kami berikan cukup besar di level nasional. Semoga kejuaraan ini memberi kejayaan bagi dunia bulutangkis Indonesia,” lanjut pemain yang pernah meraih medali emas Olimpiade 2000, Sydney, Australia, bersama Tony Gunawan itu. Sementara itu, Benyamin Davnie, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, mengatakan event ini merupakan kontribusi positif bagi perkembangan dunia olahraga bulutangkis baik skala nasional maupun internasional. “Kejuaraan ini harus rutin digelar untuk menambah motivasi pemain-pemain muda. Dimana nantinya akan lahir pemain-pemain dengan talenta yang hebat yang bisa mewakili Indonesia di pentas internasional,” tukas Benjamin. (Adt)

Dari Merauke, Yusran Bertekad Keras Gabung Pelatnas Bulutangkis

Jakarta- Indonesia bagian timur umumnya selalu menghasilkan bibit-bibit atlet berprestasi di bidang olahraga, namun didominasi cabang olahraga yang sangat populer. Sangat jarang atlet cabor bulutangkis berasal dari Indonesia Timur. Yusran Arfan adalah salah satunya. Remaja berdarah Makassar yang menetap Merauke, menjadi peserta klub blutangkis Perkumpulan Bulutangkis (PB) Racket , yang berlokasi di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, dari luar pulau Jawa. Sekedar catatan, kabupaten Merauke adalah kabupaten terluas di provinsi Papua, dan Indonesia, sekaligus daerah ujung paling timur di Indonesia. Yusran menyukai olahraga bulutangkis sejak usia 5 tahun, karena sering diajak oleh Arfan, ayahnya yang gemar bermain bulutangkis bersama kawan-kawannya. Yusran tertarik untuk terjun lebih serius untuk bercita-cita menjadi seorang atlet. “Proses gabung ke PB Racket awalnya diajak oleh teman ayah saya. Dia menawari saya ikut latihan di jakarta, asalkan serius berlatih. Akhirnya berangkat kesini sama bapak dan temennya bapak, diongkosin juga” jelas Yusran. Sejatinya, orangutua Yusran berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Karena pekerajan, keluarga Yusran hijrah ke Merauke, Papua. Yusran pertama kali bermain bulutangkis langsung bergabung dengan PB Perkasa Merauke, sejak kelas 1 Sekolah Dasar. Lalu pindah ke PB Mandiri Merauke saat SMP, sebelum akhirnya memutuskan menuju Ibukota dan bergabung di PB Racket Jakarta. “Saya pindah ke PB Racket, sudah sekitar dua tahun lalu dari lulus SMP, sekarang udah kelas 2 SMA,” tambah remaja murah senyum ini. Ketika masih tinggal di Papua, Yusran berpartisipasi di beberapa kejuaraan bulutangkis usia dini hingga pemula. Seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Bupati Merauke Cup, dan Sirkuit Nasional (Sirnas) Yogyakarta. Remaja yang mengidolakan Lee Chong Wei dan Anthony Ginting ini bermain di posisi tunggal putra dan ganda, namun Yusran mengakui lebih tertarik bermain di posisi tunggal. “Main tunggal saya bisa main lebih leluasa. Kalau ganda, bermainnya mengharapkan keputusan dari teman juga, kalau tunggal bisa berjuang sendirian,” uajr Yusran, saat ditemui awal Juli lalu. Menjaga kondisi tubuh agar tetap prima menjadi fokus remaja 16 tahun ini. Dalam waktu dekat, Yusran akan melakoni Kejurkot PBSI Jakarta Barat, pada 8-12 Agustus, di GOR Kembangan, Jakarta Barat. Pendidikan pun tak luput dari perhatiannya. Format sekolah Homeschooling menjadi pilihan karena waktu belajar yang fleksibel sehingga bisa menyesuaikan dengan jadwal latihan. “Saya pribadi lebih suka latihan dibanding bersekolah yang padat dengan materi pelajaran. Tapi, saya harus sekolah, agar pendidikan tidak terlantar. Tetapi, target utama saya ingin segera bergabung di pelatnas bulutangkis,” kata kelahiran 16 Juli 2002 itu. Porsi latihan yang berbeda antara PB Jakarta dan Papua membuatnya harus berlatih lebih ekstra mengingat cita-cita dan targetnya bergabung bersama Timnas Indonesia masih butuh waktu dan perjuangan yang panjang. (Ham) Profil singkat Nama : Yusran Arfan Tempat/Tgl Lahir : Makassar, 16 Juli 2002 Alamat Rumah : Jl. Raya Mendala Bampel Merauke, Papua Orang Tua : Arfan (ayah) Rostini (ibu) Nomor Ponsel : 081398096728 Media Sosial : Ig @ysrnarfn161 Pendidikan SDN 1 Merauke SMP Muhammadiyah Merauke SMA Home Schooling Prestasi Juara 2 O2SN tingkat pemula di Papua tahun 2015 Mengikuti Bupati Cup di Merauke tahun 2011/2012 Mengikuti kejurnas Sirkuit Nasional Daihatsu Astec di Bali Mengikuti kejurnas Sirkuit Nasional Daihatsu Astec di Yogyakarta

Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018, Beban Terjal Skuat Muda Indonesia

Gregoria Mariska Tunjung bukanlah satu-satunya wakil Indonesia dalam Kejuaraan Dunia 2018. Di sektor tunggal putri, PBSI juga mengirimkan Fitriani. (Pras/NYSN)

Jakarta- Kejuaraan Dunia Bulutangkis (BWF World Championship 2018) bakal dihelat di Nanjing, China, 30 Juli – 5 Agustus. Indonesia mengirim 29 pemain terbaik pada laga yang dimainkan di Nanjing Youth Olympic Games Sports Park Arena itu. Pasukan Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, bertolak ke China pada Sabtu (28/7). Di Negeri Tirai Bambu, peluang terbesar ada pada sektor ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran, sedangkan kesempatan di sektor tunggal putra dan putri sangat berat. Dua srikandi yakni Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, menjadi andalan Indonesia di sektor tunggal putri. Mereka bakal berjibaku membawa pulang gelar juara. Di babak pertama (64 besar), Senin (30/7), Fitriani menantang Linda Zetchiri (ranking 42) asal Bulgaria. Keduanya belum pernah berjumpa. Jika melewati Linda, calon yang tak kalah berat menunggu atlet kelahiran Garut, Jawa Barat, 19 tahun silam ini. Wakil India Pusarla V. Sindu (ranking 3) yang dibabak pertama mendapatkan bye jadi lawannya. Sejauh ini, rekor pertemuan 4-0 untuk Sindhu. Terakhir, mereka bertemu di ajang Badminton Asia Team Championships 2018. Pemain asal PB Exist Jaya Jakarta itu kalah straight game, 13-21 dan 22-24. Hal serupa juga dialamai Gregoria (ranking 22) yang menjalani laga cukup terjal. Jika lolos dari hadangan wakil Skotlandia Kirsty Gilmour (ranking 24), di babak pertama, pemain tunggal kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 18 tahun silam itu bakal berduel kontra Chen Yufei (ranking 5) asal China. Rekor pertemuan kedua pemain imbang 1-1. Pada ajang Badminton Asia Junior Championships 2016 (Individual Event), penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu kalah straight game, 23-25 dan 14-21. Namun, Gregoria berhasil membalas kekalahan atas Yufei, di ajang Indonesia Open 2017. Gregoria enggan berharap pada Kejuaraan Dunia 2018. Dia mengaku tujuan awalnya adalah memenangi laga pertama kontra Gilmour. Ia mengaku banyak melakukan persiapan untuk menjalani Kejuaraan Dunia 2018. Beberapa hal teknis sudah dipersiapkannya demi mendulang hasil positif. “Untuk latihan ada beberapa pendalaman soal teknik, tetapi yang lebih ditekankan soal gerak kelincahan dan kekuatan kaki,” ujar pemilik medali perak Kejuaraan Asia Junior 2016 itu menang rubber game, 17-21, 21-19, dan 21-19. Selain Fitriani dan Gregoria, pemain muda lainnya adalah duet Yantoni Edi Saputra/Marsheilla Gischa Islami, serta dobel junior, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela. Gischa mengaku senang dan berjanji akan memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya saat berlaga di kejuaraan dunia itu. Bagi mereka ini kejuaraan dunia pertama yang diikuti. “Persiapan jelang kejuaraan dunia berbeda dengan kejuaraan lain. Latihannya lebih intens dan ada program khusus,” ujar Gischa, Kamis (26/7). Ia menambahkan untuk meminimalisir kesalahan sendiri, dirinya melakukan latihan teknis yang terfokus pada kematangan pukulan. “Sedangkan latihan fisik diutamakan untuk kelincahan dan kekuatan kaki, supaya pergerakannya lebih cepat,” terangnya. Sementara itu, Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI, menerangkan para atlet sudah menunjukkan sikap siap bertanding. Ia berharap anak didiknya bisa memberikan yang terbaik. Dan untuk kejuaraan dunia kali ini pihaknya mengirimkan banyak skuat muda. “Target kami satu gelar. Harapannya bisa lebih dari satu. Kami tidak memfokuskan pasti dari ganda putra, bisa dari sektor mana saja,” cetusnya. (Adt) Skuad Tim Indonesia di World Championships 2018 : Tunggal Putra : Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, Tommy Sugiarto Tunggal Putri : Fitriani, Gregoria Mariska Tunjung Ganda Putra : Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan/Hardianto, Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso Ganda Putri : Greysia Polii/Apriyani Rahayu, Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela Ganda Campuran : Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Ronald Alexander/Annisa Saufika, Yantoni Edi Saputra/Marsheilla Gischa Islami

Rachel, Gadis Blasteran Negri Kincir Angin Ingin Harumkan Nama Indonesia

Jakarta- Menjadi seorang atlet olahraga adalah mimpi bagi sebagian anak di Indonesia. Selain tampil di ajang event nasional, juga bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Rachel Meghan Peters, jadi salah satunya. Gadis berdarah Belanda ini menekuni olahraga Tenis sejak usia 6 tahun. Berawal dari sang ayah yang juga hobi bermain tenis, menurun kepada Rachel, sapaannya. “Hoby main tenis dari ayah, yang sering berlatih di Jakarta International Tennis Academy (JITA). Dan di JITA juga saya bertemu teman-teman baru, meski latihannya cukup berat  ,” ungkap Rachel. Dirinya rutin mengikuti latihan setiap Jumat sore usai jam sekolah, meski waktu sekolah yang cukup padat namun tak meghalangi semangatnya untuk terus berlatih. Rachel yang masih duduk di kelas 3 SMP sekolah internasional ACG School Jakarta, di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sudah memiliki segudang prestasi di level junior, seperti turnamen August Ferry Raturandang (AFR) Remaja, Sportama, hingga Mayapada. “Setelah pulang sekolah aku langsung ke tempat latihan, nanti selesai latihan, baru pulang ke rumah. Kadang capek juga sih” ujar remaja berusia 14 tahun tersebut. Namun Rachel tetap disiplin belajar dan sejenak absen mengikuti latihan, saat musim jian sekaolah tiba. Bahkan, momen akhir pekan digunakannya untuk fokus belajar di rumah. Rachel Pertama kali mengikuti turnamen saat usianya 9 tahun. Tampil di Sportama Tennis Institute Junior 2013, ia sukses menjadi juara level The Future Stars (0-10 tahun). Sejak event ini, Rachel rutin tampil di beberapa turnamen Junior kelas nasional. Target yang ingin dicapainya pun tak main-main ingin menjadi petenis nasional dan kelak tampil di ajang profesional. Rachel kini sudah tampil di turnamen Internasional ITF Junior, mengharuskan Rachel harus rutin sebanyak 2x dalam sesi kualifikasi dan Main Draw. “Kalau menang nanti mendapat poin untuk bermain di ITF Junior series, tapi kemarin aku kalah di Main Draw, dar pemain nasional Indonesia, jadi harus kembali mulai lagi,” jelas Rachel kepada NYSN Media pada Jumat (13/7) sore. Target jangka panjang yang ingin dara yang tinggal di kawasan Kemang, Jakarta Selatan ini, menjadi atlet profesional dan mengharumkan nama Indonesia di event Internasional dari cabang tenis. (Ham) Profil singkat Nama : Rachel Meghan Peters Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 6 Juli 2004 Alamat : Kemang Terusan, Jakarta Selatan Orang Tua : David Pieters (ayah) Andromeda (ibu) Anak ketiga dari tiga saudara Pendidikan Sekolah Dasar Belanda NIS SMP Academic College Grup (ACG) Prestasi KU 10: SPORTAMA 2013 – WINNER KU 10: MAYAPADA 2014 – WINNER KU 10: MAYAPADA 2014 – WINNER KU 12: AFR 2015 – RUNNER UP KU 14: AFR 2016 – WINNER KU 14: AFR 2016 – WINNER KU 12: SPORTAMA 2016 – WINNER KU 14: CBR 2017 – WINNER

Cabor Bulutangkis Kawinkan Gelar Nomor Tunggal, Atlet 15 Tahun Asal Banyumas Raih Dua Emas

Aisha Galuh Maheswari meraih dua emas di cabor bulutangkis pada nomor perseorangan tunggal putri dan beregu putri, dalam ajang ASEAN School Games (ASG) 2018 di Juara Stadium, Kuala Lumpur, Malaysia. (pbdjarum.org)

Kuala Lumpur- Tim bulutangkis Indonesia sukses mengawinkan emas nomor tunggal perseorangan pada ASEAN School Games (ASG) 2018 di Juara Stadium, Bukit Kiara, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (25/7), setelah di partai puncak mampu meraih hasil terbaik. Kemenangan yang berbuah emas kejuaraan khusus untuk pelajar di Asia Tenggara itu terlebih dahulu diraih oleh tunggal putra Nur Yahya Adi Felani yang sukses mengalahkan andalan tuan rumah Malaysia, Jacky Kok Jing Hong dengan skor 21-12, 20-22, 21-19. Meski akhirnya mampu meraih emas, Nur Yahya harus memperolehnya dengan perjuangan karena lawan terus memberikan perlawan. Seharusnya juara bertahan itu bisa mengakhiri pertandingan pada gim kedua setelah memimpin 19-15. Namun pemain binaan klub Pratama Surabaya ini harus menyerah 20-22. Sebaliknya pada gim ketiga, Yahya sempat tertinggal namun mampu menggebrak pada akhir pertandingan. “Sempat terlalu percaya diri. Tapi saya langsung berusaha tenang dan mempelajari cara bermain lawan. Saya langsung habis-habisan. Ternyata bisa,” kata pemuda kelahiran Sukoharjo, 3 Juli 2000. Menurut dia, lawannya merupakan pemain yang ulet dan tahan banting. Itu dibuktikan dengan terus bertahan meski dalam kondisi kaki cedera. Dukungan dari suporter tuan rumah untuk lawah juga membuat Yahya, sapaannya, sedikit goyah. Namun semuanya mampu diatasi. “Ini adalah ASG terakhir saya. Setelah ini saya akan turun di kejurnas karena jika juara bisa masuk ke pelatnas,” kata atlet asal Sukoharjo, Jawa Tengah itu. Apresiasi tinggi juga pantas disematkan pada peraih emas tunggal putri, Aisha Galuh Maheswari. Meski sempat jatuh bangun, atlet putri asal Banyumas, Jawa Tengah itu, sukses menumbangkan andalan tuan rumah yang dikenal ulet yaitu Letshanaa A/P Karuphatevan dengan skor 13-21, 21-12, 23-21. “Tadi memang menguras tenaga. Sejak awal kami duel main relay-relay panjang. Setelah ada kesempatan baru mengeluarkan andalan. Lawan juga melakukan hal yang sama,” kata pemain binaan PB Djarum Kudus kelahiran Banyumas, 19 Oktober 2002. Menurut dia, emas memang sudah ditargetkan sejak awal oleh tim. Pebulutangkis dari PB Djarum ini, mengakui pada final memang cukup berat. Namun upaya yang dilakukan Aisha sukses meraih emas untuk kontingen Indonesia, di dua nomor, yakni beregu putri dan perorangan. Sementara itu manajer tim bulu tangkis Indonesia, Luluk Hadiyanto mengaku target medali yang ditetapkan yaitu dua emas mampu terpenuhi. Bahkan lebih karena mampu meraih empat emas yaitu beregu putri, tunggal putra-putri dan ganda putri. (Ham)

Satu Gelar Asia Junior Championships 2018 Modal Positif Ke Kejuaraan Junior Dunia di Kanada

Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto sukses menjuarai Asia Junior Championships 2018, setelah menang dua game langsung dari pasangan Malaysia, Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh, 21-12 dan 21-16. (Ham/NYSN)

Jakarta- Indonesia sukses mengantongi empat medali di Asia Junior Championships 2018. Satu emas diraih ganda putri, Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto, sedangkan tiga perunggu dari Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay, Pramudya Kusumawardana/Ghifari Anandaffa Prihardika dan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Manajer tim Indonesia, Susy Susanti, mengatakan, pencapaian ini sesuai dengan target awal. Perolehan prestasi yang diraih tim junior jadi modal awal pertarungan mereka selanjutnya, di Kejuaraan Dunia Junior 2018, yang berlangsung di Markham Pa Am Center, Ontario, Kanada, pada 5-18 November nanti. “Dari awal, target kami satu medali, saya enggan muluk-muluk, karena persaingan juga ketat. Tahun lalu ganda campuran, tahun ini ganda putri, artinya perkembangan tiap sektor cukup bagus. Mudah-mudahan hasil ini menjadi bahan yang bagus untuk persiapan ke kejuaraan dunia junior 2018 di Kanada,” ungkap Susy, pada Selasa (24/7). Febriana/Ribka sukses menjadi juara, setelah menang dua game langsung dari dobel putri Malaysia, Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh, 21-12 dan 21-16. Tan/Toh sebelumnya mengalahkan pasangan Indonesia, Agatha/Fadia di babak semifinal. “Di ganda putri hasilnya cukup bagus, karena selain juara. juga ada Agatha/Fadia yang di semifinal, dan mulai masuk ke senior. Mudah-mudahan ada satu lagi pemain muda yang terus meningkat secara prestasi dan membawa angin segar buat bulutangkis Indonesia,” lajut Susy. “Tidak hanya ganda putri, sebelumnya juga ganda campuran, dan kami harapkan dari tunggal putra dan ganda putra bisa naik lagi. Tunggal putri, setelah Gregoria juara dunia, tentunya kami siapkan lagi yang kecil-kecil. Memang ada beberapa PR. Meski berhasil membawa satu gelar, tetap ada PR di sektor-sektor lain,” urai Susy. Kanada menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior 2018. Turnamen ini rencananya digelar pada November di Markham Pa Am Center, di kota Ontario. Even ini mempertandingkan nomor beregu campuran, yang memperebutkan Piala Suhandinata dan nomor perorangan yang akan merebut Piala Eye Level. Ini menjadi yang kedua kalinya dalam empat tahun kejuaraan junior bulutangkis paling bergengsi di wilayah Pan American, usai 2016 berlangsung di Lima, Peru. Sebelumnya, Kanada pernah menyelenggarakan turnamen yang sama pada 2004 di Richmond. Markham Pan Am Centre menyediakan fasilitas delapan lapangan karpet sintetis, tiga lapangan untuk latihan, tempat duduk berkapasitas hingga 1.000 penonton, dan pusat kebugaran serta ruang pertemuan. (Dre/Ham)

805 Peserta Daftar, 176 Akhirnya Lolos Tahap Seleksi Audisi Bulutangkis PB Djarum di Purwokerto

Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 dibuka dengan tahap screening yang digelar, di GOR Satria, Purwokerto, Sabtu (21/7). (bola.com)

Purwokerto- Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 dibuka dengan tahap seleksi di GOR Satria, Purwokerto, Sabtu (21/7). Pada tahap ini, 176 dari total 805 peserta yang berasal dari enam kategori putra dan putri, lolos ke tahap selanjutnya. Dalam tahap seleksi, tiap peserta bertanding dengan lawan yang sesuai kategori putra dan putri usia masing-masing (U-11, U-13, U-15) berdurasi sekitar sepuluh menit. Selama periode itu, tim pencari bakat PB Djarum menyeleksi para peserta yang berhak melaju ke tahap turnamen. Tokoh yang menyeleksi para peserta adalah legenda-legenda bulutangkis Indonesia serta pelatih PB Djarum yang termasuk dalam tim pencari bakat, antara lain Christian Hadinata, Denny Kantono, Hariyanto Arbi, Simbarsono, Antonius Budi Ariantho, Lius Pongoh, Meilana Jauhari, Engga Setiawan, Puri Setyo dan Lukman Hakim. Hariyanto Arbi mengatakan, jumlah peserta yang mencapai 805 orang menunjukkan antusiasme masyarakat, khususnya di Jawa Tengah dan sekitarnya, terhadap olahraga bulutangkis. “Dari jaman dulu, Kota Purwokerto sering melahirkan pebulutangkis-pebulutangkis yang handal. Saya berharap dari Audisi Umum tahun ini, mudah-mudahan dari Purwokerto bisa melahirkan pemain-pemain yang bisa mengharumkan nama Indonesia,” kata Hariyanto. Para peserta yang lolos tahap seleksi berhak tampil di fase turnamen yang akan digelar pada 22-23 Juli 2018. Mereka akan bersaing memperebutkan Super Tiket Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 untuk tampil di Final Audisi di Kudus pada September 2018. Pemenang fase turnamen ini akan mendapatkan Super Tiket untuk melaju ke babak final di GOR Jati, Kudus, Jawa tengah pada 7-9 September 2018. Selain dengan memenangi turnamen, Super Tiket juga bisa diberikan oleh Tim Pencari Bakat kepada peserta yang kalah di fase turnamen namun memiliki talenta yang istimewa. Di Kudus, para peserta akan bertemu dengan atlet –atlet yang sudah meraih Super Tiket di kota-kota penyelenggaraan Audisi Umum lainnya yakni, Pekanbaru, Balikpapan dan Manado. Ditambah juga, peraih Super Tiket dari Purwokerto yang menggelar Audisi Umum bersamaan dengan Surabaya serta Cirebon dan Solo, di mana Audisi Umum akan dilaksanakan pada 4-6 Agustus. Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 merupakan pintu masuk bagi atlet-atlet muda berbakat ke klub PB Djarum. Audisi Umum dapat diikuti oleh atlet putra dan putri berkewarganegaraan Indonesia dengan kategori U-11 (berusia 6-10), U-13 (untuk peserta dengan umur 11-12 tahun), dan U-15 (untuk peserta dengan umur 13-14 tahun). Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui laman www.pbdjarum.org atau dengan mendaftarkan diri secara langsung sehari sebelum pelaksanaan Audisi Umum di GOR setiap kota audisi. Peserta diwajibkan melakukan daftar ulang satu hari sebelum tahap seleksi (H-1) sesuai kota audisi pilihannya. (Ham) Audisi Purwokerto Kategori U-11 Putri 48 Peserta Kategori U-11 Putra 31 Peserta Kategori U-13 Putri 57 Peserta Kategori U-13 Putra 18 Peserta Kategori U-15 Putri 15 Peserta Kategori U-15 Putra 7 Peserta

Tekuk Unggulan Pertama Ganda Putri Asal China, Febriana/Ribka Lolos Ke Final Asia Junior Championship 2018

Kalahkan unggulan pertama asal China, Liu Xuanxuan/Yuting Xia, 25-23, 14-21 dan 21-15, Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto lolos babak final Asia Junior Championship 2018. (Ham/NYSN)

Jakarta- Dobel putri, Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto lolos ke babak final perseorangan Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulutangkis Junior Asia 2018, di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (21/7). Mereka mengalahkan unggulan pertama asal China, Liu Xuanxuan/Yuting Xia, 25-23, 14-21 dan 21-15. Liu/Xia dalah pasangan yang sukses meraih medali silver Asia Junior Championships tahun lalu. Set pertama berlangsung, duet Febri dan Ribka mengambil inisiatif menekan hingga poin ke 16. Sempat unggul 5 poin, namun duo atlet binaan PB Djarum ini dapat disusul. Meski demikian, gim pertama ini dimenangkan oleh Febri/Ribka dengan skor 23-25. Memasuki set kedua, Indonesia harus tertinggal cukup jauh, hingga skor 2-11. Berupaya mengejar ketertinggalan di set kedua, pasangan junior ini belum mampu mengecilkan selisih poin, dan set kedua ditutup dengan skor 21-14, untuk Liu dan Xia. Di set ketiga, laga berlangsung sengit hingga turun minum. Namun Febri/Ribka unggul dengan poin 11-8. Mendominasi permainan, Indonesia menjauh dengan skor 20-15 di ujung pertandingan. Pukulan keras dari Xia harus melebar keluar lapangan, dan memberikan kemenenangan Febri/Ribka, dengan skor akhir 21-15. “Game pertama mainnya udah nyerang duluan, jadi enak. Tapi game kedua kami ngendorin, jadi hati-hati mainnya. Game ketiga disuruh pelatih lebih yakin, nggak usah mikir menang kalah. Jadi kami main nothing to lose, alhamdulillah bisa menang,” kata Ribka, gadis kelahiran Karanganyar, Solo, 22 Januari 2000, usai laga. Di partai puncak, Febriana/Ribka akan berhadapan dengan Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh, asal Malaysia, pada Minggu (2/7). Ini menjadi pertemuan pertama bagi mereka. Di atas kertas, lawan lebih diunggulkan. Febriana/Ribka merupakan unggulan empat turnamen, sementara Tan/Toh tepat berada di atasnya, sebagai unggulan tiga. “Persiapannya lebih jaga stamina, makan yang banyak, istirahat yang teratur. Besok nggak mikir menang kalah juga, pokoknya main nothing to lose,” ujar Ribka. “Harus lebih fokus lagi, nggak usah mikir menang kalah, main enjoy aja,” sambung Febri, yang lahir di Jember, Jawa Timur, 19 Februari 2001 . Sementara Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti akhirnya finis di babak semifinal Asia Junior Championships 2018. Hasil ini sama dengan pencapaian mereka di tahun lalu. Kala itu, Agatha/Fadia dikalahkan Baek Ha Na/Lee Yu Rim, Korea. Kini, pasangan Indonesia unggulan dua tersebut harus mengakui kebolehan Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh, dari Malaysia. Agatha/Fadia kalah dua game langsung dengan 15-21 dan 21-23 dalam waktu 41 menit. “Hasilnya tidak sesuai target, karena kami kan inginnya juara. Tapi nggak apa-apa kami tetap bersyukur, semoga nanti di Kejuaraan Dunia Junior bisa juara,” kata Fadia. Dari awal game pertama, Agatha/Fadia mengaku terus tertekan oleh permainan lawan. Kondisi fisik yang mulai menurun juga diakui menjadi kendalanya kali ini. “Mereka mainnya nekad. Bola-bola yang bukan serang, mereka serang, jadi kami ketekan terus dari awal,” ujar Fadia mengomentari lawannya tersebut. (Ham/Dre)

Remaja Jakarta 17 Tahun Spesialis Dobel, Rontokan Petenis Unggulan Asal Jepang di Nomor Tunggal

Fitriani Sabatini yang disapa Ani (17 tahun) mengalahkan unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki, yang berperingkat tunggal ke-593 dunia dengan skor akhir 6-2 6-1. (tribunnews.com)

Jakarta- Kejutan besar kembali warnai babak kedua Pelti–Widya Chandra International Tennis 2018, di lapangan tenis The Sultan Hotel Jakarta, Kamis (19/7). Dua unggulan teratas sektor tunggal, tersingkir dari persaingan gelar juara turnamen khusus putri di event berhadiah total 15.000 dollar AS atau Rp 210 juta ini. Wakil tuan rumah, Fitriani Sabatini yang disapa Ani (17 tahun) menjadi salah satu pembuat kejutan. Petenis spesialis dobel yang masuk babak utama menggunakan fasilitas wild card itu, mengalahkan unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki. “Saya banyak melakukan pukulan spin untuk melayani pukulan flat keras yang dilakukan oleh lawan. Dia kehilangan konsistensi dan membuat kesalahan sendiri,” ujar Ani usai laga berdurasi satu jam 20 menit. Ani, menang straight set atas lawan berperingkat tunggal ke-593 dunia itu dengan skor akhir 6-2 6-1. Kemenangan Ani memastikan tuan rumah memiliki satu wakil pada babak empat besar turnamen seri kedua ITF Women’s Circuit di Indonesia ini. Pada fase semi final, Jumat (20/7), Ani terlibat perang saudara dengan seniornya, Aldila Sutjiadi (23), yang sukses membungkam wakil Kazakhstan, Zhibek Kulambayeva 6-2 6-4. Sayang, keberhasilan Ani gagal diikuti oleh saudara kembarnya, Fitriana ‘Ana’ Sabrina. Ana harus mengakui ketangguhan unggulan kedelapan asal India, Mahak Jain dalam pertarungan rubber set dengan kedudukan akhir 3-6 6-3 3-6. Sementara di nomor ganda, Ana dan Ani kandas di tangan seeded teratas, Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India). Pasangan Ana/Ani harus kalah 3-6 1-6. Pembuat kejutan lain di nomor tunggal ini adalah Arianne Hartono, wakil Belanda berdarah Indonesia. Petenis kelahiran Amsterdam 21 April 1996, yang lolos babak utama dari kualifikasi itu berhasil menumbangkan seeded teratas asal China, Yexin Ma. Lulusan suma cum laude jurusan Psikologi dari Universitas Mississippi ini, menang 7-6(6) 6-3. Di nomor ganda, berpasangan dengan Aldila Sutjiadi, Arianne yang merupakan keponakan petenis era 90’an Deddy Tedjamukti ini, lolos ke babak empat besar. Di perempat final, mereka menekuk unggulan ketiga, Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang) 6-1 6-0. (Ham) Hasil Kamis (19/7) Babak Kedua Tunggal Arianne Hartono (Belanda) v 1-YeXin Ma (China) 7-6(6) 6-3 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) v Mana Ayukawa (Jepang) 2-6 6-3 6-4 3-Zeel Desai (India) v Zhuoma Ni Ma (Tiongkok) 6-2 6-0 5-Ayako Okuno (Jepang) v Suzuho Oshino (Jepang) 6-3 6-4 8-Mahak Jain (India) v Fitriana Sabrina 6-3 3-6 6-3 4-Kanika Vaidya (India) v Sai Samhitha Chamarthi (India) 7-5 6-2 6-Aldila Sutjiadi v Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) 6-2 6-4 Fitriani Sabatini v 2-Michika Ozeki (Jepang) 6-2 6-1 Perempat Final Ganda 1-Mana Ayukawa (Jepang)/Zeel Desai (India) v Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina 6-3 6-1 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (Tiongkok) v Sai Samhitha Chamarthi/Rishika Sunkara (India) 6-2 6-2 Arianne Hartono (Belanda)/Aldila Sutjiadi v 3-Jiakang Li (China)/Ayaka Okuno (Jepang) 6-1 6-0 Zhuoma Ni Ma/Mi Zhuoma You (China) v 2- Rio Kitagawa (Jepang)/Ani Vangelova (Bulgaria) 6-4 6-3 Jadwal Jumat (20/7) Semi Final Tunggal Arianne Hartono (Belanda) v 7- Ho-Ching Wu (Hong Kong) 3-Zeel Desai (India) v 5-Ayako Okuno (Jepang) 8-Mahak Jain (India) v 4-Kanika Vaidya (India) 6-Aldila Sutjiadi v Fitriani Sabatini Semi Final Ganda 4-Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan)/YeXin Ma (China) Arianne Hartono (Belanda)/Aldila Sutjiadi v Zhuoma Ni Ma/Mi Zhuoma You (China)

Kunci Tiket Perempat Final Singapore Open 2018, Ihsan Maulana Main Lebih Rileks

Ihsan Maulana Mustofa menjadi pemain Indonesia ke tujuh yang lolos ke babak perempat final kejuaraan Singapore Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 500. (Humas PBSI)

Jakarta- Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa, maju ke babak perempat final turnamen Singapore Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 500, yang berlangsung di Singapore Indoor Stadium, 17-22 Juli. Tiket putaran delapan besar berhasil digenggam Ihsan usai mengandaskan perlawanan sengit dari wakil Malaysia, Daren Liew, pada pertandingan babak kedua, Kamis (19/7). Laga yang digelar di lapangan 4 Singapore Indoor Stadium tersebut, Ihsan menang dengan skor 23-21, 21-16. Ihsan menjadi pemain ketujuh dari skuat Indonesia, yang lolos ke perempat final. Sebelumnya, satu pemain tunggal putri, dua pasangan ganda putra, dan tiga pasangan ganda campuran, sudah lebih dulu melangkah ke babak delapan besar. Daren Liew berhasil meraih poin pertama pada gim kesatu, tetapi poin ini langsung disamakan oleh Ihsan. Setelah itu, Ihsan pun mampu berbalik unggul dengan skor 5-3. Liew kembali menyamakan kedudukan menjadi 5-5 sebelum akhirnya berbalik unggul dengan skor 10-7. Saling mengejar skor tak sampai di situ saja karena Ihsan yang belum menyerah mampu menyamakan kedudukan lagi menjadi 10-10. Akan tetapi, satu poin yang diraih Liew berikutnya memastikan dia menutup paruh awal gim kesatu dalam keadaan unggul 11-10. Selepas jeda, keunggulan Liew melebar hingga 18-14. Meski demikian, Ihsan tak lantas angkat tangan. Sebaliknya, dia justru meningkatkan tempo permainannya. Alhasil, Ihsan mampu memaksakan terjadinya adu setting sebelum akhirnya berhasil memenangi gim kesatu. Gim kedua berjalan tak kalah seru dengan gim kesatu, lantaran kedua pemain masih mengusung permainan menyerang dengan tempo tinggi. Ihsan yang sempat tertinggal 0-3 mampu menyamakan kedudukan menjadi 4-4. Saling mengejar skor kembali terjadi dan pertandingan menjadi semakin menegangkan. Setidaknya ada delapan kali aksi saling kejar poinm pada gim kedua. Namun, Ihsan mampu unggul kembali dengan skor 15-14. Liew masih bisa menambah dua poin lagi, tetapi laju Ihsan sudah tidak bisa dibendung. Dia pun memenangkan pertandingan dengan selisih lima poin, atas wakil Malaysia itu. “Alhamdulilah, bisa menang lagi. Kalau ditanya permainan tadi, di babak pertama kemarin lebih menegangkan karena lawan rekan sendiri. Tapi hari ini, saya mainnya lebih santai aja. Meski di game pertama sempat tertinggal terus. Justru saya lebih bisa dan tenang, malah mikir ke strategi aja sih,” terangnya. “Kalau di tanya seberapa pentingnya masuk bisa ke perempat final, ya pasti sangat penting sih. Karena di sini, saya ingin mencari poin sebanyak-banyaknya agar bisa mendongkrak kembali rangking saya,” ujar pemuda kelahiran Tasikmalaya 18 November 1995. Di babak permpat final yang akan berlangsung, Jumat (20/7), peringkat 52 ranking BWF ini menunggu pemenang wakil Vietnam Tien Minh Nguyen, melawan Parupalli Kashshyap (India). “Besok lebih tahan aja dan main bagus aja sih,” tutupnya. (Adt) Hasil 16 besar Singapura Open pada Kamis (19/7) Tunggal Putra Ihsan Maulana Mustofa vs Daren Liew (Malaysia) 23-21 dan 21-16 Tunggal Putri Yulia Yosephin Susanto vs Rituparna Das (India) 15-21, 21-13, dan 21-16 Ganda Putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (unggulan kelima) vs Peter Briggs/Tom Wolfenden (Inggris) 21-8 dan 21-9 Angga Pratama/Rian Agung Saputro vs Aaron Chia/ Wooi Yik Soh (Malaysia) 21-19, 18-21, dan 22-20 Ganda Campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (unggulan pertama) vs Danny Bawa Chrisnanta/Wong 21-9 dan 21-13 Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari vs Mark Lamfuss/Isabel Herttrich 13-21, 21-14, dan 21-15 Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandow vs Marvin Emil Seidel/Linda Efler 17-21, 21-17, dan 24-22