Manganang Cs Takluk 0-3 Dari Korea, Kalah Pengalaman dan Jam Terbang

Aprilia Santini Manganang (9) dan kawan-kawan, takluk 3-0 dari Timnas putri Korea Selatan, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas putri Indonesia harus takluk dari Korea Selatan (Korsel) dengan skor 0-3, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). Aprilia Santini Manganang Cs dipaksa menyerah dalam pertarungan tiga set, 22-25, 13-25, dan 18-25 atas Negeri Ginseng, dalam waktu 76 menit. Amalia Fajrina Nabila, Kapten Tim, mengaku banyak pelajaran yang didapat dirinya dan kolega pada laga ini. Terlebih, menurut pemain bernomor punggung 7 itu, pertandingan kali ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua tim setelah beberapa tahun Indonesia absen di kejuaraan Asia. “Ini baru pertama kali lagi kami bertemu dengan mereka setelah beberapa tahun Indonesia tidak pernah ikut kejuaraan Asia. Tapi, secara keseluruhan kami sangat puas untuk pertandingan hari ini,” ujar pemain berusia 24 tahun itu usai laga. Diakuinya, level Indonesia dengan Korsel berbeda. “Di pertandingan tadi kami sudah berusaha maksimal. Di Asian Games sebelumnya mereka itu juara dengan mengalahkan Jepang. Ya, bisa dlihat perjuangan kami serta salut juga buat teman-teman yang lain,” tambahnya. “Kami tidak pernah ikut kejuaraan. Dan sekalinya ikut di Asian Games, apalagi ketemunya Korsel. Mereka tim yang konsisten ikut Grand Prix bahkan Olimpiade. Yang pasti banyak pelajaran yang didapat terutama teknik dan mental,” ungkap Amalia. Sementara itu, kendati takluk dari Korsel, namun Aprilia Manganang mengaku puas dengan dengan pertandingan yang dilakoninya bersama tim. “Sangat puas pertandingan hari ini. Apalagi tadi poinnya juga rapat terus. Kami banyak mengambil pelajaran dari mereka. Yang pasti pengalaman mereka dengan materi pemain yang bagus-bagus,” jelasnya. “Tadi juga bisa dilihat mereka mainnya tenang karena mungkin dari pengalaman dan juga jam terbang. Jadi Indonesia harus banyak bertanding di luar untuk mengimbangi permainan seperti tim Korsel,” ungkapnya. Diketahui, Indonesia melaju ke perempatfinal setelah berhasil bertahan di posisi empat besar Grup A. Srikandi Merah Putih menduduki posisi ketiga di klasemen akhir Grup A dengan poin 6, hasil dari 2 kali menang dan 2 kali kalah. Pada pertandingan terakhir di babak penyisihan Grup A, Timnas Indonesia harus menyerah saat melawan Thailand dengan skor 1-3, pada Senin (27/8). Di pertandingan ini, Timnas Indonesia hanya bisa mencuri keunggulan di set kedua dengan skor 25-20. Pada tiga set lain, Thailand menang dengan skor 19-25, 13-25 dan 13-25. Hasil ini membuat Thailand mengoleksi 12 poin dari 4 laga sekaligus merebut puncak klasemen akhir Grup A. Sedangkan Mohammad Ansor, juru racik tim, menargetkan anak didiknya bisa finish diposisi 5 besar. “Kami yakin anak-anak bisa ambil posisi 5 atau 6. Itu memang target yang ingin dicapai,” tukas Ansori. (Adt)

Hasilkan Emas Ke-24 Kontingen Asian Games Indonesia, Dobel Kevin/Marcus Bidik Prestasi di Olimpiade Tokyo

Tundukkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, dalam final ganda putra Asian Games 2018, di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). (Riz/NYSN)

Awas Jakarta- Menyudahi laga ketat dari rekan senegara, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, di partai final yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). Kemenangan itu pun mengantarkan Kevin/Marcus meraih medali emas pertamanya di ajang Asian Games. Hebatnya, ini penampilan perdana mereka di Asian Games. Tentu hasil ini juga menjadi pembuktian bagi keduanya, hingga level Asian Games, mereka berhasil bebas dari kutukan Lee Chong Wei. Chong Wei merupakan pemain Malaysia yang amat mendominasi nomor tunggal putra beberapa tahun terakhir. Bahkan berbagai gelar Superseries yang didapat Chong Wei bisa dibilang tak terhitung. Namun, pada ajang bergengsi untuk negaranya, Chong Wei selalu mengalami kegagalan. Prestasi terbaik Lee Chong Wei hanyalah meraih medali perak seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan paling tinggi Olimpiade. Pada tiga edisi terakhir Asian Games pun Chong Wei pencapaian optimal pebulu tangkis 35 tahun itu, hanyalah meraih perak pada 2010. Hal serupa sempat menghantui Kevin/Marcus. Dominasi dobel peringkat satu dunia itu terlihat pada kejuaraan Superseries sejak 2017 hingga kini. Namun, di berbagai event penting, Kevin/Marcus nihil gelar, dengan yang paling mencolok di Kejuaraan Dunia. Tampil dalam dua edisi, duet ini belum bisa berbicara banyak dan bahkan belum pernah meraih medali. Kini di Asian Games 2018, Kevin/Marcus yang melakoni debutnya mampu memecahkan kebuntuan tersebut. Raihan emas di pesta olahraga terbesar se-Asia itu, memastikan mereka tak senasib dengan Chong Wei. Guna mematahkan kutuhkan Chong Wei, adalah menjadi kampiun Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Pada Olimpiade, Kevin/Marcus belum pernah tampil. Olimpiade Tokyo 2020, bisa menjadi jalan baginya untuk membuktikan diri jadi yang terbaik setelah emas Asian Games 2018. Medali emas Kevin/Marcus ini menjadi emas kedua dari cabor bulutangkis atau yang ke-24 untuk kontingen Indonesia. Sebelumnya, medali emas disumbangkan Jonatan Christie dari nomor tunggal putra usai mengalahkan pebulutangkis Taiwan, Chou Tienchen, 21-18, 20-22, dan 21-15. Prestasi tertinggi Fajar/Rian adalah medali emas SEA Games 2017 di nomor beregu putra. Sementara Kevin/Marcus merupakan juara dunia 2018 dan juga ganda putra peringkat satu dunia. Kevin memuji penampilan Fajar/Rian yang bermain dalam performa terbaik. “Puji Tuhan atas pertandingan hari ini. Padahal, skornya tadi sempat jauh, tapi bisa menang. Mereka bermain sangat baik dan diluar ekspektasi kami,” terang Kevin. Ditambahkan Marcus, pada pertandingan tadi keberuntungan menjadi faktor mereka meraih kemenangan. “Apalagi di gim ketiga mereka unggul, tapi di poin-poin akhir, kami lebih beruntung dari mereka,” timpalnya. Sementara Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), mengaku jika semula mentargetkan bulutangkis bakal meraih emas, dari ganda campuran dan ganda putra. “Pencapaian di Asian Games 2018 disemua sektor cukup baik. Di beregu putri dan tunggal putri prestasinya sudah lumayan, meski tak mendapatkan medali. Tapi Gregoria (Mariska Tunjung) mampu mengibangi lawan pemain unggulan. Dan memang kami tidak targetkan, justru ganda campuran yang target emas, malah dapetnya perunggu,” jelas Susy. “Emas tak terduga juga dapat dari tunggal putra. Dan ganda putra diluar ekspekstasi, karena setelah 44 tahun yakni Asian Games 1974, akhirnya kembali all indonesian final,” tukas istri dari legenda bulutangkis, Alan Budikusuma itu. Saat Asian Games 1974, di Teheran, Iran, partai final cabang bulutangkis mempertemukan sesama pemain Indonesia, yakni ganda Tjun Tjun/Johan Wahjudi meraih emas setelah menagalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra. Tambahan emas dari ganda putra itu membuat total koleksi medali kontingen Indonesia di Asian Games 2018 menjadi 24 emas, 19 perak, dan 29 perunggu. Sampai berita ini dibuat, untuk sementara posisi Indonesia mantap di peringkat keempat unggul enam medali emas atas Iran. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

Melaju ke Semifinal, Fajar/Rian Tantang Unggulan Dua Asal China, Kevin/Marcus Duel Dengan Ganda Taiwan

Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2108, paska menyingkirkan wakil Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, dua gim langsung, 21-17 dan 21-13. (Pras/NYSN)

Jakarta- Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games XVIII/2108. Mereka sukses membuat wakil Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi menelan kekecewaan. Wakil Negeri Jiran itu mampu tampil baik di gim pertama dengan membuat kedudukan imbang 17-17. Namun, duet Merah Putih tak membiarkan Ong/Teo merebut gim ini. Dengan memainkan bola pendek menjadi kunci Fajar/Rian mengunci gim pertama dengan skor 21-17. “Saat kedudukan 17-17 di gim pertama, saya tak berpikir gimana-gimana. Kuncinya gim pertama tak boleh angkat bola karena rawan diserang oleh lawan. Jadi kami terapkan permainan no lob, dan berhasil,” ungkap Fajar usai laga. Berlanjut ke gim kedua, Fajar/Rian makin tak terbendung. Mereka dengan mudah meraih poin atas Ong/Teo. Dan usai tampil selama 33 menit, Fajar/Rian mengunci kemenangan dengan skor 21-13. “Mereka tak bisa bermain bertahan. Sebab ada faktor menang dan kalah angin. Mungkin mereka sempat ada defense, tapi di gim kedua, mereka bisa ditembus,” timpal Rian. Kemenangan Rian/Fajar atas Ong/Teo di perempat final Asian Games 2018 sekaligus membalas kekalahan di ajang All England 2018, Maret lalu. Duet Indonesia yang menempati rangking 9 dunia itu kalah rubber game, 16-21, 21-16, dan 21-23. Di semifinal, Fajar/Rian menantang unggulan dua asal China, Li Junhui/Liu Yuchen yang menang atas wakil Srilanka, Sachin Dias/Buwaneka Goonethilleka, staright game, 21-12, 21-15. “Lawan kami besok (Senin, 27/8) juga berat. Power dan serangan mereka, karena postur mereka tinggi. Jadi harus antisipasi bola datar,” terang Fajar. Sementara itu, langkah ganda utama Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon masih belum terbendung. Mereka sukses menumbangkan Goh V Shem/Tan Wee Kiong asal Malaysia, straight game, 22-20, 21-19. Hasil itu sekaligus memperlebar rekor pertemuan kedua pasangan menjadi 3-1. Dua kemenangan Kevin/Marcus masing-masing diraih di ajang India Open 2016 (21-15, 21-17), dan Thomas & Uber Cup Finals 2018 (21-19, 20-22, 21-13). Sedangkan satu-satunya kemenangan Goh/Tan diperoleh di Swiss Open 2015 (21-10, 21-19). Menuntaskan laga selama 34 menit, Marcus mengakui bila dirinya bersama Kevin lebih siap dalam pertandingan ini, dibandingkan dengan lawan. “Kami lebih siap dan lebih yakin dari awal main. Sehingga kami bisa unggul dari mereka,” ujar Marcus. Diakui Marcus, bila penampilan Goh/Tan sangat bagus dan memiliki speed yang baik. “Jadi kami juga harus siap untuk main dengan speed juga,” tambah suami dari Agnes Amelinda Mulyadi itu. Di semifinal, Kevin/Marcus sudah ditunggu Lee Jhe Huei/Lee Yang. Wakil Taiwan ini meraih kemenangan, dari wakil Korea Selatan, Choi Solgyu/Min Hyuk Kang, staright game, 21-16, 21-16. (Adt)

Lakoni Duel Kurang Dari Satu Jam, Dua Wakil Tunggal Indonesia Lolos ke Semifinal

Anthony Sinisuka Ginting sukses menekuk wakil China, Chen Long, dua set langsung dengan skor 21-19 dan 21-11, pada laga perempat final, cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Wakil tunggal Indonesia, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting, melaju ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Minggu (26/8). Dihadapan publik sendiri, di Istora Senayan, Jakarta, Jonatan dan Anthony memaksa lawan menyerah, lewat duel yang berlangsung kurang dari satu jam. Memainkan laga perempat final, Jonatan hanya butuh waktu 46 menit untuk memaksa wakil Hongkong, Wong Wing Ki Vincent menyerah. Di gim pertama, pemain asal PB Tangkas Specs Jakarta itu tampil dominan, bahkan tak memberikan kesempatan lawan, memundi poin dengan mudah. Jonatan yang tampil percaya diri itu kerap membuat Wong tak berkutik. Bahkan, poin yang dikumpulkan pebulutangkis Pelatnas PBSI Cipayung itu, tak mampu dikejar hingga membuat Wong pasrah. Alhasil, Jonatan mampu mengunci gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. Berlanjut di gim kedua, Wong berusaha keluar dari tekanan. Namun, pebulutangkis Merah Putih berpostur 1,79 meter itu konsisten dengan performanya. Sempat memimpin 11-9 di interval gim ini, tapi Wong berhasil menyusul serta memimpin perolehan poin 15-14. Lawan yang kerap mengangkat bola ke belakang, dibalas dengan jumping smash keras oleh Jonatan. Akibatnya, Jonatan kembali berhasil meninggalkan perolehan angka lawan sekaligus memastikan lolos ke semifinal usai membungkus kemenangan dengan skor 21-18. “Terima kasih Tuhan. Suporter yang ada di Istora membuat juga Wong sedikit tegang. Di awal Wong sering mati sendiri. Bola yang seharusnya tidak sulit, tapi tidak bisa dia kembalikan atau keluar. Ini jadi keuntungan tersendiri buat saya,” ujar Jonatan usai laga. Terkait peluang di semifinal, yang dihelat pada Senin (27/8), Jonatan mengatakan akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan Hendry Saputra (Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI). “Setelah lihat hasilnya barus bisa saya bicarakan dengan pelatih,” cetus Jonatan. Sedangkan, Anthony menorehkan hasil gemilang usai menekuk Chen Long (China) yang juga unggulan lima ini, dalam tempo 50 menit. Pertemuan kedua pemain ini berlangsung sengit sejak awal gim pertama. Sempat tertinggal 6-11 dari Chen di interval gim pertama, tak membuat Anthony mengendurkan tekanan. Jonatan dan Chen sempat membuat publik Istora tegang, saat kedudukan imbang 18-18. Namun, penampilan impresif dari pebulutangkis Tanah Air berusia 21 tahun itu membuat Chen kewalahan. Anthony memanen angka serta membungkus gim ini, dengan skor 21-19. Memulai gim kedua, Anthony langsung menggebrak dengan memimpin interval 11-6. Bahkan, poin wakil tuan rumah makin tak terkejar oleh lawan hingga match point 20-11. Dan bola kembalian Chen yang menyangkut di net memastikan Anthony merebut gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. “Puji Tuhan, saya bisa lewati hari ini dan dikasih kemenangan. Di gim pertama awalnya sampai interval ketinggalan, saya coba strategi seperti kemarin, lebih inisiatif menyerang serta mengembalikan kepercayaan diri lagi,” terang Anthony. “Di gim kedua, tak ada strategi khusus. Chen dapat lapangan yang ‘menang angin’, jadi dia banyak melakukan kesalahan sendiri, jadi ragu-ragu mainnya,” tambahnya. Di babak semifinal, Anthony akan berjumpa dengan Chou Tien Chen (China Taipeh) sekaligus unggulan empat. “Persiapannya tetap balik ke diri saya sendiri, dari perjalanan kemarin nggak mau terlalu banyak mikir. Sebenarnya sudah ada rancangan mau main apa, tapi fokus ke jaga badan, jaga makan, mental, kalau di lapangan semua berubah,” tegas Anthony. (Adt)

Anthony Revans Tekuk Momota Dua Gim Langsung, Ganda Putra Amankan Tiket Perempat Final

Lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit, Anthony Sinisuka Ginting (putih) menang dari wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). (Tribunnews.com)

Jakarta- Anthony Sinisuka Ginting akhirnya menuntaskan dendam, paska menekuk wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). Pemain tunggal asal klub SGS PLN Bandung itu, sebelumnya takluk dari ketangguhan Momota, pada pertemuan semifinal beregu putra, Selasa (21/8), lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit. Pada laga 16 besar, memainkan gim pertama, Anthony meladeni pemain Negeri Sakura itu. Saling tekan dan serang mewarnai duel kedua pemain ini. Namun, berkat ketenangan dalam menempatkan bola membuat Anthony mampu membungkus gim pertama dengan skor 21-18. Situasi tak berubah di gim kedua. Anthony dan Momota tampil impresif. Kendati sempat tertinggal 6-11, namun penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu tampil tenang, bahkan bmembuat angka imbang 15-15. Skor lawan terpaku di angka 18, sedangkan Anthony memaksa Momota menelan pil pahit, usai mengunci gim kedua dengan skor 21-18. “Saya tak menyangka bisa menang dua game langsung. Rasanya plong, apalagi saya kalah di beregu. Senang bisa revans. Sebenarnya performa Momota cukup bagus. Dan di awal game dia memegang kendali. Tapi ada peribahasa, bila hasil tidak akan mengkhianati usaha,” ujar Anthony mengomentari kemenangannya atas Momota. Di perempat final, Anthony menantang Chen Long asal China, yang menempati unggulan lima. Berjumpa dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil itu, anak pasangan Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu) mengkau siap. “Harus lebih fokus sama konsentrasi di lapangan saja,” lanjutnya. Selain Anthony, wakil Indonesia di tunggal Jonatan Christie juga sukses mencatat hasil positif. Pemain berusia 20 tahun, kelahiran Jakarta, 15 September itu berhasil memulangkan Khosit Phetpradab (Thailand), rubber game, 17-21, 21-18, dan 21-18. “Sulit melawan Khosit, tetapi Tuhan bantu saya banyak hari ini. Saya merasa performa saya kurang dibandingkan kemarin. Saya nggak mau menyerah begitu saja, ini Asian Games yang empat tahun sekali,” ujar pebulutangkis asal PB Tangkas Specs itu usai laga. “Saya mau semaksimal mungkin, sampai habis, sampai saya benar-benar tak bisa jalan seperti Anthony, saya akan lakukan itu,” tambahnya. Di perempat final, Jonatan akan berduel dengan Wong Wing Ki Vincent (Hongkong) usai meraih kemenangan atas Wang Tzu Wei (China Taipeh), rubber game, 21-12, 16-21, dan 21-13. Hasil cemerlang turut diperoleh dua ganda terbaik Indonesia, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Fajar/Rian secara meyakinkan menyudahi duet Korea, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, straight game, 21-18, 21-13, dalam tempo 44 menit. Di laga perempat final nanti, Fajar/Rian akan beradu kekuatan dengan ganda Negeri Jiran Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, yang secara mengejutkan menang atas unggulan tiga Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 21-14, 21-17. Sementara itu, kompatriotnya Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon, juga melenggang ke perempat final setelah menghentikan langkah Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang), rubber game, 21-16, 19-21, dan 21-18. Selanjutnya, pasangan Indonesia peraih juara Indonesia Open 2018 itu ditantang dobel Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong, yang menaklukan Bikash Shrestha/Nabin Sharestha (Nepal), straight game, 21-9, 21-12. Ditanya mengenai pertandingan perempat final, pada Minggu (25/8), Marcus mengatakan akan mengeluarkan penampilan terbaiknya bersama Kevin. “Untuk besok, kami mau main yang bagus saja dulu,” cetus Marcus singkat. (Adt)

Tunggal Putri Indonesia Kandas, Dobel Greysia/Apriyani Wakili Tim Merah Putih di Semifinal

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16, pada laga perempat final, nomor perorangan Asian Games 2018, Sabtu (25/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia tanpa wakil di babak perempat final, cabang olahraga bulutangkis Asian Games 2018, untuk nomor tunggal putri, setelah langkah Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, akhirnya terhenti di babak 16 besar, di Istora Senayan, Sabtu (25/8). Fitriani yang menghadapi pebulutangkis India, Saina Nehwal, di babak 16 besar kalah dua gim langsung, 6-21 dan 14-21. Sedangkan Gregoria menyerah dari unggulan ketiga yang juga asal India, PV Sindhu, 12-21, 15-21. Dikutip dari situs Badminton Indonesia, Fitri kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat di gim pertama. Bahkan Fitri cenderung banyak melakukan kesalahan sehingga Saina menang mudah. Di gim kedua Fitri sempat memberikan perlawanan kepada Saina. Hanya saja, kesalahan-kesalahan yang dilakukan Fitriani, kembali membuat poin Saina terus bertambah dan memenangi pertandingan. “Saina lebih menekan, permainan saya tidak berkembang. Di gim kedua saya unggul di awal, tetapi terkejar lagi karena dia bisa mengatasi pola yang saya terapkan,” ujar Fitriani usai bertanding. “Mungkin (penyebab kekalahan) dari pikiran sendiri, waktu sering out jadi ragu-ragu,” tambahnya Sementara Gregoria mengaku, sulit mengembangkan permainan saat melawan Sindhu. Sindhu yang merupakan unggulan ketiga di Asian Games 2018 mendominasi permainan. Di gim kedua penampilan Gregoria sempat membaik, tetapi Sindhu selalu lebih unggul. “Saya terlalu lama mencari pola permainan, Sindhu sudah dapat puncaknya, saya terus di bawah tekanan. Waktu gim kedua saya sudah mencobaatur dia. Tapi, dia menyerang, saya ikut terus memberikan pengembalian bola panjang ke belakang, padahal itu tidak menguntungkan saya sama sekali,” ucap Gregoria paska laga. Di Asian Games 2018 nomor tunggal putri memang tak dibebani target. Medali emas diharapkan datang dari bulutangkis di sektor duet campuran dan ganda putra. Meski tanpa wakil di nomor tunggal putri, tetapi nomor perorangan cabor bulutangkis, sukses mengamankan satu medali perunggu dari ganda putri. Ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir mengamankan tiket semifinal ganda campuran Asian Games 2018, usai menekuk pasangan ranking 23 dunia wakil Hong Kong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah, dalam permainan tiga set, 21-15, 17-21, 21-16 selama 58 menit, di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (25/8). Sementara, duet Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16. Dalam laga yang akan digelar pada Minggu (26/8), pasangan Indonesia ini akan berjumpa ganda asal Jepang, Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo. Hasil ini menjadi harapan bagi Indonesia untuk meraih medali emas di kategori ganda putri. Pasangan ini pun tampil cemerlang selama 2018. Saat ini mereka menempati posisi 4 dunia. Dilansir dari Bwfbadminton.com dan Asiangames2018.id., dobel andalan Indonesia ini menjadi kampiun di India Open 2018 dan Thailand Open 2018. (Adt)

Lampaui Target, Tenis Ganda Campuran Genapkan Emas Kontingen Indonesia Menjadi 10

Ekspresi petenis ganda campuran Indonesia Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi, usai menekuk pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum pada laga final tenis ganda campuran Asian Games 2018 di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (25/8). (INASGOC)

Jakarta- Ganda campuran Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi mengakhiri puasa medali emas cabor tenis, di Asian Games yang kali terakhir diraih 16 tahun silam. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, hadir menyaksikan pertandingan kali ini. Bahkan, kursi penonton pun nyaris penuh. Melawan pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum, di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sabtu (25/8/), partai ini memang diprediksi panas. Beberapa nomor seperti ganda putri dan tunggal putri, Indonesia sudah gagal meraih emas. Ganda campuran menjadi harapan terakhir Indonesia. Dobel Indonesia menang dengan skor 2-1. Sempat unggul di set pertama 6-4, kalah di set kedua 7-5, akhirnya Christopher/Aldila menyudahi set ketiga, dengan hasil akhir 7-10. Kerja keras keduanya ini, selain mendapat medali emas, juga bakal dipromosikan menjadi pegawai negeri sipil, dan akan diganjar hadiah uang Rp 1,5 miliar dari Menpora. Usai laga, Aldila mengaku, jika prestasi Asian Games 2018 ini jadi gelar pertama, sekaligus keikutsertaan pertamanya, di pesta multievent terbesar kedua, setelah Olimpiade. “Saya persembahkan gelar ini untuk orang tua saya, yang banyak berkorban untuk saya sejak kecil, serta memberikan dukungan atas pilihan saya berkarir di tenis. Mungkin tanpa mereka, karir saya di tenis tidak berlanjut,” ujar Aldila terharu. Kendati keduanya dijagokan sejak awal meraih medali, namun peluang merebut emas dinilai sangat berat. Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) justru menargetkan Christopher/Aldila memberi satu perunggu setelah mereka menembus semifinal. Nyatanya, dobel Merah Putih ini melenggang ke final, usai menaklukkan wakil Jepang Erina Hayashi/Kaito Uesugi 7-6(3), 6-4, di babak empat besar, dan memastikan meraih medali emas Asian Games 2018. Dari statistik, Christopher/Aldila total membuat kesalahan sendiri 26 kali, sedangkan Luksika/Sonchat hingga 33 kali. Kali terakhir tenis berhasil menyumbangkan untuk Indonesia, di Asian Games pada edisi 2002, saat digelar Busan, Korea Selatan. Pada Asian Games ke-14 itu, tenis meraih emas dari nomor beregu putri. Ketika itu, tim beregu putri menang 2-1 atas Jepang. Skuat Indonesia saat itu, dihuni Liza Andriyani, Wynne Prakusya, Wukirasih Sawondari, dan Angelique Widjaja. Sementara ganda campuran, Indonesia kali terakhir berhasil meraih emas, pada edisi Asian Games 1990, melalui pasangan Yayuk Basuki dan Hary Suharyadi. Keduanya menumbangkan ganda campuran Korea Selatan, Yoo Jin-sun/Kim Il-soon. Sukses Christopher/Aldila berhasil menjadi penghapus dahaga medali emas bagi tenis Indonesia, di ajang multievent empat tahunan di Asia tersebut. Busan 2002 menjadi Asian Games terakhir tenis Indonesia, bisa menyumbangkan medali emas. Di Doha 2006, Guangzhou 2010, dan Incheon 2014, tim merah putih gagal merebut satu medali dari tenis. Hasil positif ini diharapkan menjadi pemicu prestasi cabor tenis yang kali terakhir meraih emas pada 16 tahun silam. Kemenangan ini turut mengobati kegagalan Christopher/Aldila di nomor lain. Bersama Justin Barki, Christopher langsung kalah di babak dua ganda putra. Untuk Aldila melangkah hingga perempat final tunggal putri Asian Games 2018. Hasil emas ini melebihi target pemerintah melalui Kemenpora kepada PP PELTI. Sebab, Kemenpora tak meminta medali emas dari cabor tenis di Asian Games 2018. Atas pencapaian ini, Indonesia mengumpulkan total 38 medali, yakni 10 emas, 12 perak dan 16 perunggu, dan sementara ini berada di peringkat kelima Asian Games 2018. Di atas terdapat China (1), Jepang (2), Korea Selatan (3) dan Iran (4). (Ham) Laga Christopher/Aldila Meraih Medali Emas Asian Games 2018 Babak 32 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Sarah Mahboob Khan/Muzammil Murtaza (Pakistan) : 6-3, 62 Babak 16 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Nicha Lertpitaksinchai/Sanchai Ratiwatana (Thailand) : 7-5, 61 Perempat Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Rohan Bopanna/Ankita Raina (India) : 4-6, 6-3, (10-8) Semifinal Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Uesugi Kaito/Hayashi Erina (Jepang) : 7-6 (3), 6-4 Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Luksika Kumkhum/Sonchat Ratiwatana (Thailand) : 6-4, 5-7, (10-7)

Menangi Laga Ketat Lawan Wakil Korea, Liliyana Natsir : Mereka Bukan Pasangan yang Junior Banget

Ganda Campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (merah) melangkah ke babak perempat final, cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Jumat (24/8), usai menekuk perlawanan ketat, wakil Korea Selatan, Seo Seung Jae/Chae Yujung. (Riz/NYSN)

Jakarta- Ganda Campuran utama Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mendapatkan perlawanan ketat dari wakil Korea Selatan, Seo Seung Jae/Chae Yujung, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Jumat (24/8), setelah di babak 32 besar mendapatkan bye. Tampil di Istora Senayan, Jakarta, Owi/Butet, sapaan akrabnya, sempat memimpin di interval gim pertama 11-8. Namun Seo/Chae mengimbangi perlawanan tuan rumah. Kerja keras dobel Korea ranking 82 dunia tak sia-sia. Mereka mampu mengimbangi hingga kedudukan 19-19. Namun, peraih gelar All England tiga kali berturut-turut (2012, 2013, 2014) membuktikan kelasnya sebagai dobel dunia dengan tampil tenang di poin kritis, dan menutup gim pertama dengan skor 22-20. Pasangan Pelatnas PBSI Cipayung itu makin percaya diri di gim kedua. Kembali memimpin di interval gim kedua 11-7, performa Owi/Butet makin impresif. Mereka tak memberikan kesempatan pada lawan untuk memundi angka secara mudah. Setelah memainkan laga selama 45 menit, akhirnya peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil itu mengunci kemenangan dengan skor 21-17. Usai laga, Butet mengatakan dirinya bersama Owi tidak kaget bakal mendapatkan perlawanan ketat. “Mereka bukan pasangan yang junior banget, dan sering ikut pertandingan level tinggi. Apalagi mereka pemain kidal, karena kami biasa ketemu pemain bertangan kanan,” ujar pemain kelahiran Manado, Sulawesi Utara (Sulut), 32 tahun silam itu. Senada, Owi mengungkapkan Seo/Chae merupakan pemain bagus, terlebih mereka pasangan muda dan mainnya sangat cepat. “Kalau kami lengah bisa berbahaya,” jelas pria Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), 18 Juli 1987 itu. Di babak perempat final, unggulan tiga ini akan meladeni perlawanan pemain non unggulan asal Hongkong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah yang menang atas Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia), rubber game, 21-17, 19-21, dan 28-26. Sementara itu, tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting butuh waktu 27 menit untuk lolos ke babak 16 besar. Ia memulangkan wakil Iran Mehran Shahbazi yang berperingkat 403 dunia, di babak 32 besar, dalam pertarungan dua game langsung, 21-9 dan 21-8. Terkait kondisi kram paha kiri yang dialami pebulutangkis berusia 21 tahun, kelahiran Cimahi, Jawa Barat (Jabar) itupun, diakuinya sudah membaik. “Puji Tuhan sudah membaik dibandingkan dengan kemarin. Selama pemulihan, saya mendapatakan perhatian lebih dari tim fisioteraphy,” ujar Anthony usai laga. Ia mengalami kram paha kiri saat melakoni laga dramatis di partai final nomor beregu kontra China, pada Rabu (22/8). Anak pasangan Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu) itu harus mundur di gim ketiga ketika berjumpa dengan tungal utama Negeri Tirai Bambu, Shi Yuqi. Indonesia akhirnya kalah 1-3 dari China. Di babak 16 besar, pemenang kompetisi MILO School Competition kategori tunggal putra SD pada 2008 itu kembali menjajal kekuatan wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota. Pertemuan mereka merupakan laga ulangan semifinal beregu putra. Pemain asal klub SGS PLN Bandung itu, kalah rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21. (Adt)

Melenggang ke Babak 16 Besar, Pebulutangkis 19 Tahun Kelahiran Garut Janji Main Sabar dan Nekat

Menang mudah atas Thilini Pramodika Hendahewa (Srilanka), dua gim langsung, 21-6 dan 21-4, tunggal Indonesia Fitriani, lolos ke babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan putri, Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Kamis (23/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Tunggal Indonesia Fitriani lolos ke babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan putri, Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Kamis (23/8). Ia menang mudah atas Thilini Pramodika Hendahewa (Srilanka), dua gim langsung, 21-6 dan 21-4. Melakoni laga di babak 32 besar, pebulutangkis kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998 itu, belum menemukan lawan sepadan. Secara ranking, Fitriani unggul jauh dari lawan. Pemain binaan PB Exist Jakarta itu menghuni ranking 40, sedangkan Thilini berada di peringkat 696 dunia. “Pertandingan tadi saya lebih bisa menguasai di lapangannya. Lawan sebenarnya lumayan bagus, tapi memang tidak sebagus lawan yang saya hadapi kemarin di pertandingan beregu. Jadi saya bisa ambil kemenangan di pertandingan ini,” ujar Fitriani usai laga. Selanjutnya, anak didik Minarti Timur itu ditunggu wakil India, Saina Nehwal di babak 16 besar. Keduanya sudah bertemu sebanyak 3 kali yakni di ajang Badminton Asia Championships 2016, Indonesia Open 2016, dan Malaysia Masters 2017. Dan, tak satupun Fitriani menang atas Nehwal, yang berperingkat 10 dunia itu. Bahkan, Fitrini selalu takluk dalam pertarungan dua gim langsung. “Saya sudah beberapa kali bertemu dengan Nehwal dan selalu kalah. Semoga besok (Jumat, 24/8) bisa berjuang semaksimal mungkin di setiap poin per poinnya. Mudah-mudahan lancar,” terang pemegang gelar juara USM International 2015 itu. Sementara itu, pebulungkasi putri Indonesia lainya, Gregoria Mariska Tunjung juga menantang pemain India dan menjadi unggulan tiga, Pusarla V. Sindhu, di babak 16 besar, pada Jumat (24/8). Gregoria sukses menyingkirkan Weng Chi Ng (Makau), di babak 32 besar, straight game, 21-4 dan 21-7. Sedangkan Sindhu berhasil meraih kemenangan atas Thi Trang (B) Vu, rubber game, 21-10, 12-21, dan 23-21. Berjumpa dengan Sindhu, pebulutangkis Indonesia pemegang gelar juara Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017 itu berharap bisa membuat kejutan dihadapan pendukung tuan rumah. “Target pribadi maunya dapat medali. Tapi, saya tak mau menjadikan ini beban. Justru harus jadi motivasi. Apalagi besok (Jumat, 24/8) saya bertemu Sindhu, dan sudah beberapa kali saya kalah dari dia. Maunya sih bikin kejutan,” ujar dara berusia 19 tahun ini. Bagi Sindhu, laga kontra Gregoria, menjadi partai yang serius. Ia akan mempersiapkan diri dengan baik. Apalagi, menurutnya, pebulutangkis Indonesia kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999 it,u menunjukkan grafik permainan yang meningkat. “Permainan Gregoria semakin baik di beberapa laga. Saya menantikan pertandingan ini. Dan tampil di hadapan publik tuan rumah, tentu tak mudah bagi saya mengalahkannya,” ucap Sindhu, yang kini menjadi atlet ranking 3 dunia, dan unggul rekor pertemuan 3-0 atas Gregoria. (Adt)

Gagal Ulang Memori Indah 1998, Tim Beregu Putra Bulutangkis Indonesia Raih Perak Asian Games 2018

Tunggal pertama tim beregu putra Indonesia, Anthony Ginting harus mengalami cedera, dan gagal menyelesaikan pertandingan final, melawan pebulutangkis China, Shi Yuqi, dalam pertarungan tiga gim 21-14, 21-23, 20-21 (retired).(timesindonesia.co.id)

Jakarta- Tim beregu putra bulutangkis Indonesia gagal mengulang memori indah Asian Games XIII/1998, di Bangkok, Thailand. Saat itu, Rexy Mainaky dan kolega sukses meraih medali emas setelah mengandaskan perlawanan China dengan skor 4-0. Dipadati ribuan penonton yang hadir memenuhi Stadion Istora Senayan, Jakarta, pada Rabu (22/8), skuat Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta harus puas mendapatkan medali perak cabang bulutangkis beregu Asian Games XVIII/2018. Di partai final, Kevin dan kawan-kawan takluk dari China dengan skor 3-1. Laga pertama yang mempertemukan Anthony Sinisuka Ginting dan Shi Yuqi berlangsung seru dan berakhir dramatis. Sorak-sorai penonton tak henti memberikan suntikan semangat pada pemain kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 20 Oktober 1996 itu. Aura kemenangan sudah menaungi Anthony sejak awal gim pertama. Tak ingin didikte lawan, pebulutangkis andalan Indonesia itu mengambil inisitif serangan terlebih dahulu. Bahkan, ia mampu mengontrol permainan lawan. Memainkan reli serta melepaskan bola ke belakang garis lapangan menjadi pilihan Anthony untuk kemudian melancarkan smash keras mematikan kedaerah pertahanan Shi. Hasilnya, pemain asal SGS PLN Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu mampu membuat kubu Indonesia kegirangan usai mengunci gim pertama dengan skor, 21-14. Gim kedua, Anthony tetap tampil dalam performa terbaik. Tapi, wakil Negeri Tirai Bambu itu tak menyerah. Shi bangkit meladeni permainan lawan serta kerap merepotkan Anthony. Bahkan, angka yang didapat kedua pemain tak berselisih jauh. Kendati Anthony terus memimpin serta melaju hingga mendekat poin 19, namun pemain China yang menempati ranking dua dunia versi BWF itu justru mampu unggul 21-20. Shi bisa menutup gim kedua dengan skor 23-21. Pada gim ketiga, duel sengit masih mewarnai jalannya pertandingan. Kedua pemain terus menebar ancaman ke daerah pertahanan lawan. Namun, perjuangan Anthony sempat terhenti ketika memimpin skor 15-16. Ia meminta pertolongan dokter pertandingan untuk menyemprotkan cairan penahan rasa sakit di paha kirinya. Berusaha bangkit dan tetap melanjutkan permainan menjadi keputusan Anthony. Kondisi ini tentu saja memberikan keuntungan pada Shi. Terlebih, Anthony mendapatkan kartu kuning akibat memperlambat jalannya pertandingan. Meski mendapatkan dukungan semangat secara penuh dari para suporter, namun Anthoy tak berdaya. Ia terpaksa menyerah pada cedera paha kirinya hingga mengalami kesulitan berjalan serta meminta wasit agar menghentikan pertandingan, saat kedudukan 20-21 setelah melakoni laga sepanjang 92 menit. Indonesia tertinggal 0-1 dari China. Namun, Indonesia mampu menyamakan kedudukan 1-1. Di partai kedua yang memainkan duet Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon sukses mencuri kemenangan atas Li Junhui/Liu Yuchen. Pada gim pertama, duel dua seteru itu berlangsung ‘panas’. Kevin/Marcus yang memimpin rekor pertemuan sebanyak 6 kali itu tak memberi kesempatan pada lawan untuk memundi angka. Smash keras menghujam jantung pertahanan musuh serta bola cepat di depan net menjadi senjata ampuh Kevin dan Marcus. Akibatnya, angka demi angka diraih duet Indonesia nomor satu dunia itu. Akibatnya, Li/Liu dibuat tak berkutik dan dipaksa menyerah oleh Kevin/Marcus di gim ini dengan skor 17-21. Berlanjut ke gim kedua, Kevin/Marcus tetap bermain ‘ngotot’. Bahkan aksi ‘nyeleneh’ dari The Minions kerap disambut riuh penonton, sekaligus memancing emosi dari dobel juara dunia 2018 itu. Ganda andalan Pelatnas PBSI ini akhirnya menyudahi gim, dengan skor 21-18, dalam tempo 32 menit. “Laga cukup ketat dan seru. Pasti kami melihat kerja kerasnya Anthony, sudah sampai begitu dan kram, tapi masih mau melanjutkan main. Pastinya menambah motivasi buat kami,” ucap Marcus. Sementara itu, Kevin mengaku melawan Li/Liu selalu sulit dan tidak mudah untuk ditaklukan. “Apalagi saat start mereka sangat percaya diri. Mungkin karena habis juara dunia. Tapi, kami harus tetap fokus pada diri kami,” tambah Kevin. Di partai ketiga, China kembali unggul 2-1 setelah wakil tunggal Jonatan Christie takluk dari Chen Long dalam drama pertarungan rubber game. Atlet klub PB Tangkas Specs Jakarta, berusia 20 tahun itu sempat membentang asa setelah membungkus kemenangan 21-19 di gim pertama. Namun, semangat Chen bangkit di gim kedua. Wakil Negeri Tirai Bambu yang kini menempati rangking 7 dunia versi BWF itu berusaha memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya. Ia meladeni perlawanan Jonatan serta memberikan tekanan pada wakil tuan rumah. Alhasil, Chen sukses mengunci kemenangan dengan skor 21-16. Berhasil memperpanjang nafas di gim ketiga, Chen tak mengendurkan permainan, begitu juga dengan Jonatan. Adu taktik dan strategi dilakukan kedua pemain di lapangan. Usai melalui perjuang melelahkan selama 94 menit, Chen akhirnya membuat Jonatan tertunduk lesu dan memastikan kemenangan dengan skor 21-18. Hasil ini sekaligus membuat Chen berhasil menjauhkan rekor pertemuannya dengan pebulutangkis Indonesia peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu menjadi 4-0. Pertandingan berlanjut, Indonesia menurunkan ganda Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto di partai krusial menghadapi Liu Chen/Zhang Nan. Mampu memimpin 2-0 dalam rekor pertemuan atas Liu/Zhang yang diperoleh masing-masing di Singapura Open 2017 (21-18, 21-19) dan Indonesia Open 2018 (21-18, 18-21, 25-23), ternyata bukan jaminan. Terbukti, usai melakoni laga berdurasi 70 menit, mereka harus menelan pil pahit. Dobel Merah Putih rangking 9 dunia itu tumbang dari Liu/Zhang, rubber game, 18-21, 21-17, dan 18-21. Artinya, China unggul 3-1 atas Indonesia. Hal ini sekaligus memastikan meraih medali emas beregu bulutangkis putra, dan mengokohkan diri sebagai pengumpul emas terbanyak dalam daftar perolehan medali sementara Asian Games 2018. (Adt/Dre) Hasil Pertandingan Final Bulutangkis Beregu Putra Asian Games vs China 1-3: Partai Pertama Anthony Sinisuka Ginting vs Shi Yuqi : 21-14, 21-23, 20-21 (Retired) Partai Kedua Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon vs : Li Junhui/Liu Yuchen : 21-17, 21-18 Partai Ketiga Jonatan Christie vs Chen Long: 21-19, 16-21, 18-21 Partai Keempat Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto vs Liu Chen/Zhang Nan : 18-21, 21-17, 18-21 Partai Kelima Ihsan Maulana Mustofa vs Lin Dan (tak dimainkan)

Bungkam Jepang 3-1, Tim Beregu Putra Bulutangkis Indonesia Bidik Medali Emas Asian Games 2018

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi membalas kekalahan mereka di Kejuaraan Dunia 2018 lalu, usai mengalahkan duet Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, dan membantu kemenangan Indonesia 3-1 atas Jepang, di laga Semifinal beregu putra cabor bulutangkis Asian Games 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tim beregu putra bulutangkis Indonesia mampu menjaga asa meraih medali emas Asian Games XVIII/2018. Kevin Sanjaya Sukamuljo dan rekan sukses menyingkirkan Jepang di laga semifinal, pada Selasa (21/8), di Istora Senayan, Jakarta, dengan skor 3-1. Di partai puncak, pada Rabu (22/8), skuat Merah Putih bakal adu kekuatan dengan China yang sukses mengandaskan perlawanan China Taipeh dengan skor 3-1. Di partai pertama, Anthony Sinisuka Ginting menantang Kento Momota. Pebulutangkis yang menghuni ranking 12 dunia versi BWF itu mampu meladeni perlawanan wakil Negeri Sakura itu. Memberikan tekanan sepanjang laga, Anthony yang tampil percaya diri akhirnya berhasil menuntaskan gim ini dengan skor 21-14. Di gim kedua, wakil tuan rumah itu tak mengendurkan permainan, bahkan terus mengancam daerah pertahanan Momota. Kerap memainkan bola reli serta pendek menyilang di depan net sangat efektif bagi Anthony untuk memanen angka, namun ia dipaksa menyerah 14-21 oleh pemain Jepang penghuni rangking 4 versi BWF itu. Berlanjut di gim penentu, duel dua pemain tetap berlangsung dalam tensi tinggi. Bahkan saling serang mewarnai jalannya pertandingan membuat publik tuan rumah bergemuruh. Anthony sempat berada di atas angin setelah unggul 15-10. Bukannya menambah poin, justru pemain Matahari Terbit itu mampu merebut 11 poin berturut-turut dan mengunci perolehan angka Anthony di poin 15. Skor menjadi 19-15 untuk Momota. Hanya satu poin yang berhasil ditambah Anthony, dan dua poin krusial direbut Momota dengan meyakinkan yang menutup gim ini dengan skor 16-21, serta memastikan Jepang unggul 1-0, dalam tempo 84 menit. Kedua pemain sejauh ini telah berjumpa sebanyak 4 kali. Satu-satunya kemenangan Anthony tercipta di ajang Hongkong Open 2015, straight game, 21-7 dan 21-15. “Sebenarnya tidak ada beban. Dari kemarin saya bisa menikmati permainan. Sayang banget tadi, sebetulnya saya berpeluang dapat poin. Tapi dia mainnya menunggu lawan buat kesalahan,” ujar Anthony usai laga. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi yang turun di partai kedua mampu membalas kekalahan Indonesia di laga awal. Skor imbang 1-1. Duet andalan Merah Putih tampil memukau saat berjumpa dengan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Ganda ranking satu dunia versi BWF itu tak memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengembangkan permainan. Begitu juga dengan smash-smash keras baik yang dilancarkan Kevin dann Marcus sepanjang laga tak mampu dibendung lawan. Tampil superior selama 31 menit, The Minions akhirnya sukses menunaikan tugasnya untuk menyumbang angka bagi skuat Merah Putih setelah menutup pertandingan dengan skor 21-18 dan 21-12. Kemenangan ini membalas kekalahan mereka di perempat final BWF World Championship 2018, awal Agustus lalu. Kevin/Marcus kalah straight game, 19-21 dan 18-21. “Kami belajar dari kekalahan kemarin. Hari ini kami jauh lebih siap. Kami menekan dari awal, dan mereka tidak bisa keluar dari tekanan itu,” terang Kevin soal kemenangannya. Aura positif Kevin/Marcus berlanjut pada pemain tunggal Jonatan Christie. Bertanding di partai ketiga, butuh 54 menit bagi pemain kelahiran Jakarta, 15 September 1997 itu untuk mengunci kemenangan dua gim langsung atas Kenta Nishimoto, 21-15 dan 21-19. Indonesia memimpin 2-1. “Puji Tuhan saya bisa menang hari ini. Di pertemuan sebelumnya saya kalah, dan belum pernah menang dari dia. Saya tak menyangka menang straight game hari ini. Pokoknya saya sudah siap capek dan main rubber game melawan pemain Jepang,” tutur pemain asal PB Tangkas Specs Jakarta itu. Indonesia memastikan tiket final beregu putra bulutangkis Asian Games XVIII/2018, setelah duet Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto mampu mengemban tugas dengan baik di partai penentu. Mereka hanya butuh 33 menit untuk menyudahi perlawanan Takuto Inoue/Yuki Kaneko, dua gim langsung 21-10 dan 21-10. Selama ini, Fajar/Rian selalu gagal meraih kemenangan atas wakil Jepang ranking 7 dunia versi BWF itu. Dan, hasil ini membuat pasangan Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu berhasil memangkas rekor pertemuannya menjadi 1-4 atas Takuto/Yuki. “Kami bersyukur karena tim Indonesia bisa ke final dan kami menyumbang poin. Kami tak terbebani karena sudah unggul 2-1, jadi mainnya enak,” tukas Fajar. “Kami ingin skornya 3-1 saja. Kami belum pernah menang lawan mereka, ini motivasi buat kami. Yang penting bisa membalas kekalahan di rumah kami sendiri,” pungkasnya. (Adt) Hasil Pertandingan Semifinal Bulutangkis Beregu Putra Asian Games vs Jepang 3-1: Partai Pertama Anthony Sinisuka Ginting vs Kento Momota : 21-14, 14-21, 16-21 Partai Kedua Kevin Sanjaya Sukomuljo/Marcus Fernaldi Gideon vs Takeshi Kamura/Keigo Sonoda : 21-18, 21-12 Partai Ketiga Jonatan Christie vs Kenta Nishimoto : 21-15, 21-19 Partai Keempat Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto vs Takuto Inoue/Yuki Kaneko : 21-10, 21-10 Partai Kelima Ihsan Maulana Mustofa vs Kanta Tsuneyama (tidak dimainkan)

Kandas 1-3 Dari Jepang, Tim Beregu Putri Bulutangkis Indonesia Kebagian Perunggu Asian Games 2018

Tunggal pertama tim beregu putri bulutangkis Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, harus jatuh bangun melawan pebulutangkis Jepang, Akane Yamaguchi. Meski menang namun Indonesia gagal maju ke final, setelah takluk 1-3 dari Jepang di babak empat besar. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tim beregu putri Indonesia gagal lolos ke partai puncak cabang bulutangkis Asian Games 2018. Pasukan Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu takluk dari Jepang 1-3, di semifinal, yang dihelat di Istora Senayan, Jakarta, pada Selasa (20/8). Hasil ini membuat Indonesia harus puas meraih medali perunggu bersama Thailand. Sedangkan Jepang dan China yang menyingkirkan Thailand 3-0, bersaing meraih medali emas, pada partai final, Rabu (22/8). Gregoria Mariska Tunjung membuka kemenangan bagi kubu Indonesia 1-0 atas Jepang. Pebulutangkis asal PB Mutiara Cardinal Bandung itu tampil luar biasa dihadapan publik tuan rumah. Bahkan Wiranto (Ketua Umum PP PBSI), dan Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), hadir langsung di Istora Senayan, Jakarta, pada Selasa (21/8) memberikan dukungan bagi Gregoria dan kolega. Pebulutangkis Indonesia pemegang gelar Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017 itu melewati laga dramatis kontra Akane Yamaguchi. Duel kedua pemain berlangsung ketat sejak awal, Gregoria mampu membuat lawan kewalahan di gim pertama dan berhasil mengunci kemenangan, 21-16. Di gim kedua, giliran Akane yang mendikte pemain berusia 19 tahun itu. Kesalahan demi kesalahan yang dibuat Gregoria memberikan keuntungan bagi pemain Negeri Sakura itu. Akane membungkus gim ini dengan skor meyakinkan 21-9. Gregoria mendapatkan momentum untuk membuat lawan tertekan di gim ketiga. “Saya berusaha tampil lepas, tanpa beban. Karena peringkat lawan masih di atas saya. Saya mencoba main maksimal. Di awal gim ketiga, saya mainnya belum enak. Akhirnya saya tahu dia lebih sering mengarahkan bola ke belakang, dari situ saya sudah tahu mau main seperti apa,” ujar Gregoria usai laga. Kombinasi bola apik dari anak didik Minarti Timur itu membuat Akane tak berdaya. Gregoria menuntaskan gim penentu dalam waktu 56 menit, dengan skor 21-18. Tertinggal dari Indonesia, Jepang mampu menyamakan kedudukan 1-1. Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang turun di partai kedua gagal menambah keunggulan Merah Putih. Setelah memainkan laga selama 48 menit, mereka takluk dari Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dalam duel dua gim langsung, 21-13 dan 21-12. “Kami tadi belum bisa keluar dari tekanan, apalagi dari awal sudah ditekan terus oleh lawan. Kami tidak bisa keluar dari permainan itu,” terang Apriyani. Jepang mampu mengungguli Indonesia 2-1 setelah merebut kemenangan di partai ketiga. Indonesia yang menurunkan Fitriani dipaksa menyerah oleh Nozomi Okuhara dalam duel sepanjang 55 menit. Pemain kelahiran Garut, Jawa Barat, 19 tahun silam itu tumbang dalam drama pertarungan rubber game, 21-19, 4-21, dan 10-21. “Pelajaran dari pertandingan melawan Nozomi, saya harus lebih sabar, harus lebih tahan dan lebih agresif di lapangan. Kalau dari fisik saya tidak ada masalah,” terang Fitriani. Hasil negatif kembali dialami wakil tuan rumah sekaligus memupuskan harapan Indonesia meraih medali emas beregu putri bulutangkis. Dobel Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta pun urung memperpanjang nafas Indonesia. Mereka kandas ditangan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dalam straight game, 13-21 dan 10-21, dalam tempo 38 menit. “Hasil ini sesuai target pribadi. Jepang kekuatannya semua merata. Hasilnya begini ya harus kami terima,” cetus Della. (Adt) Hasil Pertandingan Semifinal Bulutangkis Beregu Putri Asian Games vs Jepang 1-3 Partai Pertama Gregoria Mariska Tunjung vs Akane Yamaguchi : 21-16, 9-21, 21-18 Partai Kedua Greysia Polii/Apriyani Rahayu vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota : 21-13, 21-12 Partai Ketiga Fitriani vs Nozomi Okuhara : 21-19, 4-21, 10-21 Partai Keempat Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta vs Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi : 13-21, 10-21 Partai Kelima Ruselli Hartawan vs Aya Ohori (tak dimainkan)

Tito, Remaja 14 Tahun Asal Blora yang Sudah Mengantongi Segudang Prestasi di Olahraga Tenis

M. Tito Zuhda Irhami saat di JITA ketika sedang latihan

Indonesia tak akan kehabisan potensi atlet dari berbagai kota di Indonesia untuk masing-masing cabang olahraga, salah satunya olahraga tenis, ada banyak calon atlet tenis yang memiliki segudang potensi dan prestasi. Salah satunya adalah M. Tito Zuhda Irhami, remaja asal Blora, Jawa Tengah ini rela merantau ke Ibukota demi menekuni olahraga tenis. Berawal dari sang ayah yang juga memiliki hobi serupa, Tito pun mulai menjajal raket tenis di usia 5 tahun. Saat itu Tito masih menggeluti dua cabang olahraga, yakni tenis dan bulutangkis. “Dulu sebelum fokus di tenis saya main badminton juga, tapi karena papah merasa kasihan aku latihan dua kali tenis dan badminton, jadi disuruh pilih salah satu” jelas Tito. Usai memutuskan olahraga tenis sebagai hobinya, remaja berusia 14 tahun tersebut mulai fokus berlatih ketika usianya memasuki 6 hingga 7 tahun. Kejuaraan tingkat nasional yang dijalaninya pertama kali yaitu ketika berada di kota Madiun, meski hanya lolos satu pertandingan saja dan babak berikutnya harus pulang lebih cepat. Namun hal tersebut rupanya tak menyurutkan semangatnya untuk berlatih lebih giat lagi. Saat ini Tito masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sebentar lagi akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Meski masih berstatus siswa, dirinya tetap rutin menjalani latihan. “Kebetulan sekolah saya juga mendukung untuk berlatih tenis, kadang-kadang capek dan lelah juga sih. Kalau ketinggalan pelajaran biasanya nanya ke temen, tugasnya apa aja, kemarin materinya apa. Ya pinter-pinter kita cari teman lah pokoknya” ujar remaja kelahiran 8 Mei 2004 tersebut. Selama bermain di berbagai kejuaraan, Tito sempat mengalami cidera yang cukup parah, karena salah tumpuan pijakan ketika melakukan pertandingan sehingga memaksa dia untuk beristirahat sekitar 2 sampai 3 minggu. Tito mengungkapkan beberapa hal yang membuatnya nyaman dalam menekuni olahraga tenis, seperti teman-teman yang menyenangkan, dukungan dari pelatih dan juga keluarga. Keluarga dan orang tua menjadi alasan kuat bagi dirinya untuk masih bertahan dan menekuni olahraga tenis sampai saat ini, dukungan dan semangat yang terus mengalir menjadi motivasi bagi dirinya. “Target saya di tenis, semoga saya bisa lebih baik dari saat ini, dan juga bisa jadi pemain tenis nomor 1 se-Indonesia” tutupnya kepada NYSN Media. (Ham) Profil Singkat Nama : M. Tito Zuhda Irhami Tempat/Tgl Lahir : Blora, 8 Mei 2004 Nomor Ponsel : 081326915636 Media Sosial : Ig @titozuhda Alamat tinggal : Sekolah duta 5 (mess JITA) Orang Tua : Suharyanto (ayah) Nunuk Sutristianti (ibu) Anak ke 3 dari 3 saudara Pendidikan SD Tempelan Blora SMPN 1 Blora Prestasi 2018 Finalis Tunggal Putra KU 14 New Armada Cup XXII (Magelang, 8-13 Januari) Juara 3 Tunggal Putra KU 16 Totalindo Purwokerto Yunior (Purwokerto, 2-8 April) Juara 3 Ganda Putra KU 16 Totalindo Purwokerto Yunior (Purwokerto, 2-8 April) Peserta Seleknas KU 14 (Yogyakarta, 24-27 Januari) Juara 3 Tunggal Putra KU 16 Sportama Super Series (Banjarnegara, 8-12 Mei) Juara 3 Ganda Putra KU 16 Sportama Super Series (Banjarnegara, 8-12 Mei)

Yusuf, Bocah Asal Merauke Yang Bercita-Cita Menjadi Atlet Bulutangkis Papan Atas

Muhammad YMuhammad Yusuf Arfan saat ditemui di GOR Kembangan, Jakarta Barat.usuf Arfan senang bergelut di dunia olahraga bulutangkis sejak kelas 1 Sekolah Dasar

Indonesia memiliki segudang putra/putri yang berpotensi untuk bisa menjadi seorang atlet hebat, mulai dari usia dini hingga remaja, dari olahraga yang berbasis e-Sport maupun olahraga fisik. Seperti salah satu kakak-adik ini, Yusran dan Yusuf. Kalau kemarin sudah membahas perihal profil Yusran sang kakak, kali ini sobat muda Nysn akan kami ceritakan mengenai sang adik yaitu Yusuf. Mulai senang bergelut di dunia olahraga bulutangkis sejak kelas 1 Sekolah Dasar, bermula dari sang ayah dan kakak yang juga lebih dulu hobi bermain bulutangkis, membuat Yusuf tertarik untuk bergabung bersama. “Awalnya suka main karena lihat bapak main, kakak juga main jadinya makin tertarik. Klub pertama yang diikuti PB Mandiri” jelas Yusuf. Bermain sebagai tunggal putra menjadi pilihannya karena terinspirasi dari sang idola yakni Kento Momota dan Taufik Hidayat, namun tidak menutup kemungkinan bagi dirinya untuk juga bermain di posisi ganda juga. Meski tetap rutin melakukan latihan, pendidikan juga tak luput dari aktivitas hariannya. Berbekal dengan sekolah Homeschooling seperti sang kakak, Yusif menjalani aktivitas pendidikan formal yang berjarak tidak jauh dari asrama tempat tinggalnya. “Sekolah homeschooling juga seperti kakak, tapi lebih suka latihan karena mau kejar cita-cita menjadi atlet timnas” kata yusuf saat ditemui oleh NYSN Media pada Sabtu (7/7) di GOR Kembangan, Jakarta Barat. Selain itu Yusuf juga hobi bermain sepak bola, memang Indonesia Timur identik dengan pencetak atlet-atlet potensial di dunia olahraga, khususnya sepak bola. Namun dirinya lebih suka menekuni bulutangkis. Pasalnya, selain hobi yang turun menurun dari sang ayah, cita-cita yang didambakan sejak kecil yakni bisa bergabung di pelatnas untuk menjadi atlet timnas Indonesia. Selama bermain, sang kakak Yusran maupun Yusuf belum pernah menderita cidera yang terlalu signifikan. Hanya keseleo, tergelintir, dan yang paling sering terjadi cidera engkel. Beberapa prestasi yang berhasil diperoleh diantaranya Bupati Cup, Arafuru Cup dan Sirkuit Nasional “Bupati cup saya juara 2, itu dua tahun lalu sejak kelas 2 SD, sekarang saya sudah kelas 4. Kemudian pernah ikur Arafuru Cup, Internal Cup dan Sirnas” pungkas anak berusia 11 tahun tersebut. (Ham) Profil singkat Nama : Muhammad Yusuf Arfan Tempat/Tgl Lahir : Merauke, 26 Agustus 2007 Media Sosial : Ig @yusufarfan12 Agama ; Islam Pendidikan SDN 1 Merauke (kelas 1-3) Prestasi Juara 2 Bupati Cup di Merauke kategori usia dini pada tahun 2016 Mengikuti Arafuru cup pada tahun 2016 Mengikuti Internal cup pada tahun 2016 Juara 3 ganda putra sirkuit nasional tahun 2018

Setelah Tim Putri, Giliran Putra Indonesia Masuk Babak Empat Besar Beregu Bulutangkis Asian Games 2018

Marcus/Kevin mengandaskan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (19-21, 21-19, 21-16) di partai kedua.

Jakarta- Tim putra Indonesia berhasil menyusul tim putri ke semifinal bulu tangkis beregu Asian Games 2018, usai mengalahkan India 3-1 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (20/8). Kemenangan tim merah putih akhirnya ditentukan di partai keempat, saat ganda putra rangking sembilan dunia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menang straight set, atas Manu Attri/Sumeeth B Reddy (21-14, 21-18). Mereka untuk kali pertama tampil di Asian Games, mengaku tak menyangka turun bertanding. Fajar mengaku sempat berharap Jonatan yang tampil di laga sebelumnya bisa memastikan kemenangan Indonesia. Namun, ia juga mengaku termotivasi setelah melihat Jonatan mengalami kekalahan. “Di awal kami masih menyesuaikan diri kondisi lapangan, arah anginnya beda-beda. Kami juga pertama kali bertemu lawan, belum tahu kelemahannya,” kata Fajar. “Tadi banyak bola yang sebetulnya gampang, tetapi tidak bisa kami matikan. Ini menjadi pelajaran, jangan sampai besok terjadi lagi,” tambah Rian dikutip dari laman PBSI. “Kami awalnya tidak menyangka bakal bermain. Saya berdoa Jonatan bisa menang. Siapa yang menyangka justru akhirnya Jonatan kalah. Namun, setelah Jonatan kalah, kami termotivasi untuk bisa menyumbangkan poin bagi kemenangan Indonesia,” lanjutnya. Tim putra Indonesia hampir memastikan tiket ke empat besar saat Jonatan “Jojo” Christie turun di partai ketiga kontra Prannoy H. S. Sempat kehilangan satu set, Jojo mampu merebut gim kedua. Sayangnya, kerja keras pebulu tangis peringkat 12 dunia ini kandas di set penentuan (15-21 21-19 19-21). Sementara dua poin lainnya diraih tunggal Anthony Sinisuka Ginting dan ganda Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Ginting yang turun di partai pertama mengalahkan Kidambi Srikanth (23-21, 20-22, 21-10) sedangkan Marcus/Kevin mengandaskan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (19-21, 21-19, 21-16) di partai kedua. “Yang pertama kami pastinya bersyukur bisa melewati pertandingan hari ini, apalagi kami sempat ketinggalan cukup jauh di game kedua. Tetapi kami bisa membalikkan keadaan,” kata Kevin usai pertandingan, dikutip dari laman PBSI. Di semifinal nanti, Indonesia ditunggu Jepang yang lebih dulu memastikan lolos usai mengalahkan Korea Selatan 0-3. Babak empat besar bakal digelar pada Selasa (21/8) . Sebelumnya, Tim putri berhasil melaju ke empat besar usai mengalahkan Korea Selatan 3-1 di perempat final. Berhasil lolos ke semifinal bulutangkis beregu putra, tim Indonesia akan menghadapi Jepang yang merupakan unggulan ketiga dalam Asian Games 2018 ini. Jepang berhasil melangkah ke semifinal, setelah menang mudah 3-0 atas Korea Selatan. (Adt) Hasil perempat final bulu tangkis beregu putra vs India 3-1 Partai Pertama Anthony Sinisuka Ginting vs Kidambi Srikanth : 23-21, 20-22, 21-10 Partai Kedua Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo vs Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty : 19-21, 21-19, 21-16 Partia Ketiga Jonatan Christie vs Prannoy H. S. : 15-21 21-19 19-21 Partai Keempat Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto vs Manu Attri/Sumeeth B Reddy : 21-14, 21-18 Partai Kelima Ihsan Maulana Mustofa vs Sai Praneeth (tidak dimainkan)

Singkirkan Korea Selatan 3-1, Tim Beregu Putri Indonesia Tembus Semifinal Bulutangkis Asian Games 2018

Dobel Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu menekuk ganda Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan (21-18 21-17), pada fase perempat final, dan membawa merah putih lolos ke babak semifinal bulu tangkis beregu putri Asian Games 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tim putri Indonesia lolos ke semifinal bulu tangkis beregu, usai menekuk Korea Selatan 3-1 di Istora Senayan, Jakarta pada Senin (20/8). Kemenangan tim Merah Putih ditentukan di partai keempat dari dobel Della Destiara Haris dan Rizki Amelia Pradipta. Duet Della dan Rziki sukses menghentikan perlawanan Baek Ha Na/Kim Hye Rin dalam permainan dua set, 21-19, 21-15. Indonesia nyaris memastikan tiket ke empat besar saat Fitriani turun di partai ketiga melawan Lee Se Yeon. Sempat kehilangan satu set, Fitriani mampu merebut gim kedua. Sayangnya, kerja keras pebulu tangis peringkat 40 dunia ini kandas di set penentuan (14-21, 21-8, 18-21). Dua poin kemenangan lain, dipersembahkan tunggal Gregoria Mariska Tunjung dan ganda Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Gregoria yang turun di partai pertama mengalahkan Sung Ji Hyun (21-13 8-21 21-18). Sedangkan Greysia/Apriyani mengandaskan Lee So Hee/Shin Seung Chan (21-18 21-17). “Kemenangan Gregoria di partai pertama, memberi pengaruh positif buat saya dan kak Greys (Greysia Polii), sehingga kami jadi lebih yakin,” kata Apriyani usai laga seperti dikutip dari laman PBSI. Berdasarkan hasil undian bulu tangkis beregu Asian Games 2018 yang dihelat pada Kamis (16/8), tim putri Indonesia ada di pool atas bersama Hong Kong, Jepang, India, dan Korea Selatan. Setelah mengatasi Hong Kong dan Korea Selatan, Indonesia bakal bertemu Jepang yang mengalahkan India 3-1, di perempat final. Adapun cabang bulu tangkis beregu Asian Games 2018, baik tim putra dan tim putri, mulai dipertandingkan sejak Sabtu (19/8), hingga Rabu (22/8). (Adt) Hasil Perempat Final Melawan Korea Selatan 3-1 Partai Pertama Gregoria Mariska Tunjung vs Sung Ji Hyun : 21-13 8-21 21-18 Partai Kedua Greysia Polii/Apriyani Rahayu vs Lee So Hee/Shin Seung Chan : 21-18 21-17 Partai Ketiga Fitriani vs Lee Se Yeon : 14-21, 21-8, 18-21 Partai Keempat Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta vs Baek Ha Na/Kim Hye Rin : 21-19, 21-15. Parta Kelima Ruseli Hartawan vs An Se Young (tidak dimainkan)

Pebulutangkis 19 Tahun Asal Garut Jadi Penentu, Indonesia Kunci Tiket Perempat Final Kontra Korea

Tunggal pertama tim beregu putri Indonsia, Gregoria Mariska Tunjung, menang atas pebulutangkis asal Hongkong, Cheung Ngan Yi, dalam duel tiga set, 19-21, 21-8, dan 21-18, di partai 16 besar beregu putri bulutangkis Asian Games 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia memastikan tiket perempat final bulutangkis beregu Asian Games XVIII/2018, dan berduel dengan unggulan empat, Korea Selatan. Negeri Ginseng itu langsung ke perempat final karena mendapatkan bye di babak 16 besar. Fitriani, pemain tunggal yang turun di partai ketiga, menjadi penentu kemenangan atas Hongkong dengan skor 3-0, di babak 16 besar di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (19/8). Sebelum memastikan kemenangan, pebulutangkis kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998 itu harus melewati pertarungan melelahkan saat berjumpa dengan Yip Pui Yin. Pemain asal PB Exist Jaya Jakarta itu menang rubber game, 18-21, 21-13, dan 21-10. “Di game pertama poinnya ketat. Di akhir game saya kecolongan. Mau mematikan lawan, tapi malah mati sendiri. Saya juga berusaha mengeluarkan permainan terbaik. Banyak ngolah bola. Apalagi lawan fisiknya juga sudah mulai menurun, mungkin dadanya sesak,” ujar Fitriani usai laga. “Pelatih juga mengingatkan ke saya jangan sampai terpengaruh. Alhamdullilah bisa sumbang kemenangan untuk Indonesia,” lanjutnya. Sebelumnya, kemenangan Indonesia atas Hongkong disumbang tunggal pertama, Gregoria Mariska Tunjung. Pebulutangkis kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999 itu menuntaskan tugasnya dengan baik paska menumbangkan Cheung Ngan Yi, dengan duel sengit rubber game, 19-21, 21-8, dan 21-18. Indonesia memimpin 1-0 atas Hongkong. “Saat gim pertama saya kalah angin. Selain itu, saya juga merasa adaptasinya terlalu lama, terlalu santai. Dan sebelum bertanding rasanya tegang banget. Ini pertama kalinya main sebagai tunggal pertama, jadi tuan rumah, serta turnamen besar,” terang anak didik Minarti Timur itu. Gregoria tampil sebagai tunggal pertama karena peringkatnya lebih baik dari Fitriani. “Cheung adalah pemain yang temponya cepat dan menyerang. Saya tahu permainan dia lewat video pertandingan. Cheung kalau diajak reli cepet capek juga mainnya,” tambah pemain yang menghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta sejak 2013 itu. Sementara itu, duet Greysia Polii/Apriyani Rahayu juga sukses menambah angka bagi kubu Indonesia menjadi 2-0. Mereka mengatasi dobel Ng Tsz Yau/Yuen Sin Ying, dalam duel straight game, 21-14 dan 21-11. “Lawan lumayan bagus dan ada kendala angin di lapangan. Tapi, kami fokus pada permainan di lapangan saja,” ujar Apriyani. Greysia menambahkan pada pertandingan tadi dirinya bersama Apriyani ingin cepat mengakhiri permainan, namun justru hal itu yang membuat mereka melakukan kesalahan sendiri. “Tapi dari situ kami bisa coba pukulan dan coba lapangan lagi. Jadi kami selalu ambil positifnya,” jelas pemain berusia 31 tahun itu. (Adt) Hasil Babak 16 Besar Bulutangkis Beregu Asian Games 2018: Putra 1. Nepal vs Pakistan 3-1 2. Malaysia vs Jepang 3-0 3. Hongkong vs Mongolia (walkover) 4. Korea vs Thailand 3-1 5. Maladewa vs India 0-3 Putri 1. Pakistan vs China Taipeh 0-3 2. Maladewa vs Nepal 3-2 3. Hongkong vs Indonesia 0-3

Dominasi Kejuaraan International Junior Open 2018, Indonesia Sabet Tiga Gelar Di Malaysia

Unggulan pertama ganda campuran event Malaysia International Junior Open 2018 asal Indonesia, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti, takluk dari seeded 8, Ghifari Anandaffa Prihardika/Lisa Ayu Kusumawati, di babak final. (Pras/NYSN)

Jakarta- Para pebulutangkis junior Indonesia sukses membawa pulang tiga gelar di ajang Malaysia International Junior Open 2018. Tiga gelar disumbang wakil Merah Putih melalui sektor ganda campuran, tunggal putra, dan ganda campuran. Melakoni laga final pada Sabtu (18/8), di Dewan Wawasan 2020, Kangar, Perlis, Malaysia, gelar pertama Indonesia sudah diraih duet Ghifari Anandaffa Prihardika/Lisa Ayu Kusumawati. Unggulan delapan itu secara mengejutkan menekuk Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Rehan/Fadia yang tampil di event ini diplot sebagai unggulan satu, menyerah usai memainkan drama pertarungan melelahkan tiga game berdurasi 49 menit, dengan skor 21-19, 14-21, dan 21-16. Hasil positif juga ditorehkan Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay di sektor tunggal putra. Unggulan satu asal PB Djarum itu mengandaskan perlawanan kompatriotnya Muhammad Aldo Apriyandi. Ikhsan butuh waktu 38 menit untuk memastikan kemenangan straight game, 21-14 dan 21-10. Penampilan cemerlang juga diperlihatkan dobel Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin (7). Mereka berhasil menghadirkan kejutan, setelah melumpuhkan rekannya yang menempati unggulan dua, Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana Riyanto. Duo Leo/Daniel menyudahi lawannya dengan straight game, 21-17 dan 21-12, dalam tempo 33 menit. Sayang, Indonesia harus merelakan gelar sektor tunggal putri dan ganda putri, yang harus jatuh ke tangan China, dan tuan rumah, Malaysia. Stephanie Widjaja yang sempat mebuat kejutan lantaran menempati unggulan 15, dipaksa menelan pil pahit usai kandas dari pemain non unggulan asal China, Han Qianxi. Wakil Negeri Tirai Bambu itu menuntaskan perlawanan Stephanie dalam tempo 27 menit, dengan skor meyakinkan 21-12 dan 21-11. Serupa, pasangan binaan PB Djarum, Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto juga harus menelan kekecewaan. Unggulan dua masa depan Indonesia itu, justru tak berdaya menghadapi ketangguhan Pearly Tan Koong Le/Toh Ee Wei. Duet Negeri Jiran itu menang straight game, 21-13 dan 21-18, pada laga berdurasi 35 menit. (Adt)

Beregu Indonesia Hadapi Lawan Berat, PBSI Minta Kerja Keras Sejak Awal

Anthony Sinisuka Ginting, salah satu andalan skuat tim bulutangkis beregu putra Indonesia Asian Games XVIII/2018 harus berjuang keras sejak awal. Sebab, mereka dihadapkan tantangan berat. (Pras/NYSN)

Jakarta- Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) meminta tim beregu putra dan putri Asian Games XVIII/2018 harus berjuang keras sejak awal. Sebab, mereka dihadapkan tantangan berat. Hal itu dikatakan Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBSI menanggapi hasil undian beregu cabang bulutangkis, di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (16/8) malam. “Kita tidak bisa mengeluhkan hasil drawing. Itu adalah fakta yang harus dipersiapkan. Yang penting tim berjuang keras sejak awal,” ujar Budiharto. Tim putra Indonesia berada di pool bawah bersama tim India, Maladewa, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan (Korsel). Indonesia yang menempati unggulan dua mendapat jatah bye di laga perdana. “Hasil tim putra, ini perjuangan berat untuk semuanya. Karena tim-tim bagus terkumpul di pool bawah. Untuk babak pertama kalau digambarkan, Jepang bertemu Malaysia, Korsel berhadapan dengan Thailand. Empat tim tersebut terkumpul dan hanya satu yang ke semifinal,” lanjutnya. Jika di babak kedua berhasil melewati hadangan pemenang antara India dan Maladewa, Indonesia bakal menghadapi lawan berat di semifinal. “Kami menunggu pemenang antara Maladewa dan India. Memang perjuangan berat nantinya di semifinal. Siapa pun yang melewati India. Tim yang dihadapi relatif kuat,” tambahnya. Sementara, tim putri Indonesia menempati pool atas bersama Hongkong, Korsel, India, dan Jepang. Srikandi Merah Putih memulai laga pembuka menantang Hongkong. Jika berhasil melewati Hongkong, Fitriani dan kolega di perempat final bakal berjumpa dengan Korsel yang mendapatkan bye di babak pertama. Dan jika langkah mereka terus berlanjut, maka mereka akan bertarung dengan pemenang antara Jepan dan India. Baik Jepang maupun India, turut mendapatkan bye di babak pertama. “Kalau tim putri, kami tahu karena tidak seeded. Hasil undian itu realitas yang harus dihadapi. Kami berada di pool atas. Pertama, kami sudah harus berjuang menghadapi Hongkong. Jika lolos bertemu Korsel. Jadi ini yang harus dihadapi,” tukas Budiharto. (Adt) Skuat Beregu Bulutangkis Indonesia Asian Games 2018 : Putra : 1. Jonatan Christie 2. Anthony Sinisuka Ginting 3. Ihsan Maulana Mustofa 4. Kevin Sanjaya Sukamuljo 5. Marcus Fernaldi Gideon 6. Fajar Alfian 7. Muhammad Rian Ardianto 8. Mohammad Ahsan 9. Tontowi Ahmad 10. Ricky Karanda Suwardi Putri : 1. Fitriani 2. Gregoria Mariska Tunjung 3. Ruselli Hartawan 4. Greysia Polii 5. Apriyani Rahayu 6. Della Destiara Haris 7. Rizki Amelia Pradipta 8. Ni Ketut Mahadewi Istarani 9. Liliyana Natsir 10. Debby Susanto