ISG 2025: Sembilan Medali Dari Angkat Besi

Tita Nurcahya Melyani

Tim angkat besi Indonesia mampu menyumbangkan total 9 medali pada Islamic Solidarity Games (ISG) 2025. Tita Nurcahya Melyani menyumbangkan medali pertama untuk Indonesia. Tiga medali perak sekaligus disumbangkan olehnya. Masing-masing dari kelas 48kg putri untuk angkatan snatch, clean and jerk serta angkatan total. Tita tampil konsisten dengan mencatatkan 68 kg pada angkatan snatch dan 85 kg pada clean and jerk, membukukan total angkatan 153 kg. Dengan hasil ini, ia meraih perak di ketiga kategori tersebut. Ia bersyukur bisa mempersembahkan medali bagi Merah Putih serta mencatatkan rekor baru dari angkatan sebelumnya, yaitu 150 kg. Medali emas diraih oleh lifter asal Turki, Gamez Altun, dengan total angkatan 172 kg (snatch 72 kg, clean and jerk 100 kg). Sedangkan perunggu diraih oleh Nuray Abilova dari Kazakhstan dengan total 144 kg (snatch 65 kg, clean and jerk 79 kg). Angkat besi juga menambah perolehan tiga medali perak melalui Basilia Bamerop Ninggan yang turun di kelas 53kg putri. Basilia menempati uruan kedua snatch dengan angkatan 75kg, medali emas snatch diraih wakil Turki Cansel Ozkan dengan 88kg, dan perunggu direbut Marija Akter Ekra asal Bangladesh lewat 72 kg. Untuk angkatan clean and jerk, Basilia kembali berada di bawah Cansel Okan dengan angkatan 99kg. Di total angkatan, atlet asal Merauke kelahiran 2003 ini mencatatkan 174kg dan berada di bawah Cansel Okan yang punya angkatan 188kg. Muhammad Husni menjadi bintang bagi Tim Indonesia setelah mencetak hattrick medali emas pada cabang olahraga angkat besi kelas 60kg putra di Islamic Solidarity Games (ISG) 2025. Hasil ini sekaligus menjadikan Husni sebagai atlet pertama yang mempersembahkan medali emas bagi Tim Indonesia. Atlet asal Lampung itu tampil percaya diri sejak awal. Pada angkatan snatch, Husni mengangkat 129kg, unggul dari lifter tuan rumah Aqeel Aljasim (124kg) yang meraih perak, serta Burak Aykun dari Turki (119kg) yang merebut perunggu. Penampilan impresifnya berlanjut di nomor clean and jerk di mana Husni mencatatkan 154kg dan menjadi angkatan terbaik di antara sembilan lifter yang berkompetisi. Medali perak diraih Burak Aykun (148kg) dan perunggu oleh atlet Mesir Elsayed Ali Elsayed Attia Elaraby (147kg). Dengan total angkatan 283kg, Husni menegaskan dominasinya di kelas 60kg putra dan berhak atas tiga medali emas sekaligus, dari kategori angkatan snatch, clean and jerk, dan total. Sementara itu, Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia, Endri Erawan, mengaku sangat bangga atas pencapaian angkat besi tersebut. Ia menilai performa atlet menjadi cerminan semangat dan mental juang Tim Indonesia di panggung internasional. “Husni, Basilia dan Tita membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk berprestasi di level tertinggi. Tiga medali emas dan enam perak dari angkat besi hari ini kemenangan untuk Merah Putih. Tiga kali Indonesia Raya berkumandang di Riyadh. Capaian ini merupakan simbol kekuatan mental, disiplin, dan kerja keras atlet-atlet Tim Indonesia. Ini awal yang sangat positif bagi perjuangan Tim Indonesia di Riyadh,” ujar Endri.

ISG 2025: Keren! Muhammad Husni Cetak Hattrick Medali Emas

Muhammad Husni

Lifter muda andalan Indonesia, Muhammad Husni menyabet tiga medali emas di kelas 60kg angkat besi pada ajang Islamic Solidarity Games (ISG) 2025. Husni tampil solid di tiap kategori angkatan dan total angkatan yang ia lakukan. Alhasil, Husni mampu mengakhiri laga dengan tiga emas di tangan. Pada kategori snatch, Husni mencatat angkatan 129kg. Ia unggul jauh, 5kg, dari Aqeel Aljasim yang ada di posisi kedua. Sedangkan di nomor clean and jerk, Husni menorehkan angkatan 154kg. Di kategori ini, Husni lagi-lagi unggil telak atas Burak Aykun yang mencatat 148kg. Kondisi itu otomatis membuat Husni tak terbendung untuk menjadi yang terbaik di kategori angkatan total. Husni mencatat total angkatan sebesar 283kg. Ia unggul jauh atas Burak Aykun yang membukukan total angkatan sebesar 267kg. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa mempersembahkan emas pertama untuk Indonesia. Ini hasil kerja keras saya, pelatih, dan seluruh tim yang selalu mendukung.” “Terima kasih juga untuk masyarakat Indonesia, khususnya warga Lampung atas doa dan dukungannya. Semoga hasil ini bisa memotivasi teman-teman atlet lain untuk terus berjuang,” ucap Husni yang baru berusia 20 tahun ini. Tim Angkat Besi Indonesia sudah memberikan total 3 emas dan 6 perak. Basilia Bamerop Ninggan menyumbangkan total tiga medali perak di kelas 53kg putri. Sedangkan Tita Nurcahya Melyani memberikan tiga medali perak di kelas 48kg putri. “Husni, Basilia dan Tita membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk berprestasi di level tertinggi. Tiga medali emas dan enam perak dari angkat besi hari ini kemenangan untuk Merah Putih,” “Tiga kali Indonesia Raya berkumandang di Riyadh. Capaian ini merupakan simbol kekuatan mental, disiplin, dan kerja keras atlet-atlet Tim Indonesia. Ini awal yang sangat positif bagi perjuangan Tim Indonesia di Riyadh,” ungkap CdM Indonesia, Endri Erawan. Hasil Angkat Besi Putra 60Kg Islamic Solidarity Games 2025 Snatch: Medali Emas – Muhammad Husni (Indonesia) Medali Perak – Aqeel Al Jasim (Arab Saudi) Medali Perunggu – Burak Aykun (Turki) Clean & Jerk: Medali Emas – Muhammad Husni (Indonesia) Medali Perak – Burak Aykun (Turki) Medali Perunggu – Elsayed Aly Elsayed Elaraby (Mesir) Total Angkatan: Medali Emas – Muhammad Husni (Indonesia) Medali Perak – Burak Aykun (Turki) Medali Perunggu – Elsayed Aly Elsayed Elaraby (Mesir)

Rizki Juniansyah Raih 2 Medali Emas dan Pecah Rekor di Kejuaraan Dunia 2025

Podium Kejuaraan Dunia Angkat Besi IWF 2025.

Lifter Indonesia, Rizki Juniansyah tampil gemilang di Kejuaraan Dunia Angkat Besi IWF (IWF World Championship) 2025. Bertanding di Forde, Norwegia, Selasa dinihari WIB, Rizki meraih dua medali emas di kelas 79 kilogram putra pada kategori Clean and Jerk dan angkatan total, seperti dilansir dari catatan IWF, Selasa. Rizki memecahkan rekor dunia ketika bertarung pada kategori Clean and Jerk setelah berhasil melakukan angkatan dengan total beban 204 kilogram. Hasil itu membuatnya menyabet medali emas. Medali emas berikutnya didapat dari kategori angkatan total dengan 361 kilogram, dengan rincian 157 kilogram pada Snatch dan 204 di Clean and Jerk. Rizki juga mendapatkan medali perunggu pada kategori Snatch setelah berhasil mengangkat beban dengan total berat 157 kilogram, akan tetapi selanjutnya gagal dalam dua kali percobaan angkatan 162 kilogram. Rekannya, lifter asal Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah berhasil mendapatkan medali perak pada kategori Clean and Jerk setelah mampu mengangkat beban dengan total 203 kilogram. Sementara itu, medali perak kelas 79 kilogram putra kategori angkatan total menjadi milik lifter asal Korea Utara Ri Chong-song dengan total angkatan 360 kilogram. Ia juga mampu mendapatkan medali emas pada kategori Snatch setelah mengangkat beban seberat 163 kilogram. Medali perunggu kelas 79 kilogram putra kategori angkatan total disabet oleh lifter asal Mesir Mohamed Younes dengan total angkatan 360 kilogram, hasil dari 162 kilogram di Snatch dan 198 di Clean and Jerk. Selanjutnya medali perunggu kelas 79 kilogram putra kategori Clean and Jerk didapatkan oleh lifter asal Korea Selatan Son Hyeon-ho dengan angkatan seberat 198 kilogram. Sebelumnya, lifter senior Indonesia Eko Yuli Irawan meraih medali perunggu pada kelas 65 kilogram putra pada kategori Snatch dengan total angkatan 137 kilogram pada Sabtu lalu.

Jabar amankan gelar juara umum Kejurnas Angkat Besi Junior 2024

Provinsi Jawa Barat mengamankan gelar juara umum Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi Junior 2024 yang berlangsung sejak 22 hingga 24 Oktober di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya. PB PABSI menyatakan pada Jumat bahwa Kontingen Jabar meraih gelar juara umum dengan mengemas total 17 medali yakni 12 emas, tiga perak dan dua perunggu. Jabar berhasil mengungguli kontingen tuan rumah Jawa Timur yang berada di posisi runner-up dengan total medali 18 yaitu enam emas, empat perak dan delapan perunggu. Sementara di peringkat ketiga disegel oleh Jambi yang mendapatkan total sembilan medali yakni enam emas dan tiga perunggu. Pelatih angkat besi Jabar Sodikin mengatakan jika capaian 12 emas itu sudah sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan kalkulasi jelang kejuaraan. “Memang sudah kami perhitungkan, sudah kami seleksi dari data atlet yang kira-kira meraih prestasi nasional, kalau juara umum kami cukup yakin. Dan jumlah emas itu juga sangat tepat sesuai perkiraan kami,” tutur Sodikin. 12 emas Jabar tersebut disumbangkan oleh empat atlet yakni Tita Nurcahya di kelas 45 kg putri, lalu Davin Athallah di kelas 73 kg putra, kemudian Raihan Adestya di kelas 81 kg putra dan terakhir Joko Suprianto yang tampil di kelas +81 kg putra. Masing-masing atlet tersebut meraih tiga emas setelah unggul di catatan snatch, clean and jerk serta total angkatan. Sementara itu enam medali emas Jatim disumbang oleh dua atlet yakni Luluk Diana Tri Wijayana di kelas 49 kg putri dan Lavena Putri Angelita kelas 59 kg putri. Lalu, enam emas Jambi juga diperoleh dari dua orang atlet yaith Muhammad Ibnul Rizqi mendapat tiga emas di kelas 61 kg putra sedangkan Yolanda Dwi Ambarwati juga meraih hasil yang sama di kelas +64 kg putri. Adapun dua lifter berhasil mendapatkan penghargaan individu Kejurnas Angkat Besi Junior 2024. Luluk Diana terpilih sebagai lifter terbaik putri sedangkan atlet Lampung Muhammad Husni memperoleh penghargaan lifter terbaik putra. Baik Luluk maupun Husni sama-sama meraih emas dengan keunggulan cukup jauh. Luluk memperoleh angkatan total 186 kg. Mengungguli atlet Kalimantan Barat Dhea Anisa Nabila dengan angkatan total 142 kg. Sedangkan Husni yang tampil di kelas 55 kg putra berhasil mencatatkan angkatan total 261 kg. Dia unggul hingga 62 kg dari atlet Kalimantan Timur Natanael Febrian Gurning yang berada di urutan kedua. Sumber: ANTARA

Sejarah dan Rekor Rizki Juniansyah Saat Raih Emas Olimpiade 2024

Lifter andalan Indonesia, Rizki Juniansyah, berhasil mencatatkan rekor saat menyumbang medali emas untuk Merah Putih di Olimpiade 2024. Rizki Juniansyah turun di cabang olahraga (cabor) angkat besi Olimpiade 2024 nomor men’s 73 kg di South Paris Arena 6 pada Kamis (8/8/2024) atau Jumat (9/8/2024) dini hari WIB. Dalam kompetisi itu, Rizki berhasil mencatatkan total angkatan 354 kg. Ia unggul atas Weeraphon Wichuma (Thailand) dan Andreev Bozhidar (Bulgaria). Weeraphon Wichuma berhasil mengangkat total 346 kg, sedangkan Andreev meraih perunggu dengan total angkatan 344 kg. Keberhasilan Rizki membawa pulang emas diiringi dengan pencapaian meraih rekor di pentas Olimpiade pertamanya tersebut. Atlet angkat besi berumur 21 tahun itu berhasil melakukan angkatan 199 kg. Ia pun mencatatkan rekor Olimpiade dalam angkatan 199 kg clean and jerk. Kemenangan tersebut sekaligus membuat Rizki menjadi lifter Indonesia pertama dalam sejarah yang mampu meraih medali emas Olimpiade. Selain itu, Rizki menjadi peraih medali emas Olimpiade termuda Indonesia. Sebelumnya, rekor ini dipegang oleh Apriyani Rahayu, yang memenangkan medali emas di cabang bulu tangkis ganda putri pada Olimpiade Tokyo 2020 bersama Greysia Polii. Saat itu, Apriyani Rahayu berusia 23 tahun.

Olimpiade 2024: Emas Kedua Untuk Indonesia Dari Rizki Juniansyah

Rizki Juniansyah menyumbang mendali emas untuk Indonesia dari pertandingan angkat besi kelas 73 kilogram di Olimpiade Paris 2024. Bertanding di South Paris Arena 6, Paris, Prancis, Kamis waktu setempat, atlet angkat besi asal Serang, Banten, ini menang dengan total angkatan 354 kilogram (kg). Rizki sempat gagal pada percobaan pertama angkatan snatch seberat 155 Kg, kemudian sukses di momentum kedua. Dia sempat menambah beban hingga 162 Kg, namun tidak bisa menyelesaikannya. Saat itu Rizki tertinggal 10 poin dari lifter Ciina, Shi Zhiyong, yang bisa mengangkat beban 165 Kg. Pada clean and jerk, Rizki akhirnya melejit setelah mengangkat beban 191 kg dan mencatat total angkatan 346 kg. Lifter kelahiran 17 Juni 2003 ini akhirnya mengamankan emas lewat angkatan clean and jerk seberat 199 Kg. Total beban angkatannya menjadi 354 Kg. Rizki sekaligus mencetak rekor dunia junior baru untuk angkat besi 73 Kg clean and jerk. Rekor sebelumnya ada 198 Kg. Dia melampaui Weeraphon Wichuma dari Thailand yang meraih perak dengan total angkatan 346 Kg, kemudian Bozhidar Andreev dari Bulgaria di posisi ketiga dengan total angkatan 344 Kg. Rizki menjadi salah satu dari tiga lifter Indonesia yang tampil di Olimpiade Paris 2024. Dia menjadi andalah setelah Eko Yuli Irawan, lifter Indonesia lainnya, gagal di kelas 61 kilogram putra. Selain itu ada juga Nurul Akmal yang bertanding di kelas 81 kilogram. Indonesia kini mengantongi dua emas. Satunya lagi dari Veddriq Leonardo yang menyabet medali emas di cabang olahraga panjat tebing. Ada juga sumbangan satu perunggu dari atlet bulu tangkis tunggal, Gregoria Mariska Tunjung.

Mojang Bandung Raih Medali Emas Angkat Besi di Uzbekistan

Mojang Bandung Raih Medali Emas Angkat Besi di Uzbekistan

Atlet angkat besi kelas 59 kg, Sarah (16), berhasil menjuarai Asian Youth & Junior Weightlifting Championship Tashkent di Uzbekistan. Dirinya berhasil menyabet beberapa medali dalam ajang tersebut. Sarah berhasil menyabet raihan 3 medali emas di kategori remaja kelas 59 kg putri, kemudian 2 medali perak dan 1 medali perunggu di kategori junior kelas 59 kg putri. Mendengar kabar tersebut, ayah angkat Sarah, Sandy Zaenul Hikmat (31) mengaku bangga dengan prestasi yang diraih anaknya tersebut. Dengan itu, menurutnya, sebagai salah satu pembuktian. “Perasaan mah sebenarnya campur aduk, bangga ada, haru ada, cuma alhamdulillah bisa ngebuktiin sekarang,” ujar Sandy saat dihubungi detikJabar, Jumat (22/7/2022). Dia mengungkapkan saat Sea Games lalu, anaknya tersebut belum bisa mempersembahkan medali. Namun, saat ini bSarah bisa memberikan medali bagi Indonesia. “Kemarin kan pas di sea games nggak dapet medali, karena kemarin lawannya senior. Kalau yang juara sekarang, meskipun levelnya asia, tapi juara di umurnya. Jadi lawannya bukan senior, umurnya sebanding,” katanya. Keberhasilan Sarah tidak pernah lepas dari sosok Ayahnya tersebut. Ayahnya merupakan kakak dari Windy Cantika, seorang atlet angkat besi asal Babakan Cianjur, Desa Malasari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Sandy mengungkapkan anaknya tersebut dahulu sempat berlatih bersama Windy Cantika di Babakan Cianjur. Namun, pada tahun selanjutnya berpindah ke Kampung Balandongan, Desa Rancasenggang, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. “Jadi awalnya sarah belajar angkat besi di tahun 2015. Memang awalnya latihan di mamah (ibunya windy), kan kebeneran masih orang di lingkungan Babakan Cianjur. Terus memang kondisinya Yatim Piatu, terus saya angkat jadi anak tahun 2016,” ucapnya. Pihaknya menjelaskan dalam perjalannya Sarah selalu berlatih dengan gigih dan disiplin. Bahkan, kata dia, latihannya pun tetap berada di rumahnya. “Dulu latihannya pas di mamah, ya sama. Rutin bersama yang lainnya. Biasanya rutin setiap hari Kamis. Jadi di sana (KBB) di rumah juga latihannya sama, sepulang sekolah, istirahat, makan, langsung latihan. Da latihannya juga di rumah saya, di garasi, sama lah kaya di mamah,” ucapnya. Sandy berharap ke depannya anaknya tersebut bisa tetap rendah hati. Sehingga bisa terus konsisten berlatih dan mendapatkan prestasi. “Kalau menurut saya untuk sarah ke depannya adalah yang penting nurut aja kata pelatih, terus dianya mau bekerja keras, disiplin. Masalah sekarang juara, mudah-mudahan kalau sarahnya tetap rendah hati, tetap nggak jumawa. Mudah-mudahan ke depannya bisa konsisten seperti bibinya, Windy Cantika,” pungkasnya.

Sabet Tiga Emas, Rizki Juniansyah Juga Perbarui Rekor Dunia Angkat Besi

Sabet Tiga Emas, Rizki Juniansyah Juga Perbarui Rekor Dunia Angkat Besi

Lifter Indonesia kembali membuat kejutan. Atlet muda, Rizki Juniansyah, sukses mempertajam rekor dunia pada Asian Youth & Junior Weightlifting Championship. Atlet muda andalan Indonesia, Rizki Juniansyah, mencetak rekor dunia baru lagi. Rizki membuat prestasi pada kejuaraan angkat besi junior tingkat Asia, Asian Youth & Junior Weightlifting Championship 2022. Ia tampil gemilang saat melakukan angkatan Snatch, pada Kamis (21/7) malam. Lifter muda asal Serang, Banten, melakukan angkatan Snatch pertama dengan 149 kg dan kemudian 154 kg pada angkatan kedua. Teriakan “good lift” dari juri saat Rizki Juniansyah melakukan angkatan ketiga menandai kepastian reach rekor dunia baru dengan 157 kg saat beraksi di Tashkent, Uzbekistan. Tambahan satu kilogram cukup untuk menjadi rekor dunia angkatan Snatch atas namanya sendiri. Rizki Juniansyah mencatatkan rekor Snatch dengan berat 156 kg pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2022 pada 06 Mei 2022, di Heraklion, Yunani. Rizki Juniansyah berusaha mencetak rekor lain pada angkatan Clean & Jerk. Rizki mampu mengangkat 182 kg dan mencoba 195 kg pada dua percobaan berikutnya. Ia belum berhasil mengejar target untuk memecahkan catatan lamanya, 339 kg, belum berhasil. Raihan pada 2022 juga masih jauh dari rekor lamanya pada 26 Mei 2021. Sewaktu tampil di Uzbekistan juga, Rizki Juniansyah berhasil membukukan total angkatan Clean & Jerk dengan berat 194 kg dan total angkatan 349. Pencapaian Rizki Juniansyah melengkapi prestasi lima atlet angkat besi Indonesia yang meraih enam medali emas, empat perak dan lima perunggu pada Asian Youth & Junior Weightlifting Championship 2022 di Tashkent, Uzbekistan. “Selamat kepada Rizki Juniansyah yang berhasil membuat Indonesia bangga melalui prestasinya, menjadi juara dan memecahkan kembali rekor dunia junior pada angkat besi kelas 73 kg putra, juga atlet lain yang telah berjuang dan meraih prestasi gemilang,” kata Ketua Umum KONI, Marciano Norman. Jumat (22/05/2022), masih ada satu wakil Indonesia yang bertanding. Marciano berharap, penampilan gemilang Rizki Juniansyah menjadi motivasi bagi atlet-atlet binaan Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) pimpinan Rosan Roeslani dan Sekjen Djoko Pramono beserta jajarannya.

Windy Cantika ke Kejuaraan Dunia Junior Sebelum SEA Games 2021

Windy Cantika ke Kejuaraan Dunia Junior Sebelum SEA Games 2021

Lifter putri Windy Cantika Aisah bakal terjun di Kejuaraan Dunia Junior sebelum tampil di SEA Games 2021. Ajang itu hanya sebagai sasaran antara. Kejuaraan Dunia Junior akan berlangsung di Heraklion, Yunani, mulai 2-10 Mei mendatang. Kemudian dua hari berikutnya, SEA Games 2021 Hanoi dimulai sampai 23 Mei mendatang. Meskipun waktunya mepet, PB PABSI tetap mengirimkan atletnya untuk mengikuti dua event tersebut. Termasuk salah satunya Windy Cantika Aisah. Pelatih Nasional Angkat Besi, Dirdja Wihardja mengatakan, ada lima lifter yang dikirim ke kejuaraan tersebut, namun hanya dua di antaranya yang lanjut ke multievent di Vietnam, pada 12 -23 Mei mendatang. “Dari kelima atlet itu hanya (Windy) Cantika dan Rizky (Juniansyah) yang ikut di SEA Games. Sementara tiga lainnya hanya untuk Kejuaaran Dunia Junior saja, di antaranya Muhammad Faathir dan Juliana Klarisa,” kata kata Dirdja ketika ditemui di Mess Kwini, Rabu (6/4/2022). Sebagai informasi, Rizki merupakan juara dunia junior 2021 di kelas 73 kg. Ia mendapatkan meraih medali emas pada angkatan snatch 155 kg dan clean and jerk 194 kg. Sementara Windy Cantika selain peraih medali emas SEA Games di kelas 49 kg, ia juga pemegang gelar juara dunia di angkatan snatch dengan angkatan terbaik 86 kg dan angkatan clean ad jerk 105 kg. “Yang jelas tujuannya untuk menambah jam terbang atlet karena tahun ini cukup berat. Sebab, November ini sudah mulai kualifikasi Olimpiade lagi,” Dirdja menegaskan. “Kami akan fokus raih tiket dulu semaksimal mungkin, kalau SEA Games dan Kejuaraan Dunia hanya sasaran antara saja,” dia mempertegas. Dirdja juga mengatakan tak akan mematok target khusus buat Windy dkk. Ia hanya ingin lifter-nya bisa tampil terbaik dengan persiapan yang sudah dijalani semaksimal mungkin selama Pelatnas ini.

Windy Cantika Akan Berlaga di Yunani dan SEA Games Vietnam

Windy Cantika Akan Berlaga di Yunani dan SEA Games Vietnam

Lifter muda Indonesia, Windy Cantika Aisah, direncanakan bakal berlaga dalam beberapa kejuaraan bergengsi. Diantaranya adalah Kejuaraan Dunia Junior di Yunani dan SEA Games Vietnam pada bulan Mei 2022 mendatang. Atlet berusia 20 tahun tersebut memohon doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia. Sebelumnya, lifter muda asal Kabupaten Bandung itu berhasil menorehkan sejarah dengan meraih medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 di kelas 49 kg, cabang olahraga angkat besi. “Yang paling dekat ada event kejuaraan dunia junior di Yunani bulan Mei awal, dari situ enggak pulang ke Indonesia langsung ke Vietnam SEA Games. Jadi, SEA Games-nya bulan Mei juga, jadi punya waktu 2 minggu dari kejuaraan dunia ke SEA Games,” ujar Windy di Cimaung, Minggu (30/1). “Mohon doa dan dukungan, semoga Windy sehat selalu, dan mendapatkan yang terbaik,” sambungnya. Pada ajang SEA Games sebelumnya, Windy berhasil meraih emas. Windy tak mengungkapkan secara gamblang target untuk SEA Games selanjutnya. Atlet asal Kabupaten Bandung itu hanya meminta doa agar bisa memperoleh medali emas lagi. “Insyaallah mohon doanya saja (dapat emas). Rival terberat ada yaitu dari Thailand,” ungkap Windy. Windy memberikan pesan kepada generasi muda yang ingin menjadi atlet. Yang pertama adalah meminta restu dan doa orang tua. Selanjutnya, adalah harus berusaha dan berlatih semaksimal mungkin. “Minta restu kedua orang tua juga, minta doa orang tua juga, itu yang utamanya, keduanya kita yang harus berusaha, kita yang berlatih semaksimal mungkin, makan yang baik, istirahat yang baik kalau jadi atlet,” pungkasnya.

Bogor Tuan Rumah Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2021

Kejurnas-Angkat-Besi-Remaja-dan-Junior

Mulai hari ini, Minggu (21/11) hingga Rabu (24/11) mendatang, Kota Bogor, Jawa Barat, menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Angkat Besi Remaja dan Junior. Kejuaraan ini terasa spesial, mengingat ini merupakaan kejuaraan angkat besi pertama yang digelar sejak pandemi covid-19. Berlokasi di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, kejuaraan ini diikuti 160 atlet. Dari jumlah itu, ada 79 atlet remaja dan 81 atlet junior. “Ini merupakan program pembinaan kami,” kata Ketua Panitia Penyelenggara, Sonny Kasiran. Lantaran alasan pandemi, peserta kejuaraan nasional (kejurnas) ini hanya dibatasi delapan atlet dari setiap pengurus provinsi. Kepala Bidang Prestasi PABSI, Hadi Wihardja, dalam kesempatan itu menyebut kejurnas akan menjadi lumbung atlet pelapis yang bisa menggantikan atlet putri Windy Cantika Aisah yang kini menjadi atlet pelatnas. Hadi Wihardja menyebut kejurnas juga akan menghasilkan banyak rekor baru dari angkatan snatch serta clean and jerk maupun total angkatan. Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2021 mempertandingkan 14 kelas yakni 7 putri dan 7 putra baik kategori remaja maupun junior. “Kami menerjunkan tim pemandu bakat pada kejurnas ini,” ucap Hadi Wihardja. Untuk remaja putri ada laga kelas 40 kilogram hingga +64 kilogram. Di kelompok remaja putra ada kelas 49 kilogram hingga +81 kilogram. Kemudian, di kelompok junior putri ada kelas 45 kilogram hingga +71 kilogram. Ada juga pertandingan kelas 55 kilogram dan +89 kilogram putra di kelompok junior putra.

Usai Ukir Rekor Dunia, Ini Target Rizki Juniansyah

Usai Ukir Rekor Dunia, Ini Target Rizki Juniansyah

Usai harumkan Indonesia dengan mengukir tiga rekor dunia junior kelas 73 kg pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021 di Uzbekistan, lifter muda Rizki Juniansyah siap naik level. Ia pun membeberkan targetnya ke depan. Diakui lifter kelahiran Banten, 17 Juni 2003 itu, saat ini ia tengah berniat mencoba memecahkan rekor dunia junior di kelas 81 kg. “Karena masih ada kesempatan berlaga di level junior dua tahun ke depan, obsesi saya selanjutnya mampu memecahkan rekor dunia junior di kelas 81 kg. Untuk itu saya berniat pindah ke kelas 81 kg,” papar Rizki saat menjalani karantina sepulangnya dari Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior di Uzbekistan, Minggu (30/5/2021). Untuk bisa tampil di kelas 81 kg, Rizki Juniansyah harus menjaga berat badannya tidak boleh melebihi 80 kg. “Ini juga untuk jaga-jaga jika nantinya saya harus tampil di kelas 73 kg, untuk menurunkan berat badan tidak sulit,” ungkapnya. Rekor dunia junior kelas 81 kg saat ini yang sedang dibidiknya adalah angkatan snatch seberat 168 Kg yang dicetak lifter Tiongkok, Li Dayin dan clean and jerk 208 kg yang ditorehkan lifter Bulgaria, Nasar Karlos Mau Hasan. “Selisihnya tidak jauh dengan rekor dunia di kelas 73 kg yang baru saja saya pecahkan yakni snatch 155 kg dan clean and jerk 194 kg. Tinggal saya harus fokus untuk menambah berat angkatan di kelas baru ini,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Muhammad Yasin dan Yeni Rohaeni itu. Selain itu, Rizki Juniansyah juga membidik untuk memecahkan rekor dunia senior di kelas 73 kg, kelak jika ia sudah beralih ke level senior. “Sekarang ini saya fokus di junior lebih dahulu dengan rencana pindah kelas. Setelah saya memenuhi syarat di level senior saya mencoba untuk memecahkan rekor dunia lagi yang juga selisihnya tidak jauh yakni 169 kg di angkatan snatch dan 198 kg di angkatan clean and jerk. Tinggal fokus saya lebih meningkatkan lagi power angkatan saya,” ujar Rizki Juniansyah. Prestasi yang diraih oleh pemuda yang bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri itu memang sangat membanggakan. Rizki mengenal angkat besi dari ayah dan kakaknya. Ia memulai debutnya dengan meraih medali perunggu di kelas 56 kg pada Kejurnas Angkat Besi Satria Remaja di Bandung 2016 silam. Atas keberhasilannya itu, Rizki Juniansyah kemudian terpilih mengikuti Kejuaraan Angkat Besi Youth & Juniors Asia di Thailand 2018 silam dengan membawa pulang medali perak di kelas 62 kg. “Target saya di angkat besi ingin tercatat sebagai lifter pemecah rekor dunia baik di kelas junior maupun senior. Alhamdullilah, untuk kelas 73 kg junior saya mampu memecahkannya. Selain obesesi saya tampil di ajang Olimpiade berikutnya di Paris 2024 mendatang,” harapnya. Catatan perjalanan prestasi Rizki Juniansyah boleh dibilang cukup meroket. Ia mulai menekuni angkat besi sejak umur 7 tahun. “Waktu itu karena di rumah Ayah saya mendirikan sasana sendiri, saya sudah mulai latihan namun waktu itu tidak dengan keseriusan dan tidak ditekuni. Di usia 8 tahun saya berhenti latihan karena saya belum di izinkan waktu itu untuk latihan dan saya masih takut-takut karena dulu perawakan saya kecil dan pendek dan itu yang ditakutkan kedua orang tua saya, pertumbuhan badan takut keterusan pendek,” ujarnya. Namun, setelah dilihat postur tubuhnya mengalami pertumbuhan, Rizki Juniansyah kemudian diperbolehkan untuk kembali berlatih. “Saya memulai berlatih lagi pada usia 11 tahun, ketika duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Setelah keluarga bermusyawarah untuk menyetujuinya dan darisitulah saya mendapat gemblengan dari Ayah saya yang juga mantan atlet angkat besi,” ungkapnya lagi. Di usianya yang masih sangat muda, Rizki Juniansyah membersnikan diri tampil di Pekan Olahraga Antar Provinsi (Porprov) Banten dan pertama kali mendapatkan emas di kelas 40 Kg dengan angkatan snatch 45 Kg dan clean and jerk 55 kg. “Saya tidak akan merasa puas dengan apa yang saya raih saat ini. Saya ingin lebih meningkstkan lagi prestasi saya hingga ke jenjang Olimpiade. Saya berterima kasih kepada Ayah, seluruh keluarga, tim pelatih selama berada di Pelatnas yang telah membimbing saya hingga mampu memecahkan rekor dunia,” katanya.

Resmi Berdiri Sendiri, Pabersi Kalsel Canangkan Regenerasi Atlet

Bendera dan Logo dari Pabersi

PabersiSetelah resmi berpisah dari Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI), cabang olahraga angkat berat kini berkibar dengan organisasi tersendiri. Yakni, Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi). Sebagai langkah awal, para pengurus baru mencanangkan sebuah program untuk regenerasi atlet mereka. Guna menjalankan hal tersebut, Pengurus Pusat (PP) Pabersi langsung membentuk kepengurusan di tingkat provinsi. Di Kalsel, Pengprov Pabersi Kalsel diketuai oleh Bara Mahaputra dan telah dilantik secara virtual di Aula Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalsel, Minggu (26/12). Bara menuturkan pihaknya akan berupaya memprogramkan regenerasi atlet angkat berat khususnya di Banua. “Program ini merupakan jangka panjang. Pasalnya, untuk cabang olahraga (cabor) angkat berat, Kalsel memang masih banyak prestasi,” ungkap Bara, dilansir dari Prokal. Ditambahkan Bara, oleh karena itu program regenerasi harus dijalankan sesegera mungkin. “Yakni, dengan mendata para atlet angkat berat usia muda yang ada di Kalsel. Saya yakin, para atlet angkat berat usia muda tersebut, mampu mengangkat nama Kalsel di kancah nasional dan internasional,” ujarnya. Lebih lanjut, Pengprov Pabersi Kalsel bertekad untuk menyumbangkan atletnya untuk berlaga pada Kejuaraan Angkat Berat Asia 2020 di Sumatera Utara, Maret tahun depan. “Setelah mendata atlet, kami akan langsung bentuk tim guna berangkat ke kejuaraan tersebut. Dengan waktu yang cukup minim ini, mudah-mudahan para atlet angkat berat Kalsel bisa meraih prestasi yang membanggakan,” harapnya. Sementara itu, Sekretaris Umum KONI Kalsel, Enly Hadianor, mengapresiasi kesungguhan Pengprov Pabersi Kalsel dalam membina cabor angkat berat. “Tentu akan kami dukung program-program Pabersi Kalsel. Pasalnya, cabor ini merupakan potensi prestasi buat Kalsel,” tandasnya.

Demi Lifter Sarat Pengalaman Tanding, Pemerintah Gelar Kejuaraan Remaja Angkat Besi Internasional di Bali

Kejuaraan Angkat Besi Antar Klub Tingkat Nasional Satria Remaja I 2017, di GOR Sabilulungan, Hall Gymnasium Stadion Jalak Harupat, Soreang, Bandung. (kemenpora.go.id)

Jakarta- Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bakal menggelar kejuaraan angkat besi internasional bertajuk ‘Satria Remaja Weightlifting Championship 2018’, di Denpasar, Bali, 29 Juli hingga 6 Agustus 2018. Sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Brunai Darussalam, Mauritius, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, dan Jepang akan meramaikan persaingan pada Kejuaraan Terbuka Angkat Besi Satria Remaja itu. Kejuaraan bertaraf internasional ini sebagai lanjutan program kerjasama Kemenpora dengan Pengurus Besar (PB) Persatuan Angkat Besi dan Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) yang sudah berlangsung sejak 2016. “Pada tahun ini, Kemenpora melalui Asdep Pembibitan dan IPTEK Olahraga dan PB PABBSI, akan meningkatkan status kejuaraan angkat besi menjadi bertaraf internasional,” ujar Washinton, Asisten Deputi Pembibitan dan IPTEK Olahraga saat bertemu I Made Mangku Pastika (Gubernur Bali), di Kantor Gubernur Bali, Denpasar, pekan ini. Kompetisi angkat besi yang tinggi ditingkat remaja di bawah usia 17 tahun (U-17), namun minimnya pertandingan menjadi alasan dihelatnya kejuaraan angkat besi bertaraf internasional tersebut. “Saat ini pencapaian prestasi lifter remaja sudah sangat baik, misalnya di Youth Olympic Games dan Asian Youth Games. Namun, mereka masih kurang pertandingan ditingkat nasional maupun internasional,” lanjutnya. Ia berharap kejuaraan bertaraf internasional ini mampu menghasilkan lifter dengan pengalaman bertanding yang mumpuni, sehingga nantinya mewakili Indonesia di berbagai event internasional. “Event ini menjadi batu loncatan ke Kejuaraan Asia atau Dunia Angkat Besi Remaja dan Junior, Asian Youth Games, dan Youth Olympic Games,” harap Washinton. Sementara, I Made Mangku Pastika menyambut baik digelarnya Kejuaraan Angkat Besi Satria Remaja yang bertaraf Intrernasional itu. “Saya berharap dapat terlaksana dengan baik dan sukses. Sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap Provinsi Bali dibidang pariwisata dan olahraga,” tegas pria yang berpangkat Komisaris Jenderal, dan pernah menjabat Kapolda Bali periode 2003-2008 lalu. (Adt)