Ganda Putra Stabil, PBSI Bidik Satu Gelar di All England 2018

Ganda Putra Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon sukses menjuarai All England 2017. (vice.com)

Jakarta- All England Open 2018 BWF World Tour Super 1000 jadi target besar pertama yang dibidik PBSI. Kejuaraan tertua ini memiliki gengsi tersendiri di mata para pebulutangkis sejak dulu. All England 2018 akan dilangsungkan di Arena Birmingham, Birmingham, pada 14-18 Maret 2018. Tahun lalu, Indonesia mengukir prestasi manis lewat satu gelar yang diraih pasangan fenomenal Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Kini Marcus/Kevin yang duduk di peringkat satu dunia, kembali menjadi andalan untuk meraih gelar. “All England ini persiapannya serius, ini salah satu milestone PBSI. All England merupakan event penting, di turnamen ini akan diterapkan beberapa regulasi baru dari BWF seperti aturan tinggi servis dan tanpa babak kualifikasi,” kata Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal PP PBSI yang menjadi Manajer Tim Indonesia pada Selasa (5/3). Nada optimistis juga disampaikan Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI. “All England jadi salah satu target kami. Semua atlet pasti maunya lebih, tiap sektor punya target masing-masing. Saat ini ganda putra paling stabil, tetapi masih ada sektor ganda campuran, ganda putri dan tunggal putra,” kata Sussy. Ada beberapa hal menarik yang ditunggu-tunggu di All England 2018. Yang pertama adalah penerapan aturan tinggi maksimal servis yaitu 115 cm dari permukaan lapangan. Aturan ini untuk pertama kalinya akan diuji coba di All England 2018. Selain itu, pasangan Juara All England 2016, Praveen Jordan/Debby Susanto seolah kembali bernostalgia setelah di All England 2018 mereka kembali reuni dan dipasangkan bersama. Sejak tahun 2018, Praveen/Debby resmi berpisah. Debby dipasangkan dengan Ricky Karanda Suwardi, sedangkan Praveen bersama Melati Daeva Oktavianti. Namun karena alasan rangking yang belum mencukupi, kedua kombinasi baru ini belum beraksi di All England 2018. Kesempatan ini dimanfaatkan Praveen/Debby untuk mencoba lagi. Susy berharap tampilnya Praveen/Debby dapat beriringan dengan pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang juga pernah mencetak prestasi gemilang dengan meraih gelar hat-trick di All England 2012, 2013 dan 2014. “Praveen/Debby akan berpasangan lagi di All England 2018, mereka kan pernah juara di sini. Kami berharap dapat format ganda campuran terbaik, supaya bisa bahu membahu dengan Tontowi/Liliyana,” ujar Susy. “German Open dan All England menjadi turnamen yang kami pantau, kami mau melihat bagaimana hasil yang diraih para pemain, untuk pemilihan tim inti Piala Thomas dan Uber. Pokoknya untuk Piala Thomas dan Uber serta Asian Games, yang terbaik yang akan masuk tim inti,” tutur Susy. Sebagian pemain akan mengikuti German Open 2018 BWF World Tour Super 300 pada 6-11 Maret 2018. Tim akan berangkat pada Sabtu, 3 Maret 2018. Sedangkan mereka yang hanya berlaga di All England 2018, akan berangkat pada Minggu, 11 Maret 2018. (Adt) Daftar Pemain serta lawan pertama mereka di All England 2018 : Tunggal Putra Anthony Sinisuka Ginting (INA) vs Tommy Sugiarto (INA) Jonatan Christie (INA) vs Wong Wing Ki Vincent (HKG) Tunggal Putri Fitriani (INA) vs Soniia Cheah (MAS) Ganda Putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (1/INA) vs Angga Pratama/Rian Agung Saputro (INA) Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (INA) vs Ong Yew Sin/Teo Ee Yi (MAS) Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (INA) vs Jacco Arends/Ruben Jille (NED) Ganda Putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu (6/INA) vs Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (BUL) Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani (INA) vs Chloe Birch/Jessica Pugh (ENG) Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta (INA) vs Chang Ye Na/Kim Hye Rin (KOR) Ganda Campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (1/INA) vs Evgenij Fremin/Evgenia Dimova (RUS) Praveen Jordan/Debby Susanto (4/INA) vs Lee Yang/Hsu Ya Ching (TPE) Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja (INA) vs Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (MAS)

Cari Pelapis Baru, Duet Ganda Putri Pelatnas PBSI Siap Dirombak

Pasangan Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari pernah meraih emas Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan. (badmintonindonesia.org)

Jakarta- Guna mencari pelapis baru, induk organisasi bulutangkis seluruh Indonesia (PBSI) bakal merombak pasangan ganda, utamanya di sektor ganda putri. Pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu masih menjadi pilar utama di sektor ganda putri. Prestasi yang ditorehkan pasangan kombinasi senior dan junior itu terbilang gemilang. Tercatat, dari sembilan turnamen yang diikuti pada tahun lalu, Greysia/Apriyani membawa pulang dua gelar yakni Thailand Open dan Prancis Open. Sementara, pada tahun ini, pasangan yang bertengger di rangking 7 dunia itu memulai prestasinya dengan menjadi runner-up di Indonesia Masters BWF World Tour Super 500. Dan, kekalahan di kandang sendiri dibayar lunas pasangan Pelatnas Cipayung itu dengan menjuarai India Open BWF World Tour Super 500, pada 4 Februari lalu. Eng Hian, Pelatih Pelatnas Ganda Putri, mengatakan dalam waktu sepekan kedepan bakal ada pengumuman terkait perombakan pasangan di sektor ganda putri. “Kalau Greysia/Apriyani posisinya tetap aman,” tukasnya di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Namun, ia masih enggan untuk mengungkapkan pasangan mana saja yang bakal dirombaknya. Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan salah satunya adalah Nitya Krishinda Maheswari. Nitya merupakan teman duet Greysia, sebelum dipasangkan dengan Apriani. Dobel Greysia/Nitya pernah menorehkan prestasi membanggakan saat menyabet emas Asian Games 2014, di Incheon, Korea Selatan (Korsel). Setelah itu, karena harus melalui masa pemulihan akibat operasi cedera lutut pada Desember 2016, Nitya dipisahkan dengan Greysia. Usai pulih, Nitya kemudian dipasangkan dengan Yulfira Barkah. Pasangan itu memulai debut di ajang USM Flypower Indonesia International Challenge, Oktober 2017. Namun, sejauh ini pasangan Nitya/Yulfira belum menunjukkan progres yang signifikan. Eng Hian menyebut terdapat kemungkinan bila Nitya menjadi salah satu pemain yang bakal terkena perombakan. “Para pemain yang terkena bongkar pasang ini akan turun perdana pada bulan April,” cetusnya. Ia melanjutkan tujuan dari perombakan pasangan ini adalah mencari hasil serta kualitas yang lebih baik dari sekarang. “Itu yang saya cari. Memiliki kualitas yang sama dan bisa bersaing dengan papan atas,” tutup pria yang akrab disapa Koh Didi itu. (adt)

Lawan Cedera, Alvindo Juara Tunggal Putra LIMA Badminton National 2018 Seri Jakarta

Ilham Sri Yulianto (merah) saat menghadapi Alvindo Saputra di babak final Badminton National LIMA 2018. (Prast/NYSN.com)

Jakarta- Pebulutangkis unggulan wakil Universitas Trisakti (USAKTI) Jakarta, Alvindo Saputra, berhasil meraih gelar juara pada ajang Liga Mahasiswa (LIMA) Badminton National 2018, di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Sabtu (3/3). Ia menaklukkan kompatriotnya, Ilham Sri Yulianto. Alvindo mengaku pada pertandingan kali ini dirinya bermain tanpa beban dan berusaha menikmati pertandingan. “Saya sudah sering bermain sama Ilham. Kebetulan Ilham itu yunior saya di klub. Jadi sudah tahu cara bermainnya bagaimana,” tutur Alvin, sapaannya, usai pertandingan. “Sebenarnya Ilham bermain sangat bagus, apalagi sudah bisa sampai ke final. Cuma dia memang lagi cedera, sehingga tidak bisa mengeluarkan kemampuannya secara maksimal,” sambung pria asal Jakarta ini. Sementara, Ilham mengatakan akibat cedera yang diderita membuat permainannya tidak berkembang. “Kendalanya memang cedera. Jadi mau dimaksimalin mainnya juga susah. Apalagi minggu depan ada Sirkuit Nasional (Sirnas), dan saya harus ikut, makannya harus jaga-jaga juga biar nggak tambah parah. Makannya saya pilih ngalah, lagipula sama-sama dari Trisakti, ya sudah nggak apa-apa,” bebernya. Pada gim pertama, Ilham sebetulnya bermain baik saat dirinya mampu memberikan perlawanan ketat, hingga skor imbang 5-5. Namun, Alvin berhasil menambah empat skor berturut-turut dari kompatriotnya itu hingga skor menjadi 9-5. Setelah paruh gim pertama, Ilham kesulitan untuk mengejar poin Alvindo. Juara bertahan itu akhirnya berhasil menyudahi perlawanan Ilham di gim pertama dengan skor 21-11. Dan, akibat cedera yang dialami Ilham, maka pertandingan gim kedua tidak dilanjutkan. Sementara, peringkat ketiga diraih wakil Universitas Pelita Harapan (UPH) Keinth Chia. Ia sukses menumbangkan rekannya Tommy Boentoro, dua gim langsung, dengan skor 21-13, 21-18. (adt) Berikut Hasil Pertandingan LIMA Badminton Nasional 2018: Tunggal Putra: 1. Alvindo Saputra (USAKTI) 2. Ilham Sri Yulianto (USAKTI) 3. Keinth Chia (UPH) Tunggal Putri: 1. Made Deya Surya Saraswati (BINUS) 2. Ni Made Pranita Sulistya Devi (BINUS) 3. Marsha Indah Salsabila (USAKTI) Ganda Campuran : 1. Ario B./Felicia P. (USAKTI) 2. Ardy N./Anisa N. A. (USAKTI) 3. Wahyu H./Rahmadhani H. P. (USAKTI) Beregu Putra: 1. Universitas Trisakti 2. Universitas Budi Luhur 3. Universitas Negeri Jakarta Beregu Putri: 1. Universitas Trisakti 2. Universitas Bina Nusantara 3. Universitas Pelita Harapan

Anthony Waspada Dalam Mengahadapi Duel Dengan Momotoa, Pemain Bulutangkis Terbaik Jepang

pebulutangkis_anthony_ginting

Jakarta – Pemain tunggal andalan Indonesia Anthony Ginting berpeluang berduel dengan pebulutangkis terbaik Jepang Kento Momota di babak pertama German Open 2018 BWF World Tour Super 300, pada 6-11 Maret. Pertemuan kedua pemain ini bisa terlaksana, bila Momota mampu lolos dari babak kualifikasi yang harus dilewatinya. Pebulutangkis asal Negeri Sakura itu diketahui baru kembali bermain setalah absen dari kompetisi selama satu tahun lebih. Sedangkan Anthony saat ini bertengger diperingkat sembilan dunia. Bisa dipastikan duel kedua pebulutangkis ini sangat dinanti di German Open 2018. “Pasti Momota mau balik lagi (ke jajaran top dunia). Walaupun dia sempat absen, saya harus tetap waspadai dia. Pertemuan terakhir kami sudah lama sekali, saya sudah lama tidak melihat permainannya secara langsung,” sebut Anthony seperti dikutip situs resmi PBSI, Selasa (27/2). “Senjatanya Momota itu adalah main sabar, dia mainnya ngatur. Mirip-mirip dengan Chen Long (Tiongkok), tetapi Chen Long postur tubuhnya lebih ‘galak’, jadi kalau salah arah pengembalian bola, bisa kehilangan poin. Menghadapi Momota, saya harus bermain lebih sabar,” sambungnya. Pada turnamen Badminton Asia Team Championships 2018, beberapa waktu lalu, penampilan Anthony tidak maksimal karena mengalami cedera pada engkel kanannya. “Kondisi engkel saya sekarang sudah agak baikan,” cetus juara Daihatsu Indonesia Masters 2018 itu. (adt)

Bobby Setiabudi, Pebulutangkis 17 Tahun Ini Incar Gelar Juara di Belanda

pemain_tunggal_bobby_setiabudi

Jakarta-Bobby Setiabudi, pebulutangkis binaan klub PB Djarum mengincar gelar juara pada turnamen bulutangkis junior 2018, yang dihelat di Hall Duinwijck, Belanda, 28 Februari – 4 Maret mendatang. Remaja berusia 17 tahun itu, mengaku sudah melakukan persiapan secara maksimal dan dirinya juga telah siap untuk bertanding. “Semoga bisa tampilkan permainan yang paling terbaik di kejuaraan nanti dan mudah-mudah juga dapat hasil yang bagus,” cetus juara Djarum Sirkuit Nasional Jawa Tengah Open 2017 (tunggal remaja putra) itu, seperti dikutip pbdjarum.org, Senin (26/2). Meski diakui untuk mencapai target yang diinginkannya terbilang berat, namun bagi pebulutangkis kelahiran Situbondo, Jawa Timur, 22 Maret 2001, turnamen di Negeri Kincir Angin tersebut bisa dijadikan sebagai ajang menambah pengalaman bertanding. “Setidaknya dapat pengalaman kalau hasilnya tidak memuaskan. Sekaligus ingin menakar kemampuan bermain juga. Semoga saja selama bertanding tidak ada kendala,” sambungnya. Di laga perdana, Bobby bakal berhadapan dengan wakil India Rahul Bharadwaj B M. Berdasarkan data, kedua pemain ini belum pernah bertemu sekalipun. “Pemain India biasanya kuat dan ulet, jadi saya harus berani bertahan dan harus percaya diri. Meski belum pernah bertemu dengan pemain India itu yang penting fokus mainnya dan sudah in duluan ketika dilapangan nanti,” tutup juara Wali Kota Surabaya Bank Jatim Victor Open 2017 (tunggal remaja putra) itu. (adt)

Juara Awal Tahun, Anthony Ginting Bidik Rangking Top Five

Anthony Sinisuka Ginting, Pemain tunggal putra Indonesia telah berhasil menjuarai Indonesia Masters 2018, di Istora Senayan, Jakarta Pusat, 28 Januari 2018. Dilansir dari tempo.co (28/01/2018), kesuksesannya mengalahkan pemain Jepang, Kazumasa Sakai tersebut dipersembahkan untuk keluarga dan pemain tunggal putra Indonesia lain. Gelar tersebut merupakan gelar kedua Ginting di tingkat Superseries. Tahun 2017, ia berhasil menjuarai Korea Open 2017. Prestasi ini menjadi pacuan “semangat” bagi pemusatan latihan nasional tunggal putra Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia yang sedang minim prestasi. Pelatih Ginting berkata harus tetap rendah hati, karena setelah juara satu, akan ada juara-juara lain. Prestasi-prestasi tersebut buat Ginting merupakan motivasi tersendiri baginya. Ia pun bersemangat untuk terus meningkatkan pretasinya, dengan berada di peringkat 16 dunia, juga menargetkan meningkatkan rangkingnya di tahun 2018 ini. Untuk rangking Ginting ingin masuk top ten atau top five. Namun, Ginting tidak memikirkan menggebu-gebu, ia tetap mencoba maksimalkan setiap pertandingan yang ada.

Marcus/Kevin Berhasil Raih Gelar Perdana 2018

Pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo raih kemenangan pada Indonesia Master 2018, di Istora Senayan, Minggu (28/01/2018) Dilansir dari sports.sindonews.com (28/01/2018), meski sempat tertekan di game pertama dan kalah 11-21, akhirnya Marcus/Kevin menang atas Li Junhui/Liu Yuchen. Pada game kedua, Marcus/Kevin tampil lebih agresif, dengan banyak memaksa Li Junhui/Liu Yuchen bermain bola-bola atas. kedua pasangan ini menampilkan strategi permainan cepat, silih berganti melakukan serangan smes kencang. Akhirnya, sukses di game tersebut dengan 10-21. Game ketiga, Marcus/Kevin memimpin 5-1. Dengan penampilan konsisten, sukses mengalahkan perlawanan pasangan China tersebut dengan skor 21-16. Kemenangan itu menjadi gelar perdana di 2018.

Setahun Berpasangan, Greysia Polli Dan Apriyani Rahayu Bidik Emas Asian Games 2018

Greysia-Polii-Apriyani-Rahayu

Jakarta- Duet ganda putri kebanggaan Indonesia, Greysia Polli dan Apriyani Rahayu menjadi salah satu pasangan yang ditargetkan membawa pulang emas untuk Indonesia di Asian Games 2018. Mereka belum setahun dipasangkan, namun berbagai prestasi sudah mereka raih. Salah satunya menjadi juara di Perancis Terbuka Super Series 2017, yang merupakan gelar pertama bagi ganda putri Indonesia sejak 20 tahun tidak berhasil menjadi juara. Mereka juga pernah menjadi juara di ajang GrandPrix Gold di Thailand Terbuka dan menjadi pasangan ganda putri peringkat ke-11. Dengan modal ini, tak heran mereka percaya diri dan santai menghadapi Asian Games yang dilaksanakan Agustus mendatang. “Beban sih nggak. Saya enjoy saja, karena kak Greysia juga tak harus menuntut ini itu. Jalani saja dan tunjukkan yang terbaik,” ungkap Apriyani pada Kamis (18/1) dalam lansiran detik.com Apriyani merasa ia sudah sangat klop dengan Greysia meski belum genap setahun dipasangkan. Tinggal mematangkan kekurangan masing-masing bersama Greysia. “Kami sudah sama-sama tahu pola main dilapangan sudah klop tinggal mematangkan kekurangan masing-masing saja,” tambahnya Bagi Apriyani, negara-negara lain juga sudah menyiapkan strategi untuk bisa menang terutama untuk China dan Jepang yang sangat kuat bermain dilapangan. (put)

Penerus Keluarga Sugiarto di Bulutangkis Indonesia

Penerus-Sugiarto-di-Bulutangkis-Indonesia

Bagi para penggemar bulutangkis Indonesia, pastinya sudah tak asing dengan nama legenda hidup Icuk Sugiarto. Icuk merupakan atlet tunggal putra terbaik kepunyaan Indonesia di era 80-an. Berbagai prestasi mampu di dulangnya, untuk membawa nama harum Indonesia. Dikenal dengan staminanya yang kuat, membuat dirinya mampu memenangi Kejuaraan Dunia III di Denmark pada tahun 1983 melawan Liem Swie King. Pada tahun 1989, Icuk memutuskan pensiun sebagai atlet. Tetapi, generasi Sugiarto tak akan pernah sirna untuk membawa nama bulutangkis Indonesia berprestasi. Tommy Sugiarto dan Jauza Fadhilla Sugiarto, melanjutkan karir sang ayah sebagai pemain bulutangkis. Tommy Sugiarto – Tunggal Putra Indonesia Pria kelahiran 31 Mei 1988 ini merupakan, anak kedua dari legenda bulutangkis Indonesia. Di usiannya yang masih belia, Tommy sudah membawa klub Pelita Bakrie menjadi jawara di kejuaraan tingkat cabang PBSI Jakarta Barat. Bahkan di tahun 2008, Tommy masuk sebagai tunggal putra keempat tim Piala Thomas. Sering berjalannya waktu, Tommy mampu meraih gelar superseries pertamanya di tahun 2013 tepatnya di kejuaraan Singapura Open Superseries. Kini, prestasinya mulai sedikit meredup. Tommy masih kalah saing dengan juniornya seperti Jonatan Cristie yang menduduki peringkat 14 dunia dan Anthony Sinisuka Ginting peringkat 13 dunia. Sedangkan, Tommy hanya menduduki peringkat 25 dunia. Walaupun ia juga sempat menduduki peringkat tiga dunia pada tahun 2014. Jauza Fadhilla Sugiarto – Ganda Putri Indonesia Anak bungsu Icuk Sugiarto yakni, Jauza Fadilla Sugiarto sudah mulai menemukan prestasi bulutangkisnya di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) DKI Jakarta tahun 2017. Dimana, Jauza mendapat tiga medali emas dari kategori tunggal putri, ganda putri dan beregu. Jauza lebih memilih bermain di sektor ganda putri berpasangan dengan Ribka Sugiarto. Ada yang unik, Ribka Sugiarto yang menggunakan nama belakang Sugiarto, ternyata bukan anak dari Icuk Sugiarto. Kendati demikian, pasangan cantik ini mampu memenangi Malaysia Internasional Junior Open 2017. Jauza dan Ribka kini menduduki peringkat 217 dunia. Tentunya, bagi masyarakat Indonesia hanya bisa berdoa agar penerus Sugiarto di bulutangkis bisa menyamai pencapain sang ayah, Icuk Sugiarto.(pah/adt)

PBSI Rilis Tim Atlet Pelatnas Tahun 2018

Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) telah merilis daftar tim pemusatan latihan nasional (Pelatnas) 2018. Pemain kelas utama masih diisi tim ternama seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Greysia Polii, Jonatan Christie, dan sebagainya. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan bernomor SKEP/070/0.3/XII/2017 tentang Promosi Atlet Bulu Tangkis untuk Masuk Pelatnas PBSI Tahun 2018. Atlet pelatnas akan mendapatkan ketentuan baru dalam hal sistem pembinaan yang dimulai 2018, yaitu: Bagi atlet-atlet yang tertera di SK (surat keputusan) seluruh pembiayaan latihan dan pertandingan selama setahun akan dibiayai oleh PBSI. Atlet dengan SK Pemantauan, di mana pembiayaan pelatihan dan pertandingan akan dibiayai oleh PBSI selama enam bulan kemudian dipantau dan dievaluasi prestasinya, jika tak memenuhi target maka statusnya akan berubah menjadi pemain magang atau bahkan dipulangkan ke klub masing-masing (degradasi). Pemain magang yang seluruh pembiayaan latihan ditanggung PBSI, sementara untuk pertandingan dibiayai klub masing-masing. Pemain magang pun dievaluasi penampilannya selama enam bulan, kecuali jika indisipliner, dapat dipulangkan ke klub sewaktu-waktu. Jika berprestasi akan naik menjadi pemain dengan SK Pemantauan. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti berkata tak hanya perubahan dari segi pembinaan, juga perubahan dari segi kuota. Pada tahun 2018, jumlah atlet penghuni pelatnas sebanyak 104 atlet. Mereka dipilih dari penilaian potensinya, attitude, kemauan dan progres selama di pelatnas. Susy juga berkata bahwa prestasi atlet tersebut di tahun 2017 sudah cukup baik. Tahun ini dapat 38 gelar dari level international series hingga super series premier. Susi berharap di tahun 2018 tentu akan lebih baik lagi dan ada regenerasi lebih cepat. Prestasi sepanjang 2017, atlet bulutangkis nomor ganda putra berprestasi dengan luar biasa, begitu juga untuk ganda campuran, mendulang gelar pada event-event penting. Nomor ganda putri pun menunjukkan peningkatan yaitu ada tiga gelar yang diraih dari ganda putri tahun ini. Menurut lansiran, semua ini harus diapresiasi dan tetap harus kerja keras. Seperti halnya untuk Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa diharapkan lebih stabil, bukan cuma di ranking 20 besar dunia, tetapi juga harus top 10. Mereka adalah pemain yang punya kesempatan ke Olimpiade 2020.

Kemenpora Berikan Penghargaan Kepada Legenda Bulutangkis Versi CWIBC

Imam-Nahrawi-berpasangan-dengan-Kevin-Sanjaya-melawan-Chandra-Wijaya-dan-Ricky-Soebagdja

Bulutangkis Indonesia sangatlah ditakuti oleh Negara-negara dunia. Sebut saja nama Eng Hian, Chandra Wijaya, Ricky Soebagja, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat, Hendrawan, Susi Susanti dan masih banyak lagi atlet legenda bulutangkis Indonesia yang disegani oleh lawannya. Di acara pembukaan Yonex Sunrise Doubles Special Championship 2017 dan peresmian venue Chandra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC), Kemenpora memberikan penghargaan kepada legenda bulutangkis Indonesia yang sudah memberikan prestasi dan membawa nama harum Indonesia. Penghargaan tersebut, diberikan kepada Ketua Umum PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) periode 2008-2012, Djoko Santoso. Penghargaan juga diberikan kepada Ricky Soebagdja serta Rexy Mainaky sebagai pasangan terbaik dan peraih Olimpiade Atlanta 1996. Terakhir, penghargaan diberikan kepada pelatih yang membawa pasangan ganda putra Kevin dan Marcus juara dunia yakni Herry Iman Pierngadi. Kemenpora Imam Nahrawi menjelaskan, luar biasa sesama legenda memberikan penghargaan. Terlebih, pemerintah akan terus mendukung pelaku sejarah sesuai dengan intruksi Presiden, Joko Widodo. “Ini adalah apresiasi yang luar biasa sesama legenda memberi penghargaan. Dalam hal ini, pemerintah terus mensupport dan akan melanjutkan tradisi kemarin, kepada para legenda olahraga di tanah air yang merupakan instruksi langsung dari bapak presiden,” ungkap Imam. Sedangkan, mantan juara dunia bulu tangkis, Chandra Wijaya menuturkan, pihaknya sangat gembira dengan kondisi saat ini artinya pemerintah terus mengapresiasi para legenda bahkan hingga memberikan bonus kepada para atlet. “Kita sebagai mantan atlet gembira sekali namun, jangan sampai sistem yang sudah baik berhenti di tengah jalan tetapi harus terus konsisten karena mencetak para juara tidak bisa instan dan perlu pengorbanan, dedikasi, kerja keras dari atlet itu sendiri,’’ tuturnya. Pada kesempatan itu, sempat pula dilakukan pertandingan eksebisi antara Menpora Imam Nahrawi yang berpasangan dengan Kevin Sanjaya melawan pasangan Chandra Wijaya-Ricky Soebagdja. (pah/adt)

Kevin/Marcus Sabet Gelar Juara BWF Super Series 2017

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil tampil gemilang dan dapat menjuarai turnamen BWF Super Series Finals 2017. Pasangan ganda putra nomor satu dunia ini mampu mengalahkan pasangan China, Zhang Nan/Liu Cheng dalam dua gim 21-16, 21-15, dalam final yang berlangsung di Hamdan Sports Complex, Dubai, Uni Emirat Arab. Dalam gim pertama poin hingga 16-15, sebelum akhirnya tim Kevin/Marcus melejit ke 21-16. Sedangkan, gim kedua Marcus/Kevin unggul di angka 11 hingga jadi 17-13. Poin tertambah lewat pukulan silang Kevin. Pertandingan final yang berlangsung begitu ketat, tidak menjadi halangan bagi tim Indonesia untuk unggul atas ganda China. Menurut lansiran dari bolaSport.com (18/12/2017), Asisten Pelatih Ganda Putra PBSI, Aryono Miranat, diakuinya yakin dengan kemenangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo di BWF Superseries Finals 2017. Dikatakan Aryono, mereka punya mental yang sangat bagus, di lapangan selalu fight, percaya diri. Kevin/Marcus dikatakan sebagai pasangan pebulutangkis yang saling melengkapi. Saat Kevin tak bisa mengeluarkan permainan, Marcus mengambil alih dan memberi semangat, begitu sebaliknya. “ Tahun depan harus jaga konsistensi, percaya diri boleh, tetapi tetap rendah hati,” tutup Aryono dalam lansiran dari bolaSport.com

Bulutangkis: Meski Sempat Mengalami Demam, Vindra Tetap Bertahan Hingga Semi Final

Moch.-Revindra-Raynaldi-Bulutangkis

Menjaga kondisi kesehatan tubuh memang sangat diperlukan bagi seorang atlet. Termasuk kondisi fisik yang baik dibutuhkan jika ingin bertanding. Pria yang memiliki nama panjang Moch. Revindra Raynaldi atau Vindra, ia merupakan atlet badminton yang pernah mengalami sakit demam disaat ia bertanding. Namun, hal tersebut tidak menghalangi dirinya untuk melanjutkan pertandingan hingga membawanya ke babak semi final. “Saat berada di even Australia International Series 2015, saya sakit demam. Tapi bisa masuk semi final. Itu pengalaman berharga buat saya untuk bagaimana bisa menyelesaikan masalah saat turnamen,”ujarnya Vindra yang juga merupakan anak dari salah satu pelatih Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum, memang sudah tekun mengikuti badminton sejak usia 5 tahun. Ia sudah menjadi atlet badminton yang bisa di bilang professional sejak usia 13 tahun hingga sekarang. Saat ini, Vindra sedang menekuni kuliah di Universitas Negeri Semarang jurusan Kepelatihan Olahraga. Vindra sudah mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan internasional. “Kalau turnamen nasional, dari kalender Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sudah sangat sering ikut jika tidak cedera. Kalau internasional saya pernah berpartisipasi di Asean School 2008, German Junior 2014, International Singapore Series dan masih banyak lagi,” tuturnya Tak jarang,Vindra juga mengalami duka dan kendala sejak menjadi seorang atlet. “Buat saya kendalanya itu konsistensi dari satu pertandingan ke pertandingan selanjutnya dan mempertahankan semangat dan tujuan sejak latihan. Belom lagi kena omelan pelatih saat mainnya jelek, disiplin dalam segala hal dan masih banyak lagi,”tutupnya(put/adt)

Bulutangkis: Sosok Ibunda Menambah Semangat Rezha Meraih Prestasi

Rezha-Arzhan-Hidayat-Saat-Bertanding-Di-Liga-Mahasiswa

Kerja keras seorang ibu memang tidak bisa terbayarkan oleh apapun yang ada di dunia ini. Kasih sayang dan ketulusan menjadi dasar bahwa cinta yang di miliki seorang ibu, niscaya sebuah cahaya dalam kegelapan yang dapat menuntun menuju arah kesuksesan. Rezha, cowok dengan nama lengkap Rezha Arzhan Hidayat ini merupakan salah satu atlet bulutangkis Indonesia yang pernah mengikuti berbagai kejuaraan seperi Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas), Brawijaya Malang Open, Liga Mahasiswa Nasional dan masih banyak lagi. Rezha yang juga adalah salah satu mahasiswa berprestasi di Universitas Negeri Yogyakarta, baginya perjuangan sang ibunda yang mengantarkan ia dari Yogyakarta ke Gunung Kidul merupakan pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. “Dulu saya pernah diantar mama naik motor dari Jogja ke Gunung Kidul. Saya menginap disana tapi mama langsung pulang, karena masih ada kerjaan. Terus mama nyusul lagi, dan ikut menginap dengan teman-teman satu tim saya. Saya gak nyangka saat itu saya mendapatkan juara pertama ditingkat provinsi. Sosok mama memberikan kesan semangat, yang mengantar dan menjaga saya untuk terus fokus dipertandingan,”ujarnya Ibunda Rezha selalu hadir disetiap pertandingan Rezha, baik yang diselenggarakan di dalam ataupun luar kota. Namun, saat bertanding di Semarang adalah pertandingan terakhir yang ibunda Rezha hadiri dan ikut menginap. Sehabis pulang dari Semarang, ibunda Rezha di vonis mengalami gagal ginjal. “Semenjak mama sakit, mama hanya hadir berikan support, tapi ketika saya masuk babak semi final atau final. Saya sangat semangat, dulu sebenarnya sebelum mama sakit agak gak seneng, karena pasti bikin saya gak tenang. Namun semenjak mama sakit, saya pengennya ditonton mama, karena mama juga senang nonton saya dan bisa jadi hiburan untuk mama.”tutur cowok yang berusia 22 tahun ini Rezha yang saat ini menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Olahraga, sudah menggeluti bulutangkis sejak 13 tahun lalu. Meski pernah mengalami cedera, Rezha mampu bangkit jika menginggat bahwa cedera atau kalah merupakan rezeki dari Tuhan. “Saya ingat kalau rezeki sudah Allah atur. Ingat saya juga banyak dikasih rezeki dan bisa diluar dugaan saya.”tutupnya(put/adt)

Badminton: Di Pasangkan Oleh Orang Yang Belum Di Kenal, Beno Tetap Mampu Raih Medali Emas

Beno-Drajat-Badminton

Prestasi cemerlang berhasil diukir Beno pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017. Pasalnya ia meraih 1 medali emas, 1 medali perak dan 1 medali perunggu. Beno yang pada saat itu mewakili wilayah Jawa Barat dalam cabang olahraga badminton. Cowok dengan nama lengkap Beno Drajat ini sudah menekuni badminton sejak duduk dibangku sekolah dasar. Dalam ajang POMNas di kategori ganda putra, Beno dipasangkan bersama partner yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Meski begitu, ia tetap mampu membawa pulang medali emas. “Di ganda putra saya bersama teman sekampus saya dan saya sebelumnya belum pernah main. Tapi alhamdulilahnya kita dapat medali emas. Emang sebelumnya kita bisa rame main lawan tuan rumah, tapi waktu itu emang harus adaptasi lagi sama partner. Sesudah itu kita bisa main enak sampai ke final,”ujarnya Meski sempat berhenti bermain badminton karena latihan fisik yang cukup keras, Beno pun kembali bangkit berkat dukungan keluarga dan teman-teman dekat. Beno yang kini telah meninggalkan club badmintonnya telah berfokus untuk mewakili kampus yang memberikannya beasiswa, Universitas Komputer Indonesia (Unikom) di Bandung. “Setelah saya keluar dari club dan memulai kuliah karena prestasi saya waktu itu lagi turun, saya harus banting setir. Tapi di kuliah masih badminton jadi ya sekarang kalo pertandingan bawa nama kampus. Apalagi saya dapat beasiswa juga, jadi saya harus banyak ngasih yang terbaik untuk Unikom,”ucap cowok yang berusia 20 tahun ini Beno yang saat ini mengambil jurusan Manajemen pun memiliki pandangan tentang bagaimana badminton di Indonesia. Menurutnya, olahraga badminton dalam sektor tunggal putri di Indonesia masih belum menonjol. “Pastinya badminton lebih bagus ya apalagi sebelumnya di ganda putri lagi turun dan sekarang sudah mulai naik lagi. Cuma tinggal di tunggal putri saja kayaknya masih belum terlalu menonjol gitu. Tapi kalau lebih giat dan berusaha yang maksimal pasti lebih bagus lagi dari sebelumnya,”tutupnya(put/adt)

Borong Enam title di Super Series 2017, Kevin/Marcus di Puji Susy Susanti

Susy Susanti selaku Kabid Binpres PBSI, memberikan pujian kepada semua atlet Indonesis yang berlaga di Super Series 2017. Terutama kepada pasangan Ganda Putra Indonesia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon yang pada Minggu, (26/11) kemarin memecah rekor, dengan berhasil menyabet enam titel super series/premier musim ini. Dari lima nomor yang dipertandingkan di super series tahun ini, tak ada pebulutangkis yang mampu meraih enam gelar juara pada musim ini selain Kevin/Marcus. Gelar Kevin/Marcus didapat dari All England, India Super Series, Malaysia Super Series, Jepang Super Series, China Super Series Premier, dan Hong Kong Super Series. Dilansir dari cnnindonesia.com, Susy Susanti yang merupkan atlet legendaris bulutangkis indonesia memberi ucapan selamat Atas gelar yang diraih Kevin/Marcus, “Salut untuk mereka karena di tahun 2017 mereka bisa meraih enam titel super series,” ucap Susy dalam rilis resmi. Kevin/Marcus tampil sempurna di dua pekan terakhir dalam rangkaian turnamen China Super Series Premier dan Hong Kong Super Series. Dua gelar yang didapat Kevin/Marcus membuat tim bulutangkis Indonesia berhasil memenuhi target yang dibebankan oleh PBSI. “Target kami di China dan Hong Kong terpenuhi, karena Kevin/Marcus yang secara konsisten bisa menjuarai dua turnamen tersebut.” Selain memuji Kevin/Marcus, Susy juga memberikan apresiasi pada Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang dapat menembus babak final Hong Kong Super Series. “Permainan ganda putri (Greysia/Apriyani) cukup baik meski harus mengakui keunggulan Chen Qingchen/Jia Yifan di babak final.” ujarnya. Sedangkan untuk nomor tunggal putra, Susy mengakui hasil yang diraih oleh Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting kurang memuaskan. “Para pemain tunggal putra harus lebih yakin dengan pola dan strategi permainan. Tentu juga mereka harus lebih mematangkan teknik dan fisik agar meraih hasil lebih baik di pertandingan berikutnya,” kata Susy.

Mentari, Atlet Cantik Pembawa Medali Emas Pada Ajang BWF World Junior Championships 2017

Mentari-Atlet-Cantik-Pembawa-Medali-Emas-Pada-Ajang-BWF-World-Junior-Championships-2017

Ajang Blibli.com BWF World Junior Championships 2017 telah usai. Indonesia membawa pulang 5 medali. Salah satu yg membawa medali emas adalah Pitha Haningtyas Mentari yang dipasangkan dengan Rinov Rivaldy. Pitha Haningtyas Mentari merupakan atlet muda badminton asal Jakarta yang berusia 18 tahun. Gadis cantik dengan nama panggilan Mentari ini menuturkan rasa senangnya ketika membawa emas untuk Indonesia. “Bersyukur dan seneng banget pastinya bisa dapet medali emas di World Junior Championships (WJC) pertama dan terakhir dalam tahun ini” tuturnya Tak hanya dengan Rinov, Mentari juga dipasangkan dengan Serena Kani dalam kategori ganda putri. Tak mudah harus disandingkan dengan 2 pasangan sekaligus dalam satu ajang. Namun, Mentari tidak butuh latihan khusus untuk menyatukan kesamaan dengan pasangannya. “Latihan khusus sih gak ada, cuma kan memang untuk ganda campuran saya dengan partner hanya punya waktu 2 minggu untuk latihan. Kalau ganda putri memang sudah partneran dari Asian Junior Championships dan memang sudah sering latihan. Kuncinya komunikasi, saling support, tenang, sabar, yakin dengan partner, percaya sama kemampuan yg kita punya dan yang pasti harus fokus” ujarnya Atlet yang sudah bermain badminton sejak usia 7 tahun ini menceritakan pengalaman berkesan ketika mengikuti World Junior Championships di Yogyakarta lalu. Tak hanya itu, ia juga menuturkan perasaannya ketika bertemu wakil Indonesia juga saat babak final. “Yang berkesan saat lawan Lee Yu Rim / Kim Won Ho asal Korea. Kim Won Ho pemain yang bagus dan tahun ini dia sudah juara Grand Prix. Lee Yu Rim pun bukan pemain yg biasa biasa saja, mereka seeded 1 kemarin dan kami bisa menang 2 set langsung. Kalau yang final, ya diluar kita memang teman tapi di dalam lapangan kan kita musuh, jadi ya gak ada yg mau kalah dan juara ini pun untuk Indonesia” ucapnya Mentari juga memberikan pesan bagi para anak-anak yang memiliki cita-cita sebagai atlet terutama cabang olahraga badminton. “Semangat terus, jangan pernah nyerah, kejar terus cita cita nya” tutupnya

Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017, Rinov Dan Erich Menjadi Satu-Satunya Harapan Indonesia

ldy-Yeremia Erich Yoche Yacob_wjc2017_perorangan_19-10_2

Setelah pasangan Muhammad Shohibul Fikri/Adnan Maulana harus mengakui kekalahan oleh Korea dengan skor 9-21 dan 18-21, kini Rinov Rivaldy/Yeremia Erich Yoche Yacob menjadi satu-satunya harapan pada kategori ganda putra untuk maju ke babak perempat final, pada ajang Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017. Kemenangan Rinov/Yeremia berhasil diraih setelah menaklukkan pemain andalan asal India, Krishna Prasad Garaga/Dhruv Kapila dengan skor 21-17 dan 21-17. Meskipun sebenarnya mereka lebih difokuskan untuk ganda campuran, tetapi Rinov/Yeremia mengaku siap untuk menjadi harapan Indonesia dan keduanya akan berjuang dengan maksimal. “Meskipun latihan ganda putra tidak terlalu maksimal, tetapi kami ingin berusaha menampilkan permainan terbaik saja di babak berikutnya. Yang pasti kami akan tetap fokus di dua nomor tesebut, apalagi menjadi ganda putra satu-satunya yang tersisa, kami semakin termotivasi”, tutur Yeremia yang dilansir pada djarumbadminton.com. Yeremia juga menambahkan, bahwa permasalahan fisik yang terkuras harus memiliki persiapan untuk hari-hari berikutnya dan kelelahan bukanlah alasan. “Kalau masalah fisik pastinya semakin hari semakin terkuras, tapi kami sudah mempersiapkan kemungkinan seperti ini sejak jauh-jauh hari, jadi tidak akan ada alasan kelelahan atau sebagainya, pokoknya main semaksimal mungkin,” ucap Yeremia. Pada babak perempat final nanti Rinov/Yeremia akan berlaga melawan ganda putra asal Taipei Chuang Pu Sheng/Lin Yu Chieh, yang sebelumnya telah menaklukkan dengan 3 game pasangan Christopher/Matthew Grimley asal Skotlandia dengan skor 20-22, 21-17, dan 21-16. (put/adt)

Wakil Indonesia Akan Bertemu Di Perempat Final Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017

Gregoria Mariska Tunjung_wjc2017_perorangan_19-10_1

Laga Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017 yang berlangsung hari ini di GOR Among Rogo, Yogyakarta sudah memasuki babak perempat final. Namun yang menarik dari tim Indonesia adalah dua wakil Indonesia pada kategori tunggal putri, yaitu Gregoria Mariska Tunjung dan Aurum Oktavia Winata yang akan bertemu dan memperebutkan posisi untuk semifinal. Seperti yang dilansir pada djarumbadminton.com kemarin, Gregoria akan siap menghadapi pertandingan hari ini walaupun ia sempat kurang fit. Ia juga tidak memiliki strategi khusus untuk melawan Aurum karena sudah mengetahui cara bermainnya. “Untuk pertandingan besok tentunya saya siap untuk menghadapinya. Habis ini saya akan istirahat, jaga makan, dan minum obat yang sudah dianjurkan. Untuk besok tidak ada strategi khusus lawan Aurum, soalnya kita sudah sama-sama tahu kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti saya akan berusaha semaksimal mungkin, karena Aurum pun pasti ingin menang di pertandingan besok” ungkap Gregoria. Pada pertandingan sebelumnya, Gregoria melewati 3 game melawan Wang Zhiyi asal Tiongkok dan berhasil menang dengan skor 21-18, 19-21 dan 21-12. Sedangkan Aurum berhasil menaklukkan pemain Vietnam, Thi Anh Thu Vu dengan skor 21-13 dan 21-9. Kini keduanya akan berlaga pada babak 8 besar Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017. (put/adt)

Tiga Pasangan Ganda Putra Indonesia Lolos Ke Babak Ketiga Yonex Sunrise BWF WJC 2017

hibul Fikri dan Adnan Maulana_wjc2017_perorangan_17-10_5

Tiga pasangan ganda putra Indonesia pada ajang Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017 yang sedang diadakan di Yogyakarta, berhasil masuk ke babak ketiga. Mereka adalah Muhammad Shohibul Fikri/Adnan Maulana, Ade Bagus Sapta Ramadhany/Ghifari Anandaffa Prihardika dan Rinov Rivaldy/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan. Seperti yang dilansir pada situs djarumbadminton.com, pasangan Adnan/Fikri lebih tenang dalam bermain dan mampu menguasai keadaan. “Hari ini mainnya sudah lebih rileks dan tidak tegang. Kami sudah mulai terbiasa dan tidak ada kendala berarti. Kami menjaga no lobnya aja karena mereka bagus di sana” ungkap Adnan. Mereka optimis akan lolos ke babak semifinal dan akan memberikan yang terbaik dalam babak ketiga. “Besok kasih yang terbaik saja. Main lebih safe karena tadi masih banyak mati sendiri. Target awal saat ini semifinal dulu, semoga nanti bisa juara” ucap Fikri. Dalam babak kedua, pasangan Adnan/Fikri mengalahkan pasangan dari Belgia dengan skor 21-15 dan 21-15 dan akan bertemu dengan Robert Cybulski/Tymoteusz Malik pasangan asal Polandia. Selain Adnan/Fikri, pasangan Rinov/Yeremia akan bertemu dengan Jepang setelah menaklukkan Chow Hin Long/Mak Pak Ngai asal Hongkong. Sedangkan pasangan Ade/Ghifari akan bertemu perwakilan dari China, Di Zijian/Wang Chang setelah mengalahkan Mathieu Morneau/Nicolas Nguyen pasangan ganda putra dari Kanada. Itu dia tiga pasangan ganda putra Indonesia yang lolos ke babak ketiga Yonex Sunrise BWF WJC 2017.(put/adt)