Kisah Haru Dibalik Medali Emas Atlet Termuda Timnas Senam AS

Kisah Haru Dibalik Medali Emas Atlet Termuda Timnas Senam AS

Ada kisah mengharukan sekaligus menginspirasi dari salah satu pesenam putri Amerika Serikat (AS) saat meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, Kamis (29/7). Ialah Sunisa Lee, pesenam yang baru berusia 18 tahun sekaligus merupakan atlet termuda di tim nasional senam AS. Air matanya pecah saat menghubungi keluarganya melalui panggilan telepon. Ia melakukannya setelah seremoni penyerahan medali emas yang ia raih. “Kami semua menangis di telepon. Itu momen yang luar biasa, saya sangat bahagia,” ujar Lee, dikutip Antara dari Reuters. Air mata Lee tumpah begitu melihat wajah-wajah orang yang selalu ada untuknya dalam situasi apapun. Dan, memang, perjuangannya untuk sampai ke Olimpiade 2020 tidaklah mudah. Orang tua Sunisa Lee merupakan pengungsi beretnis Hmong yang datang dari Laos ke Negeri Paman Sam demi mengubah peruntungan hidup. Besar di komunitas Hmong-Amerika, Sunisa Lee tumbuh sebagai putri yang cenderung aktif. Hobinya jumpalitan di sofa rumah. Namun, alih-alih marah dan melarangnya, kedua orang tuanya justru melihat bakat tersembunyi dan mengarahkan anaknya itu untuk berlatih senam mulai umur enam tahun. Dengan upaya keras dan dukungan dari keluarganya, Lee akhirnya bisa tampil di turnamen senam junior bergengsi AS, US Classic, pada tahun 2016. Catatan-catatan baik di setiap turnamen yang diikuti membuat dia dilirik oleh Federasi Senam AS, USA Gimnastics. Dia lalu diikutkan ke turnamen tingkat senior, Kejuaraan Senam Nasional AS pada tahun 2019. Akan tetapi, perjalanan tak semulus rencana. Beberapa saat sebelum mencatatkan debut di tim senam senior, Lee menyaksikan ayahnya lumpuh setengah badan, dari dada ke bawah, akibat jatuh dari tangga. Meski begitu, Sunisa Lee tampil fokus dan berhasil merebut medali emas di nomor palang bertingkat dan perak di nomor ‘all-around’ perorangan putri. Dari sisi prestasi di kejuaraan ini, Lee masih berada di bawah jagoan senam AS Simone Biles yang merebut empat medali emas dari lima nomor yang dipertandingkan di sektor putri. Kemampuan Sunisa Lee mengantarnya lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo. Dia pun menjadi keturunan Hmong-Amerika pertama yang mewakili AS di Olimpiade. Sayangnya, dalam persiapan menuju ke pesta olahraga empat tahunan tersebut, Lee kembali diterpa kabar buruk. Paman dan bibinya meninggal dunia akibat Covid-19. Dunianya hampir runtuh. Lee tidak bisa lupa bagaimana paman dan bibinya rutin membuatkannya teh herbal panas dan memijitnya setelah selesai berlatih. Masih berbalut duka, Lee malah didera cedera. Pikiran untuk berhenti dari dunia senam melintas, tetapi mental juara membawanya bangkit. Tak diunggulkan, keberadaan Simone Biles di tim senam putri AS seakan menenggelamkan Sunisa Lee. Dia sama sekali tidak diunggulkan untuk menjadi yang terbaik di Olimpiade 2020. Akan tetapi, Biles ternyata membuat keputusan yang mengejutkan yakni mundur dari nomor beregu dan semua alat (all-around) Olimpiade 2020. Mau tak mau, beban medali emas berpindah ke pundak Lee, salah satu pesenam muda putri paling berbakat di AS. Dan, saat waktunya tiba, Lee seolah memang dilahirkan untuk menonjol dalam situasi genting dan penuh tekanan. Berlaga di nomor all-around perorangan putri, nomor di mana seharusnya Simone Biles sangat dikedepankan untuk juara, Lee tampil nyaris tanpa cela dan berhasil merengkuh keping emas. Tugas itu dituntaskan Lee di hadapan Biles yang duduk menonton di baris depan. “Saya merasakan banyak tekanan karena pada dasarnya saya selalu berada di urutan kedua di belakang Biles sepanjang musim. Jadi saya mengetahui orang-orang mengandalkan saya untuk merebut peringkat kedua atau medali emas. Saya lalu mencoba untuk tidak fokus ke sana supaya tak gugup,” jelas Lee. Sebelum itu, Lee sudah menyumbangkan perak Olimpiade 2020 bersama tim senam beregu putri AS. Sunisa Lee pantas merayakan keberhasilannya bersama sosok-sosok yang disayanginya, terutama ibu dan ayahnya. Sang ayahlah yang awalnya membawa dia klub senam lokal pada usia enam tahun. “Menjengkelkan melihat ayah tak ada di sini bersama saya. Ini adalah mimpi kami, yang selalu kami bicarakan. Ayah pernah bilang, kalau saya dapat emas, dia akan berdiri di lantai dan menyambut saya. Dia selalu menguatkan dan meminta saya untuk tidak terlalu memerhatikan perolehan poin dan semacamnya karena di dalam hati orang tua saya, saya sudah menjadi juara,” kata Lee.

Luar Biasa! Rahmat Erwin Tambah Koleksi Medali Indonesia

Luar Biasa! Rahmat Erwin Tambah Koleksi Medali Indonesia

Indonesia menambah perunggu dari cabang olahraga angkat besi putra kelas 73 kg putra Olimpiade Tokyo 2020. Rahmat Erwin Abdullah yang menyumbang medali ketiga untuk tim Merah-Putih, Rabu (28/7). Rahmat Erwin meraih perunggu setelah memiliki total angkatan 342 kg. Lifter 20 tahun itu kalah bersaing dengan lifter Tiongkok, Shi Zhiyong yang meraih medali emas dengan total angkatan 354 kg dan Mayora Pernia Julio Ruben dari dari Venezuela di posisi kedua dengan total angkatan 346 kg. Pada pertandingan itu Zhiyong tidak saja meraih medali emas, tetapi juga memecahkan dua rekor Olimpiade, yaitu angkatan snatch 166 kg dan total angkatan 354 kg. Rahmat Erwin sukses dengan medali perunggu usai mengumpulkan 152 kg pada angkatan snatch dan 190 kg pada clean and jerk. Atlet asal Makassar itu gagal pada angkatan kedua clean and jerk dengan beban 190 kg. Pada percobaan ketiganya Rahmat sukses mengangkat beban 190 kg. Sementara itu, Zhiyong melangkah mulus pada angkatan snatch dengan mengumpulkan 166 kg yang juga jadi rekor baru Olimpiade. Sedangkan pada clean and jerk Zhiyong gagal pada angkatan kedua dengan beban 192 kg. Capaian serupa juga dimiliki Pernia yang sempurna pada angkatan snacth dengan 156 kg. Pernia lalu menggenapkan penampilannya dengan sukses pada tiga angkatan clean and jerk sehingga mengumpulkan total angkatan 346 kg. Medali perunggu ini melebihi target yang diusung Rahmat Erwin jelang Olimpiade Tokyo. Sebelumnya Rahmat Erwin hanya membidik posisi delapan besar di kelas 73 kg. Dengan perunggu yang diraih Rahmat Erwin, cabang angkat besi kini mempersembahkan tiga medali bagi kontingen Indonesia. Sebelumnya Eko Yuli Irawan lebih dahulu meraih perak di kelas 61 kg putra dan Windy Cantika Aisah meraih perunggu di kelas 49 kg putri. Sementara itu, Windy Cantika berpotensi meraih perak setelah lifter China Hou Zhihui yang meraih emas diduga menggunakan doping, sehingga Chanu Shaikhtom Mirabai dari India yang meraih perak berpotensi naik dengan mendapatkan medali emas.

Baru Berusia 13 Tahun, Momiji Nishiya Raih Emas Olimpiade

Baru Berusia 13 Tahun, Momiji Nishiya Raih Emas Olimpiade

Skateboarder muda Jepang, Momiji Nishiya, baru saja mencatatkan sebuah prestasi luar biasa. Ia mampu menjadi salah satu juara Olimpiade nomor perseorangan paling muda sepanjang masa ketika menggondol medali emas skateboarding putri dalam usia 13 tahun 330 hari, Senin (26/7/2021). Momiji Nishiya yang merupakan penduduk asli Osaka mencatat skor 15,26 poin, untuk mengklaim emas. Funa Nakayama dari Jepang merebut medali perunggu dengan 14,49. Sedangkan pesaing dari Brasil, Rayssa Leal memperoleh perak dengan skor 14,64 poin. Sedangkan atlet Jepang lainnya, Funa Nakayama yang berusia 16 tahun merebut medali perunggu. Lantas, apakah Momiji Nishiya merupakan atlet termuda sepanjang sejarah olimpiade yang meraih medali emas? Jawabannya adalah tidak. Merujuk pada USA Today dan Olympic.com, peraih emas paling muda dalam sejarah Olimpiade modern adalah Marjorie Gestring, atlet loncat indah asal Amerika Serikat. Marjorie Gestring meraih medali emasnya pada gelaran Olimpiade 1936. Saat itu usianya masih 13 tahun dan 286 hari. Sedikit lebih mudah dibandingkan Momiji Nishiya yang kini berumur 13 tahun dan 330 hari saat meraih emas di Olimpiade Tokyo 2020. Sebenarnya rekor itu bisa saja pecah dalam pertandingan tadi, andaikata Rayssa Leal tidak sekadar meraih medali perak pada hari Senin (26/7) ini. Usianya Leal saat ini adalah 13 tahun dan 203 hari. Sementara itu, untuk rekor atlet peraih medali emas termuda Jepang dipegang oleh perenang Kyoko Iwasaki yang meraih emas di Barcelona pada usia 14 tahun. Baik Momiji Nishiya dan Rayssa Leal sendiri merupakan barisan atlet-atlet belia yang ikut meramaikan gelaran Olimpiade Tokyo 2020. Predikat Olympian paling muda di Olimpiade Tokyo kali ini disandang oleh atlet Tenis Meja, Hend Zaza, yang usianya baru 12 tahun. Dalam sejarah Olimpiade, atlet paling muda yang terkonfirmasi adalah pesenam Dimitrios Loundras asal Yunani. Ia mengikuti Olimpiade modern pertama di Athena 1896, ketika usianya masih 10 tahun dan 2018 hari. Saat itu Loundras meraih medali perunggu bersama timnya.

Pemain Muda di Sepakbola Olimpiade: Bisa lihat aksi Amad Diallo, Pedri dan Reinier

SPANYOL: Pedri (18, midfielder, Barcelona) Tim Spanyol di Olimpiade Tokyo 2020 ini akan menurunkan beberapa pemain yang tampil di EURO 2020 lalu. Ada Unai Simon , Pau Torres, Dani Olmo, Eric Garcia, Mikel Oyarzabal dan Pedri. Tim asuhan Luis de la Fuente ini akan mencoba meraih emas kedua di ajang Olimpiade. Emas pertama tim Spanyol diraih pada Olimpiade 1992 dimana Spanyol menjadi tuan rumah. Di final, Spanyol menaklukkan Polandia dengan skor 3-2. Pemain termuda di skuad Spanyol adalah Pedri dengan usia 18 tahun. Pemain dengan tinggi 174 cm ini bermain di posisi midfielder di klub Barcelona. Meski Pedri adalah pemain termuda di skuad Spanyol, dia sudah mempunyai jam terbang layaknya pemain senior. Musim 2020/2021, Pedri tampil 52 kali di semua kompetisi, dengan catatan 4 gol dan 6 assist dengan total waktu bermain 3.526 menit. Pedri pun hanya beristirahat selama 16 hari untuk tampil di Olimpiade setelah baru saja membela Spanyol di EURO 2020. PANTAI GADING: Amad Diallo (19, winger, Manchester United) Pemain 19 tahun yang dibeli Manchester United dari Atalanta, Amad Diallo akan tampil perdana untuk Pantai Gading di Olimpiade Tokyo 2020. Walaupun masih harus berjuang untuk menjadi pemain inti di klub, Amad Diallo dipercaya akan menjadi starter di partai pembuka melawan Arab Saudi. Dia akan tampil dengan rekan satu tim nya yaitu Eric Baily dan juga Franck Kessie yang bermain di AC Milan. Penampilan yang bagus di Olimpiade tentunya akan menjadi bekal penting untuk Amad Diallo di musim mendatang bersama Manchester United. BRAZIL: Reinier (19, attacking midfielder, Real Madrid – on loan Borussia Dortmund) Reinier Jesus Carvalho atau lebih dikenal dengan Reinier adalah pemain berusia 19 tahun asal Brazil yang saat ini bermain di Borussia Dortmund dengan status pinjaman dari Real Madrid. Pemain dengan tinggi 1.85 meter ini tampil 2 kali di Liga Champion bersama Borussia Dortmund. Di Olimpiade Tokyo 2020 ini, dia akan bermain bersama pemain muda Brazil lain nya seperti Richarlison (Everton), Gabriel Martinelli (Arsenal) and Douglas Luiz (Aston Villa). Reiner yang didapatkan Real Madrid dari Flamengo, dipercaya akan menjadi pemain nomor 10 masa depan untuk Brazil.

Windy Sumbang Medali Olimpiade Tokyo Pertama Indonesia

Windy Cantika ke Kejuaraan Dunia Junior Sebelum SEA Games 2021

Luar biasa! Indonesia mendapatkan medali pertama di Olimpiade Tokyo 2020. Adalah lifter putri muda, Windy Cantika Aisah, yang berhasil menjadi atlet pertama yang menyumbangkan medali, Sabtu (24/7/2021) siang WIB. Bertanding di Tokyo International Forum, atlet 19 tahun itu merebut medali perunggu setelah mencatatkan total angkatan seberat 194 kg. Sementara itu, total angkatan snatch terbaik Windy Cantika Aisah adalah 84 kg yang didapat pada kesempatan kedua. Adapun total angkatan clean & jerk terbaik Windy Cantika adalah 110 kg yang didapat pada kesempatan ketiga. Windy Cantika Aisah completes the podium in the #Weightlifting women's -49kg with a total score of 194. Congratulations! 🏋️🥉@iwfnet @komiteolimpiade pic.twitter.com/QhKj8EaYOQ — The Olympic Games (@Olympics) July 24, 2021 Windy Cantika menempati peringkat ketiga tepat di bawah Hoi Zhihui (China) dan Chanu Mirabai (India). Hoi Zhihui berhak mendapat medali emas angkat besi putri kelas 49 kg dengan total angkatan terbaiknya adalah 210 kg. Di sisi lain, Chanu Mirabai sukses mendapatkan medali perak dengan total angkatan terbaiknya adalah 202 kg. Angkatan total Windy di Tokyo 2020 seberat 194 kg ini merupakan peningkatan besar dari event Kejuaraan Asia yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan, pada medio April 2021. Ketika itu, ia mengangkat total berat 189 kg dan berkat keberhasilan tersebut, Windy berhak mendapatkan satu tiket ke Olimpiade Tokyo ini. Windy juga merupakan pemenang medali emas pada SEA Games 2019. Hari Minggu (25/07/2021), kontingen Indonesia masih berpeluang menambah medali dari cabor angkat besi ajang Olimpiade Tokyo 2020. Karena Eko Yuli Irawan dan Deni yang diharapkan menyumbangkan medali bakal turun bertanding. Eko Yuli turun di kelas 61 kg putra, sementara Deni turun di kelas 67 kg putra.

6 Atlet Termuda di Olimpiade Tokyo

6 Atlet Termuda di Olimpiade Tokyo

Olimpiade bukan hanya milik para atlet dengan segudang pengalaman. Gelaran olahraga terbesar di dunia ini juga menjadi panggung bagi para atlet belia. Meski masih muda, atlet-atlet belasan tahun ini juga dipercaya untuk mewakili negaranya. Berikut adalah 6 atlet di bawah 17 tahun yang akan bertanding di Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. 1. Brighton Zeuner (16 tahun) – Skateboard Meski masih berusia 16 tahun, pemain skateboard Brighton Zeuner akan menjadi salah satu atlet yang dikirim oleh Amerika Serikat. Olimpiade 2020 di Tokyo ini pun akan menjadi yang pertama baginya. Zeuner sendiri sudah pernah menjadi juara X Games pada tahun 2017 saat masih berusia 13 tahun. 2. Sky Brown (13 tahun) – Skateboard Stok pemain skateboard di Amerika Serikat memang tak pernah habis. Selain Zeuner, AS juga bakal mengikutkan pemain berusia 13 tahun bernama Sky Brown. Brown bahkan melampaui rekor atlet renang Margery Hinton yang berusia 13 tahun 44 hari ketika ia berkompetisi di Olimpiade Amsterdam 1928 lalu. Diberitakan ESPN, sebelumnya telah memenangkan beberapa gelar seperti medali perak di Dew Tour, serta perunggu pada kejuaraan dunia di Rio de Janeiro 3. Katie Grimes (15 tahun) – Renang Sebagai salah satu kandidat juara umum, Amerika Serikat juga mengirim atlet muda berusia 15 tahun. Ia adalah perenang bernama Katie Grimes. Dikutip dari Today.com, ini akan menjadi Olimpiade pertama Grimes. Sebelumnya, AS juga pernah mengirim perenang 15 tahun Katie Ledecky pada Olimpiade 2012 di London lalu. 4. Quan Hongchan (14 tahun) – Menyelam Tak mau kalah dengan Amerika Serikat, Tiongkok juga mengirim atlet belianya. Dikutip dari South China Morning Post, mereka akan mengirim penyelam berusia 14 tahun bernama Quan Hongchan. Quan memulai kompetisi resminya pada tahun usia tujuh tahun saat mewakili Provinsi Guangdong pada perhelatan olahraga nasional. Bahkan, tahun lalu ia memenangkan emas pada kejuaraan nasional. 5. Chen Yuxi (15 tahun) – Menyelam Selain Quang Hongchan, Tiongkok juga memiliki penyelam belia berusia 15 tahun bernama Chen Yuxi. Tak sekadar mencari pengalaman, Yuxi bahkan ditargetkan bisa meraih emas. Ia diyakini mampu menggondol emas dari kelas 10 meter. Maklum jika Tiongkok memasang target tinggi, dua tahun lalu, Yuxi memenangkan gelar dunia. 6. Hend Zaza (11 tahun) – Tenis Meja Predikat atlet termuda pada gelaran Olimpiade 2020 di Tokyo mendatang dipegang oleh petenis meja asal Suriah, Hend Zaza. Dikutip dari website resmi Olimpiade Tokyo, remaja berusia 11 tahun ini memiliki rangking 155 dunia. Ia lolos ke Tokyo setelah mengalahkan petenis meja asal Lebanon, Mariana Sahakian. Rekor pemain termuda Olimpiade sendiri masih dimiliki oleh atlet senam asal Yunani, Dimitrios Loundras. Saat berlaga pada Olimpiade tahun 1896, ia masih berusia 10 tahun dan memenangkan perunggu. Sumber: IDN Times

Sabet Medali, Windy Cantika Aisah Pastikan Tiket Olimpiade

Sabet Medali, Windy Cantika Aisah Pastikan Tiket Olimpiade

Satu lagi atlet Indonesia yang memastikan diri untuk berlaga di Olimpiade Tokyo. Kali ini giliran lifter muda Indonesia, Windy Cantika Aisah. Ia mengunci tiket ke Olimipiade seusai meraih medali perunggu angkatan snatch pada Kejuaraan Asia Angkat Besi 2021 di Tashkent, Uzbekistan, Sabtu, 17 April 2021. Turun di nomor 49 kg putri, lifter berusia 18 tahun itu menempati peringkat ketiga kategori snatch dengan angkatan 87 kg. Di kategori Clean and Jerk, ia berada di peringkat keempat dengan 102 kg. Pada kategori total angkatan, Windy berada di peringkat keempat dengan 189 kg. Manajer tim Indonesia, Pura Darmawan mengatakan raihan perunggu di Uzbekistan membuat Windy mengumpulkan 4038,7198 poin di peringkat Federasi Angkat Besi Internasional (IWF). Ia pun naik dari peringkat tujuh ke peringkat lima. Kini, ia sudah aman berada di delapan besar ranking IWF sehingga tiket Olimpiade Tokyo resmi digenggam. “Ini sudah optimal. Kejuaraan ini (Kejuaraan Asia Angkat Besi 2021) boleh dibilang mini Olimpiade. Jadi, perjuangan Windy Cantika untuk meraih perunggu di snatch cukup berat,” ujar Pura Darmawan, Senin, 19 April 2021. Menurut Pura, pada akhir Mei nanti, ada kemungkinan Windy Cantika kembali tampil di Tashkent pada Kejuaraan Asia Angkat Besi Junior 2021. Peluang Windy Cantika mendapatkan emas di sana tentu sangat terbuka. “Paling tidak, kami sudah punya gambaran apakah Windy Cantika tetap ditampilkan pada Kejuaraan Asia Junior atau tidak,” kata Pura Darmawan. “Jika sukses di kejuaraan tersebut tentu peringkat IWF makin terdongkrak. Yang jelas untuk sekarang, tiket Olimpiade aman dalam genggaman,” lanjutnya. Dengan lolosnya Windy Cantika, total ada enam atlet Indonesia yang sudah memastikan tiket Olimpiade Tokyo 2020. Adapun sisanya masih berjuang untuk mengamankan posisi mereka dalam Race to Tokyo karena kualifikasi masih berjalan. Sedangkan untuk Paralimpiade Tokyo 2020, sejauh ini ada 15 atlet Indonesia yang telah memastikan tempat. Berikut daftar atlet Indonesia dalam Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo (per 19 April 2021): Olimpiade Tokyo 2020 Angkat Besi Eko Yuli Irawan (61 kg putra) Windy Cantika Aisah (49 kg putri) Atletik Lalu Muhammad Zohri (100 meter putra) Menembak Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba (100 m air riffle putri) Panahan Diananda Choirunnisa (Individual putri, mixed team) Riau Ega Agatha (Individua Putra, mixed team) Paralimpiade Tokyo 2020 Atletik Saptoyogo Purnomo Kharisma Evi Tiarani Angkat Berat Ni Nengah Widiasih Balap Sepeda Muhammad Fadli Imammuddin Bulu Tangkis Dheva Anrimusthi Hary Susanto Fredy Setiawan Ukun Rukaendi Leani Ratri Oktila Khalimatus Sa’diyah Menembak Bolo Triyanto Hanik Puji Astuti Renang Syuci Indiriani Tenis Meja David Jacobs Komet Akbar

Vidya Rafika, Penembak 18 Tahun Pertama Indonesia Yang Lolos ke Olimpiade Tokyo 2020

Vidya Rafika, Penembak 18 tahun yang lolos Olimpiade Tokyo 2020

Cabang olahraga menembak Indonesia memang membuat kejutan pada SEA Games 2019 Filipina karena mampu mengukir prestasi luar biasa. Setidaknya jika dibandingkan dengan kejuaraan yang sama sebelumnya yang hanya meraih satu medali emas. Target tiga emas yang dicanangkan oleh PB Perbakin maupun pemerintah dilewati dengan mudah bahkan hanya dalam dua hari. Padahal menembak merupakan cabang olahraga yang banyak memperebutkan medali emas. Emas pertama Vidya Rafika didapat dari nomor 10 M Air Rifle Women. Nomor ini adalah spesialisasi atlet yang akrab dipanggil Vika itu dan yang membawanya ke Olimpiade 2020 Tokyo Jepang setelah bersinar pada kejuaraan Asian Shooting Championships Qatar 2019. Gadis belia kelahiran Depok, Jawa Barat, 27 Mei 2001 ini telah mengukir sejarah sebagai atlet menembak pertama Indonesia yang lolos ke Olimpiade Tokyo 2020 melalui babak kualifikasi. Dia meraih tiket ke Tokyo pada Kejuaraan Menembak Asia di Qatar 2019. “Semoga hasilnya di Olimpiade akan memuaskan untuk Indonesia,” katanya seperti dikutip antara. Atlet muda yang menekuni menembak sejak kelas tiga SD memang menjadi andalan Indonesia di SEA Games 2019. Emas di cabang olahraga ini sering terganjal dari sang rival terutama dari atlet-atlet Singapura, Vietnam bahkan Filipina. Emas SEA Games 2019 dari Vika di nomor 10 M Air Rifle Women membuka optimisme melebihi target medali cabang menembak, dan itu benar. Atlet kelahiran Depok, 27 Mei 2001, kembali menorehkan prestasi dengan meraih emas dari nomor 10 M Air Rifle Mix berpasangan dengan Fatur Gustafian. Bio Data Nama : Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba Panggilan : Vika Lahir : Depok, Jawa Barat, 27 Mei 2001 Prestasi : – SEA Games 2019 Filipina ( satu emas Air Rifle Women, satu emas Air Rifle Mix) Asian Shooting Championships Qatar 2019 (lolos Olimpiade Tokyo 2020) – SEASA 2019, Indonesia (dua emas) – Asian Games 2018 – SEASA 2017, Malaysia (satu perak, 1 perunggu)