Tim Putri Jubilee Raih Juara di Junior DBL Jakarta

Tim Putri SMP Jubilee Jakarta

Siapa sangka, tim yang awalnya hanya menargetkan satu kemenangan justru berhasil pulang membawa trofi juara? Itulah yang dialami tim putri SMP Jubilee Jakarta pada gelaran Junior DBL 2026 Jakarta. Tim asuhan Mochamad Dharmawan itu sukses mengukir sejarah dengan meraih gelar juara pertamanya setelah menumbangkan SMP 1 PSKD Jakarta lewat laga sengit yang berakhir dengan skor 52-48 pada Kamis, 29 Oktober 2026. Menariknya, kedua tim punya perjalanan yang hampir serupa. Jubilee dan PSKD 1 sama-sama menjalani debut pada musim lalu. Namun, langkah keduanya langsung terhenti di pertandingan pertama. Kini, keduanya justru dipertemukan di partai puncak. Bagi Jubilee, pencapaian tersebut bahkan jauh melampaui ekspektasi sang pelatih. “Untuk pertandingan hari ini, sebenarnya kami juga enggak menyangka bisa sampai ke tahap ini. Karena dari awal, target utama kami hanya menang satu kali. Itu saja sudah menjadi target utama,” ungkap Mochamad Dharmawan, pelatih Jubilee. Perjalanan Jubilee menuju gelar juara pun tidak berjalan mudah. Pada partai final, mereka harus menghadapi perlawanan sengit dari PSKD 1 yang tampil agresif sejak awal pertandingan. PSKD 1 langsung mengambil keunggulan pada kuarter pertama dengan skor 14-10. Mereka kembali menambah 16 poin pada kuarter kedua, sementara Jubilee hanya mampu mencetak 13 poin. Alhasil, Jubilee harus memasuki jeda pertandingan dalam posisi tertinggal 23-30. Namun, keadaan mulai berubah selepas turun minum. Jubilee perlahan menemukan ritme permainan dan berhasil memangkas ketertinggalan setelah unggul 10-5 pada kuarter ketiga. Memasuki kuarter pemungkas, tensi pertandingan semakin meningkat. Jubilee yang masih tertinggal dua poin mulai menunjukkan kebangkitannya. Mereka tampil lebih agresif dan berhasil mencetak 19 poin pada kuarter terakhir. Sementara itu, PSKD 1 hanya mampu menambahkan 13 poin. Meski demikian, PSKD 1 bukan tanpa perlawanan. Gwen Calista Ho sempat menjaga asa timnya melalui dua tembakan gratis saat pertandingan menyisakan 2 menit 37 detik. Tak berselang lama, Allyson Tantowijaya berhasil melesakkan tembakan tiga angka yang membuat PSKD 1 hanya tertinggal satu poin, 48-49, ketika waktu menunjukkan 2 menit 23 detik. Situasi tersebut membuat kemenangan Jubilee belum sepenuhnya aman. Beruntung, Sekar Kinanthi Harfia berhasil memperlebar keunggulan Jubilee melalui tembakan gratis saat pertandingan menyisakan 11 detik. Matsuda Yuna Darmawan kemudian memastikan kemenangan timnya lewat dua tembakan gratis pada tiga detik terakhir. Skor 52-48 pun menutup pertandingan sekaligus memastikan gelar juara pertama bagi Jubilee. Dalam pertandingan tersebut, Matsuda Yuna Darmawan menjadi salah satu sosok penting di balik kemenangan Jubilee. Ia membukukan 14 poin, 2 assist, dan 11 rebound. Sementara dari kubu PSKD 1, Gwen Calista Ho tampil menonjol dengan kontribusi 21 poin, 1 assist, dan 2 rebound. Bagi Coach Dharmawan, kemenangan tersebut terasa begitu istimewa. Terlebih, ia mengetahui betul bagaimana anak-anak asuhnya berusaha bangkit dari kegagalan musim sebelumnya. “Sebenarnya, setelah Junior DBL 2025 selesai, itu menjadi tahun yang cukup menyakitkan buat kami. Di pertandingan pertama, kami langsung kalah,” kenangnya. Kegagalan tersebut menjadi titik awal perubahan Jubilee. Alih-alih menetapkan target tinggi, Dharmawan memilih memaksimalkan kemampuan skuad yang dimilikinya. Kehadiran sejumlah rookie juga menjadi bagian dari proses membangun kembali kekuatan tim. “Kami mulai membangun tim sejak awal Desember. Prosesnya akhirnya membuahkan hasil sekarang. Jadi, ya, kami nikmati saja. Jujur, saya sendiri juga masih bingung karena enggak menyangka bisa sampai sejauh ini,” ceritanya. Namun, membangun Jubilee bukan hanya tentang meningkatkan kemampuan bermain basket.Dharmawan mengungkapkan bahwa sejumlah pemainnya sempat mengalami kesulitan dalam membangun komunikasi. Bahkan, ada yang awalnya enggan berbicara satu sama lain. “Kami punya banyak pemain yang sebelumnya mengalami kesulitan. Ada yang awalnya bahkan enggak mau berbicara satu sama lain. Tapi, mereka mau mengikuti instruksi dan mau mendengarkan,” ujarnya. Perubahan tersebut perlahan membuat Jubilee semakin solid. Para pemain mulai belajar menerima karakter masing-masing dan mengesampingkan ego pribadi demi kepentingan tim. Hal itu pula yang menurut Dharmawan menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka. “Anak-anak mau diajak bekerja sama dan semuanya bisa saling menerima satu sama lain. Kami berusaha menggunakan ego masing-masing untuk tujuan bersama, bukan untuk kepentingan individu,” jelasnya. Menariknya, tidak semua student-athlete Jubilee memiliki pengalaman basket yang panjang. Dharmawan menyebut ada empat pemain yang baru mulai mempelajari basket sejak kelas V SD. Meski memiliki kemampuan dan pengalaman berbeda, ia justru melihat keberagaman tersebut sebagai kekuatan timnya. Bahkan, menurutnya, perubahan momentum pada pertandingan final tidak hanya datang dari pemain yang selama ini menjadi andalan. “Yang banyak membantu mengubah momentum pertandingan justru bukan pemain yang biasanya paling menonjol. Mereka percaya pada permainan dan rekan-rekan setimnya,” ungkap Dharmawan. Kepercayaan tersebut juga menjadi modal penting ketika Jubilee sempat tertinggal dari PSKD 1. Dharmawan mengakui bahwa beberapa pemainnya sempat bermain dengan rasa takut. Sebagai pelatih, ia berusaha memberikan dukungan agar mereka kembali percaya pada kemampuan masing-masing. “Saya ingin mereka enggak perlu takut. Main saja dulu. Menang atau kalah, itu urusan Tuhan. Yang penting, kami sudah punya niat baik dan berusaha semaksimal mungkin,” tuturnya. Bagi Dharmawan, keberhasilan Jubilee kali ini menjadi bukti bahwa setiap pemain memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi, terlepas dari pengalaman maupun kemampuan individunya. Ia pun tak mampu menyembunyikan rasa bangga ketika melihat anak-anak asuhnya berhasil menuntaskan perjuangan dengan gelar juara. “Jujur, saya sampai enggak bisa berkata-kata. Mereka istimewa,” ucapnya. Meski berhasil membawa Jubilee meraih gelar juara pertama, Dharmawan tidak ingin anak-anak asuhnya cepat berpuas diri. Ia menyadari bahwa tantangan berikutnya justru akan semakin berat. Apalagi, Jubilee kini harus mempersiapkan diri untuk mempertahankan gelar pada musim mendatang. “Kami akan memperbaiki kekurangan yang ada dan mulai melakukan regenerasi pemain. Kami akan kembali membangun semuanya dari dasar. Yang terpenting, jangan cepat puas,” pesannya. Sebab, menurut Dharmawan, mempertahankan gelar juara jauh lebih sulit dibandingkan meraihnya untuk pertama kali. Kini, perjalanan Jubilee yang semula hanya dibayangi target satu kemenangan justru berakhir dengan pencapaian yang tak pernah mereka bayangkan.

Tak Terbendung, Kanisius Juara Junior DBL Jakarta 4 Kali Beruntun

Junior DBL 2026 Jakarta

Takhta tertinggi Junior DBL 2026 Jakarta sektor putra masih menjadi milik SMP Kolese Kanisius Jakarta! Berhadapan dengan SMP Al Maruf Jakarta di partai puncak pada Kamis, 29 Oktober 2026, mereka keluar sebagai juara dengan skor meyakinkan 94-55. Memasuki musim ini, Kanisius telah menjuarai Junior DBL Jakarta selama 3 tahun beruntun. Maka dari itu, misi mereka untuk mempertahankan gelar juara dan menjaga dominasi berakhir sukses dan sempurna. Pertandingan dibuka dengan aksi impresif dari Jacob Xavier Chandra. Setelah memasukkan tembakan dari dekat garis free throw, ia langsung melesakkan dua tripoin dan mencuri momentum untuk Kanisius (10-2). Ada juga Elliott Artoko yang turut berkontribusi dalam permainan Kanisius yang impresif pada kuarter pembuka. Bermain solid pada awal pertandingan merupakan salah satu target utama yang ingin dicapai Kanisius di laga ini. “Dari gim sebelumnya, apalagi gim pertama, kita mulainya gak 100 persen. Kita sekarang coba untuk mulainya lebih strong,” ucap Elliott. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Al Maruf menyerah begitu saja. Mereka terus berjuang untuk menemukan ritme permainan yang tepat. Al Maruf akhirnya mampu mengejar hingga skor berjarak tiga poin (14-11) dengan sisa waktu 5 menit 15 detik. Setiap Kanisius berusaha untuk menjauh, Al Maruf selalu mengejar dan memberikan pembalasan yang berarti. Ketika Kanisius unggul 26-18 dengan sisa waktu 1 menit 15 detik, Al Maruf memanfaatkan free throw untuk memperkecil kedudukan. Saat kuarter pertama berakhir, Kanisius tetap memimpin dengan skor 26-23. Kontrol pertandingan kemudian semakin nyaman di tangan Kanisius. Giliran Elliott yang memamerkan tembakan tajamnya. Hanya 4 detik setelah kuarter kedua dimulai, tembakannya dari luar garis busur besar masuk secara mulus. Kemudian, usaha kolektif Kanisius berhasil membuat mereka memimpin hingga 13 poin (38-25) setelah 4 menit berjalan. Di sisi lain, Al Maruf hanya bisa menyumbang dua poin lewat penyerangan Tafares Achmad Zahir Abdul. Al Maruf terus mencari cara untuk mengimbang permainan Kanisius. Fadi El Amin berhasil mengoleksi tujuh poin untuk Al Maruf pada kuarter kedua. Namun, itu ternyata masih belum cukup untuk menahan permainan Jacob dan Elliott yang mentereng. Elliott kembali menunjukkan tripoinnya yang solid dengan sisa waktu 4 menit 7 detik. Setelah itu, Jacob berhasil mencetak 11 poin untuk menutup kuarter kedua. Kedudukan Kanisius atas Al Maruf semakin menjauh dengan skor 54-34 memasuki jeda pertandingan. Dalam dua kuarter pertama, Jacob telah menorehkan 24 poin, disusul Elliott dan Neil Austin Yos dengan masing-masing 12 poin. Di kubu Al Maruf, Fadi memimpin dengan perolehan 10 poin. Razhiq Ramadhan Akbar turut berkontribusi dengan 8 poin dan 11 rebound. Kanisius tetap konsisten dengan tempo mereka pada kuarter ketiga. Semua tembakan Al Maruf yang masuk tetap berhasil dibalas, seolah Kanisius tidak ingin momentum pertandingan mereka dicuri. Bahkan, ketika waktu tersisa 1 menit 13 detik pada kuarter ketiga, Kanisius tetap solid dengan mencetak tujuh poin tanpa balasan. Mereka semakin perkasa dengan keunggulan 79-50 memasuki kuarter keempat. Sejak itu, kemenangan sudah seperti dikunci oleh Kanisius. Mereka tetap menunjukkan permainan yang produktif pada kuarter keempat dengan total 15 poin. Di sisi lain, Al Maruf hanya mampu membukukan lima poin saja. Dengan sisa waktu 4 menit 39 detik, Neil Austin Yos berhasil memasukkan dua free throw untuk membuat Kanisius unggul 94-53. Itu kemudian menjadi poin terakhir mereka di laga ini. Raffan Ibrahim Saif Gaza sempat mencetak dua angka untuk Al Maruf dengan sisa waktu 2 menit 2 detik sebelum laga berakhir dengan kemenangan dominan Kanisius. Razhiq mengakhiri laga dengan 17 poin dan 15 rebound untuk Al Maruf, disusul Fadi dengan 15 poin dan 3 rebound. Jacob pun akhirnya mampu mengumpulkan total 33 poin, 5 rebound, dan 8 steal untuk Kanisius. Neil bermain efisien dengan double-double 17 poin dan 17 rebound dengan akurasi tembakan 50 persen. Begitu pula dengan Elliott yang mencatat 18 poin, 8 rebound, 4 assist, dan 4 steal. Sebanyak 7 dari 12 percobaan tembakannya masuk tepat sasaran (58 persen). “Menurut saya kita mainnya cukup bagus. Lawannya juga memberikan yang terbaik. Saya mau mengapresiasi semua suporter, coaches, ofisial, dan orangtua yang sudah datang. Thank you untuk teman-teman yang sudah berjuang dengan baik,” ujar Elliot. Konsistensi Kanisius di kedua sisi lapangan merupakan kunci kemenangan mereka di pertandingan ini. Sejak awal, mereka memang sudah ingin menekankan aspek tersebut. “Setiap kuarter pressure dan energinya jangan sampai turun. Walaupun skornya sudah beda jauh, energinya masih harus sama dari kuarter satu sampai kuarter keempat,” sebut Lennox Artoko, salah satu pemain Kanisius yang juga merupakan adik Elliott. Meski berhasil meraih gelar juara keempat secara beruntun, Kanisius tidak ingin berhenti di sini saja. Masih ada mimpi yang jauh lebih besar yang ingin mereka gapai pada musim berikutnya. “Semoga bisa menang lagi dan jadi five-peat!” tutup Lennox.

10 tim basket terbaik siap berebut tahta di EPC 2026

Remove term: Elite Pro Championship 2026 Elite Pro Championship 2026

Sedikitnya terdapat 10 tim basket U-21 terbaik dari lima provinsi di Indonesia siap berkompetisi untuk memperebutkan tahta di Elite Pro Championship (EPC) musim ke tiga 2026 di Dewa United Arena, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten. Dari 10 tim yang secara resmi diperkenalkan pada Media Day yang berlangsung di Markas Dewa United Banten Basketball Club ini, dijadwalkan akan melakoni peryandingan perdana mulai 4 November hingga 2 Desember 2026 dengan menyajikan total 58 pertandingan selama 22 hari kompetisi. “Musim pertama kami memulai dengan empat tim, kemudian enam tim di musim kedua, dan sekarang menjadi 10 tim dari lima provinsi. Ini tentu menjadi sesuatu yang patut kami syukuri,” kata perwakilan Dewa United Basketball Club selaku penyelenggara EPC, Ridi Djajakusuma di Tangerang, Minggu. Ia menyampaikan, bahwa dengan keberadaan EPC sejak awal diarahkan untuk memberikan ruang kompetisi yang variatif dan kompetitif bagi pemain muda Indonesia sebelum melangkah ke jenjang profesional. “Bagi kami, EPC bukan hanya tentang pertandingan atau mencari siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana kompetisi ini memberikan pengalaman kepada pemain-pemain muda untuk berkembang, menghadapi tekanan pertandingan, dan mempersiapkan diri sebelum mereka masuk ke level profesional,” jelasnya. Menurut dia, kompetisi atau pertandingan resmi merupakan bagian penting dalam proses perkembangan atlet muda untuk melatih pengambilan keputusan, menghadapi tekanan, serta meningkatkan kerja sama tim. Sehingga, lanjutnya, terdapat 10 tim peserta EPC 2026 terdiri atas Dewa United Elite, MVP Basketball, dan IBC (Immortal Basketball Club) dari Banten; Go Jakarta Basketball, Cakra Sakti Basketball, dan Hangtuah Jakarta dari DKI Jakarta. Kemudian, Bhinneka Solo dan Satya Wacana Buzzer dari Jawa Tengah; BBM CLS Knights dari Jawa Timur; serta Spartans Dream City dari Kalimantan Selatan sepenuhnya akan turut bersaing merebut tahta tertinggi di EPC musim ke tiga ini. “Format kompetisi diawali babak regular season berformat half round robin. Delapan tim terbaik berhak melaju ke babak playoffs, di mana putaran awal menggunakan format single game, sedangkan semifinal dan final menerapkan format best of three (Bo3),” ujarnya.

Veda Ega Pratama Tembus Posisi Kedua Moto3 Malaysia

Veda Ega Pratama

Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, finis di posisi kedua pada Moto3 Malaysia 2026 di Sirkuit Internasional Sepang, Minggu (1/11). Hasil tersebut menjadi pencapaian terbaiknya di kelas Moto3 sekaligus podium kedua pada musim debutnya. Pembalap berusia 17 tahun yang memperkuat Honda Team Asia itu mengawali balapan dari posisi kedelapan. Veda mampu bersaing di barisan depan hingga putaran terakhir sebelum finis di belakang Maximo Quiles. Sebelumnya, ia meraih podium ketiga pada seri Brasil. Pencapaian di Sepang menjadi bagian dari perjalanan panjang Veda di dunia balap. Ia mengawali karier melalui motocross di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Veda mulai mengikuti kejuaraan nasional pada usia tujuh hingga delapan tahun, beralih ke balap road race pada 2018, dan mengikuti kompetisi Asia pada 2021. Perjalanannya sempat terhambat pandemi COVID-19 dan dua cedera patah tulang pada 2020. Setelah menjalani pemulihan, Veda kembali berlatih dan melanjutkan karier hingga akhirnya tampil di Moto3. “Pastinya ada dan sampai sekarang pun masih bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah bisa. Itu mimpi saya. Jadi saya akan berusaha semaksimal mungkin dan kalau memang bisa, ya alhamdulillah,” ujar Veda. Menjalani karier balap sejak usia muda membuat Veda harus menyesuaikan pendidikan dan kehidupan sosialnya dengan jadwal latihan serta kompetisi. Sebagian besar kegiatan belajarnya dilakukan secara daring. Saat berada di luar negeri, ia juga merindukan keluarga dan teman-temannya di Indonesia. Sebelum tampil di Sepang, Veda berkompetisi pada Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, 9–11 Oktober. Ajang tersebut menjadi kesempatan baginya untuk berkompetisi di hadapan publik Tanah Air. Dua podium yang diraih Veda pada musim debutnya di Moto3, yakni di Brasil dan Malaysia, menjadi pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Hasil di Sepang sekaligus menunjukkan kemampuannya bersaing di barisan depan pada kelas balap dunia tersebut.

Sashenka juga persembahkan medali untuk Indonesia di Youth Olympic Dakar

Sashenka Cahaya Fatimah

Judoka muda Indonesia, Sashenka Cahaya Fatimah mempersembahkan medali perunggu dari nomor -63 kg putri pada Youth Olympic Games Dakar 2026, Senin (2/11). Medali tersebut merupakan medali pertama kontingen Merah Putih dalam ajang olahraga multicabang tingkat dunia tersebut. Pencapaian Sashenka di Dakar Expo Centre itu menjadi catatan bersejarah karena merupakan medali pertama Indonesia dari cabang olahraga judo sepanjang keikutsertaan di Youth Olympic Games sejak edisi perdana di Singapura pada 2010. “Senang dan bangga bisa meraih medali perunggu. Saya bisa sampai di sini berkat dukungan semua, teman, senior, pelatih, PB JI, NOC Indonesia, Kemenpora, CdM, dan tentunya orang tua serta keluarga, sehingga akhirnya saya bisa memberikan medali ini untuk Indonesia,” kata Sashenka dalam keterangan tertulis, Selasa. Perjalanan atlet muda tersebut menuju podium tidak berlangsung mudah. Ia harus melewati babak repechage setelah kalah dari judoka Korea Selatan Kwak Yuju melalui ippon pada pertandingan pertama. Namun, Sashenka mampu bangkit dengan mengalahkan wakil Lebanon Teressa Chayeb melalui ippon pada babak repechage round of 8. Kemenangan tersebut mempertemukannya kembali dengan Kwak. Kali ini, Sashenka berhasil membalas kekalahan dengan mengamankan dua poin dan mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir, sekaligus memastikan tempat pada perebutan medali perunggu. Pada pertandingan penentuan, Sashenka menghadapi judoka Aljazair Dounia Berrahoual. Pertandingan berlangsung ketat dengan kedua atlet tampil disiplin dan berhati-hati dalam membangun serangan. Sashenka akhirnya mencetak waza-ari ketika pertandingan menyisakan satu menit 20 detik. Keunggulan tersebut mampu dipertahankan hingga laga berakhir untuk memastikan medali perunggu bagi Indonesia. Sashenka mengaku sempat mengalami tekanan setelah menelan kekalahan pada pertandingan pertama. Namun, ia berusaha menenangkan diri dan kembali fokus menghadapi pertandingan selanjutnya. “Awalnya saya percaya bisa menang. Mungkin memang takdir Allah belum ke sana, dan saya sempat kecolongan dari Korea. Setelah itu, saya berusaha menenangkan diri lagi saat bertanding melawan Lebanon,” ujar Sashenka. Ia mengatakan berusaha tampil lebih rileks dan menikmati pertandingan ketika kembali berhadapan dengan judoka Korea Selatan. “Ketika masuk repechage round of 4, saya berpikir untuk bermain dengan enjoy dan rileks, serta berjuang semaksimal mungkin. Alhamdulillah, saya bisa menang melawan Korea,” tuturnya. Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia Ita Yuliati mengaku bangga atas perjuangan Sashenka yang berhasil mempersembahkan medali pertama bagi kontingen Indonesia. “Alhamdulillah, medali pertama akhirnya hadir untuk Tim Indonesia. Saya sangat bangga dengan perjuangan Sashenka. Di usia yang masih sangat muda, dia mampu menunjukkan keberanian, disiplin, dan mental bertanding yang luar biasa,” ujar Ita. Menurut Ita, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi atlet-atlet Indonesia lainnya yang masih bertanding di Youth Olympic Games Dakar 2026. Sementara itu, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari mengapresiasi pencapaian bersejarah yang ditorehkan Sashenka. “Medali ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi besar dari generasi atlet muda. Youth Olympic Games merupakan bagian penting dari proses pembinaan menuju jenjang yang lebih tinggi,” kata Okto. Sebelum judo menyumbangkan medali pada edisi 2026, Indonesia telah meraih medali dalam tiga penyelenggaraan Youth Olympic Games sebelumnya melalui cabang olahraga angkat besi dan bulu tangkis.

707 pebulu tangkis dari delapan negara ikuti Superliga Junior Kudus

MilkLife Superliga Junior 2026

Sebanyak 707 pebulu tangkis muda dari tujuh negara meramaikan turnamen bulu tangkis junior beregu bertajuk MilkLife Superliga Junior 2026 yang dihelat di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah pada 2-8 November 2026. “Turnamen tersebut digelar untuk memberikan pengalaman bertanding dengan format beregu bagi pebulutangkis muda di Indonesia. Dengan jam terbang yang dipupuk sejak dini, para atlet akan terasah baik dari sisi mental dan kemampuan ketika berlaga di panggung yang lebih tinggi,” kata Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin di Kudus, Selasa. Ia menuturkan salah satu dampak positif bagi atlet muda mengikuti Superliga Junior tercermin dalam gelaran Asian Games 2026, akhir September 2026. Di nomor beregu putra, skuad Indonesia berhasil comeback atas China 3-2 dan mengakhiri puasa gelar selama 28 tahun usai meraih medali emas. “Kalau diperhatikan, di dalam skuad Indonesia Asian Games kemarin, ada nama-nama seperti Moh Zaki Ubaidillah serta Leo Rolly/Daniel Marthin yang terlebih dahulu merasakan atmosfer pertandingan beregu melalui Superliga Junior. Terbukti, pengalaman bertanding beregu di usia muda tersebut dapat berkontribusi positif ketika berjuang membela Indonesia di ajang yang lebih tinggi. Dan kami berharap, langkah mereka juga dapat diikuti oleh para juniornya saat ini,” ujarnya. Ajang bergengsi hasil kerja sama antara Bakti Olahraga Djarum Foundation dengan PBSI dan MilkLIife ini, diikuti 707 pebulu tangkis muda dari delapan negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, China, China Taipei, Polandia, dan Amerika Serikat. Mereka akan berjuang meraih podium tertinggi sekaligus memperebutkan total hadiah senilai lebih dari Rp1,4 miliar. Superliga Junior tersebut merupakan kompetisi yang mengusung format pertandingan beregu putra dan putri seperti Piala Thomas dan Uber. Tahun ini, MilkLife Superliga Junior 2026 membidik empat kategori usia U-13, U-15, U-17, dan U-19 baik putra maupun putri. Direktur Superliga Achmad Budiharto mengatakan Superliga Junior 2026 akan diselenggarakan lebih kompetitif dengan melibatkan klub-klub mancanegara di tiga kategori pertandingan, yakni U-15, U-17 dan U-19 baik putra dan putri. “Berbeda dari tahun sebelumnya di mana perwakilan negara lain bertanding di U-17 dan U-19, untuk tahun ini penyelenggara memperluas kesempatan bagi perwakilan negara lain untuk bertanding di U-15. Tujuannya agar pemain muda Indonesia mendapatkan pengalaman bertanding melawan atlet-atlet mancanegara di usia yang lebih dini sehingga mereka memiliki cukup bekal menghadapi atlet asing di kejuaraan beregu di masa mendatang,” ujarnya. Selain itu, Superliga Junior 2026 juga mengadopsi sistem perhitungan poin terbaru dari BWF yakni 3×15 rally point system. “Meski BWF baru akan menerapkannya pada Januari 2027, tetapi kami sudah mulai menguji coba sistem ini. Tujuannya untuk membantu para pemain muda beradaptasi lebih cepat terhadap sistem durasi permainan yang lebih pendek,” kata Budiharto. Para peserta MilkLife Superliga Junior 2026 akan bertarung guna memperebutkan berbagai piala bergengsi. Di kategori U-13, Piala Tontowi Ahmad akan menjadi milik kampiun sektor putra sementara Piala Liliyana Natsir bagi sektor putri. Selanjutnya, di nomor U-15 Putra akan berjuang demi meraih Piala Maria Kristin Yulianti, di sektor U-17 Putra memperebutkan Piala Haryanto Arbi. Sedangkan Piala Yuni Kartika menjadi persembahan bagi juara U-17 Putri. Adapun di nomor U-19 Putra, akan memperebutkan Piala Liem Swie King sudah menanti untuk diangkat oleh sang juara dan Piala Susy Susanti untuk juara U-19 Putri.

Christo sabet medali perak wushu pada Youth Olympic Games 2026

Asael Christo Jacob Rondonuwu

Asael Christo Jacob Rondonuwu mempersembahkan medali perak kepada Indonesia dari nomor gabungan Changquan dan Gunshu pada Youth Olympic Games (YOG) 2026 di Dakar, Senegal, Selasa. Asael menempati peringkat kedua setelah mengumpulkan skor 18.709, yang terdiri dari 9.353 dari Changquan dan 9.356 dari Gunshu. Medali emas disabet atlet wushu China Yilei Lin yang mengemas total skor 18.796, sedangkan medali perunggu untuk atlet Iran Arash Pahali yang mendapatkan skor 18.603. Medali perak Asael menjadi medali kedua Indonesia pada ajang ini setelah perunggu dari pejudo putri Fatimah Sashaneka pada nomor 63 kg. Fatimah meraih perunggu setelah mengalahkan pejudo Aljazair Dounia Berrahoual. Indonesia untuk sementara menempati peringkat ke-26 klasemen perolehan medali Youth Olympic Games 2026. Keterangan pers yang diterima menyebutkan Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) Airlangga Hartarto memuji pencapaian Asael itu. “Asael telah membuktikan atlet wushu punya potensi meraih prestasi di ajang dunia. Mudah-mudahan wushu bisa dipertandingkan pada Olimpiade Brisbane 2032 nanti,” kata Airlangga.