Tim Putri Jubilee Raih Juara di Junior DBL Jakarta

Tim Putri SMP Jubilee Jakarta

Siapa sangka, tim yang awalnya hanya menargetkan satu kemenangan justru berhasil pulang membawa trofi juara? Itulah yang dialami tim putri SMP Jubilee Jakarta pada gelaran Junior DBL 2026 Jakarta. Tim asuhan Mochamad Dharmawan itu sukses mengukir sejarah dengan meraih gelar juara pertamanya setelah menumbangkan SMP 1 PSKD Jakarta lewat laga sengit yang berakhir dengan skor 52-48 pada Kamis, 29 Oktober 2026. Menariknya, kedua tim punya perjalanan yang hampir serupa. Jubilee dan PSKD 1 sama-sama menjalani debut pada musim lalu. Namun, langkah keduanya langsung terhenti di pertandingan pertama. Kini, keduanya justru dipertemukan di partai puncak. Bagi Jubilee, pencapaian tersebut bahkan jauh melampaui ekspektasi sang pelatih. “Untuk pertandingan hari ini, sebenarnya kami juga enggak menyangka bisa sampai ke tahap ini. Karena dari awal, target utama kami hanya menang satu kali. Itu saja sudah menjadi target utama,” ungkap Mochamad Dharmawan, pelatih Jubilee. Perjalanan Jubilee menuju gelar juara pun tidak berjalan mudah. Pada partai final, mereka harus menghadapi perlawanan sengit dari PSKD 1 yang tampil agresif sejak awal pertandingan. PSKD 1 langsung mengambil keunggulan pada kuarter pertama dengan skor 14-10. Mereka kembali menambah 16 poin pada kuarter kedua, sementara Jubilee hanya mampu mencetak 13 poin. Alhasil, Jubilee harus memasuki jeda pertandingan dalam posisi tertinggal 23-30. Namun, keadaan mulai berubah selepas turun minum. Jubilee perlahan menemukan ritme permainan dan berhasil memangkas ketertinggalan setelah unggul 10-5 pada kuarter ketiga. Memasuki kuarter pemungkas, tensi pertandingan semakin meningkat. Jubilee yang masih tertinggal dua poin mulai menunjukkan kebangkitannya. Mereka tampil lebih agresif dan berhasil mencetak 19 poin pada kuarter terakhir. Sementara itu, PSKD 1 hanya mampu menambahkan 13 poin. Meski demikian, PSKD 1 bukan tanpa perlawanan. Gwen Calista Ho sempat menjaga asa timnya melalui dua tembakan gratis saat pertandingan menyisakan 2 menit 37 detik. Tak berselang lama, Allyson Tantowijaya berhasil melesakkan tembakan tiga angka yang membuat PSKD 1 hanya tertinggal satu poin, 48-49, ketika waktu menunjukkan 2 menit 23 detik. Situasi tersebut membuat kemenangan Jubilee belum sepenuhnya aman. Beruntung, Sekar Kinanthi Harfia berhasil memperlebar keunggulan Jubilee melalui tembakan gratis saat pertandingan menyisakan 11 detik. Matsuda Yuna Darmawan kemudian memastikan kemenangan timnya lewat dua tembakan gratis pada tiga detik terakhir. Skor 52-48 pun menutup pertandingan sekaligus memastikan gelar juara pertama bagi Jubilee. Dalam pertandingan tersebut, Matsuda Yuna Darmawan menjadi salah satu sosok penting di balik kemenangan Jubilee. Ia membukukan 14 poin, 2 assist, dan 11 rebound. Sementara dari kubu PSKD 1, Gwen Calista Ho tampil menonjol dengan kontribusi 21 poin, 1 assist, dan 2 rebound. Bagi Coach Dharmawan, kemenangan tersebut terasa begitu istimewa. Terlebih, ia mengetahui betul bagaimana anak-anak asuhnya berusaha bangkit dari kegagalan musim sebelumnya. “Sebenarnya, setelah Junior DBL 2025 selesai, itu menjadi tahun yang cukup menyakitkan buat kami. Di pertandingan pertama, kami langsung kalah,” kenangnya. Kegagalan tersebut menjadi titik awal perubahan Jubilee. Alih-alih menetapkan target tinggi, Dharmawan memilih memaksimalkan kemampuan skuad yang dimilikinya. Kehadiran sejumlah rookie juga menjadi bagian dari proses membangun kembali kekuatan tim. “Kami mulai membangun tim sejak awal Desember. Prosesnya akhirnya membuahkan hasil sekarang. Jadi, ya, kami nikmati saja. Jujur, saya sendiri juga masih bingung karena enggak menyangka bisa sampai sejauh ini,” ceritanya. Namun, membangun Jubilee bukan hanya tentang meningkatkan kemampuan bermain basket.Dharmawan mengungkapkan bahwa sejumlah pemainnya sempat mengalami kesulitan dalam membangun komunikasi. Bahkan, ada yang awalnya enggan berbicara satu sama lain. “Kami punya banyak pemain yang sebelumnya mengalami kesulitan. Ada yang awalnya bahkan enggak mau berbicara satu sama lain. Tapi, mereka mau mengikuti instruksi dan mau mendengarkan,” ujarnya. Perubahan tersebut perlahan membuat Jubilee semakin solid. Para pemain mulai belajar menerima karakter masing-masing dan mengesampingkan ego pribadi demi kepentingan tim. Hal itu pula yang menurut Dharmawan menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka. “Anak-anak mau diajak bekerja sama dan semuanya bisa saling menerima satu sama lain. Kami berusaha menggunakan ego masing-masing untuk tujuan bersama, bukan untuk kepentingan individu,” jelasnya. Menariknya, tidak semua student-athlete Jubilee memiliki pengalaman basket yang panjang. Dharmawan menyebut ada empat pemain yang baru mulai mempelajari basket sejak kelas V SD. Meski memiliki kemampuan dan pengalaman berbeda, ia justru melihat keberagaman tersebut sebagai kekuatan timnya. Bahkan, menurutnya, perubahan momentum pada pertandingan final tidak hanya datang dari pemain yang selama ini menjadi andalan. “Yang banyak membantu mengubah momentum pertandingan justru bukan pemain yang biasanya paling menonjol. Mereka percaya pada permainan dan rekan-rekan setimnya,” ungkap Dharmawan. Kepercayaan tersebut juga menjadi modal penting ketika Jubilee sempat tertinggal dari PSKD 1. Dharmawan mengakui bahwa beberapa pemainnya sempat bermain dengan rasa takut. Sebagai pelatih, ia berusaha memberikan dukungan agar mereka kembali percaya pada kemampuan masing-masing. “Saya ingin mereka enggak perlu takut. Main saja dulu. Menang atau kalah, itu urusan Tuhan. Yang penting, kami sudah punya niat baik dan berusaha semaksimal mungkin,” tuturnya. Bagi Dharmawan, keberhasilan Jubilee kali ini menjadi bukti bahwa setiap pemain memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi, terlepas dari pengalaman maupun kemampuan individunya. Ia pun tak mampu menyembunyikan rasa bangga ketika melihat anak-anak asuhnya berhasil menuntaskan perjuangan dengan gelar juara. “Jujur, saya sampai enggak bisa berkata-kata. Mereka istimewa,” ucapnya. Meski berhasil membawa Jubilee meraih gelar juara pertama, Dharmawan tidak ingin anak-anak asuhnya cepat berpuas diri. Ia menyadari bahwa tantangan berikutnya justru akan semakin berat. Apalagi, Jubilee kini harus mempersiapkan diri untuk mempertahankan gelar pada musim mendatang. “Kami akan memperbaiki kekurangan yang ada dan mulai melakukan regenerasi pemain. Kami akan kembali membangun semuanya dari dasar. Yang terpenting, jangan cepat puas,” pesannya. Sebab, menurut Dharmawan, mempertahankan gelar juara jauh lebih sulit dibandingkan meraihnya untuk pertama kali. Kini, perjalanan Jubilee yang semula hanya dibayangi target satu kemenangan justru berakhir dengan pencapaian yang tak pernah mereka bayangkan.

Tak Terbendung, Kanisius Juara Junior DBL Jakarta 4 Kali Beruntun

Junior DBL 2026 Jakarta

Takhta tertinggi Junior DBL 2026 Jakarta sektor putra masih menjadi milik SMP Kolese Kanisius Jakarta! Berhadapan dengan SMP Al Maruf Jakarta di partai puncak pada Kamis, 29 Oktober 2026, mereka keluar sebagai juara dengan skor meyakinkan 94-55. Memasuki musim ini, Kanisius telah menjuarai Junior DBL Jakarta selama 3 tahun beruntun. Maka dari itu, misi mereka untuk mempertahankan gelar juara dan menjaga dominasi berakhir sukses dan sempurna. Pertandingan dibuka dengan aksi impresif dari Jacob Xavier Chandra. Setelah memasukkan tembakan dari dekat garis free throw, ia langsung melesakkan dua tripoin dan mencuri momentum untuk Kanisius (10-2). Ada juga Elliott Artoko yang turut berkontribusi dalam permainan Kanisius yang impresif pada kuarter pembuka. Bermain solid pada awal pertandingan merupakan salah satu target utama yang ingin dicapai Kanisius di laga ini. “Dari gim sebelumnya, apalagi gim pertama, kita mulainya gak 100 persen. Kita sekarang coba untuk mulainya lebih strong,” ucap Elliott. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Al Maruf menyerah begitu saja. Mereka terus berjuang untuk menemukan ritme permainan yang tepat. Al Maruf akhirnya mampu mengejar hingga skor berjarak tiga poin (14-11) dengan sisa waktu 5 menit 15 detik. Setiap Kanisius berusaha untuk menjauh, Al Maruf selalu mengejar dan memberikan pembalasan yang berarti. Ketika Kanisius unggul 26-18 dengan sisa waktu 1 menit 15 detik, Al Maruf memanfaatkan free throw untuk memperkecil kedudukan. Saat kuarter pertama berakhir, Kanisius tetap memimpin dengan skor 26-23. Kontrol pertandingan kemudian semakin nyaman di tangan Kanisius. Giliran Elliott yang memamerkan tembakan tajamnya. Hanya 4 detik setelah kuarter kedua dimulai, tembakannya dari luar garis busur besar masuk secara mulus. Kemudian, usaha kolektif Kanisius berhasil membuat mereka memimpin hingga 13 poin (38-25) setelah 4 menit berjalan. Di sisi lain, Al Maruf hanya bisa menyumbang dua poin lewat penyerangan Tafares Achmad Zahir Abdul. Al Maruf terus mencari cara untuk mengimbang permainan Kanisius. Fadi El Amin berhasil mengoleksi tujuh poin untuk Al Maruf pada kuarter kedua. Namun, itu ternyata masih belum cukup untuk menahan permainan Jacob dan Elliott yang mentereng. Elliott kembali menunjukkan tripoinnya yang solid dengan sisa waktu 4 menit 7 detik. Setelah itu, Jacob berhasil mencetak 11 poin untuk menutup kuarter kedua. Kedudukan Kanisius atas Al Maruf semakin menjauh dengan skor 54-34 memasuki jeda pertandingan. Dalam dua kuarter pertama, Jacob telah menorehkan 24 poin, disusul Elliott dan Neil Austin Yos dengan masing-masing 12 poin. Di kubu Al Maruf, Fadi memimpin dengan perolehan 10 poin. Razhiq Ramadhan Akbar turut berkontribusi dengan 8 poin dan 11 rebound. Kanisius tetap konsisten dengan tempo mereka pada kuarter ketiga. Semua tembakan Al Maruf yang masuk tetap berhasil dibalas, seolah Kanisius tidak ingin momentum pertandingan mereka dicuri. Bahkan, ketika waktu tersisa 1 menit 13 detik pada kuarter ketiga, Kanisius tetap solid dengan mencetak tujuh poin tanpa balasan. Mereka semakin perkasa dengan keunggulan 79-50 memasuki kuarter keempat. Sejak itu, kemenangan sudah seperti dikunci oleh Kanisius. Mereka tetap menunjukkan permainan yang produktif pada kuarter keempat dengan total 15 poin. Di sisi lain, Al Maruf hanya mampu membukukan lima poin saja. Dengan sisa waktu 4 menit 39 detik, Neil Austin Yos berhasil memasukkan dua free throw untuk membuat Kanisius unggul 94-53. Itu kemudian menjadi poin terakhir mereka di laga ini. Raffan Ibrahim Saif Gaza sempat mencetak dua angka untuk Al Maruf dengan sisa waktu 2 menit 2 detik sebelum laga berakhir dengan kemenangan dominan Kanisius. Razhiq mengakhiri laga dengan 17 poin dan 15 rebound untuk Al Maruf, disusul Fadi dengan 15 poin dan 3 rebound. Jacob pun akhirnya mampu mengumpulkan total 33 poin, 5 rebound, dan 8 steal untuk Kanisius. Neil bermain efisien dengan double-double 17 poin dan 17 rebound dengan akurasi tembakan 50 persen. Begitu pula dengan Elliott yang mencatat 18 poin, 8 rebound, 4 assist, dan 4 steal. Sebanyak 7 dari 12 percobaan tembakannya masuk tepat sasaran (58 persen). “Menurut saya kita mainnya cukup bagus. Lawannya juga memberikan yang terbaik. Saya mau mengapresiasi semua suporter, coaches, ofisial, dan orangtua yang sudah datang. Thank you untuk teman-teman yang sudah berjuang dengan baik,” ujar Elliot. Konsistensi Kanisius di kedua sisi lapangan merupakan kunci kemenangan mereka di pertandingan ini. Sejak awal, mereka memang sudah ingin menekankan aspek tersebut. “Setiap kuarter pressure dan energinya jangan sampai turun. Walaupun skornya sudah beda jauh, energinya masih harus sama dari kuarter satu sampai kuarter keempat,” sebut Lennox Artoko, salah satu pemain Kanisius yang juga merupakan adik Elliott. Meski berhasil meraih gelar juara keempat secara beruntun, Kanisius tidak ingin berhenti di sini saja. Masih ada mimpi yang jauh lebih besar yang ingin mereka gapai pada musim berikutnya. “Semoga bisa menang lagi dan jadi five-peat!” tutup Lennox.