Kisah Inspirasi Dibalik Soeratin Cup dan Kontribusinya ke Tim Nasional Indonesia

soeratin2

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang dibentuk pada 19 April 1930 di Yogyakarta, merupakan organisasi olahraga yang dilahirkan pada zaman penjajahan Belanda. Ketua PSSI pertama yakni Ir. Soeratin Sosrosoegondo, belum banyak yang mengetahui, perjuangan Soeratin dalam memajukan perkembangan sepakbola di Indonesia. Pada masa itu Soeratin harus menentang pemerintahan Belanda. Pada 28 Oktober 1928 terdapat pertemuan pemuda Indonesia, moment ini sangat tepat bagi Soeratin untuk membangkitkan nasionalisme melalui sepakbola. Maka dari itu, Soeratin gencar melakukan pertemuan-pertemuan dengan para tokoh sepakbola di Indonesia. Butuh waktu yang lama bagi Soeratin untuk mengembangkan sepakbola bagi pemuda-pemuda Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 19 April 1930, berdirilah organisiasi PSSI yang diketuai oleh Soeratin sendiri. Setelah diangkat menjadi ketua, Soeratin langsung menyusun program untuk mengembangkan sepakbola. Dan, lahirlah kejuaraan sepakbola antar perserikatan untuk menentang pemerintahan Belanda. Soeratin yang melihat sepakbola Indonesia kian berkembang, menambah pondasi kuat dengan membuat badan olahraga nasional yakni ISI (Ikatan Sport Indonesia). Dari ISI lah lahirnya PON di Solo pada tahun 1938. Sepakbola Indonesia pada saat itu kian memuncak. Hanya satu yang menjadi tujuan utama Soeratin yakni membuat sepakbola Indonesia tidak dianggap pecundang di negara besar. Alhasil, Indonesia mampu unjuk gigi dikancah sepakbola dunia yakni Piala Dunia 1938. Kala itu Indonesia masih menggunakan nama East Indies. Para pemain sepakbola Indonesia, mampu bersaing dengan negara besar. Hingga pada akhirnya, Soeratin melepaskan jabatannya menjadi ketua PSSI pada tahun 1942, karena sudah melihat perkembangan sepakbola Indonesia mulai pesat. Dan, diteruskan oleh Artono Martosoewignyo. Saat itu, kehidupan Soeratin menjadi serba sulit. Meski sempat bekerja di perusahaan kontruksi dengan gaji yang besar. Namun, karena kecintaannya terhadap Indonesia dan sepakbola, ia tinggalkan pekerjaan itu. Alhasil pada tanggal 1 Desember 1959, Indonesia berduka. Soeratin wafat dalam keadaan ekonomi yang mengenaskan. Pada tahun 1965, PSSI yang diketuai Maulwi Saelan menggelar Soeratin Cup untuk mengenang bagaimana perjuangan Soeratin menyatukan pemuda-pemuda Indonesia untuk sepakbola. Dari Soeratin Cup situlah muncul talenta muda berbakat, seperti Adjat Sudrajat – PERSIB Bandung, Ronny Pasla – PSMS Medan dan Sutan Harhara dari Persija Jakarta. Dan, menjadikan Soeratin Cup sebagai ajang rutin. Soeratin Cup sempat terhenti akibat kisruh PSSI tahun 2012. Cukup lama terhenti, Soeratin Cup kembali bergulir pada tahun 2014 dengan batasan usia 17 tahun. Hasilnya, banyak pesepakbola muda yang bermunculan seperti Gian Zola, Maldini Pali, Febri Hariyadi dan masih banyak lagi pemain berbakat yang lahir dari Soeratin Cup. Dan, yang paling terbaru ada nama Egy Maulana Vikri, bintang timnas u-19. Egy yang membela Persab Brebes berhasil keluar sebagai juara dan Egy juga menjadi top skor. Terima kasih Ir. Soeratin Sosrosoegondo atas jasanya dalam memajukan sepakbola Indonesia. Jasa-jasa mu dalam sepakbola Indonesia tidak akan masyarakat Indonesia lupakan. Semoga, sepakbola Indonesia semakin hari-semakin baik. Dan, pembinaan usia muda berjalan dengan baik. “Soeratin Engkaulah Pahlawan Sepakbola Indonesia !!!”(pah/adt)

Seberapa Pentingkah Peran Pemain Naturalisasi Untuk Timnas Indonesia?

spasojevic

Indonesia dalam hal prestasi sepakbola memang masih belum menunjukan prestasinya yang luar biasa. Pada saat di era kepemimpinan Nurdin Halid tahun 2006, muncul sebuah ide gila untuk mengangkat prestasi sepakbola Indonesia muncul melalui proses naturalisasi. Namun, ide gila ini mendapat pertentangan dari berbagi kalangan, karena Nurdin Halid pada saat itu mengambil sembilan pemain Brazil usia 23 tahun untuk dijadikan pemain timnas Indonesia. Empat tahun berselang, tepatnya tahun 2010. Sistem naturalisasi pemain asing makin kencang. Tetapi, kali ini caranya lebih masuk akal. Diantaranya dengan pola menjadikan pemain asing yang sudah lama tinggal di Indonesia, untuk memeluk kewarganegaraan Indonesia. Produk unggulnya sebut saja Cristian Gonzales, menjadi pemain pertama yang diambil sumpahnya untuk menjadi WNI dan membela timnas Indonesia. Piala AFF menjadi ajang pembuktian, Gonzales di timnas Indonesia. Meski, di ajang AFF 2010 hanya menjadi runner-up, setelah di final kalah melawan Malaysia. Disana PSSI melihat ada peningkatan dalam prestasi, karena semenjak Gonzales bergabung di timnas Indonesia, ini yang membuat PSSI ketagihan atau terus gencar melakukan naturalisasi pemain. Hasilnya, terdapat John Van Bukhering, Tony Cussel, Kim Jefry Kurniawan, Irfan Bachdim, Victor Igbonefo, Bio Paulin, Diego Michiels, Stefano Lilipaly dan yang terbaru terdapat Ilija Spasojevic. Tapi, apakah sudah tepat naturalisasi pemain untuk peningkatan prestasi Indonesia di level Asia atau Asia Tenggara? Tim nysnmedia.com mencoba berbincang hangat dengan pengamat sekaligus wartawan sepakbola Hanif Marjuni. Bung Hanif sapaan akrabnya, yang sudah malang melintang di dunia sepakbola Nasional mengatakan, bahwa naturalisasi untuk membawa jangka panjang sepakbola Indonesia itu penting. Tapi, skalanya hanya untuk menjadi pemicu para pemain lokal untuk bisa bersaing dengan pemain naturalisasi. “Dalam jangka waktu yang panjang itu bisa di katakan penting, tapi kadarnya sebagai pemicu saja, bukan untuk skala yang luas. Karena, kalau kita meliat naturalisasi sebagi proyeksi instan iya, tapi untuk perkembangan timnas saat ini. Kita melihat sebagai jangka panjang untuk menjadi pemicu pemain lokal atau bakat-bakat pemain Indonesia untuk lebih,” terang Bung Hanif kepada nysnmedia.com. Dirinya pun, melihat dua sampai tiga tahun menjadi pemicu untuk pemain lokal. Apalagi, masalah harga pemain lokal sudah bisa bersaing dengan pemain asing. Terlebih, naturalisasi bagi timnas Indonesia belum mampu mengangkat prestasi bagi timnas. Namun, ada sisi baiknya juga dalam hal naturalisasi bagi timnas Indonesia. “Setidaknya sepakbola bukan hanya prestasi saja, tapi dalam sisi entertainment berhasil. Ada perhatian dari public tentang perkembangan sepakbola di Indonesia. Ya, terlepas gagal membangkitkan prestasi sepakbola Indonesia,” tuturnya. Pemain naturalisasi diusia keemasannya, diharapkan mampu memberikan ilmu kepada pemain lokal untuk bisa bersaing sehat. Masyarakat Indonesia pastinya sangat rindu akan prestasi timnas Indonesia, bukan rindu akan masalah. Maju terus sepakbola Indonesia ! (pah/adt)

Kupas Tuntas Kontroversi Liga 1 Indonesia

kontroversi-liga-1

Tanggal 15 April 2017 menjadi sejarah bangkitnya sepakbola Indonesia. Dua tahun lamanya, sepakbola Indonesia telah mati suri setelah di hukum oleh FIFA. November 2016 pula, lahirnya ketua umum PSSI periode 2016-2020 yakni Edy Rahmayadi. Edy terpilih sebagai Ketua Umum PSSI untuk periode 2016-2020 dalam Kongres PSSI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016). Dalam pemungutan suara, Edy, yang juga merupakan Pangkostrad TNI, meraih 76 suara. Dia mengalahkan Moeldoko yang hanya meraih 23 suara. Sementara itu, calon lainnya, Eddy Rumpoko, hanya mendapatkan satu suara. Edy yang juga aktif sebagai TNI berpangkat Letnan Jendral menjabat Pangkostrad ini, diharapkan oleh pecinta sepakbola Indonesia bisa memajukan sepakbola Indonesia dengan ketegasannya. Dalam kutipan cnn.indonesia (10 November 2016) setelah terpilih, Edy memiliki target untuk timnas Indonesia. Edy berjanji akan segera bekerja agar target-targetnya tercapai, salah satunya targetnya adalah timnas tampil di Olimpiade dalam kurun waktu delapan tahun dari sekarang. “Mungkin itu sulit sekali bagi pemain-pemain yang saat ini masih kita ketahui bersama (kemampuannya), tetapi Insya Allah di 2024 kita sudah bisa berkiprah.” “Di saat ini kami harus segera bekerja. Di kelompok U-15, ini kita booming-kan, kami meriahkan, sehingga delapan tahun yang akan datang pemain-pemain yang berusia 23 tahun sudah bisa berkiprah di internasional,” ucapnya melanjutkan. Benar saja, enam bulan memimpin PSSI, tepatnya 15 April dibukanya Liga 1 Indonesia yang memainkan antara Persib Bandung melawan Arema Malang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (SGBLA). Namun, sebelum Liga 1 bergulir banyak kontroversi yang terjadi yakni mengenai regulasi. Regulasi yang diterapkan di liga yaitu tim diwajibkan mengontrak sedikit-dikitnya lima pemain U-23, kemudian hanya bisa mengontrak maksimal tiga pemain asing, di mana dua merupakan pemain non-Asia dan satu pemain Asia atau disebut aturan dua plus satu. Selanjutnya, jumlah pemain berusia 35 tahun ke atas tidak boleh lebih dari dua orang di setiap tim. Peraturan lainnya yaitu setiap klub bisa mengontrak satu “marquee player” yaitu pesepak bola asing yang dianggap berkelas dunia yang pernah bermain setidaknya dalam tiga putaran Piala Dunia terakhir (untuk hal ini pada tahun 2006, 2010 dan 2014) atau pernah berkiprah di klub elite Eropa. Persib Bandung contohnya, mereka menggaet Michael Essien eks Chelsea dan Carlton Cole bintang Timnas Inggris sebagai pemain marquee player mereka. Sementara, regulasi yang mewajibkan klun memainkan pemain U-23 menuai beberapa pro dan kontra. Regulasi ini dibuat memang dipersiapkan untuk timnas Indonesia berlaga di Sea Games Kuala Lumpur, Malaysia. Setiap klub, diwajibkan memainkan tiga pemain U-23. Pelatih pun, mau tidak mau menurunkan pemain U-23. Banyak komentar miring dengan regulasi ini, ada yang beranggapan bahwa jika pemain tidak siap bisa merugikan klub dan pemain U-23 bisa bermain di tim senior bukan karena aturan melainkan karena kesiapan pemain serta prestasi pemain. Setengah musim berjalan, masyarakat Indonesia mulai mengenal wonderkid Febry Haryadi dan Gian Zola (Persib), M Rezaldi Hehanusa (Persija), Kurniawan Kartika Ajie (Persiba Balikpapan). Bisa dikatakan sukses? Mari kita telaah kembali. Kebijakan PSSI membuat regulasi U-23 memang dipersiapkan untuk Sea Games Malaysia, namun ekspektasi berlebih hanya membuahkan medali perunggu saja bagi Indonesia yang dipimpin pelatih asal Spanyol Luis Milla. Muncul kembali peraturan dari PSSI yang membingungkan. Setelah Sea Games berlangsung, PSSI menghapus regulasi U-23 di Liga 1. Keputusan ini, sontak membuat para klub dan pelatih berang. Para pelatih dan klub, menganggap keputusan awal yang dibuat oleh PSSI dengan seenaknya di hapus. Namun, ada juga klub yang bisa dikatakan ketiban durian runtuh dengan adanya penghapusan regulasi U-23. Tak hanya itu, regulasi saja yang membuat kisruh, suporter pun masih belum cukup dewasa. Almarhum Riko Andrean suporter Persib yang tewas pada saat laga big match melawan Persija Jakarta menjadi pusat perhatian kancah dunia sepakbola. PSSI pun, menghukum bobotoh. Sudah seharusnya, suporter Indonesia dewasa. Kepemimpinan wasit pun, menjadi fokus pembenahan PSSI. Wasit Indonesia seharusnya bisa mengambil keputusan dengan tegas tanpa takut di intervensi oleh tim maupun pemain. Puncaknya, PSSI menghadirkan wasit asing pada bulan Agustus. Tujuan PSSI dengan hadirnya wasit asing, bisa memberikan contoh kepada wasit asal Indonesia. Lagi dan lagi, hadirnya wasit asing menjadi pro dan kontra. Seperti pelatih PSM Makasar, Robert Rene Albert yang mengatakan bahwa Indonesia tidak butuh wasit asing tetapi membutuhkan teknologi VAR (Video Assintant Referee). Benar saja, puncaknya pada laga big match antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung kesalahan fatal dibuat wasit asing. Shaun Evan merupakan yang memimpin laga big match tersebut. Wasit asal negeri kangguru Australia, menganulir gol dari penyerang Persib, Ezechiel N’Douassel pada menit ke-27. Sundulan N’Douassel terlihat sudah melewati garis dan sundah menyentuh jaring gawang. Namun, Shaun menganggap bola tersebut belum gol. Kontroversi dari wasit Evans, masih berlanjut. Bek Persib Bandung, Vladimir Vujovic, mendapatkan kartu merah pada menit ke-82 setelah terlihat mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada wasit yang memberinya kartu kuning karena melanggar Bruno Lopes. Pemain Persib yang tidak terima, bergerak kepinggir lapangan. Namun, Evans menganggap pemain Persib mogok bertanding dan menyudahi pertandingan pada menit 83. Ini menjadi perbincangan hangat bagi para pecinta sepakbola. Polemik wasit belum usai, kini giliran penentuan juara yang menjadi pusat perhatian. Bhayangkara FC dinobatkan menjadi juara Liga 1 2017. Kepastian tersebut didapat setelah Bhayangkara FC unggul atas pesaingnya Bali United yang bertengger di posisi kedua. Klub berjuluk The Guardians itu unggul agregat dari dua pertemuan kontra Bali United meski di klasemen memiliki poin yang sama yaitu 68 poin. Namun, terjadi kontroversi juara Bhayangkara. Pada saat melawan Mitra Kukar yang berkesudahan imbang 1-1, Bhayangkara mengajukan banding dengan alasan Mitra Kukar memainkan pemain ilegal yakni Mohammed Sissoko yang sebelumnya mendapatkan hukuman sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Hasil putusan pun, Bhayangkara menang dengan skor 3-0 dan membuatnya naik kepuncak klasemen menggeser Bali United. Ini yang menjadi perdebatan para tim, khususnya Bali United dan PSM Makasar yang bersaing dalam perebutan gelar juara. Di laga terakhirnya, Bhayangkara memastikan juara Liga 1, meski kalah dari Persija Jakarta dengan skor 1-2. Bhayangkara yang sudah dipastikan juara, menjadi gonjang ganjing. PT LIB (Liga Indonesia Baru) belum memastikan Bhayangkara FC juara Liga 1 Indonesia. Tak hanya itu, laman resmi FIFA pun, secara mengejutkan mengeluarkan klasemen yang menyatakan Bali United FC yang menjadi juara di Liga 1 Indonesia. Namun, pada akhirnya FIFA merubah laman tersebut dengan menyatakan Bhayangkara FC sebagai juara Liga 1. … Read more

PSSI Luncurkan Buku Tentang Pembinaan Sepakbola Di Indonesia

danurwindo-01-ist_a39582e

PSSI merilis buku tentang pembinaan sepakbola di Indonesia. Buku yang memiliki 166 halaman ini berisikan tentang sejarah sepakbola di Indonesia dan cara membina pemain-pemain muda dari usia 6 hingga 19 tahun. Buku ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk membangun sepakbola di Indonesia. Peluncuran buku yang dilaksanakan pada 9 November lalu diselenggarakan di Kantor PSSI, Grand Rubina, Kuningan, Jakarta Selatan. Direktur Teknis PSSI yang menjadi salah satu penulis, Danurwindo menuturkan ajakan kepada seluruh pihak untuk membangun dan peduli terhadap sepakbola Indonesia. “Kami mengajak semua pihak yang peduli dengan sepakbola di Indonesia untuk bersama-sama menyebarkan buku ini. Sehingga tercetak banyak pelatih berkualitas untuk mendidik lebih banyak pemain muda, dan akhirnya akan membentuk tim nasional Indonesia seperti yang kita harapkan,” tutur Danurwindo. Buku tentang pembinaan sepakbola di Indonesia yang memiliki 6 bab ini, akan menjelaskan bagaimana melakukan latihan yang baik sesuai dengan umur para pemain. Danurwindo juga berharap para pelatih dapat menerapkan pola latihan yang baik agar perkembangan pemain akan maksimal dan pemain dapat mengambil keputusan dalam sepakbola, tidak hanya mengandalkan skill. “Pemain sekarang ini tidak hanya harus punya skill yang bagus, tapi juga cerdas. Mereka harus belajar aksi-aksi sepakbola dengan mengambil keputusan yang tepat,” ucap Danurwindo. Buku ini juga sudah mulai disosialisasikan dalam kursus pelatihan lisensi D dan sudah menjangkau ratusan pelatihan akademi dan sekolah sepakbola sejak awal tahun 2017. PSSI berencana akan memprioritaskan guru SMP secara bertahap dan akan di mulai pada 12 November 2017 kepada 90 guru di Sawangan Depok. PSSI akan tetap melakukan kerja sama kepada berbagai pihak akan buku tentang pembinaan sepakbola di Indonesia ini dapat cepat menyebar luas ke seluruh Indonesia.(put/adt)

Kamu Harus Tahu, Tiga Tokoh Olahraga Ini Juga Pahlawan Bangsa

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan di Indonesia. Tahukah kamu perjuangan para pahlawan bangsa bukan hanya untuk melawan gerakan penjajah yang hadir di dunia diplomasi dan pemerintahan. Namun, perjuangan pahlawan itu juga hadir dalam dunia sepak bola. Nah, artikel kali ini akan membahas tokoh pahlawan Indonesia di dunia sepak bola yang pasti belum kamu ketahui… Menurut lansiran dari bola.com, dahulu saat Indonesia masih terjajah, sepak bola menjadi alat membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat. Perlawanan dari lapangan hijau pun bermacam-macam loh. Salah satunya dengan membentuk Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI) di Mataram pada 19 April tahun 1930. PSSI didirikan untuk menyaingi klub-klub bentukan Belanda yakni NIVB atau NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie). Teguhnya pendirian tim PSSI, Hingga saat Piala Dunia 1938 berlangsung, PSSI pun ikut mengirimkan pemain-pemain pribumi yang mewakili nama Indonesia. Perlawanan anak bangsa lewat jalur sepak bola telah memunculkan nama sejumlah tokoh. Mereka sebagai pahlawan bangsa yang punya peran masing-masing dalam melawan penjajah. Tentunya melawan lewat kiprah mereka di lapangan. Ini dia 3 tokoh sepak bola Indonesia yang ikut memperjuangkan Indonesia versi lansiran dari bola.com: Soeratin Soesrosoegondo Berlatar belakang bukan dari dunia sepak bola bagi pria kelahiran Yogyakarta ini. Semasa muda, Soeratin menempuh pendidikan sekolah teknik di Jerman. Meski lulusan dari sekolah Jerman, semangat membela tanah air dan mengusir penjajah tetap tertanam di jiwa raga Soeratin.  Sumpah Pemuda 1928, Ia membuat suatu perlawanan dengan membentuk organisasi PSSI pada tahun 1930. Ini merupakan satu cara membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Indonesia dalam sepak bola. Kemudian, Soeratin terpilih jadi ketua umum PSSI pertama. Maulwi Saelan Saat tahun-tahun awal bangsa Indonesia merdeka, namanya mencuat. Maulwi berhasil memperkuat timnas Indonesia melawan Uni Soviet pada Olimpiade Melbourne 1956. Tak sampai disitu, Maulwi juga berhasil meraih medali perunggu di Asian Games 1958 dan melaju ke semifinal Asian Games 1954. Kiprahnya begitu gemilang dalam dunia sepakbola, mengharumkan nama bangsa Indonesia di kanca Internasional. Di luar kiprah gemilang tersebut, ternyata Maulwi juga gemilang di bidang militer, Ia ikut angkat senjata melawan penjajah.  Tercatat, Ia pernah melawan Belanda antara lain penyerbuan markas NICA di Makassar pada 1945. Hingga Maulwi masuk sebagai anggota pasukan pengamanan presiden pada 1962. “Pengawal setia Presiden Soekarno” Raden Maladi Maladi tercatat aktif memperkuat sepak bola Indonesia hingga 1940. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI 1950-1959. Sementara di ranah politik, Menteri Pemuda dan Olahraga (1964-1966). Maladi tidak hanya berjuang di lapangan hijau. Seperti halnya Maulwi dan Soeratin, Maladi juga ikut angkat senjata mengusir penjajah. Salah satunya saat Pertempuran Empat Hari di Solo. Maka itu, tahun 2003 kota Solo menyematkan nama Raden Maladi ke Stadion legendaris, Stadion Sriwedari untuk menghormati pria yang wafat 30 April 2001 tersebut.   Itulah ketiga tokoh pahlawan bangsa Indonesia di lapangan hijau. Ternyata perjuangan mengharumkan nama bangsa sudah dilakukan oleh para tokoh terdahulu. Sekarang saatnya generasi muda Indonesia, untuk semangat dan bangkit meraih kemenangan di setiap laga. Semua itu atas nama “Indonesia” Selamat Hari Pahlawan!

Warga Cisauk Ciptakan Kompetisi Sepakbola U-12, Sebagai Ajang Seleksi Untuk Tingkat Asprov

Anak-anak usia grassroot antusias mengikuti kompetisi sepakbola yang digelar oleh warga Cisauk, Kabulaten Tangerang.

Geliat sepakbola Indonesia kembali meningkat. Setelah hukuman Indonesia dicabut oleh FIFA, kini masyarakat Indonesia mulai disuguhkan beberapa Kompetisi Sepakbola pertandingan timnas Indonesia di level Internasional. Tak hanya itu, masyarakat Indonesia mulai berbondong-bondong menggelar turnamen untuk usia grassroot yakni usia 6 hingga 12 tahun. Masyarakat Indonesia ingin membantu mencetak bibit-bibit pemain yang dapat membela Timnas Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh warga Cisauk, Kabupaten Tangerang yang menggelar Kompetisi Sepakbola U-12. Kompetisi ini merupakan ajang tahunan dan sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-89. Antusias tim serta anak-anak yang berlaga membuat kompetisi ini menjadi ajang pencarian bakat. Ari Eka yang juga menjabat sebagai manager Sinyal FC mengatakan, bahwa kompetisi sepakbola ini sudah rutin digelar. “Pertandingan ini merupakan kali kedua dalam agenda tahunan. Persiapan tiap tahun biasanya dimulai dari usia 10, 11 dan 12 untuk selanjutnya akan terus diseleksi kembali,” ujar Ari. Lanjutnya, ajang tahunan ini, sudah memiliki prospek kedepannya akan seperti apa. Nantinya, para pemain akan dipantau dan akan masuk ke Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Banten. “Sebenarnya dari pertandingan tahunan ini, kita memiliki rencana dari Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang untuk menyeleksi para pemain dari setiap tim yang nantinya bisa masuk ke Asprov PSSI sekitar 5 sampai 6 orang,” tutur Ari. Dari pertandingan tersebut pihak penyelenggara berharap kedepannya anak-anak didiknya dapat mengikuti seleksi Nasional dan pastinya agar lebih sabar untuk membentuk bibit baru yang akan dibentuk. (pah/adt)

Timnas Indonesia U-16 Akan Uji Kekuatan di Turnamen Vietnam

Pesepak bola Timnas Indonesia U-16 setelah berhasil mencetak gol ke gawang Timnas Singapura U-16. Foto: ANTARA

⁠⁠⁠Timnas Indonesia U-16  makin menuain hasil yang mengagumkan di tingkat uji coba internasional. Pasukan arahan Fakhri Husaini itu sebelumnya telah sukses menghentikan langkah Singapura 4-0 pada uji coba Kamis (8/6) di Stadion Wibawamukti Cikarang. begitu juga dengan Filipina dengan jumlah skor yang sama. Selain sudah melalui uji coba internasional, sudah lima kali uji coba lokal yang dijalani para Garuda muda. Empat dari lima pertandingan itu menghasilkan kemenangan. Dua di antaranya mereka mengalahkan Villa 2000 U-17 dan tim PPLP DKI Jakarta. Dengan hasil sangat membanggakan itu, PSSI memperkuat keinginannya agar Althaf Indie Alrizky dan kawan-kawan akan diikutsertakan pada turnamen internasional U-15 di Vietnam pada 14-18 Juni 2017. Berdasrkan rilis PSSI yang dilansir dari Antara, 22 pemain asuhan Fakhri akan dikirim ke Vietnam untuk mengikuti turnamen tersebut sebagai bagian dari rentetan tour uji coba internasional mereka. Timnas U-16 akan ikut berlaga di ajang Piala AFF U-15 di Thailand pada waktu yg akan datang. Rencananya petandingan akan di selenggarakan pada 9 Juni sampai 2 Juli 2017. Indonesia tergabung dalam Grup A bersama Australia, Thailand, Laos, Myanmar dan Singapura. Berikut adalah daftar 22 Pemain Timnas U-16 yang diboyong ke Vietnam, yaitu: Kiper: Ahluzd Dzikri Fikri (Jawa Barat) dan Hafiz Fauzan Muzaki (Sumatera Barat) Belakang: Mochammad Yudha Febrian (DKI Jakarta), Muhammad Uchida (DKI Jakarta), Liba Valentino Imwahyusyah (Jawa Timur), Muhammad Reza Fauzan (Aceh), Ahmad Rusadi (Kalimantan Timur), Amirudin Bagas Kaffa Arrizqi (Jawa Tengah) dan Mifthakul Septa Anjar Pradika (Jawa Tengah) Tengah: Hamsah Lestaluhu (Tulehu), David Maulana (Sumatera Utara), Kartika Vedayanto Putra (Jawa Tengah), Brilyan Negietha Dwiki Aldana (Jawa Timur) serta Fadillah Nur Rahman (Sumatera Barat) Depan: Rendy Juliansyah (DKI Jakarta), Amirudin Bagus Kahfi Alfikri (Jawa Tengah), Yadi Mulyadi (Jawa Barat), Andre Oktaviansyah (DKI Jakarta), Sakra Yatul Fajra (Jawa Barat) dan Althaf Indie Alrizky (DKI Jakarta)