Timnas Putri Minim Lawan Uji Tanding, Akhirnya Diadu Pelatih Kursus Lisensi B

Timnas Putri akan menghadapi tim pelatih kursus Lisensi B AF, sebagai lawan uji coba. (bola.com)

Jakarta- Kondisi pemain seleksi Timnas Senior Putri saat ini sudah memasuki fase persiapan eliminasi skuad. Pelatih Timnas, Satia Bagja memastikan jika beberapa nama sudah mulai disaring. “Proses pemilihan pemain sudah mulai dilakukan. Secara bertahap, lima pemain akan tereleminasi tiap pekan. Itu rencana yang sedang kami siapkan saat ini,” tutur Satia pada Jumat (9/3), Camp National Youth Training Camp (NYTC), Sawangan. Sejak Selasa (6/3), 40 pemain telah melewati 7 sesi latihan ketat secara simultan. Mulai dari fisik, teknik hingga taktik bermain. Lantaran tingginya tingkat intensitas latihan, beberapa pemain mengalami kesulitan. “Selama ini, mereka memang tidak pernah bertemu dengan program latihan yang rutin. Jadi, wajar kondisi mereka saat masuk TC ini mengalami penyesuaian yang luar biasa,” tukas pria berambut putih ini. Tak memiliki klub permanen dan aktif dalam kompetisi, menyebabkan beberapa pemain mengalami problem seperti mudah lelah, hingga kram kaki akut saat melakukan games. Hal ini juga dipahami Satia. “Sengaja tim pelatih menggeber simulasi latihan yang memainkan situasi pertandingan. Supaya mereka terbiasa dalam menghadapi pertandingan yang sesungguhnya. Maklum, jam terbang mereka ini rata-rata minim,” tegas sosok yang dekat dengan Rahmad Darmawan ini. Selain jarang tampil bertanding secara periodik, Timnas Putri juga kesulitan mencari lawan latih tanding. Tak adanya klub sepakbola putri yang berkualitas, memaksa tim pelatih menyiapkan skema melakukan uji coba melawan Sekolah Sepak Bola (SSB) Putra. Selain itu, pada Sabtu (10/3) pagi, Laskar Srikandi Indonesia yang akan turun di event Asian Games 2018 dan Piala AFF Wanita ini disiapkan menantang rombongan tim Pelatih yang tengah melakukan kursus pelatih lisensi B AFC di NYTC. “Ya itu, karena belum ada lawan yang siap, kami memilih akan menjajal tim pelatih kursus sebagai lawan uji coba,” sebut Benny Van Breuklen, pelatih kiper Timnas Putri. (Dre)

Seleksi Timnas Putri Banyak Usia 19 Tahun, Legenda Indonesia Beri Catatan Khusus

Rahma Wulan (depan), salah satu striker dalam seleksi Timnas Putri Indonesia. (bola.com)

Jakarta- Pelatih Timnas Putri Indonesia, Satia Bagdja, secara bertahap mulai menekankan tentang latihan organisasi permainan serta penguasaan bola yang diberikan pada peserta seleksi. “Ini masih tahap seleksi. Cuma pengenalan taktik dan formasi saja serta mengutamakan penguasaan bola. Postur pemain rata-rata kecil dan ini kelebihannya. Kita punya agility dan kecepatan,” ungkap Satia pada Rabu (8/3) di di kamp pelatihan National Youth Training Centre (NYTC) Sawangan, Depok, Jawa Barat. Namun, di awal pekan tahap seleksi Timnas Putri, masih terkendala adaptasi bermain dan status di klub yang tidak permanen, sehingga jarang latihan. Hal ini disampaikan Papat Yunisal, manajer Timnas Putri Indonesia. “Proses adaptasi antara satu pemain dengan yang lain, masih jadi prolem. Belum lagi status di klub yang tidak permanen, jadi menyesuaikan dulu dengan pola latihan Timnas”, ungkap Papat yang rutin mendampingi proses seleksi ini. Papat menambahkan dengan rataan usia pemain di angka 19 tahun, maka pengamalan berlatih dan bermain dalam tensi tinggi, tentu ini menjadi catatan. Mantan pelatih sepak bola putri Timnas Indonesia, Rully Nere yang hadir di sela-sela latihan pada Selasa (6/3) sore, amat mengkritisi soal ini. “Saran saya, materi timnas kali ini untuk pemain usia muda ya ditahan dulu. Kalau latihan atau seleksi, memang bagus untuk mental. Tapi untuk masuk timnas, terutama untuk event seperti Asian Games dan Piala AFF Wanita 2018, ya nanti dulu,” tegas pria asal Sentani, Papua ini. Ia mengkhawatirkan kondisi psikis pemain muda mudah down, jika bertemu dengan negara lain yang punya jam terbang dan prestasi mapan, seperti Australia, Jepang atau Korea Selatan. “Idealnya, komposisi pemain timnas senior itu usia yang 23 tahun ke atas, supaya mental bermain juga terjaga. Di level sepakbola putri, pengalaman itu salah satu bekal yang utama membangun tim,” tegasnya. (Dre)

Jadwal Piala AFF Wanita 2018 Maju, Timnas Putri Gelar Seleksi Lebih Cepat

Mitra Nur Fajriana (rompi oren) dalam seleksi Timnas Putri Indonesia di Sawangan. (bola.com)

Sawangan- Timnas Putri Sepak Bola Indonesia resmi menyeleksi pemain, yang dimulai Selasa (6/3) pagi, di kamp pelatihan National Youth Training Centre (NYTC) Sawangan, Depok, Jawa Barat. Seleksi dilakukan sebagai persiapan untuk menghadapi event Asian Games dan AFF Womens Championship (Piala AFF Wanita) 2018. Seleksi diikuti 40 pemain dan berlangsung selama satu bulan hingga 5 April mendatang. Pelatih Satia Bagdja dibantu Alex sebagai asisten pelatih, dan Beny Van Breukelen sebagai pelatih kiper. Satia Bagdja, mengaku terkejut dengan peforma pemain yang mengikuti seleksi. “Sangat surprise, karena banyak pemain yang ngerti teknik bola dibandingkan yang dulu. Tapi kita masih menunggu beberapa pemain dari Papua”, kata Satia, Selasa (6/3). Satia juga memastikan bila program saat ini fokus untuk seleksi dan pemusatan latihan. “Kami harus mengejar waktu. Karena agenda Piala AFF, jadwalnya maju dari 1 Mei sampai 10 Mei, yang awalnya akan berlangsung bulan Juni,”, tambahnya. PSSI menargetkan Timnas Putri bisa menembus 10-besar Asian Games dan semifinal di Piala AFF Wanita 2018. Sebagai tuan rumah, Indonesia tak ingin prestasi Timnas Putri terpuruk di dua ajang itu. “Ada 40 pemain yang masuk list. Mereka berasal dari turnamen Women’s Football Road To Asian Games Piala Pertiwi yang dilaksanakan PSSI di Palembang, Desember 2017. Selain itu, ada juga dari pengamatan tim pelatih,” beber manajer Timnas Putri Indonesia, Papat Yunisal, pekan lalu. “Seleksi dilakukan, sebelum memasuki program pemusatan latihan (TC). Pelatih sudah punya program untuk Piala AFF Wanita 2018 dan Asian Games. Dalam setiap TC kami agendakan uji coba,” imbuh Papat yang juga menjabat sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Menilik ke belakang, timnas sepak bola perempuan Indonesia sebetulnya pernah disegani di level Asia. Prestasi terbaik mereka kala menjadi semifinalis pada Piala Asia 1977 dan 1986. Sayang, perlahan prestasi sepak bola kaum hawa Indonesia meredup. Ditengarai, salah satu penyebabnya adalah pembubaran pengurus Liga Sepak Bola Wanita (Galanita) pada 1993. (Dre) 40 Pemain Seleksi Timnas Putri Indonesia Kiper 1. Riska Yulianti (Babel) 2. Norvince Boma (Papua) 3. Vera Lestari (DIY) 4. Debi Puspita (Sumsel) Belakang 6. Sherly Eka (Babel) 7. Novia Jigibalon (Papua) 8. Dopimina Kogoya (Papua) 9. Nurlaili Khomariyah (Sumsel) 10. Arynda C Rahmawatie (Sumsel) 11. Een Sumarni (Jabar) 12. Ela Wati (Kalbar) 13. Prihatini (Banten) 14. Iyya Lovista (Banten) 15. Sri Devi CB (Jakarta 69) Tengah 16. Ade Mustika (Babel) 17. Rani Mulyasari (Babel) 18. Rulin Aspalek (Papua) 19. Regina Wonda (Papua) 20. Dwi Aprilia (DIY) 21. Jesica Virginia (Sulsel) 22. Dhanielle Daphne (Jabar) 23. Susi Susanti (Kalbar) 24. Mepi Pia (Kalbar) 25. Carlo Bio Pattinasarani (Banten) 26. Mitha Nurfajriana (Sulsel) 27. Risqiyanti (Jateng) 28. I Dewa Ayu Ratnasari (Bali) Depan 29. Vivi Oktavia Riski (Babel) 30. Yudith Herlina (Papua) 31. Feibe Pekey (Papua) 32. Riski Amalia Putri (Sumsel) 33. Risna Delila Putri (Jabar) 34. Ria Ristiani (Jabar) 35. Tugiyati, (Kalbar) 36. Syenida Meryfandia (Kalbar) 37. Ayu Risky (Persab Brebes) 38. Jasmine Martina (Pro Direct Academy) 39. Zahra Musdalifah (Banten) 40. Rahma Wulan Aprilita (Jaya Kencana Angel)

Apresiasi Potensi Atlet, SKO Ragunan Pantau SSB Ke Tulehu di Maluku

SKO Ragunan melakukan pemantauan bibit muda di Kampung Bola Tulehu, Maluku. (net)

Jakarta- Pemerintah berperan aktif dalam melakukan pembinaan terhadap talenta muda. Hal itu dilakukan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, dengan memantau langsung terhadap 10 Sekolah Sepak Bola (SSB) di wilayah Asosiasi PSSI Provinsi Maluku dan 1 Pendidikan dan Latihan (Diklat) Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Maluku. Rudi Alaidin, Kepala Sub Bidang Pengembangan SKO Ragunan, menjelaskan program pemantau yang dilakukan bersama Asosiasi PSSI Provinsi Maluku merupakan bentuk apresiasi terhadap daerah yang memiliki potensi besar bibit sepak bola. Selain itu, lanjutnya, dipilihnya Maluku karena memiliki kontribusi bagi tim nasional (Timnas) Indonesia. Sebab, tambah Rudi, setelah era Abduh Lestaluhu (pesepak bola nasional), tak ada lagi perwakilan Indonesia Timur di SKO Ragunan. “Kendala lain yakni minimnya dana yang dimiliki daerah dan orang tua untuk mengirimkan anaknya mengikuti seleksi nasional SKO Ragunan di Jakarta. Ini juga salah satu alasan kami melakukan pemantauan secara langsung ke Maluku,” beber Rudi, akhir pekan lalu. Senada, Pura Darmawan, Kepala Bidang SKO Ragunan, mengatakan berdasarkan alasan tersebut pihaknya melalui Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Olahraga Ragunan memantau bibit muda di Maluku. “Calon atlet yang terpilih dari pemantauan ini dianggap mampu untuk ikut bersaing pada saat seleksi nasional SKO Ragunan April mendatang di Jakarta,” tukasnya. Pemantauan dilaksanakan selama 2 hari, yakni 3-4 Maret 2018 di lapangan Matawaru Tulehu, Maluku. Dari 10 SSB, terdapat 90 pemain yang datang dari berbagai daerah di wilayah Maluku serta 1 Diklat PPLP Maluku. (Adt)

Coret Satu Pemain, Ini Skuat Timnas U-16 Ke Jepang

Timnas U-16 mencoret satu pemain jelang mengikuti turnamen di Jepang. (PSSI.org)

Jakarta- Timnas U-16 siap tampil dalam event Jenesys di Jepang pada 6-15 Maret 2018. Para pemain dan tim pelatih beserta ofisial dijadwalkan bertolak ke Jepang pada Senin (5/3), pukul 23.00 WIB. Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini, pun sudah menetapkan 17 pemain yang dibawa ke Jepang. Penetapan dilakukan usai pelatnas tahap kedua pada akhir Februari. Selama pelatnas timnas U-16 menggelar 3 uji coba. Dua diantaranya diraih dengan kemenangan dan hanya satu kali mengalami kekalahan. Timnas U-16 kalah dari Diklat Ragunan U-17, skor 2-3, berikutnya Persija Barat U-17 dikalahkan 9-0. Terakhir Akademi Babek U-17 dihajar 8-0 “Dalam TC tahap kedua ini, saya merasa pemain sudah siap untuk mengikuti Jenesys. Dari segi pemahaman taktik, teknik, fisik dan mental para pemain sudah bagus,” kata pelatih timnas U-16, Fakhri Husaini. Dari sekian banyak pemain, salah satu yang tak dibawa adalah Amanar Abdillah. Pemain asal Aceh itu gagal berangkat karena mengalami cedera. Dokter timnas U-16, Dicky Muhammad Shofwan, memberi penjelasan terkait Amanar. “Dia mengalami sedikit masalah. Otot hamstring yang tertarik, walaupun ringan, harus dirawat segera untuk mengurangi pembengkakan dan mempercepat penyembuhan,” ujar Dicky. Atas rekomendasi dokter, Fakhri memutuskan mengistirahatkan Amanar. “Kondisi Amanar sulit untuk berangkat, karena mengalami cedera. Menurut dokter dia harus menjalani perawatan. Saya tidak mau ambil risiko,” ujarnya. “Saya katakan bagi pemain yang tak berangkat, jika perjalanan masih panjang. Bukan hanya di Jenesys. Mereka masih punya kesempatan di dua turnamen lagi, Piala AFF U-15 dan Piala Asia U-16 di tahun ini. Jadi jangan berkecil hati,” tutup Fakhri. (Dre) Skuat Timnas U-16 Kiper Ahludz Dzikri Fikri, Ernando Ari Sutaryadi Belakang Ahmad Rusadi, Fadillah Nur Rahman, Muhammad Reza Fauzan, Amiruddin Bagas Kaffa, Muhammad Salman Alfarid, Mochamad Yudha Febrian Tengah David Maulana, Komang Teguh Trisnanda, Brylian Aldama, Rendy Juliansyah, Hamsa Lestaluhu, Mochammad Supriadi, Andre Oktaviansyah, Yadi Mulyadi Depan Sutan Zico

Menang Telak, Timnas U-16 Tutup Persiapan Jelang Turnamen Jenesys

Timnas U-16 Tutup Persiapan Jelang Turnamen Jenesys di Jepang pekan ini. (pssi.org)

Jakarta- Selesainya TC tahap kedua Timnas U-16 ditutup dengan manis. Timnas U-16 meraih kemenangan telak 8-0 pada laga uji coba melawan tim Akademi Babek U-17 di Stadion Atang Sutresna, Komplek kopassus, Jakarta Timur, Minggu (4/3). Gol diciptakan melalui aksi Rendy Juliansyah, Zidane Pramudya, Muhammad Fajar, Yadi Mulyadi, Hamsa Lestaluhu, dan Brylian Aldama. Sementara dua gol lainnya diciptakan oleh Sutan Zico. Fakhri Husaini, arsitek Timnas U-16 mengaku puas dengan performa anak asuhnya pada hari ini. “Ini hasil positif. Lawan memberikan tekanan pada tiga menit awal pertandingan. Namun pemain bisa melakukan apa yang dikerjakannya selama ini di pemusatan latihan dengan langsung mencetak gol”, kata Fakhri, pada Minggu (4/3). Meskipun TC Timnas U-16 sudah berakhir yang dilaksanakan selama dua pekan, kini Brylian Aldama dan kolega fokus pada turnamen Jenesys yang berlangsung di Jepang pada tanggal 6-15 Maret. Rencananya, pada Senin (5/3) malam punggawa Timnas U-16 siap berangkat dengan pesawat garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Pelatih kelahiran Aceh tersebut juga mengatakan timnya sudah siap tampil di turnamen Jenesys pasca menjalani pemusatan latihan. Nantinya, para pemain tak hanya sekadar bertanding saja, melainkan juga diselingi oleh kegiatan pertukaran budaya di Jepang. (Dre)

Ditunggu Tiga Event Berdekatan, Timnas U-16 Butuh Pelapis Tim Utama

Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini memberi instruksi pada anak asuhnya. (net)

Jakarta- Pada 2018, Timnas U-16 dibawah asuhan Fakhri Husaini akan mengikuti tiga event yakni turnamen Jenesys di Jepang bulan Maret, Piala AFF U-15 pada Juli hingga Agustus dan Piala AFC U-16 di Malaysia saat September mendatang. Padatnya agenda yang diikuti, membuat Fakhri harus mencari pemain segar guna melengkapi skuad terbaiknya dan akan melakukan pemusatan latihan kedua yang akan digelar pada akhir Februari. “Rencananya pemusatan latihan periode kedua akan kami adakan pada pekan ketiga Februari 2018. Kami masih terus mencari pemain baru lagi karena saya belum mendapatkan pemain untuk melapisi tim utama,” ujar Fakhri Husaini seperti dikuti bola.com. Dalam pemusatan latihan tahap kedua ini, Fakhri hanya memanggil 25 nama pemain. Berbeda pada sebelumnya, di pemusatan latihan tahap pertama yang memanggil 30 nama pemain. “Kami akan memanggil 25 pemain pada TC tahap kedua ini. Untuk nama-nama pemain, kami akan rilis secepatnya. Saat ini saya dan tim pelatih masih memastikannya terlebih dahulu,” lanjutnya. Adapun di pemusatan latihan tahap kedua ini, Fakhri sudah menentukan apa saja yang akan menjadi porsi latihan bagi 25 pemain yang dipanggil. Yakni meliputi empat aspek, yaitu fisik, teknik, taktik, dan mental. “Empat materi akan terus kami latih dan perbaiki dalam TC tahap dua. Saya ingin pemain bisa punya pemahaman karena ini merupakan salah satu fondasi penting dalam persiapan kami mengikuti beberapa ajang pada tahun ini,” ujar Fakhri. (pah)

Indra Sjafri Blusukan Survey Stadion, Askot PSSI Tangerang : Belum Pasti Latih Persikota

Indra Sjafri, saat mengunjungi Markas Persikota berlatih pada Senin kemarin. (net)a

Tangerang– Mantan pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri, pada Senin (22/1) melakukan kunjungan ke dua Stadion di kawasan Tangerang. Agenda itu adalah untuk memberi rekomendasi venue latihan untuk Persikota Tangerang. Menurut Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Tangerang, H. Kosasih mengatakan dirinya menemani pelatih berumur 54 tahun itu berkeliling dan mengecek persiapan dua Stadion. Dari tinjauannya Indra lebih tertarik pada Stadion Yonif 203 Jatiuwung, daripada Stadion Benteng. “Kekurangan Stadion benteng, karena suasana lapangan kurang pas untuk latihan, dan belum ada sarana serta fasilitas yang mendukung. Di Yonif 203, ada mes dan pelatihan fisik,” ujarnya pada Senin (22/1). Terkait Status Indra yang disebeut-sebut akan menukangi Persikota, dirinya tak berbicara banyak. Dia hanya mengungkapkan hal itu baru wacana saja dan Indra pun belum memberi sinyal positif pada Manajemen tim. “Dia (Indra) mengaku belum pasti, baru wacana dan diserahkan ke manajemen Persikota. Tinjauan lapangan itu memantau sarana latihan anak-anak Persikota,” katanya. Kosasih sebenarnya senang, andai arsitek yang membawa Indonesia juara di piala AFF 2013 itu jadi mengasuh Persikota. “Sepertinya itu, cuma belum ada kepastian, Indra juga bilang itu tergantung manajemen. Secara pribadi, andai Indra ke Tangerang unutk melatih Persikota, ya sangat bangga buat saya,” tandasnya.

Terkait Larangan Pemain Berkarir Di Luar Negeri, AFC Akan Selidiki PSSI

Evan-Dimas-yang-sudah-dikontrak-Selangor-FC

Sepertinya, PSSI tidak ada kapok-kapoknya mencari masalah. Kasus di banned oleh FIFA, tak membuat PSSI banyak belajar. Kali ini, terkait komentar Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang melarang Evan Dimas dan Ilham Udin bermain di Selangor FC, Malaysia. Terkait komentar tersebut, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) akan menyelidiki PSSI. Melalui Sekjen AFC, Datuk Windsor Paul John, AFC akan terus mengkaji dan menyelidiki kebijakan yang terlontar dari Ketum PSSI. “Berdasarkan kabar yang beredar, aksi (pelarangan) tersebut lebih kepada pemain Indonesia untuk memperkuat tim nasional mereka. Saya pikir itu tergantung kepada sang pemain untuk memutuskan. Namun, tidak ada tindakan yang bisa dilakukan saat ini karena baru diajukan,” ujar Datuk Windsor Paul John seperti dilansir Berita Harian. Kalaupun, ada regulasi tentang larangan pemain AFC akan melihat dan mempelajarinya. Karena, pemain bebas untuk menentukan pilihan klub dan bebas untuk bermain di Liga manapun. “Jika regulasi tersebut sedang diatur (oleh PSSI), AFC harus terlebih dulu melihat apa arti dari regulasi tersebut dan jika terbukti melanggar peraturan FIFA dan AFC, kami dapat memulai penyelidikan karena pemain bebas untuk bermain di klub mana pun dan di negara mana pun,” lanjutnya. Apalagi Evan dan Ilham yang sudah diikat kontak, tak menunjukan batang hidungnya di tim yang pernah juga dibela Bambang Pamungkas dan Eli Eboy yakni Selangor. Selangor FA akan mengambil tindakan dalam kasus ini. Ditambah, Selangor ingin langsung bertemu dengan PSSI terkait kasus ini. (pah)

Inilah Enam Klub Sepakbola Tertua Yang Ada Di Indonesia

Enam-Klub-Sepakbola-TertuaDi-Indonesia-1

Sepakbola merupakan salah satu olahraga favorit di Indonesia. Permainannya yang terbilang cukup mudah dipelajari, membuat sepakbola banyak diidamkan. Sejumlah klub sepakbola di Indonesia saat ini sudah banyak yang mencetak prestasi yang membanggakan. Tak hanya itu, berbagai keahlian pemain juga patut diacungi jempol. Namun, apakah kamu tahu bahwa beberapa klub sudah berdiri sejak sebelum masa kemerdekaan Indonesia? Apa saja klub-klub tersebut? Berikut tim Nysnmedia.com merangkum 6 klub sepakbola tertua di Indonesia. PSM Makassar Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) merupakan tim sepakbola tertua yang didirikan di Indonesia. Klub yang pada awalnya bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) berdiri pada tanggal 2 November tahun 1915. PSM Makassar pertama kali menjuarai perserikatan pada tahun 1957 saat melawan PSMS Medan.  PSM Makassar pernah menjuarai perserikatan serta mendapatkan peringkat runner-up di era sepak bola professional. Tim ini pernah mencatat prestasi yang mengesankan ketika mengumpulkan sejumlah pemain tim nasional yang bahkan disebut sebagai “The Dream Team” seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, Miro Baldo Bento, Kurniawan Dwi Julianto, yang dikombinasikan dengan pemain asli Makassar seperti Ronny Ririn, Syamsudin Batola, Yusrifar Djafar, dan Rachman Usman, ditambah Carlos de Mello, dan Yosep Lewono. Salah satu klub elit di Indonesia ini dikenal memiliki beberapa kelompok suporter fanatik yang jumlahnya cukup banyak. Terdiri dari sekitar 16 kelompok supporter. Namun, yang terkenal sangat fanatik adalah The Macz Man. PPSM Magelang Perserikatan Paguyuban Sepak Bola Magelang berdiri pada 15 Maret 1919. Pada awalnya, tim yang berbasis di Magelang, Jawa Tengah ini memiliki nama Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM). IVBM adalah salah satu tim yang ikut mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tanggal 19 April 1930. Prestasi terbaik yang pernah diraih PPSM Magelang adalah pada era sebelum kemerdekaan yaitu menjadi juara ke-3 pada tahun 1935. Dalam perjalanannya di Liga, PPSM Magelang juga mempunyai kelompok supporter yang sangat fanatik. Mereka adalah Simolodro Magelang dan Squarda Macan Tidar. Keduanya selalu setia mengawal PPSM Magelang baik di laga Kandang maupun Tandang. Persis Solo Persatuan Sepak bola Indonesia Solo (Persis Solo) bermarkas di Stadion Manahan Solo yang memiliki kapasitas 35.000 orang. Persis Solo berdiri pada 8 November 1923 yang dinaungi oleh Sastrosaksono dan Sutarman dengan nama Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB). Berselang 5 tahun, VVB berganti nama menjadi Persis pada tahun 1928. Persis pernah meraih juara kompetisi perserikatan PSSI sebanyak 7 kali. Pendukung Persis dijuluki sebagai Laskar Samber Nyawa. Persebaya Surabaya Persebaya berdiri dengan nama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Ditahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era tersebut, Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi dan berhasil meraih gelar juara pada tahun 1950, 1951 dan 1952. Tahun 1960, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya).Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga mencetak pretasi membanggakan. Dua kali Persebaya menjadi juara pada tahun 1978 dan 1988, dan tujuh kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1987, dan 1990. Persebaya juga Sempat di bekukan oleh PSSI dan disahkan kembali oleh PSSI sebagai anggota di kongres tahunan PSSI di Bandung pada 8 Januari 2017 lalu. Persija Jakarta Tim dengan julukan Macan Kemayoran ini berdiri sejak 28 November 1928. Pada zaman Hindia Belanda, Persija berdiri dengan nama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ). Pasca masa kemerdekaan Republik Indonesia, VIJ berganti nama menjadi Persija (Persatuan sepak bola Indonesia Jakarta). Klub ini mendapatkan perhatian yang besar dari Mantan Gubernur Jakarta, Sutiyoso yang merupakan Pembina Persija. Supportenya diberi nama The Jakmania. PSIM Yogyakarta PSIM kependekan dari Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram. Nama Mataram diambil dari nama Kerajaan Mataram (Ngayogyakarta Hadiningrat) yang dahulu berpusat di Yogyakarta. Tim ini didirikan pada 5 September 1929 dengan nama awal Persatuan Sepakraga Mataram (PSM). Pada tanggal 27 Juli 1930 nama PSM diubah menjadi PSIM seperti yang dikenal sekarang. PSIM memiliki satu kelompok suporter yang bernama Brajamusti (Brayat Jogja Mataram Utama Sejati). Sebenarnya PSIM Sendiri sudah mempunyai nama supporter tersendiri pada tahun 1989 yaitu PTLM (Paguyuban Tresno Laskar Mataram). Namun, saat itu Indonesia masih minim perkumpulan nama suporter untuk tim-tim di Indonesia. Dalam kompetisi perserikatan, PSIM pernah menjadi juara pada tahun 1932 setelah mengalahkan Persija Jakarta. Selanjutnya PSIM berkali-kali hanya dapat menduduki peringkat kedua setelah kalah dalam pertandingan final kompetisi perserikatan pada tahun 1939, 1940, 1941, 1943, dan 1948. Itu dia tadi nama-nama klub sepakbola Indonesia yang sudah berlaga sebelum kemerdekaan Indonesia. Apa tim sepakbola Indonesia kebanggaan kamu?(put)

Kisah Inspirasi Dibalik Soeratin Cup dan Kontribusinya ke Tim Nasional Indonesia

soeratin2

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang dibentuk pada 19 April 1930 di Yogyakarta, merupakan organisasi olahraga yang dilahirkan pada zaman penjajahan Belanda. Ketua PSSI pertama yakni Ir. Soeratin Sosrosoegondo, belum banyak yang mengetahui, perjuangan Soeratin dalam memajukan perkembangan sepakbola di Indonesia. Pada masa itu Soeratin harus menentang pemerintahan Belanda. Pada 28 Oktober 1928 terdapat pertemuan pemuda Indonesia, moment ini sangat tepat bagi Soeratin untuk membangkitkan nasionalisme melalui sepakbola. Maka dari itu, Soeratin gencar melakukan pertemuan-pertemuan dengan para tokoh sepakbola di Indonesia. Butuh waktu yang lama bagi Soeratin untuk mengembangkan sepakbola bagi pemuda-pemuda Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 19 April 1930, berdirilah organisiasi PSSI yang diketuai oleh Soeratin sendiri. Setelah diangkat menjadi ketua, Soeratin langsung menyusun program untuk mengembangkan sepakbola. Dan, lahirlah kejuaraan sepakbola antar perserikatan untuk menentang pemerintahan Belanda. Soeratin yang melihat sepakbola Indonesia kian berkembang, menambah pondasi kuat dengan membuat badan olahraga nasional yakni ISI (Ikatan Sport Indonesia). Dari ISI lah lahirnya PON di Solo pada tahun 1938. Sepakbola Indonesia pada saat itu kian memuncak. Hanya satu yang menjadi tujuan utama Soeratin yakni membuat sepakbola Indonesia tidak dianggap pecundang di negara besar. Alhasil, Indonesia mampu unjuk gigi dikancah sepakbola dunia yakni Piala Dunia 1938. Kala itu Indonesia masih menggunakan nama East Indies. Para pemain sepakbola Indonesia, mampu bersaing dengan negara besar. Hingga pada akhirnya, Soeratin melepaskan jabatannya menjadi ketua PSSI pada tahun 1942, karena sudah melihat perkembangan sepakbola Indonesia mulai pesat. Dan, diteruskan oleh Artono Martosoewignyo. Saat itu, kehidupan Soeratin menjadi serba sulit. Meski sempat bekerja di perusahaan kontruksi dengan gaji yang besar. Namun, karena kecintaannya terhadap Indonesia dan sepakbola, ia tinggalkan pekerjaan itu. Alhasil pada tanggal 1 Desember 1959, Indonesia berduka. Soeratin wafat dalam keadaan ekonomi yang mengenaskan. Pada tahun 1965, PSSI yang diketuai Maulwi Saelan menggelar Soeratin Cup untuk mengenang bagaimana perjuangan Soeratin menyatukan pemuda-pemuda Indonesia untuk sepakbola. Dari Soeratin Cup situlah muncul talenta muda berbakat, seperti Adjat Sudrajat – PERSIB Bandung, Ronny Pasla – PSMS Medan dan Sutan Harhara dari Persija Jakarta. Dan, menjadikan Soeratin Cup sebagai ajang rutin. Soeratin Cup sempat terhenti akibat kisruh PSSI tahun 2012. Cukup lama terhenti, Soeratin Cup kembali bergulir pada tahun 2014 dengan batasan usia 17 tahun. Hasilnya, banyak pesepakbola muda yang bermunculan seperti Gian Zola, Maldini Pali, Febri Hariyadi dan masih banyak lagi pemain berbakat yang lahir dari Soeratin Cup. Dan, yang paling terbaru ada nama Egy Maulana Vikri, bintang timnas u-19. Egy yang membela Persab Brebes berhasil keluar sebagai juara dan Egy juga menjadi top skor. Terima kasih Ir. Soeratin Sosrosoegondo atas jasanya dalam memajukan sepakbola Indonesia. Jasa-jasa mu dalam sepakbola Indonesia tidak akan masyarakat Indonesia lupakan. Semoga, sepakbola Indonesia semakin hari-semakin baik. Dan, pembinaan usia muda berjalan dengan baik. “Soeratin Engkaulah Pahlawan Sepakbola Indonesia !!!”(pah/adt)

Seberapa Pentingkah Peran Pemain Naturalisasi Untuk Timnas Indonesia?

spasojevic

Indonesia dalam hal prestasi sepakbola memang masih belum menunjukan prestasinya yang luar biasa. Pada saat di era kepemimpinan Nurdin Halid tahun 2006, muncul sebuah ide gila untuk mengangkat prestasi sepakbola Indonesia muncul melalui proses naturalisasi. Namun, ide gila ini mendapat pertentangan dari berbagi kalangan, karena Nurdin Halid pada saat itu mengambil sembilan pemain Brazil usia 23 tahun untuk dijadikan pemain timnas Indonesia. Empat tahun berselang, tepatnya tahun 2010. Sistem naturalisasi pemain asing makin kencang. Tetapi, kali ini caranya lebih masuk akal. Diantaranya dengan pola menjadikan pemain asing yang sudah lama tinggal di Indonesia, untuk memeluk kewarganegaraan Indonesia. Produk unggulnya sebut saja Cristian Gonzales, menjadi pemain pertama yang diambil sumpahnya untuk menjadi WNI dan membela timnas Indonesia. Piala AFF menjadi ajang pembuktian, Gonzales di timnas Indonesia. Meski, di ajang AFF 2010 hanya menjadi runner-up, setelah di final kalah melawan Malaysia. Disana PSSI melihat ada peningkatan dalam prestasi, karena semenjak Gonzales bergabung di timnas Indonesia, ini yang membuat PSSI ketagihan atau terus gencar melakukan naturalisasi pemain. Hasilnya, terdapat John Van Bukhering, Tony Cussel, Kim Jefry Kurniawan, Irfan Bachdim, Victor Igbonefo, Bio Paulin, Diego Michiels, Stefano Lilipaly dan yang terbaru terdapat Ilija Spasojevic. Tapi, apakah sudah tepat naturalisasi pemain untuk peningkatan prestasi Indonesia di level Asia atau Asia Tenggara? Tim nysnmedia.com mencoba berbincang hangat dengan pengamat sekaligus wartawan sepakbola Hanif Marjuni. Bung Hanif sapaan akrabnya, yang sudah malang melintang di dunia sepakbola Nasional mengatakan, bahwa naturalisasi untuk membawa jangka panjang sepakbola Indonesia itu penting. Tapi, skalanya hanya untuk menjadi pemicu para pemain lokal untuk bisa bersaing dengan pemain naturalisasi. “Dalam jangka waktu yang panjang itu bisa di katakan penting, tapi kadarnya sebagai pemicu saja, bukan untuk skala yang luas. Karena, kalau kita meliat naturalisasi sebagi proyeksi instan iya, tapi untuk perkembangan timnas saat ini. Kita melihat sebagai jangka panjang untuk menjadi pemicu pemain lokal atau bakat-bakat pemain Indonesia untuk lebih,” terang Bung Hanif kepada nysnmedia.com. Dirinya pun, melihat dua sampai tiga tahun menjadi pemicu untuk pemain lokal. Apalagi, masalah harga pemain lokal sudah bisa bersaing dengan pemain asing. Terlebih, naturalisasi bagi timnas Indonesia belum mampu mengangkat prestasi bagi timnas. Namun, ada sisi baiknya juga dalam hal naturalisasi bagi timnas Indonesia. “Setidaknya sepakbola bukan hanya prestasi saja, tapi dalam sisi entertainment berhasil. Ada perhatian dari public tentang perkembangan sepakbola di Indonesia. Ya, terlepas gagal membangkitkan prestasi sepakbola Indonesia,” tuturnya. Pemain naturalisasi diusia keemasannya, diharapkan mampu memberikan ilmu kepada pemain lokal untuk bisa bersaing sehat. Masyarakat Indonesia pastinya sangat rindu akan prestasi timnas Indonesia, bukan rindu akan masalah. Maju terus sepakbola Indonesia ! (pah/adt)

Kupas Tuntas Kontroversi Liga 1 Indonesia

kontroversi-liga-1

Tanggal 15 April 2017 menjadi sejarah bangkitnya sepakbola Indonesia. Dua tahun lamanya, sepakbola Indonesia telah mati suri setelah di hukum oleh FIFA. November 2016 pula, lahirnya ketua umum PSSI periode 2016-2020 yakni Edy Rahmayadi. Edy terpilih sebagai Ketua Umum PSSI untuk periode 2016-2020 dalam Kongres PSSI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016). Dalam pemungutan suara, Edy, yang juga merupakan Pangkostrad TNI, meraih 76 suara. Dia mengalahkan Moeldoko yang hanya meraih 23 suara. Sementara itu, calon lainnya, Eddy Rumpoko, hanya mendapatkan satu suara. Edy yang juga aktif sebagai TNI berpangkat Letnan Jendral menjabat Pangkostrad ini, diharapkan oleh pecinta sepakbola Indonesia bisa memajukan sepakbola Indonesia dengan ketegasannya. Dalam kutipan cnn.indonesia (10 November 2016) setelah terpilih, Edy memiliki target untuk timnas Indonesia. Edy berjanji akan segera bekerja agar target-targetnya tercapai, salah satunya targetnya adalah timnas tampil di Olimpiade dalam kurun waktu delapan tahun dari sekarang. “Mungkin itu sulit sekali bagi pemain-pemain yang saat ini masih kita ketahui bersama (kemampuannya), tetapi Insya Allah di 2024 kita sudah bisa berkiprah.” “Di saat ini kami harus segera bekerja. Di kelompok U-15, ini kita booming-kan, kami meriahkan, sehingga delapan tahun yang akan datang pemain-pemain yang berusia 23 tahun sudah bisa berkiprah di internasional,” ucapnya melanjutkan. Benar saja, enam bulan memimpin PSSI, tepatnya 15 April dibukanya Liga 1 Indonesia yang memainkan antara Persib Bandung melawan Arema Malang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (SGBLA). Namun, sebelum Liga 1 bergulir banyak kontroversi yang terjadi yakni mengenai regulasi. Regulasi yang diterapkan di liga yaitu tim diwajibkan mengontrak sedikit-dikitnya lima pemain U-23, kemudian hanya bisa mengontrak maksimal tiga pemain asing, di mana dua merupakan pemain non-Asia dan satu pemain Asia atau disebut aturan dua plus satu. Selanjutnya, jumlah pemain berusia 35 tahun ke atas tidak boleh lebih dari dua orang di setiap tim. Peraturan lainnya yaitu setiap klub bisa mengontrak satu “marquee player” yaitu pesepak bola asing yang dianggap berkelas dunia yang pernah bermain setidaknya dalam tiga putaran Piala Dunia terakhir (untuk hal ini pada tahun 2006, 2010 dan 2014) atau pernah berkiprah di klub elite Eropa. Persib Bandung contohnya, mereka menggaet Michael Essien eks Chelsea dan Carlton Cole bintang Timnas Inggris sebagai pemain marquee player mereka. Sementara, regulasi yang mewajibkan klun memainkan pemain U-23 menuai beberapa pro dan kontra. Regulasi ini dibuat memang dipersiapkan untuk timnas Indonesia berlaga di Sea Games Kuala Lumpur, Malaysia. Setiap klub, diwajibkan memainkan tiga pemain U-23. Pelatih pun, mau tidak mau menurunkan pemain U-23. Banyak komentar miring dengan regulasi ini, ada yang beranggapan bahwa jika pemain tidak siap bisa merugikan klub dan pemain U-23 bisa bermain di tim senior bukan karena aturan melainkan karena kesiapan pemain serta prestasi pemain. Setengah musim berjalan, masyarakat Indonesia mulai mengenal wonderkid Febry Haryadi dan Gian Zola (Persib), M Rezaldi Hehanusa (Persija), Kurniawan Kartika Ajie (Persiba Balikpapan). Bisa dikatakan sukses? Mari kita telaah kembali. Kebijakan PSSI membuat regulasi U-23 memang dipersiapkan untuk Sea Games Malaysia, namun ekspektasi berlebih hanya membuahkan medali perunggu saja bagi Indonesia yang dipimpin pelatih asal Spanyol Luis Milla. Muncul kembali peraturan dari PSSI yang membingungkan. Setelah Sea Games berlangsung, PSSI menghapus regulasi U-23 di Liga 1. Keputusan ini, sontak membuat para klub dan pelatih berang. Para pelatih dan klub, menganggap keputusan awal yang dibuat oleh PSSI dengan seenaknya di hapus. Namun, ada juga klub yang bisa dikatakan ketiban durian runtuh dengan adanya penghapusan regulasi U-23. Tak hanya itu, regulasi saja yang membuat kisruh, suporter pun masih belum cukup dewasa. Almarhum Riko Andrean suporter Persib yang tewas pada saat laga big match melawan Persija Jakarta menjadi pusat perhatian kancah dunia sepakbola. PSSI pun, menghukum bobotoh. Sudah seharusnya, suporter Indonesia dewasa. Kepemimpinan wasit pun, menjadi fokus pembenahan PSSI. Wasit Indonesia seharusnya bisa mengambil keputusan dengan tegas tanpa takut di intervensi oleh tim maupun pemain. Puncaknya, PSSI menghadirkan wasit asing pada bulan Agustus. Tujuan PSSI dengan hadirnya wasit asing, bisa memberikan contoh kepada wasit asal Indonesia. Lagi dan lagi, hadirnya wasit asing menjadi pro dan kontra. Seperti pelatih PSM Makasar, Robert Rene Albert yang mengatakan bahwa Indonesia tidak butuh wasit asing tetapi membutuhkan teknologi VAR (Video Assintant Referee). Benar saja, puncaknya pada laga big match antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung kesalahan fatal dibuat wasit asing. Shaun Evan merupakan yang memimpin laga big match tersebut. Wasit asal negeri kangguru Australia, menganulir gol dari penyerang Persib, Ezechiel N’Douassel pada menit ke-27. Sundulan N’Douassel terlihat sudah melewati garis dan sundah menyentuh jaring gawang. Namun, Shaun menganggap bola tersebut belum gol. Kontroversi dari wasit Evans, masih berlanjut. Bek Persib Bandung, Vladimir Vujovic, mendapatkan kartu merah pada menit ke-82 setelah terlihat mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada wasit yang memberinya kartu kuning karena melanggar Bruno Lopes. Pemain Persib yang tidak terima, bergerak kepinggir lapangan. Namun, Evans menganggap pemain Persib mogok bertanding dan menyudahi pertandingan pada menit 83. Ini menjadi perbincangan hangat bagi para pecinta sepakbola. Polemik wasit belum usai, kini giliran penentuan juara yang menjadi pusat perhatian. Bhayangkara FC dinobatkan menjadi juara Liga 1 2017. Kepastian tersebut didapat setelah Bhayangkara FC unggul atas pesaingnya Bali United yang bertengger di posisi kedua. Klub berjuluk The Guardians itu unggul agregat dari dua pertemuan kontra Bali United meski di klasemen memiliki poin yang sama yaitu 68 poin. Namun, terjadi kontroversi juara Bhayangkara. Pada saat melawan Mitra Kukar yang berkesudahan imbang 1-1, Bhayangkara mengajukan banding dengan alasan Mitra Kukar memainkan pemain ilegal yakni Mohammed Sissoko yang sebelumnya mendapatkan hukuman sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Hasil putusan pun, Bhayangkara menang dengan skor 3-0 dan membuatnya naik kepuncak klasemen menggeser Bali United. Ini yang menjadi perdebatan para tim, khususnya Bali United dan PSM Makasar yang bersaing dalam perebutan gelar juara. Di laga terakhirnya, Bhayangkara memastikan juara Liga 1, meski kalah dari Persija Jakarta dengan skor 1-2. Bhayangkara yang sudah dipastikan juara, menjadi gonjang ganjing. PT LIB (Liga Indonesia Baru) belum memastikan Bhayangkara FC juara Liga 1 Indonesia. Tak hanya itu, laman resmi FIFA pun, secara mengejutkan mengeluarkan klasemen yang menyatakan Bali United FC yang menjadi juara di Liga 1 Indonesia. Namun, pada akhirnya FIFA merubah laman tersebut dengan menyatakan Bhayangkara FC sebagai juara Liga 1. … Read more

PSSI Luncurkan Buku Tentang Pembinaan Sepakbola Di Indonesia

danurwindo-01-ist_a39582e

PSSI merilis buku tentang pembinaan sepakbola di Indonesia. Buku yang memiliki 166 halaman ini berisikan tentang sejarah sepakbola di Indonesia dan cara membina pemain-pemain muda dari usia 6 hingga 19 tahun. Buku ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk membangun sepakbola di Indonesia. Peluncuran buku yang dilaksanakan pada 9 November lalu diselenggarakan di Kantor PSSI, Grand Rubina, Kuningan, Jakarta Selatan. Direktur Teknis PSSI yang menjadi salah satu penulis, Danurwindo menuturkan ajakan kepada seluruh pihak untuk membangun dan peduli terhadap sepakbola Indonesia. “Kami mengajak semua pihak yang peduli dengan sepakbola di Indonesia untuk bersama-sama menyebarkan buku ini. Sehingga tercetak banyak pelatih berkualitas untuk mendidik lebih banyak pemain muda, dan akhirnya akan membentuk tim nasional Indonesia seperti yang kita harapkan,” tutur Danurwindo. Buku tentang pembinaan sepakbola di Indonesia yang memiliki 6 bab ini, akan menjelaskan bagaimana melakukan latihan yang baik sesuai dengan umur para pemain. Danurwindo juga berharap para pelatih dapat menerapkan pola latihan yang baik agar perkembangan pemain akan maksimal dan pemain dapat mengambil keputusan dalam sepakbola, tidak hanya mengandalkan skill. “Pemain sekarang ini tidak hanya harus punya skill yang bagus, tapi juga cerdas. Mereka harus belajar aksi-aksi sepakbola dengan mengambil keputusan yang tepat,” ucap Danurwindo. Buku ini juga sudah mulai disosialisasikan dalam kursus pelatihan lisensi D dan sudah menjangkau ratusan pelatihan akademi dan sekolah sepakbola sejak awal tahun 2017. PSSI berencana akan memprioritaskan guru SMP secara bertahap dan akan di mulai pada 12 November 2017 kepada 90 guru di Sawangan Depok. PSSI akan tetap melakukan kerja sama kepada berbagai pihak akan buku tentang pembinaan sepakbola di Indonesia ini dapat cepat menyebar luas ke seluruh Indonesia.(put/adt)

Kamu Harus Tahu, Tiga Tokoh Olahraga Ini Juga Pahlawan Bangsa

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan di Indonesia. Tahukah kamu perjuangan para pahlawan bangsa bukan hanya untuk melawan gerakan penjajah yang hadir di dunia diplomasi dan pemerintahan. Namun, perjuangan pahlawan itu juga hadir dalam dunia sepak bola. Nah, artikel kali ini akan membahas tokoh pahlawan Indonesia di dunia sepak bola yang pasti belum kamu ketahui… Menurut lansiran dari bola.com, dahulu saat Indonesia masih terjajah, sepak bola menjadi alat membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat. Perlawanan dari lapangan hijau pun bermacam-macam loh. Salah satunya dengan membentuk Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI) di Mataram pada 19 April tahun 1930. PSSI didirikan untuk menyaingi klub-klub bentukan Belanda yakni NIVB atau NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie). Teguhnya pendirian tim PSSI, Hingga saat Piala Dunia 1938 berlangsung, PSSI pun ikut mengirimkan pemain-pemain pribumi yang mewakili nama Indonesia. Perlawanan anak bangsa lewat jalur sepak bola telah memunculkan nama sejumlah tokoh. Mereka sebagai pahlawan bangsa yang punya peran masing-masing dalam melawan penjajah. Tentunya melawan lewat kiprah mereka di lapangan. Ini dia 3 tokoh sepak bola Indonesia yang ikut memperjuangkan Indonesia versi lansiran dari bola.com: Soeratin Soesrosoegondo Berlatar belakang bukan dari dunia sepak bola bagi pria kelahiran Yogyakarta ini. Semasa muda, Soeratin menempuh pendidikan sekolah teknik di Jerman. Meski lulusan dari sekolah Jerman, semangat membela tanah air dan mengusir penjajah tetap tertanam di jiwa raga Soeratin.  Sumpah Pemuda 1928, Ia membuat suatu perlawanan dengan membentuk organisasi PSSI pada tahun 1930. Ini merupakan satu cara membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Indonesia dalam sepak bola. Kemudian, Soeratin terpilih jadi ketua umum PSSI pertama. Maulwi Saelan Saat tahun-tahun awal bangsa Indonesia merdeka, namanya mencuat. Maulwi berhasil memperkuat timnas Indonesia melawan Uni Soviet pada Olimpiade Melbourne 1956. Tak sampai disitu, Maulwi juga berhasil meraih medali perunggu di Asian Games 1958 dan melaju ke semifinal Asian Games 1954. Kiprahnya begitu gemilang dalam dunia sepakbola, mengharumkan nama bangsa Indonesia di kanca Internasional. Di luar kiprah gemilang tersebut, ternyata Maulwi juga gemilang di bidang militer, Ia ikut angkat senjata melawan penjajah.  Tercatat, Ia pernah melawan Belanda antara lain penyerbuan markas NICA di Makassar pada 1945. Hingga Maulwi masuk sebagai anggota pasukan pengamanan presiden pada 1962. “Pengawal setia Presiden Soekarno” Raden Maladi Maladi tercatat aktif memperkuat sepak bola Indonesia hingga 1940. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI 1950-1959. Sementara di ranah politik, Menteri Pemuda dan Olahraga (1964-1966). Maladi tidak hanya berjuang di lapangan hijau. Seperti halnya Maulwi dan Soeratin, Maladi juga ikut angkat senjata mengusir penjajah. Salah satunya saat Pertempuran Empat Hari di Solo. Maka itu, tahun 2003 kota Solo menyematkan nama Raden Maladi ke Stadion legendaris, Stadion Sriwedari untuk menghormati pria yang wafat 30 April 2001 tersebut.   Itulah ketiga tokoh pahlawan bangsa Indonesia di lapangan hijau. Ternyata perjuangan mengharumkan nama bangsa sudah dilakukan oleh para tokoh terdahulu. Sekarang saatnya generasi muda Indonesia, untuk semangat dan bangkit meraih kemenangan di setiap laga. Semua itu atas nama “Indonesia” Selamat Hari Pahlawan!

Warga Cisauk Ciptakan Kompetisi Sepakbola U-12, Sebagai Ajang Seleksi Untuk Tingkat Asprov

Anak-anak usia grassroot antusias mengikuti kompetisi sepakbola yang digelar oleh warga Cisauk, Kabulaten Tangerang.

Geliat sepakbola Indonesia kembali meningkat. Setelah hukuman Indonesia dicabut oleh FIFA, kini masyarakat Indonesia mulai disuguhkan beberapa Kompetisi Sepakbola pertandingan timnas Indonesia di level Internasional. Tak hanya itu, masyarakat Indonesia mulai berbondong-bondong menggelar turnamen untuk usia grassroot yakni usia 6 hingga 12 tahun. Masyarakat Indonesia ingin membantu mencetak bibit-bibit pemain yang dapat membela Timnas Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh warga Cisauk, Kabupaten Tangerang yang menggelar Kompetisi Sepakbola U-12. Kompetisi ini merupakan ajang tahunan dan sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-89. Antusias tim serta anak-anak yang berlaga membuat kompetisi ini menjadi ajang pencarian bakat. Ari Eka yang juga menjabat sebagai manager Sinyal FC mengatakan, bahwa kompetisi sepakbola ini sudah rutin digelar. “Pertandingan ini merupakan kali kedua dalam agenda tahunan. Persiapan tiap tahun biasanya dimulai dari usia 10, 11 dan 12 untuk selanjutnya akan terus diseleksi kembali,” ujar Ari. Lanjutnya, ajang tahunan ini, sudah memiliki prospek kedepannya akan seperti apa. Nantinya, para pemain akan dipantau dan akan masuk ke Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Banten. “Sebenarnya dari pertandingan tahunan ini, kita memiliki rencana dari Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang untuk menyeleksi para pemain dari setiap tim yang nantinya bisa masuk ke Asprov PSSI sekitar 5 sampai 6 orang,” tutur Ari. Dari pertandingan tersebut pihak penyelenggara berharap kedepannya anak-anak didiknya dapat mengikuti seleksi Nasional dan pastinya agar lebih sabar untuk membentuk bibit baru yang akan dibentuk. (pah/adt)

Timnas Indonesia U-16 Akan Uji Kekuatan di Turnamen Vietnam

Pesepak bola Timnas Indonesia U-16 setelah berhasil mencetak gol ke gawang Timnas Singapura U-16. Foto: ANTARA

⁠⁠⁠Timnas Indonesia U-16  makin menuain hasil yang mengagumkan di tingkat uji coba internasional. Pasukan arahan Fakhri Husaini itu sebelumnya telah sukses menghentikan langkah Singapura 4-0 pada uji coba Kamis (8/6) di Stadion Wibawamukti Cikarang. begitu juga dengan Filipina dengan jumlah skor yang sama. Selain sudah melalui uji coba internasional, sudah lima kali uji coba lokal yang dijalani para Garuda muda. Empat dari lima pertandingan itu menghasilkan kemenangan. Dua di antaranya mereka mengalahkan Villa 2000 U-17 dan tim PPLP DKI Jakarta. Dengan hasil sangat membanggakan itu, PSSI memperkuat keinginannya agar Althaf Indie Alrizky dan kawan-kawan akan diikutsertakan pada turnamen internasional U-15 di Vietnam pada 14-18 Juni 2017. Berdasrkan rilis PSSI yang dilansir dari Antara, 22 pemain asuhan Fakhri akan dikirim ke Vietnam untuk mengikuti turnamen tersebut sebagai bagian dari rentetan tour uji coba internasional mereka. Timnas U-16 akan ikut berlaga di ajang Piala AFF U-15 di Thailand pada waktu yg akan datang. Rencananya petandingan akan di selenggarakan pada 9 Juni sampai 2 Juli 2017. Indonesia tergabung dalam Grup A bersama Australia, Thailand, Laos, Myanmar dan Singapura. Berikut adalah daftar 22 Pemain Timnas U-16 yang diboyong ke Vietnam, yaitu: Kiper: Ahluzd Dzikri Fikri (Jawa Barat) dan Hafiz Fauzan Muzaki (Sumatera Barat) Belakang: Mochammad Yudha Febrian (DKI Jakarta), Muhammad Uchida (DKI Jakarta), Liba Valentino Imwahyusyah (Jawa Timur), Muhammad Reza Fauzan (Aceh), Ahmad Rusadi (Kalimantan Timur), Amirudin Bagas Kaffa Arrizqi (Jawa Tengah) dan Mifthakul Septa Anjar Pradika (Jawa Tengah) Tengah: Hamsah Lestaluhu (Tulehu), David Maulana (Sumatera Utara), Kartika Vedayanto Putra (Jawa Tengah), Brilyan Negietha Dwiki Aldana (Jawa Timur) serta Fadillah Nur Rahman (Sumatera Barat) Depan: Rendy Juliansyah (DKI Jakarta), Amirudin Bagus Kahfi Alfikri (Jawa Tengah), Yadi Mulyadi (Jawa Barat), Andre Oktaviansyah (DKI Jakarta), Sakra Yatul Fajra (Jawa Barat) dan Althaf Indie Alrizky (DKI Jakarta)