Medan Gelar Kejurnas Panjat Tebing Kapolda Sumut Cup 2019, Juara Dunia Aspar Jaelolo Turun Berlaga

Polda Sumut akan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Open Panjat Tebing bertajuk 'Kapolda Sumut Cup 2019' pada 1-5 Februari 2019, di Lapangan Mako Brimob Polda Sumut, Medan. Juara dunia panjat tebing Indonesia, Aspar Jaelolo, dipastikan tampil pada Kejurnas Open Polda Sumut ini. (FPTI)

Medan- Polda Sumut akan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Open Panjat Tebing bertajuk ‘Kapolda Sumut Cup’ pada 1-5 Februari 2019, di Lapangan Mako Brimob Polda Sumut, Medan. Terdapat empat kelas putra dan putri yang akan dipertandingkan pada Kejurnas ini yakni kelas speed WR, speed klasik, lead, dan boulder. Ketua II Panitia Panjat Tebing Kapolda Sumut Cup, Junet Iskandar mengungkapkan, jika salah satu juara dunia panjat tebing Indonesia, Aspar Jaelolo, dipastikan tampil pada Kejurnas Open Polda Sumut ini. “Atlet Asian Games kemarin juga akan turun, seperti Rajiah Salsabillah dan Abu Dzar Yulianto. Kejurnas ini event pertama yang diadakan tahun ini juga menjadi hitungan peringkat berjalan. Karena untuk seleksi Asian Championship, pada November 2019,” terangnya pada Kamis (25/1), di Mako Brimob Polda Sumut, Medan. Aspar berhasil meraih medali emas pada kategori speed di Piala Dunia Panjat Tebing, bertajuk IFSC Climbing Worldcup di Wujiang, Tiongkok, pada Oktober 2018. Sementara Salsabillah dan Abu Dzar, merupakan atlet peraih emas di nomor speed relay putra dan putri, di Asian Games 2018. Junet menjelaskan hadirnya juara dunia dan Asian Games ini akan membuat para climbers Sumut, belajar dari atlet pencetak rekor dunia. “Kami ingin kasih semangat buat atlet kita (Sumut) biar lebih kerja kerasnya. Hadirnya uara dunia dan Asian Games ini juga akan mendongkrak gengsi dan kemeriahan event ini,” tegasnya. Ia menerangkan akan ada 300 atlet yang berasal dari berbagai daerah serta negara tetangga, berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Setidaknya, tercatat sembilan provinsi yang telah mendaftar untuk mengikuti Kejurnas Poldasu Cup ini. Ia menargetkan 200 atlet panjat tebing akan berlaga di Kejurnas ini. “Sudah ada delapan daerah yang telah mendaftar, seperti Aceh, Lampung, Sumbar, Bengkulu, Padang, lalu dari Jawa ada Bandung, Surabaya, Jawa Timur dan Jakarta. Hingga hari ini sudah ada 41 atlet yang mendaftar dan akan terus bertambah,” jelas pria kelahiran Medan, 17 Juni 1974 ini. Ketua Pengcab Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Medan ini memastikan jika 30 atlet panjat tebing FPTI Sumut, akan berlaga pada kejurnas kali ini. Bahkan kejuaraan Poldasu Cup ini juga menjadi tolak ukur sebelum menghadapi Popwil, sebagai kualifikasi menuju PON 2020. “Sekitar 30 atlet panjat tebing Sumut nanti akan berlaga disini. Atlet-atlet dari Sumatera memang rata-rata semua ikut Kejuaraan. Sehingga nantinya menjadi barometer mereka, jelang persiapan menghadapi Popwil Sumatera, pada November 2019, di Lampung,” tegasnya. Lebih lanjut, kejuaraan ini berlangsung berkat kepedulian Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto, untuk memajukan olahraga panjat tebing di Sumut. “Ini bukti kepedulian Pak Kapolda menghidupkan kembali olahraga panjat tebing ini, dengan membangun sarana baru dengan standar track speed wr dengan rekor dunia,” pungkasnya. (Adt)

Koleksi 282 Poin Sepanjang 2018, Atlet Boulder Putri 20 Tahun Jadi Nomor Satu di Indonesia

Gadis kelahiran Kudus, Jateng, 6 Januari 1998, Ndona Nasugian, menjadi atlet boulder putri nomor satu Indonesia 2018. Pememgang medali perak Asian Youth Championship 2011 di Singapura itu, mengoleksi total poin 282, dari empat kompetisi selama 2018. (FPTI)

Jakarta- Atlet panjat tebing asal Jawa Tengah (Jateng), Ndona Nasugian, menjadi atlet boulder putri nomor satu Indonesia 2018. Gadis kelahiran Kudus, Jateng, 6 Januari 1998 yang mememgang medali perak Asian Youth Championship 2011 di Singapura itu, mengoleksi total poin 282, dari empat kompetisi selama 2018. Yakni di ajang MOCC (23-27 April), Wali Kota Cup (18-21 Juli), ZTC Bali (3-5 Agustus), dan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) XVII (27 November – 2 Desember). Mahasisiwi Jurusan Ilmu Olahraga Universitas Negeri Semarang ini, berbagi gelar dengan Nadya Putri Virgita, asal Bali, yang juga mengumpulkan total poin 282. Diikuti Kharisma Ragil Rakasiwi asal Jawa Timur (Jatim), yang berada di peringkat ketiga dengan total poin 243. Sedangkan peringkat keempat dihuni Fitria Hartani yang juga berasal dari Jatim dengan total poin 200. Sementara itu, peringkat kelima dan selanjutnya diisi Indahwati asal Jateng (175 poin), Anggun Yolanda asal Nusa Tenggara Barat (160 poin), Betti Nawafatus Y.N asal Jawa Barat (157 poin). Kemudian, Ni Komang Ayu Suartini asal Bali (149 poin), dan Dyah Puspitaningtyas asal Daerah Istimewa Yogyakarta (147 poin). (Adt)

Dorong Atlet Muda di SEA Games 2019, Juara Dunia Asal Palu Fokus Cari Poin Olimpiade Tokyo

Juara dunia speed world record Wujiang 2018, China, Aspar Jaelolo, mengaku dirinya tak akan tampil dalam ajang multievent SEA Games 2019 Filipina. Ia memilih untuk fokus mengumpulkan poin, menuju Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. (app.kurio.co.id)

Jakarta- Juara dunia speed world record Wujiang 2018, China, Aspar Jaelolo, mengaku dirinya absen di ajang SEA Games 2019 Filipina. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab atlet kelahiran Wani, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, 24 Januari 1988 itu, akan fokus mengumpulkan poin menuju Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. “Kalau saya pribadi, tidak akan tampil di SEA Games 2019. Tapi, misalkan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) mengharuskan tampil, maka saya akan siap turun,” ujar Aspar, di Jakarta, pada Selasa (11/12). “Federasi menginginkan atlet yang lebih muda. Itu juga harapan saya. Supaya ada regenerasi. SEA Games itu lingkupnya Asia Tenggara, sehingga atlet muda harus diberi kesempatan untuk tampil,” lanjutnya. Ia mengungkapkan bila cabang olahraga panjat tebing masih diperdebatkan apakah bisa dipertandingkan di SEA Games 2019. “Di Asia Tenggara, Indonesia masih terkuat di cabang olahraga (cabor) panjat tebing. Sedangkan, tuan rumah punya kebijakan memasukan cabor yang jadi unggulannya. Tapi, karena panjat tebing sudah masuk Olimpiade, ya tuan rumah wajib memasukan cabang ini,” terang peraih medali perak Asian Games 2018, dalam nomor speed relay putra itu. Kedepan, harapannya, tegas Aspar, tim Indonesia yang akan berlaga di Olimpiade Tokyo 2020, bisa mendapatkan poin penuh pada ajang kualifikasi 2019. Untuk, itu dirinya akan fokus mengejar poin, menuju pesta olahraga terbesar sejagat, dengan mengikuti seluruh seri world cup pada tahun depan. “Sebenarnya tahun ini, saya punya target menempati ranking 3 dunia. Tapi nggak kesampaian, karena bertepatan dengan Asian Games 2018. Dari 8 seri yang harus diikuti, saya tidak bisa tampil di tiga seri world cup,” jelasnya. “Akibatnya, ranking saya sepanjang tahun ini, harus terkoreksi dan turun ke peringkat 6 dunia. Itu sebabnya, saya harus mengejar di tahun depan untuk mendapatkan tiket Olimpiade,” pungkas atlet asal DKI Jakarta itu. (Adt)

Hadirkan Indoor Climbing Gym Pertama di Jakarta, Sarana Pembibitan Atlet Muda Panjat Tebing

IndoClimb dengan FX Sudirman resmi bekerjasama, untuk menghadirkan indoor climbing gym pertama di pusat kota Jakarta, sekaligus jadi wadah latihan atlet panjat tebing nasional. Kesepakatan itu dilakukan di Kawasan Sudirman, Jakarta, pada Selasa (11/12) (dreamclimbingwalls.com)

Jakarta- Rock climbing merupakan olahraga outdoor yang melibatkan petualangan, adrenalin, dan kebugaran fisik. Aktifitas rock climbing tak sedikit serta berbahaya seperti dibayangkan sebagian orang. Bila dilakukan dengan dengan peralatan yang lengkap, serta teknik yang benar. Terlebih, olahraga ini memiliki komunitas yang besar di Indonesia dan mancanegara. Kini, olahraga outdoor dan extreme berkembang dan mulai digemari berbagai kalangan. Namun, untuk melakukan aktifitas rock climbing di alam bebas setiap hari, bagi masyarakat perkotaan tak memungkinkan. Sehingga, dibutuhkan lokasi yang terletak di pusat perkotaan agar rock climbers bisa berlatih. Di negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan negara Asia Tenggara lainnya, rock climbing sudah populer dan memiliki fasilitas climbing gym di pusat kota, sehingga sudah menjadi urban lifestyle bagi masyarakat perkotaan. Untuk itu, IndoClimb dengan FX Sudirman resmi bekerjasama, untuk menghadirkan indoor climbing gym pertama di pusat kota Jakarta, sekaligus wadah latihan atlet panjat tebing nasional. Denny Maruhum Pasaribu, Vice President Marketing Communication dan Komersial FX Sudirman, mengaku indoor climbing gym sesungguhnya sudah ada. Namun, tak berkembang dengan baik. “Kami melihat tak hanya dari sisi bisnis. Sebab, FX s itu merupakan home of sport. Dan, kami lihat ide membangun indoor climbing gym adalah peluang, dan sesuatu yang berbeda,” ujar Denny, di Jakarta, pada Selasa (11/12). “Bedanya, di tempat lain tidak strategis. Apalagi di kawasan ini rata-rata mereka adalah orang kantoran, yang suka berolahraga, yang sifatnya urban lifestyle. Jadi ini sebenarnya peluang besar,” lanjutnya.Terlebih, tambah Denny, paska Asian Games 2019 harus terus dijaga momentumnya. Sedangkan Fedi Fianto, dari pihak IndoClimb, mengungkapkan indoor climbing gym menjadi tempat ideal untuk semua kategori, mulai speed, lead dan boulder. “Kami pastikan arenanya sangat aman. Untuk speed record itu tingginya mencapai 15 meter, sedangkan lead bisa sampai 18 meter,” terang Fedi. Ketiganya bisa dinikmati pengunjung umum dan akan diadakan kelas program bagi yang ingin mendalami. Namun fasilitas panjat tebing ini baru akan hadir pada bulan April 2019. “Yang speed 15 meter, boulder yang cukup luas, pendek karena buruh movement dan tidak terlalu tinggi, dan lead climbing tingginya 18 meter,” jelas Fedi. Nantinya, tiket panjat tebing indoor ini akan dibandrol sekitar Rp 150.000 untuk satu hari dan tidak terbatas jam. Perbedaan Climbing gym di kawasan sentra olahraga Jakarta ini dengan tempat lain, yakni skenario rute memanjat yang bisa diubah, demi meningkatkan teknik pemanjat. Kehadiran indoor climbing gym ini adalah salah satu upaya melahirkan atlet muda panjat tebing. “Semoga makin banyak indoor climbing gym. Di Jepang, mereka punya ratusan arena seperti ini. Mereka kadang pusing menentukan atlet untuk timnas, karena atletnya terlalu banyak,” cetus Aspar Jaelolo, atlet pelatnas panjat tebing,. Ia berharap makin banyak pihak yang bisa menghadirkan indoor climbing gym, serta menggelar event. “Selain atlet-atlet nasional yang berlatih ditempat ini nantinya, juga bisa mengundang juara dunia, sehingga makin menarik minat masyarakat untuk datang ke indoor climbing gym,” tukas kampiun dunia di Wujiang 2018, China itu. (Adt)

Spiderwoman Aries Susanti Sabet Emas Speed World Record, Pemanjat Junior Berthdigna Taklukan Atlet Pelatnas

Aries Susanti Rahayu (Jawa Tengah) meraih medali emas nomor speed world record putri Kejurnas Panjat Tebing di Solo, Jawa Tengah, usai mengalahkan rekan satu Pelatnas Puji Lestari (kiri), pada Jumat (30/11). Sementara, pemanjat junior 19 tahun, Berthdigna Devi Surya Kusuma (kanan), mendapat perunggu. (FPTI)

Solo- Perebutan medali emas nomor speed world record putri kejuraan nasional (Kejurnas) XVII seakan mengulang momen Asian Games 2018 lalu. Spiderwomen Grobogan Aries Susanti Rahayu, kembali berduel dengan Puji Lestari di Solo Sport Climbing Center, Kompleks Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (30/11). Mewakili Jawa Tengah, Aries memenangi duel panas, dengan Puji, usai mencatat catatan waktu 7,76 detik. Sedangkan Puji yang merupakan utusan DKI Jakarta, mengoleksi waktu 8,92 detik. Di pertandingan lain, suasana panas juga terjadi dalam perebutan medali perunggu. Atlet 19 tahun asal Blora, Berthdigna Devi Surya Kusuma berhadapan dengan atlet nasional asal Banten, Rajiah Salsabillah. Bertha, sapaanya, yang membela Jawa Tengah, berhasil memenangkan pertandingan, setelah Rajiah sempat terpeleset. Catatan waktu Bertha 8,74 detik, sedangkan Rajiah 8,85 detik. Bagi mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, Fakultas Bisnis ini begitu berkesan, karena dirinya bisa mengalahkan atlet nasional dan lebih senior darinya. “Nggak nyangka, Alhamdulillah banget bisa menang,” ujar dara kelahiran Kudus, 21 September 1999. Kemenangan Bertha disambut positif oleh Puji dan Aries. Ini menunjukkan adanya regenerasi yang bagus di speed. “Semoga akan ada lebih banyak atlet-atlet junior yang berprestasi sehingga panjat tebing semakin dikenal luas oleh masyarakat,” ujar Aries kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 21 Maret 1995 itu. Sementara itu, dibagian putra, Aspar Jaelolo (DKI Jakarta) berhasil mengunci medali emas nomor speed world record setelah menyingkirkan rekan satu Pelatnas Alfian M. Fajri (Jawa Tengah). Aspar berhasil meraih medali emas dengan catatan waktu 6,78 detik, sedangkan Alfian hanya mencetak waktu 7,30 detik. Lalu, Pangeran Septo Wibowo Siburian yang merupakan atlet Pelatnas harus rela menyerahkan medali perunggu akibat kalah cepat dengan Wira Hutanianto. Catatan waktu Wira 5,95 detik, sedangkan Pangeran 6,96 detik. Wira mengaku bangga dengan perolehan medali perunggu ini. Ia tak menyangka mampu mengalahkan atlet nasional yang jam terbangnya jauh lebih tinggi. “Saya senang sekali, nggak nyangka bisa satu karantina sama atlet-atlet Pelatnas. Ini pertama kalinya bagi saya,” tukas Wira. (Adt)

Tampil Impresif di Kejurnas Panjat Tebing, Lead Tim Putra Sumbang Emas Pertama Bagi Jawa Timur

Lead tim putra kontingen Jawa Timur (kaos hijau), akhirnya sukses meraih medali emas pada hari pertama, pelaksanaan Kejurnas XVII Panjat Tebing 2018, di Solo, Jawa Tengah, pada Rabu (28/11). (FPTI)

Solo- Kontingen Jawa Timur (Jatim) menyabet satu medali emas dan satu medali perak pada hari pertama kejuaraan nasional (Kejurnas) XVII Panjat Tebing 2018, pada Rabu (28/11), di Solo Sport Climbing Center, Solo, Jawa Tengah (Jateng). Medali emas didapat dari kategori lead tim putra. Sedangkan perak didapat dari boulder tim putri. Lead tim putra Jatim dihuni Yohanes Angel Rossy Que, Akbar Huda Wardana, dan Fatchur Roji. Untuk medali perak lead tim putra direbut kontingen Jabar yang diperkuat Muhammad Rizal Ramdhan, Dimas Wahyu NR, dan Bim Sigrid. Dan, medali perunggu direbut kontingen Bali yang menurunkan Rifaldi Ode Sandjaya, Danes Devrian Sandehang, dan Temi Teli Lasa. Sementara itu, Jatim juga meraih medali perak melalui boulder tim putri. Jatim menurunkan Pradeva Adelin, Choirul Umi Cahyaning Ayub, Fitria Hartani, dan Amanda Nanda Mutia. Dalam babak final, boulder tim putri Jatim menorehkan 1 top, 1 zone, 1 AT, dan 6 AZ. Danu Iswara, Ketua Umum Pengda (Pengurus Daerah) FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) Jatim, mengaku bersyukur bisa meraih medali emas dan perak di hari pertama Kejurnas. “Awal yang baik. Semoga performa atlet terus berlanjut sampai hari terakhir Kejurnas,” ujar Danu, pada Rabu (28/11) malam. Dengan raihan ini, Jatim yang merupakan juara umum Kejurnas tahun lalu itu memuncaki klasemen perolehan medali sementara, dengan meraih 1 medali emas dan 1 medali perak. Pada urutan kedua, Jateng mengantongi satu medali emas yang didapat dari tim putri pada kategori Boulder. Sementara kontingen Jabar di posisi ketiga dengan satu medali perak yang diraih tim putra pada kategori Lead. Kontingen Bali menempati posisi keempat dengan satu perak dan dua medali perunggu. Adapun kontingen daerah lain belum mendapat medali pada hari pertama ini. Kejurnas XVII Panjat Tebing 2018 berlangsung selama lima hari ke depan, mulai 28 November hingga 2 Desember 2018. Diikuti oleh 27 kontingen yang memperebutkan medali pada 18 nomor, termasuk 2 nomor olimpiade yang diikuti 129 atlet. (Adt)

211 Atlet Siap Panaskan Persaingan Kejurnas Panjat Tebing di Solo, Berebut Tiket Olimpiade 2020 Tokyo

Sebanyak 211 atlet siap memanaskan Kejurnas Panjat Tebing XVII di Solo Sport Climbing Center, Kompleks Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah, yang mulai dihelat pada Rabu (27/11). Mereka juga akan berebut tiket Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. (Dok. Humas FPTI)

Solo- Sebanyak 211 atlet, terdiri dari 131 atlet putra dan 80 atlet putri dari 25 provinsi, tampil dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing XVII di Solo Sport Climbing Center, Kompleks Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah. Mulai Rabu (27/11), mereka bakal berebut tiket Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. Event ini diyakini induk organisasi panjat tebing Indonesia berlangsung ketat. Selain bertabur atlet terbaik, juga diramaikan atlet Asian Games 2018, mewakili daerah masing-masing. Momen ini juga dimanfaatkan PP (Pengurus Pusat) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menjaring atlet untuk pra-Olimpiade 2019 di Prancis dan Olimpiade 2020 di Tokyo. Nomor yang akan dipertandingkan di Olimpiade adalah combine, yakni setiap atlet akan memainkan lead, boulder, dan speed sekaligus. Sedangkan saat ini yang menjadi andalan Indonesia adalah nomor speed. “Kalau yang lalu didominasi atlet speed, maka di Kejurnas ini kami harus realistis mencoba atlet yang berangkat dari lead dan boulder,” ujar Pristiawan Buntoro, Wakil Ketua II PP FPTI, pada Selasa (26/11). Pris, sapaannya, mengatakan skema Pelatnas untuk pra-Olimpiade dan Olimpiade akan berbeda dengan pelatnas Asian Games. Ia menjelaskan, karakter otot atlet speed dengan lead dan boulder sangat berbeda. Sehingga, jelas Pris, treatment untuk para atlet menjelang Olimpiade juga akan sangat berbeda dengan saat Asian Games lalu. “Itu susahnya, tapi ini problem di semua negara. Saat atlet itu bagus di speed, maka lead dan bouldernya kurang. Begitu juga sebaliknya,” lanjutnya. Selain hasil Kejurnas, poin lain yang akan dipertimbangkan dalam seleksi atlet Pelatnas jelang Olimpiade adalah prestasi atlet di tingkat nasional. “Meski secara umum, hasilnya nanti tak jauh berbeda,” tambahnya. Disisi lain, kendati skema seleksi berubah, namun PP FPTI akan mempertahankan atlet andalan Indonesia, yakni spiderwomen Aries Susanti Rahayu, dan Aspar ‘Babon’ Jaelolo. Sebab keduanya merupakan atlet andalan di nomor speed dengan prestasi level dunia. Alasan lainnya, Aries dan Aspar dipertahankan untuk menambah tiket Indonesia di pra-Olimpiade dan Olimpiade. Karena kuota masing-masing negara di kejuaraan tersebut hanya 2 orang putra dan 2 orang putri. Namun ada kuota tambahan bagi pemegang peringkat 5 besar dunia di nomor speed, lead, maupun boulder. “Kita enggak bisa singkirkan Aries dan Aspar. Mereka berdua akan masuk jadi tulang punggung timnas karena sudah kuat,” tegas Pris. Saat ini, Aries memegang peringkat 4 dunia di nomor women’s speed, sedangkan Aspar peringkat 8 men’s speed. Untuk itu, Aries dan Aspar akan digenjot mengikuti seri Kejuaraan Dunia pada 2019 agar prestasi mereka semakin bagus. “Jadi selain Aries dan Aspar, nantinya akan ada 8 atlet lain, yang bakal dipilih untuk Pelatnas pra-Olimpiade,” tukas Pria. (Adt)

Kejurnas Panjat Tebing 2018 Siap Digelar di Solo, FPTI Yakini Persaingan Bakal Ketat dan Seru

Venue di Solo Sport Climbing Center, Kompleks Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, siap digunakan pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) XVII Panjat Tebing 2018, yang mulai berlangsung pada 27 November-2 Desember 2018. (Dok. Humas FPTI)

Solo- Event nasional panjat tebing tertinggi di Tanah Air, yakni Kejuaraan Nasional (Kejurnas) XVII Panjat Tebing 2018 siap dihelat di Solo Sport Climbing Center, Kompleks Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pada 27 November – 2 Desember 2018. Pristiawan Buntoro, Wakil Ketua II Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), mengatakan Kejurnas kali ini siap digelar meskipun harus memindahkan lokasi penyelenggaraan. “Awalnya diselenggarakan di Sulawesi Tengah. Namun, karena ada bencana gempa bumi dan tsunami, jadi venue kejuaraan kami pindahkan ke Solo,” ujar Pristiawan, seperti keterangan yang diterima nysnmedia, pada Kamis (22/11). Dalam kondisi tertentu seperti saat ini, penyelenggaraan akan diambil alih oleh PP FPTI. Ia melanjutkan bila pemindahan venue merupakan hal lumrah karena secara berkala, selalu dilakukan review mengenai kesiapan daerah yang bersangkutan. Dan, Solo dipilih, menurut Pristiawan, karena dinilai memiliki venue yang layak untuk penyelenggaraan kejurnas. “Kejurnas ini akan menggelar 18 nomor lomba,” terangnya. Adapun 18 nomor yang dipertandingkan yakni lead perorangan putra (pa), lead perorangan putri (pi), lead tim (pa), lead tim (pi), speed world record (WR) perorangan (pa), speed WR perorangan (pi), speed WR tim relay (pa), speed WR relay (pi). Lalu, boulder perorangan (pa), boulder perorangan (pi), speed klasik perorangan (pa), speed klasik perorangan (pi), speed track perorangan (pa), speed track perorangan (pi), combined perorangan (pa), dan combined perorangan (pi). Pristiawan menambahkan Kejurnas ini akan berlangsung ketat. “Atlet top juga akan turun termasuk atlet nasional yang mewakili Indonesia di Asian Games 2018. Mereka akan mewakili daerah mereka masing-masing,” ungkapnya. Bahkan, Pristiawan optimistis Kejurnas ini menyajikan kompetisi yang ketat dan seru. Sebagai event tertinggi nasional dan bergengsi, tiap daerah diharapkan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Sementara itu, Her Suprabu, Ketua Umum FPTI Solo, menyebut sebagai tuan rumah, FPTI Solo siap menjamin kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan Kejurnas ini. “Untuk venue, kami sudah siap, dan lokasi sekarang lebih luas. Rekomendasi dari PP FPTI juga kami penuhi agar penyelenggaraan sukses,” cetusnya. Disisi lain, terang Suprabu, FPTI Solo juga akan memberikan sentuhan khas Solo dalam pelaksanaan. Dalam Kejurnas itu akan ada bazar makanan, cenderamata, dan oleh-oleh khas Solo. “Dari sisi atlet, ada tiga atlet Solo yang akan ikut serta, salah satunya Alfian M Fajri. Alfian ini merupakan atlet nasional. Kami harapkan dia dan atlet lainnya bisa memberikan prestasi yang terbaik,” tukas Suprabu. (Adt)

Kampiun Nomor Speed World Record, Indonesia Sukses Jaga Tradisi Medali Emas Asian Championship

Atlet panjat tebing Merah Putih, Alfian M. Fajri (kiri), dan Agustina Sari, jadi kampiun nomor speed world record perorangan putra dan putri, di Asian Championship 2018, di Kurayoshi, Prefecture Tottori, Jepang, pada Sabtu (10/11). (FPTI)

Tottori- Atlet panjat tebing Merah Putih Alfian M. Fajri dan Agustina Sari, jadi kampiun nomor speed world record perorangan putra dan putri, di Kurayoshi, Prefecture Tottori, Jepang, pada Sabtu (10/11). Torehan gemilang di ajang Asian Championship 2018 itu, membuat Indonesia sukses mempertahankan tradisi medali emas. Di laga puncak, Alfian keluar sebagai yang tercepat, setelah di big final mengalahkan kompatriotnya Sabri, dengan unggul selisih waktu yang tipis. Atlet kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 18 Januari 1997 itu, mencatatkan waktu 5,883 detik atau 0,003 detik lebih cepat dari Sabri yang mencatatkan waktu 5,886 detik. “Saya berusaha keras menjaga fokus. Siapa pun lawan saya, saya retap fokus sehingga saya bisa berada di podium tertinggi,” ujar Alfian seperti keterangan yang diterima redaksi nysnmedia, pada Minggu (11/11). Hasil positif yang ditorehkan Alfian itu mengulang prestasi ciamik pada 2010. Ia yang ketika itu masih bermain di Asian Youth Championship di Singapura, juga sukses merebut emas nomor speed perorangan putra. Sedangkan peringkat ketiga nomor speed world record putra, direbut Aspar Jaelolo, yang juga mengalahkan rekan senegara, Veddriq Leonardo. Sementara itu, di nomor speed world record perorangan putri, Agustina mampu menjadi yang tercepat, setelah dalam big final mengalahkan Yi Ling Song, dengan catatan waktu 8,366 detik berbanding 9,151 detik. “Asian Games memberi pelajaran saya dan saya memperbaikinya di Asian Championship 2018. (Medali emas) ini untuk Indonesia,” cetus Agustina usai pertandingan. Dan Aries Susanti Rahayu, kali ini harus puas berada di peringkat ketiga. Melawan Nurul Iqamah, atlet berjuluk Spiderwoman Grobogan itu, berhasil membukukan waktu 7, 816 detik berbanding 9,717 detik. Pristiawan Buntoro, Manager Timnas Asian Championship 2018, menyebut kesuksesan merebut emas di nomor speed merupakan target untuk menjaga tradisi. “Tradisi kita kan emas untuk nomor speed. Dan, Alhamdulillah itu tercapai. Sekarang waktunya fokus menyiapkan diri untuk kualifikasi pra olympic Tokyo 2020,” tukas Pristiawan. (Adt)

Indonesia Raih Dua Emas Asian Youth Championship 2018, Atlet 18 Tahun Kiromal Katibin Kampiun Speed Youth A Putra

Pemanjat tebing asal Jawa Tengah berusia 18 tahun Kiromal Katibin (tengah), akhirnya berhasil meraih medali emas nomor Speed Youth A Putra, di ajang Asia Junior Championship 2018, di Chongqing, China, pada Minggu (5/11). (FPTI)

Chongqing- Skuat muda Indonesia sukses meraih dua medali emas pada ajang Asian Youth Championship 2018, di Chongqing, China, pada Minggu (5/11). Sebanyak 14 dari 16 atlet muda panjat tebing Merah Putih itu turun di nomor Speed. Dari jumlah itu, 10 atlet lolos di babak kualifikasi. Namun, mereka mulai berguguran di semifinal. Disebabkan hal teknis, diantaranya false start, fall, hingga terpeleset. Di youth B putri, srikandi muda Indonesia, Amanda Narda Mutia, tampil gemilang. Sejak babak kualifikasi, ia menempati peringkat satu dan konsisten dengan waktu pemanjatannya. Di final, Amanda menjadi yang tercepat, sekaligus mengamankan medali emas usai mencetak catatan waktu 9,44 detik, menekuk Jing Yu asal China, yang hanya menghasilkan waktu 10,99 detik. Dan, wakil Korea Jimin, harus puas mendapatkan medali perunggu. Sedangkan di youth A putra, pemanjat asal Bali, I Putu Iwan Putra, sempat menduduki peringkat kedua babak kualifikasi. Sayang, ia terpeleset di perempat final dengan torehan waktu 8,32 detik. Hasil negatif juga dialami Jasmico Pamumade dan Michael Owen Parhorasan Siburian. Mereka mengalami false start di perdelapan final. Sementara itu, di youth A putri, Desak Made Rita Kusuma Dewi, berhasil masuk ke babak 4 besar. Namun, ia sempat terpeleset saat perebutan perunggu dengan catatan waktu 12,68 detik. Dan, lawannya asal China, Yi Ling, menorehkan catatan waktu 8,34 detik. Serupa di kategori junior putri. Tim Indonesia yang diwakili Berthdigna Devi, sukses menembus 4 besar. Namun, dara yang disapa Bertha ini mengalami gangguan kesehatan sehingga dilarang melanjutkan pemanjatan oleh tim dokter. Bertha gugur, sehingga medali perunggu otomatis diraih pemanjat asal China, Pei Yang. Di laga terakhir Asian Youth Championship 2018, pada Minggu (5/11), Indonesia bisa menambah pundi medali emas dari Kiromal Katibin, skuat atlet Asian Games XVIII/2018. Pemanjat kelahiran Batang, Jawa Tengah, 21 Agustus 2000 itu, mengunci catatan waktu 6,05 detik. Ia menyingkirkan Milad Shenazandifar Alipour asal Iran, dengan catatan waktu 6,42 detik. Kuntono Halim, Manajer Tim Indonesia, mengaku secara umum tahun ini Indonesia mampu bersaing. Hal itu, menurutnya, dibuktikan dengan catatan waktu para atlet Indonesia yang masih berada di peringkat atas. Kendati demikian, ia menyebut jika di nomor speed banyak negara lain yang harus diwaspadai. Sebab, tambah Kuntono, perlahan negara-negara yang sebelumnya tidak unggul di speed seperti Korea dan Jepang, kini sudah bisa meraih medali. “Kita patut waspada, karena di tahun mendatang negara lain mulai sudah sangat bersiap diri dengan sentralisasi pelatihan. Sedangkan Indonesia belum melakukan itu,” ujar Kuntono. Dijelaskannya, bahwa apapun bisa terjadi di speed. Karena negara yang sebelumnya tak diunggulkan, tiba-tiba bisa merangsek ke peringkat atas. “Seperti Indonesia. Dua tahun lalu, kami masih jauh di atas. Sekarang semua negara sangat antusias di speed dan mereka bisa bersaing. Kami tidak boleh terlena,” tukas Kuntono. (Adt)

Triple Gold Spiderwoman Grobogan Aries Susanti Rahayu, Tambah Motivasi Menuju Olimpiade 2020 Tokyo

Atlet panjat tebing kelahiran Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), 21 Maret 1995, Aries Susanti Rahayu, sukses mengukir medali emas ketiga di ajang IFSC Climbing Worldcup, yang kali ini berlangsung di Xiamen, China, pada 27-28 Oktober 2018. (FPTI)

Xianmen- Aries Susanti Rahayu kembali mengukir medali emas di ajang bergengsi dunia IFSC Climbing Worldcup, yang kali berlangsung di Xiamen, China, pada 27-28 Oktober 2018. Sekaligus menjadi medali emas ketiga bagi atlet panjat tebing berjuluk ‘Spiderwoman’ itu di ajang IFSC Climbing Worldcup. Di partai puncak kategori women’s speed, ia menghadapi pemanjat asal Rusia Iuliia Kaplina. Wanita kelahiran Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), 21 Maret 1995, jadi yang tercepat usai membukukan catatan waktu 7,532 detik. Kaplina kalah akibat fall. Posisi ketiga dihuni Anouck Jaubert asal Prancis. Ia mengalahkan pemanjat Rusia Elena Remizova. Jaubert menang dengan mengunci waktu 7,947 detik, sedangkan Remizova 7,995 detik. Prestasi gemilang itu membuat wanita asal Desa Klambu, Kabupaten Grobogan, Jateng itu, makin mantap menyongsong Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Ini memotivasi saya menatap Olimpiade,” ujar Aries, seperti keterangan yang diterima redaksi nysnmedia.com, pada Senin (29/10). Dipertandingan lain, Aspar ‘Babon’ Jaelolo meraih medali perak. Di babak final, ia harus mengakui keunggulan, Bassa Mawem asal Prancis. Catatan waktu kedua atlet ini terpaut tipis. Mawem mampu merebut medali emas usai membukukan waktu 5,600 detik, sedangkan Aspar 5,620 detik. Peringkat ketiga diraih Reza Alipourshena (Iran), dengan catatan 7,600 detik, sedangkan Dmitrii Timofeev dari Rusia, fall. Dijelaskan Aspar, kompetisi di Xiamen sangat luar biasa. Persaingan dalam event ini ketat. Atlet asal DKI Jakarta itu, mengaku kerepotan untuk bisa mengamankan tiket ke babak final. Semua atlet berpeluang menang. “Pertandingan seri terakhir ini luar biasa ketat. Untuk babak final sangat susah. Rata-rata atlet, waktu pemanjatannya 5 detik dan 06,20 detik,” terang pria kelahiran Wani, Sulawesi Tengah, 24 Januari 1988. Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, menyebut para atlet bisa tampil lebih maksimal lagi. “Dibanding dua seri terakhir, (performa atlet) masih bagus seri awal-awal yang diikuti. Sekarang, kami enggak ada Pelatnas lagi. Jadi sifatnya cuma mempertahankan performa saja,” tutur Hendra. Ia menambahkan usai dari Xiamen, China, para atlet kembali ke Tanah Air, sebelum mengikuti kejuaraan Asia. “Kami pulang ke Indonesia dan kurang lebih persiapan tiga hari untuk Asian Champhionship (pada 7-11 November 2018, di Kurayoshi, Jepang),” imbuhnya. Sementara itu, Pristiawan Buntoro, Wakil Ketua II Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menegaskan prestasi ini capaian yang luar biasa. “Sudah on the track dan sah dia (Aries Susanti Rahayu) sebagai pemanjat dunia. Tahun depan dia harus ikut semua seri (IFSC Climbing Worldcup),” cetusnya. Sedangkan Faisol Riza, Ketua Umum PP FPTI, menerangkan kompetisi di luar negeri sangat bermanfaat bagi para atlet Indonesia. “Kemenangan ini makin menunjukkan kesiapan atlet panjat tebing merah putih, untuk berlaga di Olimpiade,” tukas Faisol. (Adt)

Indonesia Kampiun Kategori Speed di China, Aspar Jaelolo dan Aries Susanti Rahayu Sandingkan Gelar Juara Dunia

Aries Susanti Rahayu meluapkan kegembiraannya usai merebut gelar juara dunia dalam kategori women’s speed, di ajang IFSC Climbing World Cup, di Wujiang, China, pada 20-21 Oktober 2018. (FPTI)

Wujiang- Prestasi gemilang ditorehkan dua atlet panjat tebing andalan Indonesia, di ajang IFSC Climbing World Cup, di Wujiang, China, pada 20-21 Oktober 2018. Aspar Jaelolo dan Aries Susanti Rahayu, berhasil menyandingkan gelar juara dunia kategori speed di Negeri Tirai Bambu itu. Torehan ini menunjukkan kelas dua atlet panjat tebing Merah Putih itu sebagai pemain elit dunia, sebab world cup merupakan kejuaraan tertinggi di sport climbing. Aspar menunjukkan kelasnya sebagai juara dunia setelah merebut posisi pertama kategori men’s speed. Pria kelahiran Wani, Sulawesi Tengah, 24 Januari 1988 itu, mengalahkan atlet asal Italia Ludovico Fossali. Ia mencatatkan waktu 5,810 detik, sedangkan Fossali 5,940 detik. Dan, posisi ketiga diduduki pemanjat asal Iran, Reza Alipourshena. Aspar mengaku bahagia dengan prestasi yang diraihnya kali ini. “Saya hanya ingin mengatakan bahwa selama masih punya mimpi, maka masih ada waktu untuk membuktikan. Meski saya sering dianggap spesialis perak, namun saya tidak pernah menghapus mimpi saya untuk jadi nomor satu. Dan, hari ini saya buktikan. Terima kasih, ini untuk Indonesia,” ujar Aspar, di Wujiang, pada Minggu (21/10). Sementara, Aries meraih medali emas kategori women’s speed setelah mengalahkan atlet Prancis Anouck Jaubert. Di babak final, ‘Spiderwoman Grobogan’ itu mengungguli Jaubert dengan catatan waktu 7,740 detik, berbanding 8,010 detik. Sedangkan tempat ketiga diduduki Iuliia Kaplina dari Rusia. Aries mengaku bahagia, namun ia tak ingin jemawa dan cepat puas. Wanita kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 21 Maret 1995, ingin terus melaju dengan menorehkan prestasi-prestasi lainnya yang membanggakan untuk Indonesia. “Terima kasih. Ini podium kedua di world cup. Namun, saya tak ingin berhenti di sini. Saya masih ingin memecahkan rekor dunia agar Indonesia bangga,” tegas Aries. Sementara itu, Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, mengungkapkan sebetulnya tim tidak menargetkan apa-apa dalam kompetisi ini. Namun, para atlet tetap akan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dan, terbukti hasilnya, dimana atlet dari Indonesia mampu melesat ke posisi pertama. Ia juga mengakui bila misteri medali emas Aspar akhirnya terpecahkan. Menurutnya, capaian ini semakin menunjukkan kelas atlet Indonesia sebagai atlet dunia. “Iya (Aspar pecah emas). Banyak dapat ucapan selamat dari pemain lain. Kita atlet elit tingkat dunia,” tegas Hendra. Sedangkan Caly Setiawan, Kepala Bidang Pembinaan Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menyebut sebelum berangkat ke China, para atlet diharapkan menunjukkan kelasnya sebagai atlet top. “Untuk Aspar ini memang kami harapkan bisa pecah emasnya dan untuk Aries kami harapkan dapat emas, sehingga semakin memantapkan kalau dia memang atlet top dan medali emas-nya memang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini,” tukas Caly. (Adt)

Berlaga di IFSC Climbing World Cup China, Spiderwoman Grobogan Aries Susanti Rahayu Cs Diminta Tampil Fight

Sebelum tampil di kualifikasi Olimpiade, di Prancis pada 2019, Aries Susanti Rahayu (tengah) dan kawan-kawan, diminta tampil fight pada kejuaaraan dunia IFSC Climbing World Cup, di Wujiang, China, pada 20-21 Oktober 2018. (FPTI)

Wujiang- Aries Susanti Rahayu dan kolega bakal berlaga pada kejuaaraan dunia IFSC Climbing World Cup di Wujiang, China, pada 20-21 Oktober 2018. Mereka diminta tampil fight di Negeri Tirai Bambu itu. Dalam event bergengsi ini, Indonesia turun di nomor men’s speed, men’s lead, women’s speed, dan women’s lead. Selain Aries Susanti, terdapat nama lain yakni Aspar Jaelolo, Alfian M Fajri, Sabri, Muhammad Hinayah, Veddriq Leonardo, Pangeran Septo Wibowo, Puji Lestari, Rajiah Sallsabillah, Agustina Sari, Nurul Iqamah, dan Mudji Mulyani. “Kami akan fight dan menunjukkan kemampuan terbaik kami dalam ajang bergengsi ini. Kami akan memaksimalkan semua kemampuan yang ada,” ujar Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, dikutip situs resmi FPTI, pada Sabtu (20/10). Sementara itu, Pristiawan Buntoro, Wakil Ketua II Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menjelaskan usai gelaran Asian Games 2018, para atlet panjat tebing elit Indonesia terus menempa diri dengan mengikuti berbagai event internasional. “Anak-anak ini levelnya sudah dunia. Mereka sedang mempertahankan level dunia mereka,” tegas Pristiawan. Ia berharap para atlet terus menempa diri, sehingga skillnya semakin terasah. Menurutnya, keikutsertaan mereka di event tingkat internasional amat penting guna mempertahankan level mereka. Terlebih, event akbar Olimpiade, di Tokyo, Jepang, semakin dekat. Sebelumnya, Aries Susanti Cs mengikuti dua event ‘The Belt and Road International Climbing Master Tournament 2018’, di Huaian dan Wanxianshan, China, beberapa waktu lalu. Dalam kedua event tersebut atlet Indonesia mampu mengawinkan emas dan memborong medali. “Kami berharap prestasi yang terbaik untuk mereka,” cetusnya. Selanjutnya, usai seri piala dunia di Wujiang, mereka akan mengikuti seri piala dunia di Xiamen, China, pada 27-28 Oktober 2018. Para atlet juga akan beraksi di Asian Championship, pada 7-11 November 2018, di Kurayoshi, Jepang. “Ini sebagai bekal mereka mempersiapkan diri kualifikasi Olimpiade di Prancis pada 2019. Itu tujuan utama kami agar lolos ke Olimpiade Tokyo 2020,” tukas Pristiawan. (Adt)

Atlet Panjat Tebing Indonesia Torehkan Prestasi Gemilang, Kawinkan Emas dan Borong Medali di China

Aries Susanti Rahayu meraih medali emas usai mencetak waktu 7,99 detik, di nomor women’s speed kejuaraan ‘The Belt and Road’ International Climbing Master Tournament 2018, di Wanxianshan, China, 13-14 Oktober 2018. (FPTI)

Wanxianshan- Prestasi gemilang kembali lagi ditorehkan atlet panjat tebing Indonesia, saat berlaga di China, pada kejuaraan bertajuk ‘The Belt and Road’ International Climbing Master Tournament 2018, di Wanxianshan, akhir pekan ini. Tak hanya sukses mengawinkan medali emas speed, tapi mereka memborong medali di nomor women’s speed. Sebelumnya, pada turnamen serupa yang dihelat di Huaian, China, 9-10 Oktober 2018, Merah Putih juga berkibar di podium tertinggi ketika berhasil mengawinkan emas. Para atlet yang mengikuti kompetisi di Negeri Tirai Bambu, yakni Aspar Jaelolo, Alfian M Fajri, Sabri, Muhammad Hinayah, Veddriq Leonardo, Pangeran Septo Wibowo, Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, Agustina Sari, dan Nurul Iqamah. Aries, spiderwoman Grobogan ini menyabet Medali emas dinomor women’s speed, dan men’s speed dipersembahkan Septo Wibowo. Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, mengatakan dalam kategori women’s speed, peringkat satu hingga empat diduduki atlet Indonesia. Diungkapkannya, peringkat pertama ditempati Aries, dengan catatan waktu 7,99 detik. Dara kelahiran 21 Maret 1995 ini, menyingkirkan kompatriotnya Agustina Sari, dalam babak final, dengan waktu 8,20 detik. Sementara, peringkat tiga ditempati Nurul Iqamah dengan 8,52 detik. Ia mengalahkan rekan senegaranya Rajiah Sallsabillah yang menorehkan catatan waktu 8,72 detik, dalam babak perebutan juara tiga. Sedangkan di nomor men’s speed, Aspar sukses sebagai pemenang dengan catatan waktu 5,99 detik. Ia melibas atlet tuan rumah, Lin Penghui, di babak final yang menorehkan waktu 6,30 detik. Peringkat tiga ditempati Muhammad Hinayah yang mengalahkan Veddriq Leonardo, di babak perebutan juara tiga. Hinayah menang usai menciptakan waktu 6,29 detik, karena Veddriq hanya mampu mengukir waktu 6,37 detik. Menurutnya, tak hanya bermain di nomor speed, para atlet Indonesia juga menjajal berkompetisi di nomor Lead. Nurul Iqamah berhasil menduduki peringkat keempat di nomor women’s lead, sedangkan Aspar berada di peringkat delapan di nomor men’s lead. “Mereka memang enggak hanya main di speed, tetapi di lead juga. Biar merasakan kompetisi di lead juga,” ujar Hendra seperti keterangan yang diterima redaksi nysnmedia.com, pada Minggu (14/10). Sementara itu, Faisol Rizal, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), mengapresiasi prestasi membanggakan yang ditorehkan Aries Susanti Cs. “Kemenangan ini semakin menunjukkan kesiapan para atlet untuk berlaga di Olimpiade,” tegas Rizal. (Adt)

Rebut Emas Nomor Women’s Speed, Spiderwoman Grobogan Aries Susanti Rahayu Kawinkan Emas di China

Indonesia sukses mengawinkan medali emas nomor men’s speed dan women’s speed kejuaraan The Belt and Road International Climbing Master Tournament 2018, di Huaian, China. (FPTI)

Huaian– Dua atlet panjat tebing andalan Indonesia sukses mengawinkan medali emas nomor men’s speed dan women’s speed pada kejuaraan bertajuk ‘The Belt and Road International Climbing Master Tournament 2018’, di Huaian, China, pekan ini. Kemenangan ini dipersembahkan untuk korban gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. Pangeran Septo Wibowo, yang turun di nomor men’s speed, sukses meraih medali emas setelah mengunci catatan waktu 6,33 detik, di partai final. Ia menyingkirkan Rukin Sergei asal Rusia yang mengalami fall saat final. Sedangkan Sabri harus puas diposisi ketiga karena hanya mampu menciptakan catatan waktu 6,28 detik, mengalahkan rekannya Muhammad Hinayah yang mencetak catatan waktu 6,37 detik. Sementara itu, spiderwoman Grobogan, Aries Susanti Rahayu, berhasil mengawinkan gelar. Ia menjadi yang tercepat di nomor women’s speed usai membuat catatan waktu 7,93, di partai pamungkas. Atlet kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 21 Maret 1995 itu, mengalahkan He Cuilian asal China yang mengukir waktu 8,86 detik. Kemudian, peringkat ketiga dihuni Agustina Sari dan Nurul Iqamah. Agustina unggul usai menorehkan catatan waktu 6,28 detik berbanding 11, 21 detik. Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, mengatakan, atlet yang berangkat ke Negeri Tirai Bambu guna mengikuti kompetisi internasional, yakni Aspar Jaelolo, Alfian M Fajri, Sabri, Muhammad Hinayah, Veddriq Leonardo, Pangeran Septo Wibowo, Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, Agustina Sari, dan Nurul Iqamah. Faisol Riza, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menambahkan kompetisi yang diikuti para atlet Indonesia di luar negeri memberikan manfaat yang sangat besar. “Olimpiade Jepang itu 2020. Kami tidak memiliiki cukup waktu untuk bersiap. Apalagi, Pemerintah belum menetapkan Pelatnas untuk (Olimpiade) itu. Sehingga kompetisi yang diikuti atlet-atlet Indonesia di luar negeri sangat penting untuk menjaga performa,” ujar Riza seperti keterangan yang diterima nysnmedia.com. (Adt)

Kejurnas KU XIII/2018 Kategori Lead Junior Putra Berakhir, Atlet 18 Tahun Skuat Timnas Masih Perkasa

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kelompok Umur (KU) XIII/2018, Kategori Lead Junior (18-19 tahun) Putra, akhirnya masih dikusai Seto, atlet junior skuat tim nasional asal asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (FPTI)

Rengat- Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kelompok Umur (KU) XIII/2018, Kategori Lead Junior (18-19 tahun) Putra, berakhir pada Jumat (28/9), di Pematang Reba, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Di laga final, atlet tim nasional (Timnas) panjat tebing masih perkasa di kategori itu. Seto, atlet Timnas panjat tebing asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), meraih medali emas usai mencapai top di partai puncak setelah membukukan poin 41+, di babak semifinal. “Di babak kualifikasi, Seto menorehkan catatan waktu 7,04 menit,” ujar Anugrah Agung, Presiden Juri Kejurnas KU XIII/2018, Jumat (28/9). Di Asian Games XVIII/2018, Seto menjadi salah satu atlet yang diturunkan di nomor combine. Namun, atlet junior kelahiran Sleman, 3 November 2000 ini, gagal mengharumkan nama Indonesia, akibat gagal menembus baak final. Sedangkan Muhammad Elfarzy Rizky asal Kalimantan Selatan berhak mendapatkan medali perak. “Elfarzy mengumpulkan 39 poin di babak final, dan 41 poin di babak semifinal. Dia menorehkan catatan waktu 7,04 menit,” lanjutnya. Sementara itu, medali perunggu direbut wakil Jawa Tengah, Kiromal Katibin, yang juga punggawa Timnas. Ia mencetak 39 poin di babak final, dan 38+ di babak semifinal. “Di babak kualifikasi, Kiromal menorehkan catatan waktu 7,04 menit,” tambahnya. Lalu, diposisi empat diduduki Septi Afriandani Zain (Jawa Timur), dan peringkat lima ditempati Achmad Tegar Prasojo (Jawa Timur). “Peringkat enam dihuni Ivan Alana asal Sulawesi Tengah, dan posisi tujuh ada Eko Putra. Dan, posisi delapan ada Jufri Naldi Darwansa dari Riau,” tukasnya. Di laga putri, juga berlangsung sengit. Sebab, kedua atlet yang berlaga di babak final mengumpulkan poin sama, yakni 39. Bahkan waktu pemanjatan di babak kualifikasi pun serupa yakni 3,24 menit. Namun, Juskerina asal Kalimantan Timur, sukses menjadi yang terbaik, setelah memundi catatan waktu lebih cepat dibandingkan rivalnya dengan 5,21 menit. Ia berhak atas medali emas setelah menyingkirkan Diah Puspaningtyas (Daerah Istimewa Yogyakarta). Diah harus puas menjadi runner up, dengan mengukir waktu 5,46 menit. “Medali perunggu diraih atlet asal Bali Ni Komang Ayu Suartini yang berhasil mengumpulkan 38 poin. Di babak kualifikasi, Ni Komang meraih catatan waktu 3,24 menit,” jelas Anugrah. (Adt)

Raih Emas Kategori Lead Youth B Putri Kejurnas Panjat Tebing KU 2018, Amanda Kokohkan Dominasi Jawa Timur

Amanda Narda Mutia (tengah) menyumbangkan medali emas bagi kontingen Jatim, pada Kategori Lead Youth B Putri (14-15 tahun), dalam Kejurnas Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XIII/2018, di Indragiri Hulu (Inhu), Riau, pada Jumat (28/9). (FPTI)

Rengat- Jawa Timur (Jatim) memperkokoh dominasinya pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XIII/2018, di Pematang Reba, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, pada Jumat (28/9). Yakni Amanda Narda Mutia, berhasil menyumbangkan medali emas bagi kontingen Jatim, pada Kategori Lead Youth B Putri (14-15 tahun). Di laga final, ia meraih poin 43+ dengan waktu tercepat 2,50 menit, saat kualifikasi. Amanda yang juga atlet Pelatda Panjat tebing Jatim ini, sebelumnya juga mencetak prestasi. Pada Kamis (27/9), dalam kategori Boulder Youth B Putri, Amanda berada di posisi teratas dan mencatatkan 2 top, 3 zone, 2 attempt to top, dan 3 attempt to zone. Ia menyingkirkan rekannya, Pradeva Adelia, yang hanya mencetak 2 top, 2 zone, 2 attempt to top, dan 2 attempt to zone. Sedangkan medali perak, direbut Nur Diatul Jannah, asal Kepulauan Bangka Belitung, yang meraih poin 37+, serta membukukan waktu 4,33 detik saat kualifikasi. Dan, wakil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sukma Lintang Cahyani harus puas mengantongi medali perunggu. Ia mencetak poin 37, dan cacatan waktu pada saat kualifikasi yakni 2,50 menit. “Peringkat 4 diraih atlet Bali, Ni Luh Jelita Damwati dengan poin 36. Nomor 5 diisi atlet Jatim, Pradeva dengan poin 26. Dan nomor 6, atlet Bali, Ni Putu Eka Ariyantini, dengan 18 poin,” ujar Anugrah Agung, Presiden Juri Kejurnas KU XIII/2018, Jumat (28/9). “Kemudian posisi ketujuh ada Nur Hidayah asal Kalimantan Timur yang mencatatatkan poin 14+. Terakhir di nomor 8 ada Puja Lestari asal Riau yang menghasilkan poin 11+,” tambah Anugrah. (Adt)

Torehkan Waktu 20, 54 Detik, Jericho Raih Emas Kategori Speed Klasik Youh C Putra Kejurnas Panjat Tebing KU 2018

Federasi Panjat Tebing Indonesia, FPTI, Indragiri Hulu (Inhu), Inhu, Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XII, Riau,

Rengat- Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XIII/2018, di Pematang Reba, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, memasuki hari keenam, pada Kamis (26/9). Atlet asal Kalimantan Utara, Jericho Anggelo Lana Beda Atamukin, berhasil tampil dominan, pada Kategori Speed Klasik Youth C Putra. Ia meraih emas usai menyelesaikan pemanjatan di dua jalur final, dengan akumulasi waktu tercepat yakni 20,54 detik. Hasil itu didapat Jericho dari dua jalur, masing-masing 10,44 detik, dan 10,10 detik. Dan medali perak diraih atlet asal Kalimantan Timur, Muhammad Akbar Ichsan. “Total waktunya 22,73 detik yang didapat dari pemanjatan dua jalur masing-masing 12,20 detik dan 10,53 detik,” ujar Anugrah Agung, Presiden Juri Kejurnas KU 2018, Kamis (27/9). Sedangkan Maulana Akbar Haj asal Riau, berhak mengantongi medali perunggu usai mencetak total waktu 22,34 detik. Ia menyingkirkan Ramaski Aswin Kristanto asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang hanya mampu membukukan catatan waktu 26,67 detik. Di tempat yang sama, wakil Jawa Timur tampil perkasa pada Kategori Boulder Youth B Putri. Mereka masing-masing berhasil menghuni peringkat satu dan dua. Peringkat satu diraih Amanda Narda Mutia, yang berhasil mencatatkan 2 top, 3 zone, 2 attempt to top, dan 3 attempt to zone. Ia menyingkirkan rekannya, Pradeva Adelia yang hanya mencetak 2 top, 2 zone, 2 attempt to top, dan 2 attempt to zone. Kemudian Sukma Lintang Cahyani asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mencatatkan 1 top, 3 zone, 1 attempt to top, dan 4 attempt to zone. Lalu, peringkat empat hingga enam menjadi milik Ni Putu Eka Aryantini (Bali), Nur Diatul Jannah (Kepulauan Bangka Belitung), dan Puja Lestari (Riau). (Adt)

Sengit di Babak Final, Putra Tri Ramdhani Sabet Emas Kategori Lead Youth C Putra Kejurnas Panjat Tebing KU 2018

Putra Tri Ramadhani (Jawa Timur/tengah) meraih emas pada Laga final, nomor lead kategori youth C putra (usia 12-13 tahun), di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XIII/2018, di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Pada nomor ini, semua peserta meraih poin sama. (FPTI)

Rengat- Perebutan medali nomor lead kategori youth C putra (usia 12-13 tahun) Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XIII/2018, di Pematang Reba, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, berlangsung ketat. Sengitnya persaingan dibuktikan dengan skor para atlet yang lolos ke babak final hanya terpaut tipis. Namun, Putra Tri Ramadhani, asal Jawa Timur (Jatim), berhasil merebut medali emas, paska mengoleksi jumlah poin 29+, dan membukukan waktu 1,73 menit. Ketujuh atlet lainnya pun juga mencetak poin sama yakni 29, tapi dengan catatan waktu berbeda-beda. “Untuk medali perak direbut atlet asal Sumatera Barat, Ahmad Zaki, dengan catatan waktu 1,73 menit,” ujar Anugrah Agung, Presiden Juri Kejurnas Panjat Tebing KU XIII, dalam rilis yang diterima nysnmedia.com, Rabu (26/9). Sedangkan, Ryan Rangga, asal Kepulauan Bangka Belitung, berhak meraih perunggu usai mencetak waktu 3 menit. Di kategori lead youth D putri, Nafatika Astuti, atlet asal Kudus, Jawa Tengah, meraih juara. “Untuk posisi kedua, ditempati Ananda Destina Nurindah dari Kepulauan Bangka Belitung,” ujarnya. Peringkat ketiga diduduki Ni Made Rai Anggreni dari Bali. Sementara itu, posisi empat hingga delapan berturut-turut ditempati Nadira Salsabilla dari Sumatra Barat, Neyla Ayu Putri dari Jawa Barat, Indyta Nouva Azzawa dari Jawa Timur, Salsabila dari Sulawesi Selatan, dan Sabila Silmi Zukhruf dari Jawa Barat. (Adt) Hasil Pertandingan Nomor Lead Kategori Youth C Putra (usia 12-13 tahun): 1. Putra Tri Ramadhani (Medali Emas/Jawa Timur): 1,73 menit 2. Ahmad Zaki (Medali Perak/Sumatera Barat): 1,73 menit 3. Ryan Rangga (Medali Perunggu/Kepulauan Bangka Belitung): 3,00 menit 4. Irgi Fathahilla Haqiqi (Sumatera Utara): 4,24 menit 5. Muhammad Akbar Ichsan (Kalimantan Timur): 4,97 menit 6. Ramaski Aswin Kristanto (Yogyakarta): 4,97 menit 7. Muhammad Zaenal Abidin (Jawa Timur): 7,25 menit 8. Agus Ari Setiawan (Jawa Timur): 8,72 menit

Mulai Sabtu Malam, 300 Atlet Junior Tampil di Kejurnas KU Panjat Tebing 2018 Riau

Sebanyak 300 atlet mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XII 2018, siap dihelat di Pematang Reba, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau pada 22-29 September 2018. (FPTI)

Rengat- Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XII 2018, siap dihelat di Pematang Reba, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, pada 22-29 September 2018. Ketua umum Pengurus Kabupaten Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Indragiri Hulu, Eldja Septarima menyebut, ada 300 peserta yang mendaftar. Mereka berasal dari 28 provinsi se-Indonesia. Rencananya, Kejurnas yang akan dibuka Bupati Indragiri Hulu Yopi Arianto ini, akan dihadiri oleh Ketua FPTI Pusat Faisol Riza. “Kita sudah undang, bupati/walikota, Kapolda, Kajati, dan lainnya untuk hadir dalam acara pembukaan pada Sabtu (22/9) malam di Inhu,” ucap Rima. Selain itu, pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga RI juga dijadwalkan hadir. Jika tidak hadir, sebut dia, maka akan dilakukan telecom friend dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi. “Ada 30 spesifikasi nomor yang dipertandingkan. Speed, lead, boulder, combine untuk junior, youth, dan kids,” ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, usia untuk kategori junior adalah 18-19 tahun, youth A: 16-17 tahun, youth B: 14-15 tahun. Kemudian untuk kategori kids, yakni youth C: 12-13 tahun dan youth D: 10-11 tahun. Khusus untuk nomor combine, hanya akan dipertandingkan di kategori junior dan youth A. Sedangkan youth C dan youth D, hanya akan bertanding di nomor speed classic dan lead. Total ada 90 medali yang diperebutkan. Para peserta wajib mengikuti technical meeting yang digelar pada Sabtu (22/9), sejak pukul 16.00 WIB. Saat ini, lokasi lomba sudah siap digunakan. Para pembuat jalur juga sudah bekerja di lokasi dan segera menyiapkan jalur pemanjatan. Pria yang menjabat Kepala Bidang Olahraga Disporapar Inhu ini mengharapkan, agar masyarakat turut meramaikan pesta olahraga tersebut. Sebab selain pertandingan juga akan ada festival kuliner di lokasi. “Bagi seluruh masyarakat khususnya yang berada di Riau, mari datang dan saksikan Kejurnas Kelompok Umur. Karena selain bisa nonton perlombaan, masyarakat juga bisa menikmati pesta kuliner,” katanya. (Adt)