Keren! Tiga atlet panjat tebing Indonesia tempati tiga besar dunia

Putra Tri Ramadani

Sebanyak tiga atlet panjat tebing Indonesia menempati tiga besar peringkat dunia, berkat akumulasi perolehan poin setelah mengikuti rangkaian penyelenggaraan kejuaraan internasional selama 2026 oleh World Climbing. Pelatih kepala timnas panjat tebing Indonesia Galar Pandu Asmoro mengatakan, ketiga atlet tersebut adalah Putra Tri Ramadani alias Srondeng, Desak Made Rita Kusuma Dewi, dan Antasyafi Robby Al Hilmi. “Ini hasil kerja keras bersama mulai dari pengurus, pelatih, manajemen, atlet juga, serta para stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mewujudkan semua itu,” ujar Galar, dikutip dari pernyataan resmi yang diterima. Dia memaparkan, Srondeng menduduki peringkat kedua dunia untuk kategori lead putra dengan mengumpulkan 3.370 poin. Pada kategori itu, peringkat pertama dunia diduduki Neo Suzuki dari Jepang dengan 4.405 poin dan tempat ketiga diduduki Alberto Gines Lopez dari Spanyol dengan 3.340 poin. Desak Made juga menduduki peringkat kedua untuk kategori speed putri dengan jumlah poin 3.370. Di sektor tersebut, peringkat pertamanya adalah Emma Hunt dari Amerika Serikat dengan 3.656 poin. Sedangkan, peringkat ketiga ditempati Polina Khalkevych dari Ukraina dengan 3.075 poin. Terakhir untuk kategori speed putra, Antasyafi Robby Al Hilmi menduduki peringkat ketiga dunia lantaran mampu mengantongi 3.426 poin. Status atlet speed putra nomor satu dunia digenggam Ryo Omasa asal Jepang dengan 3.600 poin dan posisi kedua ditempati Yicheng Zhao dari China dengan 3.485 poin. Sementara, atlet Indonesia lainnya Raharjati Nursamsa menduduki peringkat empat dengan 3.005 poin. Meski membanggakan, Galar tidak ingin cepat berpuas diri karena ada kompetisi di tahun berikutnya yang harus dihadapi. Dia pun menyiapkan strategi untuk rangkaian kejuaraan untuk tahun depan. “Tahun 2027 kami punya pekerjaan rumah yang besar yaitu harus meloloskan atlet-atlet Indonesia untuk merebut kuota ke Olimpiade LA 2028,” ujar Galar. Sementara itu, Desak Made mengaku senang dengan pencapaian tersebut. Dia sangat menikmati rangkaian kompetisi selama tahun 2026. Perempuan asal Bali itu pun bertekad untuk terus mengasah kemampuannya guna menghadapi kompetisi di tahun berikutnya. Dia percaya persaingan akan semakin sengit dan kompetisi semakin berat. “Saya berharap bisa terus membela Indonesia di kompetisi internasional dan tujuan utamanya adalah bisa lolos ke Olimpiade Los Angeles 2028 dan meraih emas disana,” tutur Desak.

Piala Soeratin 2026 di IKN, Perluas Semangat Sepak Bola ke Seluruh Indonesia

Gelaran Putaran Nasional Piala Soeratin 2026 kelompok usia U-13, U-15, dan U-17 resmi berakhir di PSSI Training Centre, Ibu Kota Nusantara (IKN), pada Jumat (23/10/2026) hingga Sabtu (24/10/2026). Penyelenggaraan kompetisi ini menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan sepak bola usia muda sekaligus memperluas semangat sepak bola nasional agar tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Piala Soeratin merupakan kompetisi sepak bola amatir usia muda yang diselenggarakan oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai wadah pembinaan dan pencarian bakat pesepak bola usia dini di Indonesia. Tahun ini, kompetisi mengusung tema pembinaan karakter, disiplin, dan sportivitas bagi generasi muda sepak bola Indonesia. Rangkaian kompetisi berlangsung pada 15–24 Oktober 2026 dengan melibatkan 24 tim dari berbagai daerah di Indonesia, masing-masing delapan tim untuk kelompok usia U-13, U-15, dan U-17. Berdasarkan hasil pertandingan final, ASIOP berhasil meraih gelar juara kelompok usia U-13, Persib Bandung menjadi juara kelompok usia U-15, sedangkan Waamanat Bhintuka FC keluar sebagai juara kelompok usia U-17. Deputi Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menyampaikan harapannya agar semakin banyak kegiatan olahraga dan seni berskala nasional diselenggarakan di IKN. “Harapan kami semakin banyak kegiatan olahraga, seni tingkat nasional diadakan di IKN, sekaligus mendatangkan orang-orang dari luar yang melihat langsung proses pembangunan IKN. Pada kesempatan yang sama PSSI telah mengajarkan kepada Kami panitia tentang bagaimana mengatur turnamen tingkat nasional bertajuk Piala Soeratin yang sudah berumur puluhan tahun ini, sehingga kedepan kita sudah harus mampu melaksanakan dengan lebih baik lagi jika diberi kesempatan, dan kalau boleh PSSI menunjuk lagi IKN sebagai tempat pelaksanaan putaran final, disamping sebagai wadah adu prestasi, juga kesempatan ini dapat dimanfaat anak anak generasi bangsa tahu dan paham tentang pembangunan IKN yang akan terus berlanjut, dan ini sebagai penaglaman tersendiri berlaga di Ibu Kota Nusantara,” ujar Alimuddin yang juga sebagai Local Organizer Commite. Anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, menyampaikan apresiasi kepada Otorita IKN atas dukungan fasilitas yang diberikan selama penyelenggaraan turnamen, mulai dari tempat tinggal dan transportasi bus hingga lapangan sepak bola berstandar FIFA. “Kami berterima kasih kepada IKN yang sudah memberikan fasilitas, mulai dari tempat tinggal, bus, hingga lapangan. Kami ingin adik-adik pemain juga memiliki pengalaman melihat IKN,” ujar Arya. Menurutnya, penyelenggaraan Piala Soeratin di IKN juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Nusantara kepada para pemain muda sekaligus memperluas perkembangan sepak bola ke berbagai wilayah Indonesia. “Kami membawa mereka ke IKN agar mereka mengenal IKN sekaligus mendorong semangat sepak bola agar tidak hanya berkembang di Jawa, tetapi juga di Kalimantan dan seluruh Indonesia. Ini hal yang baik agar semangat sepak bola semakin meluas,” lanjutnya. Kesan positif juga disampaikan Mahdin Simanda, salah satu pemain Persib Bandung yang menjuarai kelompok usia U-15. “Sangat bangga sekali, ini bukan hal yang mudah. Persiapan kami latihan setiap hari. Sebagai warga Indonesia, sangat bangga punya training centre seperti ini. Aku harap setiap event yang diadakan PSSI mainnya di sini (IKN),” ujar Mahdin Simanda. Penyelenggaraan Piala Soeratin 2026 di IKN menjadi salah satu upaya memperkenalkan Nusantara melalui kegiatan olahraga yang melibatkan generasi muda dari berbagai daerah. Kehadiran para pemain, ofisial, dan pendukung turut membuka ruang interaksi serta memperkuat semangat kebersamaan melalui olahraga.

Timnas bola tangan Indonesia raih dua medali di Piala IHF 2026

Tim nasional bola tangan Indonesia

Tim nasional bola tangan Indonesia meraih medali perak dan perunggu dalam IHF Trophy 2026 yang berlangsung di Chonburi, Thailand pada 21-25 Oktober. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (PB ABTI), Zulfydar Zaidar Mochtar memberikan acungan dua jempol atas prestasi membanggakan yang diberikan oleh kontingen tim Merah Putih di ajang ini. “Kami menghargai perjuangan para atlet yang tampil di IHF Trophy, tim Youth menyuguhkan medali perunggu. Sedang tim junior meraih medali perak,” tegas Zulfydar Zaidar dalam keterangan resmi, Selasa. Tim junior Indonesia mengalahkan Filipina dengan skor 48-18 dalam perebutan tempat ketiga. Sedangkan tim senior Indonesia harus mengakui ketangguhan tuan rumah Thailand, 31-37 dalam babak final. “Hasil medali perak bagi tim junior selain menjadi catatan bagi pemain, juga semua Pengprov ABTI dari seluruh Tanah Air. Semua hasil yang diraih tim nasional di Thailand dapat menggugah semua Pengprov untuk membina atletnya di masa mendatang,” tegas Zulfydar. Lewat hasil positif yang ditunjukkan oleh tim junior dan senior putra tersebut juga menjadi motivasi berlebih untuk tim bola tangan putri Indonesia yang nantinya akan tampil dalam IHF Nations Trophy (Asia-Zona I-B) di Chonburi, Thailand, 27–31 Oktober mendatang. “Kami berharap tim putri yang juga tampil di IHF Nations Trophy (Asia-Zona I-B) bisa keluar sebagai juara. Karena saat junior tahun lalu mereka sudah mengalahkan tim kuat Vietnam dan tuan rumah Thailand,” papar Zulfydar. Zulfydar Zaidar mengakui, dalam perjuangan meraih juara sudah pasti Timnas Indonesia menghadapi lawan kuat dari Thailand dan Vietnam. Seperti di junior putra gagal meraih medali emas setelah kalah lawan Thailand. Kondisi seperti itu harus ditemukan solusinya baik oleh pelatih maupun pemain yang langsung menghadapi lawan di tengah lapangan. “Bila mampu meningkatkan mental tanding setelah bermain di final, niscaya hasil yang diharapkan dapat terpenuhi untuk tampil juara,” tambah Zulfydar.

Pebulu tangkis Muda Indonesia borong dua gelar di Luksemburg

Rajendra Daffa Al Basith dan Suciati Aqueena Ayu

Dua pebulu tangkis muda Indonesia, Rajendra Daffa Al Basith dan Suciati Aqueena Ayu, meraih dua gelar juara pada turnamen bulu tangkis internasional U-17 di Luksemburg, 23–25 Oktober 2026. Berdasarkan keterangan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussel yang diterima Rabu, kedua gelar tersebut diraih dari nomor ganda campuran dan tunggal putri. Rajendra dan Suciati yang mewakili PBSI Jakarta Selatan menjuarai nomor ganda campuran setelah mengalahkan pasangan Irlandia pada pertandingan final dengan skor 21-8, 21-18. Sementara itu, Suciati juga merebut gelar tunggal putri setelah menundukkan wakil Jerman melalui dua gim langsung dengan skor 21-13, 21-16. Keberhasilan tersebut membuat Suciati membawa pulang dua gelar dari turnamen yang berlangsung di Coque, Luksemburg. Turnamen tersebut diikuti atlet dari sejumlah negara Eropa, yakni Jerman, Belgia, Swiss, Belanda, Irlandia, Inggris, Prancis, Ceko, dan Luksemburg. Keikutsertaan kedua atlet Indonesia dalam turnamen itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengalaman bertanding di tingkat internasional. KBRI Brussel sebelumnya memberikan fasilitasi dan dukungan kepada tim bulu tangkis Indonesia U-17 pada 12 Oktober 2026 untuk mendukung keikutsertaan mereka dalam kompetisi internasional di kawasan Eropa. KBRI Brussel berharap dukungan terhadap keikutsertaan atlet muda Indonesia dalam turnamen internasional dapat berkontribusi pada penguatan pembinaan olahraga nasional. Prestasi tersebut juga diharapkan dapat memotivasi pebulu tangkis muda Indonesia untuk terus meningkatkan kemampuan dan daya saing di tingkat internasional.