Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. ā€œYang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,ā€ ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. ā€œMungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,ā€ lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ā€˜tepok bulu angsa’ itu. ā€œTapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,ā€ bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta.Ā (Adt)

Melaju ke Semifinal, Fajar/Rian Tantang Unggulan Dua Asal China, Kevin/Marcus Duel Dengan Ganda Taiwan

Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2108, paska menyingkirkan wakil Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, dua gim langsung, 21-17 dan 21-13. (Pras/NYSN)

Jakarta- Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games XVIII/2108. Mereka sukses membuat wakil Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi menelan kekecewaan. Wakil Negeri Jiran itu mampu tampil baik di gim pertama dengan membuat kedudukan imbang 17-17. Namun, duet Merah Putih tak membiarkan Ong/Teo merebut gim ini. Dengan memainkan bola pendek menjadi kunci Fajar/Rian mengunci gim pertama dengan skor 21-17. ā€œSaat kedudukan 17-17 di gim pertama, saya tak berpikir gimana-gimana. Kuncinya gim pertama tak boleh angkat bola karena rawan diserang oleh lawan. Jadi kami terapkan permainan no lob, dan berhasil,ā€ ungkap Fajar usai laga. Berlanjut ke gim kedua, Fajar/Rian makin tak terbendung. Mereka dengan mudah meraih poin atas Ong/Teo. Dan usai tampil selama 33 menit, Fajar/Rian mengunci kemenangan dengan skor 21-13. ā€œMereka tak bisa bermain bertahan. Sebab ada faktor menang dan kalah angin. Mungkin mereka sempat ada defense, tapi di gim kedua, mereka bisa ditembus,ā€ timpal Rian. Kemenangan Rian/Fajar atas Ong/Teo di perempat final Asian Games 2018 sekaligus membalas kekalahan di ajang All England 2018, Maret lalu. Duet Indonesia yang menempati rangking 9 dunia itu kalah rubber game, 16-21, 21-16, dan 21-23. Di semifinal, Fajar/Rian menantang unggulan dua asal China, Li Junhui/Liu Yuchen yang menang atas wakil Srilanka, Sachin Dias/Buwaneka Goonethilleka, staright game, 21-12, 21-15. ā€œLawan kami besok (Senin, 27/8) juga berat. Power dan serangan mereka, karena postur mereka tinggi. Jadi harus antisipasi bola datar,ā€ terang Fajar. Sementara itu, langkah ganda utama Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon masih belum terbendung. Mereka sukses menumbangkan Goh V Shem/Tan Wee Kiong asal Malaysia, straight game, 22-20, 21-19. Hasil itu sekaligus memperlebar rekor pertemuan kedua pasangan menjadi 3-1. Dua kemenangan Kevin/Marcus masing-masing diraih di ajang India Open 2016 (21-15, 21-17), dan Thomas & Uber Cup Finals 2018 (21-19, 20-22, 21-13). Sedangkan satu-satunya kemenangan Goh/Tan diperoleh di Swiss Open 2015 (21-10, 21-19). Menuntaskan laga selama 34 menit, Marcus mengakui bila dirinya bersama Kevin lebih siap dalam pertandingan ini, dibandingkan dengan lawan. ā€œKami lebih siap dan lebih yakin dari awal main. Sehingga kami bisa unggul dari mereka,ā€ ujar Marcus. Diakui Marcus, bila penampilan Goh/Tan sangat bagus dan memiliki speed yang baik. ā€œJadi kami juga harus siap untuk main dengan speed juga,ā€ tambah suami dari Agnes Amelinda Mulyadi itu. Di semifinal, Kevin/Marcus sudah ditunggu Lee Jhe Huei/Lee Yang. Wakil Taiwan ini meraih kemenangan, dari wakil Korea Selatan, Choi Solgyu/Min Hyuk Kang, staright game, 21-16, 21-16. (Adt)

Lakoni Duel Kurang Dari Satu Jam, Dua Wakil Tunggal Indonesia Lolos ke Semifinal

Anthony Sinisuka Ginting sukses menekuk wakil China, Chen Long, dua set langsung dengan skor 21-19 dan 21-11, pada laga perempat final, cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Wakil tunggal Indonesia, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting, melaju ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Minggu (26/8). Dihadapan publik sendiri, di Istora Senayan, Jakarta, Jonatan dan Anthony memaksa lawan menyerah, lewat duel yang berlangsung kurang dari satu jam. Memainkan laga perempat final, Jonatan hanya butuh waktu 46 menit untuk memaksa wakil Hongkong, Wong Wing Ki Vincent menyerah. Di gim pertama, pemain asal PB Tangkas Specs Jakarta itu tampil dominan, bahkan tak memberikan kesempatan lawan, memundi poin dengan mudah. Jonatan yang tampil percaya diri itu kerap membuat Wong tak berkutik. Bahkan, poin yang dikumpulkan pebulutangkis Pelatnas PBSI Cipayung itu, tak mampu dikejar hingga membuat Wong pasrah. Alhasil, Jonatan mampu mengunci gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. Berlanjut di gim kedua, Wong berusaha keluar dari tekanan. Namun, pebulutangkis Merah Putih berpostur 1,79 meter itu konsisten dengan performanya. Sempat memimpin 11-9 di interval gim ini, tapi Wong berhasil menyusul serta memimpin perolehan poin 15-14. Lawan yang kerap mengangkat bola ke belakang, dibalas dengan jumping smash keras oleh Jonatan. Akibatnya, Jonatan kembali berhasil meninggalkan perolehan angka lawan sekaligus memastikan lolos ke semifinal usai membungkus kemenangan dengan skor 21-18. ā€œTerima kasih Tuhan. Suporter yang ada di Istora membuat juga Wong sedikit tegang. Di awal Wong sering mati sendiri. Bola yang seharusnya tidak sulit, tapi tidak bisa dia kembalikan atau keluar. Ini jadi keuntungan tersendiri buat saya,ā€ ujar Jonatan usai laga. Terkait peluang di semifinal, yang dihelat pada Senin (27/8), Jonatan mengatakan akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan Hendry Saputra (Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI). ā€œSetelah lihat hasilnya barus bisa saya bicarakan dengan pelatih,ā€ cetus Jonatan. Sedangkan, Anthony menorehkan hasil gemilang usai menekuk Chen Long (China) yang juga unggulan lima ini, dalam tempo 50 menit. Pertemuan kedua pemain ini berlangsung sengit sejak awal gim pertama. Sempat tertinggal 6-11 dari Chen di interval gim pertama, tak membuat Anthony mengendurkan tekanan. Jonatan dan Chen sempat membuat publik Istora tegang, saat kedudukan imbang 18-18. Namun, penampilan impresif dari pebulutangkis Tanah Air berusia 21 tahun itu membuat Chen kewalahan. Anthony memanen angka serta membungkus gim ini, dengan skor 21-19. Memulai gim kedua, Anthony langsung menggebrak dengan memimpin interval 11-6. Bahkan, poin wakil tuan rumah makin tak terkejar oleh lawan hingga match point 20-11. Dan bola kembalian Chen yang menyangkut di net memastikan Anthony merebut gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. ā€œPuji Tuhan, saya bisa lewati hari ini dan dikasih kemenangan. Di gim pertama awalnya sampai interval ketinggalan, saya coba strategi seperti kemarin, lebih inisiatif menyerang serta mengembalikan kepercayaan diri lagi,ā€ terang Anthony. ā€œDi gim kedua, tak ada strategi khusus. Chen dapat lapangan yang ā€˜menang angin’, jadi dia banyak melakukan kesalahan sendiri, jadi ragu-ragu mainnya,ā€ tambahnya. Di babak semifinal, Anthony akan berjumpa dengan Chou Tien Chen (China Taipeh) sekaligus unggulan empat. ā€œPersiapannya tetap balik ke diri saya sendiri, dari perjalanan kemarin nggak mau terlalu banyak mikir. Sebenarnya sudah ada rancangan mau main apa, tapi fokus ke jaga badan, jaga makan, mental, kalau di lapangan semua berubah,ā€ tegas Anthony. (Adt)

Anthony Revans Tekuk Momota Dua Gim Langsung, Ganda Putra Amankan Tiket Perempat Final

Lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit, Anthony Sinisuka Ginting (putih) menang dari wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). (Tribunnews.com)

Jakarta- Anthony Sinisuka Ginting akhirnya menuntaskan dendam, paska menekuk wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). Pemain tunggal asal klub SGS PLN Bandung itu, sebelumnya takluk dari ketangguhan Momota, pada pertemuan semifinal beregu putra, Selasa (21/8), lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit. Pada laga 16 besar, memainkan gim pertama, Anthony meladeni pemain Negeri Sakura itu. Saling tekan dan serang mewarnai duel kedua pemain ini. Namun, berkat ketenangan dalam menempatkan bola membuat Anthony mampu membungkus gim pertama dengan skor 21-18. Situasi tak berubah di gim kedua. Anthony dan Momota tampil impresif. Kendati sempat tertinggal 6-11, namun penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu tampil tenang, bahkan bmembuat angka imbang 15-15. Skor lawan terpaku di angka 18, sedangkan Anthony memaksa Momota menelan pil pahit, usai mengunci gim kedua dengan skor 21-18. ā€œSaya tak menyangka bisa menang dua game langsung. Rasanya plong, apalagi saya kalah di beregu. Senang bisa revans. Sebenarnya performa Momota cukup bagus. Dan di awal game dia memegang kendali. Tapi ada peribahasa, bila hasil tidak akan mengkhianati usaha,ā€ ujar Anthony mengomentari kemenangannya atas Momota. Di perempat final, Anthony menantang Chen Long asal China, yang menempati unggulan lima. Berjumpa dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil itu, anak pasangan Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu) mengkau siap. ā€œHarus lebih fokus sama konsentrasi di lapangan saja,ā€ lanjutnya. Selain Anthony, wakil Indonesia di tunggal Jonatan Christie juga sukses mencatat hasil positif. Pemain berusia 20 tahun, kelahiran Jakarta, 15 September itu berhasil memulangkan Khosit Phetpradab (Thailand), rubber game, 17-21, 21-18, dan 21-18. ā€œSulit melawan Khosit, tetapi Tuhan bantu saya banyak hari ini. Saya merasa performa saya kurang dibandingkan kemarin. Saya nggak mau menyerah begitu saja, ini Asian Games yang empat tahun sekali,ā€ ujar pebulutangkis asal PB Tangkas Specs itu usai laga. ā€œSaya mau semaksimal mungkin, sampai habis, sampai saya benar-benar tak bisa jalan seperti Anthony, saya akan lakukan itu,ā€ tambahnya. Di perempat final, Jonatan akan berduel dengan Wong Wing Ki Vincent (Hongkong) usai meraih kemenangan atas Wang Tzu Wei (China Taipeh), rubber game, 21-12, 16-21, dan 21-13. Hasil cemerlang turut diperoleh dua ganda terbaik Indonesia, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Fajar/Rian secara meyakinkan menyudahi duet Korea, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, straight game, 21-18, 21-13, dalam tempo 44 menit. Di laga perempat final nanti, Fajar/Rian akan beradu kekuatan dengan ganda Negeri Jiran Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, yang secara mengejutkan menang atas unggulan tiga Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 21-14, 21-17. Sementara itu, kompatriotnya Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon, juga melenggang ke perempat final setelah menghentikan langkah Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang), rubber game, 21-16, 19-21, dan 21-18. Selanjutnya, pasangan Indonesia peraih juara Indonesia Open 2018 itu ditantang dobel Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong, yang menaklukan Bikash Shrestha/Nabin Sharestha (Nepal), straight game, 21-9, 21-12. Ditanya mengenai pertandingan perempat final, pada Minggu (25/8), Marcus mengatakan akan mengeluarkan penampilan terbaiknya bersama Kevin. ā€œUntuk besok, kami mau main yang bagus saja dulu,ā€ cetus Marcus singkat. (Adt)

Tunggal Putri Indonesia Kandas, Dobel Greysia/Apriyani Wakili Tim Merah Putih di Semifinal

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16, pada laga perempat final, nomor perorangan Asian Games 2018, Sabtu (25/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia tanpa wakil di babak perempat final, cabang olahraga bulutangkis Asian Games 2018, untuk nomor tunggal putri, setelah langkah Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, akhirnya terhenti di babak 16 besar, di Istora Senayan, Sabtu (25/8). Fitriani yang menghadapi pebulutangkis India, Saina Nehwal, di babak 16 besar kalah dua gim langsung, 6-21 dan 14-21. Sedangkan Gregoria menyerah dari unggulan ketiga yang juga asal India, PV Sindhu, 12-21, 15-21. Dikutip dari situs Badminton Indonesia, Fitri kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat di gim pertama. Bahkan Fitri cenderung banyak melakukan kesalahan sehingga Saina menang mudah. Di gim kedua Fitri sempat memberikan perlawanan kepada Saina. Hanya saja, kesalahan-kesalahan yang dilakukan Fitriani, kembali membuat poin Saina terus bertambah dan memenangi pertandingan. “Saina lebih menekan, permainan saya tidak berkembang. Di gim kedua saya unggul di awal, tetapi terkejar lagi karena dia bisa mengatasi pola yang saya terapkan,” ujar Fitriani usai bertanding. “Mungkin (penyebab kekalahan) dari pikiran sendiri, waktu sering out jadi ragu-ragu,” tambahnya Sementara Gregoria mengaku, sulit mengembangkan permainan saat melawan Sindhu. Sindhu yang merupakan unggulan ketiga di Asian Games 2018 mendominasi permainan. Di gim kedua penampilan Gregoria sempat membaik, tetapi Sindhu selalu lebih unggul. “Saya terlalu lama mencari pola permainan, Sindhu sudah dapat puncaknya, saya terus di bawah tekanan. Waktu gim kedua saya sudah mencobaatur dia. Tapi, dia menyerang, saya ikut terus memberikan pengembalian bola panjang ke belakang, padahal itu tidak menguntungkan saya sama sekali,” ucap Gregoria paska laga. Di Asian Games 2018 nomor tunggal putri memang tak dibebani target. Medali emas diharapkan datang dari bulutangkis di sektor duet campuran dan ganda putra. Meski tanpa wakil di nomor tunggal putri, tetapi nomor perorangan cabor bulutangkis, sukses mengamankan satu medali perunggu dari ganda putri. Ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir mengamankan tiket semifinal ganda campuran Asian Games 2018, usai menekuk pasangan ranking 23 dunia wakil Hong Kong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah, dalam permainan tiga set, 21-15, 17-21, 21-16 selama 58 menit, di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (25/8). Sementara, duet Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16. Dalam laga yang akan digelar pada Minggu (26/8), pasangan Indonesia ini akan berjumpa ganda asal Jepang, Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo. Hasil ini menjadi harapan bagi Indonesia untuk meraih medali emas di kategori ganda putri. Pasangan ini pun tampil cemerlang selama 2018. Saat ini mereka menempati posisi 4 dunia. Dilansir dari Bwfbadminton.com dan Asiangames2018.id., dobel andalan Indonesia ini menjadi kampiun di India Open 2018 dan Thailand Open 2018. (Adt)

Beregu Indonesia Hadapi Lawan Berat, PBSI Minta Kerja Keras Sejak Awal

Anthony Sinisuka Ginting, salah satu andalan skuat tim bulutangkis beregu putra Indonesia Asian Games XVIII/2018 harus berjuang keras sejak awal. Sebab, mereka dihadapkan tantangan berat. (Pras/NYSN)

Jakarta- Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) meminta tim beregu putra dan putri Asian Games XVIII/2018 harus berjuang keras sejak awal. Sebab, mereka dihadapkan tantangan berat. Hal itu dikatakan Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBSI menanggapi hasil undian beregu cabang bulutangkis, di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (16/8) malam. ā€œKita tidak bisa mengeluhkan hasil drawing. Itu adalah fakta yang harus dipersiapkan. Yang penting tim berjuang keras sejak awal,ā€ ujar Budiharto. Tim putra Indonesia berada di pool bawah bersama tim India, Maladewa, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan (Korsel). Indonesia yang menempati unggulan dua mendapat jatah bye di laga perdana. ā€œHasil tim putra, ini perjuangan berat untuk semuanya. Karena tim-tim bagus terkumpul di pool bawah. Untuk babak pertama kalau digambarkan, Jepang bertemu Malaysia, Korsel berhadapan dengan Thailand. Empat tim tersebut terkumpul dan hanya satu yang ke semifinal,ā€ lanjutnya. Jika di babak kedua berhasil melewati hadangan pemenang antara India dan Maladewa, Indonesia bakal menghadapi lawan berat di semifinal. ā€œKami menunggu pemenang antara Maladewa dan India. Memang perjuangan berat nantinya di semifinal. Siapa pun yang melewati India. Tim yang dihadapi relatif kuat,ā€ tambahnya. Sementara, tim putri Indonesia menempati pool atas bersama Hongkong, Korsel, India, dan Jepang. Srikandi Merah Putih memulai laga pembuka menantang Hongkong. Jika berhasil melewati Hongkong, Fitriani dan kolega di perempat final bakal berjumpa dengan Korsel yang mendapatkan bye di babak pertama. Dan jika langkah mereka terus berlanjut, maka mereka akan bertarung dengan pemenang antara Jepan dan India. Baik Jepang maupun India, turut mendapatkan bye di babak pertama. ā€œKalau tim putri, kami tahu karena tidak seeded. Hasil undian itu realitas yang harus dihadapi. Kami berada di pool atas. Pertama, kami sudah harus berjuang menghadapi Hongkong. Jika lolos bertemu Korsel. Jadi ini yang harus dihadapi,ā€ tukas Budiharto. (Adt) Skuat Beregu Bulutangkis Indonesia Asian Games 2018 : Putra : 1. Jonatan Christie 2. Anthony Sinisuka Ginting 3. Ihsan Maulana Mustofa 4. Kevin Sanjaya Sukamuljo 5. Marcus Fernaldi Gideon 6. Fajar Alfian 7. Muhammad Rian Ardianto 8. Mohammad Ahsan 9. Tontowi Ahmad 10. Ricky Karanda Suwardi Putri : 1. Fitriani 2. Gregoria Mariska Tunjung 3. Ruselli Hartawan 4. Greysia Polii 5. Apriyani Rahayu 6. Della Destiara Haris 7. Rizki Amelia Pradipta 8. Ni Ketut Mahadewi Istarani 9. Liliyana Natsir 10. Debby Susanto

Cetak Gelar Juara Di Indonesia Open 2018, Tiga Atlet Binaan PB Djarum Kehujanan Bonus

Sukses berkontribusi saat ajang Indonesia Open 2018, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia sukses meraih dua gelar di ajang Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000. lewat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kevin/Marcus menjadi kampiun usai menaklukan pasangan asal Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko (21-13 dan 21-16). Sedangkan pasangan senior Tontowi/Liliyana menang setelah menghempaskan dobel asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (21-17 dan 21-8). Tiga atlet yakni Tontowi, Liliyana, dan Kevin, merupakan pemain binaan PB Djarum Kudus. Torehan prestasi ini terasa istimewa sebab satu dekade lamanya Merah Putih tidak mengantongi dua gelar juara sekaligus di Indonesia Open. Terakhir, Indonesia meraih dua gelar pada 2008 melalui sektor tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro dan ganda putri yakni Vita Marissa yang saat itu berduet dengan Liliyana Natsir. Bahkan, Indonesia puasa gelar di salah satu ajang turnamen terbaik di dunia itu pada 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016. Berkat prestasi yang membanggakan serta mengharumkan nama Indonesia, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. ā€œApresiasi ini komitmen kami terhadap kemajuan bulutangkis di Indonesia, sehingga bisa melecut pemain bulutangkis PB Djarum yang lainnya untuk bisa berprestasi di kancah bulutangkis dunia seperti Kevin, Tontowi, dan Liliyana,ā€ ujar Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, pada Rabu (11/7). ā€œMudah-mudahan tahun depan, Indonesia bisa juara lagi. Karena Kevin/Marcus belum pernah juara. Ini pertama kali untuk mereka. Dan, kami akan terus memberikan apresiasi ini sebagai wujud komitmen kami untuk negeri ini,ā€ lanjutnya. Masing-masing pemain mendapatkan Rp 200 juta. Selain itu, ketiganya juga mendapatkan voucher dari Blibli.com senilai Rp 50 juta. Sementara, para pelatih yakni Herry Irman Pierngadi dan Aryono Miranat (pelatih ganda putra), serta Richard Mainaky dan Vita Marissa (pelatih ganda campuran) mendapatkan lemari es Polytron dua pintu dan voucher senilai Rp 5 juta dari tiket.com. Bagi Kevin, kemenangan di Indonesia Open 2018 menegaskan supremasinya di persaingan papan atas bulutangkis dunia. Sebelumnya, bersama Marcus menjadi kampiun turnamen tertua di dunia yakni All England 2018. Duet ini tengah membidik China Open 2018, yang dihelat September guna merangkai hattrick di kasta HSBC World Tour Super 1000. ā€œRangkaian kemenangan ini menjadi pendorong agar saya makin berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa melalui bulutangkis. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan pelatih dan PB Djarum yang telah mengasah saya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik saat bertanding, dan meraih hasil maksimal,ā€ tutur Kevin. Liliyana menambahkan dirinya mengaku lega bisa memberikan hasil terbaik dihadapan publik tuan rumah. Apalagi, sebut Butet, sapaan akrabnya, berhasil menghapus catatan tak pernah menang di Istora Senayan. ā€œBerarti sudah lunas. Ini kemenangan yang sangat istimewa bagi kami,ā€ tukas Butet. (Adt)

Ajang Indonesia Open 2018 Berakhir, Raihan Dua Gelar Sudah Lampaui Target PBSI

Selain Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Indonesia juga meraih gelar juara Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000, lewat duet ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ajang Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000, di Istora Senayan, Jakarta, berakhir pada Minggu (8/7). Pada turnamen bulutangkis terbaik di dunia itu, Indonesia sukses meraih dua gelar juara. Yakni sektor ganda putra lewat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang menang atas wakil Jepang Takuto Inoue/Yuki Kaneko, 21-13 dan 21-16. Dan duo campuran melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang menyingkirkan wakil Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 21-17 dan 21-8. Sedangkan titel tunggal putra disabet Kento Momota (Jepang) yang mengatasi Viktor Axelsen (Denmark), 21-14 dan 21-9. Lalu, tunggal putri asal China Taipeh, Tai Tzu Ying mencetak prestasi setelah menghempaskan Chen Yu Fei (China), 21-23, 21-15, dan 21-9. Jepang juga membukukan gelar kampiun di ganda putri, setelah menghadirkan ‘All Japan FInal’, yang dimenangkan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota atas kompatriotnya, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, 21-14, 16-21, dan 21-14. Achmad Budiarto, Sekertaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), mengatakan dua gelar yang diraih wakil Indonesia di ajang Indonesia Open 2018 melebih target yang ditetapkan PBSI. ā€œSebelum turnamen ini digelar Kabid Binpres (Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi/Susy Susanti) menargetkan satu gelar. Tapi, Indonesia berhasil meraih dua gelar. Ini berarti melebihi target awal,ā€ ujar Budiarto, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (8/7). Menurutnya, hasil ini juga bisa menjadi gambaran untuk menghadapi Asian Games 2018, pada 18 Agustus – 2 September. ā€œIni menjadi gambaran peta di Asian Games sekaligus tantangan berat juga buat kami. Terlebih yang digunakan juga venue baru,ā€ tukas Budiarto. (Adt)

Siapkan Program Team Building, PBSI Umumkan Skuad Bayangan Piala Tomas dan Uber 2018

Anthony Sinisuka Ginting masuk menjadi kandidat tim Piala Thomas 2018 yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand. (tempo.co)

Jakarta- Piala Thomas dan Uber 2018 semakin dekat, ajang perebutan supremasi beregu putra dan putri paling bergengsi ini akan dilangsungkan di Bangkok, Thailand, pada 20-27 Mei 2018. Tim Piala Thomas Indonesia menduduki peringkat ketiga di daftar unggulan, di bawah Tiongkok dan Denmark. Sedangkan Tim Uber Indonesia ada di posisi ketujuh, di bawah Jepang, Tiongkok, Korea, Thailand, Taiwan dan India. Hingga saat ini, PP PBSI masih terus mencari komposisi terbaik menjadi pemain tim inti yang akan diterbangkan ke Bangkok untuk membela Merah-Putih. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti membuka daftar nama-nama atlet yang dinominasikan menjadi bagian tim inti Piala Thomas dan Uber 2018. Empat atlet tunggal dan enam atlet ganda (tiga pasangan) akan masuk ke dalam daftar tim inti Piala Thomas dan Uber 2018 yang bakal diumumkan dalam waktu dekat. Dari 32 atlet yang masuk nominasi, akan dipilih 20 atlet untuk mengisi 10 slot tim Piala Thomas, dan 10 slot tim Piala Uber. BWF (Federasi Bulutangkis Dunia) menetapkan tanggal 6 Mei 2018 sebagai hari terakhir penyerahan nama tim inti Piala Thomas dan Uber 2018. “Kami membuka kesempatan bagi semua, untuk menjadi bagian tim Piala Thomas dan Uber, yang penting pokoknya untuk Indonesia,” kata Susy kepada Badmintonindonesia.org. Program persiapan jelang Piala Thomas dan Uber juga dijalankan, terutama mereka yang absen kejuaraan Badminton Asia Championships 2018 di Wuhan, Tiongkok. Rencana pelaksanaan sesi team building pun diungkapkan Susy. Hal ini dimaksudkan guna memperkuat kebersamaan tim jelang tampil di pertengahan Mei mendatang. “Kemungkinan akan ada sesi untuk team building, dan nanti akan dilihat dan disesuaikan lagi, dengan jadwal dan program latihan atlet-atlet,” tutur Susy. (Art) Nominasi Tim Piala Thomas dan Uber 2018: Tim Thomas Tunggal: Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, Tommy Sugiarto, Ihsan Maulana Mustofa, Firman Abdul Kholik, Sony Dwi Kuncoro Ganda: Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan, Hardianto Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira, Ade Yusuf Santoso, Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, Angga Pratama, Rian Agung Saputro Tim Uber Tunggal: Fitriani, Hanna Ramadini, Gregoria Mariska Tunjung, Dinar Dyah Ayustine, Ruselli Hartawan Ganda: Greysia Polii, Apriyani Rahayu, Ni Ketut Mahadewi Istarani, Anggia Shitta Awanda, Della Destiara Haris, Rizki Amelia Pradipta, Nitya Krishinda Maheswari, Yulfira Barkah, Rosyita Eka Putri Sari Jadwal Pertandingan Piala Thomas dan Uber 2018 dilansir dari Badminton World Federation (BWF): Minggu, 20 Mei 2018 : Piala Thomas Grup B : Indonesia vs Kanada. Pukul 09.00 WIB – Lapangan 4. Senin, 21 Mei 2018 : Piala Uber Grup D : Indonesia vs Malaysia. Pukul 14.00 WIB – Lapangan 2 (TV). Selasa, 22 Mei 2018 : Piala Uber Grup D : Indonesia vs Perancis. Pukul 09.00 WIB – Lapangan 4. Piala Thomas Grup B : Indonesia vs Thailand. Pukul 19.00 WIB – Lapangan 1 (TV). Rabu, 23 Mei 2018 : Piala Uber Grup D : Indonesia vs Tiongkok. Pukul 09.00 WIB – Lapangan 2 (TV). Piala Thomas Grup B : Indonesia vs Korea. Pukul 14.00 WIB – Lapangan 2 (TV) Kamis, 24 Mei 2018 : Perempat final Piala Thomas dan UberĀ  Sesi 1 : QF Piala Uber. Pukul 09.00 WIB – Lapangan 1 dan 2. Sesi 2 : QF Piala Uber. Pukul 14.00 WIB – Lapangan 1 dan 3. QF Piala Thomas. Pukul 14.00 WIB – Lapangan 2. Sesi 3 : QF Piala Thomas. Pukul 19.00 WIB – Lapangan 1, 2 dan 3. Jumat, 25 Mei 2018 : Semifinal Piala Thomas dan Uber Sesi 1 : SF Piala Uber : Pukul 12.00 WIB – Lapangan 1 dan 2. Sesi 2 : SF Piala Thomas : Pukul 18.00 WIB – Lapangan 1 dan 2. Sabtu, 26 Mei 2018 : Final Piala Uber. Pukul 13.00 WIB Minggu, 26 Mei 2018 : Final Piala Thomas. Pukul 13.00 WIB

PBSI Tak Khawatir Regenerasi Junior, Sekjen : Butuh Jam Terbang Asah Mental

Pasangan ganda campuran, Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja, menjadi salah satu calon pasangan masa depan Indonesia. (bolasport.com)

Jakarta- Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) mengaku tak khawatir dengan regenerasi pebulutangkis junior. Menurut Achmad Budiarto, Sekertaris Jenderal (Sekjen) PP PBSI, untuk para pemain pelapis disemua sektor sudah cukup baik. “Artinya, kalau dilihat di ganda putra, setelah Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, ada pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan mereka sudah bisa masuk 10 besar dunia,” ujarnya di Jakarta, Minggu (8/4). “Di junior ada beberapa pemain yang disiapkan seperti Muhammad Reza Pahlevi/Akbar Bintang Cahyono, kemudian Frengky Wijaya Putra/Sabar Karyaman Hutama. Lalu, di bawahnya masih ada 2 hingga 3 lapis sudah kami siapkan,” sambungnya. Di sektor putri, ia mengaku sangat optimis untuk bisa mendongkrak prestasi. Terlebih, junior putri yang masuk Pelatnas rata-rata berusia 15 tahun hingga 16 tahun. “Mereka punya talenta bagus. Andai bisa diarahkan dan dibina serta memiliki konsistensi yang kuat, maka mereka dalam kurun waktu 4 atau 5 tahun lagi, sudah bisa masuk tataran pemain yang diandalkan,” tambah Budiarto. “Contoh saat Kejuaraan Asia. Walau disemifinal kalah 3-0 dari Jepang, tapi semua laga berlangsung rubber game. Misalnya Fitriani yang kalah sama Akane Yamaguchi. Itu memunculkan optimisme,” cetusnya. Khusus di sektor ganda campuran, Budiarto menjelaskan saat ini masih milik Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, namun terdapat pasangan yang bisa diandalkan yakni Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja. “Namun semuanya butuh jam terbang, utamanya yang junior. Sehingga saat bertemu pemain-pemain dari negara lain, mereka tidak goyah, apalagi di akhir-akhir pertandingan,” ungkapnya. “Mental jadi yang utama. Para pemain hanya kalah di jam terbang. Karena secara teknik dan fisik tidak ada kendala. Jam terbang untuk menghadapi berbagai tipe permainan sehingga harus lebih siap,” tutup Budiarto. (Adt)

Ajang China Master 2018, Jadi Bahan Evaluasi PP PBSI Sektor Ganda Putri

Pasangan ganda putri Anggia Shitta Awanda (kiri), saat masih berpasangan dengan Ni Ketut Mahadewi Istarani. (badmintonindonesia)

Jakarta- Turnamen China Masters 2018, pada 10-15 April nanti, Indonesia bakal menurunkan tiga pasangan ganda putri. Yakni Nitya Krishinda Maheswari/Ni Ketut Mahadewi Istarani, Anggia Shitta Awanda/Meirisa Cindy Sahputri dan Rosyita Eka Putri Sari/Yulfira Barkah. Di ajang itu, Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) akan melakukan evaluasi terhadap ketiga pasangan tersebut, karena duet-duet itu merupakan kombinasi baru. Sebelumnya, Anggia berpasangan dengan Ketut, Nitya bersama Yulfira. Sedangkan Cindy bersama Nisak Puji Lestari. Sementara bagi Rosyita, ini adalah turamen pertamanya setelah mengalami cedera lutut di SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Pada turnamen Osaka International Challenge 2018, Anggia/Cindy harus terhenti dilaga pertama, dan Nitya/Ketut di babak kedua, sedangkan Rosyita/Yulfira di babak perempat final. Chafidz Yusuf, Asisten Pelatih Ganda Putri PP PBSI yang mendampingi para pemain di Osaka, menyebut penampilan para pemain ganda putri akan kembali dievaluasi di China Masters 2018. “Kombinasi pasangan baru ini baru bisa dievaluasi di dua atau tiga turnamen. Itu pun diawali dari turnamen level international challenge. Beda dengan pasangan junior, yang disiapkan untuk jangka panjang,” ujar Chafidz seperti dikutip situs resmi PBSI, Jumat (6/4). “Mereka yang tampil di Osaka, memang pasangan baru. Tapi, secara individu sudah sering ikut turnamen. Jadi, fase penyesuaian, mestinya bukan masalah lagi. Coach Eng Hian juga beberapa kali memberikan kesempatan kepada pemain-pemain ini,” sambungnya. “Kami lihat nanti di China Masters. Faktor usia para pemain yang tak terpaut jauh, dan pengalaman, saya rasa waktu menyesuaikan diri itu bisa diatasi, karena mereka juga dilatih di Pelatnas,” terang Chafidz. Setelah China Masters 2018, nantinya beberapa pemain Indonesia itu akan mengikuti turnamen Malaysia International Challenge 2018, di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 17-22 April 2018. (Adt)