Terbaik di Indonesia, Atlet 19 Tahun Asal Wonogiri Ini Akhirnya Tembus 20 Besar Ranking Bulutangkis Dunia

Tunggal putri Indonesia 19 tahun berperingkat 15 versi BWF, Gregoria Mariska Tunjung, ditargetkan PP PBSI tembus hingga peringkat 10 besar dunia dan meraih juara pada turnamen Super 1000 pada 2019. (Pras/NYSN)

Jakarta- Gregoria Mariska Tunjung Cahyaningsih akhirnya memecahkan rekornya sendiri dalam peringkat versi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF), terhitung sejak Kamis (27/9). Pada pekan ke-39 musim 2018 ini, Gregoria melejit tiga setrip dan menghuni peringkat ke-18 dunia di sektor tunggal putri. Ranking ini merupakan hasil terbaik yang pernah diraih oleh juara dunia junior 2017 ini, usai menjejakkan kaki di level senior. Prestasi ini diperoleh Gregoria karena lolos ke perempat final BWF World Tour Super 1000 China Open 2018, pada pekan lalu. Sebagai satu-satunya wakil tunggal putri Indonesia di China Open 2018, Jorji, sapaannya, tampil mengesankan dan mengantongi tiket perempat final. Namun, ia akhirnya kalah 15-21, 21-19, 12-21 dari Nozomi Okuhara (Jepang) di perempat final China Open 2018, setelah melewati laga selama 55 menit lamanya. Karena terhenti di perempat final, Jorji mendapat tambahan 6.600 poin dan mengumpulkan total 45.140 poin, pada pekan ke-39 ini. Atas hasil ini, dara kelahiran Wonogiri 11 Agustus 1999, ini berhak menduduki peringkat ke-18, sekaligus menjadi tunggal putri terbaik Indonesia saat ini. Lima tunggal putri terbaik Indonesia setelah Jorji adalah Fitriani (#33), Dinar Dyah Ayustine (#45), Lyanny Alessandra Mainaky (#49), Yulia Yosephin Mainaky (#49), dan Ruselli Hartawan (#70). Usai tampil ciamik di China Open, Jori memutuskan absen di Korea Open dan fokus di Denmark Open 2018, pada 16-21 Oktober mendatang. (Adt)

Raih Kemenangan Dua Gim Langsung, Trio Tunggal Putra Tembus Perempat Final Korea Open 2018

Jonatan Christie menekuk wakil Hong Kong, Hu Yun, 21-12, 21-14 dalam laga selama 29 menit, dan menembus perempat final kejuaraan bulutangkis Korea Open 2018 BWF World Tour Super 500, di SK Handball Stadium, Seoul, Korea Selatan, Kamis (27/9). (bwfnews.com)

Seoul- Tiga atlet bulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, dan Tommy Sugiarto, menembus perempat final kejuaraan bulutangkis Korea Open 2018 BWF World Tour Super 500, usai menang pada fase putaran kedua, yang berlangsung di SK Handball Stadium, Seoul, Korea Selatan, Kamis (27/9). Ginting, menang dalam dua gim langsung 21-18, 21-18 selama 43 menit atas pemain Taiwan, Wang Tzu Wei pada laga putaran kedua. Kemenangan itu sekaligus menjadi revans bagi Ginting, setelah pertemuan terakhirnya dengan pemain peringkat 28 dunia itu, pada Jepang Terbuka 2015. Catatan pertemuan kedua pemain menjadi 2-2, setelah turnamen Korea Open 2018. Pada pertandingan perempat final, Ginting akan menghadapi pemain Taiwan, Chou Tien Chen yang menang tas pemain Jepang, Kazumasa Sakai, pada laga kedua. Sementara, Jonatan melangkah ke perempat final turnamen tingkat Super 500, paska menekuk wakil Hong Kong, Hu Yun, 21-12, 21-14 dalam laga selama 29 menit. Hasil Korea Terbuka 2018 itu menjadi dominasi mutlak Jonantan, atas pemain berperingkat 55 dunia itu, dengan kedudukan menjadi 5-0 bagi Jonatan. “Head to head kami sudah 5-0. Jadi tadi lebih percaya diri aja. Dari segi umur juga dia lebih tua, jadi lebih ke adu fisik, skill dan teknik aja tadi,” ungkap Jonatan kepada badmintonindonesia.org., pada Kamis (27/9). Pada laga perempat final Jumat (28/9), Jonatan menantang wakil China, Zhao Junpeng, yang sukses menaklukkan pemain unggulan pertama, Viktor Axelsen 27-25, 21-9. Skor pertemuan mereka sementara imbang 1-1, dengan kemenangn Jonatan di pertemuan terakhir, New Zealand Open 2018 lalu. “Dengan Zhao Junpeng terakhir ketemu di New Zealand, dia pemain bagus dan kidal. Jadi lebih disiapin aja ke pikiran, fokus sama strategi mainnya. Nanti malam, saya akan diskusi lagi dengan pelatih,” sambung Jonatan. Tunggal putra lain Merah-Putih yang juga melaju ke putaran perempat final adalah Tommy Sugiarto. Tommy menang dalam dua gim langsung 21-15, 21-16 atas pemain Malaysia Daren Liew selama 33 menit bertanding. Tommy akan menghadapi pemenang laga dua pemain Korea Selatan Son Wan Ho dan Heo Kwang Hee, pada laga putaran kedua. (Adt)

Tiga Tunggal Putra Lolos ke Babak 16 Besar, Ihsan Maulana Harus Angkat Koper Dari Korea Open 2018

Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, memastikan langkah ke babak kedua (16 besar) kejuaraan bulutangkis Korea Open 2018 BWF World Tour Super 500. Ia hanya butuh waktu 36 menit memulangkan wakil Jepang, Kanta Tsuneyama, straight game, 21-18, 21-16. (kampiun.id)

Seoul- Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, menjadi yang pertama memastikan langkah ke babak kedua (16 besar) kejuaraan bulutangkis Korea Open 2018 BWF World Tour Super 500. Ia hanya butuh waktu 36 menit untuk memulangkan wakil Jepang, Kanta Tsuneyama, straight game, 21-18, 21-16. Tampil di laga babak pertama (32 besar), di SK Handball Stadium, Seoul, Korea Selatan (Korsel), pada Rabu (26/9), pemilik medali emas Asian Games XVIII/2018 itu, yang akrab disapa Jojo ini, mencetak menjadi kemenangan pertamanya atas pebulutangkis Negeri Sakura, yang kini bertengger di rangking 19 dunia itu. Di babak 16 besar, pemain binaan PB Tangkas Specs Jakarta itu akan ditantang wakil Hongkong, Hu Yun yang melaju ke babak kedua usai menyudahi Huang Yuxiang (China), straight game, 21-15, 21-19, dalam tempo 41 menit. Di atas kertas, pria kelahiran Jakarta, 15 September, 21 tahun silam itu mampu mengatasi perlawanan Hu Yun. Berdasarkan statistik, dari lima kali pertemuan, tak satupun kemenangan diraih Hu Yun atas pemain utama Merah Putih yang menghuni ranking 15 dunia itu. Terakhir, kedua pemain bertemu di ajang Denmark Open 2017. Ketika itu, Jojo menang mudah dua gim langsung, 21-8, 21-11. Hasil postif juga ditorehkan pemain senior, Tommy Sugiarto (8), di babak pertama. Tanpa kesulitan ia membekuk wakil tuan rumah Lee Hyun Il, dalam duel berdurasi 31 menit, dengan skor 21-9, 21-16. Berkat kemenangannya tersebut, putra mantan Juara Dunia Icuk Sugiarto itu, membuat rekor pertemuannya dengan Lee imbang 3-3. Di babak selanjutnya, Tommy meladeni perlawanan Daren Liew (Malaysia) yang berhasil menumbangkan Zhou Zeqi (China), rubber game, 15-21, 21-10, 21-17. Sejauh ini, kedua pemain berduel dua kali. Pebulutangkis Indonesia yang kini menghuni ranking 14 dunia itu, sementara memimpin 2-0 atas tunggal Negeri Jiran itu. Kemenangan juga berhasil diraih Anthony Sinisuka Ginting (7). Penghuni Pelatnas PBSI Cipayung sukses mengandaskan wakil Prancis Lucas Corvee, straight game, 21-18, 21-10, dalam waktu 36 menit, di babak pertama. Peraih gelar juara China Open 2018, pekan lalu itu, bakal berduel dengan Wang Tzu Wei (Taiwan). Wang unggul dari Tanongsak Saensomboonsuk, straight game, 21-18, 21-15. Melawan Wang di babak 16 besar, Ginting, sapaan akrabnya, harus waspada. Dari tiga partai yang dilewati kontra atlet Taiwan yang menempati ranking 26 dunia itu, Ginting hanya sekali meraih kemenangan. Pria kelahiran Cimahi, Jawa Barat (Jabar), 20 Oktober, 21 tahun silam itu, sukses mengungguli Wang, pada ajang Malaysia Kuching International Challenge 2013. Saat itu, pemegang medali perunggu Asian Games XVIII/2018 ini, meraih kemenangan dalam duel ketat straight game, dengan skor akhir 21-23, 20-22. Sayang, satu wakil Merah Putih lainnya yakni Ihsan Maulana Mustofa, harus angkat koper dari Negeri Ginseng. Ia tak berdaya kala menghadapi Chou Tien Chen, asal Taiwan, sekaligus unggulan empat turnamen berhadiah total 600 ribu dollar Amerika Serikat (AS) itu. Peraih gelar Indonesia Masters 2018, di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, akhir pekan lalu itu, takluk dua gim langsung, dengan skor 18-21, 14-21, dalam pertandingan berdurasi 37 menit. Akibat kekalahan ini, Ihsan memperburuk rekor pertemuannya dengan Chou, menjadi 2-0. (Adt)

Ribka, Gadis Muda Peraih Medali Emas Yang Sempat Bimbang Dalam Memilih Karir Sebagai Atlet Bulutangkis

Juara Bulutangkis nomor ganda putri Kejuaraan Asia Junior 2018, Ribka sugiarto, menargetkan ingin menjuarai World Junior Championship (WJC). (Ham/NYSN).

Jakarta – Bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga yang acap kali membuat nama Indonesia bergema di negara orang. Diantara para atlet bulutangkis kali ini kita akan membahas atlet berprestasi yang kerap menyumbangkan medali bagi Indonesia yang bersal dari Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Karanganyar. Ribka Sugiarto, menekuni hobi bulutangkis sejak usianya menginjak 8 tahun. Berawal ketika sang ayah rutin melakukan olahraga bulutangkis bersama warga sekitar, di GOR yang persis berada di sebelah rumah membuatnya tertarik bermain bulutangkis. Awalnya dari sang ibu sempat ragu untuk mengijinkan Ribka bermain bulutangkis secara intens karena gadis kelahiran Karanganyar tersebut cepat merasa bosan. “Dulu sampai nangis-nangis minta ke mama untuk les bulutangkis, kalo dari papa sih gapapa. Waktu masih ikut lomba mama masih ragu, tapi setelah aku gabung Popda baru mama percaya buat lepas aku” jelasnya. Bergabung di PB Tri Star di Karanganyar ketika dirinya masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD), walupun belum mengikuti turnamen resmi dan hanya perlombaan saja, namun ketika ada kompetisi usia dini Ribka mampu membuktikan usahanya dengan meraih medali emas. Ribka sempat vakum satu tahun guna fokus menjalani ujian sekolah, kemudian Ia mencoba bergabung ke PB Purnama di Solo namun sayang tak bertahan lama dan memutuskan untuk kembali ke PB Tri Star. “Waktu masih sekolah cara bagi waktunya ya biasanya aku pulang sekolah terus latihan, abis latihan belajar dirumah terus lanjut lagi ngaji” ungkap gadis berusia 18 tahun tersebut. Sebelumnya Ribka sempat ragu memilih olahraga bulutangkis ketika dirinya tengah duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP), tepatnya saat hendak bergabung ekstrakulikuler, Ribka mengaku ragu untuk melanjutkan bulutangkis atau tidak. Karena perasaan ragu tersebut Ia kemudian memilih ekskul Grup Band, tetapi saat akan tampil dihadapan bupati dirinya mengalami demam panggung hebat. Karena pengalaman yang tidak nyaman itu Akhirnya Ribka memutuskan untuk kembali ke olahraga badminton tanpa menjajal olahraga lain sebelumnya, dengan bekal dukungan dari orang tua dan teman-temannya, Ia yakin untuk tetap berlatih. “Dulu sempet milih pendidikan karena nilaiku di sekolah cukup bagus ya, pernah dapet rangking 2 juga. Tapi makin kesini aku kok pengen fokus bulutangkis juga, akhirnya aku lebih fokus ke bulutangkis” kata gadis kelahiran 22 Januari 2000 itu. Sejak bergabung PB Djarum tahun 2013, Ribka berfokus di partai ganda putri dan dipasangkan bersama Febriana Dwipuji Kusuma, terbukti beberapa kejuaraan dilakoni bahkan mampu menjuarai dan meraih medali. Misalnya di ajang Badminton Asia Junior Championship 2018 pada Juli lalu, Ribka dan Febri meraih juara pertama di partai ganda putri. Target yang ingin dicapai saat ini yakni ingin menjuarai World Junior Championship (WJC), juara dunia All England, bahkan target di tahun 2020 mampu berlaga di ajang Olympic. (Ham) Profil singkat Nama : Ribka Sugiarto Tempat/Tgl Lahir : Karanganyar, 22 Januari 2000 Alamat : Perum. Argokiloso Jenglong RT 08 RW 06 Ngijo, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah Orang Tua : Bambang Sugiarto (ayah) Suswiyati (ibu) Nomor Ponsel : 081770973181 & 087783924446 (wa) Surel : caemribka@yahoo.com Media Sosial : Instagram @ribkasugiarto Agama : Islam Anak pertama dr 2 saudara Pendidikan SDN 01 Karanganyar SMP 05 Karanganyar SMK Muhammadiyah Karanganyar Prestasi – Juara Asia Junior Championships 2018 (ganda putri) – Runner up World Junior Championship 2017 (ganda putri) – Juara Malaysia Junior International 2017 (ganda putri) – Semifinalis Malaysia Junior International 2017 (ganda campuran) – Semifinalis India Junior International Grand Prix 2017 (ganda campuran) – Runner up Asia Junior Championships 2017 (Beregu Campuran) – Semifinalis Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix 2017 (ganda campuran U19) – Semifinalis BTY Thailand Junior International Challenge 2017 (ganda campuran) – Runner Up Pembangunan Jaya Cup 2016 (Beregu Campuran) – Semifinalis Superliga Junior 2016 (Beregu Putri) – Juara Kejurnas Perorangan Taruna 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Indonesia International Challenge 2016 (Ganda Putri) – Runner up Djarum Sirkuit Nasional Li Ning Jawa Tengah Open 2016 (Ganda Campuran Taruna) – Juara Djarum Sirkuit Nasional Li Ning Jawa Tengah Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Juara Malaysia Junior International 2016 (Ganda Putri) – Runner up Djarum Sirnas Jawa Barat 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinal Jakarta Open Junior International Championships 2016 (Ganda Campuran U17) – Semifinal Jakarta Open Junior International Championships 2016 (Ganda Putri U17) – Juara Djarum Sirnas Lampung 2016 (Ganda Taruna Putri) – Runner up Djarum Sirnas Premier Jakarta Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Djarum Sirnas Sulawesi Selatan Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Juara Djarum Sirnas Kalimantan Selatan Open 2016 (Ganda Taruna Putri) – Semifinalis Thailand Junior International 2016 (Ganda Putri)

Sabet Juara di Turnamen 1 Juta Dolar, Pemuda 21 Tahun Asal Cimahi Raih Kampiun di China Open 2018

Anthony Sinisuka Ginting menjuarai China Open 2018 BWF World Tour Super 1000, pada Minggu (23/9), paska menaklukan wakil Jepang, Kento Momota, sekaligus unggulan tiga, straight game, 23-21, 21-19, dalam laga sengit, di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou. (Humas PBSI)

Changzhou- Pemain tunggal Merah Putih, Anthony Sinisuka Ginting menjuarai China Open 2018 BWF World Tour Super 1000, pada Minggu (23/9). Ginting, sapaannya, menaklukan wakil Jepang Kento Momota sekaligus unggulan tiga, setelah melewati laga sengit di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, straight game, 23-21, 21-19. Menghabiskan laga sepanjang 63 menit di partai final seakan menjadi klimaks bagi penampilan pemain asal PB SGS PLN Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu. Datang ke Negeri Tirai Bambu dengan status pemain non unggulan, namun, pria kelahiran Cimahi, Jabar, 20 Oktober, 21 tahun silam itu, menunjukkan kapasitasnya jadi pemain elite dunia. Menghadapi Momota, bukanlah perkara mudah. Dari enam kali perjumpaannya dengan tunggal utama Negeri Sakura itu, Ginting hanya memetik dua kali kemenangan. Pada laga kali ini, Momota unggul 11-10 lebih dahulu di jeda interval gim pertama. Usai jeda interval, duel kedua pemain tetap berlangsung sengit dan ketat. Ginting kembali tertinggal ketika kedudukan 14-15. Bahkan disaat poin-poin mendekati akhir, kesalahan demi kesalahan yang dilakukan pemain penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu memberikan ‘angin’ bagi Momota hingga sempat unggul 19-16. Tertinggal tiga poin dari Momota, tak membuat Anthony kendur. Ia bangkit, bahkan mengubah kedudukan imbang 19-19. Publik yang menyaksikan laga itu dibuat berdebar. Ginting yang tak mampu mengembalikan bola di depan net dengan sempurna, membuat Momota memundi dan merubah kedudukan 20-20. Kemenangan pemain Jepang ranking dua dunia di gim pertama itu berada di depan mata saat unggul 21-20. Namun, ia belum menyerah. Dewi Fortuna berpihak padanya hingga kembali membuat kedudukan imbang 21-21. Ginting akhirnya mampu memanen dua angka di poin-poin kritis sekaligus mengunci gim ini dengan skor 23-21. Hasil positif yang diraih Ginting menjadi bekal melakoni gim kedua. Namun, lagi-lagi pemain Indonesia pemegang gelar Indonesia Masters 2018 itu harus tertinggal 8-11 di jeda interval gim. Momota juga terus memberikan ancaman ke daerah pertahanan lawan serta mampu memperlebar jarak poin dengan Ginting saat kedudukan 15-10. Ginting tak ingin kehilangan momentum. Perlahan dan pasti, ia berusaha memangkas jarak poin dengan Momota. Alhasil, poin kedua pemain hanya terpaut tipis 15-16, dan berlanjut imbang 16-16. Satu-satunya wakil Indonesia itu bahkan mampu membalikan keadaan setelah unggul 18-17. Mendekati akhir gim, duel keduanya makin menarik. Terlebih, kedudukan imbang tercipta di poin 19-19. Smash menyilang Ginting tak mampu diantisipasi dengan sempurna oleh Momota, hingga mengubah kedudukan 20-19 untuk keunggulan peraih medali perunggu Asian Games XVIII/2018 itu. Ketenangan serta semangat juang Ginting akhirnya menemui klimaks setelah mampu mencetak game point saat kedudukan 20-19. Dan, pengamatan tak sempurna dari Momota akhirnya memastikan Ginting menyegel gim ini dengan skor 21-19. Keberhasilan Ginting membawa pulang gelar di turnamen berhadiah total 1 juta dollar Amerika Serikat (AS) itu sekaligus menggenapi gelar sebelumnya di ajang Indonesia Masters 2018, akhir Januari lalu. Usai laga, Ginting mengucap syukur atas pencapaian tertingginya di level Super 1000 itu. “Puji Tuhan hari ini saya bisa menang. Pertandingan juga ketat, dan skornya tipis. Saat tertinggal, saya hanya berusaha menjalankan apa yang saya terapkan di partai sebelumnya, saat poin tertinggal juga,” ujar Ginting, dikutip situs resmi PBSI, Minggu (23/9). Sukses menjadi juara membuat Ginting mendapatkan hadiah uang 70.000 dolar AS (Rp 1,037 miliar). Namun, Ia mengaku tak memikirkan poin saat tertinggal dari lawan. Ginting hanya fokus dengan cara bermain. “Saya mukul bola untuk dapat poin, itu saja. Tapi, di gim kedua saya coba kuasai kondisi angin yang membuat saya melakukan kesalahan sendiri,” lanjut pemain ranking 13 dunia itu. Ginting mengungkapkan soal pukulan halus di depan net merupakan usahanya untuk membuat lawan terpancing mengangkat bola ke atas. “Pukulan halus di depan net, memang itu salah satu usaha saya untuk mendapatkan kesempatan menyerang,” pungkas anak didik Hendri Saputra itu. (Adt)

Bukan Unggulan China Open 2018, Anthony Ginting Lolos Pertama Kali Ke Final Turnamen Level Super 1000

Langkah Anthony Sinisuka Ginting yang melaju hingga ke partai final China Open 2018 terbilang mengejutkan. Berstatus non-unggulan, dan menaklukkan trio juara dunia tiga hari berturut, ia menantang Kento Momota (Jepang) dalam laga perebutan gelar juara. (Humas PBSI)

Changzhou- Langkah Anthony Sinisuka Ginting yang melaju hingga ke partai final China Open 2018 terbilang mengejutkan. Berstatus non-unggulan, dan menaklukkan trio juara dunia tiga hari berturut, membawa langkah pemuda kelahiran Cimahi 20 Oktober 1996 ini menantang Kento Momota (Jepang) dalam laga perebutan gelar juara. Anthony menuju laga final turnamen level Super 1000 pertamanya, di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Sabtu (22/9), usai mengalahkan Chou Tien Chen (Taiwan), dalam laga semifinal, lewat partai rubber game, dengan skor 12-21, 21-17, 21-15. Dengan kemenangan ini, Anthony sekaligus membalas kekalahan di semifinal Asian Games 2018 dengan skor 21-16, 21-23, 17-21. Di game pertama, Anthony tak dapat tampil di permainan terbaiknya. Ia terus berada di bawah tekanan lawan. Kesalahan-kesalahan sendiri dibuat Anthony. Ia pun tertinggal jauh 4-15, terlalu sulit untuk mengejar. “Puji Tuhan saya menang, saya bersyukur atas hasil hari ini. Di game pertama, Chou sering mendorong bola dan membuat posisi saya sulit. Saat menetralkan bola, saya tidak dapat mengontrol kondisi angin di lapangan. Jadi pengembaliannya kalau tidak out, ya tanggung,” ujar Anthony, seperti termuat dalam rilis PBSI. Anthony melanjutkan, “Di game kedua dan ketiga saya mencoba untuk mempercepat permainan. Chou ingin bermain seperti di game pertama, tapi pergerakannya tidak secepat di game pertama.” Ihwal persiapan menghadapi Chou, Anthony mengatakan tak ada yang khusus. “Sebetulnya, saya tak memikirkan kalau akan re-match melawan dia, tak mau terlalu dipikirkan supaya bisa rileks. Semalam saya cuma nonton video sekilas aja, habis itu istirahat. Yang penting sudah punya persiapan mau main bagaimana melawan dia. Saya belajar seperti ini sejak Asian Games,” katanya. Di babak final, Anthony akan melawan juara dunia Kento Momota dari Jepang. Ia siap bermain mati-matian. “Ini pertama kalinya saya ke final turnamen level super 1000, tapi saya belum puas karena kan belum juara, masih ada satu pertandingan lagi,” tuturnya. Momota melangkah ke partai puncak, paska menekuk pemain andalan tuan rumah, Shi Yuqi. Berlangsung selama 40 menit, Momota unggul straight game 21-10, 21-17. Pada partai puncak turnamen berhadiah total 1 juta dollar AS ini, yang akan berlangsung pada Minggu (23/9), akan menjadi ulangan babak perempat final Asian Games 2018. Anthony menang 21-18, 21-18, atas pemain kidal itu, dalam pertandingan nomor perorangan. Sebelum menang pada Asian Games 2018, Anthony sempat mengalahkan juara dunia 2018 tersebut, dalam ajang Hong Kong Open Superseries 2015. Berdasarkan rekor pertemuan, Momota, yang pekan lalu menjadi juara Japan Open 2018, unggul 4-2 atas Anthony. (adt) Perjalanan Anthony Sinisuka Ginting menuju Final China Open 2018 Babak Pertama Anthony Sinisuka Ginting vs Lin Dan (China) 22-24, 21-5, 21-19 Babak Kedua Anthony Sinisuka Ginting vs Viktor Axelsen (Denmark) 21-18, 21-17 Babak Perempat Final Anthony Sinisuka Ginting vs Chen Long (China) 18-21, 22-20, 21-16 Babak Semi Final Anthony Sinisuka Ginting vs Chou Tien Chen (Taiwan) 12-21, 21-17, 21-15

Maju Ke Semifinal China Open 2018, Anthony Ginting Punya Bekal Sadis dan Menakutkan

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, punya bekal positif menuju semifinal China Open 2018, usai mengalahkan trio juara dunia dalam tiga hari. (Humas PBSI)

Changzhou- Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, punya bekal positif menuju semifinal China Open 2018, usai mengalahkan trio juara dunia dalam tiga hari. Ia mengawali perjalanannya pada China Open 2018, paska menekuk pemegang lima gelar juara dunia asal China, Lin Dan. Anthony mengalahkan Lin Dan dengan skor 22-24, 21-5, 21-19, pada Rabu (18/9). Lin Dan merupakan Juara Dunia pada 2006, 2007, 2009, 2011, dan 2013. Melalui hasil ini, rekor pertemuan Anthony dengan Lin Dan terevisi menjadi 1-2, masih untuk keunggulan Lin Dan. Pada babak kedua, Kamis (20/9), Anthony menumbangkan Juara Dunia 2017, Viktor Axelsen (Denmark), dengan skor 21-18, 21-17. Menang atas Axelsen, Anthony memperpanjang keunggulan dengan tunggal putra terbaik Denmark, dengan skor 2-1. Pemain berusia 21 tahun ini juga makin unggul dalam rekor pertemuan dengan Chen Long (China), Juara Dunia 2014 dan 2015, dan pemilik medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro ini, pada babak perempat final China Open 2018, Jumat (21/9). Anthony menang tiga gim 18-21, 22-20, dan 21-16, di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, pada Jumat (21/9). Ia sekaligus mengulang hasil positif atas Chen Long di perempatfinal Asian Games 2018. Sampai saat ini, Anthony menang 5-2 atas Chen Long. “Pertandingan yang seru melawan Chen Long hari ini. Dia bermain baik di gim pertama, jarang salah,” kata Anthony, dalam rilisnya. “Sempat ketinggalan jauh 2-8 di gim kedua, waktu unggul 19-13 juga saya tidak bisa cepat menyelesaikan permainan. Ini karena permainan saya berubah, saya ingin menyerang terus,” ujar Anthony. “Di gim ketiga, saya belajar dari kesalahan di gim kedua. Semua berawal dari pikiran, walaupun pertandingan ini melelahkan, banyak reli, saya harus jaga mindset saya. Saya usahakan unggul di permainan net karena saya cari poin dari situ, supaya saya bisa menyerang,” dia menjelaskan. Pada babak semifinal, Sabtu (22/9), Anthony akan menjumpai peraih medali perak Asian Games 2018, Chou Tien Chen (Taiwan). Partai ini juga merupakan ulangan semifinal Asian Games 2018. Saat itu, Anthony kalah dari Chou, 21-16, 21-23, 17-21. Rekor pertemuan kedua pemain adalah 3-2 untuk keunggulan Anthony. “Saya tak mau kejadian di Asian Games terulang. Saya akan pelajari lagi permainan kami di Asian Games, saya coba nikmati permainan dan bagaimana mengatur pikiran saya. Sekarang saya mau fokus untuk recovery dan bersiap untuk pertandingan besok,” pungkas pemuda kelahiran Cimahi 20 Oktober 1996. (adt) Perjalanan Anthony Sinisuka Ginting menuju semifinal China Open 2018 Babak Pertama Anthony Sinisuka Ginting vs Lin Dan (China) 22-24, 21-5, 21-19 Babak Kedua Anthony Sinisuka Ginting vs Viktor Axelsen (Denmark) 21-18, 21-17 Babak Perempat Final Anthony Sinisuka Ginting vs Chen Long (China) 18-21, 22-20, 21-16

Fitriani dan Choirunnisa Akhirnya Gagal Maju Ke Semifinal Indonesia Masters 2018 di Pangkalpinang

Atlet putri Pelatnas PBSI Cipayung asal Sleman, Choirunnisa, takluk dari unggulan pertama Indonesia Masters 2018 asal Jepang, Minatsu Mitani, dalam partai rubber game, 16-21, 21-16 dan 18-21. (Humas PBSI)

Pangkalpinang- Unggulan dua tunggal putri, Fitriani, terhenti babak perempat final Indonesia Masters 2018, Jumat (21/9), paska disingkirkan rekan sesama Pelatnas PBSI Cipayung, Yulia Yosephin Susanto, 14-21, 21-9 dan 20-22, di Gelanggang Olahraga (GOR) Sahabudin, Pangkalpinang. “Di gim pertama saya belum masuk ke pola permainnya dia. Di gim kedua saya coba reli tapi mengontrol permainan dengan agak cepat. Di situ dia agak kagok. Di gim ketiga saya sempat unggul, tapi raketnya putus. Saya terlalu berhati-hati, akhirnya jadi menyamakan poin dan saya kurang fokus,” jelas Fitriani kepada badmintonindonesia.org. “Ini jadi pelajaran buat saya ke depannya. Saya harus lebih fokus dan menyemangati diri sendiri, supaya tak terlalu kendor dan gampang jauh banget dari lawan,” lanjut Fitriani. Kemenangan Yulia ini seolah menebus kegagalannya di Singapura Open 2018, pada Juli lalu. Menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan, gadis Tasikmalaya kelahiran 19 Oktober 1993 itu, kandas di babak 16 besar. Ia kalah dari atlet China berusia 18 tahun, Han Yue, pada partai perempat final, di Singapore Indoor Stadium, Singapura, lewat laga rubber game selama 1 jam. Senasib dengan Fitriani, kekalahan juga harus diterima oleh Choirunnisa. Berhadapan dengan unggulan pertama asal Jepang, Minatsu Mitani, dara asli Sleman, yang lahir pada 31 Agustus 1999, takluk dalam partai rubber game, 16-21, 21-16 dan 18-21. (art)

Enam Wakil Indonesia Ke Perempat Final China Open 2018, Gregoria Mariska Satu-satunya Tersisa di Tunggal Putri

Gregoria Mariska Tunjung menjadi salah satu wakil yang tersisa bagi Indonesia, melaju ke babak perempat final perempat final China Open 2018 BWF World Tour Super 1000, di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou. (Humas PBSI)

Changzhou- Indonesia sukses meloloskan 6 wakilnya melaju ke babak perempat final perempat final China Open 2018 BWF World Tour Super 1000. Sayangnya, sejumlah pilar andalan Merah Putih justru harus tumbang dan gagal melanjutkan kiprahnya, di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou. Hanya 6 dari 12 wakil Indonesia yang bertarung pada hari ini, sukses menggenggam tiket babak perempat final China Open 2018. Bahkan Indonesia menyisakan masing-masing satu wakil pada empat sektor. Hanya ganda putra yang menyisakan dua wakil yang keduanya bertarung satu sama lain untuk memperebutkan tiket semifinal. Dalam laga babak 16 besar pada Kamis (20/9), nasib sial diderita ganda campuran terbaik Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Duet unggulan ketiga ini dipermalukan duo Jepang, Yuta Watanabe/Arisa Higashino dalam laga rubber game, 12-21, 21-14 dan 12-21 dalam durasi 51 menit. Sementara itu sektor ganda putra menyumbang dua wakilnya ke fase delapan besar. Kevin Sanjaya/Marcus Gideon serta Ricky Karanda Suwardi/Angga Pratama terus menjaga asa untuk merebut gelar. Sedangkan di sektor tunggal, hanya Anthony Sinisuka Ginting dan Gregoria Mariska Tunjung menjadi wakil yang tersisa bagi Indonesia. “Saya terus mencoba untuk tak melakukan kesalahan sendiri. Rasa percaya diri di lapangan masih hilang muncul, karena terlalu memikirkan cara main. Padahal, saya harus berkonsentrasi dengan permainan yang saya jalani,” ujar Gregoria, usai menyingkirkan tunggal Amerika Serikat, Zhang Beiwen dengan skor 23-21 dan 22-20. Ia bakal menantang wakil Jepang, Nozomi Okuhara, unggulan delapan. Ini jadi kesempatan bagi dara kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus, 19 tahun silam itu untuk membalas kekalahan di pertemuan pertama ajang Asia Team Championship 2018. Ia kalah rubber game dari Juara Dunia 2017, dengan skor 5-21, 21-19, 21-15. (Adt) Hasil lengkap wakil Indonesia di babak 16 besar China Open 2018 Tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting [INA] vs Viktor Axelsen (1) [DEN] 21-18, 21-17 Ng Ka Long Angus (8) [HKG] vs Jonatan Christie [INA] 21-18, 21-16 Tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung [INA] vs Zhang Beiwen [USA] 23-21, 22-20 Ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (1) [INA] vs Tinn Isriyanet/Kittisak Namdash [THA] 21-13, 21-13 Ricky Karanda Suwardi/Angga Pratama [INA] vs Goh V Shem/Tan Wee Kiong [MAS] 21-14, 17-21, 21-19 Han Chengkai/Zhou Haodong [CHN] vs Berry Angriawan/Hardianto [INA] 8-21, 25-23, 24-22 Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (INA) vs Huang Kaixiang/Wang Yilyu (CHN) 11-21, 12-21 Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (INA) vs He Jiting/Tan Qiang (CHN) 17-21, 21-12, 17-21 Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu (INA/4) vs Chang Ye-na/Jung Kyung-eun (KOR) 24-22, 21-18 Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (2) [JPN] vs Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta [INA] 19-21, 21-13, 21-13 Ganda campuran Ricky Karanda Suwardi/Debby Susanto [INA] vs Lu Kai/Chen Lu [CHN] 21-18, 21-19 Yuta Watanabe/Arisa Higashino [JPN] vs Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (3) [INA] 21-12, 14-21, 21-12

Atlet 19 Tahun Jumpa Unggulan Satu di Perempat Final, Choirunnisa: Pemain Jepang Ulet, Tak Mudah Menyerah

Pemain Pelatnas PBSI Cipayung, Choirunnisa, berjumpa dengan wakil Jepang unggulan satu Minatsu Mitani, di perempat final Indonesia Masters 2018, pada Jumat (21/9). (badmintonindonesia.org)

Jakarta- Choirunnisa, tunggal putri Indonesia itu sukses mengunci tiket perempat final Indonesia Masters 2018. Penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu berjumpa dengan unggulan satu asal Jepang, Minatsu Mitani, pada Jumat (21/9). Ia menilai jika lawan memiliki semangat juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah. “Pemain Jepang terkenal ulet dan tidak mudah menyerah. Saya harus mengantisipasi itu. Lawan dia besok, optimis saja,” ujar Choirunnisa, di Gelanggang Olahraga (GOR) Sahabudin, Pangkalpinang, Kamis (20/9). “Saya nggak mau mikirin kalau dia unggulan satu dan lebih tinggi dari saya. Saya mau fokus dan maksimal dulu saja di pertandingan,” lanjutnya. Diakuinya, ia kerap menyaksikan lawannya tersebut berlaga, sehingga tahu kekurangan dan kelebihan yang dimiliki Mitani. “Saya sudah sering lihat dia bertanding. Jadi, sudah lumayan tahu kekurangan dan kelebihannya dia itu apa. Pastinya saya harus lebih siap lagi,” terang pemain asal PB Mutiara Cardinal Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu. Remaja putri berusia 19 tahun itu lolos ke perempat final usai memulangkan wakil Taiwan Chen Su Yu sekaligus unggulan tujuh, di babak kedua (16 besar), pada Kamis (20/9). Dalam duel rubber game, Nisa unggul dengan skor 21-10, 17-21, 21-10, dalam laga berdurasi 44 menit. “Di gim kedua saya sempat memimpin, tapi karena banyak salah sendiri, saya panik. Fokusnya hilang, dan mainnya jadi serba salah,” ungkapnya. Kendati begitu, ia tetap memuji penampilan Chen yang dinilainya piawai pada bola atas yang kencang. “Tapi saat dikasih bola netting, lawan sedikit lambat,” tukas ranking 223 dunia itu. (Adt)

Jarang Berpasangan, Duet PB Djarum Pramudya/Ribka Singkirkan Unggulan Lima Indonesia Masters 2018

Duet asal PB Djarum Kudus, Pramudya Kusumawardana Riyanto/Ribka Sugiarto menghadirkan kejutan usai menumbangkan unggulan lima Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami, di babak pertama, Indonesia Masters 2018, Rabu (19/9). (PB Djarum)

Pangkalpinang- Menghadapi unggulan, tak membuat Pramudya Kusumawardana Riyanto/Ribka Sugiarto, kehilangan semangat juang, kala berjumpa dengan rekan senegara Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami, di babak pertama (32 besar), pada Indonesia Masters 2018, pada Rabu (19/9). Berduel di Gelanggang Olahraga (GOR) Sahabudin, Pangkalpinang, duet asal PB Djarum Kudus itu sukses menyingkirkan pasangan yang diplot sebagai unggulan lima dalam laga rubber game berdurasi 49 menit, dengan skor 21-19, 11-21, 21-19. Diakui Ribka, bila ia bersama kolega berusaha tampil lepas. Terlebih, lawan yang dihadapi merupakan senior di Pelatnas PBSI Cipayung. “Tadi mainnya nothing to lose, pokoknya nggak mikir menang kalah. Apalagi lawan kami senior, jadi kami berusaha bermain tanpa beban di pertandingan tadi,” ujar dara kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 22 Januari 2000 itu. Kemenangan itupun menjadi sesuatu yang tak terduga. Sebab, mereka tak pernah berlatih bersama. “Kami nggak pernah latihan bareng, sebelum berangkat ke turnamen ini,” terang Pramudya. “Tapi, kami saling percaya dengan kemampuan masing-masing. Dilapangan kami bisa saling mengcover,” tukas remaja kelahiran 13 Desember 2000 itu. Selanjutnya, Pramudya/Ribka berjumpa dengan seniornya di Pelatnas PBSI Cipayung, Andika Ramadiansyah/Bunga Fitriani Romadhini, di babak kedua (16 besar). Andika/Bunga sukses memulangkan wakil Thailand Weeraphat Phakjarung/Chasinee Korepap, di babak pertama (32 besar), pada pertandingan straight game, 21-17, 21-14. (Adt)

Kampiun di Jepang Open 2018, Kevin/Marcus ‘Nodai’ Dominasi Wakil Tiongkok

Ganda nomor satu dunia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar juara di Jepang Open 2018, pada Minggu (16/8), di Musashino Forest Sport Plaza Arena, Tokyo, yang juga menjadi venue pada Olimpiade Tokyo 2020. (Humas PBSI)

Jakarta- Ganda nomor satu dunia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar juara di Jepang Open 2018, pada Minggu (16/8). Berduel di partai puncak dengan wakil Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen sekaligus unggulan dua itu, meraih kemenangan straight game, 21-11, 21-13, lewat laga berdurasi 38 menit. Selain mempertahankan gelar, kemenangan atas dobel Negeri Tirai Bambu itu, mengokohkan dominasi Penghuni Pelatnas Cipayung atas Li/Liu. Sebelumnya, Kevin/Marcus meraih tujuh kemenangan beruntun atas ganda utama Tiongkok itu. Sedangkan, Li/Liu hanya mencuri satu kemenangan saat bertemu pertama kalinya di ajang Vietnam Open 2015 (15-21, 23-21, 21-18). Gelar di ajang Kejuaraan Bulutangkis Jepang Open 2018 BWF World Tour Super 750 itu juga melengkapi rentetan gelar yang dikantongi Kevin/Marcus sepanjang tahun ini. Mulai dari Daihatsu Indonesia Masters 2018, India Open 2018 BWF World Tour Super 500, All England 2018 BWF World Tour Super 1000, Indonesia Open 2018 BWF World Tour Super 1000, hingga terakhir di Asian Games XVIII/2018. Kevin mengaku senang bisa mempertahankan gelar di Negeri Sakura itu. “Apalagi ini turnamennya di Jepang, kami bisa memberikan hasil yang terbaik untuk sponsor kami,” ujar Kevin, di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Minggu (16/9). Pemain asal PB Djarum Kudus itu menyebut di pertandingan ini lawan mengubah permainan yang membuat penampilan Li/Liu berbeda dari biasanya. “Mereka lebih banyak main bertahan. Tapi kami sudah siap dengan semua strategi mereka. Jadi lebih yakin,” tambah Kevin. Senada, Marcus menjelaskan kendati lawan mengubah strategi, namun dirinya bersama Kevin bisa mengantisipasi hal itu. “Buktinya perolehan skor cukup jauh di penutup gim pertama dan gim kedua,” urai Marcus. Diakui Marcus, bila Li/Liu dipertandingan ini banyak mengarahkan bola ke atas. “Mungkin karena bolanya berat. Tapi, kami sudah persiapkan tenaga, kami tahu ini pasti akan terjadi,” lanjut suami dari Agnes Amelinda Mulyadi itu. “Kami mempelajari penampilan mereka, saat mereka melawan Fajar (Alfian)/Rian (Ardianto). Model mainnya mirip-mirip, ya sudah, kami bisa prediksi,” tukas pebulutangkis berusia 27 tahun itu. Pada Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang, bulutangkis akan memakai venue yang sama di Jepang Open 2018 yakni Musashino Forest Sport Plaza Arena. “Suasananya enak, kami cukup nyaman bermain di sini. Walaupun bolanya berat. Tapi kami bisa mengatasi,” tukas Kevin. Musashino Forest Sport Plaza mempunyai kapasitas tempat duduk lebih dari 10.000 kursi dan mencakup berbagai fasilitas lain. Seperti kolam renang, gym, arena olah raga multi guna, dan pusat kebugaran yang semuanya tersedia dan dapat digunakan oleh publik. Stadium ini juga menggunakan atap Panel surya dan teknologi mutakhir lainnya, yang membantu mengurangi emisi karbon rumah kaca. (adt) Hasil Final Jepang Open 2018: Tunggal Putra Kento Momota (Jepang/3) vs Khosit Phetpradab (Thailand): 21-14, 21-11 Tunggal Putri Carolina Marin (Spanyol/6) vs Nozomi Okuhara (Jepang/8): 21-19, 17-21, 21-11 Ganda Putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia/1) vs Li Junhui/Liu Yuchen (China/2): 21-11, 21-13 Ganda Putri Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang/1) vs Chen Qingchen/Jia Yifan (China/3): 21-15, 21-12 Ganda Campuran Zheng Siwei/Huang Yaqiong (China/1) vs Wang Yilyu/Huang Dongping (China/2): 21-19, 21-8

Sirnas Premier Jakarta Open 2018 Rampung, Kekuatan Klub Besar Kian Merata

Pebulutangkis PB Mutiara Cardinal Bandung, Abdul Kadir Zailani menjadi juara Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018, kategori dewasa, pada Sabtu (15/9) di GOR Tanjung Priok, usai unggul dari Nyoman Tryadnya Arya Kurniawan (PB Jaya Raya Jakarta), dengan dua game langsung 21-13 dan 21-11. (kompas.com)

Jakarta- Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018 telah sukses digelar dan secara resmi ditutup. Seri kelima ini berlangsung sejak 10-15 September. Pada kejuaraan yang berlangsung di Gelanggang Remaja Tanjung Priok ini, memperlihatkan persaingan yang kian merata dari beberapa klub bulutangkis ternama Indonesia. Tercatat ada tiga klub besar yang sama-sama berhasil mengoleksi lima gelar juara dari 19 nomor dan kategori yang dipertandingkan pada Djarum Sirkuit Nasional Premier Li-ning Jakarta Open 2018. Yakni, PB Djarum Kudus, Jaya Raya Jakarta dan Exist Jakarta Utara. Nama-nama seperti Hanna Ramadini (Mutiara Cardinal), Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina Fastron), Asghar Herfanda/Rian Canna Varo (PB Djarum Kudus) dan Naufal Ligo Saufik/Yoggi Pamungkas (PB Djarum Kudus) masih memperpanjang catatan sebagai juara bertahan. Sementara yang lainnya dihuni jajaran juara-juara anyar. Sementara kejutan hadir dari peraih gelar tunggal dewasa putra, Abdul Kadir Zailani. Pebulutangkis besutan klub Mutiara Cardinal Bandung ini, akhirnya sukses mencicipi tahta juara di Sirkuit Nasional, setelah penantian panjang tiga tahun lamanya. “Alhamdulillah, rasanya senang bisa juara. Bersyukur sekali karena ini gelar juara saya yang pertama, sejak 2016 turun di level dewasa. Ada rasa sedikit tak menyangka saya bisa juara. Sebelum bertanding, saya sudah siap dengan hasil apapun, mau menang atau kalah, saya sudah siap,” ungkap Zai, sapaan Zailani. Mutiara Cardinal Bandung pun sukses mengawinkan gelar di nomor tunggal dewasa putri, setelah wakilnya, Hanna Ramadini berhasil merebut gelar Sirnas yang ketiga kalinya secara beruntun tahun ini, usai di final, menundukan lawannya asal PB Exis Jakarta, Putri Kusuma Wardani, dengan kemenangan rubber game 21-12, 17-21, dan 21-18. Sebelum di Jakarta, Sirnas bergulir di Purwokerto (Premier) pada 12-17 Maret, Pekanbaru 23-28 April, Tasikmalaya 23-28 Juli (Premier), dan Makassar 6-11 Agustus. Sirnas akan berlanjut di GOR Hevindo, Balikpapan pada 1-6 Oktober, lalu menuju Denpasar pada 5-10 November, kemudian Sirnas Premier Surabaya menjadi penutup pada 12-17 November. (adt) Hasil Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018 Kategori Pemula (U15) Tunggal Pemula Putra: Muhammad Halim As Sidiq (PB Victory Bogor, Jaktim) Tunggal Pemula Putri: Deswanti Hujansih Nurtertiati (Exist, Jakarta) Ganda Pemula Putra: Marwan Faza/Muhammad Rayhan Nur Fadillah (PB Djarum, Kudus) Ganda Pemula Putri: Jessica Maya Rismawardani/Nethania Irawan (PB Djarum, Kudus) Kategori Remaja (U17) Tunggal Remaja Putra: Muhammad Akbar Firdaus (Exist, Jakarta) Tunggal Remaja Putri: Aisyah Sativa Fatetani (PB Djarum, Kudus) Ganda Remaja Putra: Asghar Herfanda/Rian Canna Varo (PB Djarum, Kudus) Ganda Remaja Putri: Lanny Tria Mayasari/Tryola Nadia (Jaya Raya Jakarta, Jakpus) Ganda Remaja Campuran: Crisandy Santosa/Melani Mamahit (Exist, Jakarta) Kategori Taruna (U19) Tunggal Taruna Putra: Karono (Jaya Raya Jakarta, Jakpus) Tunggal Taruna Putri: Yasnita Enggira Setiawan (Exist, Jakarta) Ganda Taruna Putra: Naufal Ligo Saufik/Yoggi Pamungkas (PB Djarum, Kudus) Ganda Taruna Putri: Melani Mamahit/Putri Larasati (Exist, Jakarta) Ganda Taruna Campuran: Ferdian Mahardika Ranialdy/Annisa Mubarokah (Jaya Raya Jakarta, Jakpus/FIFA BC) Kategori Dewasa Tunggal Dewasa Putra: Abdul Kadir Zailani (Mutiara Cardinal, Bandung) Tunggal Dewasa Putri: Hanna Ramadini (Mutiara Cardinal, Bandung) Ganda Dewasa Putra: Amri Syahnawi/Rian Swastedian (Jaya Raya Jakarta, Jakpus) Ganda Dewasa Putri: Dian Fitriani/Nadiya Melati (Pertamina Fastron, Jakut) Ganda Dewasa Campuran: Irfan Fadhillah/Pia Zebadiah Bernadet (Jaya Raya Jakarta, Jakpus)

Lolos ke Semifinal Sirnas U17 Jakarta Open 2018, Pebulutangkis 15 Tahun Asal PB Djarum Hanya Butuh 32 Menit

Muh Azahbru B. Kasra, asal PB Djarum Kudus, lolos ke semifinal Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018, Kategori Usia 17 Tahun (U17), pada Kamis (13/9), usai mengalahkan Iqbal Diaz Saputra asal PB Exist Jakarta, straight game, 21-9, 21-14. (PB Djarum)

Jakarta- Pemain tunggal unggulan tujuh, Muh Azahbru B. Kasra, yang berasal dari klub PB Djarum Kudus, hanya butuh 32 menit, untuk mengunci tiket semifinal Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018, Kategori Usia 17 Tahun (U17). Pertandingan yang dihelat pada Kamis (13/9), remaja kelahiran Kolaka, Sulawesi Tenggara, 24 Oktober 2002, itu sukses mengalahkan Iqbal Diaz Saputra, asal PB Exist Jakarta, straight game, 21-9, 21-14, di babak perempat final. Diakui pebulutangkis yang juga memiliki hobi renang itu bila dirinya bermain sabar di game pertama Ia juga mencari waktu yang tepat untuk melakukan serangan pada lawan. “Tapi, di game kedua lawan justru merubah dan bermain lebih safe, jadi ketinggalan lebih dulu tadi,” ujar semifinalis Wali Kota Surabaya International Open 2018 (Tunggal Remaja Putra), usai laga. “Untung di poin-poin kritis, saya lebih yakin mainnya. Itu mungkin kunci kemenangan pertandingan tadi. Coba main sabar, serta tidak terburu-buru, serta meraih satu poin perpoin di setiap pertandingan,” lanjut remaja bertangan kidal, di Gelanggang Remaja Tanjung Priok, Jakarta Utara (Jakut). Di laga semifinal, pada Jumat (14/9), lawan berat menanti Azahbru. Ia akan menantang unggulan satu asal PB Exist Jakarta, Tegar Sulistio, yang menaklukan Yohanes Saut Marcelino, unggulan 16 dari PB Jaya Raya Jakarta, straight game, 21-9, 21-15, dalam tempo 39 menit. “Berikan yang terbaik serta optimis. Harus mau capek lagi di lapangan. Karena juga tidak ada target khusus untuk saya, tapi ingin bermain bagus saja di Sirnas ini,” tukas Azahbru yang baru meraih satu kemenangan, dari tujuh kali pertemuannya dengan Tegar itu. (Adt)

Turunkan Skuat Usia 20an, PBSI Tepis Angapan Bangka Belitung Indonesia Masters 2018 Jadi Ajang ‘Hukuman’

Tunggal putri junior Indonesia, Fitriani (19 th), yang gagal berprestasi di Asian Games 2018, akan turun dalam event Bangka Belitung Indonesia Masters 2018, yang berlangsung di GOR Sahabudin, Pangkalpinang, Bangka-Belitung (Babel), 18-23 September 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti menghimbau, para atlet muda mulai unjuk gigi. Hal ini diutarakan Susy jelang penyelenggaraan Bangka Belitung Indonesia Masters 2018, yang akan berlangsung di GOR Sahabudin, Pangkalpinang, Bangka-Belitung (Babel), 18-23 September 2018. Indonesia menurunkan sebagian besar pemain-pemain muda pelatnas, untuk berburu poin di kejuaraan berhadiah total 75 ribu Dollar AS ini. Susy berharapa jika atlet pebulutangkis muda pelatnas ini, diharapkan mendapat hasil terbaik berupa gelar juara. “Indonesia Masters ini adalah kesempatan buat yang muda. Bukan cuma menaikkan poin ranking, atau pengalaman saja. Tapi prestasi juga. Karena ini salah satu penilaian untuk promosi dan degradasi, apalagi hampir semua atlet Indonesia akan tampil di kejuaraan ini,” ucap Susy, pada Rabu (12/9). Sejumlah pemain pelatnas utama seperti Firman Abdul Kholik (21 th), Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (18 th), dan Fitriani (19 th), turut ambil bagian di turnamen ini. Tetapi, Susy menepis anggapan, jika diturunkannya mereka di kejuaraan ini, sebagai bentuk hukuman, lantaran gagal mendapat hasil maksimal di level yang lebih tinggi. “Saya bukan mengatakan ini hukuman, tapi ya ini hukum alam. Dalam penilaian, hal-hal seperti ini memang harus terjadi. Jika sulit bersaing di atas, ya harus mencoba di level bawah untuk membuktikan. Lagipula, ini jadi tantangan buat mereka, mau ada di level yang mana?” jelas Susy. Meski dibanjiri peserta dari negeri sendiri, namun Bangka Belitung Indonesia Masters 2018 juga didatangi pemain top seperti juara dunia 2014, Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol (Korea), Minatsu Mitani (Jepang), dan ‘serbuan’ ganda putri Jepang. Persaingan menuju podiun juara bakal sengit dan tak akan mudah bagi para wakil tuan rumah. “Targetnya tanding di depan publik sendiri, saya harap mereka mampu kasih yang terbaik. Ini saatnya atlet muda Indonesia bersiap naik tingkat, untuk mempercepat regenerasi mereka ke kelas berikutnya. Semoga ada dua gelar dari turnamen ini, paling tidak ya maunya ada juara,” sebut Susy. Susy juga optimis progres pemain-pemain junior yang tampil di turnamen senior, seperti ganda putri Agatha Imanuela dan Siti Fadia Silva Ramadhanti. Susy menilai, mereka pelan-pelan mulai bisa bersaing, dan berharap para pemain junior makin matang untuk segera melanjutkan tongkat estafet dari seniornya. “Pasangan junior itu targetnya belum di level senior, minimal bisa masuk perempat final atau semifinal. Secara ranking masih di junior. Target utama mereka, masih di kejuaraan dunia junior. Tapi sekali lagi, ini adalah kesempatan, harus bisa mereka manfaatkan sebaik mungkin,” pungkas Susy. (Adt)

Dominasi Karono Asal Jaya Raya Jakarta Belum Terbendung, Mulus ke Perempat Final Sirnas U19 Jakarta Open 2018

Dominasi Karono, pebulutangkis tunggal unggulan satu asal PB Jaya Raya Jakarta, masih belum terbendung di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018, Kategori Usia 19 Tahun (U19). (jayaraya.org)

Jakarta- Dominasi Karono, pebulutangkis tunggal unggulan satu asal PB Jaya Raya Jakarta, masih belum terbendung di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018, Kategori Usia 19 Tahun (U19). Remaja kelahiran Sukoharjo (Jawa Tengah), 28 Februari 2000 itu mulus ke perempat final usai menyingkirkan Muhammad Rivani asal PB Berkat Abadi, Banjar, di babak ketiga (16 besar), pada Rabu (12/9). Karono menang straight game, dengan skor meyakinkan 21-16, 21-10. Karono mengatakan, bila lawan yang dihadapi belum terlalu berat, sehingga mudah baginya meraih kemenangan. “Musuh belum terlalu berat, dan mudah bagi saya memenangkan pertandingan,” ujar siswa kelas XII SMA Pembangunan Jaya, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, usai laga di Gelanggang Remaja Tanjung Priok, Jakarta Utara (Jakut). “Yang paling penting kuncinya fokus dan mental tanding ketika sudah berada di lapangan,” lanjutnya. Di perempat final, Karono akan ditantang wakil PB Djarum Kudus, Syabda Perkasa Belawan, yang menjadi unggulan tujuh. Syabda melenggang usai menekuk perlawanan Arya Kusuma, asal PB Mutiara Cardinal Bandung, straight game, 24-22, 21-18. “Menghadapi pertandingan perempat final yang utama persiapan lebih kepada stamina. Apalagi, lawan juga termasuk unggulan,” jelas Karono. (Adt)

Usai Raih Emas Asian Games 2018, Jonatan Christie Langsung Telan Pil Pahit di Jepang Open

Jonatan Christie harus menelan pil pahit di kejuaraan Jepang Open 2018 BWF World Tour Super 750. Peraih medali emas Asian Games2018 dipaksa menyerah oleh Prannoy H.S, straight game, 18-21, 17-21, dalam tempo 45 menit. (Humas PBSI)

Jakarta- Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting berhasil melenggang ke babak kedua (16 besar) kejuaraan bulutangkis Jepang Open 2018 BWF World Tour Super 750. Bertanding di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, pada Selasa (11/9), pemain asal PB SGS PLN Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu menyingkirkan atlet Hongkong sekaligus unggulan delapan, Ng Ka Long Angus, dalam duel berdurasi 43 menit, dengan skor 21-14, 21-15. Sebelumnya, dari enam kali bentrok dengan Ng, Ginting, sapaan akrabnya, hanya mengoleksi dua kali kemenangan, masing-masing di Badminton Asia Team Championship 2016 (25-23, 21-14), dan Korea Open 2017 (21-18, 21-18). Di babak 16 besar, peraih gelar Indonesia Masters 2018 itu menantang wakil India Prannoy H.S. Terakhir, mereka melakoni duel di ajang Indonesia Open 2017. Ketika itu, penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu tumbang, straight game, 13-21, 18-21. Sementara itu, Jonatan Christie harus menelan pil pahit. Peraih medali emas Asian Games XVIII/2018 dipaksa menyerah oleh Prannoy H.S, straight game, 18-21, 17-21, dalam tempo 45 menit. Ini menjadi kekalahan beruntun bagi pebulutangkis kelahiran Jakarta, 15 September 1997 atas tunggal India, yang menempati ranking 13 dunia itu. Sebelumnya, mereka bertemu di nomor beregu cabang bulutangkis Asian Games XVIII/2018. Jojo, sapaan akrabnya, takluk dalam pertarungan rubber game, dengan skor 15-21, 21-19, 19-21, di babak perempat final. (Adt) Hasil Jepang Open 2018, Selasa (11/9): Tunggal Putra Anthony Sinisuka Ginting vs Ng Ka Long Angus (Hongkong/8) Skor : 21-14, 21-15 Tommy Sugiarto vs Chen Long (China/6) Skor : 21-12, 17-21, 14-21 Jonatan Christie vs Prannoy H.S (India) Skor : 18-21, 17-21 Tunggal Putri Gregoria Mariska Tunjung vs Evgeniya Kosetskaya (Rusia) Skor : 21-18, 21-17 Lyanny Alessandra Mainaky vs Ksenia Polikarpova (Israel) Skor : 21-10, 21-8 Ganda Campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti vs Robin Tabeling/Cheryl Seinen (Belanda) Skor : 21-15, 22-20 Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja (8) vs Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich (Jerman) Skor : 21-13, 21-17 Ricky Karandasuwardi/Debby Susanto vs Zheng Siwei/Huang Yaqiong (China/1) Skor : 14-21, 12-21

Tekuk Unggulan Empat, Duet Lucky/Helena Asal PB Djarum Rebut Tiket Perempat Final Sirnas U-19 Jakarta Open 2018

M. Lucky Andres Apriyanda/Helena Ayu Puspitasari (PB Djarum Kudus) melaju ke perempat final usai menang atas Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso (PB Exist Jakarta/4), 21-14, 17-21, 21-13, di ajang Sirnas Premier Jakarta Open 2018, Kategori Usia 19 Tahun (U19), Selasa (11/9). (PB Djarum)

Jakarta- Duet taruna M. Lucky Andres Apriyanda/Helena Ayu Puspitasari asal PB Djarum Kudus menghadirkan kejutan pada ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta Open 2018, Kategori Usia 19 Tahun (U19). Berlaga di Gelanggang Remaja Tanjung Priok, Jakarta Utara (Jakut), Selasa (11/9), Lucky/Helena merebut tiket perempat final usai memulangkan wakil PB Exist Jakarta sekaligus unggulan empat, Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso, dalam duel rubber game 45 menit, dengan skor 21-14, 17-21, 21-13. Di pertandingan babak kedua (16 besar), kendati mampu mencuri kemenangan di gim pertama, dengan skor 21-14, namun Lucky/Helena harus mengakui ketangguhan lawan di gim kedua, dengan skor 17-21. Memainkan gim penentu, Lucky/Helena berusaha bangkit dan tidak mudah menyerah. Hasilnya, mereka menutup gim penentu dengan kemenangan meyakinkan 21-13. Usai laga, Helena menyebut kunci kemenangan mereka adalah yakin dan fokus. “Kami yakin dan fokus. Permainan depan lawan tadi sangat bagus, tapi saya berusaha untuk ambil alih,” ujar pebulutangkis putri kelahiran Sleman, 1 Maret 2001 itu. Lucky menambahkan, dirinya dan kolega mampu merebut gim pertama karena menerapkan tempo permainan cepat serta tidak mau kalah start dari lawan. Namun, akibat salah menerapkan tempo di gim kedua, mereka dipaksa menyerah oleh Dejan/Tsavanne. “Di gim ketiga coba dipaksain mainnya, karena kami tak mau kalah lawan mereka,” terang Lucky. Di perempat final, Lucky/Helena akan menantang Viorel Joan Fernando/Dhea Bunga Anjani asal PB Jaya Raya Jakarta yang menyingkirkan wakil PB Djarum Yoggi Pamungkas/Fauzia Kartikasari, rubber game, 12-21, 21-13, 21-12, dalam tempo 41 menit. Ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua pasangan. “Pertandingan nanti kami yakin dan optimis saja,” tegas Lucky. Sedangkan Helena mengungkapkan akan berusaha maksimal pada laga perempat final nanti. “Semoga bisa memberikan permainan terbaik,” tukas Helena. (Adt) Hasil 16 Besar Ganda Campuran Sirnas Premier Jakarta Open 2018, Kategori Usia 19 Tahun (U19): M. Juan Elgiffani/Windi Siti Mulyani (PB Victory Bogor/1) vs Caesar Bagus Sadewa/Nur Aisyah (PB Exist Jakarta) Skor : 21-9, 22-20 Muchammad Choirunnizar Chan/Denisa Dwi Syawaliah Budiani (PB Jaya Raya Jakarta) vs Ari Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi (PB Mutiara Cardinal Bandung/5) Skor : 21-14, 25-23 Naufal Ligo Saufik/Ayu Gary Luna Maharani (PB Djarum Kudus/3) vs Genta Gusti Pidriansyah/Hilda Nur Fadilah (PB SGS PLN Bandung) Skor : 22-20, 21-14 Ferdian Mahardika Ranialdy/Annisa Mubarokah (PB Jaya Raya Jakarta-PB Fifa BC Sidoarjo/6) vs Ghiyats Afif Waliyudin/Alma Andrawina A (PB Victory Bogor) Skor : 21-18, 21-14 Viorel Joan Fernando/Dhea Bunga Anjani (PB Jaya Raya Jakarta) vs Yoggi Pamungkas/Fauzia Kartikasari (PB Djarum Kudus) Skor : 12-21, 21-13, 21-12 M. Lucky Andres Apriyanda/Helena Ayu Puspitasari (PB Djarum Kudus) vs Dejan Ferdinansyah/Tsavanne Bethalia Putri Mertoso (PB Exist Jakarta/4) Skor : 21-14, 17-21, 21-13 Dwiki Rafian Restu/Aldira Rizki Putri (PB Djarum Kudus/8) vs Yoga Prasetyo/Regina Abela Rullyanda (PB Daihatsu Candra Wijaya) Skor : 21-18, 19-21, 21-16 Alif Rafsyah Mauthuthihona/Rayhan Vania Salsabila (PB Mutiara Cardinal Bandung/2) vs Joshua David Wardana/Tessa Anjali Karouw (PB Tangkas Intiland Jakarta) Skor : 19-21, 21-9, 21-19

Hasilkan Emas Ke-24 Kontingen Asian Games Indonesia, Dobel Kevin/Marcus Bidik Prestasi di Olimpiade Tokyo

Tundukkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, dalam final ganda putra Asian Games 2018, di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). (Riz/NYSN)

Awas Jakarta- Menyudahi laga ketat dari rekan senegara, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, di partai final yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). Kemenangan itu pun mengantarkan Kevin/Marcus meraih medali emas pertamanya di ajang Asian Games. Hebatnya, ini penampilan perdana mereka di Asian Games. Tentu hasil ini juga menjadi pembuktian bagi keduanya, hingga level Asian Games, mereka berhasil bebas dari kutukan Lee Chong Wei. Chong Wei merupakan pemain Malaysia yang amat mendominasi nomor tunggal putra beberapa tahun terakhir. Bahkan berbagai gelar Superseries yang didapat Chong Wei bisa dibilang tak terhitung. Namun, pada ajang bergengsi untuk negaranya, Chong Wei selalu mengalami kegagalan. Prestasi terbaik Lee Chong Wei hanyalah meraih medali perak seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan paling tinggi Olimpiade. Pada tiga edisi terakhir Asian Games pun Chong Wei pencapaian optimal pebulu tangkis 35 tahun itu, hanyalah meraih perak pada 2010. Hal serupa sempat menghantui Kevin/Marcus. Dominasi dobel peringkat satu dunia itu terlihat pada kejuaraan Superseries sejak 2017 hingga kini. Namun, di berbagai event penting, Kevin/Marcus nihil gelar, dengan yang paling mencolok di Kejuaraan Dunia. Tampil dalam dua edisi, duet ini belum bisa berbicara banyak dan bahkan belum pernah meraih medali. Kini di Asian Games 2018, Kevin/Marcus yang melakoni debutnya mampu memecahkan kebuntuan tersebut. Raihan emas di pesta olahraga terbesar se-Asia itu, memastikan mereka tak senasib dengan Chong Wei. Guna mematahkan kutuhkan Chong Wei, adalah menjadi kampiun Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Pada Olimpiade, Kevin/Marcus belum pernah tampil. Olimpiade Tokyo 2020, bisa menjadi jalan baginya untuk membuktikan diri jadi yang terbaik setelah emas Asian Games 2018. Medali emas Kevin/Marcus ini menjadi emas kedua dari cabor bulutangkis atau yang ke-24 untuk kontingen Indonesia. Sebelumnya, medali emas disumbangkan Jonatan Christie dari nomor tunggal putra usai mengalahkan pebulutangkis Taiwan, Chou Tienchen, 21-18, 20-22, dan 21-15. Prestasi tertinggi Fajar/Rian adalah medali emas SEA Games 2017 di nomor beregu putra. Sementara Kevin/Marcus merupakan juara dunia 2018 dan juga ganda putra peringkat satu dunia. Kevin memuji penampilan Fajar/Rian yang bermain dalam performa terbaik. “Puji Tuhan atas pertandingan hari ini. Padahal, skornya tadi sempat jauh, tapi bisa menang. Mereka bermain sangat baik dan diluar ekspektasi kami,” terang Kevin. Ditambahkan Marcus, pada pertandingan tadi keberuntungan menjadi faktor mereka meraih kemenangan. “Apalagi di gim ketiga mereka unggul, tapi di poin-poin akhir, kami lebih beruntung dari mereka,” timpalnya. Sementara Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), mengaku jika semula mentargetkan bulutangkis bakal meraih emas, dari ganda campuran dan ganda putra. “Pencapaian di Asian Games 2018 disemua sektor cukup baik. Di beregu putri dan tunggal putri prestasinya sudah lumayan, meski tak mendapatkan medali. Tapi Gregoria (Mariska Tunjung) mampu mengibangi lawan pemain unggulan. Dan memang kami tidak targetkan, justru ganda campuran yang target emas, malah dapetnya perunggu,” jelas Susy. “Emas tak terduga juga dapat dari tunggal putra. Dan ganda putra diluar ekspekstasi, karena setelah 44 tahun yakni Asian Games 1974, akhirnya kembali all indonesian final,” tukas istri dari legenda bulutangkis, Alan Budikusuma itu. Saat Asian Games 1974, di Teheran, Iran, partai final cabang bulutangkis mempertemukan sesama pemain Indonesia, yakni ganda Tjun Tjun/Johan Wahjudi meraih emas setelah menagalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra. Tambahan emas dari ganda putra itu membuat total koleksi medali kontingen Indonesia di Asian Games 2018 menjadi 24 emas, 19 perak, dan 29 perunggu. Sampai berita ini dibuat, untuk sementara posisi Indonesia mantap di peringkat keempat unggul enam medali emas atas Iran. (Adt)