Timnas BMX Indonesia Mentargetkan Pasukannya Untuk Mempertahankan Gelar Juara Asia di Malaysia

Salah satu pemain timnas BMX Indonesia, I Gusti Bagus Saputra (tengah), dalam perlombaan kategori race Asian Games 2018 di Pulomas BMX Center, Jakarta, 25 Agustus 2018 . Foto:Tempo.co

Target timnas BMX Indonesia untuk mempertahankan gelar juara Asia di nomor putra akan akan dimulai di perebutan poin kualifikasi Olimpiade 2020. Indonesia akan mengikuti ajang Asian BMX Cycling Championship di Malaysia 13-14 April mendatang. Pasukan yang diturunkan oleh Indonesia adalah Rio Akbar, Bagus Saputra, Tony Syarifudin, Fasya Ahsana Rifki, dan Yossi Saputra (Junior), serta Wiji Lestari (women elit). Dadang Haris Purnomo selaku pelatih utama balap sepeda nasional berkomentar bahwa persiapan atletnya terus digali menjelang kejuaraan. “Anak-anak hari ini sudah berangkat ke Malaysia. Mereka ikut Kejuaraan Asia ACC pada Sabtu (13/4) dan C1 keesokan harinya,” kata Dadang yang dilansir dari detikSport, Kamis (11/4/2019). “Memang untuk persiapan tidak semuanya ada di pelatnas kemarin, hanya ada beberapa atlet saja. Dan untuk peta persaingan saya perkirakan Jepang menjadi kekuatan cukup besar baik di nomor putra maupun putri, Thailand, lalu ada China, khususnya di nomor putri,” sambungnya. Dadang mentargetkan bahwa minimal ada tiga atlet elit putra yang lolos final dan bisa mempertahankan gelar juara Asia. “Pastinya harapan kami adalah pertama mempertahankan gelar kemarin. Karena tahun lalu Rio Akbar ada di peringkat pertama dan juara asia 2018,” paparnya. “Dengan tiga atlet itu pun harapan kami bisa meraih poin penuh di Kejuaraan Asia ini,” demikian dia. Perlu diketahui bahwa Rio Akbar berhasil merebut gelar juara Asia di tahun lalu sementara Wiji Lestari mendapatkan medali perunggu dan Bagus Saputra meraih medali perak pada ajang Asian Games 2018. (IHA)

Tembus 8 Besar Dunia, Pebalap Putri 20 Tahun Lolos Kualifikasi Kejuaraan Dunia Polandia

Pebalap putri Indonesia, Crismonita Dwi Putri, akan tampil di kualifikasi kejuaraan dunia trek di Warsawa, Polandia, pada 27 Februari - 3 Maret 2019. Dara berusia 20 tahun akan turun di satu nomor saja, yaitu 500 meter time trial. (kompas.com)

Jakarta- Pebalap putri Indonesia Crismonita Dwi Putri, akan tampil di kualifikasi kejuaraan dunia setelah sebelumnya mampu menembus posisi delapan besar pada kejuaraan dunia trek di Hongkong, akhir Januari lalu. Kualifikasi kejuaraan dunia trek akan digelar di Warsawa, Polandia, 27 Februari – 3 Maret 2019. Pebalap berusia 20 tahun pada kejuaraan trek di Warsawa ini akan turun di satu nomor saja, yakni 500 meter time trial. “Crismon (sapaannya) berkesempatan tampil pada kualifikasi kejuaraan dunia. Hasil di Hongkong itu amat berpengaruh akan keberangkatannya ke Polandia,” kata Budi Saputra, manajer Crismon. Saat di Hongkong, dara kelahiran Lamongan (Jawa Timur), 23 April 1998 itu turun di nomor tim sprint, bersama Wiji Lestari. Dan nomor sprint-lah yang menempatkannya di posisi delapan dunia. Pada nomor sprint 200 meter, ia mengawali balapan dengan mengalahkan wakil Italia, Miriam Vece, pada babak 1/16 besar dengan waktu 11.487 detik. Hasil positif itu berlanjut di babak perdelapan besar. Crismon mampu mengalahkan wakil Jerman, Lea Sophie Friedrich, dengan catatan waktu 11.339 detik. Memasuki babak perempat final, pertarungan semakin ketat karena delapan pebalap terbaik bersaing. Pada babak ini Crismon berhadapan dengan wakil Lithuania, Simona Krupeckaite. Tiga kali perlombaan harus digelar karena kedua pebalap memiliki skor yang sama 1-1. Namun, di balapan penentuan Crismon harus menyerah dari sang lawan. “Kami harapkan progres Crismon terus meningkat. Saat ini, tim pelatih terus memberikan program menghadapi kejuaraan dunia,” katanya menambahkan. Di Polandia, atlet cantik ini bakal bertandem dengan pebalap putra kelahiran 14 Maret 1999, Terry Yudha Kusuma. Atlet Boyolali (Jawa Tengah) ini turun pada kualifikasi nomor 1.000 meter time trial. “Ini kesempatan bagi Terry, menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dia masih muda dan berpotensi,” kata pria asal Purwokerto Jawa Tengah itu. Guna menghadapi kejuaraan dunia trek di Polandia, baik Crismon maupun Terry Yudha terus ditempa di arena Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur. Mempunyai velodrome kelas dunia jelas menjadi keuntungan sendiri bagi pebalap Indonesia. (Adt)

Balapan di Kejuaraan Dunia Trek, Momen Atlet 20 Tahun Crismonita Raup Poin Demi Lolos Olimpiade 2020

Pebalap sepeda putri Indonesia berusia 20 tahun, Crismonita Dwi Putri, lolos ke kejuaraan dunia trek yang berlangsung di Hong Kong, 25-27 Januari. Event ini menjadi ajang menambah poin agar lolos Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. (instagram)

Banyuwangi- Performa gemilang di Kejuaraan Asian Track Championship (ATC) 2019, di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, pada 9-13 Januari, membuat pebalap putri Indonesia, Crismonita Dwi Putri, berhak tampil di Kejuaraan Dunia Track, di Hong Kong, pada 25-27 Januari 2019. Partisipasi Crismon, sapaannya, di kejuaraan dunia ini, karena akumulasi poin yang diraih mantan atlet disiplin mountain bike (MTB) dan road race ini selama mengikuti kejuaraan-kejuaraan balap sepeda resmi, seperti di India, Thailand, dan Malaysia, sudah mencapai 562 poin untuk nomor Sprint, dan 330 untuk nomor Keirin. Dan, di Hongkong, Crismon akan bertanding di 3 nomor yaitu Keirin, Sprint dan Team Sprint. Ia tak sendiri berjuang di kejuaraan dunia itu, karena Pengurus Besar (PB) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI), juga memberangkatkan tandemnya saat turun di nomor team sprint ATC 2019 yaitu Wiji Lestari. PB ISSI juga berharap event ini bisa menambah poin sebanyak-banyaknya sebagai modal lolos menuju Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. Dara kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 23 April 1998 itu, jadi satu-satunya pebalap trek Indonesia yang berpeluang tampil di pesta multievent sejagat di Negeri Sakura. Dadang Haries Purnomo, Pelatih Timnas Balap Sepeda Indonesia, mengatakan kejuaraan dunia ini memiliki poin tinggi. Untuk itu, ia meminta Crismon meraih hasil terbaik. Sekaligus menambah jumlah poin bagi dirinya agar bisa lolos dan berlaga di Olimpiade 2020. “Crismon jadi satu-satunya pebalap putri Indonesia yang punya peluang terbesar lolos Olimpiade. Sehingga dia harus tampil maksimal, dan meraih hasil terbaik,” ujar Dadang berharap kepada pemilik dua medali perak dan satu perunggu PON 2016 itu, Jumat (25/1). (Adt)

Indonesia Koleksi 13 Medali di ATC 2019, PB ISSI Tambah Skuat Atlet

Dalam Asian Track Championship (ATC) 2019 yang diikuti 16 negara, di Jakarta International Velodrom (JIV), Jakarta Timur, Merah Putih finis pada urutan ke-11 di kategori able alias normal. Sementara dari kategori paracycling atau balap sepeda disabilitas, Indonesia finis di urutan tiga dari enam negara yang berpartisipasi. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ajang Asian Track Championship (ATC) 2019 di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur, usai digelar pada Minggu (13/1). Event yang berlangsung sejak 8-13 Januari, Indonesia berhasil meraih total 13 medali dalam kejuaraan eliet Asia tersebut. “Kami tak puas karena persiapan minim. Setelah AG (Asian Games) kami hanya persiapan 2,5 bulan. Tapi hasil ini ada progresnya yang sudah bagus, bukan dari perolehan medali, tapi dari waktu,” kata manajer tim balap sepeda Indonesia, Budi Saputra, di Jakarta Internasional Velodrome (JIV), Jakarta Timur, Minggu (13/1). Dari total 16 negara yang mengikuti kejuaraan bergengsi ini, Merah Putih finis pada urutan ke-11 di kategori able alias normal. Sementara dari kategori paracycling atau balap sepeda disabilitas, Indonesia finis di urutan tiga dari enam negara yang berpartisipasi. Empat medali diraih atlet able, sementara sisanya atlet disable. “Dari waktu yang dicatat mereka semuanya memecahkan rekor AG dan Asian Para Games (APG),” sambungnya. Selepas kejuaraan ini, Budi, menjelaskan seluruh atletnya kembali menjalani latihan setelah diberi libur selama sepekan. Persatuan Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) pun juga akan melakukan evaluasi. Chrismonita yang digadang-gadang menyumbang medali emas di nomor sprint putri belum mampu mewujudkannya. Dia mempersembahkan medali perunggu di nomor individual time trial 500 meter putri. Di kelompok junior, Angga Dwi Prahesta mencuri perhatian setelah mempersembahkan medali emas di nomor balapan scratch. Pebalap berusia 17 tahun itu juga menyumbang medali perak dan perunggu masing-masing di nomor poin race dan omnium. “Ini jadi program berkesinambungan, jangan sampai putus. Mungkin anak-anak akan mendapat libur 1 minggu, lalu langsung masuk Pelatnas lagi,” tuturnya. Evaluasi lainnya adalah akan ada penambahan atlet balap sepeda yang masuk ke dalam skuat pelatnas. “Yang pasti ada tambahan atlet. Soal pengurangan akan diskusikan dengan pelatih. Kami akan evaluasi, tapi penambahan pasti ada,” jelas Budi. Hal itu dilakukan karena PB ISSI mempunyai keinginan agar ada pebalap sepeda Indonesia bisa bermain di kejuaraan dunia balap sepeda dan Olimpiade 2020 di Tokyo. Tak hanya itu, untuk pemusatan latihan nasional di Jakarta International Velodrome nanti, juga diikuti paracycling Indonesia. Budi mengatakan, akan langsung melanjutkan program untuk atletnya, sebab waktunya tinggal 1,5 tahun. “Paracycling juga ikut karena tim paracycling adalah bagian dari federasi, mereka akan latihan disini, tak ada perbedaan,” pungkasnya. (Adt) Atlet Balap Sepeda Indonesia yang Meraih Medali Elite: Chrismonita Dwi Putri: 500 individual time trial (perunggu) Junior: Angga Dwi Wahyu Prahesta: scratch (emas), poin race (perunggu), omnium (perak) Paracyling: M. Fadli Immammuddin: 4.000 meter individual pursuit (emas), team sprint 750 meter (perak) Sufyan Saori: 4.000 meter individual pursuit (perunggu), 1.000 time trial (perak) Sri Sugiyanti: 3.000 meter individual pursuit putri (perak), women sprint (perunggu), 1.000 meter time trial (perak) Triagus Arif Rachman: 3.000 meter individual pursuit putra (perunggu) Marthin Losu: 1 km time trial C4 dan C5 (perak)

Cetak Medali Perak di Hari Terakhir, Pebalap Sepeda 17 Tahun Selamatkan Wajah Indonesia

Pebalap sepeda kelahiran Lumajang, 15 Agustus 2001, Angga Dwi Wahyu Prahesta, meraih perak dari nomor omnium junior putra, di hari terakhir Asian Track Championships (ATC) 2019, pada Minggu (13/1). Perak dari nomor omnium, jadi medali ketiga bagi atlet binaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Timur ini. (Tribunnews.com)

Jakarta– Pebalap sepeda junior putra Indonesia, Angga Dwi Wahyu Prahesta, kembali meraih medali saat turun di hari terakhir ajang Asian Track Championships (ATC) 2019, pada Minggu (13/1). Teraktual, Hesta, sapaaanya, berhasil meraih perak dari nomor omnium junior putra. Remaja kelahiran Lumajang, 15 Agustus 2001 ini meraih medali perak nomor omnium, usai mencatatkan 129 poin dari empat nomor balapan, yakni scratch, tempo, elemination, dan point race. Omnium merupakan nomor balapan track, yang menggabungkan empat balapan sekaligus. Dari nomor scratch, ia mengumpulkan 32 poin, tempo 38 poin, elemination 30 poin, serta point race 29 poin. Menurutnya, point race adalah balapan paling krusial hingga dirinya berhasil menggondol medali perak. Medali emas di nomor omnium diraih atlet Kazakhstan, Danill Pekhotin dengan jumlah 133 poin. “Pertandingan tadi sangat berat. Karena ada empat lomba (balapan sekaligus). Race terakhir yang tadi (point race) adalah balapan paling krusial,” ungkapnya di paddock Tim Indonesia, di Jakarta Internasional Velodrome (VIJ), Minggu (13/1). Perak dari nomor omnium, jadi medali ketiga, bagi atlet binaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Timur, khusus balap sepeda, yang berlokasi di Malang ini, di ATC 2019. Sebelumnya, pebalap sepeda berusia 17 tahun itu meraih satu medali emas, dari nomor scratch dan satu perunggu dari nomor point race. Hesta pun mengaku sangat puas dengan raihan total tiga medali di ATC 2019. Selain menandai debut gemilangnya dengan prestasi, emas yang diraih Hesta menghantarkannya mencetak sejarah. Ia menjadi pebalap junior Indonesia pertama yang berhasil meraih medali emas di ajang balap sepeda track tingkat Asia. Selain itu, medali emas miliknya juga menyelamatkan wajah Indonesia di kategori able ATC 2019. Selain Hesta, para pebalap elit Tanah Air gagal mempersembahkan medali emas. Hanya pebalap putri, Crismonita Dwi Putri, yang berhasil menyumbangkan medali perunggu di nomor 500 individual time trial. Sejatinya, Hesta bukanlah pebalap yang menekuni disiplin track. Ia justru turun di nomor downhill dan road race. Namun, hasil tiga medali tersebut, ia menuturkan tak menutup kemungkinan akan mulai berkonsentrasi di nomor track. “Di semua nomor saya bisa. Dengan hasil ini, saya akan fokus menekuni nomor track ini. Saya kurangnya pengalaman, kalau fisik ya semuanya sama. Mudah-mudahan kedepan di beri trainnig camp lagi, di Eropa atau di mana saja,” tutupnya. (Adt)

Indonesia Cetak Sejarah, Atlet 17 Tahun PPLP Jatim Sabet Emas Junior Asia 2019

Atlet balap sepeda junior putra Indonesia yang masih berusia 17 tahun, Angga Dwi Wahyu Prahesta, meraih medali emas pada nomor scratch junior putra, dalam Kejuaraan Asian Track Championship 2019, di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta, Kamis (10/1). (suara.com)

Jakarta- Atlet balap sepeda junior Indonesia, Angga Dwi Wahyu Prahesta, mencetak sejarah perlombaan disiplin track dengan menyabet medali emas, dalam Kejuaraan Asian Track Championship 2019, yang berlangsung di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta, Kamis (10/1). Hesta, sapaannya, meraih medali emas pada nomor scratch junior putra. Atlet binaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Timur, khusus balap sepeda yang berlokasi di Malang ini, menungguli atlet India, Venkappas Kengalagutti pada posisi kedua dan atlet Taiwan, Chih Sheng Chang yang menempati posisi ketiga. “Persiapan saya hanya dua pekan sejak pertengahan Desember 2018. Saya bangga sekali bisa dapet medali emas karena perlombaan sangat ketat,” ujar alumni SMPN 3 Lumajang ini. Ia mengaku dua lap terakhir menjadi momentum untuk menyabet medali emas karena atlet-atlet lain Asia sudah kesulitan untuk melewatinya. “Target awal saya adalah medali perunggu karena ini perlombaan pertama di level Asia bagi saya,” terang remaja kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 15 Agustus 2001 itu. Ia mengaku telah berlatih di India, selama tiga pekan pada Desember 2018, sebelum kembali ke Indonesia pada awal Januari ini. “Saya turun pada nomor point race, omnium, dan scartch pada perlombaan Asia ini,” kata pelajar, yang yang memulai karir dari nomor disiplin sepeda gunung dan road race itu. Pelatih balap sepeda nasional, Dadang Haris Purnomo, mengaku terkejut dengan hasil ini Semula, ia tak mengunggulkan Hesta menyabet medali emas, karena perlombaan Asia di Velodrome menjadi ajang penambah pengalaman bagi atlet-atlet junior. “Saya sempat tak percaya karena hasil yang diraihnya. Itu adalah pembuktian pembinaan PB ISSI yang berhasil mencari atlet-atlet penerus,” kata Dadang. (Adt)

Asian Track Championship 2019 Dihelat, Ratusan Pebalap Buru Poin Olimpiade 2020 di Velodrome Rawamangun

Hajatan Asian Track Championship (ATC) 2019 yang akan diikuti 300 pebalap dari 16 negara, siap dihelat di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur, pada 8-13 Januari. Mereka berburu poin poin untuk kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. (Pras/NYSN)

Jakarta- Hajatan Asian Track Championship (ATC) 2019 siap dihelat di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur, pada 8-13 Januari. Indonesia kembali menjadi tuan rumah setelah 10 tahun yang lalu, Kejuaraan Balap Sepeda Track level Asia ini, digelar di Velodrome Tarakan, Kalimantan Timur, pada 2008. Event ke-39 ini akan diikuti 16 negara, dengan estimasi jumlah peserta sebanyak 300 pebalap. Ajang Pengurus Besar (PB) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) sekaligus menjadi rangkaian Para Asian Track Championship ke-8, dan Junior Track Championship ke-26. Tujuannya menjadi ajang pengumpulan poin untuk kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang, yang akan dimulai dari awal 2019 hingga awal 2020, atau sebelum batas akhir penutupan poin kualifikasi Olimpiade oleh UCI (Union Cycliste Internationale). Parama Nugroho, Ketua Penyelenggara ATC 2019, mengaku persiapan hampir mencapai 100 persen. Khusus penyelenggaraan ATC 2019 ini, pihaknya kaget dengan jumlah peserta yang melebihi target. “Kami hanya melihat dari entry by name yang kami terima yaitu 255 pebalap, dan ternyata yang hadir 297 pebalap,” ujar Parama, pada Senin (7/1). Dengan jumlah peserta yang melebihi target itu, membuat pihaknya harus menyiapkan akomodasi lain. “Pastinya bagi kami, ini menjadi tantangan yang sangat menyenangkan,” lanjutnya. Sedangkan, Terry Yudha Kusuma, pebalap Indonesia, mengungkapkan telah melakukan persiapan selama kurang lebih tiga bulan guna menghadapi event ini. “Saya sangat antusias, apalagi untuk menambah poin Olimpiade 2020. Di event ini saya fokus team sprint dan 1000 meter. Karena spesialisasi saya 1000 meter. Tapi, di nomor keirin, saya juga turun,” terang alumni SMA Negeri Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Ia pun berharap sanggupu memecahkan rekor nasional. “Saya memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 1 menit, 3 detik pada waktu Asia Championship di Malaysia, tahun lalu. Kalau bisa, disini (ATC 2019), lebih tajam catatan waktunya, inginnya 1 menit, 1 detik. Semoga bisa terwujud,” cetus pemuda kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 14 Maret 1999. Disisi lain, Wahyu A. Harun, Direktur Operasi PT Jakarta Propertindo (Jakpro), menyebut pihaknya bangga bisa menjamu dan turut berpartisipasi aktif dalam perhelatan ATC 2019. “Gelaran sport sepeda internasional ini penting sebagai bagian dari pengumpulan poin atlet menuju Olimpiade 2020 Tokyo,” tutur Wahyu. Dia menjelaskan JIV memiliki sertifikasi standar internasional yang ditetapkan UCI. “Venue ini terbaik untuk perhelatan sepeda internasional seperti ATC 2019, JIV kini menjadi salah satu ikon dunia sepeda internasional,” tukas Wahyu. (Adt)

Melalui Sepeda Nusantara 2018 Etape Salatiga, Bersatu Gelorakan Olahraga Sebagai Gaya Hidup Sehat

Ada yang berbeda pada peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-90, di Salatiga, Jawa Tengah (Jateng). Peringatan hari bersejarah itu disemarakkan dengan digelarnya event Sepeda Nusantara 2018, pada Minggu (28/10). Tampak dua anggota Komisi X DPR RI, yakni Mujib Rohmat dan Jamal Mirdad, melepas seremonial event ini. (Kemenpora)

Salatiga- Ada yang berbeda pada peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-90, pada 2018 ini di Salatiga, Jawa Tengah (Jateng). Sebab, peringatan yang penuh nilai sejarah tersebut disemarakkan dengan digelarnya event Sepeda Nusantara 2018, pada Minggu (28/10). Salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah Menpora Imam Nahrawi itu berhasil menyedot lebih dari 2.000 peserta yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat di kota yang terletak di antara tiga kota besar, yakni Yogyakarta, Solo dan Semarang itu. Dipilihnya Kota Salatiga sebagai lokasi digelarnya Sepeda Nusantara 2018, tepat di HSP ke-90, karena banyaknya jumlah pemuda di kota yang diapit dua gunung terbesar di Jateng, yakni Merapi dan Merbabu. Dan, sekitar 19 komunitas bersepeda di Kota Salatiga ambil bagian pada event ini. Sepeda Nusantara 2018 Etape Salatiga diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan ikrar Sumpah Pemuda, di halaman Lapangan Pancasila, tepat di depan Kantor Wali Kota. Bahkan, kegiatan ini mendapat dukungan langsung dari dua anggota Komisi X DPR RI, yakni Mujib Rohmat dan Jamal Mirdad. “Di dalam UU (Undang-undang) SKN (Sistem Keolahragaan Nasional) itu ada olahraga prestasi dan olahraga rekreasi. Saya sebagai anggota Komisi X, bersama dengan Jamal sangat mendukung kegiatan ini,” terang Mujib. “Kebetulan Salatiga, merupakan salah satu kota Bhineka Tunggal Ika yang penting dalam menciptakan kerukunan masyarakat, melalui olahraga. Lewat olahraga masyarakat lupa dengan ego-nya, sehingga yang ada hanyalah kesatuan dan persatuan,” lanjut Mujib, dan diamini Jamal Mirdad. “Saya berharap dengan berbarengan Hari Sumpah Pemuda ini, masyarakat Salatiga lebih bersatu dalam menggelorakan hidup sehat, olahraga sebagai gaya hidup, salah satunya melalui Sepeda Nusantara ini,” timpal Jamal. Program Sepeda Nusantara 2018 dimaksudkan untuk menuju Indonesia sehat, Indonesia bugar melalui bersepeda, yakni olahraga rekreasi yang selama ini sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak dulu. Sedangkan Dewan, Asisten Deputi Tenaga dan Peningkatan Sumber Daya Pemuda pada Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, menuturkan jika dahulu sepeda menjadi alat transportasi utama bagi masyarakat, saat ini sudah berkembang menjadi alat untuk mendukung olahraga, khususnya olahraga rekreasi. Salatiga merupakan salah satu dari 70 kota. yang disambangi program Sepeda Nusantara 2018. Dengan jarak sepanjang 17 kilometer, etape Salatiga mengambil start dari Lapangan Pancasila, tepat di depan kantor Wali Kota. Para pegowes meluncur ke Jalan Diponegoro, melintasi lingkar Selatan sepanjang 5 kilometer. Kemudian para pegowes akan mendapat tantangan setelah melewati pertigaan Grogol karena rute yang menanjak sekitar 20-30 derajat. Setelah melewati Jalan Hasanuddin, rute mulai menurun saat memasuki pertemuan arus lalu lintas Semarang-Solo. Setelah itu, para pegowes mulai memasuki rute yang datar dan kembali ke Lapangan Pancasila. Sementara itu, Yulianto, Wali Kota Salatiga, mengucapkan terima kasih kepada Kemenpora yang memberi kesempatan kepada Kota Salahtiga untuk menggelar Sepeda Nusantara, tepat di peringatan HSP ke-90. “Karena masyarakat Kota Salahtiga gemar berolahraga. Selain itu, banyak suku bangsa yang tinggal di sini. Ada sekitar 33 suku bangsa yang tinggal di sini. Saya pikir tepat jika Kota Salahtiga dipilih oleh pihak Kemenpora untuk menggelar Sepeda Nusantara, yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda,” tukas Yulianto. (Adt)

Demi Melahirkan Bibit Atlet Nasional, Bontang Gelar Ajang Sepeda Nusantara dan Gala Desa

Lapangan Batalyon Rudal-002/Agni Bala Cakti (Yonarhanud Rudal-002), Artileri Pertahanan Udara, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), pada Minggu (21/10), dimeriahkan oleh kehadiran peserta Sepeda Nusantara 2018. (istimewa)

Bontang – Lapangan Batalyon Rudal-002/Agni Bala Cakti (Yonarhanud Rudal-002), Artileri Pertahanan Udara, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), pada Minggu (21/10), meriah oleh kehadiran pecinta sepeda untuk bersama-sama. Kehadiran mereka untuk menyemarakkan Sepeda Nusantara 2018 etape Bontang, Kaltim. Event itu sekaligus merayakan peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) Kota Bontang Ke-19, dan HUT Tentara Nasional Indonesia (TNI) Ke-73. Puluhan komunitas sepeda menempuh rute sejauh 25 kilometer di kota yang terkenal dengan semboyannya ‘Bessai Berinta’ atau Mendayung Bersama itu, untuk meramaikan salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah komando Imam Nahrawi (Menpora). “Kami berharap kegiatan bersepeda ini menjadi sebuah tradisi di berbagai daerah di Indonesia. Dengan bersepeda, tingkat kebugaran masyarakat Indonesia bisa meningkat di atas 30 persen,” ujar Teguh Raharjo, Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Olahraga Rekreasi Kemenpora, di Bontang, Minggu (21/10). Selain Sepeda Nusantara, kota yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Samarinda, Ibukota Kaltim itu, menurut Teguh, juga menyelenggarakan program Gala Desa. “Dua program itu akan semakin meningkatkan kebugaran masyarakat, selain juga menampilkan potensi bibit-bibit atlet nasional yang akan mewakili Indonesia dalam kejuaraan internasional,” lanjutnya. Teguh menambahkan program Sepeda Nusantara menjadi salah satu program unggulan Kemenpora sejak 2017, dan akan menjadi program berkelanjutan hingga 2019. “Program Sepeda Nusantara merupakan kelanjutkan program Gowes Pesona Nusantara yang telah mendapatkan persetujuan dari DPR RI sekaligus menjalankan amanat Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas),” tukas Teguh. (Adt)

Peraih Perunggu Asian Games 2018 Wiji Lestari Meriahkan Sepeda Nusantara Etape Blitar, Tingkatkan Kecintaan Olahraga Sepeda

Sepeda Nusantara 2018 di Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim), pada Minggu (21/10),sangat istimewa. Di tengah ribuan peserta terdapat atlet peraih medali perunggu nomor BMX Asian Games XVIII/2018, Wiji Lestari. (istimewa)

Blitar- Sepeda Nusantara 2018 di Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim), pada Minggu (21/10), terasa sangat istimewa. Sebab, di tengah ribuan peserta terdapat atlet peraih medali perunggu nomor BMX Asian Games XVIII/2018, Wiji Lestari. Dara berusia 18 tahun itu berbaur dengan masyarakat yang antusias berpartisipasi dalam event yang menjadi salah satu program unggulan Kemenpora di bawah kepemimpinan Imam Nahrawi (Menpora) itu, melalui gerakan ‘Ayo Olahraga’, bertajuk Bangun Indonesia itu. “Saya senang melihat antusias masyarakat Kabupaten Blitar menyambut dan mensukseskan acara ini. Sepeda Nusantara sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan kebugaran serta gaya hidup sehat,” ungkap Wiji, sapaannya. Wiji yang tercatat sebagai atlet andalan Indonesia yang telah mewakili Merah Putih di multievent olahraga tingkat internasional itu, turut melakukan senam bersama di depan halaman Kantor Bupati Blitar, sebelum start dimulai. Bahkan, sebelum para peserta mengayuh sepeda, Wiji sempat memamerkan kebolehannya menaklukkan tantangan dengan sepeda andalannya. Ia terbang di atas empat orang yang berbaring di lapangan, dan sukses menjawab tantangan tersebut. Atraksi itu spontan mendapatkan aplaus dari para peserta Sepeda Nusantara 2018. “Saya berharap dari kegiatan ini meningkatkan kecintaan terhadap olahraga bersepeda dan memunculkan atlet menjadi pendamping saya di ajang internasional,” tutur Wiji. Ia mendapatkan bonus dari Bupati Blitar selain bonus dari Pemerintah sebesar Rp 250 juta berkat medali perunggu yang diraihnya di ajang Asian Games XVIII/2018. Wiji menorehkan prestasi di nomor BMX, di Internasional Race, Pulomas, Jakarta, usai membukukan catatan waktu 40,788 detik. Medali emas direbut pebalap China, Zhang Yaru, usai mencetak waktu 39,843 detik. Diikuti pebalap Thailand, Kitwanitsathian Chuttikan yang meraih medali perak dengan catatan waktu 40,379 detik. Kembali, Waluyono, Ketua Bidang (Kabid) Olahraga Rekreasi Kemenpora, mengapresiasi antusias masyarakat Kota Blitar. Sebab, kurang lebih 8000-an masyarakat, mulai dari Bupati dan wakilnya, Kapolres, Dandim 0808 Blitar, dan anggota DPR, serta masyarakat memeriahkan program Kemenpora di bawah program Deputi Pembudayaan Olahraga itu. “Kami sangat apresiasi apa yang dilakukan masyarakat Kabupaten Blitar menyemarakkan Sepeda Nusantara. Mereka sangat antusias. Ini bagus karena artinya mereka sukseskan gerakan masyarakat sehat yang digulirkan Kemenpora. Apalagi, pedagang kaki lima juga banyak. Kegiatan ini juga sekaligus menggerakkan perekonomian rakyat,” ungkap Waluyono. Di Bumi Bung Karno itu, para peserta Sepeda Nusantara 2018 menaklukkan lintasan sepanjang 20 km dengan start di Kantor Bupati di Kanigoro, kemudian menuju Tumpang, Bendungan Wlingi Raya, Njegu, Sukorejo, Mbacem, Sukojayan, dan kembali ke Kanigoro. Dan, sekembalinya dari menggowes, para peserta disuguhkan sarapan nasi pecel khas Blitar. Tak sampai disitu, ada kejutan menanti peserta, yakni doorprize berupa enam ekor kambing, selain sepeda dan sepeda motor. “Biasanya doorprize sepeda motor, sepeda, dan peralatan elektronik. Kali ini kami hadirkan kambing, agar bisa dimanfaatkan oleh si penerima. Tentunya jika dipelihara bisa beranak pinak dan menambah ekonomi, tapi jika yang dapat komunitas mau dimasak untuk menambah kebersamaan juga bagus,” imbuh Rijanto, Bupati Blitar, Jatim. Rijanto merasa senang melihat masyarakatnya menyambut baik gelaran Sepeda Nusantara. Ia menilai kegiatan ini sangat bagus untuk menggerakkan semangat gotong royong masyarakat, selain juga mengajak hidup sehat. “Ini tahun kedua setelah tahun kemarin mencatatkan rekor sebagai pelaksana dengan peserta terbanyak dengan 15000 peserta. Kami harapkan Kemenpora mempercayai kami menggelar event ini setiap tahunnya,” tegasnya. Sementara itu, Anggia Esmarini, Staf Khusus Menpora Bidang Komunikasi dan Kemitraan, menyebut Blitar selalu istimewa pada pelaksanaan Sepeda Nusantara. Selain itu, ungkapnya, Blitar selalu total merespons program Pemerintah, dalam hal ini Kemenpora. Tahun lalu, Kabupaten ini mendapatkan penghargaan sebagai tempat penyelenggara dengan peserta terbanyak, yakni 15000 orang. “Kali ini tak sebanyak tahun lalu, tapi antusiasmenya luar biasa. Semua kalangan masyarakat ikut mensukseskan. Tak hanya sisi olahraga, tapi ada hadiah dan kebersamaan serta momentum sosialisi,” tuturnya. Sedangkan Titik Prasetyo, Anggota Komisi X DPR RI, mengaku takjub dengan antusiasme masyarakat dalam mensukseskan penyelenggaraan Sepeda Nusantara. Apalagi, tambah Titik, kegiatan bersepeda merupakan kegiatan murah dan menyehatkan. Ia juga merekomendasikan kegiatan ini dilakukan setiap tahun. “Sepeda Nusantara merupakan kegiatan sangat positif, apalagi animo masyarakat luar biasa. Mereka merindukan hal-hal sepeti ini. Ini olahraga murah, tapi melibatkan banyak orang, maka sebaiknya diadakan setiap tahun. Ini budaya bagus karena ikut menyehatkan banyak orang, dan dapat menghindarkan diri dari narkoba,” tegasnya. “Olahraga juga bisa menekan orang sakit dan menghemat biaya pengobatan,” tukas pria pemegang gelar juara dunia pada Kejuaraan Dunia Karate di Meksiko (1991), dan Tokyo (1993) itu. (Adt)

Ribuan Peserta Meriahkan Sepeda Nusantara 2018 Etape Palembang, Kuatkan Budaya Olahraga di Masyarakat

Sekitar 3000 peserta memeriahkan event Sepeda Nusantara 2018 etape Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu (20/10), yang menempuh jarak sepanjang 23 km, melintasi beberapa ikon kota seperti Monpera (Monumen Penderitaan Rakyat), Jembatan Ampera, dan Jakabaring Sport Center (JCS). (istimewa)

Palembang- Sukses menggelar hajatan Asian Games XVIII/2018, beberapa waktu lalu, Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menuai kesuksesan saat menggelar event nasional, yakni Sepeda Nusantara 2018, yang bertemakan ‘Bangun Indonesia’, pada Sabtu (20/10). Mengambil start dari pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), peserta yang berjumlah lebih dari 3000 orang itu sangat antusias mengayuh sepedanya sepanjang 23 Km melintasi beberapa ikon kota seperti Monpera (Monumen Penderitaan Rakyat), Jembatan Ampera, dan Jakabaring Sport Center (JCS). Fitriani Agustinda, Wakil Wali Kota Palembang, menyebut event salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah komando Imam Nahrawi, selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya di Kota Palembang. “Sudah saatnya kita terus kenalkan Kota Palembang, salah satunya melalui olahraga, setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini gelaran Sepeda Nusantara juga harus bisa sukseskan bersama-sama,” ujar Fitri, sapaannya, dalam sambutannya saat melepas ribuan pesepeda di Pelataran Benteng Kuto Besak Palembang, Palembang. Fitri berharap event-event besar olahraga bisa kembali hadir di Kota berjuluk ‘Pempek’ itu. “Dengan hadirnya event-event besar olahraga di Palembang, tentu saja akan meningkatkan pendapatan masyarakat Palembang,” lanjutnya. Sementara itu, Raden Isnanta, Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora yang turut hadir dalam event Sepeda Nusantara di Palembang, mengaku bangga terhadap masyarakat Palembang yang ingin membugarkan tubuhnya dengan berolahraga, terutama turut berpartisipasi dalam Sepeda Nusantara ini. Isnanta menambahkan program nasional Sepeda Nusantara ini sudah mendapatkan persetujuan dari Komisi X DPR RI, dimana program ini juga menjalankan amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1/2017 tentang gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). “Setelah Palembang jadi pembicaraan dunia khususnya Asia melalui ajang Asian Games, serta prestasi Indonesia di empat besar dalam pesta olahraga itu, kita harus sepakat membangun olahraga yang non prestasi dengan menguatkan budaya olahraga, agar masyarakat yang non atlet harus bergerak sesuai Inpres Nomor 1/2017,” tuturnya. “Bersepeda merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kebugaran, tidak menutup aktivitas olahraga lainnya, sekaligus mari kita mengajak saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas untuk terus berolahraga. Intinya olahraga untuk semua,” tegas Isnanta. Sedangkan Mustafa Kamal, Anggota Komisi X DPR RI, yang juga hadir dalam event ini, meneyebut dengan bersepeda menyongsong Palembang untuk masa yang akan datang menjadi negeri yang sehat, baik itu jiwa maupun raganya. “Bangun jiwanya, bangun raganya, seperti penggalan lirik lagu kebangsaan yang sering kita nyanyikan. Mudah-mudahan dengan Sepeda Nusantara ini kita menjadi generasi muda yang kokoh menyambut masa depan Indonesia,” ungkap Mustafa. Ini merupakan tahun kedua dari pelaksanaan event Sepeda Nusantara bersifat massal, dimana pada tahun pertama bernama Gowes Pesona Nusantara. Mustafa menegaskan jika titik pelaksanaan pada tahun depan harus diperbanyak. “Titik-titik pelaksanaan Sepeda Nusantara pada tahun depan harus di perbanyak, bukan hanya dipusat-pusat Ibukota Provinsi, tapi juga di Kabupaten Kota. Ini murah meriah, gegap gempita, kebersamaan masyarakat Indonesia, segar bugar, dan sehat. Jadi itulah Indonesia,” imbuhnya. “Ini momentum, karena Indonesia di Asian Games kemarin meraih prestasi cemerlang, sehingga gairah masyarakat untuk berolahraga jangan sampai terputus,” tukas Mustafa. (Adt)

Sempat Diguyur Hujan, Peserta Tetap Antusias Semarakan Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka di Kalimantan Utara

Pelepasan Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka oleh Sofian Raga (Wali Kota Tarakan), yang didamping Suryati (Kepala Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional/PP-PON), dan Suparlan (Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga/Kadispora Kota Tarakan), di Stadion Datu Adil, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, pada Minggu (14/10). (Adt/NYSN)

Tarakan- Kesemarakan event Sepeda Nusantara 2018 etape Bumi Paguntaka, Kalimantan Utara, pada Minggu (14/10), sangat terasa. Sebagai salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah payung ‘Ayo Olahraga’ itu, mendapatkan tempat istimewa di hati masyarakat Kota Tarakan. Hal itu dibuktikan dengan para peserta, baik masyarakat maupun komunitas sepeda seperti Widjaya Onthel Club Tarakan, yang tampak sangat antusias mengikuti event ini, meski hujan sempat mengguyur kota terkaya ke-17 di Indonesia itu sejak pagi hingga menjelang acara berlangsung. Menempuh jarak sekitar 10 km, para peserta mengawali start dari depan Stadion Datu Adil, selanjutnya melewati Islamic Center-Jalan Kusuma Bangsa-Jalan Yos Sudarso-Jalan Jenderal Sudirman-Taman Oval Ladang-Kantor Wali Kota Tarakan-Kodim 0907 Tarakan, dan finish di Stadion Datu Adil. Pelepasan Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka itu dilakukan langsung oleh Sofian Raga (Wali Kota Tarakan), didamping Suryati (Kepala Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional/PP-PON), dan Suparlan (Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga/Kadispora Kota Tarakan). Suryati mengatakan animo masyarakat di Kota Tarakan untuk mengikuti event Sepeda Nusantara 2018 ini sangat besar. Diharapkan, target dari Kemenpora, yakni menciptakan masyarakat yang sehat dan bugar bisa tercapai di Kota ini. “Saya lihat disini juga sudah banyak klub-klub maupun komunitas, khususnya sepeda. Saya kira tidak ada masalah. Meski tadi hujan, namun antusias peserta tetap tinggi. Event ini juga mendapatkan dukungan yang besar dari semua pihak di Kota Tarakan ini,” ujar Suryati, disela event Sepeda Nusantara 2018 Etape Bumi Paguntaka itu. “Dengan Sepeda Nusantara ini, kami berharap tercipta masyarakat bugar, sehat, dan juga efisien, karena dengan bersepeda tak perlu membeli bahan bakar. Dan hanya dengan menggerakan tubuh menjadikan kita energik, sehingga kita semua bisa beraktifitas, serta lebih produktif di dalam masyarakat,” lanjutnya. Ia menegaskan, meski tanpa kehadiran pemerintah pusat, seharusnya event sepeda ini harus terus digalakan. Bahkan, pihaknya berpesan kepada Wali Kota Tarakan supaya dibuatkan jalur khusus bagi pesepeda. “Pak Wali Kota menyampaikan di Kota Tarakan sudah ada jalur khusus bagi pesepeda, tetapi terhapus. Kami harap dengan adanya momen seperti ini, bisa dibuatkan jalur khusus sepeda. Sehingga masyarakat yang akan bersepeda lebih aman, tidak takut tersenggol oleh kendaraan lainnya,” imbuhnya. Sementara itu, Sofian mengapresiasi Kemenpora yang kembali mempercayakan Tarakan, sebagai Kota yang disinggahi Sepeda Nusantara 2018. “Atas nama pemerintah kota, dan masyarakat Kota Tarakan, kami sampaikan apresiasi kepada Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) yang terus mensupport event bersepeda di Kota Tarakan ini,” ucap Sofian. Ia menyebut sepeda merupakan salah satu olahraga favorit masyarakat Kota Tarakan, sehingga kehadiran Sepeda Nusantara 2018 ini sekaligus membangkitkan motivasi dan semangat kepada generasi muda untuk terus berolahraga. “Event ini dalam rangka menjaga stabilitas kesehatan masyarakat. Kami harap event ini jadi agenda rutin, dan kami akan menjadikan olahraga sepeda ini salah satu cabang favorit di Kota Tarakan. Jadi tidak hanya untuk perayaan ataupun peringatan hari tertentu dan libur nasional, namun setiap waktu event ini bisa kami gelar,” ungkapnya. Kedepan, jelas Sofian, pihaknya akan menggelar Jambore Bersepeda, dimana pesertanya tidak hanya masyarakat lokal, namun juga akan mengundang peserta dari luar negeri, terutama negara tetangga seperti Malaysia. Terkait jalur khusus sepeda di Kota Tarakan, Sofian menegaskan pihaknya telah merencanakan pengembangan infrastrutur jalan yang akan digunakan sebagai jalur kendaraan roda empat, maupun roda dua. “Seluruh jalan di kota ini sepanjang kurang lebih 150 km itu sebagian sudah dalam pengerasan. Termasuk jalur roda empat, dan roda dua. Dan juga sudah dipasang GSB (Garis Sepadan Bangunan) berupa patok-patok merah, agar bangunan tak boleh melampaui tanda itu. Sehingga, nantinya kami leluasa melakukan pelebaran jalan,” tuturnya. Sedangkan Suparlan menilai, event Sepeda Nusantara 2018 ini berlangsung lancar dan sukses sesuai dengan harapan semua pihak, serta mendapatkan sambutan yang sangat baik dari seluruh masyarakat Kota Tarakan. “Sebelumnya kami juga pernah menjadi tuan rumah Gowes Pesona Nusantara 2017, dan akhirnya kami bisa kembali menggelar event Sepeda Nusantara 2018, dan kegiatan ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari seluruh masyarakat di Kota Tarakan,” terang Suparlan. Selain bersepeda, pada event yang bertujuan mendorong minat masyarakat terhadap olahraga bersepeda guna meningkatkan kecintaan terhadap olahraga sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), khususnya di Kota Tarakan, para peserta setibanya di garis finish langsung diajak melakukan senam secara bersama-sama. Aktifiats bersama itu sebagai bentuk kebersamaan dalam menggairahkan semangat berolahraga di tengah-tengah masyarakat. Dan, tak lupa, peserta Sepeda Nusantara 2018 etape yang beruntung mendapatkan dooprize, berupa sepeda dan peralatan elektronik. (Adt)

Mahasiswi Universitas Semarang Jadi Wanita Ketiga Peraih Emas Asian Games 2018 Kontingen Indonesia

Atlet Balap Sepeda Indonesia, Tiara Andini Prastika tampil di Final Run Women Elite Downhill, pada Asian Games 2018 di Khe Bun Hill, Subang, Jawa Barat, Senin (20/8). Tiara meraih emas pada nomor tersebut (Dok. CDM Asian Games 2018)

Jakarta- Tiara Andini Prastika adalah salah satu atlet putri dari cabang olahraga balap sepeda, yang menyumbangkan emas ketiga bagi Indonesia paska tampil di Final Run Women Elite Downhill di Asian Games 2018. Ia menduduki peringkat pertama dengan catatan waktu 2:33.056, mengalahkan atlet Thailand Vipavee Deekaballes di posisi kedua dengan waktu 2:42.654. Gadis kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 22 Maret 1996 ini, berada di peringkat 16 Union Cycliste Internationale (UCI), atau lazim dikenal sebagai ranking dunia cabang balap sepeda. Atlet berusia 22 tahun itu pernah menjadi unggulan pertama pada Kejuaraan Asia MTB 2018 di Cebu, Filipina, 4-6 Mei lalu. Sumbangan emas Tiara menjadi yang ketiga bagi Indonesia. Medali emas pertama didapat oleh Defia Rosmaniar, atlet taekwondo putri asal Bogor ini, berhasil mengalahkan Marjan Salahshouri (Iran). Defia yang turun di final nomor tunggal putri poomsae, ungul dengan poin 8,690. Kemudian, Emas kedua dipersembahkan oleh atlet putri wushu, Lindswell Kwok. Lindswell meraup poin 9,75 dan mengalahkan Hongkong dan Filipina yang masing-masing dapat poin 9,71 dan 9,68. Dilansir www.cyclingarchives.com, pada 2017, Tiara juga berhasil merebut posisi pertama di kejuaraan Sleman Downhill, Lubuklinggau Downhill dan Ternadi Downhill. Tiara sudah pernah beberapa kali mengharumkan nama Indonesia, salah satunya saat menjadi juara Pertama, Putri – Kejurnas PB ISSI, Sentul, Jawa Barat pada 2012. Pada 2013, Mahasiswi Universitas Semarang ini dua kali mendapatkan juara pertama, yaitu pada turnamen Porprov Jawa Tengah Banyumas 2013, Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Lalu gelar kampiun berikutnya, ia sabet di event Kejurnas PB ISSI, Sentul, Jawa Barat, pada 2013. Pada 20 Agustus 2018, Tiara, menambah total medali emas Asian Games 2018 yang diraih oleh Indonesia. Dia merupakan peraih medali emas ketiga, usai memenangkan nomor downhill putri, dengan mencatatkan waktu 2 menit 33, 056 detik. (Ham)