SEA Games 2017: Wushu Sumbang Tiga Mendali dalam Sehari Pertandingan

Lindswell Kwok, Puan Maharani dan Imam Nahrawi. Foto: Antara/ Wahyu Putro

Indonesia lambat laun mulai merebut posisi peraihan Mendali. Pada pertandingan yang berlangsung Senin (21/08), Cabang Olahraga (cabor) Wushu kembali berhasil menyumbangkan medali untuk Indonesia di SEA Games 2017 yang berlangsung di Malaysia. Pewushu, Felda Elvira sukses menambah pundi-pundi emas kontingen Merah Putih dari nomor Doushu. Prestasi Felda terbilang mengejutkan, menginat dia baru pertama kali tampil di SEA Games. Ini merupakan medali kedua yang dipersembahkan Felda pada SEA Games 2017. Sebelumnya, dia sudah menyabet perunggu dari nomor Gun Shu dengan poin 9,62. Felda mencatatkan nilai tertinggi, 9,67 pada pertandingan yang berlangsung di KLCC Hall 5 kemarin. Medali perak juga jatuh ke tangan atlet wushu Indonesia, Monica Fransisca berada di tempat kedua dengan nilai 9,66 poin. Pada hari yang sama, Indonesia juga meraih perunggu dari nomor Muhammad Dafa Golden Boy dari nomor Qiangshu dengan 9,63 poin. di lansir dari Liputan6.com, dalam sehari Cabor Wushu dapat menyumbang tiga Mendali. Ini merupakan Kebanggan bagi Indonesia dan menjadi Motivasi bagi Atlet dari Cabor lain agar dapat bermain dengan maksimal sehingga dapat menyumbangkan mendali. Sebelumnya, Indonesia juga meraih perak dari wushu atas nama Bobie Valentius Gunawan yang tampil di nomor Taijiquan. Bobie kalah dari atlet tuan rumah, Loh Jack Chang. Sementara itu, hari ini Wushu juga akan mempertandingkan nomor Taijijian Putri. Selain Cindy Martono, Indonesia akan menurunkan juara dunia 2013, Lindswell Kwok.

Bagi Gadis Ini, Betapa Berharganya Perjuangan Walaupun Mendapatkan Perunggu Sekalipun Dalam Olahraga Wushu

Sri-Wushu

Meningkatnya peminat olahraga wushu menandakan bahwa kebangkitan olahraga menjadi lebih siap bersaing dalam seluruh ajang internasional. Tidak hanya dari lelaki yang siap menantang lawan tanding dari negara luar Indonesia, bahkan wanita Indonesia juga sudah mempersiapkan merebut gelar juara dari negara pencetus olahraga wushu. Atlet wushu wanita, Sri Yogi Utami, merupakan atlet yang cukup berprestasi dalam bidang olahraga tersebut. Bagi Siswi kelas XI di SMAN 3 Tangerang ini, wushu merupakan olahraga beladiri yang unik. “Saya pertama kali ikut wushu sekitar tahun 2012, waktu itu masih kelas 5 SD. Saya tertarik karena perpaduan seni dan beladirinya unik dan asik.” kata Sri. (26/6) Beberapa gelar yang telah berhasil Sri koleksi diantaranya sebagai berikut: 1. Juara 1 kategori chanquan C dalam Kejurprov Banten tahun 2013 2. Juara 2 kategori nanquan B tingkat propinsi 3. Juara 4 kategori nanquan B National Open 4. Juara 1 dan juara 2 dalam Kejuaraan Kungfu Nasional di Cibubur tahun 2017 Perjalanan Sri sampai bisa berprestasi dalam olahraga wushu juga banyak menemukan halangan. Salah satunya adalah tidak direstui oleh orang tuanya. “Waktu SD sampai SMP terkadang tidak diperbolehkan ikut latihan wushu sama Bapak, tapi saya selalu menunjukan bahwa saya bisa berprestasi di bidang wushu. Sekarang, saya jadi semakin didukung sama orang tua karena prestasi saya, malah kadang suka dimarahin kalau malas latihan.” terang Sri Dalam pandangan Sri, seorang guru, orang tua serta para teman temannya merupakan pendukung yang sangat luar biasa untuk dirinya. Diakui Sri, sang guru sangat sabar mengajarinya bahkan ketika Sri sedang tidak mood untuk berlatih. Juga orang tuanya yang rela meluangkan waktu dan uang untuk Sri selama menekuni wushu serta teman-temannya yang selalu mendukung, menemani dan terus membujuknya ketika Sri mulai tidak niat berlatih. Pengalaman unik juga tak luput mewarnai perjalanan Sri selama mendampingi adik seperguruan pada saat turnamen olahraga wushu di Kota Surabaya. “Waktu itu sekitar pertengahan tahun 2014, saya ikut ke Surabaya untuk mendampingi adik seperguruan. Ketika kesana, kebetulan saya masih berada dalam tingkat wushu kelas chanquan, jadi ketika ada bazaar yang menjual senjata untuk berlatih wushu yang isinya satu set senjata panjang tombak sekaligus tasnya, saya langsung membelinya, ternyata ketika pulang dari sana saya dipindah ke kelas nanquan. Jadi tombaknya tidak terpakai dan harus beli senjata baru lagi.” kata Sri, menceritakan pengalamannya. Terkait masa depannya, Sri mengungkapkan bahwa ia ingin menjadi diplomat sekaligus atlet nasional yang bisa selalu membawa nama indonesia untuk menjadi juara dalam cabang olahraga wushu. Karena baginya, wushu sudah menjadi bagian dari kewajiban yang sudah ia tekuni sejak kecil. “Jangan pernah berhenti kalau merasa capek atau jenuh. Nikmati saja prosesnya, karena itu bisa jadi penopang dalam cerita perjalanan prestasi kita. Karena kalau tidak ada asam, sakit, jenuh, dan capek kalian tidak akan tahu betapa berharganya walau satu medali perunggu sekalipun.” tutup Sri.(crs/adt)