Perjuangan Janice Tjen Terhenti di Eastbourne Open 2026

Janice Tjen

Petenis putri Indonesia, Janice Tjen terhenti pada babak pertama Eastbourne Open 2026 setelah berjuang lebih dari tiga jam pada laga pembukanya di Eastbourne, Inggris, Selasa. Janice, yang menempati unggulan keenam ajang WTA 250 lapangan rumput itu harus tunduk di tangan Caty McNally setelah melalui rubber set 5-7, 7-6(5), 3-6, demikian catatan WTA. Pertandingan berlangsung sengit sejak set pertama ketika kedua petenis yang sama-sama berumur 24 tahun itu berebut memenangi gim untuk kedudukan 3-3. Janice dengan kekuatan servisnya yang mencatat satu ace tidak cukup untuk menghadang McNally yang unggul dengan catatan 73,5 persen untuk memasukkan servis pertamanya, dan berhasil memenangi 88 persen poin servis pertamanya. Janice menyamakan kedudukan 5-5, namun McNally kemudian memenangi dua gim setelahnya untuk merebut set pertama. McNally unggul pada set kedua saat Janice kehilangan servisnya. Namun, dengan cepat petenis kelahiran Jakarta itu bangkit menyamakan kedudukan dan menjaga selisih angka agar tidak terpaut jauh. Janice memaksa McNally untuk memainkan tie-break yang berlangsung ketat. Pada kedudukan imbang 5-5, ia kemudian memenangi dua poin untuk membawa pertandingan ke set penentu. Dominasi McNally terasa di set ketiga meski secara statistik Janice unggul dari segi persentase servis pertama dan lebih sedikit melakukan kesalahan ganda. Ketika Janice mencoba mengejar ketertinggalan 3-4, McNally dengan kuat memenangi dua gim beruntun untuk menutup pertandingan dengan kemenangan setelah tiga jam 10 menit. Dengan hasil tersebut Janice belum bisa memecah kebuntuan kekalahan laga pembuka setelah terhenti pada babak pertama dua pekan beruntun, yakni pada Libema Open dan Nottingham Open pekan lalu. Meski begitu, Janice masih akan tampil di sektor ganda di Eastbourne bersama petenis Hong Kong Eudice Chong yang akan berhadapan dengan unggulan kedua Jasmine Paolini/Sara Errani.

Janice Tjen kandas pada babak pertama Nottingham Open 2026

Janice Tjen

Petenis putri Indonesia, Janice Tjen kandas pada babak pertama Nottingham Open 2026 setelah kalah dari petenis Jerman Tatjana Maria di Nottingham, Inggris, Senin. Janice yang menempati unggulan kesembilan dalam ajang WTA 250 lapangan rumput itu tak mampu menghalau penampilan kuat Maria sehingga terpaksa menyerah 3-6, 2-6, dalam satu jam dua menit. Statistik WTA menunjukkan bahwa Maria tampil impresif dengan mencatatkan tujuh ace pada set pertama. Petenis peringkat 52 WTA itu memasukkan 87,5 persen servis pertamanya dan memenangi 85,7 persen servis pertama. Janice mencoba mengganggu ritme petenis berusia 38 tahun itu pada set kedua, dengan memenangi 71 persen poin servis pertama. Namun, Maria terlampau kuat bagi petenis kelahiran Jakarta 24 tahun silam itu. Maria mencatatkan tiga ace, unggul dari segi pengembalian bola, dan mengkonversi dua dari tiga peluang break point untuk memenangi pertandingan. Hasil tersebut membuat Janice kembali harus terhenti pada babak pertama. Petenis No.40 dunia itu belum dapat memecah dengan kekalahan pada babak pembuka. Setelah menutup musim lapangan tanah liat di Roland Garros dengan terhenti pada babak pertama, Janice sempat melaju hingga babak kedua di Birmingham Classic. Namun, ia kembali harus pulang lebih awal ketika kandas pada babak pembuka Libema Open. Meski begitu, Janice masih memiliki kesempatan untuk menjaga asa bertahan lebih lama di Nottingham. Ia akan bertanding di sektor ganda bersama rekan senegaranya Aldila Sutjiadi. Janice/Aldila sebelumnya juga harus menelan kekalahan pahit di WTA 250 ‘s-Hertogenbosch, setelah dipaksa menyerah 1-6, 6-4, 8-10 pada babak pertama dari Isabelle Haverlag/Maia Lumsden. Di Nottingham, Janice/Aldila, yang menempati unggulan ketiga, akan memulai perjuangan mereka dengan bertemu pasangan Amerika-Ceko Ann Li/Tereza Valentova esok hari, Selasa (16/6).

Aldila Sutjiadi Minta PP Pelti Buat Lebih Banyak Turnamen untuk Pembinaan Atlet Muda

Petenis Indonesia, Aldila Sutjiadi menyoroti pembinaan atlet muda di Tanah Air. Ia menilai saat ini masih sedikit turnamen yang digelar. Menurut dia, keberadaan turnamen merupakan salah satu faktor penting untuk mencetak banyak atlet berbakat. Aldila melihat Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga dalam hal penyediaan kejuaraan di tingkat lokal maupun internasional. Ia membandingkan keadaan Indonesia dan pembinaan atlet tenis di Thailand. “Kalau dilihat dari negara lain, kayak Thailand misalnya, mereka bisa menghasilkan banyak atlet itu karena mereka punya pertandingan dan fasilitas untuk mengadakan turnamen itu. Hal itu yang menurut aku perlu diperhatikan kalau mau membina atlet-atlet ke depannya,” ujar dia dalam wawancara bersama Tempo, Kamis, 1 Februari 2024. Menurut juara Thailand Open 2024 itu, Indonesia tidak kekurangan atlet muda berbakat. Pada sektor putri misalnya, dia mengungkapkan beberapa nama potensial seperti Priska Madelyn Nugroho dan Janice Tjen yang berpeluang tampil di turnamen level ITF maupun WTA. Aldila juga bercerita ketika melihat langsung bakat-bakat petenis Indonesia di level junior ketika menghadiri pembukaan FIKS Tennis Open 2023 Desember lalu. Ia mengungkapkan bahwa banyak anak-anak muda yang sejatinya memiliki minat untuk terjun ke dunia tenis sebagai atlet profesional. Untuk itu, ia menilai bahwa Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) untuk lebih banyak menyelenggarakan turnamen tingkat nasional maupun internasional. “Bisa dilihat (di FIKS Tennis Open 2023) masih banyak atlet junior yang berpartisipasi. Artinya kita punya banyak atlet junior yang bisa dikembangkan ke depannya. Cuma kembali lagi mungkin pertandingannya masih minim,” ucap Aldila. “Atlet tenis itu tidak bisa hanya latihan, terus ikut turnamen satu atau dua minggu, terus latihan lagi. Karena kalau di tenis itu kita mengasah kemampuan di pertandingan sehingga bisa tahu kelemahan dan kekuatan saat bertanding. Makannya seorang petenis itu butuh banyak pertandingan,” kata atlet berusia 28 tahun itu menambahkan. Aldila menuturkan dengan banyak mengikuti pertandingan, bukan hanya kemampuan yang terasah, tetapi juga mental. Ia berharap PP Pelti dapat memperhatikan situasi tersebut jika ingin melakukan pembinaan untuk atlet-atlet muda Indonesia. Sumber: Tempo

Aldila Sutjiadi Rebut Gelar Ganda Putri di Thailand Open 2024

Petenis putri Indonesia, Aldila Sutjiadi memenangi gelar ganda putri Thailand Open 2024 bersama pasangannya Miyu Kato dengan menaklukkan pasangan asal China Jiang Xinyu/Hanyu Guo di final, Minggu (4/2/2024). Pada pertandingan final yang dimainkan di True Arena, Hua Hin, pasangan Aldila/Kato harus melalui super tiebreak untuk mengunci kemenangan dengan skor 6-4, 1-6, 10-7. Ini sekaligus merupakan gelar perdana Aldila pada 2024. “Saya sangat senang bisa meraih gelar juara di sini. Pertandingan hari ini sangat sengit, tapi kami terus berjuang dan saling mendukung. Terima kasih kepada Miyu, tim pelatih, dan semua pihak yang telah mendukung kami,” kata Aldila dalam pernyataan resmi yang diterima pewarta seperti dimuat Antara. Pasangan Aldila/Kato tampil agresif sejak set pertama untuk mengantungi keunggulan 5-1. Namun kemudian pasangan Jiang/Hanyu mampu bangkit untuk mengejar hingga kedudukan 5-4, sebelum kemudian Aldila/Kato menutup dengan keunggulan 6-4. Penampilan berbeda diperlihatkan pasangan Jiang/Hanyu pada set kedua. Pasangan asal China itu memperlihatkan agresivitasnya untuk memenangi set tersebut dengan skor 6-1. Pada set ketiga atau super tiebreak, kedua pasangan saling kejar-mengejar poin. Laga berlangsung ketat dan baik pasangan Aldila/Miyu maupun Jiang/Hanyu sama-sama tidak mau mengendurkan tekanan, namun Aldila/Kato kemudian berhasil keluar menjadi pemenang dengan keunggulan 10-7. Thailand Open 2024 merupakan salah satu ajang persiapan Aldila menuju tur Timur Tengah pada Februari. Di sana ia akan tampil bersama Kato di WTA 500 Abu Dhabi, WTA 1000 Doha, dan diakhiri dengan WTA 1000 Dubai. Sumber: Suara.com