Kerjasama Dengan PB PGSI, KOBI Amatir Mendapat Dukungan Penuh Jadi Anggota KONI Pusat

Pertemuan antara Ketua Umum PGSI, Trimedya Panjaitan dengan Ketua Umum KOBI Ardiansyah Bakrie di Jakarta, Senin 27 JUli 2020.

Pengurus Besar Persatuan Gulat Seluruh Indonesia atau PB PGSI memberikan dukungan penuh kepada KOBI Amatir atau Keluarga Olahraga Beladiri Mixed Martial Arts Indonesia untuk menjadi anggota KONI Pusat. Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Ketua Umum PGSI, Trimedya Panjaitan dengan Ketua Umum KOBI Ardiansyah Bakrie di Jakarta, Senin 27 JUli 2020. Ardiansyah Bakrie didampingi jajaran Pengurus KOBI Amatir diantaranya Taufan E.Nugroho (Waketum Bidang Organisasi), Reva Deddy Utama (Waketum Bidang Media & PR), Fransino Tirta (Waketum Binpres), Hari Raharjo (Sekjen). Sedangkan Trimedya Panjaitan didampingi Mohamad Amir (Sekjen), Gusti Randa (Kabid Binpres) dan Diarson Lubis (Bidang Organisasi). Dalam pertemuan ini, PB PGSI mengharapkan KOBI Amatir bisa secepatnya menjadi anggota KONI Pusat. KOBI Amatir sudah mendaftar ke KONI Pusat dan akan dibahas dalam Rakernas KONI Pusat, akhir Agustus mendatang. “PGSI setuju dan mendukung KOBI masuk menjadi salah satu anggota KONI Pusat. KIta juga membantu, karena kami ada di 24 provinsi, kita akan komunikasikan dengan Pengprov PGSI di daerah juga dengan KONI-KONI daerah,” papar Trimedya Panjaitan. “Saya ucapkan terima kasih dan sebuah kehormatan bertemu dengan teman-teman PGSI dan Ketua. Banyak masukan yang diberikan dan sangat berarti ketika kita menjadi anggota KONI Pusat. Apa yang harus dilakukan dan tidak, termasuk rambu-rambunya banyak diberikan tanpa ada rahasia sama sekali. Saya langsung merasa seperti keluarga. Karena hanya teman sejatilah yang bisa memberi masukan yang baik,” sambung Ardiansyah Bakrie. Selain itu juga PB PGSI dan KOBI Amatir akan menjalin kerjasama terkait pembinaan olahraga beladiri di Indonesia. “Kita berharap ada kerjasama strageis dengan PGSI dan KOBI. Ternyata dari One Pride, banyak yang disiplinnya dari gulat. Apalagi dalam pandemi sekarang eventnya jarang, jadi kalau bisa ditampilkan akan menjadi sarana pegulat untuk berprestasi,” harap Trimedya yang juga anggota DPR. “Rencanan adanya kerjasama PGSI dengan KOBI atau kerjasama setingkat lebih tinggi lainnya atau bisa juga dengan One Pride dan lain-lain, itu adalah sesuatu yang harus dilakukan. Apalagi banyak disilpin dari MMA adalah gulat, Semoga bisa sam-sama memajukan olahraga ini,” jelas Ardiansyah Bakrie. Sebelumnya, KOBI Amatir juga sudah mendapat dukungan dari Ketua Umum Wushu yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, lalu Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang juga Ketua Umum PB Forki. DIketahui KOBI lahir sejak 2015 yang kemudian menjadi anggota BOPI atau Badan Olahraga Profesional Indonesia sejak 2016. Saat ini KOBI memiliki sekitar 800 petarung, dari 70 klub yang tersebar di 27 provinsi. Serta memiliki 7 petarung putra dan 1 putri menyandang gelar juara nasional. Sejak tahun 2019 KOBI telah menjadi anggota IMMAF (International Mix Martial Art Federation) dan WMMAA (World Mixed Martial Arts Association). Dua federasi yang membawahi MMA amatir.

Lahir Dari Olahraga Wushu, Nama Gunawan Santer Pada Ajang MMA One Pride

Black-Ant-Tim.-(Dari-Kiri-Ke-Kanan)-Amin,-Nelson,-Gunawan-Dan-Rexy.

Gunawan Sutrisno Putra merupakan salah satu pemenang Mixed Matrial Arts (MMA) di acara One Pride. Gunawan yang asli Jawa Timur ini bergabung dalam Black Ant atau yang artinya semut hitam sebuah klub bela diri yang berada di Bintaro, Tangerang Selatan. Gunawan yang dahulu belatar belakang anak jalanan, kini telah dikenal karena prestasi bela dirinya di ajang one pride di salah satu perusahaan TV swasta. Ia menceritakan kepada nysnmedia.com tentang awal mula bergabung di Black Ant. “Saya bisa disini sekitar 4 bulan yang lalu, saya ditelfon untuk ikut perebutan juara Little Fight. Setelah saya latihan sendiri di wilayah Jawa Timur, saya merasa kurang, karena tidak maksimal dengan apa yang saya harapkan, dan intinya tidak ada teman sparing. Akhirnya saya hubungi adik saya, Guntur yang ada di Black Ant. Disini saya dalam persiapan event bersama Bang Irwan untuk Little Fight itu. Alhamdulilah hasilnya kemenangan di One Pride juga.”ujar Gunawan Berawal menapaki karir di cabang olahraga wushu, Gunawan pun mengikuti berbagai cabang olahraga bela diri lain seperti muay thai, mixed matrial arts, boxing dan masih banyak lagi. Bagi Gunawan, pemerintah di nilai sudah mulai sadar dengan kesejahteraan atlet. Namun, dibalik itu, Gunawan masih merasa ada beberapa orang yang tidak bertanggung jawab yang tidak memandang baik atlet. “Namanya atlet, kan paling rentan dicurangi oleh orang lain karena dia ujung tombak cabang olahraga. Kita gak tahu ada kecurangan apa, tapi yang kita tahu hanya yang kita terima.”tuturnya Gunawan juga menambah pesannya untuk atlet-atlet beladiri yang saat ini sedang meniti karir di ajang lokal maupun nasional. “Pandai-pandailah membawa diri. Kita atlet beladiri umurnya gak panjang, berbeda dengan orang lain, karena toh ada masanya. Jadi selama kita ada kesempatan ya kita raih. Hidup juga secukupnya jangan terlalu berlebihan.” ujarnya Menjadi salah satu jebolan acara tarung nasional, membuat Gunawan bersama teman-teman Black Ant kebanjiran pengunjung. Selain nama Gunawan, Blank Ant dipercaya juga menghasilkan petarung terbaik diantaranya Rexy dan Nelson. Hingga saat ini Gunawan masih melatih Rexy dan Nelson, hingga bisa memenangkan juara emas di cabang olahraga boxing pada kejuaraan Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Tangerang Selatan. Bersama Rexy dan Nelson, Gunawan juga mengajar muaythai di Black Ant. Nelson Sianturi yang berasal dari Riau menapaki karir bela diri seperti kungfu, boxing, karate, wushu, silat tradisional. Nelson sempat mengikuti United Fight (UF) ia diajak Guntur bergabung dan mengajar di Black Ant. Nelson yang sudah bergabung di Black Ant sejak sebulan lalu kini telah mempersiapkan diri untuk mengikuti Pekan Olahraga Daerah (PORDA). Meski begitu, Nelson masih merasa pihak pemerintah masih melakukan kecurangan kepada atlet. “Saya bingung pada Kejurda, dan saya dapat emas, tapi gak pernah dapat apa-apa dari provinsi. Semua itu diluar dari janjinya. Dan saya rasa masih banyak penyelewengan,”tutur Nelson Berbeda dengan Nelson, Aqasyah Rexy Fernada, mengawali prestasi bela diri sejak tahun 2012 pada banyak cabang olahraga bela diri yaitu aikido, jujitsu, muaythai dan sebagainya. Rexy yang berdomisili di Ciledug, dahulu sempat menjadi anak jalanan seperti Gunawan. Ia kini telah mengikuti berbagi turnamen bela diri dan ia sudah melatih muay thai di Black Ant. Ia menuturkan kendala menjadi seorang atlet bela diri. “menurut saya, faktor berat badan susah turun itu kendala yang utama, karena memang atlet bela diri harus sesuai kategori. Selain itu, ya cedera sering juga ditulang kering karena kena tendang sama pelatih dan lawan,”tambah Rexy(put/adt)