Kembali Gelar Balapan Sirkuit Jalan Raya, BSD City Grand Prix 2018 Lombakan Sembilan kelas

BSD City Grand Prix 2018 akan melombakan sembilan kelas kejuaraan, termasuk kelas Kejuaraan Nasional, yang diselenggarakan di Sirkuit BSD, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Balapan ini menyuguhkan tantangan yang berbeda, karena ada jalur-jalur yang tidak biasa dan karakter sirkuit jalan raya seperti di Monaco. (intersport.id)

Jakarta- Promotor balap mobil nasional Tonsco Club menyatakan ada sembilan kelas kejuaraan yang akan dilombakan dalam BSD City Grand Prix 2018, yang berlangsung mulai 30 November hingga 2 Desember 2018, di Sirkuit BSD, Tangerang Selatan. “Tahun ini, BSD City Grand Prix akan melombakan sembilan kelas kejuaraan, termasuk kelas Kejuaraan Nasional, yang diselenggarakan di wilayah Ikatan Motor Indonesia (IMI) Provinsi Banten,” kata Ketua Tonsco Club, Lola Moenek, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (14/11). Sembilan kelas itu yakni Indonesian Touring Car Championship, Indonesian Touring Car Championship 1600 Max, Super Touring Car Championship Div 1, Super Touring Car Championship Div 2, Honda Jazz/Brio Speed Challenge dan Japan Super Touring Championship. Serta European Touring Car Championship 3000, European Touring Car Championship 2000 dan Mercedes Benz Club INA Race. “Kami optimistis peserta BSD City Grand Prix 2018 akan ramai sekali, bahkan lebih ramai dari penyelenggaraan 2017 lalu. Hadiah para pemenang tak jauh berbeda dari hadiah balapan di Sirkuit Sentul,” ujar Lola. Sementara itu, pimpinan Lomba BSD City Grand Prix 2018, Dani Sarwono menuturkan, Sirkuit BSD yang digunakan sudah mengedepankan aspek standar FIA dan IMI, diantaranya terdapat double guard rail, pagar wiremesh, serta pengadaan komponen penting lainnya, seperti mobil derek, mobil pemadam kebakaran, mobil ambulans dan safety car. “Selain itu, puluhan staf keamanan juga dikerahkan agar lomba berjalan aman dan terkendali. Kami menjamin, jika BSD City Grand Prix 2018 akan menyajikan pengalaman, keamanan, serta kenyamanan tersendiri bagi para pebalapnya,” ungkap Dani. Untuk dapat menyaksikan BSD City Grand Prix 2018, para penonton diberikan beberapa titik atau spot, yang sudah bebas biaya masuk, diantaranya di perempatan Moenir dan di belakang Q-Big. Namun untuk mendapatkan pengalaman keseluruhan balapan, pihak penyelenggara menyediakan racing village yang di dalamnya ada berbagai wahana hiburan otomotif, tribun untuk menonton, berbagai jajanan food truck serta pertunjukan musik. Harga tiket racing village tersebut, yaitu Rp50.000 per hari. “BSD City Grand Prix 2018 akan menyuguhkan tantangan yang berbeda dari Sirkuit Sentul, karena ada variasi tersendiri, jalur-jalur yang tidak biasa dan karakter sirkuit jalan raya seperti di Monaco,” ucap Ketua Panitia BSD City Grand Prix 2018, Ananda Mikola. Lebih lanjut, Ananda menyebut jika akses menuju lokasi Sirkuit BSD juga mudah dicapai karena dikelilingi oleh beberapa pusat keramaian, diantaranya Aeon Mall, ICE BSD serta Q-Big. “Lokasinya tidak sulit untuk dijangkau, karena bisa diakses melalui tol Jakarta-Tangerang. Kami ingin menyajikan hiburan bagi masyarakat yang mengutamakan faktor keamanan dan kenyamanan,” pungkasnya. (Adt)

Terungkap Baru-Baru Ini, Alasan Mengapa Balapan Termasuk Olahraga

Sobat muda NYSN, pasti pernah nonton ajang balap mobil (Formula 1) dan balap motor (motoGP)? simplenya, balapan itu terlihat hanya seperti adu kecepatan mengemudi, bukan? Siapa yang mencapai garis finish lebih dulu, dialah yang menang. Namun, balapan mobil dan motor ternyata dikategorikan sebagai olahraga juga dan si pembalap dikatakan sebagai atlet, loh! Mengapa begitu ya? Nah ini dia alasannya.. Seorang pembalap sama seperti atlet lainnya, harus kuat! Bukan hanya atlet lari, basket, sepak bola dan olahraga lain yang harus kuat fisik dan mental. Seorang pembalap juga harus kuat. Latihan fisik dilakukan secara intens. Coba kamu bayangkan, jika mereka tidak latihan fisik dan mental, kemudian hanya mengandalkan kemampuan mengemudi. Bisa jadi, kecepatan hingga 300 kilometer per jam tidak akan mampu ia lakukan. Maka dari itu tak sembarang orang yang bisa menjadi atlet balap mobil maupun motor. Latihan sampai 12 Jam sehari dan berolahraga tiap hari Dilakukan Tak hanya saat ada pertandingan, setiap harinya seorang pembalap akan olahraga secara rutin. bahkan sekali latihan bisa sampai 12 jam sehari, loh! Biasanya, pembalap melakukan latihan kardio selama 6 jam sehari, kemudian dilakukan juga olahraga lain seperti berenang, sepeda, dan lari. Selain itu, atlet pembalap juga melatih kekuatan tangannya, lengan, leher, serta punggung dengan gym. Saat menjelang pertandingan, pembalap juga melakukan pemanasan. Hal ini karena balapan itu sendiri berdurasi cukup lama, sekitar satu sampai dua jam. Begini Kenyataan Pembalap Saat di Pertandingan Pembalap mobil ataupun motor harus menggunakan helm saat berlomba. Helm ini lebih berat daripada helm pada umumnya yang kamu pakai, karena di desain untuk benar-benar melindungi kepala dari bahaya. Maka dari itu, atlet balap harus melatih kekuatan leher dan bahu nya juga. Saat berbelok, tubuh pembalap harus mampu menerima gaya gravitasi lima kali lebih besar daripada normalnya. Sehingga saat menonton ajang balapan, motor akan miring sampai terkadang pelindung lutut pembalap menyentuh aspal lintasan. Seorang pembalap tentu akan memacu kendaraannya dengan sangat cepat, akibatnya jantung juga akan dipacu bekerja lebih keras, bahkan bisa dua kali lebih cepat. Nah, itu 3 alasan kenapa pembalap bisa disebut sebagai atlet dan balapan merupakan olahraga. Semoga bisa menjawab rasa penasaran kamu selama ini ya! Untuk informasi, bagi kamu yang bercita-cita sebagai pembalap, kamu bisa mencoba dengan ikut sekolah balap. Hal ini tentu akan lebih berguna, daripada kamu ikut-ikutan balapan liar jalan raya tanpa pengawasan. Yuk sobat muda NYSN, majukan dunia balap Indonesia..       (Juara.net)

Sosok Pembuat Helm Pembalap MotoGP, Siapakah Dia?

Sobat muda NYSN, pernahkah bertanya-tanya siapa sih yang bertugas merawat, bahkan membuat helm-helm para pembalap khususnya di motoGP? Ia adalah laki-laki tersebut ada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Namanya Mugiyono. Ia dikatakan sangat beruntung karena bisa menyalurkan jasanya sebagai perawat helm-helm pembalap motoGP di ajang balapan paling bergengsi sedunia, wow..helm punya siapa saja ya? Helm-helm yang ia tangani salah satunya pada seri MotoGP seri Qatar 2018, yaitu sang bintang Andrea Dovizioso. Yap, secara tidak langsung, Mugiyono telah berjasa bagi kemenangan Dovizioso, karena berhasil membuat helmnya nyaman dan tidak mengganggu konsentrasi balapan. Selain itu, pada MotoGP Qatar ia juga menangani helm pembalap kelas Moto3, dan Moto2. Pada Moto3, Mugiyono menangani helm yang dipakai Locatelli, Simone Corsi, dan Isaac Vinales. Moto2, menangani helm pembalap Malaysia, Zulfahmi. Sedangkan di kelas motoGP, ada Aleix Espargaro dari tim Aprilia dan Xavier Simeon dari tim Reale Avintia Racing. Semuanya memakai jenis merk helm KYT. Mugiyono mengungkapkan dari Moto3, Moto2 sampai MotoGP ia bekerja tidak sendirian melainkan bersama teknisi Suomy Eropa. Hm, sungguh keren bukan sobat muda NYSN? Saat anak bangsa bisa ikut berjasa di ajang bergengsi balap dunia. Wow…sukses terus!       (DetikOto/Detik.com)