Paling Mengkilat, Ini Kandidat Kuat Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2018

Striker Brasil berusia 21 tahun, Gabriel Jesus (11), menjadi kandidat kuat salah satu pemain meraih gelar pemain muda terbaik di Piala Dunia 2018. (thesun.co.uk)

Moskow- Penghargaan Best Young Player alias Pemain Muda Terbaik pada Piala Dunia menjadi salah satu yang paling dinanti, termasuk di Piala Dunia 2018. Gelar Best Young Player akan diberikan kepada pesepak bola U-21 dengan performa paling impresif sepanjang turnamen. Artinya, kandidat pemenang Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2018 di Rusia adalah pemain yang lahir pada 1 Januari 1997 atau setelah tanggal itu. Berkaca pada tiga edisi Piala Dunia terakhir, pemenang Pemain Muda Terbaik selalu mampu berkontribusi terhadap gol yang diciptakan timnya. Mulai dari Lukas Podolski (2006) dengan 3 gol, Thomas Mueller (2010) lewat 5 gol dan 3 assist, sampai Paul Pogba (2014) melalui 1 gol dan 2 assist. Jadi, siapa yang akan melanjutkan jejak ketiga bintang belia di eranya tersebut? (ham) Berikut lima kandidat peraih mahkota Pemain Muda Terbaik pada Piala Dunia 2018 1. Breel Embolo (21 tahun)/Swiss Breel Embolo menjalani musim yang cukup bagus bersama Schalke 04 pada 2017-2018. Mantan pemain FC Basel ini mampu mengemas 3 gol dan 3 assist dari 21 pertandingan Liga Jerman. Adapun di timnas Swiss, Embolo menjajal tiga posisi berbeda dalam tiga partai terakhir, yakni sayap kanan, penyerang tengah, dan sayap kiri. Hasilnya cukup mengesankan di mana Embolo sanggup mengukir 1 gol ke gawang Panama dan membukukan 1 assist ketika melawan Jepang. Kekuatan utama: kecepatan, tendangan kaki kanan akurat, dan postur tubuh kokoh untuk memenangi adu badan. 2. Marcus Rashford (20 tahun)/Inggris Marcus Rashford sukses membuat musim 2017-2018 menjadi yang tertajam sepanjang kariernya membela Manchester United di Liga Inggris dengan 7 gol. Produktivitas tersebut mengungguli catatan Rashford pada 2015-2016 (5 gol) dan 2016-2017 (5). Di timnas Inggris, Rashford bisa menjadi pembeda. Pada Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa kontra Slovakia, ia mengoleksi 1 gol dan 1 assist membawa Inggris menang 2-1. Terbaru, penyerang kelahiran Manchester, Inggris ini menggetarkan gawang Kosta Rika satu kali dan memastikan kemenangan 2-0 pasukan Gareth Southgate dalam laga persahabatan sebelum tampil di Piala Dunia 2018. Kekuatan utama: kecepatan, tendangan keras kaki kanan dan kiri, serta skill kepala untuk mencetak gol. 3. Rodrigo Bentancur (20 tahun)/Uruguay Sejak berseragam Juventus pada 1 Juli 2017, Rodrigo Bentancur belum mampu menembus skuat inti. Dari 20 penampilan di Liga Italia musim lalu, Bentancur hanya 5 kali dipercaya sebagai starter. Namun, nasib berbeda dialami Bentancur di timnas Uruguay. Dalam 7 partai terakhir Uruguay, Rodrigo Bentancur selalu masuk starting eleven. Eks bintang belia Boca Juniors ini bahkan empat kali dipercaya pelatih Oscar Tabarez untuk tampil 90 menit. Kekuatan utama: pintar membaca arah bola untuk melakukan intersep, merebut bola dengan tekel, dan tenang dalam mengontrol si kulit bulat. 4. Kylian Mbappe (19 tahun)/Prancis Kylian Mbappe menyabet penghargaan Pemain Muda Terbaik Liga Prancis dalam dua musim terakhir. Menariknya, Mbappe menorehkannya bersama dua klub berbeda, AS Monaco (2017; 15 gol, 11 assist) dan Paris Saint-Germain (2018; 13 gol, 8 assist). Bisa bermain sebagai sayap kanan, sayap kiri, dan penyerang tengah menjadi nilai plus untuk Kylian Mbappe. Dalam 7 laga terakhir timnas Prancis, Mbappe selalu berstatus pemain inti dengan mengoleksi 3 gol dan 4 assist alias berkontribusi untuk 1 gol per pertandingan. Kekuatan utama: variasi gerakan mengolah bola, kecepatan, kaki kanan dan kiri hidup, serta cerdas menciptakan ruang dan peluang emas. 5. Gabriel Jesus (21 tahun)/Brasil Gabriel Jesus merupakan top scorer ketiga Manchester City pada Liga Inggris 2017-2018 dengan 13 gol. Torehan tersebut cuma berada di bawah Sergio Aguero (21 gol) dan Raheem Sterling (18). Sementara itu, di timnas Brasil, Jesus adalah anak kesayangan pelatih Tite. Jesus mampu membuat Roberto Firmino, yang lebih senior 5 tahun darinya, menjadi penghangat bangku cadangan. Tite menjadi pelatih yang memberikan debut kepada Jesus di tim senior Brasil pada September 2016. Dalam partai debutnya, ia langsung mencetak 2 gol dan 1 assist untuk membawa Brasil melumat Ekuador 3-0. Hingga lolos ke Rusia, pemuda kelahiran Sao Paolo ini, menjadi ujung tombak utama Selecao. Dia sudah mengoleksi 10 gol dan 5 assist dari 17 caps. Kekuatan utama: brilian dalam menempatkan posisi, kecepatan, serta kombinasi maut kaki kanan, kaki kiri, dan kepala untuk bisa mencetak gol

Egy Maulana Vikri, “Malaikat” yang Di Temukan Indra Sjafri

Egy Maulana Vikri (Dok. PSSI)

Egy Maulana Vikri,Pemain asal Medan yang menjadi Malaikat penolong atas kemenangan Timnas Indonesia U-19 berkat dua golnya ke gawang Myanmar, Selasa (7/9/2017). Egy yang lahir pada 7 Juli 2000 merupakan atlet hasil bidikan mata elang pelatih Indra Sjafri. Egy sudah menjadi incaran Indra Sjafri sejak lima tahun lalu dan saat ini ia menjadi bintang muda baru timnas U-19. Di kutip dari Bolalop, Egy pernah menimba ilmu di SSB ASIOP Apacinti Jakarta. Ia mengikuti Gothia Cup di Gothenburg, Swedia, pada 2016. Ia membawa timnya juara di turnamen usia muda kelas internasional itu. Egy juga menimba ilmu di Diklat Ragunan. Sempat juga ia menjadi bagian Persab Brebes yang menjuarai Piala Soeratin 2016. Bahkan Egy menjadi top scorer turnamen tersebut dengan total perolehan gol sebanyak 22 gol. Pemain yang mempunyai keajaiban pada kekuatan kaki kiri itu mengikuti seleksi timnas U-19 sejak Februari lalu. Dirinya begitu menonjol saat mengikuti seleksi tersebut. Itulah yang membuat Indra Sjafri tak ragu memilih Egy masuk ke skuat Garuda Nusantara. Ditemukan Indra Sjafri dengan Blusukan Indra Sjafri ternyata sudah terpikat dengan Egy Maulana Vikri sejak tahun 2012. Saat itu Egy yang masuk berusia 12 tahun sudah memikat hati Indra Sjafri. Indra bertemu Egy pada Festival Grassroot 2012 di Medan. Ia sudah mencium bakat Egy sejak dini. Hasilnya, Egy pun dipanggil bergabung dengan Timnas Indonesia U-16 pada 2015. Pelatih timnas U-16 saat itu, Fachri Husaini, menjadikan Egy sebagai kapten tim. Ia mengikuti pemusatan latihan selama satu tahun penuh. Sayangnya ia gagal membela timnas di Piala AFF U-16 karena FIFA menjatuhkan sanksi untuk sepak bola Indonesia. Gagal membela timnas, Egy pun fokus sekolah di Diklat Ragunan, Jakarta. Ia pun terus belajar dan bekerja keras berlatih bersama tim sepak bola Diklat Ragunan. Setelah Indonesia terbebas dari sanksi FIFA, Egy pun kembali dipanggil timnas. Keberhasilan Indra Sjafri membidik bakat Egy kini berbuah manis. Pelatih asal Sumatera Barat itu pun berkesempatan untuk melakukan pembenahan pada Egy hingga ia saat ini menjadi bagian penting dari timnas U-19 di ajang Piala AFF U-18.