Radithya Bayu Wardhana keluar sebagai juara tunggal putra BWF World Junior Championships (WJC) 2026 setelah mengalahkan rekan senegaranya, Fardhan Rainanda Joe, pada partai final, Sabtu (17/10). Bertanding di Cairo International Stadium, Kairo, Mesir, Radithya menang melalui rubber game dengan skor akhir 15-9, 11-15, 15-8 dalam tempo 47 menit.
“Alhamdulillah, bersyukur bisa ikut WJC untuk pertama kalinya dan langsung juara,” tanggap Radithya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
Pemain kelahiran Tanjung Pinang, Kepulauan Riau itu, mengungkapkan, ia dapat langsung menemukan ritme permainan pada gim pertama dan segera mengantisipasi upaya Joe untuk mengejar ketertinggalan. Persaingan berlangsung lebih ketat pada gim kedua ketika kedua pemain saling mengejar poin, tetapi penurunan fokus membuat Radithya kehilangan keunggulan dan harus menyerah.
Pada gim penentuan, menurtnya, ia kembali menjaga konsentrasi hingga akhirnya memastikan kemenangan dan gelar juara. “Saya sudah menyangka akan bermain rubber game karena setiap bertemu Joe, kami pasti rubber game,” ungkapnya.
Radithya mengaku masih merasa seperti bermimpi setelah berhasil meraih gelar juara dunia junior. Meski bangga dengan pencapaian tersebut, ia merasa belum sepenuhnya puas karena masih banyak tantangan yang harus dihadapi ke depan, termasuk saat bergabung dengan pelatnas nanti. Ia bertekad belajar dari para senior agar dapat terus meningkatkan kemampuan dan memberikan penampilan terbaik bagi Indonesia, seraya mengakui bahwa rasa tegang merupakan hal yang wajar dirasakan setiap pemain dalam pertandingan. “Memang pembawaan saya seperti itu,” tuturnya.
“Gelar ini saya persembahkan buat orang tua di rumah, buat Oom saya, buat keluarga besar, dan buat klub saya,” tambah pemain asal PB Djarum tersebut.
Sementara itu, Joe tetap bersyukur dapat membawa pulang medali perak dari BWF WJC 2026. Ia mengakui, Radithya tampil baik pada partai final, sehingga dirinya kesulitan keluar dari tekanan, terutama pada gim pertama. “Di gim kedua saya berhasil menaikkan percaya diri saya dan mengambil kemenangan. Di gim ketiga Radit bermain sangat agresif dan cepat jadi saya cukup lambat adaptasinya dan fokusnya hilang-hilang, hingga akhirnya kalah di gim ketiga,” paparnya.
“Kembali mendapat medali perak setelah sebelumnya dapat perak juga di AJC (Asia Junior Championships) kemarin, rasanya cukup kecewa. Maunya juara. Namun, dapatnya perak, tetapi bersyukur juga bisa sampai di titik ini,” Joe, menjelaskan.
Pemain asal Exist Badminton Club ini berpendapat, BWF WJC 2026 memberinya pelajaran penting mengenai pentingnya menjaga mental dan fokus, terutama dalam sistem penghitungan poin hingga 15 yang membuat perubahan skor dapat terjadi dengan cepat. Ia mencontohkan, perjuangannya pada semifinal ketika tertinggal 12-14, tetapi mampu membalikkan keadaan menjadi 16-14, sebagai pengalaman berharga untuk menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya.
“Target ke depannya bisa lebih baik dari hari ini, karena semua akan terus berjalan. Mungkin ke depannya bisa jadi yang terbaik,” demikian Joe.