PB GABSI Siapkan Generasi Emas Bridge Indonesia Lewat Youth Bridge Camp 2025

Arena Olahraga Bridge

Upaya Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi) untuk mencetak generasi emas atlet bridge terus digencarkan. Lewat program Youth Bridge Camp 2025, PB Gabsi membidik talenta-talenta muda terbaik dari seluruh penjuru Indonesia, sebagai langkah strategis menjawab hasil kurang memuaskan pada ajang Asia Pacific Bridge Federation Championship Mei lalu di Thailand. Dari empat kategori yang diikuti, hanya tim U31 yang berhasil melaju ke World Youth Bridge Championship 2025 di Italia. Tim U26, U21, dan U16 belum mampu berbicara banyak di pentas Asia. Fakta ini menjadi alarm penting bagi PB Gabsi untuk memperkuat fondasi pembinaan atlet usia muda. “Youth Bridge Camp 2025 adalah jawaban dari tantangan tersebut. Kami tidak ingin hanya reaktif terhadap hasil kompetisi, tetapi juga proaktif mencetak generasi juara sejak dini,” ujar pelatih nasional bridge, Taufik Asbi, Jumat (11/7/2025). Program ini disusun dalam tiga fase. Fase pertama adalah Incubation, yang digelar Maret–April 2025 dan diikuti oleh lebih dari 200 atlet muda berusia maksimal 20 tahun dari seluruh Indonesia. Dari seleksi ini, 40 atlet terbaik lanjut ke fase kedua, yaitu Bootline, yang dilaksanakan secara daring pada Mei–Juni 2025. “Bootline memberi pembinaan taktis dan mental bagi atlet. Materi disampaikan online oleh pelatih nasional secara intensif,” jelas Taufik. Fase ketiga adalah puncak dari program: Bootcamp. Sebanyak 12 atlet muda hasil seleksi Bootline mengikuti pelatihan intensif tatap muka di sekretariat PB Gabsi, Depok, mulai 5 hingga 17 Juli 2025. Mereka dibimbing langsung oleh pelatih-pelatih elite seperti Taufik Asbi, Syahrial Ali, dan Kamto. “Dari sini, akan dipilih 8 atlet terbaik yang akan disiapkan menjadi Tim Nasional Junior Indonesia untuk kategori U21,” tambahnya. Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai penyumbang atlet terbanyak dalam fase Bootcamp, yaitu tiga orang. Mereka adalah Rachel Abiyu Setiawan (Nganjuk), Jonathan Wahyu (Blitar), dan Denny Nathanael Santoso (Kediri). Rachel saat ini menempuh studi di Prodi Sistem Informasi Universitas Surabaya (Ubaya). Jonathan, alumni SMAN 1 Blitar, juga kuliah di Ubaya lewat jalur beasiswa prestasi atlet. Sedangkan Denny, peserta termuda, baru masuk SMA Agustinus Kediri setelah lulus dari SMP Santa Maria. “Agenda pelatihan sangat padat. Dari jam 9.30 pagi sampai 19.30 malam. Selain latihan teknis seperti bidding, play, dan defense, kami juga dibekali penguatan mental, kerjasama tim, dan strategi visualisasi bridge,” ungkap Rachel. Ia mengaku banyak mendapat wawasan baru, terutama cara mengevaluasi kartu dan mengembangkan komunikasi dengan partner dalam permainan. “Saya belajar untuk lebih yakin dengan diri sendiri dan lebih percaya pada partner,” tambahnya. Program Youth Bridge Camp 2025 dinilai menjadi momentum penting dalam membangun ulang kekuatan tim nasional usia muda. PB Gabsi berharap pendekatan pelatihan terstruktur ini dapat melahirkan generasi atlet bridge yang siap bersaing di level dunia. “Bridge bukan hanya soal teknik, tapi soal karakter dan hati nurani. Jika kita anggap mereka sebagai anak sendiri, pelatihan akan lahir dari ketulusan,” tutup Taufik Asbi.

Kembali Pimpin PB GABSI, Miranda Fokuskan Program Bridge Go To School

Miranda S Goeltom kembali terpilih memimpin Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi), dalam Kongres Gabsi Ke-25, di Hotel Pangeran Beach, Padang, Sumatera Barat, pada Jumat (7/12) lalu. Program Bridge Masuk Sekolah (brige go to school) pun ia usung jadi andalannya. (manado.tribunnews.com)

Padang- Miranda S Goeltom kembali terpilih memimpin Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi), dalam Kongres Gabsi Ke-25, di Hotel Pangeran Beach, Padang, Sumatera Barat, pada Jumat (7/12) lalu. Dia mencatat sejarah sebagai wanita pertama yang memimpin Gabsi,dalam dua periode berbeda. Wanita 59 tahun ini, sebelumnya memimpin Gabsi masa bakti 2002 – 2006. Kini, mantan Deputi Senior Bank Indonesia itu akan kembali menjalani tugasnya periode 2018 – 2024. Dia menggantikan ketua umum sebelumnya, Eka Wahyu Kasih, yang kini terbelit kasus hukum. Berdasarkan kesepakatan dalam kongres, Miranda diberikan waktu sebulan hingga 7 Januari 2019 untuk menyusun pengurus lengkap. Namun, pada Upacara Pentupan Kejurnas Bridge di Padang, Sabtu (15/12), Gabsi terpilih sudah harus memiliki pengurus Inti, yakni Ketum, Waketum, Ketua Harian, Sekjen dan Bendahara. Dalam Kongres yang dihadiri 23 Pengurus Propinsi dan 37 Pengurus Kabupaten/Kota, Miranda terpilih secara aklamasi. Ini karena calon lainnya, Beni J Ibradi tidak bisa hadir di Kongres karena tengah menunggui istrinya yang sedang sakit. “Ya, Beni Ibradi tidak bisa menghadiri Kongres Gabsi, karena menunggui isterinya yang sedang sakit,” kata wakil dari DKI, Amin Ramali. Sesuai AD/ART, calon harus hadir di Kongres, untuk membacakan visi dan misi seandainya terpilih. Miranda lalu diberi kesempatan menyampaikan visi dan misi di Gabsi, ditengah kesibukannya yang padat. Miranda yang mengklaim keberhasilannya saat memimpin PB Gabsi periode lalu, mengaku sangat tertantang untuk mengembalikan kejayaan olahraga bridge Indonesia di pentas internasional. Atas dasar itulah dia mencalonkan diri untuk kembali memimpin PB Gabsi. Bahkan, ia berjanji meneruskan program Bridge Masuk Sekolah (brige go to school) dengan format yang terbaru dan terkini, dengan tujuan mencetak atlet muda berkualitas di level usia sekolah, serta menjadi jembatan regenerasi guna menggantikan atlet senior. “Saat saya memimpin PB Gabsi, program bridge go to school itu berjalan dengan baik. Program ini harus diteruskan sehingga mencetak atlet muda bridge berkualitas untuk menggantikan atlet bridge senior. Kelak, atlet bridge Indonesia yang memperkuat tim nasional, sudah tak lagi berusia di atas 50 tahun seperti sebelumnya,” katanya. Perkembangan bridge di Tanah Air, memang sedikit terlambat. Saat masa kolonial, olahraga dengan kartu ini, hanya dimainkan di kalangan tertentu. Pada tahap berikutnya, bridge pun identik dengan olahraga yang hanya dimainkan oleh orangtua. Perkembangan bridge makin tertinggal, karena muncul stigma jika permainan menggunakan kartu remi, sangat dekat dengan judi. Tak heran, jika regenerasi atlet bridge sangat lamban. Bahkan di Pelatnas bridge saat ini, ada atlet aktif yang sudah berusia 78 tahun. Selain program bridge go to school, Miranda akan menggelar turnamen dan liga bridge profesional, serta turnamn bridge antar wartawan. “Wartawan yang bisa bermain bridge, maka mereka bisa menulisnya dengan baik, serta bisa mensosialisasikan program untuk peningkatan prestasi atlet bridge Indonesia,” pungkasnya. (Adt)