Tiga atlet surfing Indonesia lolos ke WSL Challenger Series

Tiga atlet selancar ombak Indonesia, yakni Bronson Meydi, Ketut Agus, dan Dylan Wilcoxen, memastikan diri lolos ke ajang World Surf League (WSL) Challenger Series setelah menutup musim Qualifying Series dengan baik.

Pelatih kepala tim nasional surfing Indonesia, Arya Subyakto mengatakan ketiga atlet tersebut berhasil mengamankan tiket ke Challenger Series melalui peringkat regional Asia pada musim lalu.

Untuk bisa masuk Challenger Series mereka harus finis di lima besar Asia di Qualifying Series,” kata Arya dikutip dari ANTARA..

Dari tiga nama tersebut, Bronson Meydi tercatat sudah pernah tampil di Challenger Series pada musim sebelumnya. Sementara Ketut Agus juga pernah mencapai level tersebut, namun tidak dapat melanjutkan kompetisi karena mengalami cedera.

Musim 2025, Bronson menjuarai WSL QS 6.000 Siargao di Filipina pada Oktober lalu, sementara Ketut Agus sukses meraih gelar juara dalam QS 6.000 Siheung Korea Open di Korea Selatan pada Juli lalu.

Sementara itu, Dylan Wilcoxen menjadi satu-satunya peselancar Indonesia yang baru pertama kali “promosi” ke Challenger Series musim ini.

Arya menilai Dylan, yang berusia 16 tahun, tampil mengejutkan sepanjang musim lalu, terutama setelah menjuarai ajang QS level 6.000 di Nias Pro.

Dylan benar-benar mengejutkan tahun ini. Dia menang di Nias di QS 6.000 dan itu membuktikan dia bisa main di berbagai kondisi ombak,” ujar Arya.

Menurut Arya, sebelumnya Dylan dikenal sebagai peselancar yang kuat di ombak besar karena berasal dari kawasan Mentawai. Namun, performanya dalam sejumlah kompetisi terakhir menunjukkan ia juga mampu bersaing di ombak yang lebih kecil.

Meski demikian, Arya mengingatkan bahwa persaingan di Challenger Series akan jauh lebih berat dibandingkan Qualifying Series karena diikuti peselancar terbaik dari berbagai benua.

Di Challenger Series mereka akan menghadapi sekitar 90 sampai 100 peselancar terbaik dari berbagai benua. Persiapannya juga lebih berat karena perjalanan dan kondisi ombak yang berbeda-beda,” ujarnya.

Ia menambahkan dalam olahraga selancar, kemampuan teknik yang baik perlu diimbangi dengan faktor keberuntungan dalam mendapatkan ombak yang bagus saat pertandingan.

Semua atlet sebenarnya punya kualitas permainan yang bagus, tapi yang mendapatkan ombak bagus biasanya punya peluang lebih besar untuk menghasilkan skor tinggi,” kata Arya.

Para peselancar yang tampil di Challenger Series nantinya harus menembus peringkat 10 besar untuk dapat promosi ke tur utama dunia, yakni World Surf League Championship Tour.

Arya menilai perjalanan menuju level tersebut tidak mudah karena banyak peselancar dunia yang harus mencoba berkali-kali sebelum berhasil lolos.

Ia mencontohkan keberhasilan peselancar Indonesia Rio Waida yang mampu menembus tur utama dalam dalam tahun pertama di Challenger Series setelah melalui perjalanan panjang di Qualifying Series.

Semoga Bronson, Ketut Agus, Dylan bisa finis di 10 besar, karena memang mereka punya kemampuan untuk itu,” ujar Arya.

Selain fokus pada kompetisi profesional, tim nasional surfing Indonesia juga mempersiapkan diri menghadapi Asian Games 2026 Aichi-Nagoya yang membuka peluang kualifikasi menuju Olimpiade Los Angeles 2028 melalui peraih medali emas.