Tiga Jenis Olahraga Yang Merupakan Kebudayaan Indonesia Asli

Sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, Indonesia mempunyai berbagai tradisi khas disetiap daerah. Tradisi-tradisi tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk olahraga nasional bahkan menjadi perayaan tahunan. Apa saja jenis olaharaga yang berasal dari kebudayaan Indonesia?

1.Karapan Sapi

Olaharaga-Yang-Asli-Kebudayaan-Indonesia-2
Karapan Sapi. Foto: Bisniswisata.co.id

Karapan sapi adalah kebudayaan yang berasal Madura. Perlombaan karapan sapi ini dilakukan dengan menggunakan sepasang sapi yang menarik kereta kayu yang dinaiki joki yang berdiri dibelakang sapi. Perlombaan karapan sapi biasanya pada bulan Agustus atau September. Finalnya akan dilaksanakan pada akhir September atau Oktober untuk memperebutkan Piala Gubernur.Pacuan yang akan dilewati memiliki panjang sekitar 100 meter dan ditempuh dengan waktu 10-60 detik.

Karapan sapi memiliki latar belakang dimana dahulu tanah Madura kurang subur untuk lahan pertanian. Lalu seorang ulama bernama Syeh Ahmad Baidawi mengenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bamboo yang ditarik dengan menggunakan 2 ekor sapi. Setelah berhasil panen dengan cara bercocok tanam tersebut, Syeh Ahmad Baidawi mengajak masyarakat untuk mengadakan lomba balapan sapi. Hingga saat ini, tradisi tersebut tetap berjalan untuk menjaga kelestarian tanah Madura.

Selain bentuk perayaan tahunan, karapan sapi juga merupakan bentuk kenaikan status sosial seseorang. Orang-orang yang ikut karapan sapi harus menggeluarkan biaya untuk merawat sapi yang akan ikut dipertandingkan. Para peserta harus melewati 4 babak hingga menang

2. Fahombo

Olaharaga-Yang-Asli-Kebudayaan-Indonesia-3
Fahombo Atau Lompat Batu. Foto: Niasislandsurfcampindonesia.com

Fahombo atau yang dikenal dengan lompat batu merupakan salah satu tradisi dari Nias. Tradisi yang dilakukan untuk ritual kedewasaan ini, dilakukan oleh seorang laki-laki yang beranjak dewasa. Setiap laki-laki harus mempersiapkan diri untuk lompat batu sejak usia 10 tahun.Laki-laki itu harus melompati batu tanpa menyentuh batu yang memiliki tinggi 2 meter dengan ketebalan 40 cm.

Jika berhasil, ia dapat dikatakan dewasa dan diperbolehkan untuk menikah dan ikut perang. Namun, tidak jarang para pelompat mengalami cedera ketika gagal mendarat atau menyentuh batu.Pelaksanaan lompat batu tergantung dari daerah yang melaksanakan.

3. Pacu Jalur

Olaharaga-Yang-Asli-Kebudayaan-Indonesia-4
Pacu Jalur. Foto: Benarnews.org

Pacu jalur adalah perayaan dayung disungai yang menggunakan perahu kayu. Perahu yang digunakan memiliki panjang sekitar 25 hingga 40 meter dengan lebar tengah 1,3 sampai 1,5 meter. Pacu jalur biasanya diadakan di Sungai Batang Kuantan yang sudah dilakukan sejak abad ke-17. Sungai ini terletak di Kecamatan Hulu Kuantan dan Kecamatan Cerenti. Para peserta harus melewati sungai sepanjang 1 meter dengan 6 tiang pancang.

Pada awalnya, perahu yang digunakan pada pacu jalur merupakan alat transportasi penyebrangan di Sungai Batang Kuantan. Para warga biasanya menggunakan untuk mengantarkan hasil bumi dan mengangkut 40 hingga 60 orang. Perkembangan pacu jalur tidak hanya untuk alat transportasi tetapi juga sebagai identitas sosial. Warga semakin tertarik untuk menggunakan perahu kayu tersebut sehingga diadakan perlombaan balapan.

Tradisi pacu jalur biasanya dilaksanakan pada hari kemerdekaan Indonesia. Perlombaan pacu jalur menggunakan sistem gugur, dimana setiap regu akan bermain beberapa kali, dan regu yang selalu menang hingga perlombaan terakhir akan menjadi juaranya. Selain pelombaan balapan pacu jalur, biasanya masyarakat juga mengadakan rangkaian tontonan lainnya seperti Pekan Raya, Pertunjukan Sanggar Tari, pementasan lagu daerah dan pementasan kesenian tradisional lainnya dari kabupaten atau kota di Riau.

Semoga tradisi kebudayaan Indonesia ini bisa terus berjalan sehingga tetap lestari budaya Indonesia.(put)

Leave a Comment