Polo Berkuda, Cabang Olahraga Yang Sempat Mati Suri Selama 50 Tahun di Indonesia

Olahraga polo berkuda merupakan olahraga beregu dengan menunggangi kuda. Tugas pemainnya adalah menggiring bola kayu atau plastik ke gawang lawan dengan menggunakan tongkat pemukul atau yang biasa disebut mallet. Permainan dalam satu babak dihitung per 7 menit atau disebut dengan chukka. Biasanya, permainan berlangsung dalam 4 sampai 6 chukka tergantung dari jenis turnamen yang mengadakan pertandingan polo. Di Indonesia, polo berkuda sempat mati sampai 50 tahun. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Polo berkuda masuk di Indonesia saat masa penjajahan Belanda. Di tahun 1937, Belanda melakukan pertandingan dengan tim polo dari Malaysia dan bermain di Indonesia. Batavia Polo Klub merupakan klub polo berkuda yang didirikan di Lapangan Banteng, Jakarta.

Dengan berdirinya Batavia Polo Klub, polo berkuda mulai merambah di Indonesia. Namun, saat terjadi perang dunia ke II dan Indonesia diambil alih Jepang, perkumpulan Batavia Polo Klub dibubarkan. Hal tersebut membuat polo berkuda mati karena tidak ada yang menjalankan Batavia Polo Klub.

Hashim S. Djojohadikusumo dan James T. Riady kembali membangun polo di Indonesia pada tahun 1992. Mereka mendirikan Jakarta Polo And Equestrian Club (JPEC) yang bertempat di Bukit Sentul Selatan. Subiyakto Chakra Wardaya menjadi presiden Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia (Pordasi).

Tak hanya itu, Hashim S. Djojohadikusumo pun terpilih menjadi Ketua Asosiasi Polo Indonesia. Dengan begitu, Indonesia pun menjadi bagian dari Federation Of International Polo (FIP). Di tahun 2002, polo kembali sempat terhenti karena Hashim Djojohadikusumo sibuk membangun bisnis di negara lain.

Selang 3 tahun, Letnan Jendral (Pur.) Prabowo Subianto mendirikan Nusantara Polo Club. Di dalam klub ini lah atlet Indonesia berhasil membawa nama Indonesia ke turnamen internasional pertama yaitu Kings Cup 2006 yang diselenggarakan di Thailand dan Indonesia meraih peringkat ketiga. Tak hanya itu, tim nasional polo berkuda Indonesia juga menjadi runner-up di turnamen Mercedes Benz Thai Polo Open pada tahun 2008.

Setelah itu, negara-negara yang tergabung di ASEAN sepakat untuk membuat cabang olahraga polo menjadi olahraga resmi yang akan dipertandingkan di Sea Games 2007 lalu. Di ajang Sea Games 2007 di Thailand,  Indonesian Polo Association  atau Pordasi memiliki peran penting dalam pembentukan South East Asian Polo Federation untuk memastikan kelangsungan kejuaraan polo berkuda ini.

Polo-Berkuda-Cabang--Olahraga-Yang-Sempat-Mati-50-Tahun-2
Tim Polo Berkuda Indonesia Melawan Tim Polo Berkuda Thailand Di Ajang Sea Games 2007. Foto: Commons.wikimedia.org

Pada bulan Februari 2007 Indonesia mengirimkan para calon atlet tim nasional polo berkuda Indonesia ke sekolah polo berkuda terbaik di dunia yaitu San Miguel Polo Club dan Las Aguilas Polo Club. Sekolah ini terletak di kita Del Monte, Argentina. Kuda-kuda yang akan dipertandingkan dipusatkan di Nusantara Polo Club. Keberadaan klub ini juga dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar untuk mengumpulkan kotoran kuda bercampur serbuk organik yang akan menghasilkan pupuk organik.

Kita tetap harus bangga polo berkuda bisa dikembangkan oleh orang Indonesia sendiri, meski cabang olahraga ini berasal dari negara lain.

Leave a Comment